top of page

Hasil pencarian

9738 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Saat Jakarta Dikepung Banjir

    Warga Jakarta memasuki tahun baru 2020. Tapi bertemu lagi dengan masalah klasik: banjir. Jakarta dan air ibarat musuh bebuyutan. Tak pernah sampai pada titik temu, tak pernah ada solusi. Gubernur silih berganti, tapi kota ini tetap takluk oleh air. Seorang pemulung berusaha melewati banjir di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Banjir Jakarta telah menggenangi catatan sejarah berabad lamanya. Jauh hari sebelum dihuni manusia, Jakarta merupakan dataran rendah. Sebagian daerahnya bahkan lebih rendah daripada permukaan laut. Dengan demikian, banjir di Jakarta sebelum berpenghuni merupakan peristiwa lumrah. Tak ada yang dirugikan. Tapi begitu manusia menghuni wilayah ini, lain ceritanya. Anak-anak bermain saat banjir di kawasan Mangga Dua, Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Seorang warga berusaha menghindari banjir. (Fernando Randy/Historia). Masa VOC bercokol di Batavia, nama lama Jakarta, banyak Gubernur Jenderal mencoba aneka cara untuk menanggulangi banjir. Jan Pieterszoon Coen (menjabat 1619—1623 dan 1627—1629) misalnya, mulai membuat sejumlah kanal untuk mengendalikan air dari sungai-sungai yang membelah Jakarta. Antara lain Sungai Ciliwung, sungai utama di Batavia.  Para warga berusaha melewati banjir di kawasan Kelapa Gading, Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Namun upaya tersebut tak sepenuhnya berhasil. Seiring masa, kanal-kanal yang dibuat oleh Coen tidak berfungsi dengan baik. Kanal penuh dengan sampah pabrik gula atau tebu. Laju air tersendat. Banjir pun mendera dan menenggelamkan sebagian wilayah Batavia.  Suasana banjir di kawasan Mangga Dua, Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Ratusan tahun kemudian wilayah Batavia meluas dengan pesat. Hutan berganti oleh hunian manusia. Tapi masalah kota ini tetap sama. Bahkan hingga masuk masa merdeka, Jakarta masih dijajah banjir. Tak jarang cakupan wilayah terdampak banjir begitu luas. Seperti banjir pada 1960-an yang melanda Grogol. Berbagai kendaraan berusaha menerobos banjir di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Edi Sedyawati dkk. dalam  Sejarah Kota Jakarta 1950-1980  menyatakan, masalah banjir adalah masalah utama Jakarta. Penyebabnya, Jakarta tak pernah punya sistem tata kelola air yang memadai. Padahal kota ini terbelah oleh hingga sepuluh sungai. Tapi sebab terpenting adalah cara pandang dan perilaku warga kota yang tak pernah mengganggap alam sebagai sahabat. Hingga enak saja membuang sampah.  Warga menggunakan perahu karet di kawasan banjir Kelapa Gading, Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Banjir tak pernah pandang bulu mendera warga. Kawasan mewah seperti Kelapa Gading pun tak luput dari banjir. Warga perumahan elite yang biasanya berseliweran di mal-mal Kelapa Gading, awal tahun baru lalu justru sibuk menyelamatkan barang-barang berharga di rumahnya. Ratusan warga yang terjebak banjir di Jakarta Utara. (Fernando Randy/Historia). "Saya sudah lama tinggal di Kelapa Gading. Banjir parah tahun 2004, lalu 2007 dan kini tidak menyangka baru awal tahun 2020 kami sudah dilanda bencana. Semoga ini cepat berlalu," ujar Weni (32), warga kompleks Janur Asri, Kelapa Gading.  Baca juga:  Air Mengalir Sampai Banjir Pesatnya pembangunan di Jakarta tidak dibarengi dengan perbaikan tata kelola air. Semua membangun, tapi tidak membaik. Ditambah lagi kota ini tak siap dengan perubahan iklim akibat pemanasan global. Tapi belum terlambat untuk memperbaiki cara pandang dan perilaku semua orang di kota. Semua orang masih terus berupaya menemukan inovasi baru untuk menanggulangi banjir. Karena apabila tak ada perbaikan, bukan tidak mungkin Jakarta akan tenggelam. Warga melintasi banjir di kawasan Kelapa Gading, Jakarta. (Fernando Randy/Historia).

  • Kepulauan Natuna Pada Masa Kuno

    Tercatat lebih dari 200 pulau kecil membentuk Kepulauan Natuna. Mereka tak selalu nampak dalam peta. Seolah letaknya terpencil, sehingga tak mudah mencapainya.   Kesan itu mungkin berkebalikan dengan masa lalu. Sejak dulu,   Natuna dilintasi jalur pelayaran dan niaga karena   berada di kawasan maritim Laut Cina Selatan. Ia menghubungkan negeri-negeri Asia Tenggara dan Asia Timur, terutama Tiongkok. Lokasinya di posisi persilangan jalur masuk ke perairan Malaka, Sumatra, dan Kalimantan.   Karenanya Natuna sangat mungkin dijadikan “batu loncatan” dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Demikian disebutkan Sonny C. Wibisono, arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dalam tulisannya, “Arkeologi Natuna: Koridor Maritim di Perairan Laut Cina Selatan”, termuat di  Kalpataru, Majalah Arkeologi Vol. 23. Sayangnya, tak banyak sumber yang menyebut Natuna secara langsung. Sumber yang mungkin menyebut keberadaannya adalah “Catatan Shi Bi”   dalam  Catatan Sejarah Dinasti Yuan.  Shi Bi adalah salah satu komandan armada Dinasti Yuan yang ditugaskan Khubilai Khan untuk menghukum Raja Kertanegara di Jawa.  Catatan itu merekam rute dari Tiongkok ke Jawa yang berbeda dari rute yang pernah dilalui pelaut Tiongkok era dinasti sebelumnya. Dalam Catatan Dinasti Sung misalnya, pelayaran dari Tiongkok mengikuti jalur pantai di Asia Daratan baru kemudian menyeberang ke pantai timur Sumatra. Nurni Wahyu Wuryandari, peneliti dari Pusat Studi Cina di Universitas Indonesia menjelaskan ketika itu bangsa Mongol ingin mencari rute yang paling singkat menuju Jawa. “Kepentingan mereka adalah mengirimkan angkatan perangnya,” katanya. Namun, kata Nurni, rute itu bukannya mudah malah berisiko besar. Apalagi latar belakang orang-orang Mongol bukan bangsa pelaut, melainkan bangsa pemelihara kuda. “Berhasil tapi sulit sekali,” katanya. Setelah melewati Champa, sebulan kemudian mereka tiba di Kepulauan Dong Timur dan Kepualauan Dong Barat. W.P. Groeneveldt dalam  Nusantara dalam Catatan Tionghoa , menduga dua tempat itu masing-masing merujuk pada Kepulauan Natuna dan Anamba. Sementara itu, menurut Sonny sejauh penelusurannya nama tempat yang bisa dikaitkan dengan Natuna ada dalam sumber pelayaran Tiongkok,  Shung Feng Shang Sun  (Angin Baik untuk Pelayaran) yang berasal dari pertengahan abad ke-15. Di sana disebut Mao Shan atau Ma-an Shan, yang merujuk pada Natuna Besar atau Pulau Bunguran, terletak di pantai barat Kalimantan. “Kata itu artinya pelana kuda. Kata ini bisa dihubungkan dengan bentuk denah pantai Pulau Natuna dari Pantai Klari utara sampai Pengadah atau Teluk Buton yang menyerupi pelana kuda,” tulis Sonny. Kawasan itu dilewati rute pelayaran dari Tiongkok ke arah barat India dan Asia barat. Mulai pelayaran dari pelabuhan di Tiongkok, menyusuri pantai-pantai Tiongkok dan Hainan. Dari sana berlayar ke pantai Vietnam, kemudian terpecah jalur ke selatan. “Sementara jalur utama terus menuju Pulau Tioman, ke Malaka, melewati Pulau Lima, dan setelah itu melewati Ma-an Shan (Natuna), selanjutnya lewat Pulau Mien-tan (Bintan),” tulis Sonny. Situs Kuno di Natuna Kabar baiknya, bukti-bukti arkeologis bisa lebih banyak menyumbang cerita. Survei dan ekskavasi tim Puslit   Arkenas di Natuna pada 2012-2014 menemukan t ak kurang dari 19 situs yang mengandung temuan arkeologis. Di pantai timur yang landai, keberadaan situs cukup padat. Ini mulai dari Ranai Kota, Teluk Baru, Sepempang, Serangas, Sekalong, Dua Semitan, Tanjung, Kelanga, Pengadah, dan Teluk Buton. Adapun di sebelah tenggara, yaitu di Desa Cemaga, Batu Bayan, Penarik, Pian Padang, dan Setengar. “Hampir sebagian besar situs ditemukan tak jauh dari pesisir pantai. Letaknya dekat dengan muara sungai,” jelas Sonny. “Beberapa lokasi mengindikasikan situs-situs ini juga berfungsi sebagai pelabuhan.” Situs-situs itu juga mengungkap sisa-sisa permukiman di Natuna. Tandanya adalah sebaran temuan keramik dan manik-manik pada permukaan tanahnya. Tumbuhnya permukiman di sana diduga karena kelimpahan air tawar dan kekayaan sumber hutan dan perairannya. Hutan Natuna menghasilkan kayu dan gaharu, komoditas eksotis yang sampai sekarang masih dicari. “Mungkin ini bagian dari tradisi lama yang dipandang ada kaitannya dengan tujuan atau persinggahan perniagaan itu,” ujar Sony. “Artinya data itu menunjukkan bahwa Natuna tidak hanya menjadi tempat pengimpor tetapi juga memiliki sumber setempat sebagai andalan atau pengekspor.” Penggalian di situs Setapang, Sepempang, dan Sekalong, tak mendapat banyak temuan. Padahal sebelumnya temuan permukaan cukup padat. Temuan yang paling sering ditemukan adalah keramik. Sebagian besar pecah kendati masih bisa diidentifikasi masa pembuatannya.   Keberadaan keramik di hampir seluruh situs menandai bahwa tataniaga keramik di wilayah ini pada masanya sangat tinggi.   Khususnya di Situs Setapang, ditemukan keramik mangkuk dengan celadon dari Dinasti Song-Yuan, sekira abad ke-13. Keramiknya ditemukan dekat wadah kubur dari kayu berbentuk perahu. Mungkin keramik ini adalah bekal kubur.   Dari penelitian ini juga diketahui adanya kemungkinan situs di bawah laut. Letaknya di Desa Pengadah. Dugaannya di sana ada sisa kapal karam. Dari muatan barang keramik di dalam kapal menunjukkan kalau itu adalah kapal dagang. “Dua lokasi yang sementara ini diinformasikan penduduk yaitu di perairan Teluk Buton. Temuannya disimpan di Museum Sri Serindit,” kata Sonny. Pelayaran yang Melibatkan Natuna Naniek Harkantiningsih, ahli keramologi Puslit Arkenas dalam “Natuna: Jalur Pelayaran dan Perdagangan Jarak Jauh”, termuat di  Di Balik Peradaban Keramik Natuna  menjelaskan bahwa keramik pada masa lalu menjadi komoditas impor di kawasan Natuna. Berdasarkan catatannya, sebagian besar adalah keramik yang berasal dari Tiongkok, abad ke-9 sampai ke-20, mencakup era Dinasti Song, Yuan, Ming, dan Qing. Keramik yang bukan dari Tiongkok baru ada mulai abad ke-14. Temuan keramik Vietnam, misalnya, berasal dari abad ke-14 hingga ke-15. Ditemukan juga keramik Thailand dari sekira abad ke-15 sampai ke-16, keramik Belanda dari abad ke-19-20, keramik Jepang dari abad ke-19-20, keramik Inggris dari abad ke-20, dan keramik Singkawang dari abad ke-20. “Temuan ini membuktikan bahwa Pulau Natuna merupakan salah satu pusat dan perlintasan niaga, yang terus bersinambung dari sekitar abad ke- 9 sampai ke-20,” jelas Naniek. Dari banyaknya temuan itu,   memperlihatkan kejayaan perniagaan yang melibatkan Pulau Natuna dimulai dari abad ke-9 sampai ke-10. Pada masa itu Sriwijaya tengah berkembang. Perniagaan itu terus meningkat pada abad ke-11 sampai ke-13. “Ketika Sriwijaya mulai berkembang pada abad ke-8 sampai ke-10, partisipasi Natuna dalam perdagangan di Laut Cina Selatan nampaknya belum berlangsung intensif. Proporsi keramik Palembang pada masa ini lebih tinggi,” kata Sonny. Puncaknya terjadi pada abad ke-13 sampai ke-14, dengan banyaknya ditemukan keramik bergaya Dinasti Yuan di Natuna. Setelahnya surut dan naik lagi pada abad ke-18-19   bersamaan dengan hadirnya kekuasaan kolonial di Nusantara. “Tingginya intensitas keramik tampaknya berkorelasi dengan tingginya hubungan misi dagang yang dilakukan antara Tiongkok dengan pusat negeri di Asia Tenggara, termasuk Sriwijaya,” ujar Sonny. “Pasca Sriwijaya partisipasi Natuna lebih tinggi.” Sementara munculnya keramik dari Vietnam dan Thailand bersamaan dengan merosotnya pasokan keramik Tiongkok pada masa Dinasti Ming. Baru kembali meningkat ketika Dinasti Qing berkuasa di Tiongkok.   Pada abad ini mulai bervariasi keramik dari Eropa dan Jepang. Jelaslah bahwa sejak dulu Natuna sudah menjadi   kawasan yang penting. Berkembangnya kerajaan berbasis maritim, termasuk Sriwijaya pada abad ke-7, berperan membuat pulau ini bergeliat.

  • Buku Lagu Para Tapol

    Pada 1990, rumah Tuba bin Abdul Rochim, mantan tahanan politik (tapol) Orde Baru, di daerah Penjaringan, Jakarta Utara, kebakaran. Api melahap satu RW di gang sempit itu dan menghabiskan benda-benda di dalamnya. Namun, mantan anggota Pemuda Rakyat itu malah menyelamatkan sebuah buku bersampul ungu dan sebuah gitar. Bukan televisi, radio ataupun benda berharga lainnya. "Saya hanya sempat bawa buku ini sama gitar. Gendong gitar sama bawa ini. Barang lainnya malah tidak dibawa," kenang Tuba kepada historia.id sambil memegang buku yang pinggirannya sudah kerepes itu. Buku itu tampaknya bukan buku biasa. Buku yang kertasnya sudah kecokelatan dan rapuh itu merupakan harta paling berharga milik pria kelahiran 14 April 1944 itu. Buku itu berisi lagu-lagu yang dibuat oleh para tapol Orde Baru sejak dari RTC Tangerang, Nusakambangan, hingga Pulau Buru. Baca juga: Kisah Cinta di Tepi Sungai Cisadane Salah satu lagu yang berkesan bagi Tuba berjudul Penebang Kayu . Lagu ini berkisah tentang para tapol yang dipekerjakan sebagai pencari kayu bakar ketika di penjara di RTC Tangerang pada 1966. Untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar, Tuba dan 24 orang lainnya juga ditugasi untuk mencari kayu bakar. Mereka diperbolehkan mencari kayu bakar ke rumah-rumah penduduk karena dalam sehari mereka harus mengumpulkan 10 kubik kayu bakar. Tuba bercerita, kala itu, di depan Pendopo Kabupaten Tangerang terdapat sebuah pohon sengon yang berdiri megah yang cabang-cabangnya melintang sampai menjorok ke jalan raya. Ia dan kawan-kawannya pun mulai beraksi untuk memangkas pohon tersebut. Pekerjaan itu ternyata menjadi tontonan warga sekitar karena para tapol dengan gesit melompat dari cabang satu ke cabang yang lain seperti permainan sirkus. "Ini merupakan tontonan gratis bagi masyarakat sekitar pendopo Tangerang. Juga tidak sedikit yang merasa simpatik kepada teman-teman kita yang sedang bekerja," ujar Tuba. Pekerjaan mencari kayu bakar membuat para tapol dekat dengan masyarakat. Terlebih para tapol juga sering melakukan pekerjaan di luar seperti pijat dan totok refleksi. Baca juga: Para Tapol dan Anjingnya "Sehingga mereka dengan ikhlas suka menyisihkan sedikit rejekinya untuk dibagikan kepada kita seperti makanan, minuman, rokok, dan juga uang. Hampir seluruh Kota Tangerang dan sekitarnya, Serpong, Balaraja, Cikupa, Tigaraksa, Gunung Sindur, mereka kenal dan tahu tentang tapol PKI," kata Tuba. Berangkat dari kisah para penebang kayu itu, Michiel Karatem, rekan Tuba kemudian membuat lagu berjudul Penebang Kayu . Michiel Karatem merupakan mantan Pegawai Negeri Sipil di Jawatan Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang ditangkap pasca peristiwa 1965 karena dianggap anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Tuba mencatat puluhan lagu yang dibuat para tahanan politik ketika dipenjara. (Andri Setiawan/Historia). Di RTC Tangerang, setiap akhir pekan minggu ketiga diadakan acara hiburan yang disaksikan oleh petugas penjara, termasuk keluarga. Acara biasanya diisi dengan pentas musik lagu-lagu keroncong. Pada suatu ketika, para tapol pun berinisiatif menyanyikan lagu Penebang Kayu . Namun, baru beberapa saat dinyanyikan, mereka dibubarkan. "Karena katanya lagu-lagu ini menyinggung negara. Sedang berpentas, setop, jangan diteruskan," kata Tuba. Baca juga: Ingin Kembali ke Pulau Buru Pada 1973, Tuba dipindahkan ke penjara Salemba selama satu bulan. Bersama seribu lebih tapol, ia kemudian dipindahkan lagi kePulau Nusakambangan hingga akhirnya dibawa ke Pulau Buru pada November 1976. Pekerjaan mencari kayu bakar berlanjut ketika Tuba dan tapol lainnya berada di Nusakambangan. Di pulau bagian selatan Jawa itu, para tapol harus mencari kayu bakar untuk menghidupkan mesin pembangkit listrik tenaga uap. Pekerjaan yang lebih berat dan membutuhkan banyak tenaga. "Kalau di Nusakambangan itu kita ini listriknya. Cari sendiri kayu bahan bakar. Karena tenaga listriknya dengan menggunakan uap," kata Tuba. Lagu Penebang Kayu  dinyayikan ketika mereka bekerja untuk penyemangat. Selain lagu Penebang Kayu , Tuba mencatat puluhan lagu yang dibuat oleh para tapol, baik ketika di penjara Tangerang, Nusa Kambangan hingga Pulau Buru. Ia beli buku tulis di koperasi RTC Nusakambangan. Ia dapat uangnya dari pekerjaan membabat rumput di kebun karet. Baca juga: Kecil di Digul Muda di Buru Tuba masih menyimpan baik-baik buku lagu itu. Di dalam buku itu, Tuba juga menyimpan surat pembebasannya sebagai tapol. Baginya, buku itu adalah saksi bisu perjalanan hidupnya sebagai pelajaran bagi anak cucunya. "Ini loh bapakmu dulu begini. Jangan sampai peristiwa itu terjadi lagi pada anak cucu kita. Sejarah yang kelam," kata Tuba. Tuba kini tengah mencari teman untuk menyanyikan ulang lagu-lagu itu. Ia bercita-cita membentuk grup kwartet. Ia terinspirasi oleh paduan suara Dialita.

  • Piala Super Spanyol Sarat Drama

    AHAD (12 Januari 2020) malam, duel tim sekota antara Real Madrid kontra Atlético Madrid bakal tercipta di final Supercopa de España alias Piala Super Spanyol. Trofi itu sebelumnya diperebutkan oleh tim jawara La Liga dan kampiun Copa del Rey atau Piala Raja. Gelaran musim ini akan menandai untuk pertamakalinya laga Piala Super dimainkan di luar Spanyol, yakni di Arab Saudi. Itu mengikuti jejak Piala Super Italia 2018 yang dimainkan di King Abdullah Sport City, Jeddah, negeri yang sama. Mengutip Daily Mail , Rabu (8/1/2020), kesepakatan antara federasi sepakbola Spanyol (RFEF) dan pemerintah Saudi terjadi pada November 2019. Deal kedua pihak dimuluskan dengan “fulus” senilai total 120 juta euro yang berlaku tiga tahun. Selain soal jumlah partisipan yang ditambah menjadi empat, jadwal pun diubah dari Agustus, saat jeda kompetisi musim panas, ke Januari saat jeda liburan musim dingin. “Uang yang kami dapatkan bukan untuk membangun vila mewah. Uangnya akan disalurkan ke sepakbola putri dan klub-klub di Segunda B dan Tercera (dua kasta bawah sepakbola Spanyol, red. ). Tentu uang itu penting, siapa yang menyangkal? Uang sangat penting namun uangnya akan mengalir pada kebutuhan yang tepat,” ujar Presiden RFEF Luis Rubiales. Kendati empat partisipan, yakni Real Madrid, Atlético Madrid, Valencia, dan Barcelona tutup mata dan mulut, sejumlah kritik mencuat. Selain soal mendobrak tradisi, kritik menganggap kesepakatan itu sebagai bentuk dukungan pada kebijakan diskriminatif pemerintah Saudi terkait sejumlah isu politik, mulai dari kebebasan berpendapat dan pers, hingga soal isu hak-hak perempuan. Sementara Presiden La Liga Javier Tebas mengkritik soal hak siar yang diambil pihak Saudi, kolumnis Joan Poqui mengecam lewat tulisannya di suratkabar El Mundo (6/1/2020). “Ini turnamen yang mestinya hanya dipertandingkan Barcelona dan Valencia sebagai pemenang liga dan Piala Raja. Ini bukan Supercopa dan laganya bukan di Spanyol. Ini kejuaraan yang telah dilacurkan demi uang,” tulisnya. Amnesti Internasional mengkritik bungkamnya para bintang lapangan hijau yang jauh-jauh terbang lebih dari 4.000 mil dari Spanyol ke Saudi demi mendongkrak imej Saudi, terutama soal imej pemerintah yang gemar menangkapi aktivis HAM. “Di bawah Mohammed bin Salman (putra mahkota dan wakil perdana menteri, red. ), giat-giat olahraga bertaraf internasional digalakkan dengan kencang, bahkan saat putra mahkota memimpin sendiri pemadaman pergolakan HAM terhadap aktivis hak perempuan, aktivis hukum dan kaum minoritas Syiah. Tidak ada keadilan terhadap pembunuhan Jamal Khashoggi (wartawan Saudi, red. ) dan koalisi militer di Yaman pimpinan Saudi masih menyasar pasar-pasar, permukiman sipil, dan rumahsakit,” ujar Ketua Kampanye Amnesti Internasional Inggris Felix Jakens. Kendati dihujani kritik, Piala Super Spanyol tetap bergulir dan resmi akan dihelat dua edisi berikutnya. Toh, sejarah Piala Super Spanyol juga sarat drama sejak awal. Pentas Adu Jawara di Masa Lampau Kendati kompetisi adu kampiun liga dan Piala Raja bernama resmi Supercopa de España hadir baru pada 1982, pentas sejenis sudah eksis sejak 1940 kala Spanyol masih dipimpin diktator fasis Generalísimo Francisco Franco. Kompetisi di luar liga itu dinamai Copa del Generalísimo. Mengutip situs RFEF , ajang itu merupakan buah gagasan Leopoldo García Durán, presiden RFEF periode 1931-1936.Durán mencanangkannya untuk digulirkan pada 1936. Namun, Perang Saudara Spanyol (1939-1939) menunda rencana itu.  Gagasan yang tertunda itu baru terwujud pada 1940. Laga yang memperebutkan trofi Copa de los Campeones de España itu berformat dua leg atau tandang-kandang. Atlético Aviación (kini Atlético Madrid) merebut trofi pertama laga para jawara antarkompetisi, Copa Campeones 1940. ( El Mundo , 28 Agustus 1940). Atlético Aviación (kini Atlético Madrid) jadi juara pertamanya. Sebagai juara liga musim 1939-1940, Atletico meladeni RCD Espanyol yang merupakan jawara Copa del Generalisimo. Pertandingan dihelat pada 1 September 1940, di markas Espanyol, Estadio de Sarriá, dan pada 14 September di Campo de Fútbol de Vallecas, stadion pengganti darurat karena markas Atlético Estadio Metropolitano rusak berat akibat perang. Dalam drama dua laga final itu tercipta 14 gol. Atletico keluar sebagai kampiun setelah menang agregat 10-4. Akan tetapi Copa Campeones hanya sekali bergulir dan bahkan panggung sejenis sempat vakum hingga 1945. Usai Perang Dunia II, baru perebutan trofi antara jawara liga dan copa digagas dengan tajuk Copa de Oro Argentina, merujuk pada persahabatan antara pemerintahan Francisco Franco dengan Argentina. “Pertandingannya diinisiasi federasi sepakbola Katalan dan Konsul Argentina di Barcelona, Don Alfredo de Molina, pada 1945. Trofinya sendiri disediakan atas sumbangan orang-orang Argentina yang bermukim di Katalan,” sebut Juan Expósito Bautista dalam Organización del Fútbol Mundial. Dalam duel di stadion Camp de Les Corts, 23 Desember 1945, itu FC Barcelona, kampiun liga musim 1944-1945, menang 5-4 atas jawara copa Athletic Bilbao. Tetapi seperti pendahulunya, event itu hanya sekali itu saja dihelat. Pentas anyar hadir pada 1947. Mengutip Heinz Duthel dalam biografi klub, FC Barcelona , kompetisinya cenderung lebih berbau politis meski masih ada benang merahnya dengan Argentina yang kebetulan saat itu Franco bersahabat dekat dengan pemimpin sayap kanan Argentina, Juan Perón. “Turnamennya Copa Eva Duarte de Perón yang digulirkan RFEF secara rutin, sebagai penghormatan kepada Presiden Argentina Juan Perón dan istrinya Eva Perón. Sejak 1947 hingga 1953 digelar antara bulan September dan Desember,” tulis Duthel. María Eva Duarte 'Evita' de Perón saat tiba di Spanyol pada Juni 1947. (Wikimedia). Bukan sembarang persahabatan yang tercipta antara Argentina dan Spanyol saat itu. Spanyol dengan pemerintahan fasisnya tengah diembargo ekonomi oleh Amerika dan negara-negara sekutunya di Eropa. Krisis pangan pun melanda Spanyol. “Banyak rakyat Spanyol yang kelaparan. Peron datang membantu dan mengirim 400 ribu ton gandum, 120 ribu ton jagung, 20 ribu ton daging beku, hingga 50 ribu peti telur ke Spanyol. Oleh karenanya segenap pelosok Spanyol menganggap pasangan Perón sebagai penyelamat mereka,” ujar Joanne Mattern dalam biografi Eva Peron. Trofi turnamen Copa Eva Duarte de Perón disumbangkan langsung oleh Evita Perón saat mengunjungi Spanyol guna memenuhi undangan pemerintah setempat yang sangat berterimakasih, 8 Juni 1947. Sistem turnamennya, semua menampilkan satu laga, kecuali pada 1950 yang menampilkan dua leg. Pada 1952 dan 1953, Barcelona meraih trofi secara otomatis tanpa bertanding lantaran di dua musim itu memenangi double winners (liga dan copa). Turnamen itu mati seiring wafatnya Evita Perón, yang membuat rakyat Spanyol juga berduka. Turnamen serupa baru dibuat RFEF kembali pada 1982, yang diajukan Presiden FC Barcelona Luís Nuñez. Baik regulasi maupun format, tiada berubah dari turnamen sebelumnya. Trofi yang diperebutkan pun masih menggunakan trofi yang sama, meski kemudian menggunakan nama baru: Supercopa de España. Aturan yang diubah sekadar pemenang double winners . Sebelumnya, pemenang La Liga dan Copa del Rey otomatis mendapatkan trofi Supercopa. Namun mulai 1996, pemenang double winners akan tetap diadu lagi dengan runner-up Copa del Rey. Aturan itu masih berlaku hingga sekarang.

  • Pemain American Football Jadi Agen CIA di Indonesia

    DARI 25 tahun kariernya di CIA, dua tahun di antaranya di Indonesia. Ralph Walter McGehee bertugas di Jakarta pada 1964-1966, periode berdarah dalam sejarah Indonesia. Atas pengabdianya, CIA menganugerahkan penghargaan Career Intelligence Medal.

  • Jajan Tahu Pakai Pesawat Mustang

    Pada dekade 1950, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) memiliki puluhan pesawat tempur jenis P-51 Mustang. Pesawat buatan Amerika Serikat itu adalah pesawat buru sergap jarak jauh yang sangat handal pada era Perang Dunia II. Karena keandalannya, Mustang diproduksi ribuan dan digunakan oleh banyak angkatan udara, termasuk Indonesia. Menurut laman tni-au.mil.id , setelah pengakuan kedaulatan, Indonesia menerima hibah sejumlah pesawat Mustang dari Belanda. Di lingkungan AURI, P-51 Mustang ditempatkan di satuan tempur buru sergap Skuadron ke-3 yang bermarkas di Pangkalan Udara Cililitan, Jakarta Timur. Sebanyak 50 pesawat Mustang yang tersedia ternyata tidak sebanding dengan pilot tempur yang dimilki AURI. Wajar saja jika para penerbang Skuadron ke- 3 suka-suka saja berganti-ganti pesawat karena Mustang tidak boleh terlalu lama didiamkan. “Dulu dari Pangkalan Halim kami suka terbang dengan Mustang ke berbagai pangkalan di Jawa Tengah atau Bandung hanya untuk beli sate atau es kopyor,” ujar Ashadi Tjahjadi, salah seorang penerbang tempur Skadron III dalam Pahlawan Dirgantara: Peranan Mustang dalam Operasi Militer di Indonesia suntingan Soemakno Iswadi. Ashadi mengisahkan ruang tempat peluru yang ada di pesawat sering dikosongkan oleh para penerbang Mustang kalau sedang tidak bertempur. Ruang kosong itu kemudian kerap kali dijadikan tempat untuk mengangkut bermacam-macam barang, mulai dari beras sampai ayam kampung. “Waktu istri saya ngidam , terpaksa saya harus terbang dengan Mustang ke Bandung padahal keluarga tinggal di Polonia Medan hanya untuk membeli tahu Bandung,” kenang Ashadi. Kendati punya tingkah dan kelakuan unik demikian, pilot tempur Mustang AURI ini dikenal lihai dalam manuver di udara. Beberapa penerbangnya seperti Leo Wattimena, Roesmin Noerjadin, Ignatius Dewanto, Mulyono, Hadi Sapandi dan Pracoyo, kemudian membentuk tim aerobatik kebanggaan AURI. Merekalah yang menjadi inspirasi bagi penerbang-penerbang AURI berikutnya untuk membentuk tim aerobatik sejenis. “Sehingga tim aerobatik P-51D Mustang dapat dikatakan sebagai perintis atau the pioneer dari tim-tim aerobatik kebanggaan bangsa Indonesia, khususnya TNI Angkatan Udara,” tulis laman tni-au.mil.id . Beberapa di antara para pilot tempur tadi, kelak menjadi tokoh penting ketika AURI membangun angkatan perangnya sehingga menjadi yang terkuat pada dekade 1960. Leo Wattimena menjadi pilot tempur Mustang legendaris yang terjun di berbagai operasi militer. Ignatius Dewanto merupakan penerbang Mustang yang menembak jatuh kapal bomber yang dikendalikan pilot Amerika, Allen Pope. Roesmin Noerjadi menjadi Kepala Staf Angkatan Udara antara 1966 hingga 1969. Ashadi Tjahyadi sendiri menjabat Kepala Staf Angkatan Udara periode 1977-1983.

  • Empat Siti Soendari dalam Sejarah Kaum Putri*

    DI hadapan para hadirin dalam Kongres Perempuan Indonesia Pertama di Mataram, Siti Soendari menyampaikan pidatonya yang amat progresif di masanya. Pidato itu tentang kedudukan perempuan dalam perkawinan. Namun, ada dua Siti Soendari di kongres tersebut. Pertama, Siti Soendari Sudirman dari Putri Budi Sejati, organisasi perempuan di Surabaya. Kedua, Siti Soendari Darmobroto dari organisasi Putri Indonesia. Nama Siti Soendari terbilang jamak di era tersebut. Dalam sejarah Indonesia, ada empat Siti Soendari yang namanya sering disebut. Lantas, Siti Soendari mana yang membawakan pidato progresif dalam kongres tersebut? Siti Soendari Darmobroto Siti Soendari Darmobroto merupakan putri dari Wirio Darmobroto, bangsawan Ponorogo yang bekerja sebagai kepala sekolah. Soendari juga membuka sekolah di Pacitan, Jawa Timur. Namanya banyak disebut dalam sejarah gerakan perempuan. Ia amat peduli pada isu pentingnya pendidikan bagi perempuan. Harry A Poeze mengisahkan dalam Di Negeri Penjajah, Soendari Darmobroto hadir menyuarakan pendidikan bagi para gadis pribumi di Kongres Pengajaran Kolonial Pertama di Den Haag, Agustus 1916. Siti Soendari Darmobroto. (Harry A Poeze,  Di Negeri Penjajah ). Susan Blacburn dalam Women and The State in Modern Indonesia menyebut Soendari Darmobroto inilah yang menjadi kontributor Putri Hindia dan mendirikan Wanito Sworo pada 1913, bukan Soendari istri Mohammad Yamin. Lewat terbitan berbahasa Jawa itulah Soendari menyuarakan ide-idenya tentang kedudukan perempuan dalam masyarakat. Saat kongres perempuan, Soendari Darmobroto hadir mewakili Putri Indonesia yang punya cabang di Bandung, Mataram, dan Surabaya. Pidatonya berjudul “Kewajiban dan Cita-Cita Putri Indonesia” amat progresif, berisi tentang kesetaraan peran lelaki dan perempuan dalam pernikahan. Baca juga:  Keributan di Kongres Perempuan “Sudah lama kaum laki-laki menjadi raja dalam pergaulan hidup dan terkadang juga dalam rumah tangga kita,” kata Soendari dalam pidatonya yang dikutip Susan Blackburn dalam Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang . “Kalau Indonesia ingin maju dan harum, haruslah kita semua berada dalam persamaan dengan kaum laki-laki,” sambungnya. Siti Soendari Sudirman Prestasi penting Soendari Sudirman ialah berhasil menjadi anggota Gemeenteraad (Dewan Kota) Surabaya setelah perjuangan panjang para perempuan pribumi untuk mendapat hak pilih. Soendari merupakan aktivis perempuan yang mendirikan Putri Budi Sejati, organisasi perempuan di Surabaya. Amat sulit menelusuri masa kecil Soendari Sudirman. Ia menikah dengan R. Soedirman, residen Surabaya yang juga wakil pengurus besar Parindra di kota tersebut. Soendari Sudirman merupakan tokoh lama dalam gerakan perempuan. Sama seperti Soendari Darmobroto, Soendari Sudirman juga hadir dalam Kongres Perempuan Indonesia pertama dan menjadi pembicara. Pidato Soendari Sudirman berjudul “Pergerakan Perempuan, Perkawinan, dan Perceraian”. Di masa itu, isu kedudukan perempuan dalam perkawinan sedang jadi fokus pembahasan para aktivis. Tak heran jika mayoritas materi pidato kongres pertama berkutat pada soal perkawinan. Baca juga:  Chailan Si Peliput Kongres Perempuan Pertama Pidatonya membahas tentang nasib perempuan dalam perkawinan sekaligus mengkritik ketiadaan hak perempuan dalam beragam aspek. “Hak menolak, hak bersuara sesuai dengan pendapat sendiri, apalagi hak kawin sesuai dengan kehendak sendiri sebagaimana laki-laki memilih istri yang disukainya, tidak dimiliki kaum perempuan,” kata Soendari dalam pidatonya. Oleh karena itu, organisasi yang dipimpin Soendari, Putri Budi Sejati, bergerak di bidang pemajuan dan pendidikan perempuan. Dalam Konferensi Putri Budi Sejati tahun 1937, Soendari mengatakan bahwa organisasinya tidak ikut dalam soal politik namun memberi kelonggaran pada anggotanya bila ingin bergerak di jalur politik. Soendari Sudirman kemudian diangkat sebagai anggota Dewan Kota Suarabaya pada 1938. Artikel “De Gemeenteraad Van Soerabaia” di De Indische Courant edisiSabtu, 24 September 1938, menyebut pengangkatan Soendari sebagai anggota Dewan Kota Surabaya merupakan momen bersejarah lantaran ia perempuan pertama yang berhasil masuk menjadi anggota Dewan Kota Surabaya. Siti Soendari Adik dr. Soetomo Banyaknya nama Siti Soendari dalam sejarah Indonesia membuat banyak pihak acapkali terkecoh, termasuk Historia . Dalam artikel “Soendari Gigih Lawan Poligami” , Historia membuat kesalahan dengan menggabungkan kisah Siti Soendari Darmobroto dan Soendari adik dr. Soetomo. Soendari adik dr. Soetomo merupakan teman kuliah dan indekos Maria Ullfah saat mengambil jurusan hukum di Universitas Leiden. Semasa kuliah, Soendari mengikuti Perhimpunan Mahasiswa Perempuan Universiats Leiden (Nederlandse Vereeniging voor Vrouwelijke Studenten Leiden, VVSL) dan menjadi anggota Perhimpunan Indoensia (PI). Mulanya, PI hanya wadah untuk berkumpul mahasiswa Indonesia. Namun seiring derasnya gerakan politik di tanah air, PI ikut berpolitik menentang penjajahan Belanda. (Solita Sarwono dan Santo Koesobjono,  Siti Soendari, Adik Bungsu dr. Soetomo). Ia lulus dari Universitas Leiden pada 1934 dan kembali ke tanah air. Soendari kembali tinggal satu kontrakan dengan Maria Ullfah di kawasan Salemba. Di Jakarta, ia bekerja di Departemen Kesehatan Umum dan sempat bergabung dengan Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari). Dalam biografi Siti Soendari, Adik Bungsu dr. Soetomo, disebutkan bahwa Soendari kemudian hari bekerja sebagai direktur Bank Nasional Malang . “Pernah ikut Perwari waktu tinggal di Semarang. Bu Soendari itu bukan tipe orang yang aktif dan tidak menonjol. Kalau kakaknya (Sri Oemiyati) atau Maria Ullfah itu memang aktif dalam kegiatan organisasi,” kata Solita Sarwono dan Santo Koesobjono (anak Soendari) pada Historia. Siti Soendari Istri Mohammad Yamin Siti Soendari Mertoatmodjo, bersama Moh. Yamin (kanan) dan anak mereka. (Sutrisno Kutoyo, Prof. H Muhammad Yamin, S.H). Tak banyak catatan tentang Siti Soendari istri Moh. Yamin. Dalam biografi Mohammad Yamin yang ditulis Sutrisno Kutoyo hanya disebutkan bahwa Yamin memperistri perempuan bangsawan Jawa asal Kadilangu, Demak bernama Siti Soendari Mertoatmodjo. Tahun pernikahan mereka pun tidak jelas. Kutoyo menulis mereka menikah tahun 1934, sumber lain menyebut mereka menikah tahun 1937. Lantaran namanya sama, ada penulis biografi yang mengira Soendari Mertoatmodjo merupakan pendiri Wanito Sworo . Padahal, seperti disinggung sebelumnya, pendiri Wanito Sworo merupakan Siti Soendari Darmobroto dari Jawa Timur. * Artikel ini merupakan koreksi atas artikel berjudul “Soendari Gigih Lawan Poligami” . Dalam artikel tersebut, Historia melakukan kesalahan berupa tercampurnya kisah Soendari Darmobroto dan adik dr. Soetomo. Artikel ini ditulis dengan menelusuri nama-nama Soendari dalam sejarah Indonesia.

  • ​​​​​​​Jejak Cina di Natuna

    Saling klaim kepemilikan wilayah laut kembali terjadi. Kali ini persengketaan menimpa wilayah Laut Natuna, Kepulauan Riau. Pemerintah RI sungguh dibuat kesal oleh sikap Cina yang kukuh mengakui Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Natuna sebagai bagian dari wilayah Laut Cina Selatan. Padahal Pengadilan Internasional dalam United Nations Convention of the Law of the Sea (UNCLOS) menyebut “Nine Dash Line” milik Cina yang telah ada sejak 1947 tidak memiliki dasar historis yang kuat. Pemerintah Indonesia tentu menolak dengan tegas klaim Cina atas Natuna itu. Pemerintah berpegang pada dua pijakan hukum untuk membantah klaim itu: Konvensi UNCLOS tahun 1982 dan putusan Pengadilan Arbitrase Laut China Selatan saat menyelesaikan sengketa Filipina pada 2016. Akibat adanya perseteruan ini, masyarakat cukup dibuat panik. Terutama untuk para nelayan yang sehari-harinya melaut di sana. Saling lempar tanggung jawab juga terjadi di tubuh pemerintah. Diberitakan detik.com , Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah tegas dalam menindak kapal-kapal Cina yang masuk ke Natuna. Namun ia juga mengingatkan agar jalan damai tetap dikedepankan dalam menyelesaikan persoalan ini. “Pemerintah RI harus bertindak tegas untuk mendesak kapal-kapal Republik Rakyat Tiongkok segera meninggalkan Laut Natuna Utara dengan mengedepankan diplomasi damai,” kata Puan. Lantas apakah klaim secara historis Cina terhadap wilayah Natuna sudah tepat? Tentunya perlu kajian mendalam dari para sejarawan untuk membenarkannya. Namun  sejarah mencatat  jejak orang-orang Cina di Natuna memang sudah ada sejak dahulu kala. Perjalanan ke Natuna Catatan pertama perjalanan orang-orang Cina ke Nusantara diketahui baru muncul pada abad ke-5 M. Melalui seorang biksu bernama Faxian, jejak para pelaut dari daratan Asia itu terekam dengan cukup baik. Meski dalam tulisan sang biksu, Catatan Negara-Negara Budhis , tidak terlalu lengkap membahas tentang keadaan di Nusantara, tetapi narasinya itu berhasil membuka jalan menuju ekspedisi yang lebih besar dikemudian hari. Menurut peneliti dari Pusat Studi Cina di Universitas Indonesia Nurni Wahyu Wuryandari, bangsa Tionghoa baru secara resmi mengunjungi Nusantara pada masa Dinasti Tang abad ke-7 M. Saat itu letak geografis Nusantara, khususnya Jawa, sudah tercatat dengan baik. Sehingga hubungan kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan daratan Cina perlahan mulai terjalin. “Saya curiga pelaut Tionghoa belum berlayar sendiri. Tetapi pakai perahu atau kapal besar milik India. Sebab Faxian tidak melaut dengan kapal Tiongkok, tapi pakai kapal dagang India. Mulai dari Dinasti Tang mungkin sudah pakai kapal sendiri (kapal Tiongkok). Cuma kita tidak tahu seberapa besar armadanya,” ucap Nurni kepada  historia. Sementara itu, W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa, menyebut jika para pelaut Cina melakukan perjalanan ke Nusantara melalui rute laut di wilayah Samudra Selatan. Total perjalanan menuju perairan Nusantara kurang lebih memakan waktu dua bulan, tergantung keadaan cuaca dan angin selama pelayaran berlangsung. Melalui catatan para pelaut China masa Dinasti Sung (960-1279 M) yang dikumpulkan Groeneveldt, diketahui bahwa mereka sudah melakukan perjalanan ke banyak tempat di Nusantara. Pusat kegiatan memang ada di Jawa, tetapi hubungan dengan daerah lain tidak pernah luput dari perhatian para pelaut Cina. Dalam hal ini apakah Natuna menjadi salah satu tempat yang mereka kunjungi? Kemungkinannya cukup besar, mengingat perairan Natuna masuk dalam rute perjalanan para pelaut Cina ini ketika berada di Nusantara. Jika melihat letak wilayah tersebut, bisa jadi Natuna digunakan sebagai tempat singgah para pedagang yang akan berlayar menuju pantai Sumatera, Kalimantan dan Semenanjung Malaya. Perkiraan itu diperkuat oleh penelitian Groneveldt tentang rute perjalanan pelaut Dinasti Sung antara abad ke-11 sampai abad ke-13. “Jarak dari ibukota ke utara (Kalimantan) memakan waktu 15 hari. Kemudian akan sampai di pantai timur Sumatera 15 hari lagi. Tujuh hari kemudian sampai di Kora, wilayah barat Semenanjung Malaya. Akhirnya tujuh hari lagi menuju Chaili-ting (mungkin sebuah pulau yang terletak di mulut Teluk Siam, di jalan menuju tanah Jiaozhi, Annam bagian utara) dan menuju Guangzhou." Jika rute tersebut terbukti digunakan para pelaut Cina, maka semakin jelas jika Natuna masuk di dalamnya. Lantas apakah ada bukti-bukti sejarah tentang keberadaan koloni dari daratan Asia ini? Tentu ada. Peninggalan di Natuna Dalam Buku Hari Jadi Kota Ranai  yang dikeluarkan pemerintah Kabupaten Natuna, disebutkan bahwa Pulau Bungaran, salah satu wilayah administrasi Natuna, telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal yang akan merapat ke Sriwijaya dari Laut Cina Selatan. Sejak permulaan abad ke-13 rute ini ramai digunakan. Sejumlah kegiatan dagang juga cukup berkembang di sana. Peningkatan aktifitas dagang di wilayah pantai timur Sumatera dan perairan Malaka berimbas pada banyaknya bangsa asing masuk ke wilayah Kepulauan Riau, termasuk perairan Natuna. Kegiatan kemaritiman tersebut tentu meninggalkan jejak kebudayaan yang tidak bisa dianggap remeh. Ada banyak kemungkinan yang terjadi. Salah satunya peninggalan arkeologis berupa benda-benda di sekitar perairan Natuna. Berdasarkan anggapan itulah pada 2015, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan survei arkeologi di sekitar Teluk Buton. Survei tersebut merupakan tindak lanjut atas laporan-laporan mengenai penemuan pecahan keramik di sekitar situs. Ditambah pengumpulan data secara pustaka juga menjadi acuan tim survei dalam menentukan titik koordinat penggalian. Dalam laporannya, termuat Di Balik Peradaban Keramik Natuna , tim survei berhasil mengumpulkan bermacam-macam peninggalan dari berbagai ukuran, berupa pecahan keramik, koin logam, tembikar dan benda-benda lain. Jumlahnya pun tidak main-main. Di pantai-pantai sekitar Natuna, khususnya Situs Karang Cina, ditemukan banyak pecahan keramik Cina. “Keramik tersebut sebagian besar berasal dari Cina Daratan. Ada yang berasal dari masa Ching, Ming, Yuan, bahkan dari masa Song. Dapat dibayangkan berapa lama Pulau Natuna yang hampir tidak terlihat dalam peta ini begitu diperhatikan oleh para pelaut Asia,” kata Ivan Evendi, tim Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. Temuan-temuan itu mempertegas peran Natuna dalam perlintasan niaga di masa lalu, utamanya periode abad ke-9 hingga ke-20. Arkeolog Naniek Harkantiningsih dalam Natuna: Jalur Pelayaran dan Perdagangan Jarak Jauh menyebut jika beberapa lokasi juga mengindikasikan adanya bekas pelabuhan singgah di perairan Natuna yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan timur dan barat. “Melalui identifikasi keramik dapat disimpulkan bahwa Pulau Natuna dan sekitarnya secara intensif telah dihuni secara bersinambung oleh penduduk yang terkait dengan perniagaan global, posisi dan potensinya  berada di persimpangan, menjadikan pulau ini pernah memegang peran penting, mungkin berkaitan dengan jaringan pelayaran dan perniagaan kerajaan besar,” kata Naniek.

  • Cara Penguasa Jawa Melawan Tiongkok

    Sejak mendirikan Dinasti Yuan, Khubilai Khan mulai menebar kekuasannya.Ia menuntut bakti dari penguasa-penguasa yang sebelumnya mengakui kekuasaan kaisar-kaisar Dinasti Sung. Jika menolak, mereka akan diserang. Salah satunya penguasa di Jawa. Khubilai Khan mengirim utusan ke Jawapada 1280, 1282, dan 1286.Raja Singhasari, Kertanegara dengan percaya diri merusak muka utusan terakhir, Meng Qi pada 1289, karenatelah menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara dan Asia Tenggara. Sebagaimana disebut dalam Kakawin Nagarakrtagama, bahwa seluruh Jawa, Sunda, dan Madura tunduk di bawah kekuasaan Kertanegara. Ia mengirim ekspedisi militer ke Malayu, menguasai Pahang di Semenanjung Malayu, serta menaklukkan Bali dan memboyong rajanya sebagai tawanan pada 1284. Ia juga menguasai Gurun, pulau di wilayah timur Nusantara, dan Bakulapura atau Tanjungpura di barat daya Kalimantan. Dalam Prasasti Camundi dari 1292 disebutkan Kertanegara puas dengan keme na ngan-kemenangannya di semua tempat. Ia menjadi payung pelindung seluruh dwipantara atau Nusantara. Sejarawan Malang, Suwardono dalam Krtanegara dan Misteri Candi Jawi, menjelaskan Prasasti Camundi memberikan petunjuk tentang hubungan Kertanegara dengan kawasan Asia Tenggara bagian selatan dan kepulauan. Itu pula yang dimaksud dalam Nagarakrtagama. Menurut Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, walaupun dalam Nagarakrtagama disebut menundukkan bukan berarti ada pertempuran. "Kalau ada (pertempuran) itu akan mempermudah Mongol masuk, karena energi berkurang," ujarnya. Khususnya ekspedisi ke Malayu pada 1275. Untuk mempererat hubungan dengan Malayu , pada 1286 Kertanegara mengirimkan hadiah berupa arca Buddha Amoghapasa. Penempatannya di Dharmasraya dipimpin oleh empat pejabat tinggi dari Jawa. Menurut Dwi itu bukan ekspedisi militer melainkan untuk merekut mitra sejajar. "Menurut saya ini semacam MoU ( memorandum of understanding ). Jika dua kekuatan itu berkoalisi, diharapkan dapat mengontrol Selat Malaka dan menghadapi musuh bersama,khususnya menghadapi serangan Mongol," kata Dwi. Selain di kawasan Nusantara, Kertanegara juga bersekutu dengan Kerajaan Champa. Tujuannya sama: untuk membendung serangan bangsa Tartar, sebutan Jawa untuk Mongol. Dalam Prasasti Po Sah di dekat Phanrang dari 1306 disebutkan seorang permaisuri Raja Champa adalah putri dari Jawa bernama Tapasi. Adik Kertanegara itu menikah dengan Raja Jaya Simhawarman III (1287-1307). Kerja sama itu menguntungkan bagi Jawa ketika Kubilai Khan mengirim pasukan pada 1292 untuk menghukum Kertanegara. Raja Jaya Singhawarman III tidak mengizinkan mereka menurunkan jangkar di pelabuhan Champa untuk mengisi perbekalan. Apalagi s elama berlayar ke Jawa, mereka menghadapi banyak kesulitan. Shi Bi, salah satu komandan ekspedisi dalam catatannya di Sejarah Dinasti Yuan, menyebut angin selama pelayaran bertiup sangat kencang. Lautan begitu bergelombang membuat kapal terombang-ambing. Para prajurit pun tak makan selama berhari-hari. Ditambah lagi, menurut W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa , armada Mongol yang berlayar dari Quanzhou di Fujian itu tidak mengikuti rute biasanya yang menyusuri pesisir Malaka dan Sumatra. Mereka justru berlayar di tengah lautan dan dengan berani atau mungkin nekat mengambil rute lurus terdekat menuju tujuannya. Akibatnya, dari ribuan kapal , yang berhasil sampai Jawa Timur hanya sebagian kecilnya. Banyak yang tewas. Baik karena serangan bajak laut, maupun penyakit.  " Mongol itu tidak jago berlayar. Apalagi paling sulit melintasi Laut Cina Selatan," kata Dwi. Supremasi Tiongkok Banyak yang yakin ekspedisi Khubilai Khan ke Jawa sebenarnya demi menguasai perdagangan laut. Namun, David W. Bade, ahli perpustakaan di Joseph Regenstein Library Universitas Chicago, dalam Of Palm Wine, Women and War: The Mongolian Naval Expedition to Java in the 13th Century , menjelaskan bahwa saat itu Jawa menjadi negara terakhir di selatan Tiongkok yang menolak tunduk. Pengaruh Jawa semakin besar setelah mengirim utusan ke Malayu dalam ekspedisi Pamalayu. Apalagi pengaruh Sriwijaya,yang berhubungan baik dengan Tiongkok, sudah pudar. "Kemungkinan invasi Mongol ke Jawa hanya karena hasrat Khubilai Khan mengirimkan angkatan lautnya dan juga amarahnya setelah Meng Qi dilukai, masih terus dipertanyakan,"  tulis Bade. Morris Rossabi, sejarawan Queens College dan Columbia University, salah satu yang meragukan ekspedisi Mongol ke Jawa hanya untuk menghukum orang asing yang melukai utusannya. "Sementara banyak sekali yang harus dipertaruhkan dalam ekspedisi ini," tulis Rossabi dalam Khubilai Khan: His Life and Times . Jika dilihat secara umum, menurut Groeneveldt, penguasa di Tiongkok selalu digerakkan oleh karakter superioritas mereka. Kala itu, supremasi Tiongkok terhadap negara-negara lain adalah dogma nasional yang begitu tertanam, bahwa kaisar ditunjuk Langit untuk menjadi penguasa dunia. Sejak masa awal sejarah Tiongkok, mereka selalu mencatat kedatangan penguasa asing yang memberikan penghormatan kepada kaisar. Para penguasa dari negara - negara yang lebih kecil di Asia sering melakukan perdagangan hingga ke Tiongkok , sambil membawa hadiah untuk mengambil hati penguasa nya .  Bahkan, c ara ini diikuti para pedagang swasta yang menyamar sebagai utusan dari negeri jauh. Dengan memberikan sedikit barang dagangan, mereka berharap mendapat fasilitas perdagangan atau akses hingga ke ibu kota. "Keuntungan utama hubungan ini adalah kesempatan bagi para penguasa di negara-negara lain agar bisa berdagang di Tiongkok," tulis Groeneveldt. Sejak dulu Tiongkok dipandang tinggi, khususnya oleh negara-negara di Asia. Budayanya tinggi, istananya mewah dan luas. Kekayannya membuat kagum bangsa-bangsa di Asia. Karenanya para penguasa merasa mendapat kehormatan jika bisa menjalin hubungan dengan Tiongkok. Sementara bagi kaisar, semua negara harus tunduk kepada bangsa yang dipilih Langit, yaitu Tiongkok. Jika ada yang memberikan hadiah (upeti), walaupun sedikit harus diterima dengan tangan terbuka dan dibantu sesuai dengan kebutuhannya. "Bangsa Tionghoa bahkan menjadikan upaya kontak dagang biasa menjadi pengakuan atas superioritas mereka," tulis Groeneveldt. Terlebih lagi kekuasaan Tiongkok di era Dinasti Mongol. Menurut sejarawan Inggris, John Man dalam Kubilai Khan, ambisi utama Sang Khan adalah membuat dunia mengakui kejayaannya. "Tak ada alasan khusus kenapa harus menaklukkan suatu negara. Ia hanya harus melakukannya," tulis John Man. Oleh karena itu, menurut Suwardono, Kertanegara berusaha untuk menyatukan seluruh Nusantara karena adanya bahaya dari luar yang mengancam, yaitu pasukan Mongol .

  • Asal-Usul Marga Sinaga

    SINAGA adalah salah satu marga tertua yang ada dalam suku Batak Toba. Asalnya dari Desa Urat, Pulau Samosir namun marga ini umum pula dikenal di Indonesia. Tidak sedikit pula keturunan Sinaga yang hari ini berada di penjuru dunia. Bila dijejaki dari garis leluhur, maka marga Sinaga keturunan Si Raja Batak generasi kelima. Dari Si Raja Batak memperanakkan Guru Tateabulan. Guru Tateabulan memperanakkan Tuan Sariburaja. Tuan Sariburaja memperanakkan Raja Lontung. Si Raja Lontung inilah yang menjadi ayahnya Sinaga. Si Raja Lontung memiliki sembilan anak yang terdiri dari 7 laki-laki dan 2 perempuan ( boru ). Mereka antara lain: Toga Sinaga, Tuan Situmorang, Toga Pandiangan, Toga Nainggolan, Toga Simatupang, Toga Aritonang, Toga Siregar, Siboru Amak Pandan, dan Siboru Panggabean. Menurut E.H. Tambunan dalam Sekelumit Mengenai Masyarakat Batak Toba dan Kebudayaannya , keturunan Lontung kebanyakan tinggal di Samosir. Keturunan Lontung kemudian menyebar memenuhi Tanah Batak. “Hampir di seluruh Tanah Batak terdapat keturunan Lontung, bermarga Sinaga,” tulis Tambunan. Dalam beberapa buku tarombo  (silsilah), sebagaimana dicatat antropolog Richard Sinaga dalam Silsilah Marga-Marga Batak , ada yang menempatkan Situmorang sebagai keturunan Lontung yang pertama sedangkan Sinaga pada urutan kedua. Menurut cerita orang tua turun-temurun, anak sulung Si Raja Lontung adalah Sinaga dan anak kedua Situmorang. Setelah dewasa, Situmorang lebih dulu kawin dengan Boru Limbong sementara adik Boru Limbong ini diperistri oleh Sinaga. “Karena itu Situmorang lazim disebut haha ni parrajaon  (menjadi abang karena istrinya kakak dari istri Sinaga) dan Sinaga disebut haha ni partubu  (abang karena lebih dahulu lahir),” tulis Richard Sinaga. Sinaga mempunyai 3 anak laki-laki antara lain: Raja Bonor, Raja Ratus, dan Raja Uruk. Masing-masing dari mereka mempunyai tiga anak laki-laki. Raja Bonor yang kemudian disebut Sinaga Bonor memperanakkan Raja Pande, Tiang Ditonga, dan Suhutnihuta. Si Raja Ratus yang kemudian disebut Sinaga Ratus memperanakkan Ratus Nagodang, Si Tinggi, dan Si Ongko. Raja Uruk yang kemudian disebut Sinaga Uruk memperanakan Sihatahutan, Barita Raja, dan Datu Hurung. Dalam Toba Na Sae: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX , budayawan Sitor Situmorang  mencatat persaingan antara marga Sinaga dan Situmorang pada masa Si Singamangaraja XII. Salah satu keturunan Sinaga bernama Ompu Palti Raja –menurut Belanda– adalah musuh bebuyutan Sisingamangaraja. Pada masa penyerangan Belanda, Ompu Paltiraja bersikap netral bahkan bermusuhan dengan Sisingamangaraja. Menurut Sitor, meski sama-sama keturunan Lontung, Situmorang dan Sinaga memainkan peran kultural dan politik yang berbeda. Marga Situmorang disebutkan sebagai bride giver  karena Sisingmanagaraja selalu beristrikan boru Situmorang. Sementara Sinaga disebut oleh Sitor sebagai bride taker  bagi dinasti Sisingamangaraja. “Dari silsilah diketahui bahwa relasi antara kedua marga kakak-beradik dalam lingkungan Lontung itu ditandai persaingan intern, yaitu perebutan hegemoni dalam organisasi parbaringin (agama Batak) di semua bius  Lontung,” tulis Sitor. Selain itu, diterangkan Sitor antara marga Sinaga dan Situmorang kerap bersaing mengenai siapa yang berhak menjadi Pandita Bolon  (pendeta utama) yang mempimpin organisasi parbaringin dalam bius (paguyuban meliputi wilayah tertentu) mereka. Sampai saat ini semua keturunan Toga Sinaga masih tetap satu marga yaitu marga Sinaga. Lain halnya dengan saudara-saudaranya yang enam, telah berkembang menjadi beberapa marga. Semua keturunan Toga Sinaga terhimpun dalam satu ikatan yang diberi nama: Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dohot Boruna (PPTSB). Persatuan ini ada di tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi bahkan tingkat nasional. Pada 1966 PPTSB membangun tugu Toga Sinaga di Desa Urat, Samosir dan diresmikan pada Juni 1970. Di tanah air, beberapa tokoh bermarga Sinaga tercatat sebagai tokoh publik. Mereka antara lain Anicetus Bongsu Antonius Sinaga (uskup agung), Saktiawan dan Ferdinand Sinaga  (pesepakbola), Restu dan Gita Sinaga  (artis peran), Indra Sinaga (vokalis band Lyla), Narova Morina Sinaga  (vokalis band Geisha), Dolorosa Sinaga  (perupa), dan yang lainnya .

  • Jalan Panjang Memulangkan Jarahan Belanda

    SEBANYAK 1.500 benda bersejarah Indonesia yang dibawa Belanda pada masa kolonial telah direpatriasi (dikembalikan) pada akhir 2019. Repatriasi yang berlangsung sejak 2015 itu, disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah. Namun, repatriasi itu tentunya bukan yang pertama kali. Sejak era kepemimpinan Sukarno, upaya repatriasi sudah mulai dilakukan. Pada 1954, Muhammad Yamin, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan saat itu, melawat ke Belanda. Dalam kunjungan tersebut, Yamin dan Soedarsono, Kepala Jawatan Kebudayaan yang menyertainya, mulai merintis usaha pengembalian benda bernilai sejarah dan budaya Indonesia yang disimpan di Belanda. Sutrisno Kutoyo dalam biografi Prof. H. Muhammad Yamin, S.H. menyebut upaya tersebut mendapat respons baik dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda. Mereka menyatakan akan segera menyerahkan benda-benda bernilai sejarah dan budaya yang diambil pada masa kolonial. Baca juga: Belanda Kembalikan Ribuan Benda Bersejarah Beberapa benda yang waktu itu hendak dikembalikan antara lain, tengkorak Sangiran, keropak Negarakertagama , arca Prajnaparamita, naskah tulisan tangan dalam bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Madura serta dialek-dialek tulisan tangan bahasa Indonesia, tengkorak Trinil Du Bois, dokumen perang, dan peta lama Indonesia. Kemudian pada 1955, dilakukan inventarisasi koleksi benda purbakala dan naskah kesastraan yang berada di Belanda dan beberapa negara Eropa. Hasilnya, sebanyak 1.151 benda yang disimpan di berbagai museum di Belanda serta 31 benda di museum Jerman, Denmark, dan Belgia berhasil diinventarisir. Keropak Negarakrtagama  menjadi benda pertama yang dikembalikan Belanda ke Indonesia. ( cagarbudaya.kemdikbud.go.id ). Namun, wacana repatriasi 1954 dan 1955 tersebut tampaknya tak pernah terealisasi. Isu tersebut baru disinggung kembali dalam Musyawarah Museum Seluruh Indonesia ke-1 di Yogyakarta pada Oktober 1962. Musyawarah menghasilkan usulan kepada pemerintah Indonesia untuk mengupayakan pengembalian "harta-harta alam dan kebudayaan" Indonesia di luar negeri. "Saatnya sudah tiba kini bagi kita untuk mengadakan registrasi terhadap harta kebudayaan nasional, agar dengan demikian dapatlah diketahui dengan jelas apa saja daripadanya yang masih kita miliki, yang telah hilang dan apa ada kemungkinan untuk mendapatkannya kembali," sebut Ghozali, Sekretaris Asisten Kurator Bagian Edukasi Museum Pusat (kini Museum Nasional), dikutip majalah Varia , 5 Juni 1963. Baca juga: Kisah Benda-Benda Bersejarah Indonesia Dibawa ke Negeri Orang Selain masalah pengembalian, musyawarah juga mengusulkan perombakan radikal terhadap sistem permuseuman yang dianggap telah usang. Diusulkan pula peninjauan terhadap Monumenten Ordonnantie 1931  dan diganti dengan Undang-Undang Museum dan Museum Nasional. Undang-Undang Museum diharapkan dapat menjamin kelestarian benda budaya bersejarah Indonesia dari difusi dan transisi budaya. Lebih lanjut, musyawarah juga menganjurkan agar Indonesia bergabung dengan International Council of Museum (ICOM) yang berpusat di Paris dan disponsori oleh UNESCO. Dengan menjadi anggota ICOM, Indonesia dapat menjalin hubungan kebudayaan dengan negara-negara anggota. Hal ini akan dapat mempermudah usaha-usaha pengembalian benda-benda bersejarah Indonesia. Baca juga: Harga Mahal di Balik Patung Gajah Museum Nasional Wacana-wacana tersebut tampaknya baru membuahkan hasil pada 2 September 1970, ketika Presiden Soeharto melakukan kunjungan ke Belanda. Dalam kunjungan tersebut, bersamaan dengan resepsi kenegaraan di Huis Ten Bosch, Ratu Juliana menyerahkan keropak Negarakrtagama . "Tidak lupa sebuah buku tua yang bernama Negara Kertagama  diberikan kepada Soeharto setelah buku yang memang berasal dari Indonesia itu tersimpan lama di Leiden," tulis majalah Ekspress , 19 September 1970. Namun, penyerahan tersebut agaknya hanya simbolis. Pasalnya, keropak Negarakrtagama baru benar-benar berada di tanah air pada 1972. Arca Prajnaparamita, salah satu masterpiece Museum Nasional, dikembalikan Belanda pada 1978. (Wikipedia). Pada 1978, Museum Pusat (kini Museum Nasional) dalam rangka ulang tahun yang ke-200, mengadakan pameran berbagai benda koleksinya. Secara khusus pameran tersebut menampilkan benda-benda bersejarah yang berhasil dikembalikan dalam rangka kerja sama kebudayaan antara pemerintah Indonesia dan Belanda. Salah satu benda primadona dalam pameran ini adalah arca Prajnaparamita dari salah satu candi Kerajaan Singhasari. Menurut katalog Pameran Peringatan Ulang Tahun ke-200 Museum Pusat arca ini dikembalikan oleh Belanda melalui Duta Besar Indonesia untuk Belanda Sutopo Yuwono pada 1978. Baca juga: Lebih Dekat dengan Museum Nasional Awalnya arca ini diserahkan kepada seorang sarjana Belanda bernama Reinwardt oleh asisten residen D. Monnerau, untuk disumbangkan kepada salah satu museum di Belanda pada 1819. Arca ini berada di Belanda selama satu setengah abad sejak diangkut ke Leiden pada 1823. Bersamaan dengan pengembalian arca tersebut, Belanda juga memulangkan tiga buah benda yang pernah digunakan oleh Pangeran Diponegoro, yaitu sebuah payung kehormatan, tombak dan pelana kuda. Selain itu terdapat 237 benda berharga dari Puri Cakaranegara, Lombok, hasil jarahan pada Perang Lombok 1894. Baca juga:  Kembara Pusaka Diponegoro Pada 2017, 37 tahun pasca pengembalian yang cukup besar itu, bersamaan dengan pembukaan pameran "Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh hingga Kini" di Galeri Nasional, sebuah tongkat milik Pangeran Diponegoro dikembalikan. Mengutip National Geographic Indonesia , tongkat bernama Kanjeng Kyai Cokro itu telah disimpan selama 181 tahun oleh salah satu keluarga keturunan Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1833-1834, Jean Chretien Baud. Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dengan Direktur Rijkmuseum Taco Dibbits usai pertemuan membicarakan pengembalian benda seni bersejarah dari Belanda ke Indonesia, 17 Mei 2019. (Dok. Bonnie Triyana). Setelah kembalinya 1.500 benda bersejarah akhir 2019, kini pemerintah Indonesia tengah melakukan pembahasan dengan Nationaal Museum van Wereldcultuturenterkait repatriasi gelombang selanjutnya. Ada tiga museum yang mengajukan repatriasi yakni Rijks Museum, Tropen Museum, dan Volkenkunde Museum. Baca juga: Mencari Museum yang Mendidik Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid dalam konferensi pers di Museum Nasional pada 2 Januari 2020, menyebut repatriasi selanjutnya masih berada pada tahap diskusi, terutama dengan museum Kerajaan Belanda, Rijks Museum. "Bulan Mei 2019 jumpa dengan direktur Rijks Museum mendiskusikan ini. Sebentar lagi akan ada workshop-workshop untuk meneruskan pembicaraan ini. Pengembalian apa yang di Belanda sekarang disebut roofkunst, benda-benda bersejarah dan benda kesenian yang diperoleh dengan cara tidak pantas," kata Hilmar Farid. Tim Indonesia yang terlibat dalam pembahasan pengembalian benda seni bersejarah dengan pihak Rijksmuseum. Dari kiri ke kanan: Nusi Lisabila Estudiantin dari Museum Nasional Indonesia, sejarawan Bonnie Triyana, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Belanda Din Wahid, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, dan politikus Heri Akhmadi. (Dok. Bonnie Triyana). Hilmar menyebut, proses repatriasi ini akan memakan waktu cukup lama karena perlu kajian lebih dalam hingga dilanjutkan ke pemilihan barang-barang yang akan dikembalikan ke Indonesia. "Karena untuk menentukan mana barang yang benar-benar diambil dengan cara dijarah juga tidak mudah," imbuhnya. Hilmar juga menambahkan bahwa "demam" repatriasi memang tengah menjadi pembicaraan hangat di berbagai negara di Eropa. Negara-negara tersebut berupaya melakukan dekolonialisasi rak-rak museum dan mengembalikan barang jarahan kepada negara bekas jajahan.

bottom of page