Hasil pencarian
9816 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- CIA Bikin Film Porno Mirip Sukarno
SUATU hari, hampir setahun setelah kunjungan Presiden Sukarno ke Amerika Serikat (16 Mei–3 Juni 1956). Mantan agen FBI (Federal Bureau of Investigation), Robert Aimé Maheu, menerima telepon dari Kolonel Sheffield Edwards, Kepala Kantor Keamanan CIA. Dia terdengar agak gugup, dan ingin tahu apakah dia bisa mampir ke rumahnya. Saat itu, Maheu tinggal di Falls Church, Virginia. Mereka bertemu di ruang hiburan. Area luas yang dirancang untuk pesta, dengan motif bahari: sebuah bar yang terbuat dari separuh sekoci sungguhan, lampu yang terbuat dari kayu apung, dan dinding yang dilengkapi fasilitas memasak untuk makan malam. Yang paling penting, ruangan itu memberi mereka privasi penuh.
- Muhammad Khan Mengikuti Jejak Shahrukh Khan
LEWAT karya Kucumbu Tubuh Indahku (selanjutnya disebut Kucumbu ) , Garin Nugroho berusaha menampilkan peleburan sifat maskulin dan feminine lewat tubuh seorang penari bernama Juno. Kisah hidup Juno yang berpindah-pindah dan penuh trauma menjadi pemandu bagi pemirsanya untuk memahami keberagaman seksualitas dan gender dalam budaya Indonesia. Namun, karya Garin itu sempat mengalami pencekalan oleh kelompok konservatif karena dianggap mengkampanyekan LGBT. Bahkan, sempat muncul petisi online untuk memboikot Kucumbu . Ibarat permata yang dibenamkan dalam lumpur namun tak kehilangan sinarnya, Kucumbu pada akhirnya mendapat apresiasi yang semestinya. Film ini memborong delapan penghargaan sebagai Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Penata Musik Terbaik, Pengarah Artistik Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Penata Busana Terbaik, serta Pemeran Pendukung Pria Terbaik. Tak lupa pula, film ini juga mengantarkan Muhammad Khan memenangkan Piala Citra sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik. Kemenangan ini menjadi pencapaian besar Khan mengingat Kucumbu merupakan film panjang pertamanya. Sebelumnya, Khan lebih banyak bermain di teater dan film pendek ketika masih kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Khan bernama asli Nurdiyanto. Ia lahir di Jepara, 28 Maret 1991. Nama Muhammad Khan ia pakai sebagai nama panggung karena kekagumannya pada Nabi Muhammad dan aktor Bollywood Shahrukh Khan. Pasalnya, cita-cita masa kecil Khan untuk menjadi aktor bermula dari kekagumannya pada sang idola. “Aku sangat mengagumi Shahrukh Khan sejak kelas IV SD. Dia panutanku. Shahrukh Khan dapat best actor pertama di usia 28, aku ingin mengikuti jejaknya itu,” kata Khan pada Historia. Sejak itu, ia menelusuri karya-karya Shahrukh Khan dan belajar akting dari film-filmnya. Begitu masuk SMA, Khan aktif di Teater Biassukma di Jepara dan menjadi ketua selama dua tahun. Setelah lulus SMA pada 2009, ia masuk ke jurusan teater dan fokus pada akting di ISI Yogyakarta. “Waktu kuliah aku juga ikut Saturday Acting Club, kelas akting yang digagas Rukman Rosadi. Dia itu dosenku di ISI. Waktu film Kucumbu dia yang jadi acting coach -nya,” kata Khan. Setelah lulus, Khan bekerja di sebuah homestay di Yogyakarta hingga naik menjadi supervisor lantaran tak mendapat pekerjaan sebagai aktor. Pada titik itu ia berpikir, kalaupun tidak menjadi aktor, ilmu keaktoran amat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari dan memahami beragam karakter manusia. Sebelum bermain di Kucumbu , Khan pernah mengikuti casting film Garin sebelumnya, Mata Tertutup . Namun sayang, ia tak lolos. Begitu ada kabar Garin mau buat film tentang penari, Khan tertarik untuk ikut casting . Pada audisi pertama Garin memberi Khan PR. “Mas Garin minta kamu belajar tari lengger,” kata salah seorang kru. “Lho memang aku keterima?” kata Khan. “Ya belum sih.” Sebagai aktor, Khan tak ambil pusing dengan homofobia yang masih menjamur di masyarakat Indonesia. Ia percaya pada kualitas Garin. Maka begitu diberi kabar bahwa ia mendapatkan peran Juno remaja, Khan amat gembira. “Ya bayangkan saja. Waktu itu aku kerja di homestay. Lalu dapat peran di filmnya Mas Garin Nugroho. Apa pun perannya aku mau,” kata Khan. Khan mengaku bukan peran feminine Juno yang membuatnya agak khawatir. Ia merasa agak tertekan karena menjadi pemeran utama dalam film Garin. Ia tak ingin mempermalukan atau membuat Garin berpikir salah pilih pemain. Dus , Khan membawa nama almamater ISI Yogyakarta. “Kalau mainku jelek, aku bisa dimaki-maki satu jurusan. Masak anak teater mainnya kayak gitu,” kata Khan. Bagi Khan, memerankan tokoh adalah memahami manusia dengan segala kompleksitasnya. Lewat ilmu akting itu, ia merasa lebih menghargai hidup dan lebih dekat dengan tuhan. “Tiap memerankan tokoh kan kita perlu riset, mempelajari ilmu baru, semacam wisata karakter,” katanya. Muhammad Khan, pemenang piala citra di film pertamanya. (Fernando Randy/Historia). Aktor Terbaik dalam Film Bertema Homoseksual Kemenangan Khan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik FFI semacam mengulang sejarah. Di masa lalu, ada pula aktor yang menang penghargaan dalam film bertema homoseksualitas. Dialah Mathias Muchus, yang memenangkan aktor terbaik pada FFI 1988 lewat Istana Kecantikan. Film yang rilis pada 1988 itu menjadi film pertama bertema homoseksual di Indonesia. Istana Kecantikan disutradari Wahyu Sihombing dengan Asrul Sani sebagai penulis naskahnya. Kisahnya dibuka oleh Nico (Mathias) seorang gay yang didesak untuk segera menikah oleh orangtuanya. Ia akhirnya menikahi Siska (Nurul Arifin) meskipun Nico sejatinya tak punya hasrat sama sekali pada perempuan. Menurut Ben Murtagh dalam artikelnya “Istana kecantikan: the First Indonesian Gay Movie” yang dimuat South East Asia Research, Istana Kecantikan bisa dilihat sebagai gambaran reflektif tentang isu gay yang sedang hangat pada 1980-an. Film menceritakan tentang kesulitan Nico untuk hidup sebagai seorang gay di tengah masyarakat yang heteronormatif (hanya hubungan lelaki-perempuan yang dianggap normal). Meski demikian, beberapa tokoh terdekat Nico yang mulanya kecewa mengetahui bahwa dia gay, perlahan mengerti dan simpatik. Mathias Muchus dalam wawancara dengan Ben Murtagh menyebut keinginan Wahyu Sihombing dan Asrul Sani mengangkat tema homoseksual karena merupakan hal baru dan kontroversial. Lebih jauh, pembuatan film tersebut bukan untuk membangun prasangka melainkan menghadirkan isu tentang homoseksual ke muka publik. Beberapa adegan dalam film itu kena gunting sensor, seperti dua lelaki bergandengan tangan, pesta khusus lelaki gay, dan adegan ciuman. Namun, penontonnya bejibun, ada di berbagai kota khususnya kaum gay dan waria. Berbeda dengan film Garin yang mendapat banyak pujian dari pengamat film, Istana Kecantikan dinilai kurang bagus. Menurut Salim Said dalam Pantulan Layar Putih, film arahan Sihombing itu punya banyak kekurangan. Istana Kecantikan seperti naskah yang kurang menyatu dengan lingkungannya. Lebih lanjut, Salim menyebut film ini baru sampai pada tingkat informatif, belum sampai pada taraf yang subtil. Meski secara umum filmnya kurang memuaskan, Salim amat memuji akting Mathias yang jadi penolong film. Salim menyebut permainan Mathias luar biasa. Karakter gay yang ditampilkannya tak semata fisikal namun mendalam, secara utuh, dan lentur. “Secara amat subtil dan penuh nuansa, Muchus memainkan tokoh gay yang diciptakan Asrul Sani lewat skenario dan cerita aslinya dalam film Istana Kecantikan, ” tulis Salim.
- Wibawa Sukarno Mengesankan Inggris
SERANGAN Umum 1 Maret 1949 atas Yogyakarta menjadi awal sinyal perdamaian hadir di Indonesia. Pendudukan kota selama 6 jam oleh TNI itu berhasil menyadarkan dunia bahwa Republik Indonesia masih hidup. Berkat peristiwa itu dunia terus mendesak Belanda agar segera mengadakan perundingan dengan pihak Indonesia. Dewan Keamanan pun meminta Belanda melaksanakan resolusi damai, tertanggal 28 Januari 1949, yang mereka buat tentang penyerahan kedaulatan kepada Indonesia sebelum 1 Januari 1950. Pihak Indonesia yang sejumlah pejabat terasnya (termasuk Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta) ditawan Belanda, membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera. Menurut sejarawan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia VI, pemerintah darurat ini bertugas melanjutkan perjuangan secara politik, militer, dan kenegaraan sepeninggal Sukarno-Hatta. Sjafruddin Prawiranegara ditunjuk sebagai ketua, didampingi T.M. Hassan. Dalam menjalankan tugasnya PDRI juga mendapat dukungan penuh dari TNI. "Akan tetapi, hubungan dengan para pemimpin RI yang ditawan Belanda di Pulau Bangka tidak ada sama sekali. Oleh karena itulah kemudian terdapat perbedaan pendapat antara PDRI dan pihak Bangka, khususnya mengenai Pernyataan Roem-Roijen," kata Nugroho. Perundingan Roem-Roijen menimbulkan perpecahan di kalangan republik. Sukarno yang statusnya masih tahanan malah memberi kuasa kepada Mohammad Roem untuk berunding, sedangkan wewenang politik seharunya berada di tangan PDRI. Sikap Sukarno itu mendapat tentangan keras dari Partai Masjumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI). Dikisahkan salah seorang tokoh PSI Soebadio Sastrosatomo, dalam biografinya Soebadio Sastrosatomo: Pengemban Misi Politik , Sutan Sjahrir sampai-sampai harus meminta bantuan Kolonel T.B. Simatupang, Kepala Staf Angkatan Perang, untuk memberi tahu orang-orang di Sumatra agar Sukarno jangan dibiarkan ikut campur dalam urusan perundingan dengan Belanda. Biar pemerintahan sementara yang bertindak atas wewenangnya sendiri. Meski begitu, tidak semua pihak menentang sikap Sukarno tersebut. Banyak kalangan yakin keputusan Si Bung dapat membawa perubahan ke arah lebih baik. Keyakinan itu ditunjukkan L.N. Palar saat dirinya mengirim salah seorang perwakilan Indonesia di Amerika Serikat, Soedarpo, untuk meyakinkan orang-orang di dalam negeri agar mendukung semua keputusan Sukarno. "Soedarpo belajar dari pengalaman dan kenyataan. Betapa hebatnya Sukarno terlihat waktu pertempuran di Semarang, Ambarawa, dan Surabaya. Inggris minta perantaraan Sukarno untuk menghentikan pertempuran. Sukarno bilang stop , ya, pertempuran stop. Begitu besar pengaruh Sukarno," kata Soebadio. Walaupun Sukarno ditahan Belanda di Bangka, kata Soebadio, dunia internasional umumnya masih menganggapnya ada. Soedarpo sendiri ketika pulang ke Indonesia langsung menghadap Sukarno di Bangka, bukan PDRI. Ia melaporkan segala perkembangan diplomasi di Dewan Keamanan dan segala bentuk dukungan terhdap RI kepada Sukarno. "Waktu itu Soedarpo memberitahukan kepada Sukarno penilaian wakil Inggris dan Prancis di Dewan Keamanan PBB yaitu mengakui besarnya pengaruh dan kewibawaan Sukarno atas rakyat Indonesia dan karena itu untuk menyelesaikan masalah Indonesia tetap harus berunding dengan Sukarno," ucapnya. Soedarpo bersikeras jika Inggris secara khusus menginginkan Sukarno selalu berada di garis depan perjuangan Indonesia. Pengalaman mereka di Ambarawa dan Surabaya benar-benar telah membuka pandangan mereka terhadap Sukarno. Namun ucapan perwakilan RI di New York itu tidak begitu saja diterima Sukarno. Si Bung malah hampir-hampir tidak percaya dengan pernyataan yang menurutnya berlebihan itu. Tapi Soedarpo meyakinkan Sukarno jika ucapan itu memang benar adanya. Inggris memang berpikir demikian. Bahkan Prancis di Dewan Keamanan pun sampai ikut mengaminkan pernyataan Inggris. "Sungguhpun demikian, Soedarpo mengatakan kepada orang-orang di Bangka supaya mereka memperhatikan PDRI sebagai faktor dalam menghadapi Belanda. Tapi mereka tidak mendengar," kata Soebadio.
- Misteri Penamparan Soeharto
SELEBARAN gelap yang kertasnya sudah menguning itu seolah berbicara banyak. Di bawah judul "Manifesto Mahasiswa ITB atas Kekuasaan Soeharto" disebutkan beberapa kisah yang menyebabkan para mahasiswa Bandung menolak pencalonan kembali Jenderal TNI (Purn.) Soeharto sebagai presiden Republik Indonesia periode 1978-1983.
- Menggali Balet Nasional Indonesia
DEWAN Kesenian Jakarta (DKJ) bikin hajatan seputar balet di pengujung 2019: "Ballet in Batavia" dan "Tribute to Farida Oetoyo". Hajatan pertama berupaya mengeksplorasi akulturasi tari balet dengan tari tradisional Indonesia. Hajatan kedua mengangkat perjalanan hidup maestra (perempuan) balet Indonesia, Farida Oetoyo. Dia mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk perkembangan balet.
- Akar Sejarah Pohon Natal
BILA Lebaran Idul Fitri identikdengan ornamen ketupat, Hari Raya Natal punya pohon natal.Ornamenyang bertebaran di rumah-rumah, perkantoran hingga pusat-pusat perbelanjaan itu punya sejarah panjang. Tradisi menghadirkan pohon natal sebagai pelengkap semangat Natal di Nusantara tercatat sudah eksis sejak pertengahan abad ke-19 meski tak semua umat Kristiani memilikinya. Lazimnya, selain para pejabat pemerintah Hindia Belanda yang memilikinya, pohon natal dihadirkan di tempat-tempat tertentu. Salah satunya di Yayasan Djattie, sebagaimana dilaporkan Java Bode edisi 1 Januari 1859. “Pada Minggu malam ini pohon natal yang didekorasi dengan indahnya, memanjakan mata anak-anak Yayasan Djattie yang lokasinya sementara ini berada di Gang Pecenongan,” tulis Java Bode . Pohon natal itu dihadirkan berkat sumbangan sejumlah donatur dan para anggota pengurus yayasandalam rangka menghadirkan semangat Natal kepada sekira 40 anak-anak asuhnyang sudah ditampung yayasan itu sejak 1855. “Di sebuah meja juga disediakan banyak hadiah dari para donatur. Selain pohon natal, anak-anak itu juga disuguhi kudapan-kudapan yang menciptakan senyuman di wajah anak-anak. Sebuah malam yang tak terlupakan untuk para penghuni cilik Yayasan Djattie,” lanjut suratkabar itu. Suasana Natal di Indonesia oleh orang-orang Belanda pada 1946 (kiri) & 1938 di sebuah rumahsakit di Bogor. ( nationaalarchief.nl ). Tak hanya di Batavia (kini Jakarta),di sebuah panti asuhan sederhana di Karesidenan Magelang juga diadakan pohon natal. Panti asuhan itudidirikan misionaris BelandaJohannes van der Steur. Selain menampunganak-anak telantar yang dipungut dari jalanan, panti juga maupun anak-anak korban perang. “Semalam, pada tanggal 25 (Desember, red. ), Natal dirayakan di gereja di bawah pimpinan Tuan Joh. van der Steur. Sebuah Pohon Natal dan hadiah-hadiah dihadirkan untuk anak-anak yang membutuhkan, juga pakaian-pakaian baru. Acara itu menarik minat banyak pihak, termasuk Residen (Magelang, red. ) dan keluarganya,” tulis suratkabar De Locomotief , 30 Desember 1897. Pohon natal bisa dibilang tradisi umat Kristen (Protestan), bukan Katolik. sebelum akhirnya tradisi itu turut menular ke Vatikan sejak 1982. Namun bagaimana sejatinya akar tradisi Pohon Natal itu sendiri? Pohon Keramat Dewa Thor Meski tradisi pohon natal lebih identik dengan umat Kristen (Protestan) , sejarahnya berakar dari sebuah peristiwa yang dialami salah satu penyebar agama Katolik, Santo Bonifasius , di tahun 723. Dalam Vitae Sancti Bonifatii auctore Willibaldi atau Riwayat Santo Bonifasius yang diterjemahkan dalam bahasa Latin oleh Uskup Willibald, kejadian itu berhulu dari upaya Bonifasius kala mengkristenisasi orang-orang di Germania (Jerman) yang mayoritas masih penyembah berhala. Pada tahun 723 saat Bonifasius sedang menyebarkan Katolik di sebuah wilayah, ia bertemu sekelompok penyembah berhala yang sedang menjalani ritual dengan tumbal seorang bayi. Bayi itu akan dikorbankan sebagai persembahan untuk Dewa Thor di bawah pohon donar. Pohon itu dikeramatkan para penyembah berhala di sebuah wilayah yang saat ini diyakini bertempat di sekitar kota Fritzlar, negara bagian Hesse di utara Jerman. Melihat hal itu, Bonifasius segera mengambil sebilah kapak dan menebang pohon tersebut dengan sekali tebasan diiringi rapalan doa atas nama Yesus Kristus. Meski angin kencang berhembus dan petir menggelegar di langit, Bonifasius tetap berhasil menumbangkan pohon keramat itu dan membuat para pemuja Thor takjub hingga segera beralih keyakinan masuk agama Katolik. Ilustrasi Santo Bonifasius menebang pohon penyembah berhala (Repro Walhall, die Götterwelt der Germanen ). Di balik pohon keramat tumbang itu, Bonifasius melihat sepucuk tunas pohon cemara. Ia pun melontarkan sabda: “Biarkan (tunas) pohon ini menjadi simbol Tuhan yang sebenarnya, biarkan daunnya senantiasa hijau dan takkan mati.” Namun, peristiwa itu tak serta-merta jadi tradisi Natal umat Katolik. Justru umat Protestan yang menghadirkannya kali pertama , di Katedral Strasbourg pada 1539 . Pendapat tersebut tentu bukan final. Ada beberapa pendapat lain , seperti pohon natal sudah dihadirkan lebih awal daripada di Katedral Strasbourg. Sejarawan Bernd Brunner merangkum beberapa di antaranya dalam Inventing the Christmas Tree . “Pada 1419 di Asrama Persaudaraan Freiburg disebutkan terlihat sebuah pohon didekorasi dengan apel, wafer, kue jahe, serta hiasan kertas di Rumahsakit Roh Kudus setempat,” ungkap Brunner. Klaim lain berasal dari dokumen yang belum bisa diverifikasi, lanjut Brunner, adalah klaim bahwa pohon natal pertamakali dihadirkan di Tallinn, Estonia tahun 1441. Pohonnya dipasang di depan balaikota diiringi pesta dansa. “Di Riga, Latvia, ada lagi klaim bahwa pohon natal pertama yang didekorasi sudah ada sejak 1510. Di sana para saudagar asing yang membentuk sebuah perkumpulan, mendirikan pohon yang didekorasi oleh anak-anak dengan apel, hiasan wol, dan jerami yang ditempatkan di depan balaikota sepanjang musim dingin,” sambungnya. Pohon Natal di Vatikan Seiring tempo menggelinding, umat Protestan di Jerman membawa tradisi menghias pohon di malam Natal lewat gelombang migrasi ke penjuru Eropa pada abad ke-16 dan Amerika yang bermula pada 1670-an. Tradisi itu dibawa umat Protestan dari beragam golongan. “Orang Lutheran Jerman membawa pohon Natal yang dihias bersama mereka; umat Moravian menghiasi pohon-pohon mereka dengan lilin. Saat menghias pohon natal, banyak yang kemudian memasang simbol bintang di pucuk pohonnya sebagai simbol Bintang Bethlehem,” ungkap Dorothy Wells dalam artikelnya, “Christmas in Other Lands” yang termuat di The School Journal Volume 55 terbitan 1897. Di Rusia, tradisi pohon natal sudah merambah sejak abad ke-17. Namun sejak Uni Soviet menggantikan Tsarisme Rusiapada 1917, tradisi itu dilarang seiring kampanye anti-agama Soviet. Meski tak satupun pohon natal eksis di Hari Natal, menghias pohon cemara ala pohon natalmasih diperbolehkan dalam kerangka festival tahun baru.Ritual-ritual peribadatan Kristen Ortodoks tetap dihilangkan. Pohon Natal di Lapangan Santo Peter, Vatikan. ( thesplendorofthechurch.com ). Sementara, para pemeluk Katolik Roma menyatakan pohon natal yang acap dihadirkan umat Protestan merupakan simbol paganisme atau penyembah berhala. Pandangan itu baru berubah pada 1982 di masa Kepausan Yohanes Paulus II. Paus Yohanes Paulus II bikin gebrakanbersamaan dengan dihadirkannya presepio atau diorama “Gua Natal” yang menggambarkan kelahiran Yesus Kristus berukuran besar di St. Peter’s Square. Menurut Uskup Agung Mieczysław Mokrzycki, salah satu sekretaris sang paus, pohon natal mulai dihadirkan di Vatikan demi membuat semangat Natal lebih dekat dengan suasana kekeluargaan yang hangatsebagaimana yang biasa dirasakan sang paus di negeri kelahirannya, Polandia. “Bapa Kudus (paus) sangat senang merayakan hari suci dengan atmosfer kekeluargaan, sesuai tradisi orang Polandia. Paus Yohanes Paulus II memulainya dengan menyalakan lilin di jendela pada malam hari yang jadi tradisi sejak 1981, ketika Jenderal Jaruzelski (Presiden Polandia, red. ) mengumumkan darurat militer; dan Wojtyła (Karol Józef Wojtyła, nama lahir Paus Yohanes Paulus II, red. ) ingin lilin itu sebagai simbol kedekatannya dengan rakyat yang dipersekusi,” tuturnya dalam Stories about Saint John Paul II: Told by His Close Friends and Co-Workers oleh Włodzimierz R ę dzioch. “Bapa Kudus sangat senang dengan pohon natal. Dulu di apartemennya selalu ada saja yang mengirim pohon natal dari Pegunungan Zakopane. Koridor apartemennya juga dihiasi presepio karena buatnyatidak ada Natal tanpa pohon natal dan presepio ,” tandas Uskup Agung Mokrzycki.
- Habis Natal Terbitlah Boxing Day
SEPEKAN liburan Nataru (Hari Raya Natal hingga tahun baru) jadi momen yang pas untuk berkumpul bersama keluarga atau dimanfaatkan untuk wisata jarak jauh. Namun tidak begitu di Inggris, yang punya tradisi Boxing Day dengan hiburannya berupa tontonan sepakbola. Untuk sepekan ini saja jadwal tim-tim elit Premier League sudah padat. Tentu membuat para pemain, pelatih, dan ofisial serta para penonton hanya akan merasakan liburan lewat menonton pertandingan sepakbola. Beberapa laga yang akan dihelat pun bakal krusial untuk perburuan gelar di momen Boxing Day , 26-28 Desember 2019: Chelsea vs Southampton, Tottenham Hotspur vs Brighton & Hove Albion, Sheffield United vs Watford, dan Liverpool vs Leicester City. Namun, apa itu Boxing Day ? Merujuk Oxford English Dictionary edisi pertama keluaran 1887, makna Boxing Day adalah liburan di pekan pertama setelah Hari Natal. Di era 1830-an, di Inggris mulai marak pemberian hadiah kado ( box ) sebagai bentuk rasa syukur di hari peringatan kelahiran Yesus Kristus. Kado itu biasa diberikan para orangtua kepada anak-anak mereka atau dari para juragan ke para pekerja. Meski belum disebut Boxing Day, tradisi itu sudah tercatat jauh sebelum abad ke-19. Catatan pelaut dan politisi Samuel Pepys dalam Diary of Samuel Pepys salah satunya . Dalam catatannya tanggal 19 Desember 1663, disebutkannya bahwa sudah menjadi kebiasaan untuk para pelayan diberi hadiah dari para majikan sekaligus diberi hari libur untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga satu hari setelah Hari Raya Natal. Di hari besar itu para pelayan sudah bekerja seperti biasanya melayani para tuan. Tradisi itu terus berlanjut hingga kini, bahkan menyebar lewat negeri-negeri koloninya yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Boxing Day dan Si Kulit Bundar Meski sepakbola bukan ditemukan di Inggris, tetap diakui orang Inggrislah yang mengembangkan permainan ini dengan rupa-rupa aturannya. Maka wajar sepakbola senantiasa hadir sebagai hiburan masyarakat lintas “kelas” di banyak momen besar, semisal Natal. Inggris pula yang melahirkan klub tertua yang masih eksis sampai sekarang, yakni Sheffield FC. Ia lahir pada 24 Oktober 1857. Sheffield FC memainkan pertandingan antarklub resmi pertama melawan Hallam FC dalam tajuk “Rules Derby” di stadion Sandygate Road, 26 Desember 1860. Sebelumnya, klub-klub saat itu sekadar bermain melawan timnya sendiri. Sheffield FC menang 2-0 di momen Boxing Day itu yang stadionnya disesaki penonton. Sebagaimana yang diungkap buku perayaan satu setengah abad klub, Sheffield FC: Celebrating 150 Years of The World’s First Football Club , laga itu jadi laga sepakbola pertama Boxing Day . Laga itu dirancang kedua petinggi klub untuk menegaskan semangat Natal. “Tidak ada kejadian buruk yang terjadi –permainan dilakukan dengan suasana yang baik dan dalam semangat persahabatan– dan ketika langit mulai gelap, Sheffield Club menang dua gol tanpa balas dan pulang dengan kemenangan yang memuaskan,” tulis suratkabar Sheffield Daily Telegraph , 28 Desember 1860. Sheffield FC, klub sepakbola tertua di dunia (Foto: Repro "Sheffield FC: Celebrating 150 Years of The World’s First Football Club) Laga Boxing Day pertama dalam kompetisi resmi baru terjadi di Football League musim perdana, 1888-1889. Football League di musim itu diakui sebagai kompetisi resmi tertua dengan format liga dan tetap menjadi liga kelas paling atas di Inggris hingga 22 klubnya memisahkan diri dan membentuk Premier League. Sebelumnya FA Cup-lah kompetisi resmi pertama dengan format turnamen, bergulir sejak musim 1871-1872. Di laga Boxing Day 26 Desember 1888 itu, Preston North End meladeni West Bromwich Albion dan menang telak 5-0. “Di laga inilah performa terbaik Preston terjadi di musim rekor mereka. Saat wasit meniup peluit terakhir, para pemainnya diberi tepuk tangan paling meriah oleh para penonton yang datang di Boxing Day itu,” ungkap jurnalis dan sejarawan sepakbola Mark Metcalf dalam The Origins of the Football League: The First Season 1888/89 . Suksesnya Boxing Day di musim pertama liga itu bikin jadwal musim berikutnya lebih gila. Seperti yang dialami Aston Villa, misalnya. Dua hari berturut-turut mereka berlaga kontra Preston pada Hari Natal 25 Desember 1899 dan meladeni Accrington di Boxing Day keesokan harinya. Itu jadi kali pertama sepakbola tercatat dimainkan di Hari Natal dengan mencatatkan sembilan ribu penonton selama dua hari itu. Baru pada 1965, FA (induk sepakbola Inggris) menetapkan tiada lagi jadwal yang diperbolehkan eksis pada Hari Natal, merujuk pengalaman di beberapa musim sebelumnya yang tak hanya kerap diganggu cuaca buruk namun juga dampak para pemainnya cedera parah. Kalaupun cuaca memungkinkan, laga hanya boleh dimainkan pada 26 Desember. “Tidak satupun klub yang boleh memainkan pertandingan pada Hari Paskah dan Hari Natal,” demikian pernyataan FA, dinukil C.W Alcock dalam The Classic Guide to Football . Sebuah laga Boxing Day di Liga Inggris 1985 Laga Boxing Day juga pernah dimainkan di tengah berkecamuknya Perang Dunia I, 1914, antara serdadu Inggris dan Jerman. Mulanya kisah itu sempat diangap mitos, hingga terungkapnya sebuah surat seorang Sersan Clement Barker dari Batalyon Ke-1 Grenadier Guards, dari front barat ke keluarganya, kala terjadi gencatan senjata antara kedua kubu yang berperang di Hari Natal. “Seorang Jerman muncul dari paritnya – tidak ada tembakan – pasukan kami pun tak menembak, dan kemudian yang terjadi adalah permainan sepakbola. Lantas malam tiba dan belum juga ada tembakan. Pada Boxing Day (26 Desember) juga sama dan terus begitu sampai sekarang,” tulis Barker dalam suratnya tertanggal 29 Desember 1914 dengan tujuan kepada adiknya, Montagu Barker di Ipswich, sebagaimana dikutip Daily Mail , 23 Desember 2012. Seiring tempo menggelinding, semarak Boxing Day menular ke segenap Inggris Raya. Mulai dari Wales, Skotlandia, hingga Irlandia Utara. Pun dengan bertumbuhnya industri sepakbola di Negeri Tiga Singa, para pembuat kebijakan Liga Inggris merancang Boxing Day tak lagi antar-rival sekota atau klub yang basisnya berdekatan. “Jumlah penonton selalu lebih besar ketimbang hari biasa. Namun laga derbi mulai jarang dijadwalkan di hari itu karena mereka tahu bahwa mereka bisa selalu mengharapkan tiket habis di tanggal 26 Desember, hingga akhirnya mereka memilih laga-laga derbi yang juga menarik perhatian banyak penonton di hari lain,” kata jurnalis olahraga Nick Szczepanik dalam Pulp Football: An Amazing Anthology of True Football Stories You Simply Couldn’t Make Up. Sejak 1992, Liga Inggris mulai kebanjiran pelatih dan pemain asing. Banyak yang kaget mereka tetap harus merumput di masa-masa liburan Natal hingga tahun baru. Pasalnya, tak satupun negeri di luar Inggris Raya yang menjadwalkan pertandingan di masa liburan Nataru. Ada yang mengkritik kebijakan itu, namun tak sedikit yang menerima tradisi itu sebagai tantangan. Aloysius Paulus Maria 'Louis' van Gaal, salah satu pelatih asing yang mengkritik tradisi Boxing Day (Foto: manutd.com ) Salah satu pengkritiknya adalah Louis van Gaal, pelatih Manchester United periode 2014-2016 asal Belanda. “Tidak ada jeda musim dingin dan saya rasa itu hal terburuk dari budaya ini. Sebenarnya tidak baik buat sepakbola Inggris, buat klub atau timnas. Inggris belum pernah memenangkan apapun dalam beberapa tahun terakhir, kan? Itu karena para pemainnya kelelahan di akhir musim,” ujarnya kepada The Guardian , 23 Oktober 2015. Keluhan lain juga disampaikan bek Liverpool periode 1999-2009 asal Finlandia, Sami Hyypiä dalam otobiografinya, From Voikkaa to the Premiership . “Bahkan kami latihan di Hari Natal. Bukan rahasia bahwa Liga Inggris punya jadwal di musim dingin dan saya sadar telah memilih karier ini dengan risiko naik-turunnya performa,” tulisnya. Namun pandangan lain dilontarkan pelatih Arsenal 1996-2018 Arsène Wenger yang menganggap, tradisi Boxing Day adalah hal unik yang tak ditemukan di belahan bumi manapun. “ Itu adalah daya tarik dan kegilaan sepakbola Inggris. Jelas Boxing Day berkontribusi mempromosikan Liga Inggris. Semua orang di negeri lain yang sedang libur dan bosan, takkan lagi merasakan kebosanan setelah melihat pertandingan Liga Inggris,” cetusnya, dikutip Ian Ridley dalam There’s Golden Sky: How Twenty Years of Premier League Has Changed Football Forever . Melihat suksesnya sepakbola Inggris dari masa ke masa dengan tradisi Boxing Day- nya, Lega Calcio selaku operator Serie A Liga Italia mencoba menyontek konsepnya pada musim 2018-2019. Niatnya memang untuk mendongkrak finansial. Maklum sejak skandal bola terbesar di Italia pada 2006, pamor sepakbola Italia menukik tajam. Stadion-stadion tak lagi terisi penuh seperti sebelumnya. Sayang eksperimen itu gagal. Dari rapat evaluasi pada April 2019 setelah melihat hasil Boxing Day Liga Italia pada Desember 2018-Januari 2019, tak menampilkan grafik signifikan. Jadwal laga-laga Boxing Day tak lagi ditetapkan untuk musim ini (2019-2020).
- Agen Lokal CIA di Sumatra
SUATU pagi, pengusaha Hasjim Ning menemani Presiden Sukarno sarapan di Istana Merdeka. Selagi makan, Sukarno menyuruh Hasjim untuk pergi ke Padang menemui Letkol Ahmad Husein, Ketua Dewan Banteng dan Komandan Resimen IV. Sebagai bentuk protes terhadap pemerintah pusat, Husein mengambil alih pemerintahan sipil dari Gubernur Sumatra Tengah, Ruslan Muljohardjo, dan mengangkat dirinya sebagai Ketua Daerah.
- Pesan Damai di Hari Natal
HARAPAN itu muncul tepat di malam Natal 1947. Usaha perdamaian telah membuahkan hasil. Indonesia yang sejak mengumandangkan kemerdekaan terus terjerat ambisi Belanda kembali menguasai negeri akhirnya dapat sedikit bernapas lega. Pasalnya Panitia Jasa-Jasa Baik (Committee of Good Offices) yang dibentuk atas dasar Resolusi Dewan Keamanan menyatakan kesediaannya membantu menengahi masalah kedua negara yang tengah berselisih itu. Lantas apa alasan Dewan Keamanan bersedia membantu menyelesaikan konflik Indonesia-Belanda tersebut? Berdasarkan penuturan Frank P. Graham, wakil Amerika Serikat (AS) dalam Panitia Jasa-Jasa Baik, Dewan Keamanan ingin negara-negara di Asia Tenggara yang baru merdeka, termasuk Indonesia, menjadi negara bebas. Mereka juga meminta agar Indonesia dan Belanda segera menghentikan segala bentuk tindakan-tindakan permusuhan. “Dewan Keamanan memutuskan memberikan jasa-jasa baiknya kepada kedua pihak untuk membantuk menyelesaikan sengketanya secara damai, sesuai dengan paragraf b dari resolusi Dewan Keamanan tanggal 1 Agustus 1947: menjelaskan sengketanya dengan arbitrasi atau dengan cara damai lainnya dan senantiasa memberitahukan kepada Dewan Keamanan tentang kemajuan dari usahanya,” tulis Alastair M. Taylor dalam Indonesian Independence and The United Nations . Resolusi itu diterima oleh keduanya. Sesuai kesepakatan, baik Indonesia maupun Belanda harus menunjuk satu negara sebagai perwakilan mereka di dalam Panitia Jasa-Jasa Baik. Belanda lalu memilih Belgia sebagai wakil, sementara Indonesia memilih Australia, sedang AS ditunjuk sebagai anggota ketiga. Maka terbentuklah anggota Komisi Tiga Negara (KTN), yang selanjutnya menjadi dewan penengah dalam persoalan diplomasi ini. Namun meski menerima usulan Dewan Keamanan, Belanda menunjukkan sikap kurang kooperatif dalam setiap perundingan. Mereka secara terang-terangan meminta agar Dewan Keamanan tidak ikut campur dalam sengketa di Indonesia. Baginya soal ini adalah urusan dalam negeri, yang berarti Belanda masih mengakui Indonesia bagian dari negaranya. Belanda begitu gigih menentang berbagai upaya Dewan Keamanan. Menurut Nugroho Notosusanto, dkk dalam Sejarah Nasional Indonesia VI: Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia, dari hasil pengamatan Dewan Keamanan, Belanda masih melakukan aksi militernya ketika proses diplomasi sedang berlangsung. Mereka bahkan membuat kebijakan sepihak dengan menentukan garis batas kekuasaan mereka di Indonesia, yang kemudian dikenal sebagai Garis Van Mook. Di belakang garis itu nantinya akan berdiri wilayah milik Belanda. Walau pada kenyataannya daerah-daerah di sana masih dikuasai Republik dan masih banyak pejuang yang melakukan perlawanan. Tidak hanya soal wilayah, Belanda juga mempersulit berbagai upaya perundingan anggota KTN. Hingga akhirnya AS terpaksa turun tangan dengan meminjamkan kapal perangnya yang saat itu sedang merapat di Tanjung Priok. Pada 8 Desember 1947, secara resmi upaya perdamaian secara politik dimulai dimulai lagi dari Renville. Karena Belanda senantiasa mengadakan siasat mengulur waktu, dengan pendirian yang bukan-bukan, maka baikpun dalam bidang militer, maupun perundingan politik pada akhir Desember tahun 1947, belum tercapai sesuatu kemajuan. Berkah Hari Natal Tanpa terasa perundingan telah sampai pada usaha yang ke-49 kali, tepat pada 25 Desember 1947. Diceritakan Mohamad Roem dalam Bunga Rampai dari Sejarah , saat itu panitia sepakat menyerukan satu pesan sebagai bagian dari perayaan Natal, yakni “Pesan Hari Natal”. Pesan perdamaian itu menjadi harapan tersendiri bagi seluruh anggota perundingan yang ingin perselisihan segera berakhir dari kedua pihak. Pewakilan Belanda dan Indonesia diajak melihat kembali seluruh persoalan secara nyata dan lebih terbuka. Mereka diminta untuk menilai dampak dari perselisihan itu jika terus dilanjutkan. Banyak persoalan kemanusiaan yang pada akhirnya akan terabaikan dari situasi serba tegang tersebut. Hal itu juga akan merusak tujuan dari Dewan Keamanan dalam usahanya mendamaikan dunia. “Dalam pesan itu diingatkan dengan segala tekanan akan tanggung jawab kedua pihak untuk melaksanakan resolusi-resolusi Dewan Keamanan, kepada bahaya yang terkandung dalam pengangguhan lebih lama,” tulis Roem. Pesan Hari Natal memuat sedikitnya 12 usul untuk mencapai kesepakat politik antara Indonesia dan Belanda, di antaranya menerima garis Van Mook sebagai batas pemisah; menghentikan segala aktifitas yang berhubungan dengan pembentukan negara-negara di Jawa, Sumatera, dan Madura; menghentikan tindakan-tindakan agresif yang memicu perang, dan sebagainya. Mengetahui usulan itu, Belanda kembali melayangkan penolakan yang keras. Bagi mereka Panita Jasa-Jasa Baik sudah keterlaluan karena sebenarnya mereka tidak punya wewenang apapun. Kecuali kedua pihak setuju meminta panitia membuat usulan seperti itu. Terutama usulan untuk mengentikan pendirian negara-negara di Jawa dan Sumatera. Karena bagi mereka mendirikan negara boneka adalah siasat terbaik untuk menguasai kembali Indonesia. Ternyata tidak hanya Belanda yang kecewa dengan usulan itu, perwakilan Republik juga merasakan hal yang sama. Pihak Indonesia kecewa dengan usulan panitia karena dirasa tidak sesuai dengan keadilan dalam resolusi Dewan Keamanan. Terutama jika harus menerima genjatan senjata yang wilayahnya dibatasi oleh garis Van Mook. Bagi mereka garis itu dibuat satu pihak saja sehingga tidak adil rasanya jika menerima keputusan tersebut. Terlebih garis Van Mook memaksa Indonesia melepaskan daerah-daerah penting, yang didiami oleh kurang lebih 25 juta penduduk. Namun pihak Indonesia sendiri menerima usulan tersebut dengan syarat dipelajari terlebih dahulu. Sementara Belanda hanya menyutujui beberapa poin saja dan mengajukan konta usul kepada panitia. Salah satunya tetap memperbolehkan pembentukan negara-negara di dalam Republik. Perundingan pun berakhir dengan disetujuinya pembentukan negara bawahan Belanda. Seperti kita tahu, pada tahun-tahun berikutnya muncul negara-negara baru, seperti Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur, dan lain-lain. “Dalam pandangan panitia, Pesan Hari Natal merupakan sebuah kesatuan yang terjalin dan seimbang. Mutlak bagi penyelesaian terakhir sengketa,” kata Roem.
- Menguliti Muasal Pertunjukan Wayang Kulit
Gunungan muncul menari-nari dalam layar. Pertanda pagelaran akan dimulai. Gamelan gaya baru mengiringi. Para sinden bernyanyi dalam bahasa Indonesia. Begitupula sang narator yang bagaikan dalang membuka kisah pewayangan. Munculah Kertanegara, raja terakhir Singhasari dalam layar. Dalam wujud wayang, ia bermakutha dan mengenakan praba. Suara-suara terdengar tengah merapal mantra. Di belakang Kertanegara tergambar stupa. Ini penggambaran Kertanegara sedang melakukan ritual dalam ajaran Buddha Tantrayana. Seketika langit serupa merah darah. Pasukan Jaran Goyang dari Kadiri menggempur Singhasari, membakar, dan membunuh yang dilewatinya. "Bakar! Bakar! Bakar!" teriak mereka. Kertanegara dan semua pendeta kebingungan. Mereka masih separuh jalan menyempurnakan ritual Tantrayana untuk membangkitkan kekuatan sang Kalacakra di lapangan ksetra. Namun, api sudah di mana-mana. Serangan mendekat. "Jayakatwang!" teriak Kertanegara. "Raja Glang Glang terkutuk! Tak bisakah kau bersikap seperti layaknya kesatria? Kau mengerahkan pasukanmu pada saat pasukanku berlayar ke Sriwijaya. Kau menyerang di saat kami semua sedang melakukan ritual Tantra. Jayakatwang tunjukan dirimu! akan ku..." Tiba-tiba sebuah panah melesat menembus dadanya. Serapahnya terhenti seketika. Tertawalah Jayakatwang. "Si tua bodoh Kertanegara," katanya. "Teruslah bermimpi! Hukum alam menyatakan yang kuat dan cerdiklah yang akan berkuasa. Bukan raja yang gemar melakukan ritual sia-sia!" Matilah Kertanegara di tangan besannya sendiri. Singhasari pun binasa bersamanya. Wijaya, sang menantu berhasil kabur. Ia menyimpan dendam dan cita-cita meneruskan kembali pemerintahan Singhasari di Jawa. Episode itu mengawali pagelaran sinewayang karya sutradara Sambowo Agus Herianto di Teater Kautaman, Gedung Pewayangan Kautaman akhir pekan ini. Sinewayang Babad Majapahit dengan lakon Adiparwa Wilwatikta atau Berdirinya Kerajaan Majapahit itu menggabungkan gerak wayang kulit dengan penyajian ala film layar lebar. Pertunjukan selama kurang lebih dua jam ini diramu dari kisah runtuhnya Kerajaan Singhasari dan berdirinya Kerajaan Majapahit. Kisahnya mudah dimengerti karena disajikan dalam bahasa Indonesia. Pagelaran wayang dalam bentuk sinewayang mengubah cara penyajiannya dari tradisi lama. Tradisi yang katanya telah ada sejak era perkembangan Hindu-Buddha di Jawa. Tak mudah menentukan kapan dan bagaimana wayang purwa pertama kali dikenal masyarakat Jawa. Tapi ada teori yang menyatakan kalau bentuk wayang kulit sekarang berasal dari penciptaan awalnya pada era pemerintahan Jayabhaya di Kadiri (1130-1160). Soedarso Sp menjelaskan itu dalam “Morfologi Wayang Kulit: Wayang Kulit dipandang dari Jurusan Bentuk”, yang disampaikan dalam Pidato Ilmiah Pada Dies Natalis Ketiga Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 1987. Katanya , menurut R.M Mangkudimeja dalam Kawruh Asalipun Ringgit Sarta Gegepokanipun Kaliyan Agami ing Jaman Kina dan Pangeran Kusumadilaga dalam Serat Sastramiruda Jilid I, pada awalnya wayang dibuat di atas daun lontar. "Dalam proses penciptaannya si pembuat mengacu pada bentuk arca yang mendapat pengaruh budaya Hindu," kata Soedarso. Bentuk wayangnya tak seperti wayang kulit yang dikenal kini. Wayang kulit sekarang adalah gabungan dari tampak depan, tampak samping, dan pandangan menyudut. Kalau dulu, wayang dibuat tampak depan. Dari menggunakan lontar kemudian berkembang menggunakan kertas. Pada masa Majapahit wayang kertas itu berkembang menjadi wayang beber. Namun, Soedarso tak sepakat dengan teori itu. "Wayang kulit tidak baru diciptakan pada zaman pemerintahan Jayabhaya," tegasnya. Berdasarkan Kakawin Arjunawiwaha gubahan Mpu Kanwa pada 1036, wayang sudah dibuat dengan memahat kulit. Sementara naskah Bhoma Kawya dan Bharatayuddha melengkapi penggambaran tentang bagaimana pertunjukkan wayang kulit dimainkan waktu itu. "Sampai pada adanya kelir, blencong, serta instrumen pengiringnya, dapat dipastikan apa yang tergambar pada 1036 itu adalah hasil perkembangan dari sesuatu yang sudah dimulai lama sebelumnya," kata Soedarso. Karena sangat populer, ini kemudian mengilhami timbulnya ide menghiasi dinding candi dengan adegan dari pagelaran wayang kulit. Khususnya pada candi-candi dari periode Jawa Timur (di atas abad ke-10), seperti Candi Surawana, Candi Jago, Candi Tigawangi, dan Candi Panataran. Relief kisah Parthayajna di dinding Candi Jago menampilkan tokoh Arjuna dan dua punakawannya (Foto: Risa Herdahita Putri) Pendapat Soedarso itu didukung data prasasti. Arkeolog Dyah W. Dewi dalam "Kesenian Wayang Pada Masa Jawa Kuno dan Persebarannya di Asia" termuat di Pertemuan Arkeologi V mengungkapkan wayang sudah dikenal di Nusantarasejak kurang lebih abad ke-9. "Itu sehubungan dengan diselenggarakannya suatu upacara untuk memperingati suatu kejadian," katanya. Ada banyak buktinya. Timbul Haryono, guru besar arkeologi Universitas Gadjah Mada dalam "Masyarakat Jawa Kuna dan Lingkungannya Pada Masa Borobudur", termuat di 100 TahunPascapemugaran Candi Borobudur, menjelaskan bukti tertua yang menyebut kata dalang ( haringgit ) adalah Prasasti Kuti (840 M) yang ditemukan di Joho, Sidoarjo. Dalam prasasti ini, haringgit dimasukkan ke dalam kelompok wargga i dalem. Artinya berada di lingkungan istana. " Haringgit adalah bentuk halus dari kata ringgit. Kata ini sampai sekarang masih ada dalam Bahasa Jawa, yang berarti wayang," jelas Timbul. Sementara padanan kata untuk ringgit bisa dijumpai di Prasasti Tajigunung (910). Di sini istilah haringgit digunakan secara bergantian dengan awayang . Informasi lebih lengkap terkait wayang dihadirkan oleh Prasasti Wukajana dari dari masa Raja Balitung (907). Prasasti ini menyebut pertunjukkan lakon Bhimma Kumara , sebuah cerita sempalan dari Mahabharata. Kisahnya tentang Kicaka yang tergila-gila pada Drupadi. Di dalamnya juga tertulis kalimat "... mawayang bwat hyang ". Menurut prasasti itu, sang dalang menampilkan lakon Bhimma Kumara untuk hyang . Sejauh ini Bhima Kumara adalah satu-satunya lakon wayang yang disebutkan dalam prasasti. Ada pula wayang orang dan wayang beber. Istilah wayang wwang (wayang orang) muncul pertama kali dalam Prasasti Dhimanasrama dari masa Mpu Sindok (abad ke-10). Sementara informasi tentang wayang beber muncul dalam catatan Ma Huan, Yingya Shenglan pada awal abad ke-15.Catatan ini merupakan satu dari dua sumber penting Tiongkok yang banyak bercerita tentang Majapahit. Catatan itu menyebut adanya pertunjukkan seorang laki-laki yang mempertontonkan gulungan bergambar yang disangga dengan dua batang kayu. Ia berbicara dengan suara keras, menjelaskan kisah dalam gulungan itu kepada penonton. Di atas gulungan itu ada gambar manusia, burung, binatang buas, rajawali, atau serangga. Purwarupa Wayang Tradisi wayang kemudian diwariskan hingga masa perkembangan Islam. Menurut Sunarto dan Sagio dalam Wayang Kulit Gaya Yogyakarta Bentuk dan Ceritanya, diduga tradisi pewayangan yang telah ada pada masa Majapahit dilanjutkan pada masa Kerajaan Demak dan berakulturasi dengan kebudayaan Islam yang berkembang kala itu. Tradisi pewayangan ini kemudian didukung oleh kuasa keraton. Lalu dikembangkan oleh penguasa dan para sunan untuk dijadikan salah satu media dakwah Islam. Bentuk wayang kulit pada masa ini berubah lagi. Sunarto dan Sagiomenjelaskan bentuknya menyesuaikan dengan ajaran Islam yang berkembang. Terutama larangan membuat karya seni yang menyerupai bentuk makhluk hidup. "Penggambaran tokoh wayang seperti yang ada dalam relief candi kemudian berubah menjadi gaya yang telah distilasi dan mengarah pada perlambangan," jelasnya. Lebih lanjut, Sri Mulyono dalam Wayang, Asal-Usul, Filsafat dan Masa Depannya menjelaskan, yang berubah terutama adalah bentuk muka dan lengan. "Bentuk muka wayang kulit digambar miring, lengan dan tubuh dibuat panjang sehingga menjauhi gambar manusia yang sebenarnya," jelasnya. Namun, Soedarsono, guru besar bidang seni dan sejarah budaya UGM, dalam Beberapa Catatan tentang Seni Pertunjukan Indonesia melihat bentuk wayang kulit menjadi seperti yang sekarang bukan merupakan akibat dari stilasi masa Islam yang melarang membuat karya seni menyerupai makhluk hidup. Proses penyamaran dari wujud manusia sudah terlihat dalam seni masa sebelum Islam, yang terwujud dalam relief candi-candi. Pasalnya waktu itu pun cara penggambaran tokohnya memperlihatkan muka menyamping, dua bahu yang terlihat dari arah depan, disambung dengan dada dan perut dari arah samping, dan berakhir dengan tubuh bagian bawah yang menampakkan kedua kaki. "Itu menandakan perbedaan gaya seni antarmasa yang berbeda bukan terletak pada mana yang tidak distilir dan mana yang kemudian distilir, namun lebih kepada perbedaan bentuk stilasinya," jelasnya. Perkembangan wayang, khususnya wayang kulit kemudian menjadi sangat rumit ditelusuri. Kendati masih ada standardisasi gaya, atau yang dalam istilah pewayangan disebut dengan pakem. Ini paling terlihat, misalnya di wilayah Yogyakarta dan Surakarta. Itu karena di sana ada pusat otoritas sebagai pemegang kendali berkembangnya tradisi. Di luar pakemnya, seni wayang berkembang leluasa. Makanya kini dikenal banyak bentuk wayang, dari segi bahan, tokoh, dan cerita. Wayang kulit Arjuna gaya Bali/Wikipedia Kendati sudah banyak perubahan, bentuk wayang kulit lawas itu kini masih bisa ditemukan jejaknya di Bali. Berdasarkan sejarahnya, hubungan Jawa dan Bali telah ada berkat Airlangga. Ia adalah seorang pangeran dari Bali, putra Raja Udayana dengan Putri Dharmawangsa Tguh yang naik takhta menggantikan kakeknya di Jawa. Berikutnya, Bali dan Jawa terhubung setelah adanya ekspedisi Majapahit ke wilayah itu pada 1343. Ini berakibat pada kekalahan di pihak Bali. Semenjak itu, menurutahli bahasa P.J. Zoetmulder dalam Kalangwan, dapat dikatakan wilayah Bali mengalami proses Jawanisasi. Figur dan tata busana wayang kulit Bali umumnya punya kemiripan dengan penggambaran tokoh dalam relief candi-candi masa Jawa Timur. Bahkan, Soedarsono dalam Wayang Wong Drama Tari Ritual Kenegaraan di Keraton Yogyakarta mengatakan kalau wayang Bali merupakan kesinambungan dari wayang Jawa Timur. Maka bisa dibilang kalau ingin membayangkan bagaimana rupa boneka wayang pada masa kuno, bisa dilihat wayang gaya Bali sekarang. Walaupun telah mengalami beberapa modifikasi, bentuk wayangnya tetap melestarikan bentuknya dari masa kuno.





















