top of page

Hasil pencarian

9816 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Konflik Awal Dunia Penerbangan

    HARI ini, 17 Desember, 116 tahun lalu. Wilbur dan Orville Wright mencoba menerbangkan kembali pesawat buatan mereka, The Flyer, di lahan milik US Weather Bureau, Kitty Hawk, North Carolina. Upaya tersebut telah dicoba Wright bersaudara tiga hari sebelumnya, namun gagal. Kegagalan itu disebabkan malfungsi pada perangkat pengangkat The Flyer. Diketahuinya pangkal masalah membuat Wright bersaudara bisa tepat mengambil tindakan perbaikan The Flyer. Maka, keduanya tak ingin gagal kembali pada percobaan kedua itu. Persiapan bahkan mereka lakukan bukan sebatas pada masalah teknis pesawat. “Orville telah memasang kamera di ujung lintasan dan meminta John Danieels, pria setempat yang telah membantu mereka selama tiga tahun, untuk mengambil foto pada saat peluncuran,” tulis Lawrence Goldstone dalam Birdmen: The Wright Brothers, Glenn Curtiss, and the Battle to Control the Skies . Sekira pukul 10.30 waktu setempat, mesin The Flyer dihidupkan. Wilbur langsung berlari ke salah satu ujung sayap untuk memberi kestabilan. Semua prosedur berjalan baik. “Pesawat lepas landas di ujung lintasan dan terbang; mungkin hanya 120 kaki, tetapi 40 yard penerbangan itu adalah yang pertamakali dilakukan manusia dalam penerbangan yang dikendalikan, bertenaga mesin, dan (menggunakan alat, red .) berbobot lebih berat dari udara,” sambung Lawrence. Penerbangan Wright bersaudara menandai era baru peradaban manusia. Terbang yang selama berabad-abad “dimonopoli” burung dan serangga, mulai saat itu juga bisa dilakukan manusia. Namun, bukan hal mudah bagi Wright bersaudara bisa mewujudkan impian tersebut. Jalan yang mereka lalui panjang, berliku, dan tak lepas dari konflik. Salah satu yang terpopuler, konflik Wright bersaudara dengan Glenn H. Curtiss, pionir aviasi lain yang menjadi anggota Aerial Experiment Association (AEA) bentukan Alexander Graham Bell pada 30 September 1907. Pangkal konflik keduanya bermula dari teguran Wilbur terhadap Curtiss tak lama setelah Curtiss menjuarai perlombaan terbang Scientific American pada 4 Juli 1908. Wilbur menegur karena pesawat buatan Curtiss, June Bug, menggunakan sayap lengkung dan sistem pengendalian Aileron. Aileron merupakan sirip yang berfungsi sebagai pengontrol gerak lateral pesawat yang biasa diletakkan di ujung trailing sayap pesawat. Paten atas sistem tersebut menjadi bagian dari paten atas mesin terbang (Thy Flyer) yang dipegang Wright bersaudara sejak 1906. Oleh karena itu, penggunaannya untuk tujuan komersil tanpa membayar lisensi kepada Wright bersaudara berarti melanggar hukum. AEA tak mengindahkan teguran Wright bersaudara dan malah memproduksi tiga June Bug baru serta mendapatkan patennya pada 1911. Sementara, Curtiss memilih menjual pesawatnya kepada Aeronautic Society of New York pada 1909. Dia kemudian berkongsi dengan Augustus Herring, rekan pakar penerbangan Octave Chanute, mendirikan Herring-Curtiss Company.Herring-Curtiss Company berhasil membuat biplane Gold Flier atau Golden Bug. Untuk menghindari paten Wright, Curtiss meletakkan aileron di tengah kedua sayapnya. Dengan menggunakan Golden Bug, Curtiss berhasil mengadakan pertunjukan berbayar keliling beberapa tempat. Curtiss juga kembali merebut trofi Scientific American untuk kedua kalinya. Semua itu membuat Wilbur marah. Pelanggaran hak paten oleh Curtiss mendorongnya memejahijaukan kasus tersebut. Curtiss pun melayani gugatan Wright. Sementara proses pengadilan berjalan, dia menyempatkan diri terbang ke Prancis menggunakan Golden Bug guna mengikuti Le Grande Semaine d’Aviation, airshow internasional utama, yang dihelat pada akhir Agustus 1909. Curtiss berhasil membawa pulang James Gordon Bennett Cup atas prestasinya menjadi penerbang dengan kecepatan rata-rata tertinggi. Pertarungan di meja hijau dimulai sepulang Curtiss dari Prancis. Kedua belah pihak bersikeras dengan pendirian masing-masing. Upaya penyelesaian damai yang diusulkan tim pengacara kedua kubu tak berhasil. Pertarungan Wright-Curtiss tak hanya amat menyita kocek masing-masing namun juga waktu dan tenaga. Kesehatan Wilbur menurun drastis akibatnya. Sementara proses pengadilan masih berjalan, demam akibat tifoid mengakhiri hidup Wilbur pada 1912, membuat keluarga Wright amat terpukul. Pada Februari 1913, pengadilan memutuskan mengabulkan gugatan Wright bersaudara. Tindak lanjutnya, pengadilan memerintahkan Curtiss menghentikan pembuatan pesawat menggunakan dua aileron yang beroperasi secara simultan di arah yang berlawanan. Upaya gugatan makin gencar dilakukan kubu Wright setelah Orville menggandeng Glenn L. Martin, pionir industri pesawat, mendirikan Wright-Martin Corporation. Pada 1916, Wright-Martin mengajukan tuntutan royalti kepada semua produsen pesawat sebesar lima persen dari tiap pesawat yang terjual dan royalti tahunan 10 ribu doler per produsen. “Wright bersaudara tidak menginginkan royalti dari Curtiss; mereka ingin dia gulung tikar. Begitu pahit konfliknya sehingga ketika Wilbur meninggal karena demam tifoid pada 1912, Orville menyalahkan Glenn Curtiss,” tulis Charles R. Mitchell dan Kirk W. House dalam Glenn H. Curtiss: Aviation Pioneer . Upaya kubu Wright itu membuat banyak produsen pesawat menjadi takut sehingga memandekkan perkembangan industri pesawat Amerika. Akibatnya, industri pesawat Eropa berjalan tanpa pesaing. Kondisi tersebut memunculkan simpati para produsen lain terhadap Curtiss. Dengan bantuan Henry Ford, raja mobil Amerika yang bersimpati padanya, Curtiss mengajukan banding. Curtiss menggunakan pengacara Ford ketika mengalami masalah serupa soal paten di industri mobil. Namun, upaya kubu Curtiss dengan bertahan pada prinsip bahwa sistem pengendalian pesawatnya dikembangakan dari aerodrome milik Samuel Langley, bukan Thy Flyer milik Wright, tetap tak berhasil di pengadilan. Kondisi itu membuat pemerintah AS, terutama Angkatan Laut dan Angkatan Darat, cemas mengingat ancaman “hantu” Perang Dunia I kian kuat. Ketika Perang Dunia I akhirnya menghentikan sementara perang paten Wright-Curtiss itu, Franklin D. Roosevelt, asisten sekretaris Angkatan Laut, menginisiasi pembentukan organisasi lisensi dan mengahasilkan Manufacturers’ Aircraft Association (MAS). Berdirinya MAS tak hanya memaksa semua produsen pesawat terbang Amerika menjadi anggotanya, namun juga mematuhi semua aturan yang dikeluarkannya, seperti membayar fee untuk tiap pesawat yang diproduksi. MAS juga mengurangi besarnya royalti menjadi sebesar satu persen dan yang terpenting, MAS membebaskan penggunaan dan pertukaran ide dan penemuan di antara sesama produsen pesawat. Dengan berdirinya MAS, semua litigasi paten berhenti. Pun “perang paten” antara Wright dan Curtiss. Kendati tanpa Wilbur, pada 1929 Wright dan Curtiss akhirnya berdamai dengan memerger Wrights Aeronautical Corporation dan Curtiss Airplane and Motor Corporation menjadi Curtiss-Wright Corporation. “Kisah Wrights dan Curtiss adalah kisah penerbangan awal. Tidak ada seorang pun dan tidak ada dalam dekade luar biasa dari 1905 hingga 1915 itu di mana satu atau keduanya tidak memberi sentuhan atau mempengaruhi. Drama mereka dimainkan di atas panggung yang dihuni oleh tokoh-tokoh tak tertandingi yang terlibat dalam kinerja yang membawa umat manusia mewujudkan hasratnya sejak awal peradaban. Pertikaian sengit satu dekade Wright-Curtiss yang mengadu satu sama lain dari dua inovator paling cemerlang negeri itu telah membentuk jalur penerbangan Amerika,” tulis Lawrence.

  • Berburu Mata-Mata di Era Revolusi

    LANGIT masih terang ketika serangkaian kereta api memasuki Stasiun Kranji. Begitu berhenti, para anggota lasykar bersenjata langsung meminta semua penumpang untuk turun dan memeriksa identitas mereka satu persatu. Beberapa orang yang dicurigai langsung digiring ke kantor kepala stasiun dan dihadapkan kepada tim interogator. Di antara yang tercurigai adalah seorang lelaki paruh baya dengan seorang anak perempuannya. Mereka dianggap mata-mata NICA karena didapati ada kertas berwarna merah putih biru (simbol bendera Belanda) di dalam tas-nya masing-masing. “Pas sesudah magrib, itu laki dan anak gadis-nya langsung dieksekusi dengan sebilah celurit persis di belakang stasiun,”ungkap Mat Umar (92), salah seorang saksi kejadian tersebut. Di era revolusi (1945-1949), elan perjuangan melawan Inggris dan Belanda begitu menderu. Kerap kali semangat berlebihan di kalangan para pemuda itu menjadi tak terkendali hingga menjadi suatu kegilaan. Kopral (Purn) Soempena (94) masih ingat, bagaimana seorang pemuda dari Jakarta mati mengenaskan di Stasiun Purwakarta pada suatu hari di awal 1946. Gegaranya sangat sepele: dia kedapatan membawa selembar saputangan bercorak merah putih biru di saku bajunya. Kendati Soempena dan kawan-kawannya dari Divisi Siliwangi telah berupaya keras menyelamatkan pemuda itu, namun massa yang jumlahnya puluhan sudah terlanjur kalap. “Pada akhirnya kami tak bisa berbuat apa-apa saat dia dikeroyok banyak orang hingga tewas dan mayatnya diinjak-injak di atas rel kereta api,” kenang eks anggota Resimen Purwakarta itu. Sejarawan John R.W. Smail sempat merekam pula kebrutalan “kaum revolusiener” itu. Dalam bukunya Bandung in The Early Revolution, 1945—1946 (dialihbahasakan menjadi Bandung Awal Revolusi, 1945-1946 ), Smail menyebut tingkat kecurigaan orang-orang Indonesia pada 1945-1946 (terutama kepada orang Indo, orang Tionghoa dan orang-orang bule) begitu tinggi. Mereka yang dicurigai sebagai bagian (atau hanya sebatas) antek kaum penjajah itu memiliki potensi besar untuk mendatangi maut lebih awal. Praktek kebrutalan itu tercatat mencapai puncaknya di Bandung pada November-Desember 1945. “…Dapat disimpulkan bahwa terdapat 1.500 korban pembunuhan dari total populasi non-Indonesia yang berjumlah sekitar 100.000, belum termasuk sejumlah orang Indonesia sendiri yang juga lenyap dalam kondisi serupa,” ungkap Smail. Seorang saksi yang diwawancarai oleh Smail (pada 1945 dia baru berusia 12 tahun) mengungkapkan dua kasus perburuan mata-mata musuh di Bandung. Yang pertama, tertuduh adalah seorang bocah kecil yang kemudian diikat di tali pancang pada sisi jalan. Para pemuda kemudian menyiksanya hingga keesokan paginya dia mati. Kasus kedua, sang saksi juga melihat sebuah pamer kegilaan para pemuda yang membunuh seorang lelaki tua yang dituduh mata-mata Belanda. Para algojo itu, kata Smail, adalah sekelompok kecil manusia yang rata-rata masih sangat belia dan muncul dari kalangan yang tidak terpelajar. Memang ada banyak orang seperti Soempena, yang (dengan menafikan keselamatan dirinya sendiri) berupaya membela korban. Namun kecenderungan massa mengagumi aksi para algojo itu menjadikan upaya tersebut sebagai kesia-sian semata. Jenderal (Purn) Abdul Haris Nasution memiliki pendapat sendiri terhadap gejala itu. Dia secara langsung menyebut bahwa kebrutalan itu merupakan bentuk aksi provokasi yang sukses dari NEFIS (badan intel Belanda). Nasution menyebut mudahnya pejuang kita terjebak dalam  hoax  yang diciptakan para agen intelijen Belanda tersebutkarena banyaknya masalah internal yang belum terselesaikan saat itu. “Serangan psikologis itu mencapai targetnya karena adanya kekacauan organisasi pertahanan dan masih kurang cerdasnya rakyat kita…” tulis Nasution dalam  Tentara Nasional Indonesia Bagian I . Pendapat Nasution di atas bisa jadi ada benarnya. Usai proklamasi dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, di kalangan rakyat ada upaya untuk membenturkan secara langsung antara orang-orang keturunan Tionghoa dengan orang-orang lokal. Hal itu juga berlaku untuk orang Ambon (Maluku) dan Manado (Minahasa) yang dianggap secara genelogis merupakan antek Belanda yang paling setia. “Kemunculan lasykar-lasykar bercorak etnis seperti Kebaktian Rakjat Indonesia Sulawesi (KRIS), Barisan Pemberontak Tionghoa (BPT) dan PIM (Pejuang Indonesia Maluku) seolah menjadi pembukti bahwa anggapan itu tidak selamanya betul,” ujar sejarawan Rusdy Hoesein kepada Historia .

  • Rela Mati Demi Dirikan Perwari

    PUKUL satu siang 27 November 1945 di Yogyakarta. Bom-bom dari pesawat-pesawat Inggris menghujani daerah belakang (selatan) Gedung Kantor Pos dan De Javasche Bank di Gondomanan. Penduduk kocar-kacir. Itu merupakan pengeboman kedua. Pada 25 November 1945, Inggris sudah menjatuhkan bom di kota itu juga. Ketika bom di Gondomanan meledak, para aktivis pergerakan perempuan di Yogyakarta sedang berkumpul membincangkan rencana kongres perempuan pascamerdeka, 15-17 Desember 1945. Perang tak membuat mereka patah semangat untuk berkumpul dan menyatukan pikiran guna mendukung kemerdekaan. Pasca-proklamasi, aktivis perempuan di Yogyakarta sudah membentuk Persatuan Wanita Indonesia (Perwani), perubahan dari Fujinkai bentukan Jepang. Di saat yang sama, ex-anggota Fujinkai Jakarta membuat Wanita Negara Indonesia (Wani). "Kalau di Jogja Perwani mengajarkan tentang pengentasan buta huruf supaya masyarakat bisa lebih memahami tentang identitas Indonesia. Akan sulit mengajarkan identitas Indonesia bila membaca pun mereka tak bisa," kata Galuh Ambar Sasi, peneliti sejarah dan dosen Universitas Kristen Satya Wacana, pada Historia. Setelah Sultan Hamengkubuwono IX mengeluarkan amanat 5 September 1945 bahwa Yogyakarta bagian dari Indonesia, gerakan perempuan makin gencar melakukan sosialisasi. Mereka mengajarkan lagu "Indonesia Raya", pekik merdeka, dan baca-tulis. Selain itu, mereka juga mengajari tentang pengertian negara, Indonesia, jabatan pemerintahan, dan arti bergabungnya Yogyakarta menjadi bagian dari Republik Indonesia. Dari para aktivis perempuan itulah identitas Indonesia mulai dimunculkan kembali dan disebarkan ke masyarakat di desa-desa. Ketika menyelenggarakan sosialisasi, ide untuk mengadakan kongres muncul. Diraihnya kemerdekaan memunculkan keinginan para aktivis perempuan untuk punya organisasi skala nasional sebagai wadah berkumpul dan menyatukan gerakan. Sejak pendudukan Jepang, mereka tidak bisa berkumpul dan bergerak karena seluruh organisasi perempuan dibubarkan dan harus melebur jadi Fujinkai. Maka, disepakatilah saat itu untuk mengadakan kongres di bulan Desember 1945. Namun apa daya, bombardir Inggris pada 27 November membuyarkan rencana itu. Mulanya para aktivis perempuan ingin berkongres di Senisono, tempat Kongres Pemuda 1945. Namun sehari setelah pengeboman Inggris, Sultan Hamengkubuwono IX mengeluarkan imbauan untuk tidak mengadakan kongres atau berkumpul di Yogyakarta karena tidak aman. "Kalau ada kongres besar lagi dikhawatirkan serangan musuh makin banyak. Mereka lantas berpikir untuk keluar dari Jogja," kata Galuh. Bombardir Inggris juga membuat panitia dan calon peserta kongres khawatir hingga membatalkan kedatangan mereka. Beberapa anggota panitia lantas mengundurkan diri. Panitia persiapan yang tersisa pun hanya lima orang, yakni Ny. Soesanto (ketua), Ny. S. Iman Soedijat (penulis I), Sri Soendari Imam Panudja (penulis II), Ny. Din Soerjadiningrat (bendahara I), dan Ny. Soekardi (bendahara II). Lokasi kongres akhirnya dipindah ke Klaten dengan alasan dekat dari Yogya dan aman. Beruntung, Bupati Klaten Yudhonegoro menyediakan Gedung Kabupaten sebagai tempat kongres. Ia bahkan ikut jadi panitia pembantu kongres itu. Untuk akomodasi panitia kongres yang harus bolak-balik Yogya-Klaten, para perempuan menggunakan dana dari Perwani di samping jip pinjaman dari Sultan Hamengkubuwono IX. Situasi genting akibat perang itu tidak membuat para perempuan takut demi menyelenggarakan kongres. Terkadang di jalan mereka digeledah oleh tentara atau laskar. Bahkan, mereka harus menyingkir karena adanya pertempuran. Betapapun beratnya rintangan, semangat untuk kembali berkumpul tetap menyala di dada mereka. Dalam Wanita Dulu Sekarang dan Esok, Ani Idrus mencatat kongres yang diselenggarakan pada 15-17 Desember 1945 itu diikuti oleh utusan dan pemimpin dari berbagai organisasi perempuan. Selain Wani dan Perwani, ada Muslimat, Aisyiah, Wanita Katolik, Pemuda Putri Indonesia, Wanita Taman Siswa, dan lain-lain. Peserta kongres amat senang lantaran sudah lama tidak berkumpul dan membicarakan masalah perempuan. Dalam pertemuan itu, mereka membahas pergerakan perempuan supaya dapat ikut menegakkan kemerdekaan yang sudah diplokamirkan. Mereka menyepakati untuk selalu mengucapkan salam dan pekik merdeka dan memakai lencana merah putih. "Pertemuan di Klaten itu penting karena jadi tempat pertukaran pikiran aktivis perempuan yang gerakannya sempat mati setelah Perang Dunia II sampai berakhirnya penjajahan Jepang," kata Galuh. Pada hari ketiga kongres, para perempuan sepakat untuk membuat organisasi bersama. Sayangnya, tidak semua organisasi bisa melebur. Pasalnya, sebagian perwakilan organisasi perempuan yang datang merupakan afiliasi dari organisasi lain seperti Aisyiyah yang bagian Muhammadiyah atau Wanita Taman Siswa. Hanya Perwani dan Wani yang difusikan menjadi Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari). “Tadinya nama yang diusulkan Perwindo, Persatuan Wanita Indonesia namun beberapa anggota kongres menolak karena Perwindo terdengar seperti nama partai politik,” kata Galuh. Nama Perwari akhirnya dipilih karena terdengar lebih feminin. Kongres juga menetapkan Sri Mangunsarkoro sebagai ketua dan Darmiyati (Ny. Hadiprabowo) sebagai wakilnya.

  • Umbu Landu Paranggi dan Yori Antar Raih Penghargaan Akademi Jakarta 2019

    Penyair Umbu Landu Paranggi dan arsitek Yori Antar meraih Penghargaan Akademi Jakarta 2019 atas "pencapaian sepanjang hayat" di bidang humaniora. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Ketua Akademi Jakarta Taufik Abdullah di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 16 Desember 2019. Penghargaan Akademi Jakarta awalnya bernama Hadiah Seni. Pertama kali diberikan kepada penyair dan dramawan WS Rendra  pada 22 Agustus 1975. Kemudian pada 1978 Hadiah Seni diberikan kepada pelukis Zaini. Setelah itu, Hadiah Seni absen selama 25 tahun. Pada 11 Maret 2003 Akademi Jakarta kembali memberikan Hadiah Seni kepada perupa Gregorius Sidharta. Tahun berikutnya Hadiah Seni diberikan kepada koreografer Gusmiati Suid dan pemusik Nano S. Pada 10 November 2005, Hadiah Seni berubah menjadi Penghargaan Akademi Jakarta yang diberikan kepada koreografer Retno Maruti. Sejak itu, berturut-turut Penghargaan Akademi Jakarta diberikan kepada para insan seni yang dipilih oleh dewan juri. Tahun 2019, Penghargaan Akademi Jakarta diberikan kepada dua orang yang dianggap berjasa dalam kesusastraan dan arsitektur Indonesia: Umbu dan Yori. Keduanya bagian dari sejarah yang kemudian menjadi bangunan sastra dan arsitektur Indonesia hari ini. "Dilihat dari konteks kehidupan dan budaya kita selama ini hingga kini, dinamika hiruk pikuk serta keserbamungkinannya, dua tokoh ini, menjadi sangat menarik, penting dan niscaya karena sangat relevan," kata Riris K. Toha, Ketua Dewan Juri Penghargaan Akademi Jakarta 2019. Gregorius Antar Awal atau kerap disapa Yori Antar, lahir di Jakarta pada 4 Mei 1962. Yori lulus dari Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia pada 1989. Pada 2008, setelah melakukan ekspedisi ke Sumba-Flores, Yori mendirikan Rumah Asuh. Yayasan yang bertujuan untuk menyelamatkan situs atau bangunan tradisional yang terancam punah di berbagai daerah di Indonesia. Yayasan ini telah mendirikan kembali berbagai rumah adat, dari rumah tenun Dayak Sintang, rumah adat Mbaru Niang di Wae Rebo, hingga rumah adat Ngata Toro di Sulawesi Tengah. Rumah Asuh tak semata-mata membangun rumah adat, namun telah menjadi jembatan antara pengetahuan masa lalu masyarakat adat kepada generasi penerusnya. Bahkan, tak hanya rumah adat yang terancam punah, Yori juga berupaya menggali kembali memori masyarakat adat terhadap rumah-rumah adat mereka yang telah punah dan hanya tersisa dari ingatan-ingatan para tetua. Pada 2010, Yori Antar bersama fotografer Oscar Motuloh dan Jay Subyakto mendirikan Liga Merah Putih. Mereka menggelar berbagai pameran foto antara lain, pameran foto situs Kota Tua Trowulan, pameran foto Sawah Lunto, pameran foto Singkawang, dan ekspedisi situs Muara Jambi pada 2012-2013. "Dilihat dari kreativitas dan totalitas dedikasinya, pada pemahaman, penggalian, pendokumentasian, pelestarian dan pembangunan kembali arsitektur lokal, termasuk dorongan terbangunnya kesadaran masyarakat untuk menghargai jati dirinya, melalui arsitektur Nusantara tersebut, maka penghargaan Akademi Jakarta 2019 diserahkan kepada saudara Yori Antar," kata Riris. Sementara itu, Umbu Wulang Landu Paranggi, lahir di Waingapu, Nusa Tenggara Timur pada 10 Agustus 1943. Sejak 1960, puisi-puisinya telah tersebar di berbagai media massa seperti Mimbar Indonesia, Gadjah Mada, Basis, Gema Mahasiswa, Mahasiswa Indonesia, Pelopor Yogya , hingga  Majalah Kolong. Puisi-puisinya juga terbit dalam antologi bersama, Manifes (1968), Tonggak III  (1987), Teh Ginseng  (1993), Saron  (2018), dan Tutur Batur  (2019). Pada 1969, ketika mengasuh ruang sastra di mingguan Pelopor Yogya , yang berkantor di Jalan Malioboro, Umbu bersama Iman Budhi Santosa, Teguh Ranusastra Asmara, Ragil Suwarno Pragolopati, Suparno S. Adhy, Ipan Sugiyanto Sugito, Mugiyono Gitowarsono, mendirikan Persada Studi Klub (PSK). PSK melahirkan penyair-penyair ternama seperti Linus Suryadi AG, Emha Ainun Najib, Korrie Layun Rampan, dan sebagainya. Umbu sendiri saat itu dijuluki sebagai Presiden Malioboro. Pada 1975, Umbu pulang ke Sumba. Tiga tahun kemudian dia menetap di Bali. Pada 1979, ia menjadi redaktur sastra di harian Bali Post  dan menjadi guru bagi para sastrawan muda Bali. Beberapa muridnya di Bali antara lain, Putu Fajar Arcana, Cok Sawitri, Oka Rusmini hingga Raudal Tanjung Banua. Umbu aktif membina komunitas Jatijagat Kampung Puisi, Bali, hingga meninggal pada 6 April 2021. "Selama 50 tahun lebih, tanpa pamrih, tanpa menghendaki panggung, dan tanpa jaminan apapun dari masyarakat, dia bekerja hanya untuk membangun kehidupan dan budaya serta siapa Indonesia. Melalui puisi, pembimbingan dan pengembangannya," kata Riris.

  • Mengingat Kembali Sanento Yuliman

    Dalam dunia seni, orang seringkali menyematkan kata maestro pada seorang seniman yang memang telah punya nama besar atau masyur karya-karyanya. Namun, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam program pameran maestro seni rupa, mengangkat sebuah nama dalam dunia seni rupa yang barang kali jarang dibicarakan: Sanento Yuliman. Sanento Yuliman sebenarnya juga seorang pelukis, kartunis, dan penyair. Tetapi, Sanento sebagai kritikus, memiliki tempat sendiri dalam sejarah seni rupa Indonesia. Sanento telah turut menghidupkan dunia seni rupa Indonesia, melalui esai-esai, skripsi, dan disertasinya. Kumpulan arsip dan karya Sanento tengah dipamerkan di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pameran bertajuk "Mengingat-Ingat Sanento Yuliman" ini berlangsung hingga 15 Januari 2020. Sanento Muda Sanento Yuliman lahir di Jatilawang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada 14 Juli 1941. Dia masuk Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1960 dan lulus pada 1968 dengan skripsi berjudul Beberapa Masalah dalam Kritik Seni Lukis Indonesia. Skripsinya mendapat Anugerah Hamid Bouchoureb dari Seni Rupa ITB. Ketika masih mahasiswa, Sanento aktif sebagai kartunis. Pada 1966, dia mengikuti pameran dan mengurus rubrik kebudayaan pada mingguan Mahasiswa Indonesia . Lalu pada 1967, dia menjadi kartunis di Mimbar Demokrasi . Selain membuat kartun, dia juga menulis puisi. Puisinya, Laut meraih penghargaan majalah Horizon  pada 1968. Majalah sastra itu juga memberi penghargaan pada esai Sanento berjudul Dalam Bayangan Sang Pahlawan . Esai tersebut menjadi salah satu tulisan Sanento yang terkenal. Merupakan satir atas narasi sejarah kepahlawan Indonesia yang disebutnya sangat teatral. Yang harus memenuhi syarat-syarat teater yang agung, dramatis, dan fiktif. "Kepahlawanan adalah konsep teatral. Menganjur-anjurkan, menghidup-hidupkan, dan membesar-besarkan kepahlawan di Indonesia berarti kita harus menyiapkan Indonesia menjadi suatu teater," tulis Sanento. Sanento mengaitkan masalah heroisme itu dengan gerakan massa, fanatisme, dan persoalan individualitas. Pada paragraf terakhir, dia mengatakan, "adalah bangsa yang besar bangsa yang dapat menghargai orang-orang biasa dan pekerjaan-pekerjaan biasa." Sumbangan Terhadap Seni Rupa Pada 1969, Sanento kembali ke almamaternya di Seni Rupa ITB untuk mengajar. Kemudian pada 1972 hingga 1974, dia menjadi anggota redaksi majalah Horizon . Pada 1975, dia aktif dalam Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GRSBI). Dan pada tahun yang sama, dia juga menjadi pengurus dan penulis Galeri Pop Art di majalah Aktuil . Sanento menulis buku Seni Lukis Indonesia Baru: Sebuah Pengantar . Sayangnya, menurut kurator pameran Hendro Wiyanto, gagasan-gagasan Sanento hingga sekarang hanya berhenti sebagai pengantar. "Lagi-lagi naskah itu tetap menjadi naskah dan tidak pernah menjadi apa-apa, tidak banyak orang yang membaca sungguh-sungguh tulisan Sanento," sebutnya. Sanento melanjutkan studi doktoral di Universitas Montpellier, Prancis. Dia menyelesaikan studinya pada 1981. Disertasinya berjudul Asal Mula Seni Lukis Kontemporer Indonesia: Peran S. Sudjojono  (Genese De Lo Peinture Indonesienne Contemporaine: Le Role De S. Sudjojono) dibimbing oleh sejarawan Denys Lombard. Sanento kemudian pulang ke Indonesia dan menulis makalah Apresiasi Seni Lukis: Jika Cakrawala Diperluas . Pada 1982, dia menulis buku G. Sidharta di Tengah Seni Lukis Indonesia  bersama Jim Supangkat. Dia juga menulis makalah Dua Seni Rupa pada 1984. Namun, sama seperti sebelumnya, tulisan-tulisan Sanento belum mendapat respons dari seniman maupun kritikus setelahnya. "Lagi-lagi juga kita tidak pernah sungguh-sungguh bertanya, Dua Seni Rupa  yang dimaksud oleh Sanento Yuliman itu sebenarnya apa," terang Hendro. "Jadi saya setuju sepenuhnya dengan apa yang dikatakan oleh Sanento bahwa seni rupa Indonesia masuk ke dalam suasana 'segala sesuatu menjadi legenda' dan kita tidak pernah bertanya apa-apa," lanjutnya. Membaca Kembali Melalui pameran ini, Danuh Tyas Pradipta, anak Sanento yang juga menjadi kurator dalam pameran ini menyebut banyak hal yang bisa disampaikan lewat arsip ayahnya. "Lebih kepada jejak-jejak yang mungkin itu personal atau intelektual. Dan tentunya pemikiran Sanento dari mulai hal kecil sampai yang mungkin terasa besar dan berat seperti dalam skripsi atau disertasinya," kata Danuh. Dari karya-karya itu, Danuh berharap muncul respons yang menghidupkan kembali gagasan-gagasan Sanento maupun muncul perdebatan-perdebatan lain darinya. "Saya pikir, sebuah pameran lagi-lagi seperti Pak Hendro bilang bukan hanya masalah produksi karya seni tetapi juga yang lebih penting dari itu juga pembacaan dan pemaknaan terhadap karya-karya seni dan fenomena seni rupa itu sendiri. Itu kemudian yang tidak kalah penting dalam dunia seni rupa kita," ujarnya. Hendro menambahkan, "kami berharap bahwa 'Mengingat-ingat Sanento Yuliman' mendorong kita bukan hanya sekadar mengingat tetapi juga membaca kembali, mengkaji kembali, dengan pikiran Sanento." Bersamaan dengan pembukaan pameran ini, DKJ juga meluncurkan tiga buku Seri Wacana Seni Rupa, Dari Pembantu Seni Lukis Kita: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa Oei Sian Yok (1956-1961) , Rumpun dan Gagasan: Bunga Rampai Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-2019)  oleh Bambang Bujono, dan Estetika yang Merabunkan: Esai dan Kritik Seni Rupa (1969-1992)  oleh Sanento Yuliman. Sanento pernah mendapat Anugerah Adam Malik atas sumbangsihnya sebagai kritikus seni rupa pada 1984. Sejak tahun itu juga dia aktif menulis di majalah Tempo . Kemudian pada 1990, dia menulis tiga rangkaian esai Ke Mana Seni Lukis Kita? Sanento kemudian juga terlibat dalam pengembangan Yayasan Seni Rupa Indonesia (YASRI). Dua tahun setelahnya, pada 1992, Sanento meninggal dunia karena pendarahan otak, meninggalkan istri dan tiga orang anaknya.

  • SAMBO, Seni Beladiri dari Negeri Tirai Besi

    SEA Games 2019 Filipina meninggalkan banyak kesan negatif. Khusus buat Indonesia, ia meninggalkan banyak catatan yang perlu ditangani segera. Selain target berada di peringkat dua klasemen akhir tak terpenuhi, prestasi atlet-atlet kita buruk di kategori olahraga atletik dan akuatik. Cabang sepakbola putra yang awalnya digadang-gadang bakal membuahkan prestasi, berakhir jeblok. Beruntung, cabang olahraga SAMBO memberi kita prestasi. “Kita awalnya target satu medali emas. Tapi kita bisa bawa pulang empat emas. Terlepas dari anggaran persiapan kita salah satu yang terkecil dan pelatnas lima bulan di Puncak, Bogor,” ujar Ketum PP Persambi Krisna Bayu kepada Historia. Empat emas itu diraih Ridha Wahdaniyaty Ridwan dari kategori sport 80kg putri, Fajar di combat 57kg putra, Seni Kristian di combat 90kg putra, serta Desiana Syafitri, Emma Ramadinah, Erik Gustam, dan Rio Akbar Bahari di kategori mixedteam (beregu campuran). Ditambah sekeping perak dari Jasono Fitono Sim (perak, combat 82kg putra) serta dua perunggu dari Rio Bahari (sport 82kg putra) dan Deni Arif Fadhillah (combat 74kg putra, Indonesia jadi juara umum di cabang SAMBO. Para atlet SAMBO Indonesia yang membawa pulang 4 emas, 1 perak & 2 perunggu di SEA Games 2019 (Foto: Dok/Facebook Krisna Bayu) Capaian itu tentu layak dibanggakan mengingat baru di SEA Games kali ini SAMBO menyumbang medali kepada kita. Di Asian Games 2018, SAMBO juga sudah dimainkan sebagai cabang resmi, namun tak satupun dari delapan atlet kita yang mendapatkan medali. Juara umumnya kala itu Kazakhstan, salah satu negara pecahan Uni Soviet, dengan dua emas dan tiga perunggu. Mongolia, Uzbekistan, Tajikistan, dan Jepang berturut-turut mengikuti di belakangnya. Tak heran bila tiga dari lima besar itu ditempati negara-negara pecahan Soviet. Seni beladiri SAMBO memang berasal dari negeri “Tirai Besi”. Dari Judo Lahirlah SAMBO Melihat pertandingan SAMBO kategori Sport, Combat, dan Mixed Team, terlihat nyaris tak ada bedanya dengan beladiri-beladiri berintikan gerakan bantingan seperti judo, gulat, jiu-jitsu, atau kurash. Menurut Krisna, bisa dikatakan teknik bantingan dan kuncian SAMBO memang serupa dengan yang digunakan di beladiri-beladiri itu. “Soal bantingan, judo, kurash, gulat, SAMBO seratus persen sama. Di pertarungan ground -nya di kategori sport maupun combat juga seratus persen sama. Di combat, semua olahraga yang menggunakan pukulan dan tendangan adalah sama. Di kategori ini juga ada gerakan cekikan. Jadi SAMBO benar-benar olahraga mix atau campuran,” ujar maestro judo Indonesia era 1990-2000-an itu. Ketum PP Persambi Krisna Bayu saat ditemui di kantornya berbincang mengenai SAMBO Indonesia (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Persamaan itu wajar karena SAMBO memang diciptakan dari modifikasi judo. Adalah Vasili Sergeyevich Oshchepkov, mata-mata Uni Soviet pada 1920-an, yang menciptakannya. Bersama praktisi beladiri Viktor Spiridonov, Oshchepkov mengembangkannya secara terpisah di kalangan Tentara Merah dengan tambahan modifikasi dari gulat dan jiu-jitsu. Lantaran dikembangkan secara terpisah itulah SAMBO kini bercabang menjadi dua kategori: sport dan combat. Kiprah Oshchepkov bermula dari penugasannya ke Tokyo pasca-kekalahan Rusia dalam Perang Rusia-Jepang tahun 1905. Selain ditugaskan untuk mempelajari judo, Oshchepkov juga ditugasi menjadi mata-mata. Di sanalah Oshchepkov mempelajari judo dan jiu-jitsu dengan masuk klub judo Azabu yang bernaung di bawah Resimen Infantri I Tentara Kekaisaran. Oshchepkov lalu membawa judo dan jiu-jitsu ke kalangan militer Soviet pada 1927. “Dia memuat sebuah artikel: ‘Jiu-jitsu Jepang masuk Tentara Merah’ di suratkabar militer Krasnoarmeyskaya Zvezda (30 September 1927), di mana ia menuangkan pemikiran akan relevansi pertarungan jarak dekat dalam perang modern,” sambung Thomas A. Green dan Joseph R. Svinth dalam Martial Arts of the World: An Encyclopedia of History and Innovation, Volume I . Sementara di sisi lain, Spiridonov juga mengembangkan jiu-jitsu di klub olahraga Dynamo, milik NKVD (Polisi Istimewa Soviet), yang dipimpinnya. Bedanya, Spiridonov mempelajari jiu-jitsu via literatur, bukan dari instruktur Jepang langsung, lantaran memang kala itu masih berlaku aturan ketat pelarangan olahraga asing diterapkan di Soviet. Vasili Sergeyevich Oshchepkov (kiri) & Viktor Spiridonov, dua tokoh pelopor SAMBO di Uni Soviet (Foto: sport.sambo/samoz.ru) Keduanya lantas berkolaborasi pada 1923 hingga menciptakan beladiri baru bernama SAMBO. Nama SAMBO merupakan singkatan dari Samozashchita Bez Oruzhiya (beladiri tanpa senjata/tangan kosong). Namun, tak lama kemudian keduanya berseberangan jalan. Masing-masing pun memperkenalkan SAMBO secara terpisah. Oshchepkov di CDKA atau Mabes Tentara Merah, Spiridonov tetap di NKVD. Pada 1950, Soviet menggelar eksebisi internasional SAMBO pertama. Enam tahun kemudian, SAMBO diterima jadi bagian Fédération Internationale des Luttes Associées (FILA) atau federasi gulat internasional sebagai salah satu turunan gulat bebas. Namun baru tahun 1972 FILA merestui kejuaraan terbuka resmi pertama, di Riga, Latvia dan Kejuaraan Dunia SAMBO pertama di Tehran, Iran setahun berselang. Pada 13 Juni 1984 SAMBO memisahkan diri dari FILA untuk kemudian mendirikan federasinya sendiri, Fédération Internationale Amateur de SAMBO (FIAS), di Madrid, Spanyol. Sayangnya hingga kini SAMBO belum diterima sebagai cabang resmi olimpiade. Pembelokan Sejarah SAMBO Sebelum masuk ke pentas olahraga bertaraf internasional pada 1950-an, sejarah SAMBO sempat dibelokkan. Kisah tentang Oshchepkov dimarjinalkan dan Soviet membuat sejarah baru lewat SAMBO yang dibawakan praktisi Anatoly Arkadyevich Kharlampiyev. “Pendekatan risetnya sendiri harus menyerah pada tekanan pertimbangan ideologis, kepentingan pribadi dan kelompok tertentu, serta simpati personal. Hasilnya adalah manipulasi fakta-fakta dan versi-versi berbeda tentang penciptaan SAMBO. Kini (setelah Soviet bubar, red. ) dokumen-dokumen pemerintah sudah bisa diakses publik dan banyak wawancara dengan saksi mata yang dikumpulkan. Hal itu memungkinkan rekonstruksi penciptaan SAMBO secara mendetail,” ungkap Thomas A. Green dan Joseph R. Svinth. Terlepas dari pengakuan dunia terhadap Oshchepkov dan Spiridonov sebagai pencipta SAMBO pasca-runtuhnya Soviet, faktanya Kharlempiyev berperan banyak dalam mengembangkan SAMBO. Sepeninggal Oshchepkov pada 1937 setelah ditangkap atas tuduhan mata-mata dan tewas di penjara, Kharlempiyev “memonopoli” pengembangan SAMBO. International SAMBO Tournament yang digelar secara terbatas di Moskva pada 1969 (Foto: sambo.sport/FIAS ) Saat jadi petinggi Komite Olahraga Soviet pada 1938, ia memasukkan SAMBO menjadi salah satu olahraga resmi dan menetapkan hari lahir SAMBO pada 16 November 1938. Saat berkiprah di Departemen Pendidikan Fisik Soviet pada 1953, Kharlempiyev meracik sistem dan regulasi baku SAMBO hingga dijuluki “Bapak SAMBO”. Julukan ini baru diralat setelah kisah tentang Oshchepkov dan Spiridonov dalam arsip Soviet dibuka pada 2000-an. Kharlempiyev kini digelari sebagai “Bapak SAMBO Modern”. Perbedaan SAMBO yang dikembangkan Kharlempiyev terletak pada banyaknya teknik gulat-greco dan gulat bebas –bukan judo– yang diadopsi. Maka ketika SAMBO mulai diperkenalkan ke luar secara terbatas pada 1950-an, para praktisi SAMBO enggan menyatakan SAMBO berakar dari judo. “Beberapa pejudo Jepang yang melihat aksi-aksi petarung SAMBO mengklaim bahwa seni beladiri itu meniru judo, bahwa 75 persen teknik SAMBO sama persis dengan judo. Namun para praktisi Rusia tak mengakui. Mereka bersikeras bahwa sama sekali tak ada pengaruh beladiri Jepang dalam SAMBO,” tulis majalah bulanan Black Belt edisi Februari 1967. Di era itupun SAMBO baru diperkenalkan terbatas di negara-negara Blok Timur seperti Hungaria, Bulgaria, Rumania, dan Jerman Timur. Sedari awal 1950-an, para atlet SAMBO Soviet pun lebih banyak berkiprah di ajang-ajang judo dan gulat. Belum sepenuhnya ajang resmi SAMBO. “Karena saat itu sebenarnya SAMBO belum benar-benar dikembangkan secara komplit. Para praktisi Rusia masih terus bereksperimen dengan teknik-tekniknya secara utuh untuk membuat sistem keseluruhan yang rasional dan lebih dekat dengan gulat ketimbang judo,” lanjut majalah itu. Oleh karena itu perkembangan SAMBO terbilang lambat dan masih terbatas di Eropa Timur. SAMBO baru benar-benar go -internasional setelah berdirinya FIAS yang diikuti berdirinya federasi serupa di Eropa, Asia, Amerika, Australia dan Oseania, dan Afrika. Meski belum masuk olimpiade, SAMBO sudah dipertandingkan secara resmi di Asian Games 2018 (Foto: sambo.sport/FIAS ) SAMBO Merambah Indonesia Di Indonesia, SAMBO baru populer pada 2006. Ir. Aji Kusmantri, wakil sekjen Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) periode 1997-2014, jadi pionirnya. Aji jua yang lantas mendirikan Pengurus Besar Persatuan SAMBO Indonesia (PB Persambi). “Sebenarnya di awal 2000-an sudah ada orang Indonesia yang berlatih SAMBO, tapi memang tidak mengembangkan. Sekadar hobi saja. Mereka ini para mahasiswa Indonesia yang sebelumnya studi di Belanda. Dibawa ke Indonesia hanya dalam bentuk komunitas saja,” kata Aji kepada Historia saat dihubungi via telepon. “Resminya”, SAMBO datang ke Indonesia lewat Mr. Pulatov, pejabat polisi Rusia yang mengembangkan SAMBO di Uzbekistan sekaligus salah satu petinggi SAMBO Union of Asia. Misi yang dibawanya adalah untuk belajar dari padepokan judo Indonesia di Ciloto untuk kemudian diadopsi untuk mendirikan perguruan SAMBO di Uzbekistan sekaligus untuk lebih mengglobalkan SAMBO agar bisa masuk cabang resmi olimpiade. “Mulanya Mr. Pulatov itu bersurat ke Kemenpora tapi enggak direspon. Lalu dia kontak pengurus judo Singapura yang juga teman saya, Gerard Lim. Dari teman saya itu yang memberikan kontak saya kepada Mr. Pulatov,” tambahnya. Setelah kontak tersambung, Pulatov menemui Aji untuk kemudian diantarkan ke Kemenpora. “Saya bawa ke Almarhum Pak Latif, orang Kemenpora. Tapi karena dari Kemenpora melihatnya ini barang (baca: olahraga) baru, mereka enggak begitu komentar banyak. Indonesia ini negara ke sekian yang didatangi Pulatov. Cita-citanya agar SAMBO masuk olimpiade,” lanjut Aji yang lantas mendirikan PB Persambi pada 2006. “Pak Aji melihat olahraga SAMBO ini bakal berkembang. Makanya dia ikut mempelopori-lah. Tapi 13 tahun mati suri. Karena belum adanya kesamaan visi-misi dengan Pak Aji, terus saya ambil alih. Saya ingin Persambi ini ada legalitasnya karena waktu itu belum ada,” sambung Krisna. Krisna Bayu memimpin PP Persambi sejak 2017 yang berharap SAMBO sudah akan dipertandingkan secara resmi di PON 2024 (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Krisna mengubah sedikit nama menjadi PP (Pengurus Pusat) Persambi. Pada musyawarah nasional tahun 2017, Krisna terpilih menjadi ketua umumnya. “Memang sempat clash dengan Pak Aji, namun kita berdua membuat kesepakatan. Karena sebuah organisasi kan harus ada landasan hukumnya, harus punya legalitas,” tambahnya. Meski sudah diikutkan dalam Asian Games 2019, PP Persambi baru resmi menjadi anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) pada Juni 2019. Itupun, aku Krisna, setelah sempat tiga kali ditolak menjadi anggota. “Banyak alasanlah waktu itu. Tapi akhirnya kita dilantik jadi anggota KONI dan KOI itu Juni 2019. Kini kita sudah punya 27 pengurus provinsi. Dengan hasil SEA Games ini (4 emas, 1 perak, 2 perunggu), saya akan berusaha untuk masuk eksebisi PON (Pekan Olahraga Nasional) 2020. Harapannya di PON 2024 sudah include di dalam PON sebagai cabang resmi,” tandas Krisna.

  • Menelaah Bocoran Dokumen Rahasia "Penahanan" Uighur

    SEHABIS membaca keseluruhan dokumen rahasia soal "kamp konsentrasi" Uighur di Xinjiang yang pada 23 November 2019 dibocorkan Konsorsium Jurnalis Investigatif Internasional (ICIJ) yang bekerja sama dengan 17 media dari 14 negara, barangkali bisa dimaklumi jika juru bicara pemerintah Xinjiang, dalam wawancara eksklusifnya dengan surat kabar Tempo Global ( Huanqiu Shibao , 3/12/2019), dongkol menyebut pemberitaan tentang itu tidak hanya "memutarbalikkan hitam dan putih" ( dian dao hei bai ) tetapi juga "ngawur tidak memedulikan fakta yang ada" ( xin kou ci huang ).

  • Singa Itu Bernama Kasman

    BANYAK pemimpin pergerakan memiliki sikap tegas. Namun jika sikap itu dikaitkan dengan nama, mungkin baru Kasman Singodimejo saja yang memilikinya. Singodimejo sendiri berarti “singa di meja”. Ada begitu banyak anekdot tentang Kasman yang membuktikan betapa sikap berani memang melekat pada dirinya. Dalam biografinya, Hidup itu Berjuang: Kasman Singodimedjo 75 Tahun , ada sejumlah kawan yang mengisahkan pengalamannya menyaksikan langsung singa dalam diri Kasman terbangun. Umumnya terjadi karena keadaan memaksa Kasman bertindak keras. Satu kisah diceritakan oleh Mohammad Natsir (Perdana Menteri Indonesia era demokrasi liberal). Suatu waktu, Kasman bertandang ke Ternate. Seusai menyampaikan pidato, ia sesegera mungkin harus menyeberangi laut menuju Bitung (Sulawesi Utara). Ada acara penting yang mesti dihadiri. Namun begitu sampai di pinggir laut, cuaca mulai berubah, ombak pun semakin meninggi. Dari pengalaman para nelayan di sana, sangat tidak mungkin untuk melaut saat kondisi demikian. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan kapan ia dapat memulai perjalanan lautnya itu. Waktu yang terus berjalan semakin menyekik Kasman. Ia mulai gelisah. Di saat itu juga, kesingaan dalam diri Kasman keluar. Janji kepada warga Bitung membuat ia terpaksa menjadi orang yang berani (dibaca: keras kepala). Kasman mulai berteriak: “Apakah ada nakhoda Muslim yang percaya bahwa hidup dan mati itu di tangan Allah. Siapa yang bersedia mengantarkan saya dalam keadaan ini ke Bitung?” Teriakan Kasman itu cukup mengagetkan orang-orang di sana. Namun di saat yang bersamaan mengundang sekitarnya untuk ikut menjadi pemberani. Beberapa orang saat itu mengangkat tangan. Mereka bersedia menerjang ombak mengantarkan si pemberani menuju tempat tujuannya. Malam itu Kasman berhasil mendarat dengan selamat di Bitung. Kisah lain dari Kasman Singodimejo yang tidak kalah menarik terjadi saat ia ditangkap atas tuduhan merencanakan pembunuhan atas Presiden Sukarno. Tahun 1963, Kasman bersama-sama dengan Hamka, Ghazali Sahlan, Dalari Umar, Letkol Nasuhi, dan lainnya ditahan di Kompleks Sekolah Kepolisian, Sukabumi. Dalam sebuah pemeriksaan, Kasman didesak untuk mengakui segala tuduhan yang dilayangkan kepadanya. Termasuk tuduhan mengadakan rapat rahasia di Tanggerang dalam upaya pembunuhan presiden itu. Bahkan demi mendapat pengakuan Kasman, para anggota pemeriksa memaksa Nasuhi memberikan keterangan palsu. “Tidakkah Letkol pada malam itu menjemput Pak Kasman dan membawanya ke Tanggerang?” desak salah seorang pemeriksa. Nasuhi hanya tertunduk diam. Si pemeriksa lalu kembali melayangkan pertanyaan, kali ini dengan sedikit ancaman. “Awas! Letkol diproses verbal (lisan) telah mengakuinya.” Nasuhi tetap tidak memberi jawaban. Melihat hal itu, meski masih diliputi suasana tegang, Kasman mencoba berbicara. Ketua pemeriksa pun memberi izin. “Bismillahirahmanirrohim, Nasuhi, dengan Allah sebagai saksi, jawablah pertanyaan tadi itu!” kata Kasman. Bak patung, Nasuhi tetap diam seribu bahasa. Kasman lalu kembali meminta Nasuhi mengungkap kebenarannya. “Nasuhi, kamu kan percaya dan takut kepada Allah Akbar. Jawablah secara jantan! Kamu kan laki-laki. Jawablah Allah sebagai saksi.” Nasuhi akhirnya buka suara, namun pelan sekali. “Yang keras suaramu! supaya kedengaran!” tegas Kasman. “Saya terpaksa,” jawab Nasuhi lirih. “Apa yang terpaksa,” timpal Kasman. “Saya terpaksa menanda tangani proses verbaal. Sebenarnya tidak begitu,” Nasuhi menjelaskan. “Nah, tuan-tuan pemeriksa. Itulah keadaan yang sesungguhnya. Isi proses verbaal itu dan pengakuan Nasuhi itu tidak betul,” pungkas Kasman. Dengan jawaban Nasuhi itu, Kasman sebenarnya telah unggul dalam perdebatan tersebut. Namun seakan tidak mau kalah, para pemeriksa menyebut bahwa kesaksian dari Nasuhi itu tidak membuktikan kebenaran apapun. Terlebih pernyataan dari orang-orang selain Nasuhi dalam proses verbal telah membenarkan kejadian yang melibatkan Kasman. Kasman yang terus tersudut keberatan dengan pernyataan para pemeriksa. Ia sangat yakin jika mereka melakukan paksaan hingga siksaan kepada para tertuduh agar berbicara lain saat proses verbal. “Maaf saya dapat kesan bahwa oleh tuan pemeriksa, telah dikerjakan penggiringan, paksaan-paksaan, siksaan-siksaan, dan lain-lain sebagainya, sehingga para tertuduh yang bersangkutan itu terpaksa mengaku demi keselamatan jiwa mereka. Saya sebagai bekas Jaksa Agung, sebagai bekas Kepala Kehakiman Militer, dan sebagai bekas Menteri Muda Kehakiman persis mengetahui batas-batas dari wewenang pemeriksaan perkara. Semua itu tidak sah,” ucap Kasman. Setelah mengucapkan semua unek-uneknya, Kasman lantas berdiri. Ia dorong jauh-jauh kursinya ke belakang dan dengan kepalan tangan di atas, sambil melotot ia berteriak sekencang-kencangnya: “Percuma pemeriksaan semacam ini. Percuma! Sekarang begini saja. Silahkan tuan-tuan cabut pistolnya dan tembaklah saya. Tembak! Tembak! Tembaak!” Semua orang terkejut. Ketua pemeriksa lalu meminta proses pemeriksaan hari itu disudahi. Ia mempersilahkan Kasman untuk bersitirahat. Tanpa menoleh, ia langsung keluar dan masuk ke kamarnya. Orang-orang di dalam ruangan hanya bisa terduduk diam. Bagi Mohammad Roem, kawan yang telah dikenal Kasman sejak 1924 di STOVIA, sosok singa tidak hanya ada dalam diri Kasman, tapi ada di mana pun dirinya berada. Dalam Bunga Rampai dari Sejarah Jilid 3: Wajah-Wajah Pemimpin dan Orang Terkemuka Indonesia , meyakini jika hati singanya keluar pada saat yang diperlukan. “Saya rasa anggota-anggota tim pemeriksa tangannya sudah gatal untuk menganiaya Bapak Kasman. Akan tetapi momentumnya adalah Pak Kasman yang mempergunakan,” kata Roem.

  • Alkisah Cenderamata Lekra

    SEBUAH piringan hitam bersampul biru dan merah dengan ornamen warna emas itu tersimpan di bagian koleksi khusus milik sejarawan Anton Lucas yang kini dikelola Perpustakaan Universitas Flinders, Adelaide, Australia. Pada sampulnya tertera “Pilihan Lagu-Lagu Jang Diperdengarkan Oleh Rombongan Njanji Dan Tari Lekra Indonesia di Tiongkok.” Muka sampul pertama piringan hitam berisi lagu Pudjaan Kepada Pantai, Persahabatan Tiongkok-Indonesia, Asia Afrika Bersatu, Nasakom, Dari Rimba Kalimantan Utara, Lagu Perjuangan, Api Cubana, dan  Djamila. Sedangkan muka sampul kedua berisi susunan lagu rakyat Maluku Tarik Lajar , lagu rakyat Sulawesi Selatan Atiradja , Lagu Batak Simalungun Sihala Erdeng-Erdeng , lagu Batak Sing-Sing So , dan lagu Batak Karo Erkata Bedil . Musisi-musisi Lekra yang tergabung dalam kumpulan ini antara lain, SW Kuntjahjo, Slamet, Szuma Wensen, Make, Sudharnoto, Subroto K. Atmodjo, Mochtar Embut, serta Kondar Sibarani. Selain itu, turut pula solois Andy Mulja dan Eveline Tjiauw. Beberapa lagu dinyanyikan oleh paduan suara Kondar Sibarani dengan iringan piano Mochtar Embut. Album ini merupakan cenderamata Lekra dalam rangka misi kebudayaan ke Tiongkok pada 1963. Pada tahun tersebut, Lekra memang tengah menggalakan diplomasi kebudayaan ke berbagai negara seperti Tiongkok, Korea Utara dan Uni Soviet. Misi Kebudayaan Ke Tiongkok Pada 26 September 1963, rombongan Lekra yang mengemban misi kebudayaan ke Tiongkok tiba di kota Kanton. Rombongan ini diketuai oleh seniman Sunardi. Turut pula pelukis kenamaan Basuki Resobowo dan I Tarmizi, komponis Gesang dan rombongan, serta sastrawan Nusananta dan Anjasmara serta musisi-musisi yang mengisi kumpulan lagu dalam piringan hitam. Sebanyak 30 orang mempertunjukan lagu-lagu, tarian, keroncong, angkung, gamelan Jawa dan Sunda, serta paduan suara pada gala premier. Gala premier ini juga dihadiri oleh DN Aidit, Gubernur Jakarta Sumarno, serta delegasi Himpunan Sarjana Indonesia (HIS) dan Gerwani. Pada 30 September malam, rombongan dijamu oleh PM Tjou En-lai di Gedung Kongres Kebudayaan Nasional di Kota Peking dalam rangkaian Hari Nasional Tiongkok pada 1 Oktober. “Segenap hadirin yang berjumlah lebih dari 4000 orang diantaranya 1800 orang lebih tamu-tamu asing dari lebih kurang 80 negara, dengan dipelopori oleh delegasi dari Indonesia yang ternyata merupakan delegasi terbesar di antara delegasi-delegasi lain-lain negara yang tahun ini diundang guna menghadiri perayaan 1 Oktober, menyambut dengan tepuk sorak hangat sekali diperdengarkannya lagu “Bengawan Solo” itu, termasuk P.M. Tjou En-lai, yang duduk sejajar dengan ketua delegasi DPR GR Indonesia MH. Lukman,” tulis Harian Rakjat, 3 Oktober 1963. Persahabatan Tiongkok Indonesia menjadi tema utama dalam berbagai pertunjukan yang dipersembahkan oleh delegasi Indonesia. “Lagu-lagu Tiongkok yang berdasarkan syair Ketua Mao Tse-tung, lagu-lagu pudjian untuk Kuba dan untuk pahlawan wanita Aldjazair Djamila Bouhired juga mendapat sambutan hangat,“ sebut Harian Rakjat , 10 Oktober 1963. Harian Ta Kung Pao , Peking, menyebut bahwa seniman-seniman Lekra telah membawa tema persahabatan revolusioner yang sedang tumbuh antara Indonesia dan TIongkok. “Adalah menjadi tugas yang tak dapat dielakkan bagi kita kaum seniman untuk melipatgandakan usaha-usaha kita untuk melindungi, memperkembangkan dan memperkokoh persahabatan ini”, kata Tien Han, seniman kenamaan Tiongkok, mengutip  Harian Rakjat, 17 Oktober 1963.   Keesokan harinya parade besar untuk memperingati 1 Oktober diadakan di lapangan Tiananmen. Parade ini memamerkan industri ringan dan berat, pertanian, pendidikan, kesehatan, hingga pertahanan negara. Delegasi Indonesia (Ansambel Gembira) tampil di Beijing pada 1963. (Repro Heirs to World Culture Being Indonesian 1950-1965 ). Irama Musik Lekra Selama kurun 1950 hingga 1965, Lekra telah menjadi bagian penting dalam panggung kebudayaan Indonesia. Lembaga-lembaga kebudayaan seperti Lekra, Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI), Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) dan lainnya tengah berada dalam masa pencarian identitas kebudayaan nasional. Di bidang musik, melalui Lembaga Musik Indonesia (LMI), Lekra mendasari kegiatan-kegiatannya sesuai cita-cita revolusi Sukarno. Irama ‘mars’, penuh semangat, patriotis dan bernuansa politik terdengar kental dalam lagu-lagu tersebut. Lagu-lagu seperti Pudjaan Kepada Pantai, Asia Afrika Bersatu, Nasakom, dan Lagu Perjuangan misalnya,menunjukan keberpihakan politik dan mendorong keterlibatan rakyat dalam revolusi. “Fokus perhatian LMI mencakup musik asli Indonesia maupun musik Barat (diatonis), dan musik tradisional maupun ciptaan baru, khususnya yang berfokus pada musik yang dianggapnya revolusioner,” terang sejarawan Rhoma Dwi Aria Yuliantri dalam tulisannya " Bersama LEKRA dan Ansambel; Melacak Panggung Musik Indonesia", dalam Ahli Waris Budaya Dunia, Menjadi Indonesia 1950-1965 . Hubungan kebudayaan antara Lekra dengan berbagai negara seperti Tiongkok dan Uni Soviet juga mempengaruhi musik Lekra. Dalam suvenir piringan hitam Lekra misalnya terdapat lagu Dari Rimba Kalimantan Utara yang memiliki nuansa musik Tiongkok. Tak hanya itu, musik juga digunakan sebagai bahasa diplomasi dan solidaritas. Lagu-lagu seperti Persahabatan Tiongkok-Indonesia, Api Cubana, dan Djamila secara jelas menunjukan usaha diplomatis dan dukungan Indonesia terhadap negara sahabat seperti Kuba dan Aljazair. “Ciptaan lagu-lagu dengan tema ideologis merupakan salah satu aktivitas budaya yang amat didukung oleh negara-negara sosialis dan gerakan sosialis pada tahun 1950-an dan 1960-an. Sosialisme merupakan gerakan internasional. Tidaklah mengherankan kalua di Indonesia juga diciptakan lagu-lagu yang menjalin kesetiakawanan dan menekankan ikatan antar negara (atau gerakan) sosialis,” tulis Rhoma. Pengembangan musik daerah juga menjadi perhatian Lekra. Muka 2 piringan hitam khusus berisi lagu rakyat, mulai dari lagu Maluku Tarik Lajar , lagu rakyat Sulawesi Selatan Atiradja , hingga lagu Batak Karo Erkata Bedil . “Lekra dengan sadar menjadikan musik daerah bukan sekadar sampiran, atau pinggiran, melainkan musik yang porsinya harus di dorong ke tengah sekaligus derajatnya diangkat tinggi-tinggi,” sebut Rhoma. Selain program-progam untuk mengangkat musik daerah, Lekra juga menaikan citra musik daerah dengan menyelenggarakan festival-festival serta lomba paduan suara musik daerah, musik nasional, dan musik revolusioner. Pada awal 1960-an, juga berkembang ansambel nyanyi atau nyayi dan tari yang membawakan repertoir ciptaan baru yang ‘progresif’ atau ‘revolusioner’. Lagu-lagu nasional dan daerah juga diaransemen dengan gaya musik diatonis Barat. Beberapa ansambel yang terkenal pada era itu di antaranya Ansambel Gembira, Ansambel Njanji dan Tari Madju Tak Gentar, Ansambel Tari-Njanji Bhinneka, dan Ansambel Angin TImur. Ansambel Gembira inilah yang pada 1963 turut dalam rombongan delegasi LEKRA di Tiongkok serta mengisi sebagian lagu-lagu dalam cenderamata piringan hitam itu.

  • Dendam Pilot Vietnam yang Bikin Hengkang Paman Sam

    ENTAH terpengaruh video penembakan massal yang ditontonnya beberapa hari sebelumnya atau bukan, Letnan dua udara Mohammed al-Shamrani, pilot Arab Saudi yang sedang menempuh pendidikan di Pangkalan AL Amerika Serikat (AS) Pensacola, melakukan aksi gila pada Jumat, 6 Desember 2019. Dia menembaki orang-orang di pangkalan itu. “Mohammed al-Shamrani membunuh tiga orang dan melukai delapan lainnya ketika menyerang menggunakan pistol Glock 9mm Jumat (6/12/2019),” tulis kompas.com . Sebelum melakukan aksi gilanya, Shamrani sempat menulis cuitan di akun Twitter -nya. “Saya melawan kejahatan, dan AS sudah sepenuhnya menjadi negara iblis. Saya membenci kalian karena setiap hari, kalian mendukung, mendanai, dan menyokong kejahatan tak hanya terhadap Muslim, tapi juga kemanusiaan,” ujarnya, dikutip kompas.com .

  • Gerilyawan Kota Bernama Karna

    SEORANG lelaki tua berjalan tertatih-tatih di depan Masjid Agung Cianjur. Langkahnya terhenti jika ada bekas botol air mineral terserak di jalanan. Dipungutnya botol plastik tersebut lalu dimasukannya ke dalam kantong kresek besar yang selalu dibawanya ke mana-mana. “Daripada menjadi sampah, lebih baik saya jual. Lumayan hasilnya sekedar untuk jajan dan ngasih ke cucu,”ujarnya. Ahmad Sukarna (dipanggil Karna), nama lelaki tua itu. Usianya sekarang sudah melewati angka 100. Kendati sudah uzur namun terlihat masih kuat. Puasa Senin-Kamis dan meminum air putih merupakan rahasianya. Kendati demikian, penyakit pikun tetap menyerang dirinya. Tapi kalau ditanya soal era revolusi, mulutnya akan lancar bercerita. Bahkan akan terlihat sangat emosional.Ya, Karna adalah pejuang di era itu. Ketika proklamasi dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, dia bersama kawan-kawan seangkatannya di Bogor lantas bergabung dengan sebuah kelompok perjuangan bernama Lasykar Ciwaringin 33, pimpinan Harun Kabir. Itu nama seorang tokoh pejuang ternama di Jawa Barat saat itu. “Pak Harun itu sohibnya Bung Karno. Kalau ke Bogor Bung Karno pasti ke rumahnya Pak Harun di Jalan Ciwaringin No. 33,” ungkap Karna. Nama Harun Kabir sebagai kolega Bung Karno memang dibenarkan oleh Fatmawati Sukarno. Dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno Bagian I , Fatmawati mengakui bahwa sebagai sahabat, Harun Kabir banyak berjasa bagi kehidupan keluarganya. Termasuk saat dia dan suaminya harus menitipkan Guntur Sukarnoputra (putra pertama mereka) kepada keluarga Harun Kabir, saat situasi Jakarta tak menentu pada akhir 1945.   Begitu juga Lasykar Ciwaringin 33. Nama itu terkonfirmasi dalam Bogor Masa Revolusi (1945-1950)  karya sejarawan Edy Sudrajat. Disebutkan di buku itu bahwa Lasykar Ciwaringin 33 merupakan kelompok milisi rakyat yang eksis di Bogor pasca proklamasi. “Pada 1946, Lasykar Ciwaringin 33 dilebur dalam Divisi Siliwangi,” ungkap Hetty Kabir, putri ke-2 dari Harun Kabir. Karna masih ingat wajah Bung Karno, ketika kali pertama melihatnya di Jalan Ciwaringin No.33 yang menjadi markas pasukannya. Dia juga masih  terkenang wajah Mayor Harun Kabir dan Letnan Soeroso, dua komandannya yang gugur ditembak serdadu Belanda. Bicara tentang orang-orang itu matanya akan bersinar penuh semangat, walau kadang terisak diiringi panjatan doa buat mereka. “Orang-orang itu adalah pejuang besar, saya selalu hormat kepada mereka,” ujarnya. Tapi tak ada orang yang lebih sering dikenang Karna selain Toeti. Tanyalah nama Toeti kepada Karna, orang tua itu akan pasti terdiam lama. Air matanya meleleh dan terlihat wajahnya sangat berduka. Siapakah Toeti yang membuat hati Karna begitu terluka? Toeti sejatinya adalah sahabat karib Karna di Lasykar Ciwaringin 33. Kedua pejuang itu dikenal sebagai para pencari senjata yang sangat piawai. Seminggu mereka bisa mendapatkan 4-5 senjata api. Bahkan mereka berdua pernah mendapatkan 10 senjata api dari beberapa tempat di Bogor. Bagaimana caranya? Untuk mendapatkan senjata-senjata itu, terlebih dahulu Karna dan Toeti mempelajari watak para serdadu Belanda nyaris setiap hari. Setelah lama melakukan pengamatan lapangan, mereka berkesimpulan para serdadu yang jauh dari rumah itu sangat lemah jika dihadapkan kepada perempuan. "Makanya dengan menggunakan Toeti yang berwajah rupawan sebagai "umpan", kami berdua beraksi " tutur Karna. Modus aksi mereka hampir selalu sama: Toeti pura-pura mandi di sungai atau kolam yang terlihat dari jalan besar hingga patroli-patroli musuh kerap tergoda untuk turun. Saat situasi seperti itulah, Karna yg sudah siap siap, dari tempat persembunyiannya langsung bergerak dan menyambar senjata-senjata yg ditinggal begitu saja dalam jip. Dia lantas menembakan salah satunya untuk "memancing" prajurit-prajurit musuh itu kembali ke atas sekaligus menyelamatkan Toeti. Selanjutnya, mereka berdua langsung kabur. "Kami memang menghindar bentrok langsung, karena tugas kami memang bukan untuk bertempur tapi khusus mencari senjata dan pelurunya," kenang lelaki yang saat muda jago bermain sepakbola itu. Satu hari, mereka merencanakan operasi di tepi Sungai Ciliwung dekat Kebun Raya Bogor. Kala menjalankannya, aksi itu awalnya seolah akan sukses. Mereka berhasil menipu satu regu serdadu Belanda.   Namun tanpa disadari, mereka ternyata telah masuk perangkap musuh dan terkepung. Tak ada jalan lain. Untuk meloloskan diri, mereka berdua harus terjun ke Sungai Ciliwung yg tengah banjir dan airnya berwarna coklat. Mereka pun hanyut dipermainkan kecamuknya air. Karna yg sempat meraih akar pohon selamat. Namun tidak demikian dengan Toeti. Ia terseret arus bah dan tak bisa diselamatkan lagi. "Saya masih melihat tangannya menggapai, mungkin minta tolong. Tapi saya tak bisa berbuat apa-apa. Saya merasa bersalah tak bisa menyelamatkannya," ujar Karna seraya terisak. Karna berhasil pulang ke markas. Namun jiwanya terguncang. Karena taktik aksinya sudah tercium, komandannya kemudian mengungsikan Karna ke wilayah Cianjur. Malang tak dapat dicegah untung tak dapat diraih, saat perjalanan ke Cianjur mereka terjebak suatu pertempuran seru di wilayah Puncak. Kaki Karna pun sempat terkena pecahan peluru mortir. Kendati kakinya kemudian menjadi agak pincang, tidak menjadikan Karna lantas berhenti menjadi gerilyawan. Dia tetap aktif sebagai pejuang di Cianjur. Usianya panjang dan bisa merasakan alam kemerdekaan. Namun bayangan sahabat seperjuangannya, Toeti, tetap lekat di benaknya hingga kini. Tak mungkin pergi, walau penyakit pikun sudah menyerang di usia senja sang gerilyawan tua itu.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page