top of page

Hasil pencarian

Search this site

9966 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Bunda Teresa Peka Terhadap Sesama

    AKSI panggungnya sering mengundang tawa penonton. Didik Hadiprayitno atau yang memiliki nama panggung Didik Nini Thowok terkenal karena keunikannya memadukan tarian klasik, rakyat, kontemporer, sekaligus dengan komedi. Pada pertengahan 1971, pria yang lahir pada 13 November 1954 di Temanggung itu menciptakan koreografi tari pertamanya yang diberinya judul “Tari Persembahan”. Adapun hingga kini maestro tari ini identik dengan Tarian Dwi Muka yang ia ciptakan pada tahun 1970-an. Nama Nini Thowok sebenarnya didapat setelah Didik membantu seniornya di ASTI. Ia ikut dalam pementasan fragmen tari yang berjudul Nini Thowok bersama Sunaryo. Ini lah debut pentas tari pertamanya yang membuat namanya kemudian meroket di lingkungan kampus. Merasa lebih menguasai tarian putri, Didik pun kemudian selalu memilih karakter perempuan dalam setiap pementasannya. Dalam perjalanan tarinya, Didik tak berhenti belajar. Priya kemayu itu telah berguru pada puluhan maestro baik dalam maupun luar negeri. Meski kini sepak terjangnya sudah dikenal dunia, Didik mengaku tak ingin menjadi sombong. Ia berusaha tetap rendah hati dan berlaku tulus kepada siapapun, meski ketulusannya sering dimanfaatkan dengan buruk oleh orang lain. Laku ini ia akui banyak terinspirasi dari apa yang dicontohkan oleh Bunda Teresa. Bunda Teresa atau yang lahir dengan nama Agnes Gonxha Bojaxhiu lahir di Üskub, Kerajaan Ottoman, 26 Agustus 1910. Selain dikenal sebagai tokoh misionaris, Bunda Teresa adalah seseorang yang dalam hidupnya berkutat melayani masyarakat miskin di India. Tokoh ini dikenal sebagai tokoh kemanusiaan yang pernah dianugerahi Nobel di bidang perdamaian pada 17 Oktober 1979. Atas jasanya pula, Bunda Teresa menerima Penghargaan Templeton pada 1973 dan penghargaan tertinggi warga sipil India, Bharat Ratna pada 1980. Mengenai tokoh dunia itu, Didik membagi ceritanya kepada Historia . Mengapa memilih Bunda Teresa? Beliau hidup untuk orang lain, mengabdi untuk orang lain. Bunda Teresa membantu orang miskin sampai harus membuatnya berkeliling di lingkungan kumuh. Apa yang paling Anda ingat dari Bunda Teresa? Kata bijak Bunda Teresa ya. Saya ingat ada perkataannya yang begini: “Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu, bagaimanapun jujur dan terbuka lah”. Kemudian, “Bila engkau sukses, engkau akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa sahabat sejati. Bagaimanapun jadilah sukses”. Apa perkataan Bunda Teresa itu mempengaruhi keseharian Anda? Oh jelas. Saya sendiri berusaha memahami kata-kata bijak beliau. Meniru ya. Ada banyak nasihat yang bisa dilakukan dalam hidup. Apa kata-kata Bunda Teresa ini sesuai juga dengan pengalaman Anda pribadi? Iya, itu saya alami. Saya sering ditipu, tapi saya nggak boleh berubah. Kalau jadi orang jujur ya sudah jujur saja. Dia menipu saya, ya saya yakin dia menanam karma jelek untuk dirinya sendiri. Lalu kata-kata “kalau kita sukses kita akan dapat beberapa teman palsu”, itu juga saya alami. Beberapa orang jadi tiba-tiba mau dekat saya karena saya sukses. Tapi kita kan harus tetap berusaha untuk sukses. Bunda Teresa juga seorang misionaris, apakah pengabdiannya pada masyarakat bawah juga bagian dari misinya? Kalau saya bandingkan dengan Orang Jawa zaman dulu dengan Bunda Teresa ini mirip. Orang Jawa dulu juga punya ajaran untuk selalu meningkatkan sisi spiritualnya. Nah, Bunda Teresa ini juga selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan begitu, orang yang selalu mendekatkan diri dengan Tuhannya akan menjadi lebih peka terhadap sesama. Kebaikan itu kan di mana-mana sama. Kita tulus ya tulus, di mana-mana wujud ketulusannya akan sama. Di Barat atau di Indonesia itu sama saja. Jadi kalau menurut saya, mereka itu berbuat itu tulus tanpa tendensi apapun. Beliau layak menjadi sosok yang dicontoh. Dari sisi itu, apa Anda juga mencontohnya? Saya juga melakukan tirakat. Ada ritualnya. Misalnya caranya dengan rajin berpuasa. Ini sudah biasa dilakukan juga sebagai seniman. Laku ini selain untuk mempertebal spiritual kan juga untuk kehidupan. Itu kemudian nyambung dengan profesi saya sebagai penari. Dampaknya, dalam kehidupan sehari-hari ini sebagai pembentukan karakter. Contoh manfaatnya, saya kan punya karyawan banyak, dengan laku ini saya jadi lebih peka. Saya bisa memahami sifat karyawan saya yang beraneka macam itu. Kalau orang sekarang kan malah nantang tauran, berkelahi. Itu karena tidak peka perasaannya.*

  • Dari Eropa ke Bumiputera

    PASCA penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1949, secara berangsur militer Belanda menarik diri dari bumi Indonesia. Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) sendiri pada 26 Juli 1950 dibubarkan lewat keputusan kerajaan Nomor K 309 tertanggal 20 Juli 1950 yang secara langsung ditandatangani oleh Ratu Juliana. Dalam keputusan itu, para anggota KNIL (baik dari kalangan Eropa maupun bumiputera) ditawari tiga opsi: pensiun, khusus bagi prajurit Eropa dimutasi ke Tentara Kerajaan Belanda (KL) atau bergabung dengan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Bisa dikatakan KNIL merupakan salah satu kesatuan militer modern yang paling tua usianya. Berdiri pada 10 Maret 1830, KNIL langsung dilibatkan dalam berbagai palagan di Nusantara. Kiprahnya yang mumpuni, membuat kesatuan ini menjadi perhatian dunia. Setahun kemudian, Prancis yang merupakan salah satu negara terkuat dalam bidang militer saat itu, baru mendirikan Legiun Asing yang legendaris tersebut. “KNIL dibentuk dengan alasan untuk menjaga kepulauan yang luas dengan 20 uta penduduk bumiputera agar tetap patuh (pada) pemerintah Belanda,” ungkap catatan diplomat Prancis Dabry de Thiersant seperti dikutip Jean Rocher dan Iwan Santosa dalam KNIL: Perang Kolonial di Nusantara dalam Catatan Prancis. Awal pendiriannya, KNIL banyak merekrut para “pengangguran” Eropa dari berbagai kelas dalam masyarakat. Mereka dijanjikan upah yang menggiurkan untuk bertugas di Hindia Belanda selama jangka waktu tertentu. “Belanda saat itu butuh serdadu yang banyak untuk (ditempatkan) di Hindia Belanda. Mereka banyak merekrut dari Belgia, Swiss, Prancis dengan bayaran sampai 300 gulden. Orang Prancis sendiri banyak yang ikut daftar (KNIL). Tetapi mereka kecewa ketika tiba di Jawa karena gajinya tak sesuai yang dijanjikan,” kata Rocher yang juga mantan atase militer di Kedutaan Besar Prancis di Jakarta itu. Rocher juga menyatakan bahwa beberapa dari mereka yang kecewa itu memilih desersi. Namun sebagian besar tetap bertahan lantaran jauh dan sulit untuk kembali pulang ke Eropa. Seiring kebutuhan, KNIL kemudian menambah tenaga tempurnya dari kawasan Afrika dan Maluku. Tercatat dalam sejarah, mereka ikut terlibat dalam sejumlah peperangan di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok dan Aceh. Bahkan dalam Perang Aceh (1873-1904), sekira 40.000 serdadu KNIL telah menjadi korban. Kekuarangan tenaga tempur, secara berangsur, KNIL membuka perekrutan dari golongan bumiputera, baik dari golongan ningrat hingga masyarakat kelas bawah. Alasannya, perekrutan serdadu asal Eropa dianggap lebih memakan biaya lebih. RP Suyono dalam Peperangan Kerajaan di Nusantara menyebutkan: hingga tahun 1916 di tubuh KNIL sudah mulai dibanjiri kalangan bumiputera. Mereka terdiri dari 17.845 dari Jawa, 5.925 orang Manado, 3.519 orang Maluku, 1.792 orang Sunda, 1.066 orang Melayu (Sumatra), 151 orang Madura dan 36 orang Bugis. Para bumiputera tersebut dididik di Koninklijke Militaire Academie (KMA) Breda di Belanda, KMA Bandung, hingga Inlandsche Officieren School di Meester Cornelis (kini Jatinegara, Jakarta Timur). Pada Maret 1942, militer Jepang merambah Nusantara. Masuknya mereka tidak hanya mengakhiri kolonialisme Hindia Belanda, tapi juga eksistensi KNIL. Kendati demikian, sesungguhnya KNIL tidak sepenuhnya bubar, tapi hanya terpaksa angkat kaki dari Nusantara. Sebagian yang tertangkap dijebloskan ke kamp interniran. Sementara sebagian kecil diketahui sempat kabur ke Australia. Pasca-Perang Dunia II, perekrutan KNIL kembali dilakukan sebagai kepanjangan tangan Belanda yang ingin kembali menguasai wilayah Nusantara. Namun tidak bisa dinafikan, jika militer Republik Indonesia juga dibentuk dan diperkuat oleh para eks-KNIL (selain dari unsur Pembela Tanah Air bentukan Jepang). Tercatat sejumlah nama eks-KNIL yang turut membesarkan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sebut saja nama-nama Abdul Haris Nasution, Alexander Evert Kawilarang, Didi Kartasasmita, Tahi Bonar Simatupang, Oerip Sumohardjo, Soerjadi Soerjadharma dan Halim Perdanakusuma.

  • Ada Apa dengan Ricky Yakob

    Penggila sepakbola di Indonesia pasti mengenal nama Ricky Yacob. Di era 1980-an, bisa jadi nama tersebut ibarat Marco van Basten-nya Indonesia. Kepiawaian dalam mencetak gol hanya bisa disetarakan dengan jagoan negara-negara tetangga seperti Fandi Ahmad (Singapura), Zainal Abidin Hasan (Malaysia) dan Piyapong Pue-on (Thailand). Dengan nama besar itu tak aneh jika publik sepakbola Indonesia berharap banyak kepada Ricky. Termasuk saat timnas Indonesia mengikuti SEA Games 1991, Ricky dibebani untuk memimpin kawan-kawannya memetik medali emas dari cabang sepakbola, mengulangi prestasi sebelumnya bersama timnas di SEA Games 1987 di Jakarta. Namun, saat pengumuman nama-nama pemain yang akan berangkat ke Manila, Filipina, nama sang superstar tak ada sama sekali. Pecinta sepakbola Indonesia geger. Mereka bertanya-tanya, ada apa dengan Ricky Yakob? Ricky memang dicoret namanya oleh I Gusti Kompyang (IGK) Manila, manajer timnas Indonesia. Keputusan kontroversial itu membuat Manila berselisih paham dengan Kardono, ketua umum Persatuan Sepakbola Indonesia (PSSI). Kardono menginginkan Manila membawa Ricky ke Filipina. Namun, Manila kukuh mencoret nama Ricky. “Saya tahu Ricky pemain bagus, tapi saya juga punya alasan. Fokus saya sekarang keutuhan tim. Target kita emas. Hanya pemain yang siap bertanding yang bertahan di tim,” ungkap IGK Manila dalam biografinya, Panglima Gajah, Manajer Juara karya Hardy Hermawan dan Edy Budiyarso. Manila beralasan Ricky tak layak bergabung dengan timnas karena sedang mengalami semacam kegalauan spiritual. Salah satu buktinya, bintang Arseto Solo itu sempat mengganti namanya, dari Ricky Yacob menjadi Ricky Yacobi. Kegalauan Ricky kali pertama diketahui Manila saat timnas melakoni laga kontra Malta pada kompetisi President’s Cup di Korea Selatan, 7 Juni 1991. Dalam laga itu, sejatinya Ricky berpeluang mencetak gol, namun entah bagaimana dia secara sengaja membuang peluang tersebut. Ketika itu, Ricky menguasai si kulit bundar di depan gawang yang sudah kosong melompong pasca memperdaya kiper lawan. Tapi tak dinyana, tetiba saja Ricky membuang bola keluar gawang. “Kenapa tak kau tembak (ke gawang) itu bola?,” teriak Manila selepas laga usai. "Ricky hanya menjawab: hari itu dia sedang tidak boleh melukai hati orang lain." “Alamak!” seru Manila seraya menepuk kening. Sejak itulah, Manila berpendapat Ricky sedang dirundung masalah. Tak ada yang tahu pasti, apa persisnya masalah yang tengah dihadapinya. Tak juga istri Ricky, Harly Ramayani. Dengan situasi seperti itu, Manila akhirnya membuat keputusan Ricky tak akan dibawa ke Filipina. Dia tak ingin kondisi Ricky mengganggu kekompakan tim secara keseluruhan. Ketika ditanyakan soal musabab kegalauan itu, Ricky sendiri tak mau bicara banyak. “Iya, saat itu saya memang lagi mencari sesuatu buat diri saya,” ungkap Ricky kepada Historia.id. Sejarah mencatat, tanpa kehadiran Ricky, timnas Indonesia kembali berjaya di ajang SEA Games 1991. Mereka berhasil merebut emas cabang sepakbola setelah menaklukan timnas Thailand dengan skor 4-3 lewat drama adu penalti. Hingga kini, momen itu menjadi peraihan medali emas terakhir Indonesia untuk cabang sepakbola di ajang pesta olahraga terbesar se-Asia Tenggara. Ricky Yacobi meninggal di RS Mintoharjo, Jakarta, Sabtu (21/11/2020), setelah mengalami serangan jantung saat bermain sepak bola di lapangan Senayan. Tulisan ini diperbarui pada 21 November 2020 .

  • Benarkah Kalashnikov di Balik Lahirnya AK-47?

    Lhokseumawe, 17 Juli 2017. Dua warga Kabupaten Pidie menyerahkan dua pucuk senapan serbu ke Korem 011 Lilawangsa, Lhokseumawe, Aceh. Menurut Danrem Kolonel Agus Firman, kedua senjata api itu masing-masing berjenis AK-47 dan AK-45. Meski tak diketahui apakah kedua warga yang identitasnya dirahasiakan itu mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau bukan, dua senapan yang mereka serahkan merupakan peninggalan masa konflik GAM di Serambi Mekah. Keberadaan AK-47 bukan hal aneh di sana karena senapan paling populer di dunia itu paling dicari para kombatan di berbagai tempat konflik di seluruh dunia. Dibandingkan senjata sejenis, AK-47 unggul dalam hal kemudahan penggunaan dan perawatan, tak mudah macet, dan murah. Kelahiran AK-47 tak lepas dari sosok prajurit Uni Soviet bernama Mikhail Kalashnikov. Pengalamannya dalam Parang Dunia II, dimana dia dan ribuan lain tentara merah sering mengalami masalah dengan senapan-senapan mereka, membuat dia berhasrat membuat senapan yang tahan banting. Maka, dia pun menciptakan Avtomat Kalashnikov (AK) 47, angka yang mengacu pada tahun penciptaan. Namun, benarkah kelahiran senapan serbu legendaris itu murni buah pemikiran dan kerja Kalashnikov? Kelahiran AK-47 berkaitan erat dengan program pengembangan senapan serbu Soviet pada 1944 dan kekalahan Jerman dalam Perang Dunia II. Setelah menduduki kota Suhl, Jerman pada Juli 1945, pasukan Soviet memanfaatkan betul pabrik senjata di kota itu. Mereka memproduksi senjata dan merampas cetak-biru persenjataan pabrik itu. “Secara keseluruhan, 10.785 lembar desain teknis disita sebagai bagian dari penelitian mereka,” tulis Alejandro de Quesada dalam MP 38 and MP 40 Submachine Guns . Pasukan Soviet bahkan membawa para ahli senjata Jerman, termasuk ahli senjata kondang Hugo Schmeisser, ke negerinya pada 24 Oktober 1946. Para ahli senjata Jerman yang menjadi tawanan itu lalu dipekerjakan di Izhevsk, Pegunungan Ural, kota tempat pusat pengembangan senjata api Soviet. Program pengembangan senjata Soviet berhasil. Salah satunya lahir pada 13 November 1947, ketika Mikhail Kalashnikov, yang bekerja di pabrik senjata Kovrov, memperkenalkan senapan serbu otomatis AK-47. Senapan serbu otomatis itu kemudian menjadi senjata paling laris di dunia, digunakan mulai dari militer resmi berbagai negara hingga para teroris. Nama Kalashnikov pun tenar dan melegenda. Persoalannya, Soviet mengklaim AK-47 sebagai senjata yang murni lahir dari buah pikiran dan kerja keras Kalashnikov. Padahal, fakta yang ada menunjukkan AK-47 punya banyak kesamaan dengan senapan serbu otomatis MP-43/MP-44/StG.44 karya Hugo yang mulai dipakai Angkatan Darat Jerman pada akhir Perang Dunia II. Pengamat senjata Gordon Rottman menulis dalam The AK-47: Kalashnikov-Series Assault Riffles, usai perang Hugo dipekerjakan oleh Soviet dalam pembuatan AK-47. Meski tak jelas apakah Hugo dan Kalashnikov pernah bekerjasama atau bahkan sekadar bertemu, kesamaan yang ada pada karya masing-masing membuktikan bahwa AK-47 bukan karya yang murni lahir tanpa “campur tangan” pihak lain. Terlebih, perkataan Kalashnikov tentang penciptaan AK-47 tak pernah konsisten. Dalam acara televisi “Tales of the Gun” pada akhir dekade 1990-an, misalnya, Kalashnikov mengklaim AK-47 tak memiliki kesamaan dengan MP-43/MP-44/StG-44. Beberapa tahun kemudian, dia menyatakan bahwa AK-47 sedikit terinspirasi oleh StG-44. Pada 2009, Kalashnikov mengatakan bahwa Schmeisser membantunya mendesain AK-47. Padahal, pada 1947 Kalashnikov masih bekerja di Kovrov, berjarak 900-an km dari Izhevsk. Meski Kalashnikov kemudian bekerja di Izhevsk, itu terjadi baru tahun 1949 atau dua tahun setelah AK-47 lahir. Hingga kini, para pakar senjata Rusia pun masih kesulitan mengungkap secara gamblang proses kelahiran AK-47. Sejauh mana keterlibatan Schmeisser dalam penciptaan AK-47, mereka juga tak tahu pasti lantaran dokumen-dokumen pada tahun itu masih classified . Satu hal yang perlu diperhatikan, propaganda Soviet yang gencar sejak Perang Dunia II. Jadi, benarkah AK-47 murni ciptaan Kalashnikov atau ia hanya bagian propaganda Soviet laiknya kebesaran Vassily Zaitsev dalam propaganda sniper era Perang Dunia II?

  • Melacak Jejak Sandal

    Sandal terus berevolusi dan tetap menjadi pilihan dalam berbusana dan beraktivitas.

  • Saat Kepala Menjadi Utama

    Penggunaan pelindung kepala atau helm telah dikenal bangsa-bangsa kuno di masa lalu.

  • Emoji Tersenyum Tertua

    Selain tulisan, kita biasa menggunakan simbol emoji dalam percakapan pesan singkat. Ternyata, emoji bukanlah simbol yang baru. Penelitian terbaru dari tim arkeolog menemukan lukisan mirip wajah tersenyum pada pecahan keramik kuno di situs Karkemish, Turki. Karkemish merupakan kota kuno seluas 55 hektar yang berada di Turki berdekatan dengan perbatasan Suriah. Nama Karkemish diartikan sebagai “dermaga/tambatan Dewa Kamis” yang terkenal luas di Suriah bagian utara. Kota itu berpenghuni sekitar abad ke-6 SM hingga abad petengahan ketika ditinggalkan dan dihuni oleh berbagai suku budaya termasuk bangsa Hitit, Neo Assiria dan Romawi. Kota itu juga pernah digunakan sebagai markas perbatasan militer Turki. Arkeolog Inggris mengunjungi situs tersebut pada akhir 1800-an dan awal 1900-an, namun masih banyak yang bisa ditemukan. Tim baru terdiri dari 25 arkeolog dipimpin oleh Nikolo Marchetti, profesor di Departemen Sejarah dan Kebudayaan Universitas Bologna Italia, mulai menggali situs itu pada 2003. Baru pada musim ini yang dimulai Mei 2017, mereka menemukan sebuah guci dengan lukisan mirip emoji tersenyum. Guci itu berusia 3.700 tahun yang memiliki tiga goresan cat yang terlihat seperti goresan senyum dan dua titik mata di atasnya. Ditemukan di tempat pemakaman di bawah sebuah rumah, guci itu mungkin digunakan untuk minum bir dan minuman manis. “Tidak diragukan lagi adanya wajah yang tersenyum dan tidak ada jejak lain pada guci tersebut,” kata Nikolo Marchetti seperti dikutip Livescience (21 Juli 2017) . Selama penggalian di Karkemish, arkeolog juga menemukan vas dan pot serta barang-barang yang terbuat dari logam. Menurut arabnews.com (19 Juli 2017), guci dengan lukisan emoji tersenyum tersebut akan dibawa ke Museum Arkeologi Gaziantep, Turki. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki, Nabi Avic menuturkan bahwa Taman Arkeologi Kota Kuno Karkemish akan dibuka kembali setelah tujuh tahun masa penggalian pada 12 Mei 2018. Indiatoday.in (24 Juli 2017) yang juga memberitakan penemuan guci bergambar emoji tersenyum menambahkan bahwa sebelumnya emoji tersenyum tertua diperkirakan berasal dari tahun 1635. Coretan berbentuk wajah yang tersenyum ditulis oleh seorang pengacara dalam sebuah dokumen hukum yang digali di Slovakia. Pada saat itu, emoji berbentuk senyuman merupakan bukti simbol tertua yang digunakan.

  • Sehidup Semati Bersama Nasi

    SEKETIKA melintas empat ekor burung: perkutut, puter, derkuku merah, dan merpati hitam tunggangan Bhatara Sri. Lima anak Raja Makukuhan memburu dan berhasil menembak dengan ketapel. Jatuhlah tembolok burung-burung itu yang berisi biji berwarna putih, kuning, merah, dan hitam. Karena baunya wangi semerbak, kelima anak raja memakan biji berwarna kuning sampai habis dan hanya menyisakan kulitnya.

  • Rasisme dalam Film Sejarah

    Film-film sejarah seperti Merah Putih (2009), Sang Pencerah (2010), Soegija (2012), dan Soekarno (2013), di satu sisi berusaha mengenalkan sejarah perjuangan kemerdekaan. Namun, di sisi lain menampilkan rasisme karena melihat sejarah Indonesia secara hitam-putih. Orang Belanda selalu digambarkan sebagai orang jahat, orang Indonesia selalu nasionalis, khususnya pada film berseting tahun 1945-1949. Demikian dikemukakan Ariel Heryanto, profesor di Monash University Australia, dalam diskusi “Gerakan Global Kiri dalam Perjuangan Kemerdekaan RI” di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, 17 Juli 2017. “Padahal, sebenarnya tidak begitu, orang kulit putih atau Belanda ada juga yang mendukung perjuangan Indonesia. Sebaliknya, orang Indonesia yang tidak ikut memperjuangkan kemerdekaan juga ada,” kata Ariel. Menurut Ariel hubungan Belanda dan Indonesia tidak melulu buruk, bahkan cenderung saling menguntungkan. “Bahkan para bumiputra yang bekerja pada pemerintah kolonial merasa bangga dengan apa yang dilakukan. Mereka juga berharap anaknya akan melanjutkan jejaknya,” ujar Ariel. Sejalan dengan pernyataan Ariel, sejarawan Henk Schulte Nordholt menulis dalam “Modernity and cultural citizenship in the Netherlands Indies: An illustrated hypothesis,” Journal of Southeast Asian Studies 42(3), 2011, bahwa tidak semua bumiputra mendukung gerakan kemerdekaan. Meningkatnya jumlah kelas menengah bumiputra seharusnya dibarengi dengan banyaknya pemuda yang bergabung dalam gerakan kemerdekaan. Akan tetapi, Henk menunjukkan hal sebaliknya. Kaum bumiputra terbagi menjadi dua, yakni kelompok yang pro-nasionalis dan kelompok yang tidak tertarik untuk bergabung. Kelompok kedua adalah kelas menengah yang terlanjur merasa nyaman dengan kondisinya. Mereka lebih tertarik pada karier yang bagus di pemerintah kolonial dibanding ikut gerakan kemerdekaan. Pasalnya, yang mereka inginkan sejak awal adalah gaya hidup, bukan negara. Dan akses terhadap gaya hidup semacam ini dapat diperoleh dalam kerangka sistem kolonial. Lebih lanjut Ariel menjelaskan bahwa film Indonesia bertema perjuangan selalu digambarkan melawan Belanda. Padahal, lawan Indonesia untuk memerdekakan diri tidak hanya Belanda, tatapi juga Inggris dan Prancis. Penceritaan dalam film tersebut akhirnya memisahkan cerita sejarah dari konflik global. “Yang menarik, film ini adalah film komersil yang jangkauan penontonnya lebih luas dari film indie,” jelas Ariel. Menurut Ariel model penggambaran orang kulit putih dalam film-film bertema perjuangan hampir sama dengan penggambaran citra tokoh jahat dalam cerita-cerita bertema komunisme. Tokoh jahat dalam cerita pasca 1965 selalu digambarkan sebagai orang komunis. Hal yang paling umum ditemui adalah tokoh pandai tapi licik dan suka menipu atau lugu tetapi bodoh. Model penggambaran lain adalah tokoh yang bernasib sial karena menikah dengan orang kiri atau berurusan dengan pemerintah kiri. “Film menegaskan norma yang dominan dalam masyarakat. Dari sini kita bisa melihat bagaimana masyarakat kita memandang sejarah bangsanya: tidak ada orang kulit putih atau komunis yang digambarkan baik,” pungkas Ariel.

  • Riwayat Bandung Raya dari Kota Kembang ke Pulau Garam

    BANDUNG memiliki tim-tim sepakbola yang berprestasi di tingkas nasional. Selain Persib, klub Kota Kembang yang juga pernah bikin urang Sunda bangga adalah Bandung Raya yang berdiri pada 17 Juni 1987 berbasis tim UNI Bandung. Bandung Raya sudah ikut kompetisi Galatama (liga semiprofesional), sementara saudara tuanya, Persib masih di Perserikatan (liga amatir). Debutnya di Galatama musim 1987/1988 gagal membuat kejutan. Mereka terdampar di urutan buncit klasemen akhir. Pada musim berikutnya (1988/1989), mereka naik ke posisi tujuh klasemen. Pencapaian ini buah dari perekrutan beberapa pemain anyar eks Persib, seperti Dadang Kurnia dan Dede Iskandar. Sayangnya, tren positif mereka tak berlanjut di musim 1990 yang terpuruk di posisi 17. Di dua musim berikutnya (1990/1992 dan 1992/1993), mereka tetap menempati posisi bawah. Di musim pamungkas (1993/1994), mereka hanya bisa menghuni posisi delapan Wilayah Barat. Pada 1994, Bandung Raya reuni dengan Persib di Liga Indonesia, ajang yang menyatukan tim-tim Galatama dan Perserikatan. Masa keemasan Bandung Raya terjadi di musim kedua Liga Indonesia (1995/1996) di bawah asuhan Brigjen TNI IGK Manila. Perwira TNI AD itu tengah memimpin Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) Jatinangor, Sumedang. Manila dikenal luas dalam persepakbolaan sejak menjadi manajer tim nasional sepakbola di SEA Games Manila, Filipina tahun 1991. Dia sukses membawa timnas memetik medali emas kendati tanpa diperkuat beberapa bintangnya seperti Ricky Yacob dan Mustaqim. Prestasi ini hingga kini belum lagi bisa dicapai Tim Garuda. Awal mula Manila mengasuh Bandung Raya tak lepas dari permintaan Letjen TNI (Purn.) Suryatna Subrata. Mantan wakil gubernur Jawa Barat dan ketua KONI Jawa Barat ini salah satu investor Bandung Raya. Untuk memenuhi permintaan itu, Manila harus mendapatkan izin dari Menteri Dalam Negeri Yogie S. Memet. “Saya mau lapor, Pak. Saya mungkin melanggar perintah Bapak,” kata Manila dalam biografinya, IGK Manila: Panglima Gajah, Manajer Juara . Yogie sempat terperangah menatap Manila dan menanyakan apakah ada kasus di STPDN. “Siap, tidak ada. Hanya saja saya diminta membantu Bandung Raya. Padahal Bapak melarang saya aktif di olahraga (selama memimpin STPDN),” lanjut Manila. Awalnya, Manila pesimis diizinkan. Namun, jawaban yang didapatnya tak disangka-sangka. “Manila, kamu itu orang Bali. Urang Sunda tidak akan sembarangan minta bantuan. Kalau urang Sunda sudah minta bantuan sama kamu yang orang Bali ini, berarti mereka sudah percaya sama kamu. Pegang itu Bandung Raya, kerja yang bener,” kata Yogie. Manila terjun mengurusi Bandung Raya meski tidak tercatat dalam kepengurusan resmi klub, hanya jabatan semacam chief de mission. Pasalnya, dia masih menjabat pemimpin STPDN. Dana menjadi kendala dalam membangun Bandung Raya. Suntikan dana datang dari Masyarakat Transportasi Indonesia hasil lobi manajer Tri Goestoro dan Suryatna kepada Ketua PSSI, Azwar Anas yang merangkap Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Bandung Raya pun berubah nama menjadi Mastrans Bandung Raya kala terjun di Liga Indonesia musim 1995/1996. Setelah masalah dana terpecahkan, Bandung Raya tak kesulitan mendatangkan pilar-pilar yang dibutuhkan. Mereka mendatangkan pelatih Henk Wullems dari Belanda, pemain asing Olinga Atangana dari Kamerun dan Dejan Gluscevic dari Pelita Jaya yang tergeser oleh Roger Milla dari Kamerun. Diperkuat oleh Herry Kiswanto sebagai kapten, Nuralim, Surya Lesmana, Hendriawan, Budiman Yunus, Adjat Sudradjat, Alexander Sanunu, Peri Sandria, serta kiper Hermansyah, membuat Bandung Raya jadi salah satu tim yang ditakuti di Liga Indonesia selain PSM Makassar. Bandung Raya tampil sebagai juara Wilayah Barat dan lolos ke babak 12 besar. Tren positif mereka terus terpelihara sampai partai final kontra PSM Makassar di Stadion Senayan (kini Stadion Utama Gelora Bung Karno). Kagok Edan, Juara Sakalian! Begitu slogan Bandung Raya kala itu yang artinya “Kepalang gila, jadi juara sekalian”. Di final Bandung Raya jadi kampiun setelah menang 2-0 dari gol Peri Sandria dan Heri Rafni Kotari. “Bandung Raya memang juara, tapi Bandung Raya bukanlah Persib. Mereka sudah menjadi yang terbaik di Indonesia, tapi tidak ada peristiwa macet totalnya jalur Jakarta-Puncak-Bandung seperti yang dibuat bobotoh Persib akibat euforia gelar kampiun. Tidak ada pula pawai keliling Kota Bandung layaknya Persib menjadi juara semusim sebelumnya. Tapi kesuksesan itu tetap membuat bangga publik Bandung,” kata Manila. Di musim berikutnya Liga Indonesia (1996/1997), Bandung Raya tetap tampil trengginas, meski tanpa pelatih Henk Wullems yang melatih timnas PSSI dan ditinggal sponsor Mastrans yang beralih ke Pelita Jaya. Tim bebuyutan Bandung Raya itu juga meminta kembali Dejan Gluscevic. Dengan pelatih baru, Albert Fafie yang direkomendasikan Wullems, serta rekrutan anyar Stephen Weah, Bandung Raya tampil tak mengecewakan, meski harus puas jadi finalis. Di partai puncak pada 28 Juli 1997, mereka keok 1-3 dari Persebaya Surabaya. Di kompetisi berskala inernasional, Bandung Raya sempat mewakili Indonesia di Asian Winners Cup 1996/1997. Sukses menekuk Pahang FA asal Malaysia dengan agregat 5-1 di fase pertama Wilayah Asia Timur, sayangnya langkah mereka terhenti di fase kedua setelah kalah agregat 1-5 dari South China AA asal Hong Kong. Ini jadi masa terakhir Bandung Raya menghiasi persepakbolaan nasional. Pasalnya, mereka tak bisa lagi tampil dan mesti bubar lantaran krisis finansial. Pelatih Albert Fafie dan sejumlah pemainnya pindah ke Persija Jakarta. Bandung Raya bangit kembali pada 2011 setelah dikuasai PT Retower Asia, investor yang membeli 65 persen saham Bandung Raya lewat Komisaris PS Bandung Tri Goestoro. Selepas musim 2011/2012, PT Retower Asia mengakuisisi Pelita Jaya Karawang milik PT Nirwana Pelita Jaya. Bandung Raya berubah nama menjadi Pelita Bandung Raya ketika tampil di Liga Indonesia 2012 di Divisi III. Tatkala terjadi dualisme liga (Indonesia Super League dan Indonesia Premier League), Pelita Bandung Raya melonjak tampil di ISL 2013. Mereka hanya menempati posisi 15 dan harus playoff kontra Persikabo Bogor dari Divisi IV. Dalam pertandingan yang digelar di Stadion Manahan, Solo pada 22 September 2013 itu, mereka menang 2-1 berkat gol Mijo Dadic dan Gaston Castano. Di ISL 2014, Pelita Bandung Raya diperhitungkan di Wilayah Barat. Mereka bercokol di posisi empat dan lolos ke fase perdelapan final bersama Semen Padang, Persib Bandung dan Arema Malang sebagai juara Wilayah Barat. Setelah lolos ke semifinal, langkah mereka dihentikan Persipura Jayapura lewat dua gol tanpa balas dari Boaz Salossa. Pelita Bandung Raya kembali menghadapi masalah keuangan ketika sepakbola Indonesia disanksi FIFA. Mereka lantas merger dengan Persipasi Bekasi dan berubah nama menjadi Persipasi Bandung Raya selama satu tahun. Perjalanan Bandung Raya berakhir di Pulau Garam, Madura. “Medio 2016, Persipasi Bandung Raya dibeli tokoh sepakbola dan politisi Achsanul Qosasi dan berubah nama lagi menjadi Madura United (FC),” pungkas Manila.*

  • Anton Lucas dan Cerita Kutilnya

    Di antara kerumuman peserta Indonesia Council Open Conference 2017 pekan lalu (3-4 Juli) di Universitas Flinders di Adelaide, Australia, seorang pria berdiri menjulang karena tingginya lebih dari yang lain. Dia berjaket kulit hitam dengan kerah warna coklat, sesekali tampak bicara kepada peserta lain dalam bahasa Indonesia yang jernih dan tertata. Orang-orang menyapanya takzim, “Pak Anton”, lengkapnya: Anton Lucas, Indonesianis yang dikenal karena melakukan penelitian tentang revolusi sosial di wilayah pantai utara Jawa. Hasil penelitian setebal lima ratus halaman itu kemudian diajukan sebagai disertasi doktor di Australian National University dengan judul The Bamboo Spear Pierces the Payung: The Revolution Againts the Bureaucratic Elite in North Central Java in 1945 . Buat para peneliti sejarah dan ilmu-ilmu sosial pada umumnya, nama Anton Lucas tak lagi asing. Karyanya, yang telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia berjudul Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi itu, menjadi rujukan bagi mereka yang ingin memahami dinamika politik lokal pada era revolusi. Kariernya sebagai sejarawan justru tak dimulai dari pendidikan profesional kesejarahan. “Pendidikan sarjana saya ekonomi pertanian,” kata Anton. Tapi dia tak kerasan menekuni ilmu yang sama untuk jenjang masternya. Ketika dikirim kuliah ke East West Center di Hawai, alih-alih meneruskan master dalam bidang ekonomi pertanian, Anton mencari kesempatan untuk menekuni kajian Asia dengan fokus Indonesia. “Sebelumnya penasihat akademik saya ragu, tapi akhirnya setuju dengan keputusan saya pindah jurusan,” kata Anton mengenai kejadian di pengujung tahun 1969 itu. Berhasil menjadi mahasiswa pascasarjana kajian Asia, Anton menuju Indonesia untuk belajar bahasa di Yogyakarta. Selama di Yogyakarta, dia menekuni bahasa Indonesia dan mengikuti kelas perkuliahan di Universitas Gadjah Mada. “Setiap sore saya naik sepeda ke rumah Ibu Sulastin Sutrisno untuk belajar bahasa Indonesia. Saya juga jadi mahasiswa pendengar kuliah kapita selekta sejarah Indonesia di kelas Pak Sartono,” kenangnya. Sulastin Sutrisno pengajar di Fakultas Sastra UGM (kini Fakultas Ilmu Budaya) jurusan bahasa Belanda, penerjemah surat-surat RA Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang . Sedangkan Sartono yang dimaksud Anton adalah Sartono Kartodirdjo, mahaguru sejarah UGM yang menulis disertasi Pemberontakan Petani Banten 1888. “Bu Sulastin sering mengingatkan saya. Mas Anton jangan bilang ‘pelan-pelan’, itu bahasa untuk tanda jalan,” kata Anton meniru ucapan Sulastin menegurnya pada masa-masa awal belajar bahasa Indonesia. Seiring makin mahirnya kemampun Anton berbahasa Indonesia, hasrat menekuni sejarah Indonesia pun makin meningkat. Namun Anton harus menemukan satu tema penelitian yang kelak bisa dijadikan bahan menulis disertasinya. “Dari Pak Sartono saya mendengar kisah tentang Sarimin Reksodiharjo, bupati Brebes zaman Jepang yang pernah ditangkap oleh pemuda,” ujar Anton. Kisah itu Anton peroleh langsung dari Sartono yang secara tak sengaja bertemu Sarimin dalam perjalanan kereta api dari Jakarta ke Yogyakarta. “Waktu itu Pak Sarimin ditangkap pemuda, “didaulat” istilahnya, digembleng dikasih pengertian tentang revolusi dan proklamasi kemerdekaan.” Sartono menilai kisah Sarimin menarik untuk diperluas menjadi sebuah tema penelitian tentang masa revolusi. Menurut dia apa yang dialami Sarimin juga terjadi pada pangreh praja lainnya. Bak kepingan fragmen yang harus dirangkai menjadi sebuah gambaran peristiwa sejarah yang utuh, peristiwa tersebut menggejala di wilayah karesidenan Pekalongan. Peristiwa Tiga Daerah bermula dari pergolakan sosial yang terjadi pascaproklamasi kemerdekaan Indonesia, di mana seluruh elite birokrat di wilayah tersebut diganti oleh kalangan revolusioner yang datang dari golongan Islam, sosialis dan komunis. Struktur pemerintahan yang semula dikuasai oleh golongan birokrat dari kalangan feodal, dipreteli satu per satu sehingga sepenuhnya menjadi pemerintahan baru yang senafas dengan semangat revolusi kemerdekaan. Peristiwa tersebut acapkali diiringi pula oleh kekerasan serta aksi-aksi kriminal lainnya. Namun demikian menurut Anton, berbagai kasus yang mengiringi peristiwa Tiga Daerah itu harus dipandang sebagai akumulasi kekecewaan yang berbuntut panjang hingga ke masa kolonialisme Belanda dan kemerosotan ekonomi di masa Jepang. “Saya juga membaca disertasi Ben Anderson yang baru terbit waktu itu. Di situ disebutkan tentang apa yang terjadi di Pekalongan. Ben cerita secara garis besarnya. Dia bilang cerita lengkap kejadian itu belum pernah ditulis dan perlu ada penelitian lanjutan lagi,” kata Anton. Untuk itu dia pergi ke Semarang, melacak saksi-saksi yang kemungkinan masih ada. Tempat pertama yang ditujunya dinas sejarah militer Kodam Diponegoro (Semdam), di mana dia menemukan dokumentasi mengenai peristiwa Tiga Daerah. Menurut Anton, di sanalah dia menemukan nama Wadyono, salah satu tokoh kunci dalam peristiwa tiga daerah. Wadyono adalah komandan TKR Resimen XVII wilayah Pekalongan. Dialah yang menyusun rencana kontra atas kaum revolusioner yang menguasai wilayah Tiga Daerah. “Dari Semdam saya langsung ke rumah Wadyono, ketok-ketok pintu rumahnya. Saya memperkenalkan diri dan memulai bertanya tentang peristiwa Tiga Daerah,” kenang Anton. Selain memperoleh keterangan dari Wadyono, Anton juga mendapat bantuan sejarawan Djoko Suryo yang berasal dari Pekalongan untuk mengenali wilayah penelitiannya. “Kebetulan Djoko Suryo berasal dari wilayah selatan Pekalongan dan dia juga mengetahui peristiwa Tiga Daerah.” Pelacakan informasi dimulai dari mengumpulkan data-data dan saksi-saksi yang pernah terlibat di dalam peristiwa yang terjadi di wilayah Brebes, Pemalang dan Tegal itu. Sejak saat itu Anton mulai rajin bolak-balik pergi mengunjungi ketiga daerah penelitiannya. Tokoh-tokoh Peristiwa Tiga Daerah di penjara Wirogunan, Yogyakarta, Desember 1946. Deret belakang: Khambali, Sakhyani (Kutil), Dr. Muryawan, Kromo Lawi, Mohamad Nuh, Supangat. Deret depan: Miad, Saleh Yusuf, Sapili, Moh. Salim, M (?), S. Widarta. (Koleksi Anton Lucas) Salah satu temuan menarik dari riset Anton itu adalah kisah seorang tokoh lokal bernama Kutil. Kutil alias Sakhyani terkenal sebagai jagoan rakyat dari Kecamatan Talang, Tegal. Daerah Talang menurut Anton, “menjadi contoh terkenal selama revolusi sosial di Tiga Daerah” karena siapa saja yang melewati Talang semasa revolusi sosial berisiko ditangkap bahkan dibunuh. “...Kecamatan Talang terkenal terutama karena Kutil, jagoan rakyat Talang, yang kehidupan dan kematiannya telah dimitoskan oleh sejarah,” tulis Anton dalam bukunya. Ada pula anggapan umum yang berkembang di luar wilayah Talang bahwa “Kutil adalah algojo yang telah membunuh banyak orang, kejam, buas, anarkis, alat PKI, tapi ada juga yang beranggapan bahwa dia adalah agen NICA (pemerintahan Belanda di pengasingan Australia semasa Jepang berkuasa di Indonesia , red .),” lanjut Anton mengungkap kisah Kutil. Dalam sidang pengadilan di Pekalongan, Kutil mengaku telah melakukan banyak pembunuhan , dan menurut pendukungnya hal itu dilakukan demi melindungi teman-temannya di Talang. “Ia adalah orang pertama dalam sejarah Republik Indonesia yang dijatuhi hukuman mati melalui proses pengadilan formal di Pekalongan. Peristiwa Tiga Daerah sering disebut sebagai ‘gerakan Kutil’,” tulis Anton. Di tengah tuduhan bahwa Kutil seorang komunis yang kerap digambarkan anti-Tuhan dan agama, Anton mengungkapkan kenyataan lain bahwa Kutil sebenarnya datang dari kalangan santri yang berprofesi sebagai guru agama. Mengutip keterangan dari anak Kutil, ayahnya seringkali bepergian jauh untuk memimpin pengajian dan baru pulang lewat tengah malam. Ketika masa revolusi tiba, Kutil mendirikan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) di Talang. “Tujuan AMRI bentukan Kutil di masa revolusi sosial adalah pembagian kekayaan (kepada rakyat , red. ). Tujuan lain adalah menumpas setiap orang yang dicurigai menjadi agen NICA, yang dianggap sebagai pengkhianat Republik,” kata Anton. Salah satu yang dilakukannya adalah mendistribusikan kain di Talang dan wilayah sekitarnya. Saat itu kain menjadi kebutuhan mendesak karena selama pendudukan Jepang menjadi langka sehingga membuat sebagian besar rakyat menjadikan karung goni untuk pakaian. Kutil mementingkan pembagian itu atas dasar asas “sama rata sama rasa” tanpa pengecualian. Sebegitu legendarisnya Kutil sehingga kisahnya tetap bertahan sebagai mitos di kalangan masyarakat Tegal. Dadang Christanto seniman kelahiran Tegal yang kini bermukim di Australia bahkan masih ingat bagaimana nama Kutil digunakan untuk menakuti-nakuti anak-anak kecil. “Kalau ada anak nakal, orangtua zaman dulu suka bilang ‘awas nanti diculik sama Kutil’,” ujar Dadang kepada Historia . Anton merekam kisah tersebut dengan baik dalam bukunya. Tak hanya itu, riset yang dilakukannya selama lebih dari enam tahun itu berhasil membangun gambaran utuh peristiwa Tiga Daerah yang sebelumnya terpecah dalam beberapa kepingan cerita. Bahkan karya Anton diakui sebagai karya sejarah pertama yang menggunakan metode sejarah lisan ( oral history ) sebagai ikhtiar melengkapi kekurangan dokumen tertulis atas peristiwa tersebut. Kini Anton menikmati masa pensiunnya di kota Adelaide, Australia Selatan bersama istri tercintanya Sri Kadarsih. Anton bertemu Kadarsih ketika perempuan Yogyakarta itu bekerja sebagai asisten antropolog Masri Singarimbun. “Dulu waktu saya masih penelitian sering lewat mejanya di kantor Pak Masri,” kenang pria kelahiran Melbourne tahun 1946 itu mengingat kembali masa-masa awal cintanya bersemi. Mereka dikaruniai dua anak Trina dan Darma Lucas. Kecintaannya kepada Indonesia tak pernah padam. Sebagai wujudnya, seluruh koleksi dokumentasi yang dia kumpulkan sepanjang kariernya disumbangkan ke Flinders University sehingga bisa digunakan oleh para peneliti yang hendak meneliti Indonesia. Dia dan istrinya juga rajin mempromosikan sejarah dan kebudayaan Indonesia dalam berbagai acara di Australia.

  • Paman Choo, Pelatih Asing Pertama Timnas Sepakbola Indonesia

    TIM nasional (timnas) sepakbola Indonesia kerap ditangani oleh pelatih asing. Pelatih asing pertama timnas setelah Indonesia merdeka adalah Choo Seng Quee dari Singapura. Paman Choo, begitu dia disapa, meramu sejumlah talenta Indonesia untuk pentas di Asian Games pertama tahun 1951 di New Delhi, India. Paman Choo lahir pada 1 Desember 1914 dan bermain sebagai gelandang tengah Singapore Chinese FA. Namanya melejit sejak melatih timnas Singapura periode 1949-1950. Setahun kemudian, dia dipinang PSSI untuk menukangi Maulwi Saelan cs. hingga tahun 1953. Asian Games I mempertandingkan tujuh cabang olahraga: atletik, renang loncat indah dan polo air, kesenian ( arts ), sepakbola, angkat besi, basket, dan balap sepeda. Komite Olahraga Indonesia memutuskan hanya mengikuti dua cabang olahraga yaitu atletik (17 atlet) dan sepakbola (18 atlet). Ke-18 pemain timnas antara lain Maulwi Saelan (kiper), Bing Mo Heng (kiper), Sunar ( full-back ), Sardjiman ( full-back ), Ateng (gelandang), Tan Liong Houw, Sidhi (poros halang) Pasanea (poros halang), Chaerudin ( full-back /gelandang), Jahja (gelandang), Sugino (kiri luar), Thee San Liong (kiri/kanan dalam), Ramlan (muka tengah), Bee Ing Hien (kanan dalam), Witarsa (kanan luar), Soleh (kiri/kanan luar), Ramli (muka tengah/kanan dalam), dan Darmadi (muka tengah/kiri dalam). Petinggi PSSI, Raden Maladi, merasa jika Indonesia ingin berbicara banyak di Asian Games I, timnas harus punya arsitek jempolan. Paman Choo dari Negeri Singa dianggap cocok menukangi timnas. Pimpinan timnas dipercayakan kepada Tony Wen dan dr. Halim sebagai wakil PSSI untuk menghadiri pertemuan internasional. Cabang sepakbola di Asian Games I diikuti enam negara: Afghanistan, Burma, India, Indonesia, Iran dan Jepang. Sayangnya, timnas belum bisa unjuk gigi. Di babak penyisihan, timnas dihajar 3-0 oleh tuan rumah India yang tampil nyeker alias tanpa sepatu pada 5 Maret 1951. Mengutip data RSSSF (Rec.Sport.Soccer Statistics Foundation), gawang Maulwi Saelan dijebol Sahu Mewalal di menit ke-27. Dua gol lainnya yang bersarang ke gawang timnas lahir dari gol bunuh diri bek Chaeruddin Siregar di menit ke-42 dan 50. India mengamankan medali emas setelah membekap Iran 1-0. Menurut buku Olahraga Indonesia dalam Perspektif Sejarah, kekalahan dari India agak terhibur karena beberapa hari kemudian, pada 9 Maret 1951, timnas mengalahkan timnas Burma (Myanmar) 4-1 dalam pertandingan persahabatan yang diadakan di New Delhi. Tur Singapura dan Timur Jauh Meski gagal di Asian Games I, Paman Choo sukses membuat timnas Indonesia menggegerkan Singapura dalam tur pada Mei 1951. Tur ini dibiayai sendiri oleh PSSI dan akomodasinya dibantu Konsulat Jenderal RI di Singapura. Akomodasi tempat menginap hanya sebuah aula sekadar untuk merebahkan badan para pilar timnas. Walau akomodasinya pas-pasan, bukan berarti timnas tampil loyo. Dalam Drama itu Bernama Sepakbola , Arief Natakusumah mencatat pada 5 Mei 1951, timnas menghajar Singapore Malays, juara Community League Singapore dan Federation of Malaya, dengan skor 7-0 di depan tatapan 8.000 penonton. Semenanjung Malaya geger. Koran-koran The Sunday Times , Strait Times , Singapore Free Press , Singapore Standard , menuai berita besar. Timnas lantas mempermalukan tim Singapura A dengan skor 4-1 dan mengimbangi tim Combine Services (tentara Inggris di Singapura) 0-0. Kemenangan kembali diraih pada 13 Mei 1951 kontra Combine Singapore 4-1. Sehari setelahnya, timnas bermain imbang 1-1 melawan tim Combine Chinese. Setelah tur Singapura, pada 1953, Paman Choo membawa timnas untuk Tur Timur Jauh (Far Eastern Tour) ke tiga negara: Manila (Filipina), Bangkok (Thailand), dan Hong Kong. Tur ini dalam rangka menghadapi Asian Games II di Manila. Di Manila, pada 18-21 April 1953, timnas digdaya menggilas tim Manila Football League 8-0, All Students XI 7-0 dan Manila Interport 5-0. Pertandingan Di Hong Kong pada 25-30 April, Paman Choo sukses membawa timnas memecahkan mitos bahwa Hong Kong tak pernah bisa dikalahkan di kandang sendiri. Timnas menggasak Hong Kong Interport XI 4-1, Hong Kong Selection 3-2, serta Combine Chinese 5-1. Timnas hanya sekali kalah lawan Korea Selatan 1-3 pada hari terakhir tur di Hong Kong. Berlanjut ke Negeri Gajah Putih, kegarangan timnas berlanjut dengan memakan korban Chaisot yang dibantai 6-2 dan Thai Royal Air Force 7-0. Tujuh tahun setelahnya, Paman Choo kembali terkenang dengan tur itu, terutama kala menukangi timnas Malaysia jelang laga kontra Hong Kong pada Oktober 1960. “Timnas Indonesia dulu belum dikenal dan dihormati ketika tampil di Hong Kong. Tapi ketika mereka mengalahkan All Hong Kong (tim Inerport Hong Kong XI) 4-1 di partai pertama dalam tiga laga tur, bantuan polisi ekstra terpaksa dipanggil untuk meredam penonton yang tak mendapatkan tiket untuk dua laga berikutnya,” tutur Paman Choo dikutip The Strait Times, 28 Oktober 1960. Selain tur tersebut, timnas juga menghadapi kesebelasan Yugoslavia di Jakarta. Sempat imbang di laga pertama, namun pada pertandingan kedua, timnas harus mengakui keunggulan tim tamu dengan skor 2-0. Menurut buku Olahraga Indonesia dalam Perspektif Sejarah, sejak berdirinya PSSI pada 1930, tahun 1953 barangkali merupakan puncak keemasan PSSI karena tahun mendulang kemenangan yang berturut-turut dalam Tur Singapura dan Tur Timur Jauh. Sayangnya, kegemilangan dalam tur tersebut tidak terulang dalam Asian Games II di Manila pada 1954. Timnas sempat membalas dendam dengan mengalahkan tim terkuat, India 3-0 di babak penyisihan. Namun, dalam perebutan juara ketiga, timnas malah kalah dari Burma, negara yang dikalahkan dengan mudah dalam laga persahabatan di India pada 1951. Tugas Paman Choo menukangi timnas berakhir pada 1953. Lima tahun berselang, Paman Choo mengarsiteki timnas Malaysia. Dia tak pernah jauh-jauh dari sepakbola meski tubuhnya terus tergerus usia, hingga tutup usia pada 30 Juni 1983 pada umur 68 tahun. Setahun sebelumnya, Paman Choo menerima penghargaan dari PSSI. “Federasi Sepakbola Indonesia (PSSI) mempersembahkan medali emas First Class atas jasa-jasanya terhadap sepakbola Indonesia. Pemberiannya dilakukan langsung oleh Mr. Sopariyo, executivechairman PSSI di kediaman Choo di Thomson Road (Singapura),” tulis The Strait Times , 4 Agustus 1982.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page