Hasil pencarian
9874 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ketahanan Pangan Masyarakat Jawa Kuno
PADA awal pandemi Covid-19, banyak orang panik dan memborong bahan makanan pokok di pusat perbelanjaan. Mereka khawatir pasokan bahan pangan terganggu akibat pandemi. Strategi ketahanan pangan pun diperlukan untuk menghadapi masa sulit. "Karena pada kondisi luar biasa seperti sekarang, yang biasanya normal jadi tidak normal, bagaimana strategi persiapan kita menghadapi kondisi ini? Apakah strategi itu sudah dilakukan oleh masyarakat Jawa Kuno?" kata Agni Sesaria Mochtar, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam diskusi daring berjudul "Ketahanan Pangan pada Masa Jawa Kuna" yang diadakan Balai Arkeologi Yogyakarta, Rabu (10/3/2021). Agni mengatakan, ancaman yang dihadapi masyarakat Jawa Kuno dapat diketahui dari catatan prasasti dan tinggalan arkeologi. Respons atau persiapan mereka dalam menghadapi ancaman salah satunya dengan teknologi pangan. Mereka diperkirakan sudah memiliki sistem ketahanan pangan.
- Jimat Perang Tentara Sukarela
GEDUNG bioskop di daerah Cilacap penuh sesak pada 14 Desember 1943. Para pengunjung bukan hendak menonton film tapi mendengarkan wejangan dari tokoh kebatinan Jawa, Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962). Dalam wejangannya, Suryomentaram menjelaskan perlunya terus mengobarkan perlawanan terhadap Sekutu sebagai balas budi kepada Dai Nippon atau Jepang serta demi mewujudkan kemakmuran Asia Timur Raya. Selang dua hari, Suryomentaram kembali berpidato di hadapan ribuan orang di gedung Asia Bersatu, Purwokerto. Kali ini, dia menjelaskan Jimat Perang. “Rasa berani mati dan berani hidup dalam masa perang dapat berakibat menangnya perang. Sedangkan pada masa damai rasa itu dapat melaksanakan kebudayaan yang luhur,” ujar Suryomentaram, dikutip koran Tjahaja, 18 Desember 1943.
- Sudiro dan Warisan-warisannya
SENIN (22/6/2026) kemarin, Jakarta memperingati hari lahirnya yang ke-499. Upacara peringatannya dihelat pemerintah provinsi di selatan Silang Monas. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan, upacara peringatan menjelang lima abad Jakarta itu bukan sekadar mengenang perjalanan sejarah kotanya, melainkan juga terus menempa diri dengan keterlibatan masyarakatnya yang majemuk sebagai kota global yang berpihak pada manusianya. Perayaan HUT Jakarta sendiri hadir pertamakali tujuh dekade silam, 22 Juni 1956, di masa kepemimpinan R. Sudiro Hardjodisastro (1953-1960). Walikota Jakarta Raya Sudiro mencetuskan gagasannya lalu meminta sejumlah cendekiawan, tokoh, dan sejarawan untuk menentukan dasar historis hari ulang tahun Jakarta dengan merujuk keberhasilan Fatahillah dari Kesultanan Demak merebut Sunda Kelapa –yang kemudian nama diubah jadi Jayakarta– dari Portugis pada 22 Juni 1527. “Jakarta di masa itu (1950-an) enggak ada hari ulang tahun. Dia (Sudiro) tanya siapa yang bisa bikin. Roeslan Abdulgani dan lain-lain ditanya. Tapi yang mendekati dan ilmiah (sejarahnya) ada dari namanya Prof. Soekanto. Dia berdasarkan jatuhnya Sunda Kelapa, 22 Juni,” ujar Tanto Sudiro, putra bungsu Sudiro, kepada Historia.ID.
- Panglima Tentara Dipilih Lewat Rapat Koboy-Koboyan
SEBULAN usai pengumuman maklumat pemerintah tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945 oleh Presiden Sukarno, TKR belum memiliki pemimpin tertinggi. Kendati presiden sudah menetapkan Soeprijadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat, namun sampai batas yang ditentukan, pemimpin pemberontakan pasukan Peta (Pembela Tanah Air) di Blitar itu tak juga muncul. Soeprijadi diperkirakan dibunuh oleh balatentara Dai Nippon. Berdasarkan situasi tersebut, formatur Kepala Markas Besar Oemoem (MBO) TKR, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo berinsiatif mengadakan rapat antarperwira. Pertemuan itu diadakan di Yogyakarta pada 12 November 1945, dengan melibatkan para perwira yang paling rendah berpangkat letnan kolonel atau menjabat sebagai komandan resimen. Dalam film Jenderal Soedirman yang baru-baru ini diluncurkan, digambarkan suasana rapat sedikit hangat. Namun sejatinya, situasi rapat tersebut berlangsung kacau, tidak disiplin dan sangat panas. Menurut Mayor Jenderal Didi Kartasasmita, sejak awal pun sudah ada kesan rapat perwira itu tidak akan berjalan tertib. Laiknya para koboy, para peserta datang ke ruangan rapat dengan masing-masing menyandang pistol di pinggang.
- Ketika Tentara Tanpa Panglima
GEDUNG besar bergaya setengah art deco itu masih berdiri kokoh di tengah kota Yogyakarta. Catnya yang bercorak kombinasi hijau tua dan hijau muda menandakan bahwa bangunan tersebut ada di bawah pengawasan pihak TNI AD (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat). Semula, gedung yang dibangun pada 1904 itu merupakan rumah dinas pejabat administrator perkebunan Hindia Belanda di Jawa Tengah dan Yogyakarta, namun pada 1942-1945 dikuasai militer Jepang. “Pasca proklamasi kemerdekaan gedung ini kemudian beralih fungsi menjadi MBTKR (Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat),” ujar pemandu di Museum Pusat TNI Dharma Wiratama, nama gedung tersebut, kepada Historia. Sekitar 72 tahun yang lalu, di gedung MBTKR terjadi peristiwa sangat penting. Ceritanya, sebulan usai diumumkan Maklumat Pemerintah tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945 oleh Presiden Sukarno, TKR sama sekali belum memiliki pemimpin tertinggi.
- Ujeng Suwargana, Duta Tentara di Mancanegara
KETIKA mengantar kepergian Ujeng Suwargana pada 7 Mei 1979, di depan khalayak Abdul Haris Nasution menyampaikan kesan dan kenangan terakhir bagi sahabat lamanya itu. “Dengan biaya sendiri Uyeng (Ujeng) membuat buku-buku kecil dalam bahasa Inggris yang menjelaskan perjuangan Irian Barat,” ujar Nasution sebagaimana dituturkannya dalam memoar Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan masa Orde Lama. Hingga akhir hayatnya, menurut Nasution, pemerintah belum pernah memberikan tanda penghargaan atas jasa-jasa Ujeng. Ujeng Suwargana alias Oey Eng Soe lahir di Bandung pada 12 November 1917. Perkenalan Ujeng dan Nasution bermula saat keduanya menempuh pendidikan militer untuk korps perwira cadangan Belanda di Bandung (CORO) tahun 1940. Di masa perang kemerdekaan, keduanya pun menjadi sejawat seperjuangan. Ketika Nasution menjabat Panglima Divisi Siliwangi tahun 1946, Ujeng adalah komandan logistiknya.
- Soe Hok Gie dan Tentara
RUDY BADIL masih ingat kata-kata sobatnya, Soe Hok Gie. Suatu hari, aktor intelektual gerakan mahasiswa 1966 itu bilang bahwa politik merupakan dunia yang sangat dihindarinya. Kalaupun pada akhirnya dia ada di dunia politik, Soe meyakinkan bahwa itu adalah jalan terakhir yang terpaksa harus diambilnya karena jalan yang lain sudah tertutup. “Orang lurus macam dia memang tak cocok ada di dunia politik,” ujar mantan jurnalis senior itu kepada . Soe memang pernah mengungkapkan hal tersebut dalam catatan hariannya yang dibukukan berjudul . Pada 16 Maret 1964, dia menulis bahwa politik adalah barang paling kotor, lumpur-lumpur kotor yang di dalamnya sama sekali tak mengenal moral.
- Jadi Tentara karena Jailangkung
SETIAP tentara memiliki motivasi masing-masing menjadi anggota TNI. Namun, Jenderal TNI (Purn.) Soemitro memutuskan menjadi tentara dengan alasan yang nyeleneh: petunjuk jailangkung. Soemitro lahir di Sebaung, Gending, Probolinggo, Jawa Timur pada 13 Januari 1927. Waktu kecil, dia bercita-cita menjadi insinyur. Namun, ketika dia menginjak usia 15 tahun, ada sesuatu yang membelokkan cita-citanya dari insinyur menjadi tentara. Ketika itu, tentara Jepang baru masuk Indonesia. Dia dan Gatot Supangkat, kawan pondokan di Surabaya, iseng-iseng main jailangkung. “Pertanyaan pertama yang saya lontarkan adalah ‘besok saya akan jadi apa?’ Sang jailangkung menjawab dengan menunjuk huruf-huruf M A J O R,” kata Soemitro dalam memoarnya, Dari Pangdam Mulawarman Sampai Pangkopkamtib. “Namanya garis hidup, saya betul-betul jadi tentara.”
- Membentuk Tentara Rakyat
SEJAK kaum bersenjata datang dari arah Jakarta pada awal 1946, Karawang yang tenteram berubah menjadi rusuh: perkelahian dan bentrok terjadi di mana-mana. Menurut Telan (91 tahun), biasanya mereka bertikai gara-gara masalah kecil. Misalnya satu kelompok laskar tidak mau bayar makanan di sebuah restoran, lalu pemilik restoran itu lapor ke pihak kelompok bersenjata lainnya. “Ya jadilah kemudian tawuran pakai peluru,” ujar mantan anggota laskar di Karawang itu. Soal itu dibenarkan oleh M. Kharis Suhud. Sebagai eks kombatan di Resimen Cikampek, ia menjadi saksi bagaimana dominannya kaum bersenjata di Karawang beberapa bulan setelah Indonesia merdeka. “Terutama sebuah lasykar yang hampir tiap waktu melakukan pamer kekuatan dengan senjata lengkap di kota sambil menyanyikan lagu-lagu menyeramkan seperti lagu 'Darah Rakyat',” tulis Kharis dalam Sekilas Pengabdian Resimen Cikampek dalam Perang Kemerdekaan.
- Mengerjai Tentara Pelajar
PADA akhir Januari 1946, satu seksi pasukan tentara pelajar di bawah pimpinan Murdoyo dan Poly Sulistio, dari Yogyakarta tiba di Jetis, asrama TRIP setelah mundur dari Surabaya. Mereka bermaksud bergabung dengan kesatuan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Setelah melalui latihan kemiliteran, pada suatu malam yang gelap, mereka dibangunkan agar bersiap-siap berangkat ke front untuk menyergap kedudukan Belanda. Semua anggota pasukan berangkat dengan hati berdebar-debar. Mereka bergerak dalam formasi satu-satu ke belakang dengan jarak 1-2 meter dengan teman di depannya. Perintah disampaikan secara beranting. Mereka berjam-jam bergerak terus, diselingi dengan menikung ke kiri dan kanan, melalui pematang-pematang sawah dan tegalan serta menerobos berbagai perkampungan penduduk. Sekitar jam 03.00 pasukan diperintahkan berhenti dan membentuk posisi pertahanan menyamping serta mencari perlindungan di balik pohon atau gundukan tanah.
- Tentara Kolonial dalam Pusaran Masa
HARI ini, 25 Juli, 69 tahun silam di kediaman Komisaris Tinggi Belanda Hans Max Hirschfeld. Naiknya Letnan Jenderal (Letjen) Dirk Cornelis Buurman van Vreeden ke podium jadi momen paling ditunggu. Panglima terakhir Koninklijke Nederlands Indisch Leger (KNIL/Tentara Kerajaan Hindia Belanda) itu menyampaikan pernyataan di depan mikrofon lewat dua bahasa –Belanda dan Indonesia– yang menandakan bubarnya serdadu kolonial berusia 120 tahun itu. Benarkah 120 tahun? Pasalnya, monument KNIL di Bronbeek yang mengabadikan usia KNIL sudah direvisi dari penyebutan kurun waktu 1830-1950 menjadi 1814-1950. Perubahan itu dilakukan setelah muncul hasil riset Letkol (tituler) Willem L. Plink yang meyakini KNIL sudah lahir sejak 14 September 1814, bukan 4 Desember 1830 yang mengacu pada Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische Leger dari Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Dikutip dari situs Vrieden van Bronbeek, Plink mendasarkan pernyataannya pada temuan sebuah panji Resimen Van Heutsz bertarikh 1814 di sebuah pameran di Museum Bronbeek. Panji tersebut memuat jahitan bertuliskan “Krijgsverrichtingen Koninklijke Nederlands-Indisch Leger 1816-1950” serta “Korea 1950-1954”.
- Tentara Melarat
BAGI Kolonel Pnb. (Purn.) Pramono Adam, seberapapun beratnya tugas yang diemban, ia mesti dijalankan dan diselesaikan. “Kita senang aja,” ujarnya kepada Historia. Tanggungjawab itu selalu menjadi prinsipnya selama menjadi perwira Angkatan Udara, termasuk ketika dia di-BKO ke Kodam Mulawarman dalam rangka Dwikora, 1963-1965. Dia, kala itu berpangkat letnan, mesti bolak-balik menerbangkan helikopter angkut sedang Mi-4 melintasi hutan “perawan” Kalimantan tanpa dilengkapi flight guidance, peralatan navigasi dan komunikasi. Justru dari penugasan di “kegelapan” itu dia banyak belajar. “Kita memperhatikan sifat hutan, ada yang berbunga begini, ada tanah longsor, ada macam. Itulah alat bagi kami navigasi. Nggak ada yang nunjukan pada kita. Jadi mengikuti jejak di darat. Istilahnya dead reckoning,” sambung lelaki berusia 83 tahun yang biasa disapa Pram itu.





















