Hasil pencarian
9769 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Keris Pangeran Diponegoro Tiba di Tanah Air
KERIS Pangeran Diponegoro yang ditemukan di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda, resmi diserahkan kepada Museum Nasional Indonesia, Kamis, 5 Maret 2020. Penyerahan keris dilakukan Duta Besar Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja dan diterima langsung oleh Kepala Museum Nasional Indonesia Siswanto. “Semoga hari ini menjadi berkat bagi kita semua. Karena hari ini merupakan momentum yang bersejarah dengan kembalinya keris Pangeran Diponegoro sejak keluar dari tanah air kita 150 tahun lalu,” ujar Dubes Puja. Puja tiba di Jakarta pagi tadi menumpang pesawat Garuda Indonesia dari Amsterdam dan membawa serta keris Pangeran Diponegoro tersebut. Menurutnya, inilah keris Kiai Nogo Siluman yang selama ini dicari-cari.
- Hilang Ratusan Tahun, Keris Diponegoro Ditemukan di Belanda
KEMENTERIAN Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda hari ini, Rabu, 4 Maret, pukul 09:00 pagi waktu Belanda mengumumkan pengembalian sebilah keris Jawa kepada Indonesia. Dalam rilis yang diterima Historia.ID , keris yang dimaksud merupakan pusaka milik Pangeran Diponegoro. Keris berwarna hitam dengan ukiran berlapis emas itu sempat dikabarkan hilang. Keris tersebut berhasil diidentifikasi setelah dilakukan penelitian terhadap koleksi Museum Volkenkunde, Leiden. “Saya bahagia bahwa penelitian mendalam ini, yang diperkuat ahli Belanda dan Indonesia, menjelaskan bahwa ini adalah keris yang dicari-cari selama ini. Sekarang keris ini dikembalikan ke negeri asalnya: Indonesia,” ujar Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Inggridvan Engelshoven.
- Di Balik Mistik Keris
PANEMBAHAN Purbaya mengacungkan keris pusakanya. Api berkobar-kobar di kiri dan kanan jalan. Tujuannya satu, meremukkan benteng Belanda di Batavia.Pasukan Kompeni yang menyadari kedatangan rombongan Kesultanan Mataram itu langsung memberondongkan peluru dari atas benteng. “Heee Belanda! Sungguh terlalu tingkahmu yang hanya menakut-nakuti!” seru Panembahan Purbaya. Ia pun menudingkan keris pusakanya ke arah benteng, di mana banyak pasukan Belanda berkumpul. Benteng itu pun seketika tembus berlubang seluas empat meter persegi. Demikianlah kesaktian keris dikisahkan dalam buku Serat Tembung Andhupara karya R.Ng. Suradipura. Ada juga kisah Mpu Gandring yang terkenal dengan keris buatannya yang sangat sakti dalam Serat Pararaton . Konon, tak ada orang yang dapat melawan kekuatan keris bikinannya. Jika dipakai menusuk pasti berhasil.
- Hansip Bubar Barisan
SLAMET Santoso, 54 tahun, telah 21 tahun menjadi hansip (pertahanan sipil) di desa Keseneng, kabupaten Semarang. Dia menanggapi dingin pembubaran hansip awal September lalu. “Saya kira kok sama saja, dibubarkan atau tidak. Hansip desa itu sudah menjadi pengabdian saja,” ujarnya kepada Historia.ID . Menurut Slamet, untuk seragam pun dia peroleh dari bekas hansip sebelumnya. Tunjangannya bersumber dari Dana Alokasi Umum Desa (DAUD), yang dibayarkan dalam kurun setahun, dibagi 14 rekan hansip lainnya. Pembentukan hansip terkait dengan upaya pemerintah merebut Irian Barat. Pada 19 Desember 1961, Sukarno mengumumkan Tri Komando Rakyat: gagalkan pembentukan negara Papua buatan Belanda, kibarkan merah putih di Irian Barat, dan bersiap untuk mobilisasi umum.
- 19 April 1944: Mengenang Pemboman Sabang
HARI ini, 19 April 1944, sejumlah tempat di Sabang luluh lantak. Keadaan itu disebabkan oleh bombardir udara yang dilancarkan pasukan Sekutu lewat operasi bersandi Cockpit. Operasi Cockpit dilatarbelakangi oleh permintaan AL Amerika Serikat (AS) yang membutuhkan sebuah operasi pengalihan agar operasi utamanya ke Hollandia (kini Jayapura) tak terusik. Operasi pengalihan itu berfungsi untuk menahan pasukan Jepang di sekitar Selat Malaka agar tak bergerak ke timur. Untuk keperluan itu, pada awal April 1944 Laksamana Ernest King (kepala operasi AL AS) menemui Laksamana James Somerville (komandan Armada Timur AL Inggris). King menanyakan apakah Armada Timur bisa membuat operasi yang diinginkan.
- Tirto Utomo dari Juru Warta Jadi Pendiri Aqua
BANJIR bandang terjadi di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, pada 21 September 2020. Selain menerjang permukiman penduduk, banjir juga merendam pabrik PT. Aqua Golden Mississippi Tbk. di Jalan Siliwangi, Mekarsari, Sukabumi. Video keadaan pabrik Aqua yang kebanjiran itu viral di media sosial sehingga Aqua menjadi trending topic . Aqua didirikan oleh Tirto Utomo hampir setengah abad lalu. Sebelum mendirikan Aqua, dia bekerja sebagai wartawan. Setelah bergelar sarjana hukum, dia memutuskan bekerja sesuai bidangnya di perusahaan minyak milik negara. Di sinilah, dia secara kebetulan mendapatkan ide bisnis mendirikan perusahaan air minum dalam kemasan. Tirto Utomo atau Kwa Sien Biauw lahir di Wonosobo pada 8 Maret 1930. Orang tuanya, Kwa Liang Tjoan dan Tjan Thong Nio menjalankan usaha peternakan sapi perah. Dia menempuh pendidikan dasar di Wonosobo, sekolah menengah pertama di Magelang, dan sekolah menengah atas di Malang.
- Rahasia Masa Mahasiswa Kasino
SUDAH lewat dini hari. Api unggun menyala. Udara dingin di bumi perkemahan Cibubur berubah hangat. Tak jauh dari api unggun, sejumlah mahasiswa duduk menghadap sebuah rakit di Situ Cibubur. Di atas rakit, dua orang mahasiswa lagi membanyol. Banyolannya agak jorok dan menyindir kebijakan politik-ekonomi saat itu, tahun 1973. Teman-temannya tertawa mendengar banyolan mereka. Dua mahasiswa tadi bernama Kasino Hadiwibowo dan Nanu Mulyono. Keduanya beda jurusan di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Indonesia (FIS UI). Kasino anak administrasi niaga, Nanu mengambil sosiologi. Tapi keduanya sama-sama punya daya humor yang kuat.
- Kasino Sebelum Gabung Warkop
KASINO Hadiwibowo atau Kasino, sohor sebagai komedian serba-bisa dari grup Warkop Prambors. Dia lincah melawak dalam berbagai logat: Jawa, Betawi, Melayu, dan Mandarin. Dia juga piawai bergitar dan bernyanyi memplesetkan lagu-lagu tenar seperti “Come Together”, “My Bonnie”, “Sukiyaki”, dan “Feeling”. Kasino dianggap sebagai personel paling kocak di Warkop. Pleseten lagunya bikin orang tergelak. Dia tampil dengan gaya bicara ceplas-ceplos di panggung dan gesit menyampaikan humor tentang kondisi masyarakat. Celetukannya di film pun banyak dikenang. Sebutlah beberapa di antaranya. “Anak orang kaya emang begitu. Kayak duit bapaknya halal aja!”, “Kasino, Putra Gombong, nyogok tidak etis”, atau “Hidup di Jakarta musti lihai. Kalau gak lihai, kita yang dilihaiin orang.”
- Reog BKAK, Polisi yang Mengocok Perut
KOMEDI seiring berputarnya zaman makin berwarna, kata Mahatkarta Indrojojo Kusumonegoro alias Indro Warkop. Peran sebagai kontrol sosial juga tetap dimainkan pelawak di Indonesia saat ini. Tak peduli siapapun pelawaknya, bahkan anggota polisi sebagai abdi negara sekalipun. “Warkop dari dulu [komedinya] verbal. Kita pengin kayak ngobrol di warung kopi, nyentil sana, nyentil sini, sekadar suara rakyat kecil. Terus meningkat-meningkat, ada Warkop, ada komedi yang lain, ada stand-up comedy segala macam dan colourful -lah Indonesia. Dan sejak saat itu ada suara terpendam masyarakat yang enggak terwakili di Senayan (MPR/DPR) saja, bisa muncul di sini. Pelawak, dari zamannya [panakawan] Semar, Gareng, Bagong, Petruk memang coreng-moreng tapi dia adalah kontrol sosial,” ujar Indro di podcast “PWK: Indro Warkop Terharu dan Bangga Menyaksikan Mimpi Warkop DKI Terwujud!” di Youtube HAS Creative , Senin (14/8/2023). Kontrol sosial berupa edukasi, kritik hingga otokritik lewat komedi belakangan juga marak dilakoni pihak kepolisian. Selain untuk menggencarkan citra baik dan positif kepolisian, tujuannya juga memberi edukasi kepada masyarakat dengan cara humanis. Seperti yang dilakukan Pak Bhabin alias Ipda Herman Hadi Basuki lewat video-video kocak dan edukatifnya, atau Mr. Gamayel alias Aipda Mei Mahatthir Gamayel lewat stand-up comedy -nya yang mengangkat beraneka macam keresahan masyarakat tentang kepolisian.
- Bapaknya Indro Warkop Jenderal Intel
JELANG peringatan Hari Bhayangkara 1 Juli 1959, Komisaris Besar Polisi Raden Mochammad Oemargatab, kepala Pengawas Aliran Masyarakat (PAM) dari Kepolisian Negara Republik Indonesia, dapat tugas penting dari Menteri Muda/Kepala Kepolisian Negara Komisaris Jenderal Polisi Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo. Tugasnya menjadi penanggung jawab pembuatan patung Gajah Mada yang ditempatkan di depan Markas Besar Polri. Setelah bagian badannya selesai, si pematung bingung karena tak tahu bagaimana wajah Gajah Mada. Oemargatab juga tidak tahu pasti bagaimana muka Gajah Mada. Sementara itu, upacara peresmian tinggal satu minggu lagi. “Sebagai penanggung jawab, dan supaya tidak ditegur Kepala Kepolisian Negara RS Soekanto, tanpa menjelaskan tujuannya, Pak Oemar meminta foto saya. Saya kira, foto saya digunakan untuk dokumentasi PAM. Ternyata tidak begitu,” kata Moehammad Jasin dalam Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang . Rupanya, Oemargatab yang panjang akal itu menjadikan wajah Jasin sebagai patokan si pematung membuat muka patung Gajah Mada.
- Boyke Nainggolan, Tragedi Perwira Terbaik
MEDAN, 15 Maret 1958, aktivitas di ibu kota Sumatera Utara itu tak setenang biasanya. Sejak siang hari hingga malam, situasi Ksatrian Batalion 131 di Jalan Jakarta (kini Jalan Imam Bonjol) sudah nampak sibuk luar biasa. Pasukan dikumpulkan dan disiagakan. Semua perlengkapan, persenjataan dan amunisi, termasuk juga 25 kendaraan lapis baja, dipersiapkan. Dalam waktu singkat, sendi-sendi penting kota Medan dikuasai. Lapangan udara AURI Polonia direbut pasukan lapis baja. Kecuali satu yang berhasil lolos, semua pesawat terbang di landasan porak-poranda. Stasiun RRI turut diambilalih. Operasi bersandi “Sabang-Merauke” itu merupakan operasi militer pertama yang mendukung PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Gerakan tersebut dipimpin oleh Mayor Boyke Nainggolan, Wakil Kepala Staf Teritorium I Bukit Barisan. “Boyke Nainggolan seorang perwira Batak Toba dan dianggap sebagai salah seorang perwira tempur Angkatan Darat terbaik,” tulis Audrey Kahin dan George McTurnan Kahin dalam Subversi sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia .
- Aksi Pembangkangan Boyke Nainggolan
SEPULANG dari pendidikan di Amerika Serikat (AS), Mayor Boyke Nainggolan sedianya disiapkan menjadi perwira masa depan oleh Markas Besar Angkatan Darat. Namun dalam perkembangan selanjutnya ternyata Mayor Boyke justru bersilang pendapat dengan pemerintah. Dia tidak setuju dengan cara pemerintah pusat menyelesaikan masalah PRRI lewat operasi militer. Karena ketidaksetujuannya tidak digubris, maka komandan Batalion Pengawal Kota Medan itu pun bikin kejutan sebagai wujud koreksinya. “Mayor Boyke Nainggolan di Medan melakukan kudeta yang (dia) menamakan Operasi Sabang-Merauke,” ungkap Dinas Sejarah TNI dalam Biografi Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution: Perjalanan Hidup dan Pengabdiannya . Aksi pembangkangan Mayor Boyke terhadap pemerintah pusat itu terjadi pada 16 Maret 1958. Nainggolan bergerak setelah Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), “menghukum” kekuatan PRRI lewat “Operasi Tegas” di Pekanbaru, Riau. Pasukan Nainggolan berasal dari Batalion Infantri 131 yang sebelumnya di bawah pimpinan koleganya, Mayor Henry Siregar.





















