Hasil pencarian
9768 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Orang Indonesia yang Jadi Korban Nazi
NAZI Jerman menduduki Belanda pada 10 Mei 1940. Mahasiswa Indonesia dalam Perhimpunan Indonesia ikut melakukan verzet atau perlawanan. Beberapa dari mereka tertangkap bahkan mati di kamp konsentrasi Nazi, seperti Sidartawan dan Moen Soendaroe. Sedangkan Irawan Surjono tewas ditembak Nazi ketika berusaha melarikan diri dari razia. Penangkapan Soendaroe berawal dari tertangkapnya Stijntje "Stennie" Gret, kekasih Djajeng Pratomo di Rotterdam. Polisi politik Nazi (Sicherheitsdienst) pun mengetahui alamat Djajeng Pratomo di Den Haag. “Tanggal 18 Januari 1943 Sicherheitsdienst melancarkan penggerebekan. Djajeng dan teman sekamarnya, Moen Soendaroe ditahan,” tulis Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah .
- Momok Nazi dan Mitos Indonesia dalam Fantastic Beasts
DI SUATU malam tahun 1927, Gellert Grindelwald (Johnny Depp) menghirup udara bebas. Sang penyihir hitam kelas kakap itu melarikan diri dibantu para pengikutnya saat MACUSA atau Kongres Sihir Amerika Serikat berusaha membawanya ke London untuk diadili. Dengan bebasnya Grindelwald, momok teror kejahatan tumbuh lagi dan mengancam, tak hanya dunia sihir, tapi juga dunia manusia biasa. Prolog itu disajikan sutradara David Yates sebagai pengantar sejumlah premis dan klimaks film Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald , seri kedua dari trilogi Fantastic Beasts yang juga masih bagian dari “semesta” Harry Potter karya JK Rowling. Plotnya terkonsentrasi pada upaya tokoh utama Newt Scamander (Eddie Redmayne) bersama seorang muggle (sebutan manusia di dunia sihir) yang juga veteran Perang Dunia I, Jacob Kowalski (Dan Fogler). Keduanya berupaya membantu saudaranya, Theseus Scamander (Callum Turner) dan gadis pujaannya, Tina Goldstein (Katherine Waterstone), dua Auror Kementerian Sihir Inggris, untuk menangkap kembali Grindelwald sebelum terlambat.
- Mengejar Gembong Nazi Terakhir
KLAUS Eichmann (Joe Alwyn) begitu membanggakan ayahnya saat bercerita di depan calon mertuanya, Lothar Hermann (Peter Strauss). Klaus yang memacari Sylvia Hermann (Haley Lu Richardson) membuka sedikit demi sedikit kehidupan pribadinya. Dia mengaku diasuh pamannya di Buenos Aires, Argentina, sepeninggal ayahnya yang gugur di front timur Perang Dunia II sebagai prajurit SS (Schutzstaffel/Paramiliter Jerman Nazi). Plot film bertajuk Operation Finale ini lalu bergantian. Lothar Hermann, pria tunanetra Jerman berdarah Yahudi yang sejak 1938 mengungsi ke Buenos Aires, segera melayangkan info penting itu kepada Fritz Bauer (Rainer Reiners), jaksa penuntut umum (JPU) Hessen, Jerman Barat yang lantas meneruskannya ke Direktur Mossad (Badan Intelijen Israel) Isser Harel (Lior Raz) di Tel Aviv, Israel, awal 1960. Bauer meyakinkan Harel bahwa Adolf Eichmann (Ben Kingsley) masih hidup di Buenos Aires dengan nama samaran Ricardo Klement, orang yang diaku Klaus Eichmann sebagai pamannya. Adolf Eichmann, bos SS urusan Yahudi yang terlibat pembantaian jutaan orang Yahudi dalam Perang Dunia II, merupakan satu dari sekian gembong terakhir Nazi yang masih hidup pasca-kematian Adolf Hitler, Reischsführer SS Heinrich Himmler, Menteri Propaganda Joseph Goebbels, dan Reichsmarschall Hermann Göring.
- Peran Sang Dokter Kasunanan
WAKILNYA di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), RP Soeroso, mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 1986. Sementara sang ketua, KRT Radjiman Wedyodiningrat, baru tahun ini mendapat gelar tersebut. “Peranannya yang terpenting sebagai ketua BPUPKI adalah memberikan arah pada seluruh wacana penyusunan dasar negara, dalam arti menyetujui atau menolak usul-usul anggota,” tulis Saafroedin Bahar, “Sumbangan Daerah dalam Proses Nation Building”, termuat dalam Regionalisme, Nasionalisme, dan Ketahanan Nasional karya Ichlasul Amal dan Armaidy Armawi. Radjiman Wedyodiningrat lahir di Yogyakarta pada 21 April 1879 dari keluarga biasa. Selagi masih kecil, dia sudah kehilangan orangtuanya. Prihatin dengan nasibnya, Dr. Wahidin Soedirohoesodo menolong pemuda berbakat dan penuh cita-cita itu untuk memperoleh pengajaran yang baik.
- Peran Radjiman Wedyodiningrat sebagai Dokter Keraton
TAHUN 1910, nama Kanjeng Raden Tumenggung Radjiman Wedyodiningrat begitu kesohor di Solo sebagai dokter pribadi keluarga Keraton Surokartohadiningrat. Kendati banyak yang belum pernah melihat sosoknya secara langsung, tiap orang pasti akan langsung tahu saat nama itu disebutkan. Menurut A.T. Sugito dalam Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat: Hasil karya dan Pengabdiannya , keberadaan Dokter Radjiman amat melekat dengan praktek kedokteran modern di lingkungan Keraton Surakarta. Radjiman merupakan satu dari sedikit orang yang memilih untuk mengabdi di bawah naungan keraton, ketimbang kepada pemerintah Hindia Belanda. Padahal kalau dilihat dari riwayat hidupnya, dia merupakan hasil pendidikan gaya Eropa sejak kecil. Radjiman bukan berasal dari kalangan elit Jawa. Diceritakan Riris Sarumpaet dalam Seri Pengenalan Tokoh: Sekitar Proklamasi Kemerdekaan, ayahnya, Ki Sutodrono, hanya pensiunan prajurit rendahan dari KNIL. Namun Radjiman kecil terkenal pandai, sehingga keluarganya bertekad memasukan dia ke sekolah Eropa.
- Kabaddi di Panggung Olimpiade Nazi
INDONESIA kian bersiap membuka Asian Games XVIII. Sejumlah venue di Jakarta dan Palembang terus dipercantik jelang pembukaan, 18 Agustus 2018. Infrastruktur pendukung turut ditata demi menunjang 465 event dari 40 cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan. Indonesia akan menurunkan putra-putri terbaiknya di 36 cabor, termasuk olahraga yang belum familiar: kabaddi. Cabang olahraga beregu yang diadaptasi dari kisah Mahabharata ini lahir di India. Federasi profesionalnya, All-Indian Kabaddi Federation (AIKF), pun pertamakali lahir di India, tahun 1950. Pun kompetisi kabaddi pertama tahun 1923. Meski lahir dan populer di Asia, kabaddi pernah menjelajah ke Eropa dan diperkenalkan kepada dunia. Momen itu terjadi di sekitar Olimpiade Berlin 1936 yang kerap disebut Olimpiade-nya Nazi.
- Etalase Nazi di Olimpiade
TERPILIHNYA Berlin menjadi tuan rumah Olimpiade 1936 mendapat sambutan antusias dari Adolf Hitler yang sejak 1933 berkuasa lewat ketetapan Ermachtigungsgesetz. Pemimpin fasis itu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan menjadi tuan rumah Olimpiade untuk mempropagandakan Naziisme, yang di dalamnya memuat supremasi ras Arya, kepada dunia. Berlin terpilih sebagai tuan rumah setelah memenangkan voting rapat petinggi International Olympic Committee (IOC) pada 1931, saat Hitler masih belum berkuasa. Berlin menyingkirkan Barcelona (Spanyol), Alexandria (Mesir), Buenos Aires (Argentina), Dublin (Irlandia), Helsinki (Finlandia), Lausanne (Swiss), Rio de Janeiro (Brasil), Budapest (Hungaria), Roma (Italia), dan tiga kota Jerman lain: Koln, Frankfurt, dan Nurnberg. Hitler langsung mempersiapkan Olimpiade Berlin dengan serius, tak peduli adanya boikot dari Spanyol dan Uni Soviet yang tak terima keputusan IOC. Meski ekonomi Jerman belum pulih dari kehancuran akibat Perang Dunia I, Hitler mengucurkan dana dalam jumlah besar untuk membuat olimpiade-nya lebih akbar dari Olimpiade 1932 di Los Angeles.
- Konsekuensi Persahabatan Atlet Nazi
POSTURNYA tegap dengan tinggi 184 cm. Bermata biru serta berambut pirang. Gambaran fisik sempurna sebagai figur ras arya itu ada pada Carl Ludwig “Luz” Long, seorang atlet Jerman. Long menjadi tumpuan harapan Jerman, yang pada medio 1930-an disemarakkan oleh ideologi Nazi, di Olimpiade Berlin 1936. Long diharapkan sebagai salah satu pemenang dalam “etalase” propaganda di perhelatan akbar olahraga itu. Sebagaimana lazimnya kompetisi, Long punya rival kuat dari Amerika Serikat (AS) di nomor lompat jauh. Dia adalah James Cleveland “Jesse” Owens, atlet berkulit hitam yang di nomor sebelumnya sempat “menampar” muka Der Fuhrer Adolf Hitler dua kali dengan merebut medali emas di nomor lari 100 dan 200 meter putra.
- Perempuan Biasa Melawan Nazi-Jerman
MARIE Madeleine Fourcade kaget tak percaya. Pada suatu hari di awal 1941, Jenderal Georges Loustaunau-Lacau memintanya memimpin kelompok perlawanan bawah tanah Prancis. Marie, sekretaris di perusahaan penerbitan yang dipimpin Lacau, ragu bisa menjalankan permintaan itu. “Saya hanya perempuan biasa,” kata Marie. Navarre, nama samaran Lacau, tersenyum mendengar jawaban Marie. Dia mendapatkan seseorang yang tepat. “Tak ada prajurit Jerman yang akan mencurigai perempuan biasa,” kata Navarre. Di masa pendudukan Jerman, Prancis tak punya cara lain untuk melakukan perlawanan selain gerakan bawah tanah. Pemerintahan pengasingan di London yang dipimpin Jenderal Charles de Gaulle tak bisa memberi bantuan.
- Para Pemuda Indonesia yang Melawan Nazi
HARI ini, 15 Mei 77 tahun silam, pemerintah Belanda secara resmi menyerah kepada Nazi-Jerman. Keputusan tersebut diambil setelah pihak Belanda pesimis memenangkan pertempuran melawan pasukan Jerman dan menghindari korban sipil lebih banyak. Lima hari sebelumnya, pasukan Jerman memulai serangannya terhadap kota pelabuhan Rotterdam. Begawan ekonomi Indonesia Soemitro Djojohadikusumo ingat betul hari ketika serangan Jerman itu dimulai. Saat itu dia sedang menggarap disertasi di kamar kosnya. Tak berapa lama kemudian, pesawat-pesawat Luftwaffe Jerman membombardir kota. Bukan hanya kamar kos beserta isinya yang hancur berantakan akibat pemboman itu, nyawa Soemitro juga nyaris melayang. Menurut Richard Overy dalam The Bombing War: Europe, 1939-1945, “Prioritas Jerman adalah merebut bandara-bandara Belanda dan titik-titik kunci komunikasi, yang secara umum tercapai, meski dengan bayaran tinggi.”
- Death Match
TAK terima atas kekalahan Flakelf, klub elite Angkatan Udara Nazi-Jerman, pemerintah pendudukan mengatur pertandingan ulang. Laga dihelat tiga hari kemudian di Stadion Zenit. Para pemain FC Start mendapat intimidasi. Panitia menunjuk perwira SS sebagai wasit dan memperingatkan para pemain Start akan konsekuensi yang bakal diterima bila mereka menang. Sejak peluit dibunyikan, Flakelf bermain kesetanan, kasar. Start sempat melayangkan protes, tapi diacuhkan. Dengan mengandalkan tembakan jarak jauh, Start kembali menang. Pemerintah pendudukan melarang pemberitaan pertandingan itu dan melakukan penangkapan. Gestapo, polisi rahasia Nazi-Jerman, mendatangi toko roti Degtyarevskaya, tempat kebanyakan pemain Start bekerja dan juga tempat latihan. Mereka menangkap, menginterogasi, dan menyiksa banyak pemain Start.
- L.N. Palar Melawan Nazi Hingga Berdiplomasi
PEMERINTAH menetapkan Lambertus Nicodemus Palar bersama Tahi Bonar (TB) Simatupang dan KRT Radjiman Wedyodiningrat sebagai pahlawan nasional tahun 2013. Menurut sejarawan George McTurnan Kahin, jika ada orang yang dapat dianggap sebagai pengetua korps diplomatik Indonesia, Palar-lah orangnya. Dia diplomat yang mumpuni dan dihormati. Reputasinya yang cemerlang dalam berdiplomasi tidak lantas membuatnya tinggi hati. “Saat aku bertemu dengannya di Jakarta lima tahun lalu (1976, red. ), Palar masih terlihat sederhana, tulus dan lugas sama seperti saat aku bertemu untuk pertama kali dengannya tiga dekade lalu. Dia lebih suka dipanggil Nick daripada Mr. Ambassador atau Dr. Palar,” kenang George McTurnan Kahin dalam “In Memoriam: LN Palar,” dimuat jurnal Indonesia Volume 32, Oktober 1981.





















