top of page

Hasil pencarian

9738 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah Bule Nekat dalam Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”

    SIANG, 29 Maret 1981 itu begitu terik di   Bandara Don Mueang, Bangkok. Panasnya cukup untuk menembus jendela pesawat Garuda DC-9 “Woyla” yang sedang dibajak. Kendati demikian, para pembajak melarang kru pesawat menyalakan mesin pendingin udara. Alih-alih berbelas kasih, mereka mengintimidasi penumpang. Makan dan minum dibatasi. Begitupun akses ke toilet. Rasa gerah, lapar, dan dahaga menyiksa para penumpang yang disandera itu. Begitulah keadaan di pesawat Garuda DC-9 “Woyla” memasuki hari kedua pembajakan. Dari 41 sandera terdapat enam penumpang warga negara asing. Tiga di antaranya warga Amerika serikat: Karl Schneider, Ralph Hunt, dan Raymond Heischman. Sementara itu, tiga penumpang warga negara asing lain ialah Robert Wainwright (Inggris), Hengky Siesen (Belanda), dan Hiromi Higa (Jepang).

  • Pembajakan 19 Hari

    DESA De Punt, Glimmen, Belanda, 11 Juni 1975 pukul 05 pagi. Keheningan suasana desa disobek suara enam pesawat F-104 Starfighter AU Belanda yang terbang rendah di atas sebuah keretapi. Para personil Bijzondere Bijstands Eenheid/BBE Marinir Belanda di dekat kereta itu langsung menyerbu kereta. Mereka berupaya membebaskan penduduk sipil yang disandera sekelompok pemuda pejuang Republik Maluku Selatan (RMS) di dalam kereta tadi. Pembajakan kereta dan penyanderaan itu jadi imbas tak langsung dari Pengakuan Kedaulatan di pengujung 1949 dan penguasaan Kepulauan Maluku oleh Tentara Nasional Indonesia setahun berikutnya. Banyak mantan personil KNIL yang jadi pejuang dan simpatisan kemerdekaan RMS lalu memilih tinggal Belanda. Selain adanya ikatan emosional kuat antara mereka dengan Belanda, jaminan bantuan pemerintah Belanda untuk mewujudkan RMS menjadi alasan kuat mengapa mereka memilih tinggal di Belanda.

  • Benny Moerdani Menangani Pembajak Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”

    MENGENAKAN baju safari warna gelap, Letnan Jenderal Benny Moerdani memasuki pesawat Garuda DC-9 “Woyla”. Serbuan gerak cepat dari pasukan elite anti-teror Kopassandha baru saja mengakhiri aksi pembajakan pesawat yang dilakukan teroris dari kelompok Jamaah Imran. Setelah melakukan pengecekan di sana-sini, Benny memberi isyarat “Oke” lalu turun dari tangga pesawat. Seluruh pasukan komando itupun meninggalkan lokasi. “Pasukan komando diangkut dengan bis menuju hanggar Angkatan Udara Muangthai, dan segera masuk ke dalam pesawat DC-10 ‘Sumatra’ yang sedang parkir sejauh lima kilometer dari lokasi penyerbuan,” demikian berita Sinar Harapan , 2 April 1981. Begitulah suasana setelah drama pembajakan pesawat Garuda “Woyla” berakhir pada 31 Maret 1981. Pesawat itu dibajak pada 28 Maret dalam penerbangan dari Jakarta menuju Medan, transit di Palembang, kemudian tertahan di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand. Kendati sempat terjadi baku tembak, operasi anti-teror itu berlangsung hanya kurang dari tiga menit.

  • Jenderal Nasution Terseret Kasus Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”

    SETELAH drama pembajakan pesawat Garuda DC-9 “Woyla” berakhir, pemerintah menggelar konferensi pers. Pangkopkamtib Laksamana Soedomo didampingi Menteri Penerangan Ali Moertopo mengungkap para pelaku pembajakan merupakan buron kasus penyerangan Kosekta 8606 Pasir Kaliki, Cicendo, Bandung. Mereka, sebut Soedomo, melakukan teror untuk mendirikan negara Islam di Indonesia. “Dengan demikian jelas bahwa kelompok ini adalah kelompok ekstrim yang telah menafsirkan ajaran agama secara salah dan mencemarkan agama,” ucap Soedomo dikutip harian Angkatan Bersenjata , 1 April 1981. Sementara itu, Ali Moertopo mengatakan keberhasilan pemerintah menangani pembajakan mengangkat citra Indonesia di kancah internasional. Menurutnya, Indonesia adalah negara ketiga yang berhasil menyelesaikan masalah pembajakan secara gemilang. Atas pencapaian itu, Ali mengajak semua yang hadir dalam jumpa pers mengagungkan nama Allah. Seruan takbir pun diserukannya, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!”

  • Pembajak Pesawat Garuda Woyla Tuntut Tebusan 1.5 Juta Dolar Amerika

    KELOMPOK Kriminal Bersenjata (KKB) Papua dikabarkan meminta Rp5 miliar sebagai tebusan untuk membebaskan pilot Susi Air bernama Philips Mark Mehrtens yang disandera Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) pimpinan Egianus Kagoya sejak Februari. Panglima TNI Laksamana Yudo Margono memberikan lampu hijau perihal uang tebusan. Namun, isu uang tebusan dibantah oleh Egianus Kagoya. Kelompoknya hanya menginginkan kemerdekaan Papua untuk ditukar dengan Philips. Kapolda Papua Irjen Pol. Mathius Fakhiri mengklarifikasi bahwa uang Rp5 miliar merupakan arahan darinya kepada pejabat bupati Nduga. Apabila negosiasi membuahkan hasil, dia meminta bupati menyiapkan uang dari kas pemerintah daerah. Berbeda halnya dengan pembajakan Pesawat Garuda DC-9 “Woyla” pada 28 Maret 1981, pemerintah lebih memilih opsi militer meski pembajak mengajukan tuntutan uang disertai ancaman peledakan pesawat. Pembajak meminta tebusan sebesar US$1,5 juta. Selain itu, mereka juga meminta pembebasan rekan-rekannya yang ditangkap karena menyerang Polsek Cicendo. Itulah syarat yang mereka ajukan untuk ditukar dengan penumpang pesawat yang disandera.

  • Indonesia Dukung Palestina dengan Prangko

    WARGA Palestina tidak dapat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan ini dengan khusyuk. Tentara Israel menyerang warga Palestina, mulai dari anak-anak, perempuan, hingga orang lanjut usia di Masjid Al-Aqsha, Jerusalem. Negara-negara Eropa diam, tak seperti kepada Ukraina yang diserang Rusia. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sejak awal merdeka telah menunjukkan keberpihakan kepada Palestina. Indonesia menolak membuka hubungan diplomatik dengan Israel hingga kini, meskipun Israel memberikan pengakuan kedaulatan kepada Indonesia.

  • Prangko, Si Kecil Sarat Arti

    USAI memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Jakarta tetap bukanlah tempat yang aman. Tentara NICA-Belanda terus melancarkan aksi untuk menguasai Jakarta. Dalam rapat kabinet 3 Januari 1946 para pemimpin Republik memutuskan untuk memindahkan ibu kota ke Yogyakarta. Sejumlah upaya dilakukan untuk menunjukkan eksistensi negara yang baru merdeka dan berdaulat ini. Salah satunya menerbitkan prangko. “Indonesia mencetak prangko untuk kali pertama pada 1946 untuk memperingati setengah tahun kemerdekaan. Gambarnya banteng sedang menarik rantai, sebagai simbol telah terbebas dari penjajahan,” ujar Lutfie, ketua Bidang Pameran di Perkumpulan Filatelis Indonesia.

  • Lelucon 1 April

    PADA 31 Maret 1969, koran terbitan Jakarta, Indonesia Raya , menurunkan berita mengenai Ratna Sari Dewi, istri mantan Presiden Sukarno. Judul beritanya sih biasa-biasa saja. Namun subjudulnya, apalagi isinya, bikin orang tergoda membacanya. Isteri Sukarno ke-3 Sari Dewi Kembali ke Indonesia  Tobat Atas Dosa2-nja–Akan Kembalikan Semua Harta Tjurian Untuk Dana Pendidikan   Djakarta, Selasa (IR), - Sari Dewi, isteri wanita Djepang bekas Presiden Soekarno jang baru2 ini dihebohkan berada di Bangkok dan Hongkong, dan menjatakan kepada pers di sana, bahwa dia ingin sekali kembali ke Indonesia untuk menengok suaminja, menurut sumber2 jang mengetahui telah berada di Djakarta. Sari Dewi kini tinggal disuatu tempat yang belum dapat disebutkan didalam kota Djakarta, tak djauh dari rumahnja dahulu, tempat bekas presiden Soekarno kini dikenakan tahanan rumah.

  • Miris, Nasib Bandara Internasional Pertama di Indonesia

    BANDAR Udara (Bandara) Kemayoran, Jakarta, resmi berdiri pada 8 Juli 1940. Inilah bandara pertama untuk pelayanan penerbangan internasional di Indonesia. Selama beroperasi, bandara ini sangat terkenal. Komik  Tin-Tin  karangan Herge, seniman asal Belgia, yang terkenal itu menyebut Bandara Kemayoran dalam seri  Flight 714 to Sydney . Seri ini menceritakan perjalanan Tin-Tin, tokoh utama komik, dari London menuju Sydney untuk mengikuti kongres Astronotika Internasional. Dia pergi bersama Kapten Haddock, Profesor Calculus, dan anjingnya Snowy.

  • Jejak Cinta yang Terpahat di Bandara

    KABAR melegakan itu pun datang. Setelah lama terbengkalai, eks Bandara Kemayoran akan dijadikan cagar budaya dan dibuka untuk publik. Selain merupakan bandara internasional pertama di Indonesia, ia menyimpan beberapa relief karya maestro Indonesia. Pada 17 hingga 21 Juli 2019, Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Pusat Pengelolaan Kompleks (PPK) Kemayoran menggelar kegiatan Konservasi Karya Relief di eks Bandara Kemayoran. Mereka memamerkan tiga relief yang dulu menemani para penumpang di ruang VIP ( Very Important Person ) Bandara Kemayoran. Ketiga relief itu bercerita tentang Sangkuriang, flora dan fauna, serta manusia Indonesia.

  • Ketika Hatta dan Pengusaha India Kerjai PM Nehru

    SUDAH lima hari Wakil Presiden Mohammad Hatta berada di Bukittinggi, Sumatra Barat. Safari politik pada pertengahan 1947 itu merupakan kunjungan pertama ke kota kelahirannya setelah Indonesia merdeka. Kunjungan itu dilakukan Hatta untuk memberi penjelasan kondisi negara kepada rakyat atas permintaan beberapa anggota KNIP Daerah Sumatra. Pada hari kelima, Hatta kedatangan tamu seorang India bernama Biju Patnaik. Ia merupakan pengusaha penerbangan sekaligus sahabat Perdana Menteri India Pandit Jawaharlal Nehru. Ia datang ke ibukota Indonesia, Yogyakarta, untuk membawakan bantuan obat-obatan dari Nehru sebagai bentuk dukungan terhadap revolusi Indonesia dan balas budi India atas tawaran bantuan beras dari Indonesia.

  • Jasa Biju Patnaik untuk Republik

    PADA masa Republik Indonesia belum lama lahir, India dengan tokoh nasionalisnya, Jawaharlal Nehru yang kemudian perdana menteri, merupakan salah satu pendukung terpenting. Banyak bantuan India tiba di Indonesia karena simpati, keberanian, dan kerja keras Biju Patnaik. Bijayananda Patnaik, lebih dikenal dengan Biju Patnaik, merupakan pilot sekaligus pengusaha maskapai penerbangan Kalinga Air. Pria kelahiran Orissa (kini Odisha, India), 5 Maret 1916 itu merupakan pejuang nasionalis India sejak muda. Kesamaan pandangannya dengan Nehru membuatnya menjadi salah satu sahabat yang dipercaya Nehru. Keduanya sama-sama bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hal itu menjadi pertimbangan Nehru memilihnya untuk memikul tanggung jawab dalam membantu perjuangan Indonesia.

bottom of page