Hasil pencarian
9871 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sudiro Membenahi Jakarta
JAUH sebelum istilah “blusukan” dipopulerkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (2012-2013), aksi turun ke lapangan telah dilakoni oleh pendahulunya, Sudiro, wali kota Jakarta periode 1953–1960. Saat itu, sebutan kepala daerah Jakarta masih wali kota. Alih-alih pencitraan, Sudiro blusukan untuk mengetahui permasalahan masyarakat Jakarta. Itulah yang dilakukannya kala meninjau kali Pacebokan di bilangan Glodok. Sungai kecil ini terkenal kotor dan jadi sarang penyakit. Tanto Sudiro, putra bungsu Sudiro, masih ingat ayahnya tak punya banyak waktu di rumah. Usai pulang dari kantor balai kota, Sudiro biasanya bergegas lagi untuk pergi blusukan. Sekali waktu, Sudiro bersama sopirnya ke Pacebokan. Di pinggir jalan, mereka makan sate sembari menunggu orang-orang datang ke kali.
- Ujung Sketsa Hidup Henk Ngantung
BAHKAN di masa tuanya, Henk Ngantung masih mengalami perundungan dan tak lepas dari stigma. Geni Ngantung, anak kedua Henk, masih ingat kejadian memilukan itu, menjelang wafatnya sang ayah. Pada akhir November 1991, Henk berkesempatan memamerkan lukisan-lukisannya di Galeri Jaya Ancol, Jakarta Utara. “Sebelum tanggal 29 November [1991] sebenarnya sudah mau pameran. Intel bilang dianggap berbahaya. Katanya, Henk mau reuni sama orang PKI dan Lekra,” tutur Geniati Heneve Ngantung, yang akrab dipanggil Geni, kepada Historia.ID. Itu adalah pameran terakhir Henk Ngantung. Tidak banyak yang tahu, Henk yang sudah sepuh itu mengalami tekanan sepanjang pameran berlangsung. Aparat intelijen militer dari Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) disusupkan untuk mengawasi jalannya pameran. Henk yang sehari-harinya berpembawaan tenang, memendam amarah dan sakit hati. Keluarganya pun tak habis pikir mengapa Henk sampai diperlakukan sebegitu rupa.
- Simpanan Senjata Brigjen Frans Karangan
SUATU hari di tahun 1981, mobil yang ditumpangi Menhankam?Panglima ABRI Jenderal M Jusuf melintasi perempatan Jalan Agus Salim dan Jalan Kebon Sirih, Jakarta. Mobil itu berhenti kena lampu merah. Dari dalam, Jenderal Jusuf melihat mobil lain yang juga sedang berhenti di sebelahnya. Pintu kanan belakang mobil itu terbuka sehingga Jenderal Jusuf mengetuk kaca mobil yang dilihatnya itu. Sopir mobil itu tahu siapa yang mengetuk pintu kaca mobil yang dikendarainya. Orang di dalam mobil yang diketuk panglima itu pun membuka pintunya. “Frans serahkan mi itu senjata-senjatamu ke Kodam,” kata Jenderal Jusuf dalam dialek Bugis.
- Kaum Papa Tionghoa dari Benteng Tangerang
KAPAL rombongan Tjen Tjie Lung, saudagar Tionghoa, hampir sampai di pelabuhan Jayakarta pada 1407. Sayangnya, kapal mereka rusak sehingga harus berlabuh di muara Sungai Cisadane (sekarang Teluk Naga). Tjen, ditemani sembilan gadis dalam rombongan, lantas menghadap penguasa setempat, Sanghyang Anggalarang, untuk meminta bantuan. Gadis-gadis itu menarik perhatian para pembesar kerajaan. Mereka pun menikahinya. Sebagai imbalan, rombongan Tjen diberi sebidang tanah di sebelah timur Sungai Cisadane. Ini menjadi gelombang awal pemukim Tionghoa di Tangerang. Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) menduduki wilayah itupada abad ke-16. Sebuah benteng –dinamakan Benteng Makassar– dibangun untuk melindungi wilayah itu dari serangan musuh. Karena tak suka dengan aturan VOC, beberapa orang Tionghoa keluar dari Benteng Makassar dan mendirikan permukiman.
- Kakak dan Adik Beda Timnas di Sepakbola Dunia
SEJURUS performa tim nasional Indonesia yang kian menyala di kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, PSSI kembali mendatangkan calon pemain naturalisasi diaspora asal Belanda. Adalah Mees Hilgers dan Eliano Reijnders Lekatompessy yang akan menjalani proses naturalisasi. Menariknya, Eliano punya kakak yang sudah berseragam timnas Belanda. Mees Hilgers beribu orang Manado, sedangkan Eliano Reijnders ibunya berasal dari Maluku. Keduanya sudah diperkenalkan Ketum PSSI Erick Thohir dan dalam waktu dekat akan menjalani proses naturalisasi sebelum bergabung ke skuad timnas senior besutan Shin Tae-yong. “Tadi sore banyak teman wartawan menanyakan kabar @meeshilgerss dan @eliano.r. Ini saya sudah makan malam bareng dan salaman,” ungkap Erick di akun Instagram-nya, @erickthohir, Jumat (6/9/2024).
- Mimpi Indonesia di Piala Dunia Terganjal Israel
GEGAP gempita Piala Dunia 2018 di Rusia kian terasa. Sekira setahun lagi, pesta sepakbola terbesar itu akan kembali menggelorakan para penggila bola di berbagai pelosok bumi, termasuk Indonesia. Pun begitu, Indonesia lagi-lagi hanya akan menjadi penonton. Entah kenapa sepakbola Indonesia bak jalan di tempat. Suriah saja yang negaranya tengah luluh-lantak gara-gara perang, punya asa untuk mentas di Piala Dunia 2018. Menjadi salah satu tim urutan tiga terbaik di Kualifikasi Piala Dunia, Suriah punya kans jika mampu melewati Australia dan tim urutan 4 Zona Concacaf (Amerika Utara, Tengah dan Karibia). Sementara Indonesia harus gigit jari karena “pagi-pagi” sudah gugur di kualifikasi Zona Asia (Asia). Tidak sedikit yang merasa timnas Indonesia takkan tampil di Piala Dunia sampai kiamat. Selebihnya, masih membanggakan dan “mengakui” bahwa yang tampil di Piala Dunia 1938 di Prancis adalah timnas Indonesia.
- Pemain Tunadaksa Penentu Juara Piala Dunia
SEBELUM meniti karier di sepakbola, Hector Castro mengalami kecelakaan di bengkel kayu. Tangannya dilahap gergaji listrik hingga lengan kanan bagian bawahnya terpaksa diamputasi. Meski tunadaksa, dia kemudian menjadi pemain sepakbola untuk klub Nacional dan tim nasional Uruguay. Alberto Suppici, entrenador (pelatih) memasukan Castro dalam timnas Uruguay di Piala Dunia pertama pada 13-30 Juli 1930. Suppici tak sia-sia membawanya ke Piala Dunia yang digelar di negerinya itu. Gol terakhir Castro memastikan La Celeste (julukan timnas Uruguay) menjadi juara Piala Dunia yang saat itu bernama trofi Jules Rimet. Perjalanan Uruguay sendiri terbilang mulus sejak babak penyisihan. Tergabung di Grup 3, tuan rumah dihadang Peru dan Rumania. Castro berperan penting di partai pertama tuan rumah menghadapi Peru. Gol tunggal kemenangan Uruguay datang dari penyerang berjuluk El Manco atau “si tangan buntung” di menit ke-60.
- Battle of Belfast dan Kegagalan Italia Lolos ke Piala Dunia
PERJUANGAN tim nasional Italia menemui jalan terjal. Juara dunia empat kali itu mesti melakoni laga home-away kontra tim kuat asal kawasan Skandinavia, Swedia di babak playoff (11 dan 14 November 2017), untuk berebut tiket Piala Dunia 2018. Dua laga hidup mati yang rasa-rasanya, keunggulan materi skuad Gli Azzurri (julukan timnas Italia), takkan begitu berpengaruh melawan para pilar Swedia yang dikenal punya spirit pantang menyerah. Bukan mustahil Italia gagal dan hanya akan jadi penonton layaknya Piala Dunia 1958 di Swedia. Pada fase kualifikasi, Italia tergabung di Grup 8 Zona Eropa bersama Portugal dan Irlandia Utara. Langkah Italia terbilang labil dan penentuan juara grup harus dipastikan pada partai terakhir kontra Irlandia Utara di Belfast yang awalnya dijadwalkan 4 Desember 1957.
- Trofi Piala Dunia Tinggal Kenangan
TROFI Piala Dunia akan kembali diperebutkan oleh timnas dari 32 negara pada 2018 di Rusia. Trofi itu karya Silvio Gazzaniga pada 1971. FIFA memilih desain trofi karya seniman Italia itu setelah mengalahkan 53 rancangan di fase seleksi. Desainnya berupa dua manusia memikul bola dunia di pundaknya. “Garis-garisnya menanjak naik dari dasar (trofi) menyerupai bentuk spiral, membentang untuk menahan dunia. Dari bentuk yang dinamis itu, muncul dua figur atlet yang sedang menghayati momen kemenangan,” kata Gazzaniga sebagaimana dikutip Donn Risolo dalam Soccer Stories: Anecdotes, Oddities, Lore and Amazing Feats. Trofi Piala Dunia memiliki tinggi 36,5 cm, bobot 6 kg, dilapisi emas 18 karat, ditopang dua lapis perunggu dengan tulisan: FIFA World Cup. Trofi itu dibuat dan dirampungkan Stabilimento Artistico Bertoni, perusahaan medali dan trofi asal Kota Milan, Italia, sebelum Piala Dunia 1974. Trofi ini untuk pertama kali direbut oleh tuan rumah Jerman Barat.
- Final Piala Dunia Berujung Gempita dan Prahara
PERANG Dunia II membuat Eropa absen 16 tahun menggelar Piala Dunia. Turnamen paling banyak menyedot perhatian publik dunia itu baru kembali ke Eropa pada 1954 ketika Swiss menjadi tuan rumah. Partai final menjadi momen paling menyita perhatian. Laga yang mempertemukan Jerman Barat, negeri yang baru lahir setelah perang, melawan Hungaria, salah satu kekuatan adidaya sepakbola Eropa pada 1950-an, itu bukan semata soal pertarungan di lapangan. Kekalahan Hungaria 2-3 menimbulkan dampak dahsyat di dalam negerinya. Di atas kertas, Hungaria lebih superior. Dalam babak penyisihan, di mana kedua negara sama-sama menempati Grup 1, Hungaria dengan mudah membantai Jerman Barat 8-3. Oleh karena itu, kemenangan Jerman Barat di final yang berlangsung di Wankdorf Staduim, Bern itu mencetuskan ungkapan Wunder von Bern atau Keajaiban Bern dari publik Jerman.
- Masalah Sepatu Gagalkan Keikutsertaan India di Piala Dunia
BAGI banyak negara, jangankan membawa pulang trofi Piala Dunia, bisa tampil di ajang empat tahunan sepakbola itu saja merupakan impian. Gengsi Piala Dunia yang mengalahkan Olimpiade itulah yang membuat mereka rela saling “bunuh” untuk bisa tampil di dalamnya. Namun, hal itu tak berlaku bagi India. Tak lama setelah merdeka dari Inggris pada 1947, timnas India berhasil memukau di Olimpiade London 1948. Timnas India akhirnya memang kalah 1-2 dari Prancis, tapi permainan yang mereka tampilkan membuat banyak pihak memujinya. “India bisa mencetak lebih banyak peluang gol [ketimbang Prancis]. Setelah pertandingan usai, ratusan penonton memberi ucapan selamat atas tindakan sportif mereka di lapangan dan menyesal bahwa tim yang tampil lebih baik harus kalah,” kutip Paul Dimeo dan James Mills dalam Soccer in South Asia: Empire, Nation, Diaspora.
- Serba Pertama di Piala Dunia (Bagian I)
SEJAK advokat Prancis Jules Rimet dan anggota pelopor FIFA menghelat turnamen sepakbola empat tahunan bernama Piala Dunia pada 1930, jumlah penikmatnya selalu meningkat. Rimet ingin Piala Dunia bisa mengangkangi pamor Olimpiade. Saban menjelang penyelenggaraan, masyarakat dari berbagai penjuru bumi selalu menantikannya. Hampir saban penyelenggaraan Piala Dunia selalu melahirkan sejarah-sejarah baru. Piala Dunia 1930 Mengingat Piala Dunia 1930 sebagai yang pertama, semua yang lahir di dalamnya otomatis sebagai yang pertama dalam sejarah Piala Dunia. Uruguay menjadi negara pertama yang menjadi tuan rumah gelaran empat tahunan itu, terlepas dari gugatan sejumlah anggota FIFA asal Eropa.





















