Hasil pencarian
9820 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ambisi Gajah Mada di Perang Bubat
KOTA Bandung kini punya Jalan Majapahit dan Jalan Hayam Wuruk. Penamaan jalan ini disebut sebagai rekonsiliasi hubungan antara suku Jawa-Sunda. Penyebabnya adalah peperangan antara Majapahit dan Sunda di lapangan Bubat pada 1357. Tanah lapang itu diperkirakan terletak di utara Kota Majapahit. Di sana raja Sunda, permaisuri, putri, para pengiring dan pengawalnya beristirahat seraya menunggu diterima Hayam Wuruk, raja Majapahit. Nahas, di tempat itu pula mereka menemui ajal. Menurut arkeolog Agus Aris Mundandar dalam Gajah Mada: Biografi Politik, Peristiwa Bubat bisa dianggap sebagai titik balik kesuksesan karier Mahapatih Gajah Mada. Ketika Sumpah Palapanya hampir sempurna dibuktikan, Gajah Mada justru menggagalkannya sendiri.
- Pulau untuk Anak Terlantar
MERCUSUAR di atas hamparan pasir. Di sekelilingnya banyak pohon damar tumbuh. Orang pun menyebut pulau itu sebagai Pulau Damar Besar. Zaman kompeni VOC dulu namanya Pulau Edam. “Salah satu tempat paling menyenangkan di dunia,” tulis Adolf Heuken dalam Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta . Pulau Edam hanya berjarak 30 menit perjalanan dengan menggunakan kapal motor dari Teluk Jakarta. Pulau ini sekarang lebih sering sunyi, tapi dulu punya banyak cerita tentang anak-anak terlantar di ibukota. Anak-anak terlantar adalah anak-anak yang luntang-lantung tak tentu. Scott Merrillees menangkap gejala ini telah muncul di Jakarta sejak masa Perang Kemerdekaan. Dalam Greetings From Jakarta: Postcards of a Capital 1900-1950 , Scott menampilkan foto seorang anak terlantar yang tertidur di tepi kali. “Pemandangan tragis dan menyayat hati dari seorang bocah lelaki berpakaian compang-camping di Jalan Juanda pada akhir dekade 1940-an,” tulis Scott. Beberapa anak terlantar tadinya masih punya orangtua dan kadang berhubungan dengannya. Tapi orangtua mereka berada dalam lingkaran kemiskinan: tak punya pendidikan mumpuni, tak ada pekerjaan tetap, dan tak menghuni rumah permanen. Aktivitas keseharian orangtua mereka ialah menggelandang di kota. Keadaan begitu berpengaruh terhadap anak. Mereka turut jejak orangtuanya jadi gelandangan. Dan lama-lama mereka kurang beroleh perhatian dari orangtua. Anak-anak itu tumbuh liar dan dewasa sebelum waktunya. Mereka bekerja sejak dini sebagai penyemir sepatu. Lainnya berupaya mencuri kecil-kecilan. Mereka tak punya agenda pergi ke sekolah. Waktu mereka habis bersama jalanan ketimbang bersama orangtuanya. Hubungan dengan orangtua pun jadi renggang. Jadilah mereka anak-anak terlantar. Sebagian anak-anak terlantar itu masih mendingan punya orangtua. Tapi lebih banyak anak terlantar tak bernasib seperti itu. “Pada umumnya hubungan mereka dengan orangtuanya telah tidak ada lagi, bahkan banyak yang tidak mempunyai keluarga sama sekali (yatim-piatu),” tulis Kementerian Penerangan dalam Kotapradja Djakarta Raya , terbitan 1952. Anak-anak terlantar mudah tersua di pasar dan jalan-jalan umum ibukota pada dekade 1950-an. “Masih ada lebih kurang 5.000 anak yang masih bergelandangan di Jakarta,” tulis Sjamsuridjal, walikota Jakarta 1951-1953, dalam Karya Jaya: Kenang-kenangan Lima Kepala Daerah Ibukota 1945-1966 . Anak-anak itu menjadi urusan Djawatan Sosial. Negara bertanggung jawab merawat mereka sesuai dengan amanat Pasal 34 ayat 1 UUD 1945: fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Wujud pemeliharaan itu berupa penangkapan anak-anak terlantar berusia di bawah 16 tahun di jalan-jalan oleh aparat pemerintah. Mereka dibawa ke penampungan di seberang pulau Jakarta, yaitu Pulau Edam. “Di sanalah dididik, agar menjadi orang yang baik-baik. Rombongan pertama datang pada tanggal 12 Juni 1950 yang terdiri dari 50 anak-anak, kemudian disusul pula pada tanggal 4 Juli 1950 oleh 25 anak-anak, sedangkan rombongan ketiga ialah tanggal 18 Juli ditamvah pula 42 anak. Di antara anak-anak itu terdapat juga 3 orang anak Tionghoa,” tulis Ipphos Report , 15 Agustus 1950. Di Pulau Edam, anak-anak terlantar itu mendapat pakaian layak, makanan bergizi, dan kamar lapang. Badan mereka lebih bersih dan tubuh jadi berisi. Tiap hari mereka ceria. Anak-anak terlantar di Pulau Edam punya aktivitas teratur, dari pagi sampai malam. Mereka juga mengenal lagi kehidupan sekolah. Jam sekolah mereka antara pukul 10.00 sampai 12.00, 14.00 sampai 16.00, dan 16.30 sampai 17.30. Di sesela bersekolah ada jadwal makan, olahraga, bermain, cuci piring, dan bersih-bersih penampungan. Hasil penerapan jam sekolah itu cukup lumayan bagi anak-anak terlantar. “Dari antara mereka telah ada yang dapat terus melanjutkan pelajarannya di sekolah menengah dan sekolah teknik radio/elektro teknik,” tulis Kementerian Penerangan. Empat anak mampu menjadi siswa sekolah Angkatan Laut di Surabaya. Tapi di sebalik upaya pendidikan kembali anak terlantar ini, anggaran pemerintah terus menciut. Perekonomian negeri terjerembab pada dekade 1960-an, sedangkan gejala menggelandang kian menonjol. Dua ribu anak terlantar memenuhi penampungan di Pulau Edam, sesuai kapasitasnya. Kemudian jumlah mereka terus bertambah sehingga pemerintah tak sanggup lagi menampung anak terlantar. Pemerintah memindahkan anak-anak terlantar itu ke penampungan lain di luar Pulau Edam. Penampungan anak terlantar pun tak berpusat di Pulau Edam lagi, melainkan juga di dalam kota. Kebanyakan dibentuk oleh organisasi masyarakat. Pulau Edam perlahan jadi pulau terlantar. Tak ada aktivitas anak-anak terlantar lagi di sana.
- Jakmania Setia Mengawal Persija
KEPRIHATINAN terhadap tak adanya organisasi suporter Persija membuat Tauhid Ferry Indrasjarief dan puluhan penggemar lain klub ibukota itu duduk bareng mencari pemecahan. “Kita diskusi tentang keinginan jadi member buat pendukung Persija,” ujar Ferry kepada Historia . Diskusi intens mereka lalu membuahkan hasil dengan berdirinya The Jakmania yang bertahan hingga kini. Keberadaan The Jak melanjutkan organisasi-organisasi suporter Persija yang pernah ada. Berbeda dari Persib yang sejak 1937 selalu diiringi Bobotoh, suporter terorganisir Persija timbul-tenggelam dan tak pernah lama. Pada 1930-an, Persija yang masih bernama Voetbal Indonesische Jacatra (VIJ) punya VIJers. Kelompok suporter ini tak hanya rajin menyambangi pertandingan-pertandingan kandang VIJ, di Pulo Piun, tapi juga tandang. Menurut Ario Yosia dkk. dalam Gue Persija , VIJers turut hadir kala Persija bertandang ke Lapangan Kebon Pala, markas tim Persatoean Perkoempoelan Voetbal Indonesia Meester Cornelis (PPVIM), atau ke markas Persitas Tasikmalaya pada 1934. Namun, VIJers mandek seiring terhentinya aktivitas Persija pada masa pendudukan Jepang. Setelah kemerdekaan, VIJers benar-benar hilang lantaran bergantinya nama VIJ menjadi Persija. Setelah itu, Persija selalu main tanpa suporter “resmi”. Stadion Menteng atau Senayan tempat Persija memainkan laga memang acap penuh penonton, tapi mereka hanya pribadi-pribadi penggemar Persija, bukan fans yang tergabung dalam sebuah organisasi. Keadaan seperti itu berakhir pada 7 Desember 1994 kala Persija menjamu Bandung Raya di edisi perdana Liga Indonesia. Di laga itu, kelompok suporter Persija terorganisir bernama Persija Fans Club (PFC) muncul. “Iya dulu saya dukung Persija zaman kuliah, itu ada Persija Fans Club. Banyak artis-artisnya yang ikut dukung. Ketuanya malah pernah juga Dicky Zulkarnaen, Oddie Agam. Artis-artis lain yang ikut PFC itu juga ada Nia Zulkarnaen, Ari Sihasale, Reni Jayusman, Jelly Tobing, Chintami (Atmanegara),” ujar Ferry. Di pertandingan-pertindangan Persija, mereka kerap menggunakan atribut, mulai syal hingga kaos, berwarna merah atau perpaduan merah-putih. Keanggotaan mereka ditandai dengan kepemilikan kartu anggota. Tauhid Ferry Indrasjarief, Ketum The Jakmania Periode 2017-2020 (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Ketua pertama PFC dijabat manajer Persija U-21 Zulfikar Utama. PFC membawa Persija lebih dekat dengan kultur Betawi. Alhasil, julukan “Macan Kemayoran” diganti jadi “Si Jampang”. Sayang, laiknya VIJers, eksistensi PFC tak bertahan lama. “Kemudian hilang begitu saja,” kata Ferry. Gelora Jakmania Buruknya prestasi Persija di Liga Indonesia II (peringkat 13 wilayah Barat) dan III (peringkat 14 wilayah Barat) menyebabkan PFC tinggal nama. Ketiadaan organisasi suporter itu membuat prihatin banyak fans Persija. Sekira 40 fans Persija, termasuk Ferry, lalu merintis organisasi suporter baru pada 1997. “Ya berawal dari obrolan gue dengan beberapa teman dari Commandos (suporter Pelita Jaya). Kita diskusi tentang keinginan jadi member buat pendukung Persija. Lalu kita omongin ke manajer Persija saat itu, Diza Rasyid Ali. Dia lalu mengarahkan ke humas Persija Edi Supatmo. Dari situ kita ditantang sama mereka untuk bikin sendiri fans club,” kata Ferry kala menerima Historia di kediamannya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Rapat berikutnya mereka lepas dari tangan manajemen klub. Pada pertemuan di Graha Wisata Kuningan, Jakarta Selatan, 19 Desember 1997, mereka sepakat membentuk fans club dengan 40 anggota pertama. Markas pertama mereka di Stadion Menteng. Meski sudah berdiri, organisasi suporter mereka belum punya nama. “Waktu di Menteng, sempat lihat spanduk, tulisannya: ‘Welcome The Jak’. Dijelaskan manajemen, ternyata itu julukan baru Persija. Oh, kalau gitu suporternya biar kayak (band legendaris) The Beatles yang pendukungnya Beatlesmania, kita The Jakmania aja. Nama itupun disepakatin,” sambung pria kelahiran Bandung, 18 Februari 1965 itu. Para pionir Jakmania lalu mendapuk Muhammad Gunawan Hendromartono alias Gugun Gondrong jadi ketua umum pertama. “Ya dulu milihnya aklamasi aja. Kalau Gugun karena dia public figure. Terus gue ketua 1, sementara posisi yang lain juga main tunjuk aja yang ada di situ,” imbuh Ferry. Mereka lalu menetapkan logo jemari membentuk huruf “J” sebagai logo Jakmania. Ide logo datang dari Edi Supatmo, humas Persija. “Awalnya logo kita sudah sempat dibikin kawan kita, Heri. Logonya berupa pantulan bola berbentuk huruf ‘J’ dan titiknya itu gambar bola. Sudah kita pakai selama tiga bulan, tapi mas Edi bilang, dia ada logo baru, ya yang seperti sekarang ini dan kita setuju semua,” tuturnya. Logo itulah yang menginspirasi Ketua Gugun mencetuskan salam Jakmania berupa acungan tangan kiri di mana jemari membentuk huruf “J”. The Jakmania senantiasa mengawal Persija di manapun berlaga (Foto: persija.id) Seiring bergantinya jersey Persija jadi berwarna oranye, atribut Jakmania ikut serba oranye. “Warna oranye itu memang baru zaman Bang Yos (Gubernur DKI Sutiyoso) muncul. Kenapa oranye, belum terjawab. Banyak versi. Salah satu versinya, karena Bang Yos nggak pengin (menyamai) warna partai. Waktu itu kan partai masih cuma tiga: hijau (PPP), kuning (Golkar), merah (PDI). Makanya yang ditampilin oranye (untuk Persija dan Jakmania),” ujar Ferry. Hingga kini, kata Ferry, jumlah anggota Jakmania berkartu anggota mencapai 48 ribu. Jumlah itu terus bertambah dengan bermunculannya fans club anyar macam Jak Angel, Curva Nord Persija, Ultras Persija, Jak Kampus, dan lain-lain di berbagai kota. “ Alhamdulillah semua masih satu atap. Walau dia alirannya Ultras, Hooligans atau yang lain, ya silakan saja selama masih dalam satu komando (Jakmania). Mayoritas dari mereka juga semua anggota kita. Di Curva Nord misalnya. Para leader- nya itu anggota kita zaman gue ketua dulu (1999-2005). Beda dengan kota-kota lain, di Jakarta harus tetap ada satu payung yang mengayomi mereka semua,” tandas Ferry yang kembali jadi “panglima” Jakmania untuk periode 2017-2020.
- Orang Jawa yang Bertakhta di Sumatra
SEKIRA pertengahan abad 10, Dewapaladewa, Raja Benggala di India, menerbitkan Prasasti Nalanda. Isinya tentang permintaan Raja Sriwijaya Balaputradewa dari Suwarnadwipa , nama kuno Sumatra, kepada Dewapaladewa untuk mendirikan vihara di Nalanda. Menurut Prasasti Nalanda, ayah Balaputradewa adalah raja Jawa dari trah Sailendra bernama Samaragawira, putra dari tokoh yang berjuluk Wirawairimathana (Pembunuh Musuh Perwira). Ibunya adalah Putri Tara dari trah Somawangsa, putri Dharmasetu. “Soma ini wangsa di Sumatra, kalau di Jawa ada Sailendra,” kata Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Puslit Arkenas, kepada . Karenanya, kata Bambang, tak heran kalau Balaputradewa punya hak bertakhta di Sumatra. Dia hanya kembali ke asal ibunya yang memang orang Sumatra. Pernyataan dalam Prasasti Nalanda seakan menjelaskan hubungan antara Jawa dan Sumatra. Namun, sebenarnya silsilah Balaputradewa, baik dari pihak ibu maupun ayah masih memunculkan beragam teori. Beberapa ahli, seperti N.J. Krom, F.D.K. Bosch, dan De Casparis, meyakini bahwa sebelum Balaputradewa, kakeknya, Dharmasetu, juga raja Sriwijaya. Namun, filolog dan sejarawan Slamet Muljana tak sependapat. “De Casparis masih beranggapan Dharmasetu, kakek Balaputradewa adalah raja Sriwijaya, tapi tak ada buktinya,” tegas Slamet dalam Sriwijaya. Slamet lebih yakin kalau Dharmasetu adalah tokoh yang diberikan tugas untuk menjaga bangunan suci di Jawa. Artinya, Dharmasetu berasal dari Jawa. Pasalnya, namanya muncul dalam Prasasti Kelurak (782) yang ditemukan di Desa Kelurak, dekat Pecandian Prambanan. Prasasti itu mengisahkan pendirian bangunan suci bagi arca Manjusri atas daulat Sri Sanggrama Dhananjaya. “Karena kedua nama ini ada bersama-sama dalam Prasasti Kelurak, maka saya menolak anggapan kalau Dharmasetu adalah raja Sriwijaya,” kata Slamet. Slamet menerangkan bahwa Dharmasetu dan Sri Sanggrama Dhananjaya atau Rakai Panunggalan, raja ketiga Mataram, akhirnya besanan. Ini dilihat dari kesamaan julukan, Pembunuh Musuh Perwira, yang muncul dalam Prasasti Kelurak dan Ligor B yang sezaman, serta dalam Prasasti Nalanda. Dengan begitu, kira-kira terjawab soal asal-usul ayah dan ibu Balaputradewa. Namun, pertanyaan bagaimana Balaputradewa bisa jadi raja di Sumatra, belum sepenuhnya jelas. Di Jawa, Bambang menerangkan, nama Balaputradewa muncul pula dalam Prasasti Karang Tengah (824). Dari sini ada petunjuk kalau sebelum ke Sumatra, dia sempat berebut takhta dan kalah dari iparnya, Rakai Pikatan yang membela hak takhta istrinya, Pramodawardhani, sang putri mahkota. Namun, lagi-lagi Slamet Muljana berbeda pandangan. Menurutnya, Balaputradewa lebih mungkin merupakan paman dari Pramodawardhani. Dia adalah putra bungsu Samaragawira atau adik Raja Samarattungga. Nama Balaputradewa menunjukkan itu: wala (ekor) dan putra (anak). Slamet mengatakan berdasarkan petunjuk di Prasasti Karang Tengah, Pramodawardhani adalah putri satu-satunya Raja Samarattungga. Maka, tak mungkin Balaputradewa menjadi saudaranya atau ipar Rakai Pikatan. Kendati demikian, Slamet tak menampik kemungkinan terjadinya peperangan antara Rakai Pikatan dan Balaputradewa. Pemicunya karena Balaputradewa tahu Samarattungga tak berputra, maka dia sebagai adik laki-lakinya merasa lebih berhak sebagai penerus. Sementara itu, Sriwijaya sudah menjadi daerah bawahan Jawa berkat Rakai Panunggalan, kakek mereka. Nama sang kakek muncul dalam Prasasti Ligor B yang ditemukan di Ligor (kini, Nakhon Si Thammarat, Thailand Selatan), salah satu daerah kekuasaan Sriwijaya. Karenanya setelah kalah dari Rakai Pikatan, Balaputradewa pun menyingkir ke Sumatra. “Negeri yang harus diwarisinya dari kakeknya, Dharmasetu dan dari ayahnya, Samaragawira terampas semua oleh Rakai Pikatan, yang menurut adat tak berhak untuk menguasainya,” kata Slamet. Dengan begitu, menurut Slamet, melalui Prasasti Nalanda sesungguhnya Balaputradewa tengah menyerukan haknya sebagai penerus trah Sailendra atas takhta Mataram. Menurut George Coedes dalam Asia Tenggara Masa Hindu Buddha, Balaputradewa kemungkinan besar adalah raja Sailendra pertama di Sriwijaya. Setelah naik takhta, dia dan keturunannya terus memperkuat negeri barunya itu hingga dikenal oleh negara-negara di kawasan regional hingga Tiongkok dan India. “Jadi, ya akhirnya Sumatra dan Jawa itu masih satu keluarga, tapi beda kerajaan, tak bisa dibilang kemudian Jawa bagian Sriwijaya dan Sriwijaya bagian Jawa,” tegas Bambang.
- Pengeboman Gereja di Jawa Timur
TERORIS melakukan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, pada pagi, 13 Mei 2018. Korban tewas 14 orang enam di antaranya pelaku satu keluarga; dan 43 orang luka-luka. Pada malam harinya, sebuah bom meledak di lantai lima rusunawa di Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur. Pelakunya satu keluarga: tiga tewas dan tiga terluka. Paginya, 14 Mei 2018, bom bunuh diri terjadi lagi di Polrestabes Surabaya. Semoga saja pengeboman itu tidak mengulang peristiwa serangan bom pada malam Natal tahun 2000. Saat itu, teroris Jamaah Islamiyah meledakkan bom di 15 gereja di sebelas kota: Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Bandung, Ciamis, Mojokerto, Mataram, Pematang Siantar, Medan, Batam, dan Pekanbaru. Total 20 orang tewas dan 120 orang terluka. Untuk wilayah Jawa Timur, sasaran pengeboman adalah gereja di Mojokerto. Pelaku pengeboman, Ali Imron, mengungkap mengapa tidak memilih gereja di Surabaya. Dalam memoarnya, Sang Pengebom, Ali Imron mengatakan alasan mengebom gereja untuk membalas penyerangan terhadap umat Islam di Ambon dan Poso. Dia dan Amrozi bertemu dengan Hambali, koordinator serangan daerah Jawa, di sebuah hotel di Surabaya. Hambali menyampaikan, jika orang-orang Kristen di Ambon bisa menyerang umat Islam pada hari raya Idulfitri, mengapa tidak menyerang pada hari raya mereka, Natal. “Oleh karena itu, kita akan memulai jihad untuk membalas mereka dengan melakukan pengeboman terhadap gereja-gereja di malam Natal,” kata Ali Imron. Hambali menyerahkan pengeboman di Jawa Timur kepada Amrozi dan Ali Imron. Dia menanggung pembiayaannya. Menurut Ken Conboy dalam Intel II: Medan Tempur Kedua , Hambali memperkirakan biaya untuk serangan Natal mencapai US$50.000 untuk transportasi, rumah aman, bahan-bahan peledak, dan masing-masing pelaku. Dana itu berhasil diperoleh dari Masran bin Arshad, anggota Jamaah Islamiyah asal Malaysia, yang baru pulang dari Pakistan membawa sumbangan dari al-Qaeda. Yazid bin Sufaat, anggota Jamaah Islamiyah asal Malaysia, juga menyerahkan US$10.000 dari dana pribadinya. Sisanya dikumpulkan dari para anggota Jamaah Islamiyah Mantiqi 1 (cabang regional mencakup Malaysia dan Singapura). Mantiqi 1 menginginkan serangan malam Natal dilakukan di sepuluh –belakangan ditambah menjadi sebelas– kota. “Sebagai koordinator daerah Jawa, Hambali menyediakan dana dan memilih pemimpin di setiap kota sasaran,” tulis Conboy. Para pemimpin diberi kebebasan memilih tempat di mana bom diletakan di setiap kota sasaran. Mereka juga diberi kebebasan memilih jenis bom; beberapa memilih bom waktu sederhana; yang lain menyukai peledak lebih canggih yang dipicu oleh telepon atau pager. Ukuran bom bervariasi antara tiga hingga 14 kilogram. Hambali bertanya kepada Amrozi dan Ali Imron kira-kira gereja mana di Jawa Timur yang akan dijadikan sasaran bom. Mereka mengisyaratkan sasaran bom adalah gereja-gereja di Mojokerto. “Alasan kami saat itu karena Mojokerto kota kecil tetapi banyak gerejanya. Dan kami tidak memilih gereja-gereja di Surabaya karena kami khawatir, jangan-jangan setelah pengeboman nanti kami kesulitan membeli pupuk dan bahan-bahan bom lainnya di toko kimia di Surabaya,” kata Ali Imron. Ken Conboy menambahkan, sejak Jamaah Islamiyah mengirim anggotanya ke Ambon pada awal tahun 2000, Amrozi telah mengumpulkan bahan-bahan kimia untuk digunakan di Maluku. Dia membelinya di toko Tidar Kimia, penyalur bahan kimia di Surabaya. Karena sebagian besar komponen yang dia cari tidak berbahaya –contohnya potasium klorat adalah pupuk– maka pembeliannya tidak menimbulkan kecurigaan. Amrozi dan Ali Imron sempat menyurvei gereja di Jombang, Bojonegoro, dan Tuban. Namun, mereka akhirnya menetapkan tiga gereja di Mojokerto. Pelaksana pengeboman adalah Ali Imron, Mubarok, Sawad, Salman, dan Muhajir. Amrozi tidak ikut karena sakit. “Saya dan Mubarok mulai mencampur bubuk pupuk, bubuk belerang, dan bubuk aluminium. Dengan selesainya pencampuran tersebut maka jadilah bubuk peledak seberat 15 kg yang biasanya kami sebut black powder . Selanjutnya kami berdua mulai membuat Bom Kado dan Bom Tas,” kata Ali Imron. Mereka kemudian membagi pengeboman. Ali Imron dan Sawad membawa bom ke Gereja Pantekosta Allah Baik; Salman membawa bom ke Gereja Santo Yosef; Muhajir dan Mubarok membawa bom ke Gereja Eben Haezar. “Rencana kami meledakkan gereja di Mojokerto sudah tercapai dan berhasil,” kata Ali Imron. Ledakan itu menewaskan dua orang dan lima luka parah. Salah satu korban meninggal adalah Riyanto, anggota Banser NU, yang berjaga di Gereja Eben Haezar. Ali Imron ditangkap setelah terlibat dalam Bom Bali I pada 2002. Dia terhindar dari hukuman mati dan dihukum penjara seumur hidup karena mengaku bersalah, menyesal dan meminta maaf kepada semua orang terutama korban dan keluarganya, serta bersedia bekerja sama dengan polisi. Pada serangan bom malam Natal tahun 2000, teroris Jamaah Islamiyah tak memilih sasaran gereja di Surabaya tapi di Mojokerto. Kini, 18 tahun kemudian, tiga gereja di Surabaya jadi sasaran pengeboman. Kali ini, pelakunya adalah teroris Jamaah Ansharut Daulah/Jamaah Ansharut Tauhid yang mendukung gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
- Ketika Robby Darwis Dikerjai Malaysia
Rivalitas Malaysia-Indonesia telah merembes ke berbagai bidang, terlebih di olahraga. Robby Darwis, stopper Persib dan timnas era 1980-an, merasakan betul hal itu. Dia tak pernah melupakan peristiwa yang dialaminya 29 tahun silam. Alih-alih mendapat senang dan kebanggaan merumput bersama klub luar, dia justru sial sejak awal gegara sebuah insiden. Pada 1989, Robby dikontrak Kelantan FC dari Persib. Bersama Kelantan, Robby bermain di Divisi 1 Liga Semi-Pro Malaysia. Robby menjalani debutnya pada 11 Juli kala timnya menghadapi Singapore FA (timnas Singapura yang “membonceng” kompetisi Liga Malaysia). “Ketika itu saya baru saja pulang dari (timnas) PSSI untuk Pra Piala Dunia, saya langsung ke Singapura. Di pertandingan lawan Singapura itulah terjadi insiden. Ada protes sampai ricuh di lapangan,” ujar Robby kepada Historia. Mengetahui ada kericuhan, Robby mendekati rekan-rekannya yang mengerubungi wasit untuk melerai. “Waktu saya lagi berusaha memisah-misahkan rekan-rekan tim, wasit kakinya ketendang ,” kenang Robby. Tendangan itu membuat wasit tersungkur dan marah. “Begitu bangun, dia (wasit) ngeluarin kartu merahnya ke saya. Saya sendiri nggak tahu pelakunya,” lanjut Robby. Skorsing Aneh Negeri Jiran Hukuman itu membuat Robby merasa dijadikan korban “konspirasi”. Pasalnya, setelah itu FAM (induk sepakbola Malaysia) membawa kasus itu ke FIFA. Berbeda dari para pemain Singapura yang disanksi hanya dengan skorsing 2-3 pertandingan, Robby dapat skorsing jauh lebih banyak. “Saya tiga-empat bulan larangan bermain. Makanya aneh di situ. Ya habis itu musim sudah selesai. Jadi sedikit sekali saya bermain di sana,” sesalnya. Skorsing itu juga membuat Robby tak bisa memperkuat timnas Indonesia di SEA Games 1989. “Tahun 1989 itu kan Malaysia tuan rumah. Sementara Indonesia juara bertahannya (cabang sepakbola SEA Games). Apalagi saya juga di tim inti timnas, jadi ya nggak tahu lah (konspirasinya). Saat itu kita masih tim kuat. Di samping fisik kita bagus, kualitasnya juga bagus-bagus,” sambung Robby. Kecurigaan Robby bukan tanpa alasan. Sebab, ingat Robby, technical meeting (TM) ASEAN Football Federation sempat membicarakan kasusnya. “Waktu rapat TM itu saya dibilangnya boleh main. Makanya waktu menjelang lawan Brunei (di penyisihan Grup B), saya sudah pemanasan. Tapi lalu saya malah nggak boleh main. Nah , habis SEA Games justru sanksi saya dicabut,” kata Robby. Sekembalinya ke Persib usai putus kontrak dengan Kelantan, Robby juga baru bisa merumput di Perserikatan 1989/1990 selepas 2 Desember, setelah FIFA mencabut sanksinya. Menurut Sekretaris Umum PSSI Nugraha Besoes, dilansir Pikiran Rakyat 1 November 1989, hukuman Robby dicabut FIFA kemungkinan besar lantaran rekaman video yang diperiksa tak menunjukkan Robby melakukan serangan fisik terhadap wasit. “Itulah makanya. Saya sendiri nggak mau mempermasalahkan yang sudah lalu. Meski pihak klub (Kelantan) juga sempat protes dan ingin melihat saya lebih sering bermain untuk mereka. Hubungan saya, pergaulan dengan rekan-rekan setim yang asli Malaysia pun baik-baik saja, nggak ada sentimen apa-apa,” ujarnya menutup pembicaraan.
- Orang Katolik di Masa Jepang
Umat Katolik bumiputra terasing di dua komunitas pada masa kolonial. Mereka hidup dalam masyarakat mayoritas Muslim. Sedangkan di dalam gereja, mereka terasing karena berada dalam golongan di bawah Eropa dan Tionghoa. Ketika masa pendudukan Jepang, mereka mendapatkan nasib yang tak lebih baik. Menurut Gregorius Budi Subanar, rohaniwan dan budayawan, sejumlah pemimpin Katolik bumiputra ditahan. Layanan para misionaris untuk pendidikan dan kesehatan pun nyaris macet. “Orang-orang Kristen ini dicap sebagai antek kolonial,” kata Budi Subanar, yang akrab disapa Romo Banar, kepada Historia . Di sisi lain, kata Romo Banar, ada umat Katolik yang berbalik iman, dengan mengembalikan buku doa ke gereja. Kendati demikian, pemimpin umat Katolik yang tersisa tetap berusaha turun ke daerah-daerah untuk menenangkan umat dan memberikan pelayanan. Nasib Tragis Nasib tragis juga dialami para pemimpin Katolik berdarah Belanda. Romo Banar mengatakan, mereka ditangkap dan dipenjara. Di wilayah misi di Flores, misalnya, 173 imam misionaris dimasukkan ke kamp interniran. Nasib yang sama dialami pemimpin Katolik di Langgur, Maluku Tenggara. Menurut Romo Banar, sesaat setelah tentara Jepang mendarat di Pulau Kei, Mgr. Aerts yang menjadi pemimpin gerejani Maluku dihabisi. Begitu pula dengan empat imam, delapan bruder, dan satu suster. Penangkapan-penangkapan pun terjadi di wilayah Vikariat Apostolik Semarang. Proses penahanan dimulai pada Mei 1942. Vikariat Apostolik merupakan bentuk otoritas sebuah kawasan dalam Gereja Katolik Roma, yang dibentuk dalam wilayah misi di negara yang belum memiliki keuskupan. Status Vikariat Apostolik Semarang ditingkatkan menjadi Keuskupan Agung Semarang pada 1961. Di Surakarta, tiga misionaris Serikat Jesuit dan dua misionaris Keluarga Kudus ditangkap pada 30 Mei 1942. Kemudian, pada 28 Juni 1942, para bruder anggota Tarekat Maria Yang Dikandung Tanpa Noda di Surakarta ditahan. Menyusul, sejumlah orang dari komunitas Katolik lainnya di berbagai tempat ditawan. “Saat pendudukan Jepang, Yesuit yang berkarya di Jawa ada 172 orang, 120 misionaris Eropa ditahan dalam kamp internir,” kata Romo Banar, yang menulis buku Soegija Catatan Harian Seorang Pejuang Kemanusiaan. Guna menegakkan kekuasaannya, pemerintah militer Jepang mengeluarkan sembilan undang-undang. “Dua di antaranya mengatur dan membatasi gerak lembaga agama,” ujar Romo Banar. Seluruh kegiatan di dalam gereja, baik khotbah, nyanyian, dan ungkapan religius harus menggunakan bahasa Indonesia atau daerah. “Bahasa musuh”, dalam hal ini bahasa Belanda, dilarang. Para pastor berada di bawah kontrol, dan laporan tentang mereka harus dikirim kepada pejabat Jepang setempat. “Pastor-pastor di internir banyak yang meninggal. Yang kemudian (selamat) pulang, ya gila. Stres,” kata Romo Banar. Perjuangan Soegijapranata Ketika banyak petinggi gerejani ditangkap Jepang, Soegijapranata menjadi penjaga keutuhan umat Katolik di Semarang, dan wilayah Jawa Tengah. Dia adalah sosok pemimpin umat Katolik bumiputra kala itu. Sebagai pemimpin Apostolik Semarang, Soegijapranata intens berkomunikasi dengan para aktivis gereja yang diinternir. Salah satunya dengan Mgr. P. Willekens, Vikaris Apostolik Batavia, yang kemudian dibebaskan dari tahanan setelah mendapat bantuan dari diplomat Swiss. Kedua pemimpin gereja itu menjalin relasi surat-menyurat. Bersama Rektor Seminari Kecil Mertoyudan, Jawa Tengah. Soegojapranata dan Willekens lalu berkirim surat kepada penguasa Jepang untuk meminta izin membuka kembali Seminari Menengah yang ditutup. Dalam situasi sulit, Soegijapranata mengkoordinir pelayanan dengan turun langsung ke daerah-daerah maupun lewat surat-menyurat. “Surat-surat yang saya temukan banyak. Ada ratusan. Setiap minggu selama masa Jepang dia kirim surat. Dia diplomasi, komunikasinya, secara tulisan dan lisan,” ujar Romo Banar. Komunikasi juga dilakukannya dengan Sukarno. “Jadi selama masa Jepang, Sukarno pernah ke Semarang, pidato, lalu komunikasi lewat kurir. Dia menyerukan pemuda-pemudanya, ikut gerakan Sukarno.” Setelah kemerdekaan, menurut Romo Banar, umat Katolik menyatakan 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia. Motto ini populer di kalangan umat Katolik, sebagai upaya menepis cap lama, yakni tudingan antek kolonial, sekaligus memotivasi umat Katolik agar berguna bagi masyarakat Indonesia.
- Pulau Emas di Barat Nusantara
EMAS menjadi daya tarik para pendagang datang ke Sumatra. Sehingga, pulau di barat Nusantara itu pun dijuluki Suvarnadvipa atau Pulau Emas. Kekayaan ini juga jadi motif kedatangan orang India ke Asia Tenggara. Dalam Kebangkitan dan Kejayaan Sriwijaya Abad III-VII , OW Wolters mencatat pada pengujung abad sebelum Masehi India kehilangan sumber emas Siberia karena perpindahan bangsa barbar melintasi Asia Tengah. Pun pada pertengahan kedua abad pertama Masehi, orang Vespasia menghentikan pengiriman emas bongkahan dari Roma ke India. Hal itu diperkuat bukti kesusastraan. Karya-karya klasik India mencatat, wilayah Asia Tenggara merupakan sumber emas penting. Misalnya, dongeng-dongeng Jataka melukiskan pelayaran-pelayaran berbahaya ke Suvarnabhumi atau “Negeri Emas”. Kisah Ramayanna juga menyebut nama Suvarnadvipa . Syair cerita Tamil Pattinappalai, yang kemungkinan disusun pada abad pertama masehi, menceritakan perdagangan antara orang India dengan Kalagam yang sekarang dikenal dengan Kedah. Namun, menurut Wolters , para ahli sejarah masih meragukan sumber-sumber itu karena tak tahu pasti kapan versi teks itu ditulis, sejak kapan para pelaut memiliki informan tentang negeri-negeri itu, dan sejauh mana para penulis teks-teks itu memahami istilah-istilah geografi yang mereka gunakan. Kendati begitu, kata Suvarnadwipa dan Suvarnabhumi yang merujuk Pulau Sumatra muncul dalam Prasasti Nalanda di India (860 M), Prasasti Tanjore (1030 M) ketika memberitakan ekspedisi raja Cola ke wilayah Kerajaan Sriwijaya, dan Prasasti Padang Roco (1286 M) yang memuat pengiriman arca Amoghapasalokeswara dari Raja Singhasari Kertanegara ke Melayu Dharmasraya di Sumatra . Julukan yang mirip dipakai sebagai gelar raja pada abad 14 oleh Adityavarman, raja Minangkabau. Menurut Slamet Muljana dalam Sriwijaya, sang raja mengambil gelar Kanakamedinindra artinya “yang dipertuan di Pulau Emas’. Nama Suwarnadwipa juga digunakan pada Prasasti Pagaruyung. Sumber Tiongkok juga memuat keterangan negeri penghasil emas. Dalam catatannya, penjelajah I-Tsing memberi nama Chin-chou untuk Sumatra yang artinya Pulau Emas. Penjelajah Tome Pires dalam Suma Oriental menyebut emas datang dari pedalaman Pedir, pelabuhan yang terletak berdekatan dengan Tanjung Pidie. “Rujukan ini dapat mencerminkan kepopuleran Asia Tenggara pada masa lalu sebagai sumber emas yang penting,” tulis Wolters. Sejarawan Inggris, John Guy dalam “Tamil Merchants and the Hindu-Buddhist Diaspora in Early Southeast Asia” , mencatat bahwa wilayah barat Indonesia, khususnya Sumatra dan Kalimantan menghasilkan endapan dan kerikil bermuatan emas. “Pedagang India tertarik datang ke Asia Tenggara karena rempah-rempah, hasil hutan, dan logam mulianya, terutama emas. Mereka juga tertarik karena ini membuka jalan untuk berdagang dengan Cina,” tulis John Guy termuat dalam Early interactions between South and Southeast Asia reflections on cross-cultural exchange . Sumatra termasyur sebagai negeri emas terus berlanjut hingga kekuasaan Kesultanan Aceh. Dannys Lombard dalam Kerajaan Aceh menulis soal banyaknya pandai emas di wilayah kerajaan itu. Mereka juga sangat terampil. Bahkan, Sultan Iskandar Muda menaruh perhatian sangat besar kepada batu permata dan emas dengan mempekerjakan 300 pandai emas. Dalam Hikayat Aceh, Lombard menemukan keterangan tambang-tambang emas di Kesultanan Aceh. Pengarang menyebut satu per satu lokasinya dengan cara yang terkadang puitis. Misalnya, dalam karya klasik itu disebutkan keberadaan emas merah 24 karat dan belerang dalam tambang yang memberikan hasil tak ada habisnya. “Semua bahan berharga yang dapat dikuasai Aceh karena kedaulatannya diakui di pedalaman,” tulis Lombard. Orang Eropa mencoba mengumpulkan keterangan sebanyak mungkin mengenai keberadaan tambang-tambang emas itu. Namun, mereka sama sekali tak dapat mendatanginya. Dalam catatan Laksamana Prancis, Agustin de Beaulieu yang datang ke Aceh pada 1620, orang Aceh pun tidak bisa mengakses tambang yang berada di bawah kekuasaan seorang raja yang terletak antara wilayah Tiku dan Minangkabau. Mereka hanya bisa mengolah lapisan permukaan tanah yang mengandung emas dalam sebuah aliran yang terbawa hujan. Mereka juga hanya bisa menggali lubang kecil di tempat timbunan longsor. Dari sana adakalanya mereka menemukan gumpalan tanah bermuatan emas yang cukup besar ukurannya. “Pada umumnya emas itu berbutir dan bergumpal kecil, yang hanya sedikit sekali dijadikan batangan. Kadar emasnya sama seperti écu Prancis, namun tak sebaik dukat Kairo,” jelas Beaulieu. William Dampier, orang Inggris yang datang ke Aceh pada 1688 mencatat, hanya orang Muslim yang diizinkan pergi ke tambang. Sulit dan sangat berbahaya jika seseorang mencoba melintasi pegunungan yang menuju tambang. Jalannya begitu terjal. Di beberapa tempat bahkan orang terpaksa menggunakan tali untuk naik dan turun. Ditambah lagi, pada kaki gunung ada penjagaan serdadu yang menghalangi orang “kafir” pergi ke tambang. Mereka mengenakan biaya untuk akses ini. “Hal ini saya dengar dari Kapten Tiler yang tinggal di Aceh dan sangat fasih bicara bahasa negeri itu,” kisah Dampier. Ketika pesaingan ketat, cerita-cerita horor terkait pencarian emas kemudian disebarkan. Misalnya, soal keberadaan “orang gunung” yang mengancam para pencari emas. Tujuannya agar para pencari emas yang nekat tak meneruskan usahanya. Meski begitu, ketika Dampier datang, citra negeri emas ini sepertinya mulai agak merosot. Jumlah pandai emas menurun seiring memudarnya kesultanan. “Dampier sudah tak memuji sedemikian hebatnya. Pandai emasnya kebanyakan orang asing, meski masih ada beberapa orang Aceh yang pandai mengolah logam,” tulis Lombard.
- Rusuh Napi Era Revolusi
Kedunggede dibekap ketegangan pagi itu. Suara teriakan yang bersanding dengan bunyi tembakan membuat suasana sangat mencekam. Tak ada satu pun warga yang berani keluar rumah kecuali sekelompok kecil kaum lelaki dan ribuan serdadu Belanda bersenjata lengkap yang berderap menuju gedung penjara. “Dalam sikap siap tempur, mereka mengepung penjara Kedunggede yang sudah dikuasai kaum Republik,” kenang Haji Siddin, lelaki berusia 90 tahun. Hingga kini Siddin tak pernah mengetahui musabab pasti mengapa para napi (narapidana) itu mengamuk dan melakukan pemberontakan. Secara samar lelaki yang dulu bekas pedagang beras di Pasar Tambun tersebut hanya mendengar kerusuhan itu awalnya dipicu oleh perlakuan kasar seorang sipir kepada salah satu napi. Namun Insiden Kedunggede itu sempat dicatat oleh A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid 8 . Disebutkan pada awal September 1948, militer Belanda melakukan pembersihan “kaum ekstrimis” di wilayah Cibarusa yang dikenal sebagai basis BBR (Barisan Bamboe Roentjing). Itu salah satu lasykar bersenjata yang tidak mengakui kesepakatan Perjanjian Renville dan memilih untuk tetap melawan Belanda. Singkat cerita, militer Belanda berhasil menangkap 1000 orang yang dicurigai sebagai anggota BBR. Mereka lantas ditempatkan di Penjara Kedunggede, Bekasi (sekarang masuk dalam wilayah Karawang) yang sebenarnya sudah tidak bisa lagi menerima tahanan. Akibatnya suasana sumpek, panas berkelindan dengan rasa marah karena diperlakukan tidak baik oleh para sipir penjara. Sabtu pagi, 4 September 1948 meledaklah kerusuhan di Penjara Kedunggede. Terjadi bentrok massal antara napi dengan para penjaga. Disebabkan kalah jumlah, para sipir akhirnya menyerah dan otomatis penjara langsung dikuasai oleh para napi. Bala bantuan pun didatangkan. Selama sehari semalam gedung penjara dikepung oleh pasukan bersenjata. Pukul 4 pagi pada 5 September 1948, para napi mencoba untuk kabur dari penjara tersebut dengan cara menyerang para pengepung secara bersama-sama. Alih-alih berhasil, yang ada mereka menjadi umpan peluru-peluru tajam. “Menurut sumber Belanda, insiden itu mengakibatkan 47 napi tewas dan 24 lainnya luka-luka. Sedangkan sisanya yang kemudian menyerah dipindahkan ke Jakarta,” ujar A.H. Nasution. Kurang lebih sebulan sebelumnya kejadian yang sama terjadi juga di Penjara Bantjeuj, Bandung. Ceritanya, suatu hari beberapa pentolan napi Penjara Bantjej mendatangi salah satu napi terkemuka yakni Kapten TNI Soegih Arto. Kepada pimpinan kaum gerilyawan di wilayah pinggiran Bandung itu, mereka menyatakan akan memberikan “kejutan” kepada pihak Belanda pas RI memperingati kemerdekannya yang ke-3. “Mereka berencana berontak dan kembali ke hutan guna meneruskan perjuangan,” ungkap Soegih Arto dalam biografinya, Pengalaman Pribadi Letnan Jenderal (Purn) Soegih Arto . Para pentolan napi itu awalnya mendapuk Soegih untuk menjadi pimpinan pemberontakan. Namun mengetahui persiapannya yang sangat minim, dia menolak permintaan mereka dan menyarankan agar rencana tersebut dibatalkan saja. Alih-alih, sebagian dari para pentolan napi itu malah menganggap Soegih sebagai seorang pengecut. Pada 17 Agustus 1948, meletuslah pemberontakan di Penjara Bantjeuj. Kerusuhan dimulai oleh para napi dari Blok J dan berhasil merebut sepucuk pistol dari seorang anggota MP (Polisi Militer). Namun para penjaga lain lebih sigap. Mereka langsung menutup akses-akses menuju keluar secara ketat. Tak beberapa lama kemudian sirene meraung-raung, diikuti oleh kedatangan bertruk-truk anggota MP. Pemberontakan pun mengalami kegagalan. Sebagai hukuman, para napi yang terlibat pemberontakan dikenakan sanksi isolasi. Jadwal jalan pagi dan jalan sore para napi ditiadakan untuk jangka waktu yang tak tentu. Kiriman dari keluarga dihentikan secara total. “Saya sendiri dipindahkan ke Blok M,” kenang Jaksa Agung Republik Indonesia periode 1966-1973 itu.
- Maradona-nya Indonesia Telah Tiada
INNALILLAHI wa inna ilaihi rojiun . Sepakbola nasional kehilangan salah satu legenda terbaiknya Jumat (11/5/2018) pagi. Zulkarnain Lubis menghembuskan nafas terakhir akibat serangan jantung di Pali, Sumatera Selatan, pukul 07.45 pagi di usia 59 tahun. Dalam laman resmi PSSI, Plt. Ketum PSSI Joko Driyono menghaturkan belasungkawa untuk legenda yang juga suami mantan pesepakbola putri dan anggota Komite Eksekutif PSSI cum Ketua Asosiasi Sepakbola Wanita Indonesia (ASBWI) Papat Yunisal itu. “PSSI sangat berterimakasih atas dedikasi, komitmen, dan kontribusi besar Zulkarnain Lubis untuk sepakbola Indonesia,” ungkap Joko di pssi.org , Jumat (11/5/2018). Kemenpora tak ketinggalan mengungkapkan dukacitanya. “Karena kepiawaiannya mengolah bola, saat aktif bermain beliau dijuluki sebagai Maradona Indonesia. Jasanya untuk kejayaan negeri ini tak akan pernah kami lupakan,” cuit akun Twitter @KEMENPORA_RI. Zulkifli yang dijuluki Maradona-nya Indonesia merintis karier sejak 1970 di PSBK Binjai. Nama pesepakbola kelahiran Binjai, Sumatera Utara, 21 Desember 1958 itu meroket kala berseragam PSMS Medan. Dari sana, dia kemudian bergabung dengan Mercu Buana, Yanita Utama, Krama Yudha Tiga Berlian, Petrokimia Putra, dan PSM Makassar. Zul mengenakan seragam kebanggaan dengan logo Garuda di dada sejak 1983 sampai 1986. Di ajang terakhirnya, Asian Games di Seoul, Zul ikut mengantar Indonesia mencapai empat besar. Pencapaian di pesta olahraga terbesar se-Asia itu masih jadi rekor terbaik hingga kini. Terpuruk dan Bangkit Sebagaimana banyak atlet dalam negeri lain, Zul yang gantung sepatu pada 2000 kehidupannya sempat menukik tajam. Untuk menyambung hidup, Zul mesti pontang-panting dari berbisnis kecil-kecilan hingga berdagang nasi goreng di Cimahi. Kehidupannya baru membaik setelah diminta membantu almarhum Ronny Pattinasarani mencari bibit-bibit timnas U-15 tiga tahun kemudian. Zul setahun setelah itu juga diminta mengasuh tim putri SSB Queen milik legenda sepakbola putri Papat Yunisal. Di tahun itu juga Zul meminang Papat. “Sebenarnya sudah lama kenal, dari dulu, tapi tidak begitu akrab. Karena waktu itu (semasa di timnas) training camp -nya bareng antara timnas wanita dengan timnas pria. Latihannya juga sama-sama di Senayan (kini Stadion Utama Gelora Bung Karno),” cetus Papat kepada Historia , akhir 2017. Sejak 2015, Zul menukangi tim PS PALI (Penukang Abab Lematang Ilir) dan dikontrak hingga 2019. Zul berhasil membawa tim itu menjuarai Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) tahun 2015. Kini, sang pengumpan matang itu telah tiada. Pihak keluarga sudah ke Pali untuk mengurus jenazahnya. Rencanya, jenazah sang legenda akan dikebumikan di Binjai dan melalui pesan singkat, Historia juga mengirim ucapan belasungkawa terdalam secara pribadi kepada Papat Yunisal, sang istri. "Terima kasih atas doa dan ucapannya maafkan segala kesalahan suami saya almarhum," tandas Papat membalas pesan singkat Historia .





















