Hasil pencarian
9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Utami Mendobrak Kungkungan Adat Jawa
KETIKA ikut mewakili Indonesia dalam All Indian Women’s Congress di Madras, India pada Desember 1947, Utami Suryadarma berkesempatan menemui pejuang Mahatma Gandhi. Kesempatan itu dimanfaatkan Utami untuk berdialog. “Apakah perjuangan Indonesia akan berhasil?” tanya Utami mengingat kondisi Indonesia sedang mempertahankan kemerdekaan dari Agresi Militer Belanda. “Apabila Anda percaya itu akan berhasil, maka akan berhasil,” jawab Gandhi. Momen bersejarah itu disaksikan dan dicatat oleh Herawati Diah dalam Kembara Tiada Berakhir. Keberangkatan Utami ke India menjadi peristiwa penting dalam perjuangan bangsa mempertahankan kemerdekaan dan perjuangan perempuan Indonesia. Utami memang tak populer dalam sejarah Indonesia. Penyebab terpentingnya apalagi kalau bukan monopoli sejarah oleh rezim Orde Baru. Padahal, Utami aktif dalam perjuangan kemerdekaan sejak remaja. Bersama kakak perempuan sekaligus rekan persekongkolannya, Utari, dia pernah mendirikan Majalah Pahesan (berarti cermin) dengan modal dari patungan uang saku mereka plus bantuan beberapa donatur tetap. Selain Utami dan Utari, pengurus pertama Pahesan adalah Suleki (di kemudian hari menikah dengan Prof. Selo Soemardjan), Erna Djajadiningrat, Marasah, Nun, dan Sjamsidar. Meski tulisan-tulisan Pahesan menggunakan bahasa Belanda, Utami menyebut watak tulisan Pahesan tetap nasionalis. Pahesan seringkali mengangkat nasib kaum perempuan di masanya, seperti kepincangan hak perempuan dalam perkawinan, dan ketidakadilan yang diterima rakyat pribumi. Kritik Utami dan kawan-kawan dalam Majalah Pahesan menjadi perhatian Politieke Inlichtingen Dienst (PID) atau Dinas Intelijen Politik pemerintah Hindia Belanda. Ayah Utami, Raden Ramelan, pernah mendapat teguran dari kepala Kepolisian Surakarta. Raden Ramelan yang kala itu bekerja sebagai pegawai negeri, diperingatkan kalau kedua putrinya akan dipaggil untuk mempertanggungjawabkan tulisan-tulisan mereka di Pahesan . “Tapi ancaman itu tidak pernah dilaksanakan,” kata Utami dalam memoarnya , Saya, Soeriadi, dan Tanah Air . Raden Ramelan menentang keras kedua putrinya, Utami dan Utari, ikut dalam pergerakan nasional atau kegiatan berbau politik meski dia sendiri anggota Budi Utomo. Dia amat khawatir terhadap keamanan kedua putrinya. Utami dan ayahnya sering berdebat sengit soal pandangan politik sampai sang ibu harus turun tangan untuk mendamaikan. Meski berdebat keras, Utami tetap menurut dan luluh oleh pernyataan ayahnya, “Kalau saya tidak bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda, bagaimana saya dapat menyekolahkan kamu semua?” Setelah itu, Utami dan Utari harus membujuk sang ayah setengah mati untuk bisa keluar melihat pertunjukan atau kegiatan kepanduan. Utami menyebutnya setengah dipingit. Gagal Jadi Filsuf karena Ayah Setelah lulus dari AMS Yogyakarta, Utami berkeinginan meneruskan pendidikan ke Rechts Hoge School atau ke Fakulteit van Oosters Letter en Wijsbegeerte (Fakultas Sastra Timur dan Filsafat) di Leiden, Belanda. Tapi, kata Utami, “Semua kandas karena larangan orangtua.” Sebagai keluarga ningrat Surakarta, Raden Ramelan membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan budaya amat feodal. Ramelan tak ingin anak-anak perempuannya menempuh pendidikan tinggi karena baginya perempuan yang meraih pendidikan tinggi akan menjadi perawan tua. Pandangan itulah yang dilawan Utami. “Saya bersedia menjadi perawan tua karena sebagai seseorang yang menganggap diri feminis, saya ingin meraih sesuatu dengan kemampuan sendiri,” kata Utami. Utami mengidamkan hidup mandiri dan menentukan jalan hidupnya sendiri, bekerja dan mencari nafkah sendiri. Namun sayang, dia hidup di lingkungan yang masih memegang teguh adat. Ditambah kesulitan ekonomi yang dialami keluarganya, cita-cita Utami untuk menjadi sastrawan dan filsuf akhirnya gugur. Beruntung, Utami kemudian bertemu dengan Soeriadi Suryadarma (KSAU dan KSAP pertama). Pertemuan itu menjadi sebuah keberuntungan bagi Utami, pasalnya dia mendapatkan rekan persekongkolan baru. Soeriadi sepemikiran dengan Utami. “Baginya perempuan sederajat dengan laki-laki,” kata Utami menerangkan pandangan Soeriadi. Soeriadi mendukung penuh seluruh keaktifan Utami baik dalam gerakan perempuan maupun hobi membacanya. Di masa perempuan dalam kondisi terkungkung baik secara budaya maupun sistem sosial itu, seorang gadis tak bisa bergerak sendiri tanpa dukungan pihak lelaki, entah ayah ataupun suaminya. Dukungan Soeriadi tak hanya memuluskan jalan Utami meraih cita-cita tapi sekaligus menjadikan mereka pasangan senasib-seperjuangan. “Saya menolak mencuci kaki calon suamiku dan membuat sembah kepadanya. Untungnya, Soeriadi tidak berbeda pandangan dengan saya, karena jiwanya sama tidak konvensionilnya,” kenang Utami tentang hari pernikahannya. Keaktifan Utami dalam gerakan perempuan dan nasionalis makin menjadi setelah menikah. Lantaran suaminya tentara Hindia Belanda, Utami harus sembunyi-sembunyi jika ingin hadir dalam pertemuan gerakan, salah satunya Kongres Perkumpulan pemuda Putri Indonesia (PPPI), organisasi perempuan dari Jong Java. Semasa pendudukan Jepang, Utami menjadi relawan di Rumah Sakit Subang, membantu dokter Soehardi Hardjoloekito. Ketika tinggal di Batavia, Utami mengikuti satu studie club. Di sanalah dia mulai kenal dengan banyak pejuang perempuan lain seperti Maria Ullfah, Siti Soendari, dan Herawati Diah. Utami kemudian ikut aktif dalam Kongres Perempuan Indonesia. Sebagaimana diungkap Sejarah Setengah abad Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, pada 1946 Utami duduk sebagai anggota Penerangan Kowani. Sebuah rapat Kowani menyepakati, Utami yang menjabat sebagai ketua Bidang Penerangan Luar Negeri Kowani ditugaskan berangkat ke All Indian Women’s Congress di Madras mewakili para perempuan Indonesia. Utami berangkat bersama anggota Kowani lain seperti Siti Sukaptinah Mangunpuspito, Sulianti, dan Jo Kurnianingrat Sastroamidjojo dengan menunmpang pesawat Kalinga Air milik pengusaha India Biju Patnaik. “Utami orang yang gigih mengupayakan berangkatnya duta-duta perempuan ke Madras,” kenang Herawati . Di India, mereka bertemu Herawati Diah yang datang untuk meliput dan menjadi saksi upaya para perempuan menyebarkan kabar kemerdekaan.
- Saatnya Belajar dari Sepakbola Jepang
TODD Rivaldo Ferre dkk. tertunduk lesu. Asa Timnas Indonesia U-19 untuk melangkah lebih jauh di turnamen AFC Cup U-19 2018 tertutup sudah. Langit seolah ikut menangis lewat derasnya guyuran hujan. Sekira 70 ribu suporter di Stadion Utama Gelora Bung Karno jadi saksi kekalahan 0-2 Timnas Indonesia U-19 dari Jepang U-19 di babak perempatfinal, Minggu malam, 28 Oktober 2018. Tim besutan Indra Sjafri gagal menyempurnakan peringatan Sumpah Pemuda ke-90. Ekspektasi publik kembali mentok. Padahal sebelumnya menyeruak harapan besar untuk minimal sampai ke semifinal. Pasalnya, empat semifinalis akan otomatis ikut Piala Dunia U-20 di Polandia 23 Mei-15 Juni 2019 mendatang. Toh, Coach Indra Sjafri tak menyesal dengan hasil itu. Dalam konferensi persnya usai laga, dia justru bangga. “Saya yakin level sepakbola Indonesai dengan Jepang dan negara-negara lain sudah kompetitif,” katanya. Pandangan berbeda justru datang dari pengamat sepakbola dan pembinaan usia dini Timo Scheunemann. “Soal itu saya enggak setuju walau maksudnya coach Indra itu baik, dia mengangkat harapan. Karena memang coach Indra kan kelebihannya di motivasi dalam hal mental dan ingin menunjukkan kalau kita enggak kalah,” ujar Timo saat dihubungi Historia . Menurut mantan pelatih, eks-Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI, dan penulis buku Dasar-Dasar Sepakbola Modern , 14 Ciri Sepakbola Modern dan Kurikulum Dasar Sepakbola untuk Pembinaan Usia Dini itu secara objektif kemampuan, pengetahuan taktik, keputusan dalam bermain (Indonesia, red .) masih kentara tertinggal jauh dari Jepang. “Di level junior, pencapaian ini sebenarnya sudah luar biasa. Tapi memang lebih karena faktor coach Indra yang bisa mengangkat nasionalisme, kepercayaan diri, hingga pemain yang mentalnya selama ini sudah kalah sebelum berperang itu dibenahi. Jadi mereka modal semangat, modal tak kalah sebelum bertanding,” lanjut Coach Timo. Berguru pada Murid Tampil di pentas terbesar sejagat kategori usia di bawah 20 tahun sejatinya pernah dicicipi timnas Indonesia di Piala Dunia Junior di Jepang tahun 1979. Kendati pulang dari Jepang dengan hasil remuk redam, setidaknya nama Indonesia pernah tercantum sebagai salah satu tim junior terbaik dunia. Kekalahan itu plus kekalahan dari Jepang pekan lalu sudah semestinya jadi bahan pembelajaran. Kalau perlu, Indonesia balik berguru pada Jepang selaku salah satu raksasa Asia saat ini. Balik berguru? Ya, pada 1991 Jepang pernah berguru ke Indonesia saat membenahi liganya yang saat itu masih semi-profesional. “Semi profesional karena pemain klub, misal Matsushita (maksudnya Gamba Osaka, red .), ya pemainnya diambil dari pegawai Matsushita, bukan orang luar yang memang dikontak karena skill -nya,” ujar Ricky Yacob, pemain legendaris yang jadi pemain Indonesia pertama yang dikontrak klub Jepang, kepada Historia lima tahun silam. Jepang mempelajari betul Galatama (Liga Sepakbola Utama), kompetisi profesional Indonesia yang lahir pada 1979. “Itu awalnya melihat dan mendapatkan konsep (liga) bahwa yang paling bagus model Galatama. Jadi tim-timnya bukan terkait dengan instansi pemerintah tapi dengan perusahaan besar. Tapi justru setelah itu di Indonesia malah terkait dengan pemerintahannya seperti itu. Karena banyak skandal suap juga di Galatama. Namun bukannya dicari solusinya, malah akarnya dicabut (Galatama bubar),” sambung Timo. Jepang pada akhirnya bukan sekadar mampu membuat liga profesional namun mengembangkannya lebih jauh sehingga laku dijual. Soal pendidikan pelatih dan pembentukan sejumlah akademi di bawah klub-klub profesionalnya juga menjadi inti pembenahan oleh JFA (Federasi Sepakbola Jepang) itu. Hasilnya, pada 1993 Jepang sudah punya kompetisi pro, J-League. Sejumlah pemain Jepang kemudian dilirik klub top Eropa. Kazuyoshi Miura mempelopori “eksodus” pesepakbola profesional Jepang ke liga Eropa ketika dia dikontrak klub Serie A Genoa. Namun, bintangnya tak seterang Hidetoshi Nakata yang mengikuti jejaknya beberapa tahun kemudian dengan klub Perugia. Kazuyoshi Miura, pelopor pemain Jepang di Eropa. (themillenial.it). Di perantauan, mental para pemain Jepang ditempa dan itu terbawa saat mereka pulang untuk membela Timnas Jepang. Hasilnya, sejak 1995 Jepang tak pernah absen masuk Piala Dunia Yunior dan sejak 1998 juga senantiasa lolos ke Piala Dunia. Kemauan Jepang belajar dan melewati fase-fase pembelajaran itu mestinya ditiru Indonesia. Sayang, hal itu justru hilang dari persepakbolaan Indonesia tiga dekade belakangan. “Kalau memang dikatakan (Indonesia) tidak tertinggal, tentu akan terlihat di timnas senior. Tapi nyatanya kita masih tertinggal jauh. Enggak bisa mengejar kalau pendidikan pelatih tidak digencarkan, kemudian akademi-akademi yang ada sudah diperbaiki dan diseriusi lagi, tidak hanya sekadar memenuhi persyaratan,” tambah Timo. Senada dengan Timo, Ricky mengatakan salah satu prasyarat yang harus dilalui untuk memperbaiki persepakbolaan Indonesia adalah kompetisi tingkat junior. “Yang di bawah ini mesti dibenahi dulu, disediakan wadah kompetisi. Di situ kita bisa lihat mana anak yang benar-benar bagus sehingga kita punya database . Jadi enggak terjadi lagi PSSI mau cari pemain usia sekian, 800 orang mesti diseleksi selama tiga hari. Bagaimana menyeleksinya?” ujar Ricky. Beruntung, belakangan PSSI memulai lagi fase-fase itu secara bertahap. Kompetisi usia muda yang berafiliasi dengan klub sudah mulai bergulir, terutama di kategori U-16 dan U-19. “Terakhir saya lihat Tim U-16 Bhayangkara FC melawan PSMS dan itu permulaan yang positif. Tapi yang saya harapkan pembinaan skala ini dijalankan profesional. Jangan melihat investasi akademi sebagai beban, hanya karena menjalankan regulasi, itu yang repot,” ujar Timo. Pembinaan di akademi memang bukan investasi yang “basah”. Namun, itu harus dilalui jika ingin persepakbolaan Indonesia maju. Hasil dari proses panjang itu bisa dilihat dalam prestasi Jepang, China, dan India yang mulai seirus membangun pembinaan pemain usia mudanya. “Mesti dilakukan secara profesional demi Indonesia juga. Karena timnas itu hasil liga profesional yang bagus. Liga yang bagus bahan bakunya ya dari akademi. Kita enggak bisa selalu bicara tentang duit seperti di Eropa,” tutup Timo.
- Ketika Djamin Gintings Rindu Tanah Air
DI depan pintu keberangkatan bandara Ottawa, Kanada, Djamin Gintings mengecup istrinya, Likas Tarigan. Jenderal bintang tiga itu menitipkan sepucuk surat kepada Likas untuk disampaikan kepada Presiden Soeharto. Isinya adalah permintaan Djamin supaya dipulangkan ke Indonesia. Dia tak tahan menetap terus di Kanada yang dingin. Hari itu, tanggal 10 Oktober 1974, menjadi perjumpaan terakhir Djamin dan Likas. Pada 23 Oktober, ketika Likas masih berada di Jakarta, datang kabar duka dari Kanada: Djamin Gintings meninggal dunia. “Ah, andai aku tahu itulah kecup terakhir suamiku untukku,” kenang Likas Tarigas kepada Hilda Unu-Senduk dalam Perempuan Tegar dari Sibolangit. Dipakai lalu Diabaikan Lengsernya Presiden Sukarno mengubah konfigurasi dalam jajaran Staf Umum Angkatan Darat (SUAD). Soeharto yang baru naik tampuk kekuasaan mengganti orang-orang yang semula dipilih Yani. Mereka yang jadi korban maupun yang selamat dari peristiwa Gerakan 30 September, semuanya kena copot dari posisi masing-masing. Peter Dale Scott, mantan diplomat Kanada dan pakar politik University of California, dalam jurnalnya yang terkenal “Amerika Serikat dan Penggulingan Sukarno 1965—1967” menyebutkan dari enam perwira staf umum yang diangkat Yani, tiga di antaranya terbunuh: Soeprapto, S. Parman, dan Pandjaitan. Dari tiga orang yang selamat, dua orang disingkirkan Soeharto dalam delapan bulan: Moersjid dan Pranoto. “Anggota terakhir dari stafnya Yani, Djamin Gintings telah digunakan oleh Soeharto selama menegakkan Orde Baru dan kemudian diabaikan oleh Soeharto,” tulis Scott dalam “The United States and the Overthrow of Sukarno, 1965-1967" yang diterbitkan Journal Pasific Affairs . Djamin Gintings bersama istrinya, Likas Tarigan. (Repro Dari Titi Bambu ke Bukit Kadir ). Posisi Djamin sebagai Asisten II digantikan oleh Soemitro yang semula menjabat panglima Mulawarman di Kalimantan. Djamin sempat menjadi Inspektur Jenderal AD, namun tak lama. Dia kemudian diparkirkan di luar SUAD dan mengisi hari-hari dengan beternak ayam ras. Memasuki 1970, pemerintah menugaskan Djamin untuk memenangkan pemilu. Untuk itu, Djamin memangku jabatan ketua Sektretariat Bersama Golkar Pusat. Jelang pemilu 1971, Djamin sampai turun ke tanah kelahirannya di Tanah Karo untuk kampanye. “Mulai dari Kuta Bangun, Sarinembah, dan mengadakan rapat raksasa di stadion Kabanjahe dengan pengunjung kurang dari 45. 000 orang,” tulis Robert Parangin-angin dalam Djamin Gintings: Maha Putra RI . Hasilnya, Golkar menang mutlak di Sumatera Utara yang mengantarkan Soeharto jadi presiden lewat pemilu perdananya. Djamin Gintings naik pangkat jadi letnan jenderal. Dia juga terpilih menjadi anggota DPR dan duduk dalam Komisi II merangkap ketua Diskusi Luar Negeri. Servis Djamin dirasa telah cukup. Masa pengasingan pun dimulai. Keluar dari Orbit Pada 22 Maret 1972, Presiden Soeharto melantik Djamin Gintings sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh untuk negeri Kanada. Suatu jabatan non militer. Dalam lubuk hatinya, Djamin tak menerima penempatan tugas baru ke negeri yang dekat dengan Kutub Utara itu. “Enggan suamiku menerima jabatan ini, tetapi sebagai abdi negara ia mematuhinya. Kepedihan hatinya dan rasa kecewanya yang menggunung dapat kurasakan,” tutur Likas. Menurut Likas, Djamin mendapat kesan bahwa dirinya disingkirkan. Pekerjaan diplomat bukanlah bidang Djamin yang lama bercimpung sebagai tentara lapangan. Dalam kejenuhannya, Djamin mengatakan bawa dia merasa terbuang. Kesehatannya berangsur-angsur menurun ditambah iklim Kanada yang kurang bersahabat. Tiga tahun masa tugas di Kanada beringsut kelabu. Agar bisa kembali ke Indonesia, Djamin mengutus istrinya ke Jakarta menemui Soeharto. Tiba di Cendana, Likas diterima Ibu Tien Soeharto. Kepada Tien, Likas menceritakan kesehatan Djamin yang terganggu dan mengharapkan Presiden Soeharto memanggilnya pulang ke Indonesia. Djamin Gintings saat bertugas di Kanada sebagai duta besar. (Repro Dari Titi Bambu ke Bukit Kadir ). “Rasanya tak sanggup suami saya melewati musim dingin di Kanada, Bu,” kata Likas kepada Tien seraya menyerahkan surat Djamin agar dibaca oleh Soeharto. Tien berjanji untuk menyampaikannya. Tiga hari berselang, surat sampai di tangan Soeharto. Presiden mengatakan telah memproses isi surat Djamin dan meminta Likas menghubungi Menteri Sekretaris Negara Soedharmono. Di kantor Mensekneg, tubuh Likas bergetar lemas. Soedharmono memperlihatkan disposisi presiden terhadap surat Djamin. Isinya: “Tunggu saja kunjungan saya bulan Juli 1975 di Kanada.” Itu artinya, permintaan Djamin ditolak atau setidaknya masih harus menunggu hingga tahun depan. Apa rupanya persinggungan serius yang terjadi antara Djamin dan Soeharto? “Tak perlu persinggungan,” kata sesepuh TNI AD Letjen (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo kepada Historia . Menurut Sayidiman yang mantan Wakil KASAD ini, Djamin bukanlah bagian dari grup jenderal Soeharto. Dia menjelaskan, banyak perwira tinggi AD yang awalnya dipakai Soeharto bukan karena mereka cocok dengan Soeharto tapi karena ketidaksetujuannya yang tegas terhadap Nasakom dan PKI. Setelah masalah itu selesai, orang-orang seperti Djamin pun menjauh dari Soeharto. “Kalau Pak Harto merasa tak cocok dan orangnya juga tidak usaha untuk dekat Pak Harto, ya harus dijauhkan kalau ia pejabat penting,” kata Sayidiman. Djamin termasuk perwira yang enggan merapat ke kubu Soeharto. “Saya suka dia dan sedih ketika dapat kabar ia meninggal ketika jadi dubes di Kanada,” kenang Sayidiman.
- Nasib Buruk Anak Nyai
MALANG. Kata itulah yang paling tepat disematkan pada anak-anak tak berdosa yang lahir dari rahim perempuan-nyai di masa kolonial. Mereka menjadi komunitas terbuang, berada di luar masyarakat kulit putih maupun masyarakat pribumi. Anak-anak Indo-Eropa hasil pergundikan antara lelaki Belanda dan nyai pribumi itu tidak punya hubungan yang benar-benar nyata dengan masyarakat pribumi dan tidak mengusahakannya karena terlalu gengsi. Sementara untuk masuk ke dalam masyarakat Eropa mereka mendapatkan penolakan. Meski beberapa anak hasil pergundikan diakui ayah mereka sehingga bisa menyandang nama Eropa, status mereka di masyarakat tetap tidak jelas. Kemunculan anak Indo-Eropa sebagai kelompok baru masyarakat kolonial sudah menjadi kekhawatiran sejak praktik pergundikan dilakukan para kolonialis kulit putih. Kelompok Indo-Eropa ini dikhawatirkan membahayakan prestise kulit putih dan citra kolonial sebagai pemilik budaya yang mereka anggap luhur. Hal ini menjadi titik mula ketiadaan pengakuan masyarakat kolonial akan hubungan antarras. Anak hasil hubungan tuan-gundik diperlakukan dengan buruk bahkan sejak masa VOC. Dalam peraturan VOC tahun 1715 tercantum larangan mengangkat keturunan campuran penduduk asli menjadi pegawai VOC, apalagi bila masih tersedia orang lain (kulit putih tulen) yang berpotensi. Aturan itu diterapkan secara ketat. Bahkan ketika VOC kekurangan pegawai pada 1727, mereka ogah merekrut orang Indo-Eropa dan lebih memilih pedagang kecil Eropa yang belum tergabung di VOC untuk mendaftar. Dalam pengumumannya, VOC menekankan bahwa orang Eropa tulen harus diterima bekerja dengan berbagai cara dan lebih diutamakan dibanding anak-anak Indo-Eropa. Di mata VOC, tulis Jean Gelman Taylor dalam Kehidupan Sosial di Batavia , orang-orang yang lahir di negeri jajahan, khususnya ras campur, statusnya sangat rendah. Mereka hanya bisa menjadi tenaga militer atau juru tulis. Masa depan untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi telah tertutup karena posisi tinggi diisi oleh lelaki yang datang dari Belanda. Anak perempuan hasil pergundikan pun mendapat nasib sama buruknya. Gubernur Jenderal C van der Lijn bahkan mengeluarkan aturan yang melarang semua perempuan yang lahir di negeri jajahan pergi ke Belanda tanpa izin khusus pada 1649. Diskriminasi pada orang Indo-Eropa terus berlanjut bahkan ketika kekuasaan dipegang pemerintah Belanda. Asal-usul mereka sebagai ras campur benar-benar menjadi sebuah rintangan untuk mendapat pekerjaan setara orang kulit putih tulen. Diskriminasi ini bahkan tercatat dalam hukum kolonial tahun 1839. Anak-anak yang lahir dari hubungan lelaki Eropa dan perempuan non-kulit putih kehilangan hak istimewa untuk mengenyam pendidikan Eropa, terlebih di Royal Academy Delft, Belanda. Padahal, pemerintah Belanda hanya mengangkat orang-orang lulusan Royal Academy untuk menjadi pejabat eselon. Oleh karena itulah orang Indo-Eropa tidak dapat menjadi pegawai tinggi pemerintahan. Departemen dalam negeri Hindia-Belanda di Jawa dan Madura juga tidak menerima anak-anak Indo-Eropa. Pemerintah tak ingin penduduk negeri jajahan berhadapan dengan anak-anak yang lahir dari hubungan ilegal, terlebih bila mereka duduk di dalam pemerintahan. Bagi pemerintah kolonial, kehadiran mereka dalam tubuh pemerintahan hanya mencoreng citra Belanda sebagai negara beradab. Diskriminasi yang mereka terima kemudian memuncak dan membuat orang-orang Indo-Eropa muak pada 1848. Pemerintah kolonial kemudian membuat pertemuan di Socitet de Harmonie. Dalam pertemuan tersebut, dilancarkan kritik atas diskriminasi terhadap kaum Indo-Eropa untuk memperoleh pendidikan dan pekerjaan sama seperti orang-orang yang didatangkan dari Eropa. Orang-orang yang melancarkan protes tersebut kebanyakan tokoh Eropa terkemuka yang tinggal di Hindia Belanda, seperti Menteri Hindia Belanda WR Baron van Hovel. Protes yang dilancarkan kaum Indo-Eropa ini sempat membuat Gubernur Jenderal JJ Rochussen cemas akan terjadi pemberontakan. Saking cemasnya, dia sampai menerapkan status siaga tinggi pada malam 12 Mei 1848 dan memerintahkan garnisun Batavia berjaga-jaga di Harmonie. Namun kekhawatiran itu tak terbukti karena petemuan berlangsung lancar. Tetap saja, anak Indo-Eropa yang bisa duduk di pemerintahan dan mendapat pekerjaan layak adalah Indo-Eropa yang lahir dari ayah kaya atau berpangkat tinggi. Padahal, kebanyakan anak hasil pergundikan pada abad ke-19 lahir dari hubungan nyai dengan anggota militer berpangkat rendah. Anak-anak Indo-Eropa yang tidak beruntung itu kebanyakan menjadi tukang, penjahit, petugas telegraf, tukang pos, mekanik, dan petugas pengukuran kadaster. Dalam Nyai and Pergundikan di Hindia Belanda, Reggie Baay menulis, tingkat pengangguran, kemiskinan, dan kejahatan di kalangan Indo-Eropa sangat tinggi. Di antara mereka ada perempuan Indo-Eropa bernasib sial yang masuk ke dunia prostitusi. Karena kemiskinan, kadang gadis-gadis Indo-Eropa dijual ke orang Tionghoa kaya. “Kerutunan ras kulit putih ini bertempat tinggal di ratusan rumah di lingkungan kumuh kota-kota di Hindia Belanda serta di perkampungan kotor dekat tangsi-tangsi,” tulis anggota parlemen Henri van Kol, seperti dikutip Baay.
- Kembalinya Trah Ken Angrok di Periode Akhir Majapahit
WISNUWARDHANA naik takhta didampingi Narasinghamurti sebagai pembantu utama raja. Keduanya memerintah bagaikan dua naga dalam satu lubang yang membawa damai di negeri Singhasari. Antara keturunan Tunggul Ametung dan keturunan Ken Angrok untuk sementara tak lagi berebut panggung. Namun, asal-usul itu kembali dianggap penting ketika Kerajaan Majapahit mencapai ujung kisahnya. Sebelumnya, keturunan Tunggul Ametung dan keturunan Ken Angrok saling curiga dan saling tusuk demi duduk di singgasana. Sampai Wisnuwardhana, keturunan Tunggul Ametung dan Ken Dedes, memerintah bersama Narasinghamurti, keturunan Ken Dedes dan Ken Angrok. “Kekuatan yang dibangun segitiga. Ken Dedes di tengah, Ken Angrok di kanan, Tunggul Ametung di kiri, sampai kemudian (menurunkan, red.) Kertanagara lalu Majapahit,” kata Dwi Cahyono, dosen sejarah Universitas Negeri Malang.
- Hoaks, Tantangan Pemuda Masa Kini
PERKEMBANGAN teknologi informasi memudahkan hidup kaum muda. Hari-hari ini mereka menikmati hidup yang lebih nyaman ketimbang generasi sebelumnya. Tetapi hidup nyaman juga menjadi tantangan besar bagi anak muda dalam menjalankan perannya sebagai penjaga persatuan bangsa. “Musuh kehidupan yang luar biasa adalah kehidupan yang baik,” kata Alissa Wahid, aktivis sosial Jaringan Gusdurian, dalam talkshow ‘Peran Pemuda Dalam Sejarah Bangsa’ di pelataran parkir gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, 28 Oktober 2018. “Bingung ya, kalian?” tanya Alissa kepada puluhan peserta talkshow . Sebagian besar mereka siswa sekolah menengah atas dari berbagai daerah di Indonesia. “Kalau hidup kita nyaman, hidup kita enak, kita menikmati saja hidup itu sehingga tidak bisa mencapai hal-hal yang luar biasa,” lanjut Alissa. Alissa menerangkan perbedaan kehidupan pemuda zaman ini dengan pemuda lampau. Menurut Alissa, pemuda pada masa lampau memiliki kehidupan yang lebih sulit daripada pemuda sekarang. Alissa mencontohkan kehidupan pemuda pada zaman penjajahan. Informasi dikuasai sekelompok orang, pendidikan masih terbatas, dan teknologi belum berkembang. Keadaan terjajah menambah beban hidup kaum muda. Pemuda dari satu suku dengan suku lainnya pun saling curiga. Keadaan yang tidak enak itu mendorong kaum muda untuk mengubahnya. Kaum muda punya cita-cita bersatu. Persatuan modal penting untuk menuju cita-cita yang lebih besar, yaitu kemerdekaan. Wujud tekad bersatu tertuang dalam Sumpah Pemuda 1928. Hasilnya kelihatan pada 1945. Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Kaum muda kembali berperan dalam periode ini. Setelah merdeka, tugas kaum muda adalah menjaga persatuan. “Kita sekarang sudah bersatu. Tapi jangan dianggap bersatunya Indonesia itu dengan sendirinya akan selamanya seperti itu,” tambah Alissa. Dia menceritakan bangsa yang gagal menjaga persatuan. “Dulu ada negara namanya Yugoslavia. Presidennya, Josep Broz Tito, ikut memprakarsai gerakan Non-Blok bersama Presiden Sukarno. Tapi sekarang negara itu sudah tidak ada karena terpecah-belah,” kata Alissa. Pembicara lain, Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud, turut memaparkan pentingnya kaum muda merawat persatuan. “Keinginan untuk bersatu itu, mau tak mau, harus terus dipupuk, ketika kita menyadari bahwa kita tidakbisa sendirian di atas muka bumi ini,” kata Hilmar. Hilmar memandang persatuan tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan muncul dari kinginan bersatu. Sejarah Sumpah Pemuda 1928 dapat menjadi patokan bagi pemuda masa sekarang dalam memenuhi tugasnya. “Dengan mengingat dasar sejarah. Ya, itu dasarnya. Jadi sekarang ini, kita mau tahu bangsa ini mau ke mana, dan segala macam, tidak usah ke mana-mana. Lihat perjalanan sejarahnya saja,” lanjut Hilmar. Menurut Hilmar, Sumpah Pemuda 1928 tak berhenti sebatas tiga pernyataan saja: kebangsaan, tanah air, dan bahasa. Sumpah Pemuda 1928 mengamanatkan kepada generasi depan agar terus memperkuat tiga pernyataan itu. “Di dalam pernyataan itu dibilang, bahwa apa yang disumpahkan itu, dari waktu ke waktu, mesti terus diperkuat. Jadi jangan dikira kalau Sumpah Pemuda dibaca, urusannya sudah selesai. Dibilang di situ, bahwa apa yang disumpahkan itu harus diperkuat,” terang Hilmar. Pemuda dan Hoaks Upaya kaum muda sekarang untuk memperkuat Sumpah Pemuda 1928 tak pernah gampang. Hidup mereka sekarang memang jauh lebih mudah daripada generasi sebelumnya. Tetapi tantangan mereka juga berat. Salah satu tantangan besar itu berupa percepatan arus informasi dan berita di media sosial. Tak jarang banyak informasi dan berita palsu (hoaks). “Repotnya lagi, karena hoaks dibikin dengan sengaja, tujuannya bukan untuk membuat orang hidupnya jadi lebih baik, melainkan supaya saling curiga,” kata Ratih Ibrahim, pembicara dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo). Hoaks di media sosial kerap kali menimbulkan perpecahan masyarakat. Isu-isu sektarianis menjadi bahan bakar paling mudah untuk menyulut amarah kaum muda. “Jika sudah begitu, cita-cita Indonesia tetap langgeng jaya selama-lamanya yang diusahakan para pemuda masa lampau, Sumpah Pemuda, bisa bubar,” ungkap Ratih. Ratih mengingatkan kaum muda agar mengendalikan jarinya. Menyebarkan informasi salah itu mudah, tapi memperbaiki pikiran rusak itu sulit. “Tahan jempol kita, periksa dulu sebelum share ,” pinta Ratih. Sebab dampak hoakspada pikiran anak muda cukup gawat. Hoaksakan merusak cara pikir anak muda. “Kebayang tidak kalau tiap hari kita sebarkan hoaks? Lama-lama pikiran kita akan terjejali berita bohong,” lanjut Ratih. Segala sesuatu akan dianggap benar. Daya kritis pun menumpul. Ratih berbagi tips untuk lawan hoaks. “Kaum muda harus resourceful . Bagaimana caranya? Dengan membaca,” kata Ratih. Membaca sumber-sumber terpercaya turut melatih orang berpikir kritis, tidak mudah percaya pada hasutan dan informasi serampangan. “Semakin tinggi literasi seseorang, semakin sulit dibohongi,” kata Ratih. Pada akhir talkshow , ketiga pembicara mengatakan Indonesia 20-30 tahun mendatang akan sangat bergantung pada anak muda hari ini. “Pemuda Indonesia 1928 tahu persis mau ke mana bangsa ini. Orang sekarang bilang visioner, pandangan jauh ke depan,” kata Hilmar. Sekarang giliran kaum muda hari ini menentukan arah bangsa ke depan. “Dua puluh tahun lagi, kamu itu ada di mana? Melakukan apa? Kontribusimu, peranmu di dalam bangsa dan negara ini, sebelah mana? Tak perlu dijawab sekarang, tapi kamu pertanyakan terus di dalam hati,” kata Hilmar menutup talkshow .
- Di Kalijati, Kekuasaan Belanda Diakhiri
TAK seperti Jalan Raya Kalijati-Subang di depannya yang ramai, suasana di Pangkalan Udara (lanud) Suryadarma Rabu (17/10/18) siang itu amat tenang. Hilir-mudik kendaraan jarang. Yang terlihat hanya beberapa mobil sipil atau sepeda motor para istri prajurit AU yang tinggal di pangkalan untuk mengantar-jemput anak sekolah atau ke luar untuk satu keperluan. Cuaca terik siang itu membuat para personil POM-AU yang berjaga di gerbang masuk lebih memilih duduk-duduk di dalam pos. Satu-satunya yang agak sibuk, seorang prajurit petugas buka-tutup portal. Tujuh puluh enam tahun silam, suasana Lanud Kalijati amat sibuk saat Perang Pasifik berkecamuk. Lanud Kalijati jadi rebutan pasukan Jepang dan Sekutu dalam Pertempuran Kalijati. Kesibukan, disebabkan oleh keresahan akibat kabar bakal datangnya serangan Jepang, di dalam lanud bahkan telah meningkat jauh sebelum perang dimulai. Keresahan itu diingat betul oleh Utami Suryadarma, istri Soeriadi Suryadarma (KSAU pertama), yang kala itu tinggal di dalam lanud. “Di Kalijati, para istri opsir diwajibkan memilih salah satu kegiatan dalam membantu persiapan perang. Bersama beberapa istri kolega suamiku, saya memilih dipekerjakan di rumah sakit,” tulis Utami dalam buku hariannya, Saya, Soeriadi, dan Tanah Air . Gerbang untuk Kuasai Jawa Di bawah guyuran hujan malam pergantian 28 Februari ke 1 Maret 1942, 3000-an personil Tentara ke-16 AD Jepang dari resimen ke-230 yang dipimpin Kolonel Toshishige Shoji mendarat di pantai Eretan Wetan, Indramayu, Jawa Barat. Mereka langsung bergerak cepat untuk merebut Lanud Kalijati, sekira 34 kilometer dari pantai. Tentara ke-16 Jepang di bawah Letjen Hitoshi Imamura menganggap Kalijati adalah kunci. Selain gerbang menuju Bandung, tempat pusat militer Hindia Belanda berada, tulis Bill Yenne dalam The Imperial Japanese Army: The Invicible Yeras 1941-1942 , “Kalijati adalah salah satu fasilitas penerbangan terbaik di Jawa saat itu.” “Pihak militer Jepang sangat membutuhkan Pangkalan Udara Kalijati untuk mendukung angkatan daratnya. Mereka tidak mungkin hanya mengandalkan dukungan udara dari pangkalan udara di Sumatera atau Kalimantan yang jaraknya cukup jauh,” tulis Dede Nasrudin dan Wawan Joehanda dalam Palagan Maguwo dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia 1945-1949 . Namun, Kalijati justru kurang diperhatikan oleh Sekutu (KNIL dan militer Inggris di Jawa). “Penderatan di Eretan Wetan tidak diperhitungkan. Khususnya di musim hujan, daerah pesisir dekat lokasi ini dengan ombaknya yang tinggi kurang cocok untuk operasi pendaratan,” tulis PC Boer dalam The Loss of Java: The Final Battles for the Possession of Java . “Perintah resmi dari markas Sekutu adalah, Kalijati tidak dalam bahaya serangan darat Jepang,” tulis Bill . Anggapan itu membuat Militaire Luchvaart (ML/AU Hindia Belanda) dan Royal Air Force (RAF/AU Inggris) hanya menempatkan pasukan kecil untuk menjaga Lanud Kalijati. “Di Kalijati, pertahanan berada di tangan Inggris di bawah Grup Kapten George Frederick Whitsondale dari RAF. Pertahanannya disesuaikan dengan serangan udara, bukan serangan darat, dan senjata terbesarnya ada pada dua baterai anti pesawat terbang. Selain itu, para penjaga di darat terdiri dari sekitar 350 pasukan Inggris dan awak darat RAF, dan skitar 150 infanteri KNIL yang semua hanya bersenjatakan senapan dan senapan mesin,” sambung Bill. Gerak-maju pasukan Shoji pun hampir tak menemui kesulitan kecuali dari bombardir udara singkat Sekutu ke pantai Eretan Wetan. Sebelum tengah hari, Lanud Kalijati telah mereka capai. Dengan dukungan artileri dan tank plus bombardir udara, mereka langsung menyerbu lanud. Pasukan Sekutu di lanud terkaget-kaget. Upaya mati-matian mereka mempertahankan lanud gagal. Pukul 12.30, lanud sudah dikuasai pasukan Shoji dari batalyon Major Mitsunori Wakamatsu. Sekira sepertiga pesawat Sekutu, termasuk pesawat tempur Hawker Hurricane, di lanud itu terbakar hebat. Kecuali yang tewas atau tertawan, pasukan Sekutu di Kalijati dan Subang langsung mundur ke arah Bandung. Mereka diburu pasukan Shoji yang melanjutkan gerak maju ke arah Bandung lewat Subang dan Ciater. Keesokannya, 2 Maret, pertempuran pecah di Subang. Pasukan lapis baja KNIL di bawah Kapten GJ Wulfhorst dan pasukan infanteri ke-5 KNIL yang dipimpin Mayor Carel J Teerink melancarkan serangan balik. Pertempuran berlangsung sengit. Tapi karena direncanakan tergesa-gesa, serangan balik Sekutu akhirnya dipatahkan. KNIL dipukul mundur. Pasukan Shoji melanjutkan gerak majunya dan kembali terlibat pertempuran di Ciater Pass. Pada 2 Maret petang, pesawat-pesawat Hiko Dan (brigade udara) 3 Jepang dari berbagai jenis tiba di Lanud Kalijati dari Palembang. Kedatangan mereka merupakan bagian dari ofensif Tentara ke-16 di barat Jawa. Namun, belum lama pesawat-pesawat itu menapakkan roda di bumi Kalijati, mereka hancur oleh bombardir udara yang dilancarkan Skuadron 242 RAF dan ML. Jepang tak hanya menderita kehilangan banyak pesawatnya tapi juga landas pacu utama Lanud Kalijati rusak oleh bombardir itu. “ML dan RAF memberi brigade udara Jepang kesulitan di Kalijati pada saat genting (di malam tanggal 2 Maret dan pagi 3 Maret) dan faktanya ada superioritas udara lokal Sekutu sampai sekitar jam 11.00 tanggal 3 Maret,” tulis Boer. Pertempuran dahysat kembali pecah di sekitar Lanud Kalijati. Pasukan Sekutu bahkan bakal mendapat tambahan pasukan dari Infanteri ke-15 dan Infanteri ke-14. Dari Bandung, komandan resimen infanteri ke-2 Kolonel Toorop mengerahkan satu batalion infanterinya yang didukung kendaraan lapis baja Kavaleri ke-1 dan artileri ke Kalijati. Sayang, belum lagi pasukan penyerbu itu mencapai Kalijati, Sekutu kecolongan lebih dulu oleh bombardir udara Jepang ke Lanud Andir. Para teknisi pasukan Jepang di Kalijati bergerak cepat memperbaiki landasan setelah bombardir Sekutu. Sisa pesawat yang ada langsung diterbangkan sekitar pukul 10.30 pagi 3 Maret. Bombardir udara oleh pesawat-pesawat itu membuat Lanud Andir lumpuh dan ditutup. Pasukan darat Sekutu pun tak jadi mendapat dukungan udara. Moril pasukan Sekutu langsung terjun bebas. Bandul keberuntungan kembali bergeser ke pihak Jepang. Lepas dari tengah hari, tujuh pesawat Ki-51 dan enam pesawat Ki-48 Jepang mulai membombardir pasukan-pasukan Sekutu yang menuju Kalijati tadi. “Hasilnya adalah, kedua konvoi (pasukan Sekutu – red .) itu sepenuhnya terperangkap di jalan terbuka dengan sawah di kedua sisi jalan yang berjarak sekitar lima kilometer. Konvoi itu kemudian diserang. Dalam beberapa menit, jalan dipenuhi kawah bom dan puluhan truk terbakar, kontainer amunisi meledak dengan gemuruh. Jumlah korban tewas terbatas tapi amat banyak yang terluka. Banyak dari mereka merangkak menuju saawh mencari tempat perlindungan. Pasukan Infanteri ke-10 musnah bersama truk-truk dan sebagian besar peralatan serta senjatanya. Hasilnya adalah kekacauan besar di jalan,” tulis Boer. Selesainya Pertempuran Kalijati yang diikuti gerak maju pasukan Jepang membuat Panglima besar KNIL Letjen Hein ter Poorten langsung mengadakan rapat dengan Mayjen Hervey Sitwell (Panglima Inggris di Jawa) membahas langkah-langkah yang paling mungkin diambil. Saran Sitwell agar KNIL bergerilya ditolak Poorten lantaran kuatnya gerakan kemerdekaan Indonesia tak memungkinkan gerilya dilakukan. “Dalam kondisi tersebut, ter Poorten dan gubernur jenderal, ditemani Mayjen JJ Pesman (komandan garnisun Bandung), menuju utara ke bekas pangkalan udara Belanda di Kalijati. Di sini, pada sore 8 Maret, mereka bertemu dengan musuh, bukan dalam pertempuran tetapi dalam kapitulasi,” tulis Bill.
- Sukarno Bilang Islam Sontoloyo
PRESIDEN Joko Widodo berseru agar rakyat berhati-hati. Katanya, banyak politikus yang baik tapi juga banyak politikus yang sontoloyo. Jokowi jengkel lantaran kebijakan pemerintah yang akan mengucurkan dana kelurahan dikaitkan dengan kampanye pemilihan presiden mendatang. Pernyataan itu dilontarkan presiden saat menghadiri penyerahan sertifikat tanah untuk rakyat di Lapangan Ahmad Yani, Jakarta (23/10). Kata "sontoloyo" kemudian menjadi viral dan ramai diperbincangkan. Banyak yang mempertanyakan kepatutan presiden perihal ujarannya yang bernada umpatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sontoloyo berarti konyol, tak beres, bodoh. Ini dipakai sebagai kata makian. Kata yang sama juga pernah dipakai Sukarno, presiden pertama RI. Si Bung tak tanggung-tanggung. Dia membubuhkan kata itu di samping nama agama. Pada 1940, Sukarno menulis artikel di Majalah Pandji Islam berjudul “Islam Sontolojo”. Kontroversi? Jelas. Tapi apa yang ada dalam benak Sukarno hingga terbersit kata sontoloyo?
- Legiun Asing Persebaya
ALKISAH di suatu petang pada 1996. Stadion Gelora 10 November Tambaksari, Surabaya tribunnya dipenuhi Bonek, menyaksikan laga bertajuk “Derby Surabaya” Persebaya vs Assyabaab Salim Group Surabaya (ASGS). Sialnya, getir dirasakan Bonek. Persebaya kalah 1-4 dari ASGS yang kala itu dibesut Rusdy Bahalwan. Persebaya yang diperkuat tiga pemain asing pertama mereka tak mampu berbuat banyak. Padahal, salah satunya, Plamen Iliev Kazakov, memberi asa dengan membuka skor lebih dulu. Namun, ASGS akhirnya membalas empat gol lewat Putut Wijanarko (2 gol), Ali Sunan, dan Gunung Ginting. Kazakov yang berpaspor Bulgaria jadi satu di antara tiga pemain asing pertama Persebaya sejak 1995. Dia direkrut lewat perantara ISA (International Sports Agency) besutan Angel Ionita. ISA juga mendatangkan pelatih asing pertama Persebaya di momen yang sama. “Dua lainnya itu Dejan Antonic (Serbia, dulu Yugoslavia) dan Nadoveza Branko (Montenegro, dulu Yugoslavia). Ketika itu Persebaya lagi senang-senangnya dengan pemain dari Balkan. Plus pelatihnya juga (Alexander Dimitrov Kostov) dari Bulgaria. Tapi dari tiga itu yang bertahan dan jadi topskorer sampai akhir musim dengan 16 gol, hanya Plamen (Kazakov). Yang lainnya diganti pemain asing lain,” terang sang penulis kepada Historia. Ada satu hal unik dari Kazakov di laga kontra ASGS itu. Tak banyak yang tahu bahwa sepanjang laga Kazakov bermain dengan mengenakan jam tangan! Ofisial pertandingan sepertinya khilaf. Pasalnya, tali jam tangan Kazakov berwarna coklat muda, begitu menyatu dengan kulitnya. Eladalah …! Kisah Kazakov ini hanya seujung kuku dari sekian kisah dalam buku Persebaya and Them: Jejak Legiun Asing Tim Bajul Ijo karya Dhion Prasetya ini. Dhion merupakan karyawan Ditjen Bea Cukai Surabaya yang sejak kecil menggilai Persebaya. Saking “gilanya”, dia menuangkan kisah-kisah seputar pemain Persebaya ke dalam buku yang diterbitkan Indie Book Corner dan diproduksi serta distribusikan oleh Surabaya Punya Cerita ini. Yang Pertama Bisa dibilang, buku ini merupakan katalog pesepakbola asing dari segala penjuru bumi yang pernah berseragam Persebaya. Bukan hanya itu, buku sejenis yang menghimpun ulasan serupa dari klub-klub lain juga belum ada. Gagasan untuk menghimpun serta meriset data dan mengulas 73 pemain plus delapan pelatih asing ini sudah terbersit sejak 2008. Namun, buku baru bisa diluncurkan pada Sabtu (20/10/2018) di Sunday Market, Surabaya Town Square setelah Dhion melengkapi data selama empat bulan dan menjalani proses editing hingga finishing ilustrasi dan cover selama 11 bulan. “Saya ingin kepingan puzzle yang berserakan terkait Persebaya bisa terkumpul sehingga bisa merepresentasikan sebagian sejarah Persebaya untuk generasi mendatang. Karena tak banyak suporter yang ingat dengan para pemain asing mereka. Paling hanya nama-nama tertentu saja. Persebaya sebagai klub besar dan berusia tua, sudah seharusnya mengingat sepak terjang mereka,” ujar Dhion. Segenap data Dhion sebagian dipetik dari beberapa arsip media massa, memori kolektif pribadi. Lainnya dari hasil wawancara. “Risetnya ada yang murni dari ingatan saya sendiri. Kebetulan saja juga punya data para pemain asing itu. Ada juga menghubungi si pemain langsung, baik via telefon maupun media sosial. Seperti Plamen Kazakov, (Juan Marcelo) Cirelli, dan Jacksen (Ferreira Tiago),” lanjutnya. Sosok Papi Jacko Nama terakhir, Jacksen F. Tiago, mendapat porsi lebih banyak. Sebab, pria Brasil yang akrab disapa Papi Jacko itu sudah melegenda tak hanya bagi Persebaya tapi juga dalam persepakbolaan Indonesia. Jacko seorang asing tersukses dalam persepakbolaan nasional. Sebagai pemain, dia berhasil mengantarkan Persebaya menjuarai Liga Indonesia 1996/1997. Sebagai pelatih, dia membawa Persebaya juara Divisi I 2003, Divisi Utama 2004, dan membawa Persipura juara Indonesia Super League 2008/2009, 2010/2011, dan 2012/2013. “Selama bermain di Indonesia, saya pernah bermain di tiga klub berbeda. Masing-masing memiliki arti tersendiri di hati. Tetapi dengan Persebaya, saya harus akui memiliki nuansa berbeda. Terutama karena loyalitas tanpa batas dari keluarga besar Bonek. Begitu istimewanya Persebaya maupun Kota Surabaya. Saya bangga bisa jadi bagian dari buku ini dan sejarah Persebaya,” kata Jacksen sebagaimana diungkap Dhion dalam buku ini. Overall, buku ini menarik untuk dibaca santai sambil menambah pengetahuan persepakbolaan nasional. Tidak hanya bagi penggila Persebaya namun juga warga sepakbola nasional. Lebih menarik lagi, banyak kisahnya disajikan dengan gaya bahasa Suroboyo-an sehingga tak melulu serius. Mata pun dimanjakan dengan sisipan infografis tentang jumlah dan asal negara para pemain asing Persebaya. Yang cukup unik dan jarang ditemukan dalam buku lain, penambahan “rubrik” Trivia Time, memuat tanya-jawab tentang para legiun asing Persebaya, di dua halaman depan sebagai pengenalan awal. Sayangnya, buku ini tidak memiliki indeks sehingga pembaca mesti berjuang lebih keras untuk mendapatkan apa yang dicari. “Iya, lali (lupa),” tutup Dhion.*
- Gempur-menggempur di Malang Timur
TAMAN bin Muhammad Tohir begitu antusias menceritakan pengalaman masa mudanya. Saking antusiasnya, lelaki tua itu sampai mohon diri sejenak untuk mengganti kaosnya dengan seragam kebanggaannya, seragam biru muda dengan sederet tanda penghargaan di dada kiri plus baret jingga TNI AU di kepala, sebelum melanjutkan cerita. Seragam itulah simbol pengabdiannya pada negeri. Pengabdiannya dimulai ketika Perang Kemerdekaan pecah tak lama setelah proklamasi. Taman yang kala itu anggota Brigade 13 Divisi Untung Suropati TNI Angkatan Darat, ikut bergerilya di Malang. Meski sudah lebih dari 70 tahun, Taman masih ingat betul kisah sebuah pertempuran di Tumpang, Malang, Jawa Timur. Bersama pasukan dari bagian Teknik AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, kini TNI AU), dia ikut beradu nyawa berbekal sten gun meladeni serdadu Belanda, medio Juli-Agustus 1947. Pertempuran itu terjadi di Kota Malang sepekan pasca-Agresi Militer I (21 Juli 1947). Sekira sebulan, Koninklijke Landmacht (KL) atau Angkatan Darat Belanda dan Mariniersbrigade atau Marinir Belanda “kucing-kucingan” dengan pasukan republik. Kedua pasukan akhirnya terlibat pertempuran dahsyat pada 31 Agustus 1947 di front Malang timur. Gerilya dan pertempuran tak hanya dilakoni oleh Divisi Untung Suropati tapi juga dilakoni unsur Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI, kini TNI AU) pimpinan Opsir Muda Udara (OMU) III Hanandjoeddin, putra Belitung yang mengepalai Bagian Teknik Pangkalan Bugis Malang (kini Lanud Abdulrahman Saleh Malang). “Agustus 1947 itu terjadi pertempuran besar di Front Malang Timur. Saya sendiri dari Brigade 13 Divisi Untung Suropati. Pak Hanandjoeddin hubungannya dekat dengan komandan saya, Letkol Zainal Abidin. AURI waktu itu basisnya di Kewedanan Tumpang. Di situ Pak Hanandjoeeddin Komandan Sektor I-nya. Bahu membahu kita, sama ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia, kini TNI AL) juga ada, pimpinan Pak Warouw di Tumpang itu,” kenang Pelda (Purn.) Taman bin Muhammad Tohir kepada Historia. Di front tengah, menurut Haril M. Andersen dalam Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI , formasi pasukan republik diisi Brigade Mobile (Brimob), Laskar Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), kesatuan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Sementara, front barat jadi tanggungjawab TRIP Batalyon 5000. Hanandjoeddin memimpin Pasukan Pertahanan Teknik dari PPU III/930 Malang, sebuah unit tempur para teknisi AURI Lanud Bugis yang dipimpin OMU II Soedirman. Gara-Gara Mata-Mata Melihat situasi kian gawat akibat Belanda merangsek ke kota dan pasukan republik kalah persenjataan, Hanandjoeddin mengarahkan 250 personelnya untuk mundur guna menggulirkan taktik gerilya di kampung-kampung di Kewedanan Tumpang. “Banyak mata-mata di Malang, utamanya di front kami (Front Malang Timur). Mereka kepala dua itu. Orang-orang Tionghoa. Mereka pura-pura mendukung kita, tapi sebetulnya memihak Belanda. Pak Hanandjoeddin ini sering diikuti mata-mata,” ingat Taman yang berpangkat kopral ketika ikut bertempur di front Malang Timur. Pelda (Purn) TNI AU Taman bin Muhammad Tohir (91 Tahun) Gara-gara mata-mata itu, pasukan Hanandjoeddin urung melancarkan serangan balik ke sebuah markas Belanda di kota. Rencananya sudah bocor duluan. Ditambah lagi, Hanandjoedin sempat terciduk Belanda kala tengah bergerilya di Kampung Pakis, 30 Juli 1947. Dia sengaja menyerahkan diri demi mengalihkan perhatian Belanda agar sisa regunya bisa meloloskan diri. “Sekompi Marinir Belanda dengan kendaraan-kendaraan tempurnya mengepung Kampung Pakis menjelang senja. Pak Anan (sebutan Hanandjoeddin) tertangkap di sebuah rumah penduduk. Dia dibawa dan ditahan di Singosari untuk diinterogasi,” sambung Haril. Lantaran menolak membelot untuk KNIL (Koninklijke Nederlandsch Indische Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda, Hanandjoeddin mengalami penyiksaan psikis dan fisik. Eksekusi mati jadi konsekuensinya karena ogah membelot. Tengah malam saat sudah berganti tanggal, Hanandjoeddin hendak dibawa ke sebuah “ladang” eksekusi. Tapi saat akan dinaikkan ke truk, fenomena ganjil berupa asap putih tebal tiba-tiba menyelimuti halaman markas. Hanandjoeddin langsung memanfaatkannya dengan melarikan diri meski kedua tangannya terborgol. “Dalam keadaan kritis pistol di kepala dan laras sten gun di perut, datang pertolongan Allah,” kenang Hanandjoeddin dalam buku catatannya tahun 1964 yang dikutip Haril. Hanandjoeddin berhasil mencapi ke batas kota meski sejumlah luka menghiasi wajah dan sekujur tubuhnya akibat penyiksaan kala diinterogasi. Dia kemudian bisa menemui sisa pasukannya. “Seakan ada kekuatan gaib yang memberinya tenaga tambahan. Rupanya berasal dari ilmu spiritual Hanandjoeddin yang pernah berguru dengan Haji Hasyim, ayah angkatnya beberapa tahun sebelumnya di Gunung Membalong, Pulau Belitung,” sebut Haril. Balas Menggempur Menanggapi keagresifan pasukan Belanda yang terus maju, pasukan Pertahanan Pangkalan Udara (PPU) III mengupayakan serangan balasan. Setelah melakukan konsolidasi ulang, hal pertama yang dilakukan pasukan AURI dan Brigade 13 adalah melakukan pembersihan terhadap mata-mata. “Kita usir, kita bakar rumahnya. Saya sendiri ikut membakar satu rumah mata-mata itu,” sambung Taman. Laporan intelijen menginformasikan, pasukan Belanda telah merencanakan serangan lagi ke arah Kampung Bugis, Kawedanan Tumpang, menggunakan sejumlah Amtrack-nya. Pasukan PPU III selaku “tuan rumah” pun menjawabnya dengan memasang ranjau di jalan-jalan utama yang mengarah ke Kampung Bugis. Pada 31 Agustus 1947, penantian mereka terentaskan. Beberapa truk dan Amtrack Belanda lumpuh oleh ranjau-ranjau republik. Belanda yang meneruskan agresinya melalui darat dan udara, mulai menemui perlawanan dahsyat di front timur. “Dari semak-semak belukar pasukan AURI melancarkan tembakan dan serangan granat. Meriam PSU (Penangkis Serangan Udara) bekas Jepang juga dikeluarkan untuk melawan serangan pesawat-pesawat Belanda,” lanjut Haril. Hanandjoeddin dan satu regu pasukannya sempat mengalami kondisi kritis kala terkepung di batas wilayah Wates dan Tumpang. “Pasukan Pak Hanan terkurung di kebun tebu selama berjam-jam. Kondisi sudah tak karuan, makanan juga sulit. Perlawanan habis-habisan di sana sampai empat anak buahnya gugur. Wakilnya Pak Hanan, Sersan Supandri, juga kena tembak di pundaknya,” kata Taman. Emosi lantaran beberapa anak buahnya gugur, Hanandjoeddin nekat melancarkan serangan untuk menembus kepungan Belanda menggunakan mitraliur tiong. Mentalnya anak buahnya yang sempat jatuh sontak bangkit lagi. Berondongan tembakan Hanandjoeddin dan pasukannya berhasil merobohkan satu garis kepungan Belanda. “Pasukan Belanda kaget hingga kendor mentalnya. Mereka pun dipaksa mundur dari area pertempuran,” imbuh Haril. Situasi berbalik seiring makin gelapnya hari. Tentara Belanda yang kocar-kacir mundur dari perkebunan tebu, kini dikejar pasukan AURI dan Brigade 13. Sayang, Belanda mampu lari lebih cepat. Pengejaran pun dihentikan mengingat keadaan pasukan sudah mulai kepayahan. “Kemudian datang SMU (Sersan Muda Udara) S Soekani menanyakan situasi pertempuran. Mereka ramai melihat keadaan kami yang pakaian banyak terkoyak, compang-camping saat baku tembak dengan Belanda. Tapi tak satupun dari kami yang luka. Kami pun dikira kebal peluru,” tandas Hanan dalam buku hariannya. Meski gerilya tetap berjalan hingga Perjanjian Renville, 17 Januari 1948, pasukan AURI tak lagi terlibat dalam pertempuran besar seperti pada 31 Agustus 1947. Pasukan Hanandjoeddin lalu berpindah ke Campurdarat, Tulungagung setelah Renville. “Belanda sendiri baru meninggalkan Malang Timur pada 1950. Dua tahun kemudian saya minta pindah ke AURI meski pangkat saya diturunkan dari Kopral Dua menjadi Prajurit Dua AURI. Ya selain karena kagum dengan Pak Hanan, saya terkesan dengan penampilan prajurit AURI. Pakaiannya lima setel drill , pakai dasi, kacamata rayban dan gajinya Rp.90 saat itu,” terang Taman, veteran berusia 90 tahun yang kini menjabat Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) Tumpang, Malang dan Ketua Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara (PPAU) Ranting Tumpang.
- Cerita dari Stadion Gelora 10 November Surabaya
BANGUNAN stadion berbentuk oval bercat jingga kekuningan itu masih kokoh berdiri di seberang Taman Mundu, Jalan Tambaksari, Surabaya. Tak sulit untuk menerka bahwa gelanggang olahraga ini sudah melintas lorong zaman. Di atas gerbang utamanya tertulis plang nama yang mengingatkan pada perjuangan arek-arek Suroboyo : Stadion Gelora 10 November. Stadion ini satu dari sedikit ikon legendaris Kota Pahlawan, Surabaya. Tidak hanya jadi saksi bisu perjalanan sejarah persepakbolaan Surabaya, namun juga beragam kegiatan politik, budaya, hingga keagamaan. Tak heran sejak 22 tahun lampau ia ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) bernomor urut 44 lewat Surat Keputusan Walikota Nomor 188.45/251/402.104/1996, sebagaimana yang tertera dalam Prasasti Lapangan Tambaksari. Ya, stadion ini mulanya bernama Lapangan Tambaksari. Belum ada yang tahu kapan pastinya Lapangan Tambaksari lahir. Menurut beragam literatur yang ditelusuri, Lapangan Tambaksari eksis sebagai sebuah kompleks olahraga bagian dari proyek pembangunan Kota Surabaya tahun 1907-1923. “Sejak awal sudah dinamakan Lapangan Tambaksari. Kompleksnya terbagi jadi tiga bagian. Lapangan A yang sekarang jadi Stadion Gelora 10 November, Lapangan B di sebelah selatan yang sekarang jadi Mess Persebaya, dan Lapangan C di sebelah timur yang sekarang jadi gedung olahraga,” terang pemerhati sejarah sepakbola Dhion Prasetya kepada Historia . Penulis buku Persebaya and Them: Jejak Legiun Asing Tim Bajul Ijo itu menambahkan, awalnya penampakan Lapangan Tambaksari belum seperti sekarang. “Ya hanya lapangan. Tribunnya sederhana, belum bertingkat seperti saat ini. Kalau bentuk aslinya hampir mirip dengan Stadion Gelora Pancasila (di Jalan Indragiri VI),” imbuhnya. Stadion Gelora 10 November saat Masih Bernama Lapangan Tambaksari pada 1950-an (Foto: Nieuwe Courant 15 Mei 1951) Pemerintah Hindia Belanda membangunnya untuk dipergunakan bagi orang-orang Belanda yang mulai keranjingan olahraga pada awal abad ke-20. Lapangan Tambaksari lalu dijadikan markas klub Soerabaiasche Voetbalbond (SVB). Meski dijadikan kandang SVB, lapangan ini pernah jadi saksi bisu aksi boikot kompetisi Stedenwedstrijden (kompetisi internal NIVB, federasi sepakbola Hindia Belanda) oleh para pendukung sepakbola nasional pada 1932. Aksi boikot itu bikin rugi kompetisi secara ekonomi. Sementara, beberapa bulan pasca-Proklamasi, Lapangan Tambaksari dijadikan tempat Rapat Samudera (rapat raksasa) untuk show of force terhadap Jepang yang mempertahankan status quo jelang kedatangan Sekutu. Baru sesudah penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949, Lapangan Tambaksari diambil-alih Persebaya dan lima tahun berselang direnovasi untuk dijadikan stadion. Mengutip suratkabar De Nieuwsgier 15 September 1954, renovasinya diketuai arsitek seorang Tionghoa Ir. Tan Giok Tjiauw. Dibuka secara resmi dengan nama Stadion Tambaksari pada 11 September 1954 oleh Walikota Moestadjab Soemowidagdo. Untuk meramaikan peresmiannya, dua laga persahabatan dihelat: Tiong Hwa Soerabaja vs West Java (tim A) yang berakhir 1-3 untuk West Java dan Persibaja (nama lawas Persebaya) vs West Java (tim B) yang berkesudahan 5-2 untuk tuan rumah. Berganti Nama Jelang Pekan Olahraga Nasional (PON) VII 1969, Tambaksari kembali dipercantik. Tribunnya direnovasi jadi bertingkat. “Renovasinya berjalan hampir setahun untuk persiapan PON. Dana renovasinya dari undian Lotto Surya (Lotere Totalisator Surabaya). Berbau judi memang, tapi karena waktu itu kan (panitia penyelenggara) enggak ada dana, ya diambilnya dari situ,” sambung Dhion. Stadion Gelora 10 November Diresmikan Menjelang PON 1969 (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Uniknya, renovasi stadion tak menghilangkan beberapa pohon angsana yang ada di sekitar lapangan. Pohon-pohon itu difungsikan sebagai atap alami mengingat panasnya cuaca Kota Surabaya. “Mungkin satu-satunya di dunia yang ada pohon-pohon di tribunnya,” ujar peneliti sejarah olahraga cum dosen Universitas Negeri Surabaya Rojil Nugroho Bayu Aji kepada Historia. Dalam peresmian renovasi itu, namanya ikut diganti. “Nah, saat peresmian, namanya berganti jadi Stadion Gelora 10 November. Nama yang diambil dari spirit perjuangan arek-arek Suroboyo pada Pertempuran 10 November 1945,” sambung Rojil . Penulis buku Tionghoa Surabaya dalam Sepakbola: 1915-1942 dan Mewarisi Sepakbola, Budaya dan Kebangsaan Indonesia itu menambahkan, seiring waktu stadion itu selain jadi markas tim Persebaya –sampai 2017 sebelum pindah ke Gelora Bung Tomo– juga menjadi magnet bagi beragam kegiatan akbar di Kota Pahlawan. Seperti, kegiatan rutin kebaktian bersama, Salat Idul Fitri, Pengajian Nuzulul Quran 1990, hingga konser World Tour band Sepultura pada 1992. Seni Relief Stadion Sepengamatan Historia, stadion gagah itu juga sarat pesona artistik. Relief yang menggambarkan sejumlah olahragawan dari berbagai cabang olahraga melekat di badannya. “Itu reliefnya yang bikin maestro seni rupa Tedja Suminar. Beliau seniman dari Akademi Kesenian Surakarta. Pembuatannya bersamaan dengan renovasi jelang PON 1969,” tutur pemerhati budaya Dhahana Adi Pungkas kepada Historia. Tedja Suminar alias The Tiong Tien (Foto: Koleksi Dhahana Adi, Surabaya Punya Cerita Vol. 1) Ipung, begitu biasa dia disapa, mengungkapkan dalam bukunya Surabaya Punya Cerita: Volume 1 , bahwa figur mendiang Tedja Suminar merupakan orang Tionghoa yang lahir pada 15 April 1936 dengan nama The Tiong Tien. Dia anak ke-10 dari saudagar palawija asal Ngawi The Kiem Liong. Sang maestro mengganti namanya jadi Tedja Suminar kala masuk Akademi Kesenian Surakarta pada 1957. “Ukiran relief di stadion itu hasil desain dari sketsa Tedja Suminar berdasarkan permintaan langsung dari Raden Soekotjo, walikota Surabaya saat itu dalam menyambut PON VII tahun 1969,” kata Ipung.
- Solusi Praktis Minum Teh
Teh kali pertama masuk ke Hindia Timur pada abad ke-17. C.P. Cohen Stuart, ahli tanaman pada Algemeen Proefstation Voor Thee , Buitenzorg, menyebut Andreas Cleyer, seorang peneliti alam dari Jerman, sebagai pembawa pertama perdu teh ke Jawa. Perdu teh itu berasal dari Jepang dan tumbuh dengan baik di Tanah Hindia. Kemudian asisten Andreas Cleyer membawa perdu teh itu ke Belanda untuk kepentingan penelitian pada 1687. Demikian keterangan Stuart dalam “Permulaan Budidaya Teh di Jawa” termuat di Sejarah Perusahaan-Perusahaan Teh Indonesia 1824–1924 , Johannes Camphuys, Gubernur Jenderal Hindia Timur 1684–1691, turut berhasil menanam teh di halaman rumahnya, di Batavia. J.H. van Emden dan W.B. Deijs dalam Perkebunan Teh , menyatakan teh tersebut berasal dari Tiongkok. Camphuys menanamnya sebagai hiasan dan kesenangan. Upaya mengubah orientasi penanaman teh di Hindia Timur terjadi pada 1728. Tuan-Tuan Tujuh Belas (Heeren XVII), para pemegang saham di Maskapai Dagang Hindia Timur (VOC), menyurati pemerintah VOC di Batavia tentang perlunya membudidayakan teh untuk perdagangan. Tapi pemerintah VOC di Batavia kurang berminat membudidayakan teh. Seratus tahun setelah surat Tuan-Tuan Tujuh Belas VOC, pembudidayaan teh untuk keperluan dagang baru terlaksana di tanah Hindia. Tapi VOC sudah bangkrut sejak 1799 sehingga semua urusan mengenai Hindia dipegang oleh pemerintah Kerajaan Belanda. Pieter Creutzberg dan J.T.M van Laanen dalam Sejarah Statistik Ekonomi di Indonesia mencatat bahwa pemerintah kolonial telah membuka perkebunan teh di Jawa Barat sepanjang 1833—1838. “Pada tahun 1835 teh Hindia Belanda untuk pertama kali masuk ke pasaran Amsterdam,” tulis Creutzberg dan Van Laanen. Perkembangan selanjutnya muncul pada 1878. Masa ini mencatatkan pengenalan beraneka macam jenis teh dari Assam, India. Pengenalan ini tak lepas dari berakhirnya masa Tanam Paksa pada 1870 dan diganti oleh masa Undang-Undang (UU) Agraria 1870. UU ini membuka kesempatan luas bagi para pengusaha swasta untuk berinvestasi di Hindia Belanda. Pertumbuhan ekspor teh dari Hindia Belanda meningkat sepanjang 1890—1920. “Beberapa tahun kemudian pertumbuhan ini tercermin dalam angka-angka ekspor,” lanjut Creutzberg dan Van Laanen. Peningkatan ekspor teh seiring dengan peningkatan produksi teh untuk konsumsi dalam negeri di Hindia Belanda. Minum teh menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Mereka membuat miuman teh dengan menaruh daun teh dalam cangkir atau gerabah. Air panas dituang, lalu daun teh itu disaring. Hasil saringan itu kemudian disajikan pada sore hari. Teh berpadu dengan makanan Eropa seperti pannekuk , pudding , dan tart . Cara membuat teh seperti ini bertahan hingga 1960-an ketika orang Indonesia butuh cara lebih praktis untuk menghidangkan minuman teh. Seorang pengusaha bernama Johan Alexander Supit mulai berpikir tentang cara baru menyajikan minuman teh. Johan mengetahui bahwa cara baru menyajikan minuman teh telah berkembang di luar Indonesia. Orang tak perlu lagi menyaring teh, melainkan cukup dengan mencelupnya ke air hangat. Teh demikian dibungkus dalam kemasan khusus ( tea bags ). Permintaan terhadap teh jenis ini cukup besar. “Adanya permintaan besar akan teh celup itu juga mendorong timbulnya industri teh celup di Indonesia. Yang terkenal karena pertama-tama timbul dengan idea membuat teh celup itu adalah merek Sariwangi,” tulis James J. Spillane dalam Komoditi Teh: Peranannya dalam Perekonomian Indonesia . Sariwangi adalah jenama bikinan Johan Alexander Supit pada 1973. Sebelummya dia telah mendirikan perusahaan teh pada 1962. Teh celup Sariwangi kemudian diikuti oleh merek-merek teh besar lain.*





















