top of page

Hasil pencarian

9774 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pelukis Jadi Pahlawan Nasional

    SEJAK 1959, pemerintah Indonesia mulai memberikan gelar Pahlawan Nasional bagi para tokoh bangsa yang dianggap berjasa. Orang pertama yang mendapat gelar itu ialah Abdoel Moeis, seorang pejuang sekaligus sastrawan asal Solok, Sumatra Barat. Pada tahun yang sama diangkat pula bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara dan kakaknya R.M. Soerjopranoto, si raja mogok. Hingga 10 November 2020, Indonesia telah memiliki 191 Pahlawan Nasional. Namun, belum ada nama pelukis yang masuk dalam daftar itu. Isu inilah yang dipantik oleh sejarawan Asvi Warman Adam dalam Diskusi Publik Pra-Pameran Representasi #4 “Pahlawan Nasional dan Seni Rupa Tokoh Sejarah” yang diadakan oleh Pendhapa Art Space, Selasa, 7 September 2021. Asvi menyebutkan, beberapa sastrawan dan komponis telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Abdoel Moeis, selain seorang pejuang juga sastrawan. Ada pula Amir Hamzah, penyair yang meninggal dalam revolusi sosial di Sumatra Timur. Kemudian ada Muhammad Yamin dan Buya Hamka, selain politisi juga sastrawan.

  • Raden Saleh Melawan dengan Lukisan

    DI AWAL film Mencuri Raden Saleh (2022) seorang mahasiswa seni bernama Piko (Iqbaal Ramadhan), sedang asyik melukis ulang lukisan H. Widajat. Seniman muda itu mencari uang dengan memalsukan lukisan untuk membebaskan ayahnya dari penjara. Setelah lukisan palsu itu laku ratusan juta rupiah, Piko mendapat tawaran mencuri lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh Sjarif Boestaman (1811–1880) yang dijaga ketat di Istana Negara. Piko menerima tawaran itu dan membentuk tim yang terdiri dari Ucup (hacker), Sarah (atlet bela diri), Gofar (mekanik), Tuktuk (pembalap liar), dan Fella (bandar judi kampus). Masing-masing mengincar uang yang ditawarkan sebagai imbalan dari pencurian tersebut. Film yang skenarionya ditulis dan disutradarai Angga Dwimas Sasongko ini lalu bergulir seru. Film drama laga ini masuk dalam sepuluh film Indonesia terlaris tahun 2022 dengan meraup lebih dari dua juta penonton. Dalam Festival Film Indonesia 2022, film ini mendapatkan Penghargaan Ratna Asmara kategori Film Pilihan Penonton. Ratna Asmara adalah sutradara perempuan pertama Indonesia.

  • Raden Saleh Pulang Kampung

    PADA pertengahan abad 19, saat masyarakat bumiputera masih mengalami diskriminasi, dia dengan mudahnya berdansa-dansi dengan para bangsawan Eropa. Saat seniman tanah air belum mengenal aklirik untuk melukis, dia dengan asyiknya menggoreskannya di atas kanvas. Bakat melukisnya membuatnya diterima di tengah pergaulan kaum elite Eropa. "Di Jerman dia pernah diundang makan malam oleh Ratu Victoria. Itu luar biasa. Kalau diibaratkan saat ini, sama halnya diundang makan oleh Obama. Luar biasa, hebat, dan orang itu berasal dari sini, pelukis Jawa," kata kurator asal Jerman, Werner Kraus.  Menempuh pendidikan seni di Eropa, Raden Saleh Syarif Bustaman menjadi seniman Nusantara pertama yang melukis dengan disiplin lukis ala Barat. Dia mengembangkan teknik perspektif, kesempurnaan bentuk, proporsi, perwujudan yang fotorealistik, komposisi segitiga, dan juga nuansa klasik. Tak heran jika dia dinobatkan sebagai pelopor seni lukis modern Indonesia.

  • Fosil-fosil Raden Saleh

    NAMA Raden Saleh sempat menjadi trending di Twitter belum lama ini. Hal ini dikarenakan tayangnya film Mencuri Raden Saleh karya Angga Dwimas Sasongko. Film yang ditonton hingga 2,2 juta orang ini menceritakan tentang pencurian lukisan fenomenal karya Raden Saleh berjudul Penangkapan Pangeran Diponogoro. Lukisan tersebut hanya satu dari banyak karya Raden Saleh yang memiliki cerita menarik. Namun, sejatinya Raden Saleh bukan hanya berjasa dalam seni lukis, tapi juga punya jasa di bidang arkeologi. Oleh karena itulah Museum Manusia Purba Sangiran menampilkan sosok Raden Saleh dalam sebuah lukisan. “Lukisan tokoh Raden Saleh ada di ruang pamer kita, karena beliau ini (dalam kiprah soal, red.) masalah fosil di kita mungkin pionir dari bangsa kita beliau ini, meskipun beliau bukan arkeolog,” ujar Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran Iskandar Mulia Siregar kepada Historia.ID melalui Zoom.

  • 23 April 1880: Raden Saleh Meninggal Dunia

    RADEN Saleh disebut pelopor seni lukis modern Indonesia. Lukisan-lukisannya sangat dihargai di Indonesia dan dunia. Karya-karyanya yang berada di Indonesia diperkirakan tak lebih dari 20, di antaranya lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” dan “Berburu Singa” koleksi Istana Negara.  Pada 1829, Raden Saleh pergi ke Belanda untuk belajar seni dengan biaya pemerintah Belanda. Semula hanya akan sebentar, tetapi akhirnya Raden Saleh mengembara di Eropa (Belanda, Jerman, dan Prancis) selama 20 tahun. Sejarawan Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah menyebut selama di Jerman, Raden Saleh bersahabat dengan groothertog (adipati agung) van Saksen-Coburg-Gotha, saudara suami Ratu Victoria.

  • Pelopor Seni Lukis Modern Indonesia

    SUATU hari, beberapa pelukis muda Belanda yang sedang belajar, melukis bunga dan memperlihatkannya kepada Raden Saleh. Beberapa kumbang dan kupu-kupu hinggap di atasnya. Mereka mencemooh Raden Saleh. Panas dan terhina, diam-diam Raden Saleh menyingkir selama berhari-hari. Karena cemas, teman-temannya mendatangi rumahnya dan masuk dengan mendobrak pintu. Mereka menjerit. “Mayat Raden Saleh” terkapar di lantai berlumuran darah. Sebelum suasana bertambah panik, Raden Saleh muncul. “Lukisan kalian hanya mengelabui kumbang dan kupu-kupu, tapi gambar saya bisa menipu manusia,” ujarnya tersenyum. Raden Saleh adalah seniman Indonesia pertama yang melukis dengan disiplin Barat. Kelak ia dinobatkan sebagai pelopor seni lukis modern Indonesia.

  • Kejahatan Tokeitai di Balikpapan dan Sulawesi

    SEBAGAI daerah dengan banyak orang Belanda, Sulawesi Selatan di zaman pendudukan Jepang punya banyak orang Eropa yang menjadi tawanan perang. Mereka tersebar di berbagai kamp di Sulawesi Selatan.   Kampili adalah salah satu kamp di sana. Isinya perempuan dan anak-anak. Yang bertanggungjawab di sana Sersan Yamadji dan seorang pembantu yang bisa dipukuli Yamadji jika kinerjanya tidak sesuai standar dan harapan Yamadji.   Seorang bekas tukang daging yang juga jadi pemuka agama, yang disapa sebagai Bapak Beltjens, ditempatkan di sana. Ia sebelumnya ditugaskan di kamp Pare-pare. Bermodalkan beberapa ekor babi yang kakinya patah karena terguncang-guncang di atas truk waktu dalam perjalanan menuju kamp, sebuah peternakan babi lalu diadakan di dalam kamp itu.   "Dan saya menyembelih sebanyak mungkin ketika Yamadji sedang bepergian,” aku Bapak Beltjens di koran Limburgsch Dagblad tanggal 14 Maret 1963.   Daging babi tentu jadi hidangan mewah bagi orang-orang Eropa di masa sulit itu. Proteinnya amat berguna bagi tubuh para penghuni kamp yang umumnya kurang gizi.   Bagi Beltjens dan lainnya, Sersan Yamadji adalah orang baik. Hanya saja, alam pikiran fasisnya membuatnya sulit untuk berpikir jernih. Jika sedang berdebat, dia selalu berusaha mematikan lawan debatnya dengan ancaman. Pernah suatu kali Yamadji marah ketika kalah debat dari Beltjens.   “Kau menghinaku. Kau akan dihukum,” ancam Yamadji kepada Beltjens.   Sebagai kelanjutannya, tubuh Beltjens diikat pada sebuah tiang dan dijemur di bawah terik matahari di dekat kantor Yamadji dengan hanya bercelana pendek. Sebetulnya Beltjens hendak diberi hukuman cambuk, namun segerombolan perempuan Eropa penghuni kamp mengganggu.   “Kau boleh memukul salah satu dari kami jika perlu, tetapi jangan seorang pastor,” kata salah satu perempuan itu kepada Yamadji.   “Kalau begitu pendeta itu harus berdiri tegak selama dua puluh empat jam,” teriak Yamadji pada tawanan lain.   “Jika kau melakukannya, kami akan berdiri di sampingnya,” jawab penghuni kamp.   Penderitaan Beltjens pun terulur. Yamadji yang malu kepada perempan-perempuan itu lalu pergi dengan sepeda menjauhi Beltjens. Pada hari-hari berikutnya, Beltjens tak lagi didekati apalagi diperintahi oleh Sersan Yamadji.   Sersan Yamadji adalah anggota Tokeitai, polisi militer Angkatan Laut Kekaisaran Jepang Jepang (Kaigun). Di zaman pendudukan Jepang, Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Armada Selatan Kedua Kaigun. Komandonya pusatnya berada di Makassar. Umumnya, penjaga kamp tawanan sangatlah kejam. Mereka tak lebih baik daripada Yamadji.   “Dia mungkin yang terbaik dari semuanya,” kata bekas penghuni Kamp Kampili yang kemudian bebas setelah Agustus 1945.   Meski begitu, kebaikan Yamadji di Kampili tak mampu membuatnya lepas dari jeratan hukum tentara Sekutu. Mahkamah militer Sekutu kemudian mengadilinya. Pada 1947, seperti diberitakan Algemeen Indisch Dagblad tanggal 23 Juli 1947, Mahkamah Militer Sementara di Makassar menjatuhkan sejumlah hukuman terhadap penjahat perang Jepang. Ada sembilan orang yang dihukum mati, lalu beberapa dihukum antara 5 hingga 20 tahun, dan hanya satu terdakwa dibebaskan. Yamadji yang semula dituntut oditur hukuman 10 tahun penjara, kemudian divonis hakim hanya tujuh tahun penjara. Selama persidangan, disinggung tentang kontrasnya perlakuan Sersan Yamadji ketika di kamp perempuan Kampili dengan perlakuannya kepada tawanan di kamp laki-laki di Pare-pare. Yamadji dianggap berlaku kejam di kamp yang dihuni tawanan perang laki-laki.   Tak semua penjahat perang di wilayah Armada Selatan Kedua berhasil diseret dan dihukum di mahkamah militer sementara bentukan Sekutu. Letnan Yoshimoera, seorang perwira Tokeitai, setelah menyerahnya Jepang hanya dijadikan mandor penggali di daerah yang diperkirakan lubang pembantaian tentara Jepang.   Pada 11 Agustus 1946, di daerah Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur, penggalian dilakukan atas bantuan petunjuk warga lokal keturunan Sulawesi Selatan bernama Baco. Lantaran Baco tak tahu pasti letak kuburan korban perang yang dibunuh Jepang, penggalian dilakukan secara acak. Namun, kemudian ditemukan lima makam dari orang-orang yang dulu dieksekusi dengan cara dipenggal oleh tentara Jepang. De Nederlander tanggal 7 September 1946 dan Het Dagblad tanggal 10 September 1946 memberitakan, di antara jasad yang ditemukan terdapat jasad Philip Mcweene, awak udara Amerika Serikat.   Penemuan itu mengguncang Letnan Yoshimoera. Sekujur tubuhnya gemetar hingga malamnya ia memutuskan hal yang tidak diinginkan tentara Sekutu. Letnan Yoshimoera malam itu membersihkan selnya dan mengenakan pakaian terbaiknya. Setelahnya, ia menggantung diri dengan tali kelambu. Sebuah pesan tulisan tangan lalu ditemukan.   “Sebenarnya, saya seharusnya bunuh diri di akhir perang, tetapi atas perintah Yang Mulia Jenderal Besar, saya tidak melakukannya,” demikian bunyi pesan itu.

  • Misteri Kematian Aktor Inggris yang Dibenci Nazi

    PESAWAT komersial Flight 777 rute Lisbon, Portugal-London, Inggris ditembak jatuh pesawat Jerman di atas Teluk Biscay pada 1 Juni 1943. Keberadaan Alfred Chenhalls yang dikira Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dianggap sebagai penyebab pesawat Kerajaan Belanda yang dipinjamkan kepada British Overseas Airways Corporation itu diburu pesawat Jerman. Namun, insiden di masa Perang Dunia II itu menyisakan misteri. Tak sedikit yang beranggapan bahwa target sesungguhnya adalah Leslie Howard, aktor Inggris yang tersohor di Hollywood berkat perannya sebagai Ashley Wilkes dalam film box office, Gone With the Wind (1939). Mengapa Leslie Howard menjadi target pembunuhan agen Nazi? Hal ini bermula pada akhir tahun 1930-an, ketika pria kelahiran Forest Hill, London, 3 April 1893 itu tengah mengembangkan kariernya di Hollywood. Kesuksesan Leslie memberinya kehidupan yang glamor dan nyaman di Los Angeles dan New York. Namun, seminggu sebelum Perang Dunia II pecah di Eropa pada 1939, ia kembali ke Inggris di mana kegiatan seninya dibentuk dan ditentukan oleh aktivisme politiknya.

  • Kurt Waldheim Mantan Nazi Jadi Sekjen PBB

    SEPANJANG masa jabatannya sebagai Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) kurun 1972-1981, Kurt Waldheim asal Austria menangani beragam isu. Mulai dari hukum laut, mempromosikan kerjasama perdagangan negara-negara berkembang, hingga kekerasan Israel di Palestina. Meski begitu, masa lalunya selalu dipersoalkan. Waldheim masuk jadi kandidat Sekjen PBB pada Juni 1971 atau dua bulan setelah kalah dalam pemilihan presiden (Pilpres) Austria pada April 1971. Dalam pemilihan Sekjen PBB di Dewan Keamanan (DK) sepanjang 17-20 Desember 1971, Waldheim hanya menerima 11 dari total 15 suara, sementara pesaingnya dari Argentina, Carlos Ortiz de Rozas mendapat 12 dari total 15 suara. Akan tetapi perolehan suara De Rozas diveto Uni Soviet hingga DK PBB memutuskan Sekjen PBB yang baru suksesor U Thant adalah Waldheim. Selama delapan tahun menjabat Sekjen PBB, Waldheim mendorong banyak agenda. Di antaranya UNCTAD (Konferensi PBB untuk Perdagangan Negara-Negara Berkembang) dan Konferensi PBB untuk Lingkungan pada 1972 yang melahirkan UNEP (Program Lingkungan PBB), Konferensi Pangan Dunia 1974, hingga mengecam diskrimasi rasial dan kekerasan Israel di Palestina. Kecaman tersebut direalisasikan dengan Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi 3379 yang menyebutkan Zionisme adalah bentuk rasisme yang tak ubahnya sistem apartheid di Afrika Selatan. Namun pada 1991 di era Sekjen PBB Javier Pérez de Cuéllar asal Peru, resolusi itu dicabut via Resolusi 46/86 atas desakan Israel dan Amerika Serikat.

  • Spion Wanita Nazi Dijatuhi Hukuman Mati

    KISAH agen rahasia dalam menjalankan misi untuk mencuri informasi atau mengelabui musuh selalu menarik untuk diikuti. Kali ini kisah spion wanita Nazi, yang kemampuannya dalam mencuri informasi dan membungkam mereka yang kontra dengan sang Führer, Adolf Hitler, patut diacungi jempol. Ia adalah Reissa von Einem atau kerap dipanggil Baronnes von Einem. Pada 1935, Reissa mengirim surat ke pihak Jerman dengan maksud meminta pekerjaan. Surat tersebut tidak dibuat sembarangan. Di dalam suratnya, Reissa menyatakan pernah bekerja untuk dinas rahasia pada 1917, ketika berusia belasan tahun. Kurt D. Singer, yang pernah terlibat aksi spionase kontra Nazi, dalam Spies and Traitors of World War II menyebut wanita yang terlahir dengan nama Maria Elizabeth von Einem itu merupakan seorang bangsawan. Namun, surat kabar New York Herald Tribune, 30 Mei 1940, melaporkan bahwa Baroness von Einem, yang memiliki nama kecil Reissa von Scheurn Schloss, merupakan putri seorang jenderal Jerman dalam Perang Dunia II.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page