Hasil pencarian
9774 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sembilan Anak dan Ayah di Arena F1 (Bagian II – Habis)
SUDAH tujuh dasawarsa Formula One (F1) bergulir sejak ajang perdananya pada 1950. Sejak itu pula bermunculan regenerasi pembalap dari ayah ke anak yang meramaikan pentas balap mobil kasta teratas itu. Ada 13 pasang ayah-anak yang membalap di lintasan F1. Mick Schumacher jadi yang teranyar. Mick adalah putra Michael Schumacher, pemilik tujuh gelar dunia F1 (1991-2012). Rekor itu belum bisa dipecahkan pembalap manapun saat ini. Namun, tim Haas F1 memastikan perekrutan Mick pada musim 2021 bukan semata untuk jadi bayang-bayang sang ayah. “Mick memenangkan banyak balapan, mengoleksi raihan podium dan membuktikan punya bakat luar biasa pada 2020 (di Formula 2, red. ). Saya yakin dia pantas mendapatkan kesempatan balapan di Formula 1 berdasarkan performanya sendiri dan saya sangat menantikan kontribusi Mick di dalam maupun di luar trek,” ujar team principal Haas F1 Guenther Steiner di laman resmi tim , Selasa (1/12/2020). Dari ke-13 pasangan ayah dan anak di pentas F1, tak semuanya punya kiprah cemerlang baik si ayah maupun si anak. Empat pasang ayah-anak dengan karier tak moncer adalah Manfred (1980-1985) dan Markus Winkelhock (2011-2012), Jonathan 1983-1989) dan Jolyon Palmer (2016-2017), Satoru (1987-1991) dan Kazuki Nakajima (2007-2009), serta Jan (1995-1998) dan Kevin Magnussen (2014-2020). Sisanya, sembilan pasang ayah-anak, punya tinta emas dalam sejarah F1. Sebelumnya sudah diuraikan empat pasang ayah-anak pembalap F1 nan gemilang. Berikut empat lainnya: Wilson dan Christian Fittipaldi Wilson Fittipaldi Júnior (kiri) & Christian Fittipaldi. ( formula1.com / forzaminardo.com ). Seperti halnya keluarga Brabham atau Schumacher, nama Fittipaldi juga turut menggurita di kancah F1 lantaran hampir semua anggota keluarganya bersentuhan dengan dunia balap. Wilson Fittipaldi Jr. yang lahir di Hari Natal tahun 1943 di São Paulo, Brasil, jadi pionirnya. Olahraga balap sejak kecil bukan barang baru baginya mengingat sang ayah, Wilson Fittipaldi Sr., merupakan jurnalis dankomentator balap motor dan mobil. Namun, karier Wilson di F1 sepanjang 1972-1975 bersama tim Brabham dan Copersucar –yang didirikannya sendiri– justru berada di bawah bayang-bayang sang adik Emerson Fittipaldi. Emerson dua kali merebut gelar juara dunia F1, musim 1972 dan 1974. Satu-satunya podium yang dicicipi Wilson hanya juara ketiga di Grand Prix Brasil pada musim 1972. Meski begitu, putranya, Christian Fittipaldi, bisa jadi kebanggaan buat Wilson yang pensiun sejak 1976. Lahir pada 18 Januari 1971 di kota yang sama dengan Wilson, Christian beruntung punya dua mentor hebat, ayahnya dan pamannya, untuk meniti kariernya yang dimulai di ajang gokar. Debut Christian di F1 dilakoni pada musim 1992 bersama tim Minardi. Ian C. Friedman dalam Latino Athletes menuliskan, Christian bisa promosi ke F1 setelah menjadi pembalap termuda yang lulus dan mendapatkan FIA Formula One Super License pada usia 18 tahun. Tetapi sialnya beberapa kali problem teknis mobil dan kecelakaan yang mengakibatkannya patah kaki membuat kiprah Christian di F1 tak berumur panjang. Seiring pulih dari cedera, Christian beralih ke ajang lain pada 1994 dan menunjukkan tajinya di ajang balap Championship Auto Racing Teams (CART) sepanjang 1995-2004. Dia juga menjadi pembalap non-Amerika Serikat pertama di NASCAR pada 2002, menjuarai 24 Hour Daytona 2004 di tim Bell Motosports, dan mempopulerkan ajang Stock Car di Brasil pada 2005-2010, serta dua kali kampiun WeatherTech Sports Car pada 2014 dan 2015. “Dengan berbagai alasan, saya memang tak punya kesuksesan besar sebagaimana yang saya harapkan (di F1 dan NASCAR, red. ). Tetapi saya senang punya kesempatan di Brasil di mana kini semua orang mengenal balapan Stock Car yang berkembang pesat,” tutur Christian dikutip Friedman. Gilles dan Jacques Villeneuve Joseph Gilles Henri Villeneuve (kanan) & Jacques Joseph Charles Villeneuve. ( formula1.com / redbull.com ). “Takkan ada yang mengingat juara dua.” Ungkapan familiar di beragam kompetisi itu untuk beberapa saat jadi tekanan bagi Gilles Villeneuve. Lahir di Sain-Jean-sur-Richelieu, Quebec, Kanada pada 18 Januari 1950, Gilles bersama sang adik, Jacques-Joseph Villeneuve, sudah menggilai balap mobil sejak muda. Gilles menembus F1 pada 1977 dengan direkrut tim Marlboro McLaren. Sebelum datangnya Niki Lauda, Gilles jadi saingan terberat pembalap legendaris Inggris James Hunt. Di luar trek, Gilles dikenal sebagai pribadi santun dan ramah. Tetapi ketika sudah masuk kokpit jet darat, ia berubah jadi sosok nekat sebagaimana James Hunt. “Dia (Gilles) pembalap tergila dan ternekat yang pernah saya temui di Formula 1. Padahal faktanya, pribadinya punya karakter yang sensitif dan menyenangkan di luar trek dan tak terlihat seperti pembalap nekat, tetapi itu yang membuatnya jadi seseorang yang unik,” kenang Lauda dalam otobiografinya, To Hell and Back . Musim 1979 jadi puncak karier Gilles bersama Ferrari. Hampir sepanjang musim dia bersaing ketat dengan Jody Scheckter untuk berebut gelar. Sial, Gilles harus puas sebagai juara dua. Kesialan puncak Gilles tiba beberapa musim kemudian. Di GP Belgia, 8 Mei 1982, Gilles mengalami kecelakaan hebat yang kemudian merenggut nyawanya. Kala Gilles wafat, Jacques, putranya, baru berusia 11 tahun. Ia tumbuh jadi pemuda yang juga menyenangi balapan di bawah bimbingan sang paman, Jacques Sr., hingga melakoni debutnya di F1 pada 1996 bersama tim Williams. Seperti ayahnya, Jacques tipe pembalap yang cepat namun selalu berusaha tampil elegan. Meski Jacques paling anti melakoni manuver-manuver kontroversial, tetap saja dia kena sial mobilnya jadi korban manuver kotor Michael Schumacher di GP Eropa musim 1997. Jacques bahkan sampai bertengkar dengan Schumi gara-gara itu . Musim 1997 itu juga jadi musim di mana Jacques akhirnya juara dunia.Gelar itu menjadikannya pembalap Kanada pertama yang mampu jadi kampiun F1. “Ayah pembalap yang sangat cepat. Dia penyuka kecepatan dan adrenalin, selalu terburu-buru ingin menyalip pembalap lain. Dan dia mengalami kecelakaan hebat. Sulit mengatakan kemampuan saya didapat dari ayah tapi yang pasti saya punya perasaan kecepatan dan kemampuan itu darinya,” kenang Jacques, dikutip Gerald Donaldson dalam Gilles Villeneuve: The Life of the Legendary Racing Driver. Nelson dan Nelson Piquet Jr. Nelson Piquet Souto Maior (kiri) & Nelson Angelo Tamsma Piquet Souto Maior Jr. ( sfcriga.com / nascar.com ). Nelson Piquet merupakan satu dari lima pembalap F1 yang punya tiga koleksi juara dunia. Ia juga pembalap legendaris Brasil kedua yang juara dunia setelah Emerson Fittipaldi. Lahir di Rio de Janeiro, Brasil pada 17 Agustus 1952, Piquet terjun ke dunia balap karena terinspirasi Fittipaldi yang dua kali juara dunia F1. Tiga gelar Piquet masing-masing diraih saat memiloti kokpit Brabham pada musim 1981 dan 1983, serta mobil Williams di musim 1987. “Untuk jadi juara dunia Anda butuh banyak keberuntungan di mana itu hal terpenting. Ada banyak pembalap hebat yang jadi juara dunia. Namun Anda juga butuh mobil, mesin, pilihan ban dan tim yang tepat. Saya memiliki itu semua,” jelas Piquet sebagaimana dikutip Maurice Hamilton dalam Formula One, The Champions: 70 Years of Legendary F1 Drivers. Selepas Piquet pensiun dari F1 pada 1991, baru 17 tahun berselang nama Piquet kembali nongol di grid F1. Nama itu disandang putranya, Nelson Piquet Jr. Mobil dan dunia balap baru jadi hobi Piquet Jr. di usia delapan, usia di mana dia baru mengenal ayahnya. Ayah dan ibunya berpisah saat Piquet Jr. masih bayi dan ia dibawa tinggal bersama ibunya, Sylvia Tamsma, di Monaco. Saat umur delapan, dia pindah tinggal dengan ayahnya di Brasil. Meski begitu, Piquet Jr. mengaku awal kariernya tak di bawah bimbingan sang ayah. Piquet Sr. hanya menyokong dana saat Piquet Jr. memulai kariernya dari ajang gokar pada 1993. Debutnya di F1 baru terjadi pada 2008. “Saya memang menyandang namanya. Tetapi saya selalu berusaha sendiri. Ayah hanya sekadar melihat saya balapan namun saya tak pernah bergantung padanya, terlepas dari sisi finansial. Semua hal teknis, hanya bergantung pada saya dan para mekanik,” terang Piquet Jr. kala diwawancara The Guardian , 5 Oktober 2005. Akan tetapi, Piquet Jr. gagal menyamai apalagi melewati reputasi sang ayah. Menduduki kokpit tim Renault di musim 2008 dan 2009, Piquet Jr. hanya mampu sekali naik podium sebagai runner-up di GP Jerman 2008. Pada GP Singapura di musim yang sama, Piquet Jr. bahkan jadi sorotan komisi disiplin FIA setelah diduga menabrakkan mobilnya sendiri demi memberi kesempatan rekan setimnya, Fernando Alonso, untuk menang. Piquet Jr. mengakuinya lantaran ia diperintahkan bos timnya dan itu jadi titik konfliknya dengan tim Renault. Pada musim 2009, Piquet Jr. hanya bertahan hingga paruh musim. Beralih dari F1, Piquet Jr. memilih ajang NASCAR hingga Formula E dan keluar sebagai juara dunia di musim 2014/2015 bersama tim China Racing/NEXTEV. Jos dan Max Verstappen Johannes Franciscus 'Jos' Verstappen (kanan) & Max Emilian Verstappen. ( formula1.com / redbull.com ). “Jos the Boss” julukannya. Salah satu maestro balap asal Belanda yang malang-melintang di F1 sepanjang 1994-2003. Sebagaimana pembalap kebanyakan, Johannes Franciscus ‘Jos’ Verstappen yang lahir di Montfort, 4 Maret 1972 itu memulainya di ajang gokar sejak usia delapan tahun. Namun, kegemilangan di F1 hanya terjadi di musim perdananya ( 1994). Dia dua kali berdiri di podium sebagai juara ketiga di GP Hungaria dan Belgia. Selebihnya ia bak pembalap penggembira di hampir setiap seri hingga pensiun pada 2003. Seperti para seniornya, ia pun menurunkan bakat balapnya ke putra sulungnya, Max Verstappen. Max yang lahir di Hasselt, Belgia, 30 September 1997, bersentuhan dengan dunia balap sejak dini mengingat sang ibu, Sophie Kumpen, juga pembalap gokar semasa mudanya. Meski kemudian ayah dan ibunya berpisah dan Max tinggal dengan Sophie di Maaseik, kota perbatasan Belgia dengan Belanda, hampir setiap hari dia menghabiskan waktu bersama ayahnya di seberang perbatasan. “Sebenarnya saya tinggal di Belgia hanya menumpang tidur. Seharian saya selalu ke Belanda ke tempat ayah dan menemui teman-teman saya. Saya dibesarkan sebagai orang Belanda dan hingga sekarang itu yang saya rasakan,” ujar Max, disitat GP Fans , 3 Juli 2019. Berangsur-angsur Max membangun kariernya dari Formula Renault pada 2013, Formula Three setahun berselang. Puncaknya, dia mendapatkan kursi di F1 bersama tim Scuderia Toro Rosso juga pada 2014 selepas lulus dari tim junior Red Bull. Debutnya dilakoninya musim 2015. Sedikit demi sedikit dia melejit hingga jadi salah satu pesaing serius langganan juara Lewis Hamilton, utamanya setelah Max dipromosikan ke tim utama Red Bull pada 2016. Pada musim 2019 ia mencuat jadi juara tiga. Kini di musim 2020 yang menyisakan dua seri, Verstappen di posisi yang sama masih sikut-sikutan dengan Valtteri Bottas untuk berebut status runner-up lantaran Hamilton di puncak klasemen takkan terkejar. Namun peluang Verstappen untuk punya capaian melebihi sang ayah –juara dunia F1– masih terbuka di musim 2021.
- Mengintip Kegiatan Sekolah Masa Jepang
Sembilan bulan pandemi Covid-19 menyerang Indonesia. Sekolah merumahkan siswanya dan mengganti sistem kelas tatap muka dengan sistem dalam jaringan untuk menekan penyebaran virus. Mendikbud, Menag, Mendagri, dan Menkes berencana membolehkan sekolah kembali menggelar pembelajaran tatap muka mulai Januari 2021 dengan persyaratan ketat. Sembilan bulan bukan waktu singkat bagi siswa menjalani hari-hari bersekolah yang berbeda. Hal serupa juga pernah terjadi pada masa Jepang. Menjelang kedatangan Jepang pada akhir 1941, sekolah-sekolah di Hindia Belanda meliburkan siswanya tanpa berbatas waktu. Para guru berbangsa Belanda kembali ke negerinya. Maret 1942, Jepang mengambil alih Hindia Belanda. Pemerintah militer Jepang menutup semua jenis dan jenjang sekolah. Mereka ingin merombak ulang pendidikan di Indonesia. Buku-buku sekolah berbahasa Belanda disita, diperiksa, dan dinilai ulang. “Semua itu dimaksudkan untuk menghilangkan pengaruh Barat,” catat tim Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dalam Di Bawah Pendudukan Jepang: Kenangan Empat Puluh Dua Orang yang Mengalaminya . Selama masa perumusan ulang pendidikan itu, murid-murid telantar. Murid-murid tingkat akhir di sekolah menengah atas terpaksa mengubur mimpinya memperoleh ijazah untuk mencari kerja. Ujian kelulusan ditunda. Mereka hanya memperoleh ijazah darurat. Murid-murid tingkat lebih rendah juga bernasib serupa. Mereka gagal naik kelas. Sebab tak ada ujian kenaikan kelas. Berbulan-bulan lamanya para murid merindukan dunia sekolah. Sebagian menghabiskan waktu dengan berdagang. Sisanya bermain-main saja. Hingga datanglah kabar gembira itu. Jepang akan membuka sekolah lagi untuk murid menengah pertama dan atas. “Pembukaan Sekolah Menengah besok jam 9 pagi. Besok hari Selasa tanggal 8 September 2602 (1942, red .) dari pukul 9 pagi. Sekolah Menengah Tinggi dan Sekolah Menengah Pertama di Jakarta akan dibuka dengan mengadakan upacara,” demikian pengumuman surat kabar Asia Raya , 7 September 2602. Sekolah Menengah Tinggi Jakarta menjadi sekolah tingkat atas pertama yang dibuka di seluruh Indonesia. Semua murid dari berbagai jenis sekolah di seluruh Indonesia boleh mendaftar. Ini membedakan sekolah masa kolonial. Kala itu sekolah terbagi dalam beberapa jenis berdasarkan latar belakang sosial dan ras orangtua atau wali murid. “Di situlah untuk pertama kali murid-murid Indonesia yang berasal dari bermacam-macam sekolah menengah dan dari berbagai lapisan masyarakat kelas menengah ke atas, berkumpul dan belajar bersama dalam situasi yang bagi sebagian besar murid merupakan keadaan yang jauh berbeda daripada yang pernah dialami,” sebut Miriam Budiardjo, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia yang pernah menjadi murid SMT, dalam Jembatan Antar Generasi: Pengalaman Murid SMT Jakarta 1942–1945. Jepang merombak kebijakan pendidikan masa sebelumnya. Misalnya mengganti bahasa Belanda dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari di sekolah. Bagi murid-murid sekolah swasta, keputusan ini tak berarti banyak. Sekolah mereka telah menerapkannya sebelum kedatangan Jepang. Tapi bagi murid sekolah elite milik pemerintah kolonial Belanda, jadi pengalaman baru. “Jadi di situ pertama sekali belajar dengan seorang Empu yang mengajar bahasa Indonesia,” ungkap Peki Sanyoto, menuturkan pengalamannya bersekolah pada masa Jepang dalam Di Bawah Pendudukan Jepang . Murid-murid sekolah elite itu menggunakan bahasa Belanda dalam kesehariannya, termasuk di sekolah. Mereka asing sekali dengan bahasa Indonesia. Mereka lantas belajar bahasa Indonesia. Beberapa dari mereka mempelajarinya dari novel-novel terbitan Volkslectuur atau Balai Pustaka. Dari mempelajari bahasa Indonesia, rasa kebangsaan murid-murid itu mulai muncul. Terlebih lagi pembukaan sekolah memungkinkan mereka bergaul kembali dengan rekan-rekannya dari berbagai lapisan masyarakat. Setelah membuka SMT di beberapa kota, Jepang menyelenggarakan lagi sekolah-sekolah khusus seperti teknik, kedokteran, kemiliteran, dan khusus remaja putri ( wakaba ). Sekolah-sekolah swasta juga diizinkan beroperasi kembali. “Namun harus memasukkan pelajaran bahasa Jepang, olahraga ( taiso ), dan kerja bakti dalam kurikulumnya,” sebut tim ANRI. Jepang tak mengubah drastis mata pelajaran di tiap jenjang. Mereka tetap mempertahankan pelajaran umum seperti ilmu pasti, sejarah, ilmu bumi, kimia, fisika, ekonomi, dan seni. Tapi Jepang menghapus mata pelajaran bahasa Eropa seperti Prancis, Jerman, Inggris, Yunani Kuno, dan Romawi. Di dalam kelas, para murid lebih banyak mencatat apa yang diomongkan guru. Sebab waktu sekolah kembali dibuka, Jepang belum menyiapkan buku-buku pelajaran baru. Jepang menambah porsi mata pelajaran fisik seperti olahraga untuk semua jenjang sekolah. Murid-murid wajib ikut senam pagi ( taiso ), baris-berbaris, dan lari. Penekanan porsi fisik ini bertujuan mempersiapkan para murid menghadapi perang Asia Raya demi kepentingan Jepang. “Oleh karena itu pelajar-pelajar diharapkan mengikuti latihan fisik, latihan kemiliteran, dan indoktrinasi ketat,” catat tim Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan dalam Pendidikan di Indonesia 1900–1974. Para murid juga mengalami upacara bendera tiap senin pagi, penggundulan rambut bagi siswa laki-laki, dan mengenakan seragam sekolah untuk kali pertama. Tiga hal ini tak pernah tersua di sekolah umum pada masa kolonial. Pengalaman baru murid-murid lainnya ialah tindakan keras para pengawas sekolah dalam pendidikan. Pengawas sekolah terdiri dari orang-orang Jepang. Tangan mereka mudah berayun ke kepala murid dan guru yang berbuat salah dalam pandangan mereka. Semua guru sekolah zaman Jepang berasal dari Indonesia. Sebagian terdiri atas bekas mahasiswa tingkat terakhir perguruan tinggi masa kolonial. Dengan demikian, jarak usia mereka sangat dekat dengan para murid sekolah menengah tinggi. Tak jarang ada pula guru berasal dari satu angkatan yang sama dengan salah satu murid. “Jadi memang dari sudut gurunya tentu tidak mempunyai tingkat kualitas sama seperti Belanda punya,” kata Daan Jahja, mantan murid SMT Jakarta, yang kelak menjadi Panglima Divisi Siliwangi. Meski kualitas pendidikan guru-guru Indonesia jauh di bawah guru Belanda, secara personal hubungan mereka dengan para murid jauh lebih dekat dan kuat. Ini terbentuk setelah perilaku keras para pengawas sekolah dan orang-orang Jepang kepada orang Indonesia. “Antara guru dan murid, antara kami sesama murid demikian dekatnya karena menghadapi ancaman yang sama dari luar... Hubungan erat seperti itu belum pernah kami rasakan di sekolah manapun di zaman Belanda,” ungkap Eddy Djoemardi Djoekardi dalam Jembatan Antar Generasi. Pendidikan bikinan Jepang berakhir setelah kekalahan Jepang dari Sekutu pada Agustus 1945. Murid-murid pun kembali menghadapi dunia sekolah yang baru.
- Sembilan Ayah dan Anak di Arena F1 (Bagian I)
SUDAH delapan tahun lamanya nama Schumacher tak lagi menghiasi kontes Formula One (F1). Mulai musim 2021 nanti, nama Schumacher bakal muncul lagi di grid lintasan F1. Namun Schumacher yang bakal muncul bukanlah Michael Schumacher, melainkan Mick Schumacher, putra Schumi –sapaan akrab Michael Schumacher. Mick bakal menyambung keterikatan nama keluarga besarnya dengan F1. Selain sang ayah, di keluarganya ada Ralf Schumacher (1997-2007) sang paman yang pernah mengaspal di F1. Mick terjun ke F1 musim 2021 pasca-menjuarai Formula 2 musim ini (2020) bersama tim Prema Racing. Di pentas F1, Mick mendapat kursi di tim Haas dengan kontrak berdurasi setahun. “Prospek menuju Formula 1 tahun depan membuat saya sangat bahagia dan tak bisa berkata-kata. Terima kasih kepada tim Haas F1, Scuderia Ferrari dan Akademi Pembalap Ferrari yang memberi saya kepercayaan. Saya juga ingin menyampaikan cinta kepada orangtua saya – saya tahu telah berutang segalanya,” ujar Mick sebagaimana dilansir laman resmi F1 , Rabu (2/12/2020). Capaian itu tak lepas dari dukungan berbagai pihak, terutama fans. Mick pun menyatakan terimakasihnya kepada mereka. “Saya selalu percaya bahwa saya pasti bisa memenuhi mimpi saya balapan di Formula 1. Terima kasih teramat besar kepada semua fans balap yang selalu mendukung sepanjang karier saya. Seperti biasa, saya akan memberikan usaha maksimal dan saya menantikan perjalanan bersama mereka dan tim Haas F1,” imbuhnya. Mick dan Michael Schumacher hanyalah salah satu dari delapan pembalap yang mengikuti jejak ayah mereka di F1. Berikut empat di antaranya: Jack dan David Brabham Sir Arthur John 'Jack' Brabham (kanan) & David Brabham. ( formula1.com ). Jack Brabham yang lahir pada 2 April 1926 di Hurtsville, New South Wales, Australia, sempat jadi mekanik di Angkatan Udara Australia pada masa Perang Dunia II sebelum terjun ke dunia balap. Setelah memulainya di ajang balapan mobil midget pada 1946, pembalap berjuluk “Black Jack” itu menembus pentas F1 pada 1955 di kokpit mobil Cooper. Sepanjang kiprahnya di F1 (1955-1970), tiga kali Jack mendulang gelar juara dunia. Dua titelnya (1959 dan 1960) disabet bersama tim Cooper, gelar ketiganya (musim 1966) direngkuh Jack dengan tim Brabham Racing Organization yang didirikannya pada 1962. Tiga anak hasil pernikahannya dengan Betty Evelyn Beresford mengikuti jejak ayahnya. Namun, hanya dua yang mencuat hingga level F1. Jack tak pernah memperlakukan ketiga anaknya secara istimewa. Jack tetap seorang pendiam yang sukar berbagi saran, nasihat, tips, dan trik balapan sebagaimana semasa ia aktif membalap. “Suatu ketika ayah menatap kokpit mobil (Australian Formula Ford) saya dan dia hanya bilang: ‘Oke, itu ada rem, ada pedal gas, ada setir; jika kamu menabrak, jangan kembali!’ Sepanjang karier saya, dia tak pernah memberi saya nasihat selain itu,” kenang Geoff, dikutip Tony Davis dalam Brabham: The Untold Story of Formula One and Australia’s Greatest Ever Racing Driver. Pengalaman serupa dialami Gary, putra kedua Jack yang menembus F1 bersama tim Life Racing pada 1990 tanpa sekalipun pernah menang. Pun dengan David, putra ketiganya yang dua musim mengaspal di F1 bersama tim Brabham (1990) dan tim MTV Simtek Ford (1994) dengan capaian tertinggi finis urutan ke-10 di Grand Prix Spanyol musim 1994. “Ayah hanya menyarankan: ‘untuk melaju cepat, kamu hanya perlu mengurangi pengereman dan lebih sering injak gas’,” tandas David. Graham dan Damon Hill Norman Graham Hill (kiri) & Damon Graham Devereux Hill. ( grandprixhistory.org / redbull.com ). Sebagaimana Jack Brabham mentornya, pembalap legendaris Inggris kelahiran Hampstead, London, 15 Februari 1929 ini juga lebih dulu mengabdi di militer Inggris, tepatnya sebagai kru mekanik kapal penjelajah ringan HMS Swiftsure semasa Perang Dunia II. Sempat mencicipi ajang balap motor, Graham Hill akhirnya beralih ke roda empat pada 1954 setelah melihat iklan Universal Motor Racing Club yang menawarkan bayaran lima shilling di setiap satu lap yang dijalani. Graham meniti kariernya di F1 dari mekanik di tim Lotus sampai menduduki kokpitnya lewat debut di Grand Prix Monaco 1958. Perkembangan pesatnya baru dijalani selepas kepindahannya ke tim Owen Racing Organization pada 1960. Dua tahun berselang Graham merebut gelar pertamanya. Gelar keduanya diraih empat tahun kemudian. Graham pensiun pada 1975. Damon Hill, putra Graham yang lahir pada 17 September 1960 di kota yang sama dengannya, mengikuti jejak ayahnya bahkan sejak usia dini. “Saya lahir di kokpit. Melihat foto-foto masa kecil saya, hampir selalu berada dalam pose bersama mobil kecil atau mobil balap. Saya punya ayah yang terkenal. Lalu siapa yang kemudian tak ingin jadi pembalap seperti sang ayah? Beranjak usia, saya selalu ditanyakan pertanyaan serupa oleh orang-orang: ‘Apakah kamu akan jadi pembalap terkenal seperti ayahmu saat besar nanti?’,” ujar Damon dalam otobiografinya, Watching the Wheels. Damon memulainya di balap motor Clubman’s Championship kelas 350cc pada 1981. Tetapi karena kekhawatiran ibunya, Bette Hill, Damon kemudian beralih ke roda empat dan masuk Winfield Racing School pada 1983. Berangsur-angsur karier Damon Hill tak kalah moncer dari sang ayah sejak memulai debutnya di F1 bersama tim Brabham pada 1992. Empat tahun berselang, gelar juara dunia hadir ke pelukannya. Dia pun mencatatkan sejarah: dia dan ayahnya jadi pasangan ayah-anak pertama yang punya gelar juara dunia F1. Selepas pensiun pada 1999, Damon meneruskan tongkat estafet balapnya ke putranya, Joshua Damon Hill. Mario dan Michael Andretti Mario Gabriele Andretti (kanan) & Michael Mario Andretti. ( formula1.com ). Nama keluarga Andretti jadi salah satu nama keluarga di arena balap paling dikenal, Tak hanya di ajang F1, namun juga IndyCar dan NASCAR. Dinasti Andretti dimulai oleh Mario Andretti, pembalap legendaris Amerika berdarah Italia kelahiran Montona d’Istria (kini Motovun, Kroasia), 28 Februari 1940. Mario mengaspal di arena balap NASCAR pada 1966, F1 pada 1968-1982, dan IndyCar 1979-1994. Masa kejayaannya di F1 terjadi pada musim 1978, saat Mario bersama tim Lotus menyabet gelar juara dunia. Setelah beralih ke IndyCar, Mario pun tak kalah moncer hingga puncaknya juara PPG IndyCar World Series 1984 bersama tim Newman/Haas Racing. Kedua putranya, Michael dan Jeff, serta keponakannya, John Andretti, turut terjun ke dunia balap mengikuti jejak Mario. “Saya tumbuh dengan sering menyaksikan ayah saya balapan. Sejak saat saya masih kecil, satu-satunya hal yang saya inginkan hanyalah balapan,” ungkap Michael dalam otobiografinya yang dituliskan bersama Douglas dan Robert Carver, Michael Andretti at Indianapolis. Meski banyak keluarga Andretti yang mengaspal, hanya Michael yang paling gemilang dalam mengikuti karier ayahnya di pentas F1. Sayangnya, Michael gagal mengejar prestasi sang ayah. Michael hanya terjun satu musim (1993), bersama tim Marlboro McLaren. Hasil terbaiknya hanya berdiri di podium ketiga GP Italia. Keke dan Nico Rosberg Keijo Erik 'Keke' Rosberg (kiri) & Nico Erik Rosberg. ( formula1.com ). Finlandia yang berada di ujung utara benua Eropa juga kondang melahirkan banyak pembalap beken macam Mika Häkkinen dan Kimi Räikkonen. Namun sebelum keduanya mengharumkan “negeri seribu danau” itu, sudah ada Keijo Erik ‘Keke’ Rosberg. Lahir di Solna pada 6 Desember 1948, Keke jadi pembalap Finlandia ketiga di pentas F1 setelah Leo Kinnunen (1974) dan Mikko Kozarowitzky (1977). Namun, Keke pembalap Finlandia pertama yang mengecap gelar juara dunia F1. Gelar itu diraihnya di musim 1982 –atau empat tahun setelah debutnya– bersama tim Williams. Sayangnya, banyak yang menganggap gelar juara Keke itu tak lebih dari suatu kebetulan. Maurice Hamilton dalam Formula One, The Champions: 17 Years of Legendary F1 Drivers mengungkapkan, banyak kecelakaan yang dialami para saingan Keke hingga akhirnya sering absen karena cedera atau gagal menyelesaikan balapan gegara mobilnya mengalami masalah, seperti Alain Prost, Niki Lauda, atau Nelson Piquet. Banyaknya kecelakaan mengakibatkan musim itu sampai memunculkan 11 juara berbeda. Di mobil Williams pun Keke sering mendapatkan masalah teknis. Hanya saja Keke lebih hoki lantaran hanya tiga kali gagal finis. Maka meski hanya sekali naik podium tertinggi di GP Swiss, Keke keluar sebagai juara dunia. “Musim di mana saya juara merupakan musim yang tak bisa dipercaya. Semua hal terjadi dalam semusim, dari pemogokan para pembalap hingga sejumlah keputusan diskualifikasi, hingga pemuncak klasemen (Didier Pieroni) yang kemudian cedera serius. Dan saya hanya menang di satu seri. Itu musim pertama saya bersama Williams dan saya dari zero menjadi hero ,” papar Keke dikutip Hamilton. Selepas Keke pensiun pada 1986, ajang F1 tak pernah diisi nama “Rosberg” lagi hingga pada 2006. Kala itu Nico Erik Rosberg, putra Keke, melakoni debutnya bersama tim Williams meengikuti jejak sang ayah di F1. Debut Nico dijalani setelah melalui penentangan dari kedua orangtuanya yang mengharapkannya sebagai anak semata wayang tak mengikuti jejak ayahnya menyabung nyawa di lintasan balap. Namun melihat putranya bersikeras, Keke akhirnya mendukung Nico memulai balapan di ajang gokart, tempat Nico berkawan dan bersaing dengan Lewis Hamilton. Sepanjang musim 2013-2016, keduanya yang tergabung di tim Mercedes bersaing keras hingga menimbulkan perpecahan di internal tim. Nico hinggap ke puncak kariernya, merebut gelar juara dunia, pada 2016 bersama tim Mercedes. Ia lantas mencatatkan diri jadi sepasang ayah dan anak kedua yang juara dunia F1 setelah Graham dan Damon Hill.
- Arnold Mononutu dan Peci Palsu
Arnold Mononutu atau yang akrab disapa Oom No punya peran penting dalam Perhimpunan Indonesia (PI). Penguasaan bahasa Inggris, Belanda, dan Prancisnya membuatnya dipercaya menjadi jembatan komunikasi antar-cabang PI. Mononutu menjabat sebagai wakil ketua ketika PI dipimpin Sukiman. Menurut Sudiyo dalam buku Perhimpunan Indonesia sampai dengan Lahirnya Sumpah Pemuda, Mononutu bersama Ahmad Subardjo gigih mencari nama-nama yang menunjukkan identitas keindonesiaan. Selain nama organisasi diubah menjadi Perhimpunan Indonesia, nama majalah yang sebelumnya Hindia Poetra juga diubah menjadi Indonesia Merdeka . “Sebenarnya untuk mengubah nama majalah ini telah dilakukan sejak tahun 1924, namun pada kepemimpinan Sukiman juga diulang lagi dan dinyatakan secara resmi,” tulis Sudiyo. Di Belanda, Mononutu awalnya masih sering dipanggil Wilson. Pasalnya, menurut Abdul Kadir dalam “In Memoriam Oom No (87 Tahun) Pejuang dari Indonesia Timur” yang termuat dalam Arnold Mononutu, Ayam Jantan dari Indonesia Timur, nama asli Mononutu adalah Arnold Izaac Zacharias Wilson. Sementara Mononutu adalah nama marga kakeknya yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. “Ia tukar namanya Arnoldus Izaac Zacharias degan Arnold Mononutu dan sejak ia kembali ke Indonesia lebih terkenal dengan Oom No hingga sekarang ini. Dan kartu namanya berisi: Arnold Mononutu, Pejuang,” tulis Abdul Kadir. Penggunaan nama Mononutu terkait pula dengan kesadaran identitas keindonesiaan-nya. Sebelumnya, dia dikenal sebagai mahasiswa parlente yang tidak berminat pada politik, suka dansa-dansi dan hidup berkecukupan. Kawan sejawatnya di Belanda, Sunario yang pernah mengunjungi kediaman Mononutu di Den Haag, menyebut bahwa kamarnya “serba lux untuk seorang student.” Pertemuan dengan mahasiswa-mahasiswa progresif dalam Indiche Vereeninging ternyata mengubah Mononutu. Jika dulu ia merasa dirinya sama seperti orang Belanda, ia lalu sadar bahwa dirinya adalah bagian dari bangsa Indonesia yang tengah berjuang menuju kemerdekaan. Mononutu ternyata juga tak hanya ikut-ikutan dalam PI. Ia termasuk salah satu orang yang keras prinsipnya. Ketika Noto Suroto, seorang seniman anggota PI, bersikap pro Belanda dan memuji Jenderal Van Heutz, Mononutu bertindak sebagai penuntut umumnya. Noto Surotopun akhirnya dipecat dari PI. Gara-gara aktivitasnya di PI, ayah Mononutu bahkan sampai mengirim surat ke Belanda yang mengatakan bahwa Mononutu harus mundur dari PI atau uang kiriman untuknya dihentikan. Padahal, dalam sebulan ia mendapat kiriman f 300 yang cukup untuk banyak hal. Namun, ia memilih tetap bergabung dengan PI dan tak peduli pada uang kiriman. Sunario dalam “Mengenang Saudara Arnold Mononutu (Oom No) dan Cita-citanya” yang termuat dalam Arnold Mononutu, Ayam Jantan dari Indonesia Timur punya cerita menarik tentang Mononutu di Den Haag. Tak lama setelah pengurus PI di Belanda dipilih, mereka hendak mengabadikan dengan potret bersama. Tapi sebelum itu, mereka harus memakai peci yang telah disepakati untuk menunjukan identitas keindonesiaan. Padahal, tidak semua orang punya peci saat itu. Mayoritas yang memiliki peci adalah mereka yang berasal dari Sumatra seperti Mohammad Hatta. Maka mereka mencari akal. Mereka mancari topi vilt, topi dengan pinggiran melingkar, untuk dikorbankan. Pinggiran topi dipotong sedemikian rupa dan dipakai menggantikan peci. Hasilnya, peci palsu pun tampak seperti sungguhan di dalam potret. “Oom No yang beragama Kristen Protestan pun memakai pici palsu. Inilah asalnya sampai sekarang pici dipakai di Indonesia sebagai kelengkapan pakaian resmi oleh semua menteri, gubernur, duta besar dan lain-lain, meskipun di antara mereka ada yang beragama Kristen, Hindu, dan lain sebagainya,” tulis Sunario.
- Kisah Penculikan “Menteri Pertahanan RI”
HARI-hari menjelang habisnya bulan Oktober 1945 adalah waktu yang memusingkan bagi Jenderal Mayor drg. Moestopo, Komandan BKR Jawa Timur sekaligus "Menteri Pertahanan RI add interim ". Bagaimana tidak, baru saja dirinya membuat kesepakatan dengan Komandan Brigade ke-49 British India Army Brigadir A.W.S. Mallaby, pihak Inggris sudah memperlihatkan itikad buruk dengan menduduki 20 titik strategis di dalam kota Surabaya. Perbuatan itu, selain mecederai kesepakatan yang sudah dibuat pada 26 Oktober 1945, juga menjadikan arek-arek Suroboyo semakin “gemas”untuk secepat mungkin menghajar tentara Inggris. Bukan rahasia lagi jika sebagian besar pejuang Surabaya tak menginginkan damai dengan tentara Inggris yang dianggap sebagai pembonceng kembali Belanda ke Indonesia. “Moestopo sendiri (sebenarnya) ingin langsung menghabisi pasukan-pasukan (Inggris) yang mendarat ini…” ungkap Lambert Giebels dalam Soekarno: Biografi 1901—1905). Niat itu terkendala karena pemerintah Republik Indonesia (RI) lebih memilih pendekatan damai dalam menghadapi militer Inggris tersebut. Lewat perintah Presiden Sukarno yang langsung meneleponnya dari Jakarta, Bung Besar meyakinkan Moestopo bahwa musuh Indonesia adalah Belanda bukan orang-orang Inggris. Situasi penuh tekanan itu semakin parah dialami Moestopo ketika pada suatu malam, dia disergap oleh satu grup pasukan khusus Inggris dan dipaksa untuk memberitahu tempat penawanan Kolonel Huijer (seorang perwira Angkatan Laut Kerajaan Belanda) dan kawan-kawannya. “Tekanan lebih berat lagi menyusul ketika Inggris pada 28 Oktober mengultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan kembali senjata yang telah diperoleh mereka dari Jepang,” ungkap sejarawan Moehkardi dalam Sebuah Biografi: R. Mohamad dalam Revolusi 1945 Surabaya. Merespons ultimatum itu, Moestopo memerintahkan kepada BKR/TKR untuk bergerak ke luar kota. Dengan memakai alasan akan memimpin perang yang sebentar lagi terjadi, Moestopo pun kemudian meninggalkan Surabaya menuju luar kota. “Banyak pihak yang tak setuju dengan taktik Moestopo tersebut dan memilih tetap bertahan di kota dan mengobarkan perang masal melawan Inggris,” tulis Moehkardi. Akibat kelelahan fisik yang berkepanjangan dan tekanan mental yang berat, pada malam 28 Oktober yang kritis itu, Moestopo jadi berprilaku aneh. Wartawan Antara Wiwiek Hidajat yang malam itu bersama Moestopo, menyebut Moestopo telah mengalami “mental break down”. Wiwiek masih ingat bagaimana malam itu tetiba Moestopo menanggalkan seragam militernya dan menggantinya dengan pakaian khas orang Madura: berpakaian hitam-hitam, berselempang sarung dan memakai ikat kepala. Kepada orang-orang di dekatnya, dia menyatakan tengah bersiap-siap untuk menjalankan taktik Jepang “himizhu zensosen dan singei-se ” alias perang rahasia dan gerilya kota. “Saya bisa membayangkan dalam keadaan kejiwaan apa, dokter gigi itu berada. Dia sudah cukup lama dibuat gila oleh kemunafikan Inggris yang tidak pernah menepati kesepakatan yang terjadi dalam perundingan di mana Moestopo mewakili pemerintah…” ungkap kawan seperjuangannya Suhario Padmodiwiryo dalam bukunya Memoar Hario Kecik, Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit. Dalam kondisi seperti itulah, sebelum pergi ke luar kota, Moestopo berkeliling Surabaya guna menyampaikan perintahnya. Ikut dalam mobil sedan DeSoto itu, tiga orang lainnya: Sudibyo (mahasiswa kedokteran gigi berfungsi sebagai sopir) serta dua wartawan Surabaya: Wiwiek Hidajat dan Suleimanhadi. Sepanjang perjalanan itulah, Wiwiek banyak menyaksikan prilaku ganjil Moestopo. Sebagai contoh, jika di setiap pos penjagaan, kendaraan mereka distop para pemuda maka Moestopo akan menjelaskan identitas dirinya. Kadang dia mengaku sebagai komandan TKR atau “menteri pertahanan RI”, namun di lain kesempatan tak jarang dia juga mengaku sebagai…Ratu Adil! Sekira jam 2 dini hari, mereka tiba di Markas BKR Mojokerto pimpinan Marhadi. Karena kelelahan, mereka langsung tertidur. Di saat itulah, mendadak mereka disergap oleh satu kesatuan tentara yang tak dikenal. Moestopo dan kawan-kawannya kemudian diborgol, dinaikan ke truk lantas dibawa ke bekas pabrik gula Brangkal (dekat Trowulan). Paginya baru ketahuan jika para penculik itu adalah pasukan Polisi Tentara Keamanan Rakyat (PTKR) Sidoarjo pimpinan Mayor Zainal Sabarudin Nasution. Kepada Moestopo, secara terus terang Sabarudin mengungkapkan bahwa dirinya dibebani tugas oleh “seseorang” untuk menghabisi sang menteri pertahanan. Tetapi Sabarudin ingat bahwa saat masa bertugas di Pembela Tanah Air (Peta) sebagai anak buah Moestopo, jiwanya pernah diselamatkan oleh sang komandan dari kekejaman tentara Jepang. Karena pertimbangan itulah, Sabarudin memutuskan untuk tidak menuruti perintah atasannya tersebut. Siapakah atasan Sabarudin yang menginginkan hilangnya nyawa Moestopo? Hingga kini jawabannya masih merupakan misteri. Sabarudin melepaskan Moestopo begitu saja. Seiring pelepasan itu, Moestopo mendengar kabar bahwa Presiden Sukarno akan datang ke Surabaya guna menengahi pertikaian antara pejuang Surabaya dengan tentara Inggris. Dia kemudian meninggalkan Sidoarjo dengan dikawal oleh Kapten Hamidun, bawahan Sabarudin. Sebelum menemui Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohamad Hatta di Kegubernuran, Moestopo ingat sejumlah dokumen penting yang berhasil dia rampas dari orang-orang Belanda kala terjadi kericuhan di Hotel Yamato pada 19 September 1945. Dalam dokumen yang kemudian dia selamatkan di bawah kolong kandang kuda milik Kyai Yusremo itu, ada terkabar informasi bahwa kedatangan Inggris ke Surabaya adalah dalam rangka mengembalikan kekuasaan orang-orang Belanda di Indonesia. Soal ini harus sampai ke telinga Sukarno-Hatta, demikian pikir Moestopo seperti disebutkan dalam buku kecil Memperingati 100 Hari Wafatnya Bapak Prof. Dr. Moestopo. Maksud hati Moestopo ingin “menelanjangi” Inggris di hadapan Sukarno-Hatta dan sejumlah pejabat republik nyatanya tak pernah terwujud. Alih-alih memberikan informasi penting itu, sang menteri pertahanan malah terlibat keributan dengan Mohamad Hatta di depan para perwira Inggris.*
- Mengenal 5 Pahlawan Nasional Asal Papua
Pada tahun ini, Papua menyumbangkan satu nama lagi dalam album pahlawan nasional. Gelar itu dinobatkan atas nama Machmud Singgirei Rumagesan asal Papua Barat. Dia dikenal sebagai raja lokal di Distrik Kokas, Fakfak yang menentang Belanda sejak zaman kolonial. Sebelum Machmud Singgirei Rumagesan, telah tercatat empat pahlawan nasional asal Papua. Mereka antara lain Frans Kaisiepo, Marthen Indey, dan Silas Papare. Ketiganya ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1993. Kemudian, Johannes Abraham Dimara menjadi pahlawan pada 2010. Satu dekade berselang, Rumagesan masuk dalam daftar anyar yang tercatat sebagai pahlawan nasional kelima asal Papua. Siapa dan bagaimana kiprah mereka? Berikut ulasannya. Frans Kaisiepo Lahir di Pulau Biak, 10 Oktober 1921. Merupakan murid dari Soegoro Atmoprasodjo, seorang tahanan politik eks Digulis. Frans Kaisiepo mendapat binaan dari Soegoro ketika menjadi siswa sekolah pamong praja di Kota Nica, Hollandia (kini Jayapura) pada 1945. Soegoro yang menjabat direktur asrama kerap menyisipkan gagasan ke-Indonesian terhadap para siswa. Dia kemudian merintis benih nasionalisme Indonesia di Papua. Frans Kaisiepo merupakan orang pertama yang mengganti nama Papua menjadi Irian. Nama itu diperkenalkannya pada Konferensi Malino yang diselenggarakan Belanda, 18 Juli 1946. Gagasan tersebut lahir tidak lama setelah Frans Kaisiepo nekat menjumpai Soegoro di Penjara Hollandia. “Frans Kaisiepo mengusulkan gagasan tersebut dan ini sangat mengejutkan pihak Belanda. Karena ia mengusulkan agar nama Papua dan Nederlands Nieuw Guine yang dipakai selama ini ditiadakan dan diganti dengan kata atau nama IRIAN,” tulis Pius Suryo Haryono dkk, dalam Pahlawan Nasional: Frans Kaisiepo. Menurut Frans Kaisiepo, kata “Irian” berasal dari bahasa tempat kelahirannya, Pulau Biak. Secara harfiah artinya panas. Diadaptasi dari tradisi pelaut Biak yang melaut ke Pulau Papua. namun kemudian, kata Irian dipolitisasi menjadi Ikut Republik Anti Nederland. Dalam aktifitas politiknya, Kaisiepo giat menentang Belanda dan pro integrasi dengan Indonesia. Dia kemudian menjadi gubernur Irian Barat yang menyukseskan penyatuan Papua ke dalam wilayah Indonesia melalui referendum Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Atas jasanya itu, pemerintah Indonesia menyematkan gelar pahlawan nasional. Marthen Indey Lahir di kampung Doromena, dekat kaki pegunungan Cyclops pada 16 Maret 1912. Seperti Frans Kaisiepo, Marthen Indey (disebut juga Marthin) juga salah satu murid ideologis Soegoro Atmoprasodjo. Marthen Indey punya latar belakang sebagai polisi sejak zaman kolonial dan tentara Sekutu berpangkat letnan pada Perang Dunia II. Dia kemudian menjadi instruktur polisi lokal “Batalion Papua” yang membawa perkenalannya kepada Soegoro. Pada pergantian tahun 1945, Marthen Indey pernah terlibat pemberontakan untuk membebaskan Soegoro dari penjara Hollandia. Sayangnya, aksi itu berujung dengan kegagalan. Kematian salah satu anak buahnya dalam pemberontakan itu menggugah kemarahan Marthen Indey terhadap Belanda. Marthen Indey selanjutnya terlibat dalam aktifitas menyiarkan proganda anti-Belanda. “Dia mendesak para pejabat NIT (Negara Indonesia Timur) agar tetap mempertahankan Irian Barat, dan menolak kemauan Belanda untuk memisahkan separuh pulau ini dari dari wilayah Republik Indonesia Serikat,” tulis George Junus Aditjondro dalam “Marthin Indey Pejuang Irian Barat” termuat di Prisma No.2, Februari 1987. Karena ketahuan mencari dukungan dari tokoh-tokoh Maluku pro-Indonesia, Marthen ditangkap polisi Belanda pada 1947. Dia diganjar hukuman penjara selama tiga tahun. Ketika Indonesia melancarkan kampanye pembebasan Irian Barat, Marthen Indey ikut pasang badan. Dia berperan melindungi pendaratan pasukan infilitrasi Indonesia selama Operasi Trikora. Pemerintah Indonesia mengangkatnya sebagai anggota MPRS mewakili Irian Barat, setelahnya Marthen pensiun sebagai orang sipil. Silas Papare Silas Papare lahir di Serui, 18 Desember 1918. Berlatar belakang sebagai juru rawat, Silas kemudian diperbantukan sebagai tentara Sekutu berpangkat sersan pada Perang Dunia II. Pasca-perang, Silas kembali menjadi perawat. Pemerintah Belanda menggunakan Silas Papare sebagai penasihat mantri di sekolah pamong praja di Kota Nica. Dari situlah Silas kemudian berkenalan dengan Soegoro Atmoprasodjo dan Marthen Indey. Pada akhir 1946, Silas bersama Marthen Indey dan Corinus Krey mempengaruhi Batalion Papua untuk mengadakan pemberontakan terhadap Belanda. Mereka bertujuan mewujudkan kemerdekaan di Papua. Rencana itu bocor karena seorang anggota batalion yang berkhianat “Belanda mendatangkan bantuan dari Rabaul (Papua Timur). Akibatnya Silas Papare dan Marthin Indey ditangkap dan dipenjarakan di Hollandia (Jayapura),” tulis Onnie Lumintang, dkk dalam Biografi Pahlawan Nasional Marthin Indey dan Silas Papare . Dari penjara di Pulau Biak, Silas Papare kemudian dipindahkan ke Pulau Serui. Di Serui, Silas Papare bertemu dengan Samuel Ratulangi, tokoh nasionalis Indonesia asal Minahasa yang juga diasingkan pemerintah Belanda. Bersama Ratulangi, Silas Papare kemudian membentuk Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Pada 1950-an, Silas melebarkan sayap perjuangannya dengan hijrah ke Pulau Jawa. Di Yogyakarta, Silas terlibat dalam pembentukan Badan Perjuangan Irian. Kemudian, pemerintah Indonesia menunjuknya membentuk Biro Irian di Jakarta. Hingga pada 1962, Silas menjadi anggota delegasi Indonesia dari Papua dalam Perjanjian New York yang menandai kemenangan Indonesia dalam sengketa Irian Barat. Johannes Abraham Dimara Lahir di Korem, Biak Utara, 16 April 1916, namun Dimara besar di Ambon, Maluku. Orang-orang memanggilnya dengan nama “Johanes Papua”. Pada zaman pendudukan Jepang, Dimara bertugas sebagai anggota Heiho (sejenis Hansip) di Pulau Buru. Di Perairan Namlea pada April 1946, Dimara berkenalan dengan Yosaphat Soedarso, seorang perwira Angkatan Laut Indonesia yang sedang mengadakan ekspedisi ke Maluku. Dari perkenalan itulah Dimara mengetahui tentang kemedekaan Indonesia. Dimara kemudian terlibat dalam peristiwa pengibaran bendera Merah Putih di Namlea. Dimara meneruskan perjuangannya dengan bergabung menjadi tentara dalam Batalion Pattimura, Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Pada Juli 1950, pasukan Dimara diberangkatkan ke Ambon untuk menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan pimpinan Soumokil. Sebagai putra asli Papua, Dimara diangkat menjadi ketua Organisasi Pembebasan Irian (OPI). Atas mandat dari Presiden Sukarno, Dimara bersama 40 anggotanya berangkat ke Irian Barat untuk melawan Belanda. Nahas, pada akhir Oktober 1954, Dimara beserta anak buahnya tertangkap dan dipenjarakan ke Boven Digul. “Di sana ia dipisahkan dari anak buahnya. Mereka umumnya disiksa dengan tangan dirantai. Meski sudah di dalam tahanan, tangan mereka tetap diborgol,” tulis Carmelia Sukmawati Roring dalam Fa Ido Ma, Ma Ido Fa: J.A. Dimara Lintas Perjuangan Putra Papua . Setelah tujuh tahun mendekam dipenjara, Dimara akhirnya bebas. Presiden Sukarno kemudian mengutusnya sebagai salah satu delegasi Indonesia ke PBB untuk merundingkan sengketa Irian Barat. Sosok Dimara disebut-sebut sebagai citra yang menginspirasi monumen pembebasan Irian Barat yang terletak di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Machmud Singgirei Rumagesan Lahir di Kokas, Fakfak, Papua Barat pada 27 Desember 1885. Pada 1915, pemerintah kolonial Belanda menunjuk Rumagesan sebagai kepala distrik Kokas. Kendati ditunjuk Belanda, Rumagesan bertentangan dengan pemerintah yang memberinya mandat itu. Rumagesan menuntut maskapai minyak Belanda yang membuka pertambangan di Kokas agar mempekerjakan penduduk pribumi dan tidak berlaku semena-mena. Sikap vokalnya menuai banyak dukungan rakyat. Tapi itu juga yang membuat Rumagesan dipenjara berkali-kali oleh pemerintah Belanda. Muhammad Husni Thamrin, waktu itu anggota Dewan Rakyat Hindia Belanda pernah menolong Rumagesan agar masa tahanannya dikurangi dari lima belas menjadi tujuh tahun. Sepanjang Belanda berkuasa, Rumagesan telah mencicipi berbagai penjara di pelosok Papua seperti Saparua, Sorong Doom, Manokwari, Hollandia, dan Makassar. ” Setelah Rumagesan ditempatkan di penjara Manokwari, beliau berhasil memengaruhi dan menghasut para pemuda Irian (Papua) yang menjadi tentara Belanda. ” tulis Rosmaida dan Abdul Syukur dalam Singgirei Rumagesan: Pejuang Integrasi Papua . Rumagesan juga menyadarkan para pemuda itu tentang pentingnya kemerdekaan bangsa dan negara. Pada 1953 Machmud Rumagesan mendirikan organisasi pembebasan Irian Barat di Makassar bernama Gerakan Tjenderawasi Revolusioner Irian Barat (GTRIB). Tujuannya membantu pemerintah Republik Indonesia untuk memperjuangkan pembebasan Irian Barat dari Belanda. Pada 1954, Rumagesan diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung sekaligus yang pertama dari Papua. Begitu getolnya Rumagesan menyerukan Irian Barat harus kembali ke Indonesia sehingga Presiden Sukarno memberikan julukan “Si Jago Tua” dari Irian Barat. Rumagesan wafat pada 5 Juli 1964. Kendati demikian, Si jJgo Tua itu sempat menyaksikan Irian Barat menjadi bagian dari Republik Indonesia seperti yang dicita-citakannya.
- Seberg Melawan Arus
KEKANGAN rantai yang membelenggu dirinya ke sebuah kayu membuat pikiran Jean Seberg (diperankan Kristen Stewart) melayang. Seiring mata kamera membidiknya makin dekat, nafasnya kian berat. Histeria lantas melandanya kala api mulai membakar dirinya. Itu merupakan ending dari film Saint Joan (1957) yang jadi debut Jean di layar perak. Sineas Benedict Andrews merekonstruksinya sebagai “pintu masuk” political thriller garapannya mengenai sosok sang aktris, Seberg . Andrews seolah ingin mengidentikkan sosok Jean laiknya Joan of Arc yang mulanya dipuja namun akhirnya terbakar oleh keyakinannya sendiri melawan arus di sekitarnya. Alur cerita lalu melompat ke medio Mei 1968 ketika Jean sudah bertransformasi menjadi ikon new wave sinema Prancis. Kini ia siap kembali ke tanah airnya untuk menembus Hollywood. Namun dalam perjalanan di atas pesawat maskapai Pan Am, Jean berkenalan dengan aktivis HAM dan anti-rasisme Hakim Jamal (Anthony Mackie), sepupu mendiang Malcolm X. Entah dengan motif apa, tetiba Jean ikutan mengepalkan tangan ke udara sebagai black power salute bersama Jamal dan rombongan aktivis kulit hitam lainnya, termasuk mendiang istri Malcolm X Betty Shabazz. Lakunya tak hanya jadi perhatian media massa yang berkerumun di bandara Los Angeles, namun juga menarik perhatian FBI meski tak disadarinya. Dua agen khusus FBI, Jack Solomon (Jack O’Connell) dan Carl Kowalski (Vince Vaughn), lantas ditugaskan menguntit Jean lantaran dianggap potensial menjadi ancaman baru di tengah gerakan politik kulit hitam. Benar saja. Kendati Jean dan Hakim sudah punya pasangan sah, keduanya menjalin asmara terlarang. Jean juga makin sering memberi sokongan dana meski donasi-donasinya kepada Yayasan Malcolm X lebih kepada dukungan terhadap pendidikan anak-anak kulit hitam, bukan seperti Partai Black Panther yang acap bikin onar. Kolase adegan FBI yang mengintai kehidupan Jean Seberg. ( benedictandrews.com ). Namun tetap saja Jean dianggap ancaman lantaran FBI pukul rata bahwa Afro-Amerika merupakan kelompok radikal pengganggu ketertiban. Semakin jauh Solomon dan Kowalski menguntit, hingga menyadap segala komunikasi Jean, hasilnya makin menggelitik para pimpinan FBI untuk menjadikan Jean sasaran utama mereka selain Hakim Jamal. Atas perintah Direktur FBI J. Edgar Hoover, Frank Ellroy (Colm Meaney), bos Solomon dan Kowalski, memerintahkan investigasi lebih ekstrem untuk memasukkan Jean sebagai salah satu target program kontra-intelijen COINTELPRO. Program pengintaian, infiltrasi, dan pendiskreditan aktivis-aktivis HAM yang sudah dijalankan FBI sejak 1956 itu ilegal serta kontroversial. Korban dari program ini antara lain Rap Brown, Malcolm X, Martin Luther King Jr., dan Bobby Seale. Khusus kasus Jean, hasil pengintaian dan penyadapan yang dilakoni Kowalski dan Solomon dipergunakan FBI untuk menghancurkan karier dan kehidupan pribadi Jean. Salah satunya dengan menyebarkan hoaks bahwa Jean mengandung anak dari hasil perselingkuhannya dengan Hakim Jamal lewat kolom-kolom gosip dunia hiburan. Jean juga acap diteror penelepon gelap sehingga karier maupun mentalnya terganggu. Di sisi lain, Solomon mulai mempertanyakan apakah Jean pantas diperlakukan FBI seperti itu. Sempat ia berusaha mengontak Jean sebagai penelepon anonim guna menghentikan semua aktivitas Jean sebagai simpatisan kaum kulit hitam. Namun, Jean malah makin lantang melawan meski tertekan. Bagaimana detail penyadapan dan pengintaian ilegal hingga pelecehan yang dilakukan FBI terhadap Jean dan seperti apa akhirnya, bukan di sini tempatnya. Lebih baik Anda saksikan sendiri. Meski sudah rilis sejak 10 Januari 2020, Seberg masih bisa Anda saksikan via platform daring Mola TV. Dramatisasi Kisah Tragis Sang Aktris Dengan detail properti, set film, hingga music scoring lawas bercampur retro garapan komposer Jeed Kurzel, Seberg menghadirkan nuansa 1960-an yang ramai oleh gerakan HAM, anti-Perang Vietnam, dan anti-diskriminasi. Seberg bukanlah biopik, Andrews melabelinya political thriller lantaran memang digarap sebagai dramatisasi satu bab tragis dari kehidupan sang aktris yang berangsur terseret gerakan aktivis. Dramatisasi itu membuat beberapa detail dan adegan dalam Seberg berbeda dari fakta. Contohnya adalah pesawat Boeing 747 maskapai Pan Am tempat Jean bertemu Hakim Jamal pada 1968. Padahal faktanya, jet komersil Boeing 747 baru jadi armada Pan Am pada 1970. Adegan Jean Seberg mengacungkan "Black Power Salute" faktanya tak pernah terjadi. (Tangkapan Layar Mola TV). Dramatisasi lainnya adalah kala Jean ikut-ikutan mengepalkan tangan ke udara selepas tiba di Amerika dari Paris dan jadi sasaran para fotografer. Faktanya Jean tak pernah melakoni “black power salute” itu. Pun adegan perkenalan Jean dengan Hakim Jamal, aslinya baru terjadi pada 15 Oktober 1968 selepas Jean merampungkan film Paint Your Wagon . Hakimlah yang memperkenalkan diri lebih dahulu, bukan Jean sebagaimana di film. Perkenalan mereka baru berubah menjadi hubungan asmara setelah berjalan lama, bukan one night stand . Namun, ini film. Tanpa dramatisasi jelas akan garing. Terlebih, pesan yang ingin disampaikan Andrews adalah adanya kesamaan antara nasib Joan of Arc dan Jean Seberg yang ia perankan di film Saint Joan . Andrews fokus pada bagaimana FBI menghancurkan semua tentang Jean di samping berupaya mengajak penonton menggali sendiri apa dan siapa Jean sebenarnya. “Karakter yang dimainkan Jack O’Connell (agen FBI Jack Solomon, red. ) punya pertanyaan yang sama seperti penonton: ‘Siapakah Jean Seberg?’ Kami tak mencoba menceritakan segenap hidupnya karena itu akan jadi cerita yang lain,” ujar Andrews kepada Screen Rant , 21 Februari 2020. “Kami juga sengaja mempersempit kiprahnya di akhir 1960-an. Tapi di akhir film, kami meninggalkan jejak untuk diikuti penonton, seperti karakter Santa Joan, ketika dia dibakar di set film jadi salah satu petunjuk kecilnya. Namun setiap aspek kehidupannya luar biasa. Kami hampir tak menyentuh pernikahannya dengan Romain Gary (suami kedua Seberg) yang punya cerita menarik sendiri. Saya merasa film ini jadi ajakan buat semua orang untuk mengenalnya lebih dekat,” imbuhnya. Sosok Jean Dorothy Seberg (kiri) yang diperankan aktris Kristen Jaymes Stewart. ( benedictandrews.com / neh.gov ). Tanpa mengetahui Jean lebih dekat, mustahil dapat memahami mengapa FBI sampai memasukkan namanya menjadi salah satu target COINTELPRO hingga membuat jiwanya terguncang dan akhirnya bunuh diri pada usia 40 tahun. Lahir di Marshalltown, Iowa, Amerika Serikat pada 13 November 1938, Jean Dorothy Seberg justru memilih merintis kariernya di Eropa setelah debut di film Saint Joan . Namanya melejit lewat film À Bout de Souffle ( Breathless dalam versi bahasa Inggris) garapan sineas Jean-Luc Godard. Film rilisan tahun 1960 itu meledak di pasaran dan jadi titik pijak new wave sinema Prancis. Hingga akhir hayatnya, Seberg membintangi 37 film baik semasa berkiprah di Prancis maupun setelah pulang ke Amerika menembus Hollywood. Di Prancis, Seberg dua kali menikah. Yang pertama dengan pengacara, François Moreuil, namun hanya berjalan dua tahun (1958-1960). Kedua, dengan novelis cum sutradara Romain Gary, di mana bahtera pernikahannya juga hanya bertahan delapan tahun (1962-1970). Dalam otobiografinya Chien Blanc ( White Dog ), Gary mengungkapkan, simpati Seberg terkait isu-isu HAM bukan barang baru bagi sang istri. Isu itu sudah jadi perhatian Jean sejak belia dan sebelum masuk industri film. “Seberg sudah ikut organisasi HAM sejak dia baru 14 tahun dan masih tinggal di Marshalltown, Iowa. Idealisme dia, seperti tipikal orang Amerika, tak bisa menyisakan masalah tanpa menyelesaikannya. Namun, di Eropa karakter seperti ini sering disalahartikan sebagai kemunafikan. Sampai akhirnya hal ini menimbulkan masalah dalam pernikahan kami,” ungkap Gary yang punya seorang putra, Alexandre Diego Gary, dari hasil pernikahannya dengan Jean. Figur Allen Donaldson alias Hakim Abdullah Jamal yang diperankan aktor Anthony Mackie. ( benedictandrews.com / Dead Level: Malcolm X and Me ). Pada 1960-an di Prancis mulai timbul gerakan-gerakan HAM yang puncaknya berupa protes massal yang berujung kerusuhan Mei 1968. Kepeduliannya pada soal sosial-politik turut dibawanya kala kembali ke Amerika di tahun yang sama. Ia masuk ke gerakan politik anti-diskriminasi berkat perkenalannya dengan Hakim Jamal. Jean ingin menjadi agen perubahan di mana tak semua kaum selebritas apatis terhadap diskriminasi yang terjadi di sekitar mereka. Namun, simpati Jean kepada kelompok perjuangan kulit hitam membabi-buta. Padahal, dia sudah diperingatkan Hakim untuk tidak bersimpati ke kelompok yang lebih radikal seperti Partai Black Panther. Akibatnya, langkah Jean menarik perhatian FBI. Los Angeles Times , 6 Januari 1980 memberitakan, FBI sudah mengintai Jean sejak 1969 dan memasukkan namanya jadi sasaran COINTELPRO pada Desember 1970. Dari pengintaian sejak Juni 1969, diketahui Jean pernah memberi cek senilai USD5 ribu kepada Hakim Jamal yang aktif di Yayasan Malcolm X. Ditambah, Jean juga salah satu donatur aktif Partai Black Panther. Sepanjang 1970, Jean menyumbang total 10.500 dolar. FBI cabang Los Angeles, di bawah perintah direktur pusat J. Edgar Hoover, akhirnya melancarkan rencana COINTELPRO untuk “menetralisasi” Jean Seberg. Via memo dari markas besar FBI di Washington DC ke Los Angeles tertanggal 27 April 1970, restu mempublikasi gosip dan berita bohong diberikan kepada agen yang selama ini mengintai Seberg, Jack Solomon. “Meminta izin biro (pusat) untuk mempublikasi kehamilan JEAN SEBERG, aktris film ternama, oleh…Partai Black Panther (BPP)…dengan menyarankan kolumnis gosip Hollywood di area Los Angeles. Dirasa bahwa kemungkinan publikasi tersebut akan menyebabkan aib dan merendahkan imejnya di mata publik,” demikian potongan memo tersebut. Memo FBI terkait upaya "netralisir" Jean Seberg. (US Federal Government). Akibat publikasi itu, jiwa Jean terguncang. Ia bahkan sampai melahirkan secara prematur pada 23 Agustus 1970. Bayinya yang dinamai Nina Hart Gary dua hari kemudian meninggal. Dalam upacara pemakaman Nina, peti matinya sampai dibuka untuk menunjukkan bahwa Nina berkulit putih, bukan hitam sebagaimana hoaks yang disebarkan FBI melalui kolom-kolom gosip. Efek pembunuhan karakter oleh FBI itu terus menyiksa batin Jean. Bahkan ketika dia sudah tinggal berpindah-pindah di Swiss dan Italia, FBI masih menguntitnya lewat kontak silang “FBI Legat” yang bekerjasama dengan sejumlah atase hukum kedutaan Amerika di Paris dan Roma. Sepuluh hari menghilang, Jean akhirnya ditemukan dengan jasad sudah membusuk di dalam mobilnya di Paris, 8 September 1979. Ayahnya, Edward Waldemar Seberg, amat terpukul mendengar kabar putrinya meninggal karena diduga bunuh diri. “Jika benar (jadi target FBI), kenapa mereka tak menembaknya saja, ketimbang terus-menerus membuatnya menderita. Saya punya bendera (Amerika) ini di sudut ruangan yang selalu saya kibarkan di halaman setiap pagi dan sejak saat itu saya tak pernah mau lagi mengibarkannya,” kata sang ayah saat diwawancara Mike Wallace dalam program “The Wallace Profiles” yang ditayangkan CBS , 17 November 1981. Kabar meninggalnya Jean jadi berita heboh di media massa Amerika. Time sampai membuat judul “The FBI vs Jean Seberg” untuk artikel investigasinya soal masalah Seberg. FBI setelah terpojok mengakui telah menyebar hoaks bahwa Seberg dihamili aktivis Black Panther. Atas desakan Senat berdasarkan Freedom of Information Act (FOIA), FBI bersedia membuka berkas-berkas tentang pengintaian dan penyadapan Seberg. COINTELPRO sebagai metode FBI lantas dihapus pada April 1971. Data Film: Judul: Seberg | Sutradara: Benedict Andrews | Produser: Marina Acton, Fred Berger, Kate Garwood, Stephen Hopkins, Brian Kavanaugh-Jones-Bradley Pilz, Alan Ritchson | Pemain: Kristen Stewart, Antony Mackie, Zazie Beetz, Jack O’Connell, Margaret Qualley, Vince Vaughn, Colm Meaney | Produksi: Automatik, Bradley Pilz Produtions, Phreaker Films, Ingenious Media| Distributor: Amazon Studios, Universal Pictures | Durasi: 102 Menit | Rilis: 20 Januari 2020.
- Singgah di Rumah Dewa Siwa
BANGUNAN untuk Dewa Siwa akhirnya memperlihatkan bentuknya. Berkat dukungan masyarakat yang ikut memberikan sumbangan, ratusan pekerja bisa merampungkan pembangunan. Bangunan itu begitu indah berkilau. Sungai yang tadinya mengaliri halaman dialihkan sehingga menelusuri sisi-sisi halamannya. Dua bangunan kecil terdapat pada pintu gerbangnya. Sejumlah bangunan kecil lainnya yang juga indah menjadi tempat bertapa. Bangunan-bangunan kecil berderet bersap-sap mengitari bangunan induk. Sama semua bentuknya. Di sebelah timur candi induk tumbuhlah pohon tanjung Ki Muhur yang baru setahun umurnya. Keindahannya menyamai pohon parijataka milik Dewata. Di sinilah tempat turunnya sang dewata. Demikianlah Prasasti Siwagrha (778 Saka/856 M) bercerita tentang pembangunan rumah bagi Dewa Siwa (Siwagrha). Para arkeolog mengaitkan kuil dalam prasasti itu dengan Kompleks Candi Prambanan. Tri Hatmadi dalam Pelapukan Batu Candi Siwa Prambanan dan Upaya Penanganannya menyebut gugusan candi, yang menurut prasasti ada di dekat sungai, mengingatkan pada Kompleks Candi Prambanan dengan Sungai Opak di sebelah baratnya. Deretan candi yang bersap sejauh ini juga cuma ada di Kompleks Candi Prambanan. Dan hasil penelitian mutakhir menunjukkan bahwa pembangunan Candi Prambanan adalah pekerjaan mahabesar dalam peradaban masyarakat Jawa Kuno. Dekat Sungai Candi Prambanan sebagaimana pula kebanyakan candi lainnya, dibangun di dekat sungai. Candi dan air punya hubungan yang akrab. Air merupakan elemen penting dalam pemujaan Hindu. Tak hanya digunakan dalam persembahan, tetapi para pendeta pun membutuhkannya untuk menyucikan diri sebelum melakukan ritual. Mundardjito, arkeolog Universitas Indonesia, dalam disertasinya berjudul “Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Budha di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro”, menyebutkan dalam kitab Manasara-Silpasastra yang berisi aturan-aturan pembangunan kuil di India, menjelaskan bahwa sebelum suatu bangunan kuil didirikan, harus lebih dahulu dinilai kondisi dan kemampuan lahannya. Kitab itu mengharuskan pula keletakan kuil berdekatan dengan air. Kitab Silpa Prakasa bahkan menekankan, lahan yang tanpa sungai harus dihindari ketika mendirikan kuil. “Karena air mempunyai potensi untuk membersihkan, menyucikan, dan menyuburkan,” jelas Mundarjito. Dijelaskan pula oleh arkeolog R. Soekmono dalam disertasinya “Candi, Fungsi dan Pengertiannya”. Jika air dari sumber alam tak tersedia maka kolam atau waduk buatan harus dibangun. “Tempat suci itu suci karena kualitas situsnya, bangunan candinya nomor dua,” tegasnya. Ibukota Baru Sementara Veronique Myriam Yvonne Degroot, arkeolog dari lembaga penelitian Prancis Ecole Francaise d'Extreme-Orient (EFEO), dalam disertasinya di Universitas Leiden berjudul “Candi, Space, and Landscape: a Study on the Distribution, Orientation, and Spatial Organization of Central Javanese Temple Remains”, berpendapat pemilihan lokasi pembangunan Kompleks Candi Prambanan juga beriringan dengan pergeseran pemerintahan kala itu ke arah timur dataran Kedu. “Kompleks Candi Prambanan mungkin mulai dibangun paruh kedua abad ke-9,” katanya. Katanya, sekira tahun 820 (Prasasti Sragen) dan setelah 855, peninggalan candi dan prasasti mulai bermunculan di sebelah timur Prambanan. “Candi-candi besar yang lebih muda, seperti Plaosan Lor dan Prambanan dibangun, menunjukkan perluasan ke timur lingkungan pengaruh Hindu-Buddha,” jelasnya. Dalam Prasasti Siwagrha disebutkan tentang raja yang mendirikan istana baru Medang di Mamrati. “Bisa jadi teks tersebut merujuk pada pemindahan ibukota dari kawasan Muntilan ke kawasan Prambanan,” jelas Degroot. Perpindahan ke wilayah yang lebih ke timur ini, menurut Degroot, bisa dilihat sebagai langkah pertama dari perpindahan kekuasaan di Jawa Tengah ke Jawa Timur. Sampai kemudian pada era Mpu Sindok atau Sri Isyana Vikramadhammatunggadeva sekira 929 M, kerajaan dipindahkan ke wilayah Jawa Timur sekarang. Banyak pendapat soal alasan kepindahannya. Tapi kalau menurut arkeolog Roy Jordan dalam Memuji Prambanan , tidak mungkin candi ini dibangun dalam jangka pendek antara 855-856. Pembangunan mungkin dimulai sejak masa Rakai Pikatan, ayah Rakai Kayuwangi, atau malah pendahulunya. “Boleh jadi beberapa dasawarsa sebelumnya,” kata Jordan. Sejauh ini Prasasti Siwagrha memang hanya menginformasikan bahwa Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala merupakan raja Mataram Kuno (Medang) yang meresmikan Candi Prambanan pada 856 M. Soal siapa peletak batu pertama kuil suci bagi Siwa ini tak diketahui dengan jelas Nasib Candi Prambanan semakin tak jelas seiring perpindahan pusat pemerintahan ke Jawa Timur. Prambanan yang menjadi simbol masa keemasan Mataram Kuno ditinggalkan tanpa diketahui musababnya. “Adakah disebabkan kerusakan bangunan akibat bencana gempa, peperangan, ataukah kondisi politik-ekonomi-sosial yang pada akhirnya menyebabkan Prambanan tenggelam dalam sejarah selama belasan abad,” tulis Ni Luh Nyoman Rarianingsih dan Kayato Hardani dalam Membangun Kembali Prambanan. Enam abad berlalu sejak peresmian Kuil Siwa oleh Rakai Kayuwangi. Kisah tentang bangunan candi yang terbengkalai di pedalaman Jawa Tengah diperdengarkan oleh Mpu Tanakung, penyair istana dari Jawa Timur pada abad ke-15. Mpu Tanakung bercerita tentang sebuah kompleks percandian dari masa purbakala yang berdiri tegak di dekat sebuah sungai yang mengalir dari sebuah gunung. Gapura-gapuranya yang berbentuk makara telah tumbang dan hancur. Tembok-temboknya hampir runtuh. “Kepala-kepala raksasa itu seolah menangis. Raut mukanya tertutup tetumbuhan yang menjalar. Patung-patung penjaga di dekat gapura-gapuranya tumbang. Rata dengan tanah, seolah tak kuat lagi dan sedih,” catatnya. Bagi arkeolog Roy Jordan, penggambaran yang ditulis Mpu Tanakung dalam karyanya, Siwaratrikalpa , memiliki banyak kesamaan dengan Candi Prambanan. “Kalau melihat relief- relief, aduh, sungguh menyayat hati…,“ kata Mpu Tanakung. “…Candi utama menjulang tinggi, tetapi rumput liar merimbun di puncaknya.” Selain harus berserah diri pada kehendak alam, Prambanan mengalami nasib buruk setelah berabad-abad tak terpelihara. Arca-arcanya dicuri. Perigi-perigi dibongkar, dijarah isinya. Tak terbilang berapa blok batu yang dimanfaatkan untuk fondasi atau pagar bangunan baru. Kegiatan penanaman kembali beberapa bibit tanaman di areal Candi Bubrah yang terletak berdekatan dengan Candi Prambanan. Turut pula menghadirkan youtuber Andovi da Lopez . (Dok. Bakti Lingkungan Djarum Foundation). Mengembalikkan Keindahan Baru pada 1918 ada upaya mengembalikan keindahan candi yang melegenda sebagai buah karya Bandung Bondowoso. Restorasi awal dipimpin oleh orang Belanda bernama F.D.K Bosch. Lalu pada 1938, usaha yang lebih sistematis dilakukan di bawah pimpinan van Ramondt. Selama proses pembangunan kembali, sejumlah biro perjalanan wisata menawarkan Candi Prambanan sebagai tujuan kunjungan. Khususnya untuk wisatawan Eropa. Di antaranya biro wisata dari Batavia (Jakarta) dan Surabaya. Mereka menerbitkan brosur panduan wisata yang terbit sekira 1900 dan 1918. Candi Prambanan atau yang mereka sebut dengan Brambanan, Brambanam, atau kadang Brambanang masuk sebagai objek yang layak dikunjungi. “Brosur-brosur berilustrasi foto tersebut sudah memuat informasi singkat sejarah dan latar belakang agamanya yakni agama Hindu,” catat Ni Luh Nyoman Rarianingsih dan Kayato Hardani. Kunjungan wisata ke Prambanan didukung semakin berkembangnya kereta api. Jalur rel yang menghubungkan Yogyakarta-Surakarta dengan Semarang telah ada sejak 1870-an dikelola oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappi (NISM). Kini, akses menuju Prambanan semakin mudah. Setiap orang yang akan melintas dari Yogyakarta menuju Solo pasti akan melewati Candi Prambanan. Letaknya ada di perbatasan timur Yogyakarta. Akan tampak di sana Candi Siwa, yang terbesar berada di tengah sebagai pusat, diapit Candi Wisnu di sebelah utara dan Candi Brahma di sebelah selatan. Di depan ketiga candi itu ada tiga candi yang lebih kecil. Pada pintu gerbang utara dan selatan terdapat dua candi lagi. Candi Apit sebutannya. Kemudian ada candi-candi kecil yang letaknya di delapan penjuru mata angin. Beratus tahun setelah pembangunannya kembali, Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Untuk menambah keindahan dan kenyamanan bagi pariwisata, usaha penghijauan kawasan candi pun dilakukan. Berbagai macam pohon dan bibit semak ditanam di Kompleks Candi Prambanan setahun lalu melalui Gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) yang diinisiasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation. Paling tidak 25 varietas dari 250 pohon dan 5,000 semak berbunga ditanam serentak. Trembesi, flamboyan merah, kecrutan, tanjung, sawo manila, sawo kecik, melinjo, manga, flamboyan kuning, bodhi, nagasari, kepel, waru merah, kamboja putih, keben, maja, dan cassia javanica merupakan tanaman yang dipilih untuk menghijaukan kawasan Prambanan. Penanaman dilakukan dengan menggandeng ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta. Harapannya kegiatan ini bisa mendorong generasi muda untuk semakin mencintai dan menghargai warisan para leluhur. Menariknya beberapa pohon itu rupanya pernah pula ditanam pada masa Candi Prambanan difungsikan. Tanjung tersua dalam Prasasti Siwagrha tentang pohon tanjung yang tumbuh di timur candi induk Siwagrha. Lalu pohon mangga teridentifikasi pada relief cerita Kresnayana yang terpahat pada dinding Candi Wisnu. Itu sebagaimana yang oleh arkeolog Hari Setyawan dalam “Prasasti dan Naskah Jawa Kuno sebagai Alat Interpretasi Penggambaran Jenis Tanaman pada Relief Cerita Candi Prambanan”, Menggores Aksara, Mengurai Kata, Menafsir Makna ketahui dari bentuk daun, arah tumbuh cabangnya, dan bentuk buahnya. Pohon mangga dan pohon waru juga terpahat di relief cerita Ramayana pada dinding Candi Siwa dan Brahma. Kini, bangunan bagi Siwa itu telah kembali sempurna, indah berkilau. Semoga ia tak lagi dilupakan, terus diingat dan dirawat sebagai bukti pekerjaan mahabesar dalam peradaban masyarakat Jawa Kuno.*
- Mantan Agen CIA Gagal Jadi Duta Besar di Indonesia
EDWARD E. Masters telah menyelesaikan tugasnya sebagai duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia pada November 1981. Namun, penggantinya belum juga ditunjuk. Jabatan itu pun kosong selama setahun. Penyebabnya, tiga nama yang diusulkan memicu kontroversi, yaitu Michael Armacost, Morton Abramowitz, dan Kent Bruce Crane. Nama terakhir pernah bertugas di Indonesia.
- Mengenang Aksi Maradona di Jakarta
Dunia sepakbola berduka. Diego Armando Maradona, maestro sepakbola berjuluk "si tangan Tuhan" itu wafat. Dia meninggal setelah penyakit menggerogoti otak dan jantungnya. Operasi telah dilakukan, tapi tak mampu menyelamatkan mantan pemain sepakbola asal Argentina itu. Warga Argentina mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda duka. Pengawalan ketat ketika Diego Maradona sampai di Gelora Bung Karno pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Anak-anak menyambut kedatangan Maradona dengan memakai jersey Argentina pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Selama karier profesionalnya, Maradona menghabiskan banyak waktu dalam hidupnya untuk berkeliling dunia. Dia menyinggahi banyak negara. Setelah pensiun pun demikian.Salah satunegara yang pernah dikunjunginya adalah Indonesia. Dia datang ke sini pada 2013 lalu untuk memberikan klinik kepelatihan singkat. Maradona saat menyambut tangan seorang fans di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Maradona saat memberikan sambutan di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Maradona saat membagikan bola di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pemain yang membawa Argentina menjadi juara Piala Dunia 1986 tersebut memperoleh sambutan luar biasa di Jakarta. Dimulai dari bandara Sukarno-Hatta sampai ke Stadion Utama Gelora Bung Karno. Tapi kunjungan Maradona sedikit tercoreng. Jadwalnya berantakan. Maradona urung berbagi tips dan trik bermain sepakbola kepada anak-anak Indonesia. Padahal banyak anak telah menunggu. Dia hanya membagikan bola yang sudah ditandatanganinnya. Aksi Maradona di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Maradona saat memberikan tanda tangan di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Aksi anak-anak saat menyambut Maradona di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengawalan ketat kepada Maradona di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Maradona melabaikan tangan saat gala dinner di Jakarta pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Maradona di Jakarta pada 2013 silam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Walau begitu, publik seolah memaklumi perilaku demikian. Mereka tahu Maradona legenda dunia. Dia bisa saja berperilaku seenaknya. Sekalipun begitu, orang-orang tetap memujanya. Ini tampak ketika Maradona wafat. Penghormatan terakhir dari masyarakat dunia terus mengalir kepada mantan pemain Napoli itu. Maradona telah kembali kepada Tuhannya dan mengembalikan tangan Tuhan yang pernah dipinjamnya untuk menjebol gawang Inggris pada 1986. Ciao Diego ! Legenda sepakbola asal Argentina Diego Maradona wafat pada usia 60 tahun. (Fernando Randy/ Historia.id ).
- Sukarno dan Buku CIA
DAVID Wise dan Thomas B. Ross menerbitkan The U-2 Affair pada 1962. Buku ini tentang Francis Gary Powers, pilot Amerika Serikat, yang ditembak jatuh dan ditangkap oleh Uni Soviet tahun 1960, ketika menerbangkan pesawat rahasia Lockheed U-2, pesawat mata-mata CIA. Insiden tersebut menyebabkan semakin memanaskan Perang Dingin dan meningkatkan ketidakpercayaan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
- Ketika Brigadir Mallaby Bertemu dengan "Menteri Pertahanan RI"
Dua hari setelah pembacaan Proklamasi, Presiden Sukarno mengumumkan kabinetnya yang pertama. Semua tokoh pejuang yang diangkat oleh presiden Republik Indonesia (RI) sebagai anggota kabinet, mengonfirmasi kesediaan mereka kecuali Supriyadi, menteri keamanan rakyat. Hingga batas waktu yang ditetapkan, tokoh pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (Peta) di Blitar itu sama sekali tak memberikan kabar. Dirinya hilang bak ditelan bumi. “Banyak yang bilang saat itu Supriyadi sudah dibunuh tentara Jepang. Ya itu bisa saja,” ungkap sejarawan Rushdy Hoesein. Kekosongan itu sejatinya sempat diisi oleh seorang pejabat sementara bernama Soeljadikoesoemo. Namun karena situasi komunikasi saat itu yang serba sulit, berita pengangkatan tersebut tak banyak orang yang tahu. Termasuk oleh para pejuang Indonesia yang tengah siap-siap menghadapi pendaratan tentara Inggris di Surabaya. Kamis pagi, 25 Oktober 1945, Gubernur Jawa Timur R.M.T.A. Soerjo menerima laporan dari para pembantu bidang ekonomi di Kegubernuran bahwa tentara Inggris mulai mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak. Dengan perlindungan beberapa kapal perang, mereka menurunkan sekitar 6.000 prajurit Brigade 49 Infanteri India di bawah pimpinan Brigadir A.W.S. Mallaby. Melalui dua perwira utusannya, Mallaby menyampaikan undangan lisan kepada Gubernur Soerjo untuk melakukan pertemuan di atas kapal Inggris. Namun, Gubernur Soerjo tidak dapat memenuhi undangan itu karena sedang sibuk dengan tugas yang lain. Mendapat jawaban demikian, utusan Inggris langsung meninggalkan ruang kerja gubernur tanpa permisi dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sikap tidak sopan kedua perwira Inggris itu direspons secara dingin oleh Gubernur Soerjo. Kepada pembantunya yang ikut menyaksikan kepongahan dua utusan itu, Soerjo menyatakan bahwa pemerintah Jawa Timur tidak harus selalu menuruti kemauan pihak Inggris. “Jangan khawatir, kita sudah menang karena mereka sudah berperilaku buruk dan kasar,” kata Gubernur Soerjo seperti dikutip Nugroho Notosusanto dalam Pertempuran Surabaya. Usai melakukan penolakan, Gubernur Soerjo lantas mengadakan rapat kilat. Diputuskan, dia akan memberi mandat kepada Mayor Jenderal drg. Moestopo selaku pimpinan BKR Jawa Timur untuk berunding dengan pihak Inggris sekaligus memberikan hak kepadanya mengatasnamakan pemerintah Jawa Timur. “Rapat tersebut juga menyatakan tak keberatan bila Moestopo menggunakan nama 'Menteri Pertahanan add interim' sesuai dengan surat tertulis yang ditandatangani oleh Jaksa Agung Mr. Gatot (Tarunamihardja) tertanggal 13 Oktober 1945,” ungkap Moehkardi dalam Sebuah Biografi: R. Mohammad dalam Revolusi 1945 Surabaya. Berbekal surat mandat itu, Moestopo yang didampingi oleh Mohammad Jasin, komandan Polisi Istimewa, dan Soetomo alias Bung Tomo, pemimpin BPRI, kemudian mendatangi Mallaby di markasnya. Dengan sikap penuh percaya diri, ketiga utusan kaum republik itu menyarankan Mallaby untuk tidak seenaknya mendaratkan pasukannya mengingat Surabaya merupakan wilayah hukum RI. “Lantas kepada siapa kami harus mendapatkan izin untuk mendaratkan pasukan kami?” tanya Mallaby. “Kepada Menteri Pertahanan Republik Indonesia!” jawab Moestopo. “Di mana kami bisa menemuinya?” “Menteri yang anda tanyakan itu sekarang duduk di depan anda,” ujar Moestopo. Mallaby terlihat kaget sejenak. Namun dia cepat menguasai diri dan langsung mengubah sebutan “Mr” kepada Moestopo menjadi “Your Excellency”. Kendati demikian, perundingan tetap berjalan alot. Alih-alih menuruti saran dan keinginan para pejuang Surabaya, Mallaby bersikeras untuk mendaratkan pasukannya tanpa syarat sama sekali.





















