top of page

Hasil pencarian

9774 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kesaksian Seorang Heiho di Balikpapan

    KEMIS bin Singadarta bukanlah anggota Heiho terkenal macam Amat, yang bertempur di Balikpapan melawan serbuan Sekutu pada 1945. Dia hanyalah pemuda 25 tahun dari Desa Toyoreka di Keresidenan Banyumas, Jawa Tengah pada tahun 1945. Profesinya hanya tukang bubut. Namun dengan keahliannya itu, Kemis bisa jadi anggota teknik militer di Heiho dan ke luar Jawa. Heiho adalah pembantu tentara Jepang. Anggotanya direkrut dari penduduk lokal tempat pasukan Jepang berkuasa. “Heiho mulai diberlakukan di Indonesia pada tanggal 22 April 1943. Heiho terutama bertugas sebagai pekerja transportasi, logistik, dan konstruksi. Yang lainnnya bertugas dalam unit-unit penangkis serangan udara, tank, dan transportasi. Pada awalnya, heiho dibentuk terutama dari para tawanan perang bangsa Indonesia yang pernah bertugas dalam KNIL. Kemudian, perekrutan dilakukan di antara masyarakat umum,” tulis Nino Oktorino dalam Ensiklopedi Pendudukan Jepang di Indonesia .

  • Maria Walanda Maramis, Pahlawan Nasional dari Sulawesi Utara

    SENYUM terkembang di wajah Maria Walanda Maramis saat membuka Sekolah Rumah Tangga ( Huishoud School ) di Sulawesi Utara pada 1917. Di tahun yang sama, tepatnya pada 8 Juli 1917, Maria juga mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya) yang berperan besar dalam meningkatkan pendidikan bagi perempuan dan anak-anak di Sulawesi hingga ke berbagai daerah. Maria lahir di Kema, kota pelabuhan kecil di Sulawesi Utara, pada 1 Desember 1872. Orang tuanya meninggal saat ia berusia enam tahun. Ia kemudian dibesarkan oleh paman dan bibinya. Pamannya, seorang Hakim Besar yang terpandang di Maumbi, menyekolahkan Maria dan kakak perempuannya di sebuah Sekolah Melayu. Sejak remaja, Maria sudah memiliki keinginan memajukan kaum perempuan. J.B. Sudarmanto dalam Jejak-jejak Pahlawan Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia  menyebut perkenalan Maria dengan sejumlah orang terpelajar, salah satunya Pendeta Ten Hoeven, kian membuka matanya akan pentingnya pendidikan untuk kaum perempuan. Terlebih Maria menyadari pendidikan yang diperolehnya belum memadai karena hanya sekolah dasar. Oleh karena itu, ia mengisi waktunya dengan belajar secara otodidak.

  • Jejak Nazi di Ukraina

    KOTA-kota besar strategis Ukraina terus diguncang prahara agresi Rusia sejak 24 Februari 2022. Kharkiv, Mariupol, Berdyansk, Kherson, dan bahkan ibukota Kyiv jadi target serangan Kremlin yang dalih awalnya akan membebaskan Luhansk dan Donetsk. Presiden Rusia Vladimir Putin memberi lampu hijau pada mesin-mesin perangnya dengan alasan untuk melakoni demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina dari rezim sayap kanan pengikut neo-Nazi dan “Banderites”. “Banderites dan neo-Nazi mengumpulkan senjata-senjata berat, termasuk MLRS (Sistem Peluncur Roket Ganda), tepat di distrik pusat kota-kota besar, termasuk Kiev dan Kharkov. Ini sebenarnya mereka berlaku dengan cara yang sama dengan tindakan-tindakan teroris di seluruh dunia –menggunakan manusia sebagai tameng,” kata Putin, dikutip Kementerian Luar Negeri Rusia via akun Twitter -nya, @mfa_russia , 26 Februari 2022. “Banderites” merupakan istilah neo-Nazi yang dipakai Kremlin sejak era Uni Soviet. Istilah tersebut merujuk pada tokoh fasis di era Perang Dunia II, Stepan Bandera. Tokoh perlawanan yang pernah berkolaborasi dengan Jerman Nazi untuk melawan Soviet dan di kemudian hari justru berontak pada Nazi itu dinobatkan sebagai pahlawan nasional Ukraina oleh Presiden Ukraina Viktor Yushchenko pada 2010. Namun, setahun berselang status itu dicabut lagi atas desakan Polandia, Rusia, dan Uni Eropa karena Bandera dianggap terlibat dalam holocaust di Ukraina dan Polandia.

  • John Rabe, Nazi Anomali dalam Prahara Nanking

    MUSIM dingin di Nanking (kadang ditulis Nanjing) pada akhir Januari 1938 masih begitu menusuk. John Rabe, lelaki plontos berkacamata dan menyandang armband Swastika Partai Nazi di lengan mantelnya, berjalan dengan hati-hati ditemani asistennya, Han. Mereka hendak mengecek sekitar 100 pengungsi di dekat pekarangan belakang rumahnya. Kamp pengungsi itu berubah jadi rawa-rawa lagi. Sebelumnya terjadi badai salju selama dua hari. Hari Minggu, 30 Januari 1938, itu saljunya mencair. Terlepas dari keadaan yang memprihatinkan, mayoritas pengungsi itu memajang senyum saat ditemui Rabe. Maklum, sebelumnya pada perayaan tahun baru 1938, Rabe menyumbangkan 100 dolar Amerika untuk diberikan masing-masing satu dolar ke 100 pengungsi itu. “Sungguh kemalangan yang luar biasa, dan besok adalah Tahun Baru China (Imlek), hari raya terbesar bagi orang-orang China yang malang! Komite memberikan kamp saya sebuah hadiah tambahan lima dolar untuk membeli rempah-rempah untuk membumbui nasi tahun baru mereka – lima dolar untuk 600 orang! Sayangnya kami tak bisa memberikan lebih dari itu walau uangnya mereka terima dengan rasa syukur. Semua orang juga menerima secangkir beras tambahan dari jatah harian dua cangkir,” tulis Rabe dalam catatan hariannya, Der Gute Deutsche von Nanking (terj. The Good German of Nanking ).

  • Balas Dendam Setimpal Mantan Pengawal

    JEHOEDE Leip Jegiel Igel, seorang Yahudi dari Polandia, mengadu nasib ke Hindia Belanda. Pemuda kelahiran 22 April 1755 di Grodno itu berlayar dari Rotterdam dengan menumpang kapal Huys de Kruyswijk . Setelah tiba di Batavia pada 1775, ia menjadi tentara VOC. Ia bertugas sebagai pengawal Gubernur Jenderal Reinier de Klerk yang tinggal di rumah megah di Molenvliet (kini Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada No. 111, Jakarta Barat). Ia membangunnya pada 1760 kala menjadi anggota Dewan Hindia. Rumah peristirahatan atau villa itu cukup jauh dari pusat kota Batavia Lama. Sejarawan Adolf Heuken SJ menulis dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta , pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Reinier de Klerk yang menjabat dari 1777–1780, rumah besar di Molenvliet tersebut digunakan sebagai kediaman resmi pejabat tertinggi pemerintahan. Banyak tamu datang menghadap de Klerk untuk membahas berbagai hal termasuk bisnis sang gubernur jenderal.

  • Goresan Sejarah Tato Nazi

    PUBLIK, utamanya di Tasikmalaya, Jawa Barat dihebohkan dengan jasad misterius pada 15 Oktober 2021. Belum menemukan identitasnya. Pihak kepolisian sekadar mengumumkan ciri-ciri jasad, yakni terdapat tato tengkorak di lengan kanan dan tato swastika yang identik dengan Nazi di lengan kirinya. Tato swastika acap dijadikan identitas kalangan Neo-Nazi di Eropa dan Amerika Selatan pasca-Perang Dunia II. Lazimnya sebagai bentuk fanatisme dan pemujaan mereka terhadap diktator Nazi Adolf Hitler serta gembong-gembong Nazi dan para jenderal ulung Jerman semasa Perang Dunia II. Selain swastika, simbol-simbol lain yang biasa dijadikan tato adalah simbol “SS” dengan style  aksara Rune. Simbol tersebut untuk mengagungkan Waffen-SS atau Pasukan Schutzstaffel (SS).                             Pasukan SS hadir pada 1933 sebagai satgas Partai Nazi. Tetapi enam tahun berselang, saat Perang Dunia II pecah, Waffen-SS “beranak-pinak” sebagai militer elit di luar Wehrmacht (tentara reguler Jerman). Anggota-anggotanya tak hanya dicomot dari prajurit reguler tapi juga prajurit-prajurit sukarelawan negeri-negeri yang bersekutu dengan Jerman.

  • Saat Tentara Kanada Dibantai Nazi

    USAI memimpin upacara pemakaman serdadu-serdadu Kanada yang tewas dalam baku-tembak usai pendaratan di Normandia, Prancis pada 6 Juni 1944 sore, Kapten (kehormatan) Pendeta Walter Leslie Brown dari Resimen Lapis Baja ke-27 “Sherbrooke Fusiliers” AD Kanada meminta disediakan sebuah jip. Dia hendak mengantarkan obat-obatan dan membantu penyembuhan seorang perwira di rumahsakit lapangan militer Kanada di Les Buissons. Dia kemudian berangkat dengan didampingi Letnan W.F Grainger dan disopiri Kopral Lance J.H. Greenwood.   Walter adalah pendeta Kanada pertama yang menginjakkan kaki di pantai di Pantai Juno pada D-Day pada 6 Juni 1944 dengan hanya membawa koper. Adalah impian Walter untuk melayani dan melakukan upacara perjamuan kepada tentara Kanada yang membutuhkan penghiburan religius. Setelah dia menghabiskan tiga tahun di Inggris untuk melayani orang-orang, Walter bertanya kepada atasannya apakah dia bisa berpartisipasi dalam aksi yang akan terjadi di Normandia. Permintaannya dikabulkan dan Walter, yang akan selamat dari hari pertama kampanye Normandia, mendarat bersama anak buahnya dalam gelombang pertama aksi pada dini hari tanggal 6 Juni 1944. Namun, Walter tak pernah bisa melaksanakan tugas itu lantaran rombongan kecilnya tersesat. Hingga lewat pukul 11 malam, tempat tujuan mereka belum berhasil ditemukan. Usut punya usut, ternyata tikungan ke arah Les Buissons yang mestinya mereka lalui justru terlewat. Akibatnya mereka mencapai daerah ke arah Cussy. Maka begitu mereka sadar telah salah jalan, Greenwood segera menghentikan jip di dekat Desa Galmanche. Walter dan Grainger langsung berupaya mengingat-ingat posisi mereka sesungguhnya.

  • 24 Maret 1944: Pembantaian Nazi di Gua Ardeatine

    HARI ini, 24 Maret 1944. Letnan Kolonel Herbert Kappler, kepala kepolisian sekaligus Gestapo di Roma, Italia, memanggil 12 perwira di jajarannya. Kepada mereka dia menjelaskan bahwa sore itu juga akan diadakan eksekusi terhadap 330 tahanan sipil. Skema eksekusi yang dibuatnya telah dilaporkannya kepada Jenderal Mayor Kurt Malzer yang menjabat sebagai komandan tertinggi militer Jerman di Roma. Kappler meminta semua perwiranya agar ikut berpartisipasi dalam eksekusi yang diadakan untuk balas dendam itu. Balas dendam yang dimaksud adalah upaya untuk “menggantikan” kerugian yang diderita pihak fasis akibat serangan bom yang dilakukan gabungan kelompok anti-fasis baik dari kalangan komunis maupun nasionalis. Serangan itu dilancarkan sehari sebelumnya. Tanggal 23 Maret 1944 ibukota Italia dimeriahkan oleh peringantan 25 tahun berdirinya organisasi fasis pertama oleh Benito Mussolini. Parade dihelat di pusat kota. Kendati Perang Dunia II pendulumnya telah bergeser ke arah Sekutu, penduduk kota  hadir memeriahkan peringatan tersebut.

  • Alkisah Bocah Nazi dan Piyama Yahudi

    PESTA di rumah Bruno (diperankan Asa Butterfield) di Berlin pada suatu malam berlangsung meriah. Dari railing lantai dua, bocah berusia delapan tahun itu bersama kakaknya, Gretel (Amber Beattie), melihat raut wajah bahagia para tamu ayahnya bergaun mewah, berjas pesta, atau berseragam militer. Namun di antara para tamu itu, Nathalie (Sheila Hancock), nenek Bruno, kedapatan menampakkan wajah bermuram durja. Dari pantulan cermin besar di lantai bawah, sang nenek terlihat melambaikan tangannya ke arah Bruno yang langsung berbalas senyum. Itu jadi lambaian tangan dan pertemuan terakhir sang nenek dengan Bruno. Pasalnya, keesokan harinya Bruno sekeluarga ikut ayahnya yang pindah tugas ke luar Berlin. Dari ibunya, Elsa (Vera Farmiga), Bruno mendapat penjelasan bahwa kepindahan mereka untuk mendukung pekerjaan penting ayahnya yang mengabdi pada negara. Bruno, bocah polos yang belum paham apa pekerjaan sang ayah, hanya bisa menuruti.

  • Race, Kisah Dramatis Atlet Kulit Hitam di Pentas Olahraga Era Nazi

    SUATU pagi di tahun 1933. Duduk di sebuah ruang tunggu di Ohio State University, Jesse Owens (diperankan Stephan James) sangat gugup. Lututnya tak berhenti bergetar. Jemarinya juga tak bisa diam hingga ketika pelatih atletik, Larry Snyder (Jason Sudeikis), datang menyapanya. Sebagaimana pemuda kulit hitam yang berhadapan dengan sosok kulit putih di masa itu, Owens tak berani menatap langsung mata sang pelatih. Matanya tetap masih tertuju ke bawah ketika dia sudah berbincang di ruangan. Sikap Owens membuat Snyder memintanya untuk tidak takut menatap mata orang yang jadi lawan bicara. Dari berkas-berkas berisi catatan prestasi yang didapat dari pelatih atletik Owens di SMA, Snyder paham bahwa pemuda kulit hitam di hadapannya punya bakat alami. Namun, kata Snyder, bakat alami takkan cukup untuk membuat Owens menjadi atlet lari juara. Selain meminta Owens untuk mau berlatih keras, Snyder berharap Owens tahan banting terhadap beragam hal diskriminatif. Pasalnya yang akan dihadapi Owens bukan hanya para pesaingnya di trek lari, melainkan juga khalayak yang bakal mencacinya begitu tajam.

  • Sepp Herberger dan Bayang-bayang Nazi

    SEBAGAIMANA Brasil, Jerman tak pernah kehabisan talenta di lapangan hijau. Tidak hanya pemain, raksasa sepakbola Eropa itu dari masa ke masa juga senantiasa melahirkan pelatih-pelatih hebat. Selain Hans-Dieter ‘Hansi’ Flick yang membawa Bayern Munich juara Liga Champions musim 2019/2020, ada Thomas Tuchel yang bersama Paris Saint-Germain (PSG) dikalahkan Munich di final. Di level internasional, Jerman punya seabrek pelatih jempolan yang mengasuh tim nasional Jerman. Dua di antaranya Franz Beckenbauer yang sukses di Piala Dunia 1990 dan Joachim Löw yang membawa juara di Piala Dunia 2014. Deretan nama pelatih top Jerman itu merupakan buah dari pendidikan pelatih yang dikembangkan Deutsche Sporthochschule atau Universitas Olahraga, Köln sejak 1 November 1947. Bila menyebut Deutsche Sporthochschule, tentu tak bisa dipisahkan dari nama Sepp Herberger. Figur yang mempopulerkan idiom sohor “Bola itu bundar” ini merupakan penggagas Deutsche Sporthoch.

  • Pembantaian Nazi di Kedros, Yunani

    DALAM perjalanan menuju Desa Meronas di Pulau Kreta, Yunani, George Psychoundakis bertemu Aleko, teman sesama gerilyawan, pada 22 Agustus 1944 malam. George lantas dibawa sang kawan ke sebuah taman mini terpencil yang terletak di antara Meronas dan Yenna. Di sanalah George diberitahu kabar memilukan oleh Aleko. “Di sana kami diberitahu bahwa Jerman membakar semua desa Kedros di Amari dan menembak semua orang yang dapat mereka tangkap,” kata George dalam memoarnya yang diterjemahkan Patrick Leigh Fermor, The Cretan Runner: His Story of the German Occupation . Kedros, nama untuk kumpulan berisi sembilan desa yang terletak di Lembah Amari yang diapit Gunung Kedros (barat) dan Gunung Ida (timur), merupakan salah satu pusat gerilya melawan pendudukan Jerman yang dimulai pada 1941. Di sanalah George, pemuda gembala ternak asal Asi Gonia, ikut melawan pendudukan Jerman bersama barisan perlawanan yang banyak dibentuk setelah pendudukan Jerman. George merupakan kurir pesan ( messenger ) untuk Special Operations Executive, organisasi intelijen rahasia Inggris dalam Perang Dunia II. Kecepatan dan pengetahuan medannya membuat George menjadi andalan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page