top of page

Maria Walanda Maramis, Pahlawan Nasional dari Sulawesi Utara

Perjuangan Maria Walanda Maramis dalam memajukan pendidikan perempuan. Ia juga menuntut agar perempuan memiliki hak yang sama dalam politik.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi Maria Walanda Maramis. (Betaria Sarulina/Historia.ID).

  • 11 Nov 2022
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 22 Apr

SENYUM terkembang di wajah Maria Walanda Maramis saat membuka Sekolah Rumah Tangga (Huishoud School) di Sulawesi Utara pada 1917. Di tahun yang sama, tepatnya pada 8 Juli 1917, Maria juga mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya) yang berperan besar dalam meningkatkan pendidikan bagi perempuan dan anak-anak di Sulawesi hingga ke berbagai daerah.


Maria lahir di Kema, kota pelabuhan kecil di Sulawesi Utara, pada 1 Desember 1872. Orang tuanya meninggal saat ia berusia enam tahun. Ia kemudian dibesarkan oleh paman dan bibinya. Pamannya, seorang Hakim Besar yang terpandang di Maumbi, menyekolahkan Maria dan kakak perempuannya di sebuah Sekolah Melayu. Sejak remaja, Maria sudah memiliki keinginan memajukan kaum perempuan.


J.B. Sudarmanto dalam Jejak-jejak Pahlawan Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia menyebut perkenalan Maria dengan sejumlah orang terpelajar, salah satunya Pendeta Ten Hoeven, kian membuka matanya akan pentingnya pendidikan untuk kaum perempuan. Terlebih Maria menyadari pendidikan yang diperolehnya belum memadai karena hanya sekolah dasar. Oleh karena itu, ia mengisi waktunya dengan belajar secara otodidak.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Setelah kembali ke Indonesia, Ahmad Subardjo menjadi pengacara yang diawasi ketat oleh pemerintah kolonial Belanda. Menepi dari aktivitas politik, Subardjo pergi ke Jepang.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah shared a room with Siti Soendari, the youngest sister of Dr. Soetomo. They had different personalities but complemented each other very well.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo bersama rekan-rekan seperjuangan sebangsa maupun lintas bangsa menggalang perlawanan di Eropa, tempat bercokolnya para kolonialis.
bg-gray.jpg
Getol berorganisasi ketimbang kuliah, Ahmad Subardjo mengubah haluan Perhimpunan Indonesia. Menggagas lambang sampai bikin kopiah untuk identitas nasional.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Film Gundala berbeda dengan versi komiknya. Tak ada kesan Yogyakarta, latar belakangnya sangat Jakarta.
Film Gundala berbeda dengan versi komiknya. Tak ada kesan Yogyakarta, latar belakangnya sangat Jakarta.
Kampanye penyebaran informasi pencegahan dan pengobatan Flu Spanyol di Hindia Belanda melalui medium lokal.
Kampanye penyebaran informasi pencegahan dan pengobatan Flu Spanyol di Hindia Belanda melalui medium lokal.
Ini bukan zaman Siti Nurbaya. Tapi jika kesulitan mencari pasangan, tak ada salahnya melirik biro jodoh.
Ini bukan zaman Siti Nurbaya. Tapi jika kesulitan mencari pasangan, tak ada salahnya melirik biro jodoh.
Serambi rumah menjadi tempat favorit penduduk Batavia untuk bercengkerama. Di tempat ini pula keributan hingga perkelahian kerap terjadi di antara tetangga dan pasangan suami istri.
Serambi rumah menjadi tempat favorit penduduk Batavia untuk bercengkerama. Di tempat ini pula keributan hingga perkelahian kerap terjadi di antara tetangga dan pasangan suami istri.
transparant.png
bottom of page