top of page

Hasil pencarian

9774 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Hal Ihwal Alhilaal

    KAMIS sore, 19 September 1929, Alun-alun kota Pekalongan, Jawa Tengah, berubah menjadi lautan manusia. Penonton berjejal di pinggir lapangan. Hadir Residen Gerardus Diederik Paul Antoine Renardel de Lavalette dan Bupati R.M. Ario Soerjo. Mereka menanti dengan antusias pertandingan “kelas dunia” antara Alhilaal dan Calcutta Wanderers dari India. Setelah bupati melakukan kick off , pertandingan pun dimulai. Sejak menit pertama, Alhilaal terus menekan. Lini depan yang dimotori Maliki, Agil, Ali, dan Abdullah bergerak cepat, memaksa barisan belakang lawan bekerja keras menahan gelombang serangan. Menit ke 15, sebuah tembakan brilian dari kaki Ali meluncur ke sudut kiri atas gawang. Soraksorai penonton meledak. Calcutta Wanderers merespon dengan serangan sporadis. Namun gagal melewati pertahanan Alhilaal yang dikawal Achmad dan Saleh. Babak pertama sepenuhnya berada dalam genggaman tuan rumah. Menjelang turun minum, Alhilaal mendapatkan tendangan sudut. Bola melayang di kotak pinalti dan berhasil ditanduk Ali ke gawang lawan. 2-0.

  • Jejak Kurator Indonesia

    DUNIA senirupa kontemporer Indonesia belakangan ramai dengan kehadiran kurator. Mereka muncul dari pergulatan wacana seni dan perkembangan politik-ekonomi. “Tapi kajian sejarah seni di Indonesia belum cukup membahas kehadiran kurator dan hubungannya dengan faktor-faktor itu,” kata Agung Hujatnika, dalam diskusi bukunya, Kurasi dan Kuasa: Kekuratoran dalam Medan Senirupa Kontemporer di Indonesia , di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, (20/3). Kurator, sosok penting dalam penyelenggaraan pameran seni. Tugas mereka antara lain menyeleksi, menilai, menulis, dan menampilkan karya seni dalam satu tema tertentu. “Kurator tak bisa sembarangan mengumpulkan karya,” kata Tommy F Awuy, pengajar filsafat pada Universitas Indonesia. Mereka mesti memiliki pemahaman teoritis khusus dan mendalam tentang karya seni. Kurator Hendro Wiyanto, menemukan istilah kurator dalam katalog pameran di Indonesia bertahun 1986. Saat itu, Juan Mor’O, seniman muda dari Filipina, menggelar pameran pamitan setelah ngendon beberapa lama di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.

  • Aturan Hak Cipta Lukisan

    AD PIROUS, seniman lukis kaligrafi mendapati karya-karyanya dipalsukan dan dijual di sebuah toko karya seni rupa. “Saya terpana dan gagap menghadapi situasi yang tidak pernah saya bayangkan. Saya harus bertindak apa?” tulis Pirous dalam pengantar buku Sejarah Hak Cipta Lukisan (Komunitas Bambu, 2012) karya Inda Citraninda Noerhadi. Menurut Indah, pelanggaran hak cipta terjadi karena budaya mencontoh dan meniru sudah memprihatinkan yang disebabkan oleh mandeknya proses kreativitas. Dalam buku ini, Indah menyoroti perkembangan undang-undang hak cipta di Indonesia yang dikaji dari masa pemerintah kolonial Hindia Belanda hingga masa reformasi dan tantangan masalah ini di masa mendatang. Perkembangan awal pengakuan atas hak cipta karya-karya seni tak lepas dari dinamika politik yang terjadi di Eropa. Terutama pada abad ke-18 setelah terjadinya revolusi di Inggris dan Perancis. Kedua revolusi ini banyak memberi dorongan asas-asas maupun objek hukum Hak Kekayaan Intelektual. Perkembangan undang-undang (UU) dan perjanjian di Eropa kemudian mempengaruhi aturan yang diterapkan di wilayah Indonesia sebagai negara jajahan Belanda.

  • Ratna Asmara Jadi Nama Penghargaan FFI

    NAMA Ratna Asmara, sutradara perempuan pertama Indonesia menjadi salah satu nama penghargaan pada gelaran Festival Film Indonesia (FFI) 2022. Penghargaan Ratna Asmara diberikan untuk pemenang kategori Film Pilihan Penonton. Malam Anugerah Piala Citra FFI 2022 sendiri digelar pada Selasa, 22 November 2022. Penghargaan Ratna Asmara FFI 2022 kategori Film Pilihan Penonton diberikan kepada film Mencuri Raden Saleh .  “Sebagai sutradara perempuan pertama di Indonesia, sosoknya menginspirasi banyak sineas saat ini. Ia menunjukkan bahwa di zaman apapun, perempuan berhak untuk bebas berkarya,” tulis akun Instagram resmi FFI,  @festivalfilmind . Sebagai sutradara perempuan, nama Ratna Asmara memang cenderung dilupakan oleh insan perfilman. Ratna Asmara lahir dengan nama Suratna pada 1913 di Sawah Lunto, Sumatra Barat. Sejak bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), Ratna telah memiliki bakat sandiwara.

  • Adolf Eichmann, Perwira Nazi Spesialis Yahudi

    SENDIRI dalam sepi meringkuk di penjara di Ramla, Israel, Adolf Eichmann hanya bisa pasrah. Malam itu, 31 Mei 1962, jadi malam terakhirnya. Takkan sempat ia melihat lagi matahari terbit saat berganti bulan pada 1 Juni lantaran dini hari itu ia akan menuju tiang gantung, sebagai gembong Nazi terakhir dan pertama yang diadili di Israel. Sebelumnya, Eichman ditangkap di Argentina. Ia dihadapkan ke muka pengadilan di Yerusalem, Israel. Ia divonis hukuman gantung pada 15 Desember 1961 atas sejumlah dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan. Pengajuan banding hingga amnestinya kepada Presiden Israel Yitzak Ben-Zvi sejak Januari 1962 mentah semua. Setelah bertemu istrinya, Veronika Liebl, untuk kali terakhir, Eichmann menanti akhir hidupnya hanya ditemani pendeta Protestan asal Kanada, William Lovel Hull, dan Rafi Eitan, agen Mossad (Intel Israel) yang mengarsiteki penangkapan Eichmann di Argentina.

  • Antara Lenin dan Stalin (Bagian II)

    TIDAK selamanya seorang murid sejalan dengan gurunya. Seperti halnya Joseph Stalin dan Vladimir Lenin. Meskipun mengidolakan Lenin, Stalin seringkali berbeda pandangan dan kebijakan dengan mentornya itu. Stalin pertamakali mengenal Lenin via buku-buku berisi pemikirannya dan korespondensi keduanya pada medio 1903. Korespondensi dengan Lenin begitu berpengaruh secara mental pada Stalin dalam menjalani pengasingannya yang pertama di Siberia sepanjang Juli-September 1903. Namun baru pada Hari Natal 119 tahun silam Stalin pertama kali bertatap muka dengan sang mentor, di pertemuan akbar RSDLP (Partai Buruh Sosial-Demokratik Rusia) di Konferensi Tampere di Tammerfors, Finlandia yang dihelat 25-30 Desember 1905. Stalin hadir sebagai utusan RSDLP wilayah Georgia. “Pada pagi di Hari Natal, Lenin membuka secara resmi konferensinya di Balai Rakyat, markas milisi buruh Garda Merah Finlandia. Stalin begitu sabar menunggu untuk bersua langsung dengan pahlawannya yang punya dedikasi fanatik terhadap revolusi Marxis,” tulis Simon Sebag Montefiore dalam Young Stalin.

  • Bencana Kelaparan Jadi Senjata Perang di Leningrad hingga Gaza

    GENCATAN senjata jadi lema yang bikin alergi zionis Israel. Terlepas dari pembebasan Edan Alexander, tawanan berkewarganegaraan ganda Israel-Amerika Serikat, pada Senin (12/5/2025), Israel masih membabi-buta membunuhi warga sipil Palestina dengan pembiaran oleh dunia internasional. Tidak hanya dengan senjata tapi juga dengan blokade yang mengakibatkan bencana kelaparan di Jalur Gaza. Setelah gencatan senjata selama dua bulan, sejak awal Maret silam Israel memblokade semua jalur –baik darat, laut, dan udara– bantuan kemanusiaan untuk masuk ke Gaza selama lebih dari 70 hari. Padahal, gudang-gudang logistik World Food Programme (WFP) dan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pengungsi Palestina UNRWA kian menipis stoknya, sementara ribuan truk bantuan kemanusiaan masih tertahan di perbatasan Mesir-Israel dan Yordania-Israel. Ancaman bencana kelaparan pun mengintai sekitar 2,1 juta populasi Gaza yang hampir setengahnya adalah anak-anak. Menukil laporan Integrated Food Security Phase Classification (IPC)  pada Senin (12/5/2025), sekitar 470 ribu dari 2,1 jiwa sudah masuk klasifikasi “Fase 5 – bencana” dan mengancam sekitar 71 ribu anak-anak dalam krisis kekurangan gizi akut.

  • Sukarno Sahabat Warga Leningrad

    CUACA dingin tak menghalangi ribuan penduduk Leningrad untuk menyambut tamu agung. Akhir Agustus 1956 itu, penduduk tumpah ruah di mana-mana, di museum, jalan-jalan, hingga stasiun kereta api. Museum Antropologi dan Ethnografi Akademi Ilmu Pengetahuan Uni Soviet di kota itu mendapat pengunjung jauh lebih banyak dari hari-hari biasanya. Sejak beberapa hari sebelumnya, pihak museum memamerkan 1000-an barang berkaitan dengan Indonesia, mulai kekayaan alam dan budaya Indonesia hingga bukti-bukti perjuangan rakyatnya. Pers tak mau kalah. Artikel maupun feature tentang Indonesia, plus pemberitaan kunjungan Presiden Sukarno ke Moskow, mengisi halaman-halaman surat kabar setempat sejak beberapa hari.

  • Di Hadapan Lenin, Sneevliet Anjurkan Kerjasama dengan Islam

    DALAM kongres Komintern kedua yang diselenggarakan di Moskow dan Petrograd, Juli 1920, situasi negeri-negeri jajahan di Timur, termasuk Hindia Belanda, jadi salah satu agenda utama pembahasan. Henk Sneevliet dipilih untuk menjadi ketua komisinya. Pemilihan itu menurut Ruth McVey dalam Kemunculan Komunisme di Indonesia karena melihat tujuan wewenang yang diberikan kepada Sneevliet dari organisasi-organisasi di Hindia ketika dia diusir dari Hindia Belanda.  Sedangkan menurut guru besar ilmu politik University of Waikato, Selandia Baru Dov Bing pemilihan Sneevliet karena dia dianggap berpengalaman hidup di negeri koloni seperti Hindia Belanda. “Dia tak hanya menguasai revolusi di negeri kolonial secara teoritis tapi juga punya pengalaman langsung dari tangan pertama tentang kekuatan dan kelemahan gerakan proletar di Hindia Belanda.” Bagi rekan-rekannya di Hindia Belanda, Sneevliet menjadi tumpuan untuk mewakili kepentingan partai di Komintern. Sneevliet, menurut McVey, semula bersikap ragu terhadap kerjasama semua golongan radikal di Hindia Belanda, terutama dari kalangan Islam. Namun setibanya di Belanda, dia berbalik arah dan menjadi pendukung kerjasama Islam dan komunis yang gigih karena melihat potensi kekuatan progresif dari Sarekat Islam.

  • Si Gundul dalam Memori

    PAGI 15 Agustus 2016 itu, pemain legendaris Jerman dan Borussia Dortmund (1982-1993) Lars Ricken baru saja menutup diskusi di hadapan 35 wartawan asing di sebuah lounge di Stadion Signal-Iduna Park. Momen itu langsung dimanfaatkan Indra Citra Sena, wartawan Tabloid Bola, untuk berfoto bareng sang legenda sambil memamerkan souvenir topi dan stiker berlogo Bola dan stiker Si Gundul. Pesanan kantor buat dokumentasi, katanya. Di pertengahan Agustus itu, hanya dua wartawan dari Indonesia yang diundang Bundesliga menyaksikan laga DFL Cup antara Borussia Dortmund vs Bayern Munich pada 14 Agustus dan tur ke Dortmund. Indra salah satunya. Pertemuan dengan Ricken dan beberapa petinggi Dortmund merupakan bagian dari tur. Selain diberikan kepada Ricken, maskot Si Gundul juga dihadiahkan Indra untuk Carsten Cramer, Chief Operating Officer BVB, badan hukum klub itu. “ This is Si Gundul. The icon of our media ,” cetus Indra menerangkan saat Ricken dan Cramer memerhatikan stiker Si Gundul. Keduanya menyambut dengan senyum hangat.

  • Larangan Perayaan Ulang Tahun Pejabat Orde Baru

    PERAYAAN ulang tahun di kalangan pejabat tinggi negara terasa berlebihan di tengah kondisi masyarakat yang semakin sulit. Barangkali tak banyak yang tahu, perayaan ulang tahun di kalangan pejabat negara sempat dilarang di masa Orde Baru. Pelarangan ini sebagai bagian dari pelaksanaan kebijakan pola hidup sederhana pada awal pemerintahan Presiden Soeharto. Selain itu, perbaikan perekonomian turut mempengaruhi sikap para pejabat dan petinggi negara. Mereka mulai memperlihatkan praktik hidup mewah dan foya-foya, baik dalam kehidupan pribadi maupun lembaga negara yang dipimpinannya. Instansi negara yang mempertontonkan kemewahan dalam pesta perayaannya adalah Pertamina. Perusahaan negara yang mengelola industri dan tambang minyak bumi ini dipimpin oleh Ibnu Sutowo. Sepanjang tahun 1970-1973, koran Indonesia Raya gencar memberitakan sepak terjang Ibnu Sutowo dalam mengelola Pertamina. Pada 1972, Pertamina merayakan ulang tahunnya di Kota Jenewa, Swiss, yang memakan biaya amat besar. Para pegawainya ikut diboyong ke Jenewa untuk merayakan hari ulang tahun Pertamina tersebut. Mochtar Lubis, pemimpin redaksi Indonesia Raya , menyebutnya sebagai “Kebiasaan Pertamina yang Aneh”. Dalam tajuk rencananya, Lubis menyebut Pertamina latah seperti anak kecil yang ulang tahunnya selalu ingin dirayakan tiap tahun. Ia juga mengkritik, mengapa Pertamina sekali setahun tidak mengundang kaum miskin dan gelandangan di Jakarta serta memberi mereka makanan dan pengalaman hidup yang enak biarpun beberapa jam saja ketimbang memfoya-foyakan uang negara di luar negeri. “Lebih baik uang itu disumbangkan untuk melengkapi rumah sakit atau sekolah di Indonesia, atau dipergunakan untuk mengembangkan usaha di Pertamina sendiri. Kita heran, seorang menteri [pertambangan] seperti Mohammad Sadli tidak turun tangan untuk menghentikan pemborosan tak berguna serupa ini,” sentil Lubis dalam tajuk rencana Indonesia Raya , 8 Oktober 1973. Kasus Pertamina menjadi sorotan publik. Presiden Soeharto tidak menutup mata terhadap kelakuan menyimpang para penyelenggara negara. Pada 1974, Presiden Soeharto menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 10 tentang beberapa pembatasan kegiatan pegawai negeri dalam rangka pendayagunaan aparatur negara dan kesederhanaan hidup. Dari Keppres inilah kemudian lahir kebijakan pola hidup sederhana pada 1970-an. Beberapa aturan yang mengikat dalam Keppres tersebut yang menyangkut pejabat negara termasuk keluarganya meliputi: larangan penggunaan kendaraan dinas mewah atau lebih dari 3000 cc; larangan menggunakan lebih dari satu kendaraan dinas; larangan menempati lebih dari satu rumah dinas; pembatasan perjalanan ke luar negeri; larangan menerima hadiah atau pemberian (gratifikasi) dalam bentuk apapun; larangan memberikan hadiah dalam bentuk apapun atas biaya negara seperti karangan bunga, mengadakan selamatan, hingga iklan ucapan selamat; larangan memasuki tempat-tempat tertentu seperti tempat perjudian, klub malam, pemandian uap, dan lain-lain yang dapat mencemarkan kehormatan aparatur negara; larangan penyelenggaran perayaan yang bersifat pribadi seperti pesta perkawinan, ulang tahun, khitanan, maupun acara peringatan yang sifatnya berlebih-lebihan. Keputusan ini ditetapkan pada 5 Maret 1974 dan mulai berlaku sejak 1 April 1974. “Bagi pejabat-pejabat pemerintah yang tidak mentaati peraturan-peraturan pola hidup sederhana tentu akan dikenanakan sanksi. Minimal sanksi administrati seperti ditegur, dinilai kurang konduitenya (perilaku, red .) dan sebagainya,” demikian penekanan Menteri Sekretaris Negara Sudharmono dalam Kompas , 8 Februari 1974. Pasal 2 dari Keppres 10/1974 secara khusus mengatur penyelenggaraan hari ulang tahun departemen, instansi pemerintah, perusahaan milik negara, satuan ABRI, dan lain-lain. Bagi perayaan hari ulang tahun lembaga-lembaga negara, sebagaimana tertuang dalam ayat 1, dilakukan secara sederhana dengan upacara bendera. Sementara pada ayat 2 dan 3 berbunyi: “Penyelenggaraan hari ulang tahun dengan acara pesta-pesta, selamatan ataupun acara-acara lain yang serupa dilarang; pegawai negeri, anggota ABRI atau pejabat dilarang memberikan hadiah apapun atas biaya negara untuk atau sehubungan dengan hari ulang tahun dari departemen, instansi pemerintah, perusahaan milik negara, satuan ABRI, atau badan-badan resmi lainnya, demikian juga untuk atau sehubungan dengan hari ulang tahun perorangan atau badan swasta.” Soal perayaan ulang tahun, Presiden Soeharto menerapkan pola hidup sederhana untuk menjadi rujukan bagi bawahannya. Dalam berbagai perayaan ulang tahun baik dirinya maupun keluarga, Soeharto dalam berbagai arsip foto merayakannya dengan tumpengan sederhana di kediamannya di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat. Namun, bagi para pejabat maupun departemen pemerintahan, seruan pola hidup sederhana tidak lebih dari himbauan semata. Perayaan ulang tahun pejabat maupun instansinya kadang kala masih dirayakan secara berlebihan. “Seolah-olah telah menjadi kebiasaan untuk menjaga gengsi dari para oknum pejabat negara, bila mengadakan pesta, baik itu perkawinan atau ulang tahun, oknum pejabat itu memerlukan secara sangat luar biasa ramainya tempat ataupun jamuannya. Menjadi satu kebanggaan dengan memilih tempat yang paling top menurut istilah sekarang,” demikian dilansir Kompas , 6 Juli 1978. Setelah sekian lama gaungnya redup, pada 1993, petunjuk pelaksanaan (juklak) pola hidup sederhana akhirnya dibakukan. Menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) Letjen (Purn.) T.B. Silalahi, juklak pola hidup sederhana mengatur lebih rinci soal apa, bagaimana, dan siapa yang mesti hidup sederhana. Di dalamnya termasuk mengatur penyederhanan pengiriman karangan bunga buat pejabat, penggunaan mobil dinas, pesta penyambutan pejabat, serta perayaan hari ulang tahun. “Pejabat yang sudah dipindah ke kota lain, jangan tetap menempati rumah dinas lamanya. Demikian pula dalam menyelenggarakan pesta atau peringatan, janganlah di hotel-hotel mewah. Di samping itu, juga janganlah pengiriman bunga oleh perusahaan swasta kepada pejabat yang sedang menyelenggarakan hajat... Ada juga pembatasan mengenai perjalanan ke luar negeri hanya untuk hal-hal yang perlu saja,” demikian instruksi T.B. Silalahi sebagaimana diberitakan Berita Yudha , 25 September 1993.  T.B. Silalahi menekankan, juklak pola hidup sederhana menjadi perangkat untuk mengingatkan seluruh aparatur negara agar tidak hidup bermewah-mewah. Semua itu dibatasi agar tidak terjadi pemborosan dan kerugian terhadap keuangan negara. Beberapa pembatasan yang ditekankan antara lain, larangan penerimaan atau pemberian hadiah, penyelenggaraan perayaan yang bersifat pribadi serta pembatasan perjalanan dinas ke luar negeri. “Pokoknya semua biaya yang dibebankan kepada negara, dilarang dan aparat dituntut untuk hidup wajar dan proporsional serta tidak mengada-ada,” kata T.B. Silalahi dalam Berita Yudha , 19 Oktober 1993. Namun, kebijakan pola hidup sederhana yang sudah digaungkan sejak 1970-an akhirnya redup seiring berakhirnya era Orde Baru. Petunjuk pelaksanaannya kini tinggal catatan dalam arsip. Era reformasi tak serta merta mengubah mentalitas pejabat dalam mengadakan perayaan secara berlebihan. Mengadakan perhelatan di hotel mewah, misalnya, tampak lumrah bagi pejabat negara maupun instansi pemerintahan. Alih-alih hidup sederhana, banyak orang termasuk pejabat hanyut dalam fenomena flexing : berlomba-lomba memamerkan kemewahan.*

  • Bertahan di Tanah Sultan

    MAGRIB, 24 Maret 1946, terdengar ledakan dinamit sebagai tanda pembumihangusan. Bandung memerah. Komandan Resimen VIII TRI dan pelindung Laswi, Omon Abdulrachman, memerintahkan agar Laswi segera mundur sampai melewati jembatan Dayeuh Kolot, sebelum jembatan dihancurkan. Pukul 22.00, semua anggota Laswi melewati Dayeuh Kolot dan lalu langsung menuju Ciparay. Di bawah MP3, Laswi mendapat tugas menangani dapur perjuangan di seluruh sektor Bandung. Anggota Laswi mulai disebar ke setiap kesatuan untuk melaksanakan tugas dapur umum dan palang merah. Pusat dapur umum tetap berada di Ciparay untuk mengurus para pejuang di garis depan Dayeuh Kolot. Empat brigade Laswi diperbantukan ke dalam Batalyon I sampai Batalyon V. “Saya diperbantukan di daerah Sapan di bawah Batalyon III yang dipimpin Ahmad Wiranatakusumah. Tahunya di Sapan banyak teman waktu SMP,” ujar Euis Sari’ah alias Saartje menyebut nama anak bupati Bandung Wiranatakusumah V, yang kemudian jadi kepala staf Kostrad dan wakil panglima II Komando Siaga Ganyang Malaysia.

bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bg-gray.jpg
Sukses menjadi penyanyi di Belanda, Sandra Reemer amat didukung ayahnya yang mantan serdadu KNIL di Bandung.
bg-gray.jpg
Kerajaan ini tercatat sebagai kerajaan tertua di Jawa. Raja Purnawarman, sebagai raja yang paling terkenal pernah menghadiahkan 1000 ekor sapi.
bg-gray.jpg
Selain epigraf-epigraf dalam tujuh prasasti, sumber-sumber sejarah Tarumanagara juga berasal dari arca dan percandian di dua situs arkeologis.
bg-gray.jpg
VOC mengeksekusi 10 orang Inggris, 10 tentara bayaran Jepang, dan 1 orang Portugis yang dituduh berencana menyerang Benteng Victoria di Ambon tahun 1623.
bottom of page