top of page

Hasil pencarian

9816 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Ahmad Subardjo Hampir Dibunuh

    SUATU hari di awal 1946, Ahmad Subardjo menerima undangan untuk menghadiri Kongres Partai Buruh di Blitar. Dia lantas pergi bersama Sukiman Wirjosandjojo, Iwa Kusuma Sumantri, dan Ki Hajar Dewantara. Keempatnya pergi mengendarai mobil dari Yogyakarta pada sore hari dan tiba di Blitar pada tengah malam. Kala itu, empat tokoh pergerakan kemerdekaan, yang tiga di antaranya masuk jajaran kabinet presidensial, tersebut sudah tidak aktif di kursi pemerintahan Republik. Ahmad Subardjo, misalnya, sejak November 1945 telah meletakkan jabatannya sebagai menteri luar negeri. Begitu pula Iwa Kusuma Sumantri dan Ki Hajar Dewantara, sebagai menteri sosial dan menteri pengajaran, tidak lagi terlibat di kabinet baru pimpinan Sutan Sjahrir. Lantas dalam kapasitas apa mereka hadir di Kongres Partai Buruh di Blitar? Diceritakan Ahmad Subardjo dalam otobiografinya Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi , selepas meninggalkan jabatan menteri, mereka kembali bertemu di Yogyakarta. Pada sebuah kesempatan, Subardjo diperkenalkan oleh Sukiman kepada Jenderal Sudirman. Ketika itu Sudirman tengah membentuk Badan Penasehat Politik, yang salah satu tugasnya memberi analisa tentang situasi politik khusus menghadapi Belanda. Sukiman lalu merekomendasikan Subardjo dan Iwa karena keduanya pernah belajar di Belanda. Sementara dirinya dan Ki Hajar Dewantara telah lebih dahulu menerima jabatan tersebut. Maka Badan Penasehat Politik Jenderal Sudirman resmi diisi oleh empat tokoh itu. Di dalam kongres, anggota Partai Buruh membicarakan tentang keikutsertaan mereka dalam perjuangan kemerdekaan. Partai Buruh berusaha memberikan sumbangan moril dan tenaga-usaha dalam menghadapi Belanda yang hendak mengupayakan kembali penjajahan di Republik Indonesia. Badan Penasehat Politik Jenderal Sudirman hadir untuk memberikan masukan-masukan. Di akhir kongres, beberapa resolusi diambil dan disepakati oleh seluruh anggota kongres. Setelah kongres berakhir, Subardjo dan lainnya kembali ke Yogyakarta. Di Madiun, rombongan berhenti sebentar untuk menemui Residen Madiun Susanto Tirtoprodjo. Dahulu dia bersekolah di Belanda dan menjadi anggota Perhimpunan Indonesia. Subardjo dan Susanto dahulu berkawan cukup baik. Di sana rombongan menumpang istirahat, sambil sedikit berbincang tentang situasi di tanah air. Dari Madiun perjalanan pulang dilanjutkan melalui Solo. Di kota itu juga Subardjo hendak menemui kawan baiknya, Sosrokartono. Dia seorang wartawan dan nasionalis sejati. Hobinya, imbuh Subardjo, mengumpulkan data-data, berita-berita dan bahan-bahan untuk perjuangan kemerdekaan, berdasarkan informasi yang dia dapat dari seluruh jaringannya di pulau Jawa. “Dr. Kartono ialah nasionalis sejati, tidak berpartai, sehingga mempunyai pendirian yang bebas dari pro atau kontra terhadap sesuatu ideologi. Dia hanya mementingkan keselamatan negara dari penjajahan kembali Belanda,” kata Subardjo. Karena ingin bertukar pikiran dengan kawannya itu, Subardjo izin meninggalkan rombongan. Dia berpisah di Solo bersama Mangkudimulyo dan berangkat menggunakan mobil ke kediaman Kartono. Sementara Sukiman, Iwa, dan Ki Hajar meneruskan perjalanan dengan mobil lain ke Yogyakarta. Sesampainya di tujuan, Subardjo langsung disambut Kartono. “Ini suatu rahmat Tuhan, bahwa saudara mampir di rumah kami, justru karena saudara berada dalam keadaan bahaya”. Subardjo tidak mengerti dengan maksud kawannya itu. “Saya mendapat informasi bahwa organisasi Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) yang didirikan Sutan Sjahrir dan mendukung politiknya, sudah mengetahui bahwa saudara pergi ke Blitar dan mereka mempunyai rencana untuk mencegat saudara di Klaten di tempat mereka bermarkas. Rencananya ialah untuk menculik saudara dan membunuhnya di suatu tempat,” ujar Kartono. “Jadi janganlah meneruskan perjalanan pulang ke Yogyakarta untuk menghindari penculikan saudara. Tinggal saja dulu di rumah kali, sampai kami mendapat kabar dari pembantu-pembantu saya bahwa Klaten menjadi all clear ,” lanjutnya. “Terima kasih atas info itu,” kata Subardjo. “Kebetulan saya mempunyai famili yang menjabat administrator perusahaan gula di Tasikmadu, luar kota Solo. Saya akan berdiam di sana buat beberapa hari, sehingga saya tidak usah mengganggu saudara dengan menginap di tempat saudara.” Setelah selesai dengan urusannya di kediaman Kartono, Subardjo kemudian melanjutkan perjalanan ke Tasikmadu di Karanganyar. Di sana Subardjo bersembunyi selama lebih kurang sepuluh hari. Sedangkan Mangkudimulyo langsung melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta. Dan benar saja, berdasar informasi Mangkudimulyo, di Klaten mobilnya ditahan oleh Pesindo. “Mana Subardjo?” tanya pemimpin Pesindo. “Tidak ada,” jawab Mangkudimulyo. “Di mana dia berada?” tanyanya lagi. “Kurang tahu, dia turun di Madiun,” terang Mangkudimulyo. Karena jelas Subardjo tidak ada di mobil tersebut, Mangkudimulyo diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Dia tiba di Yogyakarta dengan selamat. “Demikianlah peristiwa Klaten itu, yang membuktikan bahwa gerak-gerik saya diperhatikan oleh golongan sosialis untuk dilenyapkan dari bumi ini. Berkat perlindungan Tuhan Yang Maha Esa saya terhindar dari pembunuhan oleh lawan politik saya,” kata Subardjo.*

  • Seruan Panglima Besar Soedirman kepada Masjumi dan PKI

    DELAPAN bulan hampir berlalu sejak Insiden Madiun meletus pada 18 September 1948. Namun perseteruan antara orang-orang komunis dengan orang-orang islam masih berlangsung secara keras di Jawa Timur. Kendati pemerintah Republik Indonesia (RI) pimpinan Sukarno-Hatta memutuskan untuk membebaskan sebagian besar pengikut Front Demokrasi Rakyat/Partai Komunis Indonesia (FDR/PKI). Menurut sejarawan Harry A. Poeze, banyak para pengikut FDR/PKI yang lolos dari operasi penumpasan tentara pemerintah meneruskan perjuangan mereka dengan bergerilya di hutan-hutan Jawa Timur. Selain menghadapi militer Belanda, kekuatan-kekuatan bersenjata itu juga tetap mempertahankan pertikaian mereka dengan militer Indonesia dan unsur-unsur anti komunis lainnya. “Yang sudah (pasti) terjadi justru saling bentrok. Pasukan-pasukan FDR dan Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) berhadapan dengan kesatuan-kesatuan Hizbullah (Masjumi),” ungkap Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak.

  • Sukarno Mengunjungi Bali

    PADA suatu hari, Sukarno meminta Soeharto, dokter pribadinya, untuk bersiap karena sewaktu-waktu akan mengajaknya ke Bali. Jadwal penerbangannya belum ditentukan karena harus memilih waktu yang tepat untuk menghindari sergapan pesawat terbang Sekutu. Ketika waktu keberangkatan ditetapkan, ternyata Sukarno didampingi Mohammad Hatta dan Ahmad Subardjo. Laksamana Tadashi Maeda, kepala Kaigun Bukanfu  atau kantor penghubung Angkatan Laut Jepang di Jakarta, mengantarkan mereka sampai tangga pesawat. “Maksud perjalanan ke Bali itu untuk menemui Laksamana Yaichiro Shibata, Panglima Kaigun (Angkatan Laut) Jepang yang membawahi Nusantara, kecuali Sumatra dan Jawa,” kata Soeharto dalam memoarnya, Saksi Sejarah . Shibata sebenarnya bermarkas di Ujung Pandang. Karena kota itu menjadi sasaran pengeboman pesawat Sekutu, untuk sementara dia bermarkas di Singaraja. Penerbangan ke Denpasar tidak mengalami gangguan. Setiba di sana, mereka naik mobil menuju penginapan di Kintamani. Sejarawan Geoffrey Robinson dalam Sisi Gelap Pulau Dewata: Sejarah Kekerasan Politik menyebutkan, pada pengujung Juni 1945, Sukarno, pemimpin kaum pejuang Republik Indonesia yang kelak menjadi presiden, diundang ke Bali untuk menghadiri rapat umum dan bertemu para pemimpin Bali. “Sukarno mengunjungi Singaraja pada 24 dan 25 Juni 1945,” tulis Robinson. “Dalam catatan hariannya, raja Buleleng hanya merekam detail kunjungan ini.” Sukarno diterima di kantor Karesidenan oleh tokoh-tokoh penting Jepang dan para pemuka Bali pada 24 Juni 1945. Keesokan harinya, 25 Juni 1945 pukul 2.30 sore, Sukarno menghadiri pertemuan para pemuka Bali di gedung Sjukai  (Dewan Karesidenan) di Singaraja. Pukul 5 sore, dia menyampaikan amanat dalam rapat umum di lapangan depan kantor polisi, dan malamnya bergabung dengan tamu-tamu terhormat menonton pertunjukan tari Bali. “Sayangnya, raja [Buleleng] tidak mengatakan apa pun tentang isi pidato publik Sukarno,” tulis Robinson. Kiri-kanan: Tadashi Maeda, Ahmad Subardjo, dan Yaichiro Shibata. (Perpusnas RI). Soeharto menyebut bahwa maksud Sukarno ke Bali adalah bertemu Shibata. Pembicaraan mereka berlangsung di kediaman Shibata di Singaraja. Pembicaraan berlangsung beberapa kali dan Sukarno selalu didampingi Hatta dan Subardjo. Subardjo memberi tahu Soeharto bahwa Shibata bersimpati pada perjuangan mewujudkan Indonesia merdeka, dan akan memberikan segala bantuan yang mungkin dapat dia berikan. “Janji itu betul-betul dipenuhinya,” kata Soeharto. “Beberapa hari setelah Proklamasi kemerdekaan, Shibata yang pada waktu itu berada di Surabaya, menyerahkan banyak senjata kepada pemuda-pemuda kita.” Setelah selesai urusan dengan Shibata, Sukarno mengunjungi sebuah pura, tempat ayahnya, R. Soekemi Sosrodihardjo, bertemu pertama kali dengan ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai pada 1890-an. Sebagai pencinta seni, Sukarno kemudian mengunjungi rumah-rumah seniman di antaranya pelukis Jerman Walter Spies, yang terletak di sebuah lembah di tepi jalan yang menuju ke pesanggrahan Kintamani. “Di rumah seniman itu pulalah saya baru tahu bahwa Pak Bardjo pun seorang seniman,” kata Soeharto. “Dia memainkan biola milik Walter Spies dan memperdengarkan sebuah serenade yang amat disenangi Bung Karno.”*

  • De Oost dan Ikhtiar Menyembuhkan Luka Lama

    Ada tiga pendekatan untuk memahami film. Pertama , sebagai sebuah karya seni yang mempresentasikan realitas secara estetis. Kedua , sebagai diskursus publik karena film memvisualisasi ragam aspek kehidupan manusia yang berkaitan dengan historis, kultural, sosial maupun ideologis. Ketiga , makna dan peran kehadiran film tersebut di tengah masyarakat.     Sebagai sebuah karya seni, film De Oost  karya sutradara Jim Taihutu layak mendapat apresiasi karena berhasil memvisualisasikan karakter manusia dalam kemelut sejarah rekolonisasi Belanda atas Indonesia. Namun disadari atau tidak, penggambaran Timur yang eksotis melalui citra perempuannya, alunan bunyi gamelan serta indahnya alam Indonesia, cerminan pandangan orientalis yang masih melekat erat dalam benak orang Barat. Persis dengan apa yang pernah disampaikan oleh Edward Said dalam bukunya Orientalisme  bahwa “Timur” (Orient) memang nyaris merupakan temuan Eropa, dan sejak zaman kuno telah menjadi tempat yang penuh romansa, makhluk-makhluk eksotik, kenangan-kenangan yang manis, pemandangan yang indah dan pengalaman yang mengesankan. “De Turk” mungkin jauh lebih pas menjadi judul film ini daripada De Oost . Hampir separuh lebih cerita dari film ini mengisahkan tentang Raymond “De Turk” Westerling, serdadu legendaris yang pernah mengatakan kepala Sukarno lebih murah dari harga sebutir peluru dan bertanggung jawab atas pembunuhan ratusan bahkan mungkin ribuan jiwa rakyat Indonesia yang berhasrat mempertahankan kemerdekaannya. Sekilas, film De Oost mirip film laga perang Vietnam minus Rambo di dalamnya. Sebagian besar lakon film De Oost diperankan oleh orang Barat. Kecuali sebagai figuran, hanya kurang dari lima jari aktor Indonesia yang memainkan peran sentral dalam film ini. Di antara penggambaran “Timur” yang indah dan eksotis itu, film ini juga menampilkan sisi kelam sejarah sebuah negeri yang dilanda aksi kekerasan karena keinginan Belanda untuk kembali merekolonisasi Indonesia setelah lepas kendali selama 3,5 tahun masa pendudukan Jepang. Untuk tujuan itu, pemerintah Belanda memobilisasi anak-anak muda Belanda dengan dalih membebaskan Indonesia dari cengkeraman Sukarno, si boneka fasis Jepang. “ Indie Moet Bevrijd ,” kata mereka berpropaganda. Dalam film ini anak-anak muda tersebut diperankan oleh Martin Lakemeier (Johan De Vries), Jonas Smulders (Mattias Cohen), dan Coen Bril (Eddy Coolen). Jiwa muda yang penuh avonturisme dibungkus semangat pembebasan, mendorong mereka pergi ke Indonesia. Namun satu hal yang mereka tak sadari: sebelum 15 Mei 1940 Belanda adalah negeri merdeka, sementara Indonesia sebelum invasi Jepang Maret 1942 adalah koloni Belanda. Dalam satu sisi, film ini berhasil menampilkan kompleksitas sejarah Belanda usai Perang Dunia II. Gambaran itu terlihat pada sosok karakter Johan De Vries, anak seorang tokoh Nationaal Sosialistische Bond (NSB) kolaborator Nazi, pergi ke Indonesia untuk membebaskan koloni Belanda dari cengkeraman fasisme Jepang. Sebuah ironi yang tak mungkin dipungkiri. Di sisi lain, kompleksitas sejarah di Indonesia pada masa akhir pendudukan Jepang tidak terlihat dalam film ini. Tak ada satu pun adegan tentang kehidupan para perempuan, orang tua dan anak-anak kecil Belanda serta Indo yang baru saja dibebaskan setelah melewati tiga tahun masa penderitaan di dalam kamp interniran. Inilah periode paling traumatik bagi mereka, sehingga bisa dimengerti mengapa sebagian warga Belanda bereaksi keras atas film De Oost ini. Satu-satunya adegan tentang Jepang dalam film ini tampak saat seorang rakyat jelata dianiaya tiga serdadu Jepang dan kejadian itu berakhir setelah Raymond “De Turk” datang memaksa serdadu Jepang itu pergi. Gambaran lain tentang Jepang tercermin dari pidato komandan tentara Belanda, “racun Jepang telah menyebar luas ke seantero koloni kita yang indah.” Kalimat ini mencerminkan cara pandang Belanda yang simplistis dalam melihat hubungan Jepang dengan gerakan nasionalisme Indonesia. Kekalahan Belanda atas Jepang pada 9 Maret 1942 menandai runtuhnya negara Hindia Belanda. Dalam 3,5 tahun pendudukan Jepang, gerakan nasionalis Indonesia menemukan momentum kebangkitannya. Pemimpin gerakan nasionalis Indonesia seperti Sukarno, Hatta, dan Sutan Sjahrir dibebaskan dari penjara kolonial. Kecuali Sjahrir yang memilih berjuang di bawah tanah, Sukarno dan Hatta menggunakan momentum politik tersebut untuk memperkuat kesadaran kebangsaan Indonesia. Selalu ada harga yang harus dibayar demi kemerdekaan dan selalu ada implikasi dari sebuah keputusan politik. Kerja sama dengan Jepang di satu sisi membuka jalan menuju kemerdekaan Indonesia, di sisi lain mendatangkan korban jiwa yang tak sedikit dalam hal Romusha, Jugun Ianfu, dan kekerasan terhadap warga sipil Belanda dan Indo.    Sementara itu, seperti yang ditunjukan dalam film ini, kehadiran Belanda pascakekalahan Jepang juga tak diinginkan oleh rakyat Indonesia. Itu terlihat secara nyata dalam grafiti “Dutch Go Home” dan secara simbolis saat anak-anak kecil melempari truk yang ditumpangi Johan De Vries ketika tiba di Indonesia. Ejekan “monyet” yang beberapa kali keluar dari mulut para serdadu Belanda dalam film ini juga menarik untuk diperhatikan. Umpatan monyet merupakan bentuk rasisme yang berakar jauh ke masa awal kedatangan Belanda ke Indonesia. Mereka percaya bahwa manusia Nusantara tak lebih dari makhluk belum sempurna melalui proses evolusinya. Pandangan ini seolah mendapatkan legitimasi saintifik dari para etnolog dan antropolog fisik Eropa yang marak berkembang pada abad ke-19.   Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 telah membuyarkan mimpi indah pada kolonialis dan imperialis Belanda. Bayangan tentang Timur yang eksotis dan penuh keindahan semakin jauh di depan mata. Maka datanglah Raymond “De Turk” ke Timur demi menjaga keberlangsungan mimpi indah itu, kendati kehadirannya jadi mimpi buruk bagi rakyat yang jadi korban kebrutalannya. Ketika saya diminta menulis tanggapan –dari perspektif Indonesia– mengenai film De Oost ini, saya teringat kembali pada kisah guru saya, sejarawan Anhar Gonggong yang harus kehilangan ayah, dua kakak lelaki, serta seorang pamannya yang tewas dibunuh serdadu Westerling di Sulawesi Selatan. Dia tak menuntut pembalasan apapun atas kematian orang-orang yang dicintainya itu. Menurutnya, mereka sudah menunaikan tugasnya demi kemerdekaan Indonesia.  Film De Oost membawa kembali bayangan masa lalu peristiwa itu, membuka luka lama bagi kedua bangsa. Namun demikian film ini harus pula dimaknai sebagai bentuk keberanian menghadapi masa lalu yang penuh luka dan air mata, demi menyingkirkan beban sejarah yang menghalangi langkah damai menuju masa depan. Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Belanda di koran NRC edisi 17 Juni 2021.

  • Pembantaian Nazi di Biara Ardennes

    USAI mengintai wilayah antara Bandara Carpiquet dan Desa Rots di barat Caen, Normandia, Prancis pada 8 Juni 1944 pagi, Prajurit Jan Jesionek kembali ke markas Resimen di Biara Ardennes. Remaja 16 tahun asal Polandia yang diwajibmiliterkan oleh Nazi dan ditempatkan di Kompi Intai ke-15 Resimen Panzer Grenadier ke-25 Divisi Panzer SS ke-12 “Hitler Jugend” itu mencoba mencari kendaraan agar bisa kembali ikut ke dalam patroli. Dia akhirnya mendapatkan sebuah sepeda motor. Sial, dari pemeriksaan singkat didapati sepeda motor itu ternyata tak layak jalan. Jesionek pun terpaksa menunggu perbaikan sepeda motornya itu. Ketika perbaikan selesai menjelang tengah hari, Jesionek melihat dua prajurit SS mengawal tujuh tawanan asal Kanada menuju halaman biara. Ketujuh tawanan itu merupakan personel Resimen North Nova Scotia Highlanders (NNSH) dari Brigade ke-9 Divisi Infanteri ke-3 Kanada. NNSH mendarat di pantai Juno, Normandia pada 6 Juni 1944 (D-Day). Bersama Resimen Lapis Baja ke-27 “Sherbrooke Fusiliers”, NNSH melanjutkan gerak majunya ke selatan keesokan harinya dari Villons-les-Buisson. Kedua resimen menempati sisi terkiri lantaran Brigade Infantri ke-185 AD Inggris yang –maju dari pantai Sword– diplot melindungi dari kiri, terhenti langkahnya. Akibatnya, ada celah kosong di sayap kiri pasukan Sekutu.

  • Pinjaman Nasional 1946, Pinjaman Warga untuk Republik

    PUSAT pemerintahan Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta pada Januari 1946. Kala itu Jakarta tak aman lagi untuk pemerintahan Republik. Pertempuran antara pejuang Republik dengan serdadu Belanda dan tentara Sekutu meletus di beberapa tempat. Suara tembakannya terdengar hingga rumah presiden dan wakil presiden Indonesia. Kepindahan ke Yogyakarta menjadi salah satu upaya darurat untuk menyelamatkan masa depan Republik. Selain masalah keamanan, Republik juga berhadapan dengan masalah ekonomi. Keuangan Republik baru ini kembang-kempis alias bokek. Bahkan, menurut Oey Beng To dalam  Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia Jilid I (1945–1958),  Republik hampir kehabisan uang tunai ketika pusat pemerintahan hijrah ke Yogyakarta. Untungnya Republik masih punya cadangan emas batangan dan candu. Tapi ini pun belum cukup untuk memperpanjang umur Republik. Perlu cara lain untuk membiayai Republik. Salah satunya dengan mencetak uang sendiri. Tapi pencetakan ini membutuhkan waktu. Sementara kocek Republik terus defisit untuk pembayaran pegawai dan delegasi ke luar negeri. Prawoto Soemodilogo, mantan penasehat Cuo-Sangi-In (Dewan Pertimbangan Pusat) bagian Ekonomi pada masa Jepang, mengusulkan agar pemerintah menarik dana dari masyarakat. Dana itu nantinya dianggap sebagai pinjaman negara dari rakyatnya. Termasuk dari orang asing. “Pinjaman itu harus disertai dengan kampanye dan publikasi yang besar,” kata Prawoto, dikutip John O. Sutter dalam Indonesianisasi: Politics in a Changing Economy, 1940–1955. Ide itu cukup menarik bagi pemerintah Republik. Menteri Keuangan Soerachman Tjokroadisoerjo kemudian membicarakan gagasan ini dengan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP) –semacam DPR sementara. BP KNIP menyepakati cara ini. Tapi mereka ingin membatasi pinjaman pada warga Indonesia, bukan orang asing. Pemerintah menargetkan pinjaman dari warganya sebesar satu miliar rupiah. Dana itu akan dialokasikan untuk persiapan pendirian bank sirkulasi uang milik Republik (Poesat Bank Indonesia), menutup defisit anggaran, modal awal untuk kredit bank (Bank Rakyat Indonesia), dan proyek rekonstruksi. Ada sedikit keraguan dari pemerintah Republik ketika menggulirkan rencana ini. Tenaga penerangan untuk mengabarkan program ini terbatas. “Penerangan tidak dapat diadakan secukupnya berhubung dengan kesukaran-kesukaran teknis, seperti sukarnya perhubungan serta keadaan politik yang amat keruh,” terang Oey Beng To. Belum lagi soal kepercayaan warga Republik terhadap program Pinjaman Nasional. “Bagi negara baru, mengadakan pinjaman nasional serupa itu benar-benar merupakan suatu ujian besar bagi kepercayaan warga negara kepada pemerintahnya,” tambah Oey Beng To. Di luar dugaan, warga Republik ternyata menanggapi baik program Pinjaman Nasional. “Rencana pinjaman itu mendapat sambutan yang sangat memuaskan dari rakyat. Di mana-mana orang berusaha keras untuk menyediakannya,” tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid II (1946). Tapi warga Republik harus menahan hasratnya lebih dulu. Sebab pemerintah belum resmi mengeluarkan aturan tentang Pinjaman Nasional. Setelah dua bulan didengungkan, Pinjaman Nasional resmi dikeluarkan pemerintah pada 29 April melalui Undang-Undang No. 4 Tahun 1946. UU itu memuat bentuk Pinjaman Nasional. Warga akan memberikan pinjaman ke negara dalam bentuk uang rupiah dengan bukti surat pengakuan utang (obligasi) yang hanya dapat dimiliki warga negara Republik. Surat itu tak dapat dilepaskan kepada warga negara lain dan badan hukum negara lain. Negara akan mengganti utang dan bunga kepada warga selambatnya 40 tahun setelah Pinjaman Nasional digulirkan. Pemerintah juga menyatakan pinjaman itu akan berguna untuk menarik uang Jepang yang terlalu banyak beredar di masyarakat. Peredaran itu membuat tingkat inflasi tinggi sehingga merugikan Republik. Hanya dalam waktu 45 hari setelah pengumuman Pinjaman Nasional, dana yang terkumpul sudah mencapai 80 persen. Warga tumpah-ruah antre di bank-bank yang menjadi lokasi pembelian obligasi. “Hari pertama pendaftaran pinjaman nasional bank-bank dipadati oleh orang yang ingin membeli obligasi. Di Garut, pedagang Cina mengadakan pasar malam dan keuntungannya digunakan untuk membeli obligasi,” tulis Antara , 24 Mei 1946. Dari penjualan obligasi, Republik mendapat dana segar hingg Rp500 juta. Sekira Rp318 juta berasal dari Jawa dan Rp208 juta merupakan pembelian dari Sumatra. Kurang dari setahun, target Pinjaman Nasional berhasil tercapai. “Berkat Obligasi Nasional tersebut, keuangan negara dapat diperkuat dan Poesat Bank Indonesia serta Bank Rakyat Indonesia segera dapat ikut serta menggerakkan perkreditan secara teratur, baik bagi pertanian maupun kerajinan rakyat,” tulis Oey Beng To. Tapi pengembalian Pinjaman Nasional itu justru bermasalah. Buruknya pencatatan, dokumentasi, dan pengarsipan menyebabkan pemerintah gagal bayar pokok pinjaman dan bunganya ke para krediturnya. Ditambah lagi keadaan semakin runyam akibat Agresi Militer Belanda I dan II. Oey Beng To menyebut kejadian-kejadian itu telah melenyapkan Pinjaman Nasional 1946 dari perhatian umum.*

  • Detik-detik Terakhir Sukarno

    Sepi, sunyi, dan terasing. Perasaan itulah yang dialami Sukarno, presiden pertama Republik Indonesia menjelang akhir hayatnya. Prahara politik menjatuhkannya dari gelanggang kekuasaan.    Setelah dilengserkan, Bung Karno memasuki masa karantina politik alias jadi tahanan rumah. Pada Mei 1967, pihak berwenang memutuskan bahwa Sukarno tidak lagi diperkenankan menetap di Jakarta. Sukarno hanya diizinkan tinggal di salah satu paviliun Istana Bogor. Namun, semuanya tidak lagi sama. Anak-anak Sukarno mengenang periode ini sebagai masa kepahitan dalam keluarga mereka. “Bapak sangat kesepian. Padahal Bapak seorang pribadi yang suka keramaian, suka dikelilingi kawan dan sahabat untuk berbicara tentang banyak hal. Pengasingan atas diri Bapak merupakan beban mental dalam dirinya,” tutur Rachmawati Sukarnaputri, putri ketiga Sukarno dalam Bapakku Ibuku: Dua Manusia yang Kucinta dan Kukagumi . Sakit Luar Dalam Beberapa bulan tinggal di paviliun, Sukarno menerima surat yang menyatakan haknya untuk tinggal di lingkungan istana kepresidenan dicabut. Setelah terusir dengan cara demikian, Sukarno pindah ke rumah peristirahatan “Hing Puri Bima Sakti” di Batutulis, Bogor. Suhu kota Bogor yang dingin rupanya turut mempengaruhi kesehatan Sukarno. Penyakit rematik, selain penyakit lain yang diidap Sukarno kerap kali kambuh. Anak-anak Sukarno minta izin kepada pemerintah agar ayah mereka boleh tinggal lagi di Jakarta. Permintaan itu dikabulkan langsung oleh Presiden Soeharto. Sejak 1969, Bung Karno pindah dari Bogor ke Wisma Yaso, Jakarta Selatan. Wisma Yaso adalah rumah kediaman Sukarno dengan istrinya yang lain, Ratna Sari Dewi. Kendati demikian, tempat itu tidak lagi menjadi tempat yang hangat bagi Sukarno. Dewi –atas perintah Sukarno– telah angkat kaki dari sana dan menetap di Prancis. Kesunyian lagi-lagi mewarnai hari-hari Sukarno di Wisma Yaso. Menurut Peter Kasenda dalam Hari-hari Terakhir Sukarno, hidup Sukarno di Wisma Yaso ternyata sebuah siksaan bagi dirinya. Ketika tubuhnya yang semakin renta digerogoti oleh berbagai macam penyakit, Sukarno makin tertekan dengan kehadiran tentara yang datang menginterogasi. Pemeriksaan dari Kopkamtib itu mencoba mengorek keterangan untuk mengetahui sejauh mana keterlibatan Sukarno dalam Gerakan 30 September 1965. Ada upaya untuk menyeret Sukarno ke pengadilan. Selain itu, waktu untuk mengunjungi Sukarno di Wisma Yaso dibatasi. Jam bertamu ditetapkan pukul 10.00—13.00. Sukarno mengisi waktunya dengan membaca atau kadang-kadang menonton film. Kalau kondisinya tidak terlalu lemah, Sukarno suka mengajak siapa saja untuk menemaninya bermain kartu remi. Taruhannya batang-batang korek api. Hiburan yang cukup mengasyikan bagi Sukarno yang dirundung sepi tidak terperi. Namun, main remi tidak banyak membantu pemulihan kesehatan fisik Sukarno. Begitu pula kondisi mentalnya.    Suasana menjelang pemberangkatan jenazah Bung Karno ke Blitar, Jawa Timur. (Repro Bapakku Ibuku: Dua Manusia yang Kucinta dan Kagumi  karya Rachmawati Sukarnoputri). Sekalipun di Wisma Yaso ada tim dokter yang merawatnya, kekalutan yang dialami Sukarno tidak dapat terobati. Ada kalanya raut muka Sukarno kelihatan sedih sebagaimana pernah disaksikan oleh dr. Mahar Mardjono, ketua tim dokter yang merawat Sukarno. Seperti dikisahkan dalam biografi Mahar: Pejuang, Pendidik, dan Pendidik Pejuang , Bung Karno kadang-kadang mengeluh, “Apa salah saya, kok saya diperlakukan begini?”. Dokter Mahar dan para dokter lainnya hanya dapat mendengarkan keluhan Sukarno semacam itu. Dokter Mahar termasuk yang paling sering diminta datang pada malam hari untuk memeriksa Sukarno. Pernah pula Mahar harus membesuk ke Wisma Yaso menjelang pukul 12 malam karena Sukarno mengeluhkan nyeri kepala. Sukarno ternyata stres berat lantaran keinginannya sekedar jalan-jalan keliling kota diacuhkan. Sukarno menangis tersedu-sedu di pundak sang dokter.   Tahun 1970, kesehatan Sukarno kian merosot. Menurut Mahar, Bung Karno menderita penyakit batu ginjal, gangguan peredaran darah otak, gangguan peredaran darah pada jantung, dan tekanan darah tinggi. Pada 16 Juni, Sukarno mengalami kritis dan dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Hari demi hari kesadarannya berangsur-angsur menurun. Setelah bergumul dengan penyakit, Bapak Proklamator itu akhirnya menyelesaikan perjuangannya untuk selamanya. Pada 21 Juni, pukul 07.00 pagi, Bung Karno dinyatakan meninggal dunia.    Dimana Rekamannya? Beberapa cerita kecil tersisip dalam peristiwa seputar wafatnya Bung Karno. Berita Kompas 22 Juni yang dikutip penulis biografi terkemuka Nurinwa Ki S. Hendrowinoto dalam Pieta: Senandung Indonesia Raya menguak kisah mengenai proses pemandian jenazah Bung Karno. Dalam artikel bertajuk “Saat2 Sebelum Djenasah Diberangkatkan” itu, diwartakan upacara pemandian jenazah dimulai oleh keluarga Bung Karno. Menariknya, Ibu Tien Soeharto mendapat kesempatan sebagai orang pertama yang membasuh kaki Bung Karno dengan kapas yang diberi air.   Setelah dimandikan sesuai ajaran Islam, Buya Hamka menjadi imam shalat jenazah Sukarno. Hamka adalah kawan lama Sukarno semasa pengasingan di Bengkulu. Perbedaan haluan politik menyebabkan keduanya berseteru pada awal 1960-an. Hamka bahkan sempat dipenjara dan karya-karyanya dilarang beredar ketika Sukarno berkuasa. Tapi, begitulah wasiat Bung Karno sebelum wafat yang kemudian digenapi secara tulus oleh Hamka. Buya Hamka sedang menyolatkan jenazah Bung Karno. (IPPHOS). Sebagaimana dicatat oleh James R. Rush dalam Adicerita Hamka, sewaktu menyalatkan jenazah Sukarno, Hamka berujar, “Dengan ikhlas saya berkata di dekat peti matinya, ‘aku maafkan engkau, saudaraku’”. Sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, Sukarno, kata Hamka adalah orang besar yang membangun nasionalisme bangsa Indonesia.    Selain itu, pada hari Sukarno wafat, menurut Guruh Sukarnaputra – putra bungsu Bung Karno–, terdapat tim Angkatan Darat yang merekamnya. Namun, hingga kini rekaman itu tidak kunjung ditemukan atau diserahkan. Padahal, rekaman itu sangat penting dalam mendokumentasikan suasana akhir hayat Bung Karno. “Keberadaan arsip rekaman tersebut pasti ada dan tersimpan sampai sekarang oleh mereka (Angkatan Darat),” kata Guruh .

  • Aneka Kuliner Favorit Diktator Korea Utara

    ADA yang berbeda dari penampakan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, saat memimpin rapat Partai Buruh di Pyongyang, 15 Juni 2021 lalu. Setelah lama tak muncul di muka publik, diktator berusia 37 tahun itu tampil dengan tubuh dan pipinya tak segembul satu atau dua tahun silam. Sejumlah pengamat politik dunia pun mengumbar spekulasi mengomentarinya. Ada yang mengatakan Kim Jong-un ingin bertenggang rasa terhadap rakyatnya yang sedang mengalami krisis pangan. Pendapat lain mengatakan, penampilan Jong-un disebabkan diet untuk tujuan kesehatan. Seperti ayahnya, Kim Jong-il, dan kakeknya, Kim Il-sung, Jong-un punya masalah obesitas karena selera makannya besar hingga memicu penyakit jantung sebagaimana dialami ayah dan kakeknya. Isu penyakit jantung yang dialaminya sudah merebak sejak tahun lalu ketika Jong-un tak hadir dalam milad kakeknya. Hong Min, analis senior Korea Institute for National Unification, meyakini bahwa setahun terakhir ini Jong-un menjalani diet ketat agar menghindari potensi serangan jantung akibat obesitas dan tak menampakkan gejala sakit di hadapan publik. “Jika dia masih mengalami masalah kesehatan, dia belum akan muncul ke muka publik untuk menggelar rapat paripurna Komite Pusat Partai Buruh yang jadi konferensi politik besar pekan ini,” ujar Hong, disitat National Public Radio , 16 Juni 2021 Kim Jong-un tampak lebih kurus saat memimpin rapat paripurna Komite Pusat Partai Buruh (KCNA) Namun dengan ketertutupan Korea Utara, keterangan tentang diet makanan apa saja yang dilakoni Jong-un masih minim. Diketahui, bobot Jong-un bisa turun antara 20-25 kilogram dari bobot sebelumnya yang mencapai 140 kilogram. Jong-un kemungkinan besar mesti merelakan menu-menu berlemak dan berkolesterol tinggi favoritnya di samping aneka minuman beralkohol untuk diganti dengan kuliner-kuliner sehat. Salah satu kudapan favoritnya adalah keju emmental atau keju Swiss. Bentuk berlubangnya yang ikonik, aroma harumnya dan rasanya yang ringan begitu menarik perhatian Kim Jong-un semasa bersekolah di Liebefeld-Steinhölzli Schule di Köniz, Swiss (1998-2000). Maka ketika sudah rampung sekolah di Swiss, Jong-un mengimpor banyak keju Swiss untuk demi memuaskan hasratnya pada keju berkualitas tinggi itu. Sebagaimana produk keju lain, keju Swiss merupakan makanan bernutrisi tinggi dengan kandungan kalsium, protein, fosfor, zat besi, potassium, riboflavin, thiamin, dan vitamin A serta Vitamin B12 yang baik untuk tubuh. Namun jika dikonsumsi berlebih, akan menimbulkan dampak negatif. Selain bisa menyebabkan sakit kepala, keju Swiss bisa menimbulkan masalah pencernaan, diabetes, hingga asam urat. Efeknya begitu nyata pada Jong-un saat menghilang selama enam minggu pada 2014. “Ketika Kim Jong-un menghilang dari publik selama enam pekan pada 2014 dan kemudian muncul lagi dengan tongkat berjalan, disebutkan itu disebabkan kegemarannya akan keju emmental, warisan yang dibawa dari masa-masa (sekolah) di Swiss. Engkelnya terlihat seperti mengalami asam urat,” tulis Anna Fifield dalam The Great Successor: The Divinely Perfect Destiny of Brilliant Comrade Kim Jong Un. Keju emmental atau keju Swiss (kiri) & steak Kobe kegemaran Jong-un ( cheesesfromswitzerland.com/japan-experience.com ) Kuliner favorit lain Jong-un, menurut mantan chef pribadi Kim Jong-il (1988-2001) dengan nama samaran Kenji Fujimoto, adalah aneka steak, utamanya steak Kobe. Lainnya adalah sushi dan sup sirip hiu sebagaimana juga kegemaran ayahnya. “Dulu saya membuat sushi untuk sang jenderal (Jong-il) setidaknya seminggu sekali dan Jong-un selalu ikut saat makan malam dengan sushi. Jadi saya bisa bilang Jong-un menyukai sushi,” kata Fujimoto kepada Daily Mail , 5 Juni 2015. Sementara, untuk makanan yang dikonsumsi demi pencitraan dalam perhelatan-perlehatan internasional biasanya lebih “gila” lagi. Saat gala dinner bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2019, misalnya, Jong-un membawa tim koki sendiri untuk menyajikan spring roll ala Hanoi, ikan kod panggang Cha Ca, steak sirloin dan wagyu, kaviar, hingga foie gras atau hati bebek ala Prancis. Untuk pendamping makanan, Jong-un dikenal menyukai banyak minuman beralkohol. Selain vodka Rusia, ia gemar sampanye Cristal, cognac Hennessy, hingga anggur Bordeaux. Di kala santai, Jong-un paling hobi menyeruput kopi Brasil yang ia impor sendiri sejak 2016. Jamuan makan antara Kim Jong-un dan Presiden Donald John Trump pada 2019 ( kr.usembassy.gov ) Kuliner Kim Jong-il Kegemaran akan kuliner mewah Kim Jong-un diturunkan dari selera ayahnya, Kim Jong-il, yang berkuasa dari 1994 hingga 2011. Kim Jong-il bahkan punya hobi kuliner lebih beragam ketimbang putranya. Selain penikmat aneka minuman beralkohol, sushi, dan sup sirip hiu, Kim Jong-il terobsesi mencicipi banyak kuliner dunia. Kim Jong-il acap memerintahkan Fujimoto berbelanja makanan atau bahan bakunya dari banyak negara. Di antaranya buah anggur dan melon dari China; durian, pepaya, dan mangga dari Thailand dan Malaysia; bir dari Cekoslovakia, daging babi dari Denmark, kaviar dari Iran dan Uzbekistan, serta aneka makanan laut dari Jepang. “Pernah suatu hari saat bersantap, Kim Jong-il tiba-tiba mengatakan: ‘Fujimoto, saya dengar di Jepang ada kue beras isi yomogi (daun baru Cina). Saya ingin kamu pergi dan membelinya besok!’ Ketika saya pulang dan terlebih dulu diperiksa staf inspeksi makanan, ia tertawa puas: ‘Kue beras Jepang memang sangat lezat. Kenapa para koki kita tidak bisa membuatnya seenak ini? Aroma daun baru Cinanya sangat menyenangkan’,” kenang Fujimoto di salah satu memoarnya, Kim’s Chef. Kim Jong-il pecinta sushi khas Jepang ( kremlin.ru/japan-experience.com ) Untuk makanan tradisional Korea, Kim Jong-il diketahui gemar mengonsumsi Bosintang atau sup daging anjing. Pada 1985, nama hidangan itu sempat dialihbahasakan di Korea Utara menjadi Dangogi-jang . Santapan itu wajib ada di setiap perayaan besar karena, sebagaimana mitos dalam kultur Korea, mengonsumsi Dangogi-jang bisa meningkatkan kejantanan pria dan melestarikan kesejahteraan secara ekonomi. Sup daging anjing atau sup sirip hiu yang digemarinya tentu takkan lengkap jika tak disantap dengan nasi putih. Menurut Fujimoto, Kim Jong-il menuntut “kesempurnaan” nasi yang akan dikonsumsinya. “Terkait nasi, sebelum berasnya dimasak, pelayan dan staf dapur wajib menginspeksi berasnya butir per butir sesuai standar kesempurnaan berat dan ukuran per butirnya. Jika ada butiran beras yang tak sesuai, harus disingkirkan. Hanya butiran beras yang sempurna yang boleh disajikan dalam bentuk nasi,” imbuhnya. Selera makannya yang berlebih akhirnya berdampak buruk pada kesehatan Kim Jong-il. Ia pun terkena diabetes dan hipertensi. Akibatnya, ia terserang stroke pada 2008 dan meninggal pada 17 Desember 2011 karena serangan jantung. Selera Kim Il-sung Berbeda dari putra dan cucunya, pendiri Korea Utara yang berkuasa dari 1948-1994 ini lebih menggemari kuliner tradisional Korea. Persentuhannya dengan kuliner Eropa baru terjadi di masa akhir hayatnya, saat Korea Utara sudah mulai mapan. Di masa Perang Korea (1950-1953) dan di masa pembangunan setelahnya, Kim Il-sung diketahui punya selera makanan tak jauh beda dari rakyatnya. Ia gemar mengonsumsi Dangogi-jang atau sup daging anjing. “Orang Korea Utara, seperti tetangga mereka di barat (China), punya kegemaran akan daging anjing. Saat Korea Utara mengalami krisis pangan pada 1980-an, Kim Il-sung sang diktator menyerukan nilai gizi daging anjing. Makanan favorit di negeri itu di masa sang diktator adalah dangogi-jang atau sup daging anjing; lainnya adalah beragam olahan usus anjing,” ungkap Don Voorhees dalam Disgusting Things: A Miscellany . Dangogi-jang atau sup daging anjing ( worldfood.guide ) Selain itu, Kim Il-sung menyenangi beragam olahan daging ayam atau campuran daging anjing dan ayam. Kurangnya konsumsi makanan berserat membuatnya mengalami obesitas. Tingginya kolesterol Kim Il-sung turut jadi faktor yang memicu serangan jantung sebagai penyebab kematiannya pada 8 Juli 1994. “Kim (Il-sung) memilih aneka daging ketimbang ikan atau sayuran yang ia makan sesekali. Makanan dasar untuk menemani aneka daging itu biasanya nasi campur jawawut India. Daging anjing yang diisi campuran daging ayam adalah makanan favoritnya, di mana ia menuntut untuk selalu dihidangkan setiap sarapan dan makan malam. Itu yang membuatnya obesitas,” tulis The Sun , 30 Januari 2017 mengutip salah satu laporan CIA tahun 1951 yang diungkap ke publik pada 2017. Kim Il-sung, lanjut laporan itu, juga gemar terjun langsung ke dapur. Itu dilakukannya untuk mendiskusikan menu dengan para kokinya atau memasak sendiri yang sudah jadi hobinya sejak muda. Karena itulah ia memperhatikan dengan cermat kala staf dapurnya menyiapkan jamuan makan siang untuk mantan Presiden Amerika Jimmy Carter yang dihelat di atas sebuah kapal pesiar pada medio 1994. Kim Il-sung (kanan) saat menjamu mantan Presiden Amerika, James Earl 'Jimmy' Carter Jr. pada 1994 (KCNA) Mengutip Anecdotes of Kim Il Sung’s Life: Part 2 yang dirilis Dinas Penerangan Korea Utara pada 2013, ia sampai memastikan staf dapurnya tak sekalipun menggunakan bahan baku kacang untuk setiap hidangan makan siangnya. “Saat jam makan siang ia memandu tamu Amerikanya ke meja dan mempersilakan mengambil makanannya. Dia juga mengatakan bahwa makanannya sudah disiapkan tanpa kandungan kacang karena ia tahu tamunya alergi pada kacang-kacangan. Carter bertanya bagaimana ia tahu kebiasaan makannya? Kim Il Sung menjawabnya sambil tertawa bahwa tidak ada di dunia ini yang tidak ia ketahui. Tamunya ikut tertawa pada lelucon itu,” tulis buku tersebut.

  • Darah Tertumpah di Kalabakan

    Malam baru saja menghabiskan seperempat waktunya. Kota Kalabakan ada dalam kegelapan, ketika beberapa bayangan melintas di sebuah bukit dalam gerakan sigap dan cepat. Sementara itu, Mohamed Salleh tengah dalam perjalanan menuju sebuah bukit lainnya. Anggota Sabah Rangers (bagian dari Royal Malaysian Rangers) itu nyaris saja berhadapan dengan kelompok bersenjata itu jika tidak cepat menghindar ke semak belukar. Sekira limat menit kemudian, terdengar suara ledakan dasyat dari arah bukit yang ditempati kawan-kawannya. Berbarengan dengan situasi tersebut, terdengar langkah para penyerbu menuju dirinya. Salleh cepat menghindar. Dia membeku di balik semak belukar sambil tetap siap menarik picu senjata. Jantungnya berdegup kencang. “Kalau saja mereka melihat saya, mau tidak mau saya harus terlibat pertempuran dengan mereka. Untunglah mereka tidak melihat saya dan cepat pergi,” ungkap Salleh alias Mat Congo dalam bukunya Peristiwa Berdarah Kalabakan 29 Desember 1963. Menurut buku Korps Komando AL: Dari Tahun ke Tahun yang ditulis oleh Bagian Sejarah KKO AL, penyebuan ke Kalabakan dilakukan oleh Peleton X Batalyon I Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) pimpinan Sersan Rebani. Rupanya sejak 16 Desember, mereka sudah melakukan pengintaian dan menemukan kenyatan bahwa Pos Sabah Rangers merupakan pangkalan yang kuat dan dilengkapi oleh sebuah helikopter. Rebani memutuskan untuk menyerang Kalabakan pada malam hari jam 21.00 (versi militer Indonesia itu dilakukan pada 30 Desember 1963). Guna lebih rinci lagi mempelajari pertahanan musuh, diperlukan waktu dua hari untuk mengokohkan posisi dengan cara bersembunyi di hutan yang berdekatan dengan pos militer tersebut. “Pasukan lantas dibagi menjadi dua yang secara bersamaan melakukan gerakan mendekati sasaran dari masing-masing arah yang berlainan,” ungkap buku tersebut. Para anggota Sabah Rangers yang berada di pos sama sekali tidak menyangka akan terjadi penyerbuan. Bisa jadi mereka berpikir tidak mungkin pasukan Indonesia masuk sampai ke Kalabakan yang terletak jauh di pelosok Sabah. Ketika tembakan pertama diarahkan kelompok pertama dari Peleton X ke atas bukit, para prajurit Sabah Rangers membalasnya dengan gencar. Dalam situasi baku tembak yang seru, diam-diam kelompok dua Peleton X merayap ke atas bukit dan langsung menghujani pos dengan lemparan granat serta peluru hingga menimbulkan pertumpahan darah. “Pasukan ini bahkan sempat naik ke rumah yang dijadikan posko lawan dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri hasil serangan yang menewaskan delapan personel musuh termasuk komandan kompinya yang berpangkat mayor,” tulis Supoduto Citrawijaya dalam Kompi X di Rimba Siglayan: Konfrontasi dengan Malaysia. Soal korban tewas itu diakui secara jujur oleh pihak Malaysia. Dalam monumen peringatan pertempuran di Kalabakan termaktub delapan nama itu, termasuk sang komandan kompi yang bernama Mayor Zainol Abidin Yaakob. Selain korban tewas, 38 prajurit Sabah Rangers mengalami luka-luka dalam penyerbuan tersebut. Mereka pun harus kehilangan satu pucuk bren BAG standar NATO, tujuh pucuk senapan otomatis ringan (SOR) FN, sepuluh pucuk sten-gun dan satu pucuk pistol. Namun soal kehilangan senjata itu ditampik oleh pihak Malaysia. “Penyerang sendiri kehilangan seorang anggotanya yakni Prako Gabriel yang gugur dalam serangan tersebut,” ungkap Citrawijaya yang juga eks anggota KKO AL dan pernah bertempur di palagan Kalimantan semasa Operasi Dwikora. Begitu mengetahui Posko Sabah Rangers di Kalabakan hancur lebur, pihak militer Inggris kemudian mengirimkan pasukan pemburu untuk mengejar para penyerang. “(Usai penyerbuan itu) para sukarelawan Indonesia mundur namun terus diburu oleh pasukan dari unit Gurkha, tentara Australia dan tentara Malaysia lainnya hingga hanya menyisakan 12 orang yang berhasil melarikan diri,” ungkap Salleh kepada Durie Rainer Fong dari freemalaysiatoday.com . Kendati mengakui bahwa sejumlah prajuritnya tidak pernah kembali setelah penyerangan itu, pihak militer Indonesia tidak pernah mengakui mereka tewas karena ditembak oleh pasukan pemburu Malaysia, Inggris dan Australia. “Ada beberapa yang berhasil kembali ke pangkalan dengan selamat sedang yang lain meninggal karena kelaparan, beberapa lagi ada kemungkinan masih tinggal di daerah lawan,” ungkap buku resmi terbitan KKO AL tersebut. Sersan Rebani sendiri secara resmi diakui telah tewas karena kekurangan makanan dan terjebak dalam keganasan medan Kalimantan yang begitu berat. Atas jasa dan keberaniannya yang luar biasa, dia lantas dinaikan pangkatnya secara anumerta menjadi sersan mayor sekaligus diganjar Bintang Sakti oleh pemerintah Republik Indonesia.

  • Lima Pesepakbola Tersubur di Pentas Internasional

    REKOR demi rekor terus mengikuti karier emas megabintang Portugal, Cristiano Ronaldo. Sumbangan dwigolnya dalam kemenangan 3-0 Portugal atas Hungaria di laga pembuka Euro 2020 Grup F, Selasa (15/6/2021), mengantarkannya sebagai pendulang gol tersubur di putaran final Piala Eropa. Dengan 11 gol yang dicetaknya, Ronaldo melewati rekor sebelumnya yang dipegang Michel Platini (9 gol). Sebelumnya, Ronaldo juga memecahkan rekor pemain dengan catatan keikutsertaan di turnamen Piala Eropa paling banyak. Sejak membela timnas senior Portugal pada 2003 hingga kini, Ronaldo sudah lima kali tampil di Piala Eropa: 2004, 2008, 2012, 2016, dan 2020. Seumpama Ronaldo kembali mampu mengantarkan “ Seleção das Quinas ” (julukan Timnas Portugal) sampai ke final dan mencetak gol, ia bisa memecahkan rekor sebagai pemain tertua yang menorehkan gol di partai final. Ronaldo akan berusia 36 tahun 156 hari bila mencapai final 11 Juli 2021 nanti. Selama ini rekor pemain di atas usia 30 yang mencetak gol di final hanya dipegang Bernd Hölzenbein (30 tahun, 103 hari) dengan golnya di final Euro 1974 antara Jerman Barat vs Cekoslovakia. CR7 tinggal mengejar tiga gol lagi untuk menyamai perolehan gol Ali Daei sebagai pemain tersubur di pentas internasional (Twitter @EURO2020) Ronaldo sedikit lagi juga bakal menyalip rekor bintang legendaris Iran, Ali Daei, sebagai pencetak gol terbanyak di pentas resmi internasional. Ronaldo kini masih di posisi kedua dengan 106 gol atau empat gol di bawah rekor Daei (109). Berikut empat pemain tersubur dalam pentas sepakbola internasional selain Ronaldo. Siapa saja mereka? Ali Daei (109 Gol) Ali Daei bomber Timnas Iran periode 1993-2006 ( the-afc.com ) Nama Ali Daei masih bertahan sebagai pengoleksi gol terbanyak di pentas internasional dengan 109 gol dari 149 penampilan untuk Timnas Iran sepanjang 1993-2006. AFC (Konfederasi Sepakbola Asia) mencantumkannya di antara nama-nama pesepakbola Asia pertama yang masuk jajaran Asian Football Hall of Fame pada 2014. Pemain legendaris Team Melli (julukan Timnas Iran) itu mulai bersinar di klub Bank Tejarat FC pada 1990 dan Persepolis FC pada 1994. Pada 1993, pemain kelahiran Ardabil, 21 Maret 1969 ini mulai dipanggil ke timnas. Lima tahun kemudian, Daei tercatat jadi pemain Asia pertama yang tampil di Liga Champions bersama Bayern Munich. Di timnas, striker berpostur tinggi 192 cm ini mendulang gol perdananya ke gawang Taiwan dalam Kualifikasi Piala Dunia 1994 Zona AFC, 25 Juni 1993. Sedangkan gol terakhirnya di timnas dicetak Daei ke gawang Kosta Rika dalam laga persahabatan pada 1 Maret 2006. Daei berjasa mengantarkan Iran meraih medali emas Asian Games 1998 dan 2002. Mokhtar Dahari (89 Gol) Dato' Mohd. Mokhtar Dahari (Repro: Mokhtar Dahari: Legenda Bola Sepak Malaysia ) Indonesia boleh bangga jadi “Macan Asia” di era 1950-an sampai 1970-an. Namun negeri jiran Malaysia hampir selalu melahirkan pemain-pemain yang diakui dunia. Setelah Dollah Don di era 1950-an, yang pernah disanjung Presiden RI Sukarno, pada 1970-an “Harimau Malaya” melahirkan “Supermokh” Mokhtar Dahari yang diakui FIFA sebagai pencetak gol tersubur ketiga di pentas internasional. Pemain kelahiran Setapak, Kuala Lumpur pada 13 November 1953 ini mulai mengenakan seragam Timnas Malaysia pada 1972 bersamaan dengan karier seniornya di klub Selangor FC pada usia 19 tahun. Selama di timnas (1972-1985), ia  mencetak 89 gol dari 142 caps. Gol perdananya dicetak ke gawang Sri Lanka dalam laga yang dimenangi Malaysia 3-0 di penyisihan Grup A Turnamen HUT Jakarta, 5 Juni 1972. Kebintangan “Supermokh” pun mulai menuai sanjungan. Ia turut berjasa dalam raihan dua medali emas cabang sepakbola di SEA Games 1977 dan 1979. “Saya masih ingat pengalaman kali pertama dipanggil bermain untuk Malaysia di Kejohanan Piala Jakarta 1972. Disebabkan teruja, saya tidak boleh lelapkan mata pada malam yang esoknya saya perlu melapor diri untuk latihan. Saya berimaginasi membayangkan diri saya menyarung jersi Malaysia dan turun bermain menggalas tanggung jawab negara. Harapan dan angan saya ketika itu ialah moga-moga suatu hari nanti, saya muncul sebagai wira negara,” kenang Mokhtar sebagaimana diberitakan New Strait Times edisi 8 Oktober 1985. Ferenc Puskás (84 Gol) Ferenc Puskás (kiri) di final Piala Dunia 1954 ( fifa.com ) Andaikata negerinya tak direcoki konflik di masa revolusi, megabintang Hungaria era 1950-an dan Real Madrid (1960-an) kelahiran Budapest, 1 April 1927 ini sangat mungkin bisa mengukir prestasi lebih tinggi dari posisi keempat status pencetak gol terbanyak di pentas internasional. Namun, sejarah tak mengenal “andaikata” atau “umpama”. Semasa memperkuat tim emas “ Magyars” (julukan Timnas Hungaria) dalam kurun 1945-1956, Puskás mendulang 84 gol dari 85 caps. Kala Revolusi Hungaria bergejolak pada 1956, Puskás bersama tim Budapest Honvéd sedang bertandang ke Spanyol untuk main di European Cup (kini Liga Champions) melawan Athletic Bilbao. Tim pun memutuskan menunda pulang dan menjalani tur dunia ke Spanyol, Portugal, Italia, dan Brasil tanpa persetujuan federasi sepakbola Hungaria maupun FIFA. Selepas tur dunia itu, banyak pemain Honvéd seperti Sándor Kocsis dan Puskás enggan pulang dan memilih cari klub baru di luar Hungaria. “Setelah itu Puskás memutuskan untuk membelot. Dengan menyesal FIFA memberinya sanksi larangan setahun bermain walau kemudian ia direkrut Real Madrid setelah sanksi itu berakhir,” ungkap Richard Witzig dalam The Global Art of Soccer . Selain melanjutkan kariernya bersama Real Madrid, Puskás juga berganti “kesetiaan” dengan membela Timnas Spanyol dalam empat kali penampilan selama setahun (1961-1962). Tiga dari empat penampilannya terjadi di Piala Dunia 1962 walau gagal sekalipun menambah catatan gol internasionalnya. Godfrey Chitalu (79 Gol) Godfrey Chitalu membela Timnas Zambia periode 1968-1980 (Repro: Godfrey 'Ucar' Chitalu ) Bomber asal Zambia ini memang tak sementereng Pelé apalagi Diego Maradona. Tapi jika urusan bikin gol, pemain kelahiran Luansyha, 22 Oktober 1947 ini boleh diadu. Maka sewaktu LionelMessi mengklaim diri sebagai pemain tersubur dalam setahun (di klub dan timnas) dengan 86 gol pada 2012, melewati rekor Gerd Müller (85 gol), FAZ (induk sepakbola Zambia) tak terima. Juru bicara FAZ Eric Mwanza  mengatakan bahwa Chitalu punya catatan rekor gol yang melebihi Messi, yakni 107 gol dalam tahun 1972. Menurut Mwanza, 107 gol Chitalu itu ditorehkannya di liga domestik sekaligus kejuaraan antarklub Afrika bersama tim Kabwe Warriors, dan laga-laga tim nasional. “Kami punya catatannya di federasi tapi sayangnya tidak turut tercatat dalam sepakbola dunia. Bahkan saat mata dunia tertuju pada gol Messi memecahkan rekor Gerd Müller, debat dan diskusi terjadi di sini terkait mengapa gol-gol Godfrey tidak diakui,” kata Mwanza, dikutip Jerry Muchimba dalam biografi bertajuk Godfrey ‘Ucar’ Chitalu . Chitalu wafat pada 27 April 1993. Namanya diakui sebagai pesepakbola Zambia paling dihormati setelah pada 2006 CAF (Konfederasi Sepakbola Afrika) mencantumkan namanya di antara 200 pesepakbola terbaik “Benua Hitam” dalam 50 tahun terakhir. Di pentas internasional, Chitalu acap jadi predator bagi tim lawan sejak mengenakan seragam timnas dalam kurun 1968-1980. Selama membela “ Chipolopolo” atau “Peluru Tembaga” (julukan Timnas Zambia), Chitalu menorehkan 79 gol dalam 111 caps. Catatan itu menempatkannya sebagai pemain tersubur kelima di laga resmi internasional. Gol perdananya diukir dalam laga persahabatan kontra Uganda pada 4 Juli 1968, sementara gol terakhirnya dicetak ke gawang Kenya dalam Jamhuri Cup, 12 Desember 1980.

  • Wind River, Potret Kehidupan Pribumi Amerika

    SUATU pagi di kawasan penampungan suku Indian Arapaho, Wind River Reservation, Wyoming. Cory Lambert (diperankan Jeremy Renner), pemburu FWS (Dinas Cagar Budaya Federal) mendapat laporan dari mantan mertuanya, Don Crowheart (Apesanahkwat), bahwa sapi-sapi ternaknya diserang singa gunung. Cory lalu melacaknya. Tetapi, Cory justru menemukan jasad gadis berusia 18 tahun. Natalie Hanson (Kelsey Chow) nama korban tersebut. Cory mengenalinya sebagai sahabat mendiang putrinya. Natalie ditemukan Cory tergeletak tak bernyawa dengan sejumlah luka dan bertelanjang kaki. Cory segera melaporkannya kepala polisi suku setempat, Ben Shoyo (Graham Greene). Tapi karena minimnya personel, Shoyo mengontak FBI (biro investigasi federal) untuk mengungkap kasus itu. Namun, FBI hanya mengirim Jane Banner (Elizabeth Olsen) dari cabang Las Vegas ke kawasan terpencil itu. Mengingat hanya dirinya seorang, Jane minta bantuan Cory yang lebih paham wilayah keras tersebut. Agen FBI Jane Banner (kanan) yang dikirim seorang diri ke Wind River Reservation (The Weinstein Company) Ditambah penggambaran suasana pegunungan dan salju yang membentang kawasan Wind River Reservation, adegan-adegan itu jadi pembuka film bertajuk Wind River garapan Taylor Sheridan. Film ini diracik berdasarkan rangkuman kejadian di wilayah buangan untuk Indian Arapaho sejak abad ke-19 itu dan jarang diperhatikan pemerintah Amerika Serikat. Scene bergulir ke adegan dilematis yang dihadapi Jane. Hasil otopsi dr. Randy Whitehurst (Eric Lange) menyatakan Natalie meninggal karena pendarahan paru-paru ( pulmonary hemorrhage ) dan beberapa bekas luka dari tindakan kekerasan seksual. Artinya, korban tewas karena kedinginan hingga paru-parunya terendam darahnya sendiri. Akibatnya, Jane tak bisa mengirim laporan ke kantor pusatnya sebagai kasus pembunuhan. Hal itu menyebabkan FBI tak bisa mengerahkan satu tim bantuan. Jane pun hanya bisa mengharapkan bantuan dari Cory dan Shoyo meski sangat mengharapkan tim bantuan FBI bisa didatangkan. Pasalnya, perkembangan investigasinya mengarahkan mereka pada para tersangka pelakunya ke sebuah situs pengeboran minyak. Masalahnya, situs pengeboran minyak itu dikawal sekelompok barisan keamanan eks militer dengan persenjataan lengkap. Bagaimana Jane dan Cory bisa menguak kasus rudapaksa dan pembunuhan itu dengan ancaman para personel keamanan partikelir tersebut? Untuk lebih serunya Anda bisa saksikan sendiri di aplikasi daring Mola TV. Kolase adegan pasukan keamanan partikelir yang mengancam investigasi FBI (The Weinstein Company) Realitas Kaum Indian Pribumi Sutradara Taylor Sheridan senantiasa memberi gambaran kehidupan keras kaum Indian di perkampungan terpencil di pegunungan bersalju itu dalam setiap adegan film racikannya. Iringan music scoring bertema tragedi dan teror garapan komposer Nick Cave dan Warren Ellis cukup bisa memicu rasa pilu penonton menyaksikan keadaan memprihatinkan serta adegan-adegan menegangkan dalam investigasi kasusnya. Kombinasi itu membuat Wind River sangat intim dengan kondisi kaum Indian di berbagai wilayah penempatan mereka. Mereka bertahan hidup dengan segala problema di lingkungan terisolir tak jauh dari orang-orang kulit putih dan Afro-Amerika di negara bagian yang sama dengan segala modernitasnya. Kaum Indian hanya bersahabat kondisi kemiskinan karena tingkat pengangguran generasi mudanya begitu tinggi dan berkelindan dengan tingkat kejahatan. Ya, kejahatan dan kondisi terbelakang kaum Indian jadi titik fokus Sheridan dalam Wind River . Adegan agen FWS Cory Lambert menemukan jejak mayat korban rudapaksa (The Weinstein Company) Sheridan menekankan isu tentang kasus-kasus orang hilang, kejahatan seksual, dan pembunuhan terhadap perempuan pribumi di awal dan akhir filmnya dengan pernyataan: “Sementara statistik orang hilang tercatat untuk setiap demografik lain, tidak satu pun tercatat perempuan pribumi Amerika”. “Filmnya memang berdasarkan ribuan cerita aktual. Isu kejahatan seksual terhadap perempuan di perkampungan sebenarnya sudah eksis sejak permulaan sistem penampungan itu sendiri. Tapi baru 15, 20 tahun belakangan kasusnya meledak dan tidak mendapat perhatian,” tutur Sheridan kepada National Public Radio , 5 Agustus 2017. Akar masalahnya dideskripsikan Sheridan dengan penggambaran bahwa kebanyakan orangtua korban jarang melaporkan kasus orang hilang ke pihak berwenang. Hal itu antara lain disebabkan kultur yang membebaskan anak di atas usia 18 tahun untuk hidup di luar rumah, hingga minimnya jumlah personel kepolisian di perkampungan itu. “Saya sendiri punya dua periset yang menghabiskan waktu tiga bulan untuk menemukan statistiknya, baik dengan mendatangi Kementerian Kehakiman atau organisasi yang terkait dengan catatan kriminal. Dan mereka kembali dengan mengatakan bahwa mereka tak menemukan satupun statistik. Tidak ada pihak yang pernah mencatat. Maka saya katakan, itulah statisik kita,” lanjutnya. Sutradara Taylor Sheridan di lokasi syuting Wind River (The Weinstein Company) Pemerintah federal sekadar punya persentase atau perkiraan. Menurut Coalition Lusa Brunner, direktur eksekutif LSM Sacred Spirits First National, setidaknya satu dari tiga perempuan pribumi Indian mengalami kejahatan seksual dan 67 persen di antara pelakunya adalah non-pribumi. “Yang terjadi dalam hukum federal Amerika dan kebijakannya adalah, mreka menciptakan wilayah yang terbebas dari hukuman ibarat taman bermain bagi pelaku rudapaksa dan pembunuh berantai dan anak-anak kami tak bisa dilindungi sama sekali,” ungkap Brunner, dikutip Sky News , 6 April 2015. Meskipun perkampungan Indian sudah eksis di berbagai wilayah Amerika sejak 1800-an, tidak ada satupun hukum federal yang bisa menjerat pelaku kejahatan non-pribumi. Baru pada 7 Maret 2019 –atau setelah lebih dari seabad– pemerintahan Donald Trump merevisi Undang-Undang Kekerasan terhadap Perempuan tahun 1994. Dengan demikian, sistem hukum lokal di masing-masing perkampungan Indian bisa mengadili pelaku kejahatan non-pribumi. Isu kedua yang diangkat Sheridan adalah realitas kehidupan pribumi Indian yang hidup terisolir dan terbelakang. Sheridan menggambarkannya dengan pemandangan mayoritas Indian Arapaho di perkampungan Wind River Reservation hidup di trailer-trailer lusuh. Bendera Amerika pun dikibarkan secara terbalik. Tiada lapangan pekerjaan layak selain beternak domba atau sapi. Lantaran bingung mesti ke mana menentukan masa depan, banyak generasi mudanya terjerumus kehidupan negatif dengan menjadi pemadat. “Perkampungan itu adalah tempat yang sangat sulit untuk ditinggali. Inilah realitasnya di mana hanya ada sedikit perubahan sejak perkampungan itu eksis. Perkampungan yang dibayangi pusat-pusat urban di negara bagian yang sama, di mana orang-orang yang tinggal di situ sama sekali tak pernah jadi perhatian. Dengan film ini saya ingin kita bercermin kembali dan berharap berdampak pada perubahan lebih jauh,” sambung Sheridan. Suasana perkampungan Indian di Wind River yang hanya dinaungi hening dan diselimuti salju (The Weinstein Company) Wind River Reservation yang terletak di antara Fremont County dan Hot Springs County, Wyoming adalah perkampungan pribumi Indian terbesar ketujuh. Dengan luas 8.903 kilometer persegi, perkampungan itu menampung dua suku: Shoshone Timur dan Arapaho Utara. Sebelum adanya penetapan perkampungan itu, wilayah tersebut dihuni suku Shoshonesejak 3.000 tahun ke belakang. Tetapi akibat serangkaian perang antarsuku pada 1700-an dan konflik dengan kaum kulit putih pada 1800-an, banyak suku lalu mengungsi. Seperti suku Crow, Cheyenne, Blackfeet, Lakota, dan Arapaho. “Lebih dari seribu tahun lalu, Arapaho tinggal di timur Sungai Missouri. Sekitar tahun 1700, Arapaho terpaksa meninggalkan tanah leluhur mereka karena serangan suku-suku musuh dan menetap di Great Plains yang membentang dari selatan Kanada sampai utara Texas, di antara Sungai Mississippi dan Pegunungan Rocky,” tulis Michael Burgan dalam The Arapaho. Pada 1800-an, lanjut Burgan, suku Arapaho terpecah menjadi Arapaho Utara yang tetap berhabitat di Great Plains dan Arapaho Selatan yang bermigrasi ke wilayah Kansas dan Colorado. Namun pada 1851, akibat konflik dengan para penambang emas kulit putih dan wabah cacar, suku Arapaho Utara berpindah lagi ke Fort Laramie, Wyoming di bawah naungan pemerintah federal. Namun, suku Arapaho Utara pun masih sulit hidup damai. Perang Sioux pada 1876 memaksa Kepala suku Wo’óoseinee’ alias Black Coal bernegosiasi dengan Angkatan Darat Amerika agar sukunya tak terlibat perang. Black Coal dan 700 pengikutnya memilih berpihak pada militer Amerika dengan menjadi pengintai. Sebagai imbalannya, Arapaho Utara diizinkan mencari tempat tinggal lain. Pada 1877, Black Coal menuntut wilayah di pinggiran Sungai Sweetwater, di sisi selatan wilayah Shoshone Indian Reservation atau perkampungan Suku Shoshone di Lembah Wind River. Suku Shoshone (kiri) dan Suku Arapaho (kanan) ( easternshoshone.org/Library of Congress) Tetapi area baru yang ditinggali suku Arapaho Utara itu masih berstatus penampungan sementara. Perjanjian mengenai status perkampungan tetap antara Black Coal dengan Jenderal Amerika George Crook tak jua terealiasi sampai sang jenderal mangkat pada 1890. Seiring perjalanan waktu, saling klaim tanah di Lembah Wind River pun terjadi antara pemerintah Amerika, suku Arapaho Utara, dan Shoshone. Puncaknya, sengketa itu masuk ke meja hijau pada 1938. Dalam putusannya, Mahkamah Agung Amerika menetapkan area Lembah Wind River dan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah hak milik suku setempat. Selain itu, ditetapkan juga Lembah Wind River menjadi kawasan tempat tinggal bersama suku Shoshone dan Arapaho Utara. Wilayah tersebut oleh Mahkamah Agung diberi nama Wind River Reservation untuk menggantikan Shoshone Indian Reservation. Meski begitu, penetapan itu tak jua membawa kesejahteraan bagi suku Shoshone maupun Arapaho. Mereka hidup di garis kemiskinan dengan bergantung pada peternakan dan turisme domestik. “Kebanyakan dari suku pribumi mengalami kesulitan ekonomi seiring transisi dari status yang independen ke status penampungan. Belum lagi dinamika terkait kerjasama politik antar dua suku yang secara historis bermusuhan, perampasan lahan, asimilasi paksa, penghancuran budaya, penggalian hasil bumi dari pihak kulit putih turut jadi faktor kemiskinan tersebut,” ungkap Thomas Biolsi dalam A Companion to the Anthropology of American Indians. Area perkampungan Indian di Wind River pada sebelum (kiri) dan setelah putusan Mahkamah Agung Amerika (kanan) ( windriver.edu.org ) Selama bertahun-tahun problema ini nyaris tak mendapat perhatian pemerintah federal. Kemiskinan itu turut melonjakkan tingkat kriminalitas dari tahun ke tahun. Ironisnya, sistem hukum federal tak berpihak pada kaum pribumi, utamanya perempuan sebagaimana yang digambarkan dalam film Wind River. Media massa juga jarang mengangkat permasalah kaum pribumi lantaran lebih banyak tercurah pada isu-isu rasis Afro-Amerika sejak 1960-an. “Saya sempat syok membaca naskah filmnya. Saya menemui sutradaranya dan bertanya benarkah kejadian-kejadian itu nyata? Karena saya tidak sepenuhnya paham bahwa isu seperti ini eksis di negeri yang sama dengan yang saya tinggali. Kaum pribumi itu adalah tetangga kita dan mereka juga banyak berdiam di negara-negara bagian yang pernah saya kunjungi,” tandas aktris Elizabeth Olsen yang memerankan agen FBI di film itu. Deskripsi Film: Judul: Wind River | Sutradara: Taylor Sheridan | Produser: Matthew George, Basil Iwanyk, Peter Berg, Wayne L. Rogers, Elizabeth A. Bell | Pemain: Jeremy Renner, Elizabeth Olsen, Graham Greene, Kelsey Chow, Apesanahkwat, Jon Bernthal, Julia Jones | Produksi: Acacia Entertainment, Savvy Media Holdings, Thunder Road Pictures, Voltage Pictures, Wild Bunch, Ingenious Media | Distributor: The Weinstein Company, STXinternational, Metropolitan Filmexport | Genre: Thriller-Kriminal | Durasi: 107 Menit | Rilis: 4 Agustus 2017, Mola TV

  • Merah Putih Berkibar di Gorontalo Merdeka

    Desas-desus kekacauan Perang Dunia II berhembus kencang di kalangan rakyat Gorontalo pada permulaan tahun 1942. Negeri Belanda dikabarkan tengah berada di ambang kehancuran akibat perang terus berkecamuk di Benua Biru. Kekacauan itu pun diyakini akan memberikan dampak kepada pemerintahan mereka Hindia-Belanda. Berita perang besar itu disambut suka cita oleh rakyat Gorontalo. Mereka akhirnya bisa merasakan kebebasan setelah sekian lama hidup di bawah tekanan imperialisme Belanda. Rakyat siap menyambut kebebasan yang amat mereka idam-idamkan tersebut. Benar saja, tidak lama setelah tersebarnya kabar itu pemerintahan Hindia Belanda di Gorontalo mulai kehilangan kendali dalam memerintah. Mereka tidak lagi mampu mengontrol gejolak yang terjadi di masyarakat. Laskar pejuang Gorontalo pun dengan mudah merebut wilayahnya. Mereka berhasil mengamankan pusat komando Belanda. Sempat terjadi pertempuran di sejumlah tempat di Gorontalo antara laskar rakyat dengan Vernielings Corps (VC), yang tugasnya membumihanguskan segala aset Belanda andai pemerintahan mereka mengalami kejatuhan. Para anggota VC Gorontalo menyasar aset orang-orang Belanda di bidang irigasi, pelabuhan, infrastruktur, dan bahan makanan. Namun pergerakan mereka cepat diketahui, sehingga laskar rakyat dapat menjatuhkan para VC. Di bawah komando Kusno Danupojo dan Nani Wartabone para pejuang pun berhasil menduduki bangunan-bangunan, serta fasilitas-fasilitas utama milik pemerintah Hindia Belanda, seperti kantor pos, kantor polisi, tangsi militer, asrama militer, rumah kepala residen, dan lain sebagainya. Di sana jugalah untuk pertama kalinya bendera Merah-Putih berkibar.   “Tidak banyak orang yang mengetahui suatu peristiwa penting bersejarah di Sulawesi (Gorontalo). Penting karena ketika seluruh tanah air sedang dalam kecemasan, dan kekacauan pikiran lantaran mundurnya tentara di awal tahun 1942, dan lantaran tibanya bencana perang dunia kedua disusul dengan penyerbuan tentara Jepang dari utara, maka di suatu sudut tanah air, yaitu Gorontalo, berkibarlah mula pertama kali di daerah itu bendera pusaka Sang Dwi Warna, sebagai hasil dari perebutan kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda yang dilakukan oleh patriot-patriot Indonesaia …” demikian menurut buku  Republik Indonesia Propinsi Sulawesi yang diterbitkan Kementerian Penerangan RI Peristiwa perebutan kekuasaan itu, sebagaimana disebutkan Sutrisno Kutoyo, dkk dalam Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Sulawesi Utara , terjadi pada 23 Januari 1942. Masyarakat lalu mengenalnya sebagai Peristiwa Patriotik (Merah-Putih). Meski tidak meliputi semua daerah di Pulau Sulawesi, tetapi ada banyak tempat di sekitar Sulawesi Utara yang melakukan hal serupa seperti di Gorontalo, di antaranya Manado, Tolitoli dan Luwuk. Nani Wartabone dan Kusno Danupojo, bersama delapan orang pemuka rakyat, serta segenap rakyat Gorontalo juga menangkapi semua orang Belanda di Gorontalo dalam Peristiwa Patriotik tersebut. Mereka yang diamankan berasal dari kalangan pemerintahan, militer dan wakil-wakil kantor perdagangan Belanda. Seluruhnya dijebloskan ke dalam tahanan, dengan diberikan jaminan keselamatan dan perlindungan. Peristiwa penangkapan orang-orang Belanda cepat menyebar ke seluruh Gorontalo. Masyarakat lalu berbondong-bondong pergi menuju halaman kota. Di sana, sebagai pemimpin pergerakan Nani Wartabone naik ke podium untuk memberikan pidato. Menurut J.P. Tooy, dkk dalam Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Utara , di hadapan seluruh rakyat yang hadir, dia menyatakan bahwa Gorontalo sudah merdeka dan di daerah itu sudah tidak ada lagi pemerintahan Belanda. Wartabone juga meyakinkan seluruh rakyat bahwa kedepannya bangsa Indonesia akan mampu menguasai negaranya sendiri. “… ketika sdr. Nani Wartabone memimpin lagu Indonesia Raya di alon-alon, maka suara-suara yang melagukan itu sudah lekas jadi parau, karena diselingi oleh sedu-sedan yang mengharukan. Karena sekarang orang sudah dapat melihat bendera Merah Putih berkibar dengan bebas diangkasa, Indonesia Raya dinyanyikan dengan tak ada orang yang menegornya,” tulis Kementerian Penerangan. Kontrol atas Gorontalo, utamanya dalam urusan keamanan, selanjutnya dipegang oleh laskar pejuang. Mereka membentuk badan pemerintahan yang bertugas menjalankan administrasi dan kesejahteraan masyarakat. Khusus di bidang keamanan dibuat larangan melakukan pencurian terhadap aset-aset yang ditinggalkan Belanda. Hal itu dilakukan demi menjaga ketenteraman. Larangan pencurian itu dipampang di muka kantor pos, bunyinya: “Siapa yang mencuri, akan ditembak mati!”. Wartabone sendiri ditunjuk sebagai kepala pemerintahan Militer, sedangkan Danupojo menjadi kepala pemerintahan sipil. Sementara untuk urusan pertahanan di Gorontalo dipegang oleh Pendang Kalengkongan sebagai panglima besarnya. Dia membawahi polisi kota, serta laskar rakyat. Selama masa itu, rakyat Gorontalo bisa bebas melakukan kontrol atas dirinya sendiri. Tidak ada batasan-batasan seperti yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Mereka bebas menanam dan mengkonsumsi padi untuk dirinya. Tidak ada rakyat yang menderita kelaparan. Mereka juga bisa memasang lampu-lampu yang sebelumnya dilarang Belanda. Tidak ada batasan juga dalam mencari hiburan, sehingga di banyak rumah radio-radio dinyalakan, dan orang-orang berkumpul di sana. “Maka hiduplah segala hasrat yang mati di waktu Belanda … Alon-alon Gorontalo penuh dengan rakyat. Barisan kehormatan dengan senjata lengkapnya berbaris di tengah alon-alon. Dan ketika Nani Wartabone dan Kusno Danupojo datang memeriksa barisan maka untuk pertama kalinya tembakan-tembakan kehormatan yang sungguh-sungguh dari negara merdeka merobek angkasa. Dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan penuh khidmat. Nani Wartabone kelihatan menyucurkan air matanya. Dan orang-orang yang menyaksikan kejadian ini turut pula tersedu-sedu,” tulis buku karya Kementerian Penerangan RI itu. Pemerintahan merdeka di Gorontalo, imbuh Sutrisno Kutoyo, berlangsung selama lima bulan lamanya (23 Januari 1942 - 5 Juni 1942). Kedamaian mereka terusik begitu tentara pendudukan Jepang mendarat di Sulawesi Utara. Dengan kekuatan tempur yang mumpuni, bala tentara Jepang berhasil menjatuhkan pertahanan laskar rakyat Gorontalo.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page