Hasil pencarian
9754 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Natuna di Mata Penjelajah Eropa
NATUNA kembali mencuri perhatian rakyat Indonesia. Penetrasi kapal nelayan China yang dilindungi sebuah kapal coastguard negeri itu ke perairan Natuna pada 19-24 Desember 2019 membuat pemerintah Indonesia marah. Terlebih, kapal China itu tak menggubris peringatan dari kapal TNI AL yang saat itu melakukan patroli. Protes pun dilayangkan pemerintah Indonesia. Natuna, kepulauan yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau, memang kerap mencuri perhatian banyak pihak lantaran kaya sumberdaya alam dan letaknya strategis. Letaknya di jalur perniagaan lama membuatnya dikunjungi banyak orang dari berbagai belahan bumi sejak lama. Letak strategis itu pula yang membuat Natuna mencuri perhatian Raja Prancis Charles X. Beberapa saat sebelum kejatuhannya, Charles X menunjuk Cyrrille Pierre Theodore Lapace, veteran angkatan laut Kerajaan Prancis yang berpengalaman dalam berbagai pertempuran, untuk menjalankan sebuah ekspedisi maritim. “Ekspedisi maritim yang baru ini mengemban dua misi, yakni misi resmi, menyangkut pemeriksaan hidrografi untuk menyempurnakan atlas Asia Tenggara, dan misi yang lebih resmi, yakni misi politik ekonomi rahasia untuk menandai wilayah-wilayah strategis guna membangun jaringan basis logistik Prancis di Laut Cina Selatan,” tulis Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis Dari Abad XVI Sampai Abad XX .
- Samoa Amerika Mengusir Hantu 31 Gol Tanpa Balas
THOMAS Rongen (diperankan Michael Fassbender) duduk di “kursi pesakitan” di hadapan manajemen federasi sepakbola Amerika Serikat USSF di suatu hari pada Mei 2011. Nasibnya segera berubah 180 derajat dari pelatih kepala Timnas U-20 Amerika menjadi pelatih sebuah negeri kecil di Pasifik selatan, Samoa Amerika. “Sepakbola memang permainan indah tapi harus kita akui, ini juga permainan yang rumit, kawan-kawan. Sepakbola seperti kehidupan. Musim depan saya pikir kita punya kesempatan yang sebenarnya,” kata Rongen membela diri usai Timnas U-20 Amerika gagal lolos ke Piala Dunia U-20 2011 di Kolombia. Pembelaan itu tak mempan. Atasan Rongen, Alex Magnussen (Will Arnett), justru punya rencana lain buatnya. “ Sorry , uh, Thomas. Memangnya belum ada yang kasih tahu Anda sesuatu? Anda dipecat,” tampik Magnussen. Music scoring yang komikal lantas mengiringi keterkejutan Rongen. Rongen diberi dua pilihan: menganggur usai dipecat atau dikaryakan di Samoa Amerika. “Anda seriusan, nih?” Rongen terperangah tak percaya.
- Upaya CIA Membunuh Pemimpin China di Bandung
PEMERINTAH Indonesia dan peserta Konferensi Asia-Afrika (KAA) terkejut mendengar kabar pesawat Kashmir Princess yang ditumpangi delegasi China kecelakaan. Pesawat carteran milik Air India itu meledak dan jatuh di laut Kepulauan Natuna. Enam belas orang tewas dan tiga selamat. Konferensi yang sudah dipersiapkan dengan matang itu tetap harus berjalan. Akhirnya, mereka dapat bernapas lega karena Perdana Menteri Republik Rakyat China Zhou Enlai tidak berada dalam pesawat nahas itu. Zhou mengetahui rencana pembunuhan itu. Dia mengubah rencana dan rute perjalanannya. Sehingga dia selamat dan dapat menghadiri KAA di Bandung. Komisi penyelidikan yang dibentuk pemerintah Indonesia menyimpulkan penyebab kecelakaan adalah bom waktu jenis detonator MK-7 buatan Amerika Serikat yang dipasang di roda depan bagian kanan pesawat.
- Pesawat Delegasi KAA Jatuh di Perairan Natuna
SEBUAH pesawat carteran milik Air India berjenis Lockheed L-7492A jatuh di perairan dangkal dekat kepulauan Natuna Laut Cina Selatan, pada 11 April 1955. Pesawat yang tinggal landas dari Bandara Kai Tak, Hongkong itu sejatinya akan menuju Bandung dalam rangka Konferensi Asia Afrika. Enam belas penumpangnya dilaporkan tewas, sedangkan tiga orang lainnya mengalami luka berat. Kashmir Princess, pesawat carteran milik Air India itu sebelumnya sempat mengisi bahan bakar dan menjalani pemeriksaan rutin usai menempuh perjalanan dari Bombay, India. Pesawat tersebut membawa delegasi Tiongkok, juga wartawan dari berbagai negara, yang akan menghadiri Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Rencananya, pesawat itu pula yang akan mengangkut Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Tiongkok Zhou Enlai. Penumpang yang selamat mengisahkan sekira lima jam perjalanan, pada jam tujuh malam, kru mendengar ledakan. Api berhembus ke arah lubang tangki bahan bakar nomor tiga. Dengan cepat pilot mematikan mesin nomor tiga, menyisakan tiga mesin yang menggerakkan pesawat.
- Sulistina Soetomo Diselamatkan Sakit Perutnya
SUATU hari di tengah Pertempuran Surabaya semasa Perang Kemerdekaan. Sulistina, istri Bung Tomo, diperintahkan atasannya di palang merah agar ke Rumahsakit Simpang. Dia pun bergegas dengan menumpang truk yang mengangkut pemuda-pejuang. Sulistina duduk tepat di samping sopir. Dalam perjalanan, tiba-tiba tengkuknya merasa dingin karena tersentuh benda yang tak diketahuinya. Setelah dia menoleh ke belakang, ternyata benda itu adalah laras sebuah pistol. Sulistina kaget. “Aku tak tahu siapa yang sembrono menggenggam pistol, tetapi larasnya mengenai kudukku. Aku berteriak. ‘Eee...Bung!’ pistolnya jangan diarahkan kepadaku! Tapi pada musuh!’’ kata Sulistina dalam memoarnya, Bung Tomo Suamiku .
- Bung Tomo Menikah Saat Perjuangan Kemerdekaan
DI MASA revolusi, para pemuda menempatkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan (1945-1949) di atas kepentingan diri sendiri. Revolusi menuntut pengorbanan segala-galanya, termasuk perkawinan sebagai “kenikmatan” pribadi. Tak heran jika mereka kerap jengkel melihat iklan-iklan perkawinan dan pertunangan di suratkabar. “Mereka berpendapat bahwa perkawinan dan pertunangan bertentangan dengan sifat revolusi yang menjadi-jadi,” tulis Soe Hok Gie dalam Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan. Sorotan pun dialamatkan kepada Bung Tomo, tokoh pemuda dan penyulut semangat pertempuran Surabaya, ketika hendak menikah di masa revolusi. Muncul pro dan kontra. Ada yang menyayangkan mengapa Bung Tomo tidak konsekuen dengan janjinya untuk tidak menikah sebelum perjuangan selesai.
- Nyanyi Senyap Radio Gelap
SEBUAH rumah di Jalan Mawar No. 10 Surabaya berdiri di atas tanah seluas 2.000 meter persegi. Pepohonan yang rindang membuatnya tidak terlihat utuh. Suasananya sepi. Tak terdengar lagi suara berapi-api yang dulu membangunkan semangat para pejuang di media pertempuran Surabaya. Sebuah plakat di dinding menjadi penandanya, bertuliskan: “Rumah Tinggal Pak Amin (1935). Tempat Studio Pemancar Radio Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (RPPRI) Bung Tomo. Di sini Ktut Tantri (warga negara Amerika) menyampaikan pidatonya sehingga perjuangan Indonesia bisa dikenal di luar negeri Jl. Mawar 10-12 Surabaya.” Sebelum jadi markas radio, rumah ini sempat menjadi asrama Nederland Indische Landbouws Maaschapij (NILM), perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan. Seorang penduduk Surabaya bernama Aminhadi kemudian membelinya dan kemudian mewariskan kepada anak-cucunya.
- Saat Bung Tomo Dilarang Bicara
JIKA dilihat rentang waktunya (8 Desember 1947-17 Januari 1948), Perundingan Renville bisa jadi merupakan perundingan terlama yang pernah dilakukan Indonesia dengan negara lain. Ajang perang diplomasi antara Indonesia dengan Belanda tersebut dilakukan di atas kapal USS Renville berbendera Amerika Serikat yang tiba di pelabuhan Tanjung Priok pada 2 Desember 1947. Delegasi Indonesia beranggotakan Amir Sjarifuddin, Ali Sastroamidjoyo, Tjoa Sik Ien, Mohamad Roem, Agus Salim, Nasrun dan Juanda. Sementara di kubu seberang, tim Belanda diperkuat oleh Abdulkadir Widjojoatmodjo, Jhr van Vredenburg, Soumokil, Pangeran Kartanegara dan Zulkarnain. Perundingan berjalan alot. Panas di dalam, begitu juga diluar. Rupanya, langkah pemerintah untuk turut dalam perundingan Renville banyak dicecar banyak pihak. Salahsatu yang vokal mengecam adalah Sutomo (lebih dikenal dengan sebutan Bung Tomo), mantan Ketua Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) yang kemudian diangkat menjadi salahsatu pucuk pimpinan tentara.
- Roebiono Kertopati, Bapak Persandian Indonesia
JIKA Amerika Serikat punya John Edgar Hoover, direktur Federal Bureau of Investigation (FBI) pertama, yang menjabat selama 37 tahun dari tahun 1935 hingga kematiannya pada 1972. Maka, Indonesia punya Roebiono Kertopati, kepala Lembaga Sandi Negara pertama yang menjabat hampir 38 tahun, sejak bernama Dinas Code (1946), Djawatan Sandi (1949), Lembaga Sandi Negara (1972) hingga kematiannya pada 1984. Sejak awal bergabung dengan Republik Indonesia, Roebiono sudah berkecimpung mengurusi persandian. Arsip Kementerian Pertahanan Republik Indonesia No. 738 tentang organisasi Kementerian Pertahanan Bagian B menyebut Roebiono menjadi penasihat dan kepala bagian kode dan radio. Roebiono dibantu dua pegawai perempuan, Raden Roro Roekmini dan Sriwati. Dia membentuk Dinas Code pada 4 April 1946. Tanggal ini diperingati sebagai Hari Persandian Nasional.
- Pengalaman Mistis Bung Tomo di Kaki Gunung Wilis
SETELAH terjatuh ke jurang menuju Sleuf Z, jalur setapak berkelok di belantara kaki Gunung Wilis, Bung Tomo termenung memikirkan apakah mesti bermalam di tepi sungai atau melanjutkan perjalanan. Meski keletihan sekaligus kelaparan dan kesakitan, Bung Tomo tak punya pakaian ganti dan logistik. Sementara, langit sudah gelap. Dia tak ingin tersiksa seorang diri dalam sunyi. Perjalanan Bung Tomo itu terjadi saat Bung Tomo memimpin serombongan Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) menghindari pasukan Belanda yang terus mendesak usai melancarkan agresinya yang kedua. Akibat agresi itu, kekuatan perjuangan republik menyingkir ke kantong-kantong yang dianggap aman. Panglima Besar Jenderal Soedirman beserta rombongannya termasuk yang menyingkir sambil bergerilya. Rombongan Soedirman yang memulai perjalanan dari Gunung Kidul, akhirnya mencapai kaki Gunung Wilis pula.
- Bung Tomo Serukan Boikot Produk Belanda
“PEMBOIKOTAN yang diusulkan oleh Partai Rakjat Indonesia, jika Irian tidak jatuh ke tangan Indonesia pada tanggal 1 Januari 1951, akan terus berjalan mulai tanggal 1 Januari 1951, kecuali jika perundingan-perundingan di negeri Belanda membuahkan hasil,” kata Bung Tomo dalam pidatonya pada acara Partai Rakjat Indonesia di Jakarta, Minggu (3/12) malam, sebagaimana dikutip surat kabar Nieuwe Courant , 4 Desember 1950. Bung Tomo menyampaikan pernyataan itu berkaitan dengan sengketa Irian Barat antara Indonesia dan Belanda. Berdasarkan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 27 Desember 1949, Belanda tak hanya mengakui kedaulatan Indonesia tetapi juga berkomitmen membahas status Irian Barat. Perundingan diharapkan selesai dalam waktu satu tahun setelah KMB. Pertemuan demi pertemuan dilakukan oleh wakil dari kedua pihak. Namun, kebuntuan tak dapat dipecahkan karena perbedaan sudut pandang. Penulis dan akademisi, Lawrence S. Finkelstein dalam “Irian In Indonesian Politics”, yang termuat di South East Asia: Colonial History , menyebut pihak Indonesia berargumen bahwa Irian yang kini dikenal dengan nama Papua, secara etnis dan ekonomi memiliki hubungan dengan masyarakat di sekitar Maluku. Selain itu, Irian selalu termasuk dalam wilayah Hindia Belanda sejak masa Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 hingga abad ke-16.
- Jadi Anggota DPR, Segini Gaji Bung Tomo
PEMBUBARAN DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) pernah dilakukan Presiden Sukarno pada 65 tahun lampau. Presiden Sukarno membubarkan DPR hasil Pemilu 1955 bukan karena para anggota dewan hobi joget di ruang sidang atau karena menikmati gaji dan aneka tunjangan bernilai fantastis dari pajak negara yang mencekik rakyat. Bung Karno membubarkan DPR karena alasan politik. Pasca-Dekrit Demokrasi Terpimpin, Bung Karno lebih dulu membubarkan Dewan Konstituante dan MPR (Majelis Permusyarawatan Rakyat). Konstituante dianggap gagal melaksanakan tugasnya. “Pengumuman Dekrit pada 5 Juli 1959 merupakan titik yang penting berkaitan dengan gaya kepemimpinan Sukarno sebagai penguasa tunggal. Dengan dekrit itu ia membubarkan Konstituante, serta memberlakukan kembali UUD’45 (Undang-Undang Dasar 1945, red. ). Ia pun membubarkan MPR dan menggantinya dengan MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, red .),” tulis F.X. Baskara Tulus Wardaya dalam Bung Karno Menggugat! Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal ‘65 hingga G 30S.





















