top of page

Hasil pencarian

9869 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • A.A. Maramis Menikmati Masa Pensiun

    ENAM lelaki berkumpul di kediaman mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta, Jalan Diponegoro 57 Jakarta, Selasa pagi 28 Januari 1975. Empat di antaranya founding father  Republik Indonesia yang masih tersisa: Hatta, Achmad Subardjo, Sunario, dan Abdul Gafar Pringgodigdo. Dua lainnya lebih muda, yaitu Imam Pratignyo dan Soerowo Abdoelmanap. Mereka sedang rapat.  Laporan Pratignyo mengawali rapat. Ada donatur tanpa nama yang bersedia membiayai kunjungan ke kediaman Mr. Maramis. “Pada prinsipnya tawaran itu kita terima, hanya saya tidak tahu apakah Mr. Maramis bersedia pulang atau tidak,” balas Hatta, yang termuat dalam Uraian Pancasila, karangan Panitia Lima. Jauh di belahan lain bumi. Sepasang lansia menghuni sebuah flat di tepi Jalan Via Besso No. 23a–69 Lugano, Swiss (Switzerland). Si lansia lelaki berkulit cokelat gelap, menandakan dia bukan orang asli Swiss. Sedangkan si lansia perempuan berkulit putih, seperti kebanyakan orang Eropa.  Pasangan itu adalah Alexander Andries Maramis (Alex Maramis) dan istrinya, Elizabeth Marie Diena Veldhoedt (Beth). Alex adalah founding father Republik Indonesia lainnya yang masih hidup. Dia lah ”Mr. Maramis” yang Hatta dan Pratignyo bicarakan dalam rapat.  Berderet bakti Alex kepada Republik Indonesia. Pada masa kolonial, Alex pernah menjadi anggota Perhimpunan Indonesia yang menyebarluaskan gagasan kebangsaan. Dia juga anggota BPUPKI, serta Panitia Sembilan yang merumuskan Piagam Jakarta pada tahun 1945.  Pada awal Indonesia merdeka, Alex menjadi menteri keuangan kabinet Presidensial (kabinet pertama), Amir Sjarifuddin I dan II, serta Hatta I. Sempat pula menjadi Menteri Luar Negeri pada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia.  Alex juga berkiprah di berbagai perundingan internasional. Di antaranya adalah Konferensi PBB di Havana 1947-1948, dan anggota Mahkamah Arbitrase Indonesia—Belanda tahun 1950. Sempat juga menjabat Duta Besar Istimewa RI, Dubes Filipina, Jerman Barat, serta Uni Soviet-Finlandia.  Pemerintah mengganjar Alex dengan banyak penghargaan atas baktinya tersebut. Alex mendapat Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Tingkat III pada 17 Agustus 1960, Bintang Gerilya pada 5 Oktober 1961, juga Pahlawan Kemerdekaan Indonesia di tahun 1969. Di Negeri Orang Lugano berjarak 350 km dari ibukota Bern. Di sana, Alex dan Beth yang telah renta hidup berdua saja di dalam flatnya. Lexy Maramis, anak semata wayang mereka, hanya sepekan sekali berkunjung. Lexy sudah berkeluarga dan menetap di kota lain.  Alex setidaknya sudah menetap di Lugano seusai menjabat Dubes Soviet dan Finlandia pada 1957. Pensiun pada 1959, dia lanjut menetap di sana. Bujukan teman-temannya agar kembali ke Indonesia tidak meluluhkan keputusannya itu.  ”Pernah Dr. Soebandrio dalam kesempatan mengadakan kunjungan kerja ke Eropah mengajak agar Alex Maramis mau pulang saja ke Indonesia, tapi tawaran itu ditolaknya,” tulis F.E.W. Parengkuan dalam A.A. Maramis, SH, terbit 1982.  Apa alasan Alex untuk menetap di Lugano? Parengkuan telah mewawancarai 12 orang dekat Alex. Mulai dari Sammy Lee kerabat Alex, sampai sahabat terdekat Alex, Arnold Wilson Mononutu. Tidak satu pun tahu alasan Alex enggan kembali ke Indonesia.  Banyak kerabat Alex yang tinggal di tanah air. Apalagi di Manado, tanah kelahiran keluarga besar Maramis. Keluarganya juga memiliki hunian di Jalan Merdeka Timur 9, Jakarta. Tapi Alex justru memilih Lugano. Alex yang pendiam itu sangat menjaga privasi. Karenanya, Parengkuan terpaksa menebak-nebak.  ”Mungkin karena ia tidak menyetujui garis politik luar negeri dari Kabinet Kerja I pimpinan Presiden Sukarno yang juga merangkap Perdana Menteri, yang diterapkan oleh Dr. Soebandrio yang waktu itu selaku Menteri Luar Negeri. Atau mungkin karena ia memang ingin terus berada di luar negeri berhubung alasan-alasan pribadi,” papar Parengkuan.  Kawan Alex lainnya Achmad Subardjo juga ikut-ikutan menebak. Tersebut di dalam Uraian Pancasila, Subardjo mengira Alex ingin kembali ke tanah air, namun terhalang sang istri. Tambahan lagi sang anak Lexy juga sudah berkeluarga di sana.  Lain lagi dengan Tempo. Artikelnya ”Pulang ke Indonesia” edisi 17 Juli 1976 memuat pernyataan Alex. ”Bagaimana saya bisa hidup (di Indonesia) dengan gaji yang begitu kecil.” Alex mengatakannya pada tahun 1957. Tapi, Tempo tidak menjelaskan konteks Alex berbicara. Keengganan Alex pulang ke Indonesia masih misteri. Panitia Lima: Bakti Alex kepada Republik Lugano, Selasa 18 Maret 1975. Alex dan Beth masih berdua saja di dalam flatnya. Mereka jarang disambangi orang. Tetiba pintu flat diketuk. Alex membuka pintu. Seorang tamu istimewa. Dia adalah Sunario, rekan Alex semasa perjuangan kemerdekaan Indonesia.  Dua sekawan itu saling melepas rindu. Sunario khusus datang dari Jakarta untuk bertemu Alex. Selain bersilaturahmi, ada agenda lain yang dibawanya, yaitu naskah tafsir Pancasila dari Panitia Lima di Jakarta.  Kelahiran naskah tersebut tidak lepas dari permintaan Presiden Soeharto. Awal dekade 1970 merupakan masa kritis bagi Orde Baru. Perjalanan pemerintahannya diwarnai berbagai demonstrasi mahasiswa, karena kebijakan Pemerintah dianggap tidak pro rakyat.  Pemerintah butuh stabilitas politik, butuh legitimasi Pancasila atas kebijakan-kebijakannya. Tafsiran Pancasila harus sejalan dengan kehendak Pemerintah. Presiden Suharto mewacanakannya dalam pidatonya di Universitas Gadjah Mada, Desember 1974.  “…Ia meminta para akademisi di Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta untuk menggunakan 'metode ilmiah' untuk menyusun interpretasi standar,” terang David Bourchier, dalam Illiberal Democracy in Indonesia: The Ideology of the Family State.   Kemudian Soeharto meminta Hatta, Subardjo, Sunario, Pringgodigdo, dan Alex untuk merumuskan tafsir Pancasila. Panitia Lima terbentuk, dibantu Pratignyo dan Surowo sebagai sekretarisnya. Panitia bekerja di kediaman Hatta dalam empat rapat. Berturut-turut pada 10 dan 28 Januari, serta 11 dan 18 Februari 1975. Hanya empat founding father yang ikut. Sedangkan Alex berhalangan, karena sedang di luar negeri.  Panitia kemudian menghasilkan naskah Uraian Pancasila. Di kemudian hari, naskah Penerbit Mutiara terbitkan pada 1977. Naskah terdiri dari dua bagian; asal usul Pancasila dan tafsir masing-masing sila.  Orde Baru berusaha mengkerdilkan peran Sukarno terhadap Pancasila. Kemudian, sejarawan cum tentara, Nugroho Notosusanto mengangkat Muhammad Yamin dan Mr. Supomo dalam Teks Otentik Proklamasi dan Rumusan Otentik Pantjasila. “…Di mana Nugroho menyatakan bahwa karena sebagian besar landasan Pancasila telah dilakukan oleh Yamin. dan Supomo,” papar Bourchier.  Sebaliknya, Uraian Pancasila justru menunjukkan Sukarno adalah penggagas Pancasila. Bedanya, pada pidato pertamanya di BPUPKI, Sukarno meletakkan sila Ketuhanan pada bagian akhir. Namun esensinya sama dengan Pancasila saat ini. Hatta di dalam rapat menegaskan bahwa Sukarno-lah yang pertama kali mengusulkan filosofishe grondslag untuk negara, bukan Yamin. “Bung Yamin agak licik,” sebut Hatta. ”Pak Yamin itu pinter nyulap kok!” Pringgodigdo urun komentar.  Bagian kedua Uraian Pancasila menerangkan tafsiran sila-sila. Ringkasnya, keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa membuat orang Indonesia berperikemanusiaan, adil dan beradab. Darinya lahir persatuan Indonesia. Kemudian sesama bangsa bermufakat dalam hikmah dan kebijaksanaan, untuk mencapai keadilan sosial masyarakat. Praktiknya berwujud pasal-pasal UUD 1945. Uraian Pancasila mengkritik kebijakan ekonomi Pemerintah yang kapitalistik. “Kemakmuran rakyat bukan kemakmuran pribadi beberapa gelintir manusia Indonesia!” cantum naskah itu. Saat rapat, Hatta menegaskan kebijakan Orde Baru dalam mem-Perseroan Terbatas-kan sumber-sumber ekonomi vital amat bertentangan dengan pasal 33 UUD 1945.  Naskah Uraian Pancasila rampung pada 18 Februari. Tapi masih ada yang kurang. Panitia merasa perlu mendapatkan persetujuan Alex.  Jadilah Sunario ke Lugano dengan bantuan donatur anonim dan staf KBRI Bern. “Sunaryo khusus pergi ke Lugano agar Maramis turut menandatangani Perumusan Pancasila,” terang Tempo, 17 Juli 1976.  Panjang lebar Sunario menerangkan kepada Alex tentang rapat di Jakarta dan naskah Uraian Pancasila. Alex mengangguk-angguk, sembari membaca langsung naskah. Meskipun sudah sepuh, Alex masih bisa menangkap penjelasan-penjelasan Sunario dengan baik.  Alex setuju dengan isi naskah. Diapun membubuhkan tanda tangannya. ”Dari antara kelima anggota Panitia Lima, ialah orang terakhir yang menandatanganinya yaitu pada tanggal 18 Maret 1975,” tulis Parengkuan. Lengkaplah founding father yang menandatanganinya.  Panitia Lima menyerahkan naskah final Uraian Pancasila tersebut kepada Presiden Suharto pada 23 Juni 1975. Alih-alih menggunakannya, Pemerintah malah menggantinya dengan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) buatan sendiri.  Rindu Tanah Air Sekembalinya dari Lugano, Sunario mengabarkan tentang keadaan Alex dan istri yang susah dan kesepian. Hingga Subardjo berkesempatan bertemu Alex pada November 1975. Subardjo kaget melihat keadaan Alex.  ”Subardjo dengan mata kepalanya sendiri waktu itu melihat bahwa memang Alex Maramis berada dalam keadaan sakit yang gawat. Keadaan kesehatan dan lingkungan di mana ia kini hidup membuat hati Subardjo terharu,” terang Parengkuan. Dalam pertemuan itu, Subardjo mengajak Alex mengenang masa-masa menjadi mahasiswa di Leiden. Namun Alex tidak bisa mengingatnya.  Alex memang sudah lama sakit-sakitan. Tapi sepeninggal Sunario, sakit Alex kian parah. Dia bahkan sempat terserang stroke. Tensi darahnya tinggi, membuatnya sempat dirawat selama enam pekan di rumah sakit di Zurich.  Beth setali tiga uang dengan Alex. Jari tangan dan kakinya bengkak akibat rematik. Dalam kondisi itu Beth tetap setia merawat Alex dan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah.  Subardjo teringat kepada Pratisto, anak muda yang mengikutinya ke Swiss ketika menjadi Dubes pada 1957-1961. Pada tahun 1975, Pratisto telah menjadi dokter spesialis bedah otak di Bern. Subardjo segera menghubungi Pratisto untuk memintanya merawat Alex. Pratisto menyanggupinya. Semenjak itu, Pratisto bertanggung jawab atas kesehatan Alex. Pada kunjungan pertama, Pratisto langsung paham bahwa sakitnya Alex memang parah. Ingatannya rusak dan sulit diajak berbicara. Jika ditanya sesuatu jawabannya melantur. Tekanan darahnya 220/110, jauh berbanding tensi normal antara 90/60 dengan 120/80.   Tapi Pratisto masih yakin Alex bisa sembuh karena melihat fisiknya yang kuat. Pratisto merawat Alex tanpa bayaran. Bahkan biaya obat pun ditanggungnya. Pratisto bersimpati kepada Alex dan menganggapnya seperti orang tua sendiri. Jarak Lugano dengan Bern yang jauh membuat Pratisto hanya mengunjungi Alex sebulan sekali. Pratisto harus meliburkan praktik kliniknya ketika kunjungan. Perjalanan ke Lugano memakan waktu sepuluh jam berkereta pulang pergi, dengan waktu memeriksa Alex dua jam lamanya. Pratisto harus menghabiskan minimal 12 jam dalam sekali kunjungan.  Pratisto menyimpulkan bahwa Alex sakit-sakitan karena kesepian. “Alex Maramis sesungguhnya sedang mengalami tekanan batin akibat terisolasi selama hampir 20 tahun,” sebutnya seperti yang ditulis Parengkuan. Masyarakat Swiss umumnya individualistis. Mereka beranggapan seseorang harus dapat mengurus dirinya secara mandiri. “Di dalam masyarakat individualis, orang-orang hanya memperhatikan dan menjaga dirinya dan keluarga intinya saja,” terang laman https://www.hofstede-insights.com/country/switzerland/ .  Budaya tersebut melekat sampai saat ini. ”Baik warga Swiss yang berbahasa Jerman maupun yang berbahasa Prancis serta negara-negara Nordik mendapat skor tinggi sebagai masyarakat individualis,” papar tulisan yang termuat dalam laman https://www.norgesklubben.ch/culture-and-workplace-values-in-switzerland-and-the-nordics/?lang=en . Budaya individualis berseberangan dengan karakter Alex yang dibesarkan dalam budaya Nusantara yang komunitarian. Alex mengalami gegar budaya sehingga sulit hidup di Lugano.   Alex ingin pulang ke tanah air. Keinginannya itu sudah muncul sejak tahun 1972. Dia ingin menghabiskan masa hidupnya di tengah-tengah orang-orang dekatnya. Beth juga punya harapan yang sama. “Coba saudara bayangkan, bagaimana kalau salah satu dari kami meninggal di tanah yang jauh, sedangkan kami ingin berkubur di negeri tercinta ini,” ucap Beth yang dimuat Buana Minggu, edisi 11 Juli 1976. Setahun kemudian, Alex berkirim surat kepada adiknya, Andries Alexander Maramis (Inyo) di Jakarta. Alex meminta dicarikan hunian di Menteng, Jakarta Pusat. Namun urung karena harga tanahnya selangit. Kerinduan Alex kepada tanah air semakin menjadi. Masalahnya, butuh banyak biaya untuk pulang. Paguyuban Minahasa di Jakarta, Kerukunan Keluarga Kawanua pun mengumpulkan sumbangan untuk mengongkosi kepulangan Alex dan Beth.  Rapat-rapat digelar di rumah keluarga Maramis, Jalan Merdeka Timur 9, Jakarta. Donasi berdatangan. Beberapa nama donatur di antaranya adalah Jan Walandow, mantan tokoh Permesta Letkol Ventje Sumual, dan F. Sumanti. Lainnya menyumbang secara anonim. Panitia Penyambutan Kedatangan Mr. A.A. Maramis dibentuk. Mayoritas beranggotakan pegiat Kawanua. Ada juga dari luarnya, seperti Sunario, juga Achmad Subardjo yang menjadi ketua panitianya. Panitia bekerja keras, menghubungi instansi-instansi terkait untuk dimintai bantuannya. Di antaranya adalah Sekretariat Kabinet, Departemen Luar Negeri (kini Kementerian Luar Negeri), KBRI, dan PT Garuda. Dana terkumpul, proses bisa jalan. Hingga akhirnya keinginan Alex terkabul. Pada Minggu sore 27 Juni 1976, Alex menjejakkan kakinya di atas aspal Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. Putra bangsa yang hilang kini pulang.*

  • Biola WR Supratman Punya Cerita

    DARI sebuah ruangan bertuliskan “Gudang Koleksi”, kurator Museum Sumpah Pemuda (Muspada) Eko Septian membawa sebuah benda berselubung beludru hitam ke atas meja kerja di ruangan lain. Dengan cermat dan hati-hati, Eko yang mengenakan sarung tangan menyingkap sebuah biola tua lengkap dengan bow (stik penggesek) dari balik selubungnya. Segenap bagian biola –dawai, upper bout dan lower bout (badan biola), chinrest (sandaran pipi), neck dan pegbox – berukuran standar 4/4 dengan panjang 36 centimeter dan lebar 20 cm itu masih sangat apik. Dari sela-sela salah satu f-holes (lubang badan depan) masih terlihat jelas sebuah marking di sisi dalamnya bertuliskan “Nicolaus Amatus fecit”. “Memang uniknya ini biola model Nicolaus Amatus tapi bukan berarti buatan Nicolaus Amatus. Di zamannya ini biola murah. Banyak ada di pasaran. Yang bikin mahal biola ini tentunya nilai sejarahnya,” terang Eko kepada Historia. Biola bersejarah itu adalah biola asli milik Wage Rudolf (WR) Supratman yang melantunkan lagu “Indonesia Raya” untuk pertamakalinya di Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Momen yang hari ini 94 tahun lampau ditetapkan sebagai Hari Sumpah Pemuda. Baca juga: Supratman sebagai Buronan Biola asli Supratman model "Nicolaus Amatus fecit" (Randy Wirayudha/Historia) Biola WR Supratman jadi salah satu “bintang” sejak 1974 atau setahun setelah pemugaran gedung yang berlokasi di Jalan Kramat No. 106, Jakarta Pusat. Biola berbahan kayu cyprus (jati Belanda), maple Italia, dan eboni Afrika Sekatan itu direparasi pada 1995. Sejak saat itu biola asli disimpan di gudang koleksi, sementara biola yang diapajang di ruang pamer utama sekadar replika. “Replikanya juga dibuat di (pengrajin) Solo. Tempat yang sama waktu bagian leher biola aslinya direparasi. Sementara biola yang asli ini memang di gudang karena keluarga (ahli waris, red. ) pun setuju daripada kenapa-kenapa karena sudah rapuh juga,” tambahnya. Biola asli itu disimpan dengan cermat di sebuah lemari besi. Untuk perawatannya digunakan sejumlah bahan non-kimia. Salah satunya bawang putih sebagai pengawet alami yang ditaruh di lemarinya. “Memang kalau perawatan kita sederhana ya. Kalau konsep yang dipegang museum (di bawah) Kemdikbud Ristek, sekarang kembali ke alam. Kita enggak pengin bersentuhan dengan bahan kimia lagi. Jadi pakai beberapa bahan alami,” imbuh Eko. Baca juga: Kisah Rumah Tempat Lahirnya Sumpah Pemuda Musikalitas Jazz hingga Lagu Kebangsaan Supratman berasal dari keluarga besar yang tergolong berada. Ia termasuk dimanja sejak kecil. Pasalnya Supratman yang lahir di Jatinegara, Batavia (kini Jakarta) pada 9 Maret 1903 –kendati merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara–  merupakan satu-satunya anak lelaki yang bisa hidup dengan sehat hingga dewasa. Dua kakak lelakinya sudah dipanggil Yang Maha Kuasa sejak kecil. Menurut Anthony C. Hutabarat, yang juga masih punya pertautan kerabat dengan Supratman, dalam biografi Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Wage Rudolf Soepratman , ayah Supratman bernama Djoemeno Senen Sastrosoehardjo alias Abdoelmoien. Ia merupakan prajurit KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda, red .) yang menikahi Siti Senen yang juga berasal dari kalangan priyai. “Soepratman merupakan anak emas dan dimanja oleh keluarganya. Darah seni Soepratman turun dari kakeknya, Mas Ngabehi Notosoedirdjo, yang tergolong kaum priyai kaya dan memiliki persawahan yang luas dan terkenal di bidang kesenian, khususnya seni musik dan seni suara Jawa,” tulis Anthony. Titik balik hidup Supratman terjadi usai ibunya wafat saat Supratman masih berusia enam tahun. Di saat itu, ayahnya sudah pensiun dari KNIL sehingga pendidikan Supratman dipercayakan kepada kakak sulung, Roekijem Soepratijah, bersama sang suami Willem van Eldik di Makassar. Baca juga: Dari Timbul Lahirlah Indonesia Raya Saat bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), Supratman mulai mengenal seni musik dari Van Eldik. Supratman diajari Van Eldiklah memetik gitar dan menggesek biola saban pulang sekolah dari nol hingga mahir. Ia akhirnya bisa menciptakan karya sendiri. “Jadi biola (asli di Muspada) ini memang dikasih kakak iparnya untuk digunakan Supratman berkarya ya. Kalau dari kisahnya memang diberikan sebagai hadiah (ulang tahun ke-17) karena sejak awal Supratman memang berguru dari kakak iparnya yang juga musisi itu,” sambung Eko. Willem van Eldik (kiri) & Roekijem Soepratijah yang merawat Supratman kecil (Repro: Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Wage Rudolf Soepratman ) Seiring pendidikannya yang cemerlang di ELS Makassar sampai kemudian tamat Normaal School (sekolah keguruan), Supratman sering “ngamen” di berbagai tempat elite di Makassar dengan memainkan musik jazz. Ia menghibur para serdadu KNIL hingga kader-kader Partai National Indische Partij. “Selain mampu menguasai teknik bermain (biola) lagu-lagu klasik ciptaan (Frédéric) Chopin atau (Ludwig van) Beethoven, Soepratman bersama Van Eldik mendirikan kelompok jazz bernama ‘Black & White’. Band ini lama-kelamaan terkenal di seluruh Makassar. Karena gesekan biola Soepratman benar-benar mempesona dan mengesankan, ia sangat disukai para penggemar dansa. Suatu ketika band ini memperkenalkan diri kepada umum dengan menyelenggarakan pagelaran musik jazz yang penampilannya memperoleh sambutan luar biasa,” ungkap Anthony. Baca juga: Jejak-jejak Peranakan dalam Alunan Sejarah Jazz Namun kehidupan malam itu lama-kelamaan menimbulkan rasa bosan di benak Supratman. Minatnya lalu teralihkan pada banyak perkara politik di Hindia Belanda setelah bertemu dan kenal dekat dengan politikus sosialis Hendricus Josephus Franciscus Marie “Henk” Sneevliet pada 1924. “Soepratman kemudian makin sering menghadiri ceramah dan diskusi politik sampai-sampai PID (Politieke Inlichtingen Dienst) selalu mengamati. Di kantor pengacara tempat ia bekerja, Soepratman membaca satu karangan politik yang mengutip majalah Hindia Poetra . Tulisan mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri Belanda memiliki kesadaran politik dan rasa kebangsaan yang tinggi. Membaca tulisan itu, kesadaran politik dan rasa kebangsaan Soepratman semakin terangsang,” sambungnya. Van Eldik (kiri) & Supratman (berdiri, ketiga dari kiri) mendirikan band jazz "Black & White" (Repro: Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Wage Rudolf Soepratman ) Di tahun yang sama, Supratman berlayar ke Jawa. Ia menumpang hidup di rumah kakaknya yang lain, Roekinah Soepratirah, di Surabaya, sebelum berpindah-pindah ke Cimahi, Bandung, kemudian Batavia pada 1925. Demi menyambung hidup, Supratman alih profesi jadi jurnalis di suratkabar Sin Po . Supratman pun mulai dikenal pula oleh para pemuda pergerakan di circle Indonesische Club (IC).  “Ia juga insyaf bahwa perlu ada lagu-lagu pergerakan. Lagu yang mengobarkan semangat juang rakyat. Waktu itu sudah ada lagu yang dapat dianggap lagu pergerakan tapi belum cukup menggugah semangat berjuang. Lagu itu ialah ‘Dari Barat Sampai ke Timur’, lagu ciptaan Soepratman yang pertama. Hasratnya menggubah lagu yang dapat jadi lagu kebangsaan makin bertambah setelah tersiar berita dari IC yang dimpinpin Bung Karno, bahwa perlu adanya segera lagu nasional,” tulis Anthony lagi. Baca juga: Jalan Panjang Indonesia Raya Menjelang Kongres Pemuda II itulah, pertengahan 1928, lagu “Indonesia Raya” diciptakan. Tepat di hari kedua atau agenda terakhir kongres pada 28 Oktober 1928, Supratman mengalunkannya dengan gesekan biolanya yang syahdu dan menghanyutkan. “Soepratman menggesek biolanya dengan penuh hikmat. Para hadirin terdiam mendengarkannya. Suasana ruangan hening dan tenang. Kemudian dilanjutkan dengan koor pemuda pemudi dari Perkumpulan Pelajar Indonesia membawakan lagu ‘Indonesia Raya’ yang dipimpin langsung oleh Soepratman dengan diiringi Orkes Indonesia Merdeka. Para hadirin terpaku dibuatnya,” ungkapnya. Di hari itu juga “Indonesia Raya” ditetapkan jadi lagu kebangsaan Indonesia, seiring “sumpah suci” yang diucapkan para pemuda Indonesia yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Lantaran itulah kemudian lagu itu jadi lagu yang “haram” diperdengarkan di muka publik oleh pemerintah Hindia Belanda. Baru masa pendudukan Jepang “Indonesia Raya” boleh diperdengarkan berurutan dengan lagu kebangsaan Jepang, “Kimigayo”, sebagaimana bendera Merah-Putih diizinkan berkibar bedampingan dengan bendera Jepang. Dari Tangan Keluarga ke Museum Sangat disayangkan, Supratman sudah keburu berpulang sebelum lagu ciptaannya nan penuh makna itu tersiar luas di masa kemerdekaan. Supratman wafat di Surabaya pada 17 Agustus 1938.  Kendati begitu, ia amat yakin negerinya bakal merdeka. “Nasibku sudah begini. Inilah yang disukai oleh pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saya meninggal. Saya ikhlas. Saya toh sudah beramal, berjuang dengan caraku, dengan biolaku. Saya yakin Indonesia pasti merdeka,” kata Supratman dua hari sebelum wafat kepada Oerip Kasansengari dalam Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan W. R. Soepratman, Pentjiptanja yang juga dikarang Oerip. Oerip Kasansengari termasuk kerabat dekat Supratman yang turut membesuk di saat-saat terakhirnya. Hubungan keluarga terjalin lewati adik Oerip, B. M. Santoso Kasansengari, yang menikahi adik Supratman, Gijem Soepratinah. Baca juga: Peranakan Tionghoa dan Lagu "Indonesia Raya" Peringatan Sumpah Pemuda tahun 1973 di Gedung Sumpah Pemuda yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda (Repro Muspada) Berbeda dari lagu “Indonesia Raya” yang telah menjadi milik bangsa, nasib biola Supratman berpindah-pindah tangan. “Biola ini tetap dipegang Supratman sampai setelah beliau wafat dan yang pegang itu jatuh ke tangan kakaknya, Bu Roekijem. Beliau memegang biola itu sampai 1950-an. Sempat pada 1960-an Pemda Jawa Timur berencana membangun sebuah museum dan salah satu yang ingin dimasukkan ke museum di kota Surabaya itu ya biolanya Supratman. Tapi sampai berapa tahun kemudian museum itu enggak pernah ada (terealisasi, red. ),” ujar Eko. Biola Supratman tetap disimpan ahli warisnya di Surabaya. Dari satu kakak ke kakak yang lain lantaran Supratman meninggal dalam keadaan masih membujang. Baca juga: Indonesia Raya Setelah Sumpah Pemuda Pada 1974, biola itu diserahkan ke Muspada. Kisahnya bermula dari gagasan Raden Soediro Hardjodisastro, ketua Yayasan Gedung-Gedung Bersejarah DKI Jakarta,  yang ingin memugar beberapa bangunan bersejarah untuk dijadikan museum. Di antaranya Museum Gedung Joang 45, Museum Kebangkitan Nasional, dan Museum Sumpah Pemuda. “Nah Pak Soediro ini yang menghubungi Pak Oerip. Mereka berkomunikasi dengan saling membalas surat. Membicarakan tentang keinginan mengisi Gedung Sumpah Pemuda (nama lama Muspada) dengan beberapa koleksi, di antaranya koleksi Moh. Yamin dan Supratman,” jelas Eko. Biola WR Supratman versi replika (kiri) dan versi aslinya (Randy Wirayudha/Historia) Gayung pun bersambut. Oerip bersedia ditugasi Soediro untuk mengumpulkan dan mengkurasi sejumlah benda koleksi mendiang Supratman. Yang terpenting, biola Supratman yang masih di tangan salah satu kakaknya. “Pencariannya itu dari 1973 bertepatan dengan pemugaran gedung (Muspada) ini. Kan ini dipugar pada 20 Mei 1973 tapi belum ada isinya. Pak Soediro minta Pak Oerip mencari dengan penugasan dan diberi honor. Setelah selesai tahun 1974, Pak Soediro dan Pak Oerip sama-sama menandatangani dokumen itu, yang intinya berisikan serah-terima semua koleksi yang berhubungan dengan WR Supratman. Ini jadi salah satu legalitasnya,” lanjutnya. Baca juga: Perempuan dalam Kongres Pemuda Meski mendekam di gudang, bukan berarti biola yang asli itu tak pernah “diangin-angini”. Biola bernomor inventaris 0002/07 itu bahkan pernah dua kali dimainkan Muhammad Idris Sardi, pada peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2005 dan 2007. “Kita sempat sedikit bingung karena Pak Idris pernah berpesan, biolanya harus sering dimainkan. Dan menjadi ganjil karena seluruh pegawai di sini enggak ada yang bisa main biola,” tandas Eko setengah bergurau. Ruang pamer di Muspada yang menyuguhkan koleksi WR Supratman, termasuk biola replikanya (Randy Wirayudha/Historia)

  • Usaha Menteri Keuangan A.A. Maramis Menyelamatkan Ekonomi Indonesia

    BELUM genap dua tahun usia Republik Indonesia, semenjak 17 Agustus 1945. Beragam ujian politik dan ekonomi mewarnai kehidupan republik. Kabinet pemerintahan jatuh bangun. Belanda juga masih ingin menguasai Republik Indonesia kembali. Di dalam keadaan itu, Alexander Andries Maramis (Alex Maramis) menunaikan tugasnya sebagai menteri keuangan. Keadaan ekonomi Indonesia 1947-1949 masih seperti di tahun 1945. Pendapatan negara tiris, produktivitas pangan rendah. ”Meskipun produksi pangan pada tahun 1948-1949 lebih tinggi dari tahun sebelumnya, namun itu sekitar 10 persen di bawah rata-rata produksi sebelum perang tahun 1937. Sebaliknya, penduduk Indonesia mungkin telah meningkat sejak perang dari 70 menjadi 73 Juta,” lapor United States Departement of Agriculture, dalam World Food Situation 1949, 12 Januari 1949. Beng To Oey dalam Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia: (1945-1958) mengemukakan hal senada. “…Ekspor komoditi penting dari Indonesia, yang sesungguhnya merupakan sokoguru utama bagi perekonomian, untuk beberapa tahun setelah pengakuan kedaulatan tidak akan mampu mencapai tingkat sebelum perang, sedangkan beras sebagai bahan makanan utama rakyat untuk sementara harus diimpor dalam jumlah yang cukup banyak,” terang Beng. Agresi militer Belanda pertama 21 Juli—5 Agustus 1947 memperparah keadaan ini. Belanda perlu menguasai alam Indonesia untuk memulihkan ekonominya pasca Perang Dunia II. Belanda juga memblokade pelabuhan dan jalur-jalur perdagangan ke luar sejak November 1945. Republik Indonesia pun susah berdagang dengan mancanegara. Sedangkan Indonesia butuh biaya untuk menjalankan pemerintahan, perang, juga untuk kesejahteraan rakyat.  Di dalam suasana itu, Perdana Menteri Amir Sjarifuddin membentuk kabinetnya pada 3 Juli 1947. Nama Alexander Andries Maramis (Alex Maramis) tercantum di dalam daftar susunan kabinet sebagai Menteri Keuangan. Pengesahannya melalui Keppres No. 68-A-47, 3 Juli 1947. Sebelumnya Alex pernah menjadi menteri keuangan di masa kabinet pertama Republik Indonesia, menggantikan Dr. Samsi Sastrawidagda yang hanya bertugas selama dua pekan.  Alex bukanlah ekonom. Dia meraih gelar Meester in de Rechten (Mr) —setara Magister Hukum—dari Universitas Leiden. Namun pimpinan kabinet melihat Alex layak menduduki posisi itu. Jumlah intelektual di Indonesia ketika itu terbatas untuk memenuhi kebutuhan yang besar. Karenanya, mereka, termasuk Alex dituntut untuk serba bisa. Kabinet Amir bubar. Dia kembali menyusun kabinet yang baru pada 11 November 1947. lagi-lagi Alex menjadi Menteri Keuangan. Namun hanya bertahan sampai 29 Januari 1948. Keppres No. 21/P.Clv./48, tertanggal 23 Januari 1948, mengakhiri tugas Alex. Cerita Mohamad Hatta dalam Memoir, para menteri dari Masyumi dan PNI mundur dari kabinet. Mereka tidak setuju dengan isi Perjanjian Renville yang Amir (mewakili Indonesia) dan Abdul Kadir Widjojoatmodjo (mewakili Belanda) tandatangani. Salah satu isinya yang mengurangi wilayah RI menjadi Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera dinilai merugikan Indonesia. ”Selain daripada itu Partai Masjumi dan PNI mengadakan demonstrasi bersama di Yogya di jalan muka istana dengan menyorakkan anti Amir Sjarifuddin,” lanjut Hatta.  Hatta memimpin kabinet yang baru pada 29 Januari 1948. Arsip Sekretariat Negara 1945-1949, no. 618 di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencantumkan nama Alex Maramis sebagai Menteri Keuangan kabinet. Pengangkatannya berdasarkan Keppres No.6/A.Clv/48. Alex berusaha menunaikan tugasnya di sepanjang jatuh bangunnya kabinet. Salah satunya membiayai perwakilan-perwakilan Indonesia di luar negeri.  “Tanggung jawab pembiayaan dan koordinasi berada di tangan Kementerian Keuangan dan Kementerian Luar Negeri, di mana Alex Maramis dan Mukarto Notowidigdo selaku pelaksana utamanya,” tulis FEW Parengkuan dalam A.A. Maramis SH, yang terbit pada 1982.  Alex juga mengatasi peredaran uang palsu, merintis hubungan dagang dengan luar negeri, bahkan menyelundupkan candu. Kesemuanya demi memenuhi kebutuhan ekonomi republik. Di masa Kabinet Hatta, Alex harus menghadapi peredaran Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) palsu yang Belanda buat untuk menjatuhkan moneter Indonesia. Peredarannya sudah ada sejak Kabinet Amir yang pertama.  Alex meminta kepolisian untuk memberantas uang palsu tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, uang palsu telah beredar sampai di lingkungan pemerintahan. Ini menambah inflasi ekonomi. Soedarpo Sastrosatomo, mantan Seksi Luar Negeri Kementerian Penerangan (1945) dalam Pelaku Berkisah: Ekonomi Indonesia 1950-an sampai 1990-an, suntingan Thee Kian Wie menerangkan keadaan saat itu.  ”Uang kertas palsu mulai beredar, dan yang lebih gawat lagi, pemerintah tidak mampu meningkatkan penerimaan pemerintah lewat pungutan pajak. Karena makin banyak pengeluaran pemerintah dibiayai dengan uang yang baru dicetak, inflasi meningkat dengan cepat,” ungkap Soedarpo. Alex harus berpacu dengan waktu. Dia berusaha mengatur peredaran uang di seluruh daerah Republik Indonesia. Bersama Wakil Presiden Hatta, Alex mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1948 tentang Peraturan Peredaran Uang Dengan Perantaraan Bank-Bank Berhubung Dengan Adanya Uang Palsu, yang ditandatangani pada 23 Juni 1948.  PP ini mengetengahkan perihal pembatasan peredaran uang untuk perorangan, pembayaran uang di atas Rp. 10.000,- harus menggunakan Bank Negara Indonesia dan Bank Rakyat Indonesia, serta pembatasan penyimpanan uang. ”Karena keadaan-keadaan sekarang, kita tidak dapat memberantas dengan sempurna masuknya uang palsu dalam daerah Republik. Umum mengetahui, bahwa dalam peredaran uang kita telah terdapat uang palsu itu, sehingga merupakan bahaya yang perlu kita berantas dengan sekuat tenaga kita,” sebut penjelasan PP itu. Perjanjian Dagang dengan Matthew Fox Pemerintah RI harus menembus embargo Belanda untuk membuka perdagangan dengan internasional. Salah satunya berupa ‘diplomasi dagang’. Perdana Menteri Sutan Sjahrir mengawalinya pada tahun 1946, dengan mengirimkan bantuan 500.000 ton beras kepada India untuk menghadapi krisis pangan.  Arsip Kementerian Penerangan 1945-1950, no. 42 (ANRI) menyebutkan bantuan dibarter dengan komoditas lainnya yang Indonesia butuhkan seperti tekstil. ”Perdagangan melalui jalur diplomatik ini belum pernah dilakukan sebelumnya oleh negara manapun sesudah Perang Dunia II. Namun peluang untuk melakukan hal itu terbuka ketika penduduk India menghadapi bahaya kelaparan di daerah-daerah Madras, Dekan, dan India Barat,” tulis Tri Agung Sujiwo, dalam skripsinya, Panitia Pemikir Siasat Ekonomi: Upaya Awal Menata Ekonomi Indonesia (1947-1949). Ketika itu, pemerintah lah yang menjadi pedagang. Sedangkan swasta masih lemah dalam perdagangan internasional. ”Hal ini disebabkan karena selama masa penjajahan, hanya pengusaha Belanda, dan golongan pedagang Cina yang mendapatkan kesempatan untuk melakukan perdagangan,” lanjut Agung. Beberapa di antara diplomasi dagang tersebut cukup kontroversial. Salah satunya adalah kerjasama dengan pengusaha perfilman Amerika Matthew Fox.  Sumitro Djojohadikusumo (Perwakilan Dagang RI untuk AS) yang mencetuskannya. Baginya perjanjian ini menguntungkan republik. ”Karena itu akan mengisi pundi-pundi pemerintah di Yogyakarta dengan aset devisa berharga dalam bentuk dolar Amerika,” urai Frances Gouda dan Thijs Brocades Zaalberg, dalam American Visions of the Netherlands East Indies/Indonesia. Sumitro menandatangani perjanjian itu pada 3 Januari 1948. Di sela-sela Konferensi PBB di Havana dari 21 November 1947 sampai 24 Maret 1948, Alex Maramis bersama AK Gani membantu Sumitro dalam membangun komunikasi dengan Fox untuk mendirikan Indonesia-American Corporation (IAC). Hasilnya, Fox berwenang memonopoli perdagangan Indonesia—Amerika Serikat. Alex juga mengurusi ini pada Januari 1949. Pemerintahan AS bereaksi. Senator Connecticut, John Davis Lodge berpidato di Kongres pada 24 Januari 1949. Dia mengutip artikel Dorothy Thompson dalam Washington Star edisi 18 Januari, yang menyebut kesepakatan tersebut sebagai skandal. Dia menuntut penyelidikan.  “Saya pikir harus menyelidiki apa yang terjadi dengan perjanjian ini, dan siapa rekan-rekan Amerika-nya,” ucap Lodge, seperti yang termuat dalam Apendix pada Congressional Record, Proceedings and Debates of the 18th Congress (3 Januari-12 Maret 1949).  Perjanjian RI dengan Fox dianggap menyalahi peraturan AS yang anti-monopoli. Namun Soedarpo punya tafsiran lain soal ini. ”Garis resminya adalah bahwa monopoli adalah tidak sah, tetapi masalah sesungguhnya adalah karena Pemerintah AS tidak mengendalikan kami,” paparnya. Kecaman juga datang dari pers Belanda. “Kontrak yang sebenarnya memberikan Fox mayoritas mutlak dari saham voting, sehingga republikan kehilangan semua kendali atasnya,” tulis Nieuw Nederland, edisi 16 Desember 1948. Alex sendiri yakin kalau perjanjian tersebut menguntungkan Indonesia, karena merupakan pintu perdagangan secara legal. “Seperti yang dikatakan Maramis, Indonesia akan memasok Amerika dengan karet penduduk dan sejenisnya. Menurut dia, perdagangan ini sepenuhnya legal dan sama sekali tidak bertentangan dengan peraturan Batavia,” terang Het Parool, edisi 10 Desember 1948.  Alex Maramis dalam Nieuw Nederland (16 Desember 1948) mengatakan bahwa kontrak Fox sudah dimulai. Kapal-kapal dari Amerika sudah siap berlayar membawa tekstil dan obat-obatan ke Indonesia.  Kerja sama ini berakhir pada tahun 1950. Meskipun singkat, Gerlof D Homan dalam American Business Interests in the Indonesian Republic 1946-1949 melihat kerjasama ini menguntungkan Indonesia.  ”Dengan kontrak Fox, Republik mencapai dua sasaran. Membuat malu dan takut pemerintah Belanda, yang takut akan pengaruh pengusaha terhormat seperti Fox yang mungkin mencoba dan berhasil memecahkan blokade Belanda. Lalu, Republik yang sementara menghindari Washington, telah menjalin kontak yang berharga dengan dunia bisnis Amerika. Dengan demikian, pengaruh internasional Republik telah meningkat,” papar Gerlof. Berdagang Candu Usaha Indonesia lainnya yang kontroversial adalah perdagangan candu. Awalnya pemerintah belum melihat candu dapat menguntungkan negara. “…Baru setelah pemerintahan Amir Syarifuddin berkuasa pada 3 Juli 1947, Republik secara resmi memutuskan untuk menjual opium ke luar negeri,” Tulis Robert Cribb, dalam “Opium and Indonesian Revolution”, termuat dalam Modern Asian Studies, Oktober 1988. Kebijakan perdagangan candu diputuskan dalam rapat kabinet. “Ketika mata uang asing tidak lagi tersedia, rapat kabinet pada Juli 1947 memutuskan untuk menjual opium ke luar negeri, memberikan Perdana Menteri wewenang eksklusif untuk menjualnya,” lapor The Chemist and Druggist, 22 Oktober 1949. Alex terpilih untuk memimpin perdagangan, dibantu Moekarto Notowidagdo, Pejabatan Resi Candu dan Garam Kementerian Keuangan. Perdagangan ini strategis bagi pemerintahan Indonesia. Alex dalam Surat Kementerian Keuangan Yogyakarta pada 8 Maret 1948 (ANRI, Djogdja Documenten 1945-1949 no. 230) memaparkannya sebagai berikut,  “…a. membiayai delegasi Indonesia di luar negeri, b. membiayai delegasi Indonesia di Jakarta, dan c. membelanjai pegawai-pegawai/pekerja-pekerja Republik Indonesia yang kini masih berada di Jakarta,” tulis Alex. Candu yang diperdagangkan adalah stok zaman kolonial Belanda. Alex memberi lisensi Kementerian Keuangan kepada pihak-pihak tertentu untuk berdagang candu. Lisensi ditandatangani Sekretaris Kementerian Keuangan, M. Saubari, atau Pegawai Tinggi Sekretariat Kementerian Keuangan, R. Hendarsin Tjokrosudirdjo. Alex meminta kepolisian mengizinkan pejabat regi candu yang mengantongi lisensi tersebut untuk menjual candu ke luar negeri, di barter barang-barang yang Indonesia perlukan.  Alex juga bekerjasama dengan pesepakbola Indonesia keturunan Tionghoa Tony Wen yang dekat dengan PNI. Tony bertugas untuk membuka jaringan dengan Singapura. Hasil yang diperoleh cukup besar.  ”Maramis dilaporkan telah menetapkan bahwa Republik harus menerima $450 per kilo, yang membuat pembayaran Wen berkurang sekitar $900.000. Namun, uang itu jauh lebih banyak daripada apa pun yang sebelumnya diterima Republik dari transaksi opiumnya, dan itu membuat Maramis berani menggunakan Wen untuk usaha yang bahkan lebih berani,” ungkap Cribb. Ekspor candu semakin marak di tahun 1948, setelah Wapres Hatta menyetujui penyelundupannya pada bulan Februari. Sekretaris Wakil Presiden I. Wangsawidjaja bahkan pernah menyurati Alex pada 28 Mei 1948. Isinya meminta izin untuk Soedarso dalam pembelian 200 kg tube candu, dan 150 kg candu kasar (ANRI, Djogdja Documenten 1945-1949, no. 230). ”Puncak dari penyelundupan candu ke Singapura terjadi pada bulan Maret hingga Agustus 1948,” catat Julianto Ibrahim, dalam ”Candu dan Militer: Keterlibatan Badan-Badan Perjuangan dalam Perdagangan Candu di Jawa pada Masa Revolusi”, termuat dalam Kawistara, (vol. 6, no. 1, 21 April 2016).  Banyak candu yang terjual di Singapura. Sejumlah kecil diselundupkan di bawah keranjang buah. “Banyak antara 500 dan 1.500 kilo diterbangkan dengan kapal terbang Catalina ke Malaya dan dipindahkan ke dekat pantai ke kapal cepat kecil. Hampir 15.000 kilo dikirim ke pedagang di Singapura saja, satu pedagang Cina menerima 3.405 kilo pada Mei-Juli 1948 berdasarkan perjanjian dengan Tuan Miramis,” catat The Chemist and Druggist. Polisi Belanda menangkap para penyelundup, termasuk Moekarto. “Dari dua puluh orang yang terlibat dalam perdagangan gelap, enam belas menunggu persidangan di Batavia, termasuk mantan Kepala Opium Republik dan Monopoli Garam, yang telah ditunjuk sebagai "koordinator keuangan" Republik untuk Asia Tenggara dan Australia pada 24 Juli 1948,” papar The Chemist and Druggist. Sedangkan Tony tertangkap pada bulan September. Belanda menuduh Pemerintah Indonesia menyebarkan candu ke luar negeri dengan sewenang-wenang. Pemerintah membalasnya melalui keterangan resminya, 25 Agustus 1948. ”Bahwa sesungguhnya blokade Belanda lah yang menyalahi semangat persetujuan Linggarjati dan pokok-pokok Renville, yang memaksa Republik mengelakkan blokade Belanda itu secara demikian,” cantum keterangan tersebut yang tersimpan di Arsip Kementerian Penerangan 1945-1949 no. 42, ANRI. Pemerintah sendiri sudah memberangus perdagangan candu di daerah-daerah di Indonesia pada tahun itu. Keadaan ekonomi dan politik Indonesia yang kritis membuat pemerintah harus melakukan tindakan yang luar biasa. Termasuk berdagang candu. Atas kesadaran itu, Alex Maramis memainkan peran pentingnya.*

  • Menyelundupkan Seniman Bali

    Kamajaya dan Anjar Asmara, dua seniman Indonesia pra-kemerdekaan mengunjungi Bung Karno di Jakarta pada suatu hari di tahun 1942. Keduanya meminta bantuan Bung Karno untuk mendirikan sebuah organisasi yang menghimpun para seniman. Pasalnya, saat itu pemerintah Jepang melarang segala bentuk perkumpulan, baik politik, ekonomi maupun sosial budaya. Bung Karno ternyata setuju dengan upaya pembentukan Pusat Kesenian Indonesia. Ia bahkan bersedia memprakarsai pembentukannya. Badan Pusat Kesenian Indonesia (BPKI) pun segera berdiri. “Prakarsa tersebut dicetuskan dalam pertemuan kaum seniman-seniwati, budayawan dan cendekiawan pada tanggal 6 Oktober 1942 di rumah Bung Karno, Oranye Boulevard No. 11 (sekarang Jalan Diponegoro), Jakarta. Acara tunggal ialah pembentukan ‘Pusat Kesenian Indonesia’,” tulis Kamajaya dalam Sejarah “Bagimu Neg’ri”. Organisasi kesenian swasta ini berisi para seniman ternama pada masanya seperti S. Sudjojono, Basuki Abdullah, Kusbini, Ratna Asmara, R.Ng . Purbocaroko, hingga Ibu Sud. Baca juga:  Jejak Sutradara Kotot Sukardi “BPKI ini diketuai Sanusi Pane dengan sekretarisnya Mr. Sumanang,” terang S. Sumardi dalam Sarijah Bintang Sudibyo (Ibu Sud), Karya dan Pengabdiannya. Pada 8 Desember 1942, BPKI hendak menyelenggarakan pertunjukan di Gedung Komidi Jakarta. Pertunjukan berupa fragmen bertajuk “Lukisan Zaman” itu mengkolaborasikan tari-tarian dan musik yang dipimpin langsung oleh Anjar Asmara dan Kamajaya. Rencananya, fragmen pertunjukkan ingin menggambarkan perjuangan bangsa Indonesia menuntut kemerdekaan sejak zaman raja-raja hingga kolonialisme. Tari-tarian diciptakan oleh Ny. Sudjono, musiknya digubah oleh Kusbini, sedang dekorasinya oleh S. Sudjojono. Bung Karno menginginkan pertunjukan ini membutuhkan penari-penari dan gamelan dari Bali untuk menggambarkan episode kebesaran zaman raja-raja. Sayangnya, pada waktu itu membawa seniman-seniman Bali ke Jawa perizinannya begitu sulit. “Mendatangkan seniman-seniwati dari Bali pada waktu itu ternyata tidak mudah, karena Bali berada di bawah pemerintahan Kaigun (Angkatan Laut), sedang Jawa dikuasai oleh Angkatan Darat,” jelas Kamajaya. Baca juga:  Ibu Sud Bahagiakan Anak Indonesia Kamajaya kemudian ditugaskan oleh Bung Karno untuk menyelundupkan para seniman Bali menyeberang ke Jawa. Ia dibantu oleh seorang guru Taman Siswa Tedjakula Bali bernama Kotot Sukardi. Tak tanggung-tanggung, Kotot Sukardi berhasil membawa 45 seniman Bali beserta seperangkat gamelan lengkap ke Jakarta secara ilegal. “Dengan demikian pertunjukan 8 Desember 1942 oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia di gedung Komidi Jakarta sepenuhnya dapat diselenggarakan menurut rencana dan berhasil amat memuaskan,” tulis Kamajaya. Pertunjukan “Lukisan Zaman” ternyata menjadi pertunjukan pertama dan terakhir BPKI. Pemerintah Jepang mendirikan Keimin Bunka Shidoso sebagai Badan Kebudayaan resmi. Baca juga:  Film Anak Riwayatmu Dulu Para seniman Bali dan Kotot Sukardi yang tadinya hanya diminta menyelundupkan rombongan akhirnya menetap di Jakarta. Kotot belakangan menjadi menajer mereka dan menjajakan sandiwara keliling. Pada 23 September 1944, Djawa Hoso Kanrikyoku (Biro Pengawas Siaran Jawa) dan Sendenbu (Departemen Propaganda) memberi kesempatan Kotot Sukardi dan tarian Bali tampil dalam “programa malam gembira” untuk menyambut “perkenanan kemerdekaan Indonesia kelak di kemudian hari” di Shiritsu Gekijo (kini Gedung Kesenian Jakarta). Belakangan, Kotot Sukardi juga bergabung dengan Djawa Engeki Kyōkai atau Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa (POSD) yang memproduksi sandiwara-sandiwara propaganda Jepang. Kotot menggubah beberapa naskah seperti Toeroet Sama Amat, Petjah Sebagai Ratna, Benteng Ngawi, dan Bende Mataram. Kelak ia juga menjadi sutradara kenamaan Indonesia yang mempelopori pembuatan film anak. Baca juga: Kisah selengkapnya Kotot Sukardi baca di Historia Premium: Pita Memori Kotot Sukardi

  • Sukarno Ditembak Pistol FN di Istana

    Seorang perempuan mencoba menerobos ke Istana Negara di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (25/10). Dia menodongkan pistol jenis FN ke anggota Paspampres yang berhasil merebutnya dan menangkap perempuan itu. Perempuan itu kemudian dibawa ke Subdit Keamanan Negara Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya untuk diperiksa secara intensif. Sebelumnya, pada 31 Maret 2021 seorang perempuan masuk ke Markas Besar Kepolisian. Dia menembak polisi yang berjaga. Perempuan bernama Zakia itu tewas ditembak anggota polisi. Penyusupan ke Istana pernah terjadi pada masa Presiden Sukarno. Mereka berhasil masuk bersama para jemaah yang akan melaksanakan salat Iduladha di halaman Istana Merdeka pada 14 Mei 1962. Ketika masuk penghabisan rakaat kedua, seorang lelaki melepaskan tembakan ke arah barisan depan. Sasarannya Sukarno. “Kekhusyukan salat Id di Kompleks Istana buyar begitu terdengar pistol FN 45 menyalak beberapa kali. Pelaku penembakan terhadap Kepala Negara itu adalah seorang pemuda yang berada tiga saf di belakang Presiden Sukarno yang sedang rukuk seperti makmum lainnya,” tulis Kadjat Adra’i dalam Suka Duka Fatmawati Sukarno . Baca juga:  Asal-Usul Pistol Komisaris Polisi Mangil Martowidjojo, komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP), dan wakilnya Sudiyo, dengan cepat melindungi Sukarno. Tembakan mengenai anggota DKP Soedarjat dan Soesilo, serta Ketua DPR KH Zainul Arifin yang segera dilarikan ke rumah sakit. Pelaku penembakan berhasil diringkus oleh anggota DKP, Sribusono dan Musawir. Pistol FN 45 dirampas. Pelaku yang pingsan dan babak belur diletakkan di depan masjid Istana, Baiturrahim. Tembakan ke arah Sukarno membuat salat Id terhenti sebelum salam. Setelah keadaan terkendali, salat Id dilanjutkan. Ketua PBNU KH Idham Chalid masih sebagai imam. Selesai salat, dilanjutkan khotbah yang disampaikan oleh Menteri Pertahanan Jenderal TNI A.H. Nasution. Baca juga:  Tujuh Upaya Membunuh Presiden Sukarno Setelah khotbah, sedianya Sukarno memberikan sambutan. Namun, dibatalkan karena kejadian penembakan itu. Jemaah bubar dan diperiksa satu persatu. Yang tidak mempunyai kartu penduduk, menjalani pemeriksaan lanjutan. Namun, semuanya dapat meninggalkan istana termasuk pelaku lain. Setelah semua jemaah meninggalkan istana, anggota polisi menyisir dan menemukan sarung pistol dan sepucuk pistol FN 45 di bawah tikar alas salat, senjata sejenis yang dipakai pelaku penembakan. Mangil Martowidjojo dalam Kesaksian Tentang Bung Karno 1945–1967 mengungkapkan dari hasil pengusutan terhadap pelaku yang tertangkap, diketahui mereka adalah anggota DI/TII pimpinan S.M. Kartosoewirjo. Pelaku berjumlah tiga orang: Sanusi alias Fatah alias Soleh alias Uci Sanusi Fikrat alias Sanusi Ufit; Kamil alias Harun bin Karta; dan Jaya Permana bin Embut alias Hidayat bin Mustafa. Baca juga:  Paspampres Berawal dari Polisi Pengawal Pribadi Harun masuk Istana dan mengikuti salat. Namun, dia tiba-tiba disergap perasaan takut sehingga membatalkan niat jahatnya dan menyembunyikan pistol FN 45 di bawah tikar. Setelah salat selesai, dia lolos dari penggeledahan. Dia kemudian bertemu Hidayat dan mengaku tidak jadi menembak karena senjatanya macet. Hidayat sendiri malah membatalkan niatnya masuk istana. Dia membuang granat ke sungai. Pelaku percobaan pembunuhan terhadap Sukarno berjumlah sembilan orang. Semuanya berhasil ditangkap. Enam divonis mati, tiga lainnya dihukum seumur hidup. Percobaan pembunuhan terhadap Sukarno saat salat Iduladha mendorong dibentuknya kesatuan khusus pengamanan presiden dan keluarganya yang bernama Resimen Tjakrabirawa.*

  • Lagu untuk Pattie Boyd

    Lagu yang ditulis George Harrison untuk The Beatles, tidak sebanyak yang ditulis John Lennon dan Paul McCartney terutama pada tahun-tahun pertama The Beatles. George nyaris hanya terlihat sebagai pemetik gitar melodi dalam lagu-lagu The Beatles. Meski George bukan tipe pemain gitar virtuoso, lagu-lagu The Beatles bisa hidup dengan permainan gitarnya. George baru membuat sejarah dalam penulisan lagu pada 1969, tahun-tahun terakhir The Beatles, sebelum raksasa musik pop itu redup pada 1970-an. Ada karya George yang keluar dengan gemilang tahun itu, Something dalam album Abbey Road . “ Something , lagu George pertama yang dipilih untuk single  Beatles sebagai sisi-A,” tulis Philip Norman dalam Shout! The True Story of The Beatles . Album itu dirilis pertama kali pada 26 September 1969, lebih dari setengah abad silam. Something in the Way She Moves . Attracts me like no other lover . Begitu bunyi dua baris pertama lagu tersebut. Kalimat pertama lagu itu mirip dengan apa yang pernah dinyanyikan oleh James Taylor. Lagu karya George itu kerap dikaitkan dengan istri George ketika lagu ini ditulis, yaitu Pattie Boyd alias Patricia Anne Boyd. “Dia mengatakan kepada saya, dengan cara yang sebenarnya, bahwa dia telah menulisnya untuk saya,” kata Pattie Boyd dalam Wonderful Tonight George Harrison, Eric Clapton, and Me . Pattie menganggap lagu ini begitu cantik. Sebagaimana yang dilihat George pada dirinya. Bagi George, Pattie memang “sesuatu”. Baca juga:  Razia Rambut The Beatles dan Sasak Pattie hanya setahun lebih muda dari George. Ketika mereka bertemu, George sudah terkenal sebagai gitaris The Beatles, sementara Pattie adalah model kelas atas. Pattie ikut muncul sebagai salah satu bidadari sekolah dalam film The Beatles, A Hard Day’s Night (1964).  George dan Pattie mulai berkencan ketika Pattie baru berusia 19 tahun. Pattie kelahiran 17 Maret 1944, sedangkan George kelahiran 25 Februari 1943. A walnya Pattie menolak George karena masih terlibat hubungan dengan fotografer Eric Swayne. S etelah hubungan itu selesai , mereka baru berkencan. Kencan-kencan mereka berlanjut sampai pernikahan pada Januari 1966 ketika keduanya hampir berusia 23 dan 22 tahun. Pasangan itu lalu tinggal di Kinfauns, Surrey. Mereka juga sempat menikmati hebatnya mabuk LSD pada masa-masa mesra mereka. Pasangan ini berkawan dengan gitaris Eric Clapton. Meski band Eric tak sepopuler The Beatles, band yang pernah diikutinya dianggap band berpengaruh dalam musik pop. Eric yang lahir pada 30 Maret 1945 pernah bermain bersama John Mayall & the Bluesbreakers, The Yardbirds, Derek and the Dominoes, dan tentu saja Cream. Eric juga pernah membantu rekaman The Beatles dengan isian gitarnya pada lagu While My Guitar Gently Weeps dalam The White Album. Baca juga:  Van Halen, Van Banten Meski berkecukupan, pasangan George dan Pattie tidak bisa bertahan lama dalam status pernikahan. Perceraian pun terjadi. Banyak yang menyebut telah terjadi cinta segitiga antara George, Pattie, dan Eric. “Eric Clapton telah tergila-gila dengan Patti bertahun-tahun sebelumnya, tetapi, sebagai sahabat George, merasa terhormat untuk tidak mengejarnya,” tulis Philip Norman. Meski begitu, Eric diam-diam mencintainya dengan menuliskan lagu untuk Pattie berjudul, Layla. Eric merilis lagu itu bersama Derek and the Dominoes dalam album Layla and Other Assorted Love Songs yang diluncurkan pada November 1970. Ada lirik dalam lagu itu:“Aku mencoba memberimu penghiburan... ketika orang tuamu mengecewakanmu…” Ketika lagu itu dirilis, Pattie masih berstatus istri George. Pattie meninggalkan George pada 1974. Kala itu George sudah sukses bersolo karier dan The Beatles sudah lama vakum.  Baca juga:  Eddie van Halen dan Teknik Gitar Tapping Setelah bercerai dengan George, Pattie kemudian dekat dengan Eric. Eric yang setahun lebih muda dari Pattie, akhirnya menikahi Pattie pada 1979. George hadir dalam pernikahan mereka. Mereka bertiga terus bersahabat. “Jika istri saya akan lari dengan seseorang, aku lebih suka dengan pria yang kucintai,” kata George. Kala itu George sudah menikah dengan Olivia Trinidad Arias dan mendapat anak lahi-laki yang dikenal sebagai Dhani Harrison pada 1978. Seperti George, Eric juga sedang produktif di era 1970-an. Sama seperti George, Eric juga terinspirasi oleh Pattie. Dari tangan Eric lahir lagu Wonderful Tonight . Lagu itu ditulis pada 1976 dan dirilis pada 1977. Eric menulisnya sebelum mereka berangkat menghadiri sebuah pesta dimana hadir Paul dan Linda McCartney. Kisah yang dialami Pattie pun terulang lagi, dituliskan sebuah lagu. Seperti masa bersama George dulu. Seperti Something , Wonderful Tonight menjadi lagu yang banyak diputar. Eric pun lebih diingat karena Wonderful Tonight oleh para pecinta musik setelah era 1970-an daripada kiprahnya bersama Cream yang sebetulnya cukup dahsyat. Baca juga:  Gordon Tobing dan Gitarnya Apa yang dialami bersama George, terulang lagi bersama Eric. Pattie harus bercerai lagi pada 1989. Eric yang masih asyik dengan narkoba melakukan perselingkuhan meski dalam lagu katanya Pattie sangat indah. Eric dan Pattie pernah mencoba punya anak, namun Pattie keguguran. Setelahnya Eric malah memiliki anak dari Lory Del Santo, yakni Conor, pada 21 Agustus 1986. Namun, Conor tidak hidup lama. Dia terjatuh dari lantai 53 di Manhattan pada 20 Maret 1991. Keguncangan hidup Eric tertuang dalam lagu Tears in Heaven. Pattie melanjutkan hidupnya.Hubungannyadengan Rod Westonberumur panjang, sejak 1991 tapi baru menikah pada 2015. Kala itu George sudah lebih dari 14 tahun meninggal dunia pada 29 November 2001. George adalah anggota The Beatles kedua yang tutup usia menyusul John Lennon pada 1980. Untuk mengenang George kemudian diadakan konser . Dhani Harrison, yang sudah jadi seniman multitalen ta , ikut bermain gitar. Tak hanya Ringo Star dan Paul McCartney (dua mantan The Beatles yang tersisa), Eric Clapton juga ikut bermain. Dengan sebuah ukulele, lagu Something, yang dulu ditulis Geoge untuk Pattie , dinyanyikan oleh Paul McCartney. Ringo Star meng g ebuk drum dan Eric memainkan solo gitarnya sambil menyanyikan Something . *

  • Black Adam Memburu Dendam

    EKSPRESI arkeolog Adrianna Tomaz (diperankan Sarah Shahi) yang menyunggingkan senyum seketika berubah pahit tak lama setelah ia mendapatkan Mahkota Sabbac dari sebuah gua. Ia dijebak rekannya sendiri, Ishmael Gregor (Marwan Kenzari), yang berkomplot dengan pasukan Intergang. Namun, Adriana tak patah arang. Kala sudah ditodong senjata, ia merapal mantra berbahasa Kahndaq kuno sembari memegang sebuah prasasti. Hasilnya, boom ! Sesosok perkasa hadir usai terjadi ledakan ajaib itu dan membabi buta menghabisi nyawa pasukan Intergang. Adrianna mengenali sosok itu sebagai Teth Adam (Dwayne Johnson), eks-budak negeri Kahndaq dari 2.600 SM yang dahulu mendapat kekuatan super dari Penyihir Shazam (Djimon Honsou) untuk mengakhiri rezim tirani Raja Akh-Ton. Adrianna punya harapan besar dengan kembalinya Teth Adam yang –lantas punya sebutan baru Black Adam– bakal mengulang hal serupa di masa kini, yakni dibebaskannya rakyat setempat dari cengkeraman sindikat kriminal Intergang. Namun laiknya superhero Superman yang punya kelemahan dengan material Krypton, Black Adam pun punya kelemahan terhadap batu mulia Eternium. Ia terluka ketika seorang pasukan Intergang menembakkan roket yang mengandung Eternium. Menjadi jelas bahwa Black Adam yang mulanya seperti Superman –mampu melesat ke angkasa dan kebal segala macam senjata– tetap butuh bantuan. Di sinilah kemudian empat serangkai Justice Society: Kent Nelson/Doctor Fate (Pierce Brosnan), Carter Hall/Hawkman (Aldis Hodge), Al Rothstein/Atom Smasher (Noah Centineo), dan Maxine Hunkel/Cyclone (Quintessa Swindell) mengambil peran. Baca juga: Lika-liku Harley Quinn dalam Birds of Prey Searah jarum jam: Doctor Fate, Hawkman, Cyclone, dan Atom Smasher ( dc.com ) Keseruan-keseruan itu sudah langsung dimunculkan sutradara Jaume Collet-Serra dalam film superhero bertajuk Black Adam. Film ke-11 dari franchise DC Extended Universe (DCEU) ini sekaligus jadi spin-off film Shazam! (2019). Kehadiran para pahlawan Justice Society itu juga menjadi penting karena kekuatan yang dimiliki Black Adam ternyata membuatnya hanyut dalam sifat destruktif, nafsu membalaskan dendam dan naluri membunuh. Sementara, Doctor Fate dkk. merasa kekuatan super yang jadi anugerah itu tak semestinya digunakan untuk membunuh dan mengentaskan dendam mendiang putra Black Adam, melainkan untuk menegakkan keadilan. Black Adam mengusung dendam pada Intergang dan terutama Ishmael, mengingat Ishmael adalah keturunan terakhir Raja Akh-Ton. Ribuan tahun silam, pasukan Raja Akh-Ton membunuh putra Black Adam, Hurut. Di sisi lain, Adrianna dan Justice Society juga punya kepentingan agar Ishmael tak dibunuh. Pasalnya jika Ishmael dibunuh saat sedang menguasai Mahkota Sabbac, ia bakal bangkit menjadi Iblis Sabbac yang bakal mengancam kedamaian Kahndaq juga seantero muka bumi. Bagaimana cara empat serangkai Justice League itu menanamkan awareness itu pada Black Adam yang kian lama jadi antihero? Seperti apa pula intrik dan aksi-aksi mereka mencegah Iblis Sabbac menghancurkan dunia? Saksikan kelanjutannya di bioskop-bioskop kesayangan Anda. Baca juga: Wonder Woman 1984 dan Nilai Kejujuran Adegan Kent Nelson (kiri) alias Doctor Fate memperingatkan Teth Adam bahwa pahlawan tidaklah membunuh siapapun ( dc.com ) Adegan-Adegan Kekerasan yang Menjemukan Sudah sekira 15 tahun proyek Black Adam yang juga memunculkan karakter-karakter Justice Society didambakan Dwayne “The Rock” Johnson tertunda. DC dan Warner Bros kala itu lebih disibukkan dengan trilogi The Dark Knight (Batman, 2005-2012) hingga Justice League (2017). Padahal menilik historisnya di berbagai komik, Justice Society (muncul 1940) merupakan pendahulu Justice League (1960). Sinematografinya juga tergolong menarik. Hampir sepanjang dua jam film disesaki efek visual CGI yang sudah tak diragukan lagi kecanggihannya. Hanya saja tone filmnya yang didominasi atmosfer muram dan warna kuning serta hijau mengikuti latarbelakang kota Kahndaq, nyaris membosankan jika tak diselingi warna-warna merah dan biru yang terdapat dalam seragam para superhero Justice Society dan efek visual kekuatan petirnya Black Adam. Sementara kemasan music scoring -nya cukup bervariatif. Komposer Lorne Balfe memadukan iringan orkestra kelam dan megah dengan beberapa lagu populer semisal “Bullet with Butterfly Wings” (Smashing Pumpkins), “Paint It Black” (The Rolling Stones), dan “Power” (Kanye West Feat. Dwele).  Baca juga: The Batman dan Sisi Kelam Kehidupan Nyata Akan tetapi plot cerita Black Adam menuai kritik terlepas dari penampilan sang aktor utama yang patut dipuji. Selain minim plot twist , ceritanya mudah diprediksi, dan di beberapa bagian menjadi “nanggung” hingga menjadikannya nyaris menjadi cerita pahlawan untuk anak-anak. Terlebih, setiap alur ceritanya sarat adegan kekerasan yang berlebihan. Tak heran bila Black Adam diberi kategori “PG 13”. “Dari adegan ke adegan selalu ada kekerasan seperti video game saja lewat plot yang di satu sisi tanggung dan di sisi lain berlebihan. Di satu titik juga ketika penonton bisa lelah dengan semua kehancuran yang ada, mereka menampilkan tengkorak yang bangkit sebagai legion dari neraka, benar-benar seperti yang kita inginkan,” tulis kritikus Mark Kennedy menyiratkan sarkasme di kolom Associated Press , 19 Oktober 2022. Rupa-rupa adegan  Black Adam yang sarat kekerasan ( warnerbros.com ) Matt Singer mengungkapkan hal senada di kolomnya di ScreenCrush , 18 Oktober 2022. Namun di sisi lain ia juga melihat Black Adam jadi potensi besar untuk melihat arah baru DCEU ke depannya. Terlebih di film ini DC juga menyelipkan banyak “ easter eggs ” alias pesan-pesan tersembunyi tentang masa depan Black Adam dan DCEU. “Disayangkan, 15 tahun prosesnya menghasilkan film yang sedang-sedang saja, film yang tak merefleksikan ratusan jam penulisan dan draft skenario tak terhingga. Akan tetapi di lain pihak setelah (durasi) dua jam setidaknya Anda bisa melihat arah yang jelas untuk masa depan sinematik DC.” Baca juga: Serba-serbi Superhero Pertama Asia Kendati begitu, Black Adam bukan tak bisa dinikmati para fans DC. Plot ceritanya tidak se- random dan masih lebih logis ketimbang alur cerita film-film superhero tanah air seperti Gundala (2019), Satria Dewa: Gatotkaca (2022), atau mungkin saja Sri Asih yang –bakal rilis pada November 2022– mesti diakui masih tertinggal di beragam aspek kualitas. Tak heran bila Black Adam melesat ke urutan puncak Box Office selama dua hari. “Ini fenomenal 90% audience score untuk #BlackAdam sangat memuaskan untuk banyak alasan. 15 tahun. Terima kasih atas cinta dan dukungan kalian semua. Pada akhirnya yang terpenting bagi saya adalah mengirimkan kebahagiaan buat banyak orang. Dan itu yang akan selalu saya perjuangkan,” cuit Dwayne Johnson menanggapi banjir kritik, di akun Twitter -nya, @TheRock , 23 Oktober 2022. Black Adam dari Marvel Family Teth Adam alias Black Adam diklaim sebagai karakter berkekuatan super terkuat di muka bumi. Dari waktu ke waktu, karakternya acap dibandingkan dengan Superman yang juga dianggap sebagai superhero terkuat di alam semesta. Teth Adam tinggal mengucapkan kata “Shazam!” untuk bisa bertransformasi. Lema itu merupakan akronim lima dewa dalam mitologi Mesir kuno, yakni: Shu (kekuatan stamina tak terbatas), Horus (kekuatan kecepatan supernatural), Amon (ketangguhan super), Zehuti (kekuatan pengetahuan luas), Aten (kekuatan petir ajaib), dan Mehen (kekuatan psikis dan spiritual untuk keberanian). Karakternya diciptakan penulis Otto Oscar Binder dan ilustrator Charles Clarence Beck pada 1940-an. Mulanya Binder dan Beck membidani kelahiran Black Adam sebagai sosok supervillain alias penjahat super yang jadi musuh bagi serangkai pahlawan super Marvel Family (kelak disebut Shazam Family/Shazamily) yang beranggotakan Billy Batson/Captain Marvel (kini Shazam), Mary Bromfield/Mary Marvel (kini Lady Shazam), dan Freddy Freeman/Captain Marvel Jr. (kini Shazam Jr.). Baca juga: Captain Marvel , Antara Nostalgia dan Isu Feminisme Kemunculan perdana Black Adam di komik Marvel Family edisi pertama pada 1945 ( majorspoilers.com ) Maka pakaian Black Adam dibuat mirip dengan Marvel Family, hanya berbeda warna: pakaian ketat hitam dengan logo petir di dada. Itu sebagai antithesis Marvel Family yang berpakaian ketat merah juga dengan logo petir di dada. Menariknya, pakaian Black Adam nyaris tak pernah berubah jenis dan warnanya. Nick Jones dalam DC Comics Covert Art: 350 of the Greatest Covers in DC’s History mencatat, karakter Teth Adam/Black Adam paling jarang dimunculkan baik di masa pra maupun pasca-DC. Black Adam ditampilkan pertamakali di edisi perdana komik The Marvel Family terbitan Fawcett Comics , pada 21 November 1945,. Karakternya kemudian comeback dengan penulis dan ilustrator baru pada 1973 di komik DC, Shazam!, edisi kedelapan yang rilis pada 10 Desember 1973. Binder dan Beck mengisahkan Black Adam yang sumber kekuatannya disebutkan di atas, berubah menjadi tiran bengis di masa Mesir Kuno. Penyihir Shazamlah yang kemudian bisa menaklukkan dan mengasingkan Black Adam ke luar angkasa. Baca juga: Aquaman Sang Penguasa Tujuh Lautan Black Adam di era DC Comics ( comic.org ) Black Adam baru bisa kembali ke bumi pada 1945 atau lima ribu tahun kemudian. Akan tetapi dendam dan haus kekuasaannya harus bentrok dengan trio pahlawan Captain Marvel, Mary Marvel, dan Captain Marvel Jr. “Diciptakan oleh Otto Binder dan C. C. Beck, Black Adam hanya muncul sekali untuk bertarung dengan Shazam! di (era komik) Golden Age (1945), dan hanya muncul lagi beberapa kali saja di Bronze Age (1973). Pengembangan besar karakternya baru terjadi pada 2000-an ketika ia dikisahkan sebagai penguasa Kahndaq,” tulis Jones. Begitu lamanya Black Adam absen di belantika komik juga terpengaruh dari bubarnya Fawcett Comics pada 1953 dan trademark “Captain Marvel” yang diambil Marvel Comics. Maka sejak 1972 DC memberi nama baru bagi Marvel Family: Shazam Family. Baca juga: Menertawakan Kepedihan Hidup Bersama Joker Setahun berselang, DC kembali memunculkan karakter Black Adam di komik Shazam! edisi kedelapan. Di kemunculan keduanya, Black Adam dibuat sebagai penjahat yang lebih perkasa dan ambisius. “Black Adam mengklaim diri sebagai sosok pahlawan terhebat di dunia. Akan tetapi superhero Shazam mengetahui lebih baik bahwa dia bukan pahlawan. Seringkali Black Adam jauh dari kata mulia saat mengambil jalan demi mengentaskan ambisinya. Tak peduli seberapa hebat kekuatannya, Black Adam tak pernah merasa puas,” tulis Matthew K. Manning dalam Black Adam: An Origin Story. Pengembangan cerita pada karakternya baru terjadi pada transisi 1999-2000. Mulai dari komik JSA (Justice Society of America, red. ) edisi keenam terbitan 1999, Black Adam mulai berubah dari penjahat menjadi antihero, dari yang memusuhi jadi beraliansi dengan Justice Society, sebagaimana yang digambarkan dalam film Black Adam . Deskripsi Film: Judul: Black Adam| Sutradara: Jaume Collet-Serra | Produser: Beau Flynn, Hiram Garcia, Dany Garcia, Dwayne Johnson | Pemain: Dwayne Johnson, Sarah Shahi, Pierce Brosnan, Aldis Hodge, Marwan Kenzari, Noah Centineo, Quintessa Swindell, Bodhi Sabongui, Henry Cavill | Produksi: DC Films, New Line Cinema, Seven Bucks Productions, FlynnPictureCo. | Distributor: Warner Bros. Pictures | Genre: Superhero | Durasi: 124 menit | Rilis: 21 Oktober 2022.

  • Dulu Sersan Bisa Terbangkan Pesawat

    Ismail Marzuki (1914–1958), komponis produktif yang peka dengan zaman, termasuk pada kehidupan tentara kelas bawah yang jumlahnya sangat banyak. Barangkali dia hendak membesarkan hati para kopral dengan lagu Kopral Jono . Oh, Kopral Jono Gadis mana yang tak rindu akan dikau Dalam lagu itu, Kopral Jono digambarkan sebagai sosok yang kuat, seperti pada lirik Gayamu yang perkasa, mirip dengan panglima . Lirik Dengan jambulmu semua gadis bertekuk lutut  menjelaskan sosok gagah ini punya model rambut berjambul, tren rambut laki-laki era 1950-an. Era 1950-an adalah era pergolakan daerah dan keamanan di luar kota diganggu gerombolan bersenjata. Tidak adanya rasa aman membuat rakyat membutuhkan perlindungan. Sehingga, di kalangan masyarakat, kopral termasuk menantu idaman yang bisa melindungi. Sejarawan Anhar Gonggong menyebut ada tiga pangkat idaman mertua di era 1950-an, yaitu kopral, sersan, dan sersan mayor, meski gajinya tak sebesar zaman Belanda. Baca juga:  Kopral Anthony Menjebol Benteng Salubanga Jika kopral saja terlihat kuat, apalagi pangkat diatasnya. Tak heran jika kawin dengan anggota tentara menjadi harapan untuk hidup aman. Tak hanya pada zaman dulu, sekarang juga abdi negara apapun jenisnya dianggap punya masa depan karena mendapat uang pensiun dari negara untuk hari tua. Sedari dulu seorang sersan biasanya memimpin sebuah regu. Anggotanya sekitar 8 hingga 15 orang. Bedanya, setelah era 1960-an seorang sersan di Angkatan Darat yang sudah senior biasanya dijadikan Bintara Pembina Desa (Babinsa). Ini terjadi sampai sekarang. Gaji Sersan Tinggi Pangkat letnan keatas bukannya tidak dilirik. Pangkat ini biasanya sudah diambil golongan priayi baru. Pada 1950-an, kebanyakan letnan dan pangkat diatasnya berasal dari golongan priayi. Bagi pemuda golongan priayi, menjadi letnan di zaman Belanda sangat sulit, meski punya ijazah setara SMA yang disyaratkan, yaitu HBS (Hogere Burger School)atau AMS (Algemene Middelsbare School). Hanya sedikit pemuda Indonesia yang bisa jadi letnan dalamAngkatan Darat bernama KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indische Leger). Ada masa serdadu menjadi profesi yang hina dalam masyarakat pribumi pada masa kolonial Belanda. Haji Daeng Mangemba dalam Takutlah pada Orang Jujur menyebut masyarakat Sulawesi Selatan memandang serdadu sebagai orang yang jatuh martabatnya. Hanya yang miskin tanpa jalan dan frustrasilah yang mau menjalani profesi ini. Baca juga:  Oerip Soemohardjo Bapak Tentara yang Dilupakan Pada 1910, orangtua Oerip Soemohardjo tidak bisa menerima anaknya masuk KNIL dan meninggalkan sekolah pamongpraja di Magelang, meski Oerip akan menjadi letnan. Bahkan, setelah Indonesia merdeka, Oerip berpangkat letnan jenderal. Orangtua Gatot Soebroto dan keluarga Boediardjo juga tak suka anak mereka jadi tentara kolonial. Mereka kemudian menjadi perwira tinggi TNI. Tentu saja ada masa jadi tentara merupakan profesi yang bagus. Setelah jumlah pegawai negeri sipil kolonial bertambah dan depresi ekonomi yang melanda dunia tahun 1930, sebagian pemuda bahkan orangtua rela anaknya menjadi tentara. Dengan catatan pangkat dan gajinya tidak rendah. Tak heran jika pemuda Indonesia yang masuk Akademi Militer Belanda di Breda pada 1930 jauh lebih banyak daripada dekade sebelumnya. Baca juga:  Mantan KNIL yang Menolak Masuk TNI Tak bisa letnan, sersan pun boleh. Bagi kebanyakan pemuda Indonesia, terutama yang hanya punya ijazah setara SD, entah itu ELS (Europeesche Lagere School), HIS (Hollandsche Inlandsche School), atau Schakel School, menjadi sersan sudah cukup baik dalam jenjang karier di KNIL. “Rasanya kalau sudah jadi sersan sudah merupakan prestasi yang dapat dibanggakan,” kata Jakasa Agung Soegih Arto dalam Sanul Daca . Soegih Arto punya ijazah setingkat SMP, yaitu MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) sebelum 1942. Boediardjo dalam Siapa Sudi Saya Dongengi  menyebut seorang sersan KNIL sudah sangat berharga di mata masyarakat. Gajinya 60 gulden sebulan dan mendapat jatah rumah tipe G. Itu belum termasuk jaminan kesehatan dan pakaian. Gaji militer Belanda biasanya naik berdasarkan masa dinas, tidak hanya berdasar kenaikan pangkat. Baca juga:  Martir Letnan Kadir dan Seloroh Kopral Panamo Pada zaman Belanda, menurut Raden Soeprono dalam autobiografinya, Selangkah Tapak Tiga Zaman: Mahasiswa Pejuang Kedokteran , antara 1930 hingga 1942 harga emas antara 1,5 hingga 2 gulden tiap satu gramnya. Satu gulden nilainya 100 sen dan dengan uang sebesar 6 sen kita bisa membeli satu kilogram beras. Beberapa tahun terakhir ini gaji dan tunjangan seorang sersan dua berkisar Rp2.103.700 hingga Rp3.457.100. Sementara harga emas hari ini sekitar Rp930.000 per gram. Katakanlah seorang sersan TNI punya pemasukan Rp3.000.000 sebulan, mereka hanya bisa membeli 3 gram sebulan dengan gajinya. Sementara itu, sersan KNIL bergaji 60 gulden dengan harga emas pada masa itu katakanlah 2 gulden per gram, maka mereka bisa membeli 30 gram emas tiap bulan. Dengan modal ijazah SD, Gatot Soebroto, Soeharto, dan lainnya bisa jadi sersan KNIL. Soeharto muda jelas senang dengan pangkat itu, tak hanya punya gaji yang lebih dari cukup untuk hidup tapi juga disegani orang. Meski masih ada yang menganggap tentara kolonial adalah profesi hina. Sersan Terbangkan Pesawat Selain Kopral Jono , Ismail Marzuki juga bikin lagu berjudul  Sersan Mayorku  untuk menunjukkan kehebatan seorang sersan mayor. Kalau ibuku pilih menantu Pilihlah dia sersan mayorku Pria idaman, hasratnya hatiku Juru terbang angkatan udara negaraku Lirik Juru terbang angkatan udara negaraku  sebetulnya tidak berlebihan sebelum 1950-an. Sekarang juru terbang di Angkatan Udara berpangkat letnan ke atas. Setidaknya harus jadi letnan dulu baru masuk sekolah penerbang. Mustahil zaman ini menemukan seorang sersan TNI AU punya pendidikan dan izin menerbangkan pesawat. Tapi pada masa Ismail Marzuki masih bocah di zaman Belanda, seorang sersan memang bisa menerbangkan pesawat. Baca juga:  Sersan Jacob Johannes Pilot Bumiputra Pertama “Sekarang mulai ada juru terbang ( vliegenier ) bumiputra. Adapun yang mendapat kehormatan memperoleh nama vliegenier  itu yang pertama-tama ialah tuan Jacob Johannes, orang Ambon, Inlandsch Sergeant Schrijver (sersan jurut tulis bumiputra),” terang surat kabar Pandji Poestaka , 24 Januari 1928. Jadi, sembilan bulan sebelum Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda, sudah ada pemuda Indonesia yang menjadi penerbang. Sersan Jacob Johannes adalah anggota Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Satu dekade kemudian, ada sersan lain yang belajar terbang, juga orang Ambon, yaitu Sersan Julius Tahija. “Setelah beberapa bulan pelatihan infanteri, saya mulai sekolah penerbangan di Jawa Barat,” kata Julius Tahija dalam Horizon Beyond . Pangkat Tahija waktu itu belum letnan dan baru masuk militer pada 1937. Baca juga:  Tinggi Badan Pas-Pasan Tapi Jadi Jenderal KNIL punya sekolah penerbang di Kalijati, Subang. Sulit menemukan juru terbang di bagian penerbangan KNIL. Di bagian itu, orang Indonesia hanya jadi penjaga, juru ampelas atau tukang kayu. Paling hebat adalah Ahmad bin Talim yang bisa merakit pesawat terbang ringan. Jadi, penerbang macam Letnan Suryadi Suryadarma jelas luar biasa. Julius Tahija (1916–2002) rupanya tidak mengikuti jejak Sersan Jacob Johannes. Suatu kali, ketika latihan terbang, Tahija dipanggil komandan sekolah penerbang. “Terbangmu tidak begitu baik. Kami akan memindahkanmu kembali ke infanteri,” kata perwira Belanda itu kepada Tahija. Tahija merasa terbangnya biasa saja dan dia mencurigai ada masalah lain yang membuatnya harus keluar dari bagian penerbangan yang merupakan korps elite. Dia menduga karena pamannya, Abraham Tahija, adalah orang pergerakan nasional Indonesia. Baca juga:  Suryadi Suryadarma dalam Operasi Mengebom Kapal Jepang Setelahnya Sersan Julius Tahija masuk Korps Marsose di Aceh dan dalam Perang Dunia II bergerilya di Saumlaki, Maluku Tenggara. Berkat aksinya di Maluku Tenggara, dia mendapat bintang kesatria Militaire Willemsorde dan naik pangkat jadi letnan. Setelah berpangkat kapten, dia pernah jadi menteri sosial Negara Indonesia Timur. Lama setelah gagal jadi sersan penerbang, Tahija pernah jadi pemilik Bank Niaga serta pembesar Caltex dan Freeport di Indonesia. Sekitar 1938, Boediardjo yang lulusan MULO Magelang juga sangat ingin menjadi sersan penerbang di KNIL. Dia mendaftar lalu pergi ke Cimahi.   “Sesampai di Cimahi, ternyata badan saya terlalu pendek. Tidak memenuhi syarat untuk jadi pilot yang minimal harus 165 cm itu,” kata Boediardjo. Akhirnya, Boediardjo rela jadi serdadu dengan upah 1 guden 76 sen seminggu. Dia hanya jadi kopral juru radio. Namun, dia kemudian menjadi marsekal di Angkatan Udara Republik Indonesia.*

  • A.A. Maramis Bertemu Belahan Jiwa

    PEREMPUAN tua blasteran Indo berbusana hitam-hitam itu duduk di kursi. Matanya memandang sebuah foto yang terpajang di samping pajangan bunga anggrek ungu di atas meja. Foto itu memuat Alexander Andries Maramis (Alex Maramis). Perempuan tua itu Elizabeth Marie Diena Veldhoedt atau karib disapa Beth, istri Alex. Di hadapannya duduk dua wartawan majalah Kartini , Titie dan Lies Said.  ”Saya akan tetap di sini mendampingi Alex, sampai hayatku terlepas dari badan,” tutur Beth kepada dua wartawan tersebut dalam Kartini edisi nomor 73, Agustus 1977.  Beth masih tidak percaya bahwa Alex telah meninggalkannya untuk selamanya. Alex sudah lama sakit-sakitan semenjak tinggal di Lugano, Swiss. Namun setelah kembali ke Jakarta pada Juni 1976, keadaan Alex perlahan membaik. Sampai Alex jatuh sakit lagi pada 17 Mei 1977. Sejak itu, keadaan Alex semakin memburuk hingga menemui ajalnya pada 31 Juli 1977. Beth masih teringat-ingat tiap babak perjalanan hidupnya dengan Alex. Kehidupan rumah tangga Alex dan Beth terbilang harmonis. Sepanjang pernikahannya, Beth telah mengikuti jalan hidup Alex, mulai dari mengarungi bahaya pada masa awal kemerdekaan hingga hidup kesepian di Lugano. “Rasanya, sepanjang kehidupan perkawinan kami, yang terasa hanya manisnya. Saling pengertian, saling menghargai dan saling menghayati terutama saling mencintai adalah resep perkawinan kami,” ucap Beth kepada dua wartawati itu. Bertemu Belahan Jiwa Usai lulus dari Universitas Leiden pada 1924, Alex kembali ke Hindia Belanda. Bermodal gelar Meester in de Rechten yang digondolnya, Alex bertekad untuk menjadi advokat partikelir di tanah Jawa.  Karir Alex sebagai advokat yang independen dimulai pada medio 1920-an di Semarang. Alex pun mulai banyak menangani kasus. Dari sekian banyak kasus yang ditanganinya, ada satu kasus yang terpenting, kasus perceraian. Kasus tersebut membawa Alex ke babak baru hidupnya. Suatu hari pada Oktober 1928, seorang perempuan Indo datang meminta bantuan hukum pada kantor Alex Maramis. Nama perempuan itu Elizabeth Marie Diena Veldhoedt (Beth).  Dia beranak satu dan sedang menghadapi keretakan rumah tangga.  Koran De Locomotief  2 November 1928 menyebut Beth ingin bercerai dari suaminya, Ludovik Bartolomeus Tadic, seorang indo turunan Perancis. Keduanya bermukim di Pati, Jawa Tengah.  Koran tersebut menyebutkan bahwa Lady Elisabeth Marie Diena Veldhoedt meminta juru sita di Semarang Cornelis Mirande untuk memanggil Ludovik Bartolomeus Tadic untuk menghadiri sidang umum Majelis Peradilan Semarang pada 8 Maret 1928. Deli Courant edisi 4 Juni 1928 menyebutkan bahwa Beth mengajukan cerai karena Ludovik kedapatan selingkuh. Perselingkuhan adalah tindakan tak termaafkan dalam pandangan Beth yang merupakan seorang Kristen taat. Beth telah lama mengusahakan perceraian itu, namun belum membuahkan hasil. Hingga dia mendatangi kantor tempat Alex Maramis bekerja. Kota Pati tempat Beth bermukim termasuk wilayah kerja Alex sebagai advokat yang berkedudukan di Semarang. Mendengar keluhan Beth, Alex pun membantu mengurus kasus tersebut. Ujung keputusan pengadilan adalah mengabulkan permintaan cerai Elizabeth.  Hubungan Alex dengan Beth tak berhenti di situ. Arkian perceraian Beth, hubungan pengacara dengan klien berubah menjadi hubungan yang lebih personal. Benih-benih cinta mulai tumbuh. Saat bersamaan, karier Alex sebagai advokat membawanya hijrah ke Sumatera, tepatnya di Kota Palembang. Wilayah kerja Alex di Palembang mencakup Jambi dan Lampung. Semasa Alex di Palembang, keduanya telah menjalin hubungan asmara. Hubungan mereka kemudian berujung kepada pernikahan. FEW Parengkuan dalam bukunya A.A. Maramis, S.H., menyebut Alex dan Beth menikah pada 1928.  Namun keterangan berbeda datang dari Bataviaasch Nieuwsblad . Koran tersebut pada edisi 15 September 1930 mencantumkan iklan baris tentang Alex dan Beth yang baru saja bertunangan. Disebutkan pula bahwa pernikahan itu akan dilaksanakan pada 3 Oktober 1930 di kota Pati Jawa Tengah.  ”Pemberitahuan Unik dan Umum: telah bertunangan Tuan A A. Maramis dan Nona Elizabeth Veldhoedt. Akad nikah 8 Oktober 1930 di Pati,” tulis iklan tersebut.  Mengarungi Lautan Rumah Tangga Pernikahan membawa persoalan baru bagi Alex dan Beth. Salah satunya menyangkut ras Beth yang blasteran Belanda pada masa pendudukan Jepang. Pemerintah Jepang memang dikenal sangat anti Eropa.  Firman Lubis, dalam Kenangan Semasa Remaja bercerita tentang tindakan Jepang terhadap orang Indo dan Eropa. Orang-orang Belanda asli dimasukkan ke dalam kamp di Kampung Cideng, Jakarta. Sedangkan yang berdarah indo masih bisa hidup bebas. Tetapi, jika dirasa ras Eropanya dominan, orang itu akan ikut masuk kamp. Tapi Beth beruntung. Dia bisa lolos dari sergapan Jepang hanya dengan meletakkan patung Budha. Alex mendapatkan patung itu dari pengusaha Jepang yang pernah menjadi kliennya. Pengusaha itu berpesan untuk menggunakan patung tersebut jika sedang menghadapi masalah dengan tentara Jepang. Kala lain, Alex berupaya memperjuangkan nasib Beth beserta orang-orang Indo. Dalam salah satu sidangnya tentang rancangan undang-undang dasar (RUU), Alex bersuara tentang status kewarganegaraan bagi orang Indo dan blasteran asing lainnya yang ingin hidup dan mati di Indonesia. Alex mengusulkan tambahan mengenai blasteran pada pasal 26 RUU tersebut yang menerangkan soal kewarganegaraan. ”…Supaya aturan ditambah dengan satu pasal yang menetapkan, bahwa orang-orang lain dari pada orang Indonesia, misalnya peranakan Arab, Belanda atau Tionghoa yang mempunyai kedudukan Nederlandsch Onderdaan dianggap sebagai warga negara,” terang Alex, dikutip dalam Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar djilid I (1960) karya Muhammad Yamin.  Usaha Alex tersebut tak hanya penting bagi orang-orang turunan asing di Indonesia, tetapi juga khususnya bagi sang istri. Beth juga memberikan segala yang diperlukan Alex dalam perjuangan. Kesetiaannya teruji ketika mereka hidup di Lugano sepanjang1957-1976. Di kota itu, mereka tinggal di sebuah flat kecil, Hanya berdua saja.  Memasuki 1960-an, Alex yang sudah sepuh mulai sakit-sakitan. Pada awal 1970-an, Alex sempat terkena serangan stroke.  Sebelum dr. Pratisto datang untuk merawat, tak ada orang di Lugano yang bisa merawat Alex secara intensif. Hanya Beth yang merawat Alex. Padahal Beth yang sama-sama sudah sepuh juga sering sakit. Dia terkena penyakit rematik yang membuat persendian jari-jarinya membengkak dan nyeri. Beth sendirian yang mengurus segala keperluan rumah tangga. Mulai dari mencuci, memasak, berbelanja ke pasar, sampai membelikan obat untuk Alex di apotek. Meski sedang sakit-sakitan, Alex tidak tinggal diam. Dia membantu istrinya seperti menemaninya belanja. “Karena kaki dan tangannya tidak kuat lagi akibat serangan rematik, maka teman satu-satunya untuk menjinjing atau mengangkat barang-barang belanjaan dari pasar, adalah Alex Maramis sendiri,” terang Parengkuan. Ayah yang Baik Sepanjang pernikahannya, Alex tidak dikaruniai seorang anak pun. Ia hanya mendapatkan anak dari pernikahan Beth dengan suami sebelumnya. Anak itu bernama Alexander, persis sama dengan nama Alex. Nama itu nama asli si anak jauh sebelum Alex menikah dengan Beth. Nama Alexander disebutkan dalam Deli Courant edisi 2 Mei 1928 dan edisi 4 Juni 1928, sebagai anak yang diperjuangkan Beth dalam perceraian.  Alexander kecil menjadi tempat Alex menumpahkan sayangnya sebagai seorang ayah. Alex memberikan nama marganya, Maramis, di belakang nama Alexander kecil itu.  Nama Alexander sepertinya nama pasaran dalam keluarga Maramis. Nama Alex (Alexander Andries Maramis) sendiri didapat dari nama sang ayah Andries Alexander Maramis. Sedangkan adik lelaki Alex menggunakan nama ayahnya secara persis. Kini tambah lagi ’Alexander’ lainnya di keluarga Maramis. Maka ada empat ‘Alexander’ di keluarga Maramis. Agar tidak memusingkan buat keluarga Maramis dalam memanggil empat ”Alexander” tersebut, selain sang ayah, ketiga “Alexander” lainnya diberi nama panggil khusus, yaitu ‘Alex’ untuk Alex yang menteri Keuangan, ‘Inyo’ untuk sang adik, dan ‘Lexy’ untuk anak Alex.  Meski Lexy anak tiri, Alex menyayanginya sepenuh hati. Alex juga pernah mengalami posisi seperti yang Lexy alami. Alex terlahir dari rahim seorang ibu bernama Charlotte Ticoalu. Namun Charlotte wafat ketika Alex masih kecil. Kemudian ayahnya menikah kembali dengan seorang gadis Minahasa bernama Adriana Yulia Mogot. Adriana-lah yang kemudian menggantikan Charlotte sebagai sosok ibu. Adriana memang ibu tiri, tapi dia sangat sayang kepada anak-anaknya, baik tiri maupun kandung. Demikian juga kepada Alex. Pengalaman ini Alex ingat sampai dewasanya. ”Baginya Adriana Yulia Mogot bukanlah seorang ibu tiri yang harus dijauhi, tapi dianggap sebagai ibu sendiri yang sejak kecil mengasuhnya dengan penuh kasih sayang, sama dengan yang diterima oleh saudara-saudaranya yang lain,” tulis Parengkuan. Pengalaman hidup membuat Alex mengerti bagaimana memperlakukan anak dan istrinya secara layak, bermartabat, dan penuh kasih sayang.*

  • A.A. Maramis Advokat Andal yang Nasionalis

    ALA bisa karena biasa. Witing tresno jalaran soko kulino , kata orang Jawa. Terbiasa melihat sang ayah dan mendengar kiprah sang kakek yang berprofesi sebagai pembela rakyat kecil yang memiliki masalah hukum, Alex Maramis pun memutuskan mengikuti jejak mereka: menjadi pokrol bambu. Pokrol bambu adalah sebutan untuk orang yang menjadi pembela bagi orang-orang yang tersangkut perkara hukum pada masa kolonial. Mereka umumnya cukup berpendidikan meskipun bukan lulusan sekolah hukum. Mereka juga memiliki kepedulian untuk membela rakyat kecil yang sedang berperkara. Salah duanya Ayah dan kakek Alex Maramis.  Alex Maramis bukan sekedar pokrol bambu. Ia seorang advokat sungguhan lulusan dari salah satu universitas bergengsi di negeri Belanda, Universitas Leiden. Meester in de Rechten (Mr.), gelar bergengsi bidang hukum pada masa kolonial resmi disandangnya pada 19 Juni 1924, tepat sehari sebelum ia berulang tahun ke-27. Seperti dikutip Provinciale Overijsselsche en Zwolsche Courant , 20 Juni 1924. Usai lulus, Alex bergegas pulang ke Manado untuk menemui keluarga tercinta. Namun tak lama, dia berlayar ke Batavia untuk segera memulai karirnya sebagai seorang advokat. Darah pejuang yang mengalir di tubuhnya tak menghendakinya menjadi abdi penjajah sebagai ambtenaar. Pilihannya mantap : menjadi advokat partikelir. Alex Maramis yang sangat menyadari pilihan karirnya tidak main-main dalam menempatkan posisi profesionalnya. Ia mengirimkan surat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkedudukan di Bogor pada 15 November 1924, untuk memberinya izin menjadi Advokat dan Pokrol dari Pengadilan Negeri di Semarang. “Permintaan tersebut disambut baik oleh pemerintah kolonial. Melalui surat keputusan tertanggal 12 Februari 1925 No. 19, mulai saat itulah Mr. A.A. Alex Maramis resmi menjadi Advokat dan Pokrol yang untuk pertama kalinya berkedudukan di Semarang,” tulis Parengkuan dalam A.A. Alex Maramis, SH Profesi sebagai advokat di kota utama Jawa Tengah tersebut tak berlangsung lama. September 1926 Alex Maramis mengirimkan surat kepada Gubernur Jenderal untuk pindah ke Palembang, Sumatera. Permohonan itu direstui. “Gubernur Jenderal menyetujui kepindahannya ke Palembang dengan beslit No. 14 mulai tangga1 4 November 1926,” catat Algemeene handelsblad voor Nederlandsch-Indië , 08 Oktober 1926.  Tidak terlalu jelas apa yang menjadi alasan Alex Maramis mengajukan kepindahan dari Semarang ke Palembang. Kemungkinan karena tak banyak perkara hukum yang ditanganinya selama di Semarang. Parengkuan mencatat saat di Palembang inilah Alex Maramis menangani kasus-kasus yang kemudian menunjukan kelasnya sebagai seorang advokat jempolan.  Selama lebih dari sepuluh tahun berpraktek di Palembang, Alex Maramis menunjukkan sisi kemanusiaannya yang begitu luhur dengan tak membeda-bedakan perlakuan terhadap klien yang dibelanya. Dari sekian kasus yang ditanganinya, dua kasus yang cukup menarik perhatian adalah saat ia membela seorang janda bernama Hadji Marijem binti Hadji Mohd. Tohir dan Dirk Jurriaan Manupassa yang memegang jabatan sebagai Controleur PTT di Tanjungkarang.  Hadji Maridjem hampir kehilangan rumah peninggalan almarhum suaminya. Dia mendapat gugatan dari saudara almarhum suaminya yang merasa juga memiliki hak secara adat terhadap rumah tersebut. Setelah proses hukum berjalan,  dia mendapati kenyataan pahit. Rumahnya akan dilelang oleh panitia lelang pemerintah.  Merasa tidak diperlakukan tidak adil oleh pemerintah setempat, dia mengirim surat kepada Gubernur Jenderal untuk memohon keadilan. Dia bahkan mengirim pula surat kepada ketua Volksraad alias dewan rakyat.  Kasus tersebut menimbulkan kesimpangsiuran. Saat itulah Alex Maramis tampil sebagai pembela Hadji Maridjem dan sukses menjernihkan akar permasalahan.  Kata Alex Maramis, Hadji Maridjem adalah orang sederhana yang tidak mengerti prosedur hukum. Karena itu, Alex mengirim surat kepada Gubernur Jenderal dan Ketua Volksraad. Dia Maramis menjernihkan perkara tersebut dengan mengurai duduk perkaranya secara lengkap.  Berkat pembelaannya tersebut, kasus Hadji Maridjem menjadi jernih dan terarah. Residen Jambi kemudian menyurati  Gubernur Jenderal pada 14 Maret 1938. Isinya, akan memperhatikan sungguh-sungguh masalah itu dan menyelesaikannya sesuai hukum yang berlaku.  Sementara itu kasus Dirk Jurriaan Manupassa, Controleur PTT di Tanjungkarang.yang ditangani Alex Maramis adalah kasus dirugikannya seorang pegawai kolonial karena tak dipenuhinya hak yang seharusnya diperolehnya. Tunjangan isterinya tak pernah dibayar oleh pemerintah.  Melalui kerjasama dengan sesama advokat yang bekerja di Batavia, Mr. Cl. A.S.M. Martens, Alex Maramis mengadukan perkara ini kepada Gubernur Jenderal dalam sepucuk surat bertanggal 14 Oktober 1933. Alex memenangi perkara tersebut. Tunjangan isteri D.J . Manupassa dibayarkan sepenuhnya.  Selepas dari Palembang, pada Juli 1939, Alex Maramis pindah berpraktek ke Batavia. Dia berkongsi dengan Mr. K.E. Kan. Keduanya diberi izin praktek di dalam wilayah kewenangan Mahkamah Agung Bagian B.  Advokat Nasionalis Selain karena darah keluarga dan pengalaman bersekolah di Batavia, kecintaan pada tanah air dan bangsa dalam diri Alex Maramis mengental selama menempuh studi di Belanda. Dia, seperti kebanyakan mahasiswa Indonesia di Belanda pada dekade 1920-an, memilih bergabung dengan Indonesische Vereeniging alias Perhimpunan Indonesia (PI).  Saat dia kembali ke Hindia-Belanda, dia bergabung dengan PNI pimpinan Sukarno. Tidak banyak informasi mengenai keterlibatan Alex Maramis dalam PNI, namun beberapa aktivitas politik di luar statusnya sebagai advokat tersebut sempat tercatat jejak rekamnya.  Buku Rupiah Di Tengah Rentang Sejarah terbitan Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa Alex Maramis pernah ditunjuk oleh Presiden Sukarno sebagai anggota pimpinan harian PNI. Disebut pula bahwa Alex Maramis menyampaikan pemikirannya tentang perundingan Linggarjati, dalam kongres Istimewa PNI di Malang pada 1947.  Alex Maramis berpandangan bahwa jika Linggarjati diterima oleh Indonesia, itu berarti Indonesia tak memiliki kemerdekaan secara penuh. Sebab, persetujuan tersebut hanya mengakui kekuasaan de facto atas Jawa  dan Sumatera saja.  Pendapat Maramis beroleh dukungan dari Mr. Ali Sastroamidjojo, Mr. Sartono, Sidik Djojosoekarto, dan Mr. Wirjono Prodjodikoro.  Selain PNI, Alex juga sepertinya aktif di organisasi kepemudaan Persatuan Pemuda Maesa. Organisasi ini berbasis kesukuan. Anggotanya pemuda Minahasa. Tapi apa saja sumbangsih Alex di organisasi ini, tak tercatat secara terang.  Menurut Parengkuan, Alex Maramis merupakan salah satu tokoh senior Persatuan Pemuda Maesa. Alex dihormati bersama beberapa tokoh lainnya seperti Dr. Sam Ratulangi, G.A. Maengkom, E.J. Lapian, J.R.O. Supit, A.E. Maengkom, M.R. Dajoh, P.W, dan Wuwungan. Keterangan itu diperoleh dari wawancara dengan G.A. Maengkom, Menteri Kehakiman pada Kabinet Djuanda (1957—1959).  Status Alex sebagai seorang ahli hukum lulusan universitas ternama di Belanda sebenarnya membuka peluangnya untuk jadi ambtenaar atau pegawai pemerintah Hindia Belanda. Dia bisa hidup sangat sejahtera dari situ. Tapi Alex telah memilih jalan pedangnya sendiri : menjadi advokat partikelir.  Meski pendapatannya jauh di bawah ambtenaar, Alex dapat mewujudkan cinta dan simpatinya  pada bangsa serta orang-orang kecil melalui jalan advokat partikelir. Darah juangnya mengalir dan terpatri kuat. Dia seperti kakek dan ayahnya : mengabdikan diri untuk membela saudara sebangsanya. Tak seorang pun menduga, Alex yang pendiam itu punya semangat menggelegak terhadap bangsanya dan rakyat kecil, Sebagai seorang nasionalis, Alex Maramis lebih memilih jalur sepi dengan langsung terjun pada persoalan-persoalan konkret yang dihadapi oleh saudara sebangsanya sebagai seorang advokat.  Alex Maramis, anak seorang pokrol bambu tersebut, nyata-nyata seorang advokat nasionalis yang andal.*

  • Rijsttafel, Harmoni Eropa-Nusantara dalam Budaya Makan

    HALAMAN belakang Museum Kesejarahan Jakarta Kamis (20/10/2022) siang itu ramai. Sebuah gapura bergaya neoklasik turut “menyambut” serombongan pelajar SMP ke sebuah ruangan yang bersolek dengan dua lampu gantung keemasan yang menaungi tiga meja makan bundar berbalut kain putih susu serta kursi-kursi dengan ukiran cantik. Di atas masing-masing meja itu beraneka perangkat makan era kolonial, termasuk dua lembar surat makan alias menu, diletakkan. Beberapa siswa tadi tak buang kesempatan untuk mengabadikannya lewat kamera smartphone  dengan beragam pose seolah sedang menembus waktu ke masa yang sama dengan tata ruang dan peralatan makan itu. Itu memang jadi salah satu tujuan digelarnya pameran “Jejak Memori Rijsttafel: Cita Rasa Indonesia dalam Memori”. Pameran yang dihelat Museum Kesejarahan Jakarta bersama Tugu Kunstkring Paleis itu berlangsung sepanjang 12-29 Oktober 2022. Baca juga: Soerat Makan Kolonial Tujuan pameran yakni untuk mengenalkan kembali sebuah kebudayaan Indies –merupakan kebudayaan hasil perkawinan dua budaya yang harmonis di era kolonial– dalam konteks tradisi dan budaya makan. Narasi-narasi historis rijsttafel yang bukan sekadar menggoyang lidah dan asal perut kenyang itu cukup apik dan atraktif ditampilkan dalam beragam panel yang mengelilingi ruangannya guna membuka awareness khalayak tentang budaya yang kini sudah sulit ditemui. “Meskipun merupakan bagian penting dalam perkembangan kuliner di Indonesia, rijsttafel belum banyak dikaji dari sudut pandang kesejarahan. Sejarah rijsttafel perlu diketahui oleh masyarakat Indonesia apalagi sumber-sumber primer dan sekunder terkait rijsttafel sendiri dapat dilacak keberadaannya, sehingga memungkinkan untuk ditelusuri jejaknya,” tulis sejarawan kuliner Universitas Padjadjaran Fadly Rahman dalam Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942. Pameran Rijsttafel yang diramaikan rombongan pengunjung kalangan pelajar (Randy Wirayudha/Historia) Secara etimologi, rijsttafel berhulu pada dua lema bahasa Belanda, rijst yang artinya nasi dan tafel berarti meja. Sastrawan cum jurnalis Indo, Hans van de Wall (Victor Ido), dalam kumpulan transkrip kisah acara radio NIROM, Indië in den goeden ouden tijd: radio-voordrachten voor de NIROM gehouden , mengartikan rijsttafel sebagai hidangan nasi yang disajikan dengan cara spesial. Kendati zaman kolonial sarat dengan penindasan dan rasisme, lanjut Fadly, budaya makan rijsttafel memberi pengaruh dan inspirasi bagi evolusi kuliner modern Indonesia. Pengaruhnya meliputi gaya hidup, tata penyajian, hingga jadi pelopor daya tarik wisata kuliner. “Maka dari itulah untuk pertama kalinya dalam perkembangan kuliner di Indonesia, makanan Pribumi mendapat kedudukan istimewa pada masa kolonial. Bahkan hingga sekarang rijsttafel masih menjadi daya tarik pariwisata di Belanda,” sambungnya. Hidangan Nusantara, Cara Makan Eropa Anna Augusta Henriette de Wit terpukau pada keriuhan dan kesibukan kota Batavia (kini Jakarta) yang ramai dengan beragam aktivitas di suatu siang medio 1896. Dari sebuah hotel di kawasan Rijswijk (kini kawasan Lapangan Banteng), jurnalis Belanda berusia 32 tahun itu dalam pelesirannya penasaran pada sebuah bangunan bertuliskan “Roemah Makan”. Jawa dengan Batavia sebagai etalasenya selalu menghadirkan pengalaman baru bagi De Wit. Padahal, sudah dua tahun ia mengajar di sebuah asrama perempuan. Selain mengajar, sosok kelahiran Sibolga itu juga menjadi kontributor untuk suratkabar berbahasa Inggris The Strait Times . Di suratkabar itulah artikel-artikelnya tentang beragam pengalamannya di Jawa, termasuk pengalamannya di sebuah restoran tadi, dialihbahasakan. “Sejak saya melihat Batavia, saya sudah melihat hotel di Batavia – sebuah roemah makan. Ah! Itu jadi pencerahan yang mengejutkan. Bagi saya Batavia ibarat ‘ un frisson nouveau ’. Tapi ketika melihat sebuah misteri besar yang dirayakan pada siang hari, sebuah sajian nasi ( rijsttafel ), bagi saya itu ibarat ‘ un étouffement nouveau ’,” De Wit mengisahkannya dalam kumpulan artikel yang dibukukan dengan judul Java: Facts and Fancies. Baca juga: Jejak Eropa dalam Kuliner Nusantara Kesaksian De Wit menjadi jendela penting untuk mendapatkan gambaran tentang apa dan bagaimana rijsttafel di masa-masa puncak popularitasnya. Bukan hanya  hidangannya, tata cara makan para pengunjung Eropa hingga laku para pelayannya pun ia kisahkan. “Menu utamanya adalah nasi dan ayam yang mungkin terdengar sederhana. Tapi di atas itu terdapat sebuah sistem yang terdiri dari banyak hal yang ditata baik: selain ikan, daging, dan semur, segala macam kari, saus, acar, manisan buah, telur asin, pisang goreng, ‘sambal’ goreng ati ampela, telur ikan, di mana semuanya sarat rempah dan taburan (potongan) cabai,” lanjutnya. Litograf karya Josias Cornelis Rappard antara tahun 1883-1889 yang menggambarkan  rijsttafel (Nationaal Museum van Wereldculturen) Karbohidrat, protein, hingga vitamin dalam sayur-mayur semua disajikan dalam satu waktu di atas meja. Bukan seperti di Eropa, di mana sajian dikeluarkan berurutan dari makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Yang tak berubah adalah manner -nya yang menggunakan dan menempatkan alat-alat makan seperti pisau, garpu, dan sendok yang tidak terdapat dalam kebiasaan makan pribumi yang mayoritas makan menggunakan tangan. Menu-menu yang disebutkan De Wit tentu tidak sama dalam setiap rijsttafel. Namun yang pasti, setiap makanan Nusantara yang dikonsumsi orang-orang elite Eropa itu lazimnya dikombinasikan dengan makanan yang cita rasanya sesuai selera masing-masing. Baca juga: Dari Tangan hingga Prasmanan Pun dengan sistem pelayanannya. Para pelayan yang biasanya berasal dari kalangan bumiputera tak hanya diberi seragam pelayan tapi juga dididik untuk melayani ala Eropa. “Semuanya berawal dari sebuah galeri belakang berupa aula panjang dan besar. Kemudian sajiannya diserahkan pada pelayan-pelayan lokal yang bertelanjang kaki tapi berpakaian semi-Eropa, bersarung Jawa, dan blangkon.” Sajian rijsttafel dengan aneka kuliner Nusantara di rumah sebuah keluarga Belanda di Bandung (Nationaal Museum van Wereldculturen) Popularitas rijsttafel dimulai saat masifnya kedatangan orang-orang Eropa, terutama Belanda, setelah dibukanya Terusan Suez pada 1869. Selain mempengaruhi gaya kuliner banyak elite bumiputera, rijsttafel juga mempengaruhi gaya berpakaian mereka. “Istilah rijsttafel sendiri memang baru muncul seiring meningkatnya jumlah orang Eropa pasca-pembukaan Terusan Suez yang secara tidak langsung berdampak besar terhadap perubahan sosial budaya di tanah jajahan. Perkembangan rijsttafel dimulai dari kebiasaan hidup membujang para pria Eropa. Larangan membawa istri (kecuali pejabat tinggi) dan mendatangkan perempuan Eropa ke Hindia memunculkan percampuran darah dengan perempuan Pribumi dan kemudian menghasilkan gaya hidup campuran,” sambung Fadly. Baca juga: Hidangan Favorit Napoléon Rijsttafel makin “naik daun” setelah mulai disukai para pejabat Eropa saat menggelar acara-acara besar. Lambat-laun para kolega mereka dari elite bumiputera pun latah mengikuti. Popularitas itu ikut melahirkan tren penulisan buku-buku masak atau catatan harian yang mengulas tentang rijsttafel pada peralihan akhir abad ke-19 dan awal abad ke-21. Sebut saja misalnya Ons Huis in Indië (1908), Eet Rijst! De Indische Rijsttafel (1922), Groot nieuw volledig Indisch kook-boek (1925), dan Het Geheim van de Rijsttafel (1934). Sajian rijsttafel di acara-acara besar kalangan elite Eropa (Repro Tugu Kunstkring Paleis) Seiring perjalanan waktu, budaya makan hibrid itu secara tidak langsung menaikkan derajat kuliner Nusantara di mata orang-orang Eropa. Rijsttafel turut mempengaruhi minat orang Eropa yang ingin datang ke Nusantara hanya untuk “wisata kuliner”. Tak pelak, selain di rumah-rumah pribadi dan acara-acara pejabat, rijsttafel mulai marak disuguhkan berbagai hotel dan restoran. “Melalui rijsttafel pula untuk pertamakalinya nasi dan hidangan daerah-daerah di Indonesia mulai dikemas dalam penyajian bergaya Barat serta dipopulerkan sebagai daya tarik wisata kolonial,” lanjut Fadly. Namun, pergantian situasi politik amat mempengaruhi eksistensi rijsttafel . Kendati tak serta-merta hilang sepenuhnya kala Hindia Belanda ditumbangkan Jepang dan berlanjut masa kemerdekaan Indonesia, rijsttafel jadi langka ditemui di Indonesia yang terus berdinamika. “Ketika Indonesia merdeka pasca-1945 orang-orang Belanda membawa pulang cita rasa rijsttafel ke negeri Belanda dan justru sejak itu berkembang pesat, mengingat banyaknya imigran dari Indonesia yang mengerti cara menyiapkan berbagai macam makanannya. Hal sebaliknya terjadi di Indonesia. Rijsttafel menghilang begitu saja. Saat ini hanya ada sedikit restoran yang masih menyajikannya,” tulis epikur yang menulis 30 buku masak, Georgeanne Brennan dalam kolomnya yang dimuat di laman The Cook’s Book . Baca juga: Aroma Kopi yang Menggugah Revolusi Dunia

  • A.A. Maramis di Negeri Belanda, Mengadu Peruntungan Mendapatkan Kebangsaan

    GERHANA matahari total membayangi langit pada Kamis 29 Mei 1919. Berdurasi enam menit 50,75 detik, gerhana ini yang terlama sejak 27 Mei 1416. Gerhana itu membayangi Kapal SS Wilis yang perlahan meninggalkan pelabuhan Tandjoeng Priok, Batavia, menuju Rotterdam, Belanda.  SS Wilis merayapi ombak lautan melewati Samudera Hindia dan Samudera Atlantik selama sebulan lebih. Kapal baru sampai ke pelabuhan Rotterdam pada 3 Juli.  Dari ratusan orang yang menumpangi SS Wilis, salah satunya adalah Alexander Andries Maramis, pemuda asal Minahasa yang karib disapa Alex Maramis. Namanya tercantum dalam manifes penumpang yang dirilis harian Sumatra-Bode edisi 27 Mei 1919, dan De Maasbode edisi 8 Juli 1919.  Alex lulusan Hoogere Burgerschool (HBS) Koning Willem III School, Batavia. Sang ayah, Andries Alexander Maramis memang memanas-manasi Alex untuk sekolah ke Batavia.  Andries sendiri adalah seorang prokol bambu, advokat hukum amatir untuk masyarakat jelata. Andries ingin Alex mengikuti jejaknya sebagai pokrol bambu untuk membela saudara-saudaranya se-Minahasa di hadapan hukum. Alex disekolahkannya setinggi mungkin. Hingga dia lulus HBS. Koran Belanda, Het Vaderland edisi 12 Juli 1916, menyebutkan namanya sebagai salah satu peserta yang lulus ujian akhir pada awal Juli.  Alih-alih pulang kampung untuk menjadi pokrol bambu, Alex ingin menuntut ilmu hukum untuk menjadi advokat yang sesungguhnya. Dia tidak puas hanya bermodal ijazah HBS. Leiden, Belanda, menjadi tempat pilihannya menimba ilmu hukum.  Andries mendukung penuh niat Alex. Meskipun hanya berprofesi pokrol bambu, Andries merasa mampu membiayai hidup dan kuliah Alex di Leiden. Jadilah Alex menumpang kapal ke Belanda, untuk singgah di Rotterdam, hingga menjejakkan kakinya di Leiden.  Untuk bisa masuk perguruan tinggi di Leiden, Alex harus menempuh ujian demi mendapatkan sertifikat kompetensi. Ujian tersebut syarat wajib menurut pasal 12 Undang-Undang Pendidikan Tinggi Pemerintah Belanda ketika itu. Alex baru mengikuti ujian itu setahun setelah kedatangannya. Ujian berlangsung di Utrecht dari 12 Juli hingga 27 Agustus 1920.  Alex lulus. Nederlandsche Staatscourant edisi 20 Oktober 1920 mencantumkan namanya sebagai salah seorang yang mendapatkan sertifikat kompetensi. Namun koran tersebut menyebut Alex mendapatkan sertifikat untuk kuliah di fakultas kedokteran, matematika, dan fisika.  Bagaimanapun, Alex lantas menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Leiden untuk beberapa tahun kedepannya. Alex termasuk beruntung. Selain sertifikat kompetensi, ijazah HBS yang Alex kantongi juga menolongnya duduk di bangku Universitas Leiden. Berbeda dengan pemuda Minahasa lainnya, GSSR Ratulangi (Sam Ratulangi) batal kuliah di Leiden karena tidak mengantongi ijazah HBS atau AMS. Ijazah Middlebare Acte en Paedagogiek, walau diperolehnya di negeri Belanda pada 1913, tidak bisa digunakan untuk masuk ke Universitas Leiden. Ratulangi mengambil kesempatan lain. Dia memilih mendalami ilmu alam di Universitas Zurich, Swiss, sampai menggondol gelar doktor. Keberuntungan Alex tidak hanya di situ. Dia juga tidak perlu memusingkan soal beasiswa di Leiden. Semua biaya kuliah dan hidupnya di sana murni dari sang ayah di Manado. Keluarga Maramis termasuk keluarga kelas atas di Manado. Keluarga ini memiliki perkebunan kelapa yang luas.  FEW Parengkuan dalam A.A. Maramis, S.H. , menyebutkan bahwa keluarga Alex adalah salah satu dari sedikit keluarga di Manado yang memiliki kendaraan bermotor pada 1920.   “Hal ini dapat dijadikan sebagai petunjuk bahwa memang soal biaya tidaklah amat memberatkan bagi keluarga Maramis untuk kelanjutan studi anak mereka ke luar negeri sebentar,” lanjut Parengkuan. Nasib Alex memang berbeda dengan mahasiswa Hindia Belanda lainnya seperti Hatta, yang harus berburu beasiswa dan mengirit biaya hidup. Semasa mahasiswa, hidup keseharian Alex terkesan seperti kebanyakan mahasiswa di Belanda. Selain studi, dia senang mengikuti acara dansa dan musik. Di bidang yang terakhir ini, Alex berbakat dalam bermain biola meskipun tidak menonjol. Dia sudah akrab dengan biola sejak di HBS.  Hobinya itu terbawa sampai Leiden. Di waktu senggang, Alex dan Arnold Mononutu, kawan Minahasa sesama mahasiswa hukum, kerap bermain biola. Selain Arnold, teman bermain biola lainnya adalah Achmad Subardjo.  “Alex Maramis ini bersama Ahmad Subardjo sama-sama senang main biola di mana Alex suara kedua dan Subardjo suara pertama,” urai Parengkuan. Semasa berkuliah di Leiden, beberapa sumber mencantumkan nama A.A. Maramis sebagai redaksi koran lokal Manado, Tjahaja Siang . Koran ini berbahasa Melayu (Indonesia) dan membahas isu di seputar Manado.  Nama A.A. Maramis dalam redaksi Tjahaja Siang berturut-turut tercatat dalam majalah Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers , edisi no. 12 tahun 1922; edisi no. 5, 18, 30, dan 42 tahun 1923; serta edisi no. 16, 28, dan 43 tahun 1924.  Tapi tak jelas apakah A.A. Maramis yang dimaksud adalah Alex, atau orang lain. Jika memang Alex, tidak disebutkan pula keterangan bagaimana dia mengasuh koran di Manado, sedangkan dia sedang berkuliah di Leiden. Berkenalan dengan Pemikiran Kebangsaan Indonesia Alex memang tipe pendiam. Orang tidak banyak tahu tentang isi di dalam kepalanya. Termasuk pula Arnold. Dia mengira Alex seperti halnya mahasiswa kebanyakan, senang musik dan jalan-jalan.  Sampai suatu ketika pada tahun 1923 pandangan Arnold tentang Alex berubah total. Ceritanya, saat itu Alex mengajak Arnold untuk mengunjungi sebuah hotel. Kabarnya ada acara di hotel tersebut.  Biasanya tiap hari Sabtu, Maramis dan Arnold makan di warung Jawa. Selesai makan, Arnold bertanya ke Maramis, mau pergi menonton di bioskop mana. Tapi dia menjawab bahwa tak menonton hari ini.  ”Saya mau pergi ke Hotel De Twee Steden. Di sana ada rapat dari Indonesische Vereeniging, yang akan ganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Ayo Arnold, mari ikut saya”, kata Maramis seperti dikutip Parengkuan.  Di balik sikap kalemnya, Alex mengikuti arus perjuangan kebangsaan para mahasiswa Indonesia di negeri Belanda. Dia menjadi anggota Indonesische Vereeneging. Indonesische Vereeniging awalnya bernama Indische Vereeniging. Organisasi ini adalah perkumpulan mahasiswa Hindia Belanda di negeri Belanda. Berdiri pada tahun 1908, Indische Vereeneging berkutat pada kegiatan sosial, seni, juga plesiran.  Wajah Indische Vereeniging kemudian berubah ketika Suwardi Suryaningrat, karib dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, masuk ke dalamnya. Diskusi-diskusi politik tentang keadaan tanah air, kolonialisme, dan hak-hak bumiputera mulai marak. ”Perkumpulan tersebut mulai dipolitisasi sekitar tahun 1916 yang diwujudkan dalam terbitnya sebuah jurnal bulanan Hindia Poetra. Karakter politiknya menjadi lebih jelas setelah berakhirnya Perang Dunia I, ketika doktrin penentuan nasib sendiri bagi masyarakat kolonial menyebar luas di kalangan mahasiswa Asia,” terang Leo Suryadinata, dalam “Indonesian Nationalism and the Pre-war Youth Movement: A Reexamination”, yang termuat pada Journal of Southeast Asian Studies , 9, (1978). Sikap politik nasionalis Indische Vereeniging semakin menjadi ketika diisi oleh angkatan muda seperti Hatta, Ali Sastroamidjojo, Soekiman, Sitalana, Dr. Mochtar, termasuk Alex Maramis.   “Merekalah yang meneruskan proses ‘nasionalisasi’ terhadap Indische Vereeniging, yang sudah dimulai sejak datangnya Driemanschap I.P (Indische Partij) di tahun 1913,” tulis Ki Hajar Dewantara sendiri dalam Kenang-Kenangan Ki Hajar Dewantara: Dari Kebangunan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan , terbit 1952. Senada dengan Ki Hajar, George McTurnan Kahin juga menyebutkan bahwa generasi Alex dkk lah yang mengkristalkan gagasan kebangsaan Indonesia. “Mahasiswa-mahasiswa ini lebih terpolitisir daripada generasi sebelumnya dan melanjutkan pekerjaan politik mereka di Belanda,” tulisnya dalam Nationalism and Revolution in Indonesia , terbit tahun 1952. Alex sempat menjadi sekretaris dalam kepengurusan Indische Vereeniging yang keempat, di bawah pimpinan Nazir Pamontjak. Nazir menggantikan Iwa Koesoemasoemantri sebagai ketua. Mohammad Hatta mencatat dalam Memoir bahwa Alex mulai menjabat dari 9 Februari 1924, berdasarkan keputusan rapat.  Selain Nazir dan Alex, pengurus lainnya adalah R. Soewarno sebagai bendahara, M. Soekiman (komisaris), dan Mohammad Nazif (archivaris). Tahun 1924 adalah momen penting bagi sejarah Indische Vereeniging, juga bangsa Indonesia. Sebab di tahun itu, Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Nama ‘Indonesia’ mulai berkumandang di antero Eropa. Di dalam Indonesische Vereeniging, Alex kerap menuangkan gagasan-gagasannya, baik dalam diskusi maupun lewat tulisan. Salah satunya adalah tulisan ”Terugblik” (Meninjau Kembali) yang termuat di dalam Gedenkboek Indonesische Vereeneging edisi April 1924. Isinya tentang keharusan menyatukan perjuangan kebangsaan Indonesia dengan arus kebangkitan Asia. Alex ingin Indonesische Vereeniging menjadi bagian dari perjuangan bangsa-bangsa Asia. Sebab dengan demikian pergerakan Indonesische Vereeniging akan mendapatkan banyak dukungan dari para mahasiswa dan pelajar Asia lainnya. “Akhir-akhir ini, penting bagi orang Indonesia di negara ini untuk mengupayakan orientasi internasional, lebih tepatnya, orientasi intra-Asia <…>. Sekitar sembilan tahun yang lalu, Dr. Ratulangi di Zurich mendirikan 'Société Asiatique des tudiants', yang, bagaimanapun, mungkin tidak memenuhi harapan karena kurangnya sentuhan pribadi. Semoga pertemuan yang cukup sering belakangan ini memberikan landasan yang lebih kuat bagi kemungkinan Asosiasi Pelajar Asia yang baru,” terang Alex seperti dikutip dalam "Behind the Banner of Unity Nationalism and Anticolonialism among Indonesian Students in Europe, 1917-1931", tesis doktoral karya Klaas Stutje.  Gedenkboek Indonesische Vereeniging tersebut memantik kritikan dari kalangan pers Belanda. ”Ada yang mengatakan bahwa ’de inlandsche studenten’ sudah dihinggapi oleh semangat revolusioner yang susah mengikisnya kembali,” ungkap Hatta. Kiprah lanjut Alex di Indonesische Vereeniging kurang terdengar lagi setelahnya. Sebab pada tahun yang sama, Alex menempuh ujian akhir.  Alex pun lulus. Kelulusannya diberitakan oleh berbagai media massa Belanda. Salah satunya adalah Arnhemsche Courant edisi 20 Juni 1924 yang menyebutkan bahwa Alex Maramis (A.A. Maramis) lulus Doctoraal examen rechten de heer, dari Universitas Leiden. Harian De Telegraaf edisi 20 Juni 1924 menyebut Alex lulus ujian pada 19 Juni. Alex sah menjadi master ilmu hukum. Dia berhak menyandang gelar Meester in de Rechten di depan namanya. Sebulan setelah kelulusannya, Alex kembali ke tanah air dengan menumpang kapal ke Batavia. Alex singgah sebentar di Batavia. ”Ia untuk sementara tinggal di jalan Pintu Kecil No. 46 Jakarta Barat,” tulis Parengkuan. Tak lama setelahnya, Alex kembali ke Manado. Tapi hanya sebentar. Alih-alih menjadi pokrol bambu di Manado seperti harapan ayahnya, Alex malah lebih memilih membaktikan dirinya sebagai advokat di tanah Jawa.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page