top of page

Menyelundupkan Seniman Bali

Pada masa pendudukan Jepang, Badan Pusat Kesenian Indonesia harus menyelundupkan penari-penari Bali ke Jakarta untuk sebuah pertunjukkan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tari Pendet dari Bali. (Christopher Michel/Wikimedia Commons).

  • 26 Okt 2022
  • 2 menit membaca

Kamajaya dan Anjar Asmara, dua seniman Indonesia pra-kemerdekaan mengunjungi Bung Karno di Jakarta pada suatu hari di tahun 1942. Keduanya meminta bantuan Bung Karno untuk mendirikan sebuah organisasi yang menghimpun para seniman. Pasalnya, saat itu pemerintah Jepang melarang segala bentuk perkumpulan, baik politik, ekonomi maupun sosial budaya.


Bung Karno ternyata setuju dengan upaya pembentukan Pusat Kesenian Indonesia. Ia bahkan bersedia memprakarsai pembentukannya. Badan Pusat Kesenian Indonesia (BPKI) pun segera berdiri.


“Prakarsa tersebut dicetuskan dalam pertemuan kaum seniman-seniwati, budayawan dan cendekiawan pada tanggal 6 Oktober 1942 di rumah Bung Karno, Oranye Boulevard No. 11 (sekarang Jalan Diponegoro), Jakarta. Acara tunggal ialah pembentukan ‘Pusat Kesenian Indonesia’,” tulis Kamajaya dalam Sejarah “Bagimu Neg’ri”.


Organisasi kesenian swasta ini berisi para seniman ternama pada masanya seperti S. Sudjojono, Basuki Abdullah, Kusbini, Ratna Asmara, R.Ng. Purbocaroko, hingga Ibu Sud.



“BPKI ini diketuai Sanusi Pane dengan sekretarisnya Mr. Sumanang,” terang S. Sumardi dalam Sarijah Bintang Sudibyo (Ibu Sud), Karya dan Pengabdiannya.


Pada 8 Desember 1942, BPKI hendak menyelenggarakan pertunjukan di Gedung Komidi Jakarta. Pertunjukan berupa fragmen bertajuk “Lukisan Zaman” itu mengkolaborasikan tari-tarian dan musik yang dipimpin langsung oleh Anjar Asmara dan Kamajaya. Rencananya, fragmen pertunjukkan ingin menggambarkan perjuangan bangsa Indonesia menuntut kemerdekaan sejak zaman raja-raja hingga kolonialisme.


Tari-tarian diciptakan oleh Ny. Sudjono, musiknya digubah oleh Kusbini, sedang dekorasinya oleh S. Sudjojono. Bung Karno menginginkan pertunjukan ini membutuhkan penari-penari dan gamelan dari Bali untuk menggambarkan episode kebesaran zaman raja-raja. Sayangnya, pada waktu itu membawa seniman-seniman Bali ke Jawa perizinannya begitu sulit.


“Mendatangkan seniman-seniwati dari Bali pada waktu itu ternyata tidak mudah, karena Bali berada di bawah pemerintahan Kaigun (Angkatan Laut), sedang Jawa dikuasai oleh Angkatan Darat,” jelas Kamajaya.



Kamajaya kemudian ditugaskan oleh Bung Karno untuk menyelundupkan para seniman Bali menyeberang ke Jawa. Ia dibantu oleh seorang guru Taman Siswa Tedjakula Bali bernama Kotot Sukardi. Tak tanggung-tanggung, Kotot Sukardi berhasil membawa 45 seniman Bali beserta seperangkat gamelan lengkap ke Jakarta secara ilegal.


“Dengan demikian pertunjukan 8 Desember 1942 oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia di gedung Komidi Jakarta sepenuhnya dapat diselenggarakan menurut rencana dan berhasil amat memuaskan,” tulis Kamajaya.


Pertunjukan “Lukisan Zaman” ternyata menjadi pertunjukan pertama dan terakhir BPKI. Pemerintah Jepang mendirikan Keimin Bunka Shidoso sebagai Badan Kebudayaan resmi.



Para seniman Bali dan Kotot Sukardi yang tadinya hanya diminta menyelundupkan rombongan akhirnya menetap di Jakarta. Kotot belakangan menjadi menajer mereka dan menjajakan sandiwara keliling.


Pada 23 September 1944, Djawa Hoso Kanrikyoku (Biro Pengawas Siaran Jawa) dan Sendenbu (Departemen Propaganda) memberi kesempatan Kotot Sukardi dan tarian Bali tampil dalam “programa malam gembira” untuk menyambut “perkenanan kemerdekaan Indonesia kelak di kemudian hari” di Shiritsu Gekijo (kini Gedung Kesenian Jakarta).


Belakangan, Kotot Sukardi juga bergabung dengan Djawa Engeki Kyōkai atau Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa (POSD) yang memproduksi sandiwara-sandiwara propaganda Jepang. Kotot menggubah beberapa naskah seperti Toeroet Sama Amat, Petjah Sebagai Ratna, Benteng Ngawi, dan Bende Mataram. Kelak ia juga menjadi sutradara kenamaan Indonesia yang mempelopori pembuatan film anak.


Baca juga:Kisah selengkapnya Kotot Sukardi baca di Historia Premium:Pita Memori Kotot Sukardi

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Rasa kebangsaan Ahmad Subardjo tergugah oleh tulisan Soewardi Soerjaningrat dan pidato Tjokroaminoto. Dia juga sempat menggeluti teosofi.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo tak hanya berotak encer dalam pelajaran, wawasan dunia dan kesadaran kebangsaannya tumbuh berkat Jules Verne, Multatuli, hingga Sun Yat-sen.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah terpikat sosialisme pada pandangan pertama. Sutan Sjahrir jadi comblangnya.
bg-gray.jpg
Buyut Ahmad Subardjo berasal dari keluarga terpandang di Aceh yang terlibat persaingan kekuasaan. Dia memilih merantau ke Jawa dan menjadi pemuka agama Islam. Anaknya mengikuti jejaknya.
Merekam situasi zaman dalam goresan pensil di atas selembar kertas.
Merekam situasi zaman dalam goresan pensil di atas selembar kertas.
Jadwal laga-laga akbar sepakbola kacau gegara virus corona, sebagaimana yang terjadi seabad silam.
Jadwal laga-laga akbar sepakbola kacau gegara virus corona, sebagaimana yang terjadi seabad silam.
Memaknai kembali hubungan Jepang dan Indonesia lewat pameran Sakura di Khatulistiwa. Digelar pada 9 Agustus hingga 10 September 2022.
Memaknai kembali hubungan Jepang dan Indonesia lewat pameran Sakura di Khatulistiwa. Digelar pada 9 Agustus hingga 10 September 2022.
Habis cuju, terbitlah sepakbola modern. Tim Naga membuka peluang mengulang lolos ke Piala Dunia usai membekap “Garuda”.
Habis cuju, terbitlah sepakbola modern. Tim Naga membuka peluang mengulang lolos ke Piala Dunia usai membekap “Garuda”.
Terinspirasi dari legenda sepakbola Jerman Franz Beckenbauer, Christian Hadinata ingin jadi pemain dan pelatih hebat.
Terinspirasi dari legenda sepakbola Jerman Franz Beckenbauer, Christian Hadinata ingin jadi pemain dan pelatih hebat.
Ogah dikenang sebagai simbol supremasi ras Arya, Max Schmeling mati-matian menganvaskan ideologi Nazi di atas ring kehidupannya.
Ogah dikenang sebagai simbol supremasi ras Arya, Max Schmeling mati-matian menganvaskan ideologi Nazi di atas ring kehidupannya.
transparant.png
bottom of page