top of page

Hasil pencarian

9628 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Perwira Prancis di Pemakaman Jenderal Soedirman

    PEMAKAMAN Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman di Semaki, Yogyakarta pada 29 Januari 1950 tidak hanya dihadiri oleh orang Indonesia. Biografi Djenderal Sudriman terbitan Biro Sedjarah Angkatan Darat menulis bahwa Mayor Jenderal Mollinger, perwakilan KNIL dan mantan lawan Sudirman, juga memberikan penghormatan terakhir kepada sang panglima. Selain Mollinger, ada seorang perwira Prancis yang turut melayat.

  • Menyanyi untuk Menyembuhkan

    SATU per satu ibu-ibu memasuki Ruang Pamong Budaya di Gedung E, Kompleks Kemendikbudristek, Jakarta. Senyum merekah terpancar di wajah mereka saat berbaris menghadap penonton. Mengenakan pakaian tradisional beraneka warna, ibu-ibu itu siap unjuk kebolehan menyanyikan sejumlah lagu, sebelum diskusi bertajuk “S. Rukiah dalam Cinta dan Perjuangan” dimulai pada Rabu, 25 Oktober 2023. Mereka adalah paduan suara Dialita.

  • Menari Bersama Kaca Patri

    HARI menjelang siang ketika rombongan petinggi Nederlandsche HandelMaatschappij (NHM), semacam kamar dagang Belanda, berkumpul di sebuah bangunan baru di Stationplein 1 (kini Jalan Lapangan Stasiun No. 1) pada 14 Januari 1933. C.J. Karel van Aarts, presiden NHM ke-10, akan memimpin peresmian kantor NHM di Batavia, kantor cabang pertama mereka di Hindia Belanda.

  • Linguis Pengelana Negeri Hindia

    AWAL 1853, dari basis pemerintah kolonial di Barus, van der Tuuk melakukan perjalanan menuju pedalaman Batak. Tujuannya hanya satu: mengamati kehidupan dan kebudayaan suku Batak asli. Dia sadar bahaya menantinya kalau memasuki wilayah yang belum dikuasai Belanda. Kabar miring di kalangan Eropa juga memberitakan tentang kegemaran orang Batak menyantap orang. Hidupnya dalam pertaruhan.

  • Lenggang Kontes di Tengah Protes

    AJANG Miss World 2013 di Bali pada bulan September mengundang kecaman dari berbagai pihak. Alasannya melanggar norma kesopanan dan merendahkan martabat perempuan. Tapi kejadian macam itu bukan hal yang baru. Sejak dulu, kontes serupa kerap beriringan dengan perdebatan di masyarakat.

  • Kota yang Menolak Lupa

    DINGIN masih merasuk kota Berlin sekalipun saat itu sudah masuk bulan Juni. Dari balkon lantai lima Torstraße 93, saya mengamati wajah kota ini. Berlin tampak teratur. Bangunan-bangunan sama tinggi dengan perulangan jendela yang rapi. Pedestrian begitu lebar. Para pengemudi tampak menaati rambu.

  • Jurus Litsus Halau Komunis

    SETAMAT studi ilmu pendidikan di salah satu universitas swasta di Salatiga, Jawa Tengah, tahun 1992, Haning berniat mengajar di sebuah sekolah negeri. Namun, ada satu hal yang bakal membuyarkan niatnya: masa lalu ayahnya. “Bapak kandung saya pernah di Buru saat saya berusia setahun,” kenang Haning, berusia 46 tahun, kepada Historia . Pulau Buru, sejak Orde Baru berkuasa, dikenal sebagai salah satu tempat pembuangan anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).

  • Jalan Berliku Trem di Nusantara

    NUN jauh di bumi belahan barat, penulis Belanda S.A. Reitsma dan istrinya sedang menikmati perjalanan darat menuju Praha, Ceko. Mereka menumpang kereta Balkan Express. Kala itu, Oktober 1933, parlemen Ceko sedang reses. Gerbong tempat Reitsma berada dipenuhi politisi parlemen yang sedang tur bareng.

  • Dua Tamtama dari Porong

    BAGI anggota Brigade Mobil (Brimob), Porong dan Watukosek adalah tempat bersejarah dalam hidup mereka. Kedua tempat yang berdekatan itu punya fungsi berbeda. Porong adalah kantornya sementara Watukosek tempat pelatihannya.

  • Dua Sosok Eropa Biang Onar di Lombok

    PENYULUT perang itu bernama George Peacock King dan Vasily Panteleimonovich Malygin. Keduanya orang Eropa. King warga Inggris kelahiran Bengal, sedangkan Malygin berasal dari Moldova.

  • Di Bawah Bidikan Intelijen Negara

    8 JULI 1952. Berlin Barat. Masih pukul 07.30 ketika pengacara Walter Linse berangkat kerja. Di dekat rumahnya, dua lelaki mendekat dan meminjam korek api. Tiba-tiba dia ditarik paksa dan diseret ke dalam mobil yang terparkir di Gerichts Strasse –kini Walter Linse Strasse untuk mengenang peristiwa tersebut. Mobil kemudian melaju kencang ke arah Berlin Timur.

  • Destinasi di Ceruk Gempa

    ALFRED Russell Wallace datang ke Lombok bertepatan dengan musim telih kembang komak . Cukup lama naturalis Inggris ini berkeliaran di Pulau Lombok, yaitu sejak 17 Juni hingga 29 Agustus 1856. Meski ia sudah terbiasa dengan iklim di negerinya yang bertemperatur rendah, namun ia sempat merasa tersiksa saat berada di Kopang, Lombok Tengah. Udara dingin menusuk kulit, menembus hingga ke belulang.

bottom of page