Hasil pencarian
9710 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Siapakah Molotov yang Jadi Nama Bom
POLDA Jawa Timur mengamankan tiga mini bus yang membawa rombongan yang diduga akan mengikuti aksi 22 Mei di Jakarta. Saat diperiksa di mobil itu ditemukan cairan dan botol yang diduga bom molotov. “Ada empat botol. Ada satu kotak lain, belum kami lihat. Barang itu tadi, kalau saya lihat, botol yang berbau minyak tanah, semacam bom molotov, kita akan dalami ini,” kata Irjen Pol. Luki Hermawan, Kapolda Jawa Timur, dikutip kumparan.com . Bagaimana sejarah bom molotov dan siapa Molotov? Bom molotov diciptakan orang-orang Finlandia untuk mengejek Vyacheslav Molotov, Menteri Luar Negeri Uni Soviet.
- Maukar Mengincar Bung Besar
LETKOL (Pnb.) Heru Atmodjo sudah lama berhenti dari Angkatan Udara. Diberhentikan tepatnya. Tapi dia masih ingat Daniel Maukar, pilot muda cemerlang yang selalu digadang-gadangnya. “Dia murid saya, dia orangnya cerdas dan pemberani,” kata Heru kepada Historia pada 2010. Karena berani dan termasuk ke dalam jajaran pilot yang unggul, Dani, demikian panggilan akrabnya, dapat posisi sebagai pilot tempur. Kesempatan yang jarang diberikan kepada pilot kecuali mereka yang terpilih dan lolos seleksi ketat. “Maukar salah satu yang kami anggap bagus. Makanya dia jadi pilot tempur,” kenang Heru. Heru meninggal pada 29 Januari 2011. Sempat dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata sebelum tiga bulan kemudian kuburannya digali dan jasadnya dipindahkan ke Bangil, Sidoarjo, Jawa Timur. Kata Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dia tak pantas dikuburkan di sana karena terlibat peristiwa G30S 1965.
- Asal Usul Jalan Tol di Indonesia
MENJELANG akhir bulan puasa tahun 2015, Presiden Joko Widodo meresmikan jalan tol terpanjang di Indonesia, yaitu Cipali atau Cikopo-Palimanan. Selanjutnya, ada beberapa proyek tol yang sedang dibangun, seperti Solo-Kertosono, Balikpapan-Samarinda, empat ruas tol Sumatera, enam tol dalam kota Jakarta dan beberapa proyek tol lainnya. Orang yang pertama kali mengusulkan jalan tol adalah Walikota Jakarta, Sudiro (menjabat tahun 1953-1960). Usulan jalan berbayar itu sebagai cara pemerintah daerah Kotapraja Jakarta mendapatkan dana tambahan untuk pembangunan. “Pemerintah Daerah Kota Praja Jakarta Raya berusaha keras, karena pengeluarannya terus meningkat, padahal subsidi dari pemerintah pusat tetap terbatas,” tulis Subagijo IN dalam Sudiro Pejuang Tanpa Henti.
- Kisah Bintang Mahaputra untuk Yuri Gagarin
Yuri Alekseyevich Gagarin adalah manusia bumi pertama yang mencapai luar angkasa. Pada 12 April 1961, kosmonot Uni Soviet itu berangkat ke luar angkasa menggunakan pesawat antariksa Vostok-1. Penerbangan itu berjalan dengan sukses. Selama 108 menit, Gagarin mengitari orbit bumi. Keberhasilan Gagarin terbang ke luar angkasa memukau seluruh dunia. Begitu mendarat kembali ke bumi, dia disambut bagaikan pahlawan umat manusia. Berbagai suratkabat dari berbagai negara kemudian memberitakan sosok Yuri Gagarin. Pemberitaan itu sampai pula ke Indonesia dan turut memantik apresiasi Presiden Sukarno. Pada Juni 1961, Bung Karno bahkan menganugerahi tanda jasa Bintang Mahaputra kepada Gagarin. Penghargaan prestisius itu makin mempererat hubungan Indonesia dengan Uni Soviet. Namun, terselip drama unik yang mengiringi kisah penyematan Bintang Mahaputra bagi Gagarin.
- Yuri Gagarin Si Anak Petani yang Mengantariksa
SENYUM hangat Yuri Gagarin kini bisa dilihat siapapun setelah diabadikan lewat patung setinggi 2,82 meter di Taman Mataram, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kosmonot pertama dunia yang mengantariksa itu berdiri gagah dalam bentuk patung perunggu dengan kedua tangannya ke atas mengiringi senyum khasnya. Didirikannya patung Gagarin diapresiasi positif banyak pihak. Salah satunya oleh Marsekal Muda (Purn) Tatang Kurniadi, ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) periode 2007-2015. “Baguslah itu. Jadi nilai yang bagus untuk mengingatkan generasi muda sekarang bahwa mereka menikmati komunikasi real time seperti internet dan lain-lain berangkat dari revolusi dan eksplorasi ruang angkasa dari peluncuran satelit Sputnik 1 sampai Yuri Gagarin yang jadi manusia pertama di ruang angkasa,” ujar Marsda Tatang kepada Historia.
- Yuri Gagarin dan Para Kosmonot Pahlawan Indonesia
TAHUN ini genap tujuh dasawarsa pemerintah RI dan Rusia menjalin hubungan diplomatik. Sebagai pengikat agar hubungan kian erat, sebuah patung manusia pertama di angkasa, Yuri Gagarin, resmi dipasang di Taman Mataram, Jakarta pada Rabu (10/3/2021). Patung perunggu setinggi 282 cm dan berbobot 500 kg itu merupakan karya seniman Rusia Alexei Dmitrievitch Leonov. Peresmiannya dilakukan lewat penandatanganan prasasti di Balai Kota DKI Jakarta pada Rabu (10/3/2021) oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI Mahendra Siregar, Duta Besar Rusia untuk RI Lyudmila Vorobieva, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. “Gubernur DKI sampaikan: ‘kehadiran patung Yuri Gagarin memaknai keeratan warga Jakarta dengan Rusia, khususnya dalam mendukung sejarah 70 tahun hubungan kedua negara serta menciptakan ruang terbuka hijau yang sejuk dan nyaman bagi publik Jakarta. Sementara Deputi Walikota Moskow, Sergey Cheremin, mengapresiasi interaksi yang kuat dalam kerjasama kebudayaan antara Jakarta dan Moskow meski di tengah pandemi,” bunyi pernyataan tertulis Kementerian Luar Negeri RI di laman resminya , Kamis (11/3/2021).
- Mengulik Lirik Indonesia Raya
BELASAN pelajar dari SMP 14 Jakarta, pagi itu (28/10) mengunjungi Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106, dibawah pengawasan Adro’i Abdullah, guru mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan. “Memberikan pelajaran sejarah seperti ini efektif untuk mengenalkan anak-anak dengan sejarahnya, tragis kalau anak-anak sampai tidak tahu,” ujarnya. Semakin siang, suasana di museum semakin meriah ketika datang serombongan remaja, dengan kemeja dan celana panjang putih, memasuki ruangan utama gedung itu. “Kami dari Cilay Ensemble, Jakarta, siang ini akan menyanyikan usulan revisi lagu Indonesia Raya, momentum 84 tahun Sumpah Pemuda dan museum ini sengaja kami pilih untuk lebih mudah diingat,” ujar Cilay, pemusik asal Padang, pendiri sekaligus pimpinan Cilay Ensemble. “Sumpah Pemuda tahun 1928 dilaksanakan pada hari minggu, dan tahun ini jatuh pada hari minggu pula, kami berpandangan ini kebetulan yang baik,” tambahnya.
- Berdiri Menyanyikan Indonesia Raya
KETUA Majelis Mujahidin Indonesia Irfan S. Awwas menolak berdiri saat peserta Kongres Umat Islam VI di Yogyakarta menyanyikan lagu Indonesia Raya , Rabu (11/2) lalu . Dia memilih menyanyi sambil duduk. Dia beralasan tak ada aturannya. Menurutnya, seperti dikutip tempo.co , berdiri saat menyanyikan lagu kebangsaan adalah sikap yang dibuat-buat. Bahkan, dia menuding mereka yang berdiri menyanyikan Indonesia Raya sebagai pengkhianat. Lagi Indonesia Raya diciptakan Wage Rudolf Supratman. Dia kali pertama memperdengarkan lagu itu melalui gesekan biolanya pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, dan sebuah pertunjukan kesenian. “Pada kesempatan kedua itu beberapa orang mulai berdiri menghormati ketika Indonesia Raya dinyanyikan,” tulis St. Sularto, “Wage Rudolf Supratman Menunggu Pelurusan Fakta Sejarah,” Prisma , 5 Mei 1983.
- Dolly Salim, Penyanyi Indonesia Raya Pertama di Kongres Pemuda
DOLLY SALIM tak menyangka tanggal 28 Oktober 1928 akan menjadi hari bersejarah dalam hidupnya. Bersama Johana Tumbuan, rekannya dari Minahasa, mereka adalah segelintir pemudi yang menghadiri Kongres Pemuda II di Jalan Kramat Raya No 106 Jakarta. Dolly yang bernama lengkap Theodora Athia Salim masih remaja berusia lima belas tahun kala itu. Dia lahir pada 26 Juli 1913. “Semula saya menolak ajakan mereka. Maklumlah, kami belum memenuhi persyaratan dalam usia sebagai pemuda. Tetapi beberapa teman memaksa saya. Akhirnya saya pun ikut bersama-sama ke Kramat,” tutur Dolly, dikutip majalah Pertiwi, 19 Oktober-1 November 1987. Meski bukan sebagai anggota kongres, Dolly mewakili organisasi kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Natipij berada di bawah naungan Persatuan Pemuda Islam atau Jong Islamieten Bond (JIB), di mana ayah Dolly, Haji Agus Salim berkedudukan sebagai penasihat.
- Indonesia Raya Mengancam Belanda
MEMASUKI sidang ketiga Kongres Pemuda II, polisi rahasia Belanda makin siaga. Takut-takut kalau para pemuda mengadakan gerakan. Tetiba Ketua Panitia Kongres Sugondo Djojopuspito dihampiri Wage Rudolf Supratman, peserta kongres merangkap wartawan Sin Po . “Bung Gondo, apakah saya dapat memperdengarkannya sekarang,” tanya Supratman yang menenteng kotak biola dan menggenggam secarik naskah lagu. Sugondo membaca naskah lagu itu. Kalimat “Indonesia Raya” dalam lirik lagu membuatnya cemas. Dia menyerahkan naskah lagu itu kepada petinggi pemerintah kolonial yang hadir, Charles van der Plas. Van der Plas malah menyarankan supaya meminta izin kepada perwira polisi Belanda. Sugondo tak bersedia. Supratman lantas meyakinkan kawannya itu.
- Dari Timbul Lahirlah Indonesia Raya
PADA suatu sore, Wage Rudolf Supratman, wartawan suratkabar Sin Po, tersentak oleh artikel dalam majalah Timbul . Musababnya sebuah kalimat, “Alangkah baiknya kalau ada salah seorang dari pemuda Indonesia yang bisa menciptakan lagu kebangsaan Indonesia, sebab lain-lain bangsa semua telah memiliki lagu kebangsaannya masing-masing!” Kalimat itu mengusik Supratman. Sepengetahuannya saat itu telah ada lagu Dari Barat Sampai ke Timur sebagai lagu kaum pergerakan . Tetapi, lagu itu belum mengesankan dan menggugah semangat berjuang. Dari situ muncul ide membikin lagu kebangsaan bukan sekadar lagu pergerakan. Hingga suatu kali di pertengahan 1926, Supratman dikunjungi kakak iparnya, Oerip Kasansengari. Dia mendapat kawan diskusi yang menyenangkan. Selama seminggu keduanya banyak berdiskusi, umumnya soal politik. Termasuk tentang artikel majalah dan idenya tentang lagu kebangsaan.
- Indonesia Raya Setelah Sumpah Pemuda
SEBELUM diperdengarkan dalam Kongres Pemuda II, Wage Rudolf Supratman sengaja mengedarkan salinan naskah lagu Indonesia kepada anggota kepanduan di Jakarta. Mereka lalu membagikannya secara berantai melalui cabang-cabang kepanduan. “Hampir semua pandu Indonesia di Jakarta mempunyainya. Jadi, yang mula-mula menyebarkan lagu Indonesia di Jakarta adalah para pandu,” tulis Bambang Sularto dalam Sejarah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya . Lagu Indonesia benar-benar populer di kalangan publik setelah Kongres Pemuda II. Sambutan hangat yang diterima Supratman segera disusul dengan publikasi masif naskah lagu itu. Sehari usai kongres, dia kebanjiran permintaan salinan naskah lagu gubahannya dari beberapa organisasi.






















