top of page

Hasil pencarian

9627 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Piala Afrika yang Dipandang Sebelah Mata

    JIKA di belantika sepakbola Eropa ada momen “Boxing Day” sepanjang musim liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru), di “benua hitam” Afrika juga ada hajatan dua tahunan African Cup of Nations (Afcon) atau Piala Afrika. Pada edisi ke-35 kali ini, Maroko jadi tuan rumah turnamennya yang dihelat kurun 21 Desember 2025-18 Januari 2026. Saat ini ke-24 tim sudah berkumpul di masing-masing base camp di Maroko di enam kota penyelenggara: Rabat, Casablanca, Marrakech, Agadir, Tangier, dan Fez. Namun, tak sedikit pelatih yang jengkel. Sejak awal Desember 2025, FIFA memberi keputusan yang memberatkan mereka, utamanya terkait kewajiban klub-klub Eropa melepas para legiun Afrika mereka. FIFA memberi keputusan bahwa klub-klub Eropa diwajibkan melepas para pemain Afrika yang dipanggil masing-masing tim nasional paling lambat 15 Desember 2025. Padahal, pada edisi-edisi sebelumnya para pemain Afrika itu wajib diizinkan meninggalkan klub untuk bergabung ke pemusatan latihan masing-masing tim nasional dua pekan sebelum hari-H turnamen. “(Klub Eropa) melepaskan pemain pada tanggal 15 untuk Afcon yang dimulai pada tanggal 21...itu omong kosong. Anda tak bisa mempersiapkan tim dengan serius hanya dengan dua atau tiga sesi (latihan),” kata pelatih timnas Angola berpaspor Prancis, Patrice Beaumelle, dikutip The Guardian , Jumat (19/12/2025). Hal serupa juga diutarakan pembesut timnas Benin asal Jerman, Gernot Rohr. Apalagi sudah sejak lama federasi Benin komplain soal itu kepada Confédération Africaine de Football (CAF) atau Konfederasi Sepakbola Afrika. “Ada kurangnya rasa hormat yang ditunjukkan kepada Afcon. Dalam sebuah rapat staf teknis dari semua tim peserta dengan CAF, kami mendesak para pemain kami, yang kebanyakan di klub-klub Eropa, untuk dilepaskan, demi kami bisa memulai persiapan. CAF tidak bisa memberikan kami jawaban yang jelas,” kata Rohr. FIFA sendiri tak bisa menyangkal bahwa memang selama ini penyelenggaraan Afcon selalu berbenturan dengan jadwal padat kompetisi Eropa di musim dingin. Sudah bukan lagi rahasia bahwa selama ini Piala Afrika selalu dianggap underrated alias dipandang sebelah mata. Pada Desember 2021 atau menjelang Piala Afrika 2022, Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan kembali soal keberatannya akan Piala Afrika yang diselenggarakan setiap dua tahun, bukan empat tahun sebagaimana Piala Eropa, Piala Asia, atau Piala Dunia. Atau setidak-tidaknya perhelatannya dimundurkan ke musim gugur agar tidak clash dengan kalender padat liga-liga Eropa serta Champions League dan Europa League. “Jika kita bisa menyelaraskan kalendernya dan memastikan Piala Afrika bisa dimainkan sebagai bagian dari jeda internasional yang lebih panjang pada musim gugur, maka saya pikir kita bisa mencapai sesuatu yang cukup penting,” ujar Infantino. Namun CAF bergeming. Pun dengan prinsip mereka yang selama ini mereka pegang sejak inagurasi Piala Afrika 1957. Penyelenggaraan setiap dua tahun sekali diperlukan untuk terus mengejar ketertinggalan mereka dari sepakbola Eropa dan Amerika Selatan. Laga pembuka antara tuan rumah Maroko kontra Comoros (X@CAF_Online) Mulanya Piala Afrika Sudan, negeri di timur laut Benua Afrika ini kerap diterpa peperangan yang mengarah kepada genosida. Termasuk Perang Saudara Sudan yang berlangsung sejak 15 April 2023 hingga sekarang antara pasukan pemerintah Sudan, pemberontak SLM al-Nur, dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) yang diduga dibekingi Uni Emirat Arab. Padahal, di negeri itulah Piala Afrika pertamakali dihelat 68 tahun lampau. Ben Jackson dalam The African Cup of Nations: The History of an Underappreciated Tournament menulis, semua berawal dari Kongres FIFA ke-29 di Bern, Swiss, Juni 1954. Saat itu Afrika mulai diakui sebagai zona sepakbola tersendiri untuk kualifikasi Piala Dunia berikutnya. Mesir diundang ke kongres tersebut dengan diwakili Presiden Federasi Sepakbola Mesir (EFA) Abdel Aziz Abdallah Salem, mewakili zona Afrika. Pasalnya dari empat negara Afrika yang statusnya merdeka kala itu –Afrika Selatan, Sudan, dan Ethiopia– Mesirlah yang sudah punya banyak pengalaman dalam sepakbola internasional: di Olimpiade Antwerp 1920 maupun di Piala Dunia 1934. “Kemudian pada (jelang) Kongres FIFA ke-10 di Portugal (9-10 Juni 1956), gagasan menggelar turnamen kontinental mulai dibentuk. Pada 1956 itu, Sudan bergabung dengan Mesir, Ethiopia, dan Afrika Selatan, membicarakan masa depan sepakbola Afrika dan gairahnya untuk menciptakan turnamen bagi benua mereka,” tulis Jackson. Maka bertemulah para perwakilan asosiasi sepakbola tiga negara itu pada 8 Juni 1956 di Hotel Avenida, Lisbon. Mereka adalah Abdel Aziz Abdallam Salem dan Mohamed Latif mewakili Mesir, Bawady Mohaed dan Abdelhalim Mohamed dari Sudan, dan Fred Fell (beberapa sumber menyebut Fred Will) mewakili Afrika Selatan. Mereka pun sepakat untuk menggulirkan hajatan sepakbola Afrika setiap dua tahun sekali. Tak hanya soal turnamen. Konfederasinya juga sudah mulai jadi pembahasan. “Mesir sebagai negara yang paling berpengalaman dalam sepakbola jadi unggulan sebagai tuan rumah. Akan tetapi ketika pasukan Israel menginvasi Mesir pada 29 Oktober 1956 (Krisis Suez 29 Oktober-7 November 1956, red. ), prospek itu lenyap seketika. Krisis Suez berarti Mesir dianggap tidak cocok sebagai negara tuan rumah. Sudan pun menawarkan (ibukota) Khartoum sebagai tuan rumah,” lanjutnya. Pertemuan empat asosiasi negara itu berlanjut lagi di Grand Hotel, Khartoum, 8 Februari 1957. Di tempat itu pula disepakati pembentukan CAF dengan empat negara pendirinya: Mesir, Ethiopia, Sudan, dan Afrika Selatan. “Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan aturan bye untuk turnamennya disepakati dan diputuskan turnamen pertamanya di Khartoum digelar selama pekan pertama Februari itu juga. Akan tetapi SAFA (federasi sepakbola Afrika Selatan) menghubungi federasi Sudan dengan pertimbangan Krisis Suez, menyarankan kompetisinya dibatalkan atau setidaknya ditunda. Federasi Sudan menjawab bahwa turnamennya akan tetap digelar,” ungkap Chris Bolsmann dalam artikel “White Football in South Africa: Empire, Apartheid and Change, 1892-1977” yang termaktub di buku South Africa and the Global Game: Football, Apartheid and Beyond. Meski begitu, mengingat masih sedikitnya negara yang sudah merdeka menyulitkan CAF untuk menyebar undangan kepada sejumlah negara non-pendiri. Koloni Gold Coast (kini Ghana) sempat diundang, akan tetapi sampai H-1 turnamen tidak memberikan jawaban. Afrika Selatan juga pada akhirnya mundur gegara halangan kebijakan dan politik apartheid. “Sebenarnya kami menerima dia (Fell) dan menerima Afrika Selatan dan tim mereka bersedia untuk datang ke Khartoum. Tetapi kemudian kami membicarakan hal sensitif. Dia (Fell) bilang bahwa pemerintahnya menyatakan yang akan dikirim antara tim nasional berisi pemain kulit putih atau kulit hitam. Kami bilang, tidak. Kami ingin tim (Afrika Selatan) berisi pemain kulit hitam dan kulit putih,” kenang Abdel Halim Mohammed dari federasi Sudan, dikutip Ian Hawkey dalam Feet of the Chameleon: The Story of African Football. Karena pemerintah Afrika Selatan bersikeras, SAFA pun disanksi CAF. Pada akhirnya, hanya tiga tim yang ikut serta. Beruntung bagi Ethiopia – yang terundi melawan Afrika Selatan – bisa langsung ke final karena Afrika Selatan mundur. Sementara Mesir dan Sudan mesti “saling bunuh” demi bisa melaju ke final untuk bertemu Ethiopia. “Sudan sempat meminta undiannya diulangi lagi tetapi ditolak Yidnekachwe Tessema, salah satu petinggi CAF. Ia mengutip regulasi FIFA bahwa undian awal harus dihormati,” sambung Jackson. Mesir yang memenangi Afcon perdana pada 1957 (Wikipedia/Pinterest) Piala Afrika perdana pun digelar 10-16 Februari 1957 dengan venue di Municipal Stadium (kini Khartoum International Stadium) yang berkapasitas 30 ribu penonton. Trofi yang diperebutkan merupakan donasi pribadi dari Abdallah Salem, presiden EFA sekaligus presiden CAF. Laga pembuka antara Mesir kontra Sudan pun digelar di Municipal Stadium pada 10 Februari 1957. Pada pertandingan yang dipimpin wasit Gebeyehu Doube dari Ethiopia itu, Mesir menang tipis 2-1. Pun di final pada 16 Februari 1957 di stadion yang sama dengan dipimpin wasit Mohammed Youssef dari Sudan, Mesir menang telak 4-0 atas Ethiopia. Mesir jadi juara perdana Piala Afrika pada 1957. “Bahkan hanya dengan tiga tim, panitia penyelenggara mengaku puas dengan perhelatannya. Laporan mereka ke FIFA memang sempat menimbulkan pertanyaan tentang obyektifitas wasit, akan tetapi FIFA memuji perhelatan yang adil dan imparsial itu,” tambahnya. Pada perhelatan edisi berikutnya di Piala Afrika 1959 dengan Mesir sebagai tuan rumah kurun 22-29 Mei 1959, juga hanya diikuti tiga negara yang sama. Bedanya kali ini sistemnya diubah menjadi klasemen atau round-robin agar ketiga tim saling bertemu. Lagi-lagi Mesir yang gemilang dengan hasil dua kali menang atas Ethopia (4-0) dan Sudan (1-0). Mulai edisi ketiga, di mana Ethiopia mendapat jatah tuan rumah Piala Afrika 1961 hingga sekarang, turnamennya berangsur-angsur diikuti lebih banyak peserta. Faktornya sudah lebih banyak negara Afrika yang terlepas dari belenggu kolonialisme dan penjajahan. Afrika Selatan sendiri baru kembali diterima sebagai peserta di Piala Afrika 1996. Itu enam tahun pasca- apartheid dihapuskan dan Afrika Selatan menggelar pemilu demokratisnya pada 1994. Pada 2013 sempat diberlakukan penyesuaian bahwa gelaran Piala Afrika dua tahunan seterusnya akan dihelat pada tahun-tahun ganjil. Alasannya untuk menghindari bentrokan jadwal dengan Piala Dunia.

  • Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

    ORANG Aceh turut menyertai rombongan Sisingamangaraja XI ketika berkunjung ke Simalungun. Salah satu dari orang Aceh itu bergelar “Panglima Perang”, segera menarik perhatian Tuan Rondahaim Saragih, penguasa Kerajaan Raya. Konon katanya, Panglima Perang punya ilmu bertempur dan kanuragan. Tuan Rondahaim minta Panglima Perang mengajarkan cara melawan serdadu Kompeni. Untuk itu, Tuan Rondahaim rela membayar uang sebanyak $24. Namun, pengajaran yang diberikan Panglima Perang rupanya tak sesuai harapan. “Ambil cabe, lalu digiling, kemudian percikkan ke mata serdadu itu, agar mereka hanya bisa meraba-raba, katanya [Panglima Perang]. Uang pun ludes,” sebagaimana dikisahkan Pdt. Wismar Saragih dalam Barita Ni Tuan Rondahaim  atau Riwayat Hidup Tuan Rondahaim . Menurut Augustin Sibarani dalam Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII , pertemuan Sisingamangaraja dengan Tuan Rondahaim terjadi pada 1871. Kedatangan Sisingamangaraja ke Pematang Raya untuk bertemu Tuan Rondahaim guna membicarakan suatu perjanjian pertahanan bersama. Aliansi keduanya terkait kuat dengan penetrasi Belanda yang sudah menguasai sebagian besar wilayah Sumatra Timur. Begitu pula dengan takluknya kerajaan-kerajaan Melayu setempat yang mengakui kekuasaan Belanda, seperti Kesultanan Deli, Serdang, Asahan, dan Langkat. Wilayah Deli terutama menjadi penyangga penting kekuasaan Belanda di Karesidenan Sumatra Timur. Lewat konsesi yang diberikan Sultan, sebagian besar Tanah Deli dibeli oleh pemodal Belanda untuk dijadikan perkebunan tembakau yang bernilai tinggi di pasaran Eropa. Ekspansi ini kemudian merambah ke wilayah lain seperti Tanah Karo dan Simalungun. Namun, usaha Belanda untuk memasukan Simalungun ke dalam karesidenan menemui jalan terjal. Menurut Erika Revida Saragih, dkk. dalam Napoleon   Der Bataks: Kisah Perjuangan Tuan Rondahaim Saragih Melawan Belanda di Sumatra Timur, 1828–1891 , penaklukkan daerah Simalungun, yang ketika itu disebut oleh Belanda dengan istilah Batak Timur, sangat memperhitungkan kekuatan pasukan Kerajaan Raya yang dipimpin Tuan Rondahaim Saragih. Selama Tuan Rondahaim berkuasa di Raya, pemerintah kolonial Hindia Belanda kesulitan untuk memasuki wilayah Simalungun. Pengaruh Tuan Rondahaim sangat besar di kalangan raja-raja Simalungun. “Beliau berpinrinsip tidak ada kompromi dengan penjajah Belanda, termasuk dengan penguasa pribumi yang dipandang sudah tunduk kepada Belanda,” catat Erika Revida, dkk. Tuan Rondahaim mulai menyalakan perlawanan terbuka terhadap Belanda setelah Raja Padang (kini wilayah Tebingtinggi), Tengku Muhammad Nurdin diturunkan dari takhtanya pada 1885. Tengku Muhammad Nurdin masih terikat tali kekerabatan dengan Tuan Rondahaim. Setelah didongkel dari kekuasaannya, Tengku Nurdin kemudian ditawan di Medan oleh Sultan Deli atas hasutan Belanda. Di setiap kampung, Tuan Rondahaim memerintahkan mobilisasi rakyat untuk dipersiapkan menjadi Pasukan Raya. Untuk itu, Tuan Rondahaim melibatkan secara aktif semua lembaga patron masyarakat Simalungun seperti parbapaan , partuanan , dan pengulu  yang tunduk di bawah kekuasaannya sesuai dengan kepakarannya. Pasukan-pasukan dari setiap kampung dipimpin oleh para panglima perang masing-masing yang terampil dan terlatih. Nama-nama panglima perang Tuan Rondahaim antara lain Gaim, Dongdong, Luan, Juram, Jarap, Riang, Salain, Jingkar, Poda, Tobayas, Tuan Angga, dan Toralima. Mereka umumnya memiliki keahlian dalam ilmu bela diri tradisional Simalungun, seperti pencak silat Simalungun, dihar, kebal peluru, hingga ahli strategi perang. Tuan Rondahaim juga mendatangkan prajurit tangguh dari Aceh Gayo untuk melatih pasukan Kerajaan Raya. Ribuan pasukan Raya disebar di sepanjang perbatasan antara Raya dengan Deli, Serdang, dan Tanah Karo. Mereka selalu berpatroli menjaga wilayah perbatasan Simalungun dengan daerah-daerah yang sudah diduduki Belanda. Patroli pasukan Raya ini mengamankan perhubungan antara Buntu Raya di Pematang Raya sebagai pusat pemerintahan Raya dengan Padang-Bedagai-Tebingtinggi, Bajalingge, Pagurawan, atau wilayah pelabuhan di pesisir timur Sumatra. Kehadiran mereka sekaligus menjamin lancarnya hubungan perdagangan dengan pedagang asing di Penang (Selat Malaka). “Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila bentrokan antara pasukan Raya dengan pasukan Belanda selalu terjadi di kampung Dolok Merawan, Dolok Kahean, Bandar Bejambu, Si Barau, Tebing Tinggi, Padang [Bulian], dan kampung-kampung yang menghubungkan pusat Kerajaan Raya dengan wilayah pesisir,” tulis Erika Revida, dkk. Pada September 1885, Tuan Rondahaim mengerahkan pasukannya menyerbu Padang Bulian. Ribuan pasukan Raya menduduki Hulu Padang dan Bedagai. Selanjutnya menyerang kampung Bandar Bejambu di Sungai Sibarau. Peristiwa ini dikenal sebagai Perang Padang I atau Perang Raya. Perang Padang II terjadi pada Oktober 1887. Pasukan Raya menyerang perkebunan di Tebingtinggi dari arah Pagurawan sehingga mencemaskan para tuan kebun dan kontrolir Belanda. Namun, perlawanan Tuan Rondahaim mulai dipatahkan setelah Belanda melancarkan balasan lewat ekspedisi militer di bawah pimpinan Letkol Van de Pol. Perlahan pasukan Raya dipukul mundur oleh pasukan Belanda. Ketika perlawanan frontal tidak mampu lagi dimenangkan, Tuan Rondahaim mengalihkan kekuatannya secara gerilya. Bergerak di malam hari dengan unit-unit kecil, melancarkan sabotase, dan membakar kampung-kampung, perkebunan, serta bangsal tembakau yang dikuasai Belanda. Tuan Rondahaim juga menjalankan taktik lain, yaitu menyuap kuli-kuli kebun tembakau untuk merusak dan membakar kebun-kebun tembakau milik tuan kebun Belanda. Hingga akhir hayatnya, Tuan Rondahaim tak pernah menyerah kepada Belanda. Dia juga tak pernah disentuh apalagi ditangkap pasukan Belanda. Sayangnya, perjuangan terhenti akibat kondisi fisik yang menua dan didera penyakit. Menurut Wismar Saragih, Tuan Rondahaim menderita penyakit raja. Ini adalah penyakit yang lazim diderita oleh orang yang mempunyai banyak istri. Kemaluannya membengkak. “Semua datu  di Raya dikumpulkan untuk mengobati beliau, namun beliau tetap bicara bersemangat sampai enam hari sebelum meninggal dunia. Alat kelaminnya terpaksa dibungkus agar beliau tahan membawa-bawanya,” kata Wismar. Tuan Rondahaim Saragih wafat pada 1892. Sepeninggal Tuan Rondahaim, Kerajaan Raya kian melemah. Anak-anaknya terlibat friksi internal sehingga mengundang Belanda untuk mengintervensi. Begitu pula dengan kerajaan-kerajaan lain di Simalungun, seperti Siantar, Panei, dan Tanah Jawa, yang berhasil ditundukkan Belanda memasuki abad ke-20. Sejak itu, Tanah Simalungun masuk ke dalam bagian Karesidenan Sumatra Timur di bawah kuasa pemerintah kolonial Belanda.*

  • Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

    SUASANA Kota kecil Buzancy di Ardennes, Prancis begitu tenang. Populasinya per 2022 pun tak lebih dari 400 jiwa. Namun kota seluas 22,67 km² di pelosok timur laut Prancis yang dekat dengan perbatasan Belgia itu menyimpan catatan warisan yang hilang tentang sebuah masjid yang terkait dengan penguasa besar dari dunia Islam, Sultan Salahuddin al-Ayyubi (ejaan Barat: Saladin). Sisa-sisa warisan itu terdapat di sebuah bangunan sekolah dasar Ecole Primaire Jacques Prévert, di bilangan Rue du Mahomet alias Jalan Nabi Muhammad, yang ditandai dengan plang nama jalan: Rue du Mahomet. Bangunan sekolah itu dibangun di atas reruntuhan Masjid Buzancy. Diimbuhi sebuah lambang bangsawan d’Anglure berupa perisai kuning dengan kombinasi dekorasi sejumlah lonceng burung perak dan bulan sabit merah. Disebutkan, masjid itu dibangun oleh seorang ksatria dan bangsawan Jean d’Anglure. Tak diketahui pasti kapan masjid itu dibangun. Beberapa sumber menyebut, masjid dibangun akhir abad ke-12 dan sumber lain menyatakan dibangun pada awal abad ke-13. “(Masjidnya) dibangun di awal abad ke-13 oleh seorang ksatria Perang Salib sebagai bukti rasa terima kasihnya telah dilepaskan dari penahanan, meskipun sepertinya tak pernah digunakan dan sekarang tersisa reruntuhannya,” ungkap Ingvar Svanberg dan David Westerlund dalam Islam Outside the Arab World. Litograf Masjid Buzancy di abad ke-19 (Photogravure parisienne de monuments historiques) Kisah Kejujuran di Balik Masjid Buzancy Satu dari sekian catatan awal masjid dikisahkan seorang arsiparis Société Orientale de Paris, Jouffroy d’Eschavanne, dalam suratnya kepada arsitek Hector Horeau tahun 1846. Saat itu Société Orientale hendak membangun sebuah masjid raya di Paris yang rencananya dibantu Horeau sebagai arsitek. “Ketika Anda merilis rencana Anda membangun sebuah masjid di Paris beberapa waktu lalu, saya hanya ingin mengingatkan bahwa sebuah masjid sudah pernah lebih dulu eksis di Prancis pada abad ke-12. Monumen itu jarang diketahui oleh para arkeolog. Letaknya di sebuah desa di Buzancy, Ardennes. Penduduk lokal menyebutnya Masjid Muhammad,” tulis d’Eschavanne, dikutip buku kumpulan catatan Revue de L’Orient et de L’Algérie yang dihimpun M.O. Mac Carthy. Ia juga menyebutkan bahwa masjidnya dibangun oleh Jean d’Anglure. D’Anglure dikisahkan sebagai bangsawan-ksatria yang tertawan pasca-Sultan Salahuddin merebut kembali Yerusalem sesudah Pengepungan Yerusalem (20 September-2 Oktober 1187). “Suatu hari ketika terluka sesudah bertempur dengan musuh, pihak Arab menawannya. Ksatria kita itu kemudian dibawa ke hadapan Saladin yang kondang itu, di mana sang sultan merawat lukanya dengan rasa hormat yang tak pernah disangka-sangka oleh ksatria Perang Salib itu,” lanjut d’Eschavanne. Cukup lama d’Anglure jadi tawanan Sultan Salahuddin. Namun di masa itu pula tumbuh rasa percaya dan Sultan Salahuddin bersedia membebaskannya. “Dikisahkan juga oleh (pendeta dan penjelajah) Jean le Long bahwa Lord Anglure kemudian dibebaskan oleh Saladin dengan tebusan sebagai syarat,” tulis Abd al-Rahman Azzam dalam Saladin. Syaratnya, d’Anglure harus memberikan sejumlah upeti dan harta benda kepada Sultan Salahuddin di Yerusalem, Palestina. Maka pulanglah d’Anglure ke kediaman dan kastilnya di Anglure, di tepi Sungai Aube. Namun, ksatria yang kehilangan satu bola matanya itu hanya bisa lemas karena hartanya sudah terkuras. Ia tak bisa memenuhi syarat tebusannya kepada sang sultan. Karena sudah memegang sumpah dan janji, d’Anglure kembali menghadap Salahuddin. “Properti dan harta bendanya terlalu sedikit untuk membayar tebusan. Ia pun kembali ke kediaman Saladin dengan niat menjadi tawanan lagi. Saladin yang tersentuh dengan rasa hormat dan kebesaran hatinya, membebaskannya dengan syarat bahwa ia harus membangun sebuah masjid ketika ia pulang lagi,” tamah Azzam. Beberapa sumber lain menyebutkan adanya syarat kedua dan ketiga, yakni bahwa para keturunan d’Anglure akan menyandang nama “Saladin” dan lambang bangsawannya harus memperlihatkan bulan sabit khas lambang Islam. Buktinya seperti lambang bangsawannya yang disebutkan di atas dan sejumlah keturunannya pun memakai nama “Saladin”, salah satunya antropolog dan pakar etnografi Kanada, Bernard Saladin d’Anglure. “Semua syarat itu ditepati d’Anglure ketika ia kembali dan membangunn sebuah masjid. Begitulah, wahai sahabatku Horeau, sejarah monumen tersebut. Meskipun dalam keadaan miskin, ia tetap menepati janjinya,” tukas d’Eschavannes dalam suratnya. Meski kemudian masjidnya hanya bertahan sekitar 650 tahun. Pasalnya pada masa Revolusi Prancis (1789-1799), masjidnya dihancurkan kaum proletar Prancis yang menjarah tidak hanya masjid tapi sejumlah properti keluarga bangsawan d’Anglure. Baru pada 1834, sisa-sisa reruntuhan masjidnya dibangun sebuah sekolah.

  • Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

    JIKA membandingkan band rock God Bless dengan tokoh pewayangan, mungkin padanan yang pas adalah Gatot Kaca. Keduanya sama-sama sudah mampu berperang meskipun baru dilahirkan. Ya, God Bless ketika baru muncul sudah diperhitungkan meski belum punya album.   God Bless, yang digawangi Ahmad Albar dkk., mula-mula dilihat karena aksi panggungnya. Berbeda dari kebanyakan band, yang baru dipandang orang setelah punya album.   God Bless punya Albar yang sudah malang melintang di belantika pop Belanda bersama Clover Leaf. Begitu pula gitaris awal God Bless Ludwig Lemans. Drumer pertama God Bless, mendiang Fuad Hassan, juga dianggap drumer terbaik Indonesia sebelum kematiannya pada 9 Juni 1974. Pemain bass-nya, Donny Fatah Gagola, pun sudah terkenal. Begitu juga pemain kibornya, Deddy Dores, yang sebelumnya merilis album bersama Freedom of Rhapsodia.   Seperti banyak band besar, God Bless juga mengalami bongkar-pasang pemain berkali-kali. Ludwig dan Deddy cabut sebelum kematian Fuad. Anak-anak keluarga Pegangsaan, yang adalah pentolan Gypsy, sempat sebentar mengisi kekosongan di God Bless sampai kemudian tiga pemuda dari Jawa Timur bergabung. Ada gitaris Ian Antono, drumer Teddy Sudjaya, dan kibordis Yocky Suryoprayogo bergabung bersama Albar dan Donny. Kendati belum punya album di saat sudah tenar, God Bless sebenarnya bukan tak dilirik label. Beberapa perusahaan rekaman sudah mengajak Albar untuk rekaman.   “Sebenarnya kalau Albar mau, kemampuan otak dia dalam berkomersil mungkin lebih bagus dibanding Ucok Harahap,” terang Nomo Koeswoyo, mantan drumer Koes Bersaudara yang mengelola Yukawi Record, dalam majalah Aktuil  189 tahun 1976.   Sebelum Yukawi Record, Remaco (kependekan dari Republic Manufaturing Company) –yang dijalankan oleh Eugene Timothy– juga pernah menawari God Bless membuat album. Tawaran Remaco sama seperti tawaran Yukawi, ditolak God Bless.   “Kita terpaksa pindah rekaman buat bikin ilustrasi musik film Semalam Di Malaysia, karena dikerjai Remaco. Gara-garanya kita menolak bikin rekaman di situ. Rekaman komersil maksudnya,” aku Teddy Sudjaya.   Pindah ke label lain dipilih God Bless karena berprinsip harus menyajikan musik rock yang berkualitas dan juga idealis. Pasar bukan menjadi kiblat bermusiknya.   Padahal, dekade 1970-an merupakan era di mana pengusaha rekaman yang disebut “Cukong Kaset” lebih suka lagu yang laris manis seperti kacang goreng saja. Bagi “Cukong Kaset”, Koes Plus adalah teladan pentingnya. Penolakan God Bless terhadap kemauan pasar membuat band yang digawangi Ucok Harahap, AKA, lebih dulu punya album. Meski cover albumnya terlihat gahar, beberapa lagu pop manis mendayu-dayu muncul di dalamnya.   “Kalau mau lihat AKA yang bagus, maka tontonlah kami di atas panggung, jangan lihat dan dengar rekaman AKA,” kata Ucok Harahap, yang kompromi bandnya dengan kemauan pasar itu dicap keras Aktuil  sebagai Prinsip Kecebong.   God Bless bertekad harus membuat musik bermutu, bukan yang sekadar laris manis. Meski bertentangan dengan kemauan para “cukong kaset”, God Bless mantap untuk menjadi band rock yang idealis.   “Masyarakat harus mengikuti musik kita, bukan kita yang digiring kemauan masyarakat,” begitu petuah yang diingat Ahmad Albar dari mending Fuad Hassan, dalam Aktuil 189 tahun 1976.   Pesan Fuad dijalankan Albar dan kawan-kawannya di God Bless. Perjuangan mereka untuk tetap berada di relnya membuahkan hasil di tahun 1975. Jalan untuk rekaman yang idealis terbuka untuk mereka. Adalah Pramaqua, lebel pendahulu dari Aquarius, yang membuka pintu untuk God Bless rekaman album pertamanya.   Ada beberapa bagian lagu-lagu di dalam album itu yang mirip suara Genesis. Mereka juga meng-cover lagu The Beatles “Eleanor Rigby”. Album pertama yang dirilis pada akhir tahun 1975 dan bertajuk God Bless  ini akhirnya menjadi salah satu album rock terbaik di Indonesia. God Bless memang bukan pembuat lagu yang produktif. Setelah God Bless , album kedua bertajuk Cermin baru dirilis pada 1980. Menyusul kemudian Semut Hitam (1988), Raksasa (1989), Apa Kabar  (1997), dan lain-lain.   Pada 1980-an, God Bless kembali mengalami bongkar-pasang personel. Salah satunya masuknya gitaris Eet Sjachranei yang menggantikan Ian Antono yang “absen”. Meski begitu, God Belss terus hidup dan berpengaruh bagi band-band rock setelahnya.   Roy Jeconiah Isoka Wurangian, eks vokalis Boomerang, salah satu yang menjadikan God Bless sebagai referensi bermusik. Saking mengidolakannya, Roy tak hanya menyukai satu-dua lagu God Bless.   “Semuanya enak kalau buat saya,” aku Roy Jeconiah Isoka Wurangian dalam Pameran Retrospektif God Bless 50 tahun (19 Februari 2024).   Memasuki era 2000-an, God Bless sudah dianggap band rock legendaris Indonesia. Banyak  anak band menjadikan God Bless panutan. Anak-anak muda yang kebanyakan lahir jauh setelah album pertama God Bless dirilis pun menyukai musik God Bless.*

  • Drummer Pertama God Bless

    SAMA-sama punya wajah Arab, nama pria ini mirip dekan Fakultas Ilmu Psikologi Universitas Indonesia yang kemudian jadi menteri di Kabinet Pembangunan V Soeharto: Fuad Hassan. Namun, usia keduanya bertaut jauh, juga profesinya. Fuad yang akademisi kelahiran Semarang, 26 Juni 1929, sementara Fuad yang ini kelahiran Yogyakarta, 24 Agustus 1942. Fuad “senior” berprofesi akademisi kemudian politisi, sedangkan Fuad “junior” tukang gebuk drum.   Fuad “drummer” menjadi yatim ketika masih kecil. Fuad kecil lalu ikut keluarganya pindah dari Yogyakarta ke Bogor. Menurut Camelia Malik, Fuad terakhir bersekolah di STM 1. Sekolah teknik menengah tempat Fuad belajar itu kemungkinan dulunya STM Negeri 1 Jakarta yang kini berada di Jalan Budi Utomo, dikenal sebagai STM Boedoet.   Fuad suka sepakbola dan tinju, namun dia lebih dikenal jago drum. Sebagai pemain drum, dirinya berpindah-pindah band sejak muda. Majalah Aktuil  nomor 149 tahun 1974 mencatat: pada 1962 Fuad ikut band Pandawa, lalu pindah ke Zaenal Combo setahun kemudian, pada 1964 ke Medenazz, dan pada 1965 ke Dieselina. Sedari 1966 hingga 1968, Fuad memperkuat The Pro’s. The Pros kependekan dari The Profesional, dengan Dimas Wahab sebagai pendiri sekaligus pemain bass-nya. Dimas Wahab adalah ayah dari tiga personil band Bragi yang sohor di era 1990-an. Pada 1968, Fuad berkelana ke Eropa. Di sana dia bermain untuk band Black Bird dari Italia.   “Di sana gue nonton Grand Funk, Led Zeppelin, Black Sabath. Semuanya satu aliran dan mereka mempunya showmanship  yang hebat dan merupakan musisi kelas satu,” kenang Fuad Hassan, dikutip Aktuil  nomor 81 tahun 1971.   Fuad suka musik rock, yang –dianggap underground–mulai mendunia akhir 1960-an. Namun, selama bertahun-tahun Fuad bermusik di jalur pop meski musik pop yang terpengaruh Barat mengalami tantangan tersendiri di Indonesia pada paruh pertama 1960-an.   Fuad tak sulit mencari band untuk bertahan hidup sepulangnya ke Indonesia dari Eropa. Pada 1971-1972, Fuad ditampung Gypsy. Band yang terdiri dari Nasution bersaudara dari Pegangsaan itu pada awal 1970-an sudah mulai bereksplorasi. Fuad tentu punya alasan masih terus bermain di pop.   “Hati gue sih pada underground akan tetapi lantaran cari duit, untuk komersil, maka gue jadi drumer pop,” aku Fuad di Aktuil  81. Menjadi drummer pop dipilih Fuad bukan tanpa alasan. Pada 1971, Fuad sudah punya istri –yakni Fitria, juga berdarah Arab sepertinya– dan dua anak yang mesti dinafkahinya. Fuad juga tak hanya harus menghidupi anak istrinya, dia masih ingat adik-adiknya juga.   Kepulangan kakak iparnya dan kawannya yang bertahun-tahun bermusik di Belanda pada 1971 mempengaruhi jalan hidup Fuad. Saat itu, Ahmad Albar sedang berlibur ke Jakarta bersama Ludwig Lemans. Keduanya adalah pentolan band Clover Leaf yang sudah populer di Belanda akhir 1960-an. Ahmad Albar alias Iyek adalah vokalis dan Ludwig Lemans gitarisnya. Di Jakarta keduanya lalu membangun band baru  dengan mengajak Fuad, Donny Fattah pada bass dan Deddy Dores pada keyboard. Sebelumnya Deddy memperkuat Freedom of Rhapsodia yang sohor karena lagu “Hilangnya Seorang Gadis”. Donny juga pemain bass yang berkarakter di Jakarta.   Band yang dibangun Ahmad Albar dan kawan-kawan itu dengan cepat dikenali dan dapat panggung. Pada 3 Mei 1973 band tersebut sudah manggung di Taman Ismail Marzuki, lalu pada 16 Agustus 1973 manggung di Inter Studio Pasar Minggu dalam Semarak Kemerdekaan RI ke-28 alias Summer 28.   “Saat tampil di ajang Summer 28, formasi band baru ini belum memakai nama God Bless,” catat Alex Palit dalam God Bless and You-Rock Humanisme .   Mereka memakai nama Crazy Wheels awalnya. Nama itu kemudian diganti menjadi God Bless. Jadi, Fuad adalah drumer pertama God Bless. Ketika Deddy dan Fuad di sana, God Bless belum merilis album meski sudah besar namanya. Namun, Deddy dan para anggota God Bless kecuali Achmad Albar merilis album pop Tinggal Kenangan . Deddy dan kawan-kawan memakai bendera Deddy Dores and The Road. Deddy bernyanyi dan main keyboard dalam proyek bertahan hidup itu. Fuad yang bermain drum cukup senang ikut proyek ini.   Awal 1970-an, Fuad dianggap salah satu drummer terbaik. Majalah Aktuil menyebutnya sebagai sebagai drummer terbaik selama beberapa tahun sebelum kematiannya.   Kendati senang, pujian itu tak membuat Fuad lupa daratan. Ia menanggapinya dengan rendah hati.   “Masing-masing punya keistimewaan sendiri-sendiri,” kata Fuad kepada Aktuil  81.   Namun, bagi orang lain Fuad tetap bukan sembarang drummer. Dimas Wahab menganggapnya perfeksionis ketika bermain di band. Hingga kematiannya pada 9 Juli 1974 bersama Soman Lubis di bilangan Pancoran, Fuad  masih dianggap drummer terbaik Indonesia.*

  • Brigitte Bardot yang Kontroversial

    JIKA di industri film Hollywood ada Marylin Monroe –Norma Jeane Mortenson– yang jadi ikon sex symbol dunia, perfilman Prancis punya Brigitte Bardot. Keduanya sama-sama kondang pada era yang sama: 1950-an dan 1960-an. Bedanya, Monroe mati muda di usia 36 tahun pada 1962, sedangkan Bardot wafat di usia senja pada usia 91 tahun tak lama setelah Hari Natal, Minggu (28/12/2025). Bardot, ikon perfilman dan penyanyi itu, menghembuskan nafas terakhir di kediamannya, La Mandrague di Saint-Tropez, Prancis di pangkuan suami keempatnya, Bernard d’Ormale. Terlepas dari kontroversi haluan politiknya di barisan sayap kanan yang anti-imigran, pemilik nama lengkap Brigitte Anne-Marie Bardot itu tetap dihormati, bahkan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyebutnya sebagai legenda. “Film-filmnya, suaranya. Ketenarannya yang gemilang, kepedihan-kepedihannya, perhatiannya kepada aktivisme hewan, wajahnya yang menjadi (simbol Republik Prancis) Marianne – Brigitte Bardot menginspirasi kehidupan dan kebebasan. Ikon eksistensi Prancis, sinarnya yang universal. Ia menyentuh hati kita. Kita berduka untuk seorang legenda abad ini,” ungkap Macron di akun X-nya, @EmmanuelMacron , Minggu (28/12/2025). Perempuan yang kemudian dikenal dengan inisial BB itu dilahirkan di Paris, 28 September 1934 sebagai anak sulung dari dua bersaudara anak pasangan Insinyur Louis Bardot dan Anne-Marie Mucel. Mereka tumbuh di tengah keluarga Katolik konservatif. Meski tumbuh dengan kekurangan fisik berupa ambliopia di mata kirinya, Bardot kecil sudah masuk dunia seni sebagai balerina ketika Jerman menduduki Prancis semasa Perang Dunia II (1939-1945). Dari panggung balet, di usia 15 tahun Bardot mulai beralih jadi model fesyen bersama majalah Elle dan Les Jardin des Modes, lalu dunia film meski kedua orangtuanya sempat melarangnya. Bardot meniti karier di perfilman sebelum perfilman Prancis dilanda booming “French New Wave”. “Di masa itu Bardot sudah jadi semacam ujung tombak pemberontakan global terhadap kemunafikan global di antara segmen besar para aktris muda. New Wave sendiri baru dimulai pada 1959 namun film-film Bardot sebelumnya juga sudah memberikan dampak lansung terhadap sinema dan kehidupan nyata. Bardot seolah jadi model yang ideal terkait perempuan dengan pemikiran independen,” ungkap Richard Neupert dalam A History of the French New Wave Cinema. Bardot memulai debutnya sebagai figuran lewat film Le Trou Normand (1952). Di film keduanya yang rilis di tahun yang sama, Manina, la fille sans voiles ( Manina, the Girl in the Bikini ), ia sudah jadi pemeran utama. Film tersebut kemudian jadi kontroversial karena saat itu bikini yang mulai populer masih dianggap vulgar dan tabu. Pun ia kembali tampil berani dengan bikininya di film Et Dieu...créa la femme ( And God Created Woman , 1956) Sejak 1952 hingga mundur dari industri perfilman di tahun 1973, total Bardot membintangi 48 film. Salah satu yang paling kondang adalah penampilannya di film Viva Maria! (1965). Di film komedi itu ia beradu akting dengan aktris legendaris Jeanne Moreau. Di film ini, Bardot mendapatkan nominasi aktris asing terbaik di BAFTA Awards 1967. Bardot pensiun dari dunia akting di usia yang relatif muda: 39 tahun. Ia juga mundur dari dunia model setahun setelahnya setelah menjalani sesi foto telanjang pamungkasnya bersama majalah Playboy sekaligus memperingati ulang tahun ke-40. “Pada 28 September nanti saya akan berusia 38 tahun (39, red. ). Jadi saya masih punya dua tahun lagi untuk mempersiapkan kehidupan saya yang lain. Saya sudah menemukan kedamaian dalam alam, di antara binatang-binatang. Saya menyenangi kehidupan para petani dan peternak. Mereka menyenangkan dan tidak munafik,” kata Bardot kepada harian L’Express , dikutip suratkabar Chicago Tribune , 4 Maret 1973. Brigitte Bardot meninggalkan dunia hiburan untuk terjun ke aktivisme lingkungan dan binatang (fondationbrigittebardot.fr) Ikon Fesyen hingga Politik Kanan Bardot memilih menyingkir dari dunia hiburan sebelum berusia 40 tahun. Sudah terlalu banyak kontroversi dan dampak yang ia rasakan. Maka, ia kemudian memilih jadi aktivis pecinta binatang. Pada 1977, dirinya bersama aktivis lingkungan Paul Watson mendirikan yayasan Sea Shepherd Conservation Society. Padahal selain jadi bintang di industri film, Bardot juga jadi ikon fesyen yang banyak ditiru para selebritis setelahnya. Selain ikut mempopulerkan bikini , Bardot dikenal mengglobalkan gaya rambut choucroute dan fesyen gingham dengan motif klasik kotak-kotak. Belum lagi gaun-gaun dengan garis leher khusus yang bahkan mengabadikan namanya, “Bardot Neckline”. Atau “Bardot’s Pose”, sebuah pose vulgar setengah telanjang dengan hanya mengenakan pantyhose dan menutupi buah dada dengan lutut yang juga diperkenalkan Bardot dan diikuti banyak selebriti di era modern dalam sejumlah pemotretan panas mereka, di antaranya Lindsay Lohan, Elle Macpherson, Gisele Bündchen, hingga Rihanna. “Bardot juga menarik perhatian para intelektual Prancis. Ia pernah jadi subyek dalam esai (pakar filsafat) Simone de Beauvoir tahun 1959, ‘The Lolita Syndrome’, yang menyebutkan Bardot sebagai lokomotif sejarah perempuan dan eksistensinya menjadi simbol kebebasan perempuan Prancis yang bebas pasca-Perang Dunia II,” tulis Ian Hartley, Paul G. Roberts, dan Samantha Mayfair dalam Style Icons Vol. 3: Bombshell. Namun, di balik ketenarannya sebagai bintang film di era keemasannya pada 1950-an dan 1960-an, ada banyak kepedihan yang ia rasakan. Di antaranya kontroversi perselingkuhan, perceraian, hingga percobaan bunuh diri. Kontroversi pahit sudah mengikutinya bahkan pada awal 1958 sesudah putus dengan kekasih perselingkuhannya yang juga aktor Prancis, Jean-Louis Trintignant. Bardot dikabarkan depresi hingga mencoba bunuh diri. “Trintignant sendiri masih berstatus suami aktris Stéphane Audran ketika berselingkuh dengan Bardot yang juga masih istri (suami pertama) Roger Vadim. Hubungan mereka (Bardot-Trintignant) juga rumit karena kemudian Trintignant sering meninggalkannya karena masuk militer. Kemudian Bardot main serong lagi dengan musisi Gilbret Bécaud. Pada akhirnya Bardot dan Trintignant putus dan ketika berlibur ke Italia justru depresi dan mencoba menenggak dua pil tidur meski kemudian dibantah manager humasnya,” sambungnya. Sensasi serupa terbit lagi tak lama kemudian. Bermula dari Bardot yang membintangi film La Vérité ( The Truth , 1960) garapan sutradara Henri-Georges Clouzot. Terlepas dari filmnya yang mendapat nominasi film asing terbaik di Academy Awards (Piala Oscar) 1961, Bardot justru bikin heboh dengan kisah asmara intim namun terlarang dengan lawan mainnya, Sami Frey. Padahal ketika itu status Bardot masih menikah dengan suami keduanya yang juga sineas Jacques Charrier. “Keretakan mereka terprovokasi bukan hanya karena Clouzot yang enggan berkompromi terkait adegan-adegan seks yang diprotes Charrier tetapi juga perselingkuhan Bardot dengan lawan mainnya, Sami Frey,” ungkap Sean French dalam biografi Bardot. Bardot ingin bunuh diri lagi karenanya. Terlebih setelah perselingkuhannya, ia tak diperkenankan merawat anaknya sendiri, Nicolas-Jacques Charrier. “Ketika itu saya ingin membebaskan diri saya. Saya ingin bebas tapi tidak bisa, karena saya menjadi terpenjara oleh ketenaran nama saya dan sifat posesif Jacques, terpenjara oleh tubuh saya, wajah saya, anak saya,” sesal Bardot dalam memoarnya, Initiales B.B . Setelah pensiun dan menepi dari dunia hiburan, Bardot memilih kehidupan sebagai aktivis pecinta binatang. Selain aktif di yayasan Sea Shepherd Conservation Society bersama Watson, Bardot mendirikan yayasannya sendiri, Brigitte Bardot Foundation pada 1986 dan menjadi vegetarian. Pada 1994, ia memprotes Menteri Pertanian Jean Puech terkait meningkatnya konsumsi daging kuda. Lima tahun berselang ia menyurati Presiden China Jian Zemin untuk memprotes penyiksaan beruang dan penyembelihan harimau hingga badak untuk industri obat kuat afrodisiak. Pada 2010 ia juga pernah menyurati Ratu Denmark Margrethe II terkait perburuan lumba-lumba di Kepulauan Faroe. Tidak hanya aktivisme lingkungan, kemudian Bardot juga kemudian ikut arus politik sayap kanan yang anti-imigran dan acap menyerang minoritas muslim di Prancis. Ia juga dikenal pendukung setia politikus sayap kanan Jean-Marie Le Pen. Dalam bukunya yang diterbitkan pada 2003, Un cri dans le silence ( A Cry in the Silence ), Bardot menyuarakan nada sumbang tentang percampuran rasial, imigrasi, peran perempuan dan politik, serta Islam. Setahun setelah bukunya terbit, ia didakwa atas ujaran kebencian dan divonis denda 5 ribu euro. “Itu keempat kalinya ia didakwa atas menciptakan ujaran kebencian yang sebagian besar ditujukan kepada kaum muslim yang ia sebut invasi asing di Prancis. Ia juga menyebut warga muslim di Pulau Réunion sebagai orang-orang tak beradab. Dalam buku terakhirnya yang terbit menjelang wafatnya, Mon Bbcédaire, Bardot menyatakan partainya Le Pen (Front National, kini Rassemblement National) adalah ‘satu-satunya solusi mendesak untuk penderitaan Prancis’, sebuah negara yang menurutnya ‘membosankan, menyedihkan, tertunduk, sedang sakit, hancur, poran-poranda, dan vulgar’,” tandas kolumnis Angelique Chrisafis di kolom The Guardian , Minggu (28/12/2025), “Brigitte Bardot’s image complicated by her controversial politics".*

  • Secuplik Kesan Istri Nixon Ngetrip ke Indonesia

    KERUMUNAN orang di pinggir landasan mulai bersorak ketika pesawat Lockheed Constellation milik Military Air Transport Service mendarat Bandara Kemayoran, Jakarta pada 21 Oktober 1953 sekira pukul 10 pagi. Setelah taxiing dan parkir, tamu kehormatan mulai turun dari tangga pesawat: Wakil Presiden (Wapres) Amerika Richard Nixon dan istri, Thelma “Pat” Nixon, serta anggota rombongannya. Rombongan Wapres Nixon lalu mendapat sambutan penghormatan dengan lantunan lagu kebangsaan Amerika, “The Star-Spangled Banner”. Wapres Nixon dan istri lantas saling bertegur sapa dan jabat tangan dengan rombongan penyambut, di antaranya Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dan istri, Menteri Luar Negeri (Menlu) Sunario Sastrowardojo, Walikota Jakarta Syamsuridjal, serta Duta Besar (Dubes) Amerika untuk RI Hugh Smith Cumming Jr. Tak langsung masuk ke mobil, setelahnya Wapres Nixon dan istri menympatkan bertegur sapa dengan warga sekitar yang berkerumun dari luar pagar. Tak ketinggalan ia melayani beberapa pertanyaan para kuli tinta yang mendekatinya. “Saya senang telah sampai di Indonesia, sekalipun tidak pada waktunya yang tepat seperti yang direncanakan (terlambat satu jam, red. ). Tiada lupa juga saya sampaikan salam rakyat Amerika Serikat kepada rakyat Indonesia dan terutama juga terima kasih atas penghargaan yang diberikan Presiden Soekarno kepadanya sebagai tamu negara,” cetus Wapres Nixon, dikutip majalah Merdeka edisi 24 Oktober 1953. Wapres Nixon datang dari Australia dalam agenda tur Timur Jauh. Orang nomor dua di “Negeri Paman Sam” setelah Presiden Dwight Eisenhower itu punya agenda empat hari ‘ ngetrip’ bersama istri dan rombongannya. Selain ke ibukota Jakarta, ia juga mengunjungi Bogor. Di kedua tempat itu, merekan dijamu langsung Presiden Sukarno dan Ibu Negara Fatmawati. Wapres Nixon dan istri juga beranjangsana ke Yogyakarta sebelum kembali lagi ke Jakarta untuk berangkat menuju Singapura. Wapres Nixon datang sebagai pejabat tertinggi Amerika yang mengunjungi Indonesia terlepas adanya kontroversi penandatanganan Mutual Security Act, medio 1952, antara Menlu Achmad Soebardjo dan Dubes Amerika untuk Indonesia Merle Cochran. Wapres Nixon mewakili Presiden Eisenhower ingin memastikan posisi Indonesia di masa Perang Dingin itu, sebagaimana 13 negara lain di Timur Jauh. “Nixon yang menjalani tur ke Asia menjadi pejabat terpilih Amerika paling senior yang mengunungi Indonesia dan kehadirannya menunjukkan keseriusan niat pemerintahan (Presiden Eisenhower) terhadap Jakarta. Misi wapres (Nixon) adalah untuk menyampaikan kepada para pemimpin Asia, termasuk Sukarno, bahwa Amerika sangat mengkhawatirkan tentang apa yang terjadi di Eropa,” tulis A Roadnight dalam United States Policy Towards Indonesia in the Truman and Eisenhower Years. Kesal Banyak Nyamuk Terlepas dari urusan politik, banyak cerita personal yang meninggalkan kesan bagi Wapres Nixon dan istrinya selama di Indonesia. Selain ke Istana Bogor, Wapres Nixon dan istrinya sempat diajak pelesiran ke Puncak, Bogor, hingga Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Dalam perjalanan ke Puncak, terjadi momen unik Wapres Nixon bareng Presiden Sukarno ‘ ngopi’ bareng di warung pinggir jalan di Cipanas. Maka secara pribadi Wapres Nixon begitu terkesan dengan sosok Sukarno. “(Presiden) Sukarno tampan dan sangat sadar kepada daya tariknya. Dengan suara bariton yang menggelegar serta pilihan kalimat sangat memukau, dia bagaikan memegang tongkat ajaib sehingga begitu berbicara, akan langsung memancing sorak-sorai puluhan ribu orang yang setia menunggu ucapannya,” kata Nixon, dikutip Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang. Hal senada juga disampaikan Pat Nixon. “Sukarno di Indonesia sungguh sosok yang dikagumi wanita. Selalu terdapat gadis-gadis paling cantik di sekelilingnya,” kenang Pat Nixon, dikutip Monica Crowley dalam Nixon in Winter. Istri sang wapres itu punya agenda tersendiri ketika suaminya punya urusan pembicaraan politik dengan Sukarno. Menurut harian De Vrije Pers edisi 22 Oktober 1953, Pat Nixon tak hanya bertemu Ibu Negara Fatmawati dan anak-anaknya di Istana Bogor tetapi juga punya agenda pertemuan dengan Women’s International Club dengan didampingi Nyonya Bradford dan Nyonya Kusna Paradiredja dan ke RSCM. Kendati demikian, ada saja yang menimbulkan memori dan kesan tak sedap. Selain cuaca panas dan kondisi udara lembab, Pat Nixon mengaku tak betah dengan akomodasi-akomodasinya. “Ya Tuhan, tidak ada pipa di dalam ruangan saat itu. Kamar mandi di luar. Dan kami harus tidur dengan dikelilingi kelambu nyamuk karena sangat lembab, dan masalah serangganya sangat buruk,” tambahnya. Namun, keramah-tamahan orang Indonesia mengubur semua kekurangan itu. Fatmawati dan anak-anaknya membuat istri Nixon begitu terkesan. Pat Nixon sampai ingat putra sulung Presiden Sukarno, Guntur Soekarnoputra, amat kagum pada film-film koboi yang dibintangi aktor Leonard Franklin Slye alias Roy Rogers. “Dia (Guntur) penggemar berat Roy Rogers dan menonton film-filmnya di Istana. Saya memberi janji akan mengirimkan kostum koboi Roy Rogers,” kata Pat Nixon, dikutip puterinya, Julie Nixon Eisenhower, dalam Pat Nixon: The Untold Story . Maka sepulangnya ke Amerika, Pat Nixon berupaya menunaikan janjinya untuk mengirimkan kostum koboi agar Guntur bisa menirukan adegan-adegan Roy Rogers. Namun, Pat tak menemukan kostum koboi dengan kualitas baik di Washington DC. Maka, pada Juli 1954 ia menulis surat kepada sahabatnya, yang tinggal di Beverly Hills, California, Helene Drown, untuk mencarikannya dan Pat akan mengganti uang pembelian serta pengirimannya. Ia mensyaratkan Helene bisa mendapatkan kostum koboi yang tidak terlalu tebal bahannya karena di Indonesia cuacanya sangat panas. “Dua bulan kemudian, Nyonya Sukarno mengucapkan terima kasih atas kostum Roy Rogers yang impresif, di mana Gunter (Guntur) langsung mencobanya. Momen-momen seperti bertemu Gunter yang berkesan itu ketika bercengkerama dengan ibunya, membuat kesan tersendiri dalam trip Pat Nixon yang signifikan,” tandas Eisenhower.*

  • Jago Perang Denmark Cucu Tuan Kebun Deli

    ANDERS Lassen digambarkan sebagai ahli dalam membunuh lawan-lawannya, termasuk dengan tangan kosong atau tanpa senjata api dalam film The Ministry of Ungentlemanly Warfare  (2024) arahan Guy Ritchie. Dia disebut-sebut sebagai “Palu Denmark” dalam film tentang Operasi Postmaster melumpuhkan kapal logistik pendukung U-Boat Jerman itu. Karakter Anders Lassen itu diperankan oleh Alan Ritchson.   Baik Operasi Postmaster maupun karakter Anders Lassen adalah riil. Anders Frederik Emil Victor Schau Lassen (1920-1945) memang berasal dari Denmark, anak dari Emil Victor Schau Lassen and Suzanne Maria Signe Lassen. Ibunya seorang penulis dan ayahnya adalah kapten dalam bala keselamatan.   Keluarga Lassen merupakan keluarga pemilik pertanian. Kakek Anders Lessen, Axel Frederik Julius Christian Lassen (1858-1925), orang kaya dari perkebunan. Rosekamp.dk mencatat, Axel Lassen melaut antara 1872 hingga 1877. Setelahnya, dia menjadi pebisnis kebun tembakau di Deli, Sumatra Utara pada 1877 hingga 1894. Bisnis tembakau itu membuatnya kaya. Axel Lassen berbisnis tembakau setelah satu dekade Jacobus Nienhuys (1837-1927) merintis perkebunan tembakau di sana. Dagblad van Zuidholland en de Gravenhage  tanggal 11 April 1894 dan De Locomotief  tanggal 23 Mei 1894 menyebut, Axel Lassen mengenali potensi tanah di daerah Deli dan Langkat. Potensi itu yang dimanfaatkannya. Setelah menanam di Deli, mereka terus menanam ke arah Langkat.   Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 daerah sekitar Medan dikenal dengan komoditas tembakau Delinya. komoditas itu lau digantikan karet dan kelapa sawit. Orang-orang Eropa kaya biasanya menjadi pemilik atau pengelola alias Administrateur atau Administrator pekerbunan yang sangat luas di sana. Para tuan di pekebunan-perkebunan itu memiliki kuasa besar di tanah perkebunan mereka. Jan Breman dalam Menjinakan Sang Kuli  menggambarkan besarnya kuasa pengelola perkebunan terhadap kuli-kulinya yang kebanyakan berasal dari Jawa itu. Para kuli bisa dicambuk jika kabur dari perkebunan atau dibaluri sambal alat kelaminnya jika dianggap bersalah. Mereka bisa menghukum tanpa bantuan kepolisian atau aparat pemerintah lain. Di Deli, Axel Lassen tak sendiri. Adiknya, Christian Lassen, juga menjadi administrator perkebunan di Langkat Tabak Maatschappij. Setelah Axel lebih banyak berada di Denmark, Christian banyak berada di sana pada awal abad ke-20 ketika kota Medan mulai berkembang menjadi modern.   Axel Lassen jelas berpengaruh di kalangan para kuli bumiputra yang dibayar rendah demi membesarkan tembakau-tembakau milik pengusaha perkebunan Eropa macam Axel Lassen dan lainnya. Harta yang terkumpul dari Deli itu membuat Axel menjadi kaya dan berpengaruh kampung halamannya. Keluarganya hidup nyaman karenanya tanpa tahu pasti derita kuli-kuli kebun tembakau di Langkat dan Deli. Termasuk Anders Lassen sang jagoan ini. Anders Lassen, sebut Gavin Mortimer dalam The Daring Dozen : 12 Special Forces Legends of World War II , adalah pria kelahiran Høvdingsgård, 22 September 1920. Sedari kecil, dia hobi berburu. Kemampuan berburunya mengagumkan.   “Pada usia 12 tahun dikabarkan telah memburu dan membunuh seekor rusa jantan, hanya berbekal pisau berburu,” catat C.K. Smith dalam  With the SBS and SAS in WW2: Corporal Ken Smith’s Wartime Service from the Royal Marines to the Special Forces . Begitu dewasa, Anders Lassen bekerja sebagai pelaut kapal niaga. Ketika pecah Perang Dunia II, dia sedang berada di Inggris dan mengetahui negerinya diduduki Jerman-Nazi. Ia segera mendaftar masuk militer Inggris. Dia berupaya melakukan apapun demi bisa membantu membebaskan negerinya dari pendudukan Nazi. “Demi setia melayani, bekerja di bawah otoritas apapun untuk melawan musuh yang menduduki tanah air,” sumpahnya kepada Raja Christian dari Denmark. Memulainya sebagai prajurit, pria penuh semangat itu diterjunkan dalam operasi-operasi berbahaya di Perang Dunia II setelah 1941. Serangkaian petualangan yang berhasil diembannya membawanya menjadi perwira di pasukan elite 1st SAS/1st SBS. Dia dianugerahi Military Cross three lines,  penghargaan tertinggi ketiga militer Inggris, atas keberaniannya.   Bersama pasukan elite Inggris itu, Lassen terus bergerak maju hingga mencapai sebuah pulau kecil di dekat kota kecil Comacchio, Italia pada paruh pertama 1945. Dia ditugaskan memimpin pasukan kecil, yang kelelahan, untuk membuat kekacauan pada garnisun Jerman di Comacchio yang begitu kuat pada 8 April 1945 malam. Bersama mereka, ada pasukan Ken Smith yang bergerak dari titik lain.   Pada malam hari H itu, tembakan hebat menghujani tempat pasukan kecil Lassen mendarat tepat saat kano Ken mendekati pantai. Berbeda dari pasukan Lassen yang terus maju, kano yang ditumpangi Ken berbalik arah karena berada di perairan terbuka dan menjadi sasaran empuk lawan. Menurut Ken, tidak ada gunanya untuk terus berjuang karena dengan semua kekacauan itu, tujuan telah tercapai dan melanjutkannya akan menjadi tindakan bunuh diri. Sementara Ken berada di tempat aman di perairan seberang Comacchio, pasukan kecil Lassen bertaruh nyawa untuk terus mengacaukan garnisun Jerman. Dengan granatnya, Lassen menghancurkan posisi pertama garnisun Jerman berisi empat orang. Lassen lanjut ke posisi kedua di bawah tembakan perlindungan sisa pasukannya. Lebih banyak granat ia lemparkan hingga menewaskan dua prajurit lawan dan menawan dua lainnya hingga dua senapan mesin dibungkam. Posisi kedua lawan berhasil dikuasainya.     Setelah mengumpulkan dan memberi briefing sisa pasukannya, Lassen memerintahkan mereka menyerang posisi ketiga. Begitu sudah berhasil menguasai posisi ketiga, Lassen berteriak memerintahkan lawan untuk menyerah. Saat berteriak itulah sebuah tembakan dari kiri posisinya menerjangnya hingga terluka parah dan jatuh. Namun, sebelum seluruh tubuhnya menyentuh tanah, Lassen sempat melemparkan granat ke arah lawan hingga melumpuhkan mereka dan membuat sisa pasukannya bisa menyerbu lawan di posisi terakhir.   Lassen yang terluka parah menolak untuk dievakuasi. Hal itu demi melapangkan jalan bagi sisa pasukannya, yang sudah kehabisan peluru, untuk mundur. Lassen pun gugur.   “Atas tindakannya malam itu, Lassen dianugerahi Victoria Cross secara anumerta, penghargaan tertinggi Inggris untuk keberanian. Salah satu cerita menyebutkan bahwa Victoria Cross-nya awalnya diblokir, karena Brigadir Tod bukanlah penggemar berat pria yang terkadang kasar itu. Namun, mantan komandan unit tersebut, Earl George Jellicoe, memiliki pengaruh di komando tinggi dan melewati beberapa jalur resmi,” sambung C.K. Smith.*

  • Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

    DI usia 21 tahun, Ali Adjer  menjadi saksi tuannya yang bertakhta di Kesultanan Deli, Sultan Mahmud Al Rasyid Perkasa, didatangi tiga orang Eropa. Said Abdullah, orang kepercayaan sultan, yang membuat mereka datang ke Deli.   Pembicaraan pun terjadi antara Sultan Mahmud dan ketiga orang Eropa tadi. Setelah pembicaraan itu, dua dari orang Eropa itu meninggalkan Deli. Satu yang tetap tinggal bernama Jacobus Nienhuys (1836-1927).      Nienhuys baru saja gagal menanam tembakau yang baik di Tempeh, Lumajang, Jawa Timur. A. Hoynck van Papendrecht dalam  Tabak Maatschappij Arendsburg 1877-1927  menyebut, uang dari firma Pieter van den Arend sebesar 36.000 gulden lenyap karena kegagalan itu. Namun Nienhuys tak patah arang dan berupaya kembali di tempat lain. Pieter van den Arend mendukung usaha Nienhuys. Nienhuys lalu mendapat izin untuk menanam tembakau di tepi Sungai Deli. Kebun tembakau itu tidak jauh rumah Ali Adjer, pemuda Melayu kelahiran 1842 yang merupakan salah satu pembantu Sultan Mahmud. Jarak rumah Ali dengan istana cukup jauh, belasan kilometer. Perkebunan itu membuat kampung tempat tinggal Ali menjadi ramai oleh orang-orang baru yang bukan orang Melayu.   Nienhuys sering terlihat oleh Ali ketika mengurus tembakau di kebun dengan dibantu para kuli Tionghoa. Nienhuys menjadi administrateur yang mengelola perkebunan itu. Oleh karenanya, semua urusan kebun memenuhi pikirannya. Termasuk bangunan tempat tinggal untuk para kuli. Untuk menghubungkan kebun tembakaunya dan Klumpang dengan daerah Mabar, dia membangunkan sebuah jembatan. “Jembatan kayu pertama yang dibangun oleh Nienhuys berada di belakang rumahnya. Inilah asal mula nama Titi Papan saat ini,” catat A. Hoynck van Papendrecht dalam Tabak Maatschappij Arendsburg 1877-1927 .   Jembatan itu dibuat dari balok-balok kayu sebagai rangkanya lalu papan-papan diletakkan di atasnya sebagai lantai jembatan. Dari sanalah nama Titi Papan berasal, untuk menamakan daerah sekitar jembatan itu.    Setelah penanaman tembakau Nienhuys sukses, pada 1867 dia meninggalkan Deli untuk kembali ke Eropa. Perkebunan yang dikuasai Pieter van den Arend itu kemudian dikenal sebagai Arendsburg. Perusahaan perkebunan itu dikenal sebagai NV Arendsburg Tabak Maatschappij dan memiliki perkebunan tembakau di beberapa titik. Setelah tembakau, perusahaan tersebut berbisnis karet. Daerah di seberang sungai perkebunan tembakau pertama di Deli yang dekat rumah Ali Adjer itu pun jadi berkembang. Berdasarkan denah yang dibuat G. Nieuwenhuys berdasar pengakuan Ali Adjer, daerah seberang sungai kebun tembakau itu kemudian menjadi jalan umum bernama Gouvernement Weg (Jalan Pemerintah). Rel keretaapi kemudian dibangun di sana. Sebuah stasiun kecil yang menghubungkan kota Medan dengan Pelabuhan Belawan dibangun pada 1886 dan dinamai Titi Papan. Jaringan keretaapi itu dioperasikan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM).   Pada 1927, tahun di mana Ali Adjer tutup usia, bekas kebun tembakau Deli pertama itu sudah menjadi perkampungan. Perusahaan Arendsburg boleh hilang namanya di Medan, namun nama Titi Papan masih ada hingga sekarang. Saat ini, Titi Papan adalah nama salah satu kelurahan di Medan Deli, Kota Medan. Bekas perkebunan itu telah dipenuhi rumah. Jalan yang menghubungkan Klumpang dengan Stasiun Titi Papan kini bernama Jalan Platina. Jalan di sisi barat kebun tembakau yang dulu bernama Maryland, kini menjadi Jalan Marelan Raya.  Berbeda dengan tahun 1927, Kini di tepi Sungai Deli di bekas perkebunan tembakau pertama Deli itu membentang Jalan Speksi Sungai Deli. Di seberangnya, membentang Jalan Yos Sudarso yang dulu bermama Gouvernement Weg. Stasiun Titi Papan pun masih ada.*

  • Minyak Venezuela Menggiurkan

    PADA pesta malam tahun baru di kediamannya di Mar-a-Lago, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat mengutarakan resolusinya, “Damai. Damai di bumi.” Itu menjadi ironis karena tak sampai sepekan kemudian Trump menggerakkan militernya untuk melancarkan bombardir udara ke utara Venezuela, lalu menangkap Presiden Venezuela Nicolas Máduro di ibukota Caracas dan kemudian membawanya ke AS. Operasi militer bersandi “Operasi Absolute Resolve” itu disetujui Presiden Trump pada Jumat (2/1/2026) malam. Serangan terkoordinasinya dijalani pada pukul 2 dini hari waktu setempat, Sabtu (3/1/2026). Selain melancarkan serangan udara, pasukan khusus AS menangkap Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores. Serangan itu disebut turut menewaskan 80 jiwa dari kalangan pejabat dan militer Venezuela dan Kuba. Maduro dan istrinya diculik dan dibawa ke New York dengan kapal amfibi USS Iwo Jima , untuk diseret ke pengadilan di AS. Sudah cukup lama AS bersitegang dengan Venezuela dan menuduh narko-terorisme kepada Maduro yang dianggap berkaitan dengan organisasi narkoba Cartel de los Soles. Sebagaimana beberapa sekutunya, sejak pemerintahan Presiden Joe Biden AS tak mengakui Maduro sebagai presiden ketiga kalinya dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) Venezuela 2024. Pada pilpres itu, pemimpin oposisi Edmundo González Urrutia yang juga didukung oposan peraih Penghargaan Perdamaian Nobel María Corina Machado, mengklaim González yang menang namun Dewan Pemilu Nasional, CNE, menyatakan Maduro memenangi pilpresnya. Terlepas dari tuduhan dan dakwaan yang diarahkan pada Maduro, dunia internasional terhenyak. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres –melalui juru bicara yang tak disebutkan namanya– menyatakan aksi militer AS di Venezuela menimbulkan preseden berbahaya. Ia mendesak Dewan Keamanan (DK) PBB menggelar rapat darurat. Di Kremlin, Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam agresi AS itu dapat menimbulkan konsekuensi serius di kawasan Amerika Selatan. Sedangkan pemerintahan Presiden China Xi Jinping di Beijing juga mengutuk upaya penggulingan pemerintahan Venezuela dan menuntut pembebasan Maduro. Hal serupa juga diutarakan Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim. “Pemimpin Venezuela dan istrinya diculik dalam sebuah operasi militer Amerika Serikat dalam lingkup yang tak biasa. Aksi seperti itu jelas pelanggaran hukum internasional karena menggunakan kekuatan militer terhadap sebuah negara yang berdaulat. Presiden Maduro dan istrinya mesti dibebaskan. Apapun alasannya, penggulingan paksa seorang kepala negara dengan aksi eksternal menimbulkan preseden berbahaya,” ungkap potongan pernyataannya di akun resmi X-nya, @anwaribrahim , Minggu (4/1/2026). Pun Kemenlu RI melalui utas pernyataan resmi di akun X @Kemlu_RI , Minggu (4/1/2026) menyerukan semua pihak – meski tak menyebut Amerika Serikat sama sekali – untuk menahan diri dan berharap hukum internasional dan Piagam PBB untuk dipatuhi. Adapun eks-Wamenlu RI (Juli-Oktober 2014) dan mantan Duta Besar RI untuk AS (2010-2013) Dino Patti Djalal menyebut tindakan AS mengabaikan hukum internasional. “Invasi militer dan penangkapan/penculikan Presiden Venezuela Maduro oleh AS menandakan bahwa hukum rimba telah gantikan hukum internasional. Negara yang kuat merasa berhak melakukan aksi ‘semau gue’ terhadap negara lain. Ini pertanda kita memasuki a dangerous world order. Bagaimana sikap DK PBB? Sikap G7? Bagaimana sikap Amerika Latin? Bagaimana sikap Indonesia? Ujian bagi politik luar negeri bebas aktif yang berlandaskan pada prinsip,” cuitnya di akun X-nya, @dinopattidjalal , Sabtu (3/1/2026). Nicolás Maduro Moros dalam penahanan Amerika Serikat ( dea.gov ) Dari Mene ke Petróleo Untuk sementara, Wapres Delcy Rodríguez diangkat jadi pelaksana tugas (plt.) Presiden Venezuela meski banyak diaspora Venezuela di banyak negara merayakan penangkapan Maduro yang dianggap pemimpin diktator. Pergantian rezim jadi ekspektasi tertinggi. Presiden Trump mengindikasikan itu. Dalam konferensi persnya di Mar-a-Lago pasca-penangkapan Maduro, ia menyatakan akan mengendalikan Venezuela sampai terjadinya transisi yang aman dan laik. Tak lupa, Trump pun blak-blakan menyinggung soal minyak dan ancaman lanjutan. “Kita akan memiliki perusahaan-perusahaan minyak AS yang besar, yang terbesar di dunia, masuk ke sana, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang sudah rusak, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang bagi negara dan kami siap melancarkan serangan kedua dan lebih besar jika diperlukan,” tutur Presiden Trump, dikutip The Guardian , Minggu (4//2026). Menurut data organisasi negara-negara pengeskpor minyak bumi alias OPEC pada 2025, Venezuela adalah negara pemilik cadangan minyak bumi terbesar. Venezuela tercatat memiliki cadangan minyak bumi lebih dari 303 miliar barel, di atas Arab Saudi (267 miliar barel), Iran (208 miliar barel), Kanada (163 miliar barel), dan Irak (145 miliar barel) di lima besar. Problemnya, cadangan minyak itu hampir seluruhnya didominasi pemerintah Venezuela melalui perusahaan minyak bumi dan gas negara Petróleos de Venezuela, S.A (PDVSA), pasca-nasionalisasi pada 1970-an dan Revolusi Bolivarian (1992-1998). Sekilas tentang sejarahnya, masyarakat pribumi di Venezuela sudah memanfaatkannya untuk banyak keperluan sebelum kedatangan bangsa Eropa. Setidaknya ada 30 kelompok pribumi yang dahulu mendiami wilayah Venezuela sekarang, di antaranya masyarakat Wayuu, Warao, Kali’na, Pemon, dan Paraujano. “Di wilayah utara Venezuela, masyarakat pribumi menemukan cairan-cairan hitam yang terdapat di genangan air laut dan seiring gelombang air, cairan hitam dan kental itu menggunung dan membesar. Mereka belum tahu itu zat apa dan mereka menyebutnya dengan ‘ mene ’,” ungkap pakar ekstraktif energi dan pertambangan Japhet Miano Kariuki dalam artikel “Uncovering the Hidden Histories: A Study of Venezuela’s Energy Landscape” di buku Energia Progresiva: An Intertemporal Analysis of Latin America and the Caribbean’s Energy Landscape in the Industrial Age. Para masyarakat pribumi itu, lanjut Kariuki, memberdayakannya dengan mengekstrak mene menggunakan selimut putih dari sumber-sumber rembesan minyak bumi. Hasilnya, mereka gunakan untuk pengobatan, memperbaiki dan menambal kano-kano mereka, untuk penerangan, dan bahkan untuk menjebak hewan-hewan buruan. Bangsa Eropa sendiri sudah menjejakkan kaki di Venezuela pasca-ekspedisi ketiga Christopher Colombus pada medio 1498. Akan tetapi catatan pertama tentang pertemuan bangsa Eropa dengan minyak bumi di Venezuela baru terjadi tak lama kemudian setelah Spanyol mendirikan kota koloni pertama, Nueva Cádiz di Pulau Cubagua mulai 1500. Bangsa Spanyol menyebut mene alias minyak mentah itu dengan sebutan ‘ petróleo ’ dari bahasa Latin, ‘ petroleum ’ yang aritnya minyak dari batu. “Ratu Spanyol, Juana, dalam sebuah suratnya (tertanggal 3 September 1536) dari ibukota Valladolid menuliskan kepada ‘para pejabat yang mengirimkan azeite petrolio (minyak mentah)” dari Nueva Cádiz, Cubagua, memerintahkan ‘sebanyak mungkin untuk mengirimkannya kepada saya dalam kapal-kapal yang datang dari pulau itu’. Sang ratu menyebutkan ‘air mancur’ minyak di Cubagua yang ‘sepertinya akan sangat menguntungkan’,” tulis Aníbal R. Martínez dalam Chronology of Venezuelan Oil. Peta Pulau Cubagua di Venezuela ( aapg.org ) Tetapi, baru tiga tahun berselang minyak pertama dikirimkan. Pada 30 April 1539, Don Francisco de Castellanos, bendahara Nueva Cádiz, mengirim satu barel minyak Venezuela dengan kapal Santa Cruz dalam pengiriman yang dipimpin Francisco Rodríguez de Covarrubia dan Bernardino de Fuentes. “Pengiriman ke Spanyol itu diperuntukkan bagi Charles V, Kaisar Romawi Suci – yang juga menguasai Spanyol, untuk mengobati encok yang dideritanya. Inilah yang menjadi ekspor minyak Venezuela pertama secara simbolis,” sambung Kariuki. Kendati demikian, eksplorasinya untuk kepentingan industri baru terjadi berabad-abad kemudian. Menurut Gustavo Coronel dalam The Nazionalization of the Venezuelan Oil Industry, adalah Presiden Juan Vicente Gómez sejak memerintah pada 1908, memberikan sejumlah konsesi untuk mengeksplorasi, memproduksi, dan menyuling minyak bumi kepada sejumlah korporat, salah satunya Barber Asphalt Company (kini General Asphalt). Barber Asphalt Company melalui anak perusahaannya, Caribbean Petroleum Company (CPC) yang mengeksplorasinya. Meski kemudian CPC dibeli sebagian sahamnya, 51 persen oleh Royal Dutch Shell senilai 1 juta dolar Amerika. “Pada 31 Juli 1914, CPC memulai eksploitasinya di sumur Zumaque-I, terletak di sisi timur Danau Maracaibo yang kemudian tercatat jadi sumur minyak komersial pertama di Venezuela. Sementara perusahaan-perusahaan minyak AS mulai tertarik dan berdatangan ke Venezuela pada 1919, atau setelah Perang Dunia I. Pada 1921, Standard Oil Company de Venezuela, anak perusahaan Standard Oil Company yang berbasis di New Jersey, didirikan. Lalu (pengekspor) Lago Petroleum Corporation juga dibentuk pada 1923, menjadi perusahaan AS pertama yang mengekspor minyak bumi dari Venezuela,” tulis Henry Jiménez Guanipa dalam Energy Law in Venezuela. Per 1932, minyak bumi Venezuela yang menggiurkan sudah mengundang setidaknya 11 kongsi dari tiga grup internasional besar dunia. Di antaranya Standard Group yang membawahi Standard Oil de Venezuela, Lago Petroleum Company, dan Orinico Oil Company. Ada pula The Gulf Group yang membawahi Venezuelan Gulf Oil Company. “Korporasi-korporasi besar ini bertahan setidaknya sampai terjadinya nasionalisasi pada 1975. Faktanya, perkembangan industri minyak bumi Venezuela, terlepas dari pro dan kontranya, selalu terkait dengan perusahaan-perusahaan asing,” tambah Guanipa. Nasionalisasi industrinya dilancarkan dalam program “La Gran Venezuela” yang diserukan Presiden Carlos Andrés Perez yang lantas melahirkan PDVSA pada 1976. Sedangkan perusahaan-perusahaan AS kemudian harus angkat kaki, seperti, Gulf Oil Company, dan Mobil Oil Corporations, dengan hanya menerima sejumlah kompensasi. Tersisa Chevron, ExxonMobil dan ConocoPhillips yang masih beroperasi. Pun kawasan kaya minyak bumi, Orinico Petroleum Belt, kemudian dikuasai PDVSA pasca-Revolusi Bolivar dan naiknya Presiden Hugo Chávez. Ia yang kemudian pada 2007 juga membuat ExxonMobil tersingkir dari Venezuela. Maka “kaki” AS dalam industri minyak bumi Venezuela menyisakan Chevron. Maduro yang pada 2013 naik kursi kepresidenan meneruskan kebijakan-kebijakan Chávez, setidaknya sampai ia ditangkap dan dibawa ke AS pada 3 Januari 2026 lalu. “Chevron tetap fokus pada keselamatan dan kesejahteraan para pegawai kami, begitu juga integritas aset-aset kami. Kami tetap beroperasi dalam skala penuh dengan mengikuti hukum dan regulasi yang relevan,” tandas juru bicara Chevron, Bill Turenne, pasca-penangkapan Maduro, dilansir NPR , Minggu (4/1/2026).

bottom of page