Hasil pencarian
9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Para Propagandis yang Nge-Troll Pasukan AS (Bagian II)
BAIK Iran maupun Amerika Serikat (AS), keduanya sama-sama mengklaim kemenangan pasca-disepakatinya gencatan senjata selama dua pekan pada Rabu (8/4/2026). Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sesumbar mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran setelah sebelumya, 2 April 2026, serangan AS menghancurkan Jembatan Karaj B1 di Alborz. “Hari Selasa (7 April, red. ) akan jadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan, semua jadi satu di Iran. Tidak akan ada hari itu!!! Buka selat sialan itu (Selat Hormuz), dasar para bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka – LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J. TRUMP”, kata Presiden Trump di akun media sosial Truth, @realDonaldTrump , 5 April 2026. Pada 2 April, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga melancarkan retorika serupa pasca-menyerang Jembatan Karaj B1. Katanya, AS siap membuat Iran kembali ke zaman batu. Namun bukannya gentar, Iran justru ‘ nge-troll ’ (meledek ) balik ancaman-ancaman vulgar AS melalui mesin-mesin propagandanya. Baik via media massa maupun akun-akun media sosial kedutaannya di beberapa negara. Salah satunya dilakukan akun X Kedutaan Besar Iran untuk Afrika Selatan, @IraninSA , 2 April 2026 silam. Akun itu menjawab cuitan Hegseth “Kembali ke Zaman Batu” dengan balasan, “Zaman Batu? Pada saat Anda masih di gua mencari api, kami sudah menuliskan hak asasi manusia pada prasasti Silinder Koresh (Abad ke-6 Sebelum Masehi). Kami bertahan dari serangan Alexander dan invasi Mongol; karena Iran bukan sekadar negara, Iran adalah sebuah peradaban.” Kedutaan Iran untuk Indonesia pun ikut-ikutan nge-troll militer AS. Akun X mereka, @IraninIndonesia , 5 April 2026 lalu mengunggah sebuah cuplikan video berdurasi 10 detik tentang satu pesawat dan dua helikopter AS jatuh ditembak misil disertai takarir: “Kedamaian menyertai Anda (emoji satu pesawat dan dua heli). Dan Anda disertai kedamaian (emoji tiga misil).” Selain dengan video-video animasi berbasis AI –sebagaimana artikel sebelumnya, ledekan Iran untuk AS juga dilancarkan via meme dan media sosial. Teknologi belakangan turut mengubah cara propaganda di saat-saat konflik yang sebelumnya dilancarkan via radio. Berikut beberapa propagandis yang turut berupaya menjatuhkan moral AS pada konflik-konflik sejak Perang Pasifik hingga Perang Vietnam: Tokyo Rose Iva Ikuko Toguri D'Aquino yang sempat diduga sebagai "Tokyo Rose" (NARA) Tidak hanya satu atau dua orang, para perempuan penyiar yang melancarkan propaganda untuk Jepang semasa Perang Pasifik (1941-1945) sejatinya tak pernah teridentifikasi secara pasti. Namun, mereka begitu lancar berbahasa Inggris dalam menyampaikan pesan-pesan provokatif dan menggelitik yang diiringi lagu-lagu Barat dalam siaran-siaran radio yang bisa ditangkap para serdadu Amerika Serikat (AS) di seantero Pasifik. Julukan “Tokyo Rose” pun bukan dari para propagandis Jepang itu, melainkan dari media-media massa AS. Baru kemudian para penyiar itu ikut hanyut menggunakannya baik dalam siaran-siaran yang dilakukan dari Jepang, Manila (Filipina), maupun Shanghai (China). Salah satu veteran Perang Pasifik yang masih mengingat akan fenomena Tokyo Rose adalah Bill Ohrmann, veteran prajurit Korps Udara Angkatan Darat AS. Pada 1943-1944, dirinya bertugas di Papua Nugini. “Dia (penyiar perempuan) akan mengatakan, ‘Ini Tokyo Rose’. Dan dia bicara (bahasa Inggris) dengan baik, meski sebagian besar kami tak pernah menanggapinya dengan serius. Siarannya dimulai dengan musik Amerika dan dia akan berbicara, ‘Kepada kalian yang bertempur di hutan, para 4-F (sebutan serdadu buangan) di Amerika merebut para kekasih kalian’ dan semacam itu. Kami menertawakannya karena itu hiburan buat kami,” kenang Ohrmann dalam arsip proyek sejarah lisan University of Montana pada 1987, “Veterans Remember Tokyo Rose” . Pasca-perang, muncul satu terduga penyiar Tokyo Rose itu yang kemudian ditangkap, yakni Iva Toguri. Ia kelahiran Los Angeles, 4 Juli 1916 dari keluarga imigran Jepang yang lima bulan sebelum serbuan Pearl Harbor (7 Desember 1941) bepergian ke Jepang untuk mengunjungi kerabatnya. Pecahnya perang membuatnya tak bisa balik ke AS namun ia menolak melepaskan kewarganegaraan AS. Intimidasi membuat Iva terpaksa ikut bekerja untuk Jepang sebagai propagandis dalam program radio Zero Hour mulai November 1943 . Siaran ini diinisasi perwira intelijen Jepang Mayor Shigetsugu Tsuneishi –dia memaksa para tawanan Sekutu jadi penyiar propaganda Jepang. Pasca-perang, dua jurnalis AS mencari-cari siapa Tokyo Rose. Baru pada September 1945 Iva mengaku sebagai salah satu dari Tokyo Rose karena butuh uang untuk bisa pulang ke AS. Iva kemudian ditangkap dan ditahan. Pada September 1948, Iva dipindahkan ke San Francisco lalu diseret ke Pengadilan Distrik Federal San Francisco. Meski tak terbukti sebagai Tokyo Rose, Iva divonis bersalah ikut jadi penyiar propaganda Jepang. Ia dihukum 10 tahun penjara, denda 10 ribu dolar AS, serta dicabut statusnya sebagai warga AS. “Hari itu pada bulan Oktober, 1944, terdakwa berada di Tokyo, Jepang, dalam sebuah studio siaran Broadcasting Corporation Jepang, berbicara dengan mikrofon menyiarkan berita tentang kapal-kapal tenggelam,” kata para juri, dikutip Masayo Duus dalam Tokyo Rose: Orphan of the Pacific. Seoul City Sue Anna Wallis Suh yang nasibnya hilang pasca-Perang Korea ( Brownsville Herald edisi 3 September 1950) Anna Wallis, pengajar Sekolah Minggu untuk Gereja Metodis Episkopal, terjebak dalam Perang Korea (1950-1953) ketika Korea Utara menyerbu dan menguasai Seoul medio Juni 1950. Karena enggan meninggalkan Sekolah Minggu tapi berada di bawah tekanan pasukan Korea Utara, Anna dan suaminya, pria lokal bernama Suh Kyu-ch’ol, mau bersumpah setia kepada rezim Korea Utara. Mulai Juli 1950, di bawah supervisi instruktur Universitas Seoul Dr. Lee Soo, Anna menyiarkan propaganda perang via program Radio Seoul di studio HLKA (kini stasiun radio dan televisi KBS ). Ketika terjadi pendaratan dan Pertempuran Incheon (10-19 September 1950), di mana pasukan AS mulai terlibat, Anna dan suaminya dievakuasi ke utara dan terus melancarkan siaran melalui Radio Pyongyang . Lewat siaran-siarannya, suara Anna mulai dikenal oleh pasukan AS hingga mereka memberinya banyak julukan. Di antaranya “ Rice Bowl Maggie ”, Rice Ball Kate ”, meski kemudian ia lebih dikenal sebagai “ Seoul City Sue ”. Para G.I. (julukan serdadu AS) menjulukinya berdasarkan lagu “Sioux City Sue” yang liriknya diplesetkan menjadi “ Seoul City Sue, nothing smells of kimchi like my Seoul City Sue .” “Suaranya terus menggema membacakan halaman demi halaman detail tentang bom-bom yang dijatuhkan, warga sipil yang tewas dan terluka, dengan beberapa kali menyebut ‘imperialis Amerika’ dan ‘penjajah Wall Street’. Namun tak seperti Tokyo Rose di Perang Dunia II, siarannya tak menawarkan musik, tidak ada hiburan, atau bahkan menggoda para G.I. untuk menyerah. Justru ia terdengar membosankan,” tulis The New York Times edisi 28 Agustus 1950, “Missionaries say ‘Seoul City Sue’ is Ann Suhr, U.S. wife of Korean”. Pasca-gencatan senjata, Anna dan suaminya bak hilang ditelan bumi. Hingga seorang pembelot AS lain, Charles Robert Jenkins, menceritakannya dalam buku The Reluctant Communist. Jenkins mengklaim sempat bertemu Anna di Pyongyang pada 1965. Jenkins kemudian mengungkapkan bahwa Anna dieksekusi oleh seorang agen ganda Korea Selatan pada 1969. Hanoi Hannah Trịnh Thị Ngọ alias Thu Hương alias "Hanoi Hannah" (Wikipedia/ Thiên điểu) Lahir di Hanoi pada 1931, Trịnh Thị Ngọ sejak remaja begitu menggemari film-film Hollywood. Salah satunya Gone with the Wind (1939) yang dibintangi aktor papan atas Clark Gable dan Vivien Leigh. Film tersebut membuatnya antusias belajar bahasa Inggris dengan kursus privat yang difasilitasi keluarganya yang industriawan pabrik gelas. Pda 1955 Ngọ sudah jadi penyiar berbahasa Inggris di radio Voice of Vietnam dengan nama panggung Thu Hương (artinya: aroma musim gugur). Ketika Perang Vietnam (1955-1975) pecah, Ngọ memilih berpihak pada kubu Partai Komunis Vietnam (CPV). Dengan supervisi Tentara Rakyat Vietnam (PAVN), Ngọ menulis sendiri naskah narasi siaran propagandanya yang ditujukan kepada para G.I. Isinya memberitakan nama para G.I. yang berhasil ditawan atau tewas, membujuk mereka yang masih bertahan untuk meninggalkan pos-pos mereka, hingga memutar lagu-lagu Barat anti-perang untuk menjatuhkan moral pasukan AS. “Ini Thu Hương memanggil para prajurit Amerika di Vietnam Selatan,” demikian Ngọ selalu mengawali siarannya. Meski begitu, para G.I. malah menjulukinya “Hannoi Hannah”, merujuk pada lokasi asal siarannya dan nama gadis Barat yang berrima dengan ibukota Vietnam. Julukannya kemudian juga “diviralkan” media-media massa AS. Tak seperti para pendahulunya macam Axis Sally atau Tokyo Rose, suara Hanoi Hannah justru acap ditunggu-tunggu para G.I. Di balik penyensoran setiap berita oleh militer AS, para prajuritnya cenderung lebih percaya berita-berita yang disiarkan Hanoi Hannah, terlepas dari ia tetap membujuk para G.I. untuk membangkang dari pemerintah AS. “Suara Thu Hương begitu lembut, menggoda, dan anehnya bikin nyaman. Pesan-pesannya disuarakan dengan gigih: ‘G.I., pemerintah (AS) telah mengabaikan Anda. Mereka memerintahkanmu untuk mati. Jangan percaya mereka. Membelotlah, G.I. Lebih baik meninggalkan kapal yang karam. Kau tahu takkan menang perang ini. Kau telah kalah, G.I. Para imperialis yang menciptakan perang ini, G.I. Pesawat-pesawatmu membom pasukan kalian sendiri. Para G.I. kulit hitam, kalian diperintahkan bertempur dan mati oleh para pemimpin Amerika yang rasis. Sementara kalian di rawa-rawa, para kekasih kalian berselingkuh’,” ungkap Robert F. Lawrence dalam Good Night Vietnam: From an American Army Rebel with a Cause. Hanoi Hannah terus mengudara via radio hingga 1973, ketika para prajurit AS mulai meninggalkan Vietnam. Dua tahun berselang, ia dan suaminya pindah ke Ho Chi Minh City dan terus jadi penyiar di beberapa radio, lalu televisi sebelum wafat pada 30 September 2016. “Saya hanya warga biasa yang ingin berkontribusi untuk negara saya. Tujuan saya saat itu hanya membujuk para G.I. untuk tidak berpartisipasi dalam perang yang bukan perang mereka. Saya berusaha untuk ramah dan meyakinkan. Saya tidak ingin jadi agresif atau berteriak lantang. Saya selalu merujuk para tentara Amerika itu sebagai lawan. (Tetapi) Saya tidak pernah menyebut mereka sebagai musuh,” kenang Ngọ ketika diwawancara reporter David Lamb untuk artikel di Los Angeles Times edisi 4 April 1998, “Hanoi Hannah Fondly Remembers Her Role”.
- Kapten Wisnu Celaka di Natuna
SUATU hari di akhir tahun 1958, Kapten Penerbang (Pnb.) Wisnu Djajengminadro mendapat tugas dadakan dari Komandan Komando Group Komposisi (KGK) Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) Mayor Pnb. Omar Dani. Wisnu mesti terbang ke Hanoi membawa mesin pengganti buat pesawat C-47/DC-3 Dakota yang dipiloti Kapten Pnb. John Najoan. Pesawat Najoan mengalami engine trouble di Hanoi dalam penerbangan dengan tujuan akhir Hong Kong. Wisnu terpaksa terbang lebih awal dari jadwalnya karena masalah mesin Najoan. Dia terbang ke Hanoi dengan co-pilot Kapten Moh. Loed. Rutenya sama dengan rute yang dilalui Najoan: Jakarta-Medan-Bangkok-Hanoi. Penerbangan tersebut berjalan lancar. Di Hanoi, Wisnu dan Loed menyempatkan diri berkeliling menikmati keindahan Hanoi. Keduanya bahkan diajak Konjen RI Mr. Soedibyo Wirjo Woerdojo makan siang yang tak pernah mereka duga.
- Menjaga Natuna
DARI 154 pulau di Natuna, hanya 27 pulau yang dihuni. Sudah lama Kepulauan Natuna seakan sendirian di laut lepas. Letaknya pun lebih dekat dengan wilayah Malaysia. “Mereka cerita, sebelum 1995 kalau mencari kebutuhan pokok mereka harus keluar pulau, mereka pakai kapal kayu pinisi atau kapal besi perintis, ditempuh selama tiga hari,” kata Sonny C. Wibisono, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dalam acara Diskusi Sambil Ngopi Kita bertema “Ada Apa dengan Natuna” di gedung Puslit Arkenas, Jakarta, belum lama ini. Padahal, Natuna bukannya terpencil. Ia berada di tengah perlintasan perekonomian internasional sejak dulu. Karenanya, sampai sekarang Laut Cina Selatan terutama Laut Natuna menjadi sasaran klaim dari beberapa negara yang berbatasan dengan wilayah itu. “Natuna justru bagian depan. Bukan pulau terluar. Ia yang terdepan dibanding Jakarta. Karena orientasi kita orientasi Jakarta. Justru ini jadi beranda depan,” ujar Sonny.
- Mencari Penghuni Awal Natuna
SYAHDAN, Sultan Johor Alaudin Riayat Syah mempunyai seorang putri bernama Tengku Fatimah. Tapi sultan malu karena sang putri lumpuh. Tengku Fatimah pun diasingkan ke Pulau Serindit. Di sana, ia bertemu dengan Demang Megat, pemuda asal Phatani yang terdampar. Mereka lalu menikah. Keduanya membentuk pemerintahan baru di Pulau Serindit. Demang Megat digelari Orang Kaya Serindit Dina Mahkota. Perkampungan pertama yang mereka dirikan disebut Mahligai. Rumah-rumah dibangun dari Kayu Bungur. Dari nama kayu inilah kemudian Pulau Serindit berganti nama menjadi Pulau Bunguran, salah satu pulau di Natuna. Begitulah cerita rakyat yang dikenal di Natuna. Kisah itu disampaikan oleh Sonny C. Wibisono, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dalam acara Diskusi Sambil Ngopi Kita bertema "Ada Apa dengan Natuna" di gedung Puslit Arkenas, Jakarta, Kamis (30/1).
- Kepulauan Natuna Pada Masa Kuno
TERCATAT lebih dari 200 pulau kecil membentuk Kepulauan Natuna. Mereka tak selalu nampak dalam peta. Seolah letaknya terpencil, sehingga tak mudah mencapainya. Kesan itu mungkin berkebalikan dengan masa lalu. Sejak dulu, Natuna dilintasi jalur pelayaran dan niaga karena berada di kawasan maritim Laut Cina Selatan. Ia menghubungkan negeri-negeri Asia Tenggara dan Asia Timur, terutama Tiongkok. Lokasinya di posisi persilangan jalur masuk ke perairan Malaka, Sumatra, dan Kalimantan. Karenanya Natuna sangat mungkin dijadikan “batu loncatan” dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Demikian disebutkan Sonny C. Wibisono, arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dalam tulisannya, “Arkeologi Natuna: Koridor Maritim di Perairan Laut Cina Selatan”, termuat di Kalpataru, Majalah Arkeologi Vol. 23.
- Jejak Cina di Natuna
SALING klaim kepemilikan wilayah laut kembali terjadi. Kali ini persengketaan menimpa wilayah Laut Natuna, Kepulauan Riau. Pemerintah RI sungguh dibuat kesal oleh sikap Cina yang kukuh mengakui Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Natuna sebagai bagian dari wilayah Laut Cina Selatan. Padahal Pengadilan Internasional dalam United Nations Convention of the Law of the Sea (UNCLOS) menyebut “Nine Dash Line” milik Cina yang telah ada sejak 1947 tidak memiliki dasar historis yang kuat. Pemerintah Indonesia tentu menolak dengan tegas klaim Cina atas Natuna itu. Pemerintah berpegang pada dua pijakan hukum untuk membantah klaim itu: Konvensi UNCLOS tahun 1982 dan putusan Pengadilan Arbitrase Laut China Selatan saat menyelesaikan sengketa Filipina pada 2016. Akibat adanya perseteruan ini, masyarakat cukup dibuat panik. Terutama untuk para nelayan yang sehari-harinya melaut di sana. Saling lempar tanggung jawab juga terjadi di tubuh pemerintah. Diberitakan detik.com , Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah tegas dalam menindak kapal-kapal Cina yang masuk ke Natuna. Namun ia juga mengingatkan agar jalan damai tetap dikedepankan dalam menyelesaikan persoalan ini.
- Natuna di Mata Penjelajah Eropa
NATUNA kembali mencuri perhatian rakyat Indonesia. Penetrasi kapal nelayan China yang dilindungi sebuah kapal coastguard negeri itu ke perairan Natuna pada 19-24 Desember 2019 membuat pemerintah Indonesia marah. Terlebih, kapal China itu tak menggubris peringatan dari kapal TNI AL yang saat itu melakukan patroli. Protes pun dilayangkan pemerintah Indonesia. Natuna, kepulauan yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau, memang kerap mencuri perhatian banyak pihak lantaran kaya sumberdaya alam dan letaknya strategis. Letaknya di jalur perniagaan lama membuatnya dikunjungi banyak orang dari berbagai belahan bumi sejak lama. Letak strategis itu pula yang membuat Natuna mencuri perhatian Raja Prancis Charles X. Beberapa saat sebelum kejatuhannya, Charles X menunjuk Cyrrille Pierre Theodore Lapace, veteran angkatan laut Kerajaan Prancis yang berpengalaman dalam berbagai pertempuran, untuk menjalankan sebuah ekspedisi maritim. “Ekspedisi maritim yang baru ini mengemban dua misi, yakni misi resmi, menyangkut pemeriksaan hidrografi untuk menyempurnakan atlas Asia Tenggara, dan misi yang lebih resmi, yakni misi politik ekonomi rahasia untuk menandai wilayah-wilayah strategis guna membangun jaringan basis logistik Prancis di Laut Cina Selatan,” tulis Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis Dari Abad XVI Sampai Abad XX .
- Samoa Amerika Mengusir Hantu 31 Gol Tanpa Balas
THOMAS Rongen (diperankan Michael Fassbender) duduk di “kursi pesakitan” di hadapan manajemen federasi sepakbola Amerika Serikat USSF di suatu hari pada Mei 2011. Nasibnya segera berubah 180 derajat dari pelatih kepala Timnas U-20 Amerika menjadi pelatih sebuah negeri kecil di Pasifik selatan, Samoa Amerika. “Sepakbola memang permainan indah tapi harus kita akui, ini juga permainan yang rumit, kawan-kawan. Sepakbola seperti kehidupan. Musim depan saya pikir kita punya kesempatan yang sebenarnya,” kata Rongen membela diri usai Timnas U-20 Amerika gagal lolos ke Piala Dunia U-20 2011 di Kolombia. Pembelaan itu tak mempan. Atasan Rongen, Alex Magnussen (Will Arnett), justru punya rencana lain buatnya. “ Sorry , uh, Thomas. Memangnya belum ada yang kasih tahu Anda sesuatu? Anda dipecat,” tampik Magnussen. Music scoring yang komikal lantas mengiringi keterkejutan Rongen. Rongen diberi dua pilihan: menganggur usai dipecat atau dikaryakan di Samoa Amerika. “Anda seriusan, nih?” Rongen terperangah tak percaya.
- Upaya CIA Membunuh Pemimpin China di Bandung
PEMERINTAH Indonesia dan peserta Konferensi Asia-Afrika (KAA) terkejut mendengar kabar pesawat Kashmir Princess yang ditumpangi delegasi China kecelakaan. Pesawat carteran milik Air India itu meledak dan jatuh di laut Kepulauan Natuna. Enam belas orang tewas dan tiga selamat. Konferensi yang sudah dipersiapkan dengan matang itu tetap harus berjalan. Akhirnya, mereka dapat bernapas lega karena Perdana Menteri Republik Rakyat China Zhou Enlai tidak berada dalam pesawat nahas itu. Zhou mengetahui rencana pembunuhan itu. Dia mengubah rencana dan rute perjalanannya. Sehingga dia selamat dan dapat menghadiri KAA di Bandung. Komisi penyelidikan yang dibentuk pemerintah Indonesia menyimpulkan penyebab kecelakaan adalah bom waktu jenis detonator MK-7 buatan Amerika Serikat yang dipasang di roda depan bagian kanan pesawat.
- Pesawat Delegasi KAA Jatuh di Perairan Natuna
SEBUAH pesawat carteran milik Air India berjenis Lockheed L-7492A jatuh di perairan dangkal dekat kepulauan Natuna Laut Cina Selatan, pada 11 April 1955. Pesawat yang tinggal landas dari Bandara Kai Tak, Hongkong itu sejatinya akan menuju Bandung dalam rangka Konferensi Asia Afrika. Enam belas penumpangnya dilaporkan tewas, sedangkan tiga orang lainnya mengalami luka berat. Kashmir Princess, pesawat carteran milik Air India itu sebelumnya sempat mengisi bahan bakar dan menjalani pemeriksaan rutin usai menempuh perjalanan dari Bombay, India. Pesawat tersebut membawa delegasi Tiongkok, juga wartawan dari berbagai negara, yang akan menghadiri Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Rencananya, pesawat itu pula yang akan mengangkut Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Tiongkok Zhou Enlai. Penumpang yang selamat mengisahkan sekira lima jam perjalanan, pada jam tujuh malam, kru mendengar ledakan. Api berhembus ke arah lubang tangki bahan bakar nomor tiga. Dengan cepat pilot mematikan mesin nomor tiga, menyisakan tiga mesin yang menggerakkan pesawat.
- Sulistina Soetomo Diselamatkan Sakit Perutnya
SUATU hari di tengah Pertempuran Surabaya semasa Perang Kemerdekaan. Sulistina, istri Bung Tomo, diperintahkan atasannya di palang merah agar ke Rumahsakit Simpang. Dia pun bergegas dengan menumpang truk yang mengangkut pemuda-pejuang. Sulistina duduk tepat di samping sopir. Dalam perjalanan, tiba-tiba tengkuknya merasa dingin karena tersentuh benda yang tak diketahuinya. Setelah dia menoleh ke belakang, ternyata benda itu adalah laras sebuah pistol. Sulistina kaget. “Aku tak tahu siapa yang sembrono menggenggam pistol, tetapi larasnya mengenai kudukku. Aku berteriak. ‘Eee...Bung!’ pistolnya jangan diarahkan kepadaku! Tapi pada musuh!’’ kata Sulistina dalam memoarnya, Bung Tomo Suamiku .
- Bung Tomo Menikah Saat Perjuangan Kemerdekaan
DI MASA revolusi, para pemuda menempatkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan (1945-1949) di atas kepentingan diri sendiri. Revolusi menuntut pengorbanan segala-galanya, termasuk perkawinan sebagai “kenikmatan” pribadi. Tak heran jika mereka kerap jengkel melihat iklan-iklan perkawinan dan pertunangan di suratkabar. “Mereka berpendapat bahwa perkawinan dan pertunangan bertentangan dengan sifat revolusi yang menjadi-jadi,” tulis Soe Hok Gie dalam Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan. Sorotan pun dialamatkan kepada Bung Tomo, tokoh pemuda dan penyulut semangat pertempuran Surabaya, ketika hendak menikah di masa revolusi. Muncul pro dan kontra. Ada yang menyayangkan mengapa Bung Tomo tidak konsekuen dengan janjinya untuk tidak menikah sebelum perjuangan selesai.





















