top of page

Hasil pencarian

9858 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pembajakan 19 Hari

    DESA De Punt, Glimmen, Belanda, 11 Juni 1975 pukul 05 pagi. Keheningan suasana desa disobek suara enam pesawat F-104 Starfighter AU Belanda yang terbang rendah di atas sebuah keretapi. Para personil Bijzondere Bijstands Eenheid/BBE Marinir Belanda di dekat kereta itu langsung menyerbu kereta. Mereka berupaya membebaskan penduduk sipil yang disandera sekelompok pemuda pejuang Republik Maluku Selatan (RMS) di dalam kereta tadi. Pembajakan kereta dan penyanderaan itu jadi imbas tak langsung dari Pengakuan Kedaulatan di pengujung 1949 dan penguasaan Kepulauan Maluku oleh Tentara Nasional Indonesia setahun berikutnya. Banyak mantan personel KNIL yang jadi pejuang dan simpatisan kemerdekaan RMS lalu memilih tinggal Belanda. Selain adanya ikatan emosional kuat antara mereka dengan Belanda, jaminan bantuan pemerintah Belanda untuk mewujudkan RMS menjadi alasan kuat mengapa mereka memilih tinggal di Belanda. Namun, alih-alih mendapatkan apa yang mereka impikan, dari hari ke hari mereka justru mendapat perlakuan sebaliknya. Tempat penampungan mereka tak layak, hanya kamp-kamp berkondisi buruk. Yang lebih penting, tak terlihat upaya sungguh-sungguh pemerintah Belanda dalam menepati janji mewujudkan RMS. Mereka pun marah.

  • Teknologi Radar di Microwave

    KETIKA Percy Spencer mengamati tabung yang memancarkan gelombang mikro, bagian dari sistem radar untuk pertahanan Sekutu di Perang Dunia II, permen di saku bajunya meleleh. Insinyur di Raytheon Manufacturing Corporation, Massachusetts, Amerika Serikat itu menyadari tengah berada dalam momentum penemuan menarik bahwa gelombang mikro tidak hanya bermanfaat untuk menghalau kekuatan lawan, tetapi juga dapat memanaskan makanan. Inilah cikal bakal terciptanya microwave. Kemunculan microwave berkaitan dengan pengembangan radar. Mulanya, sejumlah ilmuwan Inggris meneliti sumber energi gelombang mikro untuk menggerakan sistem radar bagi kepentingan militer. Para ilmuwan gencar melakukan penelitian karena ancaman invasi Jerman ke Eropa. Hasilnya, pada Februari 1940, dua ilmuwan dari Universitas Birmingham, John Randall dan Henry Boot, merancang tabung elektronik disebut valve yang menghasilkan energi gelombang mikro dengan sangat efisien. “Kemampuan unik magnetron untuk mentrasmisikan gelombang mikro dengan daya sangat tinggi memungkinkan peralatan radar dibangun dengan ukuran yang jauh lebih kecil, daya yang lebih besar, dan akurasi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan rancangan sebelumnya. Alat ini dapat dipasang di pesawat terbang untuk ‘melihat’ pesawat lain atau target di darat,” tulis Leo R. Reynolds dalam “The History of the Microwave Oven”, termuat di The Journal of Microwave Power and Electromagnetic Energy, Volume 10, No. 5, 1989. Penemuan ini membuat Inggris unggul dalam sistem radar. Namun, industri elektroniknya yang tertekan oleh perang tidak mampu memproduksi magnetron yang dibutuhkan. Oleh karena itu, untuk memperkuat pertahanan dan memenangkan pertempuran melawan Jerman, Inggris meyakinkan ilmuwannya, Dr. Tizard untuk menginformasikan penemuan itu ke Amerika Serikat dan membujuk negara yang masih netral itu agar membantu Inggris dengan memanfaatkan sebagian dari potensi produksi elektroniknya. Pada September 1940, Dr. Tizard dan rombongan mengunjungi Amerika Serikat dengan membawa magnetron berukuran 10 sentimeter yang mampu menghasilkan daya 1.000 kali lipat dari generator gelombang mikro manapun. Setelah bertemu sejumlah orang yang akan bekerjasama memproduksi perangkat radar secara massal, mereka mengunjungi perusahaan Raytheon dan bertemu Percy Spencer. Sebelum bekerja di Raytheon, Spencer bekerja di perusahaan yang memproduksi peralatan listrik. Selama Perang Dunia I, dia bekerja sebagai pegawai sipil di Angkatan Laut dan dipinjamkan ke Submarine Signal Company, yang kemudian merger dengan Raytheon. Submarine Signal mengembangkan perangkat suara bawah air untuk Angkatan Laut serta memasang peralatan di kapal-kapal kecil dan stasiun pantai. Setelah pertemuan itu, Spencer membawa magnetron pulang selama akhir pekan. Pada Senin berikutnya, dia telah menemukan cara memproduksi massal magnetron. Produksinya meningkat dari 17 tabung per minggu menjadi 2.600 tabung per hari. Pada akhir perang, Raytheon memproduksi 80 persen dari seluruh magnetron yang digunakan pasukan Sekutu. Memanaskan Makanan Beberapa bulan sebelum Perang Dunia II berakhir, Presiden Raytheon, Laurence Marshall, mengumpulkan para pejabat senior untuk mendiskusikan arah perusahaan. Raytheon harus melakukan sesuatu agar tetap dapat bertahan di industri pascaperang. Menurut Andrew F. Smith dalam Eating History: 30 Turning Points in the Making of American Cuisine, pada saat itu sudah umum diketahui bahwa magnetron menghasilkan panas dari getaran molekul sebagai reaksi terhadap frekuensi gelombang mikro. Spencer memahami fenomena ini dan menyarankan menggunakannya untuk memanaskan makanan. Tak berselang lama setelah Raytheon mengajukan paten untuk perangkat gelombang mikro dalam oven, Spencer mengajukan paten untuk metode memasak makanan dalam microwave. Spencer mengusulkan agar Raytheon memanfaatkan penemuan itu untuk menciptakan peralatan dapur yang diminati banyak orang. Raytheon menghabiskan sekitar $100.000 untuk membangun prototipe microwave, yang ditempatkan di dapur rumah Marshall pada 1946. Setelah mencoba oven baru itu, Marshall sangat antusias dengan potensinya. Ia memprediksi revolusi total dalam penyajian makanan panas kepada orang-orang dalam jumlah besar. “Marshall pun memerintahkan para insinyur untuk mengembangkan oven dengan baki di bagian dalam yang dapat digunakan untuk memanaskan sandwich dingin dan menyajikannya hampir tanpa henti,” tulis Smith. Raytheon mengadakan sayembara menamai oven baru tersebut. Pemenangnya adalah Raydar Range. Nama ini diubah menjadi Radar Range hingga akhirnya kedua kata itu digabungkan menjadi Radarange. Radarange komersial pertama yang diproduksi Raytheon adalah mesin pemanas makanan berlapir enamel putih dengan tegangan 220 volt dan memerlukan sistem pendingin air internal. Model awal ini pertama kali dibeli oleh restoran di Cleveland pada 1947. Mesin pemanas makanan ini berbentuk pintu yang turun ke bawah dengan harga $3.000. Penjualannya terbatas pada restoran, kereta api, kapal pesiar, dan perusahaan mesin penjual otomatis. Meski dijual dengan harga tinggi, hotel dan restoran membeli mesin pemanas ini karena praktis dan menghemat waktu. Pengembangan microwave berlanjut pada 1950-an. Raytheon menjadi satu-satunya produsen microwave untuk restoran dan produsen utama magnetron. Setelah eksperimen lebih lanjut dengan Radarange, pada 1952 Raytheon mengembangkan mesin pemanas makanan baru khusus rumah tangga, dengan tenaga magnetron yang didinginkan air dan memerlukan sambungan pipa, yang terletak di bawah microwave. Struktur keseluruhan tingginya mencapai lima setengah kaki. “Ini adalah perangkat besar dan berat sebesar 750 pon, sehingga tidak praktis untuk penggunaan domestik,” tulis Smith. Berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengembangan dan penjualan microwave membuat Raytheon menyimpulkan bahwa pasar rumah tangga belum siap. Raytheon pun memutuskan untuk memberikan lisensi kepada perusahaan lain untuk mengembangkan microwave bagi konsumen rumah tangga. Raytheon menyediakan sumber daya listrik, magnetron, dan data desain oven dasar. Pengembangan microwave untuk rumah tangga segera dilakukan berbagai perusahaan, mulai dari Tappan hingga General Electric. Insinyur Tappan merancang kabinet dengan sistem pendingin udara dan memindahkan magnetron serta komponen terkait ke bagian belakang microwave. Pada Oktober 1955, Tappan mengenalkan microwave komersial pertama untuk rumah tangga. Dirancang untuk muat di ruang yang ditempati kompor standar berukuran 40 inci, mesin pemanas makanan ini terbuat dari baja tahan karat dan ruang pemanas dari alumunium dengan rak kaca. Mesin pemanas makanan ini dilengkapi dua kecepatan memasak, elemen pemanggang di bagian atas, pengatur waktu, dan laci penyimpanan kartu resep. Microwave ini dijual seharga $1.295 dan dipasarkan sebagai “kompor listrik”. Sementara itu, Divisi Hotpoint dari General Electric meluncurkan microwave desain mereka pada 1956. “Meskipun microwave Tappan dan Hotpoint memicu antusiasme dan minat yang tinggi, penjualannya sangat buruk. Harganya masih terlalu mahal bagi konsumen rata-rata, dan teknologi untuk memproduksi produk makanan yang dapat dimasak dengan microwave belum dipahami dengan baik,” tulis Smith. Pada 1960-an terjadi dua peristiwa berdampak besar terhadap industri microwave. Pertama, penemuan magnetron kompak dan murah oleh Keishi Ogura dari New Japan Radio Company pada awal 1960-an. Kedua, akuisisi Amana Refrigation, Inc., oleh Raytheon pada 1964. Insinyur Amana bekerjasama dengan ahli Raytheon merancang Radarange untuk rumah tangga. Pada Agustus 1967, Amana memperkenalkan microwave pertama bertegangan 115 volt dan dijual dengan harga di bawah $500. Produk ini diterima dengan baik oleh masyarakat. Popularitas microwave semakin meningkat seiring ledakan konsumsi makanan cepat saji di Amerika pada 1970-an. Restoran dengan tempat duduk, dari kedai kopi hingga gerai-gerai restoran ramah keluarga, memanfaatkan microwave. “Microwave telah memberikan dampak besar pada cara mempersiapkan makanan komersial, di mana kecepatan dan kenyamanan menjadi hal yang penting,” tulis Smith. “Makanan yang dapat dimasak dengan microwave memungkinkan restoran menawarkan berbagai macam hidangan yang disajikan dengan cepat dan jumlah pegawai yang seminimal mungkin. Pada 1980-an, peningkatan jumlah makanan yang dapat dimasak dengan microwave semakin pesat, dan revolusi dalam persiapan makanan sedang berlangsung di dapur rumah tangga dan restoran Amerika.”

  • Sudiro Sang Guru Pergerakan

    AKHIR 1939, datanglah ke Kota Magelang seorang juara dunia catur bernama Max Euwe. Di sana dia bertanding catur melawan 41 orang. Koran De Locomotief tanggal 23 September 1930 memberitakan, dari 41 pertandingan yang dimainkan Max, 36 laga dimenangkannya, dua seri (melawan Soejono dan Ratib, keduanya pelajar Hogare Kweekschool (HKS), dan tiga kalah. Kekalahannya terjadi saat melawan Resident Van Pelt, Liem Tjay An, dan Soediro yang merupakan seorang pelajar HKS. Sudiro adalah siswa tahun terakhir di HKS Magelang. Putra laboran –pengelola laboratorium– kepala di sebuah pabrik gula Klaten itu lulus dari sekolah tersebut pada 1931. Dari Magelang, Sudiro kemudian pindah ke Madiun. Memulai kariernya sebagai guru. Guru Rival Aparat Kolonial Di Madiun, Sudiro ditampung di sekolah-sekolah milik Boedi Oetomo (BO), yang sudah memiliki sekolah menengah MULO Kweekschool, lalu Meer Uitgebrid Lager Onderwijz (MULO), dan juga sekolah guru yang disebut Kweekschool. Sudiro dipercaya menjadi direktur MULO-Kweekschool Boedi Oetomo.

  • Kakek Buyut Ole Romeny Korban Perang Pasifik

    NAMA Ole Romeny sudah ramai disebut sebagai calon pemain naturalisasi tim nasional Indonesia dari Belanda sejak November 2024. Kini, proses naturalisasinya bersama dua pemain lain, Dion Markx dan Tim Geypens, yang diajukan PSSI bersama Kemenpora lewat rapat kerja sudah disetujui Komisi X DPR RI pada Senin (3/2/2025). “Atas nama Komisi X (DPR), selamat dan selamat datang kepada Dion dan Ole (yang hadir via daring). Mari jalani tugas kita untuk Indonesia bersama-sama. Dengan ini kami menyatakan bahwa Anda bukan sekadar menjadi bagian dari tim nasional tapi juga bagian dari keluarga besar Indonesia. Kami percaya kalian bisa membawa nama Garuda dengan kebanggaan di tim nasional Indonesia,” tukas Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menutup rapat kerja yang disiarkan via streaming di Youtube TVR Parlemen, Senin (3/2/2025). Pemain yang lahir pada 20 Juni 2000 dengan nama Ole Lennard ter Haar Romenij itu meniti kariernya dari akademi muda DVOL hingga menembus karier profesional pertamanya pada 2018 bersama NEC Nijmegen. Setelah tampil gemilang bersama FC Emmen dan FC Utrecht, pada 5 Januari 2025 Romeny resmi hijrah ke kasta pertama Liga Inggris, EFL Championship, bersama klub Oxford United yang notabene dimiliki Ketum PSSI Erick Thohir bersama pengusaha Anindya Bakrie.

  • Hitam Putih Baju Baduy

    PRESIDEN Joko Widodo memakai pakaian adat suku Baduy atau Kanekes ketika menyampaikan pidato kenegaraan dalam sidang tahunan MPR RI dan sidang bersama DPR RI dan DPD RI pada 16 Agustus 2021. Jokowi memesan pakaian itu dari Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija. Kepada Kompas.com, Saija menjelaskan, pakaian adat yang dikenakan Jokowi merupakan pakaian sehari-hari warga Baduy Luar yang disebut baju kampret. Baju hitam bermakna kesederhanaan, ikat kepala (lomar) bermakna persatuan, dan tas koja bermakna kelestarian alam yang masih dijaga masyarakat Baduy. Namun, ada yang memaknai baju hitam itu sebagai “lambang kotor atau dosa. Orang Baduy yang lalai atau tak mampu mengikut aturan adat keluar dari kampung dan mulai berbaju hitam sebagai bentuk pengakuan atas kesalahan diri”.

  • Siapa Pemilik Rumah Proklamasi?

    BELAKANGAN beredar informasi bahwa rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56 tempat Proklamasi dibacakan dibeli oleh pengusaha Arab bernama Faradj Martak. Ini berdasarkan surat yang dikeluarkan oleh Ir. M. Sitompoel, Menteri Pekerjaan Umum dan Perhubungan, tanggal 14 Agustus 1950. Melalui surat itu pemerintah menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Faradj bin Said Awad Martak, direktur utama NV Marba (Martak & Bajdenet), yang telah membeli beberapa gedung di Jakarta antara lain gedung Pegangsaan Timur 56. Dokumen kedua berupa tulisan tangan Sukarno yang berterima kasih kepada Faradj Martak telah mengirimkan madu Arab untuk mengobati sakitnya. Menurut Nabiel A. Karim Hayaze, penulis sejarah tokoh-tokoh Arab di Indonesia, dalam tulisannya di panjimasyarakat.com, surat tersebut adalah bukti otentik, surat resmi negara dengan tanda tangan menteri negara, yang tidak mungkin NV Marba berani dan memiliki kepentingan untuk mengarang sebuah surat resmi negara. Tetapi, yang lebih penting untuk diperhatikan adalah tulisan “membeli” beberapa gedung. Artinya, NV Marba (memang) tidak menempati rumah tersebut dan bukan pemilik rumah tersebut sebelumnya, tetapi mereka membelinya untuk dihibahkan kepada negara. Sehingga tidak bertentangan dengan bukti sejarah lainnya, yaitu fakta yang sudah tertera dalam buku Chairul Basri (Apa yang Saya Ingat, 2003).

  • BBM Masa Orde Baru

    PRESIDEN Joko Widodo mengumumkan secara resmi pengalihan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) pada Sabtu (03/09/2022) siang di Istana Merdeka, Jakarta. Alasannya subsidi BBM tidak tepat sasaran. Sementara anggaran subsidi dan kompensasi BBM tahun 2022 meningkat tiga kali lipat dari Rp152,5 triliun menjadi Rp502,4 triliun. “Lebih dari 70 persen subsidi justru dinikmati oleh kelompok masyarakat yang mampu, yaitu pemilik mobil-mobil pribadi. Mestinya, uang negara itu harus diprioritaskan untuk memberikan subsidi kepada masyarakat yang kurang mampu,” kata Joko Widodo, dikutip dari setkab.go.id. Keputusan mengalihkan subsidi BBM mengakibatkan harga beberapa jenis BBM bersubsidi mengalami kenaikan. Masyarakat keberatan karena kenaikan harga BBM akan berdampak pada naiknya harga-harga kebutuhan pokok yang lain.

  • Kenaikan Harga BBM Masa Sukarno

    HARGA tiga Bahan Bakar Minyak (BBM) yakni Pertalite, Solar subsidi, dan Pertamax naik sejak Sabtu (3/9/2022) pukul 14.30 WIB. Harga Pertalite naik dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10.000 per liter, Solar subsidi dari Rp5.150 per liter menjadi Rp6.800 per liter, dan Pertamax dari Rp12.500 per liter menjadi Rp14.500 per liter. Keputusan pemerintah menaikkan harga BBM mendapat penolakan. Selain karena harga minyak mentah dunia tengah turun, kenaikan harga BBM juga dapat memicu naiknya harga-harga kebutuhan pokok lainnya. Unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM berlangsung di sejumlah titik di Jakarta pada Senin (5/9/2022), di antaranya di depan gedung DPR/MPR RI dan kawasang Patung Kuda Arjuna Wijaya, dekat Istana Merdeka. Demonstrasi mahasiswa juga terjadi di beberapa daerah.

  • Mencari Mikrofon Proklamasi

    DALAM pidato di hari jadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di Jakarta, 5 Oktober 1966, Presiden Sukarno menyampaikan pentingnya mikrofon yang digunakannya untuk membacakan Proklamasi kemerdekaan. “Kita telah memiliki pada tanggal 17 Agustus 1945 itu microphone. Satu-satunya hal boleh dikatakan, materiel yang telah kita miliki, satu microphone, yang dengan microphone ini kita dengungkan ke hadapan seluruh manusia di bumi ini bahwa kita memproklamasikan kemerdekaan kita,” kata Sukarno. Dari mana mikrofon itu? Sukarno menyebutnya hasil curian dari Jepang. “Aku berjalan ke pengeras suara kecil hasil curian dari stasiun radio Jepang dan dengan singkat mengucapkan proklamasi itu,” kata Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

  • Mitos 350 Tahun Penjajahan

    SEBAGAI orang yang nyaris 25 tahun menetap di Belanda, saya sering ditanya tentang masa lampau Belanda di Indonesia. Ada pertanyaan menarik seperti adakah bekas-bekas masa lampau itu terlihat di Belanda? Ada pula pernyataan langsung seperti “Apakah Belanda sampai 350 tahun menjajah Indonesia?” Bagi saya, itu tidak terlalu menarik. Apakah benar Belanda menjajah selama itu? Ayo kita hitung. Apakah kita harus bersetuju bahwa Belanda mulai menjajah Indonesia bersamaan dengan berdirinya VOC pada 1602? Mungkin karena tidak tahu versi angka tahun lain, biasanya langsung dijawab setuju. Ada pula versi yang mengatakan penjajahan dimulai pada 1596, ketika kakak beradik De Houtman tiba di Banten. Tapi itu pun sulit disebut sebagai awal penjajahan Belanda, karena Cornelis de Houtman cuma melakukan penjajakan. Belanda belum benar-benar menjajah. Jika awal penjajahan tahun 1602 ditambah 350, kita baru merdeka pada 1952. Bagaimana dengan proklamasi 17 Agustus 1945 dan pengakuan Belanda pada kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949?

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page