top of page

Hasil pencarian

9862 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Misi Diplomatik Hayam Wuruk ke Wilayah yang Memberontak

    DALAM lawatannya ke Lamajang, rombongan Hayam Wuruk berjalan melewati Kunir dan Basini terus ke Sadeng. Mereka bermalam beberapa hari di sana. Sang Prabu bersantai menikmati pemandangan alam di Sarampwan. Perjalanan itu ditulis Mpu Prapanca dalam Nagarakrtagama. Rombongan bertolak dari ibukota Majapahit pada 1359 M. Padahal, 28 tahun lalu, Sadeng salah satu wilayah yang memberontak kepada Majapahit. Lawatan itu rupanya menjadi salah satu cara diplomatik Hayam Wuruk merekatkan kembali hubungan dengan wilayah bawahannya. Dalam karyanya itu, Prapanca memberi petunjuk kondisi politik wilayah-wilayah bawahan Majapahit pada masa Hayam Wuruk. Sebelumnya, Majapahit di bawah pemerintahan Wijaya dan putranya, Jayanagara diberondong rentetan pemberontokan yang bisa dipadamkan.

  • Nasution dan Buku Terakhirnya

    A.H. NASUTION merupakan jenderal yang sangat produktif menulis. Dibantu Moela Marboen, dosen Universitas Indonesia, dan beberapa perwira Dinas Sejarah TNI AD, Nasution menerbitkan buku Sekitar Perang Kemerdekaan sebanyak sebelas jilid. Bahan-bahannya dikumpulkan pada 1953-1955. Setelah pensiun pada 1972, Nasution menulis memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas sebanyak tujuh jilid. Semangat Nasution dalam menulis terus menyala bahkan ketika dia terbaring sakit dan di pengujung usianya. Pada 1986, Nasution menjalani operasi katup jantung di RSAD Pusat Walter Reed di Washington DC, Amerika Serikat. Kesehatannya sebagai manula semakin mudah terkena segala macam penyakit. Yang paling gawat sering terjadi pendarahan yang berasal dari kelenjar prostat akibat obat pengencer darah yang harus diminumnya setelah operasi katup jantung.

  • Perkawinan Perjuangan A.H. Nasution

    ADA kesenangan di balik kesulitan. Hal itulah yang kerap dialami muda-mudi di masa Perang Kemerdekaan. Kendati hari-hari mereka disibukkan dengan tugas perjuangan, termasuk bertempur di berbagai palagan, bukan berarti kebutuhan dasar seperti asmara atau berumahtangga mesti berhenti. Seringkali urusan asmara dijadikan bahan hiburan oleh kelompok pejuang entah lewat candaan, saling ledek, atau saling menjahili. Sewaktu menjabat sebagai panglima Divisi Siliwangi, Kolonel AH Nasution pernah mengerjai kepala stafnya, Letkol Askari. Kejahilan Nasution, sapaan akrab Nasution, berlangsung saat dia berkunjung ke Purwakarta, tempat markas staf berada. Saat itu, Nasution mengajak Yohana Sunarti kekasihnya, dan Ine Kawilarang. Ine merupakan sahabat Yohana sekaligus kekasih Askari. “Askari ini kawin dengan adiknya Alex Kawilarang,” tulis Abdul Halim dalam Di Antara Hempasan dan Benturan: Kenang-Kenangan Dr. Abdul Halim, 1942-1950.

  • Kasus Penipuan Raja Komputer

    “We are not the first, but...the best,” bak sebuah moto, inilah kata-kata yang terus disampaikan Jusuf Randy ketika bercerita tentang awal mula berdirinya LPKIA (Lembaga Pendidikan Komputer Indonesia Amerika) yang populer pada 1980-an. Kini, lembaga ini menjadi Institut Ekonomi Digital LPKIA. Sejak pulang ke Indonesia pada 1983, Jusuf Randy dikenal sebagai pakar komputer yang pernah bekerja di berbagai perusahaan terkemuka di dunia. Berkat pengalaman itulah dia mendirikan LPKIA. Bermodalkan 27 komputer dan sembilan tenaga pengajar, lembaga kursus komputer tersebut diresmikan di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, Jusuf menggandeng Menteri Tenaga Kerja Sudomo dalam acara peresmian pada 31 Agustus 1983. Jusuf Randy mengaku, LPKIA bekerjasama dengan beberapa lembaga pendidikan serupa di Amerika, di antaranya University of Tennesse, University of Texas, dan University of Washington. Dengan demikian, para peserta yang telah selesai mengikuti kursus komputer di LPKIA tidak perlu khawatir mencari pekerjaan. Sebab, kerjasama tersebut mencakup tawaran langsung bekerja bagi lulusan LPKIA.

  • Ada A.H. Nasution di Balik Dekrit Presiden

    PRESIDEN Sukarno pernah murka kepada KSAD Kolonel Abdul Haris Nasution. Soalnya, Nasution dianggap sebagai biang keladi mengarahkan moncong meriam ke Istana Merdeka. Nasution berdalih melakukan itu karena kecewa para politisi (termasuk Bung Karno) selalu mencampuri urusan internal AD. Kejengkelan Nasution memuncak pada percobaan setengah kudeta pada 17 Oktober 1952. “Engkau benar dalam tuntutanmu, akan tetapi salah di dalam caranya,” kata Sukarno kepada Nasution dalam otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat. “Sukarno tidak sekali-kali akan menyerah karena paksaan. Tidak kepada seluruh tentara Belanda dan tidak kepada satu batalion Tentara Nasional Indonesia” Sebagai hukuman, Nasution dinonaktifkan dari jabatannya. Pada 1955, Sukarno memulihkan relasinya dengan Nasution. Untuk kedua kalinya, Sukarno mengangkat Nasution sebagai KSAD. Nasution kembali menjadi orang nomor satu di AD. Pangkatnya naik dua tingkat jadi mayor jenderal.

  • Muasal Fiber Optik, Biang Kerok Komunikasi Kilat

    MENGIRIM email, menelepon, atau mencari informasi di internet kini bisa dilakukan dengan begitu mudah dan cepat. Lalu lintas informasi yang padat dan berkapasitas tak sedikit ini bisa berjalan lancar berkat penemuan fiber optik (FO). FO mampu menjadi media pengirim data dengan kapasitas dan kecepatan tinggi. Sebelum teknologi FO ditemukan, arus informasi dikirim melalui kabel tembaga. Kendati cost production-nya lebih murah, kapasitas kabel tembaga lebih rendah. Penggunaan kabel tembaga mulanya dipakai untuk saluran televisi dan pesawat telepon. Karena tembaga punya nilai untuk dijual kembali, pencurian kabel telepon banyak terjadi. Dirut Telkomsel pertama Koesmarihati, yang pernah menangani jaringan telepon, mengaku pernah menemukan pencurian kabel telepon di depan Hotel Borobudur dan Rumah Sakit Jakarta.

  • Dari Analog sampai 4G

    TAK peduli sekitar, orang-orang asik menatap layar ponsel pintar masing-masing. Di kereta, dalam bus, atau di jalan sambil memantau peta online. Berselancar di dumay kala naik kendaraan berkecepatan tinggi dimungkinkan lantaran teknologi komunikasi generasi keempat (4G). Pemandangan itu jelas tak mungkin ditemukan di zaman dulu. Jangankan internet, komunikasi jarak jauh hanya bisa dilakukan melalui telepon, itu pun masih analog. Prinsip kerja telepon generasi pertama, sering disebut telepon engkol, yakni mengirimkan gelombang suara yang sudah diubah menjadi sinyal listrik ke transmitter. Begitu sampai di receiver yang terhubung ke speaker, sinyal listrik kembali diubah menjadi gelombang suara. Pengguna telepon engkol harus memutar tuas telepon untuk menyambungkan dengan sentral telepon. Bel kemudian berbunyi di sentral telepon. “Kalau ada yang mau menelepon, nanti terdengar ceklok, ceklok kayak ayam berkokok. Kalau sedang banyak yang pakai, suaranya ramai sekali. Kami dulu suka tertawa dengar suaranya karena lucu. Itu juga tanda kami akan dapat uang,” kata Koesmarihati, mantan pegawai di Sentral Telepon Telkom ketika masih era analog.

  • Srikandi Dunia Telekomunikasi

    TELEPON selular (ponsel) kini jadi barang wajib bagi hampir semua orang. Maraknya penggunaan ponsel ini bermula dari inisiatif Telkomsel untuk meliberalisasi perangkat sejak berdiri pada 1995. Harga ponsel yang semula selangit, turun jadi terjangkau. Kala itu, Telkomsel satu-satunya perusahaan yang memisahkan bisnis layanan telekomunikasi dengan penjualan perangkat sebelum liberalisasi telekomunikasi dilakukan besar-besaran oleh pemerintah pada awal 2000. Di balik turunnaya harga ponsel itu, ada seorang perempuan yang duduk di tataran elite. Dialah Koesmarihati, direktur utama (dirut) Telkomsel pertama. Marie, begitu ia disapa, menjabat posisi dirut pada 1995 hingga pensiun pada 1998 ketika usianya 56 tahun. Lahir di Bogor, 9 Oktober 1942, Koesmarihati merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Koesnowarso, bekerja sebagai inspektur kehutanan Provinsi Jawa Barat. Sebagian masa kecil Marie dihabiskan di Bandung, di rumah dinas ayahnya. Begitu ayahnya meninggal pada 1951, Marie sekeluarga pindah ke Madiun.

  • Mobil Biru yang Ditunggu

    MUNIAR, seorang transmigran di Tempuling, Riau, tinggal terpisah dengan anaknya yang kuliah di Yogyakarta. Untuk sekadar berkomunikasi dengan anaknya menggunakan surat, Muniar seringkali harus pergi ke Kantor Pos yang jaraknya cukup jauh. Kala itu warung telekomunikasi (wartel) belum masuk ke daerahnya. Jumlah wartel pada 1991 pun masih 181 unit yang didirikan Telkom dan 176 wartel didirikan swasta. Namun, kesulitan Muniar hilang sejak kehadiran Jasa Telekomunikasi Mobil (Jastel Mobil). Dia tak lagi pakai surat untuk berkirim kabar. Rute keliling Jastel diumumkan di koran maupun radio sehingga masyarakat yang hendak memakai bisa dengan mudah menemukannya. Muniar selalu menanti kehadiran mobil berwarna biru itu. Di bagian pintu depan mobil terpampang logo Telkom. Di dalamnya, seorang petugas layanan akan membantu tiap pelanggan mengoperasikan telepon atau telegram. “Dalam kota max. 3 jam, luar kota max. 5 jam,” demikian peringatan di Warteling itu tertulis. Dari warteling itulah Muniar menelepon anaknya di Yogyakarta.

  • Sebelum Ponsel Merajalela

    UNTUK mengangkat perekonomiannya, Rini, gadis asal Randublatung, Blora, merantau ke Jakarta. Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di daerah Kebayoran Baru. Ketika pulang kampung untuk berlebaran, Rini bertemu Biyoso, pemuda asal Jawa Timur yang juga mudik. Biyoso bekerja sebagai satpam di bilangan Kuningan, Jakarta. Dari perkenalan di Terminal Pulo Gadung itu, mereka menjalin hubungan asmara. Pacaran di tahun 1990-an, hubungan Rini-Biyoso tak bisa seperti muda-mudi sekarang yang dengan mudah mengetik pesan di aplikasi obrolan atau melakukan panggilan video lewat telepon pintar. Untuk bisa saling berkomunikasi, saban siang Rini selalu berusaha mencuri waktu untuk keluar sejenak dari rumah majikannya dan pergi ke telepon umum. Setelah mengantri sebentar, memasukkan koin, dia baru bisa menyapa Biyoso dari telepon kantornya. Lelah Rini mengantri terbayar kala suara Biyoso terdengar dari gagang telepon. Pada 1980-an-1990-an, kebutuhan komunikasi jarak-jauh masyarakat mendapat wujud baru. Sebelumnya, hanya kalangan tertentu yang dapat menikmati sambungan telepon di rumah masing-masing. Kalau tak punya telepon, surat jadi pilihan. Sampai pertengahan 1990-an, ketika pemerintah belum menggalakkan pemasangan telepon rumah, telepon umum pun jadi tempat tujuan banyak orang.

  • Ponsel Segede Sepatu

    SEUKURAN genggaman tangan, bisa masuk saku, dan harga terjangkau. Telepon selular (Ponsel) pintar dimiliki hampir semua orang di Indonesia sekarang. Lewat benda tipis itu, orang bisa menelepon, mengirim pesan, dan mengakses internet. Banyaknya fungsi bikin orang kecanduan menggunakannya. Di angkutan umum, di ruang tunggu, bahkan di toilet. Padahal, ketika pertama keluar, harga ponsel selangit, 13-15 juta rupiah ketika kurs dollar Amerika masih 1386 rupiah. Ponsel pertama di Indonesia itu muncul tahun 1986 sebagai buah kerjasama Telkom dengan PT Rajasa Hazanah Perkasa (PT RHP). Teknologinya menggunakan Nordic Mobile Technology (NMT) dengan perangkat merek Ericsson. Telkom menyediakan jasa komunikasinya, sementara PT RHP menyediakan perangkatnya. Ketika pengguna ingin mendapatkan telepon seluler, mereka tidak membeli perangkat telepon dan nomor provider secara terpisah, melainkan satu telepon hanya satu nomor dan tidak bisa diganti.

  • Musabab Ponsel Murah

    CUMA bos-bos dan orang kaya yang sanggup beli telepon selular (Ponsel) pada pertengahan 1980-an sampai 1990-an. Maklum, harganya selangit. Ketika muncul tahun 1986, ponsel generasi pertama di Indonesia dibanderol 15-20 juta rupiah dengan kurs 1 dolar Amerika sama dengan 1.386 rupiah. Jika dibandingkan dengan kurs dolar saat ini, kisaran 14 ribu-an, harga ponsel generasi pertama itu setara 150-250 juta rupiah. Wow! Orang biasa apalagi kaum papa, jangan pernah mimpi punya ya! Ponsel jadi barang asing di masyarakat. Mayoritas orang jelas tak tahu model penjualan ponsel kala itu yang masih satu paket dengan operatornya. Artinya, ponsel yang dibeli sudah termasuk nomor di dalamnya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page