Hasil pencarian
9858 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Posisi Barlian dalam PRRI
Tiga perwira menengah di Sumatra membentuk dewan-dewan untuk mencari solusi atas permasalahan antara pusat dan daerah pada 1950-an. Letnan Kolonel Ahmad Husein memimpin Dewan Banteng di Sumatra Barat. Kolonel Muludin Simbolon memimpin Dewan Gajah di Sumatra Utara. Sedangkan Letnan Kolonel Barlian memimpin Dewan Garuda di Sumatra Selatan. Barlian merupakan Panglima Tentara dan Teritorium II Sumatra Selatan yang belakangan wilayahnya menjadi bagian dari Komando Daerah Militer (Kodam) Sriwijaya, yang membawahkan Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, dan Lampung. Daerah-daerah itu dulunya bagian dari Keresidenan Palembang. Sejarawan Audrey Kahin dalam Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatra Barat dan Politik Indonesia 1926–1998 menyebut Barlian sebagai pengusul diadakannya pertemuan yang kemudian diadakan di Sungai Dareh, Sumatra Barat, pada 9 Januari 1958. Barlian juga yang mengundang politisi sipil seperti mantan Perdana Menteri Mohammad Natsir, mantan Perdana Menteri Burhanudian Harahap, dan mantan Ketua PDRI Sjafrudin Prawiranegara. Baca juga: Sukarno dan Trauma PRRI Pertentangan antara pusat dan daerah berkembang menjadi pemerintahan tandingan bernama Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Mantan Menteri Keuangan Sumitro Djojohadikusumo juga ikut serta di dalamnya. Di antara dewan-dewan itu, posisi Dewan Garuda lebih dekat dengan Jawa. Jawa adalah kunci di mana pusat pemerintahan dan kekuatan terbesar militer berada. “Karena dekat dengan Jawa dan keberadaan pasukan Jawa dalam jumlah besar di daerahnya, Barlian bertindak hati-hati, dan Dewan Garuda tidak memutuskan hubungannya dengan pemerintah pusat atau mengambil tindakan lanjutan untuk beberapa bulan lamanya,” tulis Kahin. Barlian tidak benar-benar menjadikan Palembang sebagai milik PRRI. Meski Barlian pernah mengambil alih kontrol pemerintah sipil dari tangan gubernur pada 9 Maret 1958. Kahin menyebut Barlian meminta bantuan Dewan Banteng. Ahmad Husein bersedia mengirim 1.200 tentara untuk memperkuat Palembang jika didatangi tentara dari Jawa. Baca juga: Kisah Jenaka Para Petinggi PRRI/Permesta Beruntunglah pemerintah pusat,karena sebelum tahun 1958, ada seorang perwira TNI asal Jawa di Palembang yang menjabat komandan Resimen Infanteri 5, yakni Mayor Djuhartono. Dia menentang dewan-dewan perjuangan daerah yang melawan pemerintah pusat. Djuhartono sempat menjadi penentang Barlian yang nyaris ikut PRRI. Djuhartono bergerak dan sempat mengungsi ke luar kota, di mana Lapangan Udara Talang Betutu berada. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Kolonel Abdul Haris Nasution pun diminta datang ke Palembang. Peristiwa Mayor Djuhartono itu terjadi pada 30 Maret 1957. “Kami mendarat dalam curah hujan yang keras, yang datang menjemput adalah komandan AURI Talang Betutu bersama pejabat komandan Resimen 5,” kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas: Jilid 4 Masa Pancaroba . Barlian terus menjadi Panglima di Sumatra Selatan. Djuhartono lalu ditarik dari Palembang. Buku Untuk Diingat dan Dikenang Menyambut HUT KODAM IV Sriwijaya ke XXVII menyebut Djuhartono katanya terpengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) lantaran peristiwa itu. Belakangan Djuhartono menjadi Ketua Golongan Karya sebelum Orde Baru berjaya. Setelah Peristiwa Mayor Djuhartono daerah Tentara dan Teritorium II kemudian terbelah menjadi dua. Ada yang menolak dan ada yang berpihak kepada PRRI. Mereka yang berpihak kepada PRRI adalah Mayor Nawawi. Letnan Kolonel Barlian, Panglima Tentara dan Teritorium II Sriwijaya di Sumatra Selatan. (Wikimedia Commons). Kahin menyebut Barlian tidak mendukung pemutusan hubungan terbuka dengan pemerintah pusat di Jakarta. Dia menolak PRRI tapi enggan menahan Mayor Nawawi ikut PRRI, meski Nasution sebagai atasannya memerintahkannya. Barlian tampak bersikap netral. Tidak masuknya kawasan Sumatra Selatan ke dalam PRRI menjadi kabar buruk bagi PRRI pusat di Sumatra Barat. Jika Sumatra Selatan bergabung dalam PRRI, maka Sumatra Selatan akan menjadi medan perang antara tentara PRRI dengan tentara pemerintah yang akan dikirim dari Jawa. Sumatra Selatan tentu menjadi sasaran pertama pemerintah pusat sebelum memasuki Sumatra Barat. Tanpa adanya Sumatra Selatan dalam PRRI, maka kerja tentara pemerintah pusat menjadi semakin mudah.Sumatra Barat dan sekitarnya segera menjadi sasaran penting. Tanpa Sumatra Selatan, PRRI juga kekurangan sumber daya. Tak hanya sumber daya manusia tapi juga sumber daya alam. Sumatra Selatan sejak lama merupakan daerah yang kaya hasil perkebunan dan energi bahan bakar seperti minyak bumi dan batubara. Baca juga: Meriam PRRI yang “Bikin Ngeri” A. Yani Jika Sumatra Selatan terlibat penuh dalam PRRI, tentu PRRI akan mempunyai posisi yang kuat dan lebih sulit dihadapi oleh tentara pemerintah pusat. Namun, dengan posisi netralnya saja PRRI dengan cepat digulung pemerintah pusat. “Letnan Kolonel Barlian selaku Panglima TT II/Sriwijaya tidak dapat menerima kekerasan bersenjata dalam menangani pergolakan daerah,” tulis Hendarmin Djarab dkk. dalam Mendahului Semangat Zaman: Letkol Barlian Panglima TT II Sriwijaya 1956–1958 . Barlian melihat risiko kegagalan gerakan PRRI sendiri jelas sangatlah besar. Barlian, yang kelahiran Tanjung Sakti, kaki Gunung Dempo dekat Pagaralam, 22 Juli 1922 itu adalah anak seorang wakil kepala marga. Pernah belajar di HIS di Bengkulu dan MULO di Malang, serta bekerja di kantor pemerintah. Di zaman Jepang, dia menjadi perwira Gyugun (tentara sukarela) yang dilatih di Pagaralam. Di masa revolusi kemerdekaan di Bengkulu, diamenjadi Komandan Brigade TNI. Saat ini, Barlian adalah tokoh Sumatra Selatan yang cukup dikenang. Namanya telah menjadi nama jalan yang cukup penting di kota Palembang. Tempatnya dulu dihormati sebagai P anglima yang menjauhkan Sumatra Selatan dari perang dan pembantaian.*
- Riwayat Dua Alutsista Penggempur Andalan Marinir
KEDUA ekornya yang membentang jadi penopang sepucuk laras baja sepanjang 3,17 meter. Moncongnya yang mengarah ke depan sedikit demi sedikit mendongak hingga elevasi 70 derajat seiring Kopral Dua (Marinir) Bintang R memutar tuas elevasinya secara manual. Dalam hitungan detik, Howitzer LG-1 Mk II itu sudah dalam keadaan siap tempur dengan daya hancur seluas 200 meter persegi. Tentu saja artileri kaliber 105 milimeter itu tidak sedang diarahkan untuk memangsa suatu sasaran pada Jumat (16/9/2022) itu. Sang kopral sekadar sedang mendemonstrasikan howitzer buatan Prancis tersebut. Satu dari sekian alutsista itu sedang dipamerkan di Naval Expo TNI AL dalam rangka HUT TNI AL ke-77 di Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 11-18 September 2022. “Ini unit kita dari Yonhow-1 Mar (Batalyon Howitzer-1 Korps Marinir) ‘Sapu Jagad’. Ini satu dari tujuh unit kita. Kita sudah punya ini sejak 1995,” kata Kopda Bintang menerangkan kepada Historia. Howitzer buatan GIAT Industries asal Prancis saat sedang ditegakkan elevasi larasnya. (Randy Wirayudha/Historia.ID). Howitzer yang tergolong artileri medan ringan itu punya jarak tembak maksimal 1,75 kilometer. Alutsita beroda dua ini juga punya bobot 1.520 kilogram. Jika ekor dan laras ringkasnya dilipat, ia dengan mudah ditarik truk militer ukuran sedang –Yonhow-1 biasanya menggunakan Mercedes Unimog– atau helikopter – Bell 412 atau AS332 Super Puma. Menurut Jeff Kinard dalam Artillery: An Illustrated History of Its Impact , howitzer LG-1 Mk II itu tergolong artileri semi-otomatis. Dengan diawaki lima kru, artileri ini paling cepat bisa menembakkan 12 peluru dalam satu menit. Sementara untuk menyiapkannya secara total dari kondisi terlipat ke kondisi siap tempur cuma butuh waktu 30 detik. “Jadi sudah tidak sepenuhnya manual. Contohnya setelah kita menembak, selongsongnya sudah keluar sendiri (dari buntut laras),” tandas sang kopda. Howitzer LG-1 Mk II yang tergolong artileri ringan dan ringkas. (Twitter @marinir_tni_al). Howitzer Rasa Prancis Meski usianya sudah tiga dekade, LG-1 Mk II tergolong salah satu yang paling modern di antara alutsista jenis artileri milik Korps Marinir TNI AL. Marinir punya Howitzer M1938 (M-30) kaliber 122 mm, Meriam Anti-udara M1939 (52-K) kaliber 85 mm, atau Meriam Anti-udara M1939 (61-K) kaliber 38 mm asal Uni Soviet. Howitzer LG-1 varian Mk II dibuat oleh perusahaan swasta Prancis, GIAT Industries (kini Nexter Systems), bekerjasama dengan Etablissement d’Études et de Fabrications d’Armement de Bourges (EFAB). Pengembangannya dimulai pada 1987. Prancis mengembangkannya berangkat dari kebutuhan militernya akan artileri medan yang ringan, ringkas, tapi punya daya gempur bukan kaleng-kaleng. Howitzer LG-1 juga dikembangkan untuk menggantikan beberapa artileri militer Prancis yang uzur peninggalan era Perang Dunia II seperti Howitzer M114 dan M114F kaliber 155 mm. LG-1 Mk II juga diharapkan bisa menyaingi alutsista buatan BAE Systems Inggris Howitzer L118 kaliber 105 mm, yang sudah mendominasi pasar ekspor di kelasnya sejak 1976. “Tahun 1987, tiga purwarupanya dibuat Etablissement d’Études et de Fabrications d’Armement de Bourges untuk percobaan lanjutan. Kemudian diikuti tiga unit pra-produksinya. Di akhir 1990 Singapura jadi pelanggan (asing) pertamanya dengan memesan 37 unit untuk dua batalyon artileri mereka, di mana unit-unitnya dikirimkan antara 1992-1993,” tulis Christopher Frank Ross dalam Jane’s Armour and Artillery. Varian dasar Howitzer LG-1. (Wikipedia). Pada awal 1994, Indonesia mengikuti jejak Singapura. Sejumlah LG-1 Mk II dipesan untuk pembaruan alusista di Korps Marinir. “Di awal 1994 Indonesia melakukan pesanan dan kerjasama dengan GIAT Industries untuk 20 unit howitzer ringan LG1 Mk II plus sejumlah paket amunisi dan pelatihan. Berturut-turut pesanannya terkirim pada 1995 dan 1996,” imbuh Ross. Howitzer LG-1 Mk II pesanan Indonesia itu jadi andalan Korps Marinir dalam operasi di Daerah Operasi Militer (DOM) Aceh sejak 1995. Sejumlah unitnya jadi penyokong sejumlah misi gabungan dalam Satgas (Satuan Tugas) Rencong Sakti VI pada 1995, Satgas Rencong Sakti VII pada 1996, hingga Satgas Rencong Sakti XXII-XXX (2003-2005). “Daerah operasi mulai efektif sejak tahun 1990, terbagi tiga sektor dan tiga satuan tugas. Satuan Tugas Marinir (berfungsi untuk mengisolasi posisi satuan Gerakan Pengacau Keamanan Aceh Merdeka pada lokasi-lokasi strategis). Pusat industri di Aceh Utara juga dikepung markas-markas militer. Di bagian Utara terdapat markas Marinir dan Kopassus dan di bagian selatan ada markas Arhanud,” kata buku terbitan KontraS, Aceh: Damai dengan Keadilan? Empat pucuk LG-1 Mk II itu juga jadi alutsista pendukung Satgas Merah Putih 2011 dalam rangka operasi pembebasan sandera kapal MV Sinar Kudus yan disandera para perompak Somalia. Namun tak satupun howitzer yang dibawa di lambung kapal LPD (Landing Platform Dock) KRI Banjarmasin (592) itu memuntahkan peluru lantaran keadaan sudah bisa diatasi tim pasukan khusus gabungan (AD dan AL) tanpa bantuan artileri. Varian Howitzer LG-1 Mk II yang digunakan sejumlah militer dunia termasuk Indonesia. (nexter-group.fr/tni/mil/id). Peluncur Roket Legendaris Eropa Timur Tak jauh dari Howitzer LG-1 Mk II tadi, terdapat satu unit alutsista yang punya daya gempur besar tapi lebih mobile . Ia adalah MLRS (multiple rocket launcher system) atau peluncur roket Raketomet vzor 1970 (RM-70) buatan Cekoslovakia (kini Republik Ceko dan Republik Slowakia) versi “Vampire”. Harold A. Skaarup dalam Ironsides: Canadian Armoured Fighting Vehicle Museums and Monuments mencatat, “Vampire” adalah versi keenam atau paling mutakhir RM-70 yang punya keunggulan lebih dari versi-versi lainnya seperti versi dasar RM-70 “Grad” atau versi fire control dan navigasi modern RM-70/85M. RM-70 “Vampire” merupakan versi yang telah ter- upgrade dengan mesin delapan silinder dan drive system semi-otomatis. Versi dasar RM-70 “Grad” dikembangkan AD Cekoslovakia dari MLRS BM-21 “Grad” asal Uni Soviet yang sudah eksis pada 1960-an. RM-70 menjadi varian MLRS yang lebih berat, baik bobot kendaraan, pelindung lapis baja, maupun daya hancur roketnya. “ČSLA (Tentara Rakyat Cekoslovakia) mengadopsi sistem (peluncur roket) BM-21 Soviet tapi tak ingin menggunakan truk non-lapis baja. Mereka mengembangkan sebuah versi dengan truk Tatra 813 yang dilapisi baja. Ia juga lebih besar dari BM-21 dan juga punya loading system yang semi-otomatis,” ungkap buku Soviet/Russian Armor and Artillery Design Practices: 1945-1995. MLRS Raketomet vzor 1970 (RM-70) buatan Ceko. (Randy Wirayudha/Historia.ID). Versi dasar RM-70 “Grad” punya bobot 33,7 ton dengan panjang kendaraan 8,75 meter. Dalam satu unit, lazimnya diawaki enam personil baik untuk mobilitasnya yang punya kecepatan maksimal 85 kilometer per jam dan untuk daya gempurnya dengan kapasitas 40 roket kaliber 122,4 mm. Persenjataan sekundernya diperkuat sepucuk senapan mesin Uk vz.59. “Roket yang digunakan biasanya masih roket Soviet 9M22 dan 9M28, atau roket lokal pengembangan mandiri dengan kaliber yang sama. Penggunaan truk Tatra 813 itu sangat berguna karena membuatnya punya ruang yang lebih dari cukup untuk membawa sistem peluncur berisi 40 roket. Roket-roketnya bisa ditembakkan satu per satu atau dengan metode volley fire dengan area penghancuran mencapai tiga hektare dalam sekali volley ,” lanjut Skaarup. Selain digunakan ČSLA, mulanya RM-70 dibuat untuk pesanan di antara circle blok Timur seperti Jerman Timur dan Bulgaria. Pasca-kolapsnya Uni Soviet, RM-70 diekspor ke sejumlah negara Eropa Barat, Amerika Utara dan Amerika Selatan, Afrika, hingga Asia. Maka RM-70, baik versi dasar maupun versi-versi lanjutan, hampir selalu eksis di berbagai palagan. Perang Sahara Barat (1975-1991), konflik Afghanistan (1978-2001), Perang Saudara Sri Lanka (1983-2009), hingga Perang Saudara Yaman (sejak 2014) dan operasi militer Rusia ke Ukraina yang masih berkobar sampai sekarang. Indonesia sendiri, khususnya Korps Marinir, memiliki sembilan unit RM-70 “Grad” sejak 2003. Sementara RM-70 “Vampire” yang termutakhir sebanyak delapan unit baru memperkuat Batalyon Roket-1 Marinir sejak 2016, yang acap digunakan untuk beragam latihan rutin korps dan latihan gabungan. MLRS RM-70 "Vampire" yang sudah dimiliki Korps Marinir TNI AL sejak 2016. (Randy Wirayudha/Historia.ID).
- Jalan Terjal Ngesti Pandowo
AWAL tahun 2022 menjadi babak baru yang cukup mengharukan bagi para pemain Wayang Orang Ngesti Pandowo. Setelah hampir dua tahun vakum karena pandemi Covid-19, mereka dapat pentas kembali pada Sabtu (8/1) malam di Gedung Kesenian Ki Narto Sabdo, Kompleks Taman Budaya Raden Saleh, Semarang. Lakon (tema) yang mereka tampilkan: “Semar Boyong”. Wayang orang Ngesti Pandowo merupakan kelompok wayang orang legendaris di Indonesia. Di masa jayanya, Ngesti Pandowo sering dipanggil Presiden Sukarno maupun Soeharto, yang sama-sama penggemar wayang, untuk pentas di Istana Negara. “(Pasca Soeharto, red .) Kalau ke Istana nggak . Artinya, untuk presiden setelah Soeharto, ya nggak pernah (pentas di Istana). Pernah pentas di Jakarta, tapi mungkin pentas di TIM, di Taman Mini. Biasanya seperti itu,” ujar Dhanang Respati Puguh, dosen di Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro, kepada Historia . Kisah Ngesti Pandowo bermula dari sosok bernama Sastro Sabdo. Ia merupakan anggota kelompok wayang Sadyo Wandowo di Surabaya. Lantaran Sadyo Wandowo bubar akibat kalah bersaing dengan perkumpulan-perkumpulan wayang orang lain di Surabaya, Sastro Sabdo mendirikan kelompok baru yang diberinya nama Ngesti Pandowo. Modalnya berasal dari dari uang simpanannya dan tambahan dari seorang perempuan keturunan Tionghoa. Pada 1 Juli 1937, sebuah pasar malam bernama Pasar Oranye dihelat di Maospati, Madiun. Di antara kerumunan penonton, terdapat orang Belanda penggemar wayang dan lumayan fasih bicara bahasa Jawa. Sastro Sabdo mendekati orang tersebut, mengajak menari. Orang Belanda tersebut mau lalu ikut tampil menjadi tokoh Werkudara. Pertunjukan itu menjadi pertunjukan perdana Ngesti Pandowo, dengan peralatan yang disewa dari pihak lain. “Pertunjukan tersebut tidak dilakukan di dalam gedung atau bangunan yang permanen, tetapi mendirikan sebuah panggung dari bahan bambu atau yang sering disebut tobong, ” tulis Haryono Rinardi, dosen sejarah sosial Universitas Diponogoro, dalam penelitiannya berjudul Perkumpulan Wayang Orang Ngesti Pandawa (1937–2001) Studi Tentang Menejemen Seni Pertunjukan. Berpindah-pindah Tempat Dari Madiun, Ngesti Pandowo memulai pentasnya dari kota ke kota. Namun hanya di seputaran Jawa Timur: Surabaya, Kediri, Nganjuk, Blitar, Madiun, dan Malang. Setiap ada pasar malam, mereka hampir selalu tampil di sana. Pada awal 1942, Jepang masuk ke Jawa. Pengawasan ketat terhadap segala aktivitas masyarakat diberlakukan antara lain lewat sensor setiap kegiatan publik dan juga pemberlakuan jam malam. Akibatnya, jumlah penonton Ngesti Pandowo berkurang dan imbasnya, pendapatannya pun menurun. Kondisi tersebut memaksa Ngesti Pandowo memutar otak supaya tetap bertahan. Hijrah mendekati pusat kebudayaan seperti Surakarta pun dipilih sebagai solusi. Ngesti Pandowo lalu memilih Klaten sebagai tempat persinggahannya karena diyakini wilayah tersebut penduduknya banyak yang menyukai kesenian tradisional. Kendati mendapat sambutan baik dari masyarakat, eksistensi Ngesti Pandowo di Klaten hanya bertahan sebentar. Pada 1948, di Delanggu, Klaten, Tentara Republik Indonesia meminta anggota Ngesti Pandowo untuk meninggalkan tempat pertunjukan karena akan dibakar untuk menghambat masuknya pasukan Belanda. “Sastro Sabdo selaku pimpinan Ngesti Pandowo mengajak anggotanya pindah ke Begalon, Surakarta. Dalam perjalanan dari Delanggu ke Begalon sering terjadi pemeriksaan oleh anggota KNIL dan harus rela berhenti cukup lama saat terjadi pertempuran. Ternyata saat sampai di Begalon, mereka tetap tidak bisa melakukan pementasan. Bahkan anggota perkumpulan ini terkena kewajiban untuk melakukan kerja membersihkan ruangan dan lingkungan di tangsi pasukan KNIL, yang berlangsung mulai pukul 06.00 hingga sore hari. Imbalan yang mereka terima dari kerja itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Puncaknya ketika Truno Kartiko, anggota Ngesti Pandowo tertembak dan meninggal saat terjadi gencatan senjata,” kata Dhanang Respati Puguh, dosen sejarah Universitas Diponogoro, dalam penelitiannya berjudul “ Pertunjukan Kethoprak Ngesti Pandowo, 1950-1996 ”, termaktub di buku Ngesti Pandowo: Sejarah Dari Masa ke Masa . Ketika situasi sudah memungkinkan untuk menggelar pementasan kembali, pada 1949 Ki Sastro Sabdo mengumpulkan kembali anggota yang tercecer. Beberapa yang masih memiliki hubungan baik langsung diajaknya membangun kembali Ngesti Pandowo. Mereka kemudian pindah ke Semarang. Ngesti Pandowo tampil di Pasar Malam Jalan Ki Mangunsarkoro. Namun aral melintang tetap merintanginya. “Pak Kusni, sutradara, tahun 1949 pernah dipanggil Belanda, dimintai keterangan ini pertunjukan apa, apa maksudnya, dikhawatirkan sebagai mata-mata ,” tulis Sujarno dkk. dalam buku terbitan Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia Wayang Orang Ngesti Pandowo (2001-2015) . Tokoh pendahulu Ngesti Pandowo. (joss.co.id). Masa Kejayaan Usai perang menjadi lembaran baru bagi Ngesti Pandowo. Pada 1950, Walikota Semarang Hadi Supeno Sosrowardoyo meminta Ngesti Pandowo menetap di kota tersebut. Ia memberikan tempat untuk Ngesti Pandowo pentas di Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS). Ngesti Pandowo menempati barak belakang gedung tersebut. Empat tahun kemudian, walikota Semarang membuatkan gedung pertunjukan secara khusus yang masih di dalam Kompleks GRIS. Masyarakat Semarang dan sekitarnya semakin menyukai pertunjukan wayang orang Ngesti Pandowo. Penonton akan semakin banyak jika ada perayaan, entah lebaran atau pasar malam. “Kalau ada pasar malam atau lebaran, satu hari mainnya sampai lima kali,” tulis Sujarno dkk. Kondisi tersebut jelas menambah pundi-pundi penghasilan para pemainnya. Namun, Ngesti Pandowo juga menjadikan kepopulerannya sebagai sarana untuk beramal. “Pada saat terjadi bencana alam Gunung Merapi meletus 1953, Ngesti Pandowo pentas dalam rangka pengumpulan dana,” kata Moehadi dalam Wayang Orang Ngesti Pandawa Sejarah Singkat dan Usaha Pengembangannya. Mengetahui hal itu, Presiden Sukarno tertarik. Ia memanggil Ngesti Pandowo untuk pentas di Istana Merdeka dan Istana Bogor. Prestasi dan kiprah Ngesti Pandowo di bidang kesenian dan kemanusiaan membuat kelompok tersebut memperoleh penghargaan piagam Wijayakusuma dari presiden pada 1962. Setelah itu, Istana berkali-kali mengundang Ngesti Pandowo pentas untuk menyambut tamu-tamu negara. Biasanya, saat Presiden Sukarno akan menonton, ia memiliki permintaan untuk dijemput dan disambut oleh penari srimpi. Popularitas Ngesti Pandowo makin meningkat ketika rezim Orde Baru berkuasa. Pemerintah menjadikan Ngesti Pandowo salah satu agen penyebaran informasi program-program Pelita (Pembangunan Lima Tahun) yang sedang gencar dilaksanakan pemerintah. Pesan pembangunan biasa disampaikan dalam adegan goro-goro. Namun, kejayaan Ngesti Pandowo sejatinya bukan hanya karena perhatian lebih dari pemerintah. Kreativitas para pengurusnya juga berperan besar. Kreativitas itu dibuktikan dengan pembuatan trik-trik pementasan “Gatot Kaca terbang”, “Anoman Obong”, atau “Dewa Ruci” seperti bioskop. Saat itu menonton bioskop merupakan sesuatu yang mewah. “Penonton dibuat kagum, seakan-akan adegan tersebut sungguh-sungguh terjadi, mereka terhanyut di dalam alur cerita atau adegan tersebut,” menurut Sujarno dkk. Berbekal pemasukan dari pentas-pentas yang dimainkannya, Ngesti Pandowo semakin profesional dengan membeli seperangkat gamelan. Di luar urusan teknis, Ngesti Pandowo amat memperhatikan kesejahteraan para anggotanya. Selain mendirikan asrama untuk para anggotanya, Ngesti Pandowo memberikan biaya pengobatan hingga bantuan untuk biaya sekolah anak para anggotanya. Kemunduran Para paruh kedua 1970-an, pemerintah gencar membagikan pesawat televisi ke berbagai daerah usai mengoperasionalkan Satelit Palapa A-1. Masyarakat semakin gencar menonton televisi meski pesawat televisi baru terjangkau kelas menengah ke atas. Akibatnya, Ngseti Pandowo mulai kehilangan penontonnya. Kerugian Ngesti Pandowo semakin menanjak dari tahun ke tahun. Kompas edisi 9 Oktober 1982 memberitakan bahwa Ngesti Pandowo kesulitan keuangan sehingga terpaksa menjual salah satu perangkat gamelannya. Beruntung tidak semua gamelannya yang dijual. “Saat ini masih ada gamelan lama Ngesti Pandowo yang disimpan di Asrama Ngesti. Gamelan tersebut memiliki kualitas sangat bagus namun sudah tidak digunakan lagi,” kata Dhanang. Kemunduran Ngesti Pandowo bukan hanya karena kemunculan media-media dan produk-produk kesenian baru, namun juga akibat kehilangan semangat karena ditinggal oleh para pendirinya seperti Ki Sastro Soedirdjo (1984) dan Ki Narto Sabdo (1985). Belum lagi, kreativitas-kreativitas yang mereka lakukan sudah mudah diikuti kelompok kesenian lain. Keunikan Ngesti Pandowo berkurang drastis. Masalah kian pelik karena pihak GRIS, tempat Ngesti Pandowo pentas, mulai berniat menjual lahannya pada 1990 lantaran merasa selalu rugi. Lahan itu akhirnya dijual GRIS pada 1994. Ngesti Pandowo pun angkat kaki dengan pesangon sebesar 500 juta rupiah. Tempat yang dipilih Ngesti Pandowo pasca-GRIS adalah Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang. Dua tahun di sini, Ngesti Pandowo pindah lagi lantaran rugi karena TBRS kurang strategis. Ngesti Pandowo lalu memilih ke Taman Rekreasi Istana Majapahit. Meskipun bertahan di Istana Majapahit hingga tahun 2001, Ngesti Pandowo tetap merugi. Saking defisitnya, di awal tahun 2001, Ngesti Pandowo harus vakum dari pementasan selama tiga bulan. Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kota (pemkot) Semarang turun tangan. Ngesti Pandowo dipinjami Gedung Ki Narto Sabdo di Taman Budaya Raden Saleh tanpa biaya sewa maupun listrik dengan jatah pemakaian hari Kamis, Jumat, dan Sabtu. Selain itu, pemkot juga meminjamkan gamelan. “Kalau sekarang, pentas di Gedung Ki Narto Sabdo itu menggunakan gamelan milik pemkot,” kata Dhanang. Berbekal dukungan Pemkot Semarang itulah ngesti bertahan dari gempuran zaman yang kini sedang “dicengkeram” K-Pop. Kendati sempat lumpuh akibat pandemi Covid-19, Ngesti Pandowo kini kembali lagi. “Ngesti Pandowo itu sebelum pandemi pentasnya kan seminggu sekali, tiap malam Minggu. Pada saat pandemi ya mandek, nggak pentas. Kelihatannya ini sudah normal kembali ya, setiap malam Minggu,” ujar dosen yang kerap dijuluki “anak angkat” Ki Narto Sabdo itu.*
- Gordon Tobing dan Gitarnya
PENYANYI lagi-lagu Batak, Gordon Tobing memang tak diragukan lagi kareirnya sebagai seorang musisi. Penyanyi kelahiran 25 Agustus 1925 ini merasa kepiawaiannya bermusik adalah anugerah yang diturunkan dari keluarganya. “Bagi kami, menyanyi dapat dikatakan suatu gave . Suatu bakat khas yang turun-temurun,” kata Gordon seperti dikutip Mingguan Djaja, 13 Juli 1963. Ayahnya, R.L. Tobing merupakan juara keroncong Sumatra Utara berturut-turut sejak 1925 hingga 1938. Bahkan, Gordon mengaku tak pernah lebih baik dari ayahnya dalam menyanyi. Gordon belajar menyanyi sejak kanak-kanak. Ia mendapat pelajaran musik di Sekolah Minggu Methodist di Palembang. Ketika pindah ke Jakarta, ia belajar dari penyanyi soprano German, Nyonya Botterweg. Di Jakarta, Gordon mulai unjuk gigi melalui RRI menyanyikan lagu-lagu seriosa diiringi piano oleh komponis terkemuka, Sudharnoto. Sejak 1951, ketika belum ada pemilihan bintang radio, Gordon telah menjadi langganan RRI untuk menyanyikan gubahan komponis-komponis seperti Ismail Marzuki, Iskandar, hingga Syaiful Bahri. “Di tahun itu juga ia membentuk paduan suara yang dinamakannya Sinondang Tapianauli dan khusus membawakan lagu-lagu daerah itu,” tulis Mingguan Djaja . Gordon Tobing turut dalam delegasi Indonesia ke Festival Pemuda ke-4 di Bukares, Rumania pada 1953. Delegasi ini diikuti oleh musisi ternama Indonesia seperti Sudharnoto, Subronto K. Atmodjo, dan penyanyi seriosa Rose Pandanwangi. Saat itu, Gordon yang biasanya diandalkan harus mundur dari salah satu kompetisi karena tak memenuhi persyaratan, terutama harus bisa membawakan lagu klasik. Gordon kemudian digantikan Rose Pandanwangi yang akhirnya meraih juara ketiga. Gordon tak kecewa karena harus digantikan Rose. Ia mendukung Rose dan tak mempermasalahkan mengapa persyaratan tak ditanyakan di awal oleh pemimpin rombongan Indonesia. “Sikap Gordon Tobing itu membuat dia menjadi teman baik Rose, dan mereka beberapa kali bekerja sama di bidang seni suara,” tulis Sori Siregar dalam Kisah Mawar Pandanwangi. Namun, dalam festival itu, Gordon tetap berkesempatan tampil tunggal bersama gitarnya. Ia membawakan lagu daerah Tapianauli yang telah diolahnya kembali berjudul A Sing Sing So. “ Applaus spontan yang gemuruh menunjukkan betapa hangat sambutan para hadirin,” tulis Mingguan Djaja . Pada 1959, Gordon dan paduan suara Sinondang Tapianauli melawat ke Republik Demokrasi Rakyat Korea (Korea Utara) dan Republik Demokrasi Vietnam. Lawatan kali itu disponsori oleh Lembaga Persahabatan Indonesia-RRT. Selain negara-negara sahabat di Asia, sepanjang karir setidaknya Gordon telah melakukan tur ke berbagai negara di Eropa Timur seperti Polandia, Hungaria, Cekoslovakia, dan Rusia. “Di tiap negeri itu Gordon dan kawan-kawannya diminta membawakan lagu-lagunya di muka corong radio. Sambutannya selalu hangat sekali,” tulis Mingguan Djaja . Dalam setiap lawatan, gitar adalah alat musik yang tak bisa dipisahkan dari Gordon. “Gitar adalah kawan hidup saya,” katanya. “Dengan gitar telah saya menembusi setengah dunia.”*
- Adieu, Jean-Luc Godard!
PRANCIS kehilangan “harta nasional”, begitu kata Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam cuitannya di akun Twitter -nya , Selasa (13/9/2022), usai mendengar kabar duka meninggalnya sutradara nyentrik Jean-Luc Godard. Godard wafat di usia 91 tahun akibat bunuh diri dengan euthanasia atau suntikan mati –yang dilegalkan di Swiss– di kediamannya di Rolle, Swiss pada 13 September 2022. “Beliau mencari jalan lain dalam hal bantuan hukum di Swiss untuk ‘pergi’ secara sukarela karena beliau menderita beberapa penyakit yang tak bisa disembuhkan. Beliau wafat di kediamannya dalam damai dengan didampingi istri (ketiga), Anne-Marie Miéville saat menjelang maut,” ungkap kuasa hukum mendiang Godard, Patrick Jeanneret, dikutip The Guardian , Selasa (13/9/2022). Selain Presiden Prancis, eks-Menteri Kebudayaan (2002-2012) Prancis Jack Lang, sebagaimana dilansir CBC , Selasa (13/9/2022), juga merasa kehilangan. “Kita berutang banyak kepadanya. Ia menyemarakkan sinema dengan puisi dan filosofi. Matanya yang tajam dan unik membuat kita bisa melihat segala sesuatu yang tak kasat mata,” kata Lang. Sineas Inggris Edgar Wright mengungkapkan bahwa mendiang Godard jadi salah satu sosok legenda yang menginspirasi banyak sutradara hebat. Martin Scorsese dan Quentin Tarantino di antaranya. “Mungkin tidak ada sutradara lain selain dia yang paling menginspirasi banyak orang untuk mengambil kamera dan memulai syuting,” kata Wright. Aktor kawakan Antonio Banderas juga mengaturkan rasa dukanya. “Terima kasih Tuan Godard telah memperluas batasan-batasan yang ada dalam sinema,” kata Banderas. Empat penggerak lain French New Wave (searah jarum jam) Éric Rohmer, Claude Chabrol, Jacques Rivette & François Truffaut. (IMDb/BFI/Uni France). Dalam jagad sinema dunia, jika bicara Nouvelle Vague atau “French New Wave” (gelombang baru), Godard punya kontribusi besar. Dia memang bukan pencetus, “godfather”, atau “Bapak French New Wave”. Namun film-film suksesnya membuat gelombang baru itu bisa mengglobal, menginspirasi, hingga ditiru dan dimodifikasi banyak sutradara kondang macam Scorsese dan Tarantino. French New Wave, sebagaimana yang dicatat kritikus James F. Monaco dalam The New Wave: Truffaut, Godard, Chabrol, Rohmer, Rivette, merupakan satu gebrakan dalam seni perfilman yang melintas batas-batas tradisional sejak era pra-Perang Dunia II. Gerakan gelombang baru itu mencuri perhatian publik global lewat plot maupun alur cerita yang tidak lurus dan logis. Seringkali prosesnya eksperimental dengan gaya pengambilan gambar serta susunan adegan yang tidak rapi, dan sangat kental dengan ikonoklasme dalam karya-karyanya. Maka mereka yang melakoninya dicap radikal karena film-film yang dihasilkan dinilai kasar dan subversif pada zamannya meski secara estetik juga sarat dengan kosmetik sinematik. French New Wave sendiri dicetuskan novelis, kritikus cum sineas Prancis Alexandre Astruc. Ia mengabadikan gagasannya dalam “Naissance d’une nouvelle avant-garde: la caméra-stylo” (“The Birth of a New Avant-Garde”) yang dimuat majalah L’Écran edisi 30 Maret 1948. “Akan tetapi baru 10 tahun kemudian hingga akhirnya para sineas New Wave memenuhi mimpi Astruc dan mempraktikkan teorinya. Pada 1950-an para sineas ini ditempa di klub-klub film seperti Cinémathèque Française, di mana di antara tokoh pentingnya adalah (François) Truffaut, Godard, Éric Rohmer (alias Maurice Schérer), (Claude) Chabrol, dan (Jacques) Rivette yang menulis di (jurnal film) Cahiers du Cinéma yang didirikan André Bazin. Oleh karenanya godfather -nya New Wave tak lain adalah Henri Langlois si pendiri Cinémathèque yang memberikan banyak materi tentang kritik film tapi Bapak New Wave-nya sendiri adalah Bazin,” ungkap Monaco. Peran Godard menjadi besar karena pada 1960-an beberapa dari ratusan karyanya yang lintas genre benar-benar mengglobalkan New Wave dan mengguncang jagat sinema dunia. Sebut saja À bout de souffle ( Breathless , 1960); Le petit soldat ( The Little Soldier , 1960); Vivre sa vie ( My Life to Live , 1962); Les Carabiniers ( The Carabineers , 1963); dan Le Mépris ( Contempt, 1963). Dari Proyek Bendungan ke Jagat Sinema Lahir di Paris, Prancis pada 3 Desember 1930, Godard tumbuh di keluarga kaya Prancis-Swiss. Ayahnya, Paul Godard, seorang dokter dan ibunya, Odile Monod, merupakan putri dari salah satu bankir paling berpengaruh di Prancis cum pendiri BNP Paribas, Julien Monod. Di masa kecilnya, Godard dibawa keluarganya mengungsi ke Swiss demi menghindari Perang Dunia II. “Godard menikmati masa-masa pertumbuhannya dengan banyak literasi yang kemudian mempengaruhi minatnya pada perfilman. Darah seninya diturunkan dari kakek dari garis ibunya yang seorang penyair, Paul Valéry. Godard juga sempat studi antropologi di Sorbonne (Université de Paris, red. ) walau kemudian drop out dan sepanjang masa mudanya sempat bekerja serabutan. Dia menghindari wajib militer di Prancis dan Swiss dengan berkelana ke Amerika Utara dan Amerika Selatan,” tulis Douglas Morrey dalam biografi Jean-Luc Godard. Lima tahun pasca-Perang Dunia II, Godard yang sudah menaruh minat besar pada perfilman menggabungkan diri ke beberapa klub film, di antaranya Cinémathèque Française dan Ciné-Club du Quartier Latin (CCQL). Di masa itu ia memilih untuk hidup lebih bebas dan mandiri di tengah kekisruhan rumah tangga orangtuanya yang berakhir perceraian. Di klub-klub itu pula Godard mulai akrab dengan para cinephile yang radikal dalam gagasan pergerakan film: Truffaut, Rohmer, Chabrol, dan Rivette. Mereka semua di bawah asuhan dan bimbingan Langlois dan Bazin. Mereka menuangkan banyak pemikiran soal film di jurnal yang kritis soal film, Cahiers du Cinéma . Dari kritikus film, Godard mulai tergoda untuk membuat film sendiri. Tak lama setelah kontraknya sebagai pekerja proyek Bendungan Grande Dixence di Plaz Fleuri, Hérémence, Swiss, selesai pada 1954, ia membuat film sendiri. Godard bisa bekerja di proyek bendungan itu lewat bantuan Jean-Pierre Laubscher yang juga bekerja di proyek yang sama. Laubscher merupakan kekasih ibunya, Odile, usai sang ibu bercerai dari Paul Godard. “Di situ ia melihat kemungkinan membuat dokumenter tentang bendungan. Ia melakukannya dengan kamera 35 milimeter pinjaman dari temannya. Film yang diberi judul Operation béton ( Operation Concrete , 1955) itu diapresiasi dan oleh perusahaan (proyek bendungan) dijadikan salah satu publisitas perusahaannya,” ungkap Richard Brody dalam Everything in Cinema: The Working Life of Jean-Luc Godard. Film pertama Godard berupa dokumenter berdurasi 10 menit. (IF Cinéma). Setelah banyak memproduksi dokumenter, Godard masuk ke film feature pada 1960. Ia menggebrak dunia sinema dengan À bout de souffle ( Breathless ). Film drama kriminal yang dibintangi Jean-Paul Belmondo dan Jean Seberg itu skenarionya ditulis Godard bersama Truffaut dan Chabrol dengan dinaungi rumah produksi Les Films Impéria. Dengan biaya produksi hanya 400 ribu franc, Breathless yang mengglobal bisa mengumpulkan laba hingga 2,3 juta franc. “Godard memperkenalkan salah satu inovasinya di (film) À bout de souffle dengan menggunakan teknik jump-cut . Teknik yang revolusioner seperti halnya seorang novelis atau penyair menggunakan (tanda baca) titik koma,” sambung Monaco. Gebrakan lainnya, lanjut Monaco, Godard mengenalkan proses syuting di lokasi outdoor ketimbang di studio yang lazim ditemui dalam film-film klasik. Pun dengan penggunaan kamera genggam 35 mm yang ambience -nya lebih mirip dokumenter. Godard juga punya kebiasaan di lokasi syuting menuliskan dialog-dialog baru untuk menambah alur cerita dalam outline skenario karya Truffaut, ketimbang mempersiapkannya jauh-jauh hari. “Godard memang ingin Breathless dibuat seperti dokumenter, dengan kamera genggam tanpa (kamera) bertripod dan pencahayaan yang minimum. Hasilnya mirip newsreel , lebih praktis, dan memberikan komponen-komponen film yang lebih estetik,” lanjut Brody. Godard (kanan) bersama aktris yang membintangi Breathless , Jean Dorothy Seberg. (oscars.org). Breathless yang rilis pada 16 Maret 1960 di Paris, meledak. Filmnya menarik penonton yang luar biasa besar, tak hanya di bioskop-bioskop Prancis tapi juga sampai ke Eropa dan Amerika berkat sejumlah ulasan kritikus film yang positif akan praktik jenius dari gagasan New Wave-nya Astruc. “Di sinilah, pada faktanya, karya otentik pertama yang ditulis dengan caméra-stylo ,” catat kritikus Gérald Devries yang menulis di kolom Démocratie 60 , dikutip Brody. Kritikus Gilbert Salachas ikut mengapresiasi soal “gebrakan” itu dengan menulis kolom untuk majalah Radio-Cinéma-Television . “Yang menjadikan Breathless berbeda adalah anarki yang spektakuler dalam hal tone -nya, gambar, dan bahasa. Ekstremisme macam ini merupakan presentasi yang orisinal dan nyaris seperti sebuah manifesto,” ujar Salachas. Karya-karya lain Godard yang juga meledak di pasaran. (IMDb). Seiring perjalanan waktu, Godard mulai menyisipkan isu-isu politik dan geopolitik yang memanas di awal-awal Perang Dingin ke dalam film-filmnya seperti Le petit soldat dan Les Carabiniers. Bahkan, menjelang era 1970-an, Godard makin radikal dan kekiri-kirian. Nuansa Marxisme itu begitu terasa dalam karya-karya La Chinoise ( The Chinese , 1967) hingga Weekend (1967). Bersama Jean-Pierre Gorin, Godard lalu mendirikan komunitas sineas kiri Dziga Vertov Group. Ia menyuarakan politik anti-imperialismenya lewat sejumlah film, seperti Tout va bien (1972) dan Letter to Jane (1972). Komunitas itu terinspirasi dari tokoh sineas Uni Soviet, Dziga Vertov, yang banyak menghasilkan dokumenter radikal di era 1920-an. “Baru pada 1980-an Godard kembali ke film-film fiksi tradisional dengan karyanya, Sauve qui peut ( Every Man for Himself , 1980), atau film-film yang terinspirasi dari kejadian nyata seperti Passion (1982); Lettre à Freddy Buache ( A Letter to Freddy Buache , 1982); Prénom Carmen ( First Name: Carmen , 1983); atau Je vous salue, Marie ( Hail Mary , 1985) dan King Lear (1987) yang tak kalah kontroversial hingga dikecam Gereja Katolik,” tambah Brody. Karier Godard tak luput dari kontroversi mengingat ia sineas radikal yang sempat mengusung ideologi kiri. (oscars.org/goldenglobes.com). Hingga 2018, Godard konsisten menyelipkan isu-isu politik dalam karya-karyanya menjelang akhir hayatnya. Antara lain Notre musique ( Our Music , 2004) dan Film Socialisme ( Socialism , 2010) yang merefleksikan kekerasan pasca-era kolonialisme dalam konflik Pengepungan Sarajevo, konflik suku pribumi Amerika, hingga konflik Israel-Palestina. Film terakhirnya, Le Livre d’image ( The Image Book , 2018), menggambarkan dunia Arab di masa modern dikaitkan dengan sejarah film dan sejarah kekerasan holocaust , terorisme ISIS, hingga konflik Israel-Palestina. Lewat film ini Godard ingin mendekonstruksi narasi tentang masyarakat Arab yang digambarkan dan dipropagandakan film-film Barat. “ The Image Book adalah film esai yang menggunakan koleksi footage , foto, dan lukisan Godard sendiri secara montase. Dibuat mirip seperti Histoire(s) du Cinéma (1988) dengan menganisis sejarah sinema yang menggambarkan dunia Arab. Sarat sindiran dan perwujudan paradoks kariernya. The Image Book juga menyimpan rasa sakit, kedukaan, penyesalan dari pengalamannya yang selama ini disembunyikan, termasuk dari dirinya (Godard) sendiri,” tandas Brody dalam kolomnya di The New Yorker , 25 Januari 2019.*
- Ki Narto Sabdo Sang Pembaru Kesenian Tradisi Jawa
Bung Karno merupakan pecinta seni ulung sekaligus seniman. Salah satu kesenian yang paling disukainya adalah tari. Ia suka menari, bahkan Bung Karno menciptakan tari Lenso. Bung Karno juga kerap mengundang banyak penari untuk pentas di Istana. Salah satu tari yang kerap diundang untuk tampi di Istana adalah tari Bambangan Cakil. “Dahulu Presiden Sukarno sering mengundang pethilan (versi singkat red .) tari Bambangan Cakil oleh Bu Suwarni dan Pak Sucipto. Pak Karno menghendaki yang gendangi Pak Narto Sabdo diiringi oleh karawitan RRI Jakarta,” kata Dhanang Respati, dosen Program Studi Sejarah Universitas Diponogoro, dalam wawancara daring dengan Historia . Pak Narto yang dimaksud Dhanang adalah Ki Narto Sabdo, seniman serba bisa. Ia banyak dikenal sebagai pencipta gending-gending Jawa dan lakon-lakon wayang kulit. Perjalanan karier Ki Narto Sabdo tidak terlepas dari peran Ki Sastro Sabdo, pendiri wayang orang Ngesti Pandowo. Baca juga: Potret Keakraban Bung Karno dan Tokoh Dunia Pada 1945, Sunarto –belum bergelar Ki Narto Sabdo– merupakan pemain kendang di kelompok kethoprak Sriwandowo. Kelompok itu sangat terkenal karena memiliki banyak penonton. Para penonton kabarnya terpukau dengan permainan kendang Sunarto. Kabar kemahiran Sunarto memainkan kendang sampai ke telinga Ki Sastro Sabdo, yang kemudian sengaja menonton pergelaran Sriwandowo untuk membuktikan isu tersebut. Esok paginya ia mengirim anggota Ngesti Pandowo untuk menemui Sunarto. Sunarto lalu menemui Ki Sastro Sabdo diantar Mardanus, anggota Ngesti Pandowo. Oleh Sastro Sabdo ia ditawari bergabung dengan Ngesti Pandowo. Awalnya Sunarto ragu. Ia merasa masih memiliki banyak utang kepada pimpinan kethoprak tersebut. Namun permasalahannya itu lalu diatasi Sastro Sabdo dengan menutupi utang Sunarto agar Sunarto dapat pindah ke Ngesti Pandowo. Sunarto pun bergabung dengan Ngesti Pandowo. Baca juga: Koko Koswara, Pembaharu Karawitan Sunda Sunarto mau bergabung dengan Ngesti Pandowo bukan hanya karena utangnya sudah dilunasi. Alasan lainnya, ia menganggap wayang orang memiliki status sosial lebih tinggi dibanding kethoprak. Itu antara lain dilihat dari jumlah penonton yang lebih antusias menyaksikan wayang orang dan adanya para priyayi yang ikut menonton. Di masa-masa awal Sunarto bergabung dengan Ngesti Pandowo, beberapa anggota wayang orang tersebut meragukan kemampuannya. “ Mereka memandang bahwa Sunartoberasal dari kelompok kesenian kethoprak yang statusnya lebihrendah dibanding dengan wayang orang, khususnya NgestiPandowo,” ungkap Sujarno, dkk. dalam Wayang Orang Ngesti Pandowo (2001-2015): Kajian tentang Manajemen Seni Pertunjukan . Untuk membuktikan kemampuan Sunarto, Ki Sastro Sabdo meminta Sunarto untuk memainkan kendang iringan tari. Tari yang dibawakan adalah tari Gambyong, digunakan sebagai pelengkap pertunjukan wayang orang Ngesti Pandowo. Sunarto berhasil menabuh kendang sangat baik sehingga suasana terasa lebih hidup dan penonton antusias. Bukan hanya saat mengiringi tari, Sunarto juga mahir memainkan kendang untuk iringan selain tari. Musik-musik yang ia ciptakan lebih dinamis dan dianggap modern pada zamannya. Ini kemudian membuat anggota Ngesti Pandowo menyambut Sunarto sebagai bagian dari seniman di perkumpulan wayang orang tersebut. Baca juga: Maestro Gamelan di Kiri Jalan Sebelum menetap di Semarang, wayang orang Ngesti Pandowo pentas berpindah dari kota ke kota. Di setiap tempat yang disinggahi Ngesti Pandowo, Ki Sastro Sabdo menyarankan Sunarto untuk berlatih dengan guru seni yang mumpuni di tempat tersebut. Belajar dari satu guru ke guru lain membuat Sunarto semakin kaya referensi musiknya. Dari karawitan gaya Banyumasan, Semarangan, Yogyakarta, Surakarta, hingga Pasundan dan Bali dikuasai semua oleh Sunarto. Kemampuan-kemampuan tersebut membuat Sunarto dapat meramu komposisi karawitan untuk wayang orang menjadi lebih variatif. Hasilnya, penonton tidak mudah bosan. Oleh sebab itu, Ki Sastro Sabdo mengangkat Sunarto menjadi pimpinan karawitan Ngesti Pandowo. Dari sinilah namanya diganti menjadi Ki Narto Sabdo. “Pak Sastro Sabdo memberi hadiah untuk Pak Narto dengan nama Narto Sabdo karena dianggap berjasa untuk Ngesti. Bahkan Pak Narto dianggap sebagai pendahulu Ngesti Pandowo tapi bukan berarti pendiri,” sambung Dhanang. Baca juga: Musik Gamelan di Luar Angkasa Setelah menjadi pemimpin karawitan Ngesti Pandowo, Ki Narto Sabdo tidak hanya bergelut di bidang karawitan. Ia juga bertindak sebagai dalang. Sebagai dalang wayang orang, Ki Narto Sabdo harus menguasai berbagai komponen wayang orang seperti menari, sulukan (vokal lagu untuk dalang), dan keprakan (bunyi keprak yang dilakukan dalang untuk mengiringi wayang). “ Dalammelaksanakan tugasnya ini Narto Sabdo menirukan ataumencontoh dari para pendahulunya seperti manarinya meniruKasido, sulukan meniru Ki Pujosumarto, sementara kepraknyamemakai model wayang kulit,” kata Haryono Rinardi, sosiolog sejarah Universitas Diponogoro, dalam penelitian berjudul Perkumpulan Wayang OrangNgesti Pandawa (1937 – 2001) Studi TentangMenejemen Seni Pertunjukan. Salah satu cover album musik karya Ki Narto Sabdo. ( rekayorek.id ). Dhanang juga berpendapat mengenai jasa-jasa Ki Narto Sabdo pada Ngesti Pandowo di bidang pedalangan. “Menurut cerita yang saya dengar, Pak Narto berkontribusi untuk lakon-lakon baru yang dibawakan Ngesti, jadi Pak Narto ikut membuat naskah-naskah balungan, membuat cerita, dan naskah balungan yang dibuat oleh Pak Narto saat ini masih dipentaskan oleh Ngesti,” kata Dhanang. Ki Narto Sabdo juga produktif mengkreasikan tari. Antara lain Lumbung Desa, Blandhong, Bayangan Kembar,Sampur Ijo, dan Panca Tunggal. Pada karya-karya tersebut ia menciptakan gerak tari dan musik pengiringnya untuk pelengkap pementasan wayang orang Ngesti Pandowo. Keahlian Ki Narto Sabdo mendapat tempat tersendiri di benak Presiden Sukarno. Ki Narto menjadi tukang kendang andalan si “Bung Besar” yang kerap diundang pentas ke Istana dengan iringan karawitan RRI Jakarta – memiliki kelompok karawitan yang saat ini masih aktif dan eksis . Dari sinilah Ki Narto Sabdo dianggap berkontribusi untuk perkembangan karawitan RRI Jakarta. “Karena Pak Narto sering berinteraksi dengan seniman RRI Jakarta, maka pimpinan karawitan RRI Jakarta, Pak Sukiman namanya, merasa berhutang budi karena merasa karawitan RRI Jakarta menjadi bagus, gitu loh, penyajiannya karena srawung dengan Pak Narto. Kemudian Pak Sukiman ingin berbalas budi dengan Pak Narto Sabdo. Lalu muncul pemikiran dan masukan dari orang lain bahwa Pak Narto Sabdo saat itu sedang mempersiapkan diri menjadi dalang dan sudah mulai mendalang, lalu ditawari untuk pentas direkam oleh RRI Jakarta,” kata Dhanang . Baca juga: Denting Alunan Gamelan Raffles Karier Ki Narto Sabdo sebagai dalang wayang kulit dimulai pada tahun 1958, ketika dirinya mendapat panggilan dari kepala Studio RRI untuk mendalang di Gedung PTIK. Lakon yang dimainkan adalah “Kresna Duta”. Mulai dari situ, permintaan-permintaan mendalang di Solo, Semarang, dan Yogyakarta berdatangan. Sebagai seniman dengan kreativitas tinggi, Ki Narto Sabdo terus bereksplorasi. Ia lalu melahirkan karya-karya gubahannya seperti “Dasa Griwa”, “Mustakaweni”, “Ismaya Maneges”, “Gatutkaca Sungging”, “Gatutkaca Wisuda”, “Arjuna Cinoba”, “Kresna Apus”, dan “Begawan Sendang Garba”. “Meskipun sibuk sebagai dalang di luar kegiatan Ngesti Pandowo, namun Pak Narto masih memikirkan Ngesti. Biasanya Pak Narto mayang sesudah selesai pementasan Ngesti Pandowo. Jadi saat sore ada dalang lain, lalu malamnya digantikan oleh Pak Narto,” kata Dhanang. Baca juga: Mantra Sakti Sang Dalang Wayang Namun, ada yang masih dirasa kurang oleh Ki Narto Sabdo, yakni memiliki kelompok karawitan sendiri. Maka pada 1968, karawitan Condhong Raos didirikannya. “Saat itu Pak Narto belum memiliki kelompok karawitan. Karawitan Condong raos didirikan 1 April 1968. Pendirian karawitan tersebut dilatarbelakangi oleh keinginan Pak Narto sendiri untuk mengiringi pedalangannya sesuai dengan selera Pak Narto. Pada awalnya anggotanya terdiri dari beberapa anggota pengrawit RRI Jombang, RRI Surakarta, RRI Semarang, dan Ngesti Pandowo. Unsur utamanya dari anggota karawitan Ngripto Raras, Boyolali,” kata Dhanang. Kreativitas Ki Narto Sabdo juga dituangkannya ke dalam Ngesti Pandowo. Saat ia memimpin perkumpulan tersebut, teknik pementasan Ngesti Pandowo memiliki inovasi baru seperti trik bioskop, teknik berubah wujud, kelir waring , kapalan , dan parto dewa . Trik bioskop adalah pementasan menggunakan proyektor yang membuat seolah-olah tokohnya dapat terbang sungguhan. Kelir waring digunakan ketika penampilan adegan horor, setan-setan terlihat muncul dan berjalan menembus pohon-pohon besar. Berbagai teknik ini menginspirasi kelompok-kelompok wayang orang di luar Ngesti Pandowo. Baca juga: Alunan Gamelan Memikat Komponis Amerika Di bawah kepemimpinan Ki Narto Sabdo, kelompok karawitan Ngesti Pandowo juga mampu menciptakan lagu-lagu yang sangat populer di kalangan masyarakat seperti “ Gugur Gunung”, “Aja Lamis”, “LesungJumengglung”, “Kelinci Ucul”, “Praon”, “Aja Dipleroki”, “Mbok jo mesem”, dan masih banyak lagi. Sayangnya masa kepemimpinan Ki Narto Sabdo tidak berlangsung lama. Tidak sampai tiga tahun memimpin Ngesti Pandowo, Ki Narto wafat pada tahun 1985. Meskipun Ki Narto Sabdo sudah “berpulang”, bunyi gending karya-karyanya masih terdengar indah di telinga hingga kini. Gending-gending karawitan Jawa yang kini disajikan di tempat-tempat dengan latar belakang kebudayaan Jawa, entah hotel ataupun bandara, mayoritas merupakan ciptaan Ki Narto Sabdo. “ Kebudayaan itu adalah angan-angan manusia yang menghasilkankeindahan,” kata Ki Narto Sabdo.
- Serdadu KNIL Jawa di Kalimantan Utara
SUATU hari pada 1960-an, Kolonel Suhario Padmodiwirio mengadakan inspeksi ke daerah yang kini termasuk Provinsi Kalimantan Utara. Kala itu, sang kolonel yang dikenal sebagai Hario Kecik, menjabat panglima Komando Daerah Militer (Kodam) yang bertanggung jawab atas daerah Kalimantan Utara dan Timur. Kodam itu berpusat di Balikpapan. Ketika lelah melakukan inspeksi, dia diajak makan. “Uwis jam piro, Mas?” kata seorang tua asli daerah itu tapi bukan orang Jawa. Artinya “sudah jam berapa, Mas?” Hario Kecik merasa heran. “Eh, Opo Pake ngerti coro Jowo?” tanya Hario Kecik. Artinya “Eh, apa Bapak mengerti bahasa Jawa?” Orang tua itu hanya meringis saja. “Makanan sudah ada, mari makan, Pak,” kata pria tua itu. Hario Kecik semakin bingung. Kapten Tosin menghampiri Hario Kecik dan mengatakan bahwa makanan sudah siap. Hario Kecik lalu bertanya pada Tosin soal percakapan yang membingungkan antara dia dan bapak tua tadi. Tosin pun segera bertanya ke bapak tua itu. Jawabannya membuat Tosin tertawa.
- Tak Ditangkap Polisi, Sayuti Melik Dongkol
PADA Mei 1923, belasan ribu buruh kereta api dan trem di seluruh Jawa mogok massal. Penyebabnya, gaji mereka dipangkas dan penghapusan tunjangan karena resesi ekonomi. Serangkaian pemogokanpun dilakukan dari Semarang, Solo, Yogyakarta, Bandung hingga Batavia. Di Solo, Sayuti Melik turut serta bersama para buruh menyebarkan pamflet-pamflet pemogokan. Ia masih berusia 15 tahun. Namun, ia kerap mendatangi rapat-rapat aksi dan urun bicara di berbagai forum. Saat itu, seorang kawan Sayuti Melik ditangkap polisi karena tertangkap basah menyebarkan pamflet propaganda. Namun, Sayuti Melik justru dibiarkan saja. Ia hanya ditanya, “Nopo niku, gus?” atau “apa itu, gus” oleh seorang polisi merujuk pada pamflet yang dibawanya.
- An Indonesian Hero Behind the New York Strike
KALIBATA, 23 August 1972. There was a gentle tapping from the door that night at around nine. Muhammad Ali raised up from his seat and opened the door revealing a familiar face of his neighbor. Ali welcomed him in.
- Ratu Elizabeth II dan Lukisan Sunda Kelapa
JIKA hubungan Inggris dan Indonesia begitu tegang pada masa pemerintahan Sukarno. Lain cerita ketika Soeharto berkuasa. Pada masa pemerintahan Orde Baru, Ratu Elizabeth II disambut dengan hangat dalam kunjungannya pada Maret 1974. Seperti diceritakan Wardiman Djojonegoro dalam Sepanjang Jalan Kenangan, persiapan untuk menyambut kedatangan Ratu Elizabeth II bahkan telah dilakukan enam bulan sebelumnya. Saat itu, bagian protokol Kedutaan Besar Inggris di Jakarta menghubungi Wardiman untuk menyusun acara selama kunjungan. Wardiman kala itu menjabat sebagai Kepala Biro II yang membawahkan Dinas Kehumasan dan Keprotokolan Provinsi DKI Jakarta. “Setiap mata acara oleh protokol Inggris dibicarakan sangat detail. Bahkan sampai dihitung berapa menit waktu yang diperlukan dari satu acara ke acara yang lain, atau jika berjalan kaki dari satu tempat ke tempat yang lain,” kata Wardiman.
- Ratu Elizabeth II yang Dihujat dan Dicinta
ERA Ratu Elizabeth II resmi berakhir. Setelah tujuh dekade dan melewati 15 masa pemerintahan perdana menteri (PM) Inggris, perempuan paling powerful yang pernah memimpin 33 negara (kini 15 negara) sekaligus itu menghembuskan nafas terakhirnya pada 8 September 2022 di usia 96 tahun. Takhtanya diteruskan putranya, Pangeran Charles, yang memilih nama Raja Charles III. Ratu Elizabeth II wafat di Istana Balmoral di Aberdeenshire, Skotlandia sekira pukul 18.30 waktu setempat karena kondisi kesehatannya terus memburuk. Padahal, dua hari sebelumnya sang ratu masih muncul di depan publik dengan wajah berseri diiringi senyum kala bertemu PM Inggris yang baru, Liz Truss, di Istana Balmoral. “Baru awal pekan ini ia masih menjalankan tugasnya saat ia menunjuk saya sebagai PM-nya yang ke-15. Hari ini jadi kehilangan besar buat kita tetapi Ratu Elizabeth II meninggalkan warisan yang besar…dan dengan berakhirnya era Elizabeth II, sekarang kita menyongsong era baru dalam sejarah luar biasa negara kita yang besar,” demikian potongan pidato PM Truss di laman resmi pemerintahan Inggris, Kamis (8/9/2022). Upacara pemakaman sang ratu bakal dihelat sesuai prosedur “Operation London Bridge” dari Skotlandia. Bendera dinaikkan setengah tiang di Istana Buckingham, London, dan gedung-gedung pemerintahan. Para pemimpin pemerintahan negara-negara persemakmuran mendapat panggilan ke London. Momen berkabung akan dilangsungkan selama 72 jam dengan penyemayaman jenazah di Katedral St. Giles di Edinburgh lalu pemindahan jenazah ke London untuk disemayamkan di Westminster Hall selama empat hari. Setelah itu baru dimakamkan. Dari era Depresi Besar sampai masa pandemi Covid, Ratu Elizabeth II melewati pergantian-pergantian zaman dengan aneka isu hitam dan putih yang mengikutinya. Ia naik takhta pada 1952 menggantikan mendiang ayahnya, Raja George VI untuk kemudian menjadi ratu dengan masa terlama dalam sejarah monarki Inggris, terlepas ia juga jadi ratu yang pernah dihujat dan dicinta sekaligus. Terakhir kali Ratu Elizabeth II muncul di publik saat menerima Perdana Menteri Mary Elizabeth "Liz" Truss. (Twitter @RoyalFamily). Calon Penerus Kerajaan Elizabeth Alexandra Mary lahir sebagai putri sulung pasangan Pangeran Albert dan Putri Elizabeth pada 21 April 1926. Seiring ayahnya naik takhta menjadi Raja George VI, Elizabeth kecil dipersiapkan jadi suksesornya. “George VI menetapkan Elizabeth dipersiapkan pada tugas-tugas kerajaan yang akan lebih baik darinya. Sang raja sering membawanya duduk bersamanya di ruang baca untuk mempelajari dokumen-dokumen negara. Juga memberikan kelas-kelas khusus tentang sejarah konstitusi, peran kerajaan, dan prosedur parlementer. Sementara pendidikan sang adik, Putri Margaret, tidak seketat dan seteratur itu,” tulis Susan Kennedy dkk. dalam Queen Elizabeth II and the Royal Family: A Glorious Illustrated History. Pada masa Perang Dunia II, Elizabeth yang masih belia aktif menyokong perlawanan dengan ikut merajut bahan-bahan pakaian militer hingga berpantomim di atas panggung untuk penggalangan dana. Setahun bergulirnya perang, ia bersama Margaret rutin siaran di program “Children’s Hour” radio BBC saban pagi untuk menghibur anak-anak yang terdampak pemboman udara. “Setidaknya jika takhta saya dijatuhkan, anak-anak sudah akan bisa cari nafkah sendiri,” kata Raja George VI setengah bercanda, dikutip Kennedy dkk. Elizabeth merupakan anak yang paling sering diajak ayahnya dalam kunjungan kerja ke berbagai negara. Salah satunya, kunjungan ke Amerika Serikat pada musim gugur 1942 untuk bertemu Presiden Franklin D. Roosevelt dan Ibu Negara Eleanor Roosevelt. “Dia (Elizabeth) menanyakan banyak hal tentang kehidupan di Amerika, termausk pergerakan-pergerakan pemuda di Amerika. Dan semua yang ia tanyakan adalah pertanyaan serius,” kenang Eleanor dikutip Matthew Dennison dalam The Queen: An Elegant New Biography of Her Majesty Elizabeth II. Putri Elizabeth (kanan) & Putri Margaret bersiaran di BBC di masa perang (Repro Queen Elizabeth II and the Royal Family: A Glorious Illustrated History ). Saat usianya genap 18 tahun pada 1944, Elizabeth ditunjuk ayahnya menjadi Counsellor of State atau semacan penasihat negara. Tentu setelah parlemen mengamandemen Regency Act tahun 1937, di mana keturunan raja bisa menjadi Counsellor of State dengan syarat berusia 21 tahun ke atas. “Tumbuh dengan lingkungan yang penuh cinta dan kasih sayang, ia sempat terhenyak dengan banyak fakta di titik ini. Ketika raja sedang mengunjungi pasukan AD ke-8 di Italia, tugasnya sebagai Counsellor termasuk menandatangani penangguhan hukuman seorang pelaku pembunuhan. Ia heran: ‘apa yang membuat orang bisa melakukan hal seburuk ini? Pasti ada sesuatu untuk bisa membantunya. Saya masih harus belajar banyak tentang masyarakat!’” ungkap Sarah Bradford dalam Queen Elizabeth II: Her Life in Our Times. Elizabeth makin aktif dalam membantu upaya perang. Pada Februari 1945, ia masuk Auxiliary Territorial Service (ATS), sebuah barisan sukarelawati di bawah AD Inggris. Mendapat pangkat kehormatan letnan dua, Elizabeth dilatih jadi sopir truk dan berbagai kendaraan militer lain, serta keahlian mekanik. Di akhir perang, Elizabeth yang mulai dijuluki “Princess of Mechanic” sudah menyandang pangkat kapten. Dengan seragam yang sama pula ia ikut hanyut dalam perayaan VE Day (Victory Europe Day) di jalan-jalan kota London pada 8 Mei 1945. Dengan seragam ATS itu, Elizabeth bisa menyamarkan diri sebagai warga biasa tanpa harus dikenali sebagai anggota kerajaan. “Saya dan Margaret sebelumnya minta izin pada orangtua untuk bisa keluar dan melihat sendiri (perayaan). Kami turun ke jalan-jalan, di mana banyak orang yang sebenarnya juga tak saling mengenal tetapi bisa saling bergandengan tangan dalam suasana bahagia. Rasanya itu salah satu malam paling mengesankan dalam hidup saya,” ujar Elizabeth dikutip Kennedy dkk. Putri Elizabeth semasa aktif di barisan Auxiliary Territorial Service. (nam.ac.uk/rct.uk). Di Bawah Takhta Ratu Usai perang, Elizabeth dipinang Pangeran Philip pada 20 November 1947. Philip yang sudah dikenal Elizabeth sejak 1934 itu sejatinya merupakan sepupu kedua dari garis keturunan Raja Denmark Christian IX, dan sepupu ketiga jika terhitung dari garis keturunan Ratu Victoria. “Di 6 Februari 1952 setelah (raja) George VI wafat, Elizabeth resmi melanjutkan takhta (dinasti) Windsor. Ia mempertahankan nama ‘Elizabeth’ untuk kemudian disebut Ratu Elizabeth II, meski sebetulnya nama itu menyinggung banyak bangsawan Skotlandia, mengingat ia menjadi Elizabeth pertama yang memerintah di Skotlandia. Elizabeth dan Philip kemudian resmi pindah dari kediaman sebelumnya di Sagana Lodge, Kenya, ke Istana Buckingham,” sambung Bradford. Tetapi tak mudah bagi sang ratu yang masih terbilang muda itu ketika terjun ke politik. Terlebih ketika ia mendapat banyak tekanan dari partai konservatif kala menentang keputusan PM Anthony Eden menginvasi Mesir saat pecahnya Krisis Suez pada November 1956. Namun terlepas dari itu, banyaknya kunjungannya ke sejumlah negeri bekas koloni membuat Inggris bisa masuk ke European Community (kini European Economic Community) pada 1973. Putri Elizabeth di momen pernikahannya dengan Pangeran Philip. (nationaalarchief.nl). Dinamika politik yang penuh gejolak mulai menjadi bagian dari kehidupan sang ratu. Selain mulai menghadapi isu negara-negara persemakmuran yang ingin lepas dari kerajaan, seperti Kanada dan Australia, Ratu Elizabeth II juga menemui friksi di internal pemerintahan Inggris. Utamanya dengan PM Margaret Thatcher pada 1986. “Yang Mulia Ratu khawatir dengan kebijakan-kebijakan ekonomi perdana menteri yang memperlebar jurang sosial dengan meningkatnya pengangguran, serangkaian kerusuhan, dan kekerasan dalam aksi pemogokan buruh tambang. Thatcher juga menolak menerapkan sanksi terhadap rezim apartheid di Afrika Selatan,” kata laporan surakatbar The Sunday Times , 20 Juli 1986. Begitu memasuki dekade baru, Ratu Elizabeth diguncang banyak isu yang dikompori banyak media. Yang “terberat”, tahun 1992, di mana ia menyebutnya annus horribilis atau tahun mengerikan. Di tahun itu kelompok-kelompok pro-Republik di Inggris menyerang gaya hidup anggota kerajaan. Lalu, berita-berita kehidupan pribadi keluarga, seperti perceraian Pangeran Andrew dengan istrinya pada Maret dan perceraian Putri Anne pada bulan berikutnya, begitu marak. “Di tahun itu juga Mauritius merdeka jadi negara republik dan Elizabeth tak lagi jadi kepala negaranya. Lalu pada Oktober saat kunjungannya ke Dresden, Jerman, ia dilempari telur oleh para pengunjuk rasa. Pada November, Istana Windsor mengalami kebakaran besar. Di tahun itu monarki Elizabeth II benar-benar dalam sorotan negatif publik,” ungkap Gyles Brandreth dalam Philip and Elizabeth: Portrait of a Marriage. Ratu Elizabeth (bergaun kuning) di antara para pemimpin G77 tahun 1977. (NARA). Keluarnya Putri Diana dari istana usai berpisah dari Pangeran Charles membuat reputasi Ratu Elizabeth II kian jeblok di mata publik. Film biopik The Queen (2006) cukup gamblang menggambarkan bagaimana publik di Inggris memendam kemarahan ketika Ratu Elizabeth sempat hanya berdiam diri di Istana Balmoral saat Putri Diana meninggal pasca-kecelakaan di Paris, Prancis pada 31 Agustus 1997. PM Tony Blair sampai harus menasihatinya agar sang ratu tak tersinggung, supaya sang ratu mau keluar dari Balmoral ke Buckingham dan menyampaikan pernyataan pertamanya usai kematian Putri Diana. Nasihat itu berhasil, Ratu Elizabeth menyapa publik di depan gerbang istana hanya untuk melihat lautan bunga dengan pesan-pesan duka untuk Putri Diana bercampur kecaman yang memilukan hati untuk sang ratu. “Mendapat banyak tekanan, ratu akhirnya berangkat ke London dan menyampaikan pidato duka lewat siaran televisi pada 5 September, sehari sebelum Putri Diana dimakamkan. Dalam pidatonya, ia mengungkapkan kekagumannya pada Diana dan perasaan kehilangan sebagai nenek dari dua pengeran. Hasilnya, kecaman publik berangsur-angsur menghilang,” tambah Brandreth. Kiprah sang ratu terus bergulir seiring berjalannya waktu. Semasa pandemi Covid-19, Ratu Elizabeth masih aktif mengungkapkan imbauan serta keprihatinan kepada warganya yang terdampak via siaran televisi, agar tetap berada di rumah dan tak beraktivitas di luar jika tak dalam keadaan darurat. Itu ia contohkan, bahkan ketika berduka kala suaminya, Pangeran Philip, wafat pada 9 April 2021. Karena pembatasan sosial, Ratu Elizabeth hanya terduduk sendirian di samping peti mati suaminya tanpa didampingi banyak anggota keluarga saat upacara pemakaman. Kini, Ratu Elizabeth sudah “kembali bersatu” dengan Pangeran Philip di alam keabadian. Rest in peace , Ratu Elizabeth II.* Ratu Elizabeth dan Pangeran Philip dalam kunjungannya ke Jerman pada Oktober 1992. (Bundesarchiv).
- Ratu Elizabeth II Mengundang Bung Karno Ke London
SEPANJANG masa kepresidenannya, Sukarno telah melakukan kunjungan kenegaraan ke berbagai belahan dunia. Tapi, ada dua negara Eropa yang belum disambanginya: Belanda dan Inggris. Keengganan Sukarno ke Belanda jelas perkara prinsip dan harga diri. Ia tak sudi menginjakkan kaki ke negeri penjajah tersebut. Sementara Inggris, belum kesampaian saja. “Aku sudah ke mana-mana kecuali ke London, sekalipun Ratu Inggris sudah dua kali mengundangku untuk berkunjung,” kata Sukarno dalam otobiografinya yang disusun Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Ada kisah di balik undangan Kerajaan Inggris terhadap Bung Karno. Bermula ketika Sukarno berpidato di Sidang Majelis Umum PBB ke-15 pada 30 September 1960. Dalam pidatonya berjudul To Build The World Anew (Membangun Dunia Kembali), Bung Karno mempromosikan Pancasila untuk dianut dalam piagam PBB. Ia juga menyentil PBB yang lebih condong terhadap kepentingan adikuasa daripada negara-negara dunia ketiga. Tak luput pula kecaman dilayangkannya terhadap kuasa penjajahan Belanda di Irian Barat (kini Papua). Pidato itu diakui sebagai salah satu pidato terbaik sekaligus paling kontroversial dalam Sidang Majelis Umum PBB. Menurut Juru Bicara Departemen Luar Negeri Ganis Harsono, ada dua tokoh negara yang terkesan menyaksikan penampilan Sukarno, yakni Perdana Menteri Inggris Harold Macmillan dan Pangeran Norodom Sihanouk dari Kamboja. “Perdana Menteri Harold Macmillan dari Kerajaan Inggris, yang dua hari setelah Bung Karno menyampaikan pidatonya sengaja datang ke puncak Hotel Waldorf Astoria, tempat menginap Bung Karno,” tutur Ganis dalam memoarnya Cakrawala Politik Era Sukarno . Tak sampai setahun kemudian, tepatnya 28 Agustus 1961, Ratu Elizabeth II atas saran Macmillan mengundang Sukarno mengadakan kunjungan kenegaraan ke London. Sukarno melalui Departemen Luar Negeri menyatakan bersedia menerima undangan sang ratu. Kunjungan kenegaraan ke Inggris diagendakan pada Mei 1962. Pengumuman resmi pun disiarkan. Berita rencana kunjungan Sukarno ke Inggris sampai ke negeri Belanda. Ratu Juliana tak senang mendengarnya. Apalagi Ratu Elizabeth II masih terbilang keponakan Juliana. Waktu itu hubungan diplomatik Indonesia dengan Belanda sudah putus akibat sengketa Irian Barat. Pada 19 September 1961, Ratu Juliana menyatakan perudingan dengan Indonesia mengenai Irian Barat tak akan dilakukan. Ia bahkan membuka pintu bagi rakyat Irian Barat untuk menentukan masa depannya sendiri. Kebijakan dekolonisasi Belanda ini semakin memperburuk hubungan Belanda dengan Indonesia. Begitupun dengan Ratu Elizabeth II. “Pernyataan Ratu Juliana kemudian berakibat kurang baik dan tidak membenarkan kemenakan jauhnya, Ratu Elizabeth, menjamu Presiden Sukarno di Istana Buckingham,” imbuh Ganis. Tapi, Kerajaan Inggris bersikukuh mengundang Sukarno. Sempat terjadi perbedaan persepsi protokoler. Bung Karno seperti disebut Jenderal Abdul Haris Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama, menghendaki penyambutan penuh kebesaran bagi seorang kepala negara. Namun, penyambutan seperti itu dibatasi oleh peraturan kerajaan, demikian disampaikan Wakil Perdana Menteri Edward Heath kepada Nasution ketika berkunjung ke Inggris pertengahan 1961. “Ia sarankan agar datang saja sebagai kepala pemerintah. Itu lebih baik, karena dapat dilakukan pembicaraan secara bisnis, to talk business . Adapun dalam acara kebesaran kerajaan tidak akan dapat diadakan pembicaraan-pembicaraan, karena serba protokoler,” kata Nasution yang saat itu menjabat Kepala Staf Angkatan Darat. Di London, baik pemerintah maupun staf Kedutaaan Besar Indonesia sibuk mempersiapkan penyambutan. Terlebih lagi sebulan menjelang kunjungan. Duta Besar Indonesia B.M. Diah mengatakan brosur tentang Indonesia dan riwayat hidup Sukarno dicetak untuk disebarkan. Persiapan protokoler untuk menyambut kedatangan Bung Karno sudah rapi. Bendera Merah Putih dipesan untuk menghiasi jalan utama yang akan dilewati Sukarno-Ratu Elizabeth II. Istana Buckingham bahkan sudah menyusun menu sarapan, makan siang, dan makan malam yang dibuat khusus untuk Bung Karno. Namun, pada 21 April 1962, Sukarno melayangkan surat permintaan maaf kepada Ratu Elizabeth II. Karena situasi di dalam negeri, ia mengatakan tak bisa meninggalkan Indonesia. Situasi memang lagi genting menyusul serangan Belanda terhadap armada Angkatan Laut Indonesia di Laut Arafuru pada awal tahun. Pada Maret 1962, perundingan yang dimediasi Amerika Serikat macet sehingga Indonesia dan Belanda terancam perang. Kunjungan resmi Sukarno ke London batal. Surat kabar Inggris, seperti ditulis Toeti Kakiailatu dalam biografi B.M. Diah: Wartawan Serba Bisa , memberitakan hal pembatalan ini di halaman satu: “ SUKARNO SNUBS THE QUEEN! ” (Sukarno Melecehkan Ratu). Meski agak menyesalkan, Ratu Elizabeth II memakluminya. Itu dinyatakan dalam suratnya bertanggal 8 Mei 1962. “Menteri-menteri saya dan saya sendiri telah siap sedia menyambut kedatangan Yang Mulia, dan untuk memperlihatkan kepada Yang Mulia perihal negara kami, akan tetapi saya percaya bahwa kita akan mempunyai kesempatan untuk ini pada waktu yang lain,” kata Ratu Elizabeth II dalam suratnya, dikutip Ganis Harsono. Setelah sengketa Irian Barat berakhir, semestinya kunjungan itu direalisasi. Tapi, Sukarno memasuki babak konflik baru dengan Negara Federasi Malaysia. Ia menolak gagasan pembentukan Negara Malaysia dan menyerukan “Ganyang Malaysia”. Sementara negara itu merupakan eks koloni Inggris yang masuk dalam persemakmuran. Akibatnya, Angkatan Perang Indonesia berhadapan dengan tentara Inggris di perbatasan Kalimantan. Perang dengan Inggris memang dapat terhindarkan. Tapi, kampanye Sukarno mengganyang Malaysia berujung gagal total. Sejak itu, politik dalam negeri maupun perekonomian tak kunjung membaik sampai menyebabkan Sukarno lengser. Hingga wafatnya, kunjungan Bung Karno ke Inggris urung terjadi. Malah Ratu Elizabeth II yang berkesempatan datang ke Indonesia setelah rezim berganti. Pada Maret 1974, sang ratu berlayar ke Bali menumpangi kapal pesiar kerajaan, Royal Yacht Britannia . Selain Bali, Elizabeth II menyambangi Jakarta dan Yogyakarta. Bagi Elizabeth II, Indonesia punya tempat khusus di hatinya.*





















