Hasil pencarian
9858 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ratu Elizabeth II dan Lukisan Sunda Kelapa
JIKA hubungan Inggris dan Indonesia begitu tegang pada masa pemerintahan Sukarno. Lain cerita ketika Soeharto berkuasa. Pada masa pemerintahan Orde Baru, Ratu Elizabeth II disambut dengan hangat dalam kunjungannya pada Maret 1974. Seperti diceritakan Wardiman Djojonegoro dalam Sepanjang Jalan Kenangan, persiapan untuk menyambut kedatangan Ratu Elizabeth II bahkan telah dilakukan enam bulan sebelumnya. Saat itu, bagian protokol Kedutaan Besar Inggris di Jakarta menghubungi Wardiman untuk menyusun acara selama kunjungan. Wardiman kala itu menjabat sebagai Kepala Biro II yang membawahkan Dinas Kehumasan dan Keprotokolan Provinsi DKI Jakarta. “Setiap mata acara oleh protokol Inggris dibicarakan sangat detail. Bahkan sampai dihitung berapa menit waktu yang diperlukan dari satu acara ke acara yang lain, atau jika berjalan kaki dari satu tempat ke tempat yang lain,” kata Wardiman.
- Ratu Elizabeth II yang Dihujat dan Dicinta
ERA Ratu Elizabeth II resmi berakhir. Setelah tujuh dekade dan melewati 15 masa pemerintahan perdana menteri (PM) Inggris, perempuan paling powerful yang pernah memimpin 33 negara (kini 15 negara) sekaligus itu menghembuskan nafas terakhirnya pada 8 September 2022 di usia 96 tahun. Takhtanya diteruskan putranya, Pangeran Charles, yang memilih nama Raja Charles III. Ratu Elizabeth II wafat di Istana Balmoral di Aberdeenshire, Skotlandia sekira pukul 18.30 waktu setempat karena kondisi kesehatannya terus memburuk. Padahal, dua hari sebelumnya sang ratu masih muncul di depan publik dengan wajah berseri diiringi senyum kala bertemu PM Inggris yang baru, Liz Truss, di Istana Balmoral. “Baru awal pekan ini ia masih menjalankan tugasnya saat ia menunjuk saya sebagai PM-nya yang ke-15. Hari ini jadi kehilangan besar buat kita tetapi Ratu Elizabeth II meninggalkan warisan yang besar…dan dengan berakhirnya era Elizabeth II, sekarang kita menyongsong era baru dalam sejarah luar biasa negara kita yang besar,” demikian potongan pidato PM Truss di laman resmi pemerintahan Inggris, Kamis (8/9/2022). Upacara pemakaman sang ratu bakal dihelat sesuai prosedur “Operation London Bridge” dari Skotlandia. Bendera dinaikkan setengah tiang di Istana Buckingham, London, dan gedung-gedung pemerintahan. Para pemimpin pemerintahan negara-negara persemakmuran mendapat panggilan ke London. Momen berkabung akan dilangsungkan selama 72 jam dengan penyemayaman jenazah di Katedral St. Giles di Edinburgh lalu pemindahan jenazah ke London untuk disemayamkan di Westminster Hall selama empat hari. Setelah itu baru dimakamkan. Dari era Depresi Besar sampai masa pandemi Covid, Ratu Elizabeth II melewati pergantian-pergantian zaman dengan aneka isu hitam dan putih yang mengikutinya. Ia naik takhta pada 1952 menggantikan mendiang ayahnya, Raja George VI untuk kemudian menjadi ratu dengan masa terlama dalam sejarah monarki Inggris, terlepas ia juga jadi ratu yang pernah dihujat dan dicinta sekaligus. Terakhir kali Ratu Elizabeth II muncul di publik saat menerima Perdana Menteri Mary Elizabeth "Liz" Truss. (Twitter @RoyalFamily). Calon Penerus Kerajaan Elizabeth Alexandra Mary lahir sebagai putri sulung pasangan Pangeran Albert dan Putri Elizabeth pada 21 April 1926. Seiring ayahnya naik takhta menjadi Raja George VI, Elizabeth kecil dipersiapkan jadi suksesornya. “George VI menetapkan Elizabeth dipersiapkan pada tugas-tugas kerajaan yang akan lebih baik darinya. Sang raja sering membawanya duduk bersamanya di ruang baca untuk mempelajari dokumen-dokumen negara. Juga memberikan kelas-kelas khusus tentang sejarah konstitusi, peran kerajaan, dan prosedur parlementer. Sementara pendidikan sang adik, Putri Margaret, tidak seketat dan seteratur itu,” tulis Susan Kennedy dkk. dalam Queen Elizabeth II and the Royal Family: A Glorious Illustrated History. Pada masa Perang Dunia II, Elizabeth yang masih belia aktif menyokong perlawanan dengan ikut merajut bahan-bahan pakaian militer hingga berpantomim di atas panggung untuk penggalangan dana. Setahun bergulirnya perang, ia bersama Margaret rutin siaran di program “Children’s Hour” radio BBC saban pagi untuk menghibur anak-anak yang terdampak pemboman udara. “Setidaknya jika takhta saya dijatuhkan, anak-anak sudah akan bisa cari nafkah sendiri,” kata Raja George VI setengah bercanda, dikutip Kennedy dkk. Elizabeth merupakan anak yang paling sering diajak ayahnya dalam kunjungan kerja ke berbagai negara. Salah satunya, kunjungan ke Amerika Serikat pada musim gugur 1942 untuk bertemu Presiden Franklin D. Roosevelt dan Ibu Negara Eleanor Roosevelt. “Dia (Elizabeth) menanyakan banyak hal tentang kehidupan di Amerika, termausk pergerakan-pergerakan pemuda di Amerika. Dan semua yang ia tanyakan adalah pertanyaan serius,” kenang Eleanor dikutip Matthew Dennison dalam The Queen: An Elegant New Biography of Her Majesty Elizabeth II. Putri Elizabeth (kanan) & Putri Margaret bersiaran di BBC di masa perang (Repro Queen Elizabeth II and the Royal Family: A Glorious Illustrated History ). Saat usianya genap 18 tahun pada 1944, Elizabeth ditunjuk ayahnya menjadi Counsellor of State atau semacan penasihat negara. Tentu setelah parlemen mengamandemen Regency Act tahun 1937, di mana keturunan raja bisa menjadi Counsellor of State dengan syarat berusia 21 tahun ke atas. “Tumbuh dengan lingkungan yang penuh cinta dan kasih sayang, ia sempat terhenyak dengan banyak fakta di titik ini. Ketika raja sedang mengunjungi pasukan AD ke-8 di Italia, tugasnya sebagai Counsellor termasuk menandatangani penangguhan hukuman seorang pelaku pembunuhan. Ia heran: ‘apa yang membuat orang bisa melakukan hal seburuk ini? Pasti ada sesuatu untuk bisa membantunya. Saya masih harus belajar banyak tentang masyarakat!’” ungkap Sarah Bradford dalam Queen Elizabeth II: Her Life in Our Times. Elizabeth makin aktif dalam membantu upaya perang. Pada Februari 1945, ia masuk Auxiliary Territorial Service (ATS), sebuah barisan sukarelawati di bawah AD Inggris. Mendapat pangkat kehormatan letnan dua, Elizabeth dilatih jadi sopir truk dan berbagai kendaraan militer lain, serta keahlian mekanik. Di akhir perang, Elizabeth yang mulai dijuluki “Princess of Mechanic” sudah menyandang pangkat kapten. Dengan seragam yang sama pula ia ikut hanyut dalam perayaan VE Day (Victory Europe Day) di jalan-jalan kota London pada 8 Mei 1945. Dengan seragam ATS itu, Elizabeth bisa menyamarkan diri sebagai warga biasa tanpa harus dikenali sebagai anggota kerajaan. “Saya dan Margaret sebelumnya minta izin pada orangtua untuk bisa keluar dan melihat sendiri (perayaan). Kami turun ke jalan-jalan, di mana banyak orang yang sebenarnya juga tak saling mengenal tetapi bisa saling bergandengan tangan dalam suasana bahagia. Rasanya itu salah satu malam paling mengesankan dalam hidup saya,” ujar Elizabeth dikutip Kennedy dkk. Putri Elizabeth semasa aktif di barisan Auxiliary Territorial Service. (nam.ac.uk/rct.uk). Di Bawah Takhta Ratu Usai perang, Elizabeth dipinang Pangeran Philip pada 20 November 1947. Philip yang sudah dikenal Elizabeth sejak 1934 itu sejatinya merupakan sepupu kedua dari garis keturunan Raja Denmark Christian IX, dan sepupu ketiga jika terhitung dari garis keturunan Ratu Victoria. “Di 6 Februari 1952 setelah (raja) George VI wafat, Elizabeth resmi melanjutkan takhta (dinasti) Windsor. Ia mempertahankan nama ‘Elizabeth’ untuk kemudian disebut Ratu Elizabeth II, meski sebetulnya nama itu menyinggung banyak bangsawan Skotlandia, mengingat ia menjadi Elizabeth pertama yang memerintah di Skotlandia. Elizabeth dan Philip kemudian resmi pindah dari kediaman sebelumnya di Sagana Lodge, Kenya, ke Istana Buckingham,” sambung Bradford. Tetapi tak mudah bagi sang ratu yang masih terbilang muda itu ketika terjun ke politik. Terlebih ketika ia mendapat banyak tekanan dari partai konservatif kala menentang keputusan PM Anthony Eden menginvasi Mesir saat pecahnya Krisis Suez pada November 1956. Namun terlepas dari itu, banyaknya kunjungannya ke sejumlah negeri bekas koloni membuat Inggris bisa masuk ke European Community (kini European Economic Community) pada 1973. Putri Elizabeth di momen pernikahannya dengan Pangeran Philip. (nationaalarchief.nl). Dinamika politik yang penuh gejolak mulai menjadi bagian dari kehidupan sang ratu. Selain mulai menghadapi isu negara-negara persemakmuran yang ingin lepas dari kerajaan, seperti Kanada dan Australia, Ratu Elizabeth II juga menemui friksi di internal pemerintahan Inggris. Utamanya dengan PM Margaret Thatcher pada 1986. “Yang Mulia Ratu khawatir dengan kebijakan-kebijakan ekonomi perdana menteri yang memperlebar jurang sosial dengan meningkatnya pengangguran, serangkaian kerusuhan, dan kekerasan dalam aksi pemogokan buruh tambang. Thatcher juga menolak menerapkan sanksi terhadap rezim apartheid di Afrika Selatan,” kata laporan surakatbar The Sunday Times , 20 Juli 1986. Begitu memasuki dekade baru, Ratu Elizabeth diguncang banyak isu yang dikompori banyak media. Yang “terberat”, tahun 1992, di mana ia menyebutnya annus horribilis atau tahun mengerikan. Di tahun itu kelompok-kelompok pro-Republik di Inggris menyerang gaya hidup anggota kerajaan. Lalu, berita-berita kehidupan pribadi keluarga, seperti perceraian Pangeran Andrew dengan istrinya pada Maret dan perceraian Putri Anne pada bulan berikutnya, begitu marak. “Di tahun itu juga Mauritius merdeka jadi negara republik dan Elizabeth tak lagi jadi kepala negaranya. Lalu pada Oktober saat kunjungannya ke Dresden, Jerman, ia dilempari telur oleh para pengunjuk rasa. Pada November, Istana Windsor mengalami kebakaran besar. Di tahun itu monarki Elizabeth II benar-benar dalam sorotan negatif publik,” ungkap Gyles Brandreth dalam Philip and Elizabeth: Portrait of a Marriage. Ratu Elizabeth (bergaun kuning) di antara para pemimpin G77 tahun 1977. (NARA). Keluarnya Putri Diana dari istana usai berpisah dari Pangeran Charles membuat reputasi Ratu Elizabeth II kian jeblok di mata publik. Film biopik The Queen (2006) cukup gamblang menggambarkan bagaimana publik di Inggris memendam kemarahan ketika Ratu Elizabeth sempat hanya berdiam diri di Istana Balmoral saat Putri Diana meninggal pasca-kecelakaan di Paris, Prancis pada 31 Agustus 1997. PM Tony Blair sampai harus menasihatinya agar sang ratu tak tersinggung, supaya sang ratu mau keluar dari Balmoral ke Buckingham dan menyampaikan pernyataan pertamanya usai kematian Putri Diana. Nasihat itu berhasil, Ratu Elizabeth menyapa publik di depan gerbang istana hanya untuk melihat lautan bunga dengan pesan-pesan duka untuk Putri Diana bercampur kecaman yang memilukan hati untuk sang ratu. “Mendapat banyak tekanan, ratu akhirnya berangkat ke London dan menyampaikan pidato duka lewat siaran televisi pada 5 September, sehari sebelum Putri Diana dimakamkan. Dalam pidatonya, ia mengungkapkan kekagumannya pada Diana dan perasaan kehilangan sebagai nenek dari dua pengeran. Hasilnya, kecaman publik berangsur-angsur menghilang,” tambah Brandreth. Kiprah sang ratu terus bergulir seiring berjalannya waktu. Semasa pandemi Covid-19, Ratu Elizabeth masih aktif mengungkapkan imbauan serta keprihatinan kepada warganya yang terdampak via siaran televisi, agar tetap berada di rumah dan tak beraktivitas di luar jika tak dalam keadaan darurat. Itu ia contohkan, bahkan ketika berduka kala suaminya, Pangeran Philip, wafat pada 9 April 2021. Karena pembatasan sosial, Ratu Elizabeth hanya terduduk sendirian di samping peti mati suaminya tanpa didampingi banyak anggota keluarga saat upacara pemakaman. Kini, Ratu Elizabeth sudah “kembali bersatu” dengan Pangeran Philip di alam keabadian. Rest in peace , Ratu Elizabeth II.* Ratu Elizabeth dan Pangeran Philip dalam kunjungannya ke Jerman pada Oktober 1992. (Bundesarchiv).
- Ratu Elizabeth II Mengundang Bung Karno Ke London
SEPANJANG masa kepresidenannya, Sukarno telah melakukan kunjungan kenegaraan ke berbagai belahan dunia. Tapi, ada dua negara Eropa yang belum disambanginya: Belanda dan Inggris. Keengganan Sukarno ke Belanda jelas perkara prinsip dan harga diri. Ia tak sudi menginjakkan kaki ke negeri penjajah tersebut. Sementara Inggris, belum kesampaian saja. “Aku sudah ke mana-mana kecuali ke London, sekalipun Ratu Inggris sudah dua kali mengundangku untuk berkunjung,” kata Sukarno dalam otobiografinya yang disusun Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Ada kisah di balik undangan Kerajaan Inggris terhadap Bung Karno. Bermula ketika Sukarno berpidato di Sidang Majelis Umum PBB ke-15 pada 30 September 1960. Dalam pidatonya berjudul To Build The World Anew (Membangun Dunia Kembali), Bung Karno mempromosikan Pancasila untuk dianut dalam piagam PBB. Ia juga menyentil PBB yang lebih condong terhadap kepentingan adikuasa daripada negara-negara dunia ketiga. Tak luput pula kecaman dilayangkannya terhadap kuasa penjajahan Belanda di Irian Barat (kini Papua). Pidato itu diakui sebagai salah satu pidato terbaik sekaligus paling kontroversial dalam Sidang Majelis Umum PBB. Menurut Juru Bicara Departemen Luar Negeri Ganis Harsono, ada dua tokoh negara yang terkesan menyaksikan penampilan Sukarno, yakni Perdana Menteri Inggris Harold Macmillan dan Pangeran Norodom Sihanouk dari Kamboja. “Perdana Menteri Harold Macmillan dari Kerajaan Inggris, yang dua hari setelah Bung Karno menyampaikan pidatonya sengaja datang ke puncak Hotel Waldorf Astoria, tempat menginap Bung Karno,” tutur Ganis dalam memoarnya Cakrawala Politik Era Sukarno . Tak sampai setahun kemudian, tepatnya 28 Agustus 1961, Ratu Elizabeth II atas saran Macmillan mengundang Sukarno mengadakan kunjungan kenegaraan ke London. Sukarno melalui Departemen Luar Negeri menyatakan bersedia menerima undangan sang ratu. Kunjungan kenegaraan ke Inggris diagendakan pada Mei 1962. Pengumuman resmi pun disiarkan. Berita rencana kunjungan Sukarno ke Inggris sampai ke negeri Belanda. Ratu Juliana tak senang mendengarnya. Apalagi Ratu Elizabeth II masih terbilang keponakan Juliana. Waktu itu hubungan diplomatik Indonesia dengan Belanda sudah putus akibat sengketa Irian Barat. Pada 19 September 1961, Ratu Juliana menyatakan perudingan dengan Indonesia mengenai Irian Barat tak akan dilakukan. Ia bahkan membuka pintu bagi rakyat Irian Barat untuk menentukan masa depannya sendiri. Kebijakan dekolonisasi Belanda ini semakin memperburuk hubungan Belanda dengan Indonesia. Begitupun dengan Ratu Elizabeth II. “Pernyataan Ratu Juliana kemudian berakibat kurang baik dan tidak membenarkan kemenakan jauhnya, Ratu Elizabeth, menjamu Presiden Sukarno di Istana Buckingham,” imbuh Ganis. Tapi, Kerajaan Inggris bersikukuh mengundang Sukarno. Sempat terjadi perbedaan persepsi protokoler. Bung Karno seperti disebut Jenderal Abdul Haris Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama, menghendaki penyambutan penuh kebesaran bagi seorang kepala negara. Namun, penyambutan seperti itu dibatasi oleh peraturan kerajaan, demikian disampaikan Wakil Perdana Menteri Edward Heath kepada Nasution ketika berkunjung ke Inggris pertengahan 1961. “Ia sarankan agar datang saja sebagai kepala pemerintah. Itu lebih baik, karena dapat dilakukan pembicaraan secara bisnis, to talk business . Adapun dalam acara kebesaran kerajaan tidak akan dapat diadakan pembicaraan-pembicaraan, karena serba protokoler,” kata Nasution yang saat itu menjabat Kepala Staf Angkatan Darat. Di London, baik pemerintah maupun staf Kedutaaan Besar Indonesia sibuk mempersiapkan penyambutan. Terlebih lagi sebulan menjelang kunjungan. Duta Besar Indonesia B.M. Diah mengatakan brosur tentang Indonesia dan riwayat hidup Sukarno dicetak untuk disebarkan. Persiapan protokoler untuk menyambut kedatangan Bung Karno sudah rapi. Bendera Merah Putih dipesan untuk menghiasi jalan utama yang akan dilewati Sukarno-Ratu Elizabeth II. Istana Buckingham bahkan sudah menyusun menu sarapan, makan siang, dan makan malam yang dibuat khusus untuk Bung Karno. Namun, pada 21 April 1962, Sukarno melayangkan surat permintaan maaf kepada Ratu Elizabeth II. Karena situasi di dalam negeri, ia mengatakan tak bisa meninggalkan Indonesia. Situasi memang lagi genting menyusul serangan Belanda terhadap armada Angkatan Laut Indonesia di Laut Arafuru pada awal tahun. Pada Maret 1962, perundingan yang dimediasi Amerika Serikat macet sehingga Indonesia dan Belanda terancam perang. Kunjungan resmi Sukarno ke London batal. Surat kabar Inggris, seperti ditulis Toeti Kakiailatu dalam biografi B.M. Diah: Wartawan Serba Bisa , memberitakan hal pembatalan ini di halaman satu: “ SUKARNO SNUBS THE QUEEN! ” (Sukarno Melecehkan Ratu). Meski agak menyesalkan, Ratu Elizabeth II memakluminya. Itu dinyatakan dalam suratnya bertanggal 8 Mei 1962. “Menteri-menteri saya dan saya sendiri telah siap sedia menyambut kedatangan Yang Mulia, dan untuk memperlihatkan kepada Yang Mulia perihal negara kami, akan tetapi saya percaya bahwa kita akan mempunyai kesempatan untuk ini pada waktu yang lain,” kata Ratu Elizabeth II dalam suratnya, dikutip Ganis Harsono. Setelah sengketa Irian Barat berakhir, semestinya kunjungan itu direalisasi. Tapi, Sukarno memasuki babak konflik baru dengan Negara Federasi Malaysia. Ia menolak gagasan pembentukan Negara Malaysia dan menyerukan “Ganyang Malaysia”. Sementara negara itu merupakan eks koloni Inggris yang masuk dalam persemakmuran. Akibatnya, Angkatan Perang Indonesia berhadapan dengan tentara Inggris di perbatasan Kalimantan. Perang dengan Inggris memang dapat terhindarkan. Tapi, kampanye Sukarno mengganyang Malaysia berujung gagal total. Sejak itu, politik dalam negeri maupun perekonomian tak kunjung membaik sampai menyebabkan Sukarno lengser. Hingga wafatnya, kunjungan Bung Karno ke Inggris urung terjadi. Malah Ratu Elizabeth II yang berkesempatan datang ke Indonesia setelah rezim berganti. Pada Maret 1974, sang ratu berlayar ke Bali menumpangi kapal pesiar kerajaan, Royal Yacht Britannia . Selain Bali, Elizabeth II menyambangi Jakarta dan Yogyakarta. Bagi Elizabeth II, Indonesia punya tempat khusus di hatinya.*
- Kunjungan Ratu Elizabeth II ke Indonesia
Ratu Inggris Elizabeth II meninggal dunia pada 8 September 2022 di usia 96 tahun. Dia bertakhta selama 70 tahun sejak 1952. Penggantinya sebagai raja Inggris adalah anak tertua, Charles III yang berusia 73 tahun. Ratu Elizabeth II menjadi kepala negara Inggris pertama yang berkunjung ke Indonesia. Kunjungan kenegaraan ini untuk memperbaiki hubungan Indonesia dan Inggris. Pasalnya, pada 1960-an, hubungan Indonesia dan Inggris memburuk setelah Presiden Sukarno melancarkan konfrontasi karena menolak pembentukan Federasi Malaya yang didukung Inggris. Kedutaan Besar Inggris di Jakarta sampai dibakar massa yang berdemonstrasi. Setelah merebut kekuasaan dari Sukarno, Jenderal TNI Soeharto mengakhiri konfrontasi. Presiden Soeharto kemudian menerima kunjungan kenegaraan Ratu Elizabeth II pada 1974. Baca juga: Massa Melinggis Kedubes Inggris Menurut buku 30 Tahun Indonesia Merdeka , kunjungan Ratu Elizabeth II diawali dengan kunjungan tidak resmi di Bali pada 15 Maret 1974. Dengan menggunakan kapal Kerajaan Britania, SS Northern Star , yang digunakannya sejak berangkat menuju Indonesia dari Australia, tamu negara itu tiba di pelabuhan Tanjung Priok pada 18 Maret 1974 untuk memulai kunjungan kenegaraan sampai 22 Maret 1974. Presiden Soeharto dan Ibu Tien menyambut Ratu Elizabeth II dan rombongan di pelabuhan Tanjung Priok. Ratu Elizabeth II dan suaminya, Pangeran Philip, Duke of Edinburgh, sempat melihat-lihat ruangan Istana Negara sebelum jamuan kenegaraan dimulai. Baca juga: Hubungan Ratu Elizabeth I dengan Kerajaan Islam Dalam Jejak Langkah Pak Harto: 29 Maret 1978–11 Maret 1983 disebutkan, pada malam harinya, Presiden Soeharto menyelenggarakan jamuan makan malam kenegaraan. Dalam pidatonya, Presiden Soeharto antara lain mengatakan bahwa kunjungan Ratu Elizabeth II sebagai babak baru yang penting bagi saling pengertian dan persahabatan antara kedua bangsa. Selanjutnya, Presiden Soeharto mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara yang sedang membangun telah ikut merasakan manfaat dari bangsa Inggris, antara lain berupa tenaga-tenaga ahli dan modal Inggris yang menyertaipembangunan Indonesia. Ratu Elizabeth II dan Presiden Soeharto kemudian bertukar penghargaan. Ratu Elizabeth II memberikan Knight Grand Cross of the Order of the Batch (GCB) kepada Presiden Soeharto. Sebaliknya, Presiden Soeharto menganugerahkan Bintang Mahaputra Adipradana kepada Ratu Elizabeth II. “Upacara berlangsung di Ruang Jepara Istana Merdeka Jakarta, dan dihadiri oleh Pangeran Philip, Earl Mountbatten, Ibu Tien Soeharto, dan pejabat tinggi lainnya,” tulis Indonesian News and Views tahun 1974. Baca juga: Tiara Penolak Bala Ratu Elizabeth II Pada 20 Maret 1974, Ratu Elizabeth II dan rombongan berkunjung ke Yogyakarta. Dia diterima oleh Sultan Hamengkubuwono IX dan kakaknya, B.P.H. Prabunegoro di Keraton Yogyakarta. Selama di Yogyakarta, catat Daily Report Asia & Pacific tahun 1974, Ratu Elizabeth II dan rombongan mengunjungi beberapa proyek termasuk pembangunan irigasi dengan bantuan Inggris. 30 Tahun Indonesia Merdeka menambahkan, tamu negara itu mengunjungi berbagai obyek pembangunan dan pariwisata.Duke of Edinburgh sempat bertemu dan berbicara dengan para pengurus BUUD (Badan Usaha Unit Desa) di Desa Sewon, Kabupaten Bantul. Ratu Elizabeth II dan rombongan kembali ke Jakarta pada 21 Maret 1974 siang. Setelah tiba di Jakarta, dia mengunjungi Gelanggang Remaja Bulungan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan kemudian bertemu komunitas warga Inggris pada malam harinya. Ratu Elizabeth II mengakhiri kunjungan kenegaraan di Indonesia pada 22 Maret 1974. Lima tahun kemudian, Presiden Soeharto mengadakan kunjungan kenegaraan ke Inggris pada 13–16 November 1979 atas undangan Ratu Elizabeth II. Buku Presiden RI ke II Jenderal Besar H.M. Soeharto dalam Berita 1979–1980 menyebut dalam jamuan kenegaraan , Ratu Elizabeth II mengingatkan kembali penerimaan yang amat mengesankan atas kunjungannya di Indonesia tahun 1974 termasuk kabar dramatis yang diterimanya sewaktu di Yogyakarta tatkala Putri Anne akan diculik di London.*
- Jejak Kak Seto
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi, yang dikenal sebagai Kak Seto, dihujat karena peduli kepada anak-anak Putri Candrawathi dan Ferdy Sambo. Maklum Ferdy Sambo dan istrinya sedang menjadi “musuh bersama” masyarakat karena terlibat dalam pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat. Kak Seto khawatir dengan anak-anak Putri dan Ferdy Sambo. Dia mendengar anak mereka yang remaja menjadi sasaran perundungan ( bullying ). Sementara anak yang paling kecil masih membutuhkan air susu ibu. Putri pun tidak ditahan dengan alasan kemanusiaan. Sehingga masyarakat membandingkan perlakuan terhadap Putri dengan ibu-ibu dari masyarakat biasa yang dipenjara bersama anak-anaknya. Publik juga menilai kepedulian Kak Seto hanya kepada anak-anak Putri dan Ferdy Sambo. Kak Seto bukan “anak kemarin sore” dalam membela anak-anak Indonesia. Kehadiran orang-orang yang peduli kepada anak-anak seperti Kak Seto selalu dibutuhkan mengingat hak-hak anak kerap dilanggar bahkan oleh orang tuanya sendiri. Baca juga: Cita-Cita Favorit Anak-Anak Tiap Zaman Menurut Konvensi Hak-Hak Anak Internasional, anak memiliki hak-hak antara lain: Hak kelangsungan hidup yaitu hak untuk melestarikan dan mempertahankan hidup dan hak memperoleh standar kesehatan tertinggi dan perawatan yang sebaik-baiknya. Hak perlindungan yaitu perlindungan dari diskriminasi, eksploitasi, kekerasan, dan keterlantaran. Hak tumbuh kembang yaitu hak memperoleh pendidikan dan hak mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik, mental, spiritual, moral, dan sosial. Hak berpartisipasi yaitu hak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal yang mempengaruhi anak. Kak Seto tentu berpegang pada hasil konvensi internasional tersebut. Selain itu, dia juga berpedoman pada UU No. 23 Tahun 2022 Tentang Perlindungan Anak, di mana dia berperan dalam penyusunannya. Dalam majalah Parlementaria Nomor 40 Tahun 2002, Kak Seto menyebut Komisi Nasional Perlindungan Anak banyak dilibatkan melalui satu tim khusus dalam memberikan masukan-masukan untuk bisa disusunnya pasal-pasal dalam Rancangan Undang-Undang Perlindungan Anak tahun 1992. Kak Seto juga peduli dengan pekerja anak. Menurutnya, meski harus membantu orang tua, seorang anak haruslah punya waktu untuk belajar dan bermain. Masih banyak orang tua yang tidak paham pentingnya bermain bagi anak-anak. Bermain dianggap sebagai sesuatu yang percuma, padahal dalam bermain anak-anak juga belajar dengan cara yang menyenangkan. Baca juga: Lima Dekade Lagu Anak-anak Indonesia Kak Seto lahir di Klaten pada 28 Agustus 1951. Setelah lulus SMA St. Louis Surabaya, dia mencoba masuk Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Karena gagal, dia memutuskan pergi ke Jakarta. Selama di Jakarta, seperti diakuinya dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985–1986 , Kak Seto pernah menjadi tukang cuci dan tukang bersih-bersih pada sebuah keluarga yang rumahnya besar. Di rumah itu, dia merawat anak pemilik rumah. Pernah pula dia menjadi kuli bangunan. Sejak muda dia juga sudah menulis di majalah anak Si Kuncung . Suatu hari, Kak Seto melamar untuk magang kepada Pak Kasur yang mengasuh anak-anak di TVRI . Dia tertarik setelah melihat keseruan Pak Kasur bermain dengan anak-anak. Pengetahuan Kak Seto tentang dunia anak-anak bertambah setelah belajar dari Pak Kasur dan kuliah psikologi di Universitas Indonesia. Baca juga: Lagu Sepeda dan Pak Kasur Dalam beberapa tahun kemudian, Kak Seto bisa membuat kegiatan mengasuh anak-anak seperti Pak Kasur pada era 1970-an. Ketika itu usianya sekitar 20-an tahun. Sejak muda itu pula dia sudah dikenal sebagai pegiat anak. Kak Seto muda pernah ikut bermain dalam film tentang anak-anak berjudul Tangan-tangan Mungil (1981). Popularitasnya semakin menanjak di dunia anak-anak. Tidak heran jika sekitar 1983, dia menjadi Ketua Pelaksanaan Pembangunan Istana Anak-anak di Taman Mini Indonesia Indah. Tahun berikutnya, dia mendirikan Yayasan Nakula Sadewa yang menampung anak-anak kembar. Kak Seto sendiri lahir sebagai anak kembar. Saudara kembarnya seorang dokter, Kresna Mulyadi. Kak Seto yang mengaku bengal ketika kecil, pada era 1990-an kerap tampil di televisi bersama karakter boneka bernama Komo. Acara ini memperkaya hiburan untuk anak-anak. Saat ini Kak Seto tengah dikecam karena peduli kepada anak-anak Putri dan Ferdy Sambo. Itu menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya selama 52 tahun untuk anak-anak Indonesia.
- Tips Memilih Jodoh Ala Raja Jawa
Buat kaum milenial yang masih lajang, mencari jodoh bukanlah perkara sulit lagi. Cukup browsing dengan kata kunci “ dating ” atau sejenisnya, sederet nama aplikasi pencarian jodoh pun bermunculan. Tinder , Bumble , Okcupid , PACAR , Taaruf ID dan masih banyak lagi aplikasi pencarian jodoh yang ada kini. Melalui aplikasi tersebut kita dapat berkenalan dengan calon jodoh kita dari berbagai latar belakang. Apa yang didapatkan generasi Z dan milenial jelas tak didapat generasi-generasi sebelumnya. Dulu, ada masa ketika muda-mudi yang “kebelet” ingin memiliki pasangan sampai mesti pasang iklan di berbagai media cetak. Tentu, ada yang tetap “lestari” dalam proses mencari jodoh dari dulu hingga kini, yakni mesti hati-hati. Apa lagi tujuannya kalau bukan untuk terhindar dari salah pilih orang. Faktor kehati-hatian itulah yang selalu dipesankan orangtua kepada anak-anak mereka, baik generasi dulu maupun sekarang, dalam memilih jodoh. Untuk itulah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV memiliki tips memilih jodoh idaman. Tips tersebut dituliskannya dalam Serat Waragyagnya , yang ditulis pada 1856 M dalam bentuk macapat Dhandhanggula . Tujuan penulisan serat ini sebagai nasihat untuk putra dan putri Mangkunegara IV. Baca juga: Lelaki Idaman Perempuan Jawa Kuno Mangkunegara IV memiliki 32 anak dari enam istri. Berbagai ide dan buah pikirnya tidak hanya diucapkan namun juga dituangkan dalam bentuk karya sastra. Hal pertama yang diungkapkan oleh Mangkunegara IV dalam Serat Waragyagnya adalah pesan bagi putra-putrinya sebelum menikah. Ia menganjurkan agar tetap menjaga lisan. “Apabila kelak tiba saat perkawinan, janganlah asal bicara,” tulis Mangkunegara IV dalam bait 2. Selanjutnya, Mangkunegara IV menekankan untuk putra-putranya, ketika memilih istri harus diperhatikan dengan cara seksama. Jangan sampai terobsesi pada nafsu belaka, karena akan membawa penyesalan. Ia juga menyarankan untuk tidak poligami. “Ya memang betul jika laki-laki mau, ia memiliki kesempatan, untuk menikah empat kali sehari, mungkin untuk mengikuti keinginan dirinya, namun jangan kamu lakukan itu,” sambung Mangkunegara IV. Mangkunegara IV. ( digitalcollections.universiteitleiden.nl ). Mangkunegara IV juga berpesan agar para putranya tidak mudah terjebak oleh rayuan duniawi. Ada empat perkara yang harus diwaspadai. Pertama , melihat wajah cantik; kedua , menginginkan orang kaya; ketiga, menginginkan kekuasaan, dan yang keempat , karena sering saling berkunjung. Satu lagi yang tidak kalah penting yaitu hati-hati pada perempuan yang merayu dengan memberikan barang-barang seperti rokok, gambir, sirih, dan kain. Hal yang demikian bisa jadi bukan berniat untuk menikah. Boleh memilih perempuan cantik, kaya, dan berwibawa namun perempuan tersebut harus memiliki karakter dan tabiat baik. Perempuan baik-baik, bukan perempuan bayaran adalah seutama-utamanya perempuan yang pantas dipilih menjadi istri. Perempuan nista hanya akan menurunkan martabat keluarga, menurutnya. Baca juga: Pernikahan Orang Jawa Kuno Jika ulasan-ulasan di atas ditujukan kepada laki-laki, Mangkunegara IV juga punya tips untuk putri-putrinya. Di masa tersebut, patriarki masih amat kental di Jawa, terutama di keraton. Seringkali karya-karya sastra kurang memperhatikan kesejahteraan perempuan. Perempuan dituntut hanya untuk menjadi seperti yang diinginkan lelaki tanpa bisa bersuara. Namun, Mangkunegara IV justru berpesan pada putra-putranya supaya senantiasa memperhatikan petunjuk agar dapat memperlakukan istri dengan baik. “Jangan hanya karena kamu laki-laki, lalu merasa berkuasa terhadap harta milik perempuan,” kata Mangkunegara IV. Mangkunegara IV punya pandangan dan sikap tak umum di tengah feodalisme yang masih kokoh di keraton Jawa. Ia dikenal sebagai raja yang bervisi jauh ke depan. Modernisasi di Mangkunegaran dialah yang meletakkan batu fondasinya, termasuk di bidang ekonomi. “Untuk menopang keuangan praja, ia tidak hanya mengandalkan pajak secara tradisional sebagaimana umumnya berlaku di kerajaan Jawa, tetapi mengembangkan perusahaan-perusahaan perkebunan dan industri pengelolaannya untuk menopang perekonomian praja, tulis sejarawan Wasino dalam Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunegaran 1896-1944 . Baca juga: Tari Gambyong dari Jalanan ke Istana Hingga Pernikahan Modern Pandangannya yang melampaui sekat-sekat feodal itulah yang membuat Mangkunegara IV punya pandangan berbeda terhadap perempuan. Mangkunegara IV beranggapan perempuan juga berhak memilih dan memiliki sikap untuk memilih pasangan. Tidak boleh menerima begitu saja laki-laki untuk menjadi suami. Selain harus memilih laki-laki baik, kata Mangkunegara IV dalam tipsnya, perempuan jangan memilih laki-laki yang dicela sesama masyarakat. Orang yang seperti itu biasanya memiliki tabiat buruk. Mangkunegara IV tidak akan membiarkan putrinya dilamar oleh orang dengan tabiat buruk. “Sungguh hina perempuan yang menikah dengan orang yang tabiatnya jelek tersebut, lebih baik pepohonan yang tidak memiliki anak cucu, begitulah,” tulis Mangkunegara IV. Baca juga: Empat Tipe Perempuan Jawa Kuno Baik laki-laki maupun perempuan apabila sudah mantap hati untuk menikah, wajib menjaga hawa nafsu. Jangan sampai melanggar ilmu syariat, membuang harga diri, dan mengabaikan keselamatan. “Jangan sampai ngawur sehingga menyesal di kemudian hari,” tulis Mangkunegara IV. Setiap orang di dunia ini memiliki harapan baik yang ingin dicapai. Pada akhirnya, memilih pasangan itu pilihan pribadi, tidak dapat dimusyawarahkan oleh orang lain. Jangan lupa dengan bobot, berasal dari keturunan yang baik, dan dapat memiliki keturunan yang baik pula. Demikian nasihat-nasihat Mangkunegara IV untuk memilih jodoh. Tertarik mencoba?
- Aroma Kopi yang Menggugah Revolusi Dunia
SELAIN kaya rasa, kopi di Indonesia juga kaya cerita. Ia bisa dinikmati kapanpun, di manapun, dan oleh siapapun. Rakyat jelata di pinggir jalan dengan “Starling” andalan ataupun sang penguasa di istananya, semua menikmati kopi. Kaya rasa dan kaya cerita, itulah yang jadi tema pameran bertajuk “Coffee Revolution: From Coloniality to Equality” helatan Pasar Kopi di Posthoonrkerk, Amsterdam, Belanda. Perhelatan dari 1-7 September 2022 ini diprakarsai Roemah Indonesia dalam rangka memperkenalkan kopi-kopi asal Indonesia di negeri “Kincir Angin”. “Inti dari pameran ini memberikan penguatan informasi mengenai kopi Indonesia. Yang mau berbisnis tak hanya menikmati kopinya yang rasanya enak tapi juga narasi sejarah di balik kopi itu sendiri. Bahwa kopi Indonesia menjadi kaya rasa dan kaya cerita. Bagaimana kopi dimulai dari komoditi kolonial, lambat laun jadi komoditi yang bisa dinikmati siapapun,” terang sejarawan Bonnie Triyana dalam live tour pameran via Youtube Historia.id , Senin (5/9/2022) malam WIB. Baca juga: Menyesapi Cerita-Cerita Tersembunyi di Pameran Revolusi! Beragam produk kopi dan kultur kopi di Indonesia dipajang lewat berbagai stand kopi dalam pameran tersebut yang digelar di koridor utama Gereja Posthoornkerk rancangan arsitek PJH Cuypers yang berdiri pada 1863. Ada juga sebuah sepeda “jengki” yang membawa berenceng-renceng kopi sachet khas “Starling” sebagai seni instalasinya. Di berbagai sudut dinding di belakang stand-stand kopi itulah dipamerkan banyak narasi sejarah pameran kopinya. Antara lain tentang awal eksistensi kopi yang dibawa masuk kolonialis Belanda untuk dibudidayakan di Sumatera hingga di Jawa. “Kopi ditanam dengan cara tanam paksa melibatkan orang-orang Jawa. Dulu menjadi komoditas kolonial (khusus orang Eropa). Seiring berjalannya waktu, kopi menjadi minuman yang sifatnya equal. Dinikmati semua orang tanpa perbedaan kelas,” lanjut Bonnie. Baca juga: Hikayat Kopi di Tanah Jawa Selain bisa menikmati kopi Indonesia, pengunjung bisa menyesapi narasi di balik cerita sejarah kopi (Dok. Bonnie Triyana/Historia) Salah satu narasi yang diangkat adalah pengisahan kopi oleh Multatuli alias Eduard Douwes Dekker dalam roman Max Havelaar -nya. Semasa di Hindia Belanda, Multatuli pernah ditugasi jadi makelar kopi di Sumatera dan Jawa. “Sebelum di Lebak, dia pernah ditugaskan di Mandailing Natal. Berkaitan dengan kopi yang tidak boleh dikonsumsi (kaum bumiputera), di dalam buku Max Havelaar ada cerita tentang orang Sumatera yang punya kebiasaan membuat kopi dari daun kopi. Jadi daunnya (kopi) yang diseduh,” sambung Bonnie. Muasal Belanda membawa kopi ke Nusantara hingga membudidayakannya dengan tanam paksa bermula dari Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) yang punya secuil wilayah di Ceylon (kini Sri Lanka) dan selatan India pada pertengahan abad ke-17. Demi mencegah jatuhnya harga akibat menumpuknya persediaan, VOC mengalihkan budidaya kopinya ke Jawa dan Suriname. Belanda kemudian jadi salah satu super-power di Eropa dalam hal perdagangan kopi. Aneka Cerita Muasal Kopi Seperti juga teh, sejarah kopi diramaikan dengan beragam mitos atau legenda yang disebarkan dari mulut ke mulut dan turun-temurun. Tidak ada bukti sahih berbentuk fisik tentang muasal kopi. Legenda tentang muasal kopi begitu bertebaran dalam banyak literatur Barat, yang mengklaim sebagai pembawa globalisasi kopi. Namun, mereka sepakat bahwa kopi ditemukan di Ethiopia dan kemudian bertransformasi menjadi minuman berkhasiat di tangan orang-orang Arab. Pakar sejarah kopi Bennet Alan Weinberg dan Bonnie K. Bealer dalam The World of Caffeine: The Science and Culture of the World’s Most Popular Drug mencatat, beragam versi mitos atau legenda itu muncul dari kisah seorang penggembala kambing di suatu wilayah Kerajaan Kaffa (kini Ethiopia) pada abad ke-9, bernama Kaldi. Baca juga: Gula dari Tulang-Belulang Prajurit di Waterloo Versi pertama mengisahkan, Kaldi yang tengah menggembala kambing-kambingnya di sebuah perbukitan, kaget ketika melihat kambing-kambingnya berlompatan tak karuan hingga mengembik lantang usai memakan tanaman yang berbuah merah. Kaldi yang penasaran lalu menjajal buah itu dan kemudian juga merasakan efek serupa. Kaldi membawa pulang sejumlah buah merah yang ia sebut “pemberian surga” itu. Kemudian Kaldi memberitahukannya kepada para pemuka agama. Para pemuka agama yang keheranan justru marah dan membuang buah yang dianggap “buah setan” itu ke tungku api. Tetiba muncul aroma yang menggelitik hidung dan para pemuka agama itu mengambil sisa-sisa bijinya dan ditempatkan di air panas. Airnya berubah hitam dan aromanya menggoda. Para pemuka agama itu pun mencicipi air itu lalu merasakan tubuh mereka jadi segar dan terjaga kala sembahyang. Ilustrasi sosok Kaldi dan gembala kambingnya ( Uncommon Grounds: The History of Coffee and How It Transformed Our World ) Versi kedua , lanjut Weinberg dan Bealer, berasal dari kalangan sufi asal Yaman. Dikisahkan, pemuka sufi Ghothul Akbar Nooruddin Abu al-Hassan al-Shadhili dalam pengembaraan spiritual ke Ethiopia melihat seekor burung terbang dengan enerjik setelah memakan semacam buah merah. Penasaran, ia pun mencicipinya dan merasakan efek serupa. Adapun versi ketiga , mengisahkan tentang pengasingan tabib asal Yaman, Sheikh Omar, ke Pegunungan Ousab. Dalam pengasingannya, Sheikh Omar yang kelaparan menemukan buah-buahan yang rasanya pahit. Ia mencoba memanggangnya dengan harapan menghilangkan rasa getirnya. Tapi air hasil rebusan airnya menghitam dan mengeluarkan aroma yang unik. Baca juga: Dari Kopi hingga Anggur Sheikh Omar urung memakan biji yang tersisa dan justru meminum hasil rebusannya. Dampaknya kondisi tubuhnya menjadi lebih fit dan ia menceritakannya ke semua orang di kota kelahirannya, Mocha, usai masa pengasingan. “Air Kopi” hasil rebusan buah itu seiring waktu dianggap mujarab sebagai obat. “Meski kemudian para sejarawan Eropa dan Arab mengulang legenda-legenda itu, dokumen tertulis tentang meminum kopi atau pengetahuan tentang tanaman kopi baru ada di awal abad ke-15 di masjid-masjid Sufi Yaman di selatan Jazirah Arab. Mitos Kaldi si penggembala kambing yang banyak ditemui dalam literatur Barat, menghiasi tradisi yang kredibel bahwa para kaum sufi itu mengenal kopi di Ethiopia, yang mana jaraknya hanya terpisahkan Laut Merah,” tulis Bennet dan Bealer. Orang-orang Yaman dengan kopinya ( firstpashacoffee.com ) Dokumen yang dimaksud adalah Umdat al Safwa fi hill al-Qahwa yang ditulis Abd al-Qadir al-Jaziri. Meski dirilis pada 1556, dokumen itu mengisahkan awal-mula qahwah (kopi) yang lazim dikonsumsi para pemuka sufi agar bisa terjaga saat sembahyang malam maupun penyebarannya ke semua arah mata angin di Jazirah Arab, termasuk Makkah dan Madinah. Dalam manuskrip itu Al-Jaziri menyebut cara menyeduh dan meminum kopi diperkenalkan oleh mufti kota Aden Muhammad Ibn Said al-Dabhani (beberapa sumber menyebut Sheikh Jamal al-Din al-Dhabhani). Al-Dabhani pula yang disebut Al-Jaziri mengimpor berbagai komoditas dari Ethiopia, termasuk kopi, ke Yaman lewat para pedagang dari Berbera dan Zeila (kini Somalia). “Di Eropa, dokumen itu diterjemahkan arkeolog dan orientalis Prancis, Antoine Galland ( De l’origine et du progrès du café ) dan sebagian besar pengetahuan orang Eropa tentang kopi didasarkan terjemahan Galland tersebut,” ungkap sejarawan Ina Baghdiantz-McCabe dalam A History of Global Consumption: 1500-1800. Kopi pun menyebar lebih dulu di dunia Islam, mulai dari Makkah sejak abad ke-15 hingga Afrika Utara dan Kekaisaran Utsmaniyah pada peralihan Abad ke-16. Tak hanya perkebunan kopi yang berkembang, tapi juga kedai kopi umum yang sudah eksis di Kairo, Aleppo, dan Istanbul di pertengahan abad ke-16. Lika-liku Sejarah Kopi di Eropa Kopi dengan aroma semerbaknya dan rasanya yang unik menjamah Eropa lewat peperangan dan perdagangan. Bangsa Turki membawanya ke Eropa lewat Pertempuran Mohács (29 Agustus 1526) di Hungaria dan Pengepungan Wina (27 September-15 Oktober 1529). Di jalur perdagangan Mediterania, kopi masuk melalui Republik Venezia yang mengimpor banyak komoditas Afrika Tengah dan Arab, termasuk kopi di dalamnya. Itu diungkapkan pakar botani Prospero Alpini dalam karyanya De Plantis Aegypti . Seperti halnya di Jazirah Arab dan Afrika Utara, seiring perjalanan masa kedai-kedai kopi pun menjamur di Eropa. Penguasaan kopi kemudian jadi rebutan para kolonialis. Belanda menjadi salah satu supplier kopi terbesar Eropa lewat budidayanya di Hindia Belanda. Maraknya kopi di Eropa kemudian memunculkan sejumlah penentangan. Pada abad ke-16 di dunia Islam, sejumlah ulama pernah mendebatkan pelarangan kopi. Baca juga: Hidangan Favorit Napoléon Di Eropa, pertentangan tentang kopi marak di abad ke-17 dan abad ke-18. Salah satunya lewat larangan membuka kedai kopi umum yang dikeluarkan Raja Inggris Charles II pada 29 Desember 1675. Alasan Charles II adalah, eksistensi kedai-kedai kopi itu membuat warga dan para pejabatanya mengabaikan tanggungjawab sosial hingga mengganggu stabilitas kerajaan. “Proklamasi itu dinyatakan akan berlaku setelah 10 Januari 1676. Guncangan protes dari beragam pihak terjadi. Butuh 11 hari sampai sang raja menyadari blunder yang ia lakukan. Maka pada 8 Januari 1676 sebuah proklamasi lain diterbitkan untuk mencabut proklamasi larangan itu,” tulis William Harrison Ukers dalam All about Coffee. Raja Charles II yang mengeluarkan larangan dibukanya kedai kopi di Inggris ( rct.uk ) Di Prusia (Jerman), Raja Friedrich II alias Frederik Agung juga “memerangi” kopi dengan caranya sendiri. Maraknya kopi yang mulai menyaingi bir membuatnya muak. Manifesto tentang bir lebih baik daripada kopi pun dikeluarkannya pada 13 September 1777. “Sangat menjijikkan melihat meningkatnya kopi yang dikonsumsi para bawahan saya dan jumlah yang yang keluar dari negeri ini sebagai konsekuensinya. Semua orang minum kopi. Harus dicegah jika dimungkinkan. Rakyat saya mestinya minum bir. Para raja berkuasa karena bir, juga para leluhur kami dan para perwiranya. Banyak pertempuran dimenangkan para serdadu yang menenggak bir dan raja tak meyakini para serdadu peminum kopi bisa diandalkan untuk mengalahkan musuh-musuh dalam peperangan berikutnya,” kata Raja Friedrich dalam manifestonya, dikutip Ukers. Baca juga: Kopi yang Mengubah Eropa Di Prancis ceritanya lain lagi. Pada 1679-1696, perdebatan tentang kopi mencuatkan adu argumentasi para pakar kesehatan yang pro dan kontra-kopi. Kopi saat itu jadi saingan terberat anggur yang jadi minuman populer di berbagai kalangan di Prancis. “Pada 1679 seorang dokter Prancis menyebarkan pamflet bahwa kopi menyebabkan keletihan, kelumpuhan pada beberapa bagian tubuh, dan impotensi,” ungkap Mark Pendergrast dalam Uncommon Grounds: The History of Coffee and How It Transformed Our World. Ilustrasi Kafe Le Procope yang disebutkan jadi tempat 'ngopi' tokoh Voltaire hingga Rousseau (Wikipedia) Enam tahun berselang giliran dr. Sylvestre Dufour tampil ke publik untuk membela khasiat kopi. Fritz Allhoff dalam Coffee Philosophy for Everyone: Grounds for Debate mencatat, Dufour menyatakan zat-zat yang terkandung dalam kopi justru baik untuk kesehatan. Antara lain bisa meluruhkan batu ginjal, mengurangi migrain, hingga mencegah encok. Kafein yang terkandung dalam kopi sangat manjur memberi stimulan dalam menjaga mood, ingatan, dan konsentrasi saat berpikir, bekerja, atau berkarya. Hal itu sangat dirasakan para tokoh Eropa dalam beragam revolusi. Dalam beberapa petite histoire -nya, pemikiran Revolusi Amerika (1765-1784) dan Revolusi Prancis (1798-1799) bermula dari kedai kopi. “Di Prancis, Voltaire (François-Marie Arouet, red. ), (Jean-Jacques) Rousseau, (Denis) Diderot meneguk kopi demi Era Pencerahan dan mendiskusikan mimpi-mimpi tentang Revolusi Prancis di sebuah kafe di Paris, ‘Le Procope’. Di Amerika, bercangkir-cangkir kopi di kedai kopi Boston, ‘Green Dragon’, John Adams, James Otis, dan Paul Revere merencanakan kampanye mereka untuk pemberontakan (revolusi) Amerika. Setelahnya para pemberontak membuang teh di Pelabuhan Boston sebagai aksi pembangkangan terhadap pajak-pajak Inggris,” ungkap Johm Farndon dalam The World’s Greatest Idea.
- Paskibraka dari Kelompok 10 hingga Formasi 17-8-45
Lobi Hotel Sriwijaya, Jakarta Pusat, sedang lengang sore itu. Sebagian besar Purna Paskibraka yang menjadi tamu hotel itu sedang mengikuti Upacara Penurunan Bendera Pusaka. Budiharjo Winarno, Purna Paskibraka 1978, karena suatu alasan tidak turut serta ke istana. Bersama Historia.id dia menyaksikannya dari televisi yang terpasang di lobi hotel. “Harusnya belum (penurunan bendera, red. ). Aturan itu, kan, dari jam enam pagi sampai jam enam sore. Jadi upacaranya mestinya jam 17.45. Ini baru 17.20 sudah diturunkan,” ujarnya mengomentari upacara yang disiarkan secara langsung itu. Sambil memerinci aturan Upacara Penurunan Bendera Pusaka, Purna Paskibraka yang sekarang berwiraswasta ini mengeluh, “Sekarang aturan dilanggar, ya mau bagaimana lagi.” Budiharjo sangat peduli kepada aturan dan filosofi seputar Paskibraka. Selama pembicaraan sore itu, dia banyak menjelaskan tentang hal-hal mendasar itu. Tidak hanya itu, pengetahuannya tentang sejarah Paskibraka juga terbilang detil sebagaimana dikisahkan kepada Historia.id. Karena suasana Jakarta yang tidak kondusif akibat tekanan dari Belanda, ibukota Republik Indonesia akhirnya dipindahkan ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946. Di ibukota baru ini pula ulang tahun kemerdekaan Indonesia kali pertama dilangsungkan. Untuk hajatan penting itu disiapkan sebuah upacara pengibaran bendera pusaka di halaman Gedung Agung Yogyakarta. “Presiden Sukarno memerintahkan Kak Mut selaku ajudannya untuk mempersiapkan upacara kemerdekaan itu,” terang Budiharjo . Kak Mut yang dimaksud adalah Mayor Laut Husein Mutahar atau lebih dikenal sebagai H. Mutahar, penggubah lagu hymne Syukur . “Kak Mut punya ide brilian. Upacara ini adalah untuk mempersatukan Indonesia dan menggelorakan semangat kemerdekaan.” Budiharjo Untuk merealisasikan idenya itu, Mutahar lalu mengumpulkan sepuluh pemuda-pemudi dari latar belakang etnis berbeda yang saat itu tinggal di Yogyakarta. Dalam pemikiran Mutahar, dengan mengemban tugas bersama mengibarkan bendera pusaka, pemuda-pemudi Nusantara pilihan itu dapat menjadi simbol pemersatu Indonesia. “Nah, kalau pemuda-pemudi sudah bersatu, Indonesia ini akan jaya,” ucap Budiharjo menirukan Mutahar. Itulah formasi pertama pasukan pengibar bendera pusaka yang disebut Kelompok 10. Saat itu belum ada pemanggilan pemuda dari daerah luar Jawa karena suasana yang tidak mendukung dan kendala transportasi. Formasi ini terus dipertahankan hingga 1950. Tahun berikutnya formasi berganti dengan Kelompok 17. Saat itu, Mutahar tidak terlibat lagi dalam upacara pengibaran bendera. Hingga 1966 kegiatan tahunan itu dipersiapkan oleh Rumah Tangga Kepresidenan. “Baru tahun 1967 kita memakai formasi 17-8-45,” ujar Purna Paskibraka wakil Yogyakarta ini. “Saat itu Pak Harto yang meminta kembali Kak Mut mempersiapkan upacara kemerdekaan. Konsep beliau adalah melambangkan tanggal Proklamasi.” Husein Mutahar Selama perkembangan itu upacara kemerdekaan juga dipersiapkan dengan mengadopsi upacara militer. Ketika diminta menjelaskan lebih rinci bilamana upacara kemerdekaan mulai mengadopsi upacara militer, Budiharjo masih ragu. “Saya juga masih mencari-cari literaturnya,” lanjutnya. Yang terang, meskipun sistem formasinya terus diperbarui, konsep pluralitas anggota cetusan Mutahar tetap dipertahankan. Pada awal dibentuknya pasukan pengibar bendera pusaka keanggotaannya diisi oleh anak-anak pegawai pemerintahan di sekitaran ibukota. Pangkal soalnya adalah masalah transportasi yang minim. “Yang penting prinsip keterwakilan itu tetap terpenuhi,” ujar Budiharjo, “malah tahun 1962 semua pengibar adalah mahasiswa UI (Universitas Indonesia).” Sistem keanggotaan yang lebih proporsional baru ditetapkan pada 1968. Saat itu dibuat aturan bahwa anggota pengibar bendera pusaka adalah wakil dari setiap provinsi. Lalu pada 1969 anggota pengibar bendera pusaka adalah siswa sekolah menengah atas dari seluruh provinsi di Indonesia. Juga masing-masing provinsi diwakili oleh sepasang remaja putra dan putri. Sampai 1967 pasukan pengibar bendera pusaka ini belum memiliki nama resmi. Nama resmi Paskibraka sebagai singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka baru dicetuskan dan diresmikan pada 1972. Pencetus nama Paskibraka itu adalah Idik Sulaiman Nataatmaja.
- Kamp Orang Indonesia di Texas
Edison Tomimaro Uno, seorang remaja Jepang-Amerika, ditahan di sebuah kamp di Crystal City, Texas selama Perang Dunia II. Ia ditahan bersama keluarganya di kamp yang terletak di dekat perbatasan Meksiko itu. Pasca perang, Uno menjadi aktivis hak sipil dan tokoh berpengaruh dalam upaya ganti rugi perang. Pada 1967, Uno menulis pengalamannya ditahan di Crystal City untuk surat kabar Pacific Citizen . Menariknya, ia juga menyebut lebih dari 300 orang Indonesia ditahan di kamp itu. “Mereka diinternir di Crystal City untuk ‘penahanan pelindung’ selama perang,” tulis Uno dalam Pacific Citizen , 10 Maret 1967. Menurut Uno, hanya sedikit dari orang-orang Indonesia yang bisa berbahasa Inggris. Mereka menunjuk juru bicara untuk bernegosisasi dalam hal apapun dengan otoritas kamp atau interniran lainnya. “Para pelaut ini tidak diizinkan untuk berbaur dengan kelompok lain di kamp,” tulis Uno. Baca juga: Kabar Pilu dari Kamp Sachsenhausen Namun, alienasi itu ternyata bukan masalah bagi orang Indonesia. Menurut Uno, itu karena mereka beragama Islam serta memiliki pola makan dan budaya yang berbeda. Sehingga mereka cukup puas dibiarkan terpisah dari interniran lain. Uno melanjutkan, kamp khusus orang Indonesia hanya diberi sedikit hiburan dan pekerjaan untuk membuat mereka sibuk. Salah satu yang menjadi kegemaran meraka adalah menonton film-film Amerika yang sesungguhnya tak mereka pahami. “…namun mereka selalu menikmati Barat dan, seingat saya, menjadi cukup riuh atas adegan cinta khas Hollywood,” tulis Uno. Lalu dari mana orang-orang Indonesia ini? Uno menyebut mereka adalah para buruh kapal Belanda yang mendarat di New York. Sementara itu, Charles Bidien, seorang imigran Indonesia di Amerika Serikat, dalam arsipnya Gerakan Angkatan ‘45 di U.S.A ., menyebut 300 buruh kapal Belanda protes ketimpangan upah di New York pada 1943. Baca juga: Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Pertama Nazi Para buruh kapal dari Indonesia itu kemudian mogok kerja dan meninggalkan kapal. Mula-mula mereka mengungsi ke Seaman House. Petugas imigrasi meminta mereka kembali ke kapal. Namun, mereka melarikan diri dan memilih menggelandang di New York. “Banyak di antara mereka yang kelaparan dan kedinginan sampai ada yang menemui ajalnya. Di antaranya tujuh orang mati kelaparan dan kedinginan di pinggir jalan, tiga orang masuk rumah sakit gila, dan ada beberapa orang yang mendapat hukuman karena kejahatan kriminil,” tulis Bidien. Bidien sempat mengungsikan mereka ke penginapan miliknya. Namun, penginapannya digrebek. Mereka kemudian di tahan di Pulau Ellis. Belakangan, Bidien dan ratusan buruh kapal di New York melakukan aksi mogok dan demonstrasi mendukung kemerdekaan Indonesia. Baca juga: Pesan dari Kamp Interniran Belum diketahui apakah mereka yang ditahan di Crystal City adalah orang-orang yang sama dengan para buruh kapal di New York yang sempat ditahan di Pulau Ellis. Uno sendiri tak menyebutnya secara pasti. Uno justru mengungkap fakta menarik lain dalam pamflet Concentration Camps American-style yang ditulisnya pada 1974. Ia menyebut orang-orang Indonesia di Crystal City adalah rombongan terakhir yang dikirim ke Crystal City. Sebelumnya mereka ditahan di Tule Lake, kamp lain di California. Selain orang Indonesia, Crystal City juga menahan orang-orang Jerman, Italia, Peru-Jepang, dan Jepang dari Hawaii. “Kamp Crystal City unik karena merupakan kamp terakhir yang ditutup pada tahun 1947,” tulis Uno. Baca kisah Charles Bidien dan aksi pemogokan buruh kapal di New York di sini: Ode Pejuang yang Kesepian
- Fetching Mr. Nas
THOSE three soldiers with red berets were standing menacingly. With guns in their hands, they battered the bedroom door of the Coordinating Minister of Defense and Security and Armed Forces Chief of Staff, General Abdul Haris Nasution. But the general, who was planned to be brought in front of President Sukarno that early morning, was nowhere to be seen.
- Di Balik Makam Roso
Pada sebuah lereng nan hijau di tengah kota Ambon. Berjejer makam para serdadu Sekutu dalam Perang Dunia II. Ada barisan makam tentara Inggris termasuk dari India, makam tentara Australia di bagian depan, dan makam tentara Belanda di barisan belakang. Salah satu makam menarik perhatian karena namanya yang tertera pada nisan: A. Roso lahir 12 Januari 1924 dan meninggal 15 Juni 1943. Roso seperti nama Jawa. Nama yang mengingatkan kita pada “roso” dari Mbah Maridjan satu dekade silam. Inisial A pada nama depannya adalah Alphons. Jadi, nama lengkapnya Alphons Roso. Kartu tawanan perang Jepang atas namanya, yang tersimpan dalam Arsip Nasional Belanda, menyebut dia adalah prajurit milisi kelas dua infanteri dengan nomor stamboek 161424. Dia ditangkap di perkebunan teh Sedep di Kertasari, Bandung, pada 8 Maret 1942, ketika Hindia Belanda menyerah kepada Jepang. Baca juga: Kopral Anthony Menjebol Benteng Salubanga Sebelum ditangkap Jepang,Alphons Roso adalah anggota Depot Batalion Infanteri ke-4 di Bandung. Dia berasal dari Jakarta, anak dari H.F. Roso dan Tidja. Dalam beberapa kartu lain, terdapat tawanan perang Jepang dengan nama belakang Roso, dengan nama ayah H.F. Roso. H.F. adalah singkatan dari Henry Ferdinand. Sedangkan nama ibu mereka ditulis Tidja dan Saidjah. Dua nama asli Indonesia itu kemungkinan orang yang sama. Jadi Alphons Roso dan serdadu-serdadu lain dengan nama belakang Roso adalah orang Indo. Semua serdadu dengan nama belakang Roso itu berasal dari Batavia. Mereka antara lain: Leopold August Roso lahir 23 Maret 1900; Theodorus Frederik Roso lahir 7 Mei 1904; George Alexander Roso lahir 22 November 1910; Henry Victor Roso lahir 22 September 1912; Eddie Wilhelm Roso lahir 2 Juli 1916; dan Johnny Reinier Roso lahir 2 Februari 1921. Berdasarkan nama ayah dan ibu, diperkirakan mereka semua bersaudara dalam sebuah keluarga besar. Kartu tawanan perang Jepang atas nama Alphons Roso. (Arsip Nasional Belanda). Mereka rata-rata ditangkap di sekitar Bandung.Sebelum ditangkap, mereka bertugas di sekitar kantor Departemen Peperangan yang berada di Bandung. Menurut surat dari Oorlog Graven Stichting (Yayasan Korban Perang) di Den Haag tanggal 22 Desember 1964, mulanya di tahun 1942, Alphons dan ketujuh saudaranya ditawan di kamp tawanan perang Cimahi. Alphons kemudian dibawa oleh militer Jepang ke luar Jawa menuju daerah Maluku. Dia terpisah dari saudara-saudaranya yang dibawa ke Singapura. Alphons lalu dibawa ke daerah Kariuw, Pulau Haruku, di utara Pulau Ambon. Jepang mencurigai orang-orang Ambon karena banyak yang menjadi serdadu Belanda. Sebagai tawanan perang, merekakerap dipekerjakan dalam proyek-proyek militer Jepang. Selama masa pendudukan Jepang di Ambon jatuh banyak korban termasuk Alphons Roso. Baca juga: Narkim Menerkam Pejuang Aceh Ketika Alphons Roso tutup usia pada 15 Juni 1943,saudara-saudaranya tidak langsung tahu. Arus informasi di zaman perang kerap tidak sampai ke tawanan perang Jepang. Keluarganya baru tahu Alphons meninggal pada 1945 setelah Perang Dunia II atau Perang Pasifik berakhir. Pasca Perang Dunia II, tentara S ekutu melakukan penyelidikan tentang kekejaman militer Jepang termasuk di Maluku. Selain itu , korban perang dari tentara Belanda dan tentara S ekutu dikumpulkan di Ereveld Galala, Ambon. Termasuk Alphons Roso yang akhirnya bersemayam di Commonwealth War Cemetery, sebelah Taman Makam Pahlawan Kapaha , kota Ambon.*
- Slamet Rijadi Masa Pendudukan Jepang
Setelah lulus Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Ardjoeno, Slamet Rijadi belajar di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Broederan di belakang Gereja Purbayan Solo. Dia tidak tamat sekolah menengah pertama itu karena tentara Jepang keburu mengalahkan dan menduduki Hindia Belanda. Jepang membuka sekolah pelaut di beberapa kota, salah satunya di Cilacap. Slamet Rijadi mendaftar ke Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) Cilacap. Dia diterima dan berkawan dengan Soejoto dan Wardiman yang belajar navigasi dek. Selain belajar tentang pelayaran, para siswa SPT dibekali pula dengan sedikit teknik militer. Setelah lulus SPT, Slamet Rijadi akan menjadi bintara kapal angkut Angkatan Darat Jepang (Rikugun). Dia bersama para siswa SPT Cilacap, SPT Tegal, dan SPT Jakarta kemudian dilatih menggunakan senapan mesin Watermantel di Jakarta. Mereka tinggal di asrama Kwini. Jika tidak sedang latihan, mereka berpesiar di kota Jakarta. Di Jakarta, jaringan perkawanan para siswa bertambah. Di masa-masa itu timbul kebosanan di kalangan mereka. Sebab, menurut Julius Pour dalam Ign Slamet Riyadi dari Mengusir Kempetai sampai Menumpas RMS , keberangkatan mereka untuk penempatan di kapal-kapal militer kerap diundur-undur militer Jepang. Baca juga: Kegagalan Slamet Riyadi di Bulan Ramadan Di masa-masa itu, seperti diakui Wardiman, mereka mulai tidak menyukai militer fasis Jepang. Wardiman dan Slamet Rijadi pun terlibat dalam suatu komplotan antifasis Jepang. Wardiman menjadi saksi kepemimpinan Slamet Rijadi. “Beberapa kawan yang dipimpin oleh Slamet Rijadi mengunjungi Wongsonegoro yang pada waktu itu menjabat sebagai koordinator daidancho (komandan batalion PETA). Dari beliaulah kita telah ikut mempersiapkan pemberontakan terhadap penjajah Jepang,” kata Wardiman dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid IV . PETA (Pembela Tanah Air) adalah tentara sukarela bentukan Jepang. Komplotan Slamet Rijadi juga sempat menghubungi komandan batalion PETA Jakata, daidancho Mr. Kasman Singodimedjo. Mulanya ahli hukum yang dikenal sebagai pemimpin kelompok Islam itu memberi isyarat positif kepada para bekas siswa SPT yang hendak melawan Jepang. “Tetapi, entah karena apa tiba-tiba dibatalkan,” kata Soejoto seperti dicatat Julius Pour. Pemberontakan yang hendak dilakukan Slamet Rijadi, Wardiman, dan Sanjoto pun tak pernah terjadi. Mereka kemudian melarikan diri dari sekolah. Selama berhari-hari mereka berkelana di sekitar Keresidenan Banyumas sebelum akhirnya masing-masing memutuskan pulang kampung. Baca juga: Nasihat Menjelang Pemberontakan PETA di Blitar Pemberontakan yang ditunggu-tunggu, seperti yang dilakukan Suprijadi dkk. di Blitar, tak pernah terjadi. Slamet Rijadi dan kawan-kawan merasa dalam bahaya sehingga memilih membubarkan diri dan berpencar ke beberapa daerah. Wardiman bersama seorang kawan bernama Ambyah sempat melarikan diri ke Majenang, dimana mereka ditangkap. Mereka diperiksa oleh Kempeitai (polisi militer Jepang) Purwokerto. Wardiman lolos dari maut karena ada kawannya yang menjadi pembantu Kempeitai. Slamet Rijadi sendiri pulang ke Solo. Dia tidak menampakan diri sepanjang Jepang masih kuat. Sampai ketika orang-orang Solo menyerbu markas Kempeitai, barulah Slamet Rijadi muncul. “Serbuan dimulai setelah Slamet Rijadi berhasil masuk ke dalam markas dengan meloncati tembok serta membongkar genteng,” catat Julius Pour. Anggota Kempeitai terkejut oleh serbuan yang terjadi pada 13 Oktober 1945 itu. SetelahnyaSlamet Rijadi menjadi populer.Dia memimpin pasukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dengan pangkat Mayor di usia 18 tahun. Slamet Rijadi gugur di Ambon pada 4 November 1950 dalam penumpasan RMS (Republik Maluku Selatan). Dia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2007. Sementara itu , Wardiman masuk Angkatan Laut dan terakhir menjadi Laksamana TNI AL. *





















