Hasil pencarian
9758 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bogem Mentah untuk Chairil Anwar
MINAT Chairil Anwar terhadap dunia sastra memang telah terasah sedari remaja. Waktu bersekolah di MULO Medan, Chairil tercantum sebagai anggota redaksi majalah dinding Ons MULO Blad . Di sana, Charil kerap menuangkan karya dalam bentuk prosa. Di balik jiwa seninya, Chairil memiliki kepribadian yang nyentrik. Chairil yang gemar bermain pingpong itu akan selalu berteriak jingkrak-jingkrak kalau menang. “Tingkah laku inilah yang menarik perhatian saya. Ah, jadi inilah Chairil Anwar,” tutur Hans Bague Jassin dalam bunga rampai Memoar Senarai Kiprah Sejarah Jilid 1. Waktu itu, Chairil siswa MULO (setara SMP) berusia 14 sedangkan Jassin lima tahun lebih tua dan duduk di bangku HBS (setara SMA). Perkenalan Chairil dan Jassin selanjutnya terjadi di Batavia. Pada zaman pendudukan Jepang, Chairil menjadi penyiar radio Jepang sembari menulis puisi dan sajak. Sementara itu, Jassin bergiat di majalah Panji Pustaka sebagai wakil pemimpin redaksi. Mereka terlibat aktif diskusi sastra yang diselenggarakan Himpunan Sastrawan Angkatan Baru. Dalam wadah itu, Chairil dan Jassin mulai bersahabat karib.
- Ketika Chairil Anwar Berdebat dengan Serdadu Belanda
PASAR Senen, Jakarta di era berlakunya Perjanjian Renville (1948) merupakan wilayah Belanda. Kendati jatuh bergantian ke tangan penguasa yang berbeda, sejak 1930-an, kawasan itu tetap menjadi tempat nongkrong yang nyaman bagi para jago, seniman, pedagang barang bekas dan tukang catut. Di tahun 1940-an, Pasar Senen bahka kerap menjadi tempat bertemunya para mahasiswa pejuang kemerdekaan. “Pada mulanya, para mahasiswa pejuang tersebut datang ke Senen untuk menjual atau membeli buku ke toko loak Nasution (yang) terletak di belakang Bioskop Grand,” ungkap Misbach Yusa Biran dalam Keajaiban Pasar Senen . Chairil Anwar termasuk seniman yang kerap mangkal di Pasar Senen. Menurut Hasan Aspahani dalam Chairil Anwar: Sebuah Biografi , selain memang Pasar Senen sudah menjadi tempat tongkrongan favoritnya sejak zaman Jepang, secara jarak, kawasan itu memang tidak terlalu jauh dari kantornya di Gunung Sahari.
- Chairil Anwar Sang Pejuang
KARAWANG-BEKASI sejak 21 Juli 1947 adalah kesedihan. Haji Sidin masih ingat bagaimana di perbatasan antara kedua kota itu terjadi pertempuran yang cukup besar selama tiga hari berturut-turut antara para pejuang Indonesia dengan para serdadu Belanda. “Itu yang mati banyak. Ratusan mungkin jumlahnya, ya tentara ya masyarakat biasa,” kenang lelaki berusia 91 tahun itu. Dalam Gangsters and Revolutionaries , sejarawan Robert B. Cribb menyebut pertempuran besar dan brutal itu terjadi setelah para serdadu Belanda dari Batalyon 3-9-RI Divisi 7 Desember merangsek ke Karawang via Bekasi. Penyerbuan itu dilakukan, persis sehari setelah Gubernur Jenderal NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) H.J. van Mook mengumumkan pembatalan sepihak kesepakatan Perjanjian Linggarjati yang pernah ditandatangani oleh Indonesia dan Belanda beberapa bulan sebelumnya. Inilah yang mengawali Aksi Polisional I Belanda (pihak Republik menyebutnya sebagai Agresi Militer Belanda I).
- 8 Perempuan Gebetan Penyair Chairil Anwar
CHAIRIL ANWAR, penyair besar yang eksentrik dan diakui sebagai pembaru puisi Indonesia. Selama hidupnya yang relatif muda, dia menghasilkan 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. Beberapa puisinya dibuat untuk perempuan-perempuan yang mengisi hatinya. Kendati penampilannya urakan, namun Chairil dikenal sebagai pemuda yang banyak penggemarnya terutama di kalangan gadis-gadis. Dia digemari karena rupanya bagus, kulitnya putih dan wajahnya menyerupai Indo. Chairil juga dikenal “pintar” memikat gadis-gadis karena dia mudah berkenalan dengan siapa saja, lelaki maupun perempuan. Chairil pernah tertarik pada beberapa perempuan. “Di antara gadis yang pernah menarik perhatian Chairil ialah Karinah Moorjono, Dien Tamaela, Gadis Rasid, Sri Arjati, Ida, dan Sumirat,” tulis Pamusuk Eneste dalam Mengenal Chairil Anwar .
- Mencari Sriwijaya di Palembang
LETAK pusat Kadatuan Sriwijaya masih menjadi perdebatan. Sejarawan India, Ramesh Chandra Majumdar, berpendapat kalau Sriwijaya harus dicari di Jawa. Sarjana Belanda, J.L. Moens menduga Sriwijaya berpusat di Kedah (Malaysia) dan pindah ke Muara Takus (Riau). Sementara sejarawan George Coedes, Slamet Muljana, dan O.W. Wolters, lebih memilih Palembang. Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, salah satu yang meyakini pusat Sriwijaya ada di Palembang. Alasannya, prasasti Sriwijaya banyak ditemukan di sana. Ada Prasasti Kedukan Bukit (683) yang menandai dibangunnya sebuah perkampungan. Prasasti Talang Tuo (684) yang menandai dibangunnya Taman Sri Ksetra. Dan Prasasti Telaga Batu yang menandai pejabat-pejabat disumpah. “Semuanya ditemukan di Palembang, merupakan suatu bukti bahwa Palembang merupakan Kota Sriwijaya,” kata Bambang dalam acara Borobudur Writers and Cultural Festival, di Hotel Manohara, Magelang.
- Pemuda Peranakan Tionghoa asal Palembang di Kongres Pemuda
MALAM Senin, 28 Oktober 1928, di gedung Indonesische Clubhuis, Kramat, Batavia. Para pemuda berkumpul, menyimak paparan wakil-wakil organisasi peserta Kongres Pemuda II tentang kepanduan, pergerakan pemuda, dan persatuan Indonesia. Kongres terbagi atas tiga sidang dan telah berjalan dua hari. Malam itu Kongres masuk agenda sidang terakhir. Sugondo Djojopuspito, ketua Kongres, mendapat giliran bicara setelah paparan wakil-wakil organisasi permuda. Dia membacakan tiga keputusan Kongres: bertanah air Indonesia, berbangsa Indonesia, dan berbahasa Indonesia. Peserta Kongres menyetujui tiga keputusan itu secara bulat. Tak ada diskusi lagi. Peserta Kongres membaca ulang keputusan dengan nyaring. Kemudian Wage Rudolf Supratman memainkan lagu Indonesia Raya dengan biola. Dolly, putri Haji Agus Salim, mengisi vokalnya. Peserta berdiri dan menyanyikannya bareng-bareng. Kongres pun selesai.
- Jejak Demak di Palembang
KEBERHASILAN Pajang menguasai Demak berujung duka. Pihak yang kalah terpaksa menerima segala titah penguasa baru. Memang tidak selamanya buruk. Namun tidak pula diterima begitu saja. Semangat penolakan dari rakyat Demak masih terasa di sebagian daerah. Meski akhirnya mereka tersingkir hingga ke tepi laut. Setelah memastikan penetapan kekuasaan atas bekas wilayah Demak, Pajang mulai bertindak agresif terhadap bekas penduduk Demak. J.J. Meinsma dalam Babad Tanah Jawi: Jaavanse Rijkskroniek menyebut jika segala perlawanan para penguasa bekas bawahan Demak berhasil ditumpas oleh Pajang. Hingga tidak ada seorang pun yang berani melakukan perlawanan, kecuali Jipang. Tindakan memasukan bekas rakyat Demak ke Pajang tidak berjalan lancar. Banyak penguasa dan priyai Demak yang menolak Pajang. Mereka lebih memilih melarikan diri dan hidup mandiri, ketimbang ada di bawah kuasa Jaka Tingkir, raja Pajang. Ke mana rakyat Demak itu pergi? Mereka berlayar menuju wilayah Palembang, Sumatera Selatan. Diperkirakan sampai sebelum 1572.
- Cheng Ho dan Bajak Laut Buronan di Palembang
CHEN Zuyi, kepala negara Ku-Kang (Palembang) telah lama menjadi bajak laut. Cheng Ho atau Zheng He mengirim utusan yang membawa pesan Kaisar Yongle untuk memanggilnya. Chen Zuyi pura-pura menurut. Ternyata, ia berencana merampok Cheng Ho. Rencananya gagal dan ia ditangkap. Pada bulan ke-9 tahun 1407 Cheng Ho kembali ke Tiongkok dari misi pelayarannya ke Samudera Barat. Ia membawa Chen Zuyi untuk diserahkan kepada kaisar. Kaisar senang dan memberikan promosi serta hadiah kepada Cheng Ho dan rekan-rekannya. Sedangkan Chen Zuyi dipenggal di pasar ibu kota. Kisah Chen Zuyi, bajak laut yang menguasai wilayah Palembang pada awal abad ke-15, tercatat dalam Catatan Zheng He , bab biografi orang terkenal dalam Sejarah Dinasti Ming.
- Tanpa Pajak, Palembang Kaya
SEBAGAIMANA banyak sungai di Indonesia, Sungai Musi di Palembang sedang dalam keadaan tak baik. Salah satu penyebabnya adalah perubahan lahan basahnya untuk dijadikan lahan berbagai kepentingan ekonomis. Akibatnya, fungsi ekologis sungai berubah. Pada gilirannya, tak hanya lingkungan alam yang terdampak tapi juga manusia di sekitarnya. “Bukan tidak mungkin dalam lima tahun ke depan, masyarakat di lahan basah Sungai Musi mengalami krisis pangan dan tidak punya pendapatan lagi dari hasil alam. Infrastruktur seperti pembangunan jalan dan rumah mungkin sulit untuk dicegah, tapi sebaiknya menggunakan tiang seperti yang dilakukan masyarakat di masa lalu,” ujar Dr. Yulian Junaidi dari Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, dikutip mongabay . co.id , 8 Mei 2024. Sungai Musi merupakan urat nadi kehidupan di Palembang dan lebih luas, Sumatera Selatan, sejak lama. Ukurannya yang lebar membuat kapal dari laut (sekitar Teluk Bangka) mudah masuk ke Palembang yang jauh dari pesisir. Banyak kapal dagang, entah dari Jawa, Madura, Bali, Sulawesi dan negeri-negeri lain di luar Nusantara mengunjungi pelabuhan Palembang dengan membawa beras, garam, kain dan beragam komoditas lain. Itu berlangsung sejak era Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang.
- Orang Hulu Kuasai Kota Palembang
PALEMBANG merupakan kota terbesar di Sumatra belahan selatan. Di zaman Hindia Belanda, Palembang adalah pusat keresidenan yang membawahi seluruh bagian selatan pulau. Bekas wilayah keresindenan itu kemudian menjadi Provinsi Sumatra Selatan, Lampung, Jambi, dan Bangka-Belitung. Kota Palembang tentu paling modern di wilayah ini. Penduduk Palembang dari waktu ke waktu semakin beragam. Di antara warga kota Palembang, punya keterikatan hubungan keluarga dengan daerah-daerah luar kota adalah orang-orang daerah Ogan dan Komering. “Secara kultural, keruangan Palembang membuat tiga pembagian yang jelas antara Kota Palembang, Iliran Palembang dan Uluan Palembang,” catat Dedi Irwanto Muhammad Santun dalam Venesia Dari Timur: Memaknai Produksi dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang Dari Kolonial Sampai Pascakolonial .
- Palembang Kota Air
SUNGAI Musi dengan Jembatan Amperanya kini merupakan ikon kota Palembang bersama pempek. Sungai sepanjang 750-an kilometer itu telah lama menjadi urat nadi kehidupan kota teramai di bagian selatan Sumatra itu. Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya hingga hari ini. “Lokasi ibukota Sriwijaya dekat dengan Kota Palembang sekarang, tepatnya di pinggir Sungai Musi. Sriwijaya mengalami perkembangan secara terputus-putus antara abad ke-7–ke-13, walaupun tidak selalu berpusat di Palembang,” tulis Anthony Reid dalam Sumatera Tempo Doeloe: Dari Marco Polo sampai Tan Malaka . Peran penting itu terus berlanjut hingga ketika Sriwijaya telah runtuh. Di zaman Kesultanan Palembang, kota ini sudah terkenal ramainya.
- Hitler Seniman Medioker
DENGAN ekspresi pilu, Adolf Hitler terduduk di tumpukan tulang-belulang. Di belakangnya, gejolak perang tampak mulai tak berhenti memakan korban rakyat. Begitulah penggambaran sebuah lukisan yang mendeskripsikan Hitler sebagai Kain dalam kisah ternama di Alkitab Perjanjian Lama. Lukisan itu seolah ingin menegaskan Hitler sebagai Kain yang membunuh Habel sebagai representasi rakyatnya sendiri. Kain dan Habel adalah dua anak pertama Adam dan Hawa yang saling bunuh. Kain yang membunuh Habel, dihukum menjadi pengembara sepanjang hayat. Dalam hal ini, Hitler diibaratkan seperti Kain yang bertualang sebagai penjahat perang. Salah satu mahakarya yang dibuat pada 1944 itu dipamerkan secara permanen di Deutsches Historisches Museum, Berlin, Selasa, 4 Februari 2020. Lukisan itu didapatkan dari keluarga sang seniman yang 75 tahun menyimpannya. Grosz merupakan seniman eksil asal Jerman yang mencari suaka ke Amerika Serikat pada 1930 dan acap menciptakan karya bertema politis.





















