top of page

Hasil pencarian

9748 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sersan Mayor Tentara Kolonial Jadi Presiden

    ADA kemiripan antara Joseph-Désiré Mobutu, yang populer sebagai Mobutu Sese Seko, dengan Soeharto. Keduanya sama-sama cerdas dan berkuasa selama 32 tahun. Keduanya juga sama-sama pernah menjadi sersan tentara kolonial di negeri masing-masing. Soeharto di tentara kolonial Hindia Belanda Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL), sementara Mobutu di tentara kolonial Belgia di Kongo, Force Publique (FP).   Namun, Soeharto dikenal pendiam dan tidak suka membuat perkara di masa muda. Dia masuk tentara karena perkara menyambung hidup. Sementara, Mobutu adalah siswa cerdas di Ecole Moyenne Mbandaka. Dia hobi membaca. Tak hanya suratkabar, buku-buku “berat” juga dibaca Mobutu. Penulis kesukaannya adalah Jenderal Charles De Gaulle dari Perancis, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dan Nicollo Machiavelli dari Italia yang menulis The Prince . Jadi Mobutu muda lebih intelek daripada Soeharto muda.   “Dia rajin membaca dan terkesan dengan apa yang dibacanya,” catat Dave Renton dkk. dalam The Congo  Plunder and Resistance.

  • Cerita Pahit Mobil Rakyat Mazda MR 90

    SOEBRONTO LARAS, bos PT Indomobil, ingin mengubah visi mobil rakyat dari berbentuk Kijang (Kerjasama Indonesia-Jepang) menjadi sedan. Sebab, konotasi Kijang dan Suzuki Carry adalah mobil niaga atau mobil barang yang dijadikan mobil penumpang. “Obsesi saya adalah membuat mobil rakyat atau yang saya sebut Mobira,” kata Soebronto dalam memoarnya, Meretas Dunia Otomotif Indonesia. Soebronto menggandeng Mazda agar mau menjadi pioner membuat sedan di Indonesia. Selama ini semua sedan yang masuk cuma dirakit dan terkena bea masuk yang sangat tinggi. Sementara itu, Kijang dan Suzuki Carry dibebaskan dari pajak dan bea masuk. Untuk menghindari bea masuk, komponen-komponennya akan dibuat di Indonesia. Mazda setuju namun tidak bisa membuat model sedan baru. Sehingga dipilih model Mazda 323 Familia yang diproduksi pada 1978 sampai 1980.

  • Kekuatan Volvo di Indonesia

    VOLVO menjadi trending topic karena tak apa-apa setelah ditabrak oleh Fortuner dari belakang di tol dalam kota arah ke Tanjung Priuk, Jakarta, Selasa (15/9). Volvo 960GL tahun 1997 itu hanya penyok sedikit, sedangkan muka Fortuner hancur. Warganet pun membandingkan ketangguhan mobil Eropa dan Jepang. Volvo masuk Indonesia sejak setengah abad lalu. Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Volvo adalah PT Central Sole Agency milik Salim Group, perusahaan yang didirikan oleh Liem Sioe Liong alias Sudono Salim yang dekat dengan Presiden Soeharto. Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan mobil impor harus dirakit di dalam negeri, Salim Group mendirikan PT ISMAC (Indo-Swedish Motor Assembly Corporation), perusahaan patungan bersama PT. Pembangunan Jaya dan A.B. Volvo. Wakil Presiden Sultan Hamengkubuwono IX meresmikan pabrik perakitan Volvo PT ISMAC di Ancol, Jakarta pada 22 Oktober 1975. Investasi pembangunan pabrik menelan biaya 9 juta dolar. Tanah untuk pabrik itu dihitung sebagai saham PT Pembangunan Jaya.

  • Memperingati Peristiwa Asa Bafagih

    DI ANTARA pers sezaman dekade 1950-an, harian Pemandangan tak termasuk media beken. Tirasnya hanya 3000–4000 eksemplar per hari. Angka ini kalah jauh dibandingkan oplah suratkabar seperti Pedoman , Indonesia Raya , atau Abadi yang mencapai belasan ribu eksemplar per hari. Namun, dalam edisi tanggal 18 Maret 1953, harian Pemandangan bikin geger pemberitaan nasional. “21 perusahaan industri dimana menurut rencana modal asing baru dapat diusahakan. Dari perusahaan makanan, minuman kaleng-botol, sampai kepada pharmacie industri, pabrik mobil dan traktor,” demikian lansir Pemandangan pada halaman utamanya. Berita yang disajikan Pemandangan itu menguak informasi bahwa pemerintah tengah membuka keran untuk penanaman modal asing di Indonesia. Investasi itu meliputi 21 sektor industri, termasuk perusahaan makanan, minuman kaleng/botol, farmasi, hingga kendaraan berat. Namun, redaksi Pemandangan tak menyebutkan informan atau narasumber berita tersebut, hanya mencantumkan keterangan “dari kalangan yang mengetahui”. Sontak berita Pemandangan tersebut membuat pemerintah berang karena dianggap telah membocorkan rahasia negara. Setidaknya informasi tersebut biarpun benar masih dalam rapat kabinet dan belum diumumkan secara resmi ke publik. Berita ini menjadi kali kedua pemerintah dibuat gerah oleh harian Pemandangan, yang sebelumnya memberitakan rencana kenaikan gaji pegawai negeri yang dianggap sebagai rahasia negara. Berita harian Pemandangan , 18 Maret 1953, tentang rencana masuknya modal asing ke Indonesia.   Pemerintah memperkarakan harian Pemandangan secara hukum. Perdana Menteri Wilopo turun tangan langsung melaporkan kasus ini ke Kejaksaan Agung. Laporan ini menyebabkan Asa Bafagih, pemimpin redaksi Pemandangan , berurusan dengan Kejaksaan Agung. “Asa Bafagih adalah wartawan Indonesia pertama yang menggunakan hak ingkar,” kata Nabiel A. Karim Hayaze’, penulis biografi Asa Bafagih: Diplomat & Tokoh Pers Indonesia  dalam diskusi bukunya di Gedung Antara Heritage, Jakarta Pusat, pada 5 April 2026. Kejaksaan Agung menerima pengaduan Wilopo pada 8 April 1953. Wilopo menuntut redaksi Pemandangan mengklarifikasi siapa informan berita yang diterbitkan pada 18 Maret 1953. Untuk memenuhi panggilan kejaksaan, Asa Bafagih mesti bolak-balik memberikan keterangan sepanjang pertengahan 1953. Asa Bafagih bersikukuh tidak memberitahukan siapa informan yang memberikan informasi tersebut. Asa Bafagih bungkam dengan merujuk kepada hak tolak dan hak ingkar wartawan. Dalam Kode Etik Jurnalistik, pers memiliki hak untuk melindungi identitas dan keberadaan narasumber demi keamanan yang bersangkutan maupun keluarganya. “Hak ingkar bagi kami, wartawan sama seperti sumpah prajurit bagi tentara,” kata Asa Bafagih di hadapan tim pemeriksa Kejaksaan Agung. Dia juga mempertanyakan apa yang dimaksud dan apa batasan suatu informasi disebut rahasia negara. Saat itu tidak ada satu pun aturan yang didefinisikan sebagai rahasia negara. Asa Bafagih unjuk rasa menentang penahanannya. (Repro Asa Bafagih: Diplomat & Tokoh Pers Indonesia ). Menurut Nabiel, kasus hukum yang menjerat harian Pemandangan ini kemudian lebih dikenal sebagai Peristiwa Asa Bafagih. Kendati berhadapan dengan penguasa, Pemandangan dan Asa Bafagih tak berdiri sendirian. Di belakang mereka mengalir deras dukungan dari sesama insan pers. Pada 5 Agustus 1953, ratusan wartawan dari berbagai media di Jakarta maupun kota lainnya melakukan unjuk rasa besar-besaran di depan Kejaksaan Agung dan parlemen. Mereka Asa Bafagih dibebaskan, pengakuan hak ingkar wartawan, penghapusan undang-undang pers kolonial, dan hormati Kode Etik Jurnalistik. Aksi solidaritas terhadap Pemandangan dan Asa Bafagih sekaligus menjadi demonstrasi wartawan pertama di Indonesia. Rosihan Anwar, pemimpin redaksi harian Pedoman , menilai apa yang dilakukan Kabinet Wilopo terhadap Pemandangan ada gaya warisan pemerintah kolonial. Menurutnya, berita yang disampaikan Pemandangan hanyalah menyiarkan sebuah scoop , bukan rahasia negara. “Berita yang sudah jamak diketahui wartawan,” kata Rosihan dikutip Tempo , 19 Agustus 2007. Protes dari berbagai serikat pers akhirnya dibicarakan dalam parlemen. Baik Pemandangan maupun Asa Bafagih luput dari delik hukum. Tuduhan pembocoran rahasia negara tidak terbukti. Pada 15 Agustus 1953, Jaksa Agung Suprapto memutuskan penghentian tuntutan atas perkara Bafagih. Menurut jurnalis senior Joko Prawoto Mulyadi alias Okky Tirto, Peristiwa Bafagih layak diperingati sebagai suatu tonggak etik jurnalistik di Indonesia. Apa yang dilakukan Asa Bafagih dengan mempertahankan hak ingkarnya menjadi suatu pedoman bahwa wartawan harus melindungi narasumbernya, apapun taruhannya. Untuk itu, ia mendorong agar ingatan mengenai peristiwa ini menjadi agenda Dewan Pers Indonesia. “Sehingga Dewan Pers bisa punya satu momen setahun sekali memperingati Peritiwa Bafagih dalam perspektif etika jurnalistik,” ujar Okky, “untuk mengawal hak-hak wartawan, dalam hal ini hak ingkar, supaya tidak diintimidasi, tidak ditekan dalam membongkar siapa narasumbernya.”*

  • A Nation's Dream Car

    SEVERAL months after becoming the president director of Indonesian Service Company (ISC), a state-owned car assembly company, Hasjim Ning invited President Sukarno to inspect the assembly factory in Tanjung Priok, Jakarta, where the company headquartered before officially moving to Jalan Lodan. The invitation was accepted, and Sukarno finally came to pay a visit. Hasjim Ning showed every nook and cranny of the factory to the president who excitedly observed the installation of each component of the car that was being assembled. His keen interest was shown through the questions he often posed. After the factory tour, they were having a lunch break while discussing matters concerning the ISC. Hasjim Ning disclosed the conversation in his autobiography Pasang Surut Pengusaha Pejuang . "Tell me your difficulties in leading this company. I'll help you to resolve it," said Sukarno.

  • Berdiri di Atas Mobil Sendiri

    BEBERAPA bulan setelah memimpin Indonesian Service Company (ISC), perusahaan perakitan mobil milik negara, Hasjim Ning mengundang Presiden Sukarno untuk menengok pabrik perakitan ISC di Tanjung Priok, Jakarta –sebelum pindah ke Jalan Lodan. Undangannya berbalas. Sukarno datang. Hasjim Ning memperlihatkan cara kerja pabrik perakitan itu. Sukarno antusias memperhatikan pemasangan setiap komponen mobil yang sedang dirakit. Tak jarang ia mengajukan pertanyaan. Usai keliling pabrik, mereka makan siang sambil berbincang mengenai ISC. Hasjim Ning mengutarakan percakapan itu dalam otobiografinya Pasang Surut Pengusaha Pejuang .  “Katakan padaku, apa kesulitan jij  (kamu, red .) dalam memimpin perusahaan ini. Nanti aku bantu mengatasinya,” kata Bung Karno.

  • Cerita di Balik Rekor MURI untuk Historia

    PIAGAM penghargaan yang diserahkan oleh Ketua Umum MURI, Jaya Suprana diterima oleh Pemimpin Redaksi majalah Historia , Bonnie Triyana di museum MURI, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 8 Agustus 2014. “Ini merupakan apresiasi terhadap upaya kami menghadirkan kisah sejarah seberimbang mungkin. Selama ini sejarah di Indonesia banyak direkayasa demi kepentingan kekuasaan. Kami berupaya mengembalikan hal itu menjadi milik publik kembali,” kata Bonnie. Acara tersebut memang tak khusus untuk Historia , kendati saat itu cuma Historia yang menerima penghargaan. Dalam acara itu hadir perwakilan dari kedutaaan besar Georgia, Ukraina, Polandia, dan Amerika Serikat. Georgia sedang merayakan hari kemerdekaannya. Setelah menyaksikan beberapa pentas kesenian, penghargaan diberikan di pengujung acara. Ada beberapa tokoh pers hadir, antara lain Ninok Leksono dari Kompas dan Paul Himawan dari Sinar Harapan .

  • Tabungan demi Pembangunan

    INFLASI menjadi satu dari sekian masalah yang harus diselesaikan pemerintahan Orde Baru. Melalui berbagai upaya pengendalian moneter, pemerintah berhasil menurunkan angka inflasi. Namun tetap saja inflasi masih cukup tinggi. Salah satu sebabnya, besarnya jumlah uang yang beredar di masyarakat. Untuk menekannya, pemerintah merangsang masyarakat untuk menyimpan uang di bank. “Menabung bagi masyarakat masih belum menjadi budaya ataupun kebiasaan. Kalaupun dilakukan, masyarakat masih lebih suka menabung dalam bentuk barang perhiasan berharga seperti emas,” ujar Radius Prawiro dalam biografinya yang ditulis Patmono S.K. dkk. Radius Prawiro, kala itu gubernur Bank Indonesia, membuat terobosan. Untuk menarik dana masyarakat bagi kegiatan pembangunan, Bank Indonesia meluncurkan Tabungan Berhadiah pada Februari 1969 yang dilaksanakan bank-bank pemerintah dan swasta.

  • Tentara Indonesia Jadi Mata-mata Uni Soviet

    PADA 4 Februari 1982, Corps Polisi Militer (CPM) menangkap Letkol (Laut) J.B. Soesdarjanto dan Wito, pengganti Robert, di restoran “Jawa Tengah” di Jalan Pemuda Jakarta Timur. Wito alias Sergei Egorov adalah agen Uni Soviet (KGB) yang menjabat atase militer pada Kedutaan Besar Uni Soviet di Jakarta. Menteri Luar Negeri Indonesia Mochtar Kusumaatmadja memanggil dan menyatakan protes kepada duta besar Uni Soviet. Pemerintah kemudian mengusir dan menyatakan persona non grata Egorov dan Robert alias Alexander Finenko. Johannes Baptista Soesdarjanto lahir di Ambarawa, Jawa Tengah, pada 27 Juni 1934. Lulus dari SMA De Loyota Semarang, dia masuk Akademi Ilmu Pelayaran dan lulus pada 1958. Dia masuk Angkatan Laut tahun 1962, setahun kemudian disekolahkan ke Maryland, Amerika Serikat. Sekembalinya ke tanah air, dia menjadi perwira bahkan komandan di berbagai kapal TNI AL, serta menjabat Kadis Pemetaan pada 1979.

  • Mengulang Sejarah Mobil Murah

    PADA 19 September 2013, beberapa produsen mobil meluncurkan mobil murah dan ramah lingkungan. Kebijakan pemerintah memfasilitasi lahirnya mobil murah menuai polemik. Salah satunya, mobil murah hanya akan memperparah kemacetan. Kebijakan mobil murah dan ramah lingkungan, dengan pemberian keringanan pajak, diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 33/M-IND/PER/7/2013. Kepada pers, Menteri Perindustrian Mohamad S. Hidayat mengatakan Permenperin dimaksudkan untuk mendorong dan mengembangkan kemandirian industri otomotif nasional, khususnya industri komponen kendaraan bermotor roda empat. Mesti ditunggu apakah kemandirian industri otomotif nasional akan terwujud? Kebijakan pemerintah ini seakan mengulang proyek mobil nasional berharga murah rezim Orde Baru, yang berlandaskan Instruksi Presiden Nomor 2 tahun 1996 tentang pembangunan industri mobil nasional. Pemerintah berdalih, mobil nasional akan menjadi embrio kemajuan dan kemandirian bangsa dalam industri otomotif.

  • Para Propagandis yang Nge-Troll Pasukan AS (Bagian I)

    DIIRINGI musik santai, seorang perwira Iran yang mirip juru bicara militer Iran Letkol Ebrahim Zolfaghari berseluncur dengan papan luncur sambil berswafoto lalu minum jus delima. Di belakanganya tampak truk-truk militer dengan kamuflase gurun meluncurkan misil-misil. Begitulah salah satu video tentang Iran yang viral belakangan. Banyak warganet mengira itu video sungguhan. Padahal, itu sekadar klip video 25 detik berbasis Artificial Intelligence (AI). Diunggah pertamakali di akun resmi X milik Kedutaan Besar Iran untuk Afrika Selatan, @IraninSA , pada 27 Maret 2026. “Unggahan seru hari ini: Minum jus buah delima agar Anda bisa menghantam Tel Aviv dengan lebih akurat,” demikian bunyi tulisan unggahan itu. Video dalam unggahan itu jelas bertujuan untuk ‘ nge-troll ’ (mengusik atau mengganggu secara usil sehingga menyebalkan) kepada Amerika Serikat (AS) dan Israel yang telah melanggar dengan menyerang kedaulatan Iran sejak 28 Februari 2026. Propaganda ala kekinian untuk “menampar” klaim Presiden AS Donald Trump yang pada 20 Maret 2026 sesumbar telah memenangkan perang atas Iran meski masih belum rampung. Sebagaimana lazimnya perang, seiring mesin-mesin perang saling melumpuhkan, mesin-mesin propaganda juga ikut “meramaikan”. Selain untuk mempengaruhi opini publik juga untuk ‘ nge-troll ’. Dalam sejarah, konflik-konflik yang melibatkan Paman Sam, propaganda itu disiarkan via siaran radio. Namun di era 6.0 sekarang, Iran sudah menggunakan media visual berbasis AI. Video di atas bukan satu-satunya propaganda Iran yang berbasis AI. Pada 31 Maret 2026 lalu, akun yang sama juga mengunggah video animasi AI berdurasi 3 menit 3 detik dengan takarir: Selamat datang di neraka yang dipersiapkan Iran untuk para penginvasi. Video epik itu menggambarkan para serdadu AS berwajah menyeramkan yang menduduki sebuah pulau di Iran atas perintah Presiden Donald Trump yang digambarkan memegang sebuah foto dirinya bersama tersangka pelaku predator seks anak di bawah umur, Jeffrey Epstein, dan seorang gadis cilik. Namun kemudian pasukan elite Iran secara heroik mengusir pasukan AS dari bumi Persia. Bukan itu saja, belakangan ramai pula video-video propaganda Iran untuk mencemooh Trump dan pemimpin zionis Benjamin Netanyahu. Mengutip NPR , 28 Maret 2026, kantor berita Iran Tasnim News Agency juga mengunggah sebuah video animasi versi Lego berbasis AI yang juga mengungkit-ungkit soal Berkas Epstein. Dalam video berdurasi tiga menit itu, tampak sebuah misil AS membunuh ratusan siswa sekolah Iran dan Iran pun membalas dengan serangan pesawat nirawak yang bikin panik Israel, AS, dan para sekutunya. Para elite Arab hingga global ikut panik karena Selat Hormuz ditutup dan kapal induk AS turut terbakar setelah dihantam pesawat-pesawat nirawak. Tak lagi menggunakan satu-dua wahana seperti zaman baheula , propaganda era modern sangat variatif lewat berbagai platform, termasuk video berbasis AI. Di masa lalu, para propagandis paling menggunakan siaran radio ataupun poster. Banyak siaran diisi suara-suara feminin sehingga mengusik hati dan pikiran para “G.I”, julukan serdadu AS di berbagai perang dari Perang Dunia II hingga Perang Vietnam (1955-1975). Seperti yang dilakukan Muriel Stuart Walker alias K’Tut Tantri, yang melancarkan propaganda berbahasa Inggris via Radio Pemberontakan Surabaya dalam Pertempuran Surabaya guna ditujukan kepada pasukan Sekutu. Banyak propagandis perempuan itu juga berusaha mengguncang batin tentara lawan. Maka ada yang sampai diidolakan dan dinanti para G.I. Berikut empat propagandis itu: Axis Sally Mildred Elizabeth Gillars (kiri) & Rita Luisa Zucca, dua propagandis yang bekerja untuk Jerman (Museum of Broadcast Communication/Wikipedia) Axis Sally adalah sebuah persona dari beberapa penyiar radio yang bekerja untuk Blok Poros (Jerman-Italia-Jepang) dalam Perang Dunia II. Dua nama yang paling tenar dijuluki “Axis Sally” adalah pembelot AS yang bekerja untuk Jerman, Mildred Gillars, dan gadis keturunan Italia kelahiran New York, Rita Zucca, yang bekerja untuk Italia. Mildred yang lahir di Portland, AS, pada 29 November 1900, pindah ke Dresden, Jerman, pada 1934 dengan tujuan melanjutkan studi musiknya. Namun ketika AS berperang melawan Jerman, Mildred menolak untuk pulang dan justru mulai bekerja jadi penyiar di radio milik pemerintah Jerman RRG pada 1940. Alasan pembelotannya ia kadung jatuh hati pada pria Jerman yang jadi tunangannya, Paul Karlson. Mildred mulai jadi propagandis setelah direkrut pria blasteran Amerika-Jerman, Max Otto Koischwitz, yang punya program “USA Zone” di RRG . Mulai 1942, Mildred diberikan acara siaran baru yang berbaupolitis dan antisemit, “ Home Sweet Home” . Oleh para G.I. yang mendengarkan siarannya di berbagai front, ia lalu dijuluki “Axis Sally” –berangkat dari nama seorang gadis yang lazimnya sangat catchy dan acap jadi nama gadis yang disukai di Eropa Barat. Setiap siaran Mildred diiringi lagu-lagu swing, seperti “ Lili Marlene ”, guna melenakan para serdadu di palagan. Selain menyasar orang-orang Yahudi, dalam banyak siarannya Mildred seringkali melancarkan retorika kebencian terhadap Presiden AS Franklin D. Roosevelt dan Perdana Menteri (PM) Inggris Winston Churchill. “Kekalahan bagi Jerman juga berarti kekalahan bagi Amerika. Aku katakan, terkutuklah Roosevelt dan Churchill, dan semua Yahudi mereka yang menciptakan perang ini,” kata Mildred dalam sebuah siarannya, dikutip Blain Taylor dalam artikel-kolomnya di Majalah Military Heritage edisi Mei 2016,” Mildred Gillars (a.k.a. ‘Axis Sally’) in WWII”. Mildred terkadang juga bikin kaget karena acap mengetahui posisi-posisi para tentara AS. Dalam siaran-siarannya, Mildred seringkali berupaya mengganggu psikis para G.I. dengan meracau bahwa para pacar dan istri mereka di AS selingkuh dan sebaliknya, mereka pulang untuk merebut lagi para pacar dan istri mereka. Namun, tidak hanya Mildred yang kondang dengan persona itu. Rita Zucca juga melakoninya di Roma mulai pertengahan 1943. Setelah pulang kampung pada 1938, gadis kelahiran New York tahun 1912 dari orangtua imigran Italia itu lalu didekati penyiar Jerman, Charles Goedel, yang mengajaknya bergabung ke program “Jerry’s Front Calling ” . Berbeda dari Mildred, Rita melakukannya via program radio khusus dari intelijen Jerman itu yang dijalankan di Kedutaan Jerman untuk Italia. “Suaranya dalam bahasa Inggris begitu familiar dan mendayu seperti halnya gadis Amerika kepada para serdadu di garis depan. Suara Rita Zucca di corong mikrofon dan mengatakan pada para GI: ‘Halo, kalian...apa kabar malam ini? Tentu malam yang payah... Axis Sally bicara pada kalian, kalian domba-domba bodoh yang kasihan, kalian menuju tempat pembantaian!’” ungkap Richard Lucas dalam Axis Sally: The American Voice of Nazi Germany. Pasca-perang, Rita ditangkap di Turin saat hendak melarikan diri pada 5 Juni 1945. Namun karena sudah tak lagi memiliki paspor AS, ia diserahkan ke pengadilan militer Italia dengan dakwaan kolaborator. Ia divonis 4,5 tahun meski kemudian pemerintah Italia yang baru memberinya amnesti pada 1946. Seumur hidup ia dilarang ke AS dan hidup di Italia sampai ajal menjemputnya tahun 1998. Sedangkan Mildred, ditangkap pada 15 Maret 1946. Dia diinterogasi secara ketat oleh Korps Kontra-Intelijen Sekutu. Karena masih punya paspor AS, ia diekstradisi pada 1948. Ia divonis penjara 10-30 tahun dan denda 10 ribu dolar AS. Meski begitu ia bebas bersyarat pada 1961 dan wafat karena kanker usus di usia 87 tahun pada 25 Juni 1988.

bottom of page