Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Tokoh Yosua dalam Alkitab
SELANGKAH elangkah lagi bangsa Israel memasuki tanah Kanaan. Mereka hanya tinggal menyeberangi Sungai Yordan. Namun, Musa sang pemimpin bangsa itu telah berada di pengujung hidupnya. Usianya menginjak 120 tahun. Musa lalu memanggil abdinya, Yosua, dan berkata kepadanya di depan seluruh orang Israel. “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya,” demikian tertulis dalam Alkitab pada Kitab Ulangan 31:7. Yosua bin Nun berasal dari Suku Efraim yang lahir di Mesir. Nama lahirnya ialah Hosea, tetapi Musa memanggilnya Yosua. Dalam bahasa Ibrani, Yehosyua berarti “Tuhanlah keselamatan.” Sementara dalam bahasa Arab, tokoh ini disebut dengan nama Yusya.
- Eleazar, Imam Besar Bangsa Israel
DARI kejauhan di Gunung Abarim, sebelah timur Sungai Yordan, Musa memandang tanah Kanaan. Dia tak sempat memasuki negeri itu. Atas petunjuk Allah, Musa menjelang kematiannya, memilih Yosua sebagai penggantinya. Di hadapan segenap bangsa Israel, Musa meletakkan tangannya ke atas Yosua. “Ia (Yosua) harus berdiri di depan imam Eleazar, supaya Eleazar menanyakan keputusan Urim bagi dia di hadapan Tuhan,” demikian Alkitab mencatatnya dalam Bilangan 27:21a. Urim adalah alat perlengkapan imam besar bangsa Israel kuno untuk mengetahui kehendak Allah. Dalam memimpin bangsa Israel, Yosua dibantu Eleazar yang berkedudukan sebagai imam besar. Sebagaimana Yosua menggantikan Musa, Eleazar juga menggantikan ayahnya, Harun. Nama Eleazar dalam bahasa Ibrani memiliki arti “Allah telah menolong”.
- Yesus Historis
LOUAY Fatoohi masih berusia delapan tahun ketika bermimpi berjumpa dengan Yesus, sosok yang dia dengar kisah dan ajaran-ajarannya di sekolah dasar Katolik. Dia melihat dirinya berjalan bergandengan dengannya di padang hijau nan indah. Yesus tampak seperti gambaran-gambaran tentang dirinya. Perjumpaan ini tanpa perbincangan, namun Fatoohi terbangun dengan perasaan puas. Fatoohi lahir dari keluarga Kristen Irak –ayah Katolik dan ibu Ortodoks– yang tak begitu religius. Fatoohi mendapat pengaruh kuat ajaran Kristen di sekolah. Namun, ketertarikannya pada agama memudar ketika sekolah menengah, dan akhirnya memutuskan jadi ateis ketika masuk kuliah. Pertemanannya dengan seorang muslim liberallah yang mendorongnya masuk Islam. Dan keseriusannya mempelajari Al-Qur’an, seperti halnya penelaahannya atas Injil, mendorongnya menulis sebuah buku mengenai Yesus, yang diyakininya “benar-benar bisa memberi kontribusi baru bagi literatur yang sudah ada.”
- Menjejaki Peristiwa Kenaikan Yesus
SETELAH bangkit dari kematian, Yesus beberapa kali memperlihatkan diri kepada murid-muridnya. Bukan dalam wujud roh, Yesus hadir dalam rupa manusia. Tampak tangan dan kakinya yang bolong bekas tancapan paku saat penyaliban. Kepada Tomas, salah satu muridnya yang ragu, Yesus bahkan memperlihatkan bekas luka di perutnya akibat tikaman tombak tentara Romawi. Hingga tibalah di Bukit Zaitun, Yesus menuntun kesebelas muridnya untuk kali yang terakhir. “Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia terpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat sukacita,” demikian tercatat dalam Injil Lukas 24:50–52. Kenaikan Yesus terjadi pada hari ke-40 setelah kebangkitannya. Peristiwa ini diperkirakan berlangsung pada tahun 30 M. Dari empat penulis kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes), Lukas paling gamblang dalam mencatat peristiwa kenaikan Yesus ke surga. Selain kitab Lukas , Lukas juga mencatat peristiwa itu dalam kitab Kisah Para Rasul .
- Perjamuan Terakhir Yesus
PESTA olahraga Olimpiade 2024 di Paris menuai kontroversi sekaligus kecaman. Dalam upacara pembukaan, panitia menampilkan parodi menyerupai Perjamuan Terakhir Yesus Kristus yang dilakonkan oleh sekelompok transgender. Panitia berdalih bahwa parodinya memuat pesan keberagaman. Alih-alih pujian, pertunjukan itu dibanjiri kritik karena dianggap menghina bagi kalangan umat Kristen dan Katolik. Adegan Perjamuan Terakhir diadaptasi dari lukisan mural karya seniman Italia Leonardo da Vinci yang berjudul Il Cenacolo ( The Last Supper ) pada akhir abad ke-15. Lukisan ini menggambarkan kebersamaan Yesus dengan kedua belas muridnya dalam suatu acara perjamuan makan roti dan minum anggur, sehari sebelum penyaliban. Dalam lukisannya, da Vinci menempatkan Yesus di tengah-tengah para murid. Enam murid di sebelah kanan dari yang paling dekat dengan Yesus adalah: Yohanes, Simon Petrus, Yudas Iskariot, Andreas, Yakobus putra Alfeus, dan Bartolomeus. Enam murid lainnya di sebelah kiri Yesus berturut-turut: Tomas, Yakobus putra Zebedeus, Filipus, Matius si pemungut cukai, Tadeus, dan Simon orang Zelot.
- Pembunuhan yang Menggemparkan Hindia Belanda
KASUS pembunuhan menghebohkan masyarakat Hindia Belanda. Besarnya perhatian publikmembuat persidangan kasus tersebut ramai didatangi masyarakat. Pembunuhan yang terjadi pada 3 April 1904 di Bandung, Jawa Barat itu menimpa Tuan Darma, pengajar di Sekolah Pendidikan Guru Bumiputra (Kweekschool voor Inlandse Onderwijzers). Wartawan Rosihan Anwar menulis dalam Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia Jilid 1 bahwa kematian Tuan Darma berkaitan dengan Mien Knust, anak tirinya yang kemudian dinikahinya setelah istri pertamanya meninggal dunia. “Latar belakang pembunuhan itu rumit dan sensasional,” tulis Rosihan. Pasalnya, selain menikahi anak tirinya, kematian istrinya juga digunjingkan tidak wajar.
- Rachwono Mendukung RI
WAKTU ada pelatihan perwira di Sekolah Kadet Malang (SKM), pemuda bernama Rachwono bergabung ke dalamnya. Sebagaimana muda-mudi di berbagai daerah, pemuda asal Solo itu ingin ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan negerinya dengan apa yang dimiliki. “Di Kota Malang, semakin banyak saja bermunculan kelompok-kelompok pemuda pejuang. Para pemuda Indonesia sedang dilanda euforia kemerdekaan. Barisan pemuda rakyat terbentuk di mana-mana. Asalkan ada satu tokoh pemuda yang menggerakkannya, akan terbentuk kelompok perjuangan,” tulis Haril M. Andersen dalam Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI .
- 21 November 1925: Dirgahayu, Poncke!
HARI ini dalam sejarah, H.J.C. Princen berulang tahun. Dia lahir pada 21 November 1925 di Den Haag, Belanda. Jika dia masih ada di tengah kita, usia lelaki yang akrab dipanggil Poncke itu sudah mencapai angka 94. Namun nyatanya Poncke sudah pergi sejak 22 Februari 2002 dan sekarang jasadnya bersemayam di Taman Pemakaman Umum Pondok Kelapa, Jakarta Timur, tempat yang dia pilih sendiri untuk beristirahat panjang. Poncke sebenarnya sangat bisa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tahun 1949, Presiden Sukarno telah menganugerahinya Bintang Gerilya dan itu memberinya hak untuk dimakakamkan di tempat yang terhormat tersebut. Tapi sejak awal, Poncke telah menolaknya. “Papah pernah bilang ingin dimakamkan sebagai orang biasa saja dan tidak di TMP Kalibata yang dia bilang banyak koruptornya,” ungkap Wilanda Princen suatu hari kepada saya.
- B.M. Diah Ditangkap Jepang Sebelum Pernikahan
HARI pernikahan B.M. Diah dan Herawati Latip tinggal menghitung hari. Rencananya mereka akan menikah pada 18 Agustus 1942. Tiga hari menjelang pernikahan, kesibukan terlihat di kediaman dr. Latip, ayah Herawati. Selain tengah mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk pesta kecil yang akan diselenggarakan, orang-orang di rumah itu juga gempar karena calon pengantin pria “hilang”. “Padahal segala persiapan sudah jauh. Baju pengantin sudah jadi. Tukang rias pengantin sudah siap. Makanan sudah dipesan,” cerita Herawati dalam B.M. Diah Wartawan Serba Bisa karya Toeti Kakiailatu. Kabar penangkapan B.M. Diah tak hanya mengejutkan Herawati, tetapi juga keluarganya. Sebab, rencana pernikahan yang telah disiapkan sejak jauh-jauh hari terancam batal karena wartawan Asia Raya itu dibawa Kempeitai (polisi rahasia Jepang) beberapa hari menjelang pernikahannya.
- Kisah Asmara Dua Perwarta
SEKEMBALINYA dari Amerika Serikat untuk belajar ilmu jurnalistik di Bernard College, Columbia University, Siti Latifah Herawati Latip langsung meniti karier sebagai wartawan. Ia bekerja sebagai stringer (perantara) untuk wartawan Filipina yang ingin melakukan liputan di Hindia Belanda. "Wartawan itu Carlos Romulo yang beberapa tahu kemudian menjabat Menteri Luar Negeri negaranya," katanya dalam autobiografinya Kembara Tiada Berakhir. Ketika masa pendudukan Jepang, Herawati bekerja sebagai penyiar yang membacakan surat dari para tahanan perang di Radio Hosokyoku. Ia menerima pekerjaan ini setelah dibujuk sahabat ayahnya, dr. Latip, yang bernama Bahrum Rangkuty. Meski awalnya sempat menolak, Herawati mau menerima pekerjaan ini lantaran ada sisi kemanusiaan di dalamnya. Ia mulai bekerja pada April 1942 dan di sinilah ia bertemu Burhanudin Mohamad (B.M.) Diah yang kelak jadi suaminya.
- Herawati Diah: Jurnalis Bisa Pengaruhi Pembaca
SEJAK kecil, Siti Latifah Herawati Latip yang kemudian dikenal sebagai Herawati Diah lebih banyak bermain di luar. Main boneka merupakan hal menjemukan buatnya. Ia lebih suka memanjat pohon dan membaca buku, khususnya tentang suku Indian Amerika. Rambutnya juga dipotong pendek sehingga ia sering dijuluki “boy”. Herawati lahir di Belitung, 3 April 1917. Di sanalah ia menghabiskan sebagian masa kecilnya. Ayahnya, dokter Latip, bekerja sebagai tenaga medis pada perusahaan Belanda Biliton Maatschappij. Dokter Latip merupakan Jawa totok yang lahir dan besar di daerah Kadilangu, Demak. Sementara ibunda Herawati, Alimah, merupakan perempuan keturunan Aceh yang besar di Indramayu. Dokter Latip berharap Herawati kelak menjadi dokter dan memberinya nasihat bahwa dokter adalah profesi yang menjunjung tinggi kemanusiaan. “Tetapi saya tidak tertarik. Ngeri melihat darah,” kata Herawati dalam autobiografinya, Kembara Tiada Berakhir.
- Herawati Diah Wartawati Brilian Penerus Jejak Sang Ibu
LANTARAN diminta pihak sekolahnya untuk mengenakan pita oranye sebagai perayaan hari ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina, bocah Siti Latifah Herawati meminta pada ibunya, Siti Alimah, untuk disiapkan pita oranye. Betapa terkejutnya Herawati karena sang ibu justru melarangnya. Bagi Herawati, Ratu Wilhelmina ialah ratunya juga. Namun tidak bagi Alimah. “Mengapa?” tanya Herawati kecil, bersedih. “Karena kamu bukan orang Belanda,” kata Alimah. Alimah tak menjelaskan kalau oranye adalah warna Kerajaan Belanda. Alimah memang perempuan teguh pendirian, yang mendorong Herawati untuk terus belajar dan mengadopsi gaya hidup Barat. Hidup dalam tekanan kolonialisme membuatnya ingin melihat anak-anak dapat maju supaya sejajar dengan penjajah.






















