- 19 Sep 2023
- 4 menit membaca
Diperbarui: 4 Apr
LOUAY Fatoohi masih berusia delapan tahun ketika bermimpi berjumpa dengan Yesus, sosok yang dia dengar kisah dan ajaran-ajarannya di sekolah dasar Katolik. Dia melihat dirinya berjalan bergandengan dengannya di padang hijau nan indah. Yesus tampak seperti gambaran-gambaran tentang dirinya. Perjumpaan ini tanpa perbincangan, namun Fatoohi terbangun dengan perasaan puas.
Fatoohi lahir dari keluarga Kristen Irak –ayah Katolik dan ibu Ortodoks– yang tak begitu religius. Fatoohi mendapat pengaruh kuat ajaran Kristen di sekolah. Namun, ketertarikannya pada agama memudar ketika sekolah menengah, dan akhirnya memutuskan jadi ateis ketika masuk kuliah. Pertemanannya dengan seorang muslim liberallah yang mendorongnya masuk Islam. Dan keseriusannya mempelajari Al-Qur’an, seperti halnya penelaahannya atas Injil, mendorongnya menulis sebuah buku mengenai Yesus, yang diyakininya “benar-benar bisa memberi kontribusi baru bagi literatur yang sudah ada.”
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















