Hasil pencarian
9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Detik-detik Terakhir Sukarno
Sepi, sunyi, dan terasing. Perasaan itulah yang dialami Sukarno, presiden pertama Republik Indonesia menjelang akhir hayatnya. Prahara politik menjatuhkannya dari gelanggang kekuasaan. Setelah dilengserkan, Bung Karno memasuki masa karantina politik alias jadi tahanan rumah. Pada Mei 1967, pihak berwenang memutuskan bahwa Sukarno tidak lagi diperkenankan menetap di Jakarta. Sukarno hanya diizinkan tinggal di salah satu paviliun Istana Bogor. Namun, semuanya tidak lagi sama. Anak-anak Sukarno mengenang periode ini sebagai masa kepahitan dalam keluarga mereka. “Bapak sangat kesepian. Padahal Bapak seorang pribadi yang suka keramaian, suka dikelilingi kawan dan sahabat untuk berbicara tentang banyak hal. Pengasingan atas diri Bapak merupakan beban mental dalam dirinya,” tutur Rachmawati Sukarnaputri, putri ketiga Sukarno dalam Bapakku Ibuku: Dua Manusia yang Kucinta dan Kukagumi . Sakit Luar Dalam Beberapa bulan tinggal di paviliun, Sukarno menerima surat yang menyatakan haknya untuk tinggal di lingkungan istana kepresidenan dicabut. Setelah terusir dengan cara demikian, Sukarno pindah ke rumah peristirahatan “Hing Puri Bima Sakti” di Batutulis, Bogor. Suhu kota Bogor yang dingin rupanya turut mempengaruhi kesehatan Sukarno. Penyakit rematik, selain penyakit lain yang diidap Sukarno kerap kali kambuh. Anak-anak Sukarno minta izin kepada pemerintah agar ayah mereka boleh tinggal lagi di Jakarta. Permintaan itu dikabulkan langsung oleh Presiden Soeharto. Sejak 1969, Bung Karno pindah dari Bogor ke Wisma Yaso, Jakarta Selatan. Wisma Yaso adalah rumah kediaman Sukarno dengan istrinya yang lain, Ratna Sari Dewi. Kendati demikian, tempat itu tidak lagi menjadi tempat yang hangat bagi Sukarno. Dewi –atas perintah Sukarno– telah angkat kaki dari sana dan menetap di Prancis. Kesunyian lagi-lagi mewarnai hari-hari Sukarno di Wisma Yaso. Menurut Peter Kasenda dalam Hari-hari Terakhir Sukarno, hidup Sukarno di Wisma Yaso ternyata sebuah siksaan bagi dirinya. Ketika tubuhnya yang semakin renta digerogoti oleh berbagai macam penyakit, Sukarno makin tertekan dengan kehadiran tentara yang datang menginterogasi. Pemeriksaan dari Kopkamtib itu mencoba mengorek keterangan untuk mengetahui sejauh mana keterlibatan Sukarno dalam Gerakan 30 September 1965. Ada upaya untuk menyeret Sukarno ke pengadilan. Selain itu, waktu untuk mengunjungi Sukarno di Wisma Yaso dibatasi. Jam bertamu ditetapkan pukul 10.00—13.00. Sukarno mengisi waktunya dengan membaca atau kadang-kadang menonton film. Kalau kondisinya tidak terlalu lemah, Sukarno suka mengajak siapa saja untuk menemaninya bermain kartu remi. Taruhannya batang-batang korek api. Hiburan yang cukup mengasyikan bagi Sukarno yang dirundung sepi tidak terperi. Namun, main remi tidak banyak membantu pemulihan kesehatan fisik Sukarno. Begitu pula kondisi mentalnya. Suasana menjelang pemberangkatan jenazah Bung Karno ke Blitar, Jawa Timur. (Repro Bapakku Ibuku: Dua Manusia yang Kucinta dan Kagumi karya Rachmawati Sukarnoputri). Sekalipun di Wisma Yaso ada tim dokter yang merawatnya, kekalutan yang dialami Sukarno tidak dapat terobati. Ada kalanya raut muka Sukarno kelihatan sedih sebagaimana pernah disaksikan oleh dr. Mahar Mardjono, ketua tim dokter yang merawat Sukarno. Seperti dikisahkan dalam biografi Mahar: Pejuang, Pendidik, dan Pendidik Pejuang , Bung Karno kadang-kadang mengeluh, “Apa salah saya, kok saya diperlakukan begini?”. Dokter Mahar dan para dokter lainnya hanya dapat mendengarkan keluhan Sukarno semacam itu. Dokter Mahar termasuk yang paling sering diminta datang pada malam hari untuk memeriksa Sukarno. Pernah pula Mahar harus membesuk ke Wisma Yaso menjelang pukul 12 malam karena Sukarno mengeluhkan nyeri kepala. Sukarno ternyata stres berat lantaran keinginannya sekedar jalan-jalan keliling kota diacuhkan. Sukarno menangis tersedu-sedu di pundak sang dokter. Tahun 1970, kesehatan Sukarno kian merosot. Menurut Mahar, Bung Karno menderita penyakit batu ginjal, gangguan peredaran darah otak, gangguan peredaran darah pada jantung, dan tekanan darah tinggi. Pada 16 Juni, Sukarno mengalami kritis dan dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Hari demi hari kesadarannya berangsur-angsur menurun. Setelah bergumul dengan penyakit, Bapak Proklamator itu akhirnya menyelesaikan perjuangannya untuk selamanya. Pada 21 Juni, pukul 07.00 pagi, Bung Karno dinyatakan meninggal dunia. Dimana Rekamannya? Beberapa cerita kecil tersisip dalam peristiwa seputar wafatnya Bung Karno. Berita Kompas 22 Juni yang dikutip penulis biografi terkemuka Nurinwa Ki S. Hendrowinoto dalam Pieta: Senandung Indonesia Raya menguak kisah mengenai proses pemandian jenazah Bung Karno. Dalam artikel bertajuk “Saat2 Sebelum Djenasah Diberangkatkan” itu, diwartakan upacara pemandian jenazah dimulai oleh keluarga Bung Karno. Menariknya, Ibu Tien Soeharto mendapat kesempatan sebagai orang pertama yang membasuh kaki Bung Karno dengan kapas yang diberi air. Setelah dimandikan sesuai ajaran Islam, Buya Hamka menjadi imam shalat jenazah Sukarno. Hamka adalah kawan lama Sukarno semasa pengasingan di Bengkulu. Perbedaan haluan politik menyebabkan keduanya berseteru pada awal 1960-an. Hamka bahkan sempat dipenjara dan karya-karyanya dilarang beredar ketika Sukarno berkuasa. Tapi, begitulah wasiat Bung Karno sebelum wafat yang kemudian digenapi secara tulus oleh Hamka. Buya Hamka sedang menyolatkan jenazah Bung Karno. (IPPHOS). Sebagaimana dicatat oleh James R. Rush dalam Adicerita Hamka, sewaktu menyalatkan jenazah Sukarno, Hamka berujar, “Dengan ikhlas saya berkata di dekat peti matinya, ‘aku maafkan engkau, saudaraku’”. Sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, Sukarno, kata Hamka adalah orang besar yang membangun nasionalisme bangsa Indonesia. Selain itu, pada hari Sukarno wafat, menurut Guruh Sukarnaputra – putra bungsu Bung Karno–, terdapat tim Angkatan Darat yang merekamnya. Namun, hingga kini rekaman itu tidak kunjung ditemukan atau diserahkan. Padahal, rekaman itu sangat penting dalam mendokumentasikan suasana akhir hayat Bung Karno. “Keberadaan arsip rekaman tersebut pasti ada dan tersimpan sampai sekarang oleh mereka (Angkatan Darat),” kata Guruh .
- Aneka Kuliner Favorit Diktator Korea Utara
ADA yang berbeda dari penampakan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, saat memimpin rapat Partai Buruh di Pyongyang, 15 Juni 2021 lalu. Setelah lama tak muncul di muka publik, diktator berusia 37 tahun itu tampil dengan tubuh dan pipinya tak segembul satu atau dua tahun silam. Sejumlah pengamat politik dunia pun mengumbar spekulasi mengomentarinya. Ada yang mengatakan Kim Jong-un ingin bertenggang rasa terhadap rakyatnya yang sedang mengalami krisis pangan. Pendapat lain mengatakan, penampilan Jong-un disebabkan diet untuk tujuan kesehatan. Seperti ayahnya, Kim Jong-il, dan kakeknya, Kim Il-sung, Jong-un punya masalah obesitas karena selera makannya besar hingga memicu penyakit jantung sebagaimana dialami ayah dan kakeknya. Isu penyakit jantung yang dialaminya sudah merebak sejak tahun lalu ketika Jong-un tak hadir dalam milad kakeknya. Hong Min, analis senior Korea Institute for National Unification, meyakini bahwa setahun terakhir ini Jong-un menjalani diet ketat agar menghindari potensi serangan jantung akibat obesitas dan tak menampakkan gejala sakit di hadapan publik. “Jika dia masih mengalami masalah kesehatan, dia belum akan muncul ke muka publik untuk menggelar rapat paripurna Komite Pusat Partai Buruh yang jadi konferensi politik besar pekan ini,” ujar Hong, disitat National Public Radio , 16 Juni 2021 Kim Jong-un tampak lebih kurus saat memimpin rapat paripurna Komite Pusat Partai Buruh (KCNA) Namun dengan ketertutupan Korea Utara, keterangan tentang diet makanan apa saja yang dilakoni Jong-un masih minim. Diketahui, bobot Jong-un bisa turun antara 20-25 kilogram dari bobot sebelumnya yang mencapai 140 kilogram. Jong-un kemungkinan besar mesti merelakan menu-menu berlemak dan berkolesterol tinggi favoritnya di samping aneka minuman beralkohol untuk diganti dengan kuliner-kuliner sehat. Salah satu kudapan favoritnya adalah keju emmental atau keju Swiss. Bentuk berlubangnya yang ikonik, aroma harumnya dan rasanya yang ringan begitu menarik perhatian Kim Jong-un semasa bersekolah di Liebefeld-Steinhölzli Schule di Köniz, Swiss (1998-2000). Maka ketika sudah rampung sekolah di Swiss, Jong-un mengimpor banyak keju Swiss untuk demi memuaskan hasratnya pada keju berkualitas tinggi itu. Sebagaimana produk keju lain, keju Swiss merupakan makanan bernutrisi tinggi dengan kandungan kalsium, protein, fosfor, zat besi, potassium, riboflavin, thiamin, dan vitamin A serta Vitamin B12 yang baik untuk tubuh. Namun jika dikonsumsi berlebih, akan menimbulkan dampak negatif. Selain bisa menyebabkan sakit kepala, keju Swiss bisa menimbulkan masalah pencernaan, diabetes, hingga asam urat. Efeknya begitu nyata pada Jong-un saat menghilang selama enam minggu pada 2014. “Ketika Kim Jong-un menghilang dari publik selama enam pekan pada 2014 dan kemudian muncul lagi dengan tongkat berjalan, disebutkan itu disebabkan kegemarannya akan keju emmental, warisan yang dibawa dari masa-masa (sekolah) di Swiss. Engkelnya terlihat seperti mengalami asam urat,” tulis Anna Fifield dalam The Great Successor: The Divinely Perfect Destiny of Brilliant Comrade Kim Jong Un. Keju emmental atau keju Swiss (kiri) & steak Kobe kegemaran Jong-un ( cheesesfromswitzerland.com/japan-experience.com ) Kuliner favorit lain Jong-un, menurut mantan chef pribadi Kim Jong-il (1988-2001) dengan nama samaran Kenji Fujimoto, adalah aneka steak, utamanya steak Kobe. Lainnya adalah sushi dan sup sirip hiu sebagaimana juga kegemaran ayahnya. “Dulu saya membuat sushi untuk sang jenderal (Jong-il) setidaknya seminggu sekali dan Jong-un selalu ikut saat makan malam dengan sushi. Jadi saya bisa bilang Jong-un menyukai sushi,” kata Fujimoto kepada Daily Mail , 5 Juni 2015. Sementara, untuk makanan yang dikonsumsi demi pencitraan dalam perhelatan-perlehatan internasional biasanya lebih “gila” lagi. Saat gala dinner bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2019, misalnya, Jong-un membawa tim koki sendiri untuk menyajikan spring roll ala Hanoi, ikan kod panggang Cha Ca, steak sirloin dan wagyu, kaviar, hingga foie gras atau hati bebek ala Prancis. Untuk pendamping makanan, Jong-un dikenal menyukai banyak minuman beralkohol. Selain vodka Rusia, ia gemar sampanye Cristal, cognac Hennessy, hingga anggur Bordeaux. Di kala santai, Jong-un paling hobi menyeruput kopi Brasil yang ia impor sendiri sejak 2016. Jamuan makan antara Kim Jong-un dan Presiden Donald John Trump pada 2019 ( kr.usembassy.gov ) Kuliner Kim Jong-il Kegemaran akan kuliner mewah Kim Jong-un diturunkan dari selera ayahnya, Kim Jong-il, yang berkuasa dari 1994 hingga 2011. Kim Jong-il bahkan punya hobi kuliner lebih beragam ketimbang putranya. Selain penikmat aneka minuman beralkohol, sushi, dan sup sirip hiu, Kim Jong-il terobsesi mencicipi banyak kuliner dunia. Kim Jong-il acap memerintahkan Fujimoto berbelanja makanan atau bahan bakunya dari banyak negara. Di antaranya buah anggur dan melon dari China; durian, pepaya, dan mangga dari Thailand dan Malaysia; bir dari Cekoslovakia, daging babi dari Denmark, kaviar dari Iran dan Uzbekistan, serta aneka makanan laut dari Jepang. “Pernah suatu hari saat bersantap, Kim Jong-il tiba-tiba mengatakan: ‘Fujimoto, saya dengar di Jepang ada kue beras isi yomogi (daun baru Cina). Saya ingin kamu pergi dan membelinya besok!’ Ketika saya pulang dan terlebih dulu diperiksa staf inspeksi makanan, ia tertawa puas: ‘Kue beras Jepang memang sangat lezat. Kenapa para koki kita tidak bisa membuatnya seenak ini? Aroma daun baru Cinanya sangat menyenangkan’,” kenang Fujimoto di salah satu memoarnya, Kim’s Chef. Kim Jong-il pecinta sushi khas Jepang ( kremlin.ru/japan-experience.com ) Untuk makanan tradisional Korea, Kim Jong-il diketahui gemar mengonsumsi Bosintang atau sup daging anjing. Pada 1985, nama hidangan itu sempat dialihbahasakan di Korea Utara menjadi Dangogi-jang . Santapan itu wajib ada di setiap perayaan besar karena, sebagaimana mitos dalam kultur Korea, mengonsumsi Dangogi-jang bisa meningkatkan kejantanan pria dan melestarikan kesejahteraan secara ekonomi. Sup daging anjing atau sup sirip hiu yang digemarinya tentu takkan lengkap jika tak disantap dengan nasi putih. Menurut Fujimoto, Kim Jong-il menuntut “kesempurnaan” nasi yang akan dikonsumsinya. “Terkait nasi, sebelum berasnya dimasak, pelayan dan staf dapur wajib menginspeksi berasnya butir per butir sesuai standar kesempurnaan berat dan ukuran per butirnya. Jika ada butiran beras yang tak sesuai, harus disingkirkan. Hanya butiran beras yang sempurna yang boleh disajikan dalam bentuk nasi,” imbuhnya. Selera makannya yang berlebih akhirnya berdampak buruk pada kesehatan Kim Jong-il. Ia pun terkena diabetes dan hipertensi. Akibatnya, ia terserang stroke pada 2008 dan meninggal pada 17 Desember 2011 karena serangan jantung. Selera Kim Il-sung Berbeda dari putra dan cucunya, pendiri Korea Utara yang berkuasa dari 1948-1994 ini lebih menggemari kuliner tradisional Korea. Persentuhannya dengan kuliner Eropa baru terjadi di masa akhir hayatnya, saat Korea Utara sudah mulai mapan. Di masa Perang Korea (1950-1953) dan di masa pembangunan setelahnya, Kim Il-sung diketahui punya selera makanan tak jauh beda dari rakyatnya. Ia gemar mengonsumsi Dangogi-jang atau sup daging anjing. “Orang Korea Utara, seperti tetangga mereka di barat (China), punya kegemaran akan daging anjing. Saat Korea Utara mengalami krisis pangan pada 1980-an, Kim Il-sung sang diktator menyerukan nilai gizi daging anjing. Makanan favorit di negeri itu di masa sang diktator adalah dangogi-jang atau sup daging anjing; lainnya adalah beragam olahan usus anjing,” ungkap Don Voorhees dalam Disgusting Things: A Miscellany . Dangogi-jang atau sup daging anjing ( worldfood.guide ) Selain itu, Kim Il-sung menyenangi beragam olahan daging ayam atau campuran daging anjing dan ayam. Kurangnya konsumsi makanan berserat membuatnya mengalami obesitas. Tingginya kolesterol Kim Il-sung turut jadi faktor yang memicu serangan jantung sebagai penyebab kematiannya pada 8 Juli 1994. “Kim (Il-sung) memilih aneka daging ketimbang ikan atau sayuran yang ia makan sesekali. Makanan dasar untuk menemani aneka daging itu biasanya nasi campur jawawut India. Daging anjing yang diisi campuran daging ayam adalah makanan favoritnya, di mana ia menuntut untuk selalu dihidangkan setiap sarapan dan makan malam. Itu yang membuatnya obesitas,” tulis The Sun , 30 Januari 2017 mengutip salah satu laporan CIA tahun 1951 yang diungkap ke publik pada 2017. Kim Il-sung, lanjut laporan itu, juga gemar terjun langsung ke dapur. Itu dilakukannya untuk mendiskusikan menu dengan para kokinya atau memasak sendiri yang sudah jadi hobinya sejak muda. Karena itulah ia memperhatikan dengan cermat kala staf dapurnya menyiapkan jamuan makan siang untuk mantan Presiden Amerika Jimmy Carter yang dihelat di atas sebuah kapal pesiar pada medio 1994. Kim Il-sung (kanan) saat menjamu mantan Presiden Amerika, James Earl 'Jimmy' Carter Jr. pada 1994 (KCNA) Mengutip Anecdotes of Kim Il Sung’s Life: Part 2 yang dirilis Dinas Penerangan Korea Utara pada 2013, ia sampai memastikan staf dapurnya tak sekalipun menggunakan bahan baku kacang untuk setiap hidangan makan siangnya. “Saat jam makan siang ia memandu tamu Amerikanya ke meja dan mempersilakan mengambil makanannya. Dia juga mengatakan bahwa makanannya sudah disiapkan tanpa kandungan kacang karena ia tahu tamunya alergi pada kacang-kacangan. Carter bertanya bagaimana ia tahu kebiasaan makannya? Kim Il Sung menjawabnya sambil tertawa bahwa tidak ada di dunia ini yang tidak ia ketahui. Tamunya ikut tertawa pada lelucon itu,” tulis buku tersebut.
- Darah Tertumpah di Kalabakan
Malam baru saja menghabiskan seperempat waktunya. Kota Kalabakan ada dalam kegelapan, ketika beberapa bayangan melintas di sebuah bukit dalam gerakan sigap dan cepat. Sementara itu, Mohamed Salleh tengah dalam perjalanan menuju sebuah bukit lainnya. Anggota Sabah Rangers (bagian dari Royal Malaysian Rangers) itu nyaris saja berhadapan dengan kelompok bersenjata itu jika tidak cepat menghindar ke semak belukar. Sekira limat menit kemudian, terdengar suara ledakan dasyat dari arah bukit yang ditempati kawan-kawannya. Berbarengan dengan situasi tersebut, terdengar langkah para penyerbu menuju dirinya. Salleh cepat menghindar. Dia membeku di balik semak belukar sambil tetap siap menarik picu senjata. Jantungnya berdegup kencang. “Kalau saja mereka melihat saya, mau tidak mau saya harus terlibat pertempuran dengan mereka. Untunglah mereka tidak melihat saya dan cepat pergi,” ungkap Salleh alias Mat Congo dalam bukunya Peristiwa Berdarah Kalabakan 29 Desember 1963. Menurut buku Korps Komando AL: Dari Tahun ke Tahun yang ditulis oleh Bagian Sejarah KKO AL, penyebuan ke Kalabakan dilakukan oleh Peleton X Batalyon I Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL) pimpinan Sersan Rebani. Rupanya sejak 16 Desember, mereka sudah melakukan pengintaian dan menemukan kenyatan bahwa Pos Sabah Rangers merupakan pangkalan yang kuat dan dilengkapi oleh sebuah helikopter. Rebani memutuskan untuk menyerang Kalabakan pada malam hari jam 21.00 (versi militer Indonesia itu dilakukan pada 30 Desember 1963). Guna lebih rinci lagi mempelajari pertahanan musuh, diperlukan waktu dua hari untuk mengokohkan posisi dengan cara bersembunyi di hutan yang berdekatan dengan pos militer tersebut. “Pasukan lantas dibagi menjadi dua yang secara bersamaan melakukan gerakan mendekati sasaran dari masing-masing arah yang berlainan,” ungkap buku tersebut. Para anggota Sabah Rangers yang berada di pos sama sekali tidak menyangka akan terjadi penyerbuan. Bisa jadi mereka berpikir tidak mungkin pasukan Indonesia masuk sampai ke Kalabakan yang terletak jauh di pelosok Sabah. Ketika tembakan pertama diarahkan kelompok pertama dari Peleton X ke atas bukit, para prajurit Sabah Rangers membalasnya dengan gencar. Dalam situasi baku tembak yang seru, diam-diam kelompok dua Peleton X merayap ke atas bukit dan langsung menghujani pos dengan lemparan granat serta peluru hingga menimbulkan pertumpahan darah. “Pasukan ini bahkan sempat naik ke rumah yang dijadikan posko lawan dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri hasil serangan yang menewaskan delapan personel musuh termasuk komandan kompinya yang berpangkat mayor,” tulis Supoduto Citrawijaya dalam Kompi X di Rimba Siglayan: Konfrontasi dengan Malaysia. Soal korban tewas itu diakui secara jujur oleh pihak Malaysia. Dalam monumen peringatan pertempuran di Kalabakan termaktub delapan nama itu, termasuk sang komandan kompi yang bernama Mayor Zainol Abidin Yaakob. Selain korban tewas, 38 prajurit Sabah Rangers mengalami luka-luka dalam penyerbuan tersebut. Mereka pun harus kehilangan satu pucuk bren BAG standar NATO, tujuh pucuk senapan otomatis ringan (SOR) FN, sepuluh pucuk sten-gun dan satu pucuk pistol. Namun soal kehilangan senjata itu ditampik oleh pihak Malaysia. “Penyerang sendiri kehilangan seorang anggotanya yakni Prako Gabriel yang gugur dalam serangan tersebut,” ungkap Citrawijaya yang juga eks anggota KKO AL dan pernah bertempur di palagan Kalimantan semasa Operasi Dwikora. Begitu mengetahui Posko Sabah Rangers di Kalabakan hancur lebur, pihak militer Inggris kemudian mengirimkan pasukan pemburu untuk mengejar para penyerang. “(Usai penyerbuan itu) para sukarelawan Indonesia mundur namun terus diburu oleh pasukan dari unit Gurkha, tentara Australia dan tentara Malaysia lainnya hingga hanya menyisakan 12 orang yang berhasil melarikan diri,” ungkap Salleh kepada Durie Rainer Fong dari freemalaysiatoday.com . Kendati mengakui bahwa sejumlah prajuritnya tidak pernah kembali setelah penyerangan itu, pihak militer Indonesia tidak pernah mengakui mereka tewas karena ditembak oleh pasukan pemburu Malaysia, Inggris dan Australia. “Ada beberapa yang berhasil kembali ke pangkalan dengan selamat sedang yang lain meninggal karena kelaparan, beberapa lagi ada kemungkinan masih tinggal di daerah lawan,” ungkap buku resmi terbitan KKO AL tersebut. Sersan Rebani sendiri secara resmi diakui telah tewas karena kekurangan makanan dan terjebak dalam keganasan medan Kalimantan yang begitu berat. Atas jasa dan keberaniannya yang luar biasa, dia lantas dinaikan pangkatnya secara anumerta menjadi sersan mayor sekaligus diganjar Bintang Sakti oleh pemerintah Republik Indonesia.
- Lima Pesepakbola Tersubur di Pentas Internasional
REKOR demi rekor terus mengikuti karier emas megabintang Portugal, Cristiano Ronaldo. Sumbangan dwigolnya dalam kemenangan 3-0 Portugal atas Hungaria di laga pembuka Euro 2020 Grup F, Selasa (15/6/2021), mengantarkannya sebagai pendulang gol tersubur di putaran final Piala Eropa. Dengan 11 gol yang dicetaknya, Ronaldo melewati rekor sebelumnya yang dipegang Michel Platini (9 gol). Sebelumnya, Ronaldo juga memecahkan rekor pemain dengan catatan keikutsertaan di turnamen Piala Eropa paling banyak. Sejak membela timnas senior Portugal pada 2003 hingga kini, Ronaldo sudah lima kali tampil di Piala Eropa: 2004, 2008, 2012, 2016, dan 2020. Seumpama Ronaldo kembali mampu mengantarkan “ Seleção das Quinas ” (julukan Timnas Portugal) sampai ke final dan mencetak gol, ia bisa memecahkan rekor sebagai pemain tertua yang menorehkan gol di partai final. Ronaldo akan berusia 36 tahun 156 hari bila mencapai final 11 Juli 2021 nanti. Selama ini rekor pemain di atas usia 30 yang mencetak gol di final hanya dipegang Bernd Hölzenbein (30 tahun, 103 hari) dengan golnya di final Euro 1974 antara Jerman Barat vs Cekoslovakia. CR7 tinggal mengejar tiga gol lagi untuk menyamai perolehan gol Ali Daei sebagai pemain tersubur di pentas internasional (Twitter @EURO2020) Ronaldo sedikit lagi juga bakal menyalip rekor bintang legendaris Iran, Ali Daei, sebagai pencetak gol terbanyak di pentas resmi internasional. Ronaldo kini masih di posisi kedua dengan 106 gol atau empat gol di bawah rekor Daei (109). Berikut empat pemain tersubur dalam pentas sepakbola internasional selain Ronaldo. Siapa saja mereka? Ali Daei (109 Gol) Ali Daei bomber Timnas Iran periode 1993-2006 ( the-afc.com ) Nama Ali Daei masih bertahan sebagai pengoleksi gol terbanyak di pentas internasional dengan 109 gol dari 149 penampilan untuk Timnas Iran sepanjang 1993-2006. AFC (Konfederasi Sepakbola Asia) mencantumkannya di antara nama-nama pesepakbola Asia pertama yang masuk jajaran Asian Football Hall of Fame pada 2014. Pemain legendaris Team Melli (julukan Timnas Iran) itu mulai bersinar di klub Bank Tejarat FC pada 1990 dan Persepolis FC pada 1994. Pada 1993, pemain kelahiran Ardabil, 21 Maret 1969 ini mulai dipanggil ke timnas. Lima tahun kemudian, Daei tercatat jadi pemain Asia pertama yang tampil di Liga Champions bersama Bayern Munich. Di timnas, striker berpostur tinggi 192 cm ini mendulang gol perdananya ke gawang Taiwan dalam Kualifikasi Piala Dunia 1994 Zona AFC, 25 Juni 1993. Sedangkan gol terakhirnya di timnas dicetak Daei ke gawang Kosta Rika dalam laga persahabatan pada 1 Maret 2006. Daei berjasa mengantarkan Iran meraih medali emas Asian Games 1998 dan 2002. Mokhtar Dahari (89 Gol) Dato' Mohd. Mokhtar Dahari (Repro: Mokhtar Dahari: Legenda Bola Sepak Malaysia ) Indonesia boleh bangga jadi “Macan Asia” di era 1950-an sampai 1970-an. Namun negeri jiran Malaysia hampir selalu melahirkan pemain-pemain yang diakui dunia. Setelah Dollah Don di era 1950-an, yang pernah disanjung Presiden RI Sukarno, pada 1970-an “Harimau Malaya” melahirkan “Supermokh” Mokhtar Dahari yang diakui FIFA sebagai pencetak gol tersubur ketiga di pentas internasional. Pemain kelahiran Setapak, Kuala Lumpur pada 13 November 1953 ini mulai mengenakan seragam Timnas Malaysia pada 1972 bersamaan dengan karier seniornya di klub Selangor FC pada usia 19 tahun. Selama di timnas (1972-1985), ia mencetak 89 gol dari 142 caps. Gol perdananya dicetak ke gawang Sri Lanka dalam laga yang dimenangi Malaysia 3-0 di penyisihan Grup A Turnamen HUT Jakarta, 5 Juni 1972. Kebintangan “Supermokh” pun mulai menuai sanjungan. Ia turut berjasa dalam raihan dua medali emas cabang sepakbola di SEA Games 1977 dan 1979. “Saya masih ingat pengalaman kali pertama dipanggil bermain untuk Malaysia di Kejohanan Piala Jakarta 1972. Disebabkan teruja, saya tidak boleh lelapkan mata pada malam yang esoknya saya perlu melapor diri untuk latihan. Saya berimaginasi membayangkan diri saya menyarung jersi Malaysia dan turun bermain menggalas tanggung jawab negara. Harapan dan angan saya ketika itu ialah moga-moga suatu hari nanti, saya muncul sebagai wira negara,” kenang Mokhtar sebagaimana diberitakan New Strait Times edisi 8 Oktober 1985. Ferenc Puskás (84 Gol) Ferenc Puskás (kiri) di final Piala Dunia 1954 ( fifa.com ) Andaikata negerinya tak direcoki konflik di masa revolusi, megabintang Hungaria era 1950-an dan Real Madrid (1960-an) kelahiran Budapest, 1 April 1927 ini sangat mungkin bisa mengukir prestasi lebih tinggi dari posisi keempat status pencetak gol terbanyak di pentas internasional. Namun, sejarah tak mengenal “andaikata” atau “umpama”. Semasa memperkuat tim emas “ Magyars” (julukan Timnas Hungaria) dalam kurun 1945-1956, Puskás mendulang 84 gol dari 85 caps. Kala Revolusi Hungaria bergejolak pada 1956, Puskás bersama tim Budapest Honvéd sedang bertandang ke Spanyol untuk main di European Cup (kini Liga Champions) melawan Athletic Bilbao. Tim pun memutuskan menunda pulang dan menjalani tur dunia ke Spanyol, Portugal, Italia, dan Brasil tanpa persetujuan federasi sepakbola Hungaria maupun FIFA. Selepas tur dunia itu, banyak pemain Honvéd seperti Sándor Kocsis dan Puskás enggan pulang dan memilih cari klub baru di luar Hungaria. “Setelah itu Puskás memutuskan untuk membelot. Dengan menyesal FIFA memberinya sanksi larangan setahun bermain walau kemudian ia direkrut Real Madrid setelah sanksi itu berakhir,” ungkap Richard Witzig dalam The Global Art of Soccer . Selain melanjutkan kariernya bersama Real Madrid, Puskás juga berganti “kesetiaan” dengan membela Timnas Spanyol dalam empat kali penampilan selama setahun (1961-1962). Tiga dari empat penampilannya terjadi di Piala Dunia 1962 walau gagal sekalipun menambah catatan gol internasionalnya. Godfrey Chitalu (79 Gol) Godfrey Chitalu membela Timnas Zambia periode 1968-1980 (Repro: Godfrey 'Ucar' Chitalu ) Bomber asal Zambia ini memang tak sementereng Pelé apalagi Diego Maradona. Tapi jika urusan bikin gol, pemain kelahiran Luansyha, 22 Oktober 1947 ini boleh diadu. Maka sewaktu LionelMessi mengklaim diri sebagai pemain tersubur dalam setahun (di klub dan timnas) dengan 86 gol pada 2012, melewati rekor Gerd Müller (85 gol), FAZ (induk sepakbola Zambia) tak terima. Juru bicara FAZ Eric Mwanza mengatakan bahwa Chitalu punya catatan rekor gol yang melebihi Messi, yakni 107 gol dalam tahun 1972. Menurut Mwanza, 107 gol Chitalu itu ditorehkannya di liga domestik sekaligus kejuaraan antarklub Afrika bersama tim Kabwe Warriors, dan laga-laga tim nasional. “Kami punya catatannya di federasi tapi sayangnya tidak turut tercatat dalam sepakbola dunia. Bahkan saat mata dunia tertuju pada gol Messi memecahkan rekor Gerd Müller, debat dan diskusi terjadi di sini terkait mengapa gol-gol Godfrey tidak diakui,” kata Mwanza, dikutip Jerry Muchimba dalam biografi bertajuk Godfrey ‘Ucar’ Chitalu . Chitalu wafat pada 27 April 1993. Namanya diakui sebagai pesepakbola Zambia paling dihormati setelah pada 2006 CAF (Konfederasi Sepakbola Afrika) mencantumkan namanya di antara 200 pesepakbola terbaik “Benua Hitam” dalam 50 tahun terakhir. Di pentas internasional, Chitalu acap jadi predator bagi tim lawan sejak mengenakan seragam timnas dalam kurun 1968-1980. Selama membela “ Chipolopolo” atau “Peluru Tembaga” (julukan Timnas Zambia), Chitalu menorehkan 79 gol dalam 111 caps. Catatan itu menempatkannya sebagai pemain tersubur kelima di laga resmi internasional. Gol perdananya diukir dalam laga persahabatan kontra Uganda pada 4 Juli 1968, sementara gol terakhirnya dicetak ke gawang Kenya dalam Jamhuri Cup, 12 Desember 1980.
- Wind River, Potret Kehidupan Pribumi Amerika
SUATU pagi di kawasan penampungan suku Indian Arapaho, Wind River Reservation, Wyoming. Cory Lambert (diperankan Jeremy Renner), pemburu FWS (Dinas Cagar Budaya Federal) mendapat laporan dari mantan mertuanya, Don Crowheart (Apesanahkwat), bahwa sapi-sapi ternaknya diserang singa gunung. Cory lalu melacaknya. Tetapi, Cory justru menemukan jasad gadis berusia 18 tahun. Natalie Hanson (Kelsey Chow) nama korban tersebut. Cory mengenalinya sebagai sahabat mendiang putrinya. Natalie ditemukan Cory tergeletak tak bernyawa dengan sejumlah luka dan bertelanjang kaki. Cory segera melaporkannya kepala polisi suku setempat, Ben Shoyo (Graham Greene). Tapi karena minimnya personel, Shoyo mengontak FBI (biro investigasi federal) untuk mengungkap kasus itu. Namun, FBI hanya mengirim Jane Banner (Elizabeth Olsen) dari cabang Las Vegas ke kawasan terpencil itu. Mengingat hanya dirinya seorang, Jane minta bantuan Cory yang lebih paham wilayah keras tersebut. Agen FBI Jane Banner (kanan) yang dikirim seorang diri ke Wind River Reservation (The Weinstein Company) Ditambah penggambaran suasana pegunungan dan salju yang membentang kawasan Wind River Reservation, adegan-adegan itu jadi pembuka film bertajuk Wind River garapan Taylor Sheridan. Film ini diracik berdasarkan rangkuman kejadian di wilayah buangan untuk Indian Arapaho sejak abad ke-19 itu dan jarang diperhatikan pemerintah Amerika Serikat. Scene bergulir ke adegan dilematis yang dihadapi Jane. Hasil otopsi dr. Randy Whitehurst (Eric Lange) menyatakan Natalie meninggal karena pendarahan paru-paru ( pulmonary hemorrhage ) dan beberapa bekas luka dari tindakan kekerasan seksual. Artinya, korban tewas karena kedinginan hingga paru-parunya terendam darahnya sendiri. Akibatnya, Jane tak bisa mengirim laporan ke kantor pusatnya sebagai kasus pembunuhan. Hal itu menyebabkan FBI tak bisa mengerahkan satu tim bantuan. Jane pun hanya bisa mengharapkan bantuan dari Cory dan Shoyo meski sangat mengharapkan tim bantuan FBI bisa didatangkan. Pasalnya, perkembangan investigasinya mengarahkan mereka pada para tersangka pelakunya ke sebuah situs pengeboran minyak. Masalahnya, situs pengeboran minyak itu dikawal sekelompok barisan keamanan eks militer dengan persenjataan lengkap. Bagaimana Jane dan Cory bisa menguak kasus rudapaksa dan pembunuhan itu dengan ancaman para personel keamanan partikelir tersebut? Untuk lebih serunya Anda bisa saksikan sendiri di aplikasi daring Mola TV. Kolase adegan pasukan keamanan partikelir yang mengancam investigasi FBI (The Weinstein Company) Realitas Kaum Indian Pribumi Sutradara Taylor Sheridan senantiasa memberi gambaran kehidupan keras kaum Indian di perkampungan terpencil di pegunungan bersalju itu dalam setiap adegan film racikannya. Iringan music scoring bertema tragedi dan teror garapan komposer Nick Cave dan Warren Ellis cukup bisa memicu rasa pilu penonton menyaksikan keadaan memprihatinkan serta adegan-adegan menegangkan dalam investigasi kasusnya. Kombinasi itu membuat Wind River sangat intim dengan kondisi kaum Indian di berbagai wilayah penempatan mereka. Mereka bertahan hidup dengan segala problema di lingkungan terisolir tak jauh dari orang-orang kulit putih dan Afro-Amerika di negara bagian yang sama dengan segala modernitasnya. Kaum Indian hanya bersahabat kondisi kemiskinan karena tingkat pengangguran generasi mudanya begitu tinggi dan berkelindan dengan tingkat kejahatan. Ya, kejahatan dan kondisi terbelakang kaum Indian jadi titik fokus Sheridan dalam Wind River . Adegan agen FWS Cory Lambert menemukan jejak mayat korban rudapaksa (The Weinstein Company) Sheridan menekankan isu tentang kasus-kasus orang hilang, kejahatan seksual, dan pembunuhan terhadap perempuan pribumi di awal dan akhir filmnya dengan pernyataan: “Sementara statistik orang hilang tercatat untuk setiap demografik lain, tidak satu pun tercatat perempuan pribumi Amerika”. “Filmnya memang berdasarkan ribuan cerita aktual. Isu kejahatan seksual terhadap perempuan di perkampungan sebenarnya sudah eksis sejak permulaan sistem penampungan itu sendiri. Tapi baru 15, 20 tahun belakangan kasusnya meledak dan tidak mendapat perhatian,” tutur Sheridan kepada National Public Radio , 5 Agustus 2017. Akar masalahnya dideskripsikan Sheridan dengan penggambaran bahwa kebanyakan orangtua korban jarang melaporkan kasus orang hilang ke pihak berwenang. Hal itu antara lain disebabkan kultur yang membebaskan anak di atas usia 18 tahun untuk hidup di luar rumah, hingga minimnya jumlah personel kepolisian di perkampungan itu. “Saya sendiri punya dua periset yang menghabiskan waktu tiga bulan untuk menemukan statistiknya, baik dengan mendatangi Kementerian Kehakiman atau organisasi yang terkait dengan catatan kriminal. Dan mereka kembali dengan mengatakan bahwa mereka tak menemukan satupun statistik. Tidak ada pihak yang pernah mencatat. Maka saya katakan, itulah statisik kita,” lanjutnya. Sutradara Taylor Sheridan di lokasi syuting Wind River (The Weinstein Company) Pemerintah federal sekadar punya persentase atau perkiraan. Menurut Coalition Lusa Brunner, direktur eksekutif LSM Sacred Spirits First National, setidaknya satu dari tiga perempuan pribumi Indian mengalami kejahatan seksual dan 67 persen di antara pelakunya adalah non-pribumi. “Yang terjadi dalam hukum federal Amerika dan kebijakannya adalah, mreka menciptakan wilayah yang terbebas dari hukuman ibarat taman bermain bagi pelaku rudapaksa dan pembunuh berantai dan anak-anak kami tak bisa dilindungi sama sekali,” ungkap Brunner, dikutip Sky News , 6 April 2015. Meskipun perkampungan Indian sudah eksis di berbagai wilayah Amerika sejak 1800-an, tidak ada satupun hukum federal yang bisa menjerat pelaku kejahatan non-pribumi. Baru pada 7 Maret 2019 –atau setelah lebih dari seabad– pemerintahan Donald Trump merevisi Undang-Undang Kekerasan terhadap Perempuan tahun 1994. Dengan demikian, sistem hukum lokal di masing-masing perkampungan Indian bisa mengadili pelaku kejahatan non-pribumi. Isu kedua yang diangkat Sheridan adalah realitas kehidupan pribumi Indian yang hidup terisolir dan terbelakang. Sheridan menggambarkannya dengan pemandangan mayoritas Indian Arapaho di perkampungan Wind River Reservation hidup di trailer-trailer lusuh. Bendera Amerika pun dikibarkan secara terbalik. Tiada lapangan pekerjaan layak selain beternak domba atau sapi. Lantaran bingung mesti ke mana menentukan masa depan, banyak generasi mudanya terjerumus kehidupan negatif dengan menjadi pemadat. “Perkampungan itu adalah tempat yang sangat sulit untuk ditinggali. Inilah realitasnya di mana hanya ada sedikit perubahan sejak perkampungan itu eksis. Perkampungan yang dibayangi pusat-pusat urban di negara bagian yang sama, di mana orang-orang yang tinggal di situ sama sekali tak pernah jadi perhatian. Dengan film ini saya ingin kita bercermin kembali dan berharap berdampak pada perubahan lebih jauh,” sambung Sheridan. Suasana perkampungan Indian di Wind River yang hanya dinaungi hening dan diselimuti salju (The Weinstein Company) Wind River Reservation yang terletak di antara Fremont County dan Hot Springs County, Wyoming adalah perkampungan pribumi Indian terbesar ketujuh. Dengan luas 8.903 kilometer persegi, perkampungan itu menampung dua suku: Shoshone Timur dan Arapaho Utara. Sebelum adanya penetapan perkampungan itu, wilayah tersebut dihuni suku Shoshonesejak 3.000 tahun ke belakang. Tetapi akibat serangkaian perang antarsuku pada 1700-an dan konflik dengan kaum kulit putih pada 1800-an, banyak suku lalu mengungsi. Seperti suku Crow, Cheyenne, Blackfeet, Lakota, dan Arapaho. “Lebih dari seribu tahun lalu, Arapaho tinggal di timur Sungai Missouri. Sekitar tahun 1700, Arapaho terpaksa meninggalkan tanah leluhur mereka karena serangan suku-suku musuh dan menetap di Great Plains yang membentang dari selatan Kanada sampai utara Texas, di antara Sungai Mississippi dan Pegunungan Rocky,” tulis Michael Burgan dalam The Arapaho. Pada 1800-an, lanjut Burgan, suku Arapaho terpecah menjadi Arapaho Utara yang tetap berhabitat di Great Plains dan Arapaho Selatan yang bermigrasi ke wilayah Kansas dan Colorado. Namun pada 1851, akibat konflik dengan para penambang emas kulit putih dan wabah cacar, suku Arapaho Utara berpindah lagi ke Fort Laramie, Wyoming di bawah naungan pemerintah federal. Namun, suku Arapaho Utara pun masih sulit hidup damai. Perang Sioux pada 1876 memaksa Kepala suku Wo’óoseinee’ alias Black Coal bernegosiasi dengan Angkatan Darat Amerika agar sukunya tak terlibat perang. Black Coal dan 700 pengikutnya memilih berpihak pada militer Amerika dengan menjadi pengintai. Sebagai imbalannya, Arapaho Utara diizinkan mencari tempat tinggal lain. Pada 1877, Black Coal menuntut wilayah di pinggiran Sungai Sweetwater, di sisi selatan wilayah Shoshone Indian Reservation atau perkampungan Suku Shoshone di Lembah Wind River. Suku Shoshone (kiri) dan Suku Arapaho (kanan) ( easternshoshone.org/Library of Congress) Tetapi area baru yang ditinggali suku Arapaho Utara itu masih berstatus penampungan sementara. Perjanjian mengenai status perkampungan tetap antara Black Coal dengan Jenderal Amerika George Crook tak jua terealiasi sampai sang jenderal mangkat pada 1890. Seiring perjalanan waktu, saling klaim tanah di Lembah Wind River pun terjadi antara pemerintah Amerika, suku Arapaho Utara, dan Shoshone. Puncaknya, sengketa itu masuk ke meja hijau pada 1938. Dalam putusannya, Mahkamah Agung Amerika menetapkan area Lembah Wind River dan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah hak milik suku setempat. Selain itu, ditetapkan juga Lembah Wind River menjadi kawasan tempat tinggal bersama suku Shoshone dan Arapaho Utara. Wilayah tersebut oleh Mahkamah Agung diberi nama Wind River Reservation untuk menggantikan Shoshone Indian Reservation. Meski begitu, penetapan itu tak jua membawa kesejahteraan bagi suku Shoshone maupun Arapaho. Mereka hidup di garis kemiskinan dengan bergantung pada peternakan dan turisme domestik. “Kebanyakan dari suku pribumi mengalami kesulitan ekonomi seiring transisi dari status yang independen ke status penampungan. Belum lagi dinamika terkait kerjasama politik antar dua suku yang secara historis bermusuhan, perampasan lahan, asimilasi paksa, penghancuran budaya, penggalian hasil bumi dari pihak kulit putih turut jadi faktor kemiskinan tersebut,” ungkap Thomas Biolsi dalam A Companion to the Anthropology of American Indians. Area perkampungan Indian di Wind River pada sebelum (kiri) dan setelah putusan Mahkamah Agung Amerika (kanan) ( windriver.edu.org ) Selama bertahun-tahun problema ini nyaris tak mendapat perhatian pemerintah federal. Kemiskinan itu turut melonjakkan tingkat kriminalitas dari tahun ke tahun. Ironisnya, sistem hukum federal tak berpihak pada kaum pribumi, utamanya perempuan sebagaimana yang digambarkan dalam film Wind River. Media massa juga jarang mengangkat permasalah kaum pribumi lantaran lebih banyak tercurah pada isu-isu rasis Afro-Amerika sejak 1960-an. “Saya sempat syok membaca naskah filmnya. Saya menemui sutradaranya dan bertanya benarkah kejadian-kejadian itu nyata? Karena saya tidak sepenuhnya paham bahwa isu seperti ini eksis di negeri yang sama dengan yang saya tinggali. Kaum pribumi itu adalah tetangga kita dan mereka juga banyak berdiam di negara-negara bagian yang pernah saya kunjungi,” tandas aktris Elizabeth Olsen yang memerankan agen FBI di film itu. Deskripsi Film: Judul: Wind River | Sutradara: Taylor Sheridan | Produser: Matthew George, Basil Iwanyk, Peter Berg, Wayne L. Rogers, Elizabeth A. Bell | Pemain: Jeremy Renner, Elizabeth Olsen, Graham Greene, Kelsey Chow, Apesanahkwat, Jon Bernthal, Julia Jones | Produksi: Acacia Entertainment, Savvy Media Holdings, Thunder Road Pictures, Voltage Pictures, Wild Bunch, Ingenious Media | Distributor: The Weinstein Company, STXinternational, Metropolitan Filmexport | Genre: Thriller-Kriminal | Durasi: 107 Menit | Rilis: 4 Agustus 2017, Mola TV
- Merah Putih Berkibar di Gorontalo Merdeka
Desas-desus kekacauan Perang Dunia II berhembus kencang di kalangan rakyat Gorontalo pada permulaan tahun 1942. Negeri Belanda dikabarkan tengah berada di ambang kehancuran akibat perang terus berkecamuk di Benua Biru. Kekacauan itu pun diyakini akan memberikan dampak kepada pemerintahan mereka Hindia-Belanda. Berita perang besar itu disambut suka cita oleh rakyat Gorontalo. Mereka akhirnya bisa merasakan kebebasan setelah sekian lama hidup di bawah tekanan imperialisme Belanda. Rakyat siap menyambut kebebasan yang amat mereka idam-idamkan tersebut. Benar saja, tidak lama setelah tersebarnya kabar itu pemerintahan Hindia Belanda di Gorontalo mulai kehilangan kendali dalam memerintah. Mereka tidak lagi mampu mengontrol gejolak yang terjadi di masyarakat. Laskar pejuang Gorontalo pun dengan mudah merebut wilayahnya. Mereka berhasil mengamankan pusat komando Belanda. Sempat terjadi pertempuran di sejumlah tempat di Gorontalo antara laskar rakyat dengan Vernielings Corps (VC), yang tugasnya membumihanguskan segala aset Belanda andai pemerintahan mereka mengalami kejatuhan. Para anggota VC Gorontalo menyasar aset orang-orang Belanda di bidang irigasi, pelabuhan, infrastruktur, dan bahan makanan. Namun pergerakan mereka cepat diketahui, sehingga laskar rakyat dapat menjatuhkan para VC. Di bawah komando Kusno Danupojo dan Nani Wartabone para pejuang pun berhasil menduduki bangunan-bangunan, serta fasilitas-fasilitas utama milik pemerintah Hindia Belanda, seperti kantor pos, kantor polisi, tangsi militer, asrama militer, rumah kepala residen, dan lain sebagainya. Di sana jugalah untuk pertama kalinya bendera Merah-Putih berkibar. “Tidak banyak orang yang mengetahui suatu peristiwa penting bersejarah di Sulawesi (Gorontalo). Penting karena ketika seluruh tanah air sedang dalam kecemasan, dan kekacauan pikiran lantaran mundurnya tentara di awal tahun 1942, dan lantaran tibanya bencana perang dunia kedua disusul dengan penyerbuan tentara Jepang dari utara, maka di suatu sudut tanah air, yaitu Gorontalo, berkibarlah mula pertama kali di daerah itu bendera pusaka Sang Dwi Warna, sebagai hasil dari perebutan kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda yang dilakukan oleh patriot-patriot Indonesaia …” demikian menurut buku Republik Indonesia Propinsi Sulawesi yang diterbitkan Kementerian Penerangan RI Peristiwa perebutan kekuasaan itu, sebagaimana disebutkan Sutrisno Kutoyo, dkk dalam Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Sulawesi Utara , terjadi pada 23 Januari 1942. Masyarakat lalu mengenalnya sebagai Peristiwa Patriotik (Merah-Putih). Meski tidak meliputi semua daerah di Pulau Sulawesi, tetapi ada banyak tempat di sekitar Sulawesi Utara yang melakukan hal serupa seperti di Gorontalo, di antaranya Manado, Tolitoli dan Luwuk. Nani Wartabone dan Kusno Danupojo, bersama delapan orang pemuka rakyat, serta segenap rakyat Gorontalo juga menangkapi semua orang Belanda di Gorontalo dalam Peristiwa Patriotik tersebut. Mereka yang diamankan berasal dari kalangan pemerintahan, militer dan wakil-wakil kantor perdagangan Belanda. Seluruhnya dijebloskan ke dalam tahanan, dengan diberikan jaminan keselamatan dan perlindungan. Peristiwa penangkapan orang-orang Belanda cepat menyebar ke seluruh Gorontalo. Masyarakat lalu berbondong-bondong pergi menuju halaman kota. Di sana, sebagai pemimpin pergerakan Nani Wartabone naik ke podium untuk memberikan pidato. Menurut J.P. Tooy, dkk dalam Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Utara , di hadapan seluruh rakyat yang hadir, dia menyatakan bahwa Gorontalo sudah merdeka dan di daerah itu sudah tidak ada lagi pemerintahan Belanda. Wartabone juga meyakinkan seluruh rakyat bahwa kedepannya bangsa Indonesia akan mampu menguasai negaranya sendiri. “… ketika sdr. Nani Wartabone memimpin lagu Indonesia Raya di alon-alon, maka suara-suara yang melagukan itu sudah lekas jadi parau, karena diselingi oleh sedu-sedan yang mengharukan. Karena sekarang orang sudah dapat melihat bendera Merah Putih berkibar dengan bebas diangkasa, Indonesia Raya dinyanyikan dengan tak ada orang yang menegornya,” tulis Kementerian Penerangan. Kontrol atas Gorontalo, utamanya dalam urusan keamanan, selanjutnya dipegang oleh laskar pejuang. Mereka membentuk badan pemerintahan yang bertugas menjalankan administrasi dan kesejahteraan masyarakat. Khusus di bidang keamanan dibuat larangan melakukan pencurian terhadap aset-aset yang ditinggalkan Belanda. Hal itu dilakukan demi menjaga ketenteraman. Larangan pencurian itu dipampang di muka kantor pos, bunyinya: “Siapa yang mencuri, akan ditembak mati!”. Wartabone sendiri ditunjuk sebagai kepala pemerintahan Militer, sedangkan Danupojo menjadi kepala pemerintahan sipil. Sementara untuk urusan pertahanan di Gorontalo dipegang oleh Pendang Kalengkongan sebagai panglima besarnya. Dia membawahi polisi kota, serta laskar rakyat. Selama masa itu, rakyat Gorontalo bisa bebas melakukan kontrol atas dirinya sendiri. Tidak ada batasan-batasan seperti yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Mereka bebas menanam dan mengkonsumsi padi untuk dirinya. Tidak ada rakyat yang menderita kelaparan. Mereka juga bisa memasang lampu-lampu yang sebelumnya dilarang Belanda. Tidak ada batasan juga dalam mencari hiburan, sehingga di banyak rumah radio-radio dinyalakan, dan orang-orang berkumpul di sana. “Maka hiduplah segala hasrat yang mati di waktu Belanda … Alon-alon Gorontalo penuh dengan rakyat. Barisan kehormatan dengan senjata lengkapnya berbaris di tengah alon-alon. Dan ketika Nani Wartabone dan Kusno Danupojo datang memeriksa barisan maka untuk pertama kalinya tembakan-tembakan kehormatan yang sungguh-sungguh dari negara merdeka merobek angkasa. Dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan penuh khidmat. Nani Wartabone kelihatan menyucurkan air matanya. Dan orang-orang yang menyaksikan kejadian ini turut pula tersedu-sedu,” tulis buku karya Kementerian Penerangan RI itu. Pemerintahan merdeka di Gorontalo, imbuh Sutrisno Kutoyo, berlangsung selama lima bulan lamanya (23 Januari 1942 - 5 Juni 1942). Kedamaian mereka terusik begitu tentara pendudukan Jepang mendarat di Sulawesi Utara. Dengan kekuatan tempur yang mumpuni, bala tentara Jepang berhasil menjatuhkan pertahanan laskar rakyat Gorontalo.
- Ketika Sukarno Mengecam Agresi Belanda
YOGYAKARTA, 21 Juli 1947. Empat pesawat tempur Belanda mengelilingi kota Yogyakarta pagi itu. Mereka bermanuver secara rendah selama lebih kurang 15 menit. Sebuah ancaman singkat yang sukses menebar teror di langit ibukota Republik Indonesia. Ancaman tersebut juga praktis membuat rakyat ketakutan. Hampir tidak ada seorang pun yang berani untuk keluar rumah mereka. Sekira pukul 7, pesawat tempur Belanda menjatuhkan bom di lapangan terbang Maguwo. Mereka juga menyasar lapangan-lapangan terbang lain, serta tangsi-tangsi militer Republik di sekitar Yogyakarta. Siangnya, lapangan Maguwo kembali mendapat gempuran. Kali ini mereka berhasil menjatuhkan delapan bom. Tidak cukup sampai di situ, pasukan infanteri Belanda mulai bergerak, menyasar pertahanan kaum Republik di dalam kota. Aksi militer Belanda itu merupakan buntut dari gagalnya pihak Republik dan Belanda mencapai kesepakatan. Bagi pihak Belanda, kaum Republik telah melanggar Perjanjian Linggarjati, dan menolak nota Belanda tertanggal 27 Mei 1947 yang meminta aksi tembak-menembak dihentikan. Pihak Republik juga dinilai masih terus melakukan perusakan-penusakan terhadap aset Belanda. Menanggapi sikap tersebut, Perdana Menteri Belanda Louis Beel memberi titah kepada Gubernur Jenderal Van Mook untuk melaksanakan aksi polisionil, dengan Yogyakarta sebagai target utamanya. Malam hari, sekitar jam 7, setelah Belanda membombardir Maguwo dan kepanikan terjadi di seluruh pelosok negeri, Presiden Sukarno memberikan sebuah pidato yang ditujukan kepada seluruh bangsa Indonesia, dan dunia umumnya. Dalam pembukaannya Sukarno mengatakan: “Pada permulaan bulan suci ini, apa yang telah lama dan selalu kita khawatirkan, sekarang sudah terjadi. Pihak Belanda, dengan perantaraan Perdana Menterinya Beel serta wakilnya di sini Dr. van Mook, rupanya telah memungkiri serta membatalkan perjanjiannya dengan Republik Indonesia atas maunya sendiri. Rupanya pula sebelum pernyataan pemungkirannya itu sampai kita, pihak Belanda telah memulai pula gerakan permusuhan terhadap kita. Republik kita, perwujudan cita-cita serta perjuangan rakyat Indonesia, sekarang diserang terang-terangan dengan senjata, dari darat dan udara,” ujar Bung Karno. Dalam pidato, yang tertulis dalam Daerah Istimewa Yogyakarta terbitan Departemen Penerangan RI, tersebut Sukarno juga mengatakan bahwa masuknya Belanda ke Yogyakarta seolah mengulang kembali kejadian yang sedih dan keji di dalam sejarah kemanusiaan. Semua itu terjadi lantaran tindakan sewenang-wenang yang didorong oleh nafsu akan penjajahan. Akan tetapi Sukarno yakin tidak ada satu pun pihak yang mendukung tindakan para penjajah itu. Tiap orang yang masih memiliki rasa keadilan di dalam dirinya tentu akan sadar bahwa kekerasan yang dilakukan Belanda tidak dapat dibenarkan apapun alasannya. Sementara Belanda sendiri, sebagai sebuah negara, imbuh Sukarno, tidak memiliki rasa keadilan tersebut. Sebab tidak mungkin negara yang adil akan berbuat onar di negara yang baru saja mengikrarkan kemerdekaannya. Secara terang-terangan mereka melakukan kurungan militer, politik, hingga ekonomi, hingga sosial tanpa memikirkan nasib rakyat yang tinggal di dalamnya. “Mustahil! Mustahil bagi tiap orang yang masih mengandung perasaan keadilan serta kebenaran! Oleh karena itu, maka pemungkiran pihak Belanda pada perjanjiannya dengan kita adalah pemungkiran penghargaannya pada kemerdekaan, keadilan, serta kebenaran. Dan kekerasan yang dilakukan pada kita adalah perkosaan pada kemerdekaan, keadilan, kebenaran, kemanusiaan,” tegas Sukarno. Sukarno meminta rakyat untuk tidak menyerah. Dia sadar bahwa sejak tahun-tahun sebelumnya rakyat sudah dilanda derita. Harta benda, kebebasan, perasaan, serta kehormatan, segalanya diserahkan untuk pelaksanaan kemerdekaan dan menyelamatkan Republik. Dengan kembalinya penjajahan, mereka harus menelan derita untuk kedua kalinya. Meski begitu Bung Karno meminta semuanya bertahan dan tetap berjuang. Dia dan pemerintah Republik berjanji akan mengusahakan kemerdekaan yang sempurna bagi rakyat Indonesia. Presiden juga mengajak seluruh rakyat untuk bersama-sama berdoa agar bangsa Indonesia terhindar dari segala macam bencana, terutama ketidakadilan dari para penjajah yang sedang dan akan mereka hadapi. Terlebih ketika pidato tersebut mengudara, seluruh rakyat Indonesia sedang melaksanakan puasa di bulan suci Ramadan. “Yakinlah bahwa Allah Yang Maha Kuasa, Adil, serta Benar, terlebih-lebih di dalam Bulan Suci ini, tak akan meninggalkan kita, selama kita tetap di jalan keadilan, kebenaran, serta kemanusiaan Ia yang akan menambah segala tenaga yang masih perlu kita adakan pada diri kita. Ia pula yang akan menuntun kita, melalui bencana ini, kepada keselamatan serta kemenangan kemerdekaan,” kata Bung Karno. Pidato Sukarno malam itu ditutup dengan seruan kepada seluruh rakyat Indonesia di Sumatra, Borneo (Kalimantan), Sulawesi, Maluku, Kepulauan Sunda Kecil, hingga Papua, agar serentak menggabungkan kekuatan untuk menolak “perkosaan” Belanda terhadap kemerdekaan Republik —lambang kemerdekaan, lambang kebenaran, lambang keadilan, dan lambang kesucian.*
- Moestopo Usulkan Gelar Doktor Kehormatan untuk Soeharto
Mantan Presiden Republik Indonesia (RI) Megawati Sukarnoputri dianugerahi gelar profesor kehormatan oleh Fakultas Strategi Pertahanan jurusan Ilmu Pertahanan di bidang Kepemimpinan Strategis Universitas Pertahanan (Unhan) Jakarta pada 11 Juni 2021. Penganugerahan itu menjadi pelengkap 9 gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa) lainnya yang juga disandang ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut.
- Ketika Pemerintah RI Menjamin Eksistensi Orang Tionghoa
Yogyakarta, 17 September 1946. Suasana di Pendopo Kepatihan malam itu mendadak ramai. Orang-orang berkumpul di bangunan yang sekarang menjadi bagian dari kompleks Pemprov D.I. Yogyakarta tersebut. Berbagai kalangan hadir di sana. Mulai dari pejabat pemerintah daerah, pejabat Republik, pejabat keraton, hingga orang-orang dari golongan Tionghoa. Mereka datang untuk menghadiri sebuah perundingan yang kemudian dikenal sebagai Konferensi Indonesia-Tionghoa. Dalam sebuah arsip foto terbitan IPPHOS tahun 1946, yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia, tampak hadir Wakil Presiden Mohammad Hatta, beserta jajaran menteri di Kabinet Sjahrir II. Di ruang konferensi tersebut Hatta terlihat duduk bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX (di sebelah kanan), dan Sri Paku Alam (di sebelah kiri). Tampak pula hadir Pamglima Besar TNI Jenderal Sudirman, serta Ketua DPA R.A.A. Wiranatakusuma. Dijelaskan dalam Daerah Istimewa Jogjakarta , terbitan Departemen Penerangan RI, tujuan Pemerintah Republik mengadakan pertemuan tersebut adalah konsolidasi soal bangsa asing yang hidup di tanah air. Sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang dan politik manifest 1 November 1945, pemerintah memiliki kewajiban untuk memastikan keselamatan bangsa asing di negerinya. “Meskipun masih banyak rintangan-rintangan teristimewa dari luar, pemerintah terus berusaha untuk menjalankan kewajibannya sebagai negara yang merdeka terhadap bangsa asing. Di dalam kalangan bangsa asing, maka penduduk Tionghoa mempunyai tempat yang luas dan penting sekali,” tulis buku Departemen Penerangan RI itu. Di dalam konferensi tersebut dibahas berbagai persoalan yang melibatkan bangsa Tionghoa secara khusus, dan Indonesia secara umum, seperti perekonomian, kesosialan (pengungsian), pengajaran, dan keamanan. Bagi pemerintah Republik, keberadaan bangsa Tionghoa ini amat penting dalam proses pembangunan ekonomi. Terlebih mayoritas dari mereka bekerja sebagai pedagang dan pemilik perusahaan, baik besar maupun kecil. Sehingga diharapkan dapat berperan aktif membantu menstabilkan ekonomi negara. Setelah meyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dan Tionghoa, ketua panitia Tjie Sam Kong dari organisasi Tionghoa Chung Hua Tsung Hui (CHTH) membuka pertemuan malam itu. Setelah memberikan sedikit pidato pembukaan, pimpinan rapat selanjunya diserahkan kepada Tabrani dari Kementerian Penerangan RI sebagai wakil pemerintah. Pada kesempatan itu Tabrani menjelaskan bahwa pemerintah menilai kedudukan golongan Tionghoa lebih utama dibandingkan golongan asing lainnya. Sudah sejak lama, orang-orang Tionghoa menjadi bagian dari perjalanan negeri ini. Mereka juga turut andil menentukan gerak perekonomian, dan berbagai hal lainnya. Sama halnya dengan Tabrani, Bung Hatta juga menyebut bahwa kekuatan utama kalangan Tionghoa di Indonesia adalah perekonomian. Dalam sambutannya, dia mengatakan kalau golongan Tionghoa telah sejak zaman penjajahan Belanda menjadi perantara antara golongan penjajah dan golongan yang dijajah. “Orang-orang Tionghoa di negeri ini berasal dari kelas pedagang, mereka hampir semuanya pedagang. Dalam kapitalisme, tujuan dari para pedagang adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya bagi dirinya sendiri. Karena kenyataannya pada pedagang Tionghoa menjadi kepanjangan tangan dari kapitalis asing di masyarakat Indonesia, mereka telah menimbulkan kesan yang tidak disenangi,” kata Hatta seperti dikutip Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik. Untuk menghilangkan kesan negatif warga Tionghoa, Hatta mengajak mereka ikut dalam sistem perekonomian baru yang dijalankan pemerintah RI. Sistem ekonomi tersebut didasarkan kepada kesejahteraan sosial. Segala jenis produksi dan distribui akan dibuat aturan baru. Maka kesan warga Tionghoa, imbuh Hatta, akan berubah dari lawan menjadi kawan. Dan dengan sendirinya “soal Tionghoa” hilang dari masyarakat. Setelah mendengar sambutan Wakil Presiden, dan sejumlah pejabat negara, acara dilanjutkan dengan agenda putusan rapat. Dalam hal ini seluruh peserta rapat, terutama golongan Tionghoa, menyatakan ketaatannya kepada keputusan pemerintah RI. Sementara pemerintah harus memperhatikan betul hak-hak warga Tionghoa. Selain itu, rapat juga mengakui perkumpulan CHTH sebagai organisasi khusus kepentingan Tionghoa. Mereka juga sepakat membentuk panitia Indonesia-Tionghoa untuk mengatur berbagai kepentingan kedua belah pihak. Kemudian di ranah ekonomi, ditetapkan bahwa hubungan kerja sama antara pemerintah dan golongan Tionghoa akan dijalankan. Pertimbangan dalam putusan tersebut adalah keberadaan warga Tionghoa yang telah berabad-abad lamanya di Indonesia harus tetap terjaga. Kerja sama yang kekal itu harus diwujudkan kembali dengan pembangunan di lapangan perdagangan. Di ranah lain, seperti pendidikan, pemerintah berjanji membantu menyediakan alat-alat pengajaran untuk sekolah-sekolah Tionghoa. Mereka juga diperkenankan menjalankan pendidikan mereka selama tidak membahayakan berdirinya Republik Indonesia. Di ranah penerangan, pemerintah akan memberikan pemahaman kepada seluruh rakyat tentang keberadaan warga Tionghoa bahwa mereka bukanlah musuh bangsa. Di sisi lain, warga Tionghoa juga akan diberikan pengetahuan tentang jiwa revolusi bangsa Indonesia. Konferensi Indonesia-Tionghoa di Yogyakarta ditutup pada malam 18 September 1946, bertempat di Balai Prajurit Ngabean. Tidak ada pertemuan khusus di sana. Acara hanya diisi oleh pertemuan ramah-tamah antara golongan Indonesia dan Tionghoa. Penutupan juga dihadiri pejabat Republik dan perwakilan golongan Tionghoa. “Kemudian sesudah dibacakan keputusan-keputusan konferensi, dipertunjukkan tari-nyanyian dari golongan Tionghoa, permainan anak-anak oleh murid Taman Siswa, dan lain-lainnya. Setelah diadakan sambutan-sambutan, malam perpisahan diakhiri,” tulis buku yang diterbitkan oleh Departemen Penerangan RI tersebut.
- Sajak Pukulan Rotan
Suatu hari di tahun 1933. Chalid Salim tengah bertugas menginspeksi selokan bersama seorang dokter ketika seorang kopral datang menghampiri mereka. Atas perintah komandan kamp, kopral itu meminta sang dokter untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman pukulan rotan seorang tapol. Chalid dan sang dokter pun segera pergi ke tempat eksekusi. Di sana, seorang tapol telah ditelanjangi dengan kaki dan tangan terikat pada sebuah tiang. Hanya sepotong karung goni yang menutupi bagian kemaluannya. Namanya Idroes. “Sungguh keji pemandangan melihat seorang kawan sebangsa diperlakukan secara nista begitu,” kenang Chalid Salam dalam Limabelas Tahun Digul . Tak jelas musabab tapol itu sampai harus dihukum. Tapi, disebutkan tapol itu telah melanggar peraturan dan harus dihukum 15 kali pukulan rotan. Sang dokter kemudian mengajukan protes terhadap hukuman yang mirip pertunjukan gaya abad pertengahan itu. Namun, peraturan tetap peraturan. Algojo yang bertugas memberi hukuman adalah seorang sersan Indo-Belanda bertubuh kekar. Menurut Chalid, sersan itu tampak dengan sukarela menjalankan tugas kejam itu. Cemeti rotan tebal pun telah disiapkannya. “Maka sebelum kami menyadarinya, rotan itu sudah mengayun, lalu dengan kerasnya dipukulkan kepada pantat bugil si narapidana. Karena sersan itu dengan sengaja menghela rotannya, kulit si korban terkoyak di sana-sini. Dan sekalipun si korban membungkuk kesakitan, ia tidak pernah terpekik ataupun mengeram,” tulis Chalid. Tapol yang telah berlumuran darah itu kemudian di bawa ke rumahsakit. Luka-lukanya kemudian diberi balutan dengan salep. Ia diberi sebungkus rokok meski hal ini melanggar peraturan. Oleh dokter, ia diberi surat istriahat selama seminggu dan setiap hari diberi rokok. Kekejaman kamp Digul sebenarnya rahasia umum. Bahkan, laporan-laporan dari Digul telah sampai ke negeri Belanda. Penyair Belanda Jef Last (1898-1972) adalah salah satu penyair yang kerap memprotes keberadaan kamp ini dalam sajak-sajaknya. Menurut Harry A. Poeze dalam “Jef Last and his revolutionary poetry on Indonesia” yang termuat dalam Pramoedya Ananta Toer 70 Tahun , sajak-sajak Last tak diterbitkan lagi selama bertahun-tahun karena tersingkir dari sejarah sastra Belanda. Poeze kemudian mengumpulkan ulang sajak Last dan menerbitkannya pada 1994 dengan judul Liedjes op de aat van de rottan (Lagu berirama pukulan rotan) . Hukuman pukulan rotan bagi para tapol Digul tampaknya telah diterapkan sejak awal. Liedjes op de aat van de rottan ditulis Last pada 1928. Last juga beberapa kali menerbitkan beberapa buku kecil puisi, antara lain berjudul Partai Komoenis Indonesia , Digoel-Wilhelmus , dan De poenale sanctie . “Setiap buklet dijual hanya dengan sepuluh sen, ‘agar orang miskin dapat membelinya’,” tulis Rudolf Mrazek dalam Sjahrir, Politics and Exile in Indonesia . Kala itu Last merupakan anggota Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP) atau Partai Sosial Demokrat Belanda. Ia bersahabat dengan Henriette Roland Holst, Mohammad Hatta, Sjahrir hingga Maria Ullfah. Last memiliki minat menulis tentang Partai Komunis Indonesia, pengasingan Boven Digul, serta eksploitasi kuli di perkebunan di Sumatera. Di Digul, para tapol wajib menyanyikan lagu kebangsaan Belanda “Wilhelmus”pada hari ulang tahun ratu. Namun, sebagian tapol menolak. Akibatnya, mereka kemudian diasingkan ke kamp yang lebih “berat” di Tanah Tinggi. “Kejadian-kejadian ini mendorong Last menulis apa yang disebut versi Digoel dari Wilhelmus ,” tulis Gerard A. Persoon dalam Merenungkan Gema: Perjumpaan Musikal Indonesia-Belanda. Menurut Chalid, Last juga merupakan salah satu aktivis yang juga mengkritik teman-teman aktivis Belanda yang tak melakukan aksi nyata untuk membubarkan kamp Digul. Aksi nyata yang dimaksud Chalid ialah pawai demonstrasi, pemogokan, atau menduduki perusahaan-perusahaan penting. “Jika ada diadakan aksi demikian, kamp tawanan kami tentu cepat akan dibubarkan. Namun mereka... tidak berbuat sesuatu apa!” tulis Chalid. Berangkat dari kenyataan itu, Last kemudian menggubah sajak berjudul Digoel-Digoel. Berikut adalah tiga bait pertama puisi Last yang diterjemahkan oleh Chalid Salim. Apa sebab aku tulis tentang Indonesia, dan bukan tentang tanah air sendiri? Di sana tubuh kawan-kawan dijadikan bulan-bulanan bagi senjata di tangan penjajah. Di sana mengayun tongkat rotan, sel penjara penuh sesak karena mereka menegakkan Bendera Merah. Kita kagum dan kita memuji bangga, tapi apakah yang kita perbuat? Perduli apa jika mereka mampus di neraka celaka kamp Digoel? Bila Sri Ratu memerintah genap tiga dasawarsa, keadaan dunia konon dianggap normal saja.
- Ketika Sri Sultan Berterimakasih
Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta menjadi salah satu titik balik perjuangan rakyat Indonesia semasa Perang Kemerdekaan. Berkat peristiwa itu, seluruh dunia menyadari bahwa Republik Indonesia (RI) masih ada dan sekaligus otomatis mempersulit posisi Belanda yang selalu mangkir untuk maju ke meja perundingan. Pada akhirnya mereka mau tidak mau harus bersedia melakukan dialog dengan pihak RI. Peristiwa yang dimotori TNI itu juga sedikit banyaknya telah membangkitkan semangat rakyat Yogyakarta untuk tetap bertahan dan berjuang. Setelah bertahun-tahun hidup dalam teror militer Belanda, mereka akhirnya bisa sedikit bernafas lega. Tekanan orang-orang Belanda lambat laun mulai berkurang hingga akhirJuni 1949, sebagaimana disebutkan A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia , rakyat Yogyakarta bisa merasakan kembali kebebasan. M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2007 , menyebut begitu Belanda pergi, pemerintah RI segera menjalankan kembali aktivitas kenegaraan di Yogyakarta. Mereka mulai mengupayakan jalan diplomasi dengan pihak Belanda demi mencapai kemerdekaan seutuhnya. Begitu juga rakyat, sedikit demi sedikit memulai kembali kegiatan mereka sehari-hari seperti berdagang. Meski sekilas terlihat baik, rakyat masih diselimuti kekhawatiran akan munculnya tekanan dari pihak Belanda. Mereka belum sepenuhnya yakin para penjajah itu telah pergi dari tanah air mereka. Maka pada suatu kesempatan, Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberikan suatu pidato yang disiarkan Radio Yogyakarta. Selain menyampaikan kondisi terkini di Yogya, HB IX juga memberikan ucapan penghargaan atas perjuangan rakyat. “Paduka Yang Mulia Presiden telah mempercayakan kepada saya untuk sementara waktu menjelaskan keberesan pekerjaan negara di masa peralihan sekarang. Bersama-sama itu juga saya ucapkan selamat kepada saudara-saudara sekalian atas peristiwa yang penting ini. Yogyakarta sudah kembali, adalah berkah keuletan saudara-saudara sekarang baik yang bersenjata maupun yang tidak, dalam menghadapi segala kesulitan hidup sekian lamanya itu,” kata HB IX, seperti dikutip Daerah Istimewa Jogjakarta terbitan Kementerian Penerangan RI. “Dan penderitaan itu saudara-saudara sanggup alami, karena terdorong oleh cita-cita kita yang suci, cita-cita mencapai keadilan dan kesempurnaan hidup, yang sudah barang tentu mendapat lindungan Yang Maha Esa,” lanjutnya. Dalam pidatonya itu, HB IX sadar jika perjuangan rakyatnya tidak mudah. Ada begitu banyak kemalangan yang menimpa mereka. Kehilangan sanak saudara, hidup dalam rasa sakit, cacat fisik sepanjang hidup, hingga hidup dalam kemiskinan. Ada begitu banyak keluarga yang menjual semua harta bendanya demi dapat bertahan dalam perjuangan kemerdekaan. Ada juga para kaum terpelajar, imbuh HB IX, yang menolak hidup sejahtera di bawah kaki Belanda agar dapat menyaksikan dan merasakan sendiri kembalinya Yogya di tangan bangsa Indonesia. “Saudara-saudara, apakah artinya kembalinya Yogyakarta di tangan Republik lagi? Ini berarti, bahwa perjuangan kita bangsa Indonesia harus dilanjutkan. Bertimbun-timbun lah pekerjaan yang kita hadapi. Sudah barang tentu dari tiap-tiap warga negara diharapkan iuran dan sumbangsihnya yang sebesar-besarnya untuk menyempurnakan pekerjaan kita itu,” ujar Menteri Pertahanan ke-3 RI itu. Pada kesempatan tersebut , HB IX juga mengajak seluruh daerah bersatu memperjuangkan kemerdekaan. Cita-cita kemerdekaan tidak akan tercapai jika tidak dilakukan bersama-sama. Dia mengatakan kalau persatuan di antara bangsa harus ditanamkan, utamanya mereka yang sudah masuk dalam lindungan bendera Sang Merah Putih, daerah yang dikuasai oleh Pemerintah RI. Perjuangan baru, imbuh HB IX, tidak bisa lagi dilakukan seperti di masa lalu, di mana tenaga rakyat dikerahkan oleh masing-masing kepentingan. Gerakan yang terpecah belah itu akan menjadi terbuang percuma. Dia mengingatkan bahwa kepentingan negara harus ditaruh di atas kepentingan golongan atau partai. Semakin terpecahnya bangsa, makin bergembiralah pihak-pihak yang menghendaki keruntuhan Republik Indonesia. HB IX meminta semua warga negara Indonesia bersatu. Negara menjamin adanya hak demokrasi. Setiap orang memiliki hak untuk mengeluarkan suara, menentang apa yang tidak disetujui. Tetapi haru dilakukan melalui jalan-jalan yang sah, dengan tidak perlu mempertaruhkan keamanan negara untuk kepentingan golongan masing-masing. Selanjutnya soal keamanan negara, seluruh komando akan dipusatkan di bawah TNI. Hal itu dilakukan demi menghindari kesalahpahaman di antara golongan yang dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan, dan mengurangi kemungkinan provokasi yang tiap waktu dapat mengancam. Sebagaimana perintah dari presiden, rakyat sipil bisa membantu menjaga keamanan di kampung-kampung, dan membantu seperlunya. “Perlu juga di sini saya tegaskan lagi, bahwa barang siapa mulai saat ini masih mau mengacau, saya tidak segan-segan untuk mengambil tindakan yang setimpal. Teranglah bahwa kewajiban masing-masing sebagai warga negara Republik masih berat. Tapi soal yang berat ini akan terasa ringan, kalau dikerjakan bersama-sama,” kata HB IX. “Marilah kita percepat usaha untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan bersama itu. Selamat berjuang! Sekali Merdeka, tetap Merdeka!” ujar HB IX mengakhiri pidatonya.
- Tekad Sukarno di Konferensi Asia-Afrika
Bandung, 1928. Sebuah gagasan tentang perjuangan muncul dari goresan tangan seorang anak muda asal Surabaya yang baru saja menamatkan sekolah teknik di Technische Hoogeschool te Bandoeng. Tulisannya berjudul “Indonesianisme dan Asiatisme”, dimuat harian Suluh Indonesia Muda , cukup membuat gempar Hindia Belanda. Sukarno, nama sang anak muda itu, membawa gagasan baru untuk gerakan kemerdekaan di tanah airnya. Sebuah ide perjuangan yang nantinya akan membawa semangat persatuan di wilayah Asia dan Afrika. Di dalam artikel tersebut, Bung Karno banyak menyebut tentang semangat Asia. Dijelaskan Bakran Asmawi, dkk dalam Pesan Pembaharuan dari Bandung , Si Bung menggambarkan kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905, dan kemenangan Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal Pasha di medan perang Afyonkarahisar, sebagai kemenangan Asia atas Eropa. Demikian halnya dengan kemenangan Mesir, Cina, dan India atas imperialisme Inggris yang telah bercokol lama di sana. Tidak hanya untuk bangsa Asia secara umum, kemenangan atas bangsa-bangsa Eropa itu, bagi Sukarno, merupakan kemenangan Indonesia juga, sebab imperialisme yang menjerat Indonesia bukan hanya Belanda saja, tetapi imperialisme internasional. “Dengan apa yang dikemukakan di atas maka kita, kaum pergerakan nasional Indonesia, dengan gembira dan besar hati menginjak lapangnya Asiatisme. Zaman menuntut kita punya usaha sampai keluar batas-batasnya negeri kita, melancar-lancarkan kita punya tangan ke arah tepi-tepinya sungai Nil atau dataran Negeri Naga, menyeru-nyerukan kita punya suara sampai ke negerinya Mahatma Gandhi,” ujar Sukarno Gagasan Sukarno tentang gerakan kemerdekaan, dan ide persatuan di seluruh Asia dan Afrika tidak muncul begitu saja. Sudah sejak tahun 1930-an dia mempromosikan persoalan tersebut di dalam berbagai forum diskusi, rapat umum, hingga sejumlah besar artikel yang dimuat banyak surat kabar. Seluruh semangatnya itu kemudian dituangkan dalam Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung, Jawa Barat. “Kalau Barong Liong Sai dari Cina bekerja sama dengan Lembu Nandi dari India, dengan Sphinx dari Mesir, dengan Burung Merak dari Birma, dengan Gajah Putih dari Siam, dengan Ular Hydra dari Vietnam, dengan Harimau dari Filipina, dan dengan Banteng dari Indonesia, maka pasti hancur lebur kolonialisme internasional,” kata Sukarno dalam “Mentjapai Indonesia Merdeka”, seperti tertuang dalam salah satu karya fenomenalnya, Di Bawah Bendera Revolusi . Sekitar Konferensi Ide penyelenggaraan konferensi se-Asia dan Afrika pertama kali tercetus dalam sebuah konferensi di Colombo, Sri Lanka tahun 1954, yang dihadiri lima negara baru merdeka di Asia: Sri Lanka, Burma, India, Pakistan, dan Indonesia. Sementara gagasan konferensi yang melibatkan negara-negara dari dua benua tersebut merupakan buah pikir Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo. Dikisahkan Ali dalam otobiografinya, Tonggak-Tonggak di Perjalananku , usulan konferensi akbar itu tidak begitu saja diterima para pimpinan negara yang hadir saat itu. Mereka memiliki keraguan dan khawatir akan keberhasilannya. Setelah berkali-kali diyakinkan, mereka akhirnya sepakat. Ali pun menyatakan kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan besar tersebut. “Waktu dibicarakannya dengan Presiden Sukarno tentu saja dia sangat setuju dengan ide Pak Ali tersebut. Pastinya itu sesuai dengan misi Bung Karno yang ingin memosisikan Indonesia sebagai garda terdepan pembebasan negara-negara Asia-Afrika yang saat itu banyak yang masih dijajah negara-negara Barat,” ungkap sejarawan Rushdy Hosein kepada Historia . Presiden Sukarno dan PM Ali bekerja sangat keras dalam memastikan keberhasilan acara perdana yang melibatkan negara-negara di Asia dan Afrika tersebut. Disebutkan Wildan Sena Utama dalam Konferensi Asia-Afrika 1955: Asal Usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Anti-Imperialisme , Bung Karno juga sedikit banyaknya terlibat dalam proses persiapan. Pada 6 April 1955, Sukarno didampingi PM Ali melakukan pemeriksaan terakhir persiapan KAA. Dalam majalah Merdeka , 16 April 1955, Bung Karno menemukan banyak ornamen kota yang perlu disesuaikan dengan suasana perhelatan KAA, seperti mengubah beberapa nama jalan dan gedung. Gedung Concordia, sebagai gedung pertemuan utama, diubah menjadi gedung Merdeka, gedung Dana Pensiun menjadi gedung Dwi Warna. Sementara itu, Jalan Raya Timur yang membentang di depan gedung sidang pleno, diganti menjadi Jalan Asia-Afrika. Presiden juga meminta panitia acara memastikan tidak ada jalan yang rusak. Kendaraan-kendaraan dan arus lalu lintas juga harus ditata agar terlihat rapi dan bersih. Presiden agaknya tak ingin para peserta yang sudah jauh-jauh datang kecewa dengan kondisi di Bandung. Dia juga turun langsung dalam mengawasi renovasi gedung-gedung yang akan dipakai sidang KAA. Dia memberi instruksi langsung kepada para arsitek mengenai desain interior gedung Merdeka, terutama renovasi balkon yang ada di tengah ruangan. Sukarno juga meminta Roeslan Abdulgani, imbuh Wildan, menyiapkan makanan-makanan khas Indonesia, seperti soto, sate, dan gado-gado, serta jajanan pasar seperti klepon, pukis, bika ambon, dan lemper, selama acara berlangsung, di samping makanan yang sudah disesuaikan dengan selera para peserta. Keterlibatan Bung Karno, bahkan sudah terjadi jauh sebelum KAA digelar, ketika PM Ali hendak pergi menghadiri Konferensi Colombo. Pada suatu pertemuan di Istana Merdeka, begitu mendapat surat undangan dari PM Sri Lanka Sir John Kotelawala, Bung Karno membicarakan kemungkinan diselenggarakannya pertemuan yang melibatkan banyak negara, ketimbang hanya pertemuan lima Perdana Menteri saja. “Ingat Ali, ini adalah tujuan kita bersama, hampir 30 tahun yang lalu kita dalam pergerakan nasional melawan kolonialisme telah menggemakan solidaritas Asia-Afrika,” kata Bung Karno seperti dikutip Roeslan Abdulgani, The Bandung Connection: Konperensi Asia-Afrika di Bandung Tahun 1955. Pidato Pembukaan Sebelum KAA secara resmi dibuka, para perwakilan delegasi yang menginap di Hotel Savoy Homan dan Hotel Preanger datang ke Gedung Merdeka dengan berjalan kaki. Digambarkan Basuki Suwarno, dkk dalam Lima Puluh Tahun Konferensi Asia Afrika Bandung 1955 , mereka berjalan perlahan membelah kerumunan rakyat sambil melambaikan tangan, serta melempar senyuman. Peristiwa itu dikenal sebagai freedom walk , yang menjadi simbol perdamaian di acara tersebut. Menurut Wildan, Jawaharlal Nehru (India), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Zhou Enlai (Cina), dan Sukarno menjadi sorotan utama dalam freedom walk tersebut. Citra yang mereka tampilkan menggambarkan sosok “orang besar” dari Asia dan Afrika yang dielu-elukan rakyat. Keempatnya menjadi ikonografi KAA di kemudian hari. “Kharisma mereka dipancarkan lewat gerak gerik dan respons terhadap sambutan audiens, selain lewat penampilan. Bagi rakyat yang hadir, orang-orang inilah simbol dari spirit nasionalis dan perjuangan revolusioner,” kata Wildan. Sekitar pukul 09.00, para delegasi telah memasuki ruang sidang. Mereka duduk di tempat yang telah diatur pihak panitia. Pembukaan acara pun berjalan lancar, tanpa kendala yang berarti. Kemudian tibalah waktunya bagi Presiden Sukarno, sebagai pimpinan tuan rumah, menyampaikan pidato pembukaan konferensi. Sukarno membuka pidato dengan gaya khasnya, penuh semangat dan berapi-api. Dia mengungkapkan rasa bangganya bisa menyelenggarakan peristiwa bersejarah tersebut. Dia juga menekankan bahwa lahirnya KAA merupakan hasil dari penderitaan rakyat di Asia dan Afrika. Mengambil judul “Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru”, Bung Karno membahas tiga isu utama: kolonialisme, perdamaian dunia, dan solidaritas Asia-Afrika. “Inilah konferensi internasional yang pertama dari bangsa-bangsa kulit berwarna sepanjang sejarah umat manusia. Saya merasa bangga negeri saya menjadi tuan rumah bagi tuan-tuan,” katanya. “Pada hemat saya kita berkumpul di sini pada hari ini karena akibat dari pengorbanan. Pengorbanan yang dibuat oleh nenek moyang kita dan oleh rakyat dari generasi kita serta generasi yang lebih muda.” Menurut Sukarno berkumpulnya para pewakilan negara Asia dan Afrika di Bandung pada hari itu merupakan akibat dari krisis dunia selama berlangsungnya Perang Dingin. Dunia menjadi terpecah, jurang-jurang menganga di antara bangsa-bangsa, dan kedamaian di seluruh dunia menjadi terancam. Kondisi tersebut tidak bisa terus dibiarkan. Perubahan perlu dilakukan melalui bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. Sukarno juga menyoroti soal kolonialisme yang tidak pernah ada matinya di dunia. Masih banyak negeri di Asia dan Afrika yang terkurung oleh bencana itu. Mereka bahkan bertransformasi dari bentuk lamanya, menuju bentuk kolonialisme baru yang lebih modern. Namun menurutnya kolonialisme jugalah yang menjadi alasan mereka berkumpul di sana, duduk bersama mengadakan konferensi akbar. “Kita semua, saya yakin, disatukan oleh hal yang lebih penting dari hal yang tampaknya superfisial memisahkan kita. Kita bersatu, misalnya, oleh sikap yang sama dalam membenci kolonialisme dalam bentuk apa saja yang muncul. Kita bersatu oleh sikap yang sama dalam hal membenci rasialisme. Dan kita bersatu karena ketetapan hati yang sama dalam usaha mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dunia,” papar Sukarno. Di akhir pidatonya, Sukarno mengajak negara-negara peserta KAA untuk membentuk front antikolonialisme, dengan membangun dan memupuk solidaritas Asia-Afrika. Dia mendorong mayoritas penduduk dunia mengambil langkah positif dalam mempengaruhi jalannya politik internasional. Bukan dengan membangun blok yang menentang blok yang sudah ada, tetapi berupaya mencari jalan keluar dari ketegangan akibat Perang Dingin. Sukarno juga berharap KAA tidak hanya membawa perdamaian di Asia dan Afrika, tetapi seluruh dunia. “Pidato pembukaan presiden tersebut telah menawan dan mengikat perasaan delegasi negara-negara peserta, dan telah menawan dan mengikat perasaan siapa saja yang bercita-citakan suatu kemegahan dan kemuliaan Asia-Afrika,” tulis Kamarsjah Bandaro dalam Asia-Afrika antara Dua Pertentangan .





















