Hasil pencarian
9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Tentara Belanda Terpukul di Barutunggul
Jalur menuju Perkebunan Rancaupas itu dikenal orang-orang Ciwidey sebagai Tikungan Punceuling Barutunggul. Di sisi kirinya, nampak dataran tinggi dipenuhi pepohonan, sementara di sisi kanan jurang dalam terlihat menganga. Jarang orang yang tahu, jika 74 tahun yang lalu di tempat tersebut pernah terjadi banjir darah. “Kurang lebih satu peleton tentara Belanda habis kami sikat,” ungkap Uweb (98) kepada saya pada 2019. Uweb merupakan sisa-sisa saksi hidup peristiwa itu. Selama Perang Kemerdekaan (1946-1949) dia adalah salah satu prajurit Batalyon ke-26 yang lebih dikenal sebagai Pasukan Siluman Merah. Di lingkungan Divisi Siliwangi, Pasukan Siluman Merah merupakan bagian dari Brigade II Guntur. Awalnya Pasukan Siluman Merah bermarkas di Gunung Sadu, dekat Soreang. Namun setelah beberapa kali dibombardir oleh tentara Belanda dari Divisi 7 Desember sepanjang Juli 1947, atas perintah Panglima Divisi Siliwangi Kolonel A.H. Nasution, kesatuan tersebut akhirnya memindahkan markasnya ke wilayah Barutunggul. Itu terjadi pada 4 Februari 1947. Di lihat secara militer, Barutunggul sendiri memang merupakan wilayah yang sangat strategis. Posisinya berupa lembah dengan hutan lebat diapit oleh dua benteng alami: Gunung Sepuh dan Gunung Tambakruyung. Karena medan yang curam dan selalu diselimuti kabut tebal, pesawat-pesawat pengintai dan pesawat-pesawat pembom Belanda kesulitan menghajar posisi Pasukan Siluman Merah dari udara. Divisi 7 Desember lantas menugaskan Batalyon III Resimen Infanteri ke-8 (3-8-RI) untuk terus memburu Pasukan Siluman Merah. Begitu anak buah Kapten Achmad Winatakusumah hengkang dari Gunung Sadu, dengan menggunakan kekuatan udara, infanteri dan artileri, mereka langsung menguasai Ciwidey dan Pangalengan. Ciwidey kemudia dijadikan pangkalan untuk menghajar kekuatan Pasukan Siluman Merah yang berbasis di Barutunggul. Nyaris tiap seminggu tiga kali, Barutunggul dihujani peluru-peluru artileri dan bom-bom yang dilemparkan dari pesawat udara. “Menghadapi tembakan artileri dari Ciwidey itu, kami hanya bisa berlindung di gua-gua yang ada sekitar markas kami,” kenang Uweb. Sesekali pasukan infanteri dan kavaleri militer Belanda melakukan penyerbuan kilat ( raid ) ke Barutunggul. Kendati diperkuat panser dan tank baja, pertahanan Barutunggul tak jua bisa ditembus. Barulah setelah kekuatan militer Belanda menambah satu batalyon prajurit dari Resimen Princess Irene dan Resimen Stoottroepen serta 4 pesawat jenis Mustang, Barutunggul bisa dikuasai pada 24 Juli 1947. Kemenangan militer Belanda ternyata hanya bertahan sepuluh hari saja. Pada 3 Agustus 1947, Pasukan Siluman Merah kembali berhasil mengambilalih Barutunggul lewat suatu pertempuran yang sangat hebat. Serangan balasan itu cepat dilakukan karena para perwira Pasukan Siluman Merah memperhitungkan jika militer Belanda dibiarkan terlalu lama menguasai Barutunggul itu tidak akan bagus buat kemajuan gerak TNI di wilayah Ciwidey. “Mereka pasti akan terus memperkuat pertahanannya,” ungkap Uweb. Diusir dari Barutunggul, tentunya tak bisa diterima begitu saja oleh pihak militer Belanda di Ciwidey. Pada 23 Agustus 1947, satu kompi prajurit Belanda dari 3-8-RI lengkap dengan brencarrier, panser, kendaraan lapis baja dan pesawat pengintai bergerak untuk menghajar lagi Barutunggul. Prajurit Hettema masih ingat bagaimana di keheningan pagi yang dingin mereka bergerak dari Ciwidey menuju Barutunggul. Hettema menyatakan saat itu dirinya merasa gamang karena malam harinya dia merasakan firasat buruk memenuhi pikirannya. “Tapi saat itu saya berharap kami bisa melewati semuanya…” ungkap prajurit 3-8-RI seperti dikutip Thijs Brocades Zaalberg dalam “In the Oost, 1946-1950” yang termaktub di buku 200 Jaar Koninklijke Landmacht, 1814-2014 (disunting oleh Ben Schoenmaker). Hettema wajar merasa agak takut. Selama mereka berpangkalan di Ciwidey, wilayah Barutunggul dikenal oleh anggota 3-8-RI sebagai “neraka”. Kendati jaraknya dengan kota hanya sekitar 6 kilometer, namun keberadaan gerilyawan republik di wilayah itu sangatlah terasa dan menimbulkan rasa waswas prajurit-prajurit Belanda. Benar saja. Begitu iring-iringan konvoi 3-8-RI mencapai tikungan Barutunggul, mereka langsung dihujani tembakan gencar dari arah hutan-hutan yang berada di atas posisi mereka. Kendati sudah diperhitungkan, namun tak ayal situasi itu menimbulkan kepanikan yang luar biasa. “Sekali saja kami memperlihatkan rambut sedikit di atas pertahanan stelling, bisa-bisa botak habis rambut kami ditembakin mereka,” kenang Hettema. Sekitar 450 peluru artileri dan peluru-peluru 12,7 dari sebuah pesawat P-51 Mustang lantas ditembakan ke arah bukit. Namun demikian, itu tidak lantas membuat Pasukan Siluman Merah menghentikan hantaman mereka kepada prajurit-prajurit 3-8-RI. Alih-alih berhenti, tembakan dari arah bukit malah semakin menggila dan salah satunya berhasil menjatuhkan pesawat Mustang. Tak ada jalan lain bagi 3-8-RI kecuali mundur kembali ke arah Ciwidey. Dalam situasi kacau, prajurit-prajurit yang mundur itu kembali menjadi sasaran empuk peluru-peluru yang bersiliweran dari arah bukit dan membuat beberapa serdadu jatuh ke jurang. Pertempuran di Barutunggul baru berakhir ketika senja datang. Tanpa menyebut jumlah korban luka-luka, sejarawan militer Belanda Thijs Brocades Zaalberg menyebut bahwa 5 serdadu 3-8-RI telah kehilangan nyawanya dalam pertempuran tersebut. “Seorang dari pihak militer Belanda berhasil ditawan…” ungkap Zaalberg. Uweb sendiri menyatakan bahwa jumlah prajurit Belanda yang tewas lebih dari 5 orang. Ketika pertempuran usai, prajurit-prajurit Siluman Merah turun ke bawah dan menemukan mayat-mayat serdadu Belanda bergelimpangan di jalanan. “Saya ingat kami berjalan di atas genangan darah yang sangat banyak. Sepatu kami terasa sangat lengket jadinya…” kenang lelaki kelahiran Ciwidey itu. Untuk serdadu Belanda yang berhasil ditawan, jumlahnya sesuai dengan versi pihak militer Belanda yakni satu orang. Menurut Uweb, tentara Belanda yang ditawan itu tiada lain adalah pilot Mustang yang berhasil ditembak jatuh Pasukan Siluman Merah. “Saya ingat namanya Mierwijk. Waktu kami temukan, bagian pipinya luka-luka mungkin terkena peluru atau serpihan kaca pesawat…”ungkap Uweb. Mierwijk kemudian menjadi tawanan Pasukan Siluman Merah. Menurut Uweb, dia diperlakukan sangat baik dan mendapat perhatian langsung dari Kapten Achmad Wiranatakusumah. Ironisnya hal yang sama tidak dilakukan oleh pihak 3-8-RI. Menurut Hettema, begitu sampai di Ciwidey, prajurit-prajurit 3-8-RI yang tengah frustasi tersebut justru mengeksekusi 4 tahanan TNI sebagai balasan atas kekalahan mereka di Barutunggul. “Itu bukan pembunuhan, tapi keadilan yang akan membuat kita tidur nyenyak” ungkap Hettema mengutip kata-kata kawannya yang langsung menjadi algojo dalam kasus penembakan tawanan itu. Pertempuran Barutunggul diklaim oleh TNI sebagai salah satu keberhasilan yang gemilang. Dalam buku karya A.H. Nasution, Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Agresi Militer Belanda I disebutkan sekitar satu peleton (sekitar 50 orang) serdadu Belanda berhasil dibinasakan dalam pertempuran itu. “Komandan Batalyon (Siluman Merah) melaporkan (kepada Nasution) bahwa mereka hanya menyisakan 3 orang yang selamat dan (akibat banyaknya jatuh korban) komandan mereka yang bernama Letnan Pluiman “menjadi gila”,” ungkap Nasution. Sejak kekalahan itu, Barutunggul kerap dihujani peluru-peluru artileri dari Ciwidey. Tentara Belanda sendiri tak pernah lagi memiliki nyali untuk melakukan penyerangan ke tikungan maut tersebut. “Posisi itu tak bisa mereka rubah hingga saat datang perintah cease fire (gencatan senjata)…” ungkap Panglima Divisi Siliwangi pertama itu.
- Mengatur Orang Asing di Jawa Kuno
Orang-orang dari mancanegara sudah sejak lama datang ke Jawa. Pemerintah kerajaan di Jawa pun merasa perlu membentuk petugas dan sistem untuk mengatur keberadaan orang-orang asing itu. Munculnya aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta dalam berbagai prasasti merupakan bukti bahwa pengaruh asing sudah diterima masyarakat Nusantara. Contohnya prasasti-prasasti dari Kutai di Kalimantan dan Tarumanegara di Jawa yang berasal dari abad ke-5. “Tapi dulu belum ada penyebutan yang eksplisit tentang orang asing. Baru ada pada masa Airlangga. Selanjutnya makin sering muncul di Prasasti Majapahit,” kata Asri Hayati Nufus dalam webinar berjudul “Kajian Prasasti Masa Airlangga” yang diadakan Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia (PAEI) dalam rangka purnabakti arkeolog Universitas Indonesia, Ninny Soesanti pada Selasa (25/05/2021). Raja Airlangga merupakan penguasa Kahuripan pada 1019–1042. Pada masanya, jumlah orang asing sudah banyak, sebagaimana dibuktikan lewat Prasasti Kamalagyan (1037). Misalnya, orang dari Kalingga, Arya, Srilangka, Pandikira, Dravida, Campa, Khmer, dan Remin. Sang raja pun merasa perlu menunjuk petugas untuk mengurusnya. Di antaranya ada petugas yang dinamai juru kling , juru hunjeman ,dan paranakan. “Tugas mereka menarik pajak dan melakukan pencatatan atau sensus terhadap orang asing,” jelas Asri. Dengan melakukan pencatatan, petugas dapat mendata tujuan kedatangan orang asing ke wilayah kerajaan. Jika orang asing datang untuk bedagang, dia akan dikenakan dua tipe pajak, yaitu pajak profesi dan pajak orang asing ( kikeran ). “Raja juga bisa mengetahui pengaturan apa yang efektif untuk dikenakan untuk orang asing dan seberapa banyak mereka di Jawa,” jelas Asri. Pengaturan Khusus Asri menjelaskan, dari 33 prasasti yang dikeluarkan pada masa Airlangga hanya tiga yang menyebutkan keberadaan orang asing, yaitu Prasasti Cane (1021) yang menyebut istilah paranakan , juru kling , juru hunjeman ;Prasasti Baru (1031); dan Prasasti Turun Hyang A (1040). Asri mengartikan paranakan sebagai petugas yang mengurus para keturunan campur. “Kemungkinan orang asing menikah dengan orang Jawa, jadi perlu ada petugas yang mengaturnya,” jelasnya. “Bisa jadi mengurus pedagang keturunan campur dan menarik pajak dari mereka.” Asri mengutip pendapat Subbaralayu, sejarawan India, bahwa kata juru hunjeman berasal dari bahasa Persia, Anjuman yang artinyahimpunan atau perkumpulan. “Jadi hunjeman ini sekelompok pedagang, terdiri dari orang Yahudi, Muslim, Kristen, Siria, atau Nasrani, dan orang Persia (Zarathustra) yang biasanya bermukim di kota-kota pesisir,” kata Asri. Orang hunjeman pada sekira abad ke-9 hingga ke-11 telah aktif berdagang di wilayah Malabar, India, hingga wilayah Asia tenggara. “Otomatis ke Jawa,” lanjut Asri. Dengan pengertian itu artinya telah ada yang mengatur para kelompok dagang kala Airlangga berkuasa. Petugas itulah yang disebutkan dalam prasasti sebagai juru hunjeman. “Mereka petugas yang mengatur dan mengambil pajak dari orang hunjeman atau kelompok pedagang,” kata Asri. Sementara untuk pendatang India yang mengatur adalah petugas bernama juru kling. Menurut sejarawan George Coedes, kling atau Keling adalah orang yang berasal dari India Selatan, tepatnya dari Kerajaan Kalingga. Sedangkan menurut Petrus Josephus Zoetmulder, pakar kesusastraan Jawa Kuno , Keling adalah Kerajaan Kalingga yang berasal dari India Selatan. Sementara juru kling adalah petugas yang mengurusi orang Keling atau kelompok pedagang yang berasal dari Tamil Nadu. Karena begitu banyak orang India, selain mengatur orang dari Kalingga, juru kling juga kemungkinan mengatur orang India lainnya. Mereka adalah Malyala (orang Malayala), Aryya (orang dari Arya), Karnnataka (orang dari Karnataka), Cwalika (orang dari Cholika atau Kerajaan Chola), Pandikira (orang dari Kerajaan Pandya), Drawida (orang Dravida), Balhara (orang dari India Utara), Gala (orang dari Kerajaan Gauda), dan orang Singhala (orang Srilanka). “Karena orang India sangat banyak di Jawa, yang ada bukan hanya orang Kling saja. Jadi, kemungkinan juru kling tak hanya mengatur orang dari Kalingga, tapi orang India secara keseluruhan,” jelas Asri. Pengaturan orang asing juga menyangkut masalah pengadilan yang mengusut kasus orang asing. Pun soal larangan bagi mereka masuk ke wilayah tertentu. “Melihat itu artinya perdagangan internasional masa Airlangga sudah ramai,” kata Asri. Disambut Baik dan Hangat Pada masa Majapahit, sumber terawal yang menyinggung keberadaan orang asing adalah Prasasti Balawi (1305) sebagaimana ditulis Hery Priswanto, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam “Orang-orang Asing di Majapahit” yang termuat dalam Majapahit, Batas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota . Prasasti Balawi atau Prasasti Kertarajasa menyebutkan adanya orang dari Keling, Arya, Singhala, Karnnataka, Bahlara, Cina, Campa, Mandikira, Remin, Khmer, Bebel, dan Mambaŋ. Selain Prasasti Balawi, Kakawin Nagarakrtagama (1365) juga menggambarkan kegiatan perdagangan yang melibatkan para pedagang asing. Suasana pasar ketika para pedagang asing melakukan transaksi dagang pun dilukiskan. Bukan hanya dalam hal perdagangan, hubungan dengan orang asing juga menyangkut kerja sama antarnegara. Dalam Kakawin Nagarakrtagama disebutkan negara-negara asing dari Syangkayodyapura, Dharmmanagari, Marutma, Singhanagara, Campa, Kamboja, dan Yamana. Majapahit juga mengikat hubungan persahabatan dengan Jambudwipa, Kamboja , Cina, Yamana, Campa, Karnnataka, Goda, dan Siam. Keberadaan orang asing juga dicatat Ma Huan, penerjemah resmi yang mendampingi Cheng Ho, dalam Yingya Shenglan. Pada 1412, Ma Huan menerima tugas pertama dari Kerajaan Ming untuk menemani sang laksamana berlayar ke banyak negeri. Dalam catatannya, Ma Huan menyebut Majapahit dan kota-kota pelabuhan seperti Tuban, Gresik, dan Surabaya. Dia menyebut, kawasan Pantai Utara itu banyak dikunjungi oleh pedagang asing dari Arab, India, Asia Tenggara, dan Cina. Terutama orang Cina dan Arab, banyak yang menetap dan berdagang. Mereka masuk ke dalam tiga golongan penduduk Jawa. Ma Huan mencatat, orang Arab atau penganut ajaran Muhammad, berasal dari daerah barbar bagian barat. Kegiatannya berdagang dan menetap di Jawa. “Pakaian dan makanan mereka bersih dan bagus,” catatnya. Golongan kedua adalah Tangren atau Tenglang merujuk pada orang Cina. Umumnya mereka berasal dari Guangdong, Zhangzhou, dan Quanzhou. G olongan ketiga adalah orang Jawa yang lebih dulu menetap. Ma Huan merupakan orang pertama yang menyebut bahwa penduduk Jawa ada yang berasal dari Cina. Meski kedatangan orang Cina di tanah Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-6. Banyaknya orang asing yang tinggal di Jawa rupanya tak banyak mendapat penolakan. Setidaknya begitu menurut Kakawin Nagarakrtagama. Mpu Prapanca menulis, pada saat kedatangan orang-orang dari negara lain, mereka disambut baik dan hangat. “Itulah alasannya mengapa tanpa henti semua orang datang dari negara lain tak terkecuali dari Jambudwipa (India), Kamboja, Cina, Yamana (Annam), serta Campa, Karnnataka (India Selatan), Goda (Gauri), dan Syangka (Siam) yang berangkat dari tempat asalnya dengan naik kapal bersama-sama dengan pedagang,” tulisnya. Makanya , menurut Hery Priswanto, “Para tamu asing yang mengarungi lautan bersama para pedagang, resi, dan pendeta merasa puas dan senang menetap di Majapahit.”
- Kuil Sepakbola "Kota Abadi" Roma
PESTA sepakbola Eropa, Euro 2020, yang sempat tertunda akhirnya akan dibuka tirainya pada 11 Juni 2021. Laga Turki kontra Italia yang tergabung di Grup A akan jadi partai perdana. Stadion Olimpico di kota Roma, Italia sudah dikonfirmasi jadi host upacara pembukaannya. Euro 2020 akan berbeda dari 15 gelaran sebelumnya lantaran yang jadi tuan rumahnya tak hanya satu atau dua negara, melainkan 11 negara di 11 kota. Ide ini digagas Presiden UEFA periode 2007-2015 Michel Platini pada 2012. Sesuai keputusan UEFA pada 2017 silam, Stadio Olimpico akan jadi tuan rumah laga pembuka dan Stadion Wembley, London jadi tuan rumah finalnya pada 11 Juli 2021. Kendati digelar di masa pandemi masih mengganggu banyak aktivitas masyarakat dunia, UEFA sebagai otoritas sepakbola Eropa memastikan Euro 2020 dihelat dengan gegap-gempita penonton meski terbatas. UEFA sudah menguji coba di laga final Europa League pada 26 Mei 2021 di Stadion Miejski (Polandia) dan final Champions League tiga hari berselang di Estádio do Dragão (Portugal). “Hari ini UEFA menerima kabar dari induk sepakbola Italia dan konfirmasi dari pemerintah Italia bahwa pertandingan Euro 2020 yang dijadwalkan di Stadio Olimpico di Roma akan digelar dengan kehadiran penonton. Pemerintah setempat menjamin setidaknya 25 persen kapasitas stadion akan diisi,” demikian pernyataan UEFA di laman resminya , 14 April 2021.1. Selain tiga partai di Grup A, Stadion Olimpico juga kebagian jatah satu laga perempatfinal pada 3 Juli 2021. Oleh karenanya kini kandang dua klub sekota, SS Lazio dan AS Roma, serta Timnas Italiaitu mulai bersolek jelang pesta pembuka dengan tema “Light at the End of Tunnel” yang merupakan harapan agar pandemi segera berlalu. Stadion Olimpico sendiri sudah dua kali menjamu temnas-timnasdari Eropa. Pertama, saat Italia menjadi tuan rumah Euro 1968; kedua,ketika Italia tuan rumah Euro 1980. Proyek Kompleks Olahraga Il Duce Kisah pembangunan kuil sepakbola megah yang beralamat di Viale dei Gladiatori, 00135, Roma itu sejatinya sudah direncanakan sejak lama. Pemerintah kota setempat bahkan sudah membuka lahannya sejak 1901. Namun, pembangunannya baru dimulai pada 1920-an bersamaan dengan megaproyek kompleks olahraga Foro Mussolini yang pasca-Perang Dunia II dinamai Foro Italico. Foro Mussolini yang berarti “Forumnya Mussolini" merupakan upaya Mussolini untuk membangkitkan kejayaan Italia sebagaimana di era Romawi. Foro di era Romawi lazimnya tersebar di banyak kota besar sebagai pusat kegiatan masyarakat. Mussolini berupaya menirunya sebagai nostalgia masa lalu lewat olahraga demi melahirkan pribadi-pribadi Italia di bawah naungan fasisme. “Ketertarikan kembali terhadap masa Romawi Kuno juga akibat sejumlah ekskavasi situs-situs Romawi di Roma dan segenap Italia di masa itu, di mana kemudian gaya arsitektur Romawi kembali dikembangkan menjadi arsitektur fasis modern. Arsitektur yang meniru Romawi adalah Foro Mussolini, sebuah kompleks olahraga yang dibangun di utara Roma,” ungkap Han Lamers dan Bettina Reitz-Joosse dalam The Codex Fori Mussolini: A Latin Text of Italian Facism. Obelisk "MVUSSOLINI DVX" (kiri) dan Stadio dei Marmi ( walksinrome.com/Nationaal Archief) Untuk membangun kompleks olahraganya itu,Mussolini mempercayakan Enrico Del Debbio, arsitek langganan para petinggi fasis.Di antara desain karya Debbio adalah Palazzo Fiat a Via Calabria (gedung pusat pabrikotomotif Fiat) di Via Calabria yang dibangun pada 1923.Debbio juga merupakan konsultan pembangunan Palazzo delle Esposizioni, yang dibangun pada 1931 dalam rangka perayaan satu dasawarsa Revolusi Fasisme. Sesuai pesananMussolini, Debbio merancang Foro Mussolini dengan sejumlah bangunan olahraga yang kental nuansa Romawinya. Pengerjaannya dimulai pada 1927. Academia Fascista della Farnesina (Akademi Pendidikan Olahraga) berikut sebuah obelisk berbahan marmer setinggi 17,5 meter dan bertuliskan kalimat Latin“MVSSOLINI DVX” (berarti: “Pemimpin Mussolini”)menjadi bangunan pertama yang rampung. LantaranForo Mussolini jadi megaproyek menjelang pengajuan Italia jadi tuan rumah Olimpiade 1940, beragam arena olahraga pun dibangun di dalamnya.Salah satunya Stadio dei Marmi, arena atletik yang dikelilingi 60 patung manusia bertubuh atletis era Romawi karya 24 pemahat. Tak lupa,Mussolini memesansatu stadion megah khusus olahraga paling populer. “Stadionnya dibangun untuk memberikan ibukota dengan citra kota olahraga, menyimbolkan keunggulan yang diberikan sang pemimpin Italia yang sedang mengejar identitas nasional fasis. Konstruksi stadionnya dimulai pada 1928 di bawah arahan arsitek Luigi Walter Moretti. Stadionnya dinamai Stadio dei Cipressi (Stadion Pohon Cemara),” tulis Gary Armstrong dalam Football, Fascism, and Fandom: The UltraS of Italian Football. Stadio dei Cipressi saat baru rampung pada 1932 (kiri) dan setelah renovasi pada 1937 (l'Ultimo Uomo) Pembangunan Stadio dei Cipressi rampung dan dibuka pada 1932. Namun, kala itu bentuknya masih sekadar lapangan sepakbola yang dikelilingi tribun satu tingkat melingkar (Tribuna Monte Mario) berkapasitas 35 ribu orang sehinggamirip arena pacuan kuda. Stadio dei Cipressi kemudian direnovasi pada 1937. Duet arsitek Del Debbio dan Moretti menambahkannyasejumlah pilar batu bata dantribunnya ditambahsetingkat sehingga menjadi berkapasitas 65 ribu orang. Kapasitas itu menyelamatkan muka Mussolini kala menghelat parade di stadion dalam menjamuAdolf Hitler saat berkunjungke Roma pada Mei 1938. Sarang Elang dan Serigala Kota Abadi Sebagaimana banyak stadion di Eropa, Stadio dei Cipressi sempat jadi lahan parkir kendaraan militer.Saat Perang II masih berkecamuk, ia jadiparkiran ranpur militer Italia.Pasca-pembebasan Roma, 5 Juni 1944, ia jadi parkiran ranpur militer Inggris dan Amerika Serikat. Lima tahun pasca-Perang Dunia II, Stadio dei Cipressi diperbaiki dan diperbesar lagi dalam rangka pengajuan diri Italia menjadi tuan rumah Olimpiade 1960. “Pada Desember 1940 arsitek Carlo Roccatelli dan Annibale Vitellozzi dari Dewan Tinggi Pekerjaan Umum memperbesar stadion dengan struktur yang lebih kompleks. Setelah rampung 1953 stadionnya berubah nama jadi Stadio dei Centomila (Stadion 100 Ribu) merujuk pada peningkatan kapasitasnya,” sambung Armstrong. Stadio dei Centomila penuh sesak dengan 100 ribu penonton kala dibuka pada 17 Mei 1953 dangan perhelatan laga persahabatan Italia kontraHungaria. Tetapi menjelang Olimpiade 1960, stadion tersebut dirombak lagi.Tribun paling dasar dihilangkan sehinggakapasitasnya kembali berkurang, menjadi 65 ribu orang. Nama stadion pun diubah jadi Stadio Olimpico. Di tahun yang sama, dua klub seteru yang berdiam kota berjuluk “La Citta Eterna” (kota abadi), SS Lazio dan AS Roma SS “kompak” pindah dari markas sebelumnya masing-masing ke Stadio Olimpico sejak musim 1953/1954 sampai sekarang. Selain jadi sarang klub berjuluk “Serigala Roma” dan “Elang Roma”, seringkali Timnas Italia pun menjamu tamu-tamunya di Olimpico. Stadio Olimpico setelah renovasi 1953 (atas) dan jadi venue tuan rumah Olimpiade 1960 (bawah) ( storiadellaroma.it/olympics.com ) Kuil sepakbola itu kembali berbenah menjelang Piala Dunia 1990. Vitellozzi kembali dipercaya mengarsiteki perombakan dari 1987 hingga 1990 itu. Tidak hanya direnovasi, Stadio Olimpico diratakan dengan tanah lalu dibangun kembali dengan struktur berbeda. Sementara Olimpico dibenahi, AS Roma dan Lazio terpaksa mengungsi ke Stadio Flaminio. “Untuk melestarikan keterkaitan arsitektur dengan fasilitas olahraga lainnya di Foro Italico, teras terluar Travertine-nya yang menghadap Sungai Tiber harus diubah dengan desain baru. Setelah melalui perdebatan panjang, proyeknya diajukan pada April 1987. Gagasannya untuk meningkatkan tribun dengan kapasitas minimal 80 ribu kursi. Tribunnya juga akan dipasangi atap transparan dengan rangka baja,” ungkap Ulrich Fürst dalam The Architecture of Rome: An Architectural History in 400 Individual Presentations. Setelah revisi desain pada Mei 1988, tribun bawah, aula-aula pengunjung, perkantoran di dalam stadion, serta sejumlah lounge stadionditambahi pagar plexiglas agar stadion bisa digunakan untuk fungsi lain selain aktivitas olahraga. Penggunaan atap transparan sendiri batal diwujudkan karena diganti atap baja melingkar berwarna putih menyerupai atap Colosseum. “Sudut-sudut tribunnya juga diubah menjadi lebih dekat dengan lapangan, berjarak sembilan meter; kursi-kursi kayu panjang diganti kursi-kursi berbahan plastik tanpa sandaran dan dua layar besar dipasang untuk keperluan penyiaran televisi. Kapasitas stadionnya berubah lagi menjadi 82 ribu hingga menjadikannya stadion terbesar ke-14 dunia dan jadi stadion terbesar kedua di Italia setelah Stadio Giuseppe Meazza di Milan,” kata Armstrong. Sejak 1953 Stadio Olimpico jadi kandang Lazio dan AS Roma ( sslazio.it/asroma.com ) Di Piala Dunia 1990, Stadio Olimpico menggelar tiga laga penyisihan grupserta satu partai perdelapan final, perempatfinal, dan partai final yang mempertemukanArgentina kontra Jerman Barat. Terakhir, pada 2008, Stadio Olimpico mengalami modernisasi menjelang terpilih sebagai tuan rumah final Champions League, 27 Mei 2009. Proyeknya menyesuaikan permintaan UEFA agar Stadio Olimpico dioperasikan Sport e Salute, sebuah institusi olahraga dan kesehatan di bawah Kementerian Keuangan Italia, untuk meningkatkan standar keamanannya.Hasilnya, kapasitas Stadion Olimpico berkurangmenjadi 70 ribu penonton.Sementara, kursi plastiknya diperbarui, pagar plexiglas-nya dihilangkan, toiletnya diperbanyak, dan ruang ganti sertaruang medianya direnovasi menjadi lebih layak. Dua layar besar di ujung utara dan selatannya diganti dari layar analog menjadi layar LED demi menjadikan Olimpico masuk jajaran stadion kategori elit UEFA.
- Bung Karno Meminta Sukarelawan Berenang hingga Irian
Publik tanah air geger kala berita tenggelamnya KRI Matjan Tutul di Laut Arafuru tersiar. Seruan untuk membalas aksi militer Belanda pun meluas. Tidak terkecuali suara dari kalangan politisi sipil. Menteri Pertahanan dan Keamanan Jenderal Abdul Haris Nasution mesti bersabar mendengar ocehan mereka. “Pernah Menteri Luar Negeri Soebandrio mendesak untuk mentorpedo satu destroyer Belanda,” kenang Nasution dalam memoari Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama. Kata Soebandrio, “Itu cukup untuk menggerakan aksi diplomat yang berhasil.” Menurut Nasution, Angkatan Perang Indonesia saat itu belum waktunya melancarkan pukulan-pukulan militer. Jenderal asal Mandailing ini memperhitungkan Belanda akan memukul balik terhadap pangkalan militer Indonesia di Maluku dan Sulawesi. Tindakan gegabah demikian malah dapat mengacaukan persiapan invasi yang sedang dirancang pimpinan Operasi Mandala. Kendati demikian, desakan kalangan sipil untuk melancarkan ofensif rupanya makin kuat. Suasana itu sepertinya ikut memantik Presiden Sukarno untuk segera menghajar Belanda. Hingga sekali waktu, Bung Karno mengumpulkan sejumlah jenderal senior dan para menteri. Atmadji Sumarkidjo dalam Mission Accomplished: Misi Pendaratan Pasukan Khusus oleh Kapal Selam RI Tjandrasa mencatat pertemuan tersebut berlangsung pada 21 Februari 1962. Selain Bung Karno, turut hadir juga Menteri Pertama Ir. Djuanda Kartawidjaja, Menteri Luar Negeri Soebandrio, Menteri Penerangan Muhammad Yamin, Jenderal Nasution, Kepala Staf KOTI Mayjen Achmad Yani, dan Panglima Komando Mandala Mayjen Soeharto. Bung Karno langsung memberondong Soeharto dengan serangkaian pertanyaan. “Mulai kapan inflitrasi besar-besaran itu bisa dilanjutkan? Kita penuhi Irian dengan dengan gerilyawan kita!” seru Bung Karno. Soeharto mengatakan secepatnya misi itu akan dilakukan. Sambil menujuk ke peta, Soeharto menjelaskan agar pasukan harus dikonsentrasikan terlebih dahulu di pulau-pulau kecil di sekitar kepala burung. “Kalau begitu angkut segera sebanyak-banyaknya,” kata Sukarno. “Angkutannya, Pak,” jawab Soeharto sambil melirik ke arah Nasution. “Kita akan gunakan juga kapal-kapal pengangkut umum. Tidak usah tunggu yang masih didatangkan dari Rusia,” Djuanda memberi masukan. “Betul, Pak Djuanda, tapi pengorganisasian armada ini masih sedang berjalan,” Nasution menyanggah. Bung Karno menyetujui gagasan Djuanda agar selekas mungkin pasukan didaratkan ke Irian. “Kalau perlu, semua ramai-ramai akan aku perintahkan untuk berenang saja ke Irian,” ujar Bung Karno dengan penuh semangat. Nasution dalam memoarnya mengonfirmasi perkataan Sukarno, “Kalau perlu suruh sukarelawan ramai-ramai berenang ke Irian Barat.” Instruksi lisan itu menggambarkan betapa luasnya desakan pihak sipil untuk segera membebaskan Irian Barat dari kekuasaan Belanda. Nasution juga mencatat desakan Soebandrio agar paling lambat April 1962, Angkatan Perang Indonesia sudah menyerbu kedudukan Belanda di Papua. “Saya dan teman-teman, termasuk Panglima Soeharto tempo-tempo dikiritik sebagai terlalu berhati-hati berhadapan dengan kehendak sipil yang mendesak,” tutur Nasution. Soeharto sendiri dalam otobiografinya menyitir usulan Yamin dalam sidang kabinet supaya TNI menenggalamkan kapal Belanda. Itulah ihwal Soeharto dipanggil ke Istana dan mendapat order untuk menenggelamkan kapal Belanda. Semua itu semata-mata demi tujuan politik memperkuat posisi tawar Indonesia dalam medan diplomasi. Soeharto hanya bisa geleng-geleng kepala karena gagal paham menyelami isi pikiran kaum politisi sipil itu. “Aneh-aneh saja,” kenang Soeharto dalam otobiografinya Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya yang disusun Ramadhan K.H. Menanggapi tantangan menenggelamkan kapal Belanda, Soeharto minta jaminan apakah langkah tersebut akan berhasil memenangkan sengketa Irian Barat. Tapi Yamin bersikukuh menyatakan langkah itu untuk kepentingan politik. Soeharto menampiknya dengan menyinggung peran politisi yang sudah 11 tahun berunding namun selalu kandas. “Lalu mau merusak rencana yang dipercayakan kepada saya untuk melakukan operasi militer?” kata Soeharto. Untuk melancarkan serangan secepatnya, Soeharto mengatakan masih membutuhkan penambahan senjata, pesawat udara, dan perlengkapan perang yang memadai. Presiden Sukarno akhirnya bersedia memberikan waktu bagi Komando Mandala untuk persiapan operasi militer. Itulah sebabnya, Jenderal Nasution, seperti dicatat Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid 6 melakukan kontrak pembelian senjata ke Moskow, Uni Soviet untuk ketiga kalinya.
- Saksi Bisu Kerusuhan Mei 1998 di Glodok
Indonesia layaknya negara berkembang lainnya mengalami banyak gejolak dalam setiap perjalanannya. Gejolak yang sangat membekas dalam ingatan adalah kekerasan terorganisir pada 13—15 Mei 1998. Kekerasan ini membuat suasana berbagai sudut kota Jakarta mencekam. Kekerasan ini puncak dari peristiwa penembakan mahasiswa Universitas Trisakti kala itu. Seorang warga melintas ditengah kawasan pertokoan sekitar Glodok. Tampak sebelah kanan deretan toko yang sudah tutup. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tampak bangunan yang sudah tak berpenghuni dikawasan Glodok sudah dipenuhi oleh pepohonan. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kekerasan ini terutama sekali menyasar etnis Tionghoa. Toko-toko mereka dijarah hingga tak bersisa. Salah satu daerah yang mengalaminya adalah Glodok, Jakarta Barat.Kawasan ini penuh dengan berbagai toko milik etnis Tionghoa. Maklum karena memang pada masa lalu Glodok merupakan salah satu kawasan Pecinan terbesar di Batavia. Pada hari-hari berdarah itu, ribuan warga menyerbu Glodok untuk menjarah berbagai barang, dari komputer hingga kulkas. Salah satu bangunan yang terbengkalai di sekitar Glodok. (Fernando Randy/ Historia.id ). Wi Sen, salah satu pemilik toko pipa air yang kini sepi pembeli di kawasan sekitar Pintu Besar Selatan Glodok. (Fernando Randy/ Historia.id ). Berbagai bangunan yang sudah tak terpakai dikawasan sekitar Glodok. (Fernando Randy/ Historia.id ). Peristiwa itu sudah 23 tahun berlalu. Tapi sisa-sisa ingatan kelamnya masih tampak. Bila berjalan di sekitar Pintu Besar Selatan, akan sangat terasa bagaimana kerusuhan ini bukan hanya merenggut harta benda mereka tapi juga trauma yang tidak bisa hilang. “Saya masih Sekolah Dasar. Seingat saya , toko saya tidak dijarah, karena mungkin hanya jual pipa air,” ujar A Ling (31) , anak salah satu pemilik toko di Pintu Besar Selatan. Tapi tokonya tetap rusak karena penimpukan batu oleh massa tak dikenal. A Ling salah satu saksi kerusuhan Mei 1998 di Glodok. (Fernando Randy/ Historia.id ). Salah satu bangunan yang terbengkalai di sekitar Glodok. (Fernando Randy/ Historia.id ). Salah satu bangunan yang terbengkalai di sekitar Glodok. (Fernando Randy/ Historia.id ). Wi Sen salah satu pemilik toko di kawasan Pintu Besar Selatan. (Fernando Randy/ Historia.id ). Salah satu bangunan yang sudah tak berpenghuni di sekitar jalan Pintu Besar Selatan. (Fernando Randy/ Historia.id ). A Ling ingat toko tetangganya bernasib lebih nahas. “Yang dijarah ini toko di samping toko saya. Toko kaca. Tapi sekarang lagi tutup,” lanjut A Ling. Ada dua toko lagi di sampingnya. Tapi sudah tutup permanen.“Sudah lama ditinggalkan pemiliknya,” lanjutnya. Sementara itu, Hendra (35), salah seorang penyewa gedung di kawasan itu, mengatakan bahwa ada dua versi soal berbagai toko di sini . Ada yang dijarah, ada pula yang memang sudah dimakan usia. “Ya, bangunan tua dan juga faktor kerusuhan Mei 19 98 itu. Mungkin tidak buka lagi karena takut terjadi lagi. Tapi yang pasti di sini mencekam sekali,” katanya . Sebuah baju digantung di pintu teralis besi gedung yang tebengkalai dan sebuah Transjakarta yang melaju di jalan Pintu Besar Selatan. (Fernando Randy/ Historia.id ). Hartadhi ojek sepada yang menjadi saksi hidup kerusuhan Mei 1998 di Glodok dan suasana kawasan Pintu Besar Selatan. (Fernando Randy/ Historia.id ). Saat menelusuri kembali kawasan Pintu Besar Selatan, terlihat banyak sekali bangunan terbengkalai. Ada yang tergembok rapat, ada pula yang dibiarkan kosong. Mereka seakan ingin mengubur ingatan akan peristiwa kelam itu dalam-dalam. Salah satu bukti bahwa trauma tersebut tidak pernah sembuh dari warga etnis Tionghoa adalah mereka beramai-ramai memasang teralis besi di setiap jendela rumah dan tokonya untuk perlindungan diri. Teralis besi yang dipasang hampir di seluruh toko kawasan Glodok dan Kusdiono salah satu satpam di kawasan itu. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana kawasan Pintu Besar Selatan Glodok menjelang malam. (Fernando Randy/ Historia.id ). Heri, pedagang nasi goreng di kawasan pertokoan Glodok. (Fernando Randy/ Historia.id ). Ketika memasuki malam,situasi kelam kian terasa di sepanjang lorong itu. Tembok yang retak, suasana sunyi, dan bangunan tak berpenghuni. Itu semua tentu saja akan tetap menjadi saksi bisu peristiwa kekerasan berdarah terorganisir pada Mei 1998 sekaligus menjadi pengingat bahwa peristiwa yang memakan korban hampir ribuan orang tersebut tentu saja tidak boleh terulang kembali di negeri ini. Salah satu bangunan yang terbengkalai di sekitar Glodok. (Fernando Randy/ Historia.id ). Salah satu bangunan yang terbengkalai di sekitar Glodok. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana sunyi kawasan Glodok di malam hari. (Fernando Randy/ Historia.id ).
- Mengurai Akar Kejahatan Korupsi
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini tengah menjadi perhatian publik. Kendati menuai kontrovesi karena diduga hendak mendepak 75 pegawainya melalui Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), KPK justru memberhentikan 51 di antara pegawai itu mulai 1 November 2021. Hal ini bertentangan dengan amanat Presiden Joko Widodo bahwa TWK hendaknya tak jadi alasan pemecatan. Upaya pemberantas korupsi di Indonesia selalu mengahapi ujian. Beragam badan anti rasuah berdiri namun akhirnya runtuh juga. Korupsi menjadi momok yang terus menghantui sejak republik berdiri. Bagaimana korupsi bermula dan bagaimana pula upaya untuk memberantasnya? Pegiat anti-korupsi Sely Martini dalam Dialog Sejarah “Jatuh Bangun Pemberantasan Korupsi di Indonesia” di saluran Youtube dan Facebook Historia , Jumat, 28 Mei 2021, menyebut bahwa korupsi termasuk dalam tindak kejahatan purba, sama seperti mencuri. Setidaknya ada tiga penyebab seseorang melakukan tindak korupsi. Pertama, adanya kebutuhan atau by need. Seseorang mengambil keuntungan dari penyalahgunaan wewenang karena desakan ekonomi. Hal ini menjadi alasan pemerintah memunculkan ide seperti misalnya menaikan gaji aparat sipil negara agar tidak mengambil keuntungan lagi. “Namun, kita bisa lihat itu sekarang ketika (telah dilakukan) birocratic reform , gaji ini naik, ternyata mereka masih saja corrupt behavior -nya itu ada,” ujar Sely. Hal itu menerangan bahwa ada penyebab lain, yakni keserakahan atau by greed . Perilaku serakah ini jika telah masuk ke dalam sistem, akan menyebabkan tindak korupsi yang terencana dan tidak hanya dilakukan satu orang atau tindak korupsi by design, yang membuat korupsi ini bisa disebut sebagai kejahatan luar biasa. Menyambung Sely, Koordinator ICW Adnan Topan Husodo menjelaskan bahwa korupsi merupakan persoalan multidimensi yang tidak dapat dilihat sebagai masalah yang hanya disebabkan oleh satu hal saja. “Misalnya kalau dalam konteks Indonesia yang relijius, ada yang mengatakan karena masyarakatnya, politisinya, pejabatnya imannya kurang. Bukan itu sebenarnya. Bisa jadi itu masalah, akan tetapi karena korupsi itu persoalan multidimensi, maka cara kita melihat korupsi juga harus dengan multiperspektif,” terang Adnan. Dari sudut pandang politik, jelas Adnan, korupsi terkait dengan bagaimana kekuasaan dikelola. Kekuasaan yang dikelola dengan buruk dan melahirkan kekuasaan yang lebih besar, maka peluang korupsi akan muncul. Sementara dari sudut pandang administrasi publik, korupsi juga menunjukan bahwa pengaturan dan pengelolaan administrasi publik di sebuah negara itu buruk. Hal ini bisa dilihat dari standar pelayanan publik, bagaimana birokrasi dikelola hingga bagaimana pegawai digaji. Dari sudut pandang hukum, korupsi bisa dilihat dari bagaimana hukum suatu negara bekerja atau tidak. Sedangkan dari sudut pandang sosiologi, korupsi juga dapat ditinjau dari bagaimana korupsi itu sendiri telah menjadi budaya. “Kalau ditanya bagaimana cara menyelesaikannya, tentu harus ada upaya yang paralel, yang bekerja sama untuk menangani masalah ini,” kata Adnan. Adnan menyebut bahwa sejarah pemberantasan korupsi sejak Indonesia berdiri hingga pasca-Reformasi mengalami pengulangan-pengulangan yang tidak perlu. Pemberantasan korupsi di Indonesia tidak pernah mengalami lompatan yang bisa mengentaskan Indonesia dari kejahatan luar biasa ini. Bahkan, lanjutnya, korupsi sekarang disertai dengan magnitude yang semakin besar, mulai dari modus operandinya, aktor yang terlibat, hingga setting politik baru yang terdesentralisasi. “Ini semua sebenarnya merupakan fitur-fitur baru yang belum kita lihat pada problem korupsi yang terjadi pada era Orde Lama, misalnya, atau bahkan Orde Baru yang cenderung tersentralisasi korupsinya,” ungkap Adnan. Adnan menegaskan bahwa karena korupsi merupakan masalah mutidimensi, maka pendekatan pemberantas korupsi tidak bisa hanya menggunakan KPK. KPK sendiri didirikan karena problem korupsi berangkat dari atas yang kemudian menyebar ke berbagai sektor di bawahnya. “Oleh karena itu yang di atas harus dibereskan. Dengan cara apa? Dengan cara mendirikan badan anti korupsi yang independen. Yang nggak bisa diatur oleh pemerintah. Karena kalau diatur, akan jadi polisi, akan jadi jaksa. Dua lembaga yang sudah ada sejak lama tapi dianggap tidak berhasil dan tidak berdaya dalam menangani korupsi,” jelas Adnan. Di luar KPK, Adnan menekankan, perlu adanya upaya-upaya lain. Upaya pemberantasan korupsi ini harus datang dari pemerintah yang berkuasa. Sayangnya, upaya pemeberantas korupsi di Indonesia selama ini justru bottom up atau datang dari masyarakat karena absennya kemauan politik dari negara. Ketika Ode Baru jatuh, momentum upaya pemberantasan korupsi mencapai puncaknya. Namun, momentum itu kehilangan konteks karena terjadi konsolidasi politik yang melawan kerja-kerja pemberantasan korupsi. Ketika KPK berdiri dan diberi independensi untuk memberantas korupsi di tingkat high profile corruption dan memasuki ranah penegakan hukum, ketika itu pula musuh baru muncul. Hal ini, lanjut Adnan, memang tidak bisa dihindari dan menjadi masalah pula di badan-badan anti korupsi independen di berbagai negara. “Sudut pandang melihat KPK itu juga harus diletakkan dalam bagaimana struktur ekonomi politiknya memberikan dukungan atau tidak. Tanpa itu, kalau hanya dengan dukungan masyarakat saja, maka ya kita bisa melihat hari ini,” terangnya. Kepercayaan terhadap KPK sebenarnya tinggi dan telah mendapat respect dari dunia. Namun, Adnan menambahkan, jika memang tidak ada kemauan politik dari pemerintah berkuasa dan hanya mengandalkan dukungan masyarakat, pada akhirnya KPK akan lumpuh
- Sengkarut Drama Emma dalam Empat Musim
AIR muka Nona Emma Woodhouse (diperankan Anya Taylor-Joy) begitu tenang pada suatu hari di musim gugur. Ia duduk dengan tubuh tegap sempurna di kursi terdepan sebuah gereja di Highbury, Inggris, di sisi ayahnya, Tuan Henry Woodhouse (Bill Nighy). Namun, batinnya tengah dirundung mendung. Pasalnya, pengasuhnya sedari kecil, Nona Taylor (Gemma Whelan), akan menjalani pemberkatan pernikahan di altar gereja dengan Tuan Weston (Rupert Graves). Untung kesedihan Emma yang ditinggal Nona Taylor tak berlangsung lama. Di musim yang sama, gadis jelita, pintar, dan kaya itu mendapat teman sekaligus pengasuh baru, Nona Harriet Smith (Mia Goth). Kepada Harrietlah Emma berbagi kesah dan keceriaan tentang kehidupan sosial dan asmara kalangan elit lingkungannya karena ibunya sudah meninggal sejak Emma masih kecil. Emma yang tinggal di wisma besar bergaya “Georgian Era” (1714-1837) itu gemar jadi “mak comblang” bagi banyak orang-orang di sekitarnya. Ketika Harriet hendak dilamar petani muda Robert Martin (Connor Swindells), Emma justru lebih berkehendak Harriet dijodohkan dengan pendeta Philip Elton (Josh O’Connor). Dia menganggap Tuan Martin tak setara kelas sosialnya dengan Harriet. Tetapi kegemaran Emma mencomblangi banyak orang acap memancing cibiran Tuan George Knightley (Johnny Flynn), teman masa kecilnya sekaligus kakak dari John Knightley, kakak ipar Emma. George menganggap Emma menghalang-halangi niat Martin yang kasmaran dengan Harriet hanya karena strata sosial. Adegan Harriet (kiri) menolak lamaran petani muda Robert Martin (Focus Features) Emma sendiri mengaku terpesona dengan Frank Churchill (Callum Turner), putra Tuan Weston dari istri pertamanya. Frank diadopsi paman dari garis ibunya dan dijanjikan akan jadi pewaris tanah keluarga Churchill di Enscombe. Sengkarut silsilah dan status sosial pada adegan-adegan itu hanyalah satu dari empat babak yang digambarkan dalam empat musim oleh sineas Autumn de Wilde dalam mengarsiteki drama-komedi bertajuk Emma . Film ini diadaptasi dari novel klasik berjudul serupa karya Jane Austen. Cerita kemudian bergulir ke musim dingin ketika Emma akhirnya bertemu Frank yang sudah lama ia dambakan. Tetapi Emma seperti mendapat saingan dari Nona Jane Fairfax (Amber Anderson), keponakan dari tetangga Emma, Nyonya Bates, yang baru kembali dari London. Jane jadi primadona baru di lingkungan Highbury menggantikan Emma. Kekesalan Emma juga bertambah karena gagal menjodohkan Harriet dengan pendeta Elton. Perhatian pendeta Elton kepada Harriet nyatanya hanya topeng demi bisa sering bertemu Emma. Pendeta Elton yang menyatakan cintanya pada Emma bertepuk sebelah tangan, hingga membuat sang pendeta memilih pergi dari Highbury. Emma yang mulai jatuh hati pada George Knightley (Focus Features) Di musim dingin itu juga Emma diterpa dilema. Di satu sisi ia masih mendambakan Frank tetapi di sisi lain perlahan ia mulai kepincut George. Di musim semi, klimaksnya terjadi. Frank ternyata sudah bertunangan dengan Jane di Weymouth. Mereka menjalin asmara secara “ backstreet ” karena tak disetujui keluarga Churchill dan karena perbedaan strata sosial di antara keduanya. Emma yang ingin berpaling hati pada George kembali sial lantaran terbentur Harriet yang juga jatuh hati pada George. Bagaimana Emma keluar dari sengkarut drama berkalang komedi dan tradisi-tradisi klasik Inggris itu di musim panas? Akan lebih seru jika Anda saksikan sendiri di aplikasi daring Mola TV . Otentik dan Humanis Emma jadi film layar lebar perdana De Wilde dan diracik dengan tempo lamban. De Wilde memilih meracik adaptasi novel ternama itu dengan versi klasik, tak seperti delapan film televisi ataupun tiga film layar lebar terdahulu yang cenderung digarap dengan gaya modern. Beberapa laku jenaka karakter-karakternya pun dibuat ringan, humanis, dan tak melenceng dari garis besar bahasa tubuh, tradisi, dan budaya Inggris di masa peralihan abad ke-18 menuju abad ke-19 itu. Music scoring yang komikal juga acap mengawal sejumlah kejenakaan ringan itu. Sementara, musik klasik elegan mengiringi adegan-adegan pesta dansa. Kolase kediaman keluarga Woodhouse yang kaya warna (Focus Features) De Wilde, yang kondang sebagai fotografer andal c um sutradara klip musik, juga membuktikan dirinya bisa memanjakan mata penonton dengan tone film yang berwarna. Tidak hanya piawai dalam menampilkan latar belakang kawasan selatan Inggris dengan lahan-lahan pertanian hijau nan luas, De Wilde juga menyuguhkan banyak warna seperti yang tergambar dalam kostum-kostum para aktornya dan wisma besar milik keluarga Woodhouse yang dinding-dindingnya melekat wallpaper bercorak warna beragam khas era Georgia. Properti dan wardrobe cantik dan elegan sesuai dengan masanya menambah nilai plus yang membuat penonton hanyut merasakan keotentikan era klasik Inggris itu, mengalahkan jenuh dari lambannya tempo filmnya. “Seseorang bertanya apakah saya memodernisasi cerita (novel Jane Austen). Saya bilang tidak. Saya membuatnya lebih humanis. Juga terdapat mispersepsi bahwa di masa itu semua warna (interior rumah) cokelat dan kuning. (Padahal) Sejatinya dengan (ragam) warnalah orang-orang di masa itu menunjukkan kekayaannya,” ujar De Wilde, sebagaimana dilansir Elle , 10 Maret 2020. Humanis jadi kata kunci yang ditonjolkan De Wilde. Detail-detail yang nyaris sempurna secara visual dalam Emma ditambah visi humanis dianggap para kritikus memberi energi baru bagi adaptasi novel klasik itu. Visi humanis disajikan De Wilde kala menonjolkan cinta dan kasih sayangnya terhadap Harriet sebagai sahabat dan menjadi kekuatan tersendiri yang sering diremehkan kaum pria di masa itu. “ Emma memang bukan contoh terbaik (karya) Austen yang diadaptasi ke layar lebar maupun layar kaca. Filmnya sendiri digarap dengan latar belakang yang indah dan alur cerita yang menghanyutkan secara konsisten. Ya, ceritanya memang familiar tapi pesona dalam filmnya sangat terasa dalam adegan-adegan kunci yang visinya diperkuat sutradara,” tulis kritikus James Berardinelli di kolom Reel Views , 14 April 2020. Satir dan Isu Gender Jane Austen yang hidup di era Georgian seringkali menyelipkan satir terhadap realita sosial kaum perempuan Inggris di berbagai kelas. Emma yang dirilis pada 1815 jadi salah satu karyanya yang cukup menonjol dalam menyajikan satir itu berbalut komedi ringan. Satir-satir itu juga ditampilkan De Wilde dalam filmnya sesuai novel Austen. Namun kemudian De Wilde menambah visi humanis dalam persahabatan Emma dan Harriet sebagai penyambung semangat Austen tentang isu gender untuk disajikan kepada penonton di masa modern. “Saya tidak ingin memodernkan ceritanya tapi menonjolkan hal-hal yang saya pikir jadi aspek humanis untuk penonton modern. Saya merasa persahabatan antara Emma dan Harriet bisa dibuat seperti cerita cinta. Saya merasa kekuatan yang muncul dari persahabatan sejati itu sering dan sangat disepelekan kaum pria,” sambung De Wilde. Sutradara Autumn de Wilde (kedua dari kanan) di antara para aktor Emma dengan kostum otentik Era Georgian (Focus Features) Selain menambahkan tema persahabatan itu, De Wilde tetap “setia” menyajikan banyak satir sebagaimana yang dituliskan Austen dalam novelnya terkait isu gender di kalangan perempuan pada era Georgian dan era-era setelahnya. Era di mana kaum pria masih sangat mendominasi segala sendi kehidupan. Di masa itu masih sangat langka perempuan yang punya nama di bidang penjelajahan, ilmu pengetahuan, ekonomi, apalagi politik. Masa di mana kehidupan kaum perempuan lazimnya masih bergantung pada kaum pria, baik itu ayah, kakak-adik laki-laki, ataupun suaminya saat sudah menikah. “Di abad ke-18, kaum pria memegang semua kekuasaan dan kejayaan. Hukum ditulis oleh dan dibuat untuk kaum pria. Semua anggota parlemen, aparat hukum, dan segenap birokrasi di pemerintahan adalah laki-laki. Hak bagi perempuan yang menikah seperti kertas kosong. Perempuan terus-menerus diharapkan tetap berada di arena domestik, untuk melayani pasangannya, merawat anak-anak, dan mengurus rumah tangga,” tulis Mike Rendell dalam Trailblazing Women of the Georgian Era: The Eighteenth-Century Struggle for Female Success in a Man’s World. Selain angkuh dan cerdas, Emma Woodhouse digambarkan sebagai sosok berbakat bermain piano dan melukis (Focus Features) Kalaupun perempuan dari kalangan atas dan terhormat disediakan pendidikan, itupun sekadar agar membuatnya layak jadi pilihan laki-laki untuk dinikahi dan mengurus rumah tangga dengan tata cara yang sesuai kelas sosial. Perempuan di era Georgian, lanjut Rendell, sangat jarang digambarkan punya pendidikan tinggi dalam bahasa asing atau matematika. Pun langka terdapat perempuan yang gemar membaca suratkabar untuk memperbarui wawasan tentang perkembangan politik dan ekonomi. Hal akademik paling jamak yang bisa diterima kaum perempuan di periode itu adalah membaca dan menulis. Maka tak jarang kaum perempuan menyuarakan kegelisahan mereka di bawah dominasi kaum pria lewat karya-karya sastra, baik novel maupun puisi. “Butuh waktu yang cukup lama bagi penulis dan pemikir perempuan untuk bersuara tentang ketidakadikan dalam kehidupan sosial dan masih saja butuh waktu yang lama lagi bagi kaum pria untuk merespon terhadap tekanan akan perubahan. Bukan berarti suara perempuan tak pernah terdengar. Hanya saja suara mereka tenggelam oleh hiruk-pikuk pencapaian kaum pria yang mendominasi era Georgian, seperti kemenangan atas Prancis dan industrialisasi di seantero Inggris,” lanjutnya. Potret Jane Austen dalam lukisan karya kakaknya, Cassandra Elizabeth Austen ( npg.org.uk/ Memoir of Jane Austen ) Dalam hal pernikahan pun lazimnya kaum perempuan yang jadi pilihan. Tingkat pendidikan menentukan potensi lebih si perempuan mendapatkan calon suami dengan kelas sosial yang lebih terhormat. Ironisnya setelah menikah semua hak dan harta si perempuan tetap akan jadi milik si suami. Faktor ini pula yang membuat Jane Austen memutuskan tidak menikah hingga ia wafat pada 18 Juli 1817 di usia 41 tahun. Sebagaimana yang diungkapkan di atas, Austen pun menyuarakan ketidakadilan dalam bentuk sastra berupa novel-novel satir: Northanger Abbey (1803), Sense and Sensibility (1811), Pride and Prejudice (1813), Mansfield Park (1814), dan Emma (1816). Emma menjadi karya terakhir yang diterbitkan semasa ia masih hidup dan jadi karya paling dikagumi khalayak sastra Inggris. Karya yang menyuarakan isu gender lewat satir dari tokoh-tokoh dalam Emma itu nyatanya sangat disukai. Soal bakat yang dimiliki karakter Emma dan Jane Fairfax, misalnya. Keduanya digambarkan sebagai karakter cerdas, pandai bermain piano, bernyanyi, hingga melukis. Karakter Emma juga dibuat sebagai “penguasa” rumah keluarga Woodhouse, mengingat Isabella kakaknya dibawa tinggal suaminya di London, sedangkan ayahnya sangat pasif dalam aktivitas sosial karena mengidap hipokondria (kondisi psikologis berlebihan tentang kondisi kesehatan). Harriet juga “dididik” Emma untuk jadi perempuan berpendidikan formal agar bisa mendapat suami terhormat, kendati asal-usul Harriet masih misterius apakah ia anak dari golongan atas, menengah, atau proletar. Austen juga membuat karakter Emma jadi primadona yang punya kebebasan memilih calon suami, berkebalikan dengan kenyataan pada era itu, di mana perempuan hanya jadi pilihan kaum pria. Walau pada awalnya Austen menulis karyanya secara anonim, toh namanya perlahan mulai dikenal dan jadi rahasia umum di kalangan aristokrat. Putra mahkota Inggris yang kelak menjadi Raja George IV (berkuasa 1820-1830) bahkan mengagumi Emma dan karya-karya Austen lainnya. “Suatu ketika ia (Austen) berkunjung ke London, putra mahkota mengundangnya melalui pustakawannya, James Stanier Clarke, untuk melihat-lihat perpustakaannya di Carlton House. Sang pustakawan menyebut bahwa putra mahkota mengagumi novel-novelnya dan menyampaikan bahwa jika Nona Austen punya ide akan novel berikutnya, ia dibebaskan untuk mendedikasikannya kepada sang pangeran,” tulis Ian Littlewood dalam Jane Austen: Critical Assessments. Deskripsi Film: Judul: Emma| Sutradara: Autumn de Wilde | Produser: Tim Bevan, Eric Fellner, Graham Broadbent, Pete Czernin | Pemain: Anya Taylor-Joy, Johnny Flynn, Mia Goth, Bill Nighy, Callum Turner, Amber Anderson, Josh O’Connor, Connor Swindells | Produksi: Perfect World Pictures, Working Title Films, Blueprint Pictures | Distributor: Focus Features, Universal Pictures | Genre: Drama-Komedi | Durasi: 124 menit | Rilis: 14 Februari 2020, Mola TV
- Seragam Batik Tempur
WARGANET, utamanya para penggila K-Pop, dibuat heboh oleh unggahan dua personil boyband Super Junior, Park Jeong-su alias Leeteuk dan Kim Jong-woon alias Yesung, di laman Instagram masing-masing. Keduanya pamer baju batik. Batik motif Garuda Kujang Kencana yang mereka kenakan merupakan hasil desain Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamila atau akrab disapa Kang Emil. “Thank you KPop stars @xxteukxx and @yesung1106 of @superjunior for wearing west java batik @batikkomar that i designed. You are now officially ready for ‘pergi kondangan’ or ‘ikut pilkada’ in Indonesia. Khamsahamnida from your Hyung. Buat gadis2 Indonesia, deng a n ini mereka terlihat lebih melokal dan tentunya lebih terjangkau. Mari semangat jadikan batik Indonesia mendunia. Saya menggunakannya untuk diplomasi budaya,” tulis Kang Emil lewat unggahan ulang foto keduanya di akun Instagram @ridwankamil , Selasa (25/5/2021). Batik lazim dikenakan masyarakat Indonesia dalam acara hajatan keluarga maupun hajatan pemerintah. Batik juga kerap jadi buah tangan para pemimpin Indonesia untuk tamu kehormatan mereka. Presiden Afrika Selatan Nelson Rolihlahla Mandela dan Presiden Amerika Serikat William Jefferson ‘Bill’ Clinton di antara tamu kehormatan yang pernah mendapat hadiah batik. Tetapi yang jarang diketahui khalayak, kain batik juga pernah dijadikan seragam tempur sepasukan kombatan Kiblik di Jawa Timur. Baca juga: Batik ala Bung Karno Batik yang dikenakan Yesung & Leeteuk (atas) serta Bill Clinton dan Nelson Mandela (bawah) (@yesung1106/@xxteukxx/ agenciabrasil.gov.br/@Kemlu_RI ) Kompromi Bung Tomo Selepas Surabaya jatuh ke tangan Sekutu pada 12 November 1945, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Divisi VII/Untung Surapati yang berdiam di Malang ikut bersiaga satu. Panglima Divisi VII Jenderal Mayor Imam Soedja’i mengonsolidasikan semua kekuatan tempur di bawahnya, termasuk satuan TKR Oedara (TKRO) Malang yang berbasis di Pangkalan Udara (Lanud) Bugis. Hal itu membuat TKRO Malang yang dikomandani Lettu Imam Soepeno dan Lettu Hanandjoeddin bingung. Pasalnya, statusnya masih abu-abu. Di satu sisi, para anggotanya yang sebagian besar kru teknik pesawat merasa bagian dari TKR Djawatan Udara (kini TNI AU). Di sisi lain, secara administratif eksistensi mereka di bawah Divisi VII. “Bahkan, pihak Divisi VII menghendaki TKR Oedara dilebur saja ke dalam Divisi VII. Alasannya karena ketiadaan biaya. Lagi pula dianggap belum adanya peraturan pemerintah yang mengaturnya,” tulis Haril Andersen dalam Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI . Baca juga: Tarik-Ulur Lanud Bugis Antara Yogya dan Malang Hanandjoeddin saat sudah menerima pangkat AURI (Repro: Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI ) Jenderal Imam Soedja’i sebelumnya juga sudah memerintahkan para personil TKRO Malang untuk masuk Sekolah Kadet Perwira. Para personil yang hanya berkutat dengan mesin-mesin pesawat peninggalan Jepang itu diwajibkan terampil dalam menggunakan beragam senjata dan strategi tempur demi menyokong para kombatan Surabaya yang masih bertahan di pinggiran kota. Alhasil, TKRO Malang di ambang pembubaran dan nyaris dilikuidasi jika Sutomo atau Bung Tomo tidak datang “mengintervensi”. Komandan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia itu bertandang ke Lanud Bugis pada akhir November 1945 setelah mendengar kekisruhan status TKRO. “Kunjungan itu sekaligus konsolidasi dengan cabang BPRI Kota Malang, TKR, dan organ-organ perjuangan lainnya. Bung Tomo figur yang disegani semua pejuang Jawa Timur, termasuk petinggi TKR. Ternyata Ketua BPRI ini menyambut keberadaan TKR Oedara dengan antusias: ‘Tidak ada yang boleh membubarkannya!’” imbuh Haril. Baca juga: Melarikan Pesawat dari Malang ke Yogya Mengutip Sedjarah Pertumbuhan AURI , Bung Tomo kemudian menginisiasi pertemuan dengan pimpinan TKR Divisi VII dan TKRO Malang untuk mengkompromikan eksistensi TKR Oedara Malang di Jalan Dr. Soetjipto No. 1, Malang. Musyawarah tersebut kemudian menelurkan lima keputusan. “ Pertama , TKRO Malang wajib dipertahankan. Kedua , TKRO Malang tetap di tangan Imam Soepeno dengan markasnya di Jalan Dempo. Ketiga , secara bergilir anggota-anggotanya ditugaskan ke Front Surabaya setelah dilatih satu bulan. Keempat , setiap hari anggota TKRO mendapat jaminan makan dari dapur umum BPRI di Jalan Welirang, Malang. Kelima , jaminan yang lain akan diusahakan bersama,” tulis buku itu. Alhasil, Lettu Imam Soepeno dan Lettu Hanandjoeddin alias Bung Anan mengatur jadwal ratusan anak buahnya untuk tugas di medan tempur setelah mereka dilatih pada medio Desember 1945-Januari 1946. Tugas itu disambil dengan tugas rutin mereka memperbaiki pesawat di pangkalan. Pasalnya, pada Januari dan Februari 1946 mulai banyak permintaan bantuan pesawat dari kolega mereka di Lanud Maguwo, Yogyakarta dan Lanud Panasan, Solo. Alutsista Pesawat Dibarter Batik Upaya KSAU Komodor Suryadi Suryadarma maupun utusannya, Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, untuk minta sumbangan pesawat sejak awal tahun 1946 selalu ditolak Panglima Divisi VII Jenderal Imam Soedja’i. Adapun satu pesawat pemburu Tachikawa Ki-55 “Cukiu” yang berhasil dibawa Adisutjipto untuk Lanud Maguwo pada 17 Februari 1946 adalah hasil “main mata” Imam Soepeno dan Anan di belakang panglima. Pada awal Maret 1946, giliran Komandan Lanud Panasan (kini Lanud Adi Soemarmo) Opsir Muda Udara (OMU) I Soejono yang datang ke Lanud Bugis. Soejono langsung menemui Lettu Anan untuk minta bantuan. Sebagaimana di Maguwo, para kadet dan penerbang di Panasan pun sangat kekurangan pesawat dan berharap mendapatkannya dari Lanud Bugis yang terdapat banyak pesawat bekas Jepang meski harus diperbaiki terlebih dulu. “Kalau bisa, kita barter saja. Kami punya banyak bahan kain batik buat pakaian. Bagaimana Bung?” tanya Soejono, dikutip Haril. Anan yang insyaf bahwa dia akan kembali berurusan dengan Divisi VII. Setelah berpikir masak-masak, bersedia “pasang badan”. “Boleh juga. Kami siapkan dulu pesawatnya. Bung Jono bawa saja kain batiknya ke mari!” kata Anan. Baca juga: Panglima Sudirman Diterbangkan ke Bali Ilustrasi kru teknik pangkalan udara tengah menggarap pesawat bekas Jepang (Subdisjarah Dispenau/Repro: Sang Elang ) Dalam waktu beberapa hari, Anan dan anak buahnya menyiapkan tiga unit pesawat, yakni pesawat latih Yokosuka K5Y “Cureng”, pesawat pemburu Nakajima Ki-27 “Nishikoren”, dan Tachikawa Ki-55 “Cukiu”. Pihak Panasan pun memenuhi janjinya pada 5 Maret 1946. “Sebagai imbalannya Pangkalan Udara Panasan mengirimkan sebuah team kesenian dan memberikan sejumlah kain batik. Pelaksanaan pengangkutan pesawat-pesawat tersebut dilakukan dengan menggunakan kereta api yang dikawal Pasukan Pertahanan Pangkalan di bawah pimpinan Sersan Mayor Udara Koesno. Setibanya di Kota Surakarta mendapat sambutan dari warga Surakarta dengan gembira dan penuh rasa bangga,” tulis buku Lintasan Sejarah Pangkalan Udara Adi Soemarmo . Baca juga: Tragedi Dakota dalam Hari Bakti Angkatan Udara Sementara, semua kru di Lanud Bugis mendapat jatah kain batik. Batik berwarna hitam kecoklatan bermotif seperti kelelawar itu jadi barang mewah buat para kru. “Maklum di zaman revolusi itu sangat jarang prajurit menemukan hal demikian. Para anggota teknik udara pun kompak membuat baju dari kain batik itu. Saat tiba giliran mereka ke front Surabaya, mereka kompak menggunakan baju batik sebagai seragam tempur. Kehadiran satu kompi pasukan teknik berseragam batik ini menarik perhatian pejuang lainnya. Para pejuang Surabaya menjulukinya pasukan ‘Lowo’ atau pasukan kelelawar karena baju batiknya menyerupai gambar kelelawar,” sambung Haril. Pasukan Pertahanan Pangkalan Bugis di medan tempur (Koleksi Haril M. Andersen/Dok. Pribadi H. AS. Hanandjoeddin) Saat itu, TKRO Malang punya dua kompi yang berisi kru mekanik, navigasi, hingga elektronik. Mereka bukan kombatan. “Pasukan Pertahanan Teknik dengan Komandan Pasukan AS Hanandjoeddin ini memiliki 550 personil atau sebanyak 2 kompi pasukan. Waktu itu 1 kompi terdiri dari 4 seksi. Sedangkan 1 seksi beranggotakan 60 personil atau 4 regu (1 regu=15 orang personil),” ungkap Devan Firmansyah dan Febby Soesilo dalam Sejarah Daerah Malang Timur. Setelah ada kesepakatan antara Bung Tomo dan Divisi VII, mereka digembleng Kid Darlim di Ksatrian Kartanegara Singosari, Malang. Setelah itu mereka digilir ke front Surabaya. Begitu satu kompi lain dari TKRO Malang mendapat giliran tempur, pasukan berseragam batik itu bertugas sebagai kombatan penyokong dalam serangan-serangan gerilya terhadap pos-pos Sekutu di pinggiran kota Surabaya. Salah satunya ke Lanud Morokrembangan untuk memecah konsentrasi Sekutu yang sudah menguasai Surabaya. “Meski haya serangan-serangan kecil, aksi pasukan itu membuat repot pasuakn Inggris dan Belanda. Kehadian pasukan ‘Lowo’ dari Malang di front Surabaya ini cukup berarti menguatkan moril pejuang Surabaya di lapangan. Walau Surabaya masih dalam genggaman Sekutu, serangan-serangan kecil itu menunjukkan bahwa TKR dan pejuang Surabaya teryata masih ada. Membuktikan perlawanan rakyat Jawa Timur tidak mudah dipatahkan sekalipun Kota Surabaya telah luluh lantak,” tandas Haril. Baca juga: Gempur-menggempur di Malang Timur
- Ketika Kapal Selam RI Diintai Armada VII AS
Pangkalan Laut Vladivostok, 8 Agustus 1959. Hari baru saja memasuki malam. Jarum jam menunjuk ke angka tujuh, kala dua kapal selam jenis Whiskey (W) bergerak perlahan meninggalkan perairan Uni Sovyet menuju sebuah negara kepulauan di Timur Jauh. Dua kapal selam yang masih mempergunakan nomor lambung milik Angkatan Laut Uni Sovyet itu (S-79 dan S-91) sejatinya sudah dimiliki oleh Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). “Pengiriman S-79 dan S-91 merupakan salah satu bentuk realisasi dari janji Perdana Menteri Nikita Khrushchev kepada Presiden Sukarno setahun sebelumnya,” ungkap sejarawan militer Uni Sovyet Alexander Okorokov dalam Тайные войны СССР (Perang Rahasia Uni Sovyet). Misi ke Indonesia itu melibatkan sejumlah awak kapal selam berkebangsaan Rusia pimpinan dua perwira menengah: Kapten Tingkat II S.M. Susoev untuk S-79 dan Kapten Tingkat III F.S. Volovik untuk S-91. Ikut bersama mereka sejumlah calon awak kapal selam ALRI yang dipimpin oleh dua perwira menengah ALRI. “Mereka adalah Mayor J.Koesno dan Mayor R.P. Poernomo. Kelak mereka menjadi komandan di Kapal Selam RI Tjakra dan Kalal Selam RI Nanggala,” ungkap Laksamana Muda (Purn) I Nyoman Suharta. Proses pengalihan semua kapal-kapal perang (termasuk kapal selam) milik Uni Sovyet kepada ALRI sesungguhnya sudah berlangsung sejak awal Mei 1959. Menurut Okorokov, rencana operasi itu dipersiapkan dengan cermat dan ketat di bawah supervisi seorang perwira menengah bernama Kapten Tingkat I P.Vosmak. Semua kapal perang dilengkapi dengan persenjataan artileri paling canggih saat itu. “Beberapa saat sebelum kapal-kapal perang itu diberangkatkan ke Indonesia, Angkatan Laut Uni Sovyet melakukan perbaikan besar-besaran di Dalzavod,” ungkap dosen sejarah di Akademi Ilmu Militer Rusia itu. Pada 25 Agustus 1959, dua kapal selam itu mulai memasuki Laut Jawa. Beberapa jam sebelum memasuki Pangkalan Laut Surabaya, terlihat sebuah pesawat Neptune milik Angkatan Laut Amerika Serikat mengintai pergerakan mereka dari ketinggian sedang. “Pengawalan” itu berlangsung hingga kapal-kapal selam tersebut memasuki Pangkalan Laut Dermaga Ujung, Surabaya. Pengintaian intens kembali dilancarkan oleh Armada ke-7 Angkatan Laut Amerika Serikat saat Uni Sovyet mengirimkan lagi 4 kapal selam jenis W ke Indonesia pada 30 Oktober 1961. Dikisahkan oleh Okorokov, bagaimana rombongan kapal selam itu terus diawasi sejak Kepulauan Okinawa (Jepang) oleh pesawat-pesawat patroli laut AL Amerika Serikat. “Mereka melakukan pengawasan sampai rombongan kapal selam Whiskey memasuki Selat Makassar,”ungkap Okorokov. Namun situasi paling menegangkan justru terjadi di detik-detik terakhir konflik Indonesia-Belanda. Ketika itu Operasi Djajawidjaja (rencana menginvasi Irian Barat secara besar-besaran) akan segera diluncurkan. Enam kapal selam pun diberangkatkan ke Bitung (Sulawesi Utara) sebagai persiapan menerobos perairan Irian Barat. Persoalan muncul ketika ALRI tidak memiliki kru lagi untuk mengisi 6 kapal selam itu. Maka untuk mengantisipasi situasi tersebut, pemerintah RI memakai jasa ratusan kru kapal selam Angkatan Laut Uni Soviet. Mereka ada bukan saja sebagai instruktur, namun juga sebagai tenaga tempur aktif . “Saya berangkat (ke Irian) bersama ratusan kru Uni Sovyet untuk bertempur di Irian Barat,” Kolonel (Purn) F.X. Soeyatno, salah satu eks anggota Korps Hiu Kencana ALRI. Salah satu kapal selam, kata Okorokov, mendapat misi untuk menerobos Teluk Doreri. Menurut salah seorang sukarelawan Rusia bernama G.M. Melkov, penerobosan itu memiliki tujuan akhir menghancurkan dermaga di kota Manokwari (yang merupakan tempat mengisi bahan bakar kapal-kapal perang Belanda) dengan torpedo. “Persoalannya dermaga di teluk itu dijaga oleh sejumlah kapal anti kapal selam,” ungkap Melkov. Satu-satunya cara untuk mengantisipasi masalah tersebut, kru kapal selam ALRI harus mendapat pasokan informasi dari darat yang betul-betul akurat. Menurut Okorokov, soal itu juga menjadi masalah mengingat betapa buruknya kinerja intelijen Indonesia kala itu. Mereka bukan saja memberikan informasi yang minim namun juga data-data yang mereka kirimkan masih sangat mentah. Kondisi itu memaksa kapal-kapal selam ALRI ada dalam pantauan langsung Armada ke-7 Angkatan Laut Amerika Serikat. Bisa jadi, secara koordinat, mereka ada dalam posisi saling berhadapan. Andaikan perundingan di darat mengalami jalan buntu, sudah dipastikan untuk kali pertama akan terjadi duel secara langsung antara orang-orang Rusia dengan orang-orang Amerika Serikat di perairan Irian. Ancaman konfrontasi secara langsung itu berlangsung selama dua minggu. Menurut Okorokov, orang-orang Rusia di kapal-kapal selam ALRI malah sudah mempersiapkan diri untuk terlibat dalam pertempuran terbuka dan perang tanpa batas. Untunglah perang pun batal meletus. Pada pertengahan Agustus 1962, Belanda bersedia untuk menyelesaikan persoalan Irian Barat di meja perundingan. Semua kekuatan bersenjata kedua negara pun ditarik ke pangkalan masing-masing hingga perang benar-benar tak terjadi.
- Achmad Subardjo di Tengah Konflik Israel-Yordania
Setelah mengakhiri masa jabatannya sebagai Menteri Luar Negeri dalam kabinet Sukiman (April 1951 - Februari 1952), Achmad Subardjo ditugaskan mengunjungi negara-negara di Timur Tengah oleh pemerintah Republik Indonesia (RI) untuk sebuah misi persahabatan. Pada waktu itu pemerintah RI ingin menyampaikan penghargaan sebesar-besarnya kepada negara-negara Timur Tengah atas dukungan moral yang mereka berikan kepada Indonesia selama masa Perang Kemerdekaan (1945-1949). Subardjo memulai perjalanannya ke Timur Tengah pada September 1952. Dia didampingi seorang pegawai senior di Kementerian Luar Negeri, Utaryo Suryamihardja. Ketika itu negara pertama yang dikunjungi adalah Mesir. Sebagai salah satu negara yang paling pertama mengakui kedaulatan Indonesia, Mesir menjadi negara utama dalam misi persahabatan tersebut. Dari Mesir, Achmad Subardjo melanjutkan kunjungannya ke Turki, Arab Saudi, dan Syria. Menurut rencana, negara selanjutnya yang akan dikunjungi perwakilan Indonesia tersebut adalah Yordania. Diceritakan Subardjo dalam otobiografinya, Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi , tidak ada hal istimewa menyangkut hubungan antara negara itu dengan Indonesia yang mendorong kunjungannya ke sana, kecuali fakta bahwa keduanya sama-sama negara Islam. “Kunjungan itu hanya bertitik tolak dari keinginan untuk mengetahui serta menyaksikan negara tersebut beserta penduduknya yang lebih banyak dikendalikan oleh Inggris daripada oleh mereka sendiri,” kata Subardjo. Namun terlepas dari itu, bagi Subardjo, Yordania merupakan suatu faktor penting dalam politik Timur Tengah. Negara yang sebelum 1949 dikenal dengan nama Transyordania ini menjadi salah satu kekuatan utama negara-negara Arab saat konflik Palestina-Israel pecah. Peristiwa yang membangkitkan kemarahan orang-orang muslim di negara-negara Arab dan di seluruh dunia tersebut menjadi sebab munculnya konflik Yordania-Israel di tahun-tahun berikutnya. Pada 1949, sebagai bagian dari Liga Arab, Yordania bergabung dalam Pasukan Liga Arab untuk bergerak ke Palestina. Mereka ikut bertempur melawan kekuatan Israel dan berhasil menduduki sebagian besar wilayah di sana. Sekitar bulan April, setelah melewati bulan-bulan penuh ketegangan, suatu gencatan senjata diadakan antara Yordania dengan Israel. Tetapi gencatan senjata itu tidak dilanjutkan dengan suatu perjanjian damai. “Hubungan antara Yordania dan Israel tetap tegang dan tidak ada kemungkinan bahwa permusuhan bebuyutan itu akan berakhir,” tulis Subardjo. “Sebab itu banyak terjadi tekanan-tekanan di perbatasan dan ribuan orang Muslim Arab bangsa Palestina maupun orang-orang Arab beragama Kristen melarikan diri dari Israel, menjadi pengungsi di Yordania dan di semua negara-negara Arab.” Ketika Subardjo tiba di Amman, ibukota Yordania, pada musim gugur 1952, suasana ketegangan masih terasa. Bagi orang-orang asing sangat sulit memasuki wilayah Amman. Krisis politik pada waktu itu membuat tidak sembarang orang bisa mengunjunginya. Beruntung Subardjo didampingi Jenderal Abdul Kadir, Duta Besar RI di Mesir, yang sangat fasih berbicara bahasa Arab, juga paspor diplomatik yang membuat mereka mudah melewati perbatasan. Subardjo mengendarai mobil dari ibukota Syria, Damaskus, ke Amman. Menurutnya kondisi kota itu amat berbeda dengan Damaskus. Di dalam kota, jalan-jalan penuh debu dan kotor, seperti kurang mendapat perhatian. Bahkan tidak ada jalan-jalan yang luas seperti di Syria. Kondisi itu jelas tidak akan memikat minat para turis. Kecuali mereka yang memiliki maksud dan tujuan seperti apa yang Subardjo lakukan. Peperangan dengan Israel kiranya memberi dampak yang tidak kecil. Masih ada sisa-sisa konflik yang terasa di sana. Subardjo juga merasakan adanya perasaan anti-Yahudi yang tertanam kuat di kota tersebut. Bahkan dia diberi tahu bahwa tidak ada seorang pun orang Yahudi hidup di Yordania. Semua itu merupakan bentuk kemarahan Yordania atas konflik yang terjadi di Palestina. “Adalah bermanfaat untuk bertukar pikiran dengan rakyat dan membiarkan mereka berbicara tentang situasi di negeri mereka. Jenderal Abdul Kadir karena fasihnya berbahasa Arab telah banyak membantu saya dalam menambah pengetahuan faktual tentang latar belakang sejarah Yordania,” pungkas Subardjo.
- Sukarelawan Rusia, Vodka dan Spirtus
SELAMA berlangsung-nya Operasi Trikora pada 1962, Angkatan Bersenjata Uni Sovyet telah mengirimkan 1.740 sukarelawan ke Indonesia. Mereka meliputi instruktur dan para teknisi (kadang merangkap juga sebagai tenaga tempur lapangan). Pengiriman itu merupakan bentuk komitmen konkret Perdana Menteri Nikita Khrushchev untuk mendukung Indonesia yang tengah berkonflik dengan Belanda. “Pada 9 Februari 1962, pemerintah Uni Sovyet kembali menegaskan dukungannya terhadap posisi Indonesia…” ungkap sejarawan militer Uni Sovyet Alexander Okorokov dalam Тайные войны СССР (Perang Rahasia Uni Sovyet). Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) merupakan matra yang paling banyak mendapat pasokan alat-alat perang dan sukarelawan. Selain kapal perang permukaan, Uni Sovyet pun memasok 12 kapal selam jenis Whiskey (W). Itulah yang menyebabkan kemudian Angkatan Laut Uni Sovyet menempatkan hampir seribu anggotanya di Pangkalan Dermaga Ujung, Surabaya. “Tugas mereka yang utama adalah mengajari kami untuk memakai alat-alat perang yang mereka hibahkan buat ALRI. Tetapi dalam kesempatan tertentu, mereka pun kadang diterjunkan juga dalam operasi tempur sesungguhnya di perairan Irian,” papar Laksamana Muda (Purn) I Nyoman Suharta. Menurut Suharta yang saat itu berpangkat letnan satu, selama di Surabaya, orang-orang Rusia itu ditempatkan di sebuah gedung besar berlantai dua yang berada di kawasan Ksatrian Pendidikan Angkatan Laut Ujung (KPALU). Penempatan itu sempat membuat para sukarelawan Rusia mengeluh. Selain tempatnya tidak sesuai untuk sebuah asrama sekaligus markas dalam standar Angkatan Laut Uni Sovyet, situasi lingkungan juga tidak memadai untuk menjalankan pekerjan-pekerjaan khusus. “Rumah dua lantai yang terpisah itu juga ternyata dibangun dari dana yang dialokasikan oleh Moskow,” ungkap Okorokov. Tetapi hubungan antara para prajurit ALRI dengan para sukarelawan Uni Sovyet itu relatif berjalan baik. Tak jarang dalam kesempatan tertentu, mereka kerap melakukan pertandingan olahraga bersama, seperti bermain sepakbola, bola voli dan catur. Hanya ada satu kebiasaan orang-orang Rusia itu yang tidak sejalan dengan orang-orang Indonesia yakni meminum vodka (minuman keras khas Rusia). Menurut Kolonel (Purn) F.X. Soeyatno, kegilaan para pelaut Rusia itu terhadap minuman beralkohol memang tiada taranya. Sehingga jika pasokan vodka terlambat dikirim ke Surabaya, mereka yang sudah kecanduan itu terpaksa menenggak spirtus (cairan kimia berwarna biru yang berfungsi untuk membersihkan komponen-komponen kapal perang). “Sebagai bentuk penghormatan, saya pernah coba ikut meminum spirtus. Rasanya? Ya ampunnnn, panas sampai ke ubun-ubun…” tutur Suharta. Karena kebiasaan mabuk-mabukan itu pula kadang menjadikan para sukarelawan Rusia itu terlibat dalam keonaran di pusat kota Surabaya. Pernah pada suatu malam, tiga pelaut Rusia terpaksa “dilemparkan” keluar karena tertidur di sebuah restoran. Pada kesempatan lain, seorang pelaut Rusia tewas dalam sutau keributan di bar. “Laporan yang diterima: orang Rusia itu tewas akibat kecelakaan mobil. Namun kami menduga dia mati akibat berkelahi dalam kondisi mabuk,” ungkap Okorokov. Secara finansial, bisa dikatakan para sukarelawan Rusia sangat mampu. Pemerintah Republik Indonesia (RI), sesungguhnya menggaji mereka sangat banyak tiap bulannya: berkisar 8.000 untuk prajurit biasa dan 10.000 rupiah untuk para perwira. Jumlah itu jelas sangat jauh dengan gaji para prajurit ALRI saat itu. “Bayangkan saja, saya yang saat itu berpangkat letnan satu memiliki gaji hanya 700 rupiah. Sebagai patokan, harga 1 kg beras saat itu adalah 50 rupiah,” ujar Suharta. Dengan gaji yang sangat besar itu, wajar jika pola hidup sehari-hari para sukarelawan Rusia sangat royal. Terlebih pada akhir bulan mereka kerap mendapat jatah pesiar ke Singapura dan mendapat kesempatan untuk memesan barang-barang yang mereka ingikan dari India dan Jepang. Pernah suatu hari seorang prajurit Rusia membeli kamera merek Leica di Singapura. Ketika sampai di Surabaya, kamera tersebut tetiba raib. Setelah diselidiki oleh pihak Polisi Militer, ternyata kamera itu telah dicuri oleh seorang prajurit Indonesia. “Itu memang kejadian yang memalukan. Tapi sebagai gentleman , kami mengakui kesalahan itu dan menyerahkan kembali kamera tersebut dalam suatu upacara resmi di geladak kapal,” kenang Suharta. Uniknya dalam kesempatan itu, pihak korban pencurian juga justru meminta maaf karena “tidak peka” terhadap situasi sosial yang ada di lingkungan pangkalan laut itu. Alih-alih marah, saat itu juga dia melemparkan kamera itu ke laut. “Jika kamera ini membuat seseorang berbuat jahat, lebih baik saya membuangnya saja ke laut,” ujar sang pelaut Rusia. Pertengahan Agustus 1962, konflik antara Indonesia dengan Belanda mulai mereda. Kedua negara memutuskan untuk membawa masalah mereka ke meja perundingan. Perang pun batal terjadi di Irian. Seiring situasi semakin aman, para sukarelawan Rusia itu pun perlahan ditarik kembali ke negara-nya dan ditempatkan lagi di kesatuannya masing-masing.
- Melintasi Sirkuit Politik Max Mosley
KENDATI tidak sedikit yang punya dendam padanya, toh kepergian Max Rufus Mosley, presiden Fédération Internationale de I’Automobile (FIA)periode 1993-2009, menimbulkan duka bagi segenap orang di dunia balap.Mosley menghembuskan nafas terakhirnya Minggu (23/5/2021) lalu di usia 81 tahun setelah lama bertarung dengan kanker. “Dia sudah seperti keluarga bagi saya. Kami ibarat saudara. Di sisi lain saya merasa lega karena dia sudah menderita begitu lama. Dia banyak melakukan hal hebat tidak hanya untuk olahraga balap tapi juga industri mobil. Dia melakukan cara hebat untuk memastikan banyak orang agar membuat mobil-mobil yang aman,” ungkap mantan chief executive F1, Bernie Ecclestone, dilansir BBC , Selasa (25/5/2021). Ucapan belasungkawa juga datang dari Presiden FIAJean Todt.Melalui akun Twitter -nya, @JeanTodt , Senin (24/5/2021) lalu dia mencuit: “Duka mendalam atas meninggalnya Max Mosley. Dia figur besar dalam @F1 & olahraga balap. Sebagai @FIA Presiden selama 16 tahun, dia sangat berkontribusi untuk memastikan keselamatan di sirkuit dan di jalan. Segenap komunitas FIA turut berbelasungkawa. Pikiran dan doa-doa kami untuk keluarganya.” Mosley dikenal sebagai sosok berwatak keras dan tak kenal kompromi terhadap aneka skandal selama memegang kendali badan olahraga balapan dunia itu.Namun, Mosley sendiri sejak lahir sudah dinaungi kabut kontroversi. Baca juga: Kontroversi Michael Schumacher Bernard Charles Ecclestone (kanan) merasa paling kehilangan sosok Mosley ( formula.com ) Keluarga Fasis Lahir di London pada 13 April 1940, Mosley merupakan bungsu dari dua bersaudara pasangan Sir Oswald Ernald Mosley dan Diana Mitford. Oswald merupakan pemimpin Partai British Union Fascists (BUF) dan Diana seorang simpatisan Nazi. Adik Diana, Unity Mitford, pernah digosipkan jadi salah satu pacar Adolf Hitler. Pernikahan Oswald dengan Diana pada 1936 dilangsungkan di kediaman Menteri Propaganda Jerman Joseph Goebbels. Hitler h adir sebagai tamu VIP yang menghadiahkan mereka sebuah foto dirinya dengan hiasan bingkai perak. Ketika Mosley baru berusia 11 minggu, ia dan kakaknya, Alexander, harus berpisah dengan kedua orangtua mereka. Ayah dan ibunda mereka dijebloskan ke penjara terpisah tanpa pengadilan. Pemerintah Inggris memenjarakan mereka bertolak pada Defence Regulation 18B yang menyatakan, para politisi fasis dan simpatisan Nazi diinternir demi mencegah sabotase selama Perang Dunia II berlangsung. “Peraturan masa perang itu membolehkan pemerintah memenjarakan siapapun tanpa pengadilan. Setelah menjadi menteri buruh pada 1929 dalam karier politik konvensionalnya, ayah saya memimpin BUF dan berkampanye menentang Perang Dunia II. Saya yakin karena itulah pemerintah ingin menyingkirkannya. Ibu selalu mendukungnya dan adiknya, Unity, berteman baik dengan Adolf Hitler,” tulis Mosley dalam otobiografinya, Formula One and Beyond . Baca juga: Perempuan-Perempuan dalam Pelukan Hitler Sir Oswald Ernald Mosley, 6th Baronet (kiri) & Diana Freeman-Mitford, Lady Mosley ( britannica.com/npg.org.uk ) Selama setahun Mosley dan kakaknya dirawat pengasuh sampai akhirnya Perdana Menteri (PM) Winston Churchill turun tangan. Sir Oswald dan Diana bersatu kembali saat dipindahkan ke kamp interniran Holloway.Mereka diperbolehkan dikunjungi kedua putra mereka setiap hari dan bahkan Mosley dan kakaknya diizinkan menginap jika mau. “Winston Churchill teman dekat dari keluarga ibu saya dan dia bersama istrinya sudah akrab dengan ibu saya sejak kecil. Dia juga kenal ayah saya dari panggung politik mainstream dan tetap menghormati walau bertentangan dengan kepentingan negara. Churchill melakukan segala yang dia bisa untuk membuat kehidupan orangtua saya sedikit lebih nyaman,” imbuhnya. Mosley baru bisa bersatu lagi dengan keluarganya secara utuh pada November 1943. Kala itu ayahnya tak lagi aktif dalam politik. Pada 1950, Oswald membawa keluarganya berpindah-pindah dari Hampshire, Wiltshire, Orsay, hingga Paris. Mosley baru kembali ke Inggris untuk kuliah di Jurusan Fisika Universitas Oxford dan kuliah hukum di Gray’s Inn. Di Balik Kemudi Mobil Balap Selama kuliah pada 1950-an,Mosley danAlexandersempat mengikuti jejak ayahnya di arena politik dengan aktif di partai sayap kananThe Union Movement (UM). Dari aktivitasnya dalam partai itu Mosley juga bertemu kekasih yang kemudian jadi istriyang dinikahinya pada 1960, Jean Taylor. Dari Jean-lah minat Mosley pada dunia balap timbul. Meski Mosley masih terus berpolitik sampai 1980-an, ia mengiringinya dengan turut berkarier di lintasan balap pada medio 1960-an. Perkenalan Mosley dengan dunia balap terjadi setelah dia dibelikan tiket nonton ajang balapdi Sirkuit Silverstone, dekat kampus Oxford. Dari “pandangan pertama” itu, benih cinta pada balap bersemi di hati Mosley. Maka demi bisa membeli mobil balap,Mosley harus bekerja keras dengan menjadi pengacara dari pagi sampai sore dan dilanjut mengajar hukum pada malamnya. “Baru di awal 1966 saya punya cukup uang dari hasil mengajar untuk membeli mobil balap. Dari iklan di Autosport , saya membeli mobil Lotus 7 dengan mesin 1.0 liter dari seseorang yang tinggal dekat Birmingham. Saya memutuskan untuk balapan di Clubmans Sports Cars kelas 1.5 liter, di mana mesin mobil saya harus dirombak lagi dengan bantuan sepupu, Len Street, yang pernah jadi mekanik di Tim Lotus,” sambung Mosley. Baca juga: Stirling Moss, Raja Balap tanpa Mahkota Max Mosley (kanan) bersama rekannya, Robert John 'Robin' Herd yang mendirikan March Engineering ( formula1.com ) Prestasi Mosley di ajang balap nasional itu cukup lumayan. Ia menang 12 dari 40 race sepanjang 1966-1967. Mosley pun makin ketagihan.Setelah bertemu rekan sepemikiran, Chris Lambert, Mosley membentuk London Racing Team untuk terjun ke European Formula Two (F2). Karena Len Street sudah dikontrak tim lain, Mosley lalu mengontrak Sir Frank Williams, legenda hidup F1 dan pendiri Frank Williams Racing Cars,menjadi salah satu mekanik andalannya. “Pertamakali saya bertemu Max di 1960-an saat dia masuk balapan. Saya yang menyiapkan mobilnya di F2 dan terlepas dia tak pernah menjadi pembalap tercepat di lintasan tetapi dia selalu balapan dengan cara yang cerdas di balik kemudi,” kenang Sir Williams , disitat Grand Prix 247 , Senin (25/5/2021). Baca juga: Angkernya Sirkuit Nürburgring Aktivitas Mosely tersebut sempat dikhawatirkan ayahnya karena investasi itu dianggapnya takkan menguntungkan. Namun, adafaktor penting lain yang membuat Mosleygetol berkecimpung di balapan, yakni politis.Balap dijadikannya ajang menghapus jejak kelam masa lalu keluarganya. “Saat saya meninggalkan karier menjanjikan sebagai pengacara dan terjun ke balapan, ayah bilang mungkin saya akan bangkrut tapi hikmahnya akan bagus buat latihan saya untuk sesuatu hal yang lebih serius lagi di masa depan. Di dunia balap tidak ada yang mengenali Sir Oswald. Justru pembalap atau kru menyangka saya adalah kerabat Alf Mos(e)ley si pembuat mobil. Saya menemukan dunia yang tak mengenal Oswald Mosley dan dalam dunia balap tiada yang peduli siapa dia (Sir Oswald),” lanjutnya. Sayangnya karier Mosley di F2 acap menghasilkan rapor merah. Ia pun hanya bertahan dua musim (1968-1969). Pada musim terakhirnya, 1969, Mosley mengalami dua kecelakaan hingga memutuskan pensiun sebagai pembalap. Ia pun kapok. “Dua kecelakaan itu sudah jadi bukti bahwa saya takkan bisa jadi juara dunia,” ujarnya. Perang Politik Penguasa Sirkuit Mosley tak bisa jauh dari dunia balap setelah tak lagi membalap. Bersama Robin Herd, Alan Rees, dan Graham Coaker, Mosley membentuk tim balap March Engineering untuk tampil di pentas F3, F2, dan F1. Para pembalap potensial pun mereka rekrut.Di antaranya Chris Amon, Jo Siffert, Niki Lauda, danVittorio Brambilla. Kemampuan nya dalam bidang hukum juga membuatnya akrab dengan para petinggi Formula One Constructors’ Association (FOCA) . Ecclestone , salah satunya. Mulai 1977, Mosley dipercaya Ecclestone jadi penasihat hukum FOCA . T iga tahun berselang , Mosley jadi ujung tombak FOCA kala “berperang” dengan Fédération Internationale du Sport Automobile (FISA) yang jadi kepanjangan tangan FIA sebagai operator F1. Konflik FOCA-FISA berawal dari ketimpangan subsidi dan revenue komersial antara tim-tim yang berbasis di Inggris dengan tim-tim mapan Eropa asal Italia, Prancis, dan Jerman. Tim-tim Inggris yang bernaung di FOCA merasakan adanya keputusan bias terhadap beberapa aturan yang dikenakan pada mereka ketimbang tiga tim lain yang tak terafiliasi dengan FISA: Alfa-Romeo, Renault, dan Ferrari. Baca juga: Gas Pol F1 di Tengah Pandemi Presiden FISA, Jean Marie-Balestre (kanan) yang jadi lawan Mosley ( formula1.com ) Saling boikot pun terjadi sepanjang 1980.Bentuk lain dari perlawanan FOCA adalah dengan melahirkan World Federation of Motor Sport dengan menggelar balapan-balapan yang dianggap ilegal oleh FISA. Salah satunya Grand Prix Afrika Selatan, 7 Februari 1981. Walau dengan bujet pas-pasan, balapan ini sukses mendatangkan income besar. Selain itu, ajang tersebut juga populerkarena disiarkan banyak stasiun televis berkat manuver-manuver bisnis dan politik Mosley dan Ecclestone. Pada akhirnya, Presiden FISAJean-Marie Balestre mau duduk bersama untuk berdamai. “Sebelumnya kami semua (tim) tidak punya cukup uang. Jika Balestre mau menyokong tim-tim lebih lama lagi, mereka tidak akan berontak. Hasilnya akan sangat berbeda dari saat ini,” ungkap Mosley , dikutip Terry Lovell dalam Bernie’s Game: Inside the Formula One World of Bernie Ecclestone. Baca juga: Sembilan Ayah dan Anak di Arena F1 (Bagian I) Tidak hanya di meja perundingan, Mosley pun sukses “menundukkan” Balestre dalam persaingan pemilihan presiden FISA pada 1991. Balestre jadi lawan kuat Mosley di pemilihan presiden FIA tahun 1993, tahun di mana FISA dibubarkan dan operator F1 langsung dipegang FIA. Kemenangan Mosley didapat dari manuvernya dengan mengkampanyekan standar keselamatan. Ia berkaca pada banyaknya kematian pembalap di masa lalu. “Di awal-awal saya balapan F2, saat itu ada 21 mobil di lintasan pada April. Tapi memasuki Juli ada tiga pembalap yang tewas. Pembalap sudah seperti resimen garis depan di (perang) Vietnam. Saya berpikiran bahwa jika punya kesempatan memegang kekuasaan di balapan, saya akan melakukan sesuatu tentang hal ini. Saya benci dengan attitude : ‘ Well , jika Anda tidak menyukainya, jangan ambil risiko’,” tutur Mosley lagi. Mosley merebut kepemimpinan FISA dan FIA sejak 1993 ( formula1.com ) Mosley memenangkan pemilihan presiden FIA pada 1993 dan bertahan sampai 2009. Walau tak kenal kompromi terhadap berbagai skandal tim-tim balap, Mosley pernah diterpa skandal pesta seks sadomasokisme dengan para PSK pada 2008 yang diekspos suratkabar News of the World. Mosley “menyengat balik” dengan menuntut suratkabar milik Rupert Murdoch itu ke Pengadilan HAM Eropa karena dianggap telah mencemarkan nama baik dan melanggar privasi. Mosley menang dan mendapat ganti rugi lebih dari 500 ribu poundsterling . Suratkabar itu pun akhirnya ditutup Murdoch. “Terlepas dari kontroversi itu, Mosley akan selalu dikenang sebagai figur brilian walau tak sempurna. Bersama Ecclestone, dia jadi sosok penting yang mengubah F1 menjadi hiburan global. Sebagai Presiden FIA, dia membuktikan diri sebagai pemikir inovatif yang mendorong standar keselamatan dan kemajuan teknologi dalam balap dan otomotif. Kendati begitu tetap terasa bahwa segala yang ia lakukan seolah menjadi alternatif bagi karier politik mainstream -nya yang gagal,” tukas penulis cum kritikus Adam Sweeting dalam kolom obituari The Guardian , Senin (24/5/2021). Baca juga: Sembilan Anak dan Ayah di Arena F1 (Bagian II – Habis)





















