top of page

Hasil pencarian

9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Melintasi Sirkuit Politik Max Mosley

    KENDATI tidak sedikit yang punya dendam padanya, toh kepergian Max Rufus Mosley, presiden Fédération Internationale de I’Automobile (FIA)periode 1993-2009, menimbulkan duka bagi segenap orang di dunia balap.Mosley menghembuskan nafas terakhirnya Minggu (23/5/2021) lalu di usia 81 tahun setelah lama bertarung dengan kanker.  “Dia sudah seperti keluarga bagi saya. Kami ibarat saudara. Di sisi lain saya merasa lega karena dia sudah menderita begitu lama. Dia banyak melakukan hal hebat tidak hanya untuk olahraga balap tapi juga industri mobil. Dia melakukan cara hebat untuk memastikan banyak orang agar membuat mobil-mobil yang aman,” ungkap mantan chief executive F1, Bernie Ecclestone, dilansir BBC , Selasa (25/5/2021). Ucapan belasungkawa juga datang dari Presiden FIAJean Todt.Melalui akun Twitter -nya, @JeanTodt , Senin (24/5/2021) lalu dia mencuit: “Duka mendalam atas meninggalnya Max Mosley. Dia figur besar dalam @F1 & olahraga balap. Sebagai @FIA Presiden selama 16 tahun, dia sangat berkontribusi untuk memastikan keselamatan di sirkuit dan di jalan. Segenap komunitas FIA turut berbelasungkawa. Pikiran dan doa-doa kami untuk keluarganya.” Mosley dikenal sebagai sosok berwatak keras dan tak kenal kompromi terhadap aneka skandal selama memegang kendali badan olahraga balapan dunia itu.Namun, Mosley sendiri sejak lahir sudah dinaungi kabut kontroversi. Baca juga: Kontroversi Michael Schumacher Bernard Charles Ecclestone (kanan) merasa paling kehilangan sosok Mosley ( formula.com ) Keluarga Fasis Lahir di London pada 13 April 1940, Mosley merupakan bungsu dari dua bersaudara pasangan Sir Oswald Ernald Mosley dan Diana Mitford. Oswald merupakan pemimpin Partai British Union Fascists (BUF) dan Diana seorang simpatisan Nazi. Adik Diana, Unity Mitford, pernah digosipkan jadi salah satu pacar Adolf Hitler. Pernikahan Oswald dengan Diana pada 1936 dilangsungkan di kediaman Menteri Propaganda Jerman Joseph Goebbels. Hitler h adir sebagai tamu VIP yang menghadiahkan mereka sebuah foto dirinya dengan hiasan bingkai perak. Ketika Mosley baru berusia 11 minggu, ia dan kakaknya, Alexander, harus berpisah dengan kedua orangtua mereka. Ayah dan ibunda mereka dijebloskan ke penjara terpisah tanpa pengadilan. Pemerintah Inggris memenjarakan mereka bertolak pada Defence Regulation 18B yang menyatakan, para politisi fasis dan simpatisan Nazi diinternir demi mencegah sabotase selama Perang Dunia II berlangsung. “Peraturan masa perang itu membolehkan pemerintah memenjarakan siapapun tanpa pengadilan. Setelah menjadi menteri buruh pada 1929 dalam karier politik konvensionalnya, ayah saya memimpin BUF dan berkampanye menentang Perang Dunia II. Saya yakin karena itulah pemerintah ingin menyingkirkannya. Ibu selalu mendukungnya dan adiknya, Unity, berteman baik dengan Adolf Hitler,” tulis Mosley dalam otobiografinya, Formula One and Beyond . Baca juga: Perempuan-Perempuan dalam Pelukan Hitler Sir Oswald Ernald Mosley, 6th Baronet (kiri) & Diana Freeman-Mitford, Lady Mosley ( britannica.com/npg.org.uk ) Selama setahun Mosley dan kakaknya dirawat pengasuh sampai akhirnya Perdana Menteri (PM) Winston Churchill turun tangan. Sir Oswald dan Diana bersatu kembali saat dipindahkan ke kamp interniran Holloway.Mereka diperbolehkan dikunjungi kedua putra mereka setiap hari dan bahkan Mosley dan kakaknya diizinkan menginap jika mau. “Winston Churchill teman dekat dari keluarga ibu saya dan dia bersama istrinya sudah akrab dengan ibu saya sejak kecil. Dia juga kenal ayah saya dari panggung politik mainstream dan tetap menghormati walau bertentangan dengan kepentingan negara. Churchill melakukan segala yang dia bisa untuk membuat kehidupan orangtua saya sedikit lebih nyaman,” imbuhnya. Mosley baru bisa bersatu lagi dengan keluarganya secara utuh pada November 1943. Kala itu ayahnya tak lagi aktif dalam politik. Pada 1950, Oswald membawa keluarganya berpindah-pindah dari Hampshire, Wiltshire, Orsay, hingga Paris. Mosley baru kembali ke Inggris untuk kuliah di Jurusan Fisika Universitas Oxford dan kuliah hukum di Gray’s Inn. Di Balik Kemudi Mobil Balap Selama kuliah pada 1950-an,Mosley danAlexandersempat mengikuti jejak ayahnya di arena politik dengan aktif di partai sayap kananThe Union Movement (UM). Dari aktivitasnya dalam partai itu Mosley juga bertemu kekasih yang kemudian jadi istriyang dinikahinya pada 1960, Jean Taylor. Dari Jean-lah minat Mosley pada dunia balap timbul. Meski Mosley masih terus berpolitik sampai 1980-an, ia mengiringinya dengan turut berkarier di lintasan balap pada medio 1960-an. Perkenalan Mosley dengan dunia balap terjadi setelah dia dibelikan tiket nonton ajang balapdi Sirkuit Silverstone, dekat kampus Oxford. Dari “pandangan pertama” itu, benih cinta pada balap bersemi di hati Mosley. Maka demi bisa membeli mobil balap,Mosley harus bekerja keras dengan menjadi pengacara dari pagi sampai sore dan dilanjut mengajar hukum pada malamnya. “Baru di awal 1966 saya punya cukup uang dari hasil mengajar untuk membeli mobil balap. Dari iklan di Autosport , saya membeli mobil Lotus 7 dengan mesin 1.0 liter dari seseorang yang tinggal dekat Birmingham. Saya memutuskan untuk balapan di Clubmans Sports Cars kelas 1.5 liter, di mana mesin mobil saya harus dirombak lagi dengan bantuan sepupu, Len Street, yang pernah jadi mekanik di Tim Lotus,” sambung Mosley. Baca juga: Stirling Moss, Raja Balap tanpa Mahkota Max Mosley (kanan) bersama rekannya, Robert John 'Robin' Herd yang mendirikan March Engineering ( formula1.com ) Prestasi Mosley di ajang balap nasional itu cukup lumayan. Ia menang 12 dari 40 race sepanjang 1966-1967. Mosley pun makin ketagihan.Setelah bertemu rekan sepemikiran, Chris Lambert, Mosley membentuk London Racing Team untuk terjun ke European Formula Two (F2). Karena Len Street sudah dikontrak tim lain, Mosley lalu mengontrak Sir Frank Williams, legenda hidup F1 dan pendiri Frank Williams Racing Cars,menjadi salah satu mekanik andalannya. “Pertamakali saya bertemu Max di 1960-an saat dia masuk balapan. Saya yang menyiapkan mobilnya di F2 dan terlepas dia tak pernah menjadi pembalap tercepat di lintasan tetapi dia selalu balapan dengan cara yang cerdas di balik kemudi,” kenang Sir Williams , disitat Grand Prix 247 , Senin (25/5/2021). Baca juga: Angkernya Sirkuit Nürburgring Aktivitas Mosely tersebut sempat dikhawatirkan ayahnya karena investasi itu dianggapnya takkan menguntungkan. Namun, adafaktor penting lain yang membuat Mosleygetol berkecimpung di balapan, yakni politis.Balap dijadikannya ajang menghapus jejak kelam masa lalu keluarganya. “Saat saya meninggalkan karier menjanjikan sebagai pengacara dan terjun ke balapan, ayah bilang mungkin saya akan bangkrut tapi hikmahnya akan bagus buat latihan saya untuk sesuatu hal yang lebih serius lagi di masa depan. Di dunia balap tidak ada yang mengenali Sir Oswald. Justru pembalap atau kru menyangka saya adalah kerabat Alf Mos(e)ley si pembuat mobil. Saya menemukan dunia yang tak mengenal Oswald Mosley dan dalam dunia balap tiada yang peduli siapa dia (Sir Oswald),” lanjutnya. Sayangnya karier Mosley di F2 acap menghasilkan rapor merah. Ia pun hanya bertahan dua musim (1968-1969). Pada musim terakhirnya, 1969, Mosley mengalami dua kecelakaan hingga memutuskan pensiun sebagai pembalap. Ia pun kapok. “Dua kecelakaan itu sudah jadi bukti bahwa saya takkan bisa jadi juara dunia,” ujarnya. Perang Politik Penguasa Sirkuit Mosley tak bisa jauh dari dunia balap setelah tak lagi membalap. Bersama Robin Herd, Alan Rees, dan Graham Coaker, Mosley membentuk tim balap March Engineering untuk tampil di pentas F3, F2, dan F1. Para pembalap potensial pun mereka rekrut.Di antaranya Chris Amon, Jo Siffert, Niki Lauda, danVittorio Brambilla. Kemampuan nya dalam bidang hukum juga membuatnya akrab dengan para petinggi Formula One Constructors’ Association (FOCA) . Ecclestone , salah satunya. Mulai 1977, Mosley dipercaya Ecclestone jadi penasihat hukum FOCA . T iga tahun berselang , Mosley jadi ujung tombak FOCA kala “berperang” dengan Fédération Internationale du Sport Automobile (FISA) yang jadi kepanjangan tangan FIA sebagai operator F1. Konflik FOCA-FISA berawal dari ketimpangan subsidi dan revenue komersial antara tim-tim yang berbasis di Inggris dengan tim-tim mapan Eropa asal Italia, Prancis, dan Jerman. Tim-tim Inggris yang bernaung di FOCA merasakan adanya keputusan bias terhadap beberapa aturan yang dikenakan pada mereka ketimbang tiga tim lain yang tak terafiliasi dengan FISA: Alfa-Romeo, Renault, dan Ferrari. Baca juga: Gas Pol F1 di Tengah Pandemi Presiden FISA, Jean Marie-Balestre (kanan) yang jadi lawan Mosley ( formula1.com ) Saling boikot pun terjadi sepanjang 1980.Bentuk lain dari perlawanan FOCA adalah dengan melahirkan World Federation of Motor Sport dengan menggelar balapan-balapan yang dianggap ilegal oleh FISA. Salah satunya Grand Prix Afrika Selatan, 7 Februari 1981. Walau dengan bujet pas-pasan, balapan ini sukses mendatangkan income besar. Selain itu, ajang tersebut juga populerkarena disiarkan banyak stasiun televis berkat manuver-manuver bisnis dan politik Mosley dan Ecclestone. Pada akhirnya, Presiden FISAJean-Marie Balestre mau duduk bersama untuk berdamai. “Sebelumnya kami semua (tim) tidak punya cukup uang. Jika Balestre mau menyokong tim-tim lebih lama lagi, mereka tidak akan berontak. Hasilnya akan sangat berbeda dari saat ini,” ungkap Mosley , dikutip Terry Lovell dalam Bernie’s Game: Inside the Formula One World of Bernie Ecclestone. Baca juga: Sembilan Ayah dan Anak di Arena F1 (Bagian I) Tidak hanya di meja perundingan, Mosley pun sukses “menundukkan” Balestre dalam persaingan pemilihan presiden FISA pada 1991. Balestre jadi lawan kuat Mosley di pemilihan presiden FIA tahun 1993, tahun di mana FISA dibubarkan dan operator F1 langsung dipegang FIA. Kemenangan Mosley didapat dari manuvernya dengan mengkampanyekan standar keselamatan. Ia berkaca pada banyaknya kematian pembalap di masa lalu. “Di awal-awal saya balapan F2, saat itu ada 21 mobil di lintasan pada April. Tapi memasuki Juli ada tiga pembalap yang tewas. Pembalap sudah seperti resimen garis depan di (perang) Vietnam. Saya berpikiran bahwa jika punya kesempatan memegang kekuasaan di balapan, saya akan melakukan sesuatu tentang hal ini. Saya benci dengan attitude : ‘ Well , jika Anda tidak menyukainya, jangan ambil risiko’,” tutur Mosley lagi. Mosley merebut kepemimpinan FISA dan FIA sejak 1993 ( formula1.com ) Mosley memenangkan pemilihan presiden FIA pada 1993 dan bertahan sampai 2009. Walau tak kenal kompromi terhadap berbagai skandal tim-tim balap, Mosley pernah diterpa skandal pesta seks sadomasokisme dengan para PSK pada 2008 yang diekspos suratkabar News of the World. Mosley “menyengat balik” dengan menuntut suratkabar milik Rupert Murdoch itu ke Pengadilan HAM Eropa karena dianggap telah mencemarkan nama baik dan melanggar privasi. Mosley menang dan mendapat ganti rugi lebih dari 500 ribu poundsterling . Suratkabar itu pun akhirnya ditutup Murdoch. “Terlepas dari kontroversi itu, Mosley akan selalu dikenang sebagai figur brilian walau tak sempurna. Bersama Ecclestone, dia jadi sosok penting yang mengubah F1 menjadi hiburan global. Sebagai Presiden FIA, dia membuktikan diri sebagai pemikir inovatif yang mendorong standar keselamatan dan kemajuan teknologi dalam balap dan otomotif. Kendati begitu tetap terasa bahwa segala yang ia lakukan seolah menjadi alternatif bagi karier politik mainstream -nya yang gagal,” tukas penulis cum kritikus Adam Sweeting dalam kolom obituari The Guardian , Senin (24/5/2021). Baca juga: Sembilan Anak dan Ayah di Arena F1 (Bagian II – Habis)

  • Perang Dingin Soeharto-Ali Sadikin

    PADA akhir kepemimpinan sebagai gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin mencapai puncak popularitasnya. Keberhasilan Bang Ali (panggilan akrab Ali Sadikin) membangun Jakarta membuatnya dielu-elukan publik, terutama di kalangan generasi muda. Namanya pun disebut-sebut sebagai pesaing kuat Presiden Soeharto dalam Pemilihan Umum 1977. Rumor pencalonan Bang Ali bertiup kencang menjelang pemilu. Sekelompok mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) menjagokan Ali Sadikin maju sebagai presiden. Kabar itu makin santer terdengar pada hari-hari terakhir Bang Ali menjabat gubernur Jakarta. “Deklarasi Bang Ali kalau tidak salah diramaikan di TIM Cikini. Kami masih ingat, beberapa aktivis UI membuat kaus oblong dengan sketsa wajah Ali Sadikin, plus tulisan artistik ‘Bang Ali is the Best’,” kata Rudy Badil dalam Main-main Jadi Bukan Main.

  • Kurt Russell dari Bisbol ke Hollywood

    KARIERNYA merentang dari 1962 hingga   59 tahun berselang. Tidak kurang dari 101 film layar lebar maupun film serial   dibintanginya. Nama Kurt Vogel Russell   hingga kini masih bertahan sebagai aktor kawakan papan atas Hollywood lintas genre dan karakter. Yang terbaru, Russell kembali beradu akting dengan Vin Diesel dan John Cena di film waralaba F9  ( Fast & Furious 9 ) yang dikabarkan baru akan rilis pada 25 Juni 2021. Kala berkisah dalam Mola Living Live , Jumat (21/5/2021) malam, pria kelahiran Springfield, Massachusetts, Amerika Serikat pada 17 Maret 1951   itu mengaku darah seninya   diturunkan dari kedua orangtuanya, Louise Julia Crone yang seorang penari dan Neil Oliver ‘Bing’ Russell yang juga seorang aktor. Russell juga hobi bermain bisbol sebagaimana ayahnya yang pernah berkarier sebagai atlet bisbol profesional di Minor League Baseball.   Russell mulai menseriusi bisbol di usia sembilan tahun dengan masuk tim California Angels.   Setelah pindah ke Bend Rainbows, Russell masuk tim Walla Walla Islanders, El Paso Sun Kings, hingga terakhir Portland Mavericks –tim   yang salah satu pemilik dan pendirinya adalah ayah Russell sendiri. Tetapi Russell terpaksa pensiun pada 1973 akibat cedera bahu. “Sedari kecil saya sudah menjalani dua hal, bisbol sejak usia sembilan dan akting di usia 10. Saya hanya ingin punya kesempatan menjalani keduanya selama mungkin. Ketika saya cedera di bisbol, saya mulai melihat bisnis layar lebar bisa jadi jalan hidup lain,” ujar Russell. Kurt Russell Vogel saat berbincang via Mola Living Live (Tangkapan Layar Mola TV) Elvis Presley, Siapa Dia? Memiliki ayah yang sudah punya nama di dunia akting memudahkan Russell mengenal lebih dekat industri film di Hollywood. Russell memulai debut aktingnya sebagai aktor pendukung di drama komedi Dennis the Menace (1962). Debutnya di layar lebar dimulainya sebagai figuran di film musikal It Happened at the World’s Fair (1963) yang dibintangi Elvis Presley. Meski Elvis sudah punya nama besar di panggung musik global, Russellsaat itu mengaku sempat tak mengenalnya. Dalam syuting film itulah ia baru bertemu seorang selebritis yang levelnya sudah mencapai stardom. “Dulu saya tak mengenalnya. Saya tidak mendengarkan musiknya. Usia saya baru 10 dan saya sibuk main bisbol sampai tak memerhatikan hal lain. Dia selebritis sungguhan dan orang terkenal pertama yang saya temui. Saya ingat hari pertama dia datang ke lokasi syuting, ada 300-400 gadis yang mengerubunginya. Saya sampai keheranan dan kru tata suara bilang pada saya: ‘ Well , itulah Elvis’,” imbuhnya. Kurt Russell beradu akting dengan Elvis Aaron Presley di film musikal It Happened at the World’s Fair  (IMDb) Russell kemudian mengagumi   Elvis lantaran popularitasnya tak menjadikannya bintang arogan dan sombong. Russell justru melihat Elvis sebagai sosok yang ramah, humble , dan menyenangkan. Russell tak menduga bahwa Elvis nge -fans ayah Russell hingga meniru cara memakai topi koboi Bing Russell di film-film atau drama seri bertema western  yang dibintanginya, semisal   Wagon Train  (1957), Johnny Ringo  (1959), atau   Death Valley Days  (1963). Dalam aktingnya, Bing Russell acap mengenakan topi   dengan melipat tepinya ke atas. “Suatu waktu ayah mengajak saya ke MGM Studios dan Elvis mengenali ayah saya. Dia suka dengan cara ayah saya mengenakan topi koboinya. Dia (Elvis) menegur saya: ‘Apakah dia ayahmu? Bisakah saya bertemu dengannya?’ Saya bilang: ‘Ya, tentu saja.’   Saya kemudian memperkenalkan keduanya dan Elvis bilang: ‘Tuan Russell, saya suka dengan cara Anda mengenakan topi Anda. Jika saya main di film western , apakah Anda keberatan jika saya menirunya?’ Ayah saya terkesan dan tak keberatan. Seramah itulah Elvis,” kenang Russell. Bertahun-tahun kemudian, Russell dua kali memerankan sosok Elvis Presley. Pertama, dalam drama biopik Elvis  (1979) di mana ia menerima nominasi Emmy Awards dan kedua, sebagai figuran di Forrest Gump  (1994). Wasiat Walt Disney? Seiring memasuki usia remaja, Russell sempat dihadapkan pada pilihan antara bisbol dan Hollywood. Di medio 1960-an Russell masih berusaha membagi waktu di antara keduanya. Terlebih di usia 14 tahun Russell tinggal beberapa langkah lagi beranjak dari kompetisi amatir ke level pro. Tetapi, cedera bahu yangdialami Russell pada 1973 pada akhirnya mempermudahnya memilih. “Sulit bagi saya untuk memilih satu karena keduanya sama-sama konyol. Para pemiliknya idiot dengan membeli pemain mahal. Di sisi lain mustahil meyakinkan publik bahwa bisbol adalah kerja keras dan tentu saja jadi tantangan mental untuk menampilkan performa terbaik dalam 162 pertandingan. Tetapi bayaran kami lumayan. Tidak sedikit pemain yang mendapatkan gaji besar,” tutur Russell dikutip suratkabar Youngstown Vindicator edisi 2 Agustus 1981. Sejak kecil Kurt Russell menggemari bisbol hingga bermain di level amatir dan profesional ( milb.com ) Saat masih tampil di level amatir, Russell sudah menyambi di dunia akting.Dia sudah main di 10 film di bawah naungan The Walt Disney Company (WDC). B os besar WDC , Walter Elias ‘Walt’ Disney perlahan kagum pada Russell kecil. Russell disebut “anak emas” karena sejak usia 13 tahun sudah sangat akrab dengan Walt Disney. S eringkali ketika datang ke lokasi syuting, Walt me ng hampiri dan menyapa sampai mengajak Russell main tenis meja setiap jam makan siang. Russell mengaku tak pernah terintimidasi dengan besarnya nama Walt Disney. Dia justru merasa nyaman berada di dekatnya karena Walt Disney mengingatkannya pada sosok sang kakek dari garis ayah, Warren Oliver Russell. “Kakek saya pilot yang hebat dan dia seorang inovator yang kreatif. Sangat menyenangkan berada di dekatnya. Saya menemukan perasaan itu pada Tuan Disney. Baik saat main tenis meja, membicarakan film, atau mengajak saya jalan-jalan ke departemen lain di studio. Itu jadi bagian besar dari edukasi awal saya dalam bisnis (film) ini,” sambung ayah dua anak tersebut. Kurt Russell bersama ayahnya, Neil Oliver 'Bing' Russell (kiri) dan sosok Walter Elias 'Walt' Disney (Netflix/Library of Congress) Maka menjelang Russell masuk bisbol profesional, Disney melakoni beragam cara persuasif untuk menjadikan Russell bintang tetap Disney dengan tawaran kontrak berdurasi 10 tahun. Disney tak mau “anak emasnya” memilih bisbol sebagai jalan hidup satu-satunya dengan meninggalkan dunia akting. “Yang paling saya kenang adalah attitude -nya. Dia banyak melakukan hal luar biasa dalam hidup saya ketika itu meski saya juga sedang menseriusi bisbol karena tinggal beberapa tahun lagi sebelum saya bermain di level profesional. Dia tidak berusaha mendesak saya tapi mencoba sabar. Bahkan ketika saya bermain dia ikut datang menonton. Setelah menang ia mendatangi kamar ganti dan saya ingat dia bilang: ‘Saya dengar kita punya seorang pemain juara. Attaboy !’ Dia sosok yang sangat bijak,” tambah Russell. Tetapi saat kontrak itu belum ditandatangani, Walt Disney wafat pada 15 Desember 1966 akibat kanker paru-paru. Tak lama setelahnya Russell membubuhkan tanda tangannya di kontrak berdurasi 10 tahun yang “dimitoskan” sebagai wasiat terakhir Walt Disney.Banyak yang percaya pada “mitos” yang menyebutkan bahwa kata terakhir yang dituliskan Walt Disney di atas secarik memo di kantornya sebelum wafat adalah nama Kurt Russell. Russell sendiri, dikutip Amy Boothe Green dan Howard E. Green dalam Remembering Walt: Favorite Memories of Walt Disney , sedang syuting dengan rumah produksi Universal Studios saat menerima kabar meninggalnya Walt Disney. “Saya sedang disyuting dengan kamera close-up dan menyadari kegemparan terjadi di belakang kamera. Lalu semua orang terdiam. Mereka menatap saya dan seorang kru mengatakan: ‘Dengan menyesal saya harus memberi tahu Anda, Kurt, tetapi Walt Disney sudah meninggal’,” tutur Russell di biografi keluaran 1999 itu. Kolase Kurt Russell di Hollywood, searah jarum jam: Mosby's Marauders (1967); The Computer Wore Tennis Shoes  (1969); Elvis  (1979); Now You See Him, Now You Don't  (1971) (IMDb/d23.com) Russell juga baru mengetahui “mitos” wasiat Walt Disney itu beberapa tahun kemudian. Memo itu sendiri baru ditemukan staf arsip di meja kerja Walt Disney pada 1970 dalam rangka mendokumentasikan dan menginventarisir barang-barang sang mendiang. “Saya berasumsi, sebagaimana orang lain, bahwa saat itu ia sedang memikirkan tentang film yang berpotensi untuk saya bintangi. Beberapa tahun setelah ia meninggal, para petinggi Disney memanggil saya dan mantan sekretarisnya menunjukkan memo itu dan mengatakan itu hal terakhir yang dia (Walt Disney) tuliskan,” lanjutnya. Beberapa pihak tidak percaya sepenuhnya bahwa hanya nama Kurt Russellyang jadi tulisan terakhir Disney sebelum meninggal. Salah satunya sejarawan dan kritikus Jim Korkis, yang menuliskan pendapatnya di kolomnya di Mouse Planet edisi 7 September 2011. Argumen Korkis berangkat dari fakta bahwa Disney tidak hanya punya satu melainkan dua ruang kerja. Korkis pun ragu dari ruang kerja mana memo yang hanya bertuliskan namaKurt Russell dan tanpa tanggal itu berasal. Pasalnya, di ruang kerja lain juga terdapat sebuah memo dengan tanggal yang spesifik, 8 September 1966. Memo itubertuliskan: TV Projects In Production: Ready for Production or Possible for Escalation and Story. Di memo itu juga tertera tulisan: “Ron Miller– ; 2 Way Down Cellar; 2 Kirt (sp) Russell; 3 CIA–Mobley.” “Ron Miller adalah nama menantu Walt yang juga produser di beberapa film. Way Down Cellar kemudian jadi acara televisi mingguan yang dimulai Januari 1968. Nama Kurt Russell ditulis dengan ejaan yang salah dan di bawahnya adalah referensi aktor muda Roger Mobley yang sebelumnya tampil di serial petualangan Adventures of Gallegher (1964). Jadi yang pasti nama ‘Kurt Russell’ bukanlah satu-satunya hal terakhir yang dituliskan Walt,” ungkap Korkis. Kolase Kurt Russell di Hollywood, searah jarum jam: Tango & Cash  (1989); Backdraft (1991); Deepwater Horizon (2016); Sky High  (2005) (IMDb/Walt Disney Pictures/Lionsgate) Terlepas dari kesimpangsiuran mitos tersebut, Russell kemudian naik daun setelah menandatangani kontrak 10 tahun dengan The Walt Disney Company. Walau beberapa kali gagal meraih Piala Oscar maupun Golden Globe, Russell tetap jadi aktor yang disegani karena piawai memainkan banyak karakter berbeda. “Saya senang memainkan banyak karakter karena saya juga senang memperhatikan orang lain. Kemudian saya mencoba menirukan sebagian gaya mereka dan mengombinasikannya dengan imajinasi saya sampai akhirnya saya menciptakan karakter orang itu dengan cara saya sendiri,” sambung Russell. Selain karena disegani sebagai aktor serba bisa, Russell juga mampu bertahan di belantika Hollywood lantaran tak satu dekade pun sejak 1962 ia pernah vakum tanpa tawaran main film atau drama seri. Russell menyatakan, salah satu faktornya adalah keberuntungan. Faktor lain adalah karena ia menerapkan mentalitas yang sama ketika ia masih bermain bisbol. “Saya selalu menjadi team-player setiap kali masuk ke lapangan. Saya harus melebur jadi satu tim dengan rekan-rekan untuk mendapatkan kemenangan, membuat saya menjadi bernilai bagi tim. Attitude saya sama di dunia hiburan. Ketika saya tampil di sebuah show , saya harus membuatnya berhasil, membuat saya menjadi bernilai bagi tim produksi, bagi pertunjukannya, bagi film, bagi aktor-aktor lain, bagi sutradara dan para krunya,” tukas Russell.

  • Para Pembangun Yerusalem

    KESUCIAN Yerusalem atau al-Quds dalam bahasa Arab, telah lama diyakini jauh sebelum kemunculan tiga agama monoteistik: Islam,Yudaisme, dan Kristen. Adalah orang Kanaan yang diyakini mendirikan kota di wilayah Yerusalem sekarang pada 3.000 SM. Selain orang Islam, Kristen, dan Yahudi yang mengakui kesakralan Yerusalem, orang Kanaan pun menganggap kota ini sebagai ciptaan Tuhan mereka. Sebagaimana ditulis Haitham F. Al-Ratout, arsitek dan arkeolog An-Najah National University, Palestina, dalam The Architectural Development of Al-Aqsa Mosque in the Early Islamic Period: Sacred Architecture in the Shape of the ‘Holy’ , makna religius wilayah Yerusalem itulah yang mungkin telah mendorong kemakmuran arsitektur dan perkotaan kawasan itu bahkan sebelum ketiga agama itu lahir. Kesuciannya telah lebih dulu dipercaya bahkan sejak periode Kanaan pada 3.300–1.200 SM. “Itu karena nama paling awal Uru-Salim mengacu pada nama Tuhan orang Kanaan,” tulis Haitham. Pemukim Terawal Apa yang disebut sebagai periode Kanaan adalah masa saat pertama kali sebuah kota berdiri di wilayah Yerusalem sekarang. Banyak yang yakin, orang Kanaan adalah pemukim asli Yerusalem. Laman Live   Science  menjelaskan, orang Kanaan merupakan mereka yang tinggal di tanah Kanaan. Menurut teks-teks kuno, wilayah itu mungkin termasuk bagian dari Israel, Palestina, Lebanon, Suriah barat daya, dan Yordania pada zaman modern. Kebanyakan pengetahuan para ahli tentang orang Kanaan berasal dari catatan yang ditinggalkan orang-orang yang berhubungan dengan mereka. Ditambah pula dengan temuan-temuan arkeologi di situs-situs yang diduga pernah didiami oleh orang Kanaan.  Jodi Magness, arkeolog, orientalis, dan sarjana agama, dalam The Archaeology of the Holy Land: From the Destruction of Solomon’s Temple to the Muslim Conquest  menjelaskan temuan arkeologi yang sebagian besar berupa bejana tembikar dari kuburan kuno dan struktur dinding permukiman membuktikan bahwa Yerusalem pertama kali dihuni pada awal zaman perunggu, sekira 3.000 SM. Sementara pada zaman perunggu pertengahan, sekira 1.800 SM, permukiman itu telah dibentengi dan dilengkapi dengan sistem air yang canggih. Teks dari Mesir Zaman Perunggu yang disebut Execration Text  (1.900 SM) dan Surat el-Amarna  (1.400 SM) mengkonfirmasi pula keberadaan permukiman di Yerusalem kala itu. “Dokumen-dokumen ini menyebut Yerusalem sebagai ‘Rushalimum’,” jelas Magness. “Nama itu mirip dengan sebutan ‘Uru-Salim’ yang tercatat kemudian dalam lempengan tanah liat, penemuan di el-Amarna, Mesir Tengah.” Israel Finkelstein, arkeolog, profesor emeritus di Universitas Tel Aviv, Israel, dalam The Forgotten Kingdom: The Archaeology and History of Northern Israel  menjelaskan pada akhir abad ke-19 ditemukan 370 lempengan tanah liat di el-Amarna. Termasuk di dalamnya adalah korespondensi diplomatik Firaun Amenophis III dan Amenophis IV dan penguasa negara kota Kanaan.  “Orang-orang yang menulis atau menerima surat dari Mesir semuanya adalah penguasa negara kota,” catat Israel. Menurut Haitham, kondisi geografis kota dan iklimnya yang moderat kemungkinan menjadi daya tarik orang Kanaan awal untuk menetap di tempat itu. Temuan arkeologis mengkonfirmasi kelangsungan penggunaan situs ini sampai setidaknya abad ke-8 SM, yakni ketika ekspansi ke arah utara dimulai. Jatuh Bangun Kuil Solomon Yerusalem menjadi penting bagi orang Yahudi ketika Raja Daud mulai membangun ibu kota kerajaannya di kota itu. Kitab Perjanjian Lama menggambarkan bagaimana pasukan yang dipimpin Raja Daud menembus tembok Yebus pada sekira 1.000 SM. Bagi Kristen dan Yahudi, Daud atau David adalah raja kedua Bani Israel, sedangkan bagi umat Islam, dia dipandang sebagai seorang nabi. Menurut Alkitab, pada puncak bukit di mana Daud membangun altar pengorbanan, Solomo atau Sulaiman, putra Daud, mendirikan Kuil Yahudi Pertama pada abad ke-10 SM. Namun, kuil ini dibangun hanya untuk dirobohkan 400 tahun kemudian oleh pasukan Raja Babilonia, Nebukadnezar. Sebagaimana dilansir Smithsonian   Magazine , banyak orang Yahudi yang dikirim ke pengasingan kala itu. Mereka baru diizinkan kembali ke Yerusalem dari pengasingan usai Babilonia dikalahkan Kerajaan Persia. Pada 538 SM pembangunan Kuil Kedua pun dimulai.  Kekuasaan Persia di tanah suci itu tak bertahan selamanya. Mereka dipaksa bertekuk lutut di bawah kuasa Raja Aleksander Agung dari Kekaisaran Makedonia. Pada 332 SM, kata Haitham, Kekaisaran Helenistik itu juga mencaplok Yerusalem sebagai bagian dari wilayahnya.  Pada sekira abad ke-2 SM, kekuasan atas kota itu berpindah lagi. Kali ini kepada Kaum Makabe. Mereka adalah pemimpin pasukan pemberontak Yahudi yang mengambil alih Provinsi Yudea. Kota kembali hancur ketika pemerintahan Romawi dimulai pada 63 SM. Namun, ketika Raja Herodes berkuasa pada 37 SM pembangunan di kota itu kembali dilakukan, termasuk Kuil Kedua, yang kali ini diperluas dan diperbarui. “Terjadi perluasan ke arah utara dan beberapa aktivitas di area Masjid al-Aqsa sekarang,” jelas Haitham.  Sayangnya, kuil kedua itu kembali dihancurkan oleh orang Romawi dalam pemberontakan Yahudi pada 70 M. Untuk kali ini kuil Yahudi itu tidak pernah dibangun kembali. Bukti arkeologi menegaskan peristiwa penghancuran dan betapa hampir musnahnya kota itu.  Adalah Titus Flavius Vespasianus yang bertanggung jawab membawa kehancuran pada Yerusalem. Titus terkenal sebagai komandan militer di bawah kepemimpinan ayahnya, Kaisar Romawi Vespasian, di Yudea selama Perang Yahudi-Romawi Pertama. Titus kemudian menggantikan ayahnya pada 79–81 M. “Setelah penghancuran Kuil pada 70 M, orang Romawi mungkin telah mensucikan sebuah kuil atau patung,” kata Haitham. “Tetapi ketika agama Kristen mengambil alih kekaisaran, daerah itu tetap dibiarkan rusak.” Pembangunan Gereja dan Masjid Sebagai tempat penyaliban, kebangkitan dan kenaikan Kristus, serta banyak peristiwa lain dalam inkarnasi, Yerusalem pun dihormati secara luas dalam kekristenan. Ini terutama setelah Kaisar Konstantin Agung melegalkan agama itu pada 325 M. Ditambah pula ibunya, Helena, yang memastikan kawasan Yerusalem merupakan tempat di mana mukjizat terjadi di dalam hidup Kristus. Alih-alih menggantikan kuil Yahudi yang hancur, orang Kristen membuat situs baru untuk memperingati peristiwa paling sakral dalam kepercayaan mereka. Lokasinya di Golgota, sebuah bukit di sebelah barat laut Temple Mount, di Christian Quarter kini. Tempat ini  dihormati sebagai tempat penyaliban Kristus, gua penguburan dan kebangkitan-Nya. “Ibu dari Kaisar Romawi Konstantin, mendirikan beberapa gereja di kota, termasuk Gereja Makam Suci,” lanjut Haitham. Setelah penaklukan muslim atas Yerusalem pada 637 M, pembangunan lebih lanjut dimulai. Peran religius Yerusalem yang juga signifikan bagi Islam, menjadikan kota ini sebagai pusat keagamaan Khalifah Umayyah.  Bagi umat Islam, Bayt al-Maqdis atau Yerusalem adalah rumah bagi Masjidil Aqsa atau Al-Haram al-Sharif (Tanah Suci yang Mulia) yang merupakan kompleks seluas 144.000 meter persegi. Kompleks ini menampung beberapa bangunan penting, seperti Jami’ Al-Aqsha dengan kubah biru keabuan dan Kubah Shakhrah (Dome of the Rock), bangunan berbentuk persegi delapan berkubah emas. Umat Muslim di seluruh dunia menghadap ke Masjidil Aqsa ketika salat dan berdoa, sebelum akhirnya kiblat berubah ke Kakbah di Makkah. Nabi Muhammad pun melakukan perjalanan malam hari bersama Malaikat Jibril dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa. Dari situ, Rasulullah diangkat ke langit ketujuh, bertemu dengan Allah Swt, dan menerima perintah salat lima waktu atau yang disebut dengan peristiwa Isra Mikraj. “Kawasan suci ini dianggap keramat, baik oleh orang Muslim maupun Yahudi, sebagai tempat di mana Nabi Ibrahim (Abraham) dicegah untuk mengorbankan putranya Ismail atau Ishak bagi orang Kristen dan Yahudi, oleh Tuhan,” catat Aljazeera .  Kehadiran Masjid al-Aqsa termasuk Dome of the Rock dan bangunan besar lainnya, jaringan jalan, dan drainase menegaskan sejauh mana ledakan pembangunan yang dilakukan di bawah Khalifah kelima Dinasti Umayyah, Abdul Malik bin Marwan (685–705 M) dan putranya Al-Walid Ι (705–715 M). “Ini adalah periode terakhir pembangunan skala besar di Yerusalem hingga zaman modern,” lanjut Haitham. Mencari Akar Agama Pada masa modern, Haitham berpendapat, status Yerusalem sebagai kota suci menarik orang-orang Yahudi, Muslim, dan Kristen untuk menjelajahi akar sejarah dan geografis dari agama mereka masing-masing. “Investigasi semacam itu mungkin telah dilakukan oleh Helena [ibu Kaisar Konstantin],” catatnya. Pada awal paruh kedua abad ke-19, beberapa otoritas dan institusi arkeologi Barat memulai eksplorasi Alkitabiah di Yerusalem. Banyak yang percaya, termasuk para ahli, bahwa Dome of the Rock dibangun di atas Kuil Pertama dan Kedua. Al-Haram al-Sharif bagi orang Yahudi pun dikenali sebagai Temple Mount. Ratusan orang Yahudi Ortodoks hingga kini berkumpul dalam pengabdian di depan sisa-sisa tembok itu. “Ritual yang mungkin pertama kali terjadi pada abad ke-4 M dan telah dipraktikkan terus menerus sejak awal abad ke-16,” catat Smithsonian Magazine . Masalahnya, sebagaimana dijelaskan Wendy Pullan, dkk., sarjana arsitektur dan studi perkotaan di Clare College, Cambridge, sekaligus Direktur Pusat Penelitian Konflik Perkotaan di Cambridge dalam The Struggle for Jerusalem’s Holy Places , tak ada lagi sisa-sisa peninggalan kuil-kuil itu yang masih bisa ditemukan pada masa kini. Sumber tentang adanya Kuil Pertama hanya didasarkan pada keterangan di Alkitab. “Alasannya sederhana. Kuil Kedua dihancurkan sekira 600 tahun sebelum Dome of the Rock dibangun,” jelas Wendy. Dari sudut pandang arkeologis, apa yang telah dihasilkan dari penelitian tentang kuil-kuil Solomon atau Herodian tampaknya tidak memuaskan para sarjana Alkitab. Kurangnya bukti arkeologis menyulitkan untuk membuat kesimpulan yang tegas. “Berbagai hipotesis kontroversial tentang lokasi Kuil Yahudi lebih disebabkan oleh interpretasi politik daripada bukti yang lebih obyektif,” jelas Haitham. “Penggalian dan analisis ilmiah di area Masjid al-Aqsa saat ini tidak mengungkapkan aktivitas struktural apa pun dari abad ke-12 SM hingga abad ke-6 SM.” Menurut Haitham, daripada berkeras bahwa tembok kuno yang kini tersisa sebagai bagian dari Kuil Herodes, masih ada pertimbangan lainnya. Misalnya, tembok itu adalah bagian dari tembok kota dan area tertutup di dalamnya adalah bagian dari Kota Yerusalem. “Asumsi ini sebagian besar masih bersifat hipotesis, tetapi mungkin memberikan penjelasan dan interpretasi yang lebih baik tentang area yang luas ini,” jelas Haitham. Sejauh ini para peneliti terlalu membatasi diri dengan berprasangka bahwa wilayah Al-Aqsa awalnya adalah Kuil Yahudi. Namun, menurut Haitham, jika dibandingkan dengan deskripsi kuil yang diterangkan dalam Alkitab, laporan Flavius Josephus, dan Kitab Mishnah, ukuranya tidak akan sesuai dengan enklave Al-Aqsa saat ini. “Ini mengharuskan para sarjana untuk mencari kemungkinan lokasi lain bagi Kuil Yahudi,” tegas Haitham.  Seperti yang dilakukan Ernest L. Martin dalam “New Evidence for the Real Site of the Temple in Jerusalem (Abridged)” yang terbit dalam  Bible and Spade (Second Run) BSPADE 14:4 (Fall 2001) . Dia lebih yakin situs asli Kuil Yahudi letaknya bukan di Dome of the Rock atau Al-Haram al-Sharif. Menurutnya, situs yang asli berada di Mata Air Gihon, tepat di utara Kota Daud (Sion) kuno di punggung tenggara Yerusalem. “Semua saat ini yang bertempur di Yerusalem untuk memperebutkan Al-Haram al-Sharif atau situs Kuil sedang berperang untuk tempat yang salah,” jelas Ernest.  Bagaimanapun, kata Eero Kalevi Junkkaala, arkeolog dan teolog Finlandia, dalam Three Conquests of Canaan , penelitian arkeologi Yerusalem penuh dengan kontroversi. Penelitiannya begitu sulit karena kota ini sudah tertutup oleh bangunan-bangunan yang lebih baru. Beberapa komunitas permukiman juga tak terputus, misalnya di Bukit Ophel yang ditempati sejak abad ke-10 hingga awal abad ke-6 SM. “Hanya menyisakan sedikit dari aktivitas pembangunan sebelumnya. Bangunan tua terus-menerus dihancurkan, bangunan baru didirikan di atasnya,” jelas Eero.*

  • Sikap KAA pada Konflik Israel-Palestina

    KONFLIK antara Israel dan Palestina kembali memanas sejak bentrokan antara tentara Israel dan warga sipil palestina pecah pada akhir April lalu di Yerusalem. Bentrokan kemudian diikuti saling serang antara tentara Israel dan Hamas di pihak Palestina. Bentrokan ini sempat terhenti melalui gencatan senjata pada Jumat dini hari 21 Mei 2021. Namun, siangnya, bentrokan pecah lagi usai sholat Jumat di Masjid al-Aqsa, Jerusalem. Masalah Palestina telah dibicarakan dalam Konferensi Asia-Arika 1955 serta Konferensi Kolombo dan Konferensi Bogor yang diadakan sebelumnya. Bagaimana sikap negara-negara peserta KAA yang kala itu bersolidaritas atas nama anti-kolonialisme? Menurut sejarawan Wildan Sena Utama dalam Dialog Sejarah “Gerakan Asia Afrika dan Pembebasan Palestina” di saluran Youtube  dan Facebook Historia, Jumat, 21 Mei 2021, sikap mengenai Palestina telah disampaikan oleh Indonesia dan Pakistan sejak Konferensi Kolombo pada 1954. “Jadi, Indonesia dan Pakistan itu mengangkat masalah Palestina karena itu juga berkaitan dengan kolonialisme yang menjadi konsern dari negara-negara Asia yang berkumpul di Kolombo pada waktu itu. Dan mereka menyatakan, kedua negara itu, sikap keras terhadap agresi Israel di Palestina,” sebut Wildan. Konferensi Kolombo, lanjut WIldan, akhirnya menghasilkan satu simpati terhadap penderitaan Palestina yang diikuti oleh mendesak PBB untuk turut dalam penyelesaian konflik dan mengirim kembali para pengungsi Palestina. Masalah Palestina kemudian dibawa ke pembahasan persiapan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bogor pada tahun yang sama. Dalam pertemuan di konferensi yang juga disebut Konferensi Bogor atau Konferensi Lima Negara itu, perdebatan muncul sehubungan dengan undangan KAA kepada China dan undangan kepada Israel. Indonesia dan Pakistan masih bersikap sama, menentang pengakuan terhadap Israel. Sementara Burma dan Sri Lanka, tidak keberatan jika Israel diundang dalam KAA. Burma tidak melakukan penolakan terhadap Israel karena kedua negara tersebut memiliki hubungan ekonomi-politik. Sikap ini dipertahankan hingga ketika KAA digelar. Burma meminta kepada delagasi lain tidak memaksakan Burma agar menentang Israel. India, yang kala itu dipimpin oleh Jawaharlal Nehru, bersikap mendua dalam kasus itu. India tidak menolak diundangnya Israel, namun khawatir jika Israel diundang, negara-negara Arab akan absen dari KAA. KAA yang diselenggarakan di Bandung pada 18-24 April 1955 akhirnya tak mengundang Israel. Dalam konferensi bangsa-bangsa baru merdeka di Asia-Afrika itu, isu Palestina menjadi salah satu perhatian utama di bidang politik. “Jadi isu Palestina masuk ke dalam komite politik. Dan di sana Sukarno juga berbicara lantang di dalam pidato pembukannya,” terang Wildan. Dalam pidatonya, Sukarno menekankan mengenai apa yang menjadi dasar solidaritas negara-negara Asia-Afrika. Ia mengingatkan bahwa Asia-Afrika disatukan oleh sikap anti-kolonialisme, anti-rasialisme, dan keinginan membangun perdamaian dunia. “Dan Sukarno juga menekankan bahwa solidaritas Asia-Arika ini juga disatukan oleh apa yang dia sebut sebagai the lifeline of imperialism , garis hidup imperialisme yang menurut Sukarno itu membentang dari Selat Gibraltar, Laut Mediterania, Terusan Suez sampai ke Indian Ocean ,” sambungnya. Anti-kolonialisme isu Palestina juga paralel dengan perjuangan kemerdekaan Al-Jazair, Maroko, dan Tunisia. Saat itu, negara-negara Arab dengan keras mengutuk zionisme internasional. “Jadi mereka mengkomplain bagaimana resolusi PBB terhadap masalah Palestina itu tidak dijalankan oleh Israel. Dan juga negara-negara Arab itu mengatakan bahwa Zionisme adalah cruel imperialism : imperialism yang kejam,” terang Wildan. Sementara itu, India menolak zionisme diklasifikasikan sebagai imperialisme meskipun mengakui bahwa zionisme merupakan langkah agresif. India juga mengingatan tentang pembantaian terhadap Yahudi di Jerman, Polandia, dan Austria yang membuat orang Yahudi berkeinginan mendirikan negara sendiri. China juga punya sikap sendiri. Dalam pidatonya, PM Zhou Enlai mendukung negara-negara Arab dalam kasus Palestina. Zhou Enlai menegaskan bahwa ia menolak intervensi kekuatan asing di Palestina. Hal ini ia paralelkan dengan kasus Taiwan di mana dia mengutuk ancaman pangkalan militer Amerika Serikat. Meski terjadi beberapa perbedaan pendapat, KAA sepakat bahwa isu Palestina masuk dalam permasalahan kemanusiaan serta perlu segera diselesaikan. “Dan akhirnya Konferensi Asia-Afrika menyetujui dalam final komunikenya yang disebut sebagai Dasasila Bandung sendiri itu, ada poin tentang dukungan terhadap masalah Palestina itu sendiri sebagai salah satu ancaman dari ketegangan dunia, seperti itu. Dan mendesak agar pengungsi Arab itu dikembalikan lagi ke tanah mereka,” jelas Wildan.*

  • Balada Menteri Goblok

    “Bloook ... Gobloook!” Kalimat itu sempat viral beberapa hari belakangan. Bermula dari aksi seorang ibu paruh baya yang memarahi kurir pengantar barang. Dalam video yang diunggah ke media sosial  itu, terlihat si ibu berkali-kali mengumpati kurir dengan sebutan goblok. Alasannya, barang yang dipesan lewat transaksi bayar di tempat (COD) itu tidak sesuai pesanan. Sontak saja, aksi si ibu tadi menuai sorotan tajam dari warganet. Apapun alasannya, ucapan itu bermakna nista. Lema goblok dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti bodoh sekali. Presiden Sukarno pernah prihatin ketika unjuk rasa mahasiswa menghujat menterinya dengan sebutan goblok. Aksi mahasiswa itu dilakukan menjelang sidang paripurna kabinet pada 15 Januari 1966. Menurut Cosmas Batubara, yang saat itu menjadi ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI), mahasiswa begitu muak dengan pemerintahan orde lama. Mereka menutut pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta ormas-ormasnya, perombakan Kabinet Dwikora, dan turunkan harga pangan. Tiga tuntutan ini kemudian dikenal sebagai Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). “Karena itu, ketika mobil para menteri yang akan menghadiri sidang kabinet lewat di depan mahasiswa, anak-anak muda itu meneriaki menteri yang lewat dengan kata-kata ‘menteri goblok’,” tutur Cosmas dalam Cosmas Batubara: Sebuah Biografi Politik. Tidak hanya itu, para mahasiswa juga mendorong mobil yang ditumpangi menteri dan menggoyang-goyangnya. Tentu saja menteri yang berada dallam mobil ketakutan menghadapu perlakuan mahasiswa itu. Kekesalan para mahasiswa terhadap para menteri dalam Kabinet Dwikora memang telah mencapai puncaknya. Pengalaman serupa juga tersua dalam catatan harian Soe Hok Gie yang dibukukan Catatan Seorang Demonstran . Di bilangan Salemba Jakarta Pusat, mahasiswa menyetop mobil-mobil yang melintas hingga menyebabkan kemacetan. Selama demonstrasi, kata Gie, mahasiswa melancarkan aksi tempel plakat di jalanan. Isinya bermacam-macam yang berkisar pada Tritura. Salah satunya adalah “RITUL MENTERI GOBLOK”. Gie juga mencatat, nyanyian-nyanian perjuangan yang lahir dari situasi politik penuh gejolak itu: Tek, kotek-kotek-kotek Ada menteri tukang ngobyek Blok, goblok-goblok-goblok Kita ganyang menteri goblok Lagu plesetan yang berasal dari pencipta lagu anak AT. Mahmud berjudul “Anak Ayam” itu menjadi “ top hits ” di kalangan mahasiswa demonstran. Liriknya pun mengalami beberapa gubahan namun tetap bernada satir yang ditujukan kepada pemerintah. Salah satunya versi Ajip Rosidi, budayawan Sunda yang pernah terlibat  dalam Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI) di Bandung. Seperti terkisah dalam otobiografinya Hidup Tanpa Ijazah , lagu “Anak Ayam” itu mengalami sedikit gubahan pada bagian lirik terakhir. Kotek-kotek, koteek Menteri goblok disamber gledek. Olokan mahasiswa yang berdemonstrasi itu rupanya sampai kepada Presiden Sukarno. Dalam sidang kabinet, Sukarno menumpahkan kejengkelannya mengenai ulah mahasiswa. Dia sakit hati menterinya dikatakan goblok. Kata itu semestinya tidak patut diucapkan terlebih lagi kepada orang yang lebih tua. “Ini yang membikin sedih kepada saya itu, ya maksudnya, sedih kepada saya, sampai ada ucapan-ucapan dari kalangan mahasiswa, ‘menteri goblok’. Lebih kasar daripada perkataan bodoh,” ujar Sukarno dalam pidatonya yang terhimpun dalam Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Sukarno 30 September 1965–Pelengkap Nawaksara  suntingan Budi Setiyono dan Bonnie Triyana.    Aksi-aksi demonstrasi mahasiswa itu juga dibarengi dengan aksi mogok kuliah. Mereka berupaya mendatangi para menteri yang dicurigai terlibat Gerakan 30 September. Namun, usaha-usaha tersebut tidak banyak efeknya. Hasil kongkretnya hanyalah harga bensin turun dari Rp1000 menjadi Rp500.*

  • Akhir Tragis Penduduk Jerman di Fase Akhir Rezim Fasis

    Setelah lebih dari 10 tahun dari kunjungan pertamanya, fotografer-jurnalis Margaret Bourke-White kembali mendapat kesempatan meliput ke Jerman pada awal 1945. Pada kunjungan pertamanya, tahun 1932, Margaret yang masih bekerja untuk Majalah Fortune mendapati keadaan Jerman mengkhawatirkan. Jerman yang saat itu dilarang memiliki militer dalam jumlah besar oleh Perjanjian Versailles usai Perang Dunia I, justru getol melakukan pelatihan militer dan sedang diwabahi Naziisme. “Dia tinggal di Jerman cukup lama untuk memotret pasukan Jerman yang sedang berlatih dengan peralatan tiruan, seperti senapan kayu. Saat itu, Jerman dilarang memiliki tentara yang besar dan menimbun persenjataan,” tulis Emily Keller dalam biografi Margaret berjudul Margaret Bourke-White: A Photographer’s Life . Maka ketika mendapat kesempatan kedua mengunjungi Jerman, Margaret bersemangat. Dia berangkat pada Maret 1945, ketika negeri itu telah berada di jurang kekalahan dalam Perang Dunia II. Sebagai fotografer-koresponden AD Amerika Serikat, Margaret bertugas mendokumentasikan dan melaporkan keadaan di tempat-tempat yang disinggahinya mengikuti gerak-maju Tentara Ketiga AD AS pimpinan Jenderal George Patton. “Dia melihat orang-orang Jerman yang dikalahkan melalui mata seorang pemenang: dalam histeria mereka yang suram, berjuang untuk hanya beberapa inci dari tanah-air ketika seluruh bangsa mereka tercabik-cabik, mereka baginya tampak seperti makhluk dari planet lain,” tulis sejarawan Florian Huber dalam Promise Me You’ll Shoot Yourself: The Mass Suicide of Ordinary Germans in 1945 . “Orang macam apa ini, persetujuan siapa, baik pasif atau kriminal, yang memungkinkan kekuatan jahat tumbuh? Seberapa dalam Hitler bergejolak di dalam jiwa orang Jerman kebanyakan?” kata Margaret bertanya pada dirinya sendiri sebagaimana dikutip Florian. Dalam kunjungan keduanya itu, Margaret dibuat syok oleh fenomena mengerikan yang tak umum. Ketika Margaret bersama seorang sersan AD AS meminta rumah untuk dijadikan kantor pers di kota Schweinfurt, Lower Franconia pada April 1945, mereka justru mendapati seorang ibu dan dua putranya yang masih kecil tewas bunuh diri. Ibu itu menembak dirinya sendiri di gudang batu bara setelah sebelumnya memberi sianida pada kedua putranya untuk diminum. Meskipun hati Margaret merasa tersayat, pemandangan itu membuat hasrat jurnalistiknya tergugah. “Membuatku harus memotret tubuh-tubuh kecil yang menyedihkan itu, korban kekuatan yang seharusnya sangat jauh dari kehidupan seorang anak, adalah salah satu pekerjaan tersulit yang pernah ku miliki,” kata Margaret, dikutip Florian. Pada 20 April, Margaret diajak Bill Walton, koleganya dari Majalah Life , ke balaikota. Begitu sampai di bangunan bergaya Baroque yang hancur oleh artileri pasukan AS itu, mereka segera menarik nafas karena melihat pemandangan mengerikan di sebuah ruang. Di sana Dr. Kurt Lisso, bendahara kota Schweinfurt sekaligus anggota awal Nazi, dan keluarganya terbaring tak bernyawa di kursi masing-masing akibat bunuh diri.   “Berbaring di atas furnitur kulit yang koyak adalah sebuah keluarga, begitu akrab, begitu hidup, sehingga sulit untuk menyadari bahwa orang-orang ini sudah tidak hidup lagi. Duduk di depan meja, dengan kepala tertunduk seolah-olah sedang beristirahat, adalah Dr. Kurt Lisso. Di sofa ada putrinya, dan di kursi berlengan empuk duduk istrinya. Dokumen untuk seluruh keluarga tertata rapi di atas meja. Di sebuah ruangan di dekatnya, duduk dalam lingkaran yang sama seperti aslinya, adalah Walikota Alfred Freiberg, Ober-burgermeister, bersama istrinya, dan putrinya yang cantik, Magdalena. Kamar-kamar yang bersebelahan memiliki karakter damai dan sunyi yang serupa,” kata Margaret dalam diary -nya, dikutip Walter Kempowski dalam Swansong 1945: A Collective Diary from Hitler’s Last Birthday to VE Day . Mayat-mayat akibat bunuh diri menjadi pemandangan yang hampir selalu dilihat Margaret di kota ataupun pedesaan yang disinggahinya sepanjang perjalanannya melintasi wilayah Rhineland, Hesse, Bavaria, Thuringia hingga Saxony. Bunuh diri menjadi pilihan banyak warga Jerman di fase akhir Perang Dunia II ketika tentara Sekutu mulai memasuki wilayah Jerman dari timur dan barat. Alasan di balik pilihan menakutkan itu amat rumit, merupakan rajutan dari faktor ketiadaan harapan di hari depan, kesulitan ekonomi yang bakal dihadapi, harga diri yang terinjak sebagai bangsa yang kalah, rasa bersalah pada sebagian besar pelaku kejahatan semasa perang, respon terhadap kondisi yang dihadapi begitu tentara Sekutu tiba, dan ketakutan. Faktor ketakutan timbul akibat propaganda massif yang dilakukan elite Nazi. Tujuan propaganda itu adalah untuk mendapatkan kesetiaan penuh rakyat Jerman. Dengan “bahan bakar” pembantaian penduduk Desa Nemmersdorf di Prusia Timur oleh tentara Uni Soviet pada Oktober 1944, Nazi gencar mengkampanyekan propagandanya berupa kengerian yang bakal dialami rakyat Jerman apabila Tentara Merah mencapai tempat tinggal mereka. Dalam sebuah pidatonya, Menteri Propaganda Joseph Goebbel mengatakan bahwa begitu “Gerombolan Bolshevik Mongol” –demikian dia menjuliki Tentara Merah– tiba, mereka akan membumihanguskan kota-kota atau desa-desa yang dilalui, membiarkan penduduk kelaparan, mengirim penduduk kerja paksa ke tundra-tundra, dan melakukan eksekusi massal. Selain itu, para prajurit Tentara Merah bakal menjarah apapun yang ditemui, menyiksa anak-anak sebelum membunuh mereka, dan memperkosa perempuan yang ada tak peduli usia mereka. Sebagai solusi dari keadaan mengerikan itu, Nazi menyarankan agar rakyat melakukan bunuh diri. Bunuh diri, sebagaimana ditulis sejarawan Christian Goeschel dalam Suicide in Nazi Germany , merupakan langkah terakhir yang dicitrakan Hitler sebagai langkah ksatria. Bunuh diri dianggap sebagai lebih “mulia” ketimbang menyerah atau mati ditawan. Alih-alih dianggap sebagai cara pecundang lepas dari tanggung jawab, bunuh diri dianggap sebagai pengorbanan heroik.  Bunuh diri bahkan telah disinggung Hitler saat berpidato di Reichstag pada 1 September 1939, hari di mana Jerman-Nazi memulai serangan ke Polandia yang menjadi pembuka Perang Dunia II. Pandangan Hitler itu segera diamini para pembantunya. Menteri Propaganda Goebbels dalam pidato radionya tanggal 28 Februari 1945 menyinggung kepahlawanan Cato dari Utica yang memilih bunuh diri ketimbang hidup di bawah kekuasaan Julius Caesar. “Bunuh diri selalu menjadi pilihan bagi Hitler, yang mencoba mengikuti contoh Romawi di mana para pemimpin yang gagal menyerahkan hidup mereka pada pedang mereka. Hitler dan para pemimpin Nazi lain tidak melihat bunuh diri sebagai tindakan putus asa,” tulis Goeschel. Propaganda Nazi yang disebarkan lewat radio, suratkabar, pamflet dan media-media lain itu berhasil membuat banyak orang Jerman, termasuk anggota Nazi sendiri, dibayangi ketakutan. Pada awal 1945, banyak penduduk Jerman bunuh diri bahkan sebelum pasukan Soviet memasuki desa-desa dan kota-kota mereka. Di kota kecil Demmin, sebanyak 21 penduduk telah bunuh diri bahkan ketika pasukan Soviet masih bersusah payah membangun jembatan darurat untuk akses masuk ke Demmin yang direbut Soviet pada 30 April 1945. Lothar Buchner, anggota Dinas Perburuhan Nasional setempat, gantung diri setelah mencekik bayinya yang berusia tiga tahun demi menghindari kekejaman tentara Soviet. Langkah Buchner kemudian diikuti istrinya, saudarinya, dan ibu serta neneknya. Apa yang dilakukan Buchner juga dilakukan keluarga Bewersdorff, direktur Asuransi Kesehatan Umum Demmin. Setelah menghabisi semua anggota keluarganya, termasuk dua cucunya yang berusia dua dan sembilan tahun, dia gantung diri. Pun dengan seorang pensiunan polisi. Bersama istrinya keduanya gantung diri yang kemudian diikuti dua putrinya. Namun, bunuh diri massal tak hanya terjadi di kota-kota dan desa-desa di wilayah timur. Di barat, para penduduk juga telah mulai menghabisi diri mereka sendiri sejak awal 1945. Di Friedberg, Hesse, pria berusia 35 tahun gantung diri pada 3 Februari. Tindakannya itu kemudian diikuti istrinya dengan membunuh putranya sebelum menyayat pergelangan tangannya sendiri. Di Giessen,  guru bernama Frank dan istrinya meminum racun ketika pasukan Amerika –yang dipropagandakan Nazi akan menghisap darah anak-anak dan memperkosa perempuan–  memasuki kota. Jumlah bunuh diri melonjak, terutama pada kaum perempuan di wilayah timur, setelah pemerkosaan menjadi pemandangan umum yang dilakukan para serdadu Soviet. “Biarawati, gadis-gadis, perempuan tua, ibu hamil dan ibu yang baru saja melahirkan semua diperkosa tanpa belas kasihan,” tulis jurnalis Antony Beevor dalam Berlin: The Downfall 1945 . Di Berlin, bunuh diri dengan meminum kapsul sianida merupakan fenomena umum. Hal itu tak lepas dari pembagian kapsul sianida sebagai hadiah perpisahan Hitler yang didistribusikan Pemuda Hitler usai konser pamungkas Berlin Philharmonic pada 12 April 1945. “Membawa kapsul sianida adalah hal biasa di bulan-bulan menjelang akhir perang; di Berlin, misalnya, otoritas kesehatan setempat diduga mendistribusikan kapsul kalium sianida dan perempuan membawa silet di tas tangan mereka. Di distrik Tempelhof di Berlin, istri seorang profesor tua bunuh diri dengan meminum obat tidur segera setelah Soviet tiba pada akhir April 1945,” tulis Goeschel. Di Demmin, pemerkosaan yang dilakukan Tentara Merah menandai dimulainya gelombang kedua bunuh diri massal. Banyak perempuan bunuh diri demi menghidari pemerkosaan. Banyak pula ibu yang menghabisi anak mereka lalu mengakhiri hidup sendiri setelah diperkosa kendati tidak semua berhasil menemui ajal. Waltraud Reski, bocah berusia 11 tahun, ingat betul pemandangan mengerikan itu juga melanda ibunya. Setelah berhasil kabur dari rumah, mereka tertangkap pasukan Soviet dalam perjalanan. Ibu Waltraud lalu dibawa paksa sekelompok serdadu itu dan diperkosa bergiliran. Saking frustrasinya akibat dipaksa melayani nafsu bejat prajurit Soviet hingga sekira 20 kali, sang ibu memutuskan bunuh diri dengan mengajak dua putrinya menceburkan diri ke sungai berarus deras. Beruntung niatnya dapat digagalkan sang nenek. “Pada titik inilah nenek Waltraud menyelamatkan nyawa mereka untuk terakhir kalinya. Dia menahan ibu Waltraud dan berteriak, ‘Tolong jangan lakukan ini! Apa yang sedang kamu lakukan? Apa yang harus kukatakan pada suamimu saat dia kembali dari medan perang dan kau pergi?’ Akibatnya, kata Waltraud, ibunya ‘menjadi lebih tenang’ dan membiarkan dirinya terbebas dari sungai dan pikiran untuk bunuh diri,” tulis sejarawan Laurence Rees dalam Their Darkest Hour: People Tested to the Extreme in WW II . Jumlah bunuh diri di Jerman makin meningkat setelah berita kematian Hitler tersiar ke seluruh negeri. Para petinggi partai dan milisi di pusat dan daerah, anggota militer, hingga penduduk semua melakukan bunuh diri. Goebbels sendiri setelah membunuh anak-anaknya meminta pengawalnya untuk menembak diri dan istrinya –versi lain menyebut Goebbels dan istrinya menelan kapsul sianida. Josef Terboven, komisaris Reich di Norwegia, meledakkan 50 kilogram dinamit di bunkernya pada 8 Mei 1945 begitu mendengar berita kematian Hitler. “Catatan bunuh diri di partai dan eselon atas SS sangat mengejutkan. Delapan dari 41 pemimpin daerah partai yang menjabat antara tahun 1926 dan 1945 dan 7 dari 47 pemimpin SS dan polisi yang lebih tinggi melakukan bunuh diri, diikuti oleh sejumlah pejabat rendah Nazi. Ketakutan akan pembalasan Sekutu dan gagasan pengorbanan diri mungkin telah memotivasi bunuh diri ini. Di eselon atas Angkatan Darat, bunuh diri juga meluas, mungkin karena keterlibatan Angkatan Darat dengan kejahatan Nazi. Menurut statistik tahun 1950, 53 dari 554 jenderal AD, 14 dari 98 jenderal Luftwaffe dan 11 dari 53 laksamana bunuh diri,” tulis Goeschel. Tidak ada angka pasti berapa jumlah kematian akibat bunuh diri massal di Jerman pada 1945. Banyak kasus tidak dilaporkan atau diketahui. Di Berlin sendiri, lebih dari 7000 nyawa dilaporkan melayang karena bunuh diri itu. “Saya tahu tidak ada cara untuk menyampaikan perasaan meningkatnya kekerasan yang kami saksikan saat kami berkendara lebih jauh ke Jerman: gelombang bunuh diri, para wanita melemparkan diri mereka ke kuburan yang baru digali karena kematian yang mereka cintai, kecaman penuh gairah dari teman dan tetangga, ketiadaan aturan umum. Setiap sudut jalan memiliki tragedi terbuka; setiap kehidupan tampaknya ditembak dengan teror masing-masing. Kematian sepertinya satu-satunya jalan keluar,” ujar Margaret, dikutip Florian.

  • Kata Soeharto: Tak Useh, yee...

    Dengan gaya pemerintahan yang otoriter, tidak ada orang yang berani terang-terangan menentang Presiden Soeharto selama Orde Baru berkuasa. Apalagi memintanya untuk mundur dari jabatan presiden. Pemimpin rezim Orde Baru itu baru lengser setelah ditumbangkan lewat gelombang reformasi. Krisis moneter dan desakan rakyat yang berunjuk rasa menjadi cikal bakal keruntuhan Soeharto.

  • Gema Kemerdekaan Palestina dari Seberang Lapangan

    SEIRING kecaman para pemimpin dunia terhadap gempuran Israel ke wilayah Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat, simpati dan dukungan untuk warga sipil Israel turut mengalir dari arena sepakbola. Tidak hanya dari pesepakbola Muslim di Timur Tengah, namun juga dari para pemain Nasrani di sebuah klub di Chile. Aksi duo pemain Leicester City, Hamza Choudhury dan Wesley Fofana, membentangkan bendera Palestina seraya merayakan raihan Piala FA pada 15 Mei 2021 menjadi viral. Aksi tersebut hanya sebagian kecil dari sikap yang diambil para bintang sepakbola terkait konflik Palestina-Israel yang masih berkecamuk. Tiga hari setelah Choudhury dan Fofana, sepasang bintang Manchester United, Paul Pogba dan Amad Diallo, melakoni hal serupa usai laga Premier League kontra Fulham pada 18 Mei. Kendati berbeda bentuk, sikap serupa juga disuarakan Sadio Mané dan Mohamed Salah yang berseragam Liverpool lewat akun Twitter pribadi masing-masing. Salah bahkan meminta Perdana Menteri Inggris Boris Johnson untuk ikut menekan Israel agar menghentikan serangannya yang hingga Kamis (20/5/2021) menewaskan 230 warga Palestina, di mana 65 di antaranya anak-anak. “Saya menyerukan kepada para pemimpin dunia termasuk perdana menteri dari negara yang telah menjadi rumah saya selama empat tahun terakhir untuk melakukan segala yang mereka mampu demi memastikan kekerasan dan pembunuhan terhadap orang-orang tak berdosa segera dihentikan. Cukup adalah cukup. @BorisJohnson,” kicau Salah di akunnya, @MoSalah , 12 Mei 2021. Kolase aksi solidaritas pesepakbola Amad Diallo, Paul Labile Pogba, Hamza Dewan Choudhury, dan Wesley Fofana untuk Palestina (Instagarm @amaddiallo19/Twitter @PalMissionUK) Sebelumnya, aksi solidaritas juga ditunjukkan sebuah klub sepakbola di Chile bernama Club Deportivo Palestino. Klub yang mentas di Primera División de Chile itu melakukannya dengan mengalungkan keffiyeh (kain penutup kepala khas Timur Tengah). “Lebih dari sekadar tim, (mewakili) segenap bangsa. Mereka 13 ribu kilometer terpisah dari kami tetapi ikatan yang unik jadi pemersatu dan akan selalu ada. Kekuatan dan solidaritas kami untuk Palestina. Jayalah Palestina yang merdeka!” demikian penyataan klub di akun Twitter -nya, @CDPalestinoSADP , 14 Mei 2021. Dilahirkan Imigran Palestina Didirikannya CD Palestino tak lepas dari besarnya jumlah imigran Arab di Chile yang sudah eksis pada 1850-an. Mereka mengungsi pasca-tanah kelahiran mereka porak-poranda akibat Perang Krimea (1853-1856) yang melibatkan Kekaisaran Rusia melawan Kesultanan Utsmaniyah dibantu Kekaisaran Prancis, Kerajaan Inggris, dan Kerajaan Sardinia. Selain dari Lebanon dan Suriah, para imigran Arab di Chile yang mayoritas pemeluk Kristen Ortodoks itu berasal bangsa Palestina yang hingga kini jadi komunitas Palestina terbesar di luar Timur Tengah dengan populasi lebih dari 500 ribu jiwa. Catedral Ortodoxa San Jorge dibangun pada 1917 oleh para imigran Ortodoks asal Timur Tengah ( palestinefoundation.org.uk ) Mulanya, mereka mengungsi dengan mengarungi Samudera Atlantik dan mendarat di Buenos Aires, Argentina. Tetapi karena di Argentina sudah padat komunitas Yahudi, para pengungsi Arab memilih melintasi Pegunungan Andes menuju Chile dan banyak menetap di kota-kota penyangga Santiago. Mereka diterima dengan tangan terbuka oleh penduduk setempat walau keberatan dijuluki “Turks” (orang Turki) karena paspor Kesultanan Utsmaniyah mereka. “Kebanyakan imigran dari Palestina memulai perjalanan mereka di pelabuhan Haifa. Dari sana mereka berperjalanan ke sebuah pelabuhan di Eropa dan setelah menunggu beberapa periode waktu, melanjutkan pelayaran ke Amerika. Sebelum dibangun jalur keretaapi Trans-Andean, mereka berangkat dari Argentina ke Chile dengan keledai,” tulis Hagai Rubinstein dalam “Constructing a Transnational Identity: the Three Phases of Palestinian Immigration to Chile, 1900-1950” yang termuat dalam Migrants, Refugees, and Asylum Seekers in Latin America . Pada dekade pertama abad ke-20, situasinya mulai berubah. Pemerintah Chile berusaha menyetop masuknya imigran gegara krisis ekonomi ditambah mulai munculnya xenofobia dan suara-suara bernada rasis dari orang setempat. Pandangan miring itu berasal dari pemberitaan media-media terhadap kaum imigran dari Arab dan Asia Timur (China dan Jepang) yang mereka anggap orang-orang kotor dan tak berpendidikan. “Banyak penulis yang menyerang orang-orang Chile keturunan Arab. Nicolás Palacios dalam bukunya Raza Chilena mengecam imigrasi orang-orang Arab dan komplain bahwa ‘orang-orang Turki’ mencuri lapangan pekerjaan kelas menengah. Jurnalis Joaquín Edwards Bello menuding praktik-praktik tak etis bisnis-bisnis Arab dalam editorialnya di La Nación . El Mercurio yang juga menyatakan: ‘Entah mereka muslim atau Buddha, apa yang bisa dilihat dan tercium dari jauh adalah mereka lebih kotor dari anjing-anjing Konstantinopel’,” ungkap Brenda Elsey dalam Citizens and Sportsmen: Futbol and Politics in Twentieth-Century Chile. Elías Deik Lamas (kiri) salah satu pendiri Club Palestino ( Revista Los Sports , 13 Maret 1931/palestinohistorico.cl) Sadar eksistensi mereka mulai terpojok, para imigran Arab berupaya membaur lewat olahraga. Imigran Palestina sebagai kaum pendatang terbesar mendirikan perkumpulan olahraga Club Sportivo Palestina pada Maret 1916 di Ricoleta, kota kecil di utara Santiago. Klub itu mewadahi atletik, renang, tenis, tinju, senam, hingga sepakbola. Khusus sepakbola, Club Sportivo didirikan para atlet muda perhimpunan itu pada 20 Agustus 1920 (beberapa versi menyebut 8 Agustus 1920) di Osorno. Mulanya klub itu dibentuk khusus untuk para imigran sebagaimana Audax Italiano dan Unión Española yang dibentuk oleh imigran Eropa untuk mengikuti pesta olahraga koloni dan pendatang di Osorno. “Bintang tenis dan co-founder Club Palestino, Elías Deik Lamas, mengenang bahwa pendirian klub sebagai upaya mereka berpartisipasi di komunitas olahraga Chile. Ia mengenang bahwa Club Palestino dilahirkan oleh lingkaran teman-temannya yang mulai bermain sepakbola di usia sekolah meniru klub-klub imigran di Santiago. Kebanyakan anggotanya adalah remaja hingga kemudian mereka bergabung ke Santiago Football Association’s Youth League of Honor,” imbuh Elsey. Namun, di gelanggang olahraga pun mereka acap mengalami diskriminasi rasial baik verbal maupun fisik. Setelah keluar dari asosiasi itu pada 1921 dan masuk lagi setahun berselang, mereka angkat kaki lagi pada 1923. “Kami harus meninggalkan ekspedisi itu karena kami merasa tim-tim lawan kami sangat kasar dalam permainan. Padahal saat itu kami tak terkalahkan. Setelah keluar, Club Palestino tetap bermain secara informal dengan klub-klub imigran Arab lain dan juga mahasiswa Universitas Katolik. Di sisi lain, untuk menggantikan sepakbola (di kompetisi resmi) Club Palestino fokus pada tenis, mengingat olahraga itu tidak berbahaya dan lawannya lebih menghargai dan menghormati kami,” kenang Deik dikutip Elsey. Dua Bintang Emas Palestino Club Palestino sempat vakum setelah perhimpunannya berganti nama menjadi Palestino Sport Club karena mengintegrasikan cabang olahraga lain. Baru pada 20 Oktober 1938, sebagaimana disingkap Héctor ‘Tito’ Gatica dalam Alamanaque de Fútbol Chileno , klub sepakbolanya aktif kembali. Setelah memisahkan diri dari Palestino Sport Club, namanya diubah menjadi lebih berbau bahasa Spanyol: Club Deportivo Palestino. “Tetapi mereka harus reses lagi selama hampir satu dekade (karena Perang Dunia II) dan setelah memulai lagi upayanya pada 1947, mereka baru resmi melakukan reorganisasi pada 19 Juni 1949 dengan tujuan masuk federasi demi bisa tampil di level nasional. Timnya bertambah kuat setelah merger dengan dua klub imigran Arab lain, Deportivo Árabe Avenida Perú dari Recoleta dan Deportivo Árabe dari Los Guindos,” terang Tito. Club Deportivo Sportivo di musim 1952 (kiri) & 1955 ( Revista Estadio  1955 dan 1953) Saat liga profesional pertama dibentuk federasi pada 1952, CD Palestino diterima masuk dan mentas di Divisi Dua. CD Palestino dilatih Luis Tirado yang merangkap sebagai pelatih Timnas Chile. Klub tak lagi didominasi pemain imigran setelah mulai menerima pemain beda etnis maupun agama. Walau demikian, warna merah-hijau-putih-hitam bendera Palestina tetap dijadikan identitas Palestino lewat logo dan jersey. Dengan sumbangan dana sejumlah organisasi imigran Palestina dan Arab lain, klub bisa menyewa sebuah lahan di Enrique Olivares nomor 1141, Santiago untuk dijadikan lapangan. Toh meski dengan fasilitas seadannya, Palestino bisa langsung memetik gelar liga (Segunda División) di musim pertamanya, 1952-1953. “Di musim pertamanya mereka memenangi titel divisi kedua. Setelah memperoleh poin sama dengan Rangers de Talca di klasemen, pada 26 Januari 1953 dimainkan laga final penentu juara di Stadion Braden Cooper di Rancagua. Mereka menang 4-2 lewat adu penalti setelah menghasilkan skor imbang 2-2 dalam 90 menit waktu normal,” sambung Tito. Skuad Club Deportivo Palestino yang menjuarai Primera División 1978 ( solofutbol.cl ) Setelah promosi ke Primera División Palestino tak lama kemudian berhak menyematkan satu bintang emas sebagai penanda juara, yang dimenanginya pada musim 1955. Kala itu Palestino dilatih Guillermo Coll asal Argentina. Bintang emas kedua melekat di logo klub setelah tampil fantastis dengan rekor tak terkalahkan di musim 1978. “Tetapi sebagaimana para direktur olahraga (klub imigran) Eropa, para pemimpin klub Arab juga melihat kekuatan politik sebagai cara esensial untuk memengaruhi kebijakan negara terhadap situasi Timur Tengah. Sebagai contoh, petinggi Palestino mengirim petisi, surat, dan undangan makan malam untuk pejabat pemerintahan agar mengakui kemerdekaan Palestina. Presiden klub Hafez Awad mengatakan: ‘Kami bisa hidup tanpa perempuan tapi kami takkan bisa hidup tanpa cinta pada negeri kami,’” tambah Elsey. Palestino tak pernah tutup mata pada situasi di Gaza dan Tepi Barat pasca-berdirinya Israel sejak 1948. Perlahan tapi pasti, rasa solidaritas itu tertanam kuat di benak para fans dan pemain, kendati hingga sekarang mayoritas pemainnya bukan keturunan Arab-Palestina. “Sejak dulu sampai sekarang terus terjadi penyangkalan historis secara fundamental dari pihak Yahudi Israel tentang eksistensi bangsa Palestina. Padahal Club Palestino bahkan sudah lebih dulu eksis sebelum negara Israel lahir. Jadi isu identitas nasional menjadi sangat penting dengan mengusung nama dan warna (kebangsaan) Palestina,” ujar Eugenio Chahuán, sejarawan Universidad de Chile, disitat Revista Un Caño . Rasa solidaritas terhadap bangsa Palestina di Gaza dan Tepi Barat yang terus dirongrong Israel ditanamkan para petinggi klub dengan slogan-slogan, spanduk, dan poster di ruang ganti, lorong stadion hingga tribun-tribunnya. Hal itu perlahan menumbuhkan simpati dan solidaritas para pemain non-keturunan Palestina terhadap perjuangan Palestina. “Pemain yang datang ke klub mulanya tak pernah memandang dimensi politik. Tetapi ketika ia bermain untuk dua-tiga musim dan mulai beriteraksi lebih sering dengan fans, ia akan menyadari beban yang sebenarnya bahwa bermain dengan jersey ini punya makna yang dalam,” aku Felipe Núñez, kiper Palestino 2004-2014. Jersey Club Deportivo Palestino yang diprotes pihak Israel ( fearab.cl ) Kuatnya identitas kebangsaan dan sikap politik itu juga diperlihatkan pada 2002. Sebagai respon terhadap serangan Israel atas Palestina di tahun itu, manajemen klub mengumbar rasa solidaritasnya dengan menyematkan gambar peta Palestina di jersey kiper Leonardo Cauteruchi (1999-2002). Lalu saat Perang Gaza 2014 berkecamuk, manajemen klub melekatkan gambar peta Palestina sebelum berdirinya Israel (1948) sebagai pengganti angka 1 di setiap nomor punggung pemain. Kedutaan Israel di Santiago dan Kementerian Luar Negeri Israel pun memprotes keras pemerintah dan otoritas olahraga Chile. Akibatnya, Palestino didenda 1.300 dolar oleh induk sepakbola Chile (FFCh) dan dilarang memakai jersey yang sempat tiga kali dipakai dalam pertandingan resmi liga itu. Kendati begitu, jersey tersebut tetap dijual dan mendapat sambutan antusias dari fans hingga meningkatkan 300 persen neraca keuangan klub dari musim sebelumnya. “Bagi kami, Palestina yang merdeka akan selalu menjadi Palestina yang bersejarah,” tukas pernyataan klub di laman resminya.

  • Harriet "Musa" Pembebas Budak

    SUATU malam di tahun 1849, Araminta ‘Minty’ Ross (diperankan Cynthia Erivo) berlari ke dalam hutan. Nafasnya terengah-engah. Ketimbang ditangkap kembali oleh Gideon Brodess (Joe Alwyn), tuannya yang memburunya, Minty bertaruh nyawa dengan loncat ke Sungai Delaware. Minty beserta ibu, seorang saudari, dan keempat saudaranya merupakan budak selama turun-temurun di pertanian keluarga Brodess di Bucktown, Maryland. Sementara ayahnya, Ben Ross (Clarke Peters), dan suaminya, John Tubman (Zackary Momoh), sudah berstatus manusia bebas. Minty kabur lantaran ia hendak dijual pemiliknya, sebagaimana dua saudarinya beberapa tahun lalu. Tuhan memberi keajaiban dengan masih melindungi Minty. Ia selamat setelah loncat ke sungai dan dirawat Thomas Garret (Tim Guinee), seorang pandai besi kulit putih yang juga aktivis anti-budak di Wilmington. Garret pula yang lantas membantu Minty melintasi perbatasan Maryland menuju Philadelphia yang bebas perbudakan. Kolase adegan Harriet (kiri) yang semalaman hingga pagi diburu tuannya, Gideon Brodess (kanan) ( focusfeatures.com ) William Still (Leslie Odom Jr.), ketua Komite Anti-Perbudakan Philadelphia, jadi orang yang dicari Minty untuk diminta pertolongan. Di kantor Still, kemudian Minty mengubah namanya jadi Harriet Tubman sebagai identitas barunya sebagai orang merdeka. Nama tersebut diambil dari kombinasi nama ibunya, Harriet ‘Rit’ Ross (Vanessa Bell Calloway) dan suami pertamanya, John Tubman. Tapi itu bukanlah akhir dari segalanya. Adegan-adegan itu sekadar “pemanasan” pada pembuka film Harriet garapan sutradara Kasi Lemmons. Biopik yang mendramatisir petualangan Harriet Tubman sebagai aktivis anti-perbudakan dan kelak jadi perempuan pertama yang mengomandani sebuah pasukan di Perang Saudara Amerika (1861-1865). Baca juga: Just Mercy dan Keadilan Minoritas Kulit Hitam Cerita berganti ke setahun kemudian, di mana Harriet sudah menetap dengan ditampung Mary Buchanan (Janelle Monáe). Lama-kelamaan, Harriet merasa kesepian tanpa keluarganya. Penglihatan dan suara-suara Tuhan yang didapatnya dari mimpi kemudian membulatkan tekadnya untuk menyelamatkan dan membebaskan keluarganya. Still menentang karena menganggap aktivitas anti-perbudakannya dengan jaringan rahasia Underground Railroad sedang genting. Terlebih, pemerintah federal pada 1850 meloloskan The Fugitive Slave Act atau Undang-Undang (UU) Pelarian Budak. Setiap negara bagian di utara wajib mengembalikan setiap budak yang lari dari semua negara bagian di selatan, kata UU tersebut. Harriet di antara para aktivis anti-perbudakan ( focusfeatures.com ) Tetapi Harriet bersikeras tetap akan melakoninya meski tanpa dibantu Still. Ia yakin pada suara-suara Tuhan yang didapatnya melalui mimpi. Kendati mulanya kesulitan menyelamatkan keluarganya, ia akhirnya mampu memimpin eksodus puluhan budak lain dari Maryland melintas ke Kanada hingga dijuluki “Musa” oleh para pemburu budak. Hilangnya puluhan budak jadi pukulan telak ekonomis bagi para tuan tanah kulit putih. Gideon yang dibantu Bigger Long (Omar Dorsey), seorang kulit hitam pelacak jejak yang berkhianat, tak menyerah begitu saja. Bagaimana kemudian Harriet bisa membebaskan orangtua dan kerabatnya dari ancaman Gideon dan Bigger Long? Baiknya nikmati lanjutan keseruan petualangannya di aplikasi daring Mola TV . Dramatisasi Tone film temaram yang mendominasi adegan per adegan dalam Harriet membawa penonton pada suasana kelam era perbudakan di “Tanah Paman Sam”. Rangkaian music scoring racikan komposer Terence Blanchard yang dikombinasikan lagu-lagu gospel turut mencampur-aduk perasaan penonton pada adegan-adegan menegangkan kala Harriet bergelut melawan waktu dalam upayanya melarikan puluhan budak. Saat dirilis perdana pada September 2019 dan diputar secara umum dua bulan berselang, Harriet menuai pujian dan kritik miring. Pujian para kritikus disematkan pada penampilan Erivo yang memerankan tokoh utama hingga masuk nominasi Golden Globe 2020. “Penampilan Erivo sangat meyakinkan dan kuat. Upaya menegangkan misi penyelamatannya yang bersejarah dibingkai fiksi dengan alur yang cepat dan gaya quick-cut ,” ulas Richard Roeper di kolom Chicago Sun-Times , 30 Oktober 2019. Baca juga: Race , Kisah Dramatis Atlet Kulit Hitam di Olimpiade Nazi Sutradara Karen 'Kasi' Lemmons (kiri) mengarahkan para pemeran Harriet  ( focusfeatures.com ) Sementara, kritik menyasar pada pendekatan penulisan skenario racikan Lemmons, penggambaran alur per alur ceritanya yang terlalu terburu-buru, dan di beberapa bagian membingungkan. “Cynthia Erivo mengantarkan penampilan yang mengharukan sebagai ikon aktivis Amerika Harriet Tubman tetapi (alur) filmnya mulai berantakan di sepertiga bagian akhirnya, mulai jauh dari sejarahnya dengan dramatisasi yang tak masuk akal demi mengubah karakter Tubman sebagai pahlawan bersenjata,” tulis Jason Best di kolom Marie Claire , 11 November 2020. Baca juga: Selma dan Sejarah yang Berlari Terlalu Cepat Walau filmnya bergenre biopik, sutradara Lemmons tak mentah-mentah mengambil informasi dari biografi-biografi Harriet. Bersama penulis skenario Gregory Allen Howard, Lemmons mengaku meracik Harriet dengan banyak dramatisasi agar bisa lebih diterima semua usia. “Saya sangat ingin membuat film yang bisa membuat kagum anak-anak usia 10 tahun ketika ia menonton bersama neneknya, di mana itu bukan hal mudah bagi sebuah film yang berlatarbelakang perbudakan. Lalu saya mencoba merepresentasikan Harriet seakurat yang saya bisa sembari tetap membuat film yang menghibur dengan jangkauan (usia) penonton yang lebih luas,” tutur Lemmons kepada IndieWire , 28 Oktober 2019. Fakta Historis Namun, dramatisasi yang dibuat Lemmons cukup banyak menyimpang dari fakta historisnya. Penggantian nama dari Araminta ‘Minty’ Rose menjadi Harriet Tubman, misalnya. Dalam film, penggantian nama itu digambarkan terjadi setelah Harriet berhasil kabur ke Philadelphia pada 1849. Padahal faktanya, Minty sudah ganti nama menjadi Harriet sebelum ia berhasil melarikan diri, kendati beberapa sejarawan masih berbeda pendapat tentang kapan waktu tepatnya. Kate Clifford Larson dalam biografi Bound for the Promised Land: Harriet Tubman, Portrait of an American Hero (2004) mengungapkan, Minty sudah mengganti namanya jadi Harriet Tubman tak lama setelah menikah dengan John Tubman pada 1844. Sementara, Catherine Clinton dalam Harriet Tubman: The Road to Freedom (2004) mengungkapkan Minty mengadopsi identitas Harriet Tubman saat merencanakan pelariannya ke Philadelphia medio 1849. Baca juga: Minggu Berdarah di Kota Selma Motif Harriet kabur digambarkan dalam film adalah menyelamatkan diri karena akan dijual setelah protes keras pada keluarga Brodess. Harriet menuntut ibunya dibebaskan berdasarkan perjanjian bahwa jika seorang budak sudah berusia 45 tahun, si pemilik akan memerdekakannya. Padahal, ibunya tak jua dibebaskan walau sudah berusia lebih dari 45 tahun. Faktor  lain yang membuat geram Harriet adalah tidak dipenuhinya tuntutannya agar kelak anaknya dari perkawinannya dengan John Tubman yang sudah lebih dulu merdeka tidak diberi status budak. Edward Brodess sang majikan bersikeras bahwa kelak anak Harriet akan tetap jadi budak mengingat Harriet masih berstatus “properti” miliknya. Dua potret asli Araminta 'Minty' Ross alias Harriet Tubman (Smithsonian/Library of Congress) Deskripsi itu jelas tak sesuai dengan kehidupan nyata Harriet. Faktanya, Harriet hendak dijual Edward karena dianggap mulai tak produktif gegara mulai sakit-sakitan. Tak berkenan dijual karena akan berpisah dengan keluarganya, Harriet pun berdoa agar Tuhan menjemput ajal tuannya. “Ya Tuhan, jika Engkau tidak mengubah hati orang itu (Edward Brodess), bunuhlah dia, Tuhan, dan singkirkan dia dari muka bumi,” ucap Harriet dikutip Sarah Hopkins Bradford dalam Harriet Tubman: The Moses of Her People. Ajaib, seminggu kemudian Edward pun dijemput ajal. Eliza Brodess, janda Edward, lantas hendak menjual Harriet demi menutupi banyak utang. Baca juga: Robohnya Patung Tokoh Perbudakan dan Rasisme Tetapi fakta itu didramatisir Lemmons dengan menggambarkan Edward meninggal satu hari setelah Harriet berdoa dan membuat Gideon, putra Edward, hendak menjual Harriet karena tak terima ayahnya mati karena doa Harriet. Itu hanya sedikit dari sekian ketidakakuratan historis akibat dramatisasi dalam Harriet . Hal lain yang juga perlu digarisbawahi adalah penghilangan tokoh yang berpengaruh dalam perjuangan Harriet, semisal aktivis Frederick Douglass dan John Brown. Keduanya kelak bersama Harriet merencanakan serangan pasukan Union melawan Konfederasi di Perang Saudara Amerika. Padahal, di akhir film disisipkan penggambaran Harriet memimpin 150 serdadu kulit hitam Union dalam Serangan Sungai Combahee, 1-2 Juni 1863. Serangan itu jadi satu bab penting dalam Perang Saudara Amerika terkait pembebasan sekitar 800 budak yang lari dari South Carolina. Penggambaran Harriet Tubman memimpin pasukan di Perang Saudara Amerika ( focusfeatures.com ) Lemmons seperti tak ingin repot memberi pencerahan kepada penontonnya bagaimana seorang aktivis perempuan cum eks-budak kulit hitam yang buta huruf bisa tiba-tiba memimpin pasukan. Padahal perannya di Perang Saudara Amerika jadi salah satu bab terpenting dalam kehidupannya hingga ia kondang sebagai ikon aktivis anti-perbudakan sekaligus perempuan pertama yang memimpin pasukan di garis depan. Sebagaimana diuraikan Larson, Harriet mengawali perannya di dapur umum di bawah pimpinan Brigjen Benjamin Butler yang mengomando pasukan Resimen ke-6 dan ke-8 Milisi Sukarelawan Massachusetts. Harriet bergabung secara sukarela setelah mengetahui pasukan Jenderal Butler itu banyak melindungi budak yang kabur dari wilayah selatan. Para budak itu dijadikan Butler sebagai “ contraband ” atau tambahan pasukan tanpa gaji. “Tubman menawarkan jasanya secara sukarela untuk mengurusi mereka. Lalu ketika pindah ke Port Royal, South Carolina, Tubman bertemu Jenderal David Hunter yang juga bersimpati pada isu anti-perbudakan. Di Port Royal sang jenderal juga banyak mengumpulkan prajurit kulit hitam masuk ke resimennya (di Korps ke-10 pasukan Union),” ungkap Larson. Baca juga: Perang Saudara dan Perbudakan Di Port Royal, status Harriet adalah sukarelawan dapur umum dan perawat. Harriet terampil meracik tanaman menjadi obat disenteri dan cacar yang mewabah di antara pasukan Union. Pada 22 September 1862, Presiden Abraham Lincoln mengeluarkan Proklamasi Emansipasi. Proklamasi ini jadi langkah awal upaya pemerintah Union memerdekakan budak di semua negara bagian. Proklamasi juga memperbolehkan budak mendapat kebebasan dengan mengabdi di pasukan Union dan mendapat upah. Harriet melihat kesempatan untuk berperan lebih selepas proklamasi itu. Dia lalu jadi salah satu yang mendaftar pada awal 1863. Walau tak diberi pangkat, Harriet tetap dipercaya Jenderal Hunter memimpin sekelompok pengintai kulit hitam yang bertugas mencari rute di belakang garis musuh sebagai jalur aman pelarian budak-budak dari selatan. Ilustrasi Serangan Sungai Combahee pada awal Juni 1863 ( Harper's Weekly  edisi 4 Juli 1863) Kiprah Harriet yang mulai dikenal luas membuat Menteri Perang Edwin Stanton memberi kepercayaan lebih untuk sebuah misi di Sungai Combahee. Untuk misi itu, Harriet dipindahtugaskan ke Resimen Infantri Sukarelawan South Carolina Ke-2 di bawah komando Kolonel James Montgomery. Pasukan berkekuatan 300 serdadu kulit hitam ini akan melakoni misi Serangan Sungai Combahee (1-2 Juni 1863) dalam rangka mengevakuasi hampir 800 budak pelarian. Serangan itu dimulai pada 1 Juni malam dengan sokongan tiga kapal: USS Sentinel , USS Harriet A. Weed , dan USS John Adams. Pasukannya dibagi menjadi tiga kompi. Satu tetap di kapal mengawaki meriam-meriam, satu lagi dipimpin langsung Kolonel Montgomery mendarat di pesisir Fields Point pada 2 Juni dini hari untuk menghancurkan lahan pertanian dan gudang-gudang suplai makanan pasukan musuh, sedangkan satu kompi berisi 150 prajurit sisanya dipimpin Harriet merapat ke dermaga feri Sungai Combahee menggunakan perahu-perahu. Baca juga: Duel Kapal Ironclad di Perang Saudara Amerika Bunyi peluit yang bersahutan dari tiga kapal jadi penanda ratusan budak untuk keluar dari persembunyian dan lari ke arah pesisir sungai. Walau situasi sempat kacau karena para budak itu berebut naik perahu, pada akhirnya misi itu berakhir sukses. “Saya tak pernah melihat pemandangan seperti itu. Para perempuan berlarian membawa bayi-bayi di gendongan yang diikat di leher; kantong-kantong makanan di bahu, keranjang-keranjang di kepala yang kemudian diikuti anak-anak kecil. Semua berebut naik (perahu) termasuk ayam-ayam dan babi-babi ternak,” tukas Harriet dikutip Laurie Calkhoven dalam Harriet Tubman: Leading the Way to Freedom . Deskripsi Film: Judul: Harriet| Sutradara: Kasi Lemmons | Produser: Debra Martin Chase, Daniella Taplin Lundberg, Gregory Allen Howard | Pemain: Cynthia Erivo, Joe Alwyn, Leslie Odom Jr., Janelle Monáe, Clarke Peters, Vanessa Bell Calloway, Omar Dorsey, Tim Guinee, Henry Hunter Hall | Produksi: Perfect World Pictures, New Balloon, Stay Gold Features | Distributor: Focus Features | Genre: Biopik | Durasi: 125 menit | Rilis: 10 September 2019, Mola TV

  • Seni Cadas Tertua di Dunia Rusak Akibat Perubahan Iklim

    PERUBAHAN iklim yang cepat merusak gambar cadas di Situs Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Salah satu gambar di dinding gua situs itu berupa penggambaran figuratif babi kutil Sulawesi ( Sus celebensis ) merupakan gambar cadas tertua di dunia sejauh ini.  Penelitian yang dipimpin Griffith University mengungkapkan bahwa beberapa gambar cadas ( rock art ) tertua di dunia itu mulai memudar dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Dalam laporan penelitian yang dipublikasikan di Nature  pada Kamis (13/05/2021), tim gabungan arkeolog Indonesia dan Australia mengungkapkan adanya bukti kristalisasi garam pada panel gambar cadas di 11 situs gua kapur Maros-Pangkep. “Saya terkejut dengan betapa meratanya kristal garam dan sifat kimianya yang merusak pada panel seni cadas, beberapa di antaranya kami tahu berusia lebih dari 40.000 tahun,” kata Jillian Huntley, pemimpin riset dari Griffith Centre for Social and Cultural Research yang mengkhususkan diri dalam konservasi seni cadas, sebagaimana dalam rilis media di laman   Scimex.  Berdasarkan penelitian kolaborasi Griffith University, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas), dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Makassar yang dipublikasikan pada awal tahun ini terungkap bahwa gambar cadas berupa figuratif babi kutil itu telah berumur 45.500 tahun. Gambar-gambar cadas itu juga menampilkan bentuk stensil tangan manusia, serta kemungkinan adegan naratif paling awal yang pernah diketahui dalam seni gambar dinding gua. “Jelas bahwa kumpulan Maros-Pangkep menyaingi seni gua ‘zaman es’ yang terkenal di Eropa Barat, yang mana hingga kini masih dikira oleh para sarjana sebagai yang tertua di dunia,” tulis tim peneliti dalam publikasi mereka di Nature. Lukisan Terkelupas Berbeda dengan iklim sedang di mana situs seni gua zaman es terkenal di Eropa seperti Altamira dan Lascaux ditemukan, gambar cadas prasejarah Indonesia terletak di wilayah beriklim tropis. Wilayah ini, kata para peneliti, adalah wilayah dengan atmosfer paling dinamis di planet ini. “Garis lintang tengah bertindak sebagai mesin panas untuk siklus iklim global, dan pemanasan global bisa sampai tiga kali lebih tinggi di daerah tropis sebagai hasilnya,” jelas para peneliti. Para peneliti berpendapat, fluktuasi iklim yang terjadi selama ribuan tahun terakhir yang kian meningkat pada beberapa dekade terakhir, menjadi katalis utama bagi terancamnya kelestarian seni gua dari masa Pleistosen itu. Huntley dan rekan-rekannya mempelajari permukaan batu kapur di Maros-Pangkep dan menemukan bukti kristalisasi garam.  Garam, kata   Huntley, melemahkan batu dan menyebabkan “kanvas” tempat karya seni prasejarah itu diciptakan mengelupas. Tim melakukan analisis lebih lanjut tentang jenis garam untuk memahami apa yang menyebabkannya terbentuk. Mereka pun meninjau catatan paleoklimatologi yang ada di kawasan itu. Hasilnya menunjukkan proses pelapukan geologis alami di wilayah tropis yang semakin parah. “Proses ini dipercepat dengan peningkatan suhu, cuaca yang lebih ekstrem,” jelas para peneliti. Kondisi ekstrem itu termasuk kekeringan berkepanjangan, genangan air akibat badai dan banjir, juga peningkatan kelembaban yang diakibatkannya. Pun praktik produksi pangan lokal, seperti sawah dan kolam budi   daya. “Meningkatnya frekuensi dan keparahan kekeringan yang disebabkan El Nino dikombinasikan dengan kelembaban musiman melalui hujan monsun, yang dipertahankan sebagai genangan air di sawah dan kolam budi   daya, semakin memberikan kondisi ideal untuk penguapan dan mempercepat kerusakan,” catat laporan itu. Di samping penambangan batu kapur untuk industri semen dan marmer domestik, pelapukan menjadi ancaman terbesar bagi pelestarian seni gua yang takkan tergantikan itu.   “Pemanasan global harus dianggap sebagai ancaman terbesar bagi pelestarian seni cadas kuno di Sulawesi dan bagian lain dari Indonesia tropis,” lanjut laporan itu. “Tantangan adaptasi perubahan iklim untuk Indonesia sangatlah kompleks.” Berpacu dengan Waktu Adhi Agus Oktaviana, pakar seni cadas Indonesia Arkenas yang sedang menempuh PhD di Griffith University  mengatakan pihaknya telah mencatat lebih dari 300 situs lukis dinding gua ( rock art ) prasejarah di kawasan Maros-Pangkep. Mereka terus melakukan survei di area itu dan menemukan gambar-gambar cadas baru setiap tahunnya. “Hampir tanpa kecuali lukisan-lukisan itu mengelupas dan dalam tahap lanjut membusuk. Kami berpacu dengan waktu,” katanya dalam rilis media di laman   Scimex. Menurut Rustan Lebe, arkeolog BPCB Makassar, selain mempelajari bagaimana garam terbentuk pada dinding gua, penting pula mempertimbangkan analisis komposisi pigmen dan teknik produksi yang membentuk lukisan pada dinding gua. Dari sini mungkin bisa memberikan pemahaman mengapa beberapa motif gambar terkelupas lebih cepat dibandingkan lainnya. “Kami telah mencatat hilangnya serpihan seukuran tangan dengan cepat dari panel gambar cadas kuno ini dalam waktu satu musim (kurang dari lima bulan),” kata Rustan. Menurut Basran Burhan, arkeolog dan  kandidat doktor di Griffith University , penemuan seni lukis dinding gua semakin mengungkap betapa maju kehidupan budaya masyarakat pertama yang tinggal di Sulawesi. “Lukisan detail hewan, stensil tangan, dan adegan naratif dari zaman kuno yang hebat menunjukkan bahwa orang telah terhubung ke tempat ini selama puluhan ribu tahun,”   katanya. Sementara itu, Kepala Arkenas I Made Geria mengatakan bahwa seni cadas Maros-Pangkep memberikan wawasan penting tentang dunia Indonesia kuno. “Ini juga mengharuskan kami untuk mendidik orang-orang di Indonesia –dan di seluruh dunia–   tentang kebutuhan mendesak mempelajari dan melindungi bukti peradaban manusia masa lalu yang tak tergantikan ini,” katanya.*

  • Lima Kiper dengan Rekor Gol Paling Subur

    AIR muka Alisson Becker tampak emosional. Kiper Liverpool berpaspor Brasil itu mengangkat telunjuknya ke langit dan disambut pelukan rekan-rekannya. Ia bukan baru melakukan penyelamatan heroik di bawah mistar gawang, melainkan mencetak gol yang membawa kemenangan timnya atas West Bromwich Albion pada matchday  ke-36 Premier League di Stadion The Hawthorns, Minggu (16/5/2021). Gol Alisson lahir dari peluang “ textbook”  yang berawal dari tendangan pojok Trent Alexander-Arnold di menit ke-90+5. Alisson berlari sejauh 80 meter dari sarangnya menuju kotak penalti lawan. Umpan Alexander-Arnold itu tepat menuju kepalanya. Tandukan Alisson pun meluncur keras ke sisi kiri gawang, membuat kiper West Brom Sam Johnstone mati langkah. Selain jadi gol perdana dalam kariernya, gol itu membuat Alisson tercatat jadi kiper Liverpool pertama yang menorehkan gol sepanjang 129 tahun sejarah klub. “Banyak hal yang tak bisa Anda jelaskan dalam hidup. Bagi saya satu-satunya alasan dari banyak hal itu adalah kehendak Tuhan –Dia meletakkan tangannya di atas kepala saya dan saya merasa diberkati. Saya berharap ayah saya masih hidup untuk melihatnya. Saya yakin dia ikut merayakannya di sisi Tuhan,” ujar Alisson, dilansir AP News , Minggu (16/5/2021). Charles Albert Alexander ‘Charlie’ Williams (kostum hitam) kiper pertama yang mencetak gol (Bexley Archives) Seorang kiper mencetak gol sejatinya bukan hal langka dalam sepakbola modern. Menariknya, kiper pertama di dunia yang mencetak gol juga berasal dari kompetisi Inggris. Adalah Charles Albert Alexander ‘Charlie’ Williams, kiper Arsenal, Manchester City, Tottenham Hotspur, Norwich City, dan Brentford yang membuat rekor itu. Kiper kelahiran Welling, Inggris pada 19 November 1873 itu melakukannya pada 14 April 1900 kala membela Manchester City. “Dia membantu City memenangkan Second Division 1898/99 dan jadi kiper pertama yang mencetak gol pada April 1900 dengan tendangan clearance -nya yang berakhir di belakang jaring (gawang) lawan dalam kekalahan City 3-1 dari Sunderland,” tulis Tony Matthews dalam Manchester City Player by Player. Tetapi itu jadi gol pertama sekaligus terakhir Williams. Seiring bergulirnya masa, bermunculan kiper-kiper lain dengan koleksi gol yang tak kalah banyak dari pemain dari posisi lain. Berikut lima kiper dengan catatan gol terbanyak dalam sepakbola dunia: Rogério Ceni (131 Gol) Rogério Mücke Ceni, goleiro  dengan catatan gol terbanyak dalam sejarah sepakbola ( fifa.com ) Dari semua kiper produktif, hingga kini belum ada yang mampu melewati rekor Rogério Mücke Ceni. Goleiro (kiper) kelahiran Pato Branco, Brasil pada 22 Januari 1973 ini diakui sebagai kiper paling subur sejagat. Selama 25 tahun karier profesionalnya (1990-2015) di São Paulo FC dan Timnas Brasil, kiper keturunan Italia-Jerman ini mencetak 131 gol dari total 577 penampilan. Tidak hanya andal dalam penyelamatan penalti, Ceni juga lihai memainkan kakinya dalam mencetak gol maupun memberi umpan matang kepada rekan-rekannya. Skill itu, diungkapkan Ben Lyttleton dalam Twelve Yards , didapat Ceni dari latihan kerasnya di São Paulo, di mana ia selalu datang setengah jam lebih awal dari jadwal latihan tim untuk berlatih tendangan bebas sendiri. Namun, butuh lima tahun sampai akhirnya Ceni mendapat kepercayaan pelatih Muricy Ramalho untuk jadi spesialis tendangan bebas sejak debut Ceni di tim utama São Paulo (1992). Ceni membuktikan hasil dari latihannya dengan membukukan gol pertama dalam karier profesionalnya dari tendangan bebas ke gawang União São João a di Estádio Doutor Herminio Ometto, 15 Februari 1997 dalam kompetisi Campeonato Paulista. “Saya tahu bahwa Rogério adalah pemain terbaik yang kami miliki untuk mengambil tendangan bebas. Itu bukan keputusan yang keliru,” kenang Ramalho, dikutip Lyttleton. São Paulo sejatinya punya algojo “bola-bola mati” seperti Serginho dos Santos, misalnya. Saat kepelatihan berganti ke tangan Mário Sérgio de Paiva, Serginho-lah yang dipilih jadi algojo. Alasan pelatih bukan karena tidak percaya sang kiper, melainkan khawatir jika Ceni kehabisan stamina karena harus bolak-balik untuk mengambil tendangan. Tetapi setelah Mário Sérgio dipecat, Ceni kembali dipercaya menjadi eksekutor penalti dan tendangan bebas oleh pelatih berikutnya, Paulo César Carpegiani. “Fans juga selalu menuntut Ceni yang mengambil penalti walau Serginho juga sedang bermain. Dengan restu pelatih, Ceni selalu sukses mencetak gol dan tak lupa berselebrasi dengan memeluk Serginho. Puncaknya terjadi pada 2005, di mana selain São Paulo jadi juara domestik, Copa Libertadores, dan Piala Dunia Antarklub, Ceni menjadi topskorer klub dengan 21 gol (10 penalti, 11 tendangan bebas),” tandas Lyttleton. José Luis Chilavert (46 Gol) José Luis Félix Chilavert González saat mengeksekusi tendangan bebas kontra Slovenia di Piala Dunia 2002 ( fifa.com ) José Luis Félix Chilavert González masih bertahan sebagai kiper paling produktif kedua di dunia. Portero (kiper) kelahiran Luque, 27 Juli 1965 ini memegang rekor 67 gol dari 617 penampilan selama membela tujuh klub (1982-2004) dan Timnas Paraguay (1989-2003). Perangainya yang garang, temperamennya yang berapi-api, dan kegemarannya mengenakan kostum bergambar anjing bulldog membuatnya dijuluki “ El Buldog” . Selain jadi spesialis penalti, kapten Paraguay di Piala Dunia 1998 dan 2002 ini juga dikenal punya kaki andal dalam menyarangkan gol lewat tendangan bebas. “Saya yakin bahwa jika seorang kiper mengambil penalti di masa-masa kini, itu karena saya dan warisan saya. Saya seorang revolusioner. Banyak kiper yang mengaku bahwa sayalah yang jadi referensi mereka dan karena itu saya bangga,” cetusnya, dikutip Ben Lyttleton dalam Twelve Yards: The Art and Psychology of the Perfect Penalty Kick. Skill Chilavert dalam penalti dan tendangan bebas diasahnya saat berkarier di Real Zaragoza, Spanyol. Meski di klub pertamanya, Sportivo Luqueño, ia sudah pernah bikin empat gol, Chilavert baru benar-benar menseriusi latihan tendangan bebas di Zaragoza. “Fans (Zaragoza) sering meneriaki saya untuk kembali ke gawang tapi saya tak pernah peduli apa kata orang. Saya yakin pada kemampuan sendiri. Saya biasa berlatih penalti dan tendangan bebas 80 sampai 120 kali hingga tim mempercayakan tugas itu kepada saya,” imbuhnya. Chilavert kemudian juga tercatat sebagai kiper pertama dalam sejarah sepakbola modern yang menorehkan hattrick . Tetapi di sisi lain, Chilavert juga kondang dengan cerita-cerita miring. Semisal kala ia bertengkar dengan Isidro Villanova di Zaragoza. “Di laga Zaragoza melawan Real Sociedad, Chilavert mengambil penalti atas instruksi pelatih Radomir Antić. Chilavert minta bek Villanova menjaga gawangnya. ‘Jangan bergerak dari garis gawang,’ katanya. Chilavert mencetak gol tapi Sociedad memulai lagi pertandingan saat kiper masih berlari kembali ke gawang. Villanova meninggalkan posisinya dan Zaragoza kebobolan. Chilavert meneriaki Villanova: ‘Jika ibumu menyuruhmu ke pasar apakah Anda akan mengabaikan dan memilih bermain ke rumah teman?’ Wajah Villanova langsung pucat,” pungkas Lyttleton. Johnny Martín Vegas (45 Gol) Johnny Martín Vegas Fernández, portero ketiga dengan perolehan gol terbanyak (Twitter @johnnyvegasf) Johnny Martín Vegas Fernández tercatat jadi kiper paling produktif ketiga dunia dengan torehan 45 gol selama kariernya dari 1997-2017. Kiper kelahiran Huancayo, Peru pada 9 Februari 1976 ini juga spesialis tendangan penalti. Situs International Federation of Football History & Statistics mencatat, Vegas mengukir 45 gol dari total 491 penampilan di 14 klub dan Timnas Peru, di mana 30 di antaranya lahir dari titik putih dan sisanya dari tendangan bebas dan gol yang memanfaatkan umpan pojok. Vegas paling produktif bersama Sport Boys yang jadi klub profesional pertamanya (1997-2003) di Liga Peru, di mana dia menyumbang 20 gol. Rekor itu membuatnya jadi kiper paling subur ketiga dan mendepak Jorge Campos keluar dari lima besar serta Higuita ke urutan keempat. Torehan itu mengundang sanjungan dari kiper legendaris Paraguay, José Luis Chilavert, yang juga produktif. “Kami memang belum pernah saling berhadapan tetapi saya selalu mengikuti kariernya. Dia adalah kiper spektakuler, sangat cekatan dan, lihai dalam permainan dengan kaki. Dia adalah legenda hidup sepakbola dunia. Kami (kiper) selalu diingat akan warisan dan tanpa diragukan warisan itu diakui banyak orang,” tutur Chilavert, disitat Canal N , 9 Juli 2020. Dimitar Ivankov (42 Gol) Dimitar Ivanov Ivankov, kiper Bulgaria yang melegenda di Turki ( bursaspor.org.tr ) Dimitar Ivanov Ivankov juga dikenal sebagai kiper pengoleksi banyak gol dari bola mati. Kiper kelahiran Sofia, Bulgaria, 30 Oktober 1975 ini sepanjang kariernya (1996-2011) punya koleksi 42 gol dan menjadikannya kiper dengan torehan gol terbanyak keempat. Seluruh golnya ditorehkan Ivankov dari tendangan penalti. Usut punya usut, itu terjadi karena sikap tenangnya melebihi rekan-rekan setimnya yang acap gugup mengambil tendangan penalti sejak dari membela Levski Sofia (1996-2005), Kayserispor (2005-2008), Bursaspor (2008-2011), hingga Anorthosis Famagusta (2011). Ivankov berkisah kepada Otzasada , 21 Juli 2020 bahwa ketenangannya merupakan hasil dari ketekunan berlatih tendangan penalti. Mulanya, pelatih dan rekan-rekannya tak pernah menanggapi serius inisiatif Ivankov yang berlatih sendirian selepas sesi latihan rutin. Latihan itu sangat berguna pada laga Levski kontra SFC Etar Veliko Tarnovo di Parva Liga (Liga Bulgaria), 1 April 1998. Pada suatu momen, Levski mendapatkan hadiah penalti tetapi hampir semua pemain kebingungan menentukan siapa algojonya. Melihat rekan-rekannya gugup, Ivankov berinisiatif maju untuk jadi algojonya. Ivankov pun sukses melaksanakannya dan itu jadi gol perdana dalam kariernya. “Saya bertanggungjawab atas penalti-penalti di Levski karena saya mampu meredam kegugupan. Saya ingat pertandingan tandang melawan Brøndby IF (UEFA Cup 2002/2003, red. ) ketika saya ambil penalti tanpa persetujuan pelatih saya. Pascalaga, (manajer) Slavoljub Muslin marah atas keputusan saya itu tetapi rekan-rekan saya sangat gugup mengambilnya, jadi saya melakukan apa yang menurut saya benar,” kenang Ivankov. René Higuita (41 Gol) José René Higuita Zapata, kiper nyentrik yang acap melakoni aksi aktrobatik ( fifa.com ) Kiper Kolombia kelahiran Medellín, 27 Agustus 1966 ini kondang dengan penampilan dan gaya eksentriknya di bawah mistar. Publik menjulukinya “ El Loco” alias “Si Gila” berangkat dari aksi-aksinya nekatnya sebagai sweeper-keeper atau kiper yang berani maju jauh dari sarangnya. Momen paling dikenang dalam kariernya adalah aksi Higuita melakukan scorpion kick –atau upaya penyelamatan akrobatik menggunakan dua kaki dari belakang sambil loncat seperti kalajengking– pada laga persahabatan Inggris kontra Kolombia di Stadion Wembley, 6 September 1995. Higuita melakoninya dalam rangka mengamankan gawangnya dari tendangan lambung Jamie Redknapp. “Berdiri dalam posisi yang pas di antara dua tiang gawang dan menghadap tepat pada bola yang dipegang lawan, sang kiper (Higuita) membiarkan bola melewati kepalanya tapi di detik terakhir ia melemparkan kakinya ke arah punggung seperti ekor kalajengking untuk mengamankan bola. El Loco mematangkan terus aksi itu pada beberapa kesempatan lain sebelum pensiun pada 2010 yang mengakhiri 25 tahun karier luar biasanya,” ungkap Charles Parrish dan John Nauright dalam Soccer Around the World: A Cultural Guide to the World’s Favorite Sport . Dari 25 tahun karier sepakbolanya, Higuita memulai kariernya pada 1985 di Millonarios FC. Hingga setahun berikutnya, Higuita sudah mendulang tujuh gol. Dari 11 klub yang pernah dibelanya, Higuita nyaris tak pernah absen menyumbang gol. Total koleksi golnya sebanyak 41 buah, tiga di antaranya untuk timnas Kolombia. “Gol-gol Higuita diciptakan dari tendangan penalti dan tendangan bebas, bukan dari skema open play . Ini membuat Higuita punya waktu untuk maju ke depan untuk mengambil tendangan. Tapi jika dia gagal mencetak gol, El Loco harus sprint kembali melawan waktu detik demi detik dari serangan balik lawan,” kata Leidy Klotz dalam Sustainability through Soccer: An Un Expected Approach to Saving Our World.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page