Hasil pencarian
9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Perawat Nekat dari Keluarga Djajadiningrat
SETELAH Indonesia merdeka, Belanda datang kembali dengan membonceng Sekutu. Belanda kemudian membentuk NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) yang mengancam Republik Indonesia yang baru seumur jagung. Tentu saja bangsa Indonesia menolak dijajah kembali oleh Belanda. Oleh karena itu, setiap orang termasuk para perempuan terpanggil untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya anak bangsawan Banten dari trah Djajadiningrat. Roswita Tanis Djajadiningrat mendapat tawaran dari dr. Imam, Kepala Djawatan Kesehatan Tentara (DKT) Divisi VIII, untuk menjadi perawat di front Malang Selatan, lokasi pertempuran pasukan Republik melawan Belanda. Roswita dengan senang hati menerima tawaran itu.
- Perempuan Pejuang Kemanusiaan
ANNIE Senduk, kepala perawat di asrama kedokteran Jalan Kramat Raya 72, bingung. Keributan mendadak terjadi di asrama setelah seorang mahasiswa kedokteran datang tergopoh-gopoh. Kedatangan mahasiswa itu memicu pertanyaan dari para perawat penghuni asrama. Annie langsung menghampiri mereka. Dia menanyakan apa yang sedang terjadi. “Markas besar terancam. Opsir Jepang di Jakarta sudah tahu kalau di sana ada dokumen-dokumen penting tentang perjuangan bawah tanah. Mereka juga tahu kalau kita menyimpan persediaan dan obat-obatan di sana,” kata mahasiswa kedokteran tadi. Jawaban itu membuat Annie langsung mencari cara untuk segera menyalamatkan barang-barang di Hotel du Pavilyon, Harmoni, tempat yang dijadikan markas perjuangan mahasiswa kedokteran dan gerakan bawah tanah. Selain barang-barang logistik seperti obat-obatan dan makanan, dokumen-dokumen penting juga disimpan di sana.
- CIA dan Karikatur Bintang Timur
TAMPANGNYA cakap, postur badannya tinggi, dan penampilannya simpatik. Dia memakai pakaian lengkap dengan jas dan dasi. Sikapnya sopan dan bersahabat. Diplomat Amerika Serikat itu bernama Mr. Heyman. Sementara itu, Augustin Sibarani (1925–2014), pelukis dan karikaturis terkemuka Indonesia, hanya bersepatu sandal, berkemeja agak urakan dan keringatan. Dia datang dengan agak lari-lari dari kantor redaksi Bintang Timur. Mereka berbincang-bincang di pojok restoran di Jalan Nusantara III, Jakarta. Pembicaraan berlangsung santai, tertawa-tawa, sambil menyantap makanan dan minum bir. Heyman bercerita bahwa dirinya veteran perang Eropa. Dia menikah dengan perempuan Jerman, Renate B. Heymann, yang dikenalnya selama masa perang. Dia kemudian menjelaskan panjang lebar tentang kebebasan berpendapat di Amerika Serikat. Dia menyebut karikatur sebagai senjata tajam untuk mengkritik.
- CIA dan Lembaga Humor Indonesia
ARWAH Setiawan bukan pelawak tapi menaruh minat besar pada humor. Dia menyampaikan gagasannya lewat tulisan di berbagai media massa dan ceramah. Bahkan, dia memprakarsai sebuah wadah untuk mengembangkan humor. Wadah itu, Lembaga Humor Indonesia (LHI), berdiri pada 29 November 1978. Arwah bersama para pengurusnya, antara lain Kris Biantoro, S. Bagyo, G.M. Sidharta, dan Bambang Utomo, menghadap Wakil Presiden Adam Malik. “Tak jelas benar, apakah dalam acara berbincang-bincang itu muncul hal-hal lucu,” sebut buku Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981–1982. “Belum jauh melangkah,” lanjut buku itu, “Arwah menerima ‘gelitikan’ pertama dari kalangan pelawak. Dia dituduh agen CIA, dinas mata-mata Amerika yang tersohor itu.”
- Mula Profesi Keperawatan
BRENDA Lind, perawat di Amsterdam Wilhelmina Gasthuis (rumahsakit), terpaksa resign dari tempat kerjanya lantaran mendapat tugas baru di Rumahsakit Militer Aceh di bawah instruksi palang merah Belanda. Bersama rekan sejawatnya, Brenda pun berangkat ke Hindia Belanda pada akhir abad ke-19. Setibanya di tujuan, Brenda dan temannya terkejut melihat kondisi rumahsakit di negeri jajahan yang jauh dari rumahsakit di negerinya. Kondisi rumahsakit di negeri jajahan pada awal 1900-an amat sederhana. Dinding kamar rawat inap terbuat dari bambu, ruangannya tanpa lampu, dipan terbuat dari kayu, dan lantainya kotor oleh bercak merah bekas ludah pasien pribumi –yang beruntung mendapat perawatan kesehatan cuma-cuma oleh pemerintah kolonial di rumahsakit– menyirih. Tidak semua perawat Eropa bisa beradaptasi dengan iklim tropis. Beberapa di antaranya jatuh sakit. Ada juga yang kembali ke negerinya. Brenda dan perawat-perawat lain itu merupakan perawat yang didatangkan ke Hindia Belanda.
- Horison Terbit di Awal Orde Baru
GONTOK-gontokan antarsastrawan menemui antiklimaks pada peristiwa Gerakan 30 September 1965. Partai Komunis Indonesia (PKI) dibubarkan. Orang-orang kiri, simpatisan PKI, dikejar-kejar aparat dan massa anti-PKI. Mereka dihukum tanpa pengadilan bahkan dibunuh dan dipenjara di Pulau Buru. Begitu pula dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), tempat sastrawan kiri berhimpun. Tamatlah era ketika seniman-seniman kiri tak lagi punya panggung dalam dunia kesusastraan di Indonesia. Tersisalah kelompok sastrawan pengusung humanisme universal yang mendeklarasikan Manifes Kebudayaan. Inilah kelompok lawan sastrawan kiri Lekra yang sebelumnya terlibat polemik sastra sepanjang paruh pertama 1960. Setelah huru-hara 1965, sebagian dari anggota Manifes Kebudayaan kemudian menggawangi majalah sastra Horison.
- Tere Liye dan Asal-Usul Pengingkaran Sejarah Gerakan Kiri di Indonesia
SEBETULNYA, kalau saja pernyataan yang menihilkan peran tokoh-tokoh kiri (plus liberal dan aktivis HAM) itu datang dari seorang pemuda tanggung yang baru membaca satu-dua buku, mungkin masih bisa dimaklumi dan tak perlu dianggap soal besar. Tapi masalahnya pernyataan itu terlontar dari seorang penulis yang sudah menghasilkan puluhan karya yang kata-katanya selalu diamini oleh para penggemarnya. Kalau kita perhatikan, pernyataan Tere Liye yang bercampur sinisme itu sebetulnya hendak menggugat mereka, para aktivis kiri, liberal dan HAM yang hidup di masa kini, sebagai konsekuensi dari menguatnya polarisasi kelompok sekularisme versus religius pada hari-hari terakhir ini. Sehingga pernyataan ahistorisnya itu terlontar hanya semata karena ingin menyebarkan keraguan atas peran kelompok tersebut dari sejarah di Indonesia sekaligus mendelegitimasi peran mereka di hari-hari ini. Kita semua tahu keriuhan yang terjadi hari-hari ini banyak melibatkan kelompok tadi, ambil contoh dalam isu LGBT, heboh monumen laskar Cina di TMII dan pelarangan festival Belok Kiri pada pekan lalu. Pernyataan Tere Liye itu menimbulkan tafsir bahwa dia sedang membagi manusia Indonesia ke dalam dua kelompok besar: yang beragama dan yang tak beragama. Yang beragama (“ulama dan tokoh agama lainnya”) punya banyak jasa namun di luar itu, “silahkan cari,” katanya.
- Batik ala Bung Karno
SUDAH rahasia umum apabila Presiden Sukarno bukan hanya cakap dalam berpolitik melainkan pula mumpuni dalam soal seni. Bakat seninya sudah tampak sejak kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini ITB). Hampir semua bidang seni menjadi perhatian khusus Sukarno. Mulai dari seni dua dimensi seperti lukisan, batik, hingga seni tiga dimensi seperti patung dan karya arsitektur. Soal batik, Sukarno pernah melontarkan gagasan soal batik Indonesia. Bung Besar menginginkan batik yang menampilkan nilai seni budaya sebagai jati diri bangsa sekaligus menyuarakan pesan persatuan Indonesia; sehingga batik di kemudian hari tidak lagi dikenal sebagai batik dari daerah penghasil batik tetapi batik yang mencerminkan persatuan Indonesia. "Bung Karno memerintahkan kepada Go Tik Swan untuk menemukan batik Indonesia," kata Yuke Ardhiati, arsitek sekaligus pengajar di Universitas Pancasila, dalam diskusi virtual bertema "Bung Karno Sang Arsitek" yang dihelat Historia.ID, Selasa, 2 Juni 2020. Go Tik Swan atau Panembahan Hardjoanagoro semula adalah penari yang kemudian menjadi pengusaha batik di Surakarta.
- Pakde-Pakde Ari Wibowo
PIHAK Indonesia pernah terlibat penjualan senjata api ke Biafra, Nigeria, Afrika, yang dipakai untuk perang saudara dan juga ke Israel. Mayor Jenderal TNI Hartono Wirjodiprodjo, yang pernah menjadi Direktur Peralatan Angkatan Darat hingga 1965, adalah orang yang dianggap bertanggung jawab dalam kasus ini. Ia diseret ke Mahkamah Militer Tinggi (Mahmilti) pada 23 Agustus 1971. “Masyarakat amat menghargai putusan pimpinan Angkatan Darat untuk memajukan Mayor Jenderal Hartono ke depan Mahkamah Militer Tinggi. Dengan ini pemerintah membuktikan tidak pandang bulu,” puji Mochtar Lubis dalam Tajuk-tajuk Mochtar Lubis di Harian Indonesia Raya. Meski dipersalahkan, jenderal pendukung Presiden Soeharto itu, baik-baik saja. Menurut Harold Crouch dalam The Army and Politics in Indonesia, Hartono dihukum dua tahun penjara di mana ia menjalaninya di rumah.
- Beda UMNO dengan Golkar
KOTA Malaka di Negara Bagian Melaka, Federasi Malaysia merupakan kota bersejarah. Selain punya peran penting di Selat Malaka sejak zaman dulu, kota Malaka punya banyak museum. Salah satunya Muzium UMNO. Bersebelahan dengan Muzium Rakyat yang tak jauh dari Benteng Portugis A Famosa, di depan Muzium UMNO terpajang keretaapi lawas yang jadi salah satu pajangan Melaka Historical Vehicle Park. Uang masuk Muzium UMNO hanya dua Ringgit. Amat murah. UMNO, singkatan dari United Malays National Organisation alias Organisasi Kebangsaan Melayu Bersatu, di mata kebanyakan orang Indonesia identik dengan mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad, yang meski sudah lebih dari 95 tahun usianya masih juga bisa terpilih. Organisasi tersebut kerap disamakan dengan Golongan Karya (Golkar) di Indonesia kendati banyak pula perbedannya.
- Lief Java dan Ismail Marzuki
PADA 1936, ketika masih berusia 17 tahun, Ismail Marzuki bergabung dengan orkes keroncong yang populer di Batavia. Lief Java mempertemukannya dengan musisi-musisi keroncong hebat pada masanya. Perkumpulan ini merupakan kawah candradimuka yang melambungkan banyak nama besar. Lief Java didirikan oleh Suwardi atau terkenal dengan sebutan Pak Wang pada 1918. Mula-mula orkes keroncong ini bernama Rukun Anggawe Santoso, kemudian berganti nama menjadi Lief Java pada 1923. Menurut Amir Pasaribu dalam Musik dan Selingkar Wilayahnja, kala itu kombinasi instrumen yang dipakai Lief Java cukup sederhana. Hanya viol (biola), suling, gitar, dan celo.





















