Hasil pencarian
9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Wanita Perkasa Pembela Jelata
API Kartini, tokoh emansipasi perempuan Indonesia, menyala dalam dadanya. Sepanjang hidupnya, Surastri Karma (S.K.) Trimurti tak pernah mengesampingkan pentingnya pendidikan politik bagi perempuan. Sebuah lagu berjudul “Dialog Suami-Istri” bisa mewakili kekaguman sejumlah orang akan peran Trimurti, juga Kartini, dalam pendidikan. Lagu ini, dibawakan kakak-beradik Rita Ruby Hartland dan Yan Hartland, begitu akrab bagi pencinta musik country era 1980-an. Liriknya menyiratkan kebahagiaan sepasang suami-istri karena putri mereka menjadi seorang guru, yang mengamalkan ilmu untuk perangi kebodohan hingga jauh ke ujung desa. Begini sepenggal liriknya: Pergilah anakku simpan doaku… songsonglah tugasmu dengan senyummu banyak saudaramu yang masih buta huruf ajarilah mereka… Jadilah Kartini atau S.K. Trimurti pintarkanlah bangsamu. Namun, Trimurti bukan sekadar seorang pendidik. Dia juga wartawan, pengarang, politisi, serta aktivis buruh dan perempuan tiga zaman yang menunjukkan diri sejajar dengan sejawatnya, kaum lelaki. Dia pejuang perempuan yang komplet, yang disegani kawan maupun lawan. “Trimurti dikenal keberaniannya, kelincahan otaknya dalam perdebatan politik dan ketajaman penanya,” tulis Achmad Subardjo Djojoadisuryo dalam Lahirlah Republik Indonesia. “Yu Tri adalah satu pribadi yang istimewa dan yang jarang terdapat di kalangan masyarakat Indonesia. Api yang tetap menyala dalam tubuhnya tak mungkin dapat dipadamkan,” tulis Adam Malik dalam otobiografinya, Mengabdi Republik. “Bagi saya pribadi Yu Tri tetap Yu Tri, seorang ‘wanita jantan’ tanpa takut dan tanpa pamrih telah mengabdikan dirinya untuk kemerdekaan bangsa dan negara dan seiring ditimpa percobaan namun sama sekali tidak menyebabkannya menyesal.”* Berikut ini laporan khusus S.K. Trimurti Gadis Berlawan dari Sawahan S.K. Trimurti Bergerak Bukan Tokoh Kelas Berat Di Tengah Perpecahan Kiprah Menteri Bersandal Di Tengah Tokoh Kiri Murid Politik Bung Karno Menyalakan Api Kartini Pecah Kongsi Perkawinan Biarkan Batin Melayang Dua Buku Menguak Buruh
- Kejaksaan Agung Membakar Buku-buku Komunisme
SETELAH menerima Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), Letjen TNI Soeharto membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan organisasi-organisasi di bawahnya berdasarkan Keputusan Presiden No. 1/3/1966. PKI ditumpas hingga ke akar-akarnya. Korbannya ditaksir mencapai ratusan ribu bahkan jutaan. Namun, PKI tetap ditakuti hingga kini. Pembubaran PKI dan pelarangan penyebaran komunisme ditetapkan dalam TAP MPRS No. XXV/1966 tanggal 5 Juli 1966 yang masih berlaku hingga kini. Berdasarkan ketetapan tersebut dan UU No. 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan Terhadap Barang-barang Cetakan, Kejaksaan Agung memiliki wewenang untuk menyita dan memusnahkan karya-karya tentang komunisme. “Dengan pemusnahan inilah wewenang Kejaksaan Agung dilaksanakan,” kata Susanto Kartoatmodjo, jaksa dari Kejaksaan Agung, kepada Ekspres, 1 September 1972. Hasil razia Kejaksaan Agung selama empat bulan (April-Juli 1972) fantastis.
- Tidak Membakar Buku
BUKU terjemahan 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia karya Douglas Wilson mengundang reaksi. Halaman 24 buku itu tertulis: “Muhammad menjadi perampok dan perompak yang memerintahkan penyerangan terhadap karavan-karavan di Mekah. Muhammad memerintahkan pembunuhan untuk menguasai Madinah.” Front Pembela Islam (FPI) melaporkan ke Polda Metro Jaya bahwa buku tersebut menghina Nabi Muhammad Saw. Pada 13 Juni 2012, disaksikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, pihak penerbit membakar buku itu. Pada masa kolonial Belanda, kasus serupa pernah terjadi tetapi tanpa pengerahan massa. Yang terjadi adalah polemik. Sebuah buku berjudul Mijn Mislukte Zending (Misi Saya yang Gagal) karya Sir Nevile Henderson terbit dan diresensi koran Java Bode.
- Kisah Kerajaan Lamuri di Aceh
LEWAT Prasasti Tanjore dari abad ke-10, bangsa Cola di India mengingat kekuatan dahsyat Ilamuridesam. Kerajaan ini menandai adanya sistem kerajaan paling awal di Tanah Rencong. Prasasti Tanjore dikeluarkan penguasa Cola, Rajendracola I pada 1030, sekira lima tahun setelah ekspedisi ke wilayah Sumatra dan sekitarnya. Di dalam prasasti, Ilamuridesam tercatat sebagai salah satu negara yang ditaklukkan, selain Sriwijaya, Pannai, dan Malayu. George Coedes dalam Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha mengidentifikasi Ilamuridesam sebagai Kerajaan Lamuri. Lokasinya diperkirakan di ujung utara Sumatra. Setelah dikalahkan Kerajaan Cola, tulis O.W. Wolters dalam Kebangkitan dan Kejayaan Sriwijaya Abad III-VII, Lamuri diubah menjadi salah satu mandala kerajaan Tamil itu. Penamaan Ilamuridesam pun baru ada sejak kekalahan itu.
- Benarkah Samudera Pasai Kerajaan Islam Pertama di Nusantara?
DESA Lamreh terletak di Kecamatan Mesjid Raya, Kabupatan Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Di sana terdapat tinggalan Kerajaan Lamuri berupa bangunan seperti benteng, kompleks pemakaman, dan bekas hunian yang ditandai sebaran fragmen keramik. Di pemakaman itu ditemukan beberapa nisan unik. Berbentuktugu persegi yang meruncing ke atas seperti piramida. Penduduk setempat menyebutnya plakpling. Menurut Repelita Wahyu Oetomo, peneliti dari Balai Arkeologi Medan, nisan itumungkin bentuk peralihan dari masa pra-Islam ke Islam. Pasalnya, bentuk nisan itu menyerupai lingga dan menhir.Salah satu nisan ditemukan di dalam Benteng Kuta Lubuk. Cirinya menunjukkan masa yang jauh lebih tua daripada benteng itu.
- Ujung Jalur Rempah dan Festival Bahari Pasaia
BANYAK orang membayangkan wujud kekayaan yang luar biasa di ujung barat Jalur Rempah. Bayangan tersebut tidaklah salah, namun ada hal lain, yang tidak kalah menariknya, yaitu kebudayaan bahari, yang lebih berbicara kepada orang biasa, bukan raja/ratu, bangsawan, pejabat, atau pengusaha besar yang menguasai bisnis perdagangan jarak jauh. Jalur Rempah memungkinkan ribuan orang hilir mudik antarbenua, melintasi lautan dalam hitungan bulan, dengan bayangan kekayaan yang luar biasa, namun juga risiko yang sangat besar, termasuk kehilangan nyawa. Kebanyakan orang ini adalah orang biasa, sekedar menjalankan dan tidak terlibat di dalam penyusunan rencana besar. Salah satu kategori dari orang-orang biasa ini ada para pelaut Basques, penduduk sebuah negeri kecil di bagian utara Spanyol. Mereka memang hanya salah satu pihak, tetapi peran mereka di dalam perkembangan Jalur Rempah sangatlah besar. Adalah Juan Sebastian Elcano, orang Basques kelahiran kota Getaria, yang menuntaskan pelayaran keliling dunia pertama dalam sejarah.
- Jalan Panjang Menghubungkan Sumatra
PULAU Sumatra telah menjadi primadona sektor ekonomi sejak dulu kala. Beberapa wilayah di pulau itu merupakan sentra perkebunan tanaman keras, pertambangan, hingga destinasi wisata. Dengan sumber daya tersebut, Sumatra menjadi penghasil devisa negara terbesar setelah Jawa. Itulah sebabnya, pemerintah saat ini sedang menggencarkan pembangunan infrastruktur di Sumatra dengan mengembangkan Jalan Tol Trans Sumatra. Menurut proyeksinya, Jalan Tol Lintas Sumatra akan membentang dari Lampung sampai Aceh sepanjang 2700 km yang terdiri dari 24 ruas jalan. Untuk mengerjakannya, PT Hutama Karya –BUMN yang bergerak di bidang infrastruktur– ditunjuk sebagai pelaksana proyek bernilai investasi 206 trilyun ini. Dimulai pada 2014, pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra diperkirakan akan rampung pada 2024 mendatang. “(Jalan Tol) Trans Sumatra penting sekali untuk menghubungkan wilayah Sumatra yang sebelumnya seperti kantung-kantung ekonomi yang berdiri sendiri,” kata Bondan Kanumoyoso. Menurut sejarawan dari Universitas Indonesia itu, Jalan Tol Trans Sumatra merupakan kesinambungan sedari zaman kolonial.
- Menyuarakan Nasib Nelayan Melalui Lukisan
LUKISAN berjudul “Lelang Ikan” salah satu ikon lukisan koleksi Istana yang dipamerkan di Galeri Nasional Jakarta, 2-30 Agustus 2017. Lukisan terbaik Itji Tarmizi ini menjadi gambar utama di katalog pameran. Lukisan berukuran 140x195 cm itu menggambarkan seorang tengkulak yang dikelilingi nelayan, seorang ibu berkutang dengan bawahan kain dan anaknya tanpa pakaian kemungkinan istri salah satu nelayan, kuli panggul, hingga nelayan lain di belakang si tengkulak menatap tajam sambil memegang parang. Para nelayan itu seakan pasrah ikan-ikannya dibeli sang tengkulak dengan harga yang tidak diharapkan. Itji menggambarkan tengkulak itu ditemani anak atau cucunya yang mengenakan pakaian bagus lengkap dengan kalung mutiara. Dia mengenakan peci hitam, berkulit terang, berpakaian ala penguasa tapi juga mengenakan bawahan kain, lengkap dengan ikat pinggang besar.
- Orang Indonesia Jadi Korban Nazi
NAZI Jerman menduduki Belanda pada 10 Mei 1940. Mahasiswa Indonesia dalam Perhimpunan Indonesia ikut melakukan verzet atau perlawanan. Beberapa dari mereka tertangkap bahkan mati di kamp konsentrasi Nazi, seperti Sidartawan dan Moen Soendaroe. Sedangkan Irawan Soejono tewas ditembak Nazi ketika berusaha melarikan diri dari razia. Penangkapan Soendaroe berawal dari tertangkapnya Stijntje "Stennie" Gret, kekasih Djajeng Pratomo di Rotterdam. Polisi politik Nazi (Sicherheitsdienst) pun mengetahui alamat Djajeng Pratomo di Den Haag. “Tanggal 18 Januari 1943 Sicherheitsdienst melancarkan penggerebekan. Djajeng dan teman sekamarnya, Moen Soendaroe ditahan,” tulis Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah.
- Menakar Sosok Semar
PERTENGAHAN Mei 1990, Semar tampil di Fakultas Antropologi Universitas Hawaii, Amerika Serikat. Sumastuti Sumukti, seorang warga Amerika kelahiran Surakarta, membawanya ke sana. Di negeri orang, penampilannya tak berubah. Perutnya buncit, kuncung putihnya dibiarkan menjuntai, wajahnya keriput, hidungnya tenggelam, dan pantatnya mencuat. Hari itu beberapa profesor mencoba mengenalnya. Tak seperti lazimnya, Semar ditampilkan bukan dalam bentuk wayang, tapi sebuah tesis. Judulnya mentereng, An Analysis of Semar Through Selected Javanese Shadow Play Stories. Untuk menghadirkan tesis itu, Sumukti terbang dari Hawaii ke Leiden, keluar masuk perpustakaan untuk mencari bahan pustaka. Sumukti lalu kembali ke kota kelahirannya untuk menonton pertunjukan wayang kulit dan mewawancarai para dalang. Ia juga mengunjungi beberapa daerah di Jawa Tengah. Dalam perjalanannya, ia berjumpa dengan kelompok masyarakat yang menganut paham Semar. Masyarakat itu mengamalkan ajaran dan etika Semar. Melihat Semar tak lapuk di zaman modern, semangat Sumukti terpacu.
- Terancam Uji Coba Bom Nuklir Amerika, Indonesia Galang Penolakan
UJI coba nuklir berlangsung amat masif selama Perang Dingin (1947-1991). Hal tersebut buah dari ketegangan antara Amerika Serikat (Blok Barat) dan Uni Soviet (Blok Timur) yang berlomba mengembangkan senjata nuklir sebagai bagian dari strategi deterrence (penangkalan). Sebagai bagian dari persaingan –di bermacam bidang– pengembangan teknolongi persenjataan, uji coba nuklir dilakukan negara-negara seperti Amerika Serikat, Uni Soviet, Inggris, dan Prancis di kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Pasifik. Sejak akhir 1940-an hingga 1950-an, kedua negeri adikuasa itu –disusul Inggris dan Prancis– menjadikan kawasan Pasifik sebagai lokasi uji coba karena dianggap “terpencil”. Amerika, misalnya, menjadikan Kepulauan Marshall, khususnya Atol Bikini dan Atol Eniwetok, sebagai lokasi uji coba. Akibatnya, sepanjang 1946–1958 Atol Eniwetok saja mengalami 43 kali ledakan nuklir. Sementara, Inggris menguji senjata nuklirnya di Australia dan Pasifik. Sedangkan Prancis, di Sahara dan Pasifik Selatan. Kawasan-kawasan tersebut dijadikan “laboratorium nuklir” tanpa mempertimbangkan keselamatan penduduk setempat. Padahal, dampak ledakan tak terbatas di lokasi uji coba semata. Paparan radioaktif dan timbunan limbah berbahayanya menjadi ancaman bagi wilayah yang lebih luas. Uji coba di Eniwetok, misalnya, bisa mempengaruhi lingkungan hidup Pulau Halmahera yang berjarak sekitar 3.800 km di barat dayanya.
- Salim Said: Kelemahan Kita Malas Membaca
KOMUNISME dan PKI masih gentayangan di negeri ini. Pada akhir 2018 lalu, aparat TNI, polisi, dan pemerintah setempat menggelar razia buku-buku yang diduga berisikan ajaran komunis dari dua toko buku di Pare, Kediri. Mengawali tahun 2019, publik kembali dihebohkan dengan berita penyitaan buku-buku sejarah terkait peristiwa 1965 yang menyingkap peran PKI terhadap sejumlah toko buku di kota Padang, Sumatra Barat. Aksi yang sama menyusul kemudian di Tarakan, Kalimantan Utara. Kabar terbaru, Jaksa Agung M. Prasetyo mengusulkan razia buku besar-besaran terhadap buku-buku yang dituding menyebarkan komunisme. Laku sepihak aparat ini -sebagaimana di era Orde baru- dilandasi kekhawatiran terhadap penyebaran ideologi komunis. Sepihak, karena tidak dilakukan telaah terhadap isi buku sebelum menggelar operasi razia atau penyitaan. Setelah dikritisi, nyatanya banyak dari buku itu merupakan buku sejarah kajian akademis ataupun reportase jurnalistik yang berkisah sejarah.





















