Hasil pencarian
9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pramoedya Ananta Toer Tentang Kota Jakarta
“KAWAN, engkau sudah pernah dengar nama kampungku, bukan? Kebun Jahe Kober –500 meter garis lurus dari istana. Dan engkau pun sudah tahu juga, bukan? Got-gotnya diselubungi tai penduduk kampung.” Itulah pembuka cerita pendek Pramoedya Ananta Toer berjudul “Kampungku” yang termuat dalam buku Cerita dari Jakarta . Melalui “Kampungku”, Pramoedya mengabarkan kepada pembacanya tentang kehidupan warga kota Jakarta di sebuah kampung pada 1950-an. Tingkat kematian di kampung ini sangat tinggi. Ada saja orang mati setelah mengidap berbagai macam penyakit seperti tetanus, TBC, dan penyakit kotor. Meski cerita tersebut fiksi, gambaran Pramoedya tentang persoalan kampung di Jakarta mendekati akurat. Dalam Kotapradja Djakarta Raya bikinan Kementerian Penerangan dan terbit pada 1952, tersua gambaran nyata tentang kehidupan kampung. Tak jauh berbeda dari gambaran dalam “Kampungku”. Kotapradja Djakarta Raya memuat tingginya angka kematian, penularan penyakit, rendahnya fasilitas kesehatan, dan usaha-usaha pemerintah kota untuk memperbaiki kesehatan warga kampung di kota. Di dalamnya tersurat pula keterangan tentang penyakit khas warga kampung seperti TBC, Kolera, dan patek (frambusia). Selain “Kampungku”, Pramoedya juga menulis cerita lainnya tentang permasalahan kota seperti urbanisasi wilayah kampung, migrasi dari desa ke kota, pengangguran, dan pelacuran. Semuanya termaktub dalam buku Cerita dari Jakarta . Dia menulis cerita itu sepanjang 1947–1956 ketika tinggal di Jakarta. Kumpulan cerita bertema kota itu menunjukkan minat Pramoedya pada tetek bengek dan seluk-beluk masalah warga kota. Dia menggunakan sastra untuk menyampaikan kegundahannya terhadap masalah-masalah tersebut. Kemudian dia secara terbuka menyatakan gagasannya tentang kota lewat esainya, “Mari Mengubah Wajah Jakarta”. Terbit dalam majalah Republik edisi 13 April 1957, esai Pramoedya menyoroti gagalnya pemerintah kotapraja dalam mewujudkan konsep kota ideal bagi warganya. Bagi Pramoedya, “Jakarta bukanlah kota dalam pengertian sosiologis dan ekonomis”. Pramoedya menyebut Jakarta sebagai “tumbukan desa-desa dan kampung yang dipaksa berfungsi sebagai kota dalam segi-segi sosiologis dan ekonomis”. Dia mencontohkan tempat tinggal tak layak huni. Satu keluarga hidup berjejal dalam satu ruang sempit. Padahal menurutnya, tempat tinggal harus mempunyai ruang privat dan khusus bagi setiap anggota keluarganya. Pramoedya menyebutnya “garis minim akomodasi”. Jika garis minim akomodasi itu tak terpenuhi, kehidupan keluarga akan kacau. “Kakek dan nenek kehilangan haknya untuk menempuh hidup tuanya dengan aman dan damai setelah puluhan tahun lamanya berjuang untuk penghidupannya,” catat Pramoedya. Sementara anak-anak bakal kehilangan ruang bergerak untuk bermain di dalam rumah. Akibatnya, mereka merambah daerah di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan asasinya tersebut. Yaitu dengan bermain di jalan raya. “Tumbuh tanpa kasih orang tua yang ditundung kesulitan perumahan ini, mereka pun kehilangan kasih terhadap orang tua dan lingkungannya,” sebut Pramoedya. Dalam esainya, Pramoedya juga mengkritik pembangunan kotabaru Kebayoran. Tadinya kota ini diniatkan untuk memenuhi kebutuhan perumahan pegawai kecil. Tapi nyatanya pembangunan itu justru merugikan orang tempatan di sekitar kotabaru tersebut. Bahkan Pramoedya menyebut ada indikasi korupsi dalam pembangunannya. “Memendekkan tinggi rumah-rumah batu dengan satu batu, serta mengganti eternitnya dengan kacang merah,” ungkap Pramoedya. Pramoedya mengajukan solusi atas masalah hunian ini. “Aku sendiri lebih setuju, bila kota tumbuhan ini terdiri atas gedung-gedung flat dari dua atau tiga tingkat,” kata Pramoedya. Masing-masing tingkat terbagi atas ruang makan, dapur, ruang tidur, dan tempat kerja. Pembangunan flat juga hendaknya menyertai kebutuhan taman bermain untuk anak-anak. “Dan jangan pula dilupakan kepentingan kanak-kanak yang selama ini jarang sekali teringat: kebun kanak-kanak, perpustakaan kanak-kanak, tempat kanak-kanak berhimpun –agar kanak-kanak ini tumbuh menjadi dewasa melalui masa anak-anak yang sesungguhnya,” kata Pramoedya. Usul Pramoedya ini sejalan dengan rencana Sudiro, walikota Jakarta 1953–1959, untuk membangun flat. Tapi rencana ini terbentur oleh protes anggota Dewan Perwakilan Kota Sementara. Baru pada 1980-an, flat pertama, atau disebut rumah susun (rusun) untuk warga jelata dibangun di Jakarta.*
- Merentang Sejarah Uang
Masihkah Anda membawa uang di dompet? Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan uang kartal (kertas dan logam) mengalami penurunan. Perkembangan teknologi mendorong masyarakat untuk memilih uang elektronik. Evolusi uang tengah berlangsung. Jauh sebelum mengenal uang, manusia melakukan barter atau pertukaran barang atau jasa untuk barang dan jasa yang diinginkan. Praktik barter telah dimulai sejak puluhan ribu tahun lalu. Namun, tak mudah untuk meraih kesepakatan mengenai nilai pertukarannya. Timbullah kebutuhan akan adanya suatu alat penukar. Selama berabad-abad berbagai benda dipakai sebagai alat pertukaran atau alat pembayaran seperti kulit kerang, batu permata, gading, telur, garam, beras, binatang ternak, atau benda-benda lainnya. Dalam perkembangan selanjutnya masyarakat menggunakan benda-benda seperti logam dan kertas sebagai uang. "Uang telah digunakan sejak berabad-abad yang lalu dan merupakan salah satu penemuan manusia yang paling menakjubkan," tulis Solikin dan Suseno dalam Uang: Pengertian, Penciptaan, dan Peranannya dalam Perekonomian . Pada awalnya uang berfungsi sebagai alat penukar atau pembayaran. Seiring perkembangan peradaban manusia, uang juga berfungsi sebagai alat penyimpan nilai, satuan hitung, dan ukuran pembayaran yang tertunda. Tampilan uang pun terus mengalami evolusi. Dari awalnya berbentuk barter, kemudian ke kulit kerang, koin, kertas, plastik, dan kini dalam bentuk elektronik. Lalu bagaimana nasib uang kartal? Akankah uang punah dan hanya menjadi pelengkap museum? Sebelum hal itu terjadi, tak ada salahnya kita mengenal sejarah uang di Indonesia Bukti Tertua Museum Nasional memiliki koleksi dua uang logam (no. inv. 2087 dan no. inv. 2119) dari zaman Hindu-Buddha di Jawa yang terbuat dari perak. Bentuknya cembung, sisi depan bergambar pot bunga, dua tangkai bunga, dan garis-garis lekuk sekitarnya seperti ruang-asap. Sedangkan pada sisi belakang terdapat bunga lotus mekar terletak di dalam garis berbentuk persegi empat. "Menurut Candra Sengkala Memet , bahwa gambar-gambar tersebut mempunyai arti sebagai berikut: pot bunga berarti 9, bunga berarti enam dan ruang asap berarti 5. Dari angka-angka itu, diperkirakan mata uang ini digunakan sebagai alat tukar sekitar tahun 569 [Saka] atau tahun 647 AD (Masehi)," demikian disebut dalam Katalog Pameran Peringatan Ulang Tahun Ke-200 Museum Pusat . Uang logam perak itu menjadi bukti tertua penggunaan uang di Jawa. Selain mata uang perak, menurut arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa , ditemukan juga mata uang emas. Paling awal berbentuk batangan, jumlahnya sedikit, dan ukurannya tidak tentu baik bentuk maupun berat. Ini mengindikasikan mata uang itu tak digunakan secara umum sebagai alat tukar. Sebagian besar mata uang emas yang ditemukan di Jawa Tengah berasal dari abad ke-9 dan ke-10 dan termasuk tipe piloncito (ukurannya kecil, gepeng seperti dadu dengan sudut-sudut membulat). "Mengingat mata uang Jawa pada masa awal menggunakan logam-logam mulia (emas dan perak) yang jumlahnya tentu terbatas," tulis Supratikno, "maka sebagian transaksi mungkin tidak menggunakan mata uang, melainkan dengan cara barter." Uang emas dengan motif biji wijen dari abad ke-9 ditemukan di belakang dinding sumuran Candi Garuda, Kompleks Candi Prambanan. ( kemdikbud.go.id ). Uang Kepeng Sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 jilid 2 mengungkapkan bahwa di Jawa, prasasti tak lagi menyebut mata uang Jawa (perak dan emas, red .) setelah sekira tahun 1300, kecuali hanya menyebut picis , mata uang tembaga dari Tiongkok. Bentuknya kecil bulat mempunyai lubang persegi di tengah agar dapat diikat sebanyak seribu. Menurut sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya , kelebihan uang kepeng itu tidak langsung tampak. Banyak orang mula-mula menggunakannya untuk memperoleh komoditas yang digemari, yaitu tembaga. Artinya, uang itu dibarter dengan komoditas seperti rempah-rempah. " Kepeng Cina itu mulai tersebar bersamaan dengan majunya perniagaan [Dinasti] Sung dan secara khusus membanjiri Jawa yang peran perantaranya dalam jaringan niaga sedang menguat," tulis Lombard. Tingginya permintaan uang kepeng di Jawa memicu penyelundupan dari Tiongkok dan pembuatan tiruannya dari logam campuran (perak, timah, timbal, dan tembaga). Di Jawa, uang tiruan ini disebut gobog dengan lubang persegi di tengah-tengah dan garis tengah yang lebih besar. Reid menyebut tujuan pembuatan uang kepeng tiruan di Jawa dan di tempat lain untuk menjaga persediaan karena hubungan langsung dengan Tiongkok menurun sekitar tahun 1500. "Bagaimanapun mata uang tembaga Cina dan mata uang timah tiruannya telah menjadi dasar penggunaan mata uang di Asia Tenggara pada tahun 1500," tulis Reid. Uang kepeng. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). Uang Kerajaan dan Eropa Selain mata uang dari Tiongkok, kerajaan-kerajaan Islam juga mengeluarkan mata uang. Hermanu dalam Seri Lawasan: Uang Kuno , mendatanya. Misalnya, Kesultanan Pasai dan Aceh ( dirham dan mass dari emas dan keuh atau kasha dari timah), Banten ( kasha dari tembaga), dan Cirebon ( picis dari timah). Kedatangan bangsa Eropa membawa mata uang baru. Pada abad ke-16, Portugis mengedarkan mata uang yang terbuat dari perak, yaitu piastre Spanyol yang disebut juga mat , pasmat , real , atau dollar . Setelah Portugis, Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) menancapkan kaki di Nusantara. Pada masa jayanya, beredar bermacam-macam mata uang seperti rijksdaalder , dukat , stuiver , gulden , dan doit . Bahan yang digunakan adalah emas, perak, tembaga, nikel, dan timah. Bentuknya bundar pipih dengan ukuran diameter yang tidak sama. Mata uang tersebut dibuat di Negeri Belanda. "Kemungkinan kata 'duit' yang kita kenal sekarang ini berasal dari kata doit yang kemudian dalam bahasa Arabnya berbunyi doewit ," tulis Djani A. Karim dalam Mata Uang dalam Sejarah . Beredar pula mata uang dari emas dan perak dirham Jawi atau dukat Jawa yang dibuat di Batavia (Jakarta) dengan ditandai tulisan Arab. Bentuk dan ukurannya sama dengan mata uang lain yang dibuat dari tembaga dan timah. Uang tersebut, menurut Lombard, dibuat setelah tercapai kesepakatan antara Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Baron van Imhoff dan Sunan Mataram Pakubuwana II. Menjelang bubar, catat Hermanu, VOC membuat uang darurat dari potongan-potongan batang tembaga berbentuk segi empat yang dicetak di Batavia. Uang ini disebut bonk . Setelah VOC bubar, Hindia Belanda berada di bawah pemerintahan Republik Bataaf (1799-1806). Mata uang yang dikeluarkan bertuliskan Indiӕ Batavorum dengan satuan nilai gulden dan stuiver . Ketika Belanda diduduki Prancis, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) mengedarkan mata uang berinisial LN singkatan dari Louis Napoleon, adik Napoleon Bonaparte, yang menjadi raja Belanda. Bentuk uang itu bundar pipih dan terbuat dari tembaga. Inggris mengambil alih Hindia Belanda dengan Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur Jenderal (1811-1816). Raffles membuat mata uang rupee yang bentuknya bundar pipih dan terbuat dari emas, perak, tembaga, dan timah. Kedua sisinya tertera tulisan Jawa dan Arab. Mata uang ini dicetak di Batavia. Diperkirakan kata "rupiah", mata uang Republik Indonesia, berasal dari rupee yang ditulis dalam bahasa Arab dengan ucapan roepiyah . Selain rupee , beredar pula uang bertuliskan EIC (East India Company atau Kongsi Dagang India Timur). Uang kerajaan Islam. ( Historia.id /Koleksi Museum Bank Indonesia). Penyatuan Mata Uang Setelah Inggris hengkang, Belanda kembali menguasai Hindia Belanda. Pemerintah membentuk De Javasche Bank (DJB) pada 1828 untuk mengatur pembuatan dan peredaran uang. Bank ini mencetak uang kertas dan uang logam. Menurut Lombard, sejak pertengahan abad ke-18 berbagai usaha dilakukan untuk menyehatkan moneter dan menyatukan mata uang. Tapi baru satu abad kemudian penyederhanaan itu terlaksana. Pada 1854 diputuskan semua mata uang yang digunakan di Hindia Belanda diganti dengan mata uang yang beredar di Belanda. " Gulden , simbol kekuasaan ekonomi Eropa yang terus meningkat, sedikit demi sedikit menjadi uang yang harus digunakan di seluruh Nusantara," tulis Lombard. "Baru setelah tahun 1930 kesatuan mata uang menjadi kenyataan." Kesatuan mata uang pupus masa pendudukan Jepang. Pada awalnya Jepang tak mencetak uang sendiri. Mata uang lama dari pemerintahan sebelumnya masih berlaku, yakni gulden ("rupiah Belanda") dan "gulden Jepang" yang telah dipersiapkan Jepang untuk daerah-daerah pendudukan. Hingga akhirnya Jepang menerbitkan mata uang baru. Setelah Indonesia merdeka, tak adanya kesatuan mata uang masih berlangsung. Uang Jepang masih dianggap sebagai uang sah pada awal kemerdekaan Indonesia bersama uang DJB keluaran 1925-1941, dan uang pemerintah Hindia Belanda terbitan 1940-1941. Pemerintah Indonesia menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI) tapi juga harus berhadapan dengan "uang NICA" (Netherlands-Indies Civil Administration). Bahkan karena terhambatnya peredaran ORI, pemerintah memberi izin pemerintah daerah untuk menerbitkan mata uang sendiri yang dikenal dengan nama Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA). Penyeragaman mata uang baru terjadi setelah pengakuan kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Menyusul terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS), terbit uang RIS atau disebut juga "uang federal". Pada 17 Agustus 1950, pemerintah Republik Indonesia menyatakan RIS bubar. Bentuk pemerintahan kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penggunaan mata uang RIS menyusul kemudian. Mata uang rupiah dalam bentuk uang kartal masih digunakan hingga saat ini. Uang kertas yang dikeluarkan De Javasche Bank tahun 1930-an. (Wikimedia Commons/National Numismatic Collection at the Smithsonian Institution). Masyarakat Tanpa Uang Era digital mendorong penggunaan uang elektronik. Pemerintah juga tak berpangku tangan. Bahkan, mendorong sistem keuangan digital lebih berkembang di Indonesia. Namun, bukan berarti uang kartal tidak dibutuhkan. Menurut Hatib Kadir, dosen antropologi Universitas Brawijaya, dalam kolomnya bertajuk "Punah dan Kotornya Uang 'Cash'" di detik.com , dari beragam fungsi uang, revolusi terbesar terjadi pada metode uang sebagai alat pembayaran karena caranya terus mengalami perubahan. "Sebagai alat bayar, uang pada saat ini beralih fungsi sebagai informasi. Ketika menerima gaji misalnya, kita tidak melihat uang kita karena langsung ditransfer di bank," tulisnya. Hatib Kadir menambahkan, perubahan penggunaan uang bertujuan memudahkan fungsi uang yang bahkan ada sejak zaman Mesopotamia. Teknologi semacam ponsel membantu untuk memudahkan hal tersebut. "Penggunaan uang elektronik bukan seperti penemuan pesawat terbang yang canggih, namun sebenarnya ada hal yang tetap dalam uang. Ia merupakan konvensi, kesepakatan dan seperangkat relasi dalam organisasi yang kompleks di masyarakat. Nilai dan fungsinya tetap sama," tulisnya. Kendati demikian, uang kartal masih dibutuhkan. Indonesia akan tetap mencetak dan mengawasi uang kartal. Proporsinya memang berkurang tapi bentuk penggunaan uangnya saja yang bergeser. Namun, uang kartal juga bukan tanpa kelemahan. Biaya pengadaan dan pengelolaannya terbilang mahal. Belum lagi memperhitungkan inefisiensi dalam waktu pembayaran dan risiko keamanan seperti pencurian, perampokan dan pemalsuan uang. Karena itu pula Bank Indonesia terus mendorong masyarakat untuk memakai alat pembayaran nontunai demi terbentuknya cashless society atau masyarakat nontunai.
- Kisah Widodo Cahyono Putro Mencetak Penerus Dirinya
Widodo Cahyono Putro. Nama ini melegenda dalam dunia sepakbola Indonesia. Tendangan saltonya menyambut umpan Ronny Wabia berbuah gol dan membawa Indonesia unggul lebih dulu saat melawan tim kuat Kuwait pada Piala Asia 1996. Inilah kali pertama timnas Indonesia tampil di Piala Asia. Gol Widodo pun menyentak perhatian dunia. Widodo Cahyono Putro sang legenda hidup sepakbola Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Widodo, lelaki kelahiran Cilacap, memulai perjalanan sebagai pemain sepakbola profesional bersama klub Warna Agung pada 1990. Dia striker langganan klub elite Indonesia dan sempat bermain untuk Petrokimia Putra. Setelah itu, dia membela Persija Jakarta dan berhasil membawa klub berjuluk Macan Kemayoran tersebut meraih juara Liga Indonesia 2001. Widodo juga pemain langganan timnas. Debutnya bersama timnas di kejuaraan resmi berbuah manis: emas Sea Games Filipina pada 1991. Saat itu dia tampil bersama sejumlah pemain muda lainnya seperti Rochi Putiray dan Aji Santoso. Widodo kini melatih Persita Tangerang. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para pemain Persita berlatih di Sport Center Kelapa Dua. (Fernando Randy/ Historia.id ). Setelah gantung sepatu, Widodo menjadi pelatih beberapa klub. Dari Petrokimia Putra, Persepam Madura Utama, Sriwijaya FC, Bali United, sampai Persita Tangerang. Dia juga menjadi asisten pelatih timnas Indonesia untuk Pra Olimpiade, kualifikasi Piala Asia 2011, dan Sea Games 2011. Prestasinya memang belum sementereng ketika menjadi pemain. Widodo terus membangun tim Persita Tangerang di tengah ketidakpastian kompetisi Liga Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Belakangan kabar membanggakan datang untuk Widodo. Gol akrobatiknya ditetapkan sebagai gol terbaik sepanjang masa dalam sejarah gelaran Piala Asia. Dalam pemilihan yang diselenggarakan oleh AFC (Konfederasi Sepakbola Asia), gol itu mengungguli gol dari pemain Lebanon Abbas Chahrour ke gawang Irak. Ketika dimintai komentarnya tentang penghargaan tersebut, Widodo menjawab simpel. "Gol itu sudah lama, 24 tahun. Sebetulnya tugas saya waktu mencetak gol sudah selesai. Gol itu bagi saya anugerah," ujarnya kepada Historia.id . Sampai sekarang dia masih tak percaya dirinya bisa membuat gol seindah itu. "Tidak percaya bisa bikin gol seperti itu. Semoga ini bisa dijadikan semangat baru dan inspirasi generasi mendatang," lanjut Widodo. Widodo saat memberikan masukan kepada para pemain Persita. (Fernando Randy/ Historia.id ). Para pemain Persita Tangerang berlatih di Sport Center. (Fernando Randy/ Historia.id ). Widodo berupaya mencetak penyerang tangguh bagi Persita dan Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tidak hanya pemain lokal, pemain asing pun menaruh hormat pada Widodo. (Fernando Randy/ Historia.id ). Widodo saat memimpin latihan Persita Tangerang. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kini pria berusia 49 tahun tersebut disibukkan melatih Persita Tangerang. Dalam melatih, Widodo menerapkan etos filosofi sepakbola menyerang. Dia tentu saja berharap mampu mencetak penyerang-penyerang tangguh bagi Persita dan timnas Garuda. Usai melatih hampir dua jam, Widodo mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia perihal golnya. "Terima kasih kepada netizen , penggemar bola, dan yang memvoting kemarin. Gol ini jadi sejarah, jadi gol terbaik sepanjang Piala Asia," katanya. Widodo berterima kasih kepada masyarakat Indonesia atas dukungannya sehingga golnya menjadi yang terbaik. (Fernando Randy/ Historia.id ). Stadion Sport Center kandang Persita tampak sunyi saat pendemi Covid-19 melanda. (Fernando Randy/ Historia.id ).
- Di Balik Kematian Cleopatra
CLEOPATRA (69 SM–30 SM) terbujur di ranjang kematiannya yang legendaris, lengkap dengan mahkota dan perhiasan. Walau masih misterius, konon Cleopatra bunuh diri menggunakan gigitan ular Naja haje (asp) yang ia sarangkan di dadanya sendiri. Jauh sebelumnya Cleopatra memilih untuk memihak Marc Antony yang merupakan ayah dari ketiga anaknya sekaligus sekutu politiknya dalam pertempuran Actium. Setelah Julius Caesar dibunuh, Antony yang merupakan jenderal sekaligus administrator Julius Caesar, bertempur melawan ahli waris sang kaisar, Oktavianus. Namun, pasangan kekasih itu bersama pasukannya tak bertahan lama. Mereka kalah dalam perang saudara itu. Cleopatra meninggalkan pertempuran, melarikan diri ke Mesir. Antony yang berhasil melepaskan diri dari pertempuran mengikuti Cleopatra. Namun, ketika tiba giliran Alexandria diserang pasukan Oktavianus, Antony mendengar desas desus bahwa Cleopatra telah bunuh diri. Dengan pedangnya, Antony menyusul kekasihnya. Antony mati tepat ketika tiba berita bahwa rumor itu salah. Setelah menguburkan Antony dan bernegosiasi dengan Oktavianus, Cleopatra mengunci dirinya di kamar bersama dua pelayan perempuan. Mereka kemudian ditemukan sudah mati. "Ini artinya cara kematian Cleopatra tak pasti," tulis History.com . Akhir hidup Cleopatra yang misterius bertolak belakang dengan kenyataan bahwa ia merupakan salah satu tokoh perempuan paling dikenal dalam sejarah. Berbagai karya seni dan sandiwara mengabadikan namanya. Kematian Cleopatra dianggap sebagai salah satu peristiwa paling terkenal dalam sejarah kuno. Namun, tak pernah ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu kamar Cleopatra yang dikunci itu. Dipatuk Ular Kobra Adrian Tronson, profesor sejarah kuno Universitas New Brunswick, Kanada, menyebut kisah kematian Cleopatra sebagai mitos budaya yang diwakili berkali-kali dalam karya seni dan sastra. "Saya percaya bahwa dasar sejarah ia melakukan bunuh diri dengan gigitan ular meragukan," tulis Tronson dalam "Vergil, the Augustans, and the Invention of Cleopatra’s Suicide-One Asp or Two" termuat di Vergilius 44 (1998). Di antara kisah hidup Cleopatra, kematiannya akibat gigitan ular bahkan yang paling banyak diabadikan dalam budaya populer. Baik sebelum maupun sesudah adanya pertunjukan Shakespeare tentang tragedi Antony dan Cleopatra. "Versi yang dengan sendirinya menjadi resmi," tulis Tronson. Kisah itu diterima luas, baik dalam budaya populer maupun wacana akademis, bahwa Cleopatra mengakhiri hidupnya di usia 39 tahun menggunakan gigitan ular kobra Mesir atau Naja haje. Mereka yang tak yakin telah meneliti catatan kuno tentang metode bunuh diri Cleopatra. Telah terbukti berulang kali bahwa tidak ada kepastian sejarah yang kuat atas kisah ini. Para peneliti banyak bergantung pada catatan kuno. Sumber informasi tertua berasal dari Strabo, sejarawan dan geograf Yunani yang hidup pada masa kematian Cleopatra. Bahkan, ketika itu ia kemungkinan berada di Alexandria. Sebagaimana dikutip Tronson, Strabo menulis bahwa Cleopatra ditawan oleh Oktavianus. Ia bunuh diri secara diam-diam di tahanan. Namun, agaknya Strabo tak yakin apakah itu dengan gigitan "asp" atau dengan salep beracun. "Jelas dari sumber Strabo bahwa setidaknya ada dua cerita yang beredar pada masanya," tulis Tronson. Sumber berikutnya dari Plutarch (46 M–119 M), penulis biografi asal Yunani. Dalam catatannya, ia tak yakin dengan kisah ular itu. "Tidak ada jejak reptil yang pernah ditemukan, meskipun katanya beberapa mengatakan mereka melihat jejak ular di dekat laut, di mana jedela kamar (Cleopatra, red. ) menghadap ke laut," catat Plutarch sebagaimana dikutip arkeolog Inggris, Joyce Tyldesley dalam Cleopatra: Last Queen of Egypt. Sementara itu, menurut Plutarch, Kaisar Octavianus agaknya percaya versi kematian oleh ular ini. Ia bahkan membawa gambaran Cleopatra yang dililit ular dalam perayaan kemenangannya. Penulis biografi lainnya yang sezaman dengan Plutarch adalah Suetonius. Sebagai sekretaris kekaisaran, ia memiliki akses ke sumber resmi dan arsip negara. Dalam tulisannya tentang Kaisar Augustus, ia secara singkat menyebut Cleopatra. Menurutnya, Oktavianus sebenarnya sangat menginginkan sang ratu tetap hidup. Kaisar Augustus I ini bahkan membawa masuk Psylli, pawang ular terkenal untuk menyembuhkan gigitan ular pada Cleopatra. "Versi ini sejalan dengan apa yang dikatakan Plutarch tentang kepercayaan Oktavianus yang terkenal pada cerita gigitan ular," tulis Tronson. Kemudian ada penulis dari abad ke-4, Orosius. Tronson menyebut sejarawan ini sepertinya menggantungkan keterangannya pada pendapat Suetonius. Namun, Orosius menambahkan bahwa gigitan ular terletak di lengan kiri Cleopatra. "Tetapi ini mungkin kesimpulannya sendiri," tulis Troson. Sengaja Dibunuh? Joyce Tyldesley tak percaya Cleopatra bunuh diri dengan gigitan ular. Cara ini tidak mudah karena seekor ular diperkirakan bisa membunuh tiga orang: Cleopatra dan dua dayangnya. Risiko kegagalannya tinggi. Pat Brown, profiler kejahatan dari Amerika, dalam The Murder of Cleopatra: History’s Greatest Cold Case juga berpikir sama. "Ketika saya berada di Mesir, Roma, dan Inggris bekerja dengan ahli Mesir Kuno, ahli racun, arkeolog, dan sejarawan dunia kuno, saya mulai mengumpulkan cerita lain yang lebih kredibel di balik kematian Cleopatra,” tulisnya. Brown tak membayangkan kalau Cleopatra yang berstatus sebagai tawanan Octivianus dibiarkan tanpa pengawasan di dalam kamarnya. Tak mungkin pula kalau tak dilakukan penyisiran menyeluruh untuk memastikan tak ada benda yang bisa digunakannya untuk berbuat sesuatu yang tak diinginkan. "Orang pasti berpikir akan ada penjaga yang kompeten yang ditempatkan di luar pintu dan mungkin satu atau dua penjaga di dalam pintu juga," tulis Brown. Sebelumnya, Plutarch menulis bahwa seekor ular disembunyikan di antara buah ara di dalam keranjang. Aneh kalau para penjaga tidak memeriksa keranjang itu ketika para dayang membawanya masuk ke kamar Cleopatra. "Seekor ular bukanlah sesuatu yang mungkin terlewatkan selama pencarian semacam itu," tulis Brown. François Pieter Retief, pensiunan dosen dan dekan kedokteran di University of the Free State, dan Louise Cilliers, peneliti kehormatan di Departemen Studi Yunani, Latin, dan Klasik, dalam "The Death of Cleopatra" termuat di Acta Theologica: No. 7 (2005): Supplementum berpendapat bahwa ular besar tidak akan muat ke dalam keranjang buah ara. Mereka lebih akan setuju kalau sang ratu dan dua dayangnya mati akibat racun. Menurutnya, kobra memang dapat menyebabkan kematian yang cepat meskipun luka gigitan kecil. Namun, untuk membunuh tiga orang dewasa, ular itu harus berukuran besar. Jika begitu, akan sulit untuk diselundupkan dalam keranjang kecil berisi buah ara dan luput dari pengawasan penjaga. "Kemungkinan besar keracunan membunuh dengan begitu cepat tiga wanita dewasa, Cleopatra dan pelayannya, Charmion, dan Iras," tulisnya. Namun, ada teori lain, yakni sang ratu sengaja dibunuh. Tersangka terkuat adalah Oktavianus. Pat Brown percaya ini. "Saya percaya tentang apa yang benar-benar terjadi masih tersembunyi di balik selubung propaganda dan sandiwara yang dimainkan oleh pembunuhnya, Octavianus dan agenda Kekaisaran Rowawi," tulis Brown. Dengan demikian, bagi sejarawan, kematian Cleopatra akan tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan. Sementara budaya populer kemungkinan besar akan tetap terpesona oleh kisah romantis dan eksotis dari penguasa klan Ptolemeus terakhir di Mesir itu bersama jenderal Romawinya.*
- Kala Presiden Amerika Terpapar Virus Influenza
MESKI tampak barang sepele namun masker nyatanya punya efek besar di masa pandemi Covid-19 (virus corona). Ketika kewajiban bermasker menjamur di mana-mana, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru tak memedulikannya. Alhasil Trump pun akhirnya terpapar COVID-19. Kendati sudah 7,5 juta warganya (per 2 Oktober 2020) positif terpapar, di mana di antaranya sudah lebih dari 212 ribu jiwa melayang, Trump jadi sedikit dari sejumlah pemimpin dunia yang bersikap santai dan enggan memakai masker bahkan sedari awal merebaknya pandemi. Selain kerap menyampaikan bahwa mengenakan masker bukan hal wajib bagi warganya, Trump juga pernah meledek mantan wakil presiden Joe Biden, yang acap disiplin memakai masker. “Saya tak mengenakan masker seperti dia (Biden). Dia memakainya setiapkali Anda melihatnya. Dia bisa bicara dengan jarak 200 kaki…dan dia muncul dengan masker terbesar yang pernah saya lihat,” kata Trump mengejek, dikutip Business Insider , Jumat (2/10/2020). Trump meledek Biden dalam sebuah ajang debat presiden jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika pada Selasa malam, 29 September 2020. Namun, sial bagi Trump. Dua hari setelahnya, Kamis, 1 Oktober 2020 waktu setempat, Trump dan istrinya Melanie Trump dilaporkan positif COVID-19. Kemungkinan besar Trump tertular dari salah satu penasihatnya, Hope Hicks. “Malam ini, @FLOTUS (ibu negara) dan saya telah dites positif COVID-19. Kami akan memulai karantina dan akan segera memulai proses pemulihan. Kami akan melaluinya bersama!” kicau Trump di akun Twitter -nya, @realDonaldTrump , Jumat (2/10/2020). Flu Spanyol Menyerang Presiden Amerika Hal menarik dari kisah Trump adalah, sejarah bak berulang. Pendahulu Trump, Woodrow Wilson, 101 tahun lampau juga jadi korban pandemi Flu Spanyol. Trump seolah tak belajar dari masa lalu lantaran situasinya nyaris serupa. Jika Trump santai menanggapi pandemi dan sibuk dengan agenda debat Pilpres, Wilson pun kala itu tak responsif menanggapi Pandemi Flu Spanyol yang merebak di kalangan militer lantaran disibukkan oleh agenda-agenda konferensi pasca- Perang Dunia I . Mirip Trump, Wilson terpapar setelah salah satu sekretarisnya positif mengidap Flu Spanyol. Sejarawan John M. Barry dalam The Great Influenza: The Story of Deadliest Pandemic in History mengungkapkan, pandemi Flu Spanyol sudah merebak di Amerika sejak awal 1918, atau beberapa bulan sebelum Perang Dunia I berakhir (November 1918). Kasus pertama yang tercatat muncul di kalangan militer, di mana Albert Gitchell, seorang koki militer di basis militer Angkatan Darat (AD) Kamp Funston, Kansas, jadi korban pertama yang positif Flu Spanyol. Gitchell menularkan sekira 522 personel lain. Sampai Maret 1918, virus itu sudah mencapai New York dan Washington DC. “Gelombang pertama (pandemi Flu Spanyol) terjadi pada Maret 1918, di mana salah satu penasihat Presiden Wilson, Kolonel Edward House, dilaporkan sakit di kediamannya hingga dua pekan. Ia sempat kembali ke Gedung Putih dan menghabiskan waktu istirahat untuk pemulihan selama tiga pekan di Gedung Putih,” tulis Barry. Ratusan tentara Amerika terjangkit virus Flu Spanyol di Kamp Funston. (National Museum of Health and Medicine). Kolonel House sempat pulih dan bahkan turut bertemu Perdana Menteri Prancis Georges Clemenceau pasca-berakhirnya perang, 30 November 1918. “Hari ini hari pertama saya bisa bertugas lagi selama lebih dari sepekan. Saya tertular influenza selama 10 hari dan melewatinya dengan penuh derita,” ujar House dikutip Barry. Pada awal April 1919, Presiden Wilson berperjalanan menyeberangi Samudera Atlantik untuk menghadiri Konferensi Perdamaian Paris (1919-1920). Konferensi yang diikuti negara-negara pemenang Perang Dunia I itu kemudian membidani lahirnya Liga Bangsa-Bangsa (LBB), 10 Januari 2020. “Padahal Paris sejak Oktober (1918) berada di puncak pandemi dengan 4.574 oang meninggal karena flu. Bahkan Margaret, putri (Presiden) Wilson juga tertular pada Februari (1919) saat berada di Brussels, Belgia. Juga sejak Maret istri Wilson, sekretaris ibu negara, dilaporkan sudah jatuh sakit,” sambung Barry. Pada 2 April 1919, Presiden Wilson sudah berada di Paris untuk beradu gagasan tentang sejumlah perkara restorasi pasca-Perang Dunia I. Salah satunya terkait negara-negara yang kalah perang, seperti Jerman dan Turki. Walau konferensi itu sudah dibuka sejak 18 Januari 1919 dengan diwakili beberapa utusan Gedung Putih, pada April Presiden Wilson memerlukan datang sendiri karena alotnya negosiasi dengan dua koleganya, PM Clemenceau dan PM Inggris Lloyd George. Yang tak diketahui Wilson, sesampainya di Paris dia sebenarnya sudah tertular flu. Namun dokter pribadinya, Laksamana Muda Cary Travers Grayson, mengetahui gejala flunya baru tampak sehari setelahnya. “Pada kamis, 3 April 1919 – setelah menyambut kunjungan Raja Albert dari Belgia pada siang hari, Presiden (Wilson) undur diri dari rapat Dewan Empat Negara. Dengan jalan terhuyung-huyung ia menuju kamar tidurnya. Dokter pribadinya (Laksamana Grayson) menemukannya tengah menderita nyeri parah di punggung dan kepala, batuk-batuk, serta mengalami demam 103 derajat (Fahrenheit),” tulis Andrew Scott Berg dalam biografi sang presiden bertajuk Wilson. Presiden Amerika Thomas Woodrow Wilson (kanan) di Paris Peace Conference, April 1919. (Library of Congress). Tidak hanya mengalami batuk-batuk dan kesulitan bernapas selama malam itu, lanjut Berg, Presiden Wilson kemudian diketahui juga mengalami infeksi pada prostat dan kandung kemihnya. Kemungkinan besar virusnya juga menyebar hingga mengganggu otaknya. “Presiden Wilson tiba-tiba mengalami perubahan perilaku. Presiden Wilson mulai mengeluarkan perintah-perintah yang aneh dan tak masuk akal. Wilson juga seperti berhalusinasi karena sering menuduh para pekerja Prancis di kediamannya adalah para mata-mata pemerintah Prancis,” tambah Berg. Grayson awalnya mengira Presiden Wilson jatuh sakit karena diracun. Tetapi kemudian dalam diagnosa lanjutannya, terang sudah bahwa Presiden Wilson positif terpapar virus Flu Spanyol. “Presiden jatuh sakit karena flu berat semalam. Demamnya tinggi sampai 103 derajat (Fahrenheit/39 derajat Celcius) dan sempat mengalami diare. Itu gejala awal serangan flu. Malam itu yang terparah. Tetapi saya bisa mengendalikan batuk-batuknya yang parah walau kondisinya saat ini masih sangat serius,” tulis Grayson dalam telegram laporannya kepada Kepala Staf Gedung Putih Joseph Tumulty, dikutip Barry. Laksamana Muda Cary Travers Grayson (topi putih) dokter pribadi Presiden Wilson. (Library of Congress). Hingga empat hari Grayson merawat Presiden Wilson yang sempat kesulitan bangun dari tempat tidurnya, hingga bisa bangkit dan duduk di atas kasurnya di L’Hôtel du Prince Murat, Paris. Saat baru bisa bangkit dan duduk pun Presiden Wilson bahkan masih terus memikirkan “pertarungannya” di dewan rapat dengan PM Clemenceau dan PM George. “Lalu pada 8 April setelah suhu tubuhnya mereda, Wilson bersikeras untuk melanjutkan negosiasi. Tetapi karena belum bisa keluar (kamar hotel), Clemenceau dan Georgelah yang mendatanginya di kamar tidurnya. Walau kemudian pembicaraan ketiganya tak berjalan dengan baik,” tulis Barry lagi. Gedung Putih berupaya keras menutup rapat kabar Presiden Wilson sakit tertular Flu Spanyol di Paris dari pers. Laksamana Grayson saat meladeni pers di Paris sekadar menyatakan Presiden Wilson hanya sakit biasa karena cuaca hujan di Paris dan butuh istirahat semata. Sekembalinya ke Amerika, perlahan Presiden Wilson pulih dari Flu Spanyol kendati pada 25 September di tahun yang sama Wilson terserang stroke. Ia lebih beruntung jadi penyintas, tak seperti Presiden Brasil Rodrigues Alves, Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Turki I bin Abdulaziz, dan PM Uni Afrika Selatan Louis Botha yang meninggal akibat Flu Spanyol. Dari sekitar 675 ribu warga Amerika yang meninggal karena pandemi Flu Spanyol sepanjang 1918-1919, salah satunya adalah Friedrich Trump, pebisnis kelahiran Bavaria, Jerman yang juga kakek Presiden Donald Trump.
- Ketulusan Hati Johannes Leimena
Untuk memproses secara hukum orang-orang yang terlibat G30S, dibentuklah Tim Pemerika Pusat (Teperpu). Sekali waktu, Ketua Pelaksana Harian Teperpu Kolonel Ahmad Tahir mendatangi kediaman Wakil Perdana Menteri II Johannes Leimena. Tahir menyampaikan permintaan untuk menayakan kesediaan Oom Jo – panggilan akrab Leimena – untuk memberikan keterangan kepada Teperpu. Leimena, sebagaimana dicatat Aco Manafe dalam Teperpu, rupanya bersikap amat responsif. Sebelum dijelaskan untuk apa dia dimintai keterangan, Leimena sudah menjawab langsung. “Tentu. Sekarang? Saya siap,” ujar pejabat negara yang dikenal jujur dan sederhana itu. Demikianlah, keduanya bergegas ke mobil yang diparkir dan tadinya dikemudikan Tahir. Namun, ketika akan masuk mobil, Leimena bertanya ragu. “Apakah saya cukup begini saja?” tanya Leimena. “Memangnya kenapa, Pak?” tanya Tahir. “Maksudnya saya, apakah saya tak diperkenankan membawa perlengkapan sehari-hari lainnya?” kata Leimena. Tahir terdiam sambil menahan haru. Di balik kepolosannya, Leimena menyangka bahwa dirinya akan ditangkap lalu ditahan oleh Teperpu. Tahir pun menerangkan kembali niatannya untuk “membawa” Leimena. “Bapak tidak ditangkap, Pak. Percayalah! Sama sekali tidak ada alasan untuk itu,” jawab Tahir. Kedatangan Tahir hari itu hanya sekadar menanyakan kesediaan. Kalau Leimena bersedia meluangkan waktu, maka Teperpu akan membuatkan surat permintaan. “Jadi saya tidak ditangkap?” tanya Leimena. “Tidak, Pak,” ujar Tahir. Meski mendapat jawaban yang aman bagi dirinya, antusiasme Leimena tidak berkurang sama sekali. Mereka pun berangkat dan Leimena menjanlankan kewajibannya sebagai warga negara yang baik.
- Asal-Usul Stigmatisasi Komunis di Indonesia
BANDUNG, 4 Juli 1927, delapan orang berkumpul di sebuah rumah Regentsweg No. 22. Tujuh orang di antaranya bersepakat mendirikan sebuah partai baru: Partai Nasional Indonesia (PNI). Seorang di antaranya, yang paling tua, menolak ikut masuk ke dalam susunan pendiri partai. Dia cemas kalau partai baru tersebut bakal dituduh sebagai partai komunis kelanjutan PKI dan akan kembali dibubarkan oleh pemerintah kolonial.
- Gubernur Jawa Barat di Tengah Badai G30S
Kabar terbunuhnya enam perwira tinggi Angkatan Darat pada subuh 1 Oktober 1965 di Jakarta begitu menggemparkan. Seluruh daerah di Indonesia seketika memanas. Keadaan di Jawa Barat, yang secara geografis bersebelahan dengan Jakarta, tidak luput dari situasi tersebut. Tapi sedikit banyaknya keadaan di wilayah Pasundan masih bisa dikendalikan aparat dan pejabat setempat. Hampir tidak ada tindakan-tindakan agresif berskala masif seperti menimpa Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali. Namun rupanya ketika peristiwa 30 September itu terjadi, Gubernur Jawa Barat Mashudi sedang tidak bertugas. Dia diketahui tengah berada di Peking (Tiongkok) dalam rangka lawatan kenegaraan sebagai anggota MPRS. Mashudi bersama anggota MPRS lain, serta sejumlah perwira tinggi militer menghadiri undangan Perayaan Hari Nasional Tiongkok 1 Oktober di Lapangan Tiananmen. Kabar dari tanah air baru diterima Mashudi pada saat perayaan berlangsung. Perdana Menteri Chou En-Lai mengatakan kepada rombongan bahwa di Jakarta telah terjadi penggulingan pemerintah oleh kelompok yang menamakan diri Dewan Revolusi. Dewan yang menurut Victor M. Fic, dalam Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi Tentang Konspirasi , memiliki fungsi “pembersihan” atas unsur-unsur penghalang kekuasaan baru pasca peristiwa 30 September. Dikisahkan Nina H. Lubis dalam “Tatar Sunda di Guncang Konflik Sosial Politik” dimuat Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional Bagian II: Konflik Lokal , Mashudi dan rombongan, yang seharunya tiba di tanah air pada 2 Oktober, sempat tertahan di Tiongkok karena penerbangan ke Jakarta ditutup. Namun pada 4 Oktober, atas bantuan Raja Norodom Sihanouk, mereka bisa kembali ke Indonesia melalui Phnom Penh, Kamboja. Tiba di Kemayoran, rombongan langsung dibawa ke Markas Kostrad guna mendapat penjelasan. Malamnya, Mashudi segera berangkat ke Bandung. “Mashudi, sebagai perwira tinggi AD, merasa terpukul dengan kematian Jenderal Ahmad Yani, atasannya, yang juga sudah dianggap saudara dan teman seperjuangan,” tulis Nina. “Para jenderal korban Lubang Buaya lainnya, ternyata juga kakak dan adik kelas sewaktu Mashudi menempuh pendidikan di AMS-B Yogyakarta.” Pada 5 Oktober, Mashudi mengadakan rapat pimpinan. Panglima Siliwangi Mayjen Ibrahim Adjie turut hadir dan memberi penjelasan terkait peristiwa yang sebenarnya terjadi di Jakarta. Dia mendapat informasi langsung dari Mayor Ali Rachman dari Batalion 328 Kodam VI Siliwangi, yang sebelum malam 30 September telah berada di Jakarta untuk mengikuti parade perayaan Hari ABRI 5 Oktober. Sang gubernur, imbuh Nina, pun merasa bersyukur karena para pimpinan di Jawa Barat tidak mengeluarkan pernyataan terkait dukungan kepada Dewan Revolusi. Hanya daerah Kuningan yang diketahui mencoba membentuk Dewan Revolusi Daerah sehingga bupatinya diamankan demi mencegah kegaduhan di Jawa Barat. Di Kuningan dan sekitarnya, berdasar data dalam Politik Tanpa Dokumen karya Muhidin M. Dahlan, keberadaan simpatisan PKI memang cukup besar. “Selanjutnya Gubernur Jawa Barat Brigjen TNI Mashudi mengeluarkan serangkaian tindakan yang berkaitan dengan aparatur pemerintahan. Mashudi secara maraton mengadakan rapat-rapat dengan para bupati/kepada daerah dan walikota. Ia langsung pula membuat pernyataan: mendukung pemerintah dan mengutuk Dewan Revolusi,” ungkap Nina. Melalui Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Provinsi Jawa Barat No. 149/X/B.IV/HUK/PENG/65 tanggal 26 Oktober 1965, Mashudi memberhentikan sementar waktu delapan anggota PKI yang duduk dalam DPRD-GR. Mereka adalah Suharna Affandi, Abbas Usman, Akhmad Suganda, Enok Rokhayati, Mustofa, Cece Suryadi, Sukra Prawira Sentana, dan Suhlan Sujana. Pada 2 November 1965, Mashudi kembali mengeluarkan Instruksi Gubernur Kepada Daerah Jawa Barat No. 211/Staf/T.U/65 tentang Pengamanan dan Pembersihan Aparatur Negara/Daerah dari unsur-unsur G30S. Di dalam instruksi itu gubernur menindak secara administratif aparatur daerah yang dicurigai terlibat PKI. Mereka dibedakan menjadi beberapa klasifikasi, sesuai dengan keterlibatan di dalam G30S, yaitu: golongan yang aktif/pasif ikut terlibat PKI; golongan yang dicurigai terlibat peristiwa G30S; golongan yang mendapat hasutan sehubungan dengan peristiwa G30S; golongan yang menghilang setelah peristiwa G30S; dan golongan yang meski tidak terlibat G30S, instansinya terindikasi terlibat. Bagi aparatur yang terbukti terlibat dalam peristiwa G30S, Mashudi memerintahkan walikota/bupati, serta pimpinan daerah tingkat 2 seluruh Jawa Barat untuk melakukan penahanan. Kemudian selama di dalam tahanan mereka akan diberikan indoktrinasi mengenai ideologi negara, juga diberikan pekerjaan yang bermanfaat. “Selanjutnya, Pangdam Mayjen Ibrahim Adjie mengeluarkan surat keputusan atas usul Gubernur Mashudi bahwa PKI di Jawa Barat sudah bubar. Menurut Mashudi, pimpinan PKI di Jawa Barat menyadari bahaya yang mengancam mereka, yaitu kalau-kalau terjadi tindakan penghakiman yang dilakukan rakyat seperti yang terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur sehingga mereka membubarkan diri,” tulis Nina.
- Profil Pahlawan Revolusi: DI Pandjaitan, Jenderal-Pendeta yang Gugur di Hadapan Keluarga
Masih ingat salah satu adegan dramatis dalam film Pengkhianatan G30S/PKI : seorang perwira tinggi ditembak mati oleh gerombolan penculik persis di depan anak dan istrinya. Namun sebelum tewas diberondong, sang jenderal terlebih dulu berdoa dan melawan para penculiknya. Siapakah dia? Sosok jenderal yang digambarkan itu tak lain adalah Donald Icazus Panjaitan. Lahir di Balige, Sumatera Utara, 9 Juni 1925, Pandjaitan dikenal sebagai perwira yang mahir berbahasa Jerman. Hal itu disebabkan karena tempat dia dibesarkan adalah lingkungan Rheinische Mission Geselchaft, sebuah kelompok zending yang berasal dari Jerman. Setelah lulus pendidikan dasar Hollandsche Inladsche School (HIS), Pandjaitan masuk sekolah menengah Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) tanpa tes. Itu terjadi karena nilai seluruh pelajaran yang pernah diikuti Panjaitan dianggap bagus. Sejatinya, Pandjaitan ingin menempuh pendidikan lanjutan pertama di Hoogere Burger School (HBS). Namun karena orangtuanya hanya seorang pedagang kecil, keinginan itu terpaksa harus dipendam. Pandjaitan lantas memenuhi permintaan orang tuanya melanjutkan sekolah di MULO Tarutung. Kala menjalani pendidikan di MULO itulah Panjaitan mendapatkan musibah. Sang ayah meninggal dunia lalu tak lama kemudian disusul oleh ibunya. Kendati bersedih, Pandjaitan muda memutuskan untuk terus belajar hingga selesai menempuh pendidikan di MULO Tarutung. Tak lama dari kelulusannya dari MULO Tarutung pada 1942, Hindia Belanda diserang militer Jepang. Pada Maret 1942 Hindia Belanda secara resmi menyerah kepada Jepang. Pandjaitan yang menganggur kemudian pindah ke Riau untuk bekerja sebagai kepala pembukuan perusahaan kayu milik Jepang pada 1943. Ketika tentara pendudukan Jepang membutuhkan tenaga prajurit guna memenangkan Perang Asia Timur Raya dan membuka rekruitmen bagi para pemuda Indonesia untuk menjadi anggota Gyugun (paramiliter sejenis PETA di Jawa), tanpa banyak pertimbangan Pandjaitan langsung mendaftar dan diterima. Dia ditempatkan di Pekanbaru. Usai kapitulasi Jepang terhadap Sekutu pada 14 Agustus 1945, tentara pendudukan Jepang di Sumatera membubarkan Gyugun lantas melucuti senjata para anggotanya. Mereka takut senjatanya diambilalih oleh para pemuda Indonesia. Upaya ini kemudian dilawan oleh para pemuda. Setelah mengetahui proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan di Jakarta, Pandjaitan dan kawan-kawannya mengumpulkan kembali para anggota Gyugun dan membentuk Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang pada Desember 1945 menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Ada tiga batalyon TKR di wilayah Riau saat itu, yakni di Pekanbaru, Bengkalis, dan Indragiri. Pandjaitan diangkat menjadi komandan batalyon TKR untuk wilayah Pekanbaru. Tak lama setelah diangkat menjadi kepala Organisasi/Pendidikan Divisi IX di Bukittinggi namun pangkatnya diturunkan menjadi kapten akibat kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (1948), Pandjaitan memimpin pasukannya melancarkan perang gerilya menyusul dilancarkannya agresi militer kedua oleh Belanda pada 19 Desember 1948. Dia terpaksa meninggalkan istrinya yang baru melahirkan di Bukittinggi. Pandjaitan baru bertemu kembali dengan istrinya setelah Kapten Maraden Panggabean, yang istrinya merupakan adik kandung istri Pandjaitan, mempertumakannya di suatu malam di hutan yang menjadi tempat perkemahan Markas Komando Sumatera di Lubuksikaping. “Dia melompat dari tempat tidur, mengenakan pakaian dan berlari ke tempat kendaraan kami sambil berkata, ‘Mujizat Tuhan Mahabesar’,” kata Panggabean dalam otobiografinya, Berjuang dan Mengabdi . Agresi militer kedua Belanda yang membuat seluruh jajaran tinggi pemerintah RI, termasuk Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, ditawan memaksa Syafruddin Prawiranegara membentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi, 22 Desember 1948. Syafruddin lalu memanggil Pandjaitan, yang menjabat posisi Kepala Staf IX Tentara dan Teritorial Sumatera, untuk menjadi pimpinan Pusat Perbekalan PDRI pada 15 Januari 1949. Usai Agresi Militer Belanda II, Pandjaitan dipercaya menjadi Kepala Seksi II Staf Tentara dan Teritorium Sumatera Utara. Setelah KMB (23 Agustus-2 November 1949), Pandjaitan dipindahkan ke Medan untuk menduduki posisi Kepala Seksi II Staf Tentara dan Teritorium I Sumatera Utara, kemudian wakil Kepala Staf Tentara dan Teritorium Sumatera Selatan pada Oktober 1952. Baru pada Januari 1956 Pandjaitan mendapatkan kembali pangkat mayor. Setelah mengikuti kursus atase militer pada April 1956 dan menjadi perwira di Atase Militer (Atmil) di Bonn, Jerman Barat, pada Oktober 1956 Letkol Pandjaitan diangkat menjadi atase militer Republik Indonesia di Bonn. Semasa menjabat Atmil, Pandjaitan melancarkan misi-misi rahasia untuk mengintip kekuatan Belanda dalam rangka sengketa Irian Barat. Salah satu misi yang dibuat Pandjaitan adalah menyusupkan warga negara Jerman Barat bernama Felix Matternich ke Belanda untuk memotret kapal-kapal perang Belanda. Upaya yang dilakukan Pandjaitan itu merupakan Operasi C alias “operasi senyap” yang dilancarkan KSAD Jenderal AH Nasution. “Para Atase Militer di Eropa Barat, Kartakusumah di Paris, S. Parman di London dan Panjaitan di Bonn merupakan pendukung usaha ini,” kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama . Pandjaitan dan Nasution memiliki kedekatan personal. Saat Nasution mampir ke Frankfurt, Jerman dari kunjungan utamanya ke Moskow, Rusia, Pandjaitan menjamunya dan memberi perhatian personal. “Atase Militer Letnan Kolonel Panjaitan mengingatkan saya. Katanya, ‘Saya melihat jenderal kini jauh lebih tua, dibanding waktu bertemu dulu. Saya mengharapkan agar jenderal juga memperhatikan diri jenderal,’” sambung Nasution. Melalui konferensi pers yang disediakan Pandjaitan pula Nasution menjelaskan misinya kali itu. “Oleh Atase Militer kita dipersiapkan konperensi pers. Saya jelaskan misi saya. Kalau dengan diplomasi tak berhasil mengembalikan Irian Barat, maka APRI harus siap membebaskannya,” kata Nasution. Pandjaitan bergaul karib dengan masyarakat setempat selama di Bonn. Dia antara lain, tulis Martin Sitompul dalam artikelnya di Historia.id berjudul “D.I. Pandjaitan Berkhotbah di Jerman”, pernah berceramah di gereja atas undangan Pendeta de Kleine, tokoh Gereja Protestan Jerman di Wuppertal-Barmen. “Mungkin maksudnya agar masyarakat Jerman mengetahui dan bangga, bahwa ada perwira TNI yang berasal dari Tanah Batak, tempat Mission Zending bertugas menyebarkan agama Kristen di sana sejak sebelum penjajahan,” kata istri Pandjaitan, Marieke Pandjaitan br. Tambunan dalam D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran . Dari Bonn, Pandjaitan lalu ditarik ke Jakarta dan diangkat menjadi perwira pembantu Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Pangkatnya dinaikkan menjadi kolonel pada Juli 1960. Kinerja baik Pandjaitan membuatnya dipilih Menpangad Letjen A. Yani sebagai Asisten IV-nya ketika Yani naik menggantikan Nasution, 1962. Sama seperti Yani sebelumnya, pengangkatan Pandjaitan sempat mendapat pertanyaan besar dari Presiden Sukarno. Dikisahkan Marieke Pandjaitan br. Tambunan, Pandjaitan sampai dihadapkan pada presiden karena penjelasan Yani soal pilihannya itu tak bisa meyakinkan presiden. Presiden, yang mendapatkan informasi ketidakloyalan Pandjaitan dari Biro Pusat Intelijen dan Chairul Saleh yang pada 1950-an tinggal di Jerman, bahkan memerlukan bertanya kepada pihak lain. Salah satunya Hasjim Ning, sahabatnya yang merupakan keponakan Bung Hatta, yang juga ditanyai soal rumor miring terhadap Yani menjelang pemilihannya menjadi Menpangad. “Aku ditanyai Bung Karno pula persoalan itu, karena kebetulan pada waktu itu aku berada di Jerman Barat. Itu bohong saja, Pak. Makum, tentu ada orang yang tidak suka pada Panjaitan kalau ia menduduki pos yang penting,” kata Hasjim kepada Sukarno seperti ditulis dalam otobiografinya, Pasang-Surut Pengusaha Pejuang . Pandjaitan akhirnya diangkat menjadi Asisten IV Menpangad, pangkatnya dinaikkan menjadi brigadir jenderal. Jabatan itu masih dipegangnya ketika pada dini hari 1 Oktober 1965 rumahnya digeruduk pasukan Gerakan 30 September pimpinan Letnan Kolonel Untung Syamsuri yang mengklaim ingin menyampaikan perintah presiden. Setelah rumahnya berantakan diberondong pasukan penggeruduk, Pandjaitan turun menemui mereka dengan berpakaian lengkap. Di depan garasi saat berdoa, Pandjaitan dipukul kepalanya lalu diberondong pasukan penculik. Empat hari kemudian, saat dimakamkan di TMP Kalibata, Pandjaitan ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi dan pangkatnya dinaikkan menjadi mayor jenderal (anumerta) berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 111/ Koti. Menjelang akhir hidupnya, Pandjaitan memberi porsi waktu lebih besar untuk membaca buku-buku keagamaan. Ketika gugur, Pandjaitan telah merampungkan enam dari 12 jilid Church Dogmatics karya teolog Karl Barth. “Hasratnya untuk memahami dogma-dogma tersebut bukan karena dia seorang yang taat beragama, tetapi juga karena keinginannya untuk membantu para pendeta memberi khotbah-khotbah di daerah gerilya selama masa perang kemerdekaan,” tulis Mardanas Safwan dalam Mayor Jenderal Anumerta DI Panjaitan .
- Pembantaian di Bali dan Protes Soe Hok Gie
Tahun 1967 , NBC TV menayangkan hasil liputan mereka di Indonesia pasca terjadinya Gerakan 30 September 1965. Menurut laporan salah satu jaringan televisi di Amerika Serikat (AS) tersebut, kurang lebih 300.000 orang yang diduga sebagai pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI) telah terbunuh di Indonesia. Itu terjadi akibat aksi balas dendam kaum non komunis, menyusul gagalnya kudeta yang dilakukan oleh PKI. Salah satu tempat yang diliput oleh kru NBC TV adalah Bali. Di sana sepanjang 1966, puluhan ribu manusia telah kehilangan nyawanya. Proses pembunuhan mereka berlangsung secara sadis dan dingin. Sebagian korban bahkan terkesan “pasrah” dengan nasibnya sendiri. “Mereka datang kepada Dewan Desa dan bertanya: kapan mereka akan dibunuh? Setelah diberitahu waktunya, mereka lantas minta izin untuk bersembahyang dulu di pura dan pamit kepada sanak keluarga. Besoknya mereka menyerahkan diri lalu digiring ke pemakaman desa dan langsung dipenggal dengan pedang,” ungkap Rata, seorang profesor muda yang juga ikut dalam operasi pembersihan orang-orang komunis di Bali. Dalam buku bertajuk Pengabdian Korps Baret Merah yang dikutip oleh Julius Pour dalam G30S: Fakta atau Rekayasa , disebutkan operasi penumpasan orang-orang komunis di Bali berawal pada 7 Desember 1965. Saat itu pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) di bawah pimpinan Mayor (Inf) Djasmin baru mendarat di Pulau Dewata tersebut. “Seperti di daerah-daerah lain, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo mendampingi tim RPKAD yang bertugas ke Kodam XVII/ Udajana…” ungkap Pour. Target pertama penumpasan dilakukan terhadap salah satu donatur Central Daerah Besar PKI Bali bernama I Gede Poeger. Pada 16 Desember 1965, ratusan mata warga Denpasar menyaksikan Poeger yang kedua tangannya terikat diseret oleh para prajurit RPKAD dan massa binaan tentara. Poeger yang berbadan gempal kemudian ditusuk dengan sebilah pisau komando hingga ususnya terburai, sebelum kemudian kepalanya ditembak sampai tewas seketika. “Saya menyaksikan bagaimana massa di Bali membunuh Poeger…” ungkap Ben Mboi dalam Memoar Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja . Menurut Mboi, dirinya sempat merasa aneh, bagaimana masyarakat Bali yang terkenal halus dan peramah, saat itu ternyata bisa berubah menjadi beringas dan sangat kejam. Dalam waktu yang lain, Mboi juga menyaksikan ada orang yang begitu saja dianggap komunis disiksa sampai mati bahkan ada yang dibakar hidup-hidup. Kegilaan di Bali sepanjang Desember 1965-Januari 1966 memunculkan protes keras berbagai pihak. Salah satunya dari Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa anti Sukarno dan salah satu sekutu Angkatan Darat. Dalam artikelnya di Mahasiswa Indonesia edisi Desember 1967, Gie menyebut peristiwa di Bali sebagai malapetaka yang mengerikan dan “suatu penyembelihan besar-besaran yang mungkin tiada taranya dalam zaman modern ini.” Pada awal tulisannya itu, Gie bilang bahwa dengan menyatakan protes bukan berarti dia membela Gestapu/PKI atau pun dapat membenarkan cara-cara mereka saat menghabisi lawan-lawannya. “Perlakuan mereka yang kejam dan biadab, tentunya harus kita lawan dan kutuk, tetapi tidak sekaku dan sebiadab mereka pula…” ujar Soe Hok Gie. Gie juga mengecam tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) Bali bernama Wedagama yang menyerukan orang-orang Bali untuk membunuh orang-orang PKI, karena menurutnya itu dibenarkan oleh Tuhan dan tidak akan disalahkan oleh hukum yang berlaku. Menurut Gie, apa yang diserukan oleh para elit Bali seperti Wedagama hanya akan membuat pembunuhan-pembunuhan, penyiksaan-penyiksaan dan pemerkosaan-pemerkosaan semakin menggila. Itu dibuktikan dengan jatuhnya kurang lebih 80.000 jiwa (menurut perkiraan yang paling konservatif). Guna menghentikan semua pembantaian tersebut, Gie menyerukan kepada Brigjen Sukertijo (Pangdam Udayana saat itu) untuk mengendalikan orang-orangnya dan memberlakukan aturan secara tegas dan tak pandang bulu. “Jika mereka bersalah, adililah mereka dan hukum. Tetapi yang tidak bersalah supaya dibebaskan. Mereka adalah manusia, punya istri, anak, orangtua dan sahabat yang mengharap-harapkannya…” tulis Gie.
- Mereka yang Menanti Rehabilitasi
Kusman merupakan guru muda di SDN Sidototo, Kebumen, ketika Peristiwa G30S terjadi tahun 1965. Ia tak tahu-menahu apa yang sedang terjadi. Ia bukan anggota partai politik manapun, apalagi PKI yang dituduh sebagai dalang peristiwa berdarah itu. Di luar aktivitasnya mengajar sekolah dasar, Kusman juga seorang dalang wayang kulit. Pada pertengahan dekade 1960-an itu, ia sering mendapat panggilan mendalang di berbagai daerah di Kebumen. Pada 1967, tanggul Waduk Sempor jebol. Peristiwa ini menjadi pengingat Supriyanto, anak Kusman, kapan ayahnya digelandang aparat. Kusman dibawa ke Komando Distrik Militer (Kodim) Kebumen dan ditahan selama tiga hari. Sementara dia ditahan, rumahnya digeledah aparat. “Digeledah, apa yang dicari saya juga nggak tahu. Ada genteng di atas diinjek-injek. Wah luar biasa,” kata Supriyanto yang kala itu masih duduk di bangku sekolah dasar. Aparat akhirnya tak menemukan apa-apa. Tak ada bukti bahwa Kusman adalah anggota PKI apalagi terlibat dalam G30S. Menurut Supriyanto, ayahnya kemungkinan dituduh karena pernah mendalang pada satu acara yang digelar partai berlambang palu-arit itu. Terstigma Setelah dibebaskan dari Kodim dan hendak kembali mengajar, Kusman menerima kenyataan pahit. Kepala sekolah mengatakan padanya bahwa Kusman sudah tak perlu mengajar lagi. Ia dipecat tanpa kejelasan. “Nggak ada surat secuil, nggak ada proses, nggak ada ya namanya negara hukum harus pengadilan misalnya,” ujar Supriyanto kepada Historia . Beberapa bulan tanpa pekerjaan, Kusman akhirnya dipanggil mengajar kembali. Sekolah tempatnya bekerja kekurangan guru karena banyak guru yang diberhentikan. Namun, selama mengajar gajinya tak pernah turun. Kepala sekolah mengatakan gajinya sedang dipinjam untuk keperluan lain. Sembilan bulan mengajar tanpa gaji, Kusman akhirnya dipecat lagi. Pihak sekolah mengatakan sedang membenahi urusan kepegawaian. Jika sudah kelar, Kusman dijanjikan akan dipanggil lagi. Namun, kali ini ia ternyata berhenti mengajar selamanya. Pada 1969, datang surat dari Pelaksana Khusus Daerah (Laksusda) Semarang. Isinya, pernyataan bahwa Kusman tak terlibat G30S. Namun, stigma kadung melekat sehingga Kusman tak pernah bisa kembali menjadi guru. Stigmatisasi seperti yang dialami Kusman itu pula yang menimpa Retno Budi Hastuti. Kendati baru lahir pada 1978 atau 13 tahun sebelum Retno dilahirkan, Peristiwa G30S cukup berdampak padanya. Pasalnya, ayahnya pernah ditahan karena tuduhan yang sama seperti Kusman. Untung Sucipto, ayah Retno, mengajar di sekolah yang sama dengan Kusman. Ia tak pernah tergabung dalam partai maupun terlibat dalam acara-acara yang digelar partai. Untung benar-benar bersih dari politik praktis apalagi kaitanya dengan PKI. Namun, suatu hari Untung ditangkap dan digelandang ke Kodim. Dia dituduh sebagai anggota PKI oleh tetangganya karena masalah pribadi. Aparat yang menggeledah rumah Untung tak menemukan apa-apa karena Untung memang bukan anggota PKI dan tak pernah berhubungan dengan PKI. Namun nasi telah menjadi bubur, ditangkapnya Untung telah melekatkan stigma pada dirinya dan keluarganya. Sama seperti Kusman, Untung tak bisa lagi menjadi guru. Ia akhirnya bekerja sebagai petugas pom bensin. Tak berhenti sampai di situ, anak-anaknya yang lahir jauh setelah G30S terjadi pun menjadi sulit mencari pekerjaan, terlebih ketika Orde Baru masih berkuasa. “Saya ngerasain sendiri ya nyari kerjaan tuh susah. Adiknya bapak saya kan kebetulan pada sukses, ibaratnya bawa saya untuk dimasukin kerja aja pada takut,” kata Retno kepada Historia . Kusman dan Untung hanya dua dari 298 guru dan penjaga sekolah di Kebumen yang diberhentikan pasca-Peristiwa 1965. Setelah reformasi, mereka mulai mencari keadilan untuk memulihkan nama baik. Menang Gugatan Pada 18 Mei 2006, mereka membentuk Koordinator Eks Guru dan Penjaga SD Se-Kabupaten Kebumen . Dengan badan hukum dan AD-ART yang jelas mereka memulai upaya-upaya untuk mendapat rehabilitasi. Awalnya, mereka dipingpong dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PDK) Kabupaten ke bupati lalu ke DPRD. Setelah menghadap gubernur Jawa Tengah mereka kembali dilempar ke DPR, Sospol, dan kembali ke PDK. Mereka akhirnya menghadap langsung ke Sekjen Depdiknas RI dan Badan Kepegawaian Negara (BKN) di Jakarta. Di sana, mereka diminta menunjukan surat asli Pepekuper (Pembantu Pelaksana Kuasa Perang). Tentu saja mereka tidak dapat menunjukkan karena ketika dilepas dari penahanan, mereka hanya diberi Surat Pembebasan. Mereka akhirnya mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Dari 298 orang, 188 di antaranya memenangi jalur peradilan ini. Mereka dinyatakan tidak bersalah dan harus mendapat rehabilitasi. Sekjen Kemdiknas kemudian menempuh banding ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) hingga kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Namun, kasasi ditolak denganputusan No 69 K/TUN/2008. Meski telah memenangkan gugatan, para penyintas tak pernah direhabilitasi. Sementara itu, sejak 2008 satu persatu eks guru dan penjaga sekolah ini meninggal dunia. Kini setelah 12 tahun putusan menguap begitu saja, tinggal sekitar 20 orang dari penyintas yang masih hidup. “Saya sangat mengharapkan daripada pemerintah, dalam hal ini dinas dengan sekjennya, segera melaksanakan putusan MA. Dan sekarang sudah di ujung persoalan karena sudah selesai diaudit. Mbok iya segera dilaksanakan, kasian ini mbah-mbah sudah pada uzur. Ya pengen melihat lah, mungkin mewakili teman-teman dari yang sekian ratus itu. Yang masih hidup biar mewakili,” ungkap Supriyanto. Supriyanto merasa rehabilitasi sangat perlu dilaksanakan. Pasalnya stigma buruk terus membayangi anak-cucu para penyintas. Ia juga dipasrahi ayahnya yang meninggal pada 2011 dan rekan-rekan ayahnya untuk terus mengawal pelaksanaan putusan. “Saya nggak capek. Saya kepengen ‘sekolah’. Biar tahu orang-orang pinter di pemerintahan,” ujarnya.
- Tak Ada Gestapu di Kota Kembang
Suasana yang ramai, tetiba berubah hening. Pertanyaan saya membuat Untung Maulana Sulaiman langsung terdiam. Dahinya mengerenyit. Dia mencoba mengingat suasana di malam 30 September 1965, dan hari-hari setelahnya. Hari di mana pria kelahiran 1957 itu melihat begitu banyak mobil tentara mondar-mandir di sekitar rumahnya di Jalan W.R. Supratman. Untung kecil hanya bisa menyaksikan, tanpa tahu sebab keramaian itu terjadi. Rasanya kejadian itu baru saja dia alami. Ingatan tentang hari itu samar-samar masih cukup tergambar dibenaknya. “Mungkin ada rasa trauma waktu saya kecil, makanya beberapa bagian masih saya ingat betul,” ungkapnya kepada Historia . Usianya kala itu masih 8 tahun, sekitar kelas satu atau dua sekolah dasar. Ayah Untung, Syarif Sulaiman, bekerja sebagai wartawan. Di dalam majalah Pers Indonesia No. 25, Januari 1981, diperoleh keterangan bahwa Syarif Sulaiman pernah menjabat ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Bandung. Dia juga tercatat pernah menjadi Anggota Presidium PWI Pusat periode 1952-1955. Menurut Untung, keluarganya menjadi salah satu yang paling terdampak peristiwa 65. Sebagai wartawan, ayahnya mendirikan surat kabar Warta Bandung yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Itulah mengapa ayahnya ditangkap sebagai tahanan politik. Peristiwa yang akhirnya mengubah kehidupan keluarganya. Pada awal Oktober, Untung melihat ada begitu banyak tentara di sekitar rumahnya. Kendaraan-kendaraan tentara juga berkeliaran di sana. Untung ingat betul ada beberapa tetangganya yang kala itu dijemput tentara. “Sebagai anak kecil saya ketakutan waktu itu, ini mau ada perang atau apa kok ada ribut-ribut,” kata Untung. Namun suasana di Bandung, kenang Untung, tidak terlalu ramai. Dia bahkan sempat bersiap pergi ke sekolah pada 1 Oktober. Namun karena dicegah, dia tidak jadi berangkat. Sekolah pun baru diliburkan awal bulan, sekira seminggu setelah berjalannya Oktober. Untung Maulana Sulaiman. (Fazil Pamungkas/ Historia.id ). Suasana di Bandung Sebagaimana diceritakan Nina H. Lubis dalam “Tatar Sunda di Goncang Konflik Sosial Politik” dimuat Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional: Bagian II Konflik Lokal , suasana di Kota Bandung menjelang peristiwa besar di Jakarta tidak terlalu berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Masyarakat tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Tidak ada kehebohan yang menyebabkan kepanikan. Pemberitaan surat kabar pun umumnya berisi tentang situasi ekonomi yang kian memburuk, serta kenaikan harga-harga barang pokok di sejumlah tempat di Kota Bandung. Berdasar penelitian Nina, hingga 1 Oktober 1965, agaknya peristiwa berdarah yang terjadi di ibukota belum diketahui masyarakat Bandung. Bahkan rektor Universitas Padjadjaran, Sanusi Hardjadinata, yang merupakan tokoh Partai Nasional Indoesia (PNI) dan memiliki kedekatan dengan Sukarno, tidak mendapat informasi tersebut. Hanya dari kalangan militer saja yang langsung mendapat kabar peristiwa 30 September. Berita resmi tentang peristiwa di Jakarta baru muncul dua hari setelahnya. Diberitakan harian Pikiran Rakyat, 2 Oktober 1965, lewat Panglima Siliwangi Mayor Jenderal Ibrahim Adjie publik Bandung akrhinya menyadari adanya kegemparan di ibukota. Melalui pernyataan di surat kabar itu, Ibrahim Adjie meredam kepanikan yang mungkin akan melanda Kota Kembang tersebut. Ibrahim Adjie (Wikimedia Commons) “Sudara-sudara rakyat Jawa Barat pencinta Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno, Tamtama, Bintara, dan Perwira Angkatan Bersenjata,” tulisnya. “Sampai sekarang belum ada kejelasan tentang kejadian-kejadian di Jakarta yang menyangkut penyelamatan dan pengamanan P.J.M. Presiden/Pangti ABRI/Pembesrev Bung Karno yang kita cintai.” Ibrahim Adjie meminta publik untuk tidak terlalu khawatir dengan kejadian di Jakarta. Dia meminta agar masyarakat menunggu pernyataan resmi dari Bung Karno sebelum melakukan tindakan apapun. Juga jangan sampai terprovokasi oleh pihak manapun. Ibrahim Adjie benar-benar menggantungkan keputusannya pada Bung Karno. “Pada awal meletusnya G30S/PKI, ketaatan Ibrahim Adjie kepada Bung Karno terlihat sekali. Pejabat sipil, militer, serta pimpinan partai politik dan organisasi massa dikumpulkan di aula Kodam untuk mengadakan briefing dengan satu kesimpulan: Rakyat Jawa Barat mendukung Bung Karno,” tulis Samsudin dalam Mengapa G30S/PKI Gagal? Suatu Analisis . Keadaan di Bandung, umumnya Jawa Barat, sempat memanas pasca informasi persitwa 30 September menyebar di kalangan masyarakat sipil. Gerakan-gerakan dalam skala kecil dilaporkan terjadi di sejumlah tempat. Upaya pencegahan segera dilakukan Gubernur Jawa Barat Mashudi. Dia mengeluarkan berbagai kebijakan untuk meredam kejadian yang tidak diinginkan. Meski memerlukan waktu yang cukup panjang, normalisasi di Bandung berhasil dilakukan Situasi Kampus Unpad Pada 1 Oktober 1965, sehari setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, Sanusi Hardjadinata menyampaikan pidato di depan para mahasiswa, dalam upacara penutupan Masa Prabhakti Mahasiswa (Mapram) Universitas Padjadjaran Tahun 1965. Dalam pidatonya, dikutip Tempo 1 Oktober 1965, rektor ke-3 Unpad itu berpesan agar “para mahasiswa memiliki jiwa bakti bagi perjuangan kita, bagi tanah air dan bangsa. Dalam tiap gerakan harus tetap berada dalam landasan Pancasila.” Lebih lanjut, Sanusi menyarankan agar para mahasiswa menyalurkan minatnya pada kegiatan-kegiatan intra dan ekstrauniversiter yang kelak membantu pembangunan bangsa. Ketika Sanusi menyampaikan pidato penutupan Mapram itu, para mahasiswa, umumnya rakyat Jawa Barat belum mengetahui berita tentang peristiwa 30 September di Jakarta. Hal itulah yang membuat acara Mapram berjalan dengan tenang dan lancar. Mereka tidak menyadari bahwa beberapa jam sebelumnya telah terjadi peristiwa berdarah di ibu kota. Sanusi Hardjadinata ( unpad.ac.id ). Sanusi ditunjuk langsung oleh Presiden Sukarno menjadi rektor Unpad. Ia baru saja kembali ke tanah air, setelah empat tahun menjadi duta besar di Mesir, ketika presiden pertama RI itu menunjuk dirinya. Sebelum menjadi rektor, Sanusi telah cukup kenyang berkarir di dunia perpolitikan Indonesia. Ia pernah menjabat Wakil Residen Priangan (1947-1948), Residen Madiun (1948-1949), Residen Priangan (1950-1951), dan Gubernur Jawa Barat (1951-1956). Beberapa pekan sebelumnya, para dosen dan mahasiswa di Unpad terlibat dalam politik praktis. Mereka menggaungkan keyakinan berpolitik mereka dengan berani dan terbuka. Sejumlah gerakan pun terjadi di dalam kota, tergabung di dalam aksi mahasiswa Bandung. Untuk menghadapi pengaruh ideologi-ideologi yang telah membanjiri dunia kampus ini, Sanusi bergerak cepat dan hati-hati. Diceritakan Guru Besar Sejarah Unpad Nina Herlina Lubis dalam Negarawan dari Desa Cinta: Biografi R.H. Moh. Sanusi Hardjadinata (1914-1995) , rektor Sanusi seringkali meminta bantuan Pembantu Dekan III Fakultas Hukum, Sri Somantri, untuk mengatasinya. Mereka sama-sama melakukan pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan mahasiswa di dalam kampus. Sambil sesekali mengadakan pertemuan dengan para mahasiswa untuk saling bertukar pandangan. Pembersihan pengaruh komunis semakin gencar dilakukan Sanusi pasca 1965. Ia mencoba menghilangkan seutuhnya pengaruh kiri, yang dianggap merusak moral mahasiswa, dari seluruh kegiatan di Unpad. “Dalam hal ini, Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Yuyun Wirasasmita, mendapat tugas berat karena harus melakukan interogasi terhadap sesama dosen dan para mahasiswa yang termasuk ‘kiri’,” tulis Nina. Bukan perkara mudah bagi Sanusi ketika harus menaruh curiga kepada rekan-rekan dan anak didik yang seharusnya menajdi tanggung jawab pihak kampus. Namun demi menjaga keamanan dan ketentraman, imbuh Nina, tindakan tersebut memang perlu dilakukan. Butuh waktu yang tidak sebentar bagi pihak Unapd menghilangkan pengaruh komunis di dalam kampusnya. Namun hingga akhir masa bakti Sanusi di Unpad pada 1966, tidak ada kegiatan-kegiatan mahasiswa yang mengarah kepada penentangan kebijakan kampus dan pemerintah.





















