Hasil pencarian
9830 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Dinamika Majalah Sastra di Indonesia (Bagian II)
CHAIRIL ANWAR terkenal sebagai penyair yang suka keluyuran. Kebiasaan ini terjadi pula saat ia mengasuh majalah sastra Gema Suasana. Chairil menerbitkan majalah itu bersama sastrawan Asrul Sani dan Rivai Apin pada Januari 1948. Mereka berkantor di Jl. Gunung Sahari 84, Jakarta Pusat. Setahun kemudian, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Begitu pula Gema Suasana tak berumur panjang. “Generasinya Chairil Anwar ini sebetulnya satu generasi sastrawan yang tidak punya majalah sastra,” kata kritikus sastra Zen Hae. “Pada saat itu, Indonesia baru merdeka dan belum ada majalah sastra yang muncul secara kuat.” Sastrawan generasi Chairil Anwar disebut Angkatan 45. Selain Chairil, sastrawan Angkatan 45 antara lain Asrul Sani, Rivai Apin, H.B. Jassin, Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, Mochtar Lubis, N.H. Dini, Ramadhan K.H, Ali Akbar Navis, Utuy Tatang Sontani, Achdiat Kartamihardja, dan lainnya. Meski sudah terpapar semangat nasionalisme, karya sastrawan Angkatan 45 masih merujuk ke Barat. “Orientasi kepengarangan Angkatan 1945 itu adalah sebuah jangkauan dunia yang luas. Mereka juga menghargai warisan leluhur di tanah air, tetapi tidak mau memoles-moles yang lama sehingga seperti barang candi atau barang museum,” terang Zen. Kiblat kepengarangan Angkatan 45 tampak jelas dalam karya-karya yang dimuat Gema Suasana. Tunggul Tauladan dalam bunga rampai Seabad Pers Kebangsaan, menyebut majalah ini mencoba membangun citra perlawanan berbingkai sastra kritik. Di sini, sastra menjelma jadi medium untuk mengkritik segala macam situasi, mulai dari keadaan ekonomi hingga sosial. Secara umum, Gema Suasana mengandalkan pada sajian yang warna-warni. Karya-karya terjemahan novel menjadi sajian khas tiap edisi, sementara karya-karya anak negeri berupa cerita pendek, gambar atau tulisan anekdot tak dilupakan. Strategi itu pada awal terbitnya mendapat kritik dari redaksi di beberapa majalah umum. Ia dianggap menjiplak majalah Amerika, The Reader Diggest atau majalah London, Internationale Echo. Tapi, Chairil dan kawan-kawan maju terus menerjang kritik. Sepeninggal Chairil, Gema Suasana bersalin nama menjadi Gema. “Majalah ini terkesan seperti sebuah majalah yang berjejal-jejal novel-novel luar negeri saja. Hanya kata-kata mutiara saja yang tampaknya bisa dianggap mengandung aura nasionalisme yang kuat, walau tak sekuat Gema Suasana,” ulas Tunggul dalam artikelnya “Gema Suasana: Eksodus Sastra Kritik”. Selain Gema Suasana, karya sastra Angkatan 45 juga banyak dimuat dalam majalah-majalah umum yang punya sisipan rubrik sastra dan budaya seperti Panca Raya, Pembangunan, dan Mimbar Indonesia. Sosok Chairil sendiri punya peran signifikan terhadap eksistensi Angkatan 45. Di kalangan sastrawan pada masanya, Chairi bagaikan “imam” bagi Angkatan 45. Menurut peneliti sejarah sastra Dipa Nugraha, mayoritas sastrawan Angkatan 45 berada dalam lingkar majalah Gema Suasana dan mingguan Siasat. Chairil semasa hidupnya pernah terlibat di dapur redaksi dua terbitan ini. Selain menjadi redaktur di Gema Suasana, Chairil juga menjadi redaktur ruang kebudayaan Gelanggang, suplemen dari kalawarta Siasat, bersama Asrul Sani, Rivai Apin, dan Ida Nasution. “Hilangnya Ida Nasution, seorang esai dan kritikus sastra yang berbakat, pada Maret 1948 kemudian disusul dengan meninggalnya Chairil, yang merupakan motor utama dari kelompok ini, mengakibatkan Angkatan 45 menjadi hilang suara di panggung sastra pada 1950-an,” catat Dipa Nugraha dalam Chairil Anwar: Rabun Sastra, Hayat, & Stilistika. Memasuki 1950-an, penerbitan majalah sastra menggeliat begitu pesat. Masa ini disebut pula sebagai periode sastra majalah. Berbagai majalah bergenre sastra bermunculan. Begitu pula aktivitas kesusastraan banyak dituangkan ke dalam majalah-majalah sastra. Beberapa majalah sastra yang cukup punya nama antara lain Kisah, Siasat, Zenit, Zaman Baru, Pesat, Indonesia, Liberty, Pantjawarna, Drama, Budaya, Star Weekly, Seni, Semi, dan sebagainya. Irisan-irisan ideologis turut mempengaruhi kesusastraan periode 1950-an. Lembaga-lembaga kebudayaan mulai berafiliasi dengan partai politik. Mereka punya terbitan masing-masing untuk mempublikasikan gagasan dalam kebudayaan, seni, dan sastra. Para sastrawan kiri yang mengusung doktrin realisme sosialis terhimpun dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Karya-karya mereka diterbitkan majalah sehaluan seperti Zaman Baru atau rubrik seni budaya pada Harian Rakjat dan “Lentera” sisipan suratkabar Bintang Timur. Partai Nasional Indonesia (PNI) berafiliasi dengan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN). Sementara itu, partai bercorak Islam mempunyai Lembaga Seni Budaya Nasional (Lesbumi). Di luar itu, masih banyak seniman dan sastrawan yang bebas dari ikatan politik. “Generasi ini kemudian pecah menjadi dua. Antara yang membawa semangat humanisme universal dengan yang mengusung komitmen kepada rakyat. Orang-orang Lekra mengambil alih basis penciptaan seni yang sangat mengutamakan peran rakyat dan itu masif sekali,” tutur Zen. Konflik sastrawan Lekra dengan sastrawan pengusung humanisme universal begitu menegangkan dalam perbedaan cara memandang sastra dan kebudayaan. Polemik mencapai puncaknya pada 1963 ketika kelompok humanisme universal mendeklarasikan Manifest Kebudayaan (Manikebu). Yang menarik, menurut Zen, sastrawan di periode 1950-an pada umumnya menjunjung Chairil Anwar dengan penuh takzim. Semua penyair generasi itu ingin seperti Chairil Anwar. Di kalangan seniman-seniman kiri sekalipun, Chairil sangat dihormati. Padahal, manifesto Surat Kepercayaan Gelanggang yang menjadi cikal bakal Angkatan 45 disebut-sebut sebagai ibu kandung Manifesto Kebudayaan. “Generasi tahun 1950-an ingin seperti Chairil Anwar atau bahkan melampaui Chairil. Jadi makom kepenyairan Chairil Anwar kuat sekali. Baik yang humanisme universal maupun yang Marxis sama-sama mengidolakan orang yang satu, Chairil Anwar,” tutup Zen Hae. *
- Restoran Tip Top, Paris Rasa Medan
DI seberang mansion Tjong A Fie, kediaman taipan tersohor dan terkaya di kota Medan zaman kolonial, sebuah gedung restoran berarsitektur Belanda berdiri kokoh. Bangku-bangku rotan disusun melingkar dan berjejal rapi di terasnya. Di atas gedung terpampang tulisan “Tip Top”. “Tip Top itu dari bahasa Inggris, yang bermakna prima atau sempurna,” ujar Didrikus Kelana (46) atau akrab disapa Kus, pewaris sekaligus pengelola generasi ketiga Restoran Tip Top, kepada Historia. “Bangunan restoran ini masih asli, sejak 1934 sampai sekarang. Dulu bangunan ini dipakai sama kongsi dagang Cina.” Restoran Tip Top berlokasi di Jalan Ahmad Yani, jalan tertua di Medan. Ia masuk dalam kawasan Kesawan. Sejak dulu hingga sekarang, ia dikenal sebagai pecinan dan menjadi kawasan yang ramai dan sibuk.
- Paris Palsu di Masa Perang Dunia I
SEBELUM Perang Dunia I pecah, orang-orang Prancis begitu terpesona dengan pesawat terbang. Menyaksikan burung besi saling melintasi langit Paris menjadi hiburan yang begitu diminati para penduduk saat itu. Namun, perang menyadarkan orang Prancis bahwa pesawat terbang tak hanya memberi kesenangan dan hiburan tetapi juga dapat menyebabkan kematian serta kehancuran. Sebab, ketika perang tengah berkecamuk, pesawat-pesawat Jerman terbang di atas negara itu untuk melancarkan serangan udara yang menyebabkan kehancuran pusat-pusat bisnis dan area permukiman di wilayah Prancis. Serangan udara yang dilancarkan Jerman membuat pihak Prancis harus memutar otak untuk mencegah kerusakan dan kematian yang lebih besar di antara penduduk sipil. Salah satu gagasan yang muncul adalah membuat sebuah kota palsu sebagai kamuflase untuk mengelabui musuh.
- Sukarno dan Baduy
PRESIDEN Joko Widodo menyampaikan pidato kenegaraan dalam sidang tahunan MPR RI dan sidang bersama DPR dan DPD RI pada 16 Agustus 2021. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Jokowi memakai pakaian adat. Kali ini pakaian adat suku Baduy atau Kanekes yang terletak di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Dari empat tugas hidup masyarakat Baduy, salah satunya berkaitan dengan pemerintah, yaitu ngasuh ratu ngajayak menak (mengasuh penguasa dan mengemong para pembesar negara). "Oleh karena itu, mereka tabu melawan atau memberontak kepada pemerintah 'yang harus diasuh dan dibimbingnya'. Keyakinan terhadap tugas tersebut tidak pernah luntur ataupun berubah sekalipun terjadi pergantian pemerintahan," tulis Toto Sucipto dan Julianus Limbeng dalam Studi Tentang Religi Masyarakat Baduy di Desa Kanekes Provinsi Banten.
- Miris, Nasib Bandara Internasional Pertama di Indonesia
BANDAR Udara (Bandara) Kemayoran, Jakarta, resmi berdiri pada 8 Juli 1940. Inilah bandara pertama untuk pelayanan penerbangan internasional di Indonesia. Selama beroperasi, bandara ini sangat terkenal. Komik Tin-Tin karangan Herge, seniman asal Belgia, yang terkenal itu menyebut Bandara Kemayoran dalam seri Flight 714 to Sydney. Seri ini menceritakan perjalanan Tin-Tin, tokoh utama komik, dari London menuju Sydney untuk mengikuti kongres Astronotika Internasional. Dia pergi bersama Kapten Haddock, Profesor Calculus, dan anjingnya Snowy. Mereka transit di Bandara Kemayoran, lalu beralih maskapai. Dari Qantas Boeing 707 penerbangan 714 ke pesawat pribadi milik miliuner Lazslo Carriedas. Mereka berpetualang ke Pulau Bompa, wilayah Sondonesia. Tin-Tin adalah komik laris pada masanya dan terjual di hampir 50 negara. Dengan demikian nama bandara yang pernah menggelar acara ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina, tersebut semakin dikenal luas.
- Begal Dulu Begal Sekarang
PRABU Jayabaya, raja Kediri, telah meramalkan bahwa begal pada ndhugal, rampok padha keplok-keplok. Ramalan tersebut ditafsirkan oleh Sindung Marwoto dalam Ramalan Prabu Jayabaya: Mengungkap Tanda-tanda Zaman sebagai berikut: "Pencopet, perampok, perompak, maling dan sejenisnya semakin kurang ajar. Dia melakukan aksinya dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Ia menjarah-rayah harta orang lain dengan semena-mena. Ia bersorak-sorai karena menjarah dan merampok semakin mudah dan hasilnya semakin banyak, risiko perbuatan mereka semakin kecil. Kalau toh tertangkap dan masuk penjara, mereka dengan sangat mudah menyuap pejabat hukum untuk melepaskan.” Begal (bahasa Jawa) merupakan istilah klasik dalam dunia perbanditan di Jawa. Begal, menurut sejarawan Wasino dalam Kapitalisme Bumiputera, merupakan pencurian oleh penjahat dengan cara menghadang korban di tengah jalan.
- Kisah Penipu Ulung yang Mencoba Menjual Menara Eiffel
MENARA Eiffel merupakan bangunan bersejarah terkenal yang menjadi ikon Paris. Menara Eiffel didirikan sebagai bagian dari Exposition Universelle 1889, sebuah pameran dunia yang bertepatan dengan peringatan seratus tahun Revolusi Prancis. Monumen besar yang dirancang oleh Gustave Eiffel ini memiliki sebuah ruangan di puncak menara yang berfungsi sebagai ruang kantor. Di tempat itulah Eiffel menjamu dan menghibur para tamu, salah satu tokoh terkenal yang pernah berkunjung ke sana adalah Thomas Edison. Sejak awal berdirinya Menara Eiffel, bangunan yang pernah didapuk sebagai bangunan tertinggi di dunia pada akhir abad ke-19 hingga awal abad 20 itu sukses menarik perhatian banyak orang. Tak hanya memuji, ada pula yang mengkritik bangunan ini.
- Ujung Perseteruan Sukarno dengan Presiden Prancis
PRESIDEN Sukarno pernah punya pengalaman tidak mengenakan dengan Charles de Gaulle. Beredar rumor bahwa Presiden Prancis itu benci kepada Bung Karno. Dengan alasan tertentu, de Gaulle cenderung bersikap sinis terhadap Sukarno. “Suatu kali saya mengetahui bahwa de Gaulle tidak senang kepada saya,” ujar Sukarno kepada penulis otobiografinya Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Charles André Joseph Marie de Gaulle merupakan Presiden Prancis yang memerintah pada periode 1959-1969. Menurut Sigit Aris Prasetyo dalam Dunia dalam Genggaman Bung Karno, antipati de Gaulle bermula karena Sukarno dianggap merecoki kepentingan Prancis di wilayah jajahan. Seperti diketahui, Sukarno begitu aktif menyokong perjuangan koloni Prancis untuk merdeka dari penjahahan, macam Aljazair di Afrika atau Vietnam, Laos, dan Kamboja di Indocina. Selain itu, Gaulle mencap Sukarno sebagai pemimpin Asia yang doyan perempuan cantik. Istilah Prancisnya, “Le Grand Seducteur” atau sang perayu agung.
- Wabah Rabies Munculkan Vampir
PADA abad ke-18, kepercayaan pada vampir menjadi mitos tenar di daerah Balkan. Vampir digambarkan sebagai orang mati yang bangkit dari kubur, berkelana saat malam, dan bertahan hidup dengan mengisap darah orang atau hewan. Dalam risetnya bersama Christopher Cowled, Bats and Viruses: A New Frontier of Emerging Infectious Diseases, Lin Fa Wang menduga mitos vampir erat kaitannya dengan rabies yang pernah mewabah di Eropa. Dugaan mereka berasal dari kesamaan ciri vampir dan penyakit rabies, serta kemunculan mitos vampir yang bersamaan dengan wabah. Secara umum diketahui bahwa rabies ditularkan lewat anjing atau serigala. Namun, rabies juga ditemukan menginfeksi hewan herbivora yang ditularkan oleh kelelawar. Dari situlah dokter asal Spanyol Juan Gomez-Alonso juga menduga legenda vampir dan manusia serigala mungkin berkaitan erat dengan pandemi rabies di Eropa Timur dari 1721 hingga 1728.
- Memotong Khitan Perempuan
YAYASAN Assalaam Bandung, yang bergerak di bidang agama, sosial, dan pendidikan, punya tradisi melaksanakan khitan massal. Pesertanya bukan hanya laki-laki, tetapi juga perempuan. Pada 10 Januari 2016, sebanyak 150 laki-laki dan 75 orang perempuan ikut khitanan massal. Usianya beragam. Peserta khitan laki-laki umumnya anak-anak berusia taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Sedangkan peserta perempuan ada yang remaja, bahkan mahasiswi, dengan usia 22 tahun. Khitan perempuan ditangani tim khusus yang semuanya kaum hawa. “Khitan perempuan berbeda dengan khitan anak laki-laki karena sebatas mengambil amat sedikit kulit sehingga diolesi obat langsung sembuh,” ujar Cecep Suryana, ketua panitia, dikutip pikiran-rakyat.com.
- Bong Supit Bogem
KETIKA hendak mengkhitankan anak lelakinya pada awal 1990-an, Daruni bersama suaminya mendatangi bong supit Bogem di daerah Kalasan, Prambanan, Yogyakarta. “Dalam alam pikir orang Yogya, jika ingin supit ya ke Bogem,” ujar Uni, panggilan akrab Daruni, merujuk juru khitan di dusun Bogem, tepatnya di Jalan Solo Km. 16 Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Supit dalam bahasa Jawa berarti alat untuk menjepit atau khitan. Maka, bong supit berarti juru khitan. Setelah mendaftar, tak lama kemudian, putra Uni pun dipanggil masuk. Tak ingin melewatkan bagian penting dari ritus kedewasaan putranya, Uni ikut menemani. “Juru supitnya sabar. Dia terus mengobrol dengan anak saya. Dari soal sekolah hingga cita-cita. Sementara tangan si juru supit terus bekerja. Saya pikir, dengan mengobrol, perhatian si anak teralihkan dari proses khitan yang dijalaninya,” ujar Uni, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang juga salah satu pentolan Bengkel Tari Nini Thowok.
- Achmad Salim Taruna Revolusioner
SETELAH kursus pendidikan calon perwira bumiputra di Sekolah Militer Jatinegara ditutup, maka calon perwira yang akan menjadi perwira tentara kolonial Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) terpaksa harus belajar dulu ke Belanda. Mereka yang pernah sekolah sampai kelas tiga Hoogere Burgerschool (HBS) memenuhi syarat mendaftar ke Cadetten School (Sekolah Kadet) Alkmaar dan kemudian masuk Akademi Militer Koninklijk Militaire Academie (KMA) Breda. Sebagai jebolan HBS di Batavia, Achmad Salim mencoba peruntungannya untuk bisa jadi opsir KNIL. Ia akhirnya diterima di sekolah kadet Alkmaar. Achmad Salim, menurut Studbook'Oost-Indisch Boek (koleksi Arsip Nasional Den Haag), adalah pemuda kelahiran Padangsidempuan, Tapanuli, Sumatra Utara, 28 Desember 1901. Putra dari Djanin Gelar Djasadjoeangan dan Si Hadji itu tinggi badannya 1,577 cm. Sebelum di Belanda, dia tinggal di Batavia. Pada 23 Juli 1918 dia mulai menjadi kadet di Sekolah Kadet Alkmaar.





















