top of page

Hasil pencarian

9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Asal-Usul Suku Tidung

    Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Tahun Republik Indonesia Rp75.000 sempat ramai diperbincangkan karena ada yang mengira salah seorang di gambar uang itu mengenakan baju adat China. Padahal, itu adalah baju adat milik Suku Tidung yang mendiami wilayah Kalimantan Utara (Kaltara). Tjilik Riwut, mantan gubernur Kalimantan Tengah, menjelaskan dalam Maneser Panatau Tatu Hiang: Menyelami Kekayaan Leluhur  bahwa Suku Tidung merupakan subsuku dari Suku Dayak Murut, salah satu dari tujuh suku besar, yang mendiami bagian utara Kalimantan bagian timur. Enam suku besar Dayak lainnya adalah Ngaju, Apu Kayan, Iban, Klemantan, Punan, dan Ot Danum. Suku Tidung sendiri terbagi lagi menjadi sepuluh suku kecil. Hartatik, peneliti Balai Arkeologi Banjarmasin, menyebut Suku Tidung bermukim di wilayah pesisir dan menganut agama Islam. Kendati namanya diambil dari kata tiding atau tideng artinya gunung atau bukit. "Nama ini menggambarkan kalau Suku Tidung berasal dari daerah hulu atau daerah pegunungan di wilayah Kalimantan sisi utara-timur (timur-laut)," tulis Hartatik dalam "Perbandingan Bahasa dan Data Arkeologi pada Suku Tidung dan Dayak di Wilayah Nunukan: Data Bantu untuk Rekonstruksi Sejarah dan Perubahan Budaya" yang terbit dalam jurnal Naditira Widya ,Vol. 8 No. 1/2014. Suku Tidung mempunyai pergerakan yang dinamis. Mereka pindah dari pedalaman Kalimantan, Kabupaten Tanah Tidung hingga ke Malaysia, Malinau, mendekati pantai di Nunukan, Tarakan, dan Berau. Kedinamisan itu, menurut Hartatik, membuat Suku Tidung mendapat banyak pengaruh dari luar, terutama dari pelaut dan pedagang muslim. Sehingga, kini hampir semua orang Tidung beragama Islam. Masih Kerabat Dayak Arkeolog Balai Arkeologi Banjarmasin, Nugroho Nur Susanto dalam "Pengaruh Islam Terhadap Identitas Tidung Menurut Bukti Arkeologi" yang terbit dalam Naditira Widya , Vol. 7 No. 2/2013, menyebut bahwaSuku Tidung berpindah melalui Sungai Sesayap atau Sungai Malinau ke daerah hilir dan mendiami pesisir juga pulau-pulau kecil sisi timur Kalimantan lainnya. Perkiraannya mereka sudah meninggalkan tempat asalnya hampir 100 tahun yang lalu. Karenanya sudah banyak cerita tutur yang terputus. Salah satunya Suku Tidung tak mengenal legenda atau mitos kejadian asal-usul moyangnya sebagaimana masyarakat Dayak lainnya. Khususnya yang meninggali wilayah Nunukan, seperti Tahol, Tenggalan, dan Agabag. K epercayaannya pun berbeda dibanding suku Dayak di Kalimantan Utara lainnya. "Karena Suku Tidung identik dengan muslim, sedangkan suku Dayak lainnya beragama Kristen," tulis Hartatik. Kendati begitu, masih ada tradisi pra-Islam yang tersisa di antara masyarakat Tidung. Ini menjadi salah satu bukti hubungan kekerabatan mereka dengan suku Dayak. "Sebagian dari mereka masih melakukan ritual yang berkaitan dengan tradisi nenek moyang, terutama yang berkaitan dengan tempat-tempat keramat," tulis Hartatik. Walaupun sudah beragama Islam, kepercayaan adanya roh leluhur merupakan salah satu konsep megalitik yang dikenal oleh Suku Tidung hingga kini. Ada yang dikenal dengan ritual memanggil arwah di Batu Lumampu, membayar nazar di Batu Lumampu dan Batu Kelangkang, serta ritual pengobatan Badewa oleh tokoh adat. "Kepercayaan kepada roh leluhur yang masih berlanjut hingga kini menunjukkan bahwa Suku Tidung dahulu mempunyai kepercayaan yang sama dengan suku Dayak Agabag, Tahol, dan Tenggalan," tulis Hartatik. Nugroho menambahkan bahwa persahabatan Suku Tidung dengan alam yang masih dijaga secara umum mencerminkan spiritual Dayak. Akulturasi antara budaya pendatang dari luar, dalam hal ini Bugis, Melayu, dan Bajau yang mempengaruhi konsep religi mereka. Prosesnya panjang. Unsur budaya dari luar secara perlahan diterima oleh Suku Tidung kemudian diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menghilangkan kepribadian mereka. Kedatangan Islam Menurut Nugroho, selain sebagai sebuah suku, nama Tidung juga menunjuk kepada sebuah kerajaan yang kental dengan nuansa keislaman. Makam Maharaja Dinda I di Desa Sesayap, Kecamatan Sesatap Hilir, Kabupaten Tana Tidung;dan makam tokoh yang dihormati seperti Datu Bendahara dan Datu Mandul di Kecamatan Tana Lia, Pulau Mandul, Kabupaten Tana Tidung, menandakan kawasan ini sebagai daerah perpindahan awal orang Tidung. Mereka kemudian berdomisili di sana dan membentuk "suatu institusi" tradisional. "Kerajaan ini terbentuk dari aktualisasi hegemoni yang berasal dari komunitas masyarakat berlatar belakang Suku Tidung," tulis Nugroho. "Ada kemungkinan mereka terpisahkan dari keluarga suku induknya, yaitu Suku Dayak Murut." Institusi yang terbentuk ini dipercaya berupa kerajaan kecil. Secara tradisi , komunitas ini berdiri sendiri kemudian dikuasai oleh Kesultanan Bulungan yang mendapat pengakuan dari pemerintah kolonial Belanda. Secara formal, Islam hadir ketika Kesultanan Bulungan menguasai Tidung, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Muhammad 'Alimuddin (1817–1861). Hal ini ditandai dengan datangnya seorang ulama dari Arab yang singgah dahulu di Demak. Ulama yang melakukan Islamisasi ini dikenal sebagai Said Abdurrahman Bil Faqih. Selain Bil Faqih, beberapa ulama lain ikut mendekatkan Suku Tidung dengan Islam. Buktinya adalah makam penyiar agama, Said Ahmad Maghribi di Desa Salim Batu, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan. Letaknya di lereng tebing, di sebelah barat aliran Sungai Pimping yang bermuara di Teluk Sekatak. Berdasarkan angka tahun di nisan, ulama ini wafat pada 1832. Orang Tidung memang lebih mudah menerima budaya luar karena umumnya mereka bermukim di pesisir, bagian hilir sungai dan pantai yang strategis. Jalurnya bisa lewat perdagangan, maupun budaya.  " Hubungan Islam dengan Tidung memperkaya identitas mereka,"  tulis Nugroho . Interaksi antara Suku Tidung dan Islam pun merata di daerah pesisir, muara sungai hingga pulau-pulau kecilnya. Ini ditunjukan dengan letak makam tokoh yang dihormati, seperti Datu Bendahara dan Datu Mandul di Pulau Mandul dan makam Maharaja Dinda I, tak jauh dari Sungai Selor yang berhubungan dengan Sungai Sesayap. "Mobilitas Tidung di pesisir dan pulau-pulau kecil lainnya dibuktikan dengan peninggalan arkeologi terutama makam, antara lain di tepi Sungai Pemusian di Pulau Tarakan, Nunukan, dan Pulau Sebatik," tulis Nugroho. Sayangnya, persaingan hegemoni politis dengan Kesultanan Bulungan menyebabkan Tidung terabaikan. Itu diperparah dengan kehadiran kolonialis Belanda. Politik adu domba dan campur tangan Belanda atas eksplorasi kekayaan alam minyak bumi dan perkebunan karet membuat Tidung semakin terpuruk. "Dari bukti-bukti arkeologi kekuasaan politis Kerajaan Tidung sangat lemah. Meski begitu, keberadaannya tetap perlu diakui," tegas Nugroho.

  • Tugas Berat Ahmad Subardjo

    Pasca menyatakan diri merdeka pada 17 Agustus 1945, Indonesia perlu segera memilih orang-orang untuk menjalankan tugas pemerintahan. Maka dua hari kemudian, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengadakan rapat di Pejambon, Jakarta. Hasilnya, Sukarno ditunjuk sebagai presiden pertama RI, dengan Mohammad Hatta mendampingi sebagai wakil. Undang-undang dasar juga disahkan. “Pada hari-hari pertama setelah proklamasi kemerdekaan, kesibukan ditujukan untuk melengkapi perangkat kenegaraan yang bersifat pokok, seperti memilih presiden dan disusul dengan membentuk kabinet pertama pertama Republik Indonesia,” tulis Iin Nur Insaniwati dalam Mohammad Roem: Karir Politik dan Perjuangannya 1924-1968 . Untuk menjalankan republik, Kabinet Sukarno-Hatta dilengkapi sepuluh departemen dan enam menteri negara. Tugas mereka adalah memastikan seluruh elemen negara berjalan baik. Dicatat Mohammad Hatta dalam Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi , semua posisi menteri diisi oleh tokoh-tokoh yang ahli dibidangnya. Seperti Ahamd Subardjo yang menduduki kursi departemen luar negeri. Namun bukan perkara mudah menjalankan tugas menteri di negara yang baru terbentuk. Di dalam otobiografinya Ahmad Subardjo menceritakan bagaimana dia menghadapi kesukaran memenuhi kewajiban di departemen yang dipimpinnya. Terutama ketika harus menghadapi kenyataan bahwa dia belum memiliki kantor beserta alat-alat penunjang tugas. Bahkan pegawai pun tidak ada. Ahmad Subardjo benar-benar memulainya dari nol. “Teman-teman saya beruntung sudah dapat mulai kerja secara normal, mempunyai segala sesuatu untuk memimpin departemen pemerintahan, namun belum banyak hal yang diurusnya. Mereka hanya berkewajiban agar pegawai-pegawainya bersumpah untuk setia kepada pemerintah republik,” tulis Subardjo dalam Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi. Ahmad Subardjo memulai tugasnya dengan memasang iklan di Asia Raya untuk mencari pegawai. Dia memasang iklan: “Siapakah yang ingin menjadi pegawai Departemen Luar Negeri?”. Rupanya hanya dalam beberapa hari iklan dipasang, Ahmad Subardjo sudah bisa memulai pekerjaannya. Dia mendapat 10 orang pelamar. Seluruhnya diterima bekerja. Lima orang ditempatkan sebagai sekretaris, lima lainnya diberi tugas mengatur administrasi. Selesai dengan soal kepegawaian, Ahmad Subardjo segera mencari tempat untuk dijadikan kantor. Dia memakai sebuah rumah di Cikini Raya No. 82. Rumah itu hanya sementara digunakan. Departemennya perlu mendapat gedung yang lebih layak, mengingat tugas dan fungsi departemen luar negeri yang begitu penting untuk mempertahkan kedaulatan Indonesia. “Saya yakin bahwa dalam waktu mendatang Departemen Luar Negeri akan menarik banyak peminat untuk mengabdikan diri kepada negara di suatu bidang yang baru dan buat kebanyakan orang Indonesia belum dikenal,” ungkap Ahamd Subardjo. Meski belum mendapat perangkat kerja yang lengkap, Ahmad Subardjo tetap menjalankan semua tugasnya dengan baik. Baginya, keberadaan departemen luar negeri sangat penting dan merupakan sebuah hal mendesak. Kekalahan Jepang bisa menjadi gerbang masuknya kembali Belanda ke Indonesia. Menurut hukum internasional mengenai perang, negara-negara yang menang perang harus melucuti mereka yang kalah dan mengembalikan ke tanah airnya. Penting untuk tidak lengah dalam situasi tersebut karena Belanda bisa kembali masuk ke Indonesia yang masih lemah. Melalui departemen luar negeri, kata Ahmad Subardjo, bangsa ini harus bergerak cepat masuk ke lingkaran politik internasional. Penting untuk mencari sebanyak-banyaknya negara yang bersedia membantu memberi kemerdekaan sesungguhnya bagi Indonesia. Menjalin hubungan baik dengan warga dunia pada masa awal kemerdekaan sebagian sebagian dilakukan secara personal. Indonesia yang belum memiliki perwakilan di luar negeri harus memanfaatkan koneksi tokoh-tokoh mereka dengan tokoh penting di negara lain. Untuk tugas administrasi, departemen luar negerilah yang mempersiapkannya. “Segera setelah Departemen Luar Negeri mulai menunaikan kewajibannya, kami menghadapi soal-soal yang memerlukan penyelesaian dengan cepat dan tepat. Hal demikian membawa kami ke dalam keadaan di mana kami memecahkan soal demi soal asal saja dapat diselesaikan. Tapi kita tidak melupakan dasar dan tujuan revolusi kita,” ungkap Ahmad Subardjo.

  • Detik-Detik Usai Proklamasi

    Foto tua yang dikeluarkan Dutch Docu Channel  itu berbicara banyak. Dari arah belakang, terlihat Mohammad Hatta, Sukarno dan Dokter Muwardi (Pimpinan Barisan Pelopor) tengah menerima penghormatan dari sekelompok pemuda (sebagian besar bersenjata bambu runcing). Dikatakan oleh saluran penyedia tayangan lama tentang sejarah Belanda di situs YouTube  tersebut bahwa foto itu diambil saat momen setelah pembacaan proklamasi pada 17 Agustus 1945. Di buku otobiografi Sukarno ( Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia ) dan otobiografi Mohammad Hatta ( Memoir ) soal itu memang tak diceritakan. Kisah itu muncul justru dalam buku-nya Sudiro (eks pembantu urusan umum-nya Sukarno) berjudul Pengalaman Saya Sekitar 17 Agustus 1945 . Dituturkan oleh Sudiro, setelah upacara pembacaan proklamasi selesai, Bung Karno dan Bung Hatta bergegas masuk ke dalam kamar. Namun baru saja mereka memasuki kamar, tetiba dari arah Gambir terdengar suara derap barisan dan nyanyian sekelompok pasukan. Beberapa saat kemudian, datanglah sekira 100 anggota Barisan Pelopor dari Penjaringan pimpinan S. Brata. “Mereka rupanya sangat kecewa karena terlambat datang…” kenang Sudiro. Di halaman rumah Bung Karno Brata kemudian menghentikan barisan. Dengan kondisi basah kuyup bermandikan keringat, dia lantas berteriak lantang meminta Bung Karno untuk membacakan proklamasi sekali lagi. Alasannya, mereka datang jauh-jauh berjalan kaki memang berniat hanya ingin mendengarkan proklamasi dibacakan. Mendengar alasan Brata, Bung Karno dan Bung Hatta kemudian keluar dari kamar. Rupanya mereka berdua tak sampai hati membiarkan anak-anak muda yang dengan semangat tinggi ingin menyaksikan dan mendengarkan proklamasi kemerdekaan bangsanya. Kendati dalam keadaan sedikit demam, Bung Karno berbicara di depan mikrofon. Dengan suara nada suara lunak namun mengandung ketegasan, dia menyatakan bahwa pembacaan proklamasi tidak bisa diulang. “Karena proklamasi hanya diucapkan satu kali saja, tetapi akan berlaku untuk selama-lamanya,” kata Bung Karno. Brata tidak puas hanya mendengarkan penjelasan Bung Karno. Dia lantas meminta Hatta untuk memberikan amanat singkat . Permintaan itu diluluskan oleh Bung Hatta. Bukti otentik dari kejadian itu terekam dalam dua lembar foto hasil jepretan Mendoer bersaudara dari IPPHOS yang saat ini menjadi koleksi sebuah museum di Belanda. Fakta sejarah kedua terjadi manakala upacara proklamasi sama sekali telah selesai dan Bung Karno sudah akan istirahat di kamarnya. Sementara Hatta sudah pulang ke rumahnya di Jalan Miyakodori (sekarang Jalan Diponegoro). Dalam otobiografinya, Bung Karno mengisahkan saat dirinya duduk di atas kursi dengan kepala pada kedua belah tangannya, tetiba terdengar suara pintu kamar diketuk. Ketika dibuka ternyata itu adalah Sudiro. “Dia melaporkan ada lima opsir Jepang telah menyerondong masuk kamar tengah. Mereka meminta untuk bicara denganku…” kenang Bung Karno. Dalam bukunya, Sudiro masih ingat Bung Karno lantas mengganti piyama dengan pakaian yang sebelumnya dipakai untuk membacakan proklamasi. Begitu melihat Sukarno datang, salah seorang dari orang-orang Kenpeitai (Polisi Militer Jepang) itu setengah berteriak berkata: “Kami diutus oleh Gunseikan Kakka untuk melarang Sukarno Kakka mengucapkan proklamasi!” “Proklamasi sudah saya ucapkan,” jawab Sukarno dalam nada tenang. “Sudahkah?” “Ya sudah…” jawab kembali Sukarno. Bung Karno masih ingat wajah pemimpin utusan itu nampak marah. Tanpa disadarinya, tangan orang Jepang itu naik ke pinggang dan dia akan melangkah hendak mengancam Bung Karno. Namun aksi itu tidak terjadi, manakala komandan Kenpeitai itu melihat sekeliling: ratusan anggota Barisan Pelopor nampak sudah memegang senjata tajam-nya masing-masing seolah siap menerkam mereka. Tanpa permisi, mereka kemudian meninggalkan Pegangsaan Timur. Usai orang-orang Jepang itu pergi, Sukarno lantas mengeluarkan seruan untuk membentuk Barisan Berani Mati. Itu harus dilakukan mengingat prokalmasi kemerdekaan harus dipertahankan sekuat-kiatnya, jika perlu dengan menggunakan kekerasan dan senjata. Seruan itu langsung disambut baik. Orang-orang Indonesia kemudian banyak yang mendaftarkan diri untuk masuk dalam barisan sukarelawan tersebut.

  • Di Balik Kisah Raksasa Pemakan Manusia di Ratu Boko

    Dahulu kala hiduplah raksasa pemakan manusia bernama Prabu Boko. Setiap hari ia mengirim prajurit untuk mencari manusia untuk dimakan. Jika prajurit itu gagal, ia yang akan dilahap. Teror itu membuat penduduknya mencari perlindungan ke kerajaan tetangga. Penguasanya baik hati. Ia segera mengirim putranya, Bandung Bondowoso untuk melawan raksasa itu. Pertempuran terjadi selama sepuluh hari. Prabu Boko pun kalah. Prabu Boko dipercaya menguasai Keraton Ratu Boko di Yogyakarta. Menurut Veronique Degroot, arkeolog Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO) dalam "The Archaeological Ramains of Ratu Boko: From Sri Lankan Buddhism to Hinduism" yang diterbitkan dalam  Indonesia and the Malay World,  wisatawan Belanda pada abad ke-19 menerima legenda itu tanpa ragu. Mereka menganggap situs yang sudah ada sejak abad ke-8 itu sebagai kompleks keraton dari masa Hindu dan Buddha.  Itu juga yang diceritakan oleh Kepala Unit Situs Ratu Boko, Tri Hartini dalam diskusi daring "Menyelisik Keraton Prabu Boko" yang digelar Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (BPCB DIY). Menurut legenda, Situs Ratu Boko adalah Keraton Prabu Boko, ayah Roro Jonggrang yang terkenal itu. Roro Jonggrang menolak pinangan Bandung Bondowoso karena telah membunuh ayahnya.  Roro Jonggrang pun menyuruh Bandung Bondowoso membangun 1000 candi dalam waktu semalam. Mendekati tengah malam percandian yang diminta hampir selesai dibangun. Sudah 999 candi berdiri. Roro Jonggrang segera memerintah para dayang untuk memukul lesung dan membakar jerami. Jin yang membantu Bandung Bondowoso ketakutan karena mereka mengira pagi telah tiba. 1000 candi pun gagal diwujudkan. Bandung Bondowoso marah. Ia lalu mengutuk Roro Jonggrang menjadi candi yang ke-1000.  "Orang menganggap arca Durga Mahisasuramardhini di Candi Prambanan adalah Roro Jonggrang yang dikutuk. Sementara Situs Ratu Boko dianggap masyarakat sebagai keraton ayahnya Roro Jonggrang,"kata Tri Hartini. Letak Situs Ratu Boko dan Kompleks Candi Prambanan memang tak terlampau jauh. Sama-sama di wilayah yang disebut  Siwa Plateu. Penyebutan nama Situs Ratu Boko kemudian didasari atas legenda yang berkembang di masyarakat. Namun, menurut Andi Riana, arkeolog BPCB DIY, legenda ini tak bisa dibuktikan secara ilmiah. Legenda ini adalah cerita rakyat yang dihubungkan dengan bangunan yang sudah ada sebelumnya. "Secara ilmiah tidak bisa dipertanggungjawabkan hubungannya," kata Andi.  Bukan Keraton Kompleks Situs Ratu Boko sangat luas. Diawali gapura tiga pintu, lalu orang mesti berjalan untuk menjumpai gapura kedua dengan lima pintu. Dari situ akan menemukan candi pembakaran di mana dulu ketika diteliti pernah ditemukan abu bekas pembakaran.  Di belakangnya ada kolam luas berpagar keliling. Di dekat situ ada kolam yang hingga kini airnya dianggap suci sehingga sering diambil saat kegiatan Tawur Agung di Candi Prambanan. "Ke sana lagi ada tatanan umpak yang bisa diprediksi bangunannya dulu memiliki atap limasan. Dari situ menuju apa yang disebut paseban,"kata Tri Hartini. Sebutan paseban, keputren, merupakan pemberian masyarakat mengikuti penamaan di keraton modern. Namun, sebenarnya penamaan itu hanya analogi.  "Tidak berdasarkan temuan arkeologinya. Hanya analogi," kata Andi.  Fungsi sebenarnya struktur-struktur itu belum didukung data valid. Selama ini prasasti-prasasti yang ditemukan di lokasi hanya menyebut tentang penguasa ketika Situs Ratu Boko dibangun atau dipakai.  "Ada gapura, pendopo, keputren, ada puluhan kolam yang mencerminkan bangunan keraton jadi dibilang keraton," kata Andi.  Apalagi jika dikaitkan sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno. "Ini masih perlu ditelisik lagi," lanjut Andi.  Menurut Veronique Degroot tak adanya struktur candi seperti pada umumnya, ditambah banyaknya struktur bangunan yang tak biasa ditemui pada bangunan kuno di Jawa Tengah, memunculkan dugaan kalau situs itu adalah istana kerajaan. "Anggapan ini diperkuat oleh kisah yang dilaporkan oleh penduduk desa," tulisnya. Sangkaan kalau Situs Ratu Boko adalah keraton sudah mendapat banyak sanggahan. J.L.A. Brandes, filolog Belanda, yang pertama mengungkapkan pandangan berbeda. Menurutnya, situs ituadalah gua pertapaan yang luas dengan kuil-kuil yang berkaitan. Sejarawan Belanda, N.J. Krom, menyanggah dengan mengatakan bahwa gua-gua yang ada di kawasan Situs Ratu Boko terlalu kecil untuk bisa disebut gua-biara yang luas. Namun, ia juga mengatakan, sebagian besar bangunannya bisa jadi untuk keperluan agama. Beberapa tahun kemudian, W.F. Stutterheim, arkeolog Belanda, berpendapat bahwa Situs Ratu Boko adalah tempat ibadah. Kendati ia tak bisa memutuskan apakah bersifat Buddhis atau Hindu. Argumennya didasarkan paling tidak pada tiga bangunan yang mungkin adalah candi. Sulitnya air membuat lokasi ini menjadi tak memadai untuk memenuhi kebutuhan populasi yang besar. Gua-gua yang ada di sana kemungkinan dibuat untuk keperluan meditasi. Lagipula terasnya pun terlalu kecil jika dibandingkan dengan keraton Jawa modern. Pandangan Stutterheim itu pada akhirnya diterima pula oleh Krom. Sementara itu, A.J. Bernet Kempers, ahli purbakala Belanda, menduga Situs Ratu Boko dulunya digunakan semacam taman, seperti pesanggrahan milik sultan Jawa di masa yang lebih modern. Menurutnya, jika dulunya merupakan permukiman, situs itu akan tampak lebih seperti tempat peristirahatan. Kalau tidak, benteng untuk digunakan dalam keadaan darurat.   Penggunaan situs sebagai benteng pernah diusulkan oleh J.G. de Casparis, ahli epigrafi Belanda, berdasarkan Prasasti Pereng dari 863.  "Karena (Situs Ratu Boko,  red. ) ada di dataran yang tinggi wajar kalau dibilang itu benteng pertahanan," kata Andi. Miniatur candi di tengah kompleks Situs Ratu Boko. (Sanda Puguh Wibawan/Shutterstock). Mencari Bukti Valid Beberapa prasasti telah ditemukan di Situs Ratu Boko. Prasasti Abhayagiriwihara dari 714 Saka (792) berisi tentang pendirian bangunan suci untuk Avalokitesvara. Prasasti Krttivaso Lingga dari 778 Saka (856) berisi tentang pendirian Lingga Krttivaso oleh Sri Kumbhaja. Prasasti Tryambaka Lingga dari 778 Saka (856) tentang pendirian Lingga Tryambaka oleh Sri Kumbhaja. Prasasti Hara Lingga tanpa angka tahun juga tentang pendirian Lingga Hara oleh Kalasodhbhava.  Sedangkan Prasasti Pereng 785 Saka (863)menginformasikan pendirian Candi Bhadraloka oleh Rakai Walaing Pu Kumbhayoni.  "Sampai sekarang yang dimaksud Candi Bhadraloka yang mana, letaknya di mana belum diketahui," kata Andi.  Kendati begitu temuan prasasti itu menegaskan adanya dua latar keagamaan. Awalnya situs ini dipakai sebagai vihara oleh umat Buddha. Kemudian sekira 64 tahun kemudian penghuninya adalah umat Hindu yang mendirikan lingga dan candi.  "Awalnya vihara selanjutnya menjadi hunian umat beragama Hindu yang dilengkapi sarana peribadatan yakni miniatur candi dan candi pembakaran," kata Andi. Berdasarkan itu, Casparis berhipotesis bahwa di Situs Ratu Boko dulunya pernah terjadi pertempuran antara Rakai Walaing Pu Kumbhayoni, seorang beragam Hindu, melawan Balaputradewa yang beragama Buddha dari Dinasti Sailendra. Ketika itu, Balaputradewa yang terdesak berlindung di dataran tinggi Boko. Tapi pada akhirnya ia dikalahkan Kumbhayoni.  "Namun, sisa-sisa dataran tinggi Ratu Boko lebih tua daripada pertempuran antara Kumbhayoni dan Balaputradewa," tulis Veronique Degroot. Bagaimanapun hingga kini masih banyak versi mengenai bangunan apa sebenarnya yang ada di atas Bukit Boko itu. Pihak terkait mengaku belum bisa maksimal meneliti karena masih banyak penduduk yang tinggal di sekitarnya.  "Batu-batu yang terpendam banyak yang dipakai penduduk untuk pondasi dan sebagainya,"  kata Tri Hartini.

  • Perlawanan Liem Koen Hian untuk Kemerdekaan

    INDONESIA dengan usia kemerdekaan 75 tahun bulan ini masih menyisakan warisan kolonialisme Belanda bernama sekat rasial. Perlakuan diskriminatif, utamanya terhadap Tionghoa, masih lestari dalam kehidupan masyarakat. Tokoh-tokoh Tionghoa yang punya jasa seperti Liem Koen Hian, misalnya, masih dimarjinalkan. Sejarawan Didi Kwartanada melihat peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi momen era baru untuk bebas dari belenggu penjajahan Belanda dan Jepang. Namun kemerdekaan tak serta-merta dirasakan dengan kebahagiaan untuk orang-orang Tionghoa. “Tapi sebenarnya peristiwa itu (proklamasi) juga merupakan penjungkirbalikan situasi, dimulainya tatanan baru. Di sisi lain, golongan Tionghoa menjadi golongan yang resah karena mereka minoritas perantara, mengingat mereka di masa kolonialisme Belanda (bersama orang-orang Arab) acap jadi masyarakat kelas dua di piramida klasifikasi masyarakat antara orang-orang Belanda dan bumiputera,” ujar Didi dalam webinar yang dihelat Roemah Bhinneka Surabaya bertajuk “Liem Koen Hian: Bapak Bangsa yang Ditolak” , Senin (17/8/2020) malam. Didi mengakui, kalangan Tionghoa memang terbagi tiga golongan dalam pergerakan menuju cita-cita Indonesia yang merdeka. Seperti halnya kalangan bumiputera dan peranakan Arab, di kalangan Tionghoa ada golongan yang berkiblat ke negeri leluhur, setia kepada Belanda, dan berkiblat pada Indonesia merdeka. Di golongan yang terakhir inilah Liem Koen Hian salah satu yang paling menonjol. Pria kelahiran Banjarmasin, 3 November 1897 itu sejak kecil sudah jadi pribadi yang berapi-api jika bicara ketidakadilan di sekitarnya. “Sampai tahun 1910 saja dia dikeluarkan dari ELS (Europeesche Lagere School, setara SD) karena dia mengajak gurunya yang orang Belanda berkelahi. Sejak muda dia memang orang yang idealis, tidak suka melihat ketimpangan sosial di masyarakat. Apa yang dia anggap tidak benar, akan dia tentang, kalau perlu berkelahi,” sambungnya. Pada 1915, Liem mengadu nasib ke Surabaya. Dia lalu bekerja di suratkabar Tjhoen Tjioe . Petualangannya sebagai wartawan pun dimulai. Berturut-turut Liem melebarkan sayapnya dengan menerbitkan sendiri bulanan Soe Liem Poo (1917), mengasuh Sinar Soematra (1917-1923) di Medan, kembali ke Surabaya di bawah naungan koran Pewarta Soerabaia (1921-1925), mendirikan dan memimpin harian Soeara Poeblik (1925-1929), hingga memimpin suratkabar Sin Tit Po (1929-1932). Cita-cita Indonesia merdeka dari diri Liem, lanjut Didi, sudah tumbuh sejak 1928 ketika menuliskan ide kebangsaan, “Indisch Burgerschap”. Ide itu lantas bertransformasi menjadi “Indonesierschap” (kewarganegaraan Indonesia) yang berbunyi: Indonesia adalah negeri jang terdiri dari semoea orang jang menganggap Hindia Belanda sebage tanah-aer mereka dengen aktif membantoe membangoen negara ini. Peranakan adalah satoe integral jang tida terpisahken dari bangsa itoe . “Ide itu dipengaruhi mentor politiknya, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Mirip dengan teori kebangsaan Ernest Renan yang sering dikutip para founding fathers kita, yaitu sekelompok manusia yang ingin bersatu. Mirip juga dengan teori Otto Bauer, yaitu bahwa pengalaman bersama yang menyatukan sekelompok orang ke dalam satu entitas satu bangsa,” lanjutnya. Baginya, yang dimaksud bangsa tak hanya kaum bumiputera. Kalangan peranakan seperti Tionghoa dan Arab sama-sama berhak mencita-citakan Indonesia yang merdeka dengan satu tujuan. Namun saat itu Liem hanya bisa “menggebuk” Belanda lewat media karena periode sejak Indische Partij dan Partai Komunis Indonesia dibekukan Belanda dari 1926 hingga 1937, tiada satupun partai yang didirikan kaum bumiputera bersedia menerima peranakan sebagai anggota penuh. Melawan Belanda dari Lapangan Liem kemudian memilih melawan kolonialisme dengan sepakbola. “Liem sosok yang cerdik, nekat, pandai memprovokasi. Dari aksi yang digalangnya tentang pemboikotan sepakbola di Surabaya inilah Liem menjadi dikenal luas dan diapresiasi berbagai kalangan,” timpal Rojil Nugroho Bayu Aji, sejarawan olahraga cum dosen sejarah di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). “Sepakbola sejak lahirnya PSSI tahun 1930 jadi alat perjuangan. Olahraga yang menyedot banyak penonton ini menjadi alternatif Liem untuk bisa mengumpulkan massa dan bisa dipolitisir. Ia menggunakan sepakbola sebagai salah satu alat meneguhkan awal pijakan Indonesierschap,” lanjutnya. Liem memaksimalkan Sin Tit Po yang dipimpinnya untuk menggalang dukungan. Melalui Comite van Actie Persatoean Bangsa Asia, ia menyerukan boikot kompetisi Stedenwedstrijden, liga antarkota klub-klub milik Belanda se-Hindia Belanda. “Gara-garanya dulu ada jurnalis suratkabar D’Orient bernama Bekker. Dia juga pegawai SVB (Soerabaiasch Voetbalbond), klub milik orang Belanda. Kalau klub bumiputera itu SIVB (Soerabaiasch Indische Voetbalbond, kini Persebaya). Padahal sebelumnya klub bumiputera, Tionghoa, Arab dan Belanda enggak pernah ada perkara seperti di kota-kota lain. Tapi itu berubah karena Bekker mengeluarkan larangan diskriminatif melarang wartawan kulit berwarna untuk meliput,” kata Rojil. Sejak April hingga Mei 1932, Liem membanjiri Sin Tit Po dengan tulisan-tulisan tentang boikot. Provokasinya sukses lantaran golongan peranakan Arab pun larut dalam kemarahan terhadap kebijakan rasis Belanda itu. Alhasil tak hanya Sin Tit Po , Soeara Oemoem yang dipimpin Soetomo pun turut menyerukan boikot. Pun dengan suratkabar golongan Arab Aljaum. Aksi boikot diperkuat oleh Radjamin Nasution yang memimpin SIVB. “Pertandingan Stedenwedstrijden itu dimulai 13 Mei sampai 16 Mei. Nah , Liem dalam seruannya di korannya menyatakan untuk golongan non-Eropa untuk tidak menonton Stredenwedstrijden, melainkan beralih membanjiri laga-laga yang dimainkan SIVB. Ini jadi pelajaran dari Liem dan para tokoh-tokoh di Surabaya terhadap kaum Belanda yang congkak,” imbuhnya. SIVB alias Persebaya, klub sepakbola bumiputera (Foto: Soerabaijasch Handelsblad 22 Mei 1936) Stedenwedstrijden pun sepi penonton. Kerugian NIVB (Nederlandsch Indisch Voetbalbond), induk sepakbola Hindia Belanda yang jadi operator kompetisi, tak tertolong kendati sudah mengkorting harga tiket. Sebaliknya, laga-laga yang dimainkan SIVB dan klub-klub Tionghoa serta Arab penuh sesak oleh penonton. “Menariknya kemudian pendapatan bersih dibagi kepada SIVB 50 persen, kepada Fonds Cooperatie Hap Siem Hwee 25 persen. Untuk pengentasan pengangguran, penyantunan anak yatim, kepada Armunzorg, Kinderzorg, dan Poliklinik Muhammadiyah masing-masing lima persen. Artinya, di samping penuh nilai pergerakan, aksi boikot itu juga menggiatkan kegiatan-kegiatan positif untuk sesama non-Eropa,” kata Rojil. Liem pun dianggap provokator oleh pemerintah dan dijebloskan ke penjara. Namun berkat tuntutan para anggota Volksraad (perwakilan rakyat) di Batavia, salah satunya MH Thamrin, Liem dibebaskan tak lama kemudian. Nestapa di Akhir Hayat Empat bulan pasca-aksi boikot yang digalangnya, Liem memberanikan diri mendirikan Partai Tionghoa Indonesia (PTI). PTI kemudian menginspirasi berdirinya Partai Arab Indonesia (PAI) yang salah satu pendirinya AR Baswedan (kakek Anies Baswedan, gubernur DKI Jakarta saat ini). Baswedan mengenal baik Liem dari aksi boikot sepakbola Belanda. Dia kemudian turut bergabung di Sin Tit Po . Disebutkan Didi, AR Baswedan merupakan tokoh peranakan Arab yang menghendaki egalitariat dan enggan menikmati keistimewaan golongan Arab dari pemerintah kolonial. “Bisa dibilang AR Baswedan murid dari Liem Koen Hian. Ia ingin mengalihkan orang-orang Arab yang berkiblat ke Hadramaut menjadi berkiblat ke Indonesia. Di Sin Tit Po , mereka sangat guyub. Ada chemistry . Karena cita-cita perjuangan yang sama, ingin Indonesia merdeka dan isu agama belum merasuk sampai ke hubungan inter-personal,” ujar Didi. Namun, sifat tempramental Liem membuatnya punya banyak musuh. Kalangan Tionghoa yang berkiblat pada Belanda atau daratan China memusuhinya. “Dari pers-pers Belanda menyebut Liem dengan PTI-nya sebagai tukang hasut, tukang tipu, pemberontak, komunis, dsb. Dari pers Tionghoa Melayu, musuh Liem menjuluki Liem nasionalis China palsu. Berbagai cara dilakukan untuk menjatuhkan moral Liem dan PTI,” tambahnya. “Dari golongan bumiputera juga ada dr. Soetomo. Ketika Soetomo terpukau pada Jepang, Liem menulis artikel bantahan. Soetomo mendebat dengan mengatakan Liem bias karena negeri leluhurnya sedang diduduki Jepang. Dr. Tjipto sampai harus menengahi dengan mengatakan Liem adalah orang Indonesia tanpa peci dan jangan ragukan nasionalisme Liem, sampai akhirnya Soetomo meminta maaf pada Liem,” papar Didi. Salah satu potongan seruan boikot di Sin Tit Po (Foto: Dok. Presentasi RN. Bayu Aji) Di masa pendudukan Jepang (1942-1945), Liem masuk dalam anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Tetapi di sini Liem mendapatkan “pukulan” dari para koleganya. Ketika dia mengusulkan keturunan Tionghoa otomatis diberi status warga negara Indonesia (WNI), para anggota lain menolak. Sebagai bentuk kekecewaan, Liem mengajukan surat pengunduran diri. “Setelah Indonesia merdeka, bahkan Liem pernah ditangkap. Ketika Perdana Menteri Soekiman melakukan razia, Liem ditangkap dengan tuduhan simpatisan komunis, pada 16 Agustus 1951. Dia dipenjara di Cipinang tanpa diadili dan baru dibebaskan pada 29 Oktober 1951 dengan keadaan sudah sakit,” urainya. “Liem jengkel karena ditangkap dan dipenjara tanpa diadili. Ditambah banyak kawan-kawannya di PTI juga diperlakukan tak selaiknya. Negeri yang ia ikut perjuangakan berdarah-darah tak mau mengakuinya. Jadilah dia semakin kiri. Saat RRC HUT kemerdekaan, ia mengibarkan bendera RRC di rumahnya dan bikin heboh. Tapi dia mengatakan agar orang Tionghoa lain jangan mengikutinya. Dia hanya ingin jadi martir dan biarlah dia yang menanggung karena tidak diperlakukan laik,” kata Didi. Setelah Liem wafat 4 November 1952 pun Didi masih menemukan penolakan terhadap kiprah Liem. Penolakan itu terdapat pada buku Sejarah Nasional Indonesia di edisi pertama (1975) dan kedua (1977), di mana nama Liem sebagai anggota BPUPKI tak dicantumkan dan hanya disebutkan empat golongan Cina dan empat Arab. “Padahal dari golongan Arab hanya AR Baswedan. Menariknya di edisi keempat, karena edisi ketiga hilang tiada catatan, penyebutan golongan Cina yang empat orang itu hilang. Hanya disebutkan empat orang golongan Arab. Lalu di produk reformasi, Sejarah Nasional Indonesia IV cetakan 2010 yang dimutakhirkan, masih tidak tercantum dan golongan Tionghoanya masih hilang,” sambungnya. Di buku Arus Sejarah Jilid VI cetakan 2012, lanjut Didi, pencantuman golongan Tionghoa maupun penyebutan nama Liem pun masih hilang. Bersama sejarawan Taufiq Tanasaldi, Didi menyampaikan hal itu ke Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Hilmar Farid beberapa waktu lalu. “Tapi kebetulan ketika itu terjadi pergantian kabinet. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sekarang kan meniadakan Direktorat Sejarah. Ditambah lagi pandemi (virus) corona yang membuat isu ini terkatung-katung,” tandas Didi.

  • Ongkos Pembebasan Irian Barat

    Seorang perwira AURI beranekdot tentang legenda rakyat. Di Jawa Barat, sebelum ayam berkokok, Sangkuriang harus sudah membuat perahu dan telaga. Di Jawa Tengah, sebelum ayam berkokok, Bandung Bondowoso harus menyelesaikan candi dengan seribu arca. “Akhirnya, di Indonesia Timur, sebelum ayam berkokok, Irian Barat harus kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi,” tutur Boediardjo, si perwira AURI itu dalam otobiografinya Siapa Sudi Saya Dongengi . Dua kisah pertama adalah legenda belaka. Lain halnya dengan Irian Barat. Janji itu memang pernah diijabkan oleh Presiden Sukarno ketika berpidato di Palembang, 10 April 1962. “Seluruh Rakyat dari Sabang sampai Merauke Bertekad Membebaskan Irian Barat dalam Tahun ini juga,” demikian judul pidatonya. Tidak hanya sekali, Sukarno dalam berbagai kesempatan selalu menyatakan seruan agar panji dwiwarna Merah Putih berkibar di Irian Barat sebelum tahun 1962 berakhir. Berpaut pada komitmen tersebut, Sukarno sedia melakukan apa saja. Berapapun biayanya ditebus demi Irian Barat masuk ke pelukan bumi pertiwi. Serba Uni Soviet Dalam operasional kampanye militer pembebasan Irian Barat, dibentuklah tim logistik bersama. Kolonel Donald Isac Pandjaitan dan Brigjen Soeprapto dari Angkatan Darat. Brigjen Ali Sadikin dari Angkatan Laut. Kolonel Boediardjo dari Angkatan Udara. Kombes Mohamad Hasan dan Kombes Suparno dari Kepolisian. Boediardjo mengenang AURI harus menampung ratusan tenaga teknisi Uni Soviet. Pada saat itu, hanya Uni Soviet yang bersedia memasok senjata berat termutakhir bagi Indonesia. Dari Uni Soviet, angkatan perang Indonesia memperoleh kapal penjelajah raksasa kelas Sverdlov yang dinamai "KRI Irian" dan pesawat bomber jarak jauh Tupolev-16. Senjata inilah yang akan diandalkan untuk mengimbangi bahkan menggempur Belanda di Irian Barat. Pesawat Bomber Tupolev-16. Sumber: Puspen ABRI.​ Sebagai deputi Panglima AURI bagian logistik, Boediardjo bertugas menyiapkan kebutuhan operasional Angkatan Udara. Mulai dari membeli persenjataan, pesawat tempur, peluru hingga membuat lapangan-lapangan udara darurat dan menyiapkan bahan bakar untuk pesawat tempur. Selain urusan tempur, logistik AURI juga menyiapkan makanan bagi ratusan instruktur asing. Untuk itu, bagian logistik AURI mendirikan pabrik roti Rusia yang menjadi konsumsi sehari-hari para teknisi Uni Soviet. Penyiapan logistik untuk pembebasan Irian Barat cukup luar biasa. Dalam waktu 24 jam, tim logistik harus mampu menyiapkan gudang peralatan perang di pelosok hutan mana pun . Untuk itu disediakan tekonologi Arcon dari Inggris seharga  US$ 5 juta dalam penyediaan mesin dan alat konstruksi. Pendaratan pesawat jet tempur MIG-17, memakai sistem steel matting . Sementara itu dalam penyediaan bahan bakar, disiapkan tangki-tangki terapung sistem floating camels dari Jerman. “Semua cepat, semua jadi. Yang istimewa: uang selalu ada,” kata Boediardjo. Beberapa nama pengusaha nasional disebut Boediardjo sebagai penopang logistik baik secara materi maupun finansial. Mereka antara lain Dasaad, Kurwet, T.D. Pardede, Hasjim Ning, Bakrie, dan lainnya. Aristides Katoppo , wartawan Sinar Harapan yang juga kontributor New York Times memperoleh data besaran bantuan Uni Soviet untuk angkapan perang Indonesia. Bila ditotal, nilanya sebesar US$ 2 milyar, anggaran yang sangat besar pada masa itu. Namun menurut Boediardjo angka itu mungkin tidak besar untuk suatu proyek uji kemampuan pesawat dan persenjataan Uni Soviet. Apalagi dilakukan di wilayah tropis untuk menghadapi kekuatan Barat. Selesai Tanpa Berperang Pada Juni 1962, persiapan operasi militer besar-besaran sudah rampung. Operasi itu diberi sandi: “Jayawijaya”. AURI telah siap dengan pesawar bomber strategis TU-16 dan TU-16 KS. Juga dengan pesawat tempur Ilyushin 28 dan MIG-17. Sementara itu, Angkatan Laut telah menggerakan 120 kapal yang tergabung dalam Angkatan Tugas Amphibi 17 (ATA-17). Di bawah pimpinan Komodor Soedomo , ATA-17 siap ke garis depan mendaratkan pasukan ke Irian Barat. Di dalam ATA-17, terdapat Satuan Pendarat 45 (Saprat-45) dengan kekuatan 10.000 anggota marinir Korps Komando AL (KKo AL) di bawah pimpinan Kolonel Suwadji. Selain itu, pasukan pendarat bantuan berkekuatan 20.000 prajurit Angkatan Darat di bawah pimpinan Brigjen U. Rukman tinggal menunggu “lampu hijau” diberangkatkan ke garis depan. Dalam keterangan Ali Sadikin  kepada pers, seperti dicatat Rosihan Anwar, saat-saat kritis bagi Komando ATA-17 ialah sekitar tanggal 12-13 Agustus 1962. Untuk memberi makan 30.000 pasukan yang tergabung dalam ATA-17 dikeluarkan biaya Rp 4 juta dan dibutuhkan 40.000 kaleng makan setiap hari. Perang terbuka hanya menanti persetujuan Sukarno selaku panglima tertinggi. Apa yang terjadi kemudian telah banyak diketahui. Invasi ke Irian Barat untuk menyerbu Belanda urung terlaksana. Sengketa Irian Barat berakhir secara politis di meja diplomasi bukan lewat operasi militer. Perjanjian New York yang ditandatangani pada 15 Agustus 1962 menutup babak konflik Indonesia dan Belanda.   Dengan batalnya eksekusi Operasi Jayawiijaya, angkatan perang Indonesia menyimpan kekuatan potensial sekaligus memikul beban. Menurut Pandjaitan, administrasi logistik tampak kurang sempurna selama kegiatan operasi pembebasan Irian Barat. Hal ini disebabkan karena selama Trikora pelaksanaan operasi sangat diutamakan. “Keadaan ekonomi negara memburuk dan inflasi melonjak sebagai akibat konfrontasi dalam masalah Irian Barat yang cukup lama,” tulis Marieke Pandjaitan br. Tambunan dalam biografi suaminya D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran .   Meski demikian, setidaknya perlengkapan angkatan perang Indonesia tetap utuh serta terhindar dari jatuhnya korban yang lebih banyak. Dalam tempo pendek, Indonesia tampil sebagai kekuatan militer terkuat di Asia Tenggara. AURI pun disebut-sebut sebagai angkatan udara terkuat di belahan bumi selatan. Rosihan Anwar dalam Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik 1965 mencatat, Indonesia menjadi salah negara dari tiga negara Asia selain Tiongkok dan Jepang yang memiliki kapal-kapal selam berkekuatan perusak sangat dahsyat. Dengan dimilikinya “Komando Flotila”, maka Indonesia adalah negara pertama di belahan bumi selatan yang memiliki kapal-kapal berpeluru kendali. Pada akhirnya, Papua jatuh ke tangan Indonesia tanpa harus berperang dengan Belanda. Sebagai gantinya, unjuk kekuatan angkatan perang diahlihkan pada hari Angkatan Bersenjata 5 Oktober 1962 dalam wujud parade militer. Pada saat itulah publik dapat menyaksikan Angkatan Perang Indonesia berjaya .

  • Nasib Orang Indonesia di Jepang Pasca Perang

    Pembacaan teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945 menjadi tanda berakhirnya hubungan tidak resmi Indonesia dan Jepang. Selama kurun tiga tahun (1942-1945), bahkan sejak tahun 1930-an, telah banyak orang Indonesia yang menetap di Jepang. Sebagian besar memilih Negeri Sakura itu sebagai tempat menuntut ilmu. Menurut sejarawan Universitas Waseda Ken’ichi Goto dalam Jepang dan Pergerakan Kebangsaan Indonesia , orang Indonesia pertama yang mendapat kesempatan belajar ke Jepang adalah Madjid Usman dan Mahjuddin Gaus. Keduanya berasal dari Minangkabau. Permohonan mereka disampaikan pada 1932 oleh konsulat Jepang Naito Keizo kepada Menteri Luar Negeri Uchida Koya di Tokyo. “… Saya mohon agar orang-orang asing seperti ini yang masih belum memahami bahasa Jepang dapat diberi kelonggaran untuk belajar di sekolah Jepang,” tulis Naito. Setelah mereka, semakin banyak orang Indonesia yang belajar ke Jepang. Geliat ekonomi dan industri negara itu begitu memikat warga Asia lain-nya. Bahkan sejumlah pelajar Indonesia secara sukarela mendaftar ke akademi militer Jepang ketika negeri itu kekurangan kekuatan untuk menghadapi perang Pasifik. Dicatat Saari Ibrahim dalam Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang , ada 17 pelajar dari Jawa dan Sumatera yang masuk Rikugun Shikan Gakko, Akademi Militer Angkatan Darat. Namun kabar kekalahan Jepang atas Sekutu, serta kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945, membuat mereka bingung. Berdasar laporan Far Eastern Commission –Badan tertinggi dari Sekutu untuk mengurus hal-hal tentang pendudukan di Jepang– sejarawan Jepang Aiko Kurasawa mencatat ada 107 orang Indonesia di Jepang ketika perang selesai pada Agustus 1945. “Mereka tidak yakin atas nasib diri mereka selanjutnya. Mereka menanyakan kepada diri sendiri: ‘Apakah aku akan dianggap sebagai kolaborator Jepang? Apakah aku bisa pulang ke Indonesia? Bagaimana caranya? Kalau beasiswanya putus, bagimana menjalani kehidupan selanjutnya?’ dan lain-lainnya,” tulis Aiko Kurasawa dalam Sisi Gelap Perang Asia . Dari 107 orang Indonesia di Jepang, imbuh Aiko, mayoritas berstatus mahasiswa. Pemerintah Jepang membaginya menjadi dua kelompok. Pertama , 24 orang yang sudah tinggal di Jepang sebelum pecahnya perang dengan keinginan dan biaya sendiri. Kedua , 83 orang mahasiswa yang dikirim ke Jepang antara tahun 1943 dan 1944 dengan program beasiswa Nantoku dari pemerintah militer Jepang. Orang Indonesia di Jepang sendiri baru mendengar berita proklamasi kemerdekaan pada 19 Agustus 1945. Sejak kabar itu tersebar ke seluruh Jepang, kehidupan warga Indonesia di sana mulai tidak tenang. Hati mereka sungguh terguncang, antara senang atau takut. Mereka takut dampak kemerdekaan itu membuat orang-orang Jepang memberi perlakuan buruk kepada mereka. Banyak orang yang akhirnya berkeinginan untuk kembali ke tanah air. “Sesudah 1946, hampir semua mahasiswa dari wilayah jajahan negara Barat sudah dipulangkan. Yang masih tinggal di Jepang hanya mahasiswa dari Indonesia dan mahasiswa dari Vietnam di mana masing-masing pemimpin nasionalisnya sudah memproklamasikan kemerdekaan,” ungkap Aiko. Meski begitu, pemerintahan Indonesia yang baru dibentuk belum bisa menolong 107 orang yang terlantar di Jepang tersebut. Mereka tidak bisa langsung bernegosiasi dengan pihak Sekutu, maupun pemerintah Jepang untuk mengurus kepulangan warganya. Selain karena Sekutu belum mengakui Indonesia, situasi di dalam negeri juga belum memungkinkan untuk melakukannya. Itulah satu kelemahan negara Indonesia yang baru merdeka. Pemerintah Jepang juga tidak memberatkan keputusan orang-orang Indonesia di negaranya. Bagi mereka yang ingin tinggal, diperbolehkan asalkan menggunakan biaya sendiri. Beasiswa pemerintah Jepang akan sepenuhnya dicabut pada akhir 1946 atas keputusan Sekutu. Begitu juga dengan mereka yang ingin pulang, pemerintah tidak akan menghalangi tetapi mereka harus mencari jalan pulang sendiri. Keinginan orang-orang Indonesia di Jepang rupanya berbeda-beda. Tidak semua ingin kembali. Sebagian memilih bertahan di Jepang dan melanjutkan hidupnya, atau menyelesaikan pendidikannya. Kelompok yang ingin tinggal itu biasanya telah berumah tangga. Sementara sisanya memilih pulang, kendati dengan meminjam jasa pemerintah Belanda dan Sekutu. “Teman-teman negeri tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Birma pulang ke negara asal mereka atas perintah dan fasilitas yang disediakan oleh mantan master kolonial, seperti Inggris dan Amerika, yang kembali dan mulai menjajah lagi,” tulis Aiko.

  • Di Balik Ketidakhadiran Ahmad Subarjo dalam Proklamasi

    Sekira pukul 10.00 pagi tanggal 17 Agustus 1945, sekitar 1000 orang telah berkumpul di Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Meski masih dalam suasana tegang, mereka begitu antusias menyaksikan detik-detik pembacaan naskah proklamasi oleh Sukarno-Hatta. Para tokoh kunci perjuangan bangsa juga telah bersiap mengikuti upacara khidmat dan bersejarah itu. Namun di antara tokoh-tokoh yang hadir, sosok Ahmad Subardjo tidak terlihat. Padahal sebagai salah satu perancang naskah proklamasi, kehadirannya sangat dinanti. Dia juga diharapkan mendampingi Sukarno-Hatta dalam prosesi pembacaan teks kemerdekaan rancangannya tersebut. Sukarno yang tetap menginginkan kehadiran Ahmad Subardjo kemudian mengutus dua orang ke kediamannya. Ketika sampai, mereka mendapati menteri luar negeri pertama Indonesia itu tengah beristirahat di tempat tidurnya. Dia tampak kelelahan. Bahkan Ahmad Subardjo tidak terlihat akan bersiap untuk pergi kemanapun. “Saya masih di tempat tidur sewaktu kurang lebih pukul 10.00 pagi tanggal 17 Agustus datang dua orang utusan Sukarno dan Hatta untuk menjemput saya,” kenang Ahmad Subardjo dalam otobiografinya Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi. Kedua utusan itu lalu melaporkan bahwa telah banyak orang menunggu di Pegangsaan Timur. Upacara pengibaran bendera Merah-Putih dan pembacaan proklamasi tidak akan dimulai sebelum kehadirannya. Begitu pesan Sukarno-Hatta. Mereka pun meminta Ahmad Subardjo segera berapakaian rapi dan pergi bersama ke kediaman Sukarno. Ahmad Subardjo meminta kedua utusan itu menunggu. Namun ketika keluar, bukannya berpakaian rapi, dia malah memberi sepucuk surat untuk diberikan kepada Bung Karno dan Bung Hatta. Di dalam surat itu dia menuliskan permintaan maaf kepada kedua kawannya itu karena tidak dapat hadir mendampingi mereka. Ahmad Subardjo juga meminta agar supaya upacara Proklamasi Kemerdekaan segera dilangsungkan tanpa menunggu kehadirannya. “Apalagi yang saya inginkan? Mimpi Indonesia merdeka telah menjadi kenyataan. Apa bedanya saya hadir atau tidak? Hal yang terpenting ialah bahwa kita sendiri dan generasi penerus rakyat telah menjadi warganegara yang bebas dari sebuah negara merdeka: Republik Indonesia!,” tegas Subardjo. Rupanya alasan ketidakhadiran Ahmad Subardjo dalam proklamasi disebabkan rasa lelah atas berbagai kejadian di malam-malam sebelumnya. Pada peristiwa pengamanan Sukarno-Hatta oleh golongan pemuda ke Rengasdengklok, Ahmad Subardjo-lah yang berusaha meyakinkan para pemuda untuk melapas keduanya. Dia juga yang menjemput Bung Karno dan Bung Hatta dari daerah di Karawang, Jawa Barat tersebut dan memastikan dua tokoh penting kemerdekaan itu tiba dengan selamat di Jakarta. Masih tanpa istirahat, Ahmad Subardjo lalu ikut ke kediaman Laksamana Maeda untuk merancang perumusan naskah proklamasi bersama Sukarno-Hatta. Dimulai sejak tengah malam tanggal 16 Agustus, rapat perumusan baru selesai pukul 06.00 pagi hari berikutnya. “Matahari sedang mulai timbul pada waktu hadirin berturut-turut meninggalkan tempat pertemuan dalam keadaan sangat lelah. Saat ruangan pertemuan hampir kosong, saya berpamitan kepada Sukarno dan Hatta yang kelihatannya masih cukup segar setelah mengalami begitu banyak kejadian,” kata Ahmad Subardjo. “Saya sungguh merasa lelah atas kejadian yang menegangkan syaraf, yang baru saja saya alami sepanjang hari dan malam sebelumnya,” lanjutnya. Setelah kedua utusan mengerti situasi yang dialami Ahmad Subarjo, mereka kembali ke Pegangsaan Timur. Sementara itu dia sendiri langsung masuk kamar kembali untuk melanjutkan tidurnya.

  • Hikayat Putri Cempa dan Islam di Majapahit

    Prabu Brawijaya bermimpi punya istri putri dari Negeri Champa. Paginya, setelah bangun dari tempat tidur, ia memanggil Kiai Patih dan memerintahkannya pergi ke Negeri Champa. Ia titipkan sepucuk surat untuk raja di Champa berisi lamaran untuk putrinya. Patih Gajah Mada berangkat naik kapal karena negeri itu terletak di seberang lautan. Perjalanan selamat sampai tujuan. Patih menghadap sang raja dan menyerahkan surat lamaran. Raja menerima lamaran itu. Putri Cempa dibawa ke Jawa. Mereka juga membawa gong Kiai Sekar Delima dan tandu Kiai Jebat Bedri. Rombongan selamat sampai di Majapahit. Sang putri dipertemukan dengan Prabu Brawijaya. Prabu Brawijaya kemudian menikah lagi dan memperoleh putri dari Cina. Sang prabu sangat mengasihi Putri Cina sehingga Putri Cempa cemburu. Ia tak rela dimadu dan meminta dipulangkan ke negerinya jika istri muda tak disingkirkan. Prabu Brawijaya tak sampai hati memulangkan Putri Cina. Namun, karena besarnya cinta kepada Putri Cempa, ia pun memerintahkan Gajah Mada untuk menyerahkan Putri Cina kepada Arya Damar, penguasa Palembang, agar diperistri. Begitulah kisah Putri Cempa dalam Babad Tanah Jawi. Kini, kompleks makam di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur diyakini banyak orang sebagai pusara Putri Cempa. Lokasinya tak jauh, di utara timur Kolam Segaran. Kompleks makam Putri Cempa atau banyak orang menyebut Putri Cempo adalah salah satu situs ziarah paling terkenal di Trowulan. Kuburan ini pernah dikunjungi oleh J.W.B. Wardenaar, yang mensurvei tinggalan purbakala di Trowulan atas perintah Letnan Gubernur Hindia Belanda Thomas Stamford Raffles pada 1815. Deskripsi tentangnya kemudian diterbitkan dalam catatan Raffles, History of Java dua tahun kemudian. “…desa yang berdekatan adalah Trawoelan, atau Trang Wulan (cahaya bulan), di sini kami menemukan makam Putri Champa...,” tulis Raffles ketika menguraikan situs Putri Cempa. Menariknya, di makam itu ada lempengan batu andesit halus. Salah satu sisinya, menurut Hadi Sidomulyo, terpahatkan angka tahun 1370 Saka (1442) dan sebuah prasasti pendek. “Angka-angka yang menyatakan tanggal cukup jelas, tetapi dua baris inskripsi yang menyertainya sejauh ini tampaknya tidak dapat ditafsirkan,” tulis sejarawan Inggris bernama asli Nigel Bullough itudalam “Gravestones and candi stones. Reflections on the Grave Complex of Troloyo” yang terbit dalam Bulletin de l’Ecole française d’Extrême-Orient . Makam Putri Cempa itu kini dikeramatkan. Banyak peziarah datang terutama pada malam Jumat Kliwon. Selain di Trowulan, makam Putri Cempa juga dipercaya masyarakat berada di Gresik. Tepatnya di Gunungsari, Sidomoro, Kebomas, tak jauh dari makam Sunan Giri, ada bangunan makam dengan cungkup berdinding merah. Negeri Asal Muslim Pertama Kebenaran makam Putri Cempa itu masih simpang siur. Menurut HadiSidomulyo, penjaga makam bahkan bilang batu andesit itu lebih merupakan peringatan daripada nisan dalam arti sebenarnya. N.J. Krom pun membatasi penjelasannya dengan hanya menyebutnya sebagai “batu bertulis dari Trowulan”. “Mencerminkan ketidakpastian fungsi aslinya,” jelas Hadi Sidomulyo. Sebaliknya , Damais tak ragu mengidentifikasinya sebagai batu nisan. “Saya pikir kriteria untuk menentukan fungsi dari benda ini tetap terlalu kabur untuk memberikan banyak kepastian,” tulis Hadi Sidomulyo. ​ Bagaimanapun, menurut sejarawan Belanda, H.J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud dalam Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Putri Cempa merupakan tokoh terpenting dalam kisah Jawa mengenai Negeri Cempa. Penceritaan tentang sang putri ini meliputi dua hal.   Pertama ,cerita lisan yang dihubung-hubungkan dengan makam Islam di Trowulan. Dua makam berdampingan bercungkup di dalam kompleks makam Putri Cempa itu merupakan milik putri dan suaminya, Damar Wulan, yang diyakini sebagai raja terakhir Majapahit. Begitu yang dijabarkan Hadi Sidomulyo berdasarkan kepercayaan masyarakat. Adapun dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, Putri Cempa itu bernama Dwarawati. Ia menikah dengan raja terakhir Majapahit alias Brawijaya V. Babad Meinsma juga memberi uraian panjang lebar tentang sang putri. Sebagai maskawin, konon ia membawa barang berharga dari Cempa. Barang ini kelak dijadikan pusaka Keraton Mataram. Di antaranya gongKiai Sekar Delima dan kereta kuda tertutup Kiai Jebat Betri. “Barang-barang berharga ini diperoleh Keraton Mataram sebagai barang-barang rampasan perang ketika menyerang Demak,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Kedua ,cerita tradisional Jawa yang menghubungkannya dengan orang-orang suci penyebar Islam di Surabaya dan Gresik. “Konon mereka berasal dari Cempa,” tulis De Graaf danPigeaud. Makam Putri Cempo (Cempa) di dusun Unggah-unggahan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan. ( disparpora.mojokertokab.go.id ) Ceritanya, Putri Cempa meninggalkan saudara perempuan di tanah airnya, yang sudah kawin dengan orang Arab. Ipar putri ini dalam Hikayat Hasanuddin dari Banten hanya disebut sebagai Orang Suci dari Tulen, keturunan Syekh Parnen. Dalam babad lain ia diberi nama Raja Pandita, yang dulunya bernama Sayid Kaji Mustakim. Adapun Babad Meinsma menyebutnya dengan nama Makdum Brahim Asmara, imam dari Asmara. Dalam Sadjarah Dalem, silsilah raja-raja Mataram dan nenek moyang mereka, Maulana Ibrahim Asmara lahir di Tanah Arab. Ia putra Syekh Jumadil Kubra. Dengan begitu, ia adalah moyang dari garis panjang pemeluk agama Islam, sekaligus yang paling senior dari sembilan wali (wali sanga). “Sembilan wali yang menurut tradisi Jawa abad ke-17 menyebarkan agama di Jawa Timur dan Jawa Tengah,” jelas De Graaf dan Pigeaud. Menurut Serat Kanda, Raja Champa telah memeluk agama Islam berkat Makdum Ibrahim. Makdum Ibrahim berhasil mengislamkan rakyat Champa. Sebagai tanda terimakasih dan penghargaan, Makdum Ibrahim pun diambil menantu oleh raja dan dikawinkan dengan adik perempuan Putri Cempa, permaisuri Raja Brawijaya V. Dari perkawinan itu, lahirlah Raden Rahmat dan Raden Santri. “Cempa (Champa) dikatakan sebagai negara asal muslim pertama yang datang ke Jawa,” tulis De Graaf dan Pigeaud. Hubungan Champa-Jawa De Graaf dan Pigeaud meletakkan Kerajaan Campa di pantai timur Indocina. Sejak dahulu kala kerajaan di Jawa Timur selalu punya hubungan dengannya. Relasi keduanya mungkin sudah terjadi sebelum ekspedisi Yuan ke Jawa pada awal masa berdirinya Majapahit abad ke-13. Dalam Prasasti Po Sah di dekat Phanrang dari 1306 disebutkan seorang permaisuri Raja Champa adalah putri dari Jawa bernama Tapasi. Adik Kertanegara itu menikah dengan Raja Jaya Simhawarman III (1287–1307). Kerja sama itu menguntungkan bagi Jawa ketika Kubilai Khan, kaisar Dinasti Yuan mengirim pasukannya pada 1292 untuk menghukum Kertanegara. Raja Jaya Singhawarman III tidak mengizinkan mereka menurunkan jangkar di pelabuhan Champa untuk mengisi perbekalan. Puncaknya pada abad ke-14 dan ke-15 sebagaimana tercatat dalam Nagarakrtagama. “Itulah sebabnya mengapa tanpa henti datanglah orang dari semua negeri yang serbaneka, India, Kamboja, Cina, Vietnam, dan Campa, Karnataka, Gaur, dan Siam,” catat Mpu Prapanca dalam Nagarakrtagama. “Dari semua daerah itu mereka berdatangan naik perahu dan berjejalan, kerumunan lebat pedagang.” Sementara itu, arkeolog Uka Tjandrasasmita dalam Arkeologi Islam Nusantara ,menyebutkan makam Putri Cempa yang berada di tengah makam muslim kuno Trowulan itu bisa dikaitkan dengan hubungan antara masyarakat muslim di pantai selatan Tiongkok, India, dan Timur Tengah sebagai poros pelayaran. “Hubungan antara Champa dan Jawa Timur dapat dikaitkan dengan sebuah legenda yang menyebutkan perkawinan antara Putri Campa dengan raja Majapahit,” tulis Uka.

  • Perang Saudara Bersandi 17 Agustus

    Pukul 04.00 pagi, 17 April 1958. KRI Gadjah Mada milik Angkatan Laut  RI memulai salvo meriamnya. Hujan peluru dan bom kemudian mendarat di pantai Padang. Serangan itu menandai dimulainya operasi penumpasan Pemerintah Revolusiener Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra Barat yang diberi sandi: “17 Agustus”. “Sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) saya percayakan sepenuhnya kepada Deputi II Kolonel A. Yani mengenai Operasi 17 Agustus,” tutur Abdul Haris Nasution dalam memoar Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua . Selain menjabat KSAD, Nasution merangkap sebagai ketua Gabungan Kepala Staf (GKS). Sementara itu, Yani baru saja pulang dari Amerika Serikat (AS) setelah mengikuti pendidikan General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas. Yani sendiri yang memberi nama “17 Agustus” untuk operasi militer yang akan dipimpinnya dan disetujui Nasution. Harapannya, PRRI akan tumpas sebelum 17 Agustus sehingga hari kemerdekaan dapat dirayakan dengan euforia kemenangan.        TNI Menang  Ketimbang Operasi Tegas di Pekan Baru, Operasi 17 Agustus merupakan operasi gabungan TNI dengan jumlah personil dan peralatan yang sangat besar. Sebanyak enam kapal perang dan 19 kapal pengangkut dikerahkan untuk memobilisasi 6.500 personel militer. Pasukan penyerbu terbagi ke dalam tiga Resimen Tim Pertempuran (RTP). Masing-masing RTP dipimpin oleh Letkol Kaharudin Nasution, Letkol Sabirin Mochtar, dan Letkol Suwito Haryoko.  Angkatan Darat menjadi penyumbang pasukan terbesar dengan empat batalion infantri. Selain kapal, Angkatan Laut ikut mengerahkan satu batalion pasukan Korps Komando AL (KKo AL). Sementara itu, AURI mengerahkan 25 pesawat C-47 Dakota, enam pesawat pemburu P-51 Mustang, dilengkapi dengan delapan pembom B-25 Mitchell dan enam pesawat AT-16 Harvard. “Seluruh armada udara tersebut bertolak dari tiga landasan udara, Palembang, Tanjung Pinang, dan Medan. Armada udara yang sama juga harus menerbangkan satu detasemen pasukan payung PGT TNI-AU,” tulis Julius Pour dalam Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan . Pukul 06.00 pagi, tembakan-tembakan dari kapal perang berhenti. Pesawat-pesawat AURI kemudian menjalankan aksi “pembersihan” dengan melancarkan tembakan dan menjatuhkan bom napalm selama sejam. Setelah pantai dibersihkan, pasukan penerjun Pasukan Gerak Tjepat (PGT) dan Resmen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) mulai mendarat dan melakukan penyerbuan. Pertempuran sengit terjadi antara pukul 07.00—11.00. Meriam-meriam dan mortar pasukan PRRI yang tadinya membisu, kembali memuntahkan peluru ke arah laut dan udara. Namun, serangan dari darat, laut, dan udara nan apik membuat TNI lebih unggul. Pertahanan PRRI pun jebol. Pukul 13.00 siang, seluruh Staf Komando Operasi 17 Agustus berhasil memasuki kota. Pada malam hari, pasukan KKo berhasil membersihkan pelabuhan Teluk Bayur sebelum pasukan PRRI meledakkan ranjau-ranjaunya. Kota Padang jatuh ke tangan pasukan pusat pada hari itu juga. Rumah kediaman panglima PRRI eks Letkol Ahmad Husein diubah menjadi markas operasi oleh Yani. Sementara itu, sebagian besar pasukan PRRI melarikan diri ke pedalaman untuk persiapan bergerilya. “Dalam waktu kurang lebih 12 jam setelah jam ‘D’, rencana pendaratan babak pertama pendaratan berjalan dengan sukses berkat adanya kerja sama yang baik antara tiga angkatan, darat/lau/udara sekalipun baru pertama kalinya dipraktekkan,” tulis Amelia Yani dalam biografi ayahnya Profil Seorang Prajurit TNI . Kembali ke Ibu Pertiwi Pasukan TNI tidak berhenti setelah menguasai kota Padang. Pasifikasi militer terus digencarkan ke berbagai tempat. Selanjutnya, dilakukan gerakan untuk menguasai seluruh Sumatra Barat yang menjadi basis PRRI. Ada 11 macam sub-operasi yang dilancarkan guna mendukung “gerakan pembersihan” ini.    Dalam Kepemimpinan ABRI , Sayidiman Suryohadiprodjo menerangkan rencana lanjutan dari Operasi 17 Agustus. RTP 1 merebut Kota Baru; RTP 2 merebut Pariaman, Padang Panjang, Bukit Tinggi, dan Payakumbuh; RTP 3 merebut Solok. Batu Sangkar, Alahan Panjang, dan Muara Laboh. Ini adalah fase-2 dari Operasi 17 Agustus, setelah menyelesaikan fase ke-1, yaitu pendaratan, perebutan lapangan terbang Tabing, pelabuhan Teluk Bayur, dan kota Padang. Pada 20 Mei 1958, Payakumbuh diduduki oleh Batalion 510/Brawijaya. Berselang empat hari kemudian, 24 Mei, sebanyak 500 pasukan PRRI menyerahkan diri. Nasution dalam memoarnya mengatakan operasi lanjutan dilakukan non-stop sampai akhir tahun 1958. “Demikianlah selama tahun 1959 PRRI lakukan aksi gerilya dan pihak kita pun telah memenuhi fase anti-gerilya dengan operasi-operasi teritorial pula.” Menurut Gusti Asnan, sejarawan Universitas Andalas, dominasi TNI di medan tempur disebabkan oleh hampir tidak adanya perlawanan yang berarti dari tentara PRRI. Selain itu, beberapa kesatuan penting PRRI menyerah dan tunduk kepada TNI. Pasukan yang pertama menyerah ialah rombongan Mayor Nurmatias (komandan Batalion 140). Menyusul kemudian Kombes (Pol.) Kaharudin Datuk Rangkayo Basa (Kepala Polisi Provinsi Sumatra Tengah) dan beberapa perwira lainnya seperti, Lettu Johan Rivai, Kapten Bainal, Kapten Almunir, Ayub Bakar, dan Chatib Hasan dengan anggota Batalion 135. “Akhirnya pada bulan Juli 1960 tujuan utama dari gerakan itu telah dapat dikatakan berhasil,” tulis Gusti Asnan dalam Memikir Ulang Regionalisme: Sumatra Barat Tahun 1950-an . Sementara itu, menurut Sayidiman bukan kekuatan bersenjata melainkan pendekatan politiklah yang memungkasi operasi penumpasan PRRI. Dengan semboyan, “Kembali ke pangkuan Republik, Republik yang telah kita perjuangkan bersama,” para pemimpin pemberontakan dapat ditarik untuk mengakhiri perlawannnya.   Meski demikian, perang saudara ini tetap memakan korban diantara sesama anak bangsa. Hingga akhir September 1958, pada pihak pemerintah gugur sebanyak 983 orang, menderita luka-luka 1.695 orang, dan 154 lainnya dinyatakan hilang. Sementara itu, bagi pihak PRRI jatuh korban lebih banyak lagi. Sebanyak 6.373 pasukan gugur, 1.201 luka-luka atau tertawan dalan pertempuran, dan 6.057 orang menyerah. Perang, sebagaimana kata sejarawan Anhar Gonggong, tidak memberikan apa-apa kecuali kehancuran bagi orang-orang yang terlibat didalamnya.

  • Derita Barcelona

    DI depan gawang Barcelona yang dijaga kiper Marc-André ter Stegen, Philippe Coutinho dengan cermat membaca bola lambung Thiago Alcântara yang mengarah ke Lucas Hernandez. Ekspektasi gelandang FC Bayern Munich itu tak salah ketika Hernandez menekuk arah bola dengan tandukannya. Tanpa dijaga ketat, Coutinho menyodok bola dengan kaki kirinya melewati sela-sela kaki kiper Ter Stegen. Gol di menit ke-89 itu jadi gol penutup Bayern yang menggasak Barça 8-2 di perempatfinal Liga Champions di Estádio da Luz, Lisbon, Portugal, Sabtu (15/8/2020). Coutinho yang menyumbang dua gol malam itu turut melengkapi derita Barça lantaran sebelumnya Coutinho dibuang Barça dengan status pinjaman. “Masa-masa yang sangat sulit. Culers (sebutan fans Barça), saya meminta maaf atas apa yang terjadi kemarin. Saya kecewa. Saya tak ingin mencari-cari alasan karena memang tiada satupun. Pastinya kami harus berubah,” kicau Ter Stegen di akun Twitter -nya, @mterstegen1, Minggu (16/8/2020). Entah ada apa dengan Barça. Selepas penghentian sementara musim 2019/2020 gegara pandemi virus corona , tren penampilan Messi cs. menukik tajam. Selain di Liga Champions, langkah klub kebanggaan masyarakat Katalan itu  terhenti di Copa del Rey (Piala Raja) juga terhenti di perempatfinal. Di La Liga, mereka hanya finis urutan kedua. Portero (kiper) Barça, Marc-André ter Stegen minta maaf pada fans usai kejebolan delapan gol di laga kontra Bayern (Foto: fcbarcelona.com ) Tak satupun gelar disabet Barca musim ini. Padahal, sebelumnya Barça jadi momok di kompetisi domestik maupun Eropa. Barça satu-satunya tim di benua biru yang pernah dua kali jadi treble winners : La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions, yakni di musim 2008/2009 dan 2014/2015. Catatan lebih mentereng bahkan dicapainya sepanjang 2009 di mana Barça menimbun enam gelar: La Liga, Copa del Rey, Supercopa de España, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub. Selama 90 tahun ke belakang, Barcelona juga tak pernah kehilangan muka dengan kebobolan delapan gol atau lebih. Kekalahan dari Bayern kemarin seolah mengorek luka lama Barca dengan kekalahan telak. Pembantaian Basque dan Andalusia Sekitar 40 ribu pasang mata di Estadio San Mamés di kota Bilbao pada 8 Februari 1931 jadi saksi duel klasik dua tim asal Katalan dan Basque: Athletic Club de Bilbao kontra Barcelona. Dua klub di Primera División (kini La Liga) musim 1930/1931 itu merupakan kandidat juara sejak awal meski akhirnya dimenangkan Bilbao, sementara Barça harus puas berakhir di urutan keempat. Arsitek Bilbao asal Inggris Fred Pentland sejak persiapan selalu mewanti-wanti para pemainnya bahwa balas dendam yang manis di kandang sendiri akan jadi pengobat luka yang sempurna. Pasalnya, di laga tandang di Camp de Les Corts, 7 Desember 1930, Bilbao “keok” 3-6 dari Barça. Agustín Sauto ‘Bata’ Arana, bintang Athletic Club de Bilbao era 1930-an (Foto: athletic-club.eus ) Motivasi Pentland manjur. Di laga kandang itu, Bilbao mencetak sejarah dengan membantai Barça 12-1, menjadikannya sejarah jarak gol terbesar dan pertamakali jumlah gol dua digit. Sementara gol semata wayang Barça dicetak Severiano Goiburu, tujuh dari 12 gol Bilbao disarangkan Agustín Sauto ‘Bata’ Arana. “Skor kemenangan Athletic Bilbao bisa menjadi rekor gol tersendiri, mengingat historis dan kualitas Barcelona dan tentunya menjadi hari yang akan diingat. Tetapi setidaknya hanya tiga dari 12 gol yang dicetak melalui permainan cantik lini depan Bilbao. Sisanya merupakan inkonsistensi kiper Ramón Llorens yang keluar dari lapangan dengan menangis,” tulis laporan suratkabar ABC , 12 Februari 1931. Kemenangan itu menurut Pentland kuncinya adalah kekalahan di markas Barça sebelumnya. Kekalahan itu benar-benar jadi pelajaran berarti dan di atas lapangan, setiap pemain diinstruksikan untuk tampil efektif dan taktis. “Tim sepakbola sejati karakternya terbetuk dari kekalahan, bukan kesuksesan. Ketika seorang pemain mengoper bola ke rekannya, ia harus yakin bahwa arah bola operannya tepat dan mampu diterima rekannya,” cetus Pentland. Frederick Beaconsfield Pentland (tengah) entrenador Bilbao periode 1922-1925 & 1929-1933 (Foto: athletic-club.eus ) Selain di Basque, Barcelona juga pernah dihabisi Sevilla FC 11-1 di Andalusia pada 29 September 1940. Sekira 20 ribu suporter yang menyesaki Estadio de Nervión pada partai pembuka Primera División musim 1940-1941 itu menjadi saksi pembantaian Barca yang diarsiteki Josep Planas. “Bintangnya adalah veteran pemain internasional (timnas, red. ) yang juga pencetak gol unggulan liga, (Guillermo) Campanal. Campanal bagian dari barisan penyerang legendaris ‘Stuka’ yang memang dinamai seperti pesawat pembom tukik yang debut tempurnya di 1936 sebagai bagian dari Legion Condor Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman Nazi) yang mengintervensi Perang Saudara Spanyol,” tulis Jimmy Burns dalam La Roja: A Journey Through Spanish Football. “Di pertandingan (vs Barcelona) itu, Campanal menyumbangkan lima gol,” sambungnya. Selain Campanal, anggota “Stuka” Sevilla yang turut mengoyak gawang Barcelona yang dikawal kiper Lluís Miró itu berturut-turut: Rafael Berrocal (1 gol), Raimundo Blanco (2), dan Miguel López Torrontegui (3). Barcelona baru bisa membalasnya tiga bulan berselang di kandang sendiri walau sekadar menang 4-0. Sevilla pasca-Perang Saudara Spanyol memang acap menampilkan sepakbola ofensif di bawah arsitek Pepe Brand. Kendati menutup musim 1940/1941 di posisi lima, barisan “Stuka” Sevilla keseluruhan mencetak 70 gol dalam 22 laga. Torehan itu serupa dengan torehan Atlético Aviación (kini Atlético Madrid) sang juara musim itu. Berdarah-darah di Ibukota Seperti halnya di Sevilla, Barcelona pun pernah dibuat berdarah-darah Los Blancos (julukan Real Madrid) dengan skor serupa, 11-1. Bedanya, kekalahan dari Sevilla murni karena permainan di lapangan. Sementara, kekalahan dari Madrid di Estadio Chamartín, 13 Juni 1943 dalam rangka leg kedua semifinal Copa del Generalisímo (kini Copa del Rey) itu juga disebabkan faktor politis dan intimidatif. Pasalnya, Barça merupakan representasi Katalan yang pada Perang Saudara Spanyol 1936-1939) berada di pihak kaum republik, lawan kubu diktator Francisco Franco. Presiden Barça saat itu yang juga politisi sayap kiri, Josep Sunyol i Garriga, turut jadi korban eksekusi pasukan Franco pada Agustus 1936. Presiden Barc elon a akhirnya digantikan oleh pengikut setia Franco, Enrique Piñeyro. Sebagai klub kesayangan Franco, Madrid sangat diharapkan bisa melangkah hingga babak puncak turnamen yang menyandang titel sang diktator. Masalahnya pada leg pertama di kandang Barcelona, Camp de Les Corts, Madrid dibekuk 3-0. Maka leg kedua di ibukota jadi momen perhitungan meski harus dilakoni dengan menghalalkan segala cara . “Sebelum mereka masuk ke lapangan, Direktur Keamanan Negara José Finat y Escrivá de Romaní mampir ke ruang ganti tim tamu (Barcelona). ‘Jangan lupa. Bahwa beberapa dari kalian masih bisa bermain hanya karena kemurahan hati pemerintah (Franco) yang telah memaafkan kalian karena kurangnya rasa patriotisme’,” ungkap Richard Fitzpatrick dalam El Clasico Barcelona v Real Madrid: Football’s Greatest Rivalry . “Yang dimaksud adalah José Raich, Josep Escolà, dan Domingo Balmanya yang tentu tak ingin catatan hidupnya dibuka kembali. Ketiganya kabur keluar Spanyol selama Perang Saudara dan terhindar dari nasib yang dialami Josep Sunyol. Setelah ditangkap dan dibunuh, jasad Sunyol tak pernah ditemukan,” tambahnya. Dua Presiden FC Barcelona: Josep Sunyol i Garriga (kiri) & Enrique Piñeyro Queralt (Foto: fcbarcelona.com ) Intimidasi itu membuat Barcelona yang ditukangi Joan Josep Nogués itu bermain setengah hati. Intimidasi yang diterima pemain di lapangan makin berat dengan teror suporter Madrid. “Atmosfernya sangat kuat. Belum juga kami masuk ke lapangan, penjaga keamanan sudah menakut-nakuti: ‘Kau akan kalah.’ Saat kami masuk ke lapangan, suara siulan suporter tuan rumah sangat monumental,” kenang pemain Barça Josep Valle, dikutip Sid Lowe dalam Fear and Loathing in La Liga: Barcelona vs Real Madrid. Rasa tertekan juga diingat betul oleh gelandang Barça Mariano Gonzalvo. Menurutnya, sebagaimana dikutip Lowe, “Lima menit sebelum pertandingan dimulai, area penalti kami sudah penuh uang logam, lima sampai 10 sen dalam bentuk koin yang dilemparkan.’ Kiper Lluis Miró menceritakan bahwa ketika ia berada dekat suporter Madrid di belakang gawang, ia juga dilempari batu dan diteriakkan: ‘Merah! Separatis! Itu semua seperti sudah diatur.” Alhasil, di babak pertama saja delapan gol bersarang di gawang Barça. Setelah turun minum, Madrid menambah trigol sebelum Barça mendapat sebuah gol “hiburan” semenit jelang laga usai yang dicetak Mariano Martín. Skuad Real Madrid yang membantai Barcelona 11-1 (Foto: realmadrid.com/Marca ) Laga penuh teror dan intimidasi itu disaksikan sendiri oleh Juan Antonio Samaranch (kelak Presiden Komite Olimpiade Internasional) yang saat itu sebagai jurnalis. Seingat Samaranch, para pemain Barça benar-benar takut melakukan tekel. “Barcelona tidak bermain di lapangan. Dalam atmosfer seperti itu dengan wasit yang juga ingin menghindari perkara apapun, mustahil untuk bermain seperti pertandingan normal. Mereka menerima kesulitan-kesulitan ini dengan senyuman, seperti berkata pada lawan: ‘Kami paham tak bisa bermain, jadi kalian bisa bermain semau kalian’,” tutur Samaranch, dikutip Lowe. Usai wasit meniup peluit panjang pun teror tak jua berakhir. Saat berjalan keluar lapangan, polisi di pinggir lapangan masih mengintimidasi. Bahkan Piñeyro yang loyalis Franco pun ikut diserang dan dikeroyok suporter Madrid saat keluar stadion. Induk sepakbola Spanyol (RFEF) yang insyaf akan “sepakbola gajah” itu segera memberi hukuman. Baik Barça maupun Madrid didenda 2.500 peseta. “Jika Barcelona bermain, walau seburuk apapun penampilannya, papan skor takkan mencapai angka selangit. Intinya mereka tidak bermain sama sekali. Tetapi tak perlu menyalahkan para pemain karena memang mereka seperti tidak berada di lapangan. Hanya itu yang bisa mereka lakukan. Hanya dengan begitu laga itu berakhir,” tandasnya.

  • Dari Agitator-Propagandis hingga Buzzer

    Fenomena buzzer  media sosial tengah ramai diperbincangkan. Beragam isu yang berkembang di media sosial seringkali disinyalir turut didengungkan oleh para buzzer . Lalu apakah buzzer  itu sebenarnya dan bagaimana kaitannya dengan propagandis partai yang dikenal dalam sejarah? Direktur Riset Paramadina Public Policy Intitute Ika Karlina Idris memaparkan mengenai istilah buzzer  dalam Dialog Sejarah “Fenomena Buzzer dari Masa ke Masa” di saluran Facebook  dan Youtube Historia.id , Selasa, 18 Agustus 2020. Ika menyebut banyak istilah yang memiliki kemiripan dengan buzzer , misalnya humas, advertiser  atau marketer  dan opinion leader  atau influencer  yang secara umum berguna untuk mempersuasi orang. Sementara, buzzer  media sosial kemudian muncul dengan tujuan untuk membuat sebuah pesan menjadi viral atau untuk mengamplifikasi pesan. Munculnya buzzer  ini berkaitan dengan kararkteristik media sosial. Misalnya, terbatasnya kolom status atau komentar membuat pesan yang disampaikan harus to the point . Kemudian, pesan tersebut perlu disebarluaskan dengan mengikuti algoritma media sosial. “Karena di media sosial itu pesan yang kuat aja nggak  cukup. Pesannya bagus tapi kalau nggak  ada yang like , nggak  ada yang comment , nggak  ada yang share , itu nggak  kebaca sama algoritma media sosial. Itu artinya pesannya garing. Tapi kalau semakin banyak interaksi di situ akhirnya kan naik tuh, naik ke timeline , lama-lama jadi trending topic ,” jelas Ika. Ika menambahkan bahwa buzzer  media sosial dibutuhkan untuk membangun suatu agenda tertentu. Hal ini menggeser media massa yang dulu sering dipakai untuk mempromosikan suatu agenda kepada publik. “Nah kalau sekarang, memang kita butuh, secara struktur butuh buzzer  ini untuk naikin  (agenda - red ) yang kuat. Cuma kan buzzer  balik lagi apakah buzzer -nya organik, non-organik, atau bots  misalnya,” terangnya. Apakah buzzer  media sosial ini merupakan bentuk baru dari agitator atu propagandis di zaman dulu? Sejarawan Soewarsono menyebut ada beberapa perbedaan. Ia menyebut bahwa agitasi-propaganda tidak bisa langsung dikonotasikan negatif. Soewarsono menyebut, misalnya, terbentuknya negara Indonesia merupakan hasil dari agitasi dan propaganda yang berlangsung panjang sejak tahun 1910-an. “Dimulai dengan tulisan Seandainya aku Seorang Belanda  yang ditulis oleh Soewardi Soerjaningrat,” katanya. Agitasi-propaganda kemudian banyak dipakai oleh partai politik, baik komunis, sosialis, nasionalis, hingga fasis. Partai politik memiliki media masing-masing untuk menyampaikan agenda-agenda mereka, sementara penguasa juga memiliki media sendiri. “Kalau agitasi propaganda zaman dulu tuh alatnya kan bacaan, kebanyakan bacaan. Dunia film itu nanti zaman Jepang,” ujarnya. Adanya agitasi dan propaganda menurunya adalah hal yang bebas nilai. Tergantung persepsi penerimanya. Soewarsono mencontohkan, slogan Sukarno “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis” pada zaman Jepang merupakan salah satu bentuk propaganda pemerintah Jepang. “Ini yang namanya agitasi-propaganda. Tidak jelek. Dalam propaganda itu netral. Itu alat netral tergantung persepsi yang menerima,” jelasnya. Menaggapi munculnya fenomena buzzer  sekarang, Soewarsono menyebut bahwa telah terjadi penurunan dalam berpolitik bangsa Indonesia. “Jadi politik buzzer  itu dangkal, banal,” sebutnya. Agitasi-propaganda yang dulu dilancarkan partai politik maupun penguasa memiliki struktur yang jelas. Selain memiliki divisi resmi, materi yang disampaikan juga merupakan suatu tawaran ide dan gagasan politik alih-alih hanya seruan kosong. “Jadi ini ada fenomena yang mendangkalkan politik itu menjadi semacam praktek-praktek politicking . Membenci, mencintai, membenci, mencintai. Bukan semacam proyek politik sebagai seni. Dari bodoh menjadi pintar, dari tidak maju menjadi maju,” jelas Soewarsono.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page