top of page

Di Balik Ketidakhadiran Ahmad Subardjo dalam Proklamasi

Ahmad Subardjo salah satu perancang naskah Proklamasi memilih tidur ketimbang menghadiri pembacaan Proklamasi pada 17 Agustus 1945.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno mengambil sumpah Ahmad Subardjo sebagai anggota DPA tahun 1962 (Perpustakaan Nasional RI)

19 Agu 2020
2 menit membaca

Diperbarui: 2 Agu

SEKIRA pukul 10.00 pagi tanggal 17 Agustus 1945, sekitar 1000 orang telah berkumpul di Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Meski masih dalam suasana tegang, mereka begitu antusias menyaksikan detik-detik pembacaan naskah proklamasi oleh Sukarno-Hatta. Para tokoh kunci perjuangan bangsa juga telah bersiap mengikuti upacara khidmat dan bersejarah itu.


Namun di antara tokoh-tokoh yang hadir, sosok Ahmad Subardjo tidak terlihat. Padahal sebagai salah satu perancang naskah proklamasi, kehadirannya sangat dinanti. Dia juga diharapkan mendampingi Sukarno-Hatta dalam prosesi pembacaan teks kemerdekaan rancangannya tersebut.


Sukarno yang tetap menginginkan kehadiran Ahmad Subardjo kemudian mengutus dua orang ke kediamannya. Ketika sampai, mereka mendapati menteri luar negeri pertama Indonesia itu tengah beristirahat di tempat tidurnya. Dia tampak kelelahan. Bahkan Ahmad Subardjo tidak terlihat akan bersiap untuk pergi kemanapun.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page