top of page

Hasil pencarian

9869 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Persahabatan Raja Ali Haji dengan Von de Wall

    Pada 1995, sebuah buku berjudul  Dalam Berkekalan Persahabatan  atau  In Everlasting Friendship: Letters from Raja Ali Haji , terbit di Leiden, Belanda. Penyuntingnya seorang Jerman bernama Van der Putten, dan seorang Melayu bernama al-Azhar. Buku itu berisi surat-surat Raja Ali Haji, seorang penulis kenamaan Melayu, kepada sahabatnya Von de Wall, seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman, selama periode 1857-1872. Selama bertahun-tahun, keduanya berusaha mencari, dan mengumpulkan surat-surat tinggalan Raja Ali Haji yang sebagian besar tersimpan di Jakarta dan Belanda. Surat yang bisa ditemukan jumlahnya sangat terbatas karena banyak yang rusak dimakan usia. Itu pun hanya surat milik Raja Ali Haji. Sedangkan tinggalan Von de Wall hampir tidak ada jejaknya. Dalam surat-suratnya, Raja Ali Haji memperkenalkan dirinya secara lengkap beserta gambaran fisik serta wataknya. Kepada kawan Eropanya, dia bercerita banyak tentang kehidupan pribadinya. Lebih dari itu, Raja Ali Haji juga menceritakan alasan dan tujuannya mengarang, tentang keluarga, lingkungan tempat tinggal, kesehatan, sampai kesusahannya. “Kepada Asisten Residen Riau itu, Raja Ali Haji bahkan menulis persoalan amat pribadi termasuk lemah syahwat,” tulis Taufik Ikram Jamil dalam “Antara Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dan Raja Ali Haji: Dua Cahaya dari Satu Kutub” dimuat  1000 Tahun Nusantara  karya J.B. Kristanto Bagaimana keduanya bisa berkarib? Menyusun Kamus Melayu Dalam surat-surat yang dikumpulkan Van der Putten dan al-Azhar, termuat  Dalam Berkekalan Persahabatan , disebutkan bahwa pertemuan pertama Raja Ali Haji dan Von de Wall terjadi pada 1857 di Riau. Raja Ali Haji telah dikenal sebagai pengarang terkemuka Riau Lingga, sementara Von de Wall menjabat Asisten Residen Riau. Ketika itu Von de Wall sebenarnya tengah menjalankan dua tugas: menjadi asisten residen dan menyusun kamus Belanda-Melayu. Menurut Hendrik M.J. Maier dalam  Raja Ali Haji dan Hang Tuah: Arloji dan Mufassar , tugas pertama hanyalah tugas sampingan, sedangkan pekerjaan pokoknya adalah penyusunan kamus Belanda-Melayu. “Tugas resminya ialah menyusun kamus bahasa dan tatabahasa Melayu yang boleh dipegang sebagai pedoman oleh pegawai negeri. Tetapi, tidak disangsikan Von de Wall diharapkan pula memberi taklimat kepada pegawai atasannya mengenai perkembangan politik dan ekonomi di kepulauan Riau,” kata Maier. Hermann Theodor Friedrich Karl Emil Wilhelm August Casimir Von de Wall lahir di Giessen, Jerman pada 1809. Dia pertama kali menginjakkan kakinya di Hindia-Belanda pada 1829 sebagai sersan pasukan berkuda ketentaraan Belanda. Pada 1831 dia dipromosikan menjadi pemimpin suatu pasukan pribumi di Cirebon. Karir militer Von de Wall dilepas setelah pada 1834 diangkat menjadi pemimpin sipil di Kalimantan. Selama hampir dua dasawarsa beriktunya dia mengabdikan diri pada pemerintah kolonial Belanda, dengan menempati sejumlah jabatan penting di Kalimantan. Salah satu prestasi Von de Wall yang membuat pejabat tinggi Belanda terkesan adalah ketika dia berhasil mengadakan perjalanan untuk menjalin hubungan baik dengan penguasa-penguasa di pedalaman Kalimantan. Di Kalimantan, Von de Wall menunjukkan ketertarikannya terhadap bahasa Melayu. Dia pun lalu diminta oleh pemerintah pusat di Batavia untuk mengerjakan kamus Belanda-Melayu, yang keberadaannya amat penting dalam melanggengkan kekuasaan mereka di tanah jajahannya. Von de Wall menerima jabatan asisten residen sebagai kompensasi tugas tersebut, dengan bayaran mencapai 1.200 gulden sebulan. “Penyusunan kamus bahasa Melayu-Belanda dianggap sebagai tugas yang amat mustahak karena pemerintah Belanda didesak oleh perlunya pedoman ejaan dan pengembangan kosakata baku untuk pendidikan,” ungkap Jan van der Putten dan al-Azhar Pada 1857, Von de Wall tiba di Riau. Salah satu kesultanan Melayu di Pulau Sumatra tersebut terpilih sebagai tempat penelitian untuk penyusunan kamus karena dianggap memiliki kebahasaan Melayu yang paling asli dan murni dibandingkan daerah lain di Nusantara. Pada waktu itulah, Von de Wall pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Raja Ali Haji. Dalam surat yang ditinggalkan Raja Ali Haji, diceritakan bagaimana pertemuan pertamanya dengan sarjana Eropa tersebut. Dikatakan Raja Ali Haji bahwa dia dikenalkan oleh Residen Neuwenhuyzen kepada seorang pejabat pemerintah baru yang diberi tugas “memungut bahasa-bahasa Melayu”. “Maka dari karena inilah, apa hal ihwal saya dahulukan dengan setahu tuan juga, karena itulah jalan adab dan hormat di dalam kitab-kitab peraturan sahabat persahabatan orang-orang Islam adanya, sudah habis putih hati ikhlas saya kepada tuan serta putus pada pikiran saya yang tuan itu semata-mata mencari kebajikan atas saya jua,” kata Raja Ali Haji, sebagaimana termuat Maier. Menjalin Kedekatan Setelah pertemuan pertama, Raja Ali Haji dan Von de Wall semakin sering bertemu. Raja Ali Haji menjadi informan bagi Von de Wall dalam penyusunan kamus Belanda-Melayu. Dia juga membantu kawan Eropa-nya itu menerjemahkan dan mengumpulkan naskah-naskah di Kesultanan Riau Lingga, serta menyusun kosa-kata untuk kamus. Von de Wall tinggal di Tanjung Pinang, sedangkan Raja Ali Haji tingal di Penyengat. Jarak kedua tempat itu, imbuh Maier, lebih kurang satu jam naik perahu kecil. Pertemuan mereka biasanya diisi dengan saling bertukar ilmu. Von de Wall tentang kebahasaan Melayu, sementara Raja Ali Haji tentang pengetahuan Barat yang tidak pernah dia temukan di tempat kelahirannya. “Pertemuan itu semacam penjelmaan pertemuan dua kebudayaan, dua pandangan hidup, seperti dua kalajengking yang bersangkutan dan tidak berlepasan lagi,” ucap Maier. Pada awal terbentuknya kerja sama antara Raja Ali Haji dengan Von de Wall, ikatannya tidak didasarkan pada landasan formal. Raja Ali Haji hanya menerima imbalan berupa hadiah, seperti senjata dan buku, bukan uang. Baru setelah beberapa tahun bekerja dia mendapat tunjangan sebesar 30 rial sebulan. Hubungan persahabatan Raja Ali Haji dan Von de Wall kian erat seiring dengan banyaknya pertemuan keduanya dalam menyusun kamus Belanda-Melayu. Surat-surat yang ditinggalkan Raja Ali Haji juga memberi kesan bahwa sastrawan Riau itu semakin membuka hatinya kepada kawan lain bangsa itu. Ketika sedang masa sulit akibat kekurangan uang, Raja Ali Haji selalu bercerita kepada Von de Wall. Dia juga akan mengutarakan kesedihannya ketika terjadi masalah di lingkungannya. Raja Ali Haji tak segan menceritakan segala hal kepada Von de Wall, termasuk masalah syahwatnya. Bahkan ketika Von de Wall sakit, Raja Ali Haji akan merasa bersedih. “Demi persahabatannya, Raja Ali Haji berani membuka diri secara halus dan sopan. Atas nama kerja sama, dia tidak malu meminta benda yang bermacam-macam. Permintaan itu biasanya tertanam dalam cerita yang cukup menyejukkan,” tulis Van der Putten dan al-Azhar. Tidak hanya dekat dengan Von de Wall, Raja Ali Haji juga cukup akrab dengan pejabat pemerintah Belanda lainnya. Dia kerap dihadiahi berbagai macam buku dari Timur Tengah oleh gubernemen di Batavia. Berbagai permintaannya pun sering dikabulkan, seperti ketika dia meminta sebuah senapan, lilin, mesin cetak, rokok, hingga perekat surat berwarna-warni.  Setelah menyelesaikan pekerjaan membuat kamus Belanda-Melayu, kedekatan Raja Ali Haji dan Von de Wall masih terjalin baik. Keduanya tidak pernah lupa saling bertukar surat. Namun semenjak kesehatan Von de Wall menurun, Raja Ali Haji jarang bertemu secara langsung. Kawannya itu juga lebih sering pergi ke Jawa untuk pemulihan kesehatannya. Menurut Maier, surat terakhir Raja Ali Haji kepada Von de Wall dikirim pada Desember 1872. Setelah itu tidak ada lagi catatan mengenai komunikasi keduanya. Diketahui bahwa, baik Raja Ali Haji, maupun Von de Wall wafat pada 1873. Sang pujangga meninggal di Pulau Penyengat, sementara kawan Eropa-nya di  Pulau Jawa.

  • Bunuh Diri Massal Penduduk Jerman di Demmin

    Waltraud Reski masih berusia 11 tahun ketika kengerian melanda Demmin, kota kecil 220 kilometer di utara Berlin yang jadi tempat tinggalnya, pada 30 April 1945. Kendati belum paham apa yang sebenarnya sedang terjadi, batinnya diliputi ketakutan ketika mendengar derap langkah dan deru kendaraan tempur Tentara Merah memenuhi Demmin. “Suara ini –tank-tank bergerak masuk– suara yang menakutkan. Setiap kali saya melihatnya dalam sebuah film, sekarang ingatan ini kembali kepada saya,” ujarnya sebagaimana dikutip sejarawan Laurence Rees dalam bukunya yang berjudul Their  Darkest Hour: People Tested to the Extreme in WW II . Sebagaimana warga Demmin umumnya, ketakutan Waltraud timbul akibat berbulan-bulan terus dicekoki berita propaganda oleh pemerintah Jerman-Nazi. Sejak Jerman kalah di Stalingrad, Menteri Propaganda Joseph Goebbels selalu mempropagandakan kengerian yang bakal diterima rakyat Jerman apabila tentara Soviet mencapai tempat tinggal mereka. Dalam pidatonya Goebbels menyatakan begitu “Gerombolan Bolshevik Mongol” –demikan julukan kaum fasis terhadap pasukan Soviet– tiba, mereka akan membumihanguskan kota-kota Jerman yang dilalui, membiarkan penduduk kelaparan, mengirim penduduk kerja paksa ke tundra, dan memerintahkan eksekusi massal. Para prajurit Soviet juga bakal menjarah apa saja yang mereka temui, menyiksa anak-anak sebelum membunuh mereka, dan memperkosa perempuan-perempuan yang ada. Poster-poster miring tentang orang-orang Soviet ditempel di banyak tempat. Tujuan kampanye negatif terhadap Soviet itu adalah untuk mendapatkan dukungan penuh rakyat Jerman. Propaganda tersebut mendapat momennya ketika pasukan Jerman berhasil merebut kembali Desa Nemmersdorf di Prusia Timur dari Tentara Merah pada Oktober 1944. Di sana, pasukan Jerman menemukan jejak pembantaian penduduk desa oleh pasukan Soviet. “Laporan serdadu Wehrmacht bicara tentang sekitar dua puluh kematian –perempuan, anak-anak, dan orangtua. Fakta lain lebih sulit dipastikan, paling tidak karena mesin propaganda di Berlin segera mengirimkan fotografer dan juru kamera untuk melakukan kampanye sensasional,” tulis sejarawan Florian Huber dalam bukunya, Promise Me You’ll Shoot Yourself . Pembantaian di Nemmerdsdorf, The Horror of Nemmerdsdorf, segera menjadi berita yang disuguhkan suratkabar-suratkabar resmi partai maupun yang berafiliasi dengannya selama berminggu-minggu setelah itu. Propaganda itu berhasil mempengaruhi penduduk di berbagai tempat, termasuk Demmin. Waltraud dan keluarganya termasuk yang “termakan” isu tersebut. Keluarga Waltraud telah lama menunggu dengan cemas kenyataan akan tibanya pasukan Soviet. Maka begitu pasukan Soviet tiba di Demmin pada 30 April, mereka langsung masuk ke rumah sambil membarikade pintu-pintu yang ada agar para serdadu Tentara Merah itu tak bisa memasuki rumah mereka. Berbeda dari keluarga Waltraud yang tak memiliki pria karena ayah Waltraud belum kembali dari medan tempur, Gerhard Moldenhauer, seorang kepala sekolah di kota itu yang sejak 1930-an dia merupakan penentang Hitler, memilih melawan ketimbang membiarkan begitu saja pasukan Soviet menduduki kotanya. Setelah mendengar tiga jembatan diledakkan, Moldenhauer langsung mengambil senjatanya. Pertama-tama dia menembak istri dan ketiga anaknya, lalu memberitahu tetangganya bahwa dia baru saja membunuh keluarganya dan setelah itu akan melakukan hal yang sama pada tentara Soviet. Setelah kembali ke apartemennya, Moldenhauer berdiri di tepi jendela dan melepaskan beberapa tembakan ke arah pasukan pembuka tentara Soviet yang bergerak di Treptower Strasse. Beberapa serdadu Soviet langsung roboh dibuatnya. Tak ingin kalah cepat dari tentara Soviet yang bakal mendatangi apartemennya, Moldenhauer lalu menembak kepalanya sendiri. Dia mati. Bunuh diri menjadi pilihan banyak warga Demmin ketika kota itu diduduki pasukan Soviet di pengujung Perang Dunia II. Selain karena kota itu telah ditinggalkan pejabat, militer, maupun milisi Nazi, penduduk tak bisa melarikan diri karena tiga jembatan yang melintasi dua sungai yang memagari Demmin telah dihancurkan militer Jerman ketika mereka mundur. Penghancuran jembatan dilakukan agar mencegah pasukan Soviet bergerak lebih jauh ke Rostok. Namun di sisi lain, penghancuran jembatan itu membuat penduduk tak bisa melarikan diri dari Demmin. Para penduduk yang sudah termakan propaganda itu pun akhirnya memilih bunuh diri ketimbang mesti menghadapi kekejaman pasukan Soviet. Lothar Buchner, anggota Dinas Perburuhan Nasional berusia 27 tahun, merupakan di antara sekian banyak warga Demmin yang enggan mengahadapi kekejaman Soviet. Setelah mencekik dengan tali hingga tewas Georg-Peter, bayi berusia tiga tahun anggota keluarganya, Lothar gantung diri. Langkahnya lalu diikuti istrinya, saudara perempuannya, dan ibu serta neneknya. Tindakan Lothar juga dilakukan seorang polisi tua dan istrinya. Keduanya sama-sama gantung diri. Tindakan pasangan suami-istri itu kemudian diikuti dua putrinya. Hal serupa juga seorang istri muda letnan Jerman yang tinggal berdua dengan bayinya yang berusia tiga tahun. Pun dengan keluarga Bewersdorff, direktur asuransi kesehatan umum kota. Setelah menghabisi semua anggota keluarganya, termasuk dua cucunya yang berusia dua dan sembilan tahun, dia gantung diri. Cara berbeda dengan tujuan sama dilakukan putri seorang tuan tanah Waldberg dan tukang kayu berusia 47 tahun beserta istrinya. Mereka menembak kepala mereka sendiri untuk mati. Sekira 21 nyawa warga Demmin melayang pada 30 April itu.    “Dua puluh satu kasus bunuh diri ini –menggolongkan kematian anak-anak sebagai 'bunuh diri pembunuhan', sejalan dengan bahasa hukum yang umum– dicatat dalam kematian Kantor Catatan Sipil Demmin. Melihat daftar dan melihat serentetan kasus bunuh diri yang tiba-tiba di Demmon pada 30 April 1945, bahkan sebelum invasi Soviet, Anda merasa bahwa ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya –tetapi dua puluh satu kasus bunuh diri itu hanyalah permulaan,” tulis Florian Huber. Banyak penduduk yang kadung tewas itu sebetulnya tertipu propaganda Nazi. Di lapangan, kenyataannya banyak prajurit Tentara Merah yang jauh berbeda dari yang dipropagandakan. Terlebih setelah para serdadu Soviet itu melihat bendera putih tanda menyerah berkibaran di rumah-rumah hingga menara gereja. Maria Buske, istri pendeta setempat yang menjadi pekerja palang merah, bersama kedua putranya yang masih kecil dan ayahnya serta belasan pengungsi yang menumpang di rumahnya, merupakan di antara yang mengalami perlakuan baik pasukan Soviet itu. Awalnya mereka hendak mengungsi, namun gagal karena jembatan telah diledakkan. Mereka akhirnya berdesakan di rumahnya yang kecil sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa di blok rumahnya di Baustrasse. Tak lama kemudian, mereka kedatangan regu perintis pasukan Soviet berisi empat perwira plus 20 puluh prajurit yang membangun jembatan sementara. Kendati sejumlah prajurit meminta paksa arloji dan dan cincin kawin Maria setelah menggeledah rumah, mereka mengizinkan Maria dan keluarganya tetap tinggal di rumah itu. Bahkan, di rumah mereka ditempatkan seorang prajurit penjaga. Hal serupa dialami Irene Broker. Kendati sempat bersembunyi di galian dengan ditutupi tumpukan kompos, dia ditemukan seorang prajurit Soviet tua lalu dibawa kembali ke rumahnya. “Dia memberitahu kami bahwa tidak semua tentara itu baik – ada lebih banyak lagi yang datang dan kami harus bersembunyi. Kami melihat pesawat Rusia melintasi kota. Pusat kota diselimuti asap tebal. Ada kebakaran di semua tempat. Ketika saya melihat keluar jendela loteng, saya bisa melihat api berkobar ke langit,” kata Irene, dikutip Huber. Perlakuan baik yang diberikan tentara Soviet juga diterima Marie Dabs di rumah-pertaniannya, Deven Farm. Seorang prajurit Soviet yang mendatangi Deven Farm memberitahu Maria dengan bahasa Jerman bahwa tak perlu takut pada tentara Rusia. Namun, para serdadu Soviet kemudian menjarahi apapun yang ada di Deven Farm. Menjelang tengah malam, mereka memerintahkan Marie meninggalkan rumah-pertaniannya. Dengan membawa barang-barang yang tersisa, Marie membawa dua putrinya disertai Martha pembantunya mengungsi ke hutan di pinggiran kota. Namun, di tengah perjalanan mereka dihentikan sekelompok tentara. Seorang prajurit memerintahkan Nanni, putri Marie yang berusia 19 tahun, agar kembali ke Deven Farm. Sambil menangis Marie Dabs memohon agar perintah itu tak dijalankan. Beruntung beberapa perwira tinggi Soviet muncul dan membebaskan gadis itu. Marie, anak perempuan, anak laki-laki, dan Martha langsung lari menuju Deven Wood. Nahas, mereka ditangkap oleh lebih banyak tentara sebelum mereka sampai tujuan. Beberapa di antara mereka merampas tas Marie dan memeriksanya, sementara yang lain membawa lari Martha ke hutan. Marie dan anak-anaknya terpisah dari Martha ketika akhirnya mencapai Deven Wood. Di hutan itu mereka menghabiskan malam yang dingin bersama beberapa pengungsi lain.   Sementara itu, Martha tak mereka ketahui lagi nasibnya. Kemungkinan dia diperkosa para serdadu Soviet. Pemerkosaan merupakan perbuatan yang umum dilakukan serdadu Tentara Merah bahkan sejak sebelum memasuki wilayah Jerman. “Biarawati, gadis-gadis, perempuan tua, ibu hamil dan ibu yang baru saja melahirkan semua diperkosa tanpa belas kasihan,” tulis jurnalis Antony Beevor dalam Berlin: The Downfall 1945 . Pemerkosaan oleh Tentara Merah itu pula yang paling ditakuti para perempuan di Demmin. Maka begitu mendengar kedatangan mereka, ibu dan nenek Waltraud segera membarikade pintu-pintu di rumahnya. Namun upaya itu jelas tak bisa mencegah prajurit Tentara Merah masuk rumah mereka. Kendati berhasil melarikan diri dari rumah, mereka kemudian tertangkap sepasukan Tentara Merah. Sekelompok prajurit lalu membawa paksa paksa ibu Waltraud dan memperkosanya. “Kami mengejar mereka dan berteriak, tapi mereka mendorong kami dengan popor senapan,” kata Waltraud, dikutip Laurence Rees. Antara 10-20 kali sang ibu dipaksa melayani nafsu binatang para serdadu Soviet di malam awal Mei 1945 itu. Saking frustrasinya, sang ibu lalu memeluk kedua putrinya untuk diajak bunuh diri dengan nyemplung ke sungai yang airnya deras. “Dan pada titik inilah nenek Waltraud menyelamatkan nyawa mereka untuk terakhir kalinya. Dia menahan ibu Waltraud dan berteriak, ‘Tolong jangan lakukan ini! Apa yang sedang kamu lakukan? Apa yang harus kukatakan pada suamimu saat dia kembali dari medan perang dan kau pergi?’ Akibatnya, kata Waltraud, ibunya ‘menjadi lebih tenang’ dan membiarkan dirinya terbebas dari sungai dan pikiran untuk bunuh diri,” sambung Laurence. Dalam perjalanan, mereka melihat banyak ibu-ibu mengingatkan bayi-bayi mereka di pundak mereka lalu mencemplungkan diri ke sungai itu. Bunuh diri menjadi pemandangan umum di Demmin saat itu hingga setidaknya tiga hari setelah kedatangan pasukan Soviet. Bunuh diri gelombang kedua itu dilakukan penduduk Demmin sebagai akibat perkosaan masif yang dilakukan Tentara Merah. “Itu adalah malam dingin dan mengerikan yang kami habiskan di lantai hutan yang gundul... Saya membawa salah satu mantel bulu saya, dan selimut saya, jadi saya bisa menutupi anak-anak. Di kejauhan kami mendengar teriakan para perempuan yang disiksa dan diperkosa, dan melihat api pertama di atas kota yang terbakar,” kata Marie Dabs. Selain mencemplungkan diri ke sungai, mereka bunuh diri dengan cara menenggelamkan anak-anak dan anggota keluarga mereka lalu mengikuti, menembak, gantung diri, minum sianida, atau menyilet nadi mereka. Namun, tak semua upaya bunuh diri itu berhasil. Banyak upaya itu digagalkan serdadu Soviet. Seorang serdadu bahkan sampai berulangkali memotong tali yang digunakan seorang ibu untuk gantung diri. Upaya lain yang gagal, terjadi secara alami seperti tak mati setelah menembakkan diri sendiri, atau tak mati setelah mencemplungkan diri ke sungai. Banyak bayi yang ditenggelamkan oleh ibu mereka juga selamat. Betapapun, lebih dari seribu jiwa warga Demmin melayang akibat bunuh diri massal itu. Bunuh diri massal Demmin menjadi bunuh diri massal terbesar di Jerman selama Perang Dunia.

  • Ketika THR Bikin Geger

    DALAM beberapa hari terakhir, dan tentu saja juga dalam beberapa hari ke depan, perhatian masyarakat Indonesia tersedot pada suatu jenis pendapatan di luar gaji reguler yang diterima para pekerja di Indonesia menjelang Hari Raya Idul Fitri, yaitu THR alias Tunjangan Hari Raya. Pemerintah telah memastikan bahwa Pegawai Negeri Sipil (PNS) akan menerima THR pada H-10 sebelum Lebaran, atau pada awal Mei 2021. Pemerintah juga mewajibkan para pelaku usaha untuk memberikan THR kepada buruhnya tanpa dicicil. Akan ada sanksi bagi yang tidak membayarkan THR. Pro dan kontra pun bermunculan.

  • Kado Pemuda untuk Belanda di Bulan Puasa

    Belanda melancarkan agresi militer pertama pada 21 Juli 1947 ketika umat Islam sedang puasa Ramadan 1366 Hijriyah. Setahun kemudian, pada 21 Juli 1948, tepat pada hari ulang tahun agresi militer Belanda yang juga pada bulan Ramadan 1367 Hijriyah, terjadi peristiwa menggemparkan, yaitu pelemparan granat di dekat bioskop Rex di Senen, Jakarta. Kira-kira pukul 22.00 WIB seseorang berjalan di Kramatplein, diikuti oleh dua orang di belakangnya. Atas petunjuk kedua orang itu, dia melemparkan granat ke arah kedai kopi yang terletak di persimpangan jalan. Granat mengenai meja, jatuh lalu meledak. Di antara orang yang sedang minum-minum di sana, lima orang serdadu KL (Koninklijk Leger atau Tentara Kerajaan Belanda) dan lima orang preman terkena pecahan granat dan menderita luka-luka. Dua serdadu yang luka berat dibawa ke rumah sakit, yang lainnya bisa langsung pulang ke tangsi. Di antara preman itu, seorang Indonesia dan seorang Tionghoa juga luka parah, yang lainnya, seorang Indonesia, seorang Tionghoa, dan seorang Belanda luka ringan.n. Polisi segera datang untuk melakukan pemeriksaan. Polisi militerdan sepasukan dari basis komando kemudian menggerebek pemuda di mana-mana. Mereka menangkap 32 orang. Atas petunjuk salah seorang yang ditangkap, dilakukan penggeledahan di rumah salah seorang yang mereka tangkap itu. Di sini ditemukan dua buah granat tangan merek Mill’s 36, jenisnya sama dengan yang dilemparkan di kedai kopi.Ternyata,di antara 32 orang yang ditangkap itu terdapat pelaku pelemparan granat.Dia mengakui perbuatannya setelah pemeriksaan yang lama. A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia , menyebutkan bahwa koran-koran Belanda menuduh yang berbuat itu adalah TNI dari Yogyakarta, seperti dengan tegas dikatakan oleh Het Dagblad . Dikatakan pula bahwa pelempar granat itu berpakaian seragam tentara Belanda dengan memakai pet berlambang singa seperti yang dipakai KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Dia bernama Jumingan bin Surokromo, seorang anggota Arbeiderscompagnie  di Berelaan. Organisasi yang bertanggung jawab atas pelemparan granat itu bernama Pusat Organisasi Siasat Rahasia (POSAR 9) yang dipimpin oleh Suhadono bin Utomo yang memakai nama samaran Yudo. Dia berhubungan dengan Salendu dkk. di Cipinang dan Usman Sumantri dari SP 88 (Satoean Pemberontak). “POSAR 9 adalah salah satu organisasi gerilya di dalam kota yang mengganggu Belanda dari belakang. Mereka telah membentuk sel-sel dalam KNIL. Mereka mempunyai antara lain ‘fonds Lebaran’ dan sanggup membeli senjata-senjata,” tulis Nasution. Beberapa waktu setelah pelemparan granat itu, polisi menyita sepucuk mitraliur (senapan mesin) dan stengun dari Mukri, anggota POSAR 9 di Tanah Abang. Pemimpin aksi peggranatan itu adalah Suwagi bin Utomo, seorang serdadu pada Militaire Luchtvaart (Angkatan Udara Hindia Belanda). Anggotanya Sutadi dari Alg.   Bewakingscompagnie  (kompi pengawal) yang aktif dalam “fonds Lebaran” , Tiron, dan Sukaman yang juga anggota KNIL. Pengadilan Negeri yang diketuai oleh Cohen (mungkin Mr. Cohen Stuart) menjatuhkan hukuman mati kepada Yudo, Suwagi, dan Jumingan. Sedangkan anggotanya: Sukaman bin Wongsotaruno dihukum 9 tahun penjara, Darmowarsito bin Singodikromo (5 tahun), Tiron bin Gugis (13 tahun), Darmoraharjo bin Marsudiyono (9 tahun), Laso bin Makasaran (2 tahun), dan J. Harianya (9 tahun). “Pembela Mr. Mohd. Syah menerima hukuman penjara itu, tetapi menolak hukuman mati, mengingat latar belakangnya adalah politik, dan membandingkannya dengan kaum partisan di Eropa yang di mana-mana justru disanjung-sanjung,” tulis Nasution. Namun, hakim Cohen menolak kasus itu sebagai kasus politik. Menurutnya, perbuatan tersebut adalah tindak kriminal.

  • Petualangan Hiu Kencana di Pakistan

    SURABAYA, JANUARI1966. Letnan Satu Budi Handoko tetiba mendapat perintah untuk bersiap menyelam. Dikatakan kepada awak kapal selam Korps Hiu Kencana Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) itu bahwa dirinya akan bertugas selama 3 bulan. “Waktu itu belum dikasih tahu mau ditugaskan kemana, hanya diperintahkan untuk menyiapkan pakaian saja,” kenangnya. Dengan kapal selam RI Nagaransang yang dikomandani oleh Kapten (P) Basoeki, Budi kemudian bergerak menuju Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta. Bersama RI Nagaransang, ikut pula kapal selam RI Bramastra (dikomandani oleh Kapten Jasin Soedirdjo). Setelah mengisi logistik di lepas pantai Jakarta, dua kapal selam jenis Whiskey buatan Uni Sovyet itu meluncur ke arah Samudera Indonesia. “Barulah di tengah Samudera Indonesia, ada pemberitahuan bahwa kami akan dikirim ke Pakistan guna membantu negara tersebut berperang melawan India,” ungkap Budi. * Jakarta, 10 September 1965. Panglima Angkatan Udara Republik Islam Pakistan Marsekal Madya Asghar Khan bertemu dengan Presiden Sukarno. Dalam kesempatan tersebut, selain menyampaikan surat dari Presiden Pakistan Ayub Khan, Asghar juga meminta dukungan kepada Bung Karno terkait konflik mereka dengan India. “Serangan India ke Pakistan itu sama dengan serangan ke Indonesia juga…”jawab Sukarno seperti dikutip oleh buku Story of  the Pakistan Navy, 1947—1972 (Riwayat Angkatan Laut Pakistan, 1947—1972) terbitan Seksi Sejarah Markas Besar Angkatan Laut Pakistan). Singkat cerita, Indonesia menyanggupi untuk mendukung Pakistan tidak hanya sebatas dukungan politik saja. Presiden Sukarno pun memerintahkan para panglima-nya untuk mengirimkan sejumlah peralatan militer ke Pakistan, meliputi beberapa tank baja, pesawat tempur, kapal perang dan kepal selam. ALRI sendiri mengirimkan Gugus Tugas ke-10-nya yang dipimpin oleh Letnan Kolonel (Laut) T.A. Natanegara. Kekuatan ALRI itu terdiri dari dua kapal cepat roket, empat kapal cepat torpedo, lima tank ampibi dan dua kapal selam. “Untuk kapal selam yang dikirim adalah RI Nagaransang dan RI Bramastra…” demikian menurut buku Sewindu Komando Djenis Kapal Selam, 12 September 1967 , yang ditulis dan diterbitkan oleh Seksi Buku Panitia HUT Sewindu Komando Djenis Kapal Selam. * Setelah 10 hari bergerak di lautan lepas, RI Nagaransang dan RI Bramastra pun sampai di Karachi, ibu kota Pakistan saat itu. Dengan barisan kehormatan, mereka pun disambut oleh pihak Angkatan Laut Pakistan dan langsung ditempatkan di sebuah mess. “Sejak itulah kami kerap melakukan patroli bersama dengan kapal selam Pakistan,” kenang Budi. Sejatinya ketika Gugus ke-10 ALRI tiba di Pakistan, kesepakatan damai antara Pakistan dan India baru beberapa hari saja ditandatangani oleh kedua pimpinan negara tersebut di Tashkent, Uni Sovyet. Namun mengingat situasi kawasan tidak bisa diduga, pihak Pakistan tetap meminta “sukarelawan” Indonesia untuk tetap siap-siaga. Termasuk RI Nagaransang dan RI Bramastra. “Untuk kebutuhan hidup (termasuk gaji perbulan dengan mata uang dollar), kami dijamin oleh pemerintah Pakistan…” ungkap Budi. Menurut Budi, tak ada sama sekali kontak senjata terjadi dengan India selama rombongan Indonesia ada di Karachi. Kegiatan militer hanya sebatas patroli dan latihan bersama saja. Jika pun ada kontak radio dengan kapal selam India, itu sebatas hanya “pamer kekuatan” saja untuk sekadar perang urat syaraf. Budi mengaku selama hidup di Karachi semuanya memang serba terjamin. Bukan saja soal makanan, tetapi juga mereka difasilitasi berbagai hiburan seperti menonton film di bioskop secara gratis. Namun soal makanan, sesungguhnya orang-orang Indonesia merasa tidak begitu cocok. “Mereka kan makanannya itu sejenis roti dan karee ya, kita sebetulnya kurang suka itu,” ujar Budi. Awal Maret 1966, misi militer  Indonesia di Pakistan yang diberi sandi Operasi Nasakom itu pun dinyatakan selesai. Saat melepas kru Hiu Kencana, Presiden Ayub Khan memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada segenap anggota Gugus ke-10 ALRI. Mereka, kata Ayub, merupakan contoh terbaik “prajurit-prajurit Ampera” yang bisa dicontoh oleh prajurit-prajurit dan rakyat Pakistan. “Ketika meninggalkan Karachi, kami dilepas dengan barisan kehormatan pula seperti saat kali pertama kami datang,” kenang Budi. Maka berakhirlah petualangan Korps Hiu Kencana ALRI di Pakistan.

  • Sejarah Panjang Nerazzurri dalam Inter 110

    WALAU langit sudah temaram, suasana di Stadio Giuseppe Meazza di Milan, Italia pada 22 Januari 2018 justru makin semarak. Puluhan ribu Interisti  (fans Inter Milan) memajang wajah optimis. Nyanyian dan sorakan penyemangat sudah menggelora walau sebagian dari mereka masih berada di antrean gerbang masuk stadion untuk menyaksikan Inter menjamu AS Roma. “Inter adalah segalanya!” seru seorang fans kepada seorang wartawan TV. “Inter adalah tim terbaik!” ujar fans lain. “ Forza  Inter!” jadi seruan penutup komentar sejumlah fans itu yang dikeluarkan sembari mereka membentangkan spanduk dan mengibarkan bendera hitam-biru yang jadi warna kebanggaan I Nerazzurri  (julukan Inter). Adegan berganti ke laga sengit Inter kontra AS Roma. Scene -nya silih berganti dengan adegan bos Inter, Steven Zhang, yang berjalan santai menuju lorong stadion. Zhang jadi satu dari puluhan ribuan pemuja Inter yang berjingkrak kegirangan ketika empat menit jelang waktu pertandingan berakhir, Matías Vecino mencetak gol penyeimbang kedudukan lewat sundulannya. Cuplikan-cuplikan adegan yang muncul bergantian itu turut menaikkan adrenalin penonton dalam pembuka dokumenter bertajuk Inter 110  garapan sutradara Mirwan Suwarso yang dibantu editor Marcos Horacio Azevedo. Dokumenter ini dibuat dalam rangka perayaan milad ke-110 klub pada 9 Maret 2018. Inter 110 mengupas sejarah klub tersebut sejak berdirinya akibat “perceraian” dengan tim sekota, AC Milan. Fakta-fakta historisnya dihadikan lewat rekaman-rekaman lawas hitam-putih maupun penuturan 13 narasumber yang mewakili era masing-masing, di antaranya eks pemain Mario Corso (1957-1973), Giuseppe Baresi (1976-1992), Giuseppe Bergomi (1979-1999), Javier Zanetti (1995-2014), Marco Materazzi (2001-2011); eks pelatih Giovanni Trapattoni (1986-1991); eks Presiden Massimo Moratti (1995-2013); jurnalis senior Fabio Monti; serta Gianfelice Fachetti yang mewakili mendiang ayahnya, Giacinto Fachetti. Mereka mengisahkan sejarah Inter mulai dari dibangunnya tim di awal abad ke-20 hingga insan-insannya yang berpengaruh, seperti bintang legendaris Giuseppe Meazza. “Jika dinding (stadion) bisa bicara, mereka akan bercerita banyak hal tentang Meazza dan tim Inter. Banyak yang menganggap Meazza bermain dengan membungkus bola di kakinya. Itu karena tidak ada yang bisa mencuri bola darinya. Dia mewakili Inter di masa itu dengan cara terbaik. Skill dan permainan yang modern mampu memukau para fans,” ungkap Monti tentang Meazza. Empat legenda "Grande Inter": Alessandro Mazzola, Aristide Guarneri, Mario Corso & Gianfranco Bedin. ( inter.it ). Masa keemasan “Grande Inter” (1960-1967) yang dibesut pelatih visioner Helenio Herrera dengan tulang punggung tim Giacinto Fachetti, Armando Picchi, Sandro Mazzola, dan Luis Suárez jelas tak dilewatkan. Di masa itu Inter digdaya merebut Scudetto (gelar juara) Serie A musim 1964-1965 dan 1965-1966, serta European Cup (kini Liga Champions) 1963-1964 dan 1964-1965. “Grande Inter adalah tim istimewa, bukan hanya untuk fans tapi bagi pecinta sepakbola Italia maupun dunia secara keseluruhan. Pada saat itu Milan menjadi ibukota sepakbola dunia. Masa-masa yang menggembirakan untuk tim biru-hitam serta jadi sejarah tersendiri bagi sepakbola dari kota Madonnina,” kenang Gianfelice Fachetti. Sempat mengecewakan sepanjang 1970-an, Inter bangkit sesaat pada akhir 1980-an. Berpilarkan tiga bintang Jerman, Andreas Brehme, Lothar Matthäus, dan Jurgen Klinsmann, pelatih Trapattoni menghadirkan lagi gelar Serie A untuk Inter di musim 1988-1989. Namun, Inter kembali tenggelam di era 1990-an. Ketidakjelasan visi membuat Inter berkubang di bawah rival-rivalnya macam AS Roma, AC Milan, dan Juventus sepanjang dekade itu. Ketika Massimo Moratti mengambilalih kepemimpinan klub dan mendatangkan bintang Brasil Ronaldo Luís Nazário de Lima pada 1997, visi Inter mulai kembali jelas. Di milenium baru, Inter kembali harus bersaing sengit di antara “Magnificent Seven”. Baru pada 2010 di bawah besutan José Mourinho Inter bisa mengulang masa keemasannya dengan menyabet treble winners : Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions.  Bos Inter Milan saat ini, Zhang Kangyang alias Stephen Zhang. ( inter.it ). Namun, lagi-lagi masa indah itu tak awet. Di musim-musim setelahnya, Inter lagi-lagi jatuh di bawah superioritas AC Milan dan Juventus. Inter bahkan pernah mengecap tujuh tahun puasa Liga Champions. Baru di musim 2018 titik awal kebangkitan Inter kembali muncul. “Inter punya sejarah luar biasa. Inter yang sebenarnya sudah ditentukan 110 tahun lalu. Kembali masuk Liga Champions setelah absen enam-tujuh tahun yang merupakan kompetisi terbaik, itu seperti sebuah sinyal. Di saat yang bersamaan juga jadi titik awal (kebangkitan) untuk kami. Seratus sepuluh tahun ke depan diharapkan akan sama fantastisnya atau bahkan lebih dari 110 tahun sebelumnya,” tandas Zhang. Untuk lebih menyelami dan menghayati historis Inter, baiknya Anda tonton sendiri Inter 110 di Mola TV . Feel -nya akan lebih terasa mengingat pada Minggu (2/5/2021) Inter sukses menyegel Scudetto ke-19 dengan menyisakan empat laga pamungkas di musim 2020-2021. Sepihak Rangkaian footage era modern dan lawas yang diiringi music scoring orkestra cukup mampu membikin suasana hati penonton naik-turun menyaksikan sejarah Inter. Hanya saja, transisi peralihan gambar wawancara narasumber yang silih berganti secara cepat cukup mengganggu. Di beberapa bagian, kata-kata narasumber acap terpotong. Sepatah-dua patah kata atau sepotong kalimat baru dilontarkan narasumber, sudah langsung berganti penuturan narasumber lain. Alhasil, penonton tak diberi kesempatan mencerna informasi narasumber sebelumnya. Bahasa juga menjadi soal. Mayoritas narasumber melontarkan pernyataan dalam bahasa Italia. Sialnya, tidak ada pilihan subtitle bahasa Inggris. Yang ada hanya terjemahan bahasa Indonesia di beberapa bagian yang terjemahannya kurang rapi sehingga logika kalimatnya membingungkan. Skuad "La Grande Inter" di musim 1964-1965. ( inter.it ). Lalu, subyektivitas dalam dokumenter ini cenderung kuat. Hampir semua narasumber adalah orang Inter, mulai mantan pemain, eks-pelatih, hingga bekas presiden klub. Satu-satunya narasumber dari luar hanya jurnalis senior Corriere della Sera Fabio Monti. Yang pasti, Inter 110 bukan rangkuman A-Z tentang Inter. Dokumenter ini juga sama sekali tak memberi ruang terhadap beberapa detail yang tak kalah penting bagi sejarah Inter, semisal tentang sembilan tokoh pendirinya (Giorgio Muggiani; Enrico, Arturo, dan Carlo Hintermann; Pietro Dell’Oro; Hugo dan Hans Rietmann; Carlo Ardussi; serta Giovanni Paramithiotti). Tim produksi juga tak menyinggung tentang logo klub, kefanatikan Interisti , atau markas tim. Soal yang terakhir, selain Stadio Giuseppe Meazza yang jadi kandang bersama Inter dan AC Milan, Inter juga sempat berkandang di Arena Civica pada 1930-1958. Siapa Giuseppe Meazza? Hal terakhir yang dijadikan bahasan adalah sosok Meazza. Kendati namanya diabadikan menggantikan San Siro sebagai nama stadion pada 3 Maret 1980, kiprahnya hanya sedikit disebut lantaran cerita Inter 110 didominasi era “Grande Inter”. Hanya dua kali namanya disebut Monti dari 13 narasumber. Padahal, seperti diungkapkan Monti di cuplikan wawancaranya, jika dinding stadion bisa bicara maka ia sebagai saksi bisu akan punya banyak cerita tentang Meazza. Bahwa Inter berjaya di era “Grande Inter”, itu memang benar. Tetapi, Inter sampai bisa begitu fondasinya dibangun oleh Meazza sesaat setelah lahir. Meazza yang lahir di Porta Vittoria, Milan, pada 23 Agustus 1910 mengabdi pada 1927-1940 dan 1946-1947. Meski dia pernah membela AC Milan dan Juventus, jasanya pada Inter tetap dihargai sehingga namanya dijadikan nama stadion. Hingga saat ini, belum ada satu pemain Inter pun yang mampu menyamai apalagi melewati rekor golnya untuk Il Biscione (284 gol). Kolase Giuseppe Meazza berseragam Inter Milan. ( inter.it ). Charles F. Church dalam The Blue Century: 1910-2010 mengungkapkan, Meazza dijuluki I Balilla atau si bocah kecil karena posturnya yang pendek. Anak yatim yang ditinggal mati ayahnya di Perang Dunia I itu ditolak tim akademi AC Milan gegara kekurangan fisiknya itu. Interlah yang bersedia menerimanya. “Julukan Il Balilla meluas setelah rekan tim seniornya, Leopoldo Conti, mengejeknya karena masih terlalu muda untuk bermain di tim: ‘Sekarang bahkan kita membiarkan anak-anak Balilla bermain,’” kata Conti, dikutip Church. Meazza dipercaya pelatih Árpád Weisz untuk melakoni debutnya di tim senior Inter pada 12 September 1927 di laga kontra Unione Sportiva Milanese di turnamen Coppa Volta. Dalam kemenangan 6-2 Inter atas US Milanese itu, Meazza menyumbangkan dua gol. Dalam sekejap Meazza memunculkan kekaguman. Tidak hanya rekan-rekan setim senior yang sempat meledeknya, pelatih tim rival AC Milan, Vittorio Pozzo, pun mengakui kedahsyatan permainan Meazza. “Pozzo yang kemudian melatihnya di timnas Italia mengatakan: ‘Memiliki dia (Meazza) di tim Anda berarti Anda sudah merasa unggul 1-0. Setelah debutnya untuk Inter, (suratkabar) La Gazzetta menuliskan: ‘Seorang bintang telah lahir’,” tulis John Foot dalam Winning at All Costs: A Scandalous History of Italian Soccer . Giuseppe Meazza menerima trofi Jules Rimet usai Timnas Italia menjuarai Piala Dunia 1938. ( fifa.com ). Meazza berjasa buat Inter lantaran mempersembahkan empat gelar liga dan satu Coppa Italia. Sementara, publik Italia memujanya karena berhasil membawa Italia juara Piala Dunia 1934 dan 1938. Prestasi itu membuat Meazza menjadi pemain Italia pertama yang mendapatkan sponsor pribadi. Meazza juga jadi satu-satunya pemain timnas yang diperbolehkan merokok, minum sampanye, hingga mendapat pemakluman atas gaya hidupnya yang flamboyan dan gemar keluar-masuk rumah bordil. Pasalnya, semua perilakunya di luar lapangan tak memengaruhi prestasinya. “Meazza menjadi pemain paling terkenal di generasinya, seorang legenda, seorang superstar sepakbola Italia. Pozzo memujinya sebagai pemain visioner, mampu membaca permainan dan memahami situasi agar lini serang tim bisa bekerja secara lancar. Jurnalis Gianni Brera menyebutnya sebagai satu-satunya pemain Italia sensasional yang bisa menyandingi para bintang Brasil dan Argentina,” sambung Foot. Nama Giuseppe Meazza diabadikan jadi nama stadio menggantikan nama Stadio San Siro sejak 1980. ( inter.it ). Saat Italia masuk kancah Perang Dunia II, Meazza hijrah ke AC Milan (1940-1942) dan kemudian Juventus (1942-1943). Ia comeback ke Inter pada 1946 setelah bertualang ke Varese (1944) dan Atalanta (1945-1946) sebagai pemain merangkap pelatih. Ketika Meazza tutup usia pada 21 Agustus 1979 akibat penyakit pankreas, segenap warga Italia berduka. Setahun berselang, AC Milan dan Inter Milan sepakat untuk mengubah nama Stadio San Siro menjadi Stadio Giuseppe Meazza untuk mengenang sosoknya. “Tak diragukan lagi, dia adalah salah satu pesepakbola Italia terbaik sepanjang masa. Dia adalah simbol bagi kebesaran negara kami dan kita sudah semestinya mengenang sosoknya,” tandas Silviano Pioli, rival Meazza di era 1930-an. Data Film: Judul: Inter 110 | Sutradara: Mirwan Suwarso | Produser: Luca De Angelis | Produksi: Mola TV, SuperSoccer TV, Inter Media Production | Distributor: SuperSoccer TV, RAI TV | Genre: Dokumenter | Durasi: 43 Menit | Rilis: 9 Maret 2018 (RAI TV), Mola TV

  • Melihat Pesona Masjid Cut Meutia

    Sebuah bangunan bertingkat tiga bergaya art nouveau di Jalan Taman Cut Meutia, Jakarta Pusat, itu seperti kantor. Tapi sesungguhnya bangunan peninggalan abad ke-19 itu sebuah masjid. Inilah Masjid Cut Meutia. Bangunan masjid dulunya kantor biro arsitek Belanda bernama Naamloze Vennootschap Bouwploeg pada 1879. “Sejarah masjid Cut Meutia pasti sangat panjang. Yang menarik adalah Masjid Cut Meutia ini mengalami beberapa kali pergantian gedung dari awalnya menjadi kantor arsitektur, terus kantor PT KAI, lalu ada juga kantor Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara ketika itu dipimpin oleh Almarhum Jenderal A.H. Nasution,” kata Muhammad Hussein, Ketua Remaja Islam Masjid Cut Meutia (Ricma). Suasana Masjid Cut Meutia tempo dulu. (Wikimedia Commons). Cut Meutia yang juga dikenal sebagai masjid tanpa kubah. (Fernando Randy/ Historia.id ). Lalu setelah MPRS tidak berkantor lagi di Cut Meutia, bangunan yang didominasi oleh warna putih tersebut sempat ingin dirobohkan dan dihancurkan. “Jadi setelah tidak jadi dirobohkan, Almarhum Jenderal A.H. Nasution mengusulkan untuk menjadikan Cut Meutia menjadi cagar budaya. Lalu terbentuk Remaja Islam Masjid Cut Meutia. Baru diresmikan oleh Pak Ali Sadikin sebagai masjid,” lanjutnya. Masjid Cut Meutia mempunyai beberapa keunikan. Masjid ini tak ada kubah selayaknya masjid-masjid di Indonesia. Kiblatnya miring ke kanan. Kemudian juga di lantai dua masjid tepatnya di ruang rapat anggota RICMA terdapat sebuah ruangan kecil yang berkapasitas empat orang. Terdapat sebuah brankas untuk menyimpan dokumen sejak era kolonial Belanda. Suasana di dalam Masjid Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengunjung sedang menjalankan ibadah salat dengan menggunakan masker. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengunjung yang berada di dalam masjid Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengunjung menjaga jarak saat menunaikan salat. (Fernando Randy/ Historia.id ). Salah satu ruangan yang dipakai untuk kegiatan RICMA di masjid Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana di dalam masjid Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Dengan semua ciri khas dan sejarahnya panjangnya, bangunan seperti Masjid Cut berusaha dilestarikan dengan semaksimal mungkin. Beberapa perawatan dilakukan dan dimaksudkan agar tidak ada lagi berbagai bangunan sejarah yang rusak. Bangunan yang menjadi cagar budaya pada 1961 ini sekarang membutuhkan berbagai perbaikan. “Jadi sebenernya kita pengen juga dilihat sama pemerintah pusat atau DKI. Kayak kemaren ada renovasi, tapi renovasi kita sendiri yang jalan. Terus kedepannya pengen ada perhatian khusus buat Cut Meutia. Ini masjid sejarah dan sudah dilestarikan ya setidaknya pemerintah melihat itu sih,” tutupnya. Pengunjung saat menunaikan ibadah salat di Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengunjung saat menunggu buka puasa di Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Akmal, petugas keamanan yang bekerja sejak tahun 1990 di Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Pengunjung tertidur di dalam Masjid Cut Meutia. (Fernando Randy/ Historia.id ).

  • Kisah Alan Shearer di Arena

    UNTUK pertamakalinya Premier League atau Liga Inggris melahirkan Hall of Fame. Alan Shearer bersama Thierry Henry jadi dua pesepakbola legendaris pertama yang masuk jajaran kehormatan itu. Shearer dipilih langsung oleh pihak Premier League bukan tanpa alasan. Sepanjang karier profesionalnya pada 1988-2006, Shearer kondang sebagai sosok striker  tengah klasik dan hingga saat ini pun namanya belum tergeser sebagai pengumpul gol terbanyak Liga Inggris dengan 260 gol. “Jika Anda melihat para pemain hebat di Liga Inggris, setiap pekan, setiap tahun –saya merasa sangat terhormat bisa ada di Hall of Fame. Yang saya inginkan sejak dulu hanya jadi pemain profesional. Sudah jadi mimpi saya memenangkan trofi, mencetak gol di St. James’s Park, mengenakan seragam Newcastle United bernomor sembilan dan itu fantastis. Saya menikmati setiap menitnya,” tutur Shearer, dilansir BBC , 26 April 2021. Newcastle United adalah klub idola yang diimpikan Shearer sejak dini. Butuh perjuangan berat melewati jalan berliku untuk mewujudkan mimpi itu. Walau trofi Liga Inggris didapatnya di klub lain, Shearer enggan melupakan mimpi masa kecilnya. Saking cintanya, ia sampai menolak pinangan klub Manchester United dan Real Madrid demi Newcastle. Maklum, Shearer merupakan pria kelahiran kota tersebut. Lahir di Gosforth, Newcastle upon Tyne pada 13 Agustus 1970, Shearer tumbuh sebagaimana anak-anak sebayanya yang mengidolai Newcastle. Sejak umur tiga tahun sudah sering dipakaikan seragam Newcastle oleh ayahnya, Alan Shearer Sr., yang juga fans fanatik The Magpies. Alan Shearer (kanan) bersama Thierry Daniel Henry jadi yang pertama dimasukkan ke jajaran Hall of Fame. (Twitter @alanshearer). Shearer dan seorang kakaknya hidup di tengah keluarga sederhana. Ayahnya hanya pekerja pabrik lembaran besi American Air Filters. Sedangkan ibunya, Anne, seorang pegawai rendahan dewan kota. Karena anak pertamanya perempuan, bernama Karen, Alan Sr. menaruh harapan besar pada si bungsu soal obsesinya terhadap sepakbola. “Bersekolah di SMP dan SMA Gosforth, Alan tumbuh bermain bola di jalanan belakang rumahnya dan juga bermain untuk tim sekolahnya. Biasanya dia pilih posisi gelandang karena ia ingin terlibat lebih sering dalam permainan. Alan juga jadi kapten yang membantu Newcastle City Schools XI di turnamen tahunan di St. James’ Park, sebelum bergabung ke klub amatir Cramlington Juniors dan kemudian Wallsend Boys Club di usia 13 tahun,” ungkap Tony Matthews dalam Alan Shearer Fifty Defining Fixtures. Kegilaan Shearer pada si kulit bundar akhirnya mempengaruhi prestasinya dalam pelajaran di sekolah. Beberapa kali ia ditegur guru meski tak pernah dianggapnya. “Saya tak pernah tertarik pada pelajaran sekolah. Saya selalu tak sabar menunggu jam istirahat makan siang agar bisa bermain bola di luar. Saat guru-guru menjelaskan bahwa kecil kesempatan saya jadi pesepakbola, saya selalu mengabaikan. Di dalam hati saya tahu bahwa saya terlahir untuk sepakbola dan bukan yang lain,” kenang Shearer dikutip Euan Reedie dalam Alan Shearer: Portrait of a Legend, Captain Fantastic. Lahirnya Striker Klasik Di tim sekolah maupun Cramlington Juniors, Shearer terbiasa bermain di posisi gelandang tengah untuk membuka jalan serangan bagi timnya. Tetapi ketika pindah ke Wallsend Boys Club, pelatih Les Howey melihat potensi lain padanya dan mengubah posisi Shearer dari gelandang ke penyerang tengah, dan ternyata tepat. Shearer kemudian mendapat tawaran trial dari West Bromwich Albion, Manchester City, Southampton, dan Newcastle United. Akan tetapi Shearer punya alasan mengapa ia belum mau membela klub masa kecilnya, Newcastle, dan justru memilih berlabuh ke klub Southampton pada 1986. “Jack (Hixon, scout Southampton) mengajak saya ke The Dell Stadium meski saya mengidolai Newcastle. Saat harus memutuskan, kepala saya mendominasi hati saya untuk menandatangani kontrak dengan Southampton. Insting saya mengatakan bahwa itu keputusan tepat. Southampton klub yang lebih kecil dan saya ingin lebih dulu mengembangkan karier di luar sorotan,” imbuh Shearer. Southampton jadi klub profesional pertama Alan Shearer. ( southamptonfc.com ). Keputusan Shearer tepat. Hanya butuh dua tahun menimba ilmu di tim akademi Southampton, Shearer langsung promosi ke tim utama di bawah asuhan Chris Nicholl. Ia melakoni debut profesionalnya di Liga Inggris sebagai pemain pengganti dalam laga kontra Chelsea, 26 Maret 1988. “Dua pekan setelahnya ia memulai Liga Inggris sebagai starter dan langsung jadi tajuk berita dengan mencetak hat-trick dalam kemenangan 4-2 The Saints (julukan Southampton) atas Arsenal di The Dell. Menjadikannya pemain termuda, di usia 17 tahun dan 240 hari, yang mencetak hat-trick di liga teratas, menggeser nama Jimmy Greaves yang sempat bertahan selama 33 tahun,” sambung Matthews. Dalam sekejap namanya kondang di media-media hingga Nicholl berusaha keras melindungi striker mudanya itu agar tetap fokus. Nicholl juga mendesak manajemen memberi kontrak baru senilai 18 ribu pounds berdurasi tiga tahun jika Southampton tak ingin kehilangan Shearer. Lewat performa apiknya di Southampton, Shearer pun menerima panggilan tugas ke timnas Inggris U-21 dan kemudian timnas senior. Namun selama kiprahnya di pentas internasional berseragam The Three Lions sepanjang 1990-2000, Shearer gagal mempersembahkan satu pun gelar . Alan Shearer (kanan) menjalani debutnya di timnas senior Inggris pada 1992. (Twitter @alanshearer). Juara di Blackburn dan Mimpi Newcastle Dari musim ke musim Shearer selalu jadi rebutan klub-klub mapan Inggris. Pelatih Manchester United Alex Ferguson dan Blackburn Rovers Kenny Dalglish yang paling semangat merayu Southampton demi mendapatkan jasa striker klasik nan subur itu. Pada Juli 1992, Dalglish akhirnya berhasil membawa Shearer ke Blackburn Rovers. Kepindahan Shearer merupakan buah deal Southampton dan Blackburn yang menukar tambah Shearer dengan David Speedie dengan nilai transfer 3,6 juta poundsterling, nilai termahal Liga Inggris saat itu. Namun Shearer bisa tampil maksimal bersama Blackburn pada 1994 lantaran di musim perdananya lutut kanannya dibekap cedera ACL ( anterior cruciate ligament ). Berduet dengan Alan Sutton di lini depan, Shearer mengantarkan Blackburn memenangi Liga Inggris di hari terakhir musim 1994-1995 pasca-bertarung sengit lawan Manchester United. Itu gelar liga pertama Blackburn setelah delapan dasawarsa. Shearer sendiri dinobatkan sebagai pemain terbaik versi Professional Footballers Association dan Golden Boot Liga Inggris. Dengan 37 golnya di musim itu ia lagi-lagi mematahkan rekor Jimmy Greaves (30 gol). “Saya senang nama saya tercatat bersama seseorang sebesar Jimmy Greaves. Dia memberi contoh buat semua pemain soal bagaimana caranya mencetak gol. Nama saya yang disandingkan bersamanya adalah sebuah kehormatan dan keistimewaan. Saya tak pernah menargetkan rekor apa pun. Saya hanya ingin menikmati sepakbola saya setelah cedera lutut kanan,” ujar penghobi olahraga golf itu, dikutip Reedie. Puncak karier Alan Shearer di Blackburn Rovers kala juara Premier League 1994-1995. ( fifa.com ). Setelah semusim bertahan di Ewood Park usai juara, Shearer mewujudkan mimpinya bermain untuk Newcastle sekaligus memupuskan mimpi Manchester United dan Real Madrid yang mencoba meminangnya. Shearer resmi hijrah ke St. James’ Park pada 30 Juli 1996 di bursa transfer jelang musim 1996-1997 dengan nilai 15 juta poundsterling, rekor transfer dunia kala itu. Shearer tak peduli kritikan fans Blackburn. “Beberapa pemain dikritisi karena dianggap tak punya loyalitas. Well , saya sudah lama ingin pulang dan bermain untuk klub yang selalu saya idolakan. Saya pikir itu bukanlah suatu tindak kejahatan,” kata Shearer kala meninggalkan Ewood Park. Cedera lutut kambuhan yang menghantuinya tak serta-merta mengurangi performanya di depan gawang. Shearer tetap jadi penyerang tengah klasik yang disegani tak hanya di Liga Inggris tapi juga di pentas Eropa. Namun, Shearer gagal mempersembahkan satu gelar pun buat klub kesayangannya itu. Prestasi terbaiknya hanya mengantarkan Newcastle jadi runner-up liga di musim perdananya, 1996-1997. Di kompetisi Eropa pun sama. Shearer gagal mengantarkan Newcastle lolos dari penyisihan Grup C Liga Champions musim 1997-1998. Namun di musim 2002-2003, Shearer sukses meloloskan Newcastle ke fase kedua. Newcastle sukses menekuk balik tiga tim yang mengalahkannya di penyisihan Grup E: Juventus, Dynamo Kyiv, dan Feyenoord. Kolase Alan Shearer di tim masa kecilnya, Newcastle United. ( fifa.com / uefa.com /Twitter @NUFC). Performa Shearer mengundang decak kagum banyak pihak. Salah satunya bomber AS Roma asal Argentina, Gabriel Omar Batistuta. “Setelah pertandingan melawan Juventus saya bertemu Alex Del Piero yang juga punya kekaguman besar terhadap Shearer. Dia selalu bisa meneror bek-bek Juve ketika bertanding di Newcastle. Mereka mengakui bahwa dia adalah lawan yang paling sulit. Pelatih (Juventus) Marcello Lippi selalu memantau performa Shearer. Sampai-sampai para penyerangnya seperti Alex, David (Trezeguet), dan Marcelo (Salas) disuruh membawa pulang rekaman permainan Shearer untuk dipelajari,” kata Batistuta kepada Sky Sports pada Februari 2003. Tetapi kisah Shearer di Newcastle tidak melulu manis. Shearer bertikai dengan pelatih Ruud Gullit sepanjang musim 1998-1999. Gullit berupaya merombak tim karena merasa pengaruh Shearer terlalu besar. Dalam laga derbi kontra Sunderland, Gullit nekat mencoret Shearer dan Duncan Ferguson dari Starting XI. Shearer dan Ferguson dimainkan hanya sebagai pemain pengganti. Anehnya, setelah kalah 1-2, Gullit justru menyalahkan Shearer dan Ferguson. Gullit akhirnya didepak dari kursi kepelatihan. Shearer menyanggah punya peran dalam pemecatan Gullit. “Ruud tak senang dengan pemain senior tapi ada satu orang yang takkan pernah bisa ia singkirkan dan tak lain saya sendiri. Dia berjudi dengan mencadangkan saya saat melawan Sunderland. Kami kalah dan Ruud menyalahkan saya dan Duncan yang masuk sebagai pengganti. Tidak lama setelah itu Ruud dipecat,” kenang Shearer kepada Chronicle Live , 13 Desember 2016. Limabelas tahun setelahnya, Shearer tetap mengingatnya walau sudah memaafkan. Keduanya bertemu lagi untuk pertamakali di sebuah pesta dalam rangka Piala Dunia 2016. “Di pesta itu saya perkenalkan dia kepada istri saya dan bilang bahwa inilah orang yang mencadangkan saya. Dia (Gullit) mengatakan: ‘Saya minta maaf. Saya orang Belanda yang masih muda dan arogan saat itu dan sekarang saya sudah jadi pribadi yang berbeda’. Dan sejak itu kami bersahabat baik,” lanjutnya. Laga testimoni dan perpisahan untuk Alan Shearer. ( nufc.com ). Newcastle menjadi pilihan Shearer mengakhiri kariernya sebagai pemain. Cedera ligamen di lutut kirinya akhirnya memaksa Shearer gantung sepatu pada April 2006. Sebagai bentuk apresiasi, klub membentangkan spanduk kehormatan setinggi 25 meter dan panjang 32 meter di tribun Gallowgate Stadion St. James’ Park selama 19 April hingga 11 Mei. Di hari terakhir itu, klub menggelar partai kontra Glasgow Celtic untuk partai perpisahan Shearer. Laga yang juga dijadikan sebagai laga amal itu dimenangi Newcastle 3-2. Shearer mendapat kepuasan mencetak sebutir gol dari titik putih di menit ke-93. Gol itu disambut gemuruh puluhan ribu fans. Gemuruh tersebut terus menggema di akhir laga kala Shearer bersama istri dan anaknya melakoni lap of honour. “Saya akan merindukan momen berjalan di lorong, 90 menit (pertandingan) dan adrenalin yang terpacu. Perasaan itu takkan pernah bisa tergantikan,” tukas Shearer.

  • Pemujaan di Bukit Tandus

    DI atas perbukitan Batur Agung, sebuah kompleks percandian berdiri megah. Di tempat ini, masyarakat Jawa kuno melakukan pemujaan kepada Dewi Sri untuk memohon berkah dan kesuburan pada lahan pertanian mereka. Kompleks percandian ini terletak di Dusun Candisari, Desa Sambireja, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Namanya Candi Sari. Karena ada candi lain dengan nama yang sama di daerah ini, yakni Candi Sari di Kalasan, maka agar tak terjadi kekacauan penyebutan candi ini dinamakan Candi Sari Sorogedug. Sementara penduduk sekitar menamakannya Candi Barong. “Mungkin penamaan ini berdasarkan kepala kala yang menyerupai barongan,” ujar arkeolog Timbul Haryono dalam “Candi Sari (Sorogedug): Suatu Tinjauan Arsitektur”, makalah pada Pertemuan Ilmiah Arkeologi II di Jakarta, 25-29 Februari 1980. Candi Barong dibangun di atas puncak sebuah bukit yang telah dipangkas, dengan tiga bagian halaman berundak, memanjang dengan arah timur ke barat. Pola percandian seperti itu mengingatkan pada tradisi pemujaan megalitik pada masa prasejarah. “Bentuk batur candi pun dibuat berundak-undak secara jelas, suatu hal yang jarang ditemui pada batur candi di lain tempat,” ujar Timbul Haryono . Ketiga halaman itu dibatasi oleh pagar keliling. Di halaman pertama tak ditemukan bekas-bekas bangunan. Di halaman kedua terdapat bekas-bekas susunan batu putih yang mungkin merupakan bekas pondasi bangunan. Sedangkan di halaman teratas dan paling belakang, dua candi induk berdiri sejajar. Candi Barong I terletak di selatan dan Candi Barong II di tengah halaman. Gapura berhias kepala kala dan sulur-suluran menyambut siapapun yang memasuki halaman teratas sekaligus tersakral ini. Memuja Dewi Kesuburan Candi Barong I dan Candi Barong II memiliki bentuk arsitektur dan ragam hias yang sama. Bagian-bagiannya masih lengkap; dari kaki, tubuh, hingga atap. Motif sulur-suluran, geometris, dan kerang bersayap ( śaṅkha ) menghiasi bagian kaki candi. Ukiran sulur gelung menghiasi tubuh candi. Hiasan kala dan makara masing-masing tampak pada bagian atas relung candi dan ujung pipi tangga. Sementara motif-motif geometris terukir di dindingnya. Kedua candi itu tak punya pintu masuk kendati ketika dipugar memiliki rongga di dalamnya.Pada keempat sisi dinding candi terdapat relung kosong, yang mungkin dahulu diisi dengan arca. Di Candi Barong ditemukan dua arca Dewi Sri, dua arca Wisnu, sebuah arca Ganesa yang belum selesai, dua arca lainnya yang tidak dapat diidentifikasikan, dan hiasan kerang bersayap ( śaṅkha ) yang merupakan lambang Dewa Wisnu. “Berdasarkan temuan tersebut dapatlah diketahui bahwa Candi Barong merupakan percandian agama Hindu dan diperkirakan digunakan untuk pemujaan kepada Dewi Sri yang merupakan Dewi Kesuburan,” tulis arkeolog Edy Sedyawati dalam Candi Indonesia: Seri Jawa . Kedua arca Dewi Sri di Candi Barong terbuat dari batu.Arca pertama, Dewi Sri duduk dalam posisi paryangkasana di atas padmasana (singgasana teratai). Tangannya empat. Tangan kanan depan seperti tengah memberi anugerah. Tangan kiri depan diletakkan di atas pangkuan dengan telapak tangan terbuka.Tangan kanan belakang memegang kamandalu (kendi). Tangan kiri belakang memegang setangkai padi. Arca kedua dalam posisi duduk bersila di atas padmasana . Namun bagian atasnya tak utuh lagi. Tangannya dua. Tangan kanan memegang sebuah kamandalu. Tangankiri memegang sebatang padi. Memakai kirītamakuta (mahkota), anting, kalung, kelat bahu, gelang siku, dan channawīra (tali yang diselempangkan menyilang di antara buah dada). Dewi Sri dihormati dan dimuliakan oleh masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali. Perannya mencakup segala aspek Dewi Ibu, yakni sebagai pelindung kelahiran dan kehidupan. Ia juga dipuja sebagai Dewi Padi atau Dewi Kesuburan yang memberikan kekayaan, kemakmuran, dan terutama berkah panen padi yang melimpah. Karenanya, bahkan hingga kini, Dewi Sri dihubungkan dengan mitos asal usul padi. Pemujaan terhadap Dewi Sri sudah berlangsung sebelum pengaruh Hindu-Buddha datang ke Nusantara, yaitu sejak masuknya penyebaran budidaya padi di Asia pada masa prasejarah. Kepercayaan ini mampu bertahan menghadapi perubahan sosial dan agama. Menurut arkeolog Titi Surti Nastiti dalam “Dewi Sri dalam Kepercayaan Masyarakat Indonesia” terbit di Tumotowa Vol. 3 No. 1,Dewi Sri dalam agama Hindu dikenal sebagai istri Dewa Wisnu. Namun, secara ikonografis, pengarcaan Dewi Sri di Indonesia lebih mirip dengan Wasudhārā, yang dalam agama Hindu disebut Bhūdewi (Dewi Kesuburan) atau sebagai sakti Dewa Kuwera. Sikap duduk dan atribut Dewi Sri sama dengan Wasudhāra. Bedanya, jika tangan kiri Wasudhārā memegang setangkai gandum, tangan kiri Dewi Sri memegang setangkai padi dan tidak memakai mahkota berelief Aksbobhya atau Wairocana seperti Wasudhārā. Kata Titi, hal tersebut kemungkinan disebabkan silpin (pembuat arca) pada masa Jawa Kuno mempunyai konsep sendiri mengenai Dewi Sri. Pembuat arca mengawinkan konsep Dewi Sri dalam agama Hindu dengan Dewi Kesuburan atau Dewi Padi yang dipuja pada masa prasejarah. Menghadirkan Unsur Air Di masa lalu, keberadaan arca Dewi Sri di Candi Barong menjadi dimengerti ketika melihat kondisi lingkungan di sekitar candi yang jauh dari kata subur. Tandus, kering, dan jauh dari sumber mata air. Padahal masyarakat di sekitar candi hidup dari pertanian. Karenanya mereka menggunakan sistem pertanian tadah hujan agar kebutuhan air terpenuhi. Kondisi itu juga mendorong masyarakat untuk menghadirkan berbagai benda yang menyimbolkan dan memiliki hubungan dengan air di Candi Barong dalam bentuk motif hias śaṅkha bersayap. Menurut arkeolog Harriyadi dalam “Makna Ragam Hias Śankha Bersayap pada Candi Hindu dan Buddha di Jawa”, Purbawidya , Vol. 9 No. 2, November 2020, penggambaran śaṅkha dimaksudkan untuk menghadirkan unsur air bagi candi dan lingkungannya. Śaṅkha pada dasarnya merupakan binatang laut. Binatang ini lekat dengan Dewa Wisnu. Dalam mitologi, salah satu avatara atau perwujudan Dewa Wisnu, yakni Narayana, menggunakan śaṅkha sebagai atributnya. Narayana merupakan dewa air.  Di Candi Barong ada dua arca Dewa Wisnu. Arca pertama digambarkan duduk di atas padmasana dalam sikap paryangkasana . Ia bertangan empat. Tangan kiri depan diletakkan di atas pangkuan, dengan telapak tangan terbuka menengadah. Tangan kanan depan mulai pada pertengahan lengan atas. Menurut bekas-bekasnya mungkin telapak tangan kanan diletakkan di atas lutut kaki kanan. Tangan kiri belakang ditekuk ke atas di samping kepala, tapi sudah patah (hilang) sehingga tak diketahui jelas jenis benda yang dipegang. Melihat bekas-bekasnya, mungkin yang dipegang śaṅkha . Kepala sudah patah (hilang). Pelipit stela mempunyai pinggiran lidah api. Arca kedua hanya bagian dada ke atas. Ia juga bertangan empat. Kedua tangan depan sudah patah. Tangan kiri belakang memegang śaṅkha , sedangkan tangan kanan belakang memegang cakra. Selain dalam arca Dewa Wisnu, śaṅkha dipahatkan pada bagian kaki candi. Menurut Harriyadi, ragam hias śaṅkha di Candi Barong memiliki sayap dan rumah siput ( spire ) yang berada pada bagian atas dan lingkar tubuh yang menghadap bawah. Śaṅkha bersayap Candi Barong berdiri pada lapik yang berbentuk teratai mekar, padma, dan di sekelilingnya terdapat hiasan berupa sulur gelung dan hiasan geometris. “ Śaṅkha bersayap dipahatkan pada candi agar mendatangkan kesuburan dan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya,” ujar Harriyadi. Gaya Peralihan Kapan Candi Barong berdiri belum diketahui dengan pasti. Sampai kini belum ditemukan sumber prasasti yang mencatatnya. Candi Barong sudah dalam keadaan runtuh ketika ditemukan pertama kali pada 1913. Semak belukar menyembunyikan keberadaannya. Pada 1979 candi ini mulai ditangani secara intensif. Kegiatan pemugaran baru dilakukan pada 1986 hingga 2009. Menurut Timbul Haryono, pembagian teras halaman candi yang roboh ke belakang biasa ditemui pada candi-candi Jawa Timur. Di Jawa Tengah, hal semacam ini dapat dilihat pada Candi Ijo, yang memperlihatkan gaya seni masa akhir Jawa Tengah sekitar tahun 850-900 M. Selain itu, relief kepala kala yang dilukiskan lengkap dengan rahang bawah dan ada gambar tangan di kanan-kiri dengan kuku-kuku tajam juga biasa dijumpai pada periode Jawa Timur. Begitu pula profil kaki candi yang tidak mengenal kombinasi bingkai setengah lingkaran dan bingkai sisi genta. Kemudian batu luar kaki candi diberi hiasan geometris dan śaṅkha sebagai padmamula (akar teratai). Hiasan pada candi dikerjakan dengan teliti dan halus. Karenanya, Candi Barong tak bisa digolongkan sebagai candi tua. Timbul Haryono menetapkan umurnya kurang lebih sekitar tahun 900 M. Jadi, Candi Barong diperkirakan berasal dari masa peralihan periode Jawa Tengah ke Jawa Timur. Kini, Candi Barong merupakan salah satu destinasi wisata alternatif di Yogyakarta. Letaknya sekira 25 km ke arah timur dari Tugu Yogyakarta. Ia pun bukan satu-satunya peninggalan arkeologi di kawasan itu. Ada Candi Miri, Candi Dawangsari, Arca Ganesha, Situs Ratu Boko, dan Arca Dhyani Bodhisatwa Sumberwatu. Sebuah paket wisata yang menarik dan tak bisa diabaikan jika Anda berkunjung ke Yogyakarta. Candi Barong juga bisa dinikmati melalui sajian virtual tour dengan kamera 360 0 . Bakti Lingkungan Djarum Foundation melalui Gerakan Siap Darling (Siap Sadar Lingkungan) akan mengajak Anda untuk menjelajahi setiap sudut candi. Dalam rangkaian program Candi Darling From Home, Anda pun bisa melihat aksi penanaman pohon yang dilakukan oleh anak-anak muda tanah air dan turut dalam aksi peduli lingkungan dengan menyumbangkan bibit tanaman. Informasi selanjutnya mengenai program ini bisa diakses melalui siapdarling.id atau melalui Instagram @siapdarling .

  • Bukti Toleransi dari Candi

    Dua bangunan suci kembar yang megah dari masa lalu menyembul di tengah persawahan dan permukiman warga di Dusun Plaosan Lor, Bugisan, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Puncak-puncak stupa menghiasi atapnya. Di sekelilingnya 174 candi yang lebih mungil disusun dalam tiga baris. Sebagian besar sudah runtuh, sebagian lainnya telah dipugar kembali.  Kompleks Percandian Plaosan Lor itu, menurut Bambang Budi Utomo, arkeolog dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), adalah wujud toleransi yang telah berakar di tengah masyarakat Nusantara sejak masa silam. Percandian dari era Mataram Kuno abad ke-9 itu didirikan secara bergotong royong.  “Dibangun oleh maharaja yang beragama Buddha Mahayana, tapi candi-candi kecilnya dibangun oleh raja beragama Hindu,” kata Bambang yang akrab disapa Tomi dalam diskusi daring yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional berjudul “Toleransi, Akar Lama Penguat Bangsa”, Kamis, 29 April 2021. Sikap toleransi bukan hal baru bagi masyarakat Nusantara. Mengingat kawasan Nusantara telah menjadi tempat bertemunya bangsa-bangsa dari segala penjuru dunia. “Ada India, Tiongkok, lalu sekira abad ke-14 ada Eropa. Kita dari sini melihat yang tadinya dihuni penutur bahasa Austronesia lalu bercampur dengan lainnya, maka masyarakat kita jadi multikultural, bukan hanya multietnis,” kata Tomi. Akar Toleransi Beragama Dalam Candi Indonesia Seri Jawa, arkeolog Edi Sedyawati menjelaskan candi-candi di Plaosan Lor dibangun sebagai dharma yang dipersembahkan oleh raja, keluarganya, dan para pejabat tinggi kerajaan sebagai wakaf bangunan suci kebuddhaan. Pada candi-candi kecil atau perwara terdapat prasasti pendek yang menyebutkan nama para penyumbang atau pemberi wakaf. Di antaranya adalah dharmma sri maharaja, asthupa sri maharaja Rakai Pikatan (Stupa persembahan Rakai Pikatan), anumoda sang kalung warak Pu Daksa (persembahan Sang Kalungwarak Pu Daksa), anumoda sri kahulunnan (persembahan Sri Kahulunnan), dan anumoda sang da pankur pu agam (persembahan Sang Da Pangkur Pu Agam). Dalam “Laporan Penelitian Candi Sari, Prambanan, Yogyakarta” yang disusun arkeolog Soeroso SP, Titi Surti Nastiti, Bambang Budi Utomo, Richadiana Kartakusuma, dan P.E.J. Ferdinandus pada 1985 , dijelaskan sesuai prasasti pendek itu, nama Rakai Pikatan bersama Sri Kahulunan mendirikan candi Buddhis. Sementara di dalam Prasasti Siwagrha (856 M) Rakai Pikatan dihubungkan dengan pembangunan candi untuk pemeluk agama Siwa.  Adapun Sri Kahulunan dalam beberapa prasasti dihubungkan dengan pendirian bangunan suci bagi penganut Buddha. Misalnya, Prasasti Tri Tpusan (842 M) menyebut dia meresmikan kamulan bernama Bhumisambhara yang banyak diartikan sebagai Candi Borobudur. “Sri Kahulunan adalah gelar Pramodawardhani, putri Raja Samaratungga yang beragama Buddha. Dia menikah dengan Rakai Pikatan yang beragama Siwa. Tak heran jika bersama-sama mendirikan suatu bangunan suci,” tulis laporan penelitian itu. Karenanya menurut Tomi, pada abad ke-9 para pemeluk Buddha dan Hindu hidup damai berdampingan. “Saling membantu dalam pendirian bangunan suci meski keyakinan berbeda,” kata Tomi. Sekira pada masa yang sama hubungan harmonis antara kedua agama itu nampak pula dalam Arca Awalokiteswara yang ditemukan di Desa Bingin Janggut, Musi Rawas, Sumatra Selatan. Arca ini berasal dari masa Sriwijaya sekira abad ke-8 hingga ke-9. Di bagian punggungnya terpahat sebuah tulisan dalam bahasa Melayu Kuno: “ dang acaryya syuta ”. “Ini adalah arca Buddha Mahayana, arca bodhisatva yang dibuat untuk dipersembahkan kepada masyarakat penganut Buddha dari seorang pendeta Hindu,” jelas Tomi . “Dihadiahkan oleh pendeta Hindu bernama Syuta. Dang acaryya adalah gelar pendeta Hindu.” Toleransi antara pemeluk Hindu dan Buddha, menurut Tomi, muncul pula pada pembangunan Candi Jawi di Desa Candi Wates, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. KakawinNagarakrtagama menyebut Candi Jawi didirikan Kertanagara, raja terakhir Singhasari. Pengelolaan candi juga dilakukan oleh sang raja.  Ketika Kertanagara wafat, candi ini dijadikan pendharmaan baginya. Kemudian dia diziarahi oleh Hayam Wuruk, yang tak lain adalah cicitnya, penerus Dinasti Rajasa. “Di sinilah para penganut agama Siwa-Buddha melakukan ritual,” catatnya sebagaimana diterjemahkan Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakrtagama. Pada Candi Jawi, Tomi menjelaskan, bagian atas tubuh candi melambangkan aliran Buddha, sedangkan bagian bawahnya bernapaskan ajaran Siwa.  “Di candi inilah terbentuk toleransi di bidang agama, ajaran yang berkembang pada masa Singhasari (ajaran Siwa-Buddha),” jelas Tomi . Pada masa yang lebih modern toleransi terlihat dari sikap penguasa Kesultanan Tidore terhadap para misionaris Jerman. Pada 5 Februari 1855, Carl Willem Ottow dan Johann Gotteb Geissler, pekabar Injil dari Jerman tiba di Pulau Mansinam, Papua. Mereka singgah terlebih dahulu di Ternate sebelum bertolak ke Papua. “Di awal tugasnya mengkristenkan Papua, mereka mendapat izin dan bantuan Sultan Tidore. Dari Ternate mereka diantar Sultan Tidore menuju Papua dengan kapal,” jelas Tomi. Hingga kini orang Papua memperingati Hari Pekabaran Injil setiap 5 Februari. Kedatangan Ottow dan Geissler dirayakan setiap lima tahun sekali dengan arak-arakan replika perahu yang digunakan Sultan Tidore saat mengantar kedua misionaris itu. Jejak toleransi di Nusantara, kata Tomi, rupanya tak hanya dari sisi agama. Tapi juga dalam lingkup adat dan kebiasaan dari suku bangsa yang berbeda.  Soal itu banyak yang bisa dipelajari dari temuan masa prasejarah. Misalnya, temuan di Gua Harimau di daerah hulu Sungai Ogan, Baturaja, Sumatra Selatan. Gua itu dihuni sejak sekira 22.000 tahun lalu hingga awal masehi.  Para arkeolog menemukan sebanyak 81 individu kerangka manusia dari ras Australomelanesid dan Mongoloid di dalam gua itu. Ras Australomelanesid adalah penghuni awal. Sementara ras Mongoloid penghuni selanjutnya. “Mungkin kedua ras itu sempat hidup berdampingan,” kata Tomi. “Mereka sudah bergaul antarras.” Bahaya Intoleransi Hidup tanpa sikap toleransi amat berbahaya, khususnya di Indonesia. Begitu menurut Franz Magnis-Suseno, guru besar filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. “Indonesia adalah negara paling majemuk di dunia, dengan ratusan etnik dan bahasa, perbedaan agama dan kepercayaan. Betapa berhasil Indonesia sampai sekarang dalam hal toleransi,” kata Magnis . Perjalanan masyarakat Nusantara selama 2.000 tahun terakhir membuktikan keberhasilan itu. Bahwa perbedaan dalam agama dan ras tak membuat orang-orang saling membunuh. Namun itu justru memperkuat dan mengembangkan identitas masyarakat Nusantara. “Saya pernah membaca tulisan orang Amerika, bahwa Indonesia adalah bangsa yang tak masuk akal selama 76 tahun, mantap berdiri tak memberi kesan akan pecah. Bagaimana prestasi ini mungkin?” kata Magnis. Secara tradisional masyarakat Indonesia begitu terbuka dan toleran. “Orang Indonesia bahkan di pedalaman saja ta h u di dekatnya ada orang berbahasa lain, kepercayaan lain, mereka menerima,” kata Magnis. Menurut Magnis, sikap intoleran muncul pada masyarakat karena adanya tekanan yang mereka rasakan. Termasuk perasaan tidak adil dan terdeskriminasi. “Suatu kelompok jika merasa diperlakukan tidak adil, intoleransi akan tumbuh. Maka penting bagi negara untuk memperhatikan keadilan sosial bagi semua,” tegas Magnis. Maka, sebagaimana kata I Made Geria, Kepala Pus lit Arkenas , “Kita berikhtiar merawat kekayaan alam pikir. Saat ini perlu penguatan warisan leluhur kita, akulturasi, saling menghargai, toleransi. Toleransi itu bukan pilihan tapi keharusan.”

  • Sungai yang Membangun Peradaban di Sumatra

    Berbagai peradaban muncul di sepanjang aliran sungai. Termasuk Kadatuan Sriwijaya yang awalnya dimulai dari permukiman di Daerah Aliran Sungai Musi, mulai dari muara hingga hulunya. “Jauh sebelum Sriwijaya lahir sudah ada permukiman di DAS Musi,” kata arkeolog Bambang Budi Utomo atau akrab disapa Tomi, dalam diskusi daring berjudul “Budaya Hindu Buddha di Pulau Sumatra” yang diadakan Balai Arkeologi Sumatra Utara, Rabu, 28 April 2021. Sungai menjadi pintu masuk budaya luar ke Sumatra dan berbagai tempat lain di Nusantara. Mulanya dibawa para pedagang yang masuk ke pedalaman untuk mencari komoditas perdagangan. Jalurnya lewat sungai-sungai besar, seperti Sungai Musi, Batanghari, dan Kampar. “Kebudaan India yang masuk ke Sumatra diwujudkan dalam bentuk arca, bangunan-bangunan suci, juga prasasti,” jelas Tomi. Sumatra telah tercatat lama dalam berita Tiongkok. Disebutkan ada sebuah tempat bernama Mo-lo-yeu . “ Mo-lo-yeu ini identik dengan Pulau Sumatra, bukan nama kerajaan,” kata Tomi.  Di pulau Mo-lo-yeu terdapat beberapa pusat kekuasaan. Berita Tiongkok menyebutnya dengan Shi-Li-Fo-Shih (abad ke-7–11), Chan-pi (abad ke-8–13), To-lang-po-hwang (abad ke-7), ada pula di Kota Cina (abad ke-11–14), Panai (abad ke-11–14), Dharmasraya (abad ke-13–15). Semuanya berada di dekat sungai, seperti Shi-Li-Fo-Shih berada di DAS Musi, Chan-pi di DAS Batanghari, To-lang-po-hwang di DAS Tulangbawang, Kota Cina di lembah Sungai Deli Pantai Timur Sumatra, Panai di lembah Sungai Panai dan Barumun, serta Dharmasraya di hulu Batanghari. “Pusat-pusat pemerintahan ini pada suatu masa muncul sebagai kekuatan politik yang besar,” kata Tomi. Salah satunya pada 682 muncul Kadatuan Sriwijaya di Shih-li-fo-shih . “Populer dengan sebutan kerajaan, tapi nama yang spesifik sebetulnya kadatuan,” jelas Tomi. Komunitas Hindu dan Buddha Awal Namun, kemunculan Sriwijaya bukanlah pertanda pertama masuknya budaya India ke Sumatra. Pasalnya, kata Tomi, sebelum Kadatuan Sriwijaya lahir, sudah ada komunitas pemeluk Hindu dan Buddha di Palembang.  Buktinya keberadaan Arca Sakyamuni yang ditemukan di Bukit Siguntang, Palembang. Kemungkinan, kata Tomi, Sang Sakyamuni dulunya berdiri di puncak bukit yang suci itu. Arca Sakyamuni berlanggam sekira abad ke-6 M. Dari penggambaran pakaian arca, nampak pengaruh seni antara Gupta dan post-Gupta.  “Sriwijaya baru lahir abad ke-7. Artinya sebelum abad ke-7 sudah ada komunitas yang menganut ajaran Buddha,” jelas Tomi.  Berdasarkan arca itu, Tomi memperkirakan, aliran Buddha yang dianut adalah Hinayana. “Mungkin ini satu-satunya arca pemujaan para penganut ajaran Hinayana yang pernah ditemukan,” kata Tomi. Pada abad ke-7, Sriwijaya sudah berupa permukiman yang tertata dengan baik. Bangunan-bangunan religi di tempat yang tinggi dengan pusatnya di Bukit Siguntang, permukiman di tepian Sungai Musi, dan Taman Sriksetra ditempatkan di kawasan berbukit dan berlembah di barat laut kota Sriwijaya. “Jadi orang tidak asal bertempat tinggal,” kata Tomi. Menurut Tomi, kota Sriwijaya dapat berkembang berkat daerah pedalaman. Kawasan pedalaman di daerah kaki Pegunungan Bukit Barisan merupakan penghasil komodit as perdagangan, seperti hasil bumi, hutan, dan tambang. Komoditas itu dibawa melewati aliran sungai ke Palembang untuk dipasarkan. Palembang menjadi muara banyak sungai yang mengalir dari pedalaman, yakni Sungai Musi, Keramasan, Ogan, dan Komering.  “Di Palembanglah bertemu sungai-sungai ini, sehingga di Palembanglah para pedagang berkumpul menjadi pasar, lama-lama daerah itu menjadi maju,” jelas Tomi. Permukiman di Lahan Basah Permukiman masa Sriwijaya dibangun di sepanjang aliran sungai. Dari berita Tiongkok diketahui kalau orang-orang di Sriwijaya berdiam di perahu dan di rumah panggung di rawa-rawa. Mereka hidup dengan mencari ikan dan berdagang. Bukti permukiman di lahan basah ini ditemukan di Situs Air Sugihan di pantai timur Palembang. Penelitian Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) pada 2008 menemukan sisa-sisa permukiman di lahan berawa dari awal abad masehi. Terdapat 74 situs yang ditemukan di kawasan Air Sugihan. Situs itu diperkirakan berasal dari periode awal masehi, sekira abad ke-1-2 dan terus berlanjut sampai abad 12-13, yakni periode akhir Sriwijaya. Permukiman itu diperkirakan cikal bakal atau pendahulu Sriwijaya. Secara keruangan situs-situs yang ada di dekat muara berusia lebih tua. Semakin ke hulu semakin muda.  Di sana ditemukan sisa permukiman berupa tiang pancang dari kayu nibung. Dari jenis-jenis temuannya, kata Tomi, masyarakat yang dulu tinggal di kawasan ini memiliki hubungan dagang dengan India dan Tiongkok, serta daerah lain di Nusantara. “Sebelum Sriwijaya lahir sudah terbentuk jaringan perdagangan Guangdong-Palembang, Persia/India-Palembang, dan Palembang-Kalimantan Barat,” jelas Tomi.  Mengembangkan Sayap Melalui sungai pula, balatentara Sriwijaya menyerang Kota Kapur di Bangka. Mereka datang melalui Sungai Musi kemudian menyeberang ke Selat Bangka dan masuk ke Sungai Menduk. Penaklukkan Sriwijaya atas Bangka itu dibuktikan oleh temuan Prasasti Kota Kapur (686 M).  Menurut Tomi, ke letak an strategis Kota Kapur dengan hasil tambang timah dan sumber air bersihnya menjadikan tempat ini disinggahi kapal-kapal yang berlayar dari dan ke Jawa. “Bangka terletak di jalur pelayaran, yang seolah menghalangi jalur masuk atau keluar Palembang,” jelas Tomi . Secara geografis Kota Kapur berhadapan langsung dengan Selat Bangka. Pada selat ini bermuara juga Sungai Upang, Sungsang, dan Saleh dari daratan Sumatra. “Karena sumberdaya alam, timah, dan keletakannya yang strategis maka Sriwijaya menguasainya,” jelas Tomi.  Penelitian yang dilakukan Tomi telah menemukan sebuah dermaga di kaki bukit Kota Kapur. Dermaga itu ditemukan di tepian Sungai Menduk. “Rupanya dulu sungai ini adalah teluk yang besar di Kota Kapur, tempat berlabuh kapal-kapal dagang,” kata Tomi.  Timah kemungkinan menjadi daya tarik Kota Kapur. Komoditas ini diekspor ke berbagai kawasan Nusantara dan Asia Tenggara. Timah ini merupakan salah satu bahan campuran untuk membuat arca perunggu yang marak dilakukan pada abad ke-8–9.  “Sejak zaman Sriwijaya sudah menambang timah untuk keperluan membuat arca,” kata Tomi .  Didukung pula oleh berita Tiongkok abad ke-7 bahwa komoditas perdagangan Sriwijaya di antaranya timah. Sementara di Asia, timah hanya ditemukan di Myanmar, Semenanjung Melayu, dan Kepulauan Bangka Belitung. Melupakan Sungai Peran sungai begitu penting dalam perkembangan peradaban Nusantara, khususnya di Sumatra. Namun, dalam penulisan sejarah kedatangan luluhur baik menurut tradisi maupun modern (sampai 1970-an), peran sungai nyaris dilupakan.  “Di sejumlah suku bangsa di pedalaman Sumatra, sungai tak disebut sebagai salah satu faktor penting dalam proses datangnya para leluhur,” catat Gusti Asnan, sejarawan Universitas Andalas dalam Sungai dan Sejarah Sumatra.  Misalnya , dalam sejarah tradisional Minangkabau. Menurut Asnan, mitos kedatangan leluhur versi mereka lebih mementingkan arti laut. Dikisahkan leluhur masyarakat Minangkabau terdampar ketika banjir besar Nabi Nuh terjadi. Mereka mendarat di sebuah daratan kecil yang kemudian diketahui sebagai puncak Gunung Marapi. Setelah permukaan laut surut, para leluhur mendirikan permukiman pertama di kaki gunung itu. Demikian pula dalam penulisan sejarah modern mereka, baik yang ditulis orang Belanda, Indonesia, maupun orang Minangkabau. “Peranan sungai dalam proses kedatangan moyang suku bangsa itu tak disinggung sama sekali,” jelas Asnan. Orang Kerinci juga mengaitkan kedatangan moyang mereka dengan banjir besar Nabi Nuh. Mereka memulai sejarah kedatangan leluhurnya dengan lautan yang luas. Sementara di dalam tradisi Batak, mitosnya menyebut kalau leluhur mereka berasal dari langit. Leluhur batak turun ke bumi pertama kali di Gunung Pusuk Buhit di Pulau Samosir. Arti penting sungai bagi perkembangan kebudayaan masyarakat Sumatra terkuak lewat penelitian arkeologis dan kajian linguistik. Berbagai temuan arkeologis ditemukan di kawasan hulu dari sungai-sungai, seperi Panai, Roman, Kampar, Batanghari, dan Musi.  “Sungai-sungai besar ini menghubungkan pantai timur Sumatra dengan wilayah pedalaman,” jelas Asnan. Pun dari penelitian dialek yang ada di dalam bahasa Minangkabau, seperti dialek Payakumbuh atau Limapuluh Kota, diketahui kalau dialek yang dipraktikkan penduduk di kawasan hulu Sungai Kampar merupakan dialek tertua di Minangkabau. Artinya Limapuluh Kota, yang ada di kawasan sebelah timur Minangkabau, merupakan daerah yang lebih dulu ditempati. “Sungai ternyata juga punya peran yang besar dalam kemunculan permukiman dan penyebaran penduduk Pulau Sumatra,” jelas Asnan.

  • Hikayat Dua Pujangga Melayu

    Selama penghujung abad ke-18 hingga permulaan abad ke-19, ketegangan di antara dua bangsa penjajah memuncak di wilayah Selat Malaka. Inggris dan Belanda saling klaim kekuasaan di kawasan perdagangan penting di Asia Tenggara tersebut. Puncaknya, melalui Traktat London tahun 1824, para kolonialis Eropa sepakat membagi wilayah Selat Malaka menjadi dua bagian: utara (Singapura dan Malaysia) dimiliki Inggris; sementara selatan (Nusantara) dimiliki Belanda. Konflik pun akhirnya terselsaikan dengan baik. Kesepakatan itu rupanya berdampak juga kepada kerajaan-kerajaan di sepanjang Selat Malaka. Kesultanan Riau-Johor, misalnya, terpaksa harus membagi kekuasaannya menjadi dua. Itu karena Kesultanan Johor-Riau memiliki kekuasaan di dua wilayah yang terpecah, yakni Tumasik (Singapura), dan Riau (Nusantara). Terpisahnya kekuasaan tersebut membawa perpecahan di dalam internal kerajaan. Pemerintahan di Riau, maupun Singapura saling klaim kekuasaan. Akhirnya, melalui sokongan dari Inggris dan Belanda, masing-masing pemerintahan mengangkat seorang penguasa. Maka terputuslah hubungan kerajaan yang pernah menjadi vassal Sriwijaya dan Majapahit tersebut. Terpecahnya Riau-Johor membawa perubahan juga kepada kehidupan masyarakat di dalamnya. Hal itu terjadi terutama karena Inggris dan Belanda menjalankan kebijakan yang berbeda. Perubahan meliputi bidang politik, sosial, ekonomi, hingga budaya. Menurut Taufik Ikram Jamil dalam “Antara Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi dan Raja Ali Haji: Dua Cahaya dari Satu Kutub” dimuat  1000 Tahun Nusantara  karya J.B. Kristanto, khusus di bidang budaya, perpecahan itu telah memisahkan secara paksa dua pujangga besar Melayu, yakni Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi, dan Raja Ali Haji. Keduanya sama-sama terlahir di bawah kuasa Kesultanan Riau-Johor. Tetapi akhirnya Abdullah tinggal dan berkarya di Singapura dan Malaysia, sementara Raja Ali Haji menetap di Riau. “Jarak di antara keduanya terasa begitu sayup antara tampak dan tiada... Jarak yang jauh terutama terlihat dari bagaimana keduanya menyikapi keadaan kemasyarakatan dan kebudayaan Melayu pada waktu bersamaan. Suatu zaman ketika sistem kehidupan yang sudah berakar tunggang memperoleh gempuran luar biasa dari rengkuhan baratisasi yang juga selalu disebut orang sebagai kemodernan,” tulis Taufik. Hidup dan Berkarya Raja Ali Haji dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi hidup pada kurun masa yang sama. Keduanya mengembangkan karya dalam alam kebudayaan serupa: budaya Melayu. Namun dalam suasana yang berbeda. Baik Inggris maupun Belanda memiliki pandangan lain terkait sastra Melayu. Dikisahkan Amin Sweeny dalam  Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Abdullah lahir di Malaka pada 1796 dari keluarga campuran Arab dan India. Dia tumbuh di lingkungan Melayu Muslim kuat di bawah pemerintahan Riau-Johor. Memasuki abad ke-19, ketika usia remaja, Abdullah memutuskan pindah ke Singapura. Menurut Irfan, sebagaimana disebutkan U.U. Hamidy dalam  Pengarang Melayu dalam Kerajaan Riau dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dalam Sastra Melayu , kepindahannya ke Singapura dilakukan untuk menghilangkan kesedihan atas meninggalnya sang istri di Malaka. Tetapi jika dilihat dari jalan hidup Abdullah, kepindahannya ke Singapura terjadi karena Belanda menggantikan kekuasaan Inggris di Malaka. Hal itu, imbuh Irfan, tidak memberikan iklim yang baik bagi Abdullah. “Tampaknya Belanda tidak memerlukan orang-orang yang ahli dalam bidang bahasa seperti Abdullah,” jelas Irfan. Sementara itu Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad lahir di Selangor pada 1808. Dia berasal dari keluarga Kerajaan Riau. Raja Ali Haji tumbuh dan dibesarkan di Pulau Penyengat, Inderasakti, Riau. Dia hidup dalam suasana intelektual yang kental, yang menjadi dasar pengembangan nalar dan intuisi dalam menggambarkan alam Melayu melalui karya-karya sastranya. Menurut Irfan terdapat perbedaan yang cukup besar di antara dua pujangga ternama Melayu tersebut. Sebuah jurang pembeda yang membuat nama Abdullah lebih mencuat dibandingkan Raja Ali Haji. Itu ditentukan oleh adanya pemberian kesempatan berkarya dari bangsa yang menjajah mereka. Sikap pemerintah Inggris, di bawah Raffles, sangat terbuka kepada kehidupan kebudayaan orang-orang Melayu. Kondisi itu yang membuat Abdullah lebih leluasa mengembangkan karya-karyanya. Di lain pihak, Belanda amat membatasi kegiatan kebudayaan masyarakat pribumi. Terlebih, antara Riau dan Belanda kerap terlibat ketegangan yang memperburuk hubungan keduanya. “Secara sederhana dapatlah dikatakan, Abdullah berada dalam suatu kawasan, yakni Singapura yang waktu itu sedang bangkit secaa mengejutkan dan kini terus meninggi, jauh meninggalkan Riau yang cukup lama memayunginya,” kata Irfan. Sepanjang hidupnya, Abdullah berhasil menghasilkan banyak karya, di antaranya  Syair Singapura Dimakan Api,Kisah Pelayran Abdullah dari Singapura ke Klantan, Syair Kampung Gelam Terbakar, Hikayat Abdullah, dan  Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah. Sedangkan karya-karya Raja Ali Haji, di antaranya  Bustanul Katibin, Kampus Pengetahuan Bahasa, Tsamaratul Muhimmah, Muqaddimah fi Intizam, Syair Suluh Pegawai, dan  Gurindam Duabelas. Hubungan dengan Barat Raja Ali Haji dan Abdullah diketahui sama-sama memiliki kedekatan dengan orang-orang Eropa. Utamanya mereka yang tertarik dengan budaya Melayu. Abdullah sendiri, dengan kemampuan bahasa Melayu, Inggris, Tiongkok, dan India, mendapat kesempatan menjadi juru tulis Raffles. Dia pun berhubungan erat dengan para penyebar Kristen di Singapura, seperti Wiilliam Milner da C.H. Thomsen. Tidak hanya bersahabat dan mengajarkan para misionaris bahasa Melayu, Abdullah juga membantu menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Melayu. Alam kebebasan di bawah kuasa Inggris, serta pergaulannya dengan orang-orang Eropa, membuat karya-karya yang dilahirkan Abdullah dinilai oleh para ahli berbeda dengan karya pengarang Melayu lain yang hidup sezaman dengannya. Subjek tulisan Abdullah, misalnya, tidak terbatas pada persoalan kekuasaan dan raja-raja saja, tetapi ada tentang kehidupan sehari-hari. Bahkan dia terkadang membuat tulisan berupa kritik terhadap raja-raja dan masyarakat Melayu. “Boleh dikatakan, Abdullah-lah, pelahir otobiografi dalam alam Melayu,” tulis Irfan. “Tak dapat dipungkiri bahwa gaya Abdullah itu merupakan berkat pergaulannya dengan Barat dan coba menyerapnya dalam kehidupan sehari-hari, sampai-sampai ada orang mengatakan bahwa Abdullah cendekiawan pertama di kawasan Nusantara yang mampu menyerap Barat.” Sementara Raja Ali Haji memiliki hubungan kedekatan dengan sejumlah penguasa dan pakar bahasa. Seperti dikisahkan Jan van der Putten dan Al Azhar dalam  Di dalam Berkekalan Persahabatan: Surat-surat Raja Ali Haji kepada Von de Wall,  Raja Ali Haji bersahabat baik dengan Von de Wall yang kala itu menjabat Asisten Residen Riau. Berkat Von de Wall, Raja Ali Haji bisa mendapatkan buku-buku dari Negeri Belanda, ataupun dari Timur Tengah, yang dia butuhkan untuk referensi tulisan-tulisannya. Sebagai balasan, Raja Ali Haji memberikan pengetahuan tentang bahasa Melayu kepada Von de Wall. “Kepada Asisten Residen Riau itu, Raja Ali Haji bahkan menulis persoalan amat pribadi termasuk lemah syahwat,” tulis Irfan. Tidak hanya dengan Von de Wall, Raja Ali Haji juga berhubungan baik dengan sejumlah pejabat Belanda. Hal itu semata dia lakukan untuk menarik perhatian Belanda akan karya-karyanya, yang memungkinkan karangannya tersebut disebar dan dicetak. Sampai-sampai dia pernah berharap diperkenankan memperoleh mesin cetak di Riau. Kendati Raja Ali Haji dan Abdullah memiliki ketenaran dibanding pengarang-pengarang lain, serta mendapat tempat spesial di dunia sastra Melayu, bukan berarti tidak ada pujangga lain yang menghasilkan karya fenomenal. Masih banyak nama lain. Salah satunya Raja Chulan bin Raja Abdul Hamid yang menulis  Silsilah Perak dan Misa Melayu . Apalagi di Riau, sepeninggalan Raja Ali Haji, lahir 20-an pengarang baru yang tidak kalah hebat.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page