top of page

Hasil pencarian

9860 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Petualangan Orang Makassar di Kesultanan Banten

    PERTENGAHAN Agustus 1671 di Jepara muncul seorang bernama Kassi’-jala. Kehadirannya cukup menggemparkan residen setempat. Hal itu disebabkan dia membawa serta 150 orang bersamanya. Mereka tidak terlihat seperti penduduk Jawa. Perawakannya kekar, warna kulit serta wajahnya terlihat asing untuk disamakan dengan orang-orang sekitarnya. Diketahui mereka adalah kelompok pelaut dari Makassar. Berdasar catatan harian pejabat VOC di Jepara ( Daghregister, 24 Agustus 1671), Kassi’-jala dan kelompoknya datang untuk menemui dua pangeran Makassar, Kraeng Bonto Marannu dan Kraeng Luwu’. Bersama dua peangeran itu, rencananya mereka akan berlayar menuju Banten. Menurut sejarawan H.J. De Graaf, keterangan tersebut menjadi berita pertama kepindahan orang Makassar ke Banten. Dikisahkan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, pelayaran orang-orang Makassar itu terjadi setelah Gowa mengalami kekalahan perang pada 1669. Pemerintahan Arung Palakka yang bersifat menindas juga menjadi alasan para pelaut itu rela meninggalkan tanah airnya menuju tempat asing yang belum tentu menerima keberadaan mereka. “Pada 1670-an, Banten menjadi pusat pengungsi politik dari Makassar, yang membuat VOC sangat khawatir,” terang Edward A. Alpers dalam The Indian Ocean in World History . Rombongan Makassar tiba di Banten pada akhir Agustus 1671. Kraeng Bonto Maranmu membawa sekira 800 orang dalam tiga kapal sedang dan sebuah perahu besar. Begitu merapat di pelabuhan, mereka disambut oleh perwakilan istana. Menurut De Graaf dalam bukunya, Runtuhnya Istana Mataram , rupanya kedatangan mereka telah dinanti penguasa Banten. Para tamu dari Timur itu pun diberikan tempat di daerah Pontang, sebelum dipindahkan ke pusat kota, dekat pasar utama. “Tidak secara tiba-tiba mereka datang di Banten. Semangat juang mereka ditakuti, jumlah mereka yang besar diperhitungkan. Orang Banten sudah dapat menduga bahwa setelah kemenangan Speelman atas Gowa, maka merekalah yang akan mendapat giliran,” kata De Graaf. Mulanya sambutan penguasa Banten dilakukan agar orang-orang Makassar itu merasa nyaman tinggal di wilayahnya. Namun belakangan mereka diketahui mencoba memanfaatkan pengalaman orang-orang Makassar di medan tempur untuk persiapan mengahadapi serangan VOC. Kawan dari Pulau Sulawesi itu diharapkan dapat menjadi tambahan kekuatan bagi Banten. Terlebih, imbuh De Graaf, orang-orang Makassar tidak terpengaruh oleh kekalahan yang telah mereka derita pada pertempuran sebelumnya di Gowa. Tanpa disadari penguasa Banten, kian hari jumlah orang-orang Makassar di wilayahnya kian bertambah. Mereka datang dari berbagai daerah di pesisir Jawa. Tak ayal kondisi itu membuat penguasa Banten kewalahan dalam memberi kebutuhan harian mereka. Merawat ratusan orang Makassar bersama keluarganya tanpa imbalan memadai, tentu membuat beban ekonomi semakin berat. Untuk sementara kondisi itu bisa diatasi Sultan Banten, namun tidak bisa berlangsung selamanya. Maka sultan pun meminta para kraeng mengerahkan tenaga para pengikutnya untuk pekerjaan kasar, yakni menggali terusan dari Pontang ke Tanara. “Pemerintah Kompeni sendiri meragukan apakah orang-orang Makassar dengan sukarela mau melakukan pekerjaan kasar itu. Sesungguhnyalah orang-orang Makassar itu dipaksa semua oleh kraeng-kraeng mereka untuk bekerja di Pontang (Banten),” ujar De Graaf. Keberadaan Syekh Yusuf Kedatangan Kraeng Bonto Marannu dan rombongannya memang tercatat sebagai yang terbesar, namun bukan yang pertama. Dicatat De Graaf, berdasar laporan pejabat VOC, hubungan Banten dan Makassar paling awal dilakukan oleh seorang ulama besar Makassar, yang dikemudian hari dikenal sebagai Syekh Yusuf Makassar. Pada 1644, dalam usia 18 tahun, Syekh Yusuf meninggalkan Gowa menuju Mekah. Dia bermaksud menuntut ilmu agama di pusat peradaban Islam tersebut. Dia pun memulai perjalanannya dengan menumpang kapal Melayu. Permberhentian pertamanya adalah Banten. Menurut Abu Hamid dalam Syekh Yusuf Makassar: Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang , nama Banten sudah tidak asing bagi Syekh Yusuf. Dia sering mendengarnya dari pedagang-pedagang Melayu, bahwa Banten adalah pusat perdagangan di Barat, sama seperti tempat tinggalnya yang didapuk sebagai pusat niaga di Timur. “Di Banten, Yusuf cepat menyesuaikan diri dan berkenalan dengan ulama-ulama, ahli agama, dan pejabat-pejabat agama. Yusuf sempat bersahabat baik dengan putra mahkota Pangeran Surya yang dikenal kemudian sesudah menjadi sultan dengan nama Arab, Abdul Fathi Abdul Fattah Sultan Ageng Tirtayasa,” tulis Hamid. Tidak diketahui dengan pasti kapan Syekh Yusuf kembali dari Tanah Suci. Tetapi sepulang dari sana dia memilih bermukim di Banten. Dia diketahui tidak kembali ke tanah airnya, Gowa. Dicatat Frederick De Haan dalam Priangan: De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch bestuur tot 1811, Syekh Yusuf bahkan menikah dengan seorang saudara perempuan Sultan Banten. Hal itu membuat dia memiliki kedudukan tetap di Kesultanan Banten. Keberadaan Syekh Yusuf menjadi salah satu alasan orang-orang Makassar datang ke Banten. Ulama kharismatik itu memiliki pengaruh yang besar di Kesultanan Banten. Dia mengajar ilmu agama di lingkungan istana, di sekitar keluarga sultan. Syekh Yusuf juga membawa kebudayaan Timur Tengah ke Banten, seperti perubahan dalam cara berpakaian sehari-hari yang terlalu terbuka, hingga larangan peredaran candu. Orang Makassar Bertingkah Pada Oktober 1671, seorang panglima perang Makassar dalam berbagai pertempuran dengan Belanda bernama Kare Mamu tiba di Banten. Dia segera bergabung dengan Kraeng Bonto Maranmu dan Kraeng Luwu’ untuk membantu rencana pertahanan Banten. Kare Mamu menjanjikan kekuatan sebesar 3000 pasukan kepada Sultan Banten. Mereka berasal dari orang-orang Makassar yang sudah lebih dahulu tinggal di pesisir Jawa. Tawaran indah itu tentu diterima dengan senang hati oleh Sultan. Sebagai gantinya, pihak Banten harus memberikan sebuah kapal besar, lengkap dengan isinya untuk mengangkut pasukan tersebut. Kedua pihak sepakat. Namun ketika hendak membuang sauh di pelabuhan, mata-mata Sultan Banten memberi laporan bahwa Kare Mamu mulai bertingkah dengan membawa lima budak Banten di atas kapalnya. Hal itu membuat sultan berang. Pelayaran pun dibatalkan. Tindakan Kare Mamu telah mengurangi kepercayaan sultan kepada orang-orang Makassar itu. Ditambah para tamunya itu terus menguras pemasukkan Banten karena sebagian besar dari mereka benar-benar menggantungkan hidupnya dari pemberian sultan. Persitiwa lain yang semakin memperburuk hubungan Banten dan Makassar adalah kasus pencurian yang dilakukan orang Makassar di istana. Pada pertengahan 1673, dua orang Makassar tertangkap basah menyelinap masuk ke kamar sultan di istana. Mereka mencuri banyak perhiasan, pakaian-pakaian mahal, dan sejumlah senjata. Keduanya segera diboyong keluar. Di depan gerbang istana, tangan kanan keduanya dipotong dan sultan menghukum mereka dengan tusukan tombak. “Tetapi semua pemuka Makassar tegak di hadapan Sultan, berlutut, dan minta ampunan. Hati Sultan menjadi lunak dan hukuman itu diubah menjadi pembuangan kembali ke Makassar,” imbuh De Graaf. Tapi rupanya pengampunan itu tidak cukup membuat jera. Pada 1674, dua orang Makassar mengamuk di kota. Sejak saat itu sultan menyuruh penjagaan ketat dilakukan di istana, dan melarang orang Makassar masuk ke pusat kota Banten. Selain itu, sultan juga memberlakukan jam malam bagi orang Makassar. Siapapun yang melanggar aturan itu akan dibunuh di tempat. Lebih buruk lagi, penduduk Banten dilarang memberi hunian kepada orang Makassar. Sehingga perlahan orang-orang Makassar terusir dari Banten. Pemimpin mereka juga mulai diperintahkan keluar dari wilayah Banten, membawa serta rombongan yang dibawanya. “Kepastian menjadi jelas setelah diperoleh berita bahwa dari pantai timur Jawa kedua orang pemimpin Makassar itu menyatakan perang terhadap Sultan Banten. Segera pula raja menyuruh mempersiapkan sepuluh kapal untuk mengangkut orang-orang Makassar yang masih tersisa di Banten,” tulis De Graaf.*

  • CIA dan Penyadapan MBAD

    KOLONEL Ahmad Yani bertemu dengan Mayor George Benson ketika menjalani pendidikan di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat, pada 1955. Tahun berikutnya, Benson ditempatkan di Jakarta sebagai pembantu Atase Militer pada Kedutaan Besar Amerika Serikat. Hubungan Yani dan Benson pun semakin akrab. Bahkan, Benson membantu Yani ketika menyusun operasi militer menghadapi PRRI/Permesta. Dia berseberangan dengan CIA yang mendukung PRRI/Permesta karena menganggap pemerintahan Sukarno telah terpengaruh komunisme.

  • Ulah Orang Makassar di Pesisir Jawa

    Setelah terusir secara tidak hormat dari Banten, akibat kerap berbuat onar, para pelaut Makassar mengembangkan layar menuju timur Jawa. Mereka menyusuri pantai utara Jawa, melewati wilayah Cirebon hingga ke Gresik. Tujuan pelayaran itu hanya satu, yakni mendapat tempat bermukim, berlindung, dan berkoloni di daratan. Para pelaut itu sudah tidak punya tanah air untuk kembali. Makassar sudah terlalu asing bagi mereka. Para pelaut Makassar ini terdiri dari pejuang yang telah terlibat dalam banyak pertempuran, baik melawan pasukan VOC maupun pesaing-pesaing di jalur niaga terdekat mereka. Maka ketika pertama kali menginjakkan kaki di perairan Jawa, sifat keras para pejuang ini ikut terbawa. Mereka menjadi terlalu liar dan berbuat seenaknya. Perampokan dan perompakan sudah jadi kegiatan biasa bagi mereka. Tidak lama setelah meninggalkan Banten, seorang warga Banda di Gresik bernama Gabriel Naske melaporkan kepada pejabat Belanda bahwa Kraeng Bonto Marannu telah melakukan perompakan di perairan tengah Jawa. Dengan membawa sekitar 30 armada kapal, orang-orang Makassar itu terlihat berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Madura: Arosbaya, Sampang, dan Sumenep pada Februari 1674. Di Gresik juga terlihat berkumpul enam perahu Makassar, yang dipenuhi orang-orang berwajah garang. Bahkan menurut sejarawan H.J De Graaf dalam Runtuhnya Istana Mataram , keberadaan kapal-kapal Makassar membuat khawatir orang-orang yang melihatnya. Banyak pedagang Ambon dan Banda yang kemudian memlih meninggalkan kawasan tersebut. “Mereka yang berkepentingan berpendapat bahwa sepanjang pantai tidak lagi dapat dilalui dengan aman kecuali jika Kompeni bertindak,” kata De Graaf. Dalam sebuah laporan pejabat Belanda ( Daghregister, 12 April 1674), disebutkan bahwa di ujung timur Jawa, dekat Madura, beberapa kapal dagang telah dibajak perompak Makassar. Mereka mendapat serangan dari sekitar 70 kapal, yang dalam beberapa tahun terakhir banyak mengancam dan membajak kapal-kapal pribumi. Tindakan-tindakan perompak itu sangat kejam. Membuat perairan di sana amat berbahaya dan tidak layak dilalui tanpa pengawalan. Para korban, sebagian besar orang Jawa, bukannya tidak melaporkan kejadian itu kepada pejabat Belanda, tetapi mulanya pemerintah pusat di Batavia tidak menganggap mereka sebagai ancaman. Namun sebuah peristiwa di bulan Juni 1674 membuat perburuan perompak Makassar mulai menjadi perhatian pihak Kompeni. Kala itu sebuah perahu milik pejabat Belanda diserang di Sungai Juwana. Tiga dari enam penumpang kapal dipukuli hingga tewas. Setelah mengambil muatan kapal, para perompak itu menghilang. “Menjelang akhir tahun suasana di pantai tengah Jawa agak mereda. Sebabnya ialah karena para perompak bersarang di ujung timur,” tulis De Graaf. Pada September 1674, Kraeng Bonto Marannu merapatkan kapalnya ke daratan. Dia pergi ke Mataram untuk menghadap Amangkurat I. Pangeran Makassar itu ingin meminta penguasa Mataram agar diberikan tempat tinggal di sekitar pantai timur Jawa. Tetapi belum sempat bertemu Amangkurat, dirinya sudah mendapat penolakan. Permohonan tinggal pun batal dikabulkan. Tidak mendapat restu Sunan, Kraeng Bonto Marannu lalu menemui putra mahkota Mataram, Adipati Anom (kelak bergelar Amangkurat II). Kali ini kraeng tidak pulang dengan tangan hampa, dirinya mendapat izin Adipati Anom untuk menempati daerah di pesisir timur Jawa, di sebuah desa bernama Kampung Demon, di wilayah Situbondo sekarang. Menurut William Cummings dalam The Makassar Annals , Adipati Anom dan pemimpin orang-orang Makassar sepakat berkerja sama. Para pelaut Makassar mendapat tempat tinggal di daratan, sementara pengeran Mataram mendapat tenaga militer, yang bisa dia gunakan jika sewaktu-waktu diperlukan. Terlebih pada waktu tersebut Adipati Anom tengah merencanakan upaya pemberontakan terhadap Amangkurat I. “Harapan akan dibaginya barang-barang rampasan dari suatu peperangan yang besar di Jawa tentu benar-benar membangkitkan semangat orang-orang buangan tersebut,” terang M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 . Diberinya tempat di daratan membuat wilayah perairan Jawa sementara dapat dikendalikan. Orang-orang Makassar di bawah pimpinan Kraeng Bonto Marannu memperkecil tindakan perompakan mereka. Kendati terjadi perompakan terhadap kapal-kapal muatan, itu bukan dilakukan bawahan Kraeng Bonto Marranu, melainkan pelaut Makassar lain yang tidak dipimpin oleh siapapun.

  • Tempe Berdikari Produksi ITB

    TAHU dan tempe belakangan menghilang dari pasaran pada awal tahun baru 2021. Tak ada tempe dan tahu goreng di gerobak gorengan atau oreg tempe di warung Tegal. Pengusaha tahu dan tempe mogok membuat tempe karena harga kedelai impor naik drastis. Setelah itu, pengusaha kembali memproduksi. Tapi harga tempe dan tahu ikut mahal. Tempe telah lama jadi makanan populer di Indonesia. Menurut sejarawan Onghokham dalam “Tempe Sumbangan Jawa untuk Dunia” termuat di Kompas , 1 Januari 2000, tahu dan tempe muncul pada abad ke-19 seiring berlakunya tanam paksa. Masa ini, tahu dan tempe menjadi penyelamat masyarakat. “Tanam paksa makin membuat bahan makanan seperti tempe menjadi sangat vital sebagai penyelamat kesehatan penduduk,” ungkap Ong.

  • Demokrasi dan Politik Pembubaran Organisasi

    PELARANGAN terhadap Front Pembela Islam (FPI) oleh pemerintah menuai pro dan kontra. Ada yang menyebut pelarangan itu tidak demokratis. Ada pula yang mendukung dibubarkannya organisasi yang dianggap menyuburkan intoleransi di Indonesia ini. Pelarangan ini bukanlah yang pertama terjadi. Pada 2017, pemerintah juga melarang eksistensi Hisbut Tahrir Indonesia (HTI). Lebih jauh, beberapa pelarangan atau pembubaran juga dilakukan terhadap partai dan organisasi kemasyarakatan sejak era pemerintahan Sukarno. Pada 17 Agustus 1960, Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dibubarkan Presiden Sukarno atas pertimbangan Mahkamah Agung. Kedua partai ini dilarang eksistensinya karena terlibat pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Lima tahun kemudian, Partai Murba juga dibubarkan oleh Sukarno karena dituduh dalam upaya penggulingan presiden. Namun Murba kemudian direhabilitasi pada 1966. Murba kembali dibubarkan pada 1973 di bawah pemerintahan Soeharto. Pembubaran partai dan organisasi-organisasinya yang paling heboh dalam sejarah Indonesia barangkali adalah pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI). Partai palu arit ini dilarang setelah dianggap sebagai dalang peristiwa G30S 1965. Pembubarannya juga disusul dengan pembantaian massal ratusan ribu anggota serta simpatisannya. Sementara itu, dengan menggunakan UU Ormas pemerintah Orde Baru melarang dua organisasi yakni Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Gerakan Pemuda Marhaen (GPM) pada 1987. Direktur Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid dalam Dialog Sejarah “Politik Pembubaran: Dari PKI sampai FPI” di saluran Youtube  dan Facebook  Historia menyatakan bahwa salah satu penyebab dari pembubaran-pembubaran tersebut adalah pertarungan ideologis antar partai atau organisasi. “Nah dalam praktiknya memang pertarungan ideologi tadi termasuk di dalamnya juga pertarungan kepentingan, pertarungan para aktor gitu ya, itu melahirkan banyak sekali peristiwa-peristiwa bersejarah tentang pembubaran organisasi,” jelas Usman. Usman melanjutkan bahwa politik pembubaran itu dilakukan karena pemerintah mengedepankan pendekatan kekuasaan, bukan pendekatan hukum. Padahal, jelasnya, pendekatan hukum merupakan prinsip utama dalam ketentuan-ketentuan awal dari Undang-Undang Dasar 1945.  Menurut Usman, hal serupa juga terjadi dalam kasus pembubaran HTI dan FPI. Usman keberatan bila pembubaran atau pelarangan organisasi, baik partai politik maupun organisasi kemasyarakatan ditempuh dengan cara-cara yang tidak demokratis. “Tidak dengan proses peradilan misalnya,” ujar mantan aktivis 1998 ini. “Kalau caranya tidak demokratis itu saya kira mestinya tidak dilakukan, karena itu akan berakibat cukup serius pada dinamika kehidupan bangsa yang tidak demokratis. Tanpa kubu kiri misalnya, sudah lama pertarungan politik Indonesia hanya dikuasai oleh kanan, baik itu kanan nasionalis maupun kanan Islam yang juga sama-sama kalau dalam prakteknya tidak banyak menghormati Hak Asasi Manusia,” terangnya. Menurut Usman, pembubaran-pembubaran partai dan organisasi sepanjang sejarah Indonesia memiliki satu ciri khas, meminjam istilah Marcus Mietzner yakni rival populism . Di mana terjadi pertentangan populistik antara beberapa aktor. Ia juga menyebut bahwa pembubaran atau pelarangan terjadi di bawah pemerintahan yang bercorak kurang demokratis atau rata-rata nasioalis populis. “Kenapa saya katakan tidak demokratis atau relatif tidak demokratis karena di saat misalnya PSI dan Masyumi dibubarkan itu pemerintahan di Indonesia sudah berlangsung tanpa parlemen. Sukarno membubarkan parlemen. Istilah Sukarno, mengubur partai-partai politik,” kata Usman. Hal yang sama menurutnya juga terjadi pada pembubaran PKI, PII dan GPM di era Orde Baru. Dua era ini kemudian mewariskan politik pembubaran atau politik pelarangan partai politik mapun organisasi kemasyarakatan. Usman menegaskan bahwa ia tidak membela FPI, HTI maupun parpol-parpol yang pernah dibubarkan melainkan mendorong proses penegakan hukumnya yang harus demokratis. Berbeda dengan Usman, politikus PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari justru mendukung pelarangan FPI dan sebelumnya HTI yang menurutnya sudah cukup demokratis. Eva juga menyebut bahwa organisasi-organisasi tersebut telah melakukan aksi-aksi kekerasan, anggotanya terlibat terorisme serta melanggar demokrasi itu sendiri. “Masa sih demokrasi harus mengakomodasi orang yang anti demokrasi. Substansi demokrasi yang menurut saya adalah penegakan hukum yang berkeadilan itu kan syaratnya orang yang berkesadaran hukum, sehingga tidak merugikan agenda besar berbangsa dan bernegara ini,” ujarnya. Eva mencontohkan, negara dengan penegakan HAM yang kuat seperti Norwegia misalnya, juga melarang HTI. Norwegia, jelas Eva, tidak membiarkan orang-orang yang tidak memegang prinsip-prinsip HAM justru merusak demokrasi. Eva juga menambahkan bahwa Indonesia, meski juga dikecam dalam beberapa kasus, masih menjadi barometer demokrasi di negara-negara ASEAN. Menurutnya, demokrasi Indonesia masih lebih baik dibanding negara-negara ASEAN yang seringkali melakukan tindakan-tindakan otoriter terhadap oposisi. “Indonesia sudah sangat bagus tidak ada pemenjaraan seperti yang ada di Myanmar ataupun yang ada di Kamboja. Kemudian sangat demokratis dan civil society  juga diberikan ruang untuk berpendapat,” jelas Eva.*

  • Jejak Kuliner pada Karang Gigi

    BAYANGKAN pemandangan pasar di sebuah kota di wilayah Levantine –kini meliputi Lebanon, Suriah, Yordania, Israel, dan Palestina– pada 3.700 tahun lalu. Pedagangnya tak hanya menjajakan gandum, milet, atau kurma, yang banyak tumbuh di sana. Tetapi juga minyak wijen dan mangkuk berisi rempah-rempah berwarna kuning cerah dari negeri jauh. Ternyata, orang-orang Mediterania telah mengonsumsi kunyit, pisang, dan bahan makanan lain dari Asia Selatan, Timur, dan Tenggara sejak 3.000 tahun lalu, jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Bahan-bahan makanan itu mengembara lewat perdagangan jarak jauh pada Zaman Perunggu dan Besi Awal. Penemuan baru itu terungkap oleh tim peneliti, salah satunya arkeolog Philipp W. Stockhammer dari University of Munich atau Ludwig-Maximilians-Universität (LMU). Mereka menganalisis sampel sisa makanan di karang gigi manusia yang didapat lewat penggalian arkeologis di Tel Megiddo dan Tel Erani di Israel saat ini. Hasil penelitiannya berjudul “Exotic foods reveal contact between South Asia and the Near East during the second millennium BCE” dipublikasikan dalam jurnal  PNAS  pada 21 Desember 2020. Makanan yang Mengembara Stockhammer menjelaskan bahwa hasil penelitiannya adalah bukti langsung paling awal keberadaan kunyit, pisang, dan kedelai di luar Asia Selatan dan Timur. “Wijen telah menjadi makanan pokok di Levantine pada milenium ke-2 SM,” jelasnya dikutip   phys.org. Penemuan itu juga membuktikan kalau sejak milenium kedua SM sudah ada perdagangan jarak jauh yang berkembang pesat. Terutama perdagangan buah-buahan, rempah-rempah, dan minyak-minyak dari negeri jauh. “Orang-orang jelas sangat tertarik pada makanan eksotis sejak awal,” katanya. Perdagangan itu diyakini menghubungkan Asia Selatan dan Levantine melalui Mesopotamia atau Mesir. Menurut Stockhammer, wilayah Levantine selatan memang telah berfungsi sebagai jembatan penting antara Mediterania, Asia, dan Mesir pada milenium ke-2 SM. Ketiga makanan tersebut kemungkinan besar telah mencapai Levantine melalui Asia Selatan. Pisang awalnya didomestikasi di Asia Tenggara, di mana pisang telah digunakan sejak milenium ke-5 SM. Sebagaimana disebutkan oleh Peter Bellwood, arkeolog Australian National University dalam First Farmers: The Origins of Agricultural Societies, di wilayah dataran tinggi Papua New Guinea tepatnya di Situs Kuk, di Lembah Wahgi, pada sekira 5.000 SM, telah ditemukan parit-parit yang diduga digunakan untuk menanam keladi, talas, taro, yam atau uwi, pandan, tebu, dan pisang. Ery Soedewo, arkeolog dari Balai Arkeologi Medan, dalam “Kajian Agrikultur dalam Arkeologi: Alat Refleksi Dampak Kegiatan Agrikultur Bagi Peradaban Manusia” yang terbit dalam Agrikultur dalam Arkeologi  menjelaskan dari Asia Tenggara pisang kemudian menyebar hingga Australia, India, Jepang, Cina, dan daerah tropis lainnya. Pisang baru tiba di Afrika Barat 4.000 tahun kemudian. Kendati begitu sedikit yang diketahui tentang intervensi perdagangan atau penggunaannya. Tidak ada bukti arkeologis atau tertulis sebelumnya yang menunjukkan penyebaran awal pisang, khususnya ke wilayah Mediterania. “Analisis kami dengan demikian memberikan informasi penting tentang penyebaran pisang di seluruh dunia,” kata Stockhammer. “Saya merasa spektakuler bahwa perdagangan makanan jarak jauh terjadi pada titik awal sejarah.” Jajak pada Karang Gigi Sebagaimana dikutip dari laman phys.org , penelitian ini awalnya dilakukan untuk mencari tahu kuliner pada populasi Levantine di Zaman Perunggu. Mereka menganalisis sisa makanan, termasuk protein dan mikrofosil tumbuhan yang tersimpan dalam karang gigi manusia selama ribuan tahun. Teorinya mulut manusia penuh bakteri. Ini kemudian membatu seiring waktu. Partikel makanan pun terperangkap dan terawetkan dalam karang gigi yang sedang berkembang. Sisa-sisa partikel inilah yang kini bisa diakses untuk penelitian ilmiah berkat teknologi mutakhir. Para peneliti mengambil sampel dari sisa-sisa individu yang berjumlah 16 di Situs Zaman Perunggu di Tel Megiddo dan Situs Zaman Besi Awal Tel Erani. Kata Stockhammer, ini memungkinkan mereka menemukan jejak makanan yang dikonsumsi seseorang dari masa lalu. “Siapa pun yang tidak mempraktikkan kebersihan gigi masih bisa memberi tahu kami para arkeolog apa yang mereka makan ribuan tahun lalu,” kata Stockhammer. Stockhammer mengakui, mereka tidak dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa bisa saja salah satu individu menghabiskan sebagian hidupnya di Asia Selatan. Lalu di sana individu itu mengkonsumsi makanan setempat, hanya saat mereka berada di sana. Pun soal sejauh mana rempah-rempah, minyak, dan buah-buahan diimpor juga belum bisa diketahui. Yang jelas, perdagangan jarak jauh memang sudah berlangsung lama sekali. Pasalnya, ada juga bukti lain dari rempah-rempah “eksotis” di Mediterania Timur. Firaun Ramses II dimakamkan bersama merica dari India pada 1213 SM. Merica itu ditemukan di hidungnya.*

  • Jalan Intelektual Seorang Sosialis Kanan

    YOGYAKARTA, 21 Desember 1989. Suasana dalam ruang Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan itu mulai panas karena tidak ber-AC. Volume suara sang penceramah mulai menurun. Tangannya diletakkan di kening, ia menengadah dan memejamkan mata. Ketika ruangan hening, ia terkulai seperti hendak tidur. Soedjatmoko, intelektual sosialis itu, meninggal ketika sedang mengisi ceramah.

  • Rush Memicu Adrenalin hingga Garis Finis

    LANGIT di Sirkuit Nürburgring masih dipayungi awan jelang Grand Prix Formula One (GP F1) Jerman, pagi 1 Agustus 1976. Sinar mentari sulit mencapai bumi. Dari kokpit mobil Ferrarinya di garis start, Niki Lauda (diperankan Daniel Brühl) terus mengunci pandangannya ke langit bercuaca buruk itu. Kesadaran pembalap asal Austria itu baru tergugah setelah ditegur salah satu mekaniknya. Lauda ditanyakan apakah mau mengganti ban mobilnya dengan ban kering lantaran hujan mulai reda. Namun ketika tahu seterunya asal Inggris, James Hunt (Chris Hemsworth), di mobil McLaren tetap memakai ban basah, Lauda enggan mengganti dengan ban kering. Begitu ofisial balapan mengibarkan bendera Jerman di garis start , suara decitan ban dari mobil-mobil balap yang adu cepat itu menandai dimulainya balapan. Adegan tersebut disajikan sutradara Ron Howard sebagai preambul film biopik bertajuk Rush . Film ini mengisahkan drama perseteruan sengit dan kontroversial dua pembalap nyentrik, Niki Lauda dan James Hunt, di dalam maupun di luar lintasan F1 musim 1976. Adegan jelang GP Jerman 1976 ( universalpictures.com ) Untuk memberi gambaran lebih jelas mengapa musim 1976 jadi puncak rivalitas Lauda dan Hunt, Howard mengalihkan alur ke titimangsa enam tahun sebelumnya. Pada tahun 1970 itulah Lauda dan Hunt pertamakali bertemu, di ajang Formula Three (F3). Kedua pembalap berdarah muda itu berbeda bak langit dan bumi. Hunt merupakan pembalap yang nyaris serampangan, gemar minum-minum dan foya-foya bersama perempuan sebelum balapan. Sementara, Lauda tipikal pemuda saklek dan disiplin baik dalam mempersiapkan fisik, mental, maupun mobilnya. Perbedaan tersebut kentara sekali ketika balapan di F3 itu dimulai. Ketika Lauda memacu mobil untuk melahap sektor demi sektor sirkuit, dia berangkat dari kalkulasi teknis yang presisi. Di sisi lain, Hunt mengandalkan intuisi dan kenekatannya. Alhasil, setelah bersaing ketat untuk menjadi yang terdepan, mobil Lauda dan Hunt bersenggolan. Kedua mobil pun tergelincir dari trek. Lauda sial, mesin mobilnya bermasalah. Hunt beruntung sehingga kembali melaju hingga akhirnya meraih trofi juara. Saling ejek pasca-balapan pun pecah. Momen itu melahirkan kesumat di antara kedua pembalap flamboyan itu. Sejak saat itu, baik Lauda maupun Hunt selalu memendam rasa untuk saling mengalahkan di lintasan. Yang terpenting bukanlah di posisi berapa mereka finis, namun mengalahkan sang lawan. Bagi mereka gelar juara hanya jadi bonusnya. Adegan persaingan sengit di lintasan jelang kecelakaan di GP Jerman 1976 ( universalpictures.com ) Ambisi itu terus terbawa hingga keduanya naik ke pentas F1 pada musim 1975, di mana Lauda memiloti Scuderia Ferrari dan Hunt memiloti Hesketh. Di musim itu, Lauda yang punya keunggulan teknis mengendarai mobil “Si Kuda Jingkrak” dengan jumawa mengasapi Hunt di sejumlah seri hingga akhirnya merebut gelar juara dunia. Tetapi puncak rivalitas keduanya terjadi di musim 1976 ketika Hunt memiloti mobil McLaren, rival setara Ferrari Lauda. Hunt dan Lauda acap saling salip di lintasan hingga bergantian juara dari seri balapan ke seri balapan. Tibalah GP Jerman di Sirkuit Nürburgring, 1 Agustus 1976. Hunt mencibir Lauda sebagai pengecut karena mengusulkan penundaan balapan karena cuaca buruk. Dari pertemuan 25 pembalap yang diadakan, mayoritas memihak Hunt yang ingin melanjutkan balapan. Sebaliknya, nasib nahas yang dikhawatirkan Lauda pun terjadi ketika mobilnya kecelakaan dan Lauda mengalami luka bakar serius. Bagaimana kelanjutan rivalitas keduanya pasca-kecelakaan itu? Anda tonton sendiri sajalah Rush. Meski sudah tayang di berbagai bioskop sejak dirilis pada 3 Oktober 2013, hingga saat ini tetap bisa disaksikan secara daring di Mola TV . Sahabat di Balik Rivalitas Sengit Rush amat pas dijadikan hiburan untuk menyongsong gelaran F1 musim 2021 yang baru akan digelar pada 21 Maret. Dengan kemasan drama, Rush masih jadi film terbaik bertema balapan F1 hingga kini. Maklum, sejumlah film yang mengangkat tema balapan F1 didominasi genre dokumenter, seperti: Weekend of a Champion (1972), Senna (2010), Ferrari: Race to Immortality (2017), dan Heroes (2020). Namun, keunggulan Rush bukan semata kemasannya. Music scoring garapan komposer kawakan Hans Zimmer-nya juga mampu memacu adrenalin penonton sekaligus menggugah nostalgia lewat beberapa irama retro yang populer pada 1970-an. Greget suasana balapan pun amat terasa lantaran tim produksi melakukan syuting di lokasi asli, Sirkuit Nürbrugring, dan juga memakai mobil Ferrari 312T2 dan McLaren M23 persis seperti yang dipakai Lauda dan Hunt di musim 1976. Dua mobil asli yang digunakan untuk beberapa adegan itu disewa dari seorang kolektor. “Saya beruntung mereka (kolektor) mau jadi bagian dari film kami karena mereka meyakini bahwa kami ingin membuat filmnya serius dan otentik. Jika mobilnya akan dihancurkan di sebuah adegan, kami memakai replikanya dengan ditambah elemen CGI ( computer-generated imagery ),” ujar Howard kepada Race Fans , 15 September 2013. Replika Mclaren M23 (kanan) & Ferrari 312T2 (kiri atas) yang dipakai dalam adegan film  Rush jelang GP Jepang 1976 ( mclaren.com ) Hasilnya, detail itu menambah kemiripan drama rivalitas antara Hunt dan Lauda. Lauda, yang turut jadi cameo dan diundang dalam screening dan premier -nya, mengakui ada beberapa hal yang didramatisir demi menambah keseruan drama. “Ketika pertamakali melihat filmnya, saya terkesan. Tidak ada hal yang diubah dengan gaya Hollywood. Filmnya sangat akurat dan hal ini sangat membuat saya terkejut,” tutur Lauda saat diwawancara Carjam TV , medio September 2013. Akurat yang dimaksud Lauda adalah perseteruannya dengan mendiang Hunt. Persaingan mereka di lintasan acap jadi sasaran empuk untuk dikompori sejumlah media hingga menggugah antusiasme penggemar balapan F1 secara luas. Padahal, sengitnya rivalitas mereka hanya terjadi di lintasan. Saat balapan mereka adalah musuh. Selepas balapan mereka adalah sahabat. “Saya tak tahu kenapa persaingan saya dengannya (Hunt) jadi hal yang besar. Kami hanya pembalap yang saling menyalip dan bagi saya itu hal yang normal. Tapi orang lain menganggap apa yang terjadi di antara kami lebih dari itu,” kata tokoh Lauda di film. Andreas Nikolaus 'Niki' Lauda (sisi kiri) yang dalam film diperankan aktor Daniel Brühl ( formula1.com/universalpictures.com ) Adegan persahabatan dan permusuhan silih berganti muncul sejak awal dalam Rush . Adegan perbincangan hangat antara Hunt dan Lauda yang –mengakui bahwa dengan menyaksikan Hunt meraih kemenangan demi kemenangan seiring dirinya dirawat ikut membangkitkan spirit -nya untuk sembuh secara fisik– baru comeback setelah dirawat pasca-kecelakaan di GP Jerman cukup kentara menggambarkan persahabatan keduanya meski publik secara luas menganggapnya musuh abadi. Dalam James Hunt: The Biography, Gerald Donaldsonmengungkapkan bahwa Lauda dan sejumlah pembalap lain memberi ucapan selamat kala Hunt memenangi sebuah seri Formula Two (F2) musim 1972 di Sirkuit Oulton Park. “Kami benar-benar senang melihat James akhirnya bisa ikut merasakan kesuksesan yang pantas ia dapatkan,” ujar Lauda dikutip Donaldson. Aktor Chris Hemsworth (kiri) yang memerankan James Simon Wallis Hunt yang semasa muda dikenal playboy (IMDb/MSI) Persahabatan di luar lintasan keduanya tetap terjaga bahkan sejak sama-sama merintis karier di arena balap. Lauda dan Hunt kerap tinggal bareng di flat sewaan setiap kali mereka berkeliling Eropa untuk menjalani seri-seri balapan. “Saya dan Niki sangat akrab dan bersahabat sejak pertamakali bertemu di Formula Three dan berkeliling Eropa bersama. Kadang kami saling bersaing di lintasan tapi kadang kami juga bermitra seperti dua pembalap dalam satu tim. Kami benar-benar berteman baik, tidak hanya dalam waktu-waktu tertentu, tapi selalu bersahabat,” papar Hunt, dikutip Donaldson. Ending mengharukan dengan apik disuguhkan Howard dalam Rush dengan adegan Lauda mendorong moril kawan sekaligus lawannya itu untuk tak berpuas diri setelah Hunt merebut juara musim 1976. Sementara, Hunt merangkul Lauda dan menyarankan bahwa hidup seorang pembalap tak hanya untuk disiplin di lintasan namun juga untuk menikmati kesuksesan itu sendiri. “Hidup penuh kesenangan, Niki. Apa gunanya punya medali, trofi, mobil, bahkan pesawat jika Anda tak bersenang-senang? Bagaimana itu bisa disebut menang?” kata Hunt. Kolase persahabatan Lauda dan Hunt dalam film (atas) dan kehidupan aslinya ( universalpictures.com/jameshunt.com/mclaren.com ) Jalinan persahabatan itu tak serta-merta putus kala Hunt gantung helm secara prematur pada 1979. Saat kondisi ekonomi Hunt menukik tajam akibat kecanduan alkohol, Lauda yang masih berkarier dan terus berjaya di pentas F1 hingga 1985 rela meminjamkan uang agar kehidupan Hunt membaik. “Saya berikan dia uang tapi lakukanlah sesuatu, jangan minum-minum. Saya akan selalu mendukung dia tapi bangkitlah. Dia harus bangkit. Sampai dua kali saya pinjamkan dia uang sampai akhirnya kondisi ekonomi dia membaik. Akhirnya dia benar-benar bangkit dari keterpurukan dan lalu menjadi komentator balapan di BBC ,” kata Lauda kepada Graham Bensinger dalam wawancara bertajuk “In Depth with Graham Bensinger: Niki Lauda” di laman grahambensinger.com , 11 Oktober 2017. Persahabatan mereka baru berakhir ketika maut menjemput Hunt lewat serangan jantung pada 15 Juni 1993 di kediamannya, Wimbledon. Lauda amat kehilangan. “Saat saya mendengar kabar dia meninggal pada usia 45 tahun karena serangan jantung, saya tak terkejut. Saya hanya merasa sedih. Orang-orang selalu berpikir kami sebagai rival. Tapi dari sedikit orang yang saya sukai, dia adalah salah satunya. Bahkan satu dari sedikit orang yang saya hormati. Dia tetap jadi satu-satunya orang yang membuat saya iri,” tandas Lauda. Data Film: Judul: Rush | Sutradara: Ron Howard | Produser: Andrea Eaton, Eric Fellner, Brian Oliver, Peter Morgan, Brian Grazer, Ron Howard| Pemain: Daniel Brühl, Chris Hemsworth, Alexandra Maria Lara, Olivia Wilde, Pierfrancisco Favino | Produksi: Cross Creek Pictures, Working Title Films, Imagine Entertainment, Revolution Films | Distributor: Universal Pictures, StudioCanal, Universum Film AG | Genre: Biopik Olahraga | Durasi: 124 menit | Rilis: 3 Oktober 2013, Mola TV

  • E.S. Pohan dari PID ke PRRI

    KANTORNYA berada pada salah satu bangunan di belakang gedung Raffles Place, Singapura. Untuk sampai ke sana harus melalui trotoar sempit yang ditaburi noda merah dari ludah sirih seorang penjaga Sikh, bau debu, saluran pembungan, dan air seni. Di sanalah, James Mossman, menemui E.S. Pohan, “duta besar” pemberontak di Asia.

  • Cerita dari Front Bandung

    HARI ke-6 Desember 1945 adalah awal mula neraka mengunjungi pasukan Divisi ke-23 tentara Inggris di Bandung. Tertiuplah sebuah kabar bahwa beberapa tank berjenis M4 Sherman bergerak dari kawasan Hotel Homan. Mereka dikawal oleh truk-truk pengangkut pasukan infanteri dari Batalyon Gurkha Rifles 3/3. “Tujuan mereka adalah Tuindorp dan Ciateul, dua kamp interniran berisi orang-orang Belanda, Minahasa, Maluku dan Cina yang menjadi tawanan tentara Jepang,” ungkap Aleh, lelaki berusia 93 tahun. Namun baru sampai di Jalan Cikawao, konvoi pasukan Inggris itu harus kehilangan sebuah truk-nya yang melindas ranjau darat. Begitu kendaraan militer tersebut meledak, dari kiri dan kanan jalan para pejuang Indonesia dari Batalyon Soemarsono, Batalyon Achmad Wiranatakusumah, Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbullah pimpinan Husinsyah memberondong dengan tembakan gencar rombongan pasukan Inggris itu. Di tengah kepanikan prajurit-prajurit Divisi ke-23, tetiba seorang pejuang muda Hizbullah bernama Agus berlari ke arah salah satu tank Sherman tersebut. Dengan tak henti berteriak “allahu akbar”, dia kemudian menaiki Sherman itu, membuka kanopi-nya dan langsung meloncat ke dalam tank sambil memegang dua granat yang siap pakai. Glaarrr! Monster berkulit besi itu pun roboh bersama orang-orang yang berada di dalamnya. “Agus tercatat sebagai kawan kami yang pertama gugur dalam penghadangan itu,” kenang Aleh yang merupakan eks pejuang Hizbullah itu. Selanjutnya, pertempuran di front Bandung tersebut berlangsung secara brutal. Tidak cukup dengan peluru, para petarung dari dua pihak pun terlibat dalam perkelahian satu lawan satu yang sangat seru. Darah memuncrat di sana-sini. Teriakan takbir bersanding dengan teriakan khas para prajurit Gurkha yang sebagian bertarung dengan menggunakan khukri (senjata khas orang Gurkha). Insiden penghadangan yang lebih dikenal sebagai Pertempuran Lengkong itu nyatanya banyak memakan korban, terutama di pihak pejuang Indonesia. Ada 16 pejuang Hizbullah lainnya yang tercatat kemudian menyusul Agus ke alam baka. Mereka rata-rata masih sangat muda, berusia antara 17-19 tahun. “Dari kantong salah seorang korban, kami menemukan sebungkus garam dan cabe rawit. Terharu sekali kami, karena walaupun hanya dengan bekal makanan itu, dia tetap rela berjuang,” ujar salah seorang anggota Palang Merah bernama Upi Suyar dalam buku karya R.J. Rusady W., Tiada Berita dari Bandung Timur 1945-1947. Selain para pejuang laki-laki, front Bandung pun tersohor dengan sejumlah maung bikang (macan betina). Mereka rata-rata tergabung dalam Laskar Wanita Indonesia (Laswi). Salah satunya bernama Soesilowati. Laiknya pejuang lelaki, dia tak sungkan-sungkan untuk bertarung satu lawan satu dengan prajurit musuh. Salah satu korban dari kegarangannya adalah seorang letnan dari kesatuan Gurkha Riffles. Dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid I: Kenangan Masa Muda , Jenderal TNI (Purn) A.H. Nasution mengisahkan pada suatu pagi di tahun 1946, markasnya di Jalan Kepatihan, Bandung didatangi oleh seorang perempuan muda yang datang dengan menunggang seekor kuda. Begitu sampai di depan pintu, perempuan yang tak lain adalah Soesilowati itu, masuk dan langsung menemui Nasution. Tanpa banyak cakap, dia menyodorkan sebuah bungkusan di atas meja Kepala Staf Panglima Komandemen Jawa Barat tersebut. Begitu Nasution membukanya, nampak kepala seorang perwira Gurkha lengkap dengan pita-pita tanda kepangkatannya. “Wajahnya simpatik dan nampak ia masih sangat muda namun sayang harus menjadi korban pergolakan politik negeri orang lain yang tak memiliki hubungan apapun dengan negaranya,” ujar Nasution. Sejak itulah Nasution paham akan keberanian para mojang Bandung. Ia tak ragu lagi melibatkan mereka dalam setiap tugas dan pertempuran. Soesilowati sendiri, kata Nasution,  secara sukarela kadang menjadi pengawal Nasution dalam setiap kegiatan komandemen. “Saya ingat kebiasaan dia jika tengah melakukan pengawalan: duduk  tegap di atas kap mobil,” kenang sang jenderal. Selain Soesilowati, satu lagi anggota Laswi yang dikenal sebagai tukang penggal kepala tentara Gurkha yakni Willy Soekirman. Dalam buku Saya Pilih Mengungsi  karya Ratnayu Sitaresmi dkk, disebutkan nyaris pada setiap pertempuran kota di Bandung, Willy yang menggunakan sebilah pedang kecil sering terlibat perkelahian satu lawan satu dengan prajurit Gurkha yang bersenjata khukri dan uniknya selalu berhasil memenggal kepala lawannya. “Saya selalu tak sadar jika sedang memenggal kepala musuh. Tahu-tahu aja ada darah segar mengalir di tangan saya dan kawan-kawan di sekitar berteriak histeris menyemangati saya…” ungkapnya.*

  • Tahun Baru Nahas di Stadion Ibrox

    CUACA di kota Glasgow pada awal tahun 1971 masih dingin menggigit. Namun pada 2 Januari 1971, puluhan ribu suporter yang menyesaki Stadion Ibrox bisa menghangatkan suasana hati John Hodgman, asisten editor Suratkabar Daily Express  yang fans berat Glasgow Rangers . Dua hari sebelumnya, saat pergantian tahun, Ibrox tengah menjadi tempat duel tim sekota bertajuk “Derby Old Firm” antara Rangers vs Glasgow Celtic. Dua klub tersebut acap berseteru berdasarkan agama: Katolik dan Protestan. “Rangers belum berubah. Sudah menjadi kebanggaan bagi mereka dengan memasuki 1970-an tanpa sekalipun merekrut pemain Katolik dalam 100 tahun. Di sisi lain, Celtic   justru dilatih seorang Protestan (Jock Stein, red. ),” kata   Hodgman (72)   mengenang kejadian itu lewat kolomnya di The Guardian , 3 Desember 2020. Di babak pertama, Hodgman menyaksikan duel itu di sektor fans Celtic untuk keperluan reportasenya. Namun saat laga turun minum, Hodgman beralih ke tribun timur, basis fans Rangers. Ribuan fans Rangers tampak bosan sepanjang babak kedua   hingga tiba menit ke-89. Dari tempatnya, Hodgman melihat di sektor seberang fans Celtic bereuforia seiring   Jimmy Johnstone melesakkan gol 1-0 buat Celtic. Raut wajah kecewa tampak di antara beberapa fans Rangers yang memilih untuk meninggalkan tribun menuju “Tangga 13” di sisi timur laut stadion lantaran laga sebentar lagi berakhir. Namun, di menit terakhir tendangan bebas Colin Stein berhasil mengubah skor, 1-1,  yang lantas diikuti histeria ribuan penonton yang masih bertahan di tribun. Histeria itu lantas menular kepada ribuan penonton yang sudah bergerak di Tangga 13, tangga keluar yang sempit dan hanya terdiri dari tujuh jalur. “Para penonton yang seperti saya yang tengah berhimpitan dengan punggung orang lain menuju tangga keluar, tiba-tiba berhenti dan berbalik arah untuk melihat lagi. Saat Stein mencetak gol, suasananya sudah seperti bom yang meledak. Semua tribun basis penonton Rangers bersorak. Skor 1-1 sudah seperti kemenangan buat kami,” imbuhnya. Momen Colin Anderson Stein mencetak gol penyama kedudukan 1-1 ( thecelticstar.com ) Lima menit pasca-wasit meniup peluit panjang tanda laga berakhir, bencana   dimulai. Hodgman tak bisa mengingat apa yang menyebabkan ribuan orang berdesakan di “Tangga 13” tiba-tiba bertumbangan seperti susunan domino berjatuhan. Hodgman sedikit beruntung. Dia berada di salah satu sisi pagar kayu dan mengamankan dirinya dengan duduk di atas pagar kayu itu. Hal nahas dialami suporter Rangers Andy Ewan (71). Ia yang saat itu masih berusia 23 tahun ikut tumbang dan terjebak di tengah tumpukan manusia laiknya piramida   setinggi enam kaki. Tetapi sebelum kejadian   bertambah parah, Ewan berhasil diselamatkan. “Bagian bawah tubuh saya terjebak dan tak bisa bergerak. Di sekitar saya terdengar banyak teriakan dan tangisan. Seperti saya, mereka kesulitan bernafas. Jika tidak ada seorang polisi yang datang dari bawah dan menarik saya…siapa yang tahu (jika saya masih akan hidup),” ujar Ewan kepada The Herald , Selasa (29/12/2020). Puluhan fans lain   tak seberuntung Hodgman atau Ewan. Sebanyak 66 suporter Rangers meregang nyawa. Sementara 200 lainnya luka-luka. Hari itu jadi bencana terburuk dalam sepakbola di Inggris Raya   sebelum Bencana Hillsborough di Sheffield, Inggris terjadi pada 1989. Dari 66 orang yang tewas mengenaskan, 31 di antaranya masih di bawah umur. Yang termuda, Nigel Patrick Pickup, berusia sembilan tahun. Satu perempuan, Margaret Ferguson, yang berusia 18 tahun turut jadi korban tewas. Petaka Ibrox Salah Siapa? Tragedi itu bukan yang pertama terjadi di Ibrox, kandang Rangers sejak 1887. Petaka di Ibrox pertamakali terjadi pada 5 April 1902 kala Skotlandia menjamu Inggris dalam turnamen British Home Championship 1901-1902. Robert Sheils mengungkapkan dalam “The Fatalities at the Ibrox Disaster of 1902” yang dimuat dalam The Sports Historian ,   25 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya terluka dalam tragedi itu. Tragedi tersebut disebabkan oleh dinding belakang di tribun barat ambruk. Lapisan dindingnya yang terbuat dari material kayu ternyata sudah keropos akibat hujan deras pada malam sebelum pertandingan. Kejadian serupa tragedi “Tangga 13” tahun 1971 terjadi pula 10 tahun sebelumnya.   Hodgman masih ingat tragedi pada 16 September 1961 itu lantaran menjadi salah satu korban. Dua orang tewas dan delapan terluka akibat bencana itu. Para korban "Tragedi Ibrox" yang dievakuasi ( thecelticstar.com ) Meski sempat terjatuh dan terhimpit, Hodgman yang saat itu berusia 14 tahun bisa selamat. Dia hanya terluka di bagian rusuk. “Tidak ada orang yang bisa bergerak. Saya panik. Rasanya seperti berada di dalam air terlalu lama. Paru-paru saya kosong dan berusaha keras mendapatkan udara. Betapapun berusaha bergerak, namun sikut saya terhimpit rusuk saya sendiri. Saya menangis dan mengumpat. Setelah beberapa orang bisa melepaskan diri, saya mendapati celah untuk bergerak dan menjauh dari tumpukan manusia itu,” sambung Hodgman. Pada 1969, petaka kembali terjadi di “Tangga 13”.Meski tidak ada korban tewas, sebanyak 13 penonton terluka dalam kejadian ini. Kendati kejadian pahitsudah beberapakali menghampiri Ibrox, pengelola stadion dan manajemen Rangers belum punya kesadaran untuk mengambil tindakan lebih baik terhadap “Tangga 13”. Stadion Ibrox pada 1970-an ( rangers.co.uk ) Graham Walker dalam “The Ibrox Stadium Disaster of 1971” yang dimuat dalam Soccer and Disaster  menguraikan, spekulasi terhadap penyebabnya mengemuka seiring penyelidikan resmi klub, Fatal Accident Inquiry (FAI), dan pemerintah Inggris Raya. Petaka itu intinya terjadi akibat bentrokan arus penonton yang hendak turun dan penonton yang spontan berbalik badan dan naik lagi untuk merayakan gol Colin Stein. “Dua arus besar penonton itu bertubrukan dan hasilnya kejadian mematikan itu. Colin Stein, 20 tahun berselang mengaku ikut merasa bersalah atas tragedi itu. Teori itu juga didalami FAI dari sejumlah saksi mata. Di sisi lain, beberapa keluarga korban sampai mengajukan Rangers Football Club ke muka pengadilan,” tulis Walker. Pengajuan itu bertolak dari fakta bahwa klub dan pengelola stadion hingga waktu kejadian sama sekali belum punya pedoman dan standar keamanan untuk penonton di dalam stadion. Mereka abai dan tak memperhatikan keamanan dalam desain “Tangga 13”. Padahal, akses ini jadi salah satu akses keluar-masuk favorit para penonton. “(Manajemen) Rangers dan pihak kepolisian sudah tahu bahwa ‘Tangga 13’ adalah akses paling populer di stadion. Pasalnya akses ini paling dekat dengan fasilitas transportasi publik. Diperkirakan ada 20 ribu penonton yang menggunakan akses ini di laga ‘Old Firm’ 2 Januari 1971,” tambahnya. Kolase suasana "Tangga 13" di Stadion Ibrox pascatragedi ( rangers.co.uk ) Untuk menyantuni para keluarga korban, manajemen Rangers mendirikan Ibrox Disaster Fund. Dari para dewan direksinya terkumpul sumbangan mencapai 50 ribu poundsterling.Hodgman yang juga mengikuti perkembangan kasusnya, menyatakan bahwa pada akhirnya pihak klub tak ditimpakan kesalahan atas tragedi itu. Wheatley Report, hasil laporan final investigasi FAI yang keluar pada 1973 dan dipimpin hakim Lord Wheatley, menyimpulkan, kejadian disebabkan oleh satu atau dua orang yang tiba-tiba atau tak sengaja jatuh di tengah kerumunan ribuan suporter yang tengah turun via “Tangga 13” dan menghadirkan efek berantai bak susunan domino. Sosoknya sampai sekarang tak teridentifikasi. Dari pemeriksaan medis jenazah oleh ahli patologi Profesor Giles Forbes, 60 dari korban meninggal setelah mengalami sesak nafas akibat dada mereka terhimpit, dan enam lainnya mati lemas karena kekurangan oksigen. “Isu keamanan hampir tak tersentuh dari laporan itu. Memang Lord Wheatley menyimpulkan bahwa prosedur keamanan di stadiontidak layak, namun fokus laporanlebih kepada rekomendasi bahwa prosedur itu harus ditingkatkan klub, ketimbang menyalahkan klub karena abai akan prosedur itu. Laporan itu kemudian jadi pegangan yang mendasari lahirnya Undang-Undang Keamanan Arena Olahraga 1975 oleh pemerintah,” sambung Hodgman. Setiap 2 Januari pihak klub menggelar peringatan "Ibrox Disaster" ( rangers.co.uk ) Sejak saat itu, hampir setiap tahun pihak klub bersama warga kota dan segenap warga Skotlandia memperingati tragedi itu. Penyanyi legendaris Matt McGinn bahkan sampai menciptakan lagu “The Ibrox Disaster” di tahun yang sama. Plakat duka lalu dipasang di salah satu sudut stadion.   Pada peringatan ke-30 tahun, 2 Januari 2001, pihak klub mempersembahkan monumen peringatan di dekat stadion, antara Tribun Bill Struth dan Tribun Copland Road. Di monumen itu terpahat ke-66 nama korban tewas. Khusus tahun ini, peringatan ke-50 tahun kejadian,   peringatannya akan digelar berbeda   mengingat pandemi COVID-19 belum reda. Pada   November 2020 pihak klub menyatakan, kali ini momen itu akan diperingati secara terbatas yang, kebetulan, juga sekaligus menghadirkan duel “Old Firm” Rangers vs Celtic di matchday  ke-22 Premiership Skotlandia. “Kami ingin mengundang siapapun yang punya kaitan personal terhadap peringatan (tragedi Ibrox) untuk menghubungi klub. Sangat penting buat kami melibatkan mereka untuk merefleksikan keinginan keluarga yang kehilangan pada hari nahas itu,” demikain pernyataan klub di laman resminya .

  • Tahun Baru di Tengah Deru Peluru

    MALAM pergantian tahun biasa dimeriahkan dengan kembang api atau petasan. Di pusat-pusat kota, tahun baru juga diramaikan dengan berbagai perayaan. Namun, malam tahun baru 1946 tak demikian adanya. Petasan dan kembang api tak ada, yang ada letusan-letusan peluru dan granat. Pasca-Proklamasi Kemerdekaan, Jakarta kembali tegang karena Belanda kembali dengan serdadu-serdadu NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda). Menjelang akhir tahun, NICA dan Inggris menyerang republik secara sporadis. Dr. R. Soeharto, sahabat sekaligus dokter pribadi Sukarno, mengenang dalam Saksi Sejarah: Mengikuti Perjuangan Dwitunggal , di Jakarta suasana cukup kacau sehingga mendesak pemuda-pemuda Republik berbondong-bondong meninggalkan kota yang oleh Kabinet Sjahrir ditetapkan sebagai kota diplomasi itu. “Cecunguk-cecunguk Nica di Jakarta tak segan-segan menggedor rumah penduduk di tengah malam pada hari-hari sekitar tahun baru 1946. Ada yang pura-pura mengetuk rumah dokter malam-malam, dengan alasan meminta pertolongan. Pengacauan yang sengaja dilakukan oleh antek-antek Belanda itu bertujuan untuk melemahkan semangat kita,” tulisnya. Pengawal Sukarno, Mangil Martowijoyo, dalam tulisannya di Bung Karno dalam Pergulatan Pemikiran,  berjudul “Saya bangga sebagai pengawal Bung Karno”, telah menduga bahwa Belanda akan menggunakan segala cara untuk membuat ketegangan di Jakarta. Itu terbukti menjelang tahun baru kala ia tengah bertugas di Pegangsaan Timur 56. “Di tengah-tengah suara hingar-bingar di malam pergantian tahun itu, terdengar peluru-peluru dimuntahkan di sekitar Pegangsaan Timur 56. Bagi para pemimpin Republik, hal ini sudah bisa dijadikan pertanda bahwa Jakarta tidak aman. Maka diputuskan ibukota Republik Indonesia dipindahkan dari Jakarta ke kota Yogyakarta,” tulis Mangil. Para veteran kesatuan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) juga punya cerita sendiri yang dituangkan dalam KRIS 45: Berjuang Membela Negara . Jozef Warouw dkk. berkisah, pada malam tahun baru itu antara anggota KRIS dan pasukan Batalyon X saling memberi ‘ucapan selamat tahun baru’. Padahal, Batalyon X adalah batalyon NICA paling bengis yang mendapat julukan Andjing NICA. Mulanya, pasukan KRIS melempari granat dan menembaki asrama Batalion X di daerah Senen. Para serdadu Batalyon X langsung membalas dari dalam asrama. “’Ucapan selamat’ itu langsung mendapat sambutan lebih ‘meriah’ dari dalam, sehingga anggota-anggota pasukan KRIS harus melarikan diri. Dari daerah pinggiran kota Jakarta juga terdengar ‘sambutan’ tahun baru, tetapi jaraknya terlalu jauh untuk dapat meramaikan keadaan di sekitar Batalion X,” tulis Jozef Warouw dkk. Ada juga cerita lucu di tengah malam pergantian tahun itu, yang datang dari keluarga pelukis Sudjojono. Pada malam tahun baru 1946, Sudjojono dan keluarganya mendengar suara gaduh tembakan dari arah Lapangan terbang Kemayoran. Mereka langsung panik. Namun Sudjojono justru berkelakar. “Ah, itu hanya Belanda menyambut tahun baru. Rupanya mereka kebanyakan peluru, jadi mereka hambur-hambur sebagai pengganti mercon!” kata Sudjojono seperti diceritakan Mia Bustam dalam Sudjojono dan Aku. Beda Sudjojono, beda tetangganya yang bernama Mas Sastro. Mia Bustam bercerita bahwa Sastro sangat ketakutan mendengar deru peluru itu. Ia bersama anak istrinya langsung bersembunyi di dalam lubang perlindungan. Sudjojono pun meyakinkan bahwa itu adalah suara peluru yang hanya dipakai sebagai pengganti petasan. Namun, Satro tidak percaya dan tetap mendekam di dalam lubang perlindungan. Keesokan harinya, Sudjojono bertanya kepada orang-orang yang datang dari pusat kota ihwal suara tembakan malam itu dan mendapat jawaban sama bahwa suara-sura itu untuk merayakan tahun baru. Sudjonono pun kemudian memberi tahu tetangganya. “Benar nggak kata saya? Anda kok nggak percaya!” kata Sudjojono. “Ya, ya. Soalnya suaranya menakutkan sekali!” jawab Mas Sastro percaya. Mereka pun akhirnya tertawa. Padahal, beberapa kejadian adu tembak memang terjadi di Jakarta dan sekitarnya pada malam tahun baru itu.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page