top of page

Tahun Baru di Tengah Deru Peluru

Tahun baru di Jakarta setelah Proklamasi diramaikan dengan tembakan dan granat dari serdadu-serdadu Republik dan Belanda.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 1 Jan 2021
  • 2 menit membaca

MALAM pergantian tahun biasa dimeriahkan dengan kembang api atau petasan. Di pusat-pusat kota, tahun baru juga diramaikan dengan berbagai perayaan. Namun, malam tahun baru 1946 tak demikian adanya. Petasan dan kembang api tak ada, yang ada letusan-letusan peluru dan granat.


Pasca-Proklamasi Kemerdekaan, Jakarta kembali tegang karena Belanda kembali dengan serdadu-serdadu NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda). Menjelang akhir tahun, NICA dan Inggris menyerang republik secara sporadis.


Dr. R. Soeharto, sahabat sekaligus dokter pribadi Sukarno, mengenang dalam Saksi Sejarah: Mengikuti Perjuangan Dwitunggal, di Jakarta suasana cukup kacau sehingga mendesak pemuda-pemuda Republik berbondong-bondong meninggalkan kota yang oleh Kabinet Sjahrir ditetapkan sebagai kota diplomasi itu.


“Cecunguk-cecunguk Nica di Jakarta tak segan-segan menggedor rumah penduduk di tengah malam pada hari-hari sekitar tahun baru 1946. Ada yang pura-pura mengetuk rumah dokter malam-malam, dengan alasan meminta pertolongan. Pengacauan yang sengaja dilakukan oleh antek-antek Belanda itu bertujuan untuk melemahkan semangat kita,” tulisnya.


Pengawal Sukarno, Mangil Martowijoyo, dalam tulisannya di Bung Karno dalam Pergulatan Pemikiran, berjudul “Saya bangga sebagai pengawal Bung Karno”, telah menduga bahwa Belanda akan menggunakan segala cara untuk membuat ketegangan di Jakarta. Itu terbukti menjelang tahun baru kala ia tengah bertugas di Pegangsaan Timur 56.


“Di tengah-tengah suara hingar-bingar di malam pergantian tahun itu, terdengar peluru-peluru dimuntahkan di sekitar Pegangsaan Timur 56. Bagi para pemimpin Republik, hal ini sudah bisa dijadikan pertanda bahwa Jakarta tidak aman. Maka diputuskan ibukota Republik Indonesia dipindahkan dari Jakarta ke kota Yogyakarta,” tulis Mangil.


Para veteran kesatuan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) juga punya cerita sendiri yang dituangkan dalam KRIS 45: Berjuang Membela Negara. Jozef Warouw dkk. berkisah, pada malam tahun baru itu antara anggota KRIS dan pasukan Batalyon X saling memberi ‘ucapan selamat tahun baru’. Padahal, Batalyon X adalah batalyon NICA paling bengis yang mendapat julukan Andjing NICA.


Mulanya, pasukan KRIS melempari granat dan menembaki asrama Batalion X di daerah Senen. Para serdadu Batalyon X langsung membalas dari dalam asrama.


“’Ucapan selamat’ itu langsung mendapat sambutan lebih ‘meriah’ dari dalam, sehingga anggota-anggota pasukan KRIS harus melarikan diri. Dari daerah pinggiran kota Jakarta juga terdengar ‘sambutan’ tahun baru, tetapi jaraknya terlalu jauh untuk dapat meramaikan keadaan di sekitar Batalion X,” tulis Jozef Warouw dkk.


Ada juga cerita lucu di tengah malam pergantian tahun itu, yang datang dari keluarga pelukis Sudjojono. Pada malam tahun baru 1946, Sudjojono dan keluarganya mendengar suara gaduh tembakan dari arah Lapangan terbang Kemayoran. Mereka langsung panik. Namun Sudjojono justru berkelakar.


“Ah, itu hanya Belanda menyambut tahun baru. Rupanya mereka kebanyakan peluru, jadi mereka hambur-hambur sebagai pengganti mercon!” kata Sudjojono seperti diceritakan Mia Bustam dalam Sudjojono dan Aku.


Beda Sudjojono, beda tetangganya yang bernama Mas Sastro. Mia Bustam bercerita bahwa Sastro sangat ketakutan mendengar deru peluru itu. Ia bersama anak istrinya langsung bersembunyi di dalam lubang perlindungan. Sudjojono pun meyakinkan bahwa itu adalah suara peluru yang hanya dipakai sebagai pengganti petasan. Namun, Satro tidak percaya dan tetap mendekam di dalam lubang perlindungan.


Keesokan harinya, Sudjojono bertanya kepada orang-orang yang datang dari pusat kota ihwal suara tembakan malam itu dan mendapat jawaban sama bahwa suara-sura itu untuk merayakan tahun baru. Sudjonono pun kemudian memberi tahu tetangganya.


“Benar nggak kata saya? Anda kok nggak percaya!” kata Sudjojono.


“Ya, ya. Soalnya suaranya menakutkan sekali!” jawab Mas Sastro percaya.


Mereka pun akhirnya tertawa. Padahal, beberapa kejadian adu tembak memang terjadi di Jakarta dan sekitarnya pada malam tahun baru itu.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
transparant.png
bottom of page