top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Hikayat Tan Malaka, Sang Buronan Abadi

    SEWINDU yang lalu, di desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, ditemukan sisa belulang atas nama Tan Malaka. Tempat itu diyakini sebagai pusara Tan Malaka yang ditembak mati atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatan bagian Divisi IV Jawa Timur, 21 Februari 1949. Kesimpulan itu dipastikan setelah para peneliti mencocokan DNA yang terkandung dalam kerangka tersebut dengan DNA keponakan Tan Malaka. “Tapi karena ada kekuatan yang tidak bisa saya mengerti, hingga hari ini Tan Malaka belum memiliki makam yang layak,” kata sejarawan Harry Poeze kepada Historia . Sebagai aktivis cum intelektual zaman pergerakan kemerdekaan, sosok Tan Malaka masih berselubung misteri. Jejak sejarahnya dikaburkan selama masa kuasa Orde Baru. Nama Tan masuk dalam kategori figur terlarang untuk diperkenalkan dalam narasi sejarah resmi. Sebabnya adalah ideologi Marxisme yang dianut Tan. Bahkan kuatnya sensitifitas ketika membicarakan sosok Tan Malaka masih berlangsung hingga kini.

  • Jenderal Spoor Tewas di Sumatera?

    Rabu, 25 Mei 1949 adalah hari hitam bagi dunia militer Belanda. Secara mendadak, Panglima Tertinggi Tentara Belanda di Indonesia Jenderal S.H. Spoor diberitakan telah wafat  “Ia meninggal akibat tersumbatnya sirkulasi darah di jantungnya…” tulis sejarawan J.A. de Moor dalam buku Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia. Penjelasan Moor yang merupakan versi resmi penyebab kematian Spoor, tidak pernah dipercaya oleh sebagian besar eks pejuang di Sumatera Utara. Sumbat Sembiring (88) merupakan salah satunya. Menurut eks anggota pasukan TNI dari Sektor IV Sub Teritorium VII Sumatera itu Spoor tewas dalam suatu penghadangan di antara Sipirok dan Sibolga. Muhammad T.W.H (85), jurnalis senior yang banyak menulis hikayat perang kemerdekaan di Sumatera membenarkan pernyataan Sumbat. “Saya bahkan sudah tulis buku khusus membahas itu, judulnya: Tewasnya Jendral Spoor di Tapanuli Tengah ,” ujar Muhammad T.W.H. Namun, kendati semua pelaku sejarah di Sumatera Utara sepakat Spoor tewas di kawasan itu,  mereka tak kompak  memberikan penjelasan pasukan atau prajurit mana  yang berhasil membunuh Spoor. Setidaknya ada beberapa versi terkait soal tersebut. Klaim Maraden Dalam biografinya: Berjuang dan Mengabdi , Jenderal (Purnawirawan) Maraden Pangabean selaku eks Komandan Sektor IV Sub Teritorium VII Sumatera mengklaim bahwa pelaku pembunuhan Jenderal Spoor adalah pasukannya. “Pasukan saya yang dipimpin oleh Letnan Dua August Marpaung dan Kapten Henri Siregar-lah yang mencegat rombongan Spoor dan berhasil menciderainya,” ujar Maraden. Peristiwa itu terjadi  di jalur Sibolga-Tarutung pada 24 Mei 1949. Sebelumnya pihak intelijen TNI (Tentara Nasional Indonesia) telah menginformasikan bahwa  “seorang petinggi militer Belanda” akan melewati jalur maut tersebut sepulang dari melakukan inspeksi zuiveringsacties (aksi pembersihan besar-besaran) militer Belanda. Panik karena jenderalnya cidera, maka pasukan Belanda memutuskan untuk berbalik kembali ke arah Sibolga. Mereka sampai di Sibolga pada pukul 11.00 dan langsung membawa “petinggi militer Belanda” yang terluka parah itu ke rumah sakit. Rakyat tak bisa menyaksikan karena selain dihalau oleh para para petugas Polisi Militer Belanda ke tempat yang jauh, juga jalur evakuasi “korban orang penting” itu juga dibuat sejenis cordon supaya lolos dari penglihatan khalayak. Malam hari datang berita susulan dari Sibolga: “petinggi militer Belanda” yang terluka parah itu bernama Jenderal Spoor. Menurut pembawa berita, malam itu juga Jenderal Spoor sudah dievakuasi dengan sebuah pesawat Catalina ke Jakarta.  “Besoknya yakni tanggal 25 Mei 1949, kami mendengar dari radio Belanda di Jakarta bahwa Jenderal Spoor telah meninggal akibat serangan jantung…” ungkap Menteri Pertahanan di era Orde Baru (1973-1978) tersebut. Berita itu disambut dengan gembira dan rasa bangga. Seiring dengan itu, beredar pula berbagai klaim tentang pelaku penembakan. Salah satunya yang didengar oleh  prajurit Sumbat Sembiring. “Yang menembak itu jenderal Belanda adalah kawanku satu kesatuan, aku lupa nama lengkapnya tapi dia orang dari marga Hutabarat. Dia tembak itu jenderal dengan tiga peluru, satu yang kena lewat jendela kecil yang ada di panser” ujar eks anggota pasukan Sektor IV itu. Maraden sendiri sangat meyakini bahwa Spoor meninggal karena peluru anak buahnya. Dalam otobiografinya, ia mengutip informasi dari seseorang bernama Justin Lumbantobing. Saat peristiwa penghadangan itu, kata Maraden, Justin adalah salah satu prajurit KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) berpangkat kopral yang ditugaskan mengawal Jenderal Spoor yang berada dalam konvoi. Ulah Pasukan Bedjo Versi kedua insiden “pembunuhan Spoor” dinyatakan oleh Brigadir Jenderal (Purnawirawan) Bedjo, eks pimpinan Pasukan Selikur. Itu terjadi pada 23 Mei 1949 ketika Pasukan Selikur di bawah pimpinan Kapten Slamet Kataren dan Kapten Azhari Hasontang berhasil menghancurkan rombongan Spoor di Bukit Simagomago. Dalam laporannya kepada  Kapten Azhari (Komandan Operasi Sektor I)  Kapten Azhari Hasontang, Letnan Mena Pinim dan Letnan Sahala Muda Pakpahan menyebut bahwa mereka berhasil menewaskan seorang perwira tinggi Belanda yang diperkirakan adalah Jenderal Spoor. “Jenderal itu tewas dalam salah satu panser yang berhasil dilumpuhkan oleh Pasukan Selikur,” tulis Edi Saputra dalam Sumatera dalam Perang Kemerdekaan. Keyakinan Bedjo mengacu kepada pengakuan seorang bekas pengawal Jenderal Spoor bernama Sersan Mayor Tumanggor kepadanya pada 1951. Dia menyatakan bahwa sejatinya Spoor tidak mati akibat hartverlaming , tapi karena luka-luka tembaknya saat dihadang Pasukan Selikur di wilayah Bukit Simagomago. Hingga sekarang, kisah “terbunuhnya” Jenderal Spoor di Sumatera Utara masih menjadi misteri. Dari sekian penulis sejarah Perang Kemerdekaan di Sumatera, hingga kini tercatat hanya Muhammad TWH saja yang secara serius menelusuri kasus yang menarik ini. “Menurut saya, seharusnya pemerintah pun ikut meneliti kebenaran peristiwa tersebut, demi kebenaran sejarah,” ungkap jurnalis senior Medan tersebut.

  • Lambang Supremasi Bulutangkis Putri

    GENAP 22 tahun Indonesia puasa gelar Uber Cup. Empat tahun berturut-turut para srikandi raket tanah air selalu kandas di perempat final. Terakhir, pil pahit mesti ditelan Greysia Polii cs. di Bangkok, Thailand, 21-26 Mei 2018, lantaran keok 2-3 dari tuan rumah di delapan besar. “Di atas kertas, Thailand masih di atas kita baik dari seeded dan ranking . Saat sempat unggul di atas angin, justru terbeban. Tertekan, main enggak lepas dan tegang. Faktor tuan rumah juga membuat lawan lebih percaya diri. Ini memang sudah sesuai target dan prediksi, paling tidak kita lolos delapan besar,” kataSusi Susanti, manajer tim, disitir situs resmi PBSI, 24 Mei 2018. Pencapaian itu jelas menunjukkan kemunduran prestasi bulutangkis putri Indonesia. Delapan besar dianggap sudah memenuhi target. Tak heran bila perkembangan bulutangkis putri Indonesia tertinggal dari Thailand yang masih se- lichting JKT 48. Di masa bulutangkis putri Indonesia jaya, delapan besar masuk kategori kegagalan akut. Indonesia paling buruk menjadi runner-up . Terakhir, Indonesia meraih Uber Cup tahun 1996 di Hong Kong usai menaklukkan China 4-1. Susi sendiri jadi salahsatu bagian dan bahkan pilar penting dari kejayaan Indonesia di era 1990-an. Prestasi itu melanjutkan estafet prestasi bulutangkis putri Indonesia di Uber Cup, turnamen bulutangkis beregu putri paling prestisius, tahun 1975 dan 1994. Jasa Betty Uber Sebagaimana Thomas Cup lahir dari keinginan Sir Thomas, Uber Cup lahir dari mimpi pebulutangkis Inggris yang mengoleksi 13 gelar All England, Elizabeth “Betty” Uber. “Berbekal pamor internasionalnya, Betty Uber mengajukan pembentukan turnamen beregu khusus putri pada awal tahun 1950 dengan dukungan (tokoh bulutangkis) Nancy Fleming dari Selandia Baru,” tulis Jean-Yves Guillain dalam Badminton: An Illustrated History . Upaya Betty tak mulus. Saat proposalnya dibawa ke International Badminton Federation (IBF), dewan federasi itu tak memberi lampu hijau kendati tertarik atas proyek Betty. IBF beralasan tidak ada dana untuk menggelar turnamen serupa Thomas Cup untuk putri. IBF baru membahas lagi usulan Uber itu pada 1953. Dua tahun berselang, turnamen bernama Women’s Team World Cup itu disetujui IBF dan ditetapkan sebagai turnamen tiga tahunan. Turnamen perdana digelar 1956-1957 dengan format mirip Thomas Cup –sistem kualifikasi Inter-zone– dan putaran finalnya dihelat di Lanchashire, Inggris, 18 Maret 1957. Menurut IBF Handbook 1958-1959 , dari 11 negara peserta, tiga negara lolos ke putaran final: Amerika Serikat (AS), India, dan Denmark. Tim terakhir ini diuntungkan dengan undian bye sehingga langsung ke final. Sementara, setelah menghajar India 7-0, AS digdaya di partai puncak dengan mengubur Denmark 6-1. Trofi Dambaan Sebagai pemenang perdana, AS mendapat kehormatan membawa pulang trofi Uber Cup. Trofi itu merupakan donasi dari Betty Uber kepada IBF, 1955. Dalam biografi Suharso Suhandinata, Diplomat Bulutangkis: Peranannya dalam Mempersatukan Bulutangkis Dunia Menuju Olimpiade disebutkan, trofi yang jadi lambang supremasi bulutangkis putri dunia itu dibuat oleh perusahaan perhiasan asal London, Mappin & Webb. Desain trofi berbahan perak setinggi 20 inci itu berupa globe tiga dimensi dengan topping shuttlecock dan figur pebulutangkis putri di puncak. Betty Uber (kiri) menyerahkan trofi Uber Cup pada pemenang edisi pertama, tim Amerika Serikat diwakili kaptennya, Margaret Varner/Foto: bwfmuseum.isida.pro Awalnya, trofi itu bernama The Ladies International Badminton Championship Challenge Trophy. Beberapa waktu kemudian, untuk mengabadikan nama Betty Uber, nama trofi itu diganti menjadi Uber Cup. Sejak 1984, penyelenggaraan Uber Cup selalu bersamaan dengan Thomas Cup. Indonesia baru ikut meramaikan Uber Cup pada 1963 di Wilmington, AS. Tapi baru pada 1975 saat menjadi tuan rumah Indonesia berhasil merebut piala itu. Di final, 6 Juni 1975, para srikandi Indonesia menang 5-2 lewat atas tim putri Jepang. “Pasangan Indonesia Minarni dan Regina membuat  surprise  di mana Piala Uber secara resmi berada di pihak Indonesia dengan perincian set pertama 15-8 dan set kedua 15-11 atas pasangan Jepang (Mika) Ikeda/(Hiroe) Yuki,” tulis Media Indonesia , 7 Juni 1975. Tapi, prestasi Indonesia di Uber Cup tak sebesar di Thomas Cup. Uber Cup hingga kini masih didominasi China setelah merebut dominasi AS dan Jepang.

  • Dendang Kasidah Modern

    Iklan sebuah perusahaan ritel ternama karya sutradara Dimas Djay beberapa waktu lalu membuat heboh warganet. Iklan kocak itu menampilkan aksi delapan ibu-ibu kelompok kasidah Nurul Syifa. Sebuah iklan perusahaan transportasi daring juga menampilkan kasidah sebagai pengiring jualannya di layar kaca. Kasidah memang laku kala Ramadan. Menurut Japi Tambajong dalam Ensiklopedi Musik, kasidah merupakan bentuk puisi Arab pra-Islam. Kemudian ia menjadi media mewujudkan pemahaman iman secara Islam, dan alat dakwah. Japi menulis, di Indonesia definisi kasidah bukan dilihat sebagai sastra, tapi sebagai musik. Virus Kasidah Modern Dalam khazanah musik Indonesia, kasidah menjadi semacam pelengkap orkes gambus. Moeflich Hasbullah dalam Islam dan Transformasi Masyarakat Nusantara menulis, penyanyi orkes gambus kasidah pertama di Jawa yang menyanyikan lagu-lagu Arab dan Indonesia adalah Rofiqoh Dharto Wahab, yang meniti karier sebagai seorang qariah. Dia muncul kali pertama sebagai penyanyi kasidah di sebuah acara keagamaan di Pekalongan pada 1964. “Suaranya mulai dikenal melalui rekaman pita kaset dan ketika pertama kalinya ia masuk ke RRI dan TVRI. Piringan hitamnya meledak di pasaran,” tulis Moeflich . Rofiqoh bernyanyi diiringi orkes gambus Al-Fata. Setelah itu, muncul istilah kasidah modern. Pengamat musik Denny Sakrie dalam 100 Tahun Musik Indonesia menyebut bahwa pemusik Agus Sunaryo yang memimpin kelompok Bintang-Bintang Ilahi merupakan orang yang memperkenalkan kasidah modern ini. Agus memasukkan unsur-unsur modern dalam musik yang mengiringi kasidah. Instrumen macam keyboard, gitar elektrik, dan bass elektrik dilibatkan di dalamnya. Bintang-Bintang Ilahi pimpinan Agus Sunaryo ini pun mengajak Rofiqoh Dharto Wahab dalam rekaman piringan hitamnya. Album bertajuk Qasidah Modern dirilis awal 1970-an di bawah label Remaco . Demam kasidah modern tiba-tiba menggejala pada 1970-an. Sejumlah musisi pop dan rock mengeluarkan lagu-lagu religi bernuansa kasidah modern, seperti Koes Plus, AKA, dan Fenty Effendy. Denny Sakrie menyebut, pada 1974 Koes Plus menyanyikan syair religi dengan bahasa Jawa dalam lagu “Zaman wis Akhir.” Bimbo mengadopsi musik flamenco asal Spanyol dalam nuansa kasidah. Bimbo pun melepaskan diri dari pakem kasidah yang menggunakan bahasa Arab. Di luar itu, muncul kelompok musik kasidah modern terkenal, Nasida Ria. Kelompok kasidah modern yang dibentuk pada 1975 ini berasal dari Semarang. Nasida Ria mencuat usai gelaran MTQ di Bandarlampung pada 1975. Lagu-lagu mereka, seperti “Perdamaian”, “Dunia Dalam Berita”, dan “Tahun 2000” yang diciptakan KH Ahmad Buchori Masruri, masih sering diputar hingga kini. Kasidah Digugat Kasidah modern bukan tanpa kritik. Kemunculannya, sebagai genre musik yang digadang-gadang penyebar dakwah Islam, mendapat cibiran dari musisi dan budayawan tanah air. Denny Sakrie menyebut, sebuah kritik disampaikan salah seorang ahli musik kasidah yang pernah menjadi pentolan orkes gambus Al Wardah, Mochtar Luthfy El Anshary. Mochtar mengatakan, apa yang dilakukan Agus Sunaryo dengan embel-embel kasidah modern sebenarnya tak bermuatan modernisasi kasidah sama sekali. “Pantun-pantun bahasa Arab itu diletakkan dalam irama yang tidak tepat,” kata Mochtar . Majalah Hai edisi 26 April-2 Mei 1988 menulis, senasib dengan sejumlah genre musik, kasidah modern ternyata kurang diminati penggemar musik di Indonesia, terutama remaja. Musik padang pasir ini kalah bersaing dengan genre pop atau rock. Karena itu, seiring waktu, kasidah modern mencari bentuk lain. Salah satunya, upaya Nasida Ria memasukkan unsur dangdut dalam komposisi lagunya. Lantunan musiknya pun tak melulu mengangkat pesan-pesan agama. Kasidah modern digugat lantaran dianggap sudah keluar dari definisi musik Islam. Urusan musik dan dakwah sampai-sampai menjadi bahan perbincangan hangat dalam seminar sehari bertajuk “Musik sebagai Media Dakwah” di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, pada 16 April 1988. Musisi Debby Nasution menyoroti unsur dangdut dalam kasidah modern. “Itu dia yang membuat saya nggak suka sama kasidah. Mendingan saya matiin pas disiarin di tivi,” kata Debby Nasution dalam seminar itu. Musisi yang ikut membidani lahirnya album Badai Pasti Berlalu (1977) itu mengatakan, kelompok musik kasidah yang mengklaim diri sebagai pengusung kasidah modern itu tak pantas disimak. “Penampil ceweknya kurang Islami!” kata Debby. Budayawan Emha Ainun Nadjib tak kalah pedas. Menurutnya, kasidah modern melenceng dari nilai-nilai yang dikandung Islam. “Wawasan Islam yang mencakup unsur sosial budayanya masih kurang. Masak urusan KB, transmigrasi yang didengung-dengungkan,” kata Emha dalam seminar yang sama. Cak Nun, sapaan Emha, juga menyentil penampilan penyanyi kasidah yang menggoyangkan tubuh, mirip pelantun lagu dangdut. “Mereka bisa maksiatnya sedikit. Tapi justru itu yang bikin celaka. Akhirnya bukan puji-pujian yang disampaikan. Tapi pengkhianatan,” katanya. Musisi Ebiet G Ade memberikan masukan soal kasidah modern ini. Menurutnya, dalam menciptakan musik yang bernapaskan Islam tak cukup hanya menyelipkan kalimat-kalimat yang dipetik dari Alquran dan hadits. Menurut dia, lebih baik musisi menggunakan bahasa yang dipahami dan menuangkannya dalam lagu. “Jangan membuat pendengar seolah berada di Padang Arafah, sementara orang di Arab pun malah nggak ngerti musik yang kita mainkan,” kata Ebiet. Meski begitu, kasidah modern terus bertahan. Nasida Ria memberi pengaruh kepada grup-grup kasidah modern setelah generasi mereka. Termasuk Haddad Alwi dan Sulis yang tenar pada 1990-an. Terbukti, kasidah modern pun hidup hingga kini.

  • Dokter Kulit Dokter Kere?

    SYARIEF WASITAATMADJA, pakar kesehatan kulit, tak pernah lupa profesi dokter kulit hampir tak dikenal masyarakat sampai menjelang tahun 1980-an. “Dulu orang-orang inginnya ahli bedah, ahli penyakit dalam, dokter anak, dan ahli kebidanan. Yang favorit empat ini,” ujarnya kepada Historia . Ketidakpopuleran itu disebabkan oleh fokus objek penanganan. Dokter-dokter spesialis kulit yang ada ketika awal Indonesia merdeka kebanyakan mendalami penyakit kulit kronis. Profesi itu dekat dengan penyakit kulit semacam kusta, sifilis, dan herpes. Dokter JB Sitanala, salah seorang pendiri Palang Merah Indonesia (PMI), misalnya, mendalami penyakit kusta. Dokter Kodiat lain lagi, dia fokus pada penyakit frambusia. Ketika Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoksi) –dulu bernama Persatuan Ahli Dermato-Venereologica Indonesia– didirikan tahun 1965, jumlah anggotanya hanya 42 orang. Buntut dari ketidakpopuleran itu, profesi dokter kulit menjadi profesi yang kering alias minim mendatangkan keuntungan materi. Bahkan menurut Retno Iswari Tranggono dalam biografinya yang ditulis Jean Couteau, The Entrepreneur Behind The Science of Beauty , sebutan lain dokter kulit adalah dokter kere . Retno adalah perintis subbagian Kosmetik dan Bedah Kulit di Universitas Indonesia pada akhir 1960-an. “Di dunia seingat saya juga baru memulai penelitian tentang kosmetik dan bedah kulit,” kata Syarief, yang mantap melanjutkan pendidikan ke spesialisasi penyakit kulit dan kelamin selepas lulus tahun 1969 meski jurusan itu bukan jurusan favorit. Syarief tertarik dengan subbagian baru yang didirikan Retno. Dia langsung menemui Profesor M Djuwari, kepala Bagian Kulit dan Kelamin UI, untuk melamar ke bagian itu. Dia menjawab singkat ketika ditanya sang profesor mengapa tertarik melamar ke bagian itu. “Saya mau yang ringan-ringan, Prof. Selain itu, saya bisa menemui orang-orang cantik,” kenangnya sambil terkekeh. Sebagai asisten Retno selama 10 tahun, Syarief mengikuti perumusan kurikulum dan penyusunan buku ajar mengingat ini merupakan ilmu baru dalam dunia kedokteran. Seingat dia, kala itu buku berbahasa Inggris yang membahas tentang kosmetik dan bedah kulit masih minim. Namun, Retno dan Syarief tak pernah bosan untuk terus menggali masalah kulit. Retno antara lain mengikuti  Kongres Regional Dermatologi di Bali pada 1978. Di sana, Retno bertemu dengan berbagai ahli kulit dunia. Salah satunya, Irwin Lubowe, dosen pendidikan kedokteran kulit di New York Medical College yang mendalami soal kecantikan kulit dan rambut. Pertemuannya dengan Lubowe membuat hasrat Retno mendalami dan mempopulerkan kesehatan kulit makin menjadi.   Subbagian kosmetik dan bedah kulit yang baru dibuka tak langsung mendapat tanggapan positif. Salah seorang profesor di Bagian Kulit dan Kelamin bahkan ada yang mencemooh kosmetik dan bedah kulit adalah ilmu yang tak berguna dan abal-abal. Tapi Syarief berpikir lain, dia menduga subbagian ini kelak akan berkembang pesat, diminati, dan dibutuhkan banyak orang. “Ilmu ini berkembang cukup pesat. Sekarang di Perdoski kami punya kelompok studi dermatologi kosmetik. Saya ketuanya. Ha..ha..ha,” kata Syarief tertawa jahil. Seiring perjalanan waktu, subbagian kosmetik dan bedah kulit memetik buahnya. Banyak mahasiswa kedokteran mengambil spesialisasi tersebut. Pasien-pasien makin ramai berdatangan untuk mencari pertolongan yang bersifat estetik. Terlebih, ketika budaya pop makin memasyarakat. Sejak itu, profesi dokter kulit ramai dikunjungi pasien dan sebutan dokter kere pun tanggal. “Makin tahun makin banyak peminatnya. Kalau dulu waktu saya masuk spesialis kulit cuma satu-dua orang, sekarang yang mau masuk ke dokter kulit banyak sekali,” kata Syarief.

  • Thomas Cup, Piala Dunia-nya Bulutangkis

    SEJAK juara kali pertama tahun 1958, Indonesia masih jadi negara pengoleksi Thomas Cup terbanyak dengan 14 trofi. Rekor ini mulai dikuntit China dengan mengoleksi 11 gelar. Thomas Cup merupakan turnamen bulutangkis beregu putra paling prestisius. “Thomas Cup digagas Sir George Alan Thomas, pebulutangkis Inggris yang sangat sukses di awal 1900-an, di mana dia terinspirasi Piala Davis tenis dan Piala Dunia sepakbola yang sudah ada sejak 1930,” tulis Anil Taneja dalam World of Sports Indoor . Sir Thomas, presiden International Badminton Federation (IBF), pada 11 Maret 1939 mengajukan ide itu ke komite IBF saat berlangsungnya turnamen All England di London’s Royal Horticultural Hall. Dalam majalah Allsports edisi Mei 1984, Sir Thomas mengajukan gagasan itu karena merasa sudah waktunya ada turnamen internasional yang lebih global dari All England. Setelah membahas ide Sir Thomas itu, Rapat Umum Anggota IBF menyetujui pada 5 Juli 1939. Turnamen yang bernama awal The International Badminton Championship Challenge itu rencananya digelar pada musim 1941-1942. Namun, Perang Dunia II menggagalkannya. Baru pada 1948-1949 Thomas Cup bisa digelar di Preston, Inggris. Formatnya, para partisipan terlebih dulu mesti melewati babak kualifikasi inter-zone: Zona Amerika, Eropa, dan Pasifik. Tiga juara zona berhak ikut putaran final pada 22-26 Februari 1949. Tiga peserta yang menjadi wakil masing-masing zona yakni Amerika Serikat mewakili Benua Amerika, Denmark mewakili Zona Eropa, dan Malaya (kini Malaysia) mewakili Zona Pasifik. Wakil Asia yang dikucilkan, Malaya, justru berhasil merebut Thomas Cup pertama setelah menyingkirkan Amerika di babak pertama dan Denmark di final. Tim Malaya (Malaysia) jadi juara edisi perdana Thomas Cup 1949/Foto: olympic.org.my “Di masa itu, tim besarnya adalah Amerika. Inggris dan Denmark juga hebat. Mereka belum pernah mendengar tentang Malaya. Mereka bahkan tak tahu di mana letak Malaya,” kenang Teoh Seng Khoon, salah satu anggota tim Malaya, sebagaimana diberitakan The Star , 8 November 2008. Trofi dan Kompetisi di Era Modern Trofi Thomas Cup, yang jadi impian para pemain bulutangkis untuk dicium dan dibawa pulang, dibuat oleh perusahaan Atkin Bros asal London. Menurut situs bwfthomasubercups.com , trofi Thomas Cup dengan tinggi 28 inci dan lebar 16 inci berdesain cangkir besar dengan figur pebulutangkis pria di atas tutup cangkirnya. Trofi terbuat dari perak-emas senilai 40 ribu dolar Amerika. Sebagaimana nama turnamennya, trofi ini mulanya juga dinamai The International Badminton Championship Challenge Cup dan sudah dipublikasikan sejak 4 Juli 1940. Di kemudian hari, nama trofi diganti jadi Thomas Cup untuk mengabadikan nama penggagasnya. Seiring berjalannya waktu, jumlah peserta meningkat. Zona kualifikasi ditambah inter-zona Australia dan Zona Pasifik diubah menjadi Zona Asia. Indonesia pertama kali tampil pada 1958. Di momen debut itu Indonesia langsung keluar sebagai juara. Di final yang dimainkan di Singapore Badminton Hall pada 14-15 Juni 1958, Indonesia menggilas Malaya 6-3. Leo Suryadinata dalam Southeast Asian Personalities of Chinese Descent  menyebut tim Indonesia berisi pemain multietnis dengan tulang punggungnya pebulutangkis Tionghoa. Mereka adalah Olich Solihin, Eddy Yusuf, Lie Po Djian, Tan King Gwan, Tjan Kim Bie, Ferry Sonneville, dan Tan Joe Hok. China sebagai rival terberat Indonesia baru menjuarai Thomas Cup pada 1982. Sebagaimana Indonesia, China juga menyabet trofi juara di momen debutnya. China mengandaskan Indonesia 5-4 di final yang dihelat pada 20-21 Mei 1982 di London. Sejak 1984, Thomas Cup dan Uber Cup “dikawinkan” sehingga selalu digelar bersamaan. Pada tahun itu juga format baru diperkenalkan, Thomas dan Uber Cup jadi turnamen dua tahunan.*

  • Bagaimana Islam Menyebar di Xinjiang?

    SETELAH Perang Talas (751) dan Pemberontakan An Shi (755–763), Dinasti Tang perlahan lepas kendali terhadap Wilayah Barat ( xiyu ). Gonjang-ganjing kondisi negeri yang berlanjut pada tercerai-berainya Cina menjadi Lima Dinasti dan Sepuluh Negara (907–960) sehabis Dinasti Tang bubar pada 907, semakin membuat Cina tak mampu mengurus protektoratnya ( duhufu ) yang sebenarnya mencakup Asia Tengah tapi kelak sejak abad ke-18 cuma tinggal dan lebih dikenal dengan nama Xinjiang itu.

  • Kisah Loper Koran Beragam Zaman

    KOPI pagi di rumah kurang lengkap tanpa kehadiran koran. Dan koran tak bisa sampai ke rumah pembacanya tanpa jasa seorang loper koran. Selama ratusan tahun, loper koran telah memainkan posisi penting dalam bisnis media cetak dan menopang perekonomian banyak keluarga miskin. Mereka menghubungkan pekerja media cetak dengan para pembacanya dan menjadi salah satu pekerjaan sambilan bagi anak-anak untuk membantu orangtuanya. Loper koran hadir kali pertama di New York, Amerika Serikat, pada 1833. Bruce J. Evensen dalam Journalism and the American Experience mencatat kerja loper koran tak lepas dari ide Benjamin Day, seorang penerbit surat kabar murah ( penny press ) bernama New York Sun . Day telah bekerja seharian untuk menyebarkan edisi perdana New York Sun pada 3 September 1833. Dia terlalu lelah untuk melakukan hal serupa pada keesokan harinya. “Maka dia pasang iklan bagi para pengangguran untuk menjajakan surat kabarnya,” tulis Bruce.   Seorang anak lelaki berusia 10 tahun membaca iklan tersebut. Dia mendatangi kantor New York Sun dan mengatakan kepada Day bahwa dia berminat menjuali surat kabar murah itu. Caranya dengan membeli beberapa eksemplar. Tapi ada harga diskon baginya sehingga dia bisa memperoleh keuntungan dari selisih harga diskon dengan harga jual kembali. Nama anak itu Barney Flaherty. Dia mulai bekerja keesokan harinya. “Menjadi yang pertama dari sekian ribu loper koran yang kemudian menjajakan dagangannya sepanjang terang hari dan tidur di jalanan kota pada malam hari,” lanjut Bruce. Kemudian penerbit media cetak di Amerika Serikat mulai memperoleh pelanggan tetap. Keistimewaan pelanggan ialah mereka tak harus mencari koran di tepi jalan. Mereka hanya tinggal menunggu koran datang ke rumah. Di sini tugas loper koran mulai menyempit: tak perlu lagi menjajakan koran, melainkan mengantar koran ke rumah pelanggan. Nama-nama sohor pernah tercatat sebagai loper koran pada masa kecilnya. Antara lain Harry S. Truman, presiden Amerika Serikat 1945-1953; Martin Luther King Jr., tokoh kesetaraan; dan Warren Buffet, pebisnis ulung. NBCnews menyebut loper koran telah menjadi ritus hidup bagi sebagian besar anak-anak di Amerika Serikat. Loper Koran di Indonesia Di Indonesia, kehadiran loper koran kali pertama belum terlacak secara pasti. Tapi mereka sudah berseliweran di kota-kota besar Hindia Belanda pada 1920-an. Masa 1920-an menjadi masa tumbuh-kembang bisnis media cetak di kota-kota besar Hindia Belanda. Bisnis ini berkembang di kota lantaran orang-orang melek huruf latin lebih banyak berada di kota ketimbang di desa. Pemerintah kolonial pun lebih dulu membangun sekolah-sekolah di kota pada awal abad ke-20 ketimbang di desa. Pertumbuhan jumlah orang melek huruf latin di kota mendorong peningkatan kebutuhan terhadap informasi. Media cetak menyediakan beragam informasi. Pada sisi inilah mereka butuh orang untuk menyalurkan informasi kepada pembacanya. Sementara pada sisi lain, ada orang juga butuh pekerjaan. Termasuk anak-anak sekolah. R.H. Iskandar Suleiman, mantan murid Hollandsche Indische School (HIS) —setingkat sekolah dasar— di Batavia pada 1920, mengungkap kenangannya menyambi kerja sebagai loper koran. Dia butuh uang untuk biaya sekolah dan hidup keluarganya. Iskandar berkarib dengan Sugimin, seorang siswa Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (Mulo) —setingkat SMP— di sekitar kediamannya. Dia tahu keseharian Sugimin di luar jam sekolah. “Sugimin membiayai sekolahnya dari hasil keringatnya sendiri sebagai krantenloper (pengedar koran) Het Nieuws van den Dag tiap sore,” tulis Iskandar dalam “Dari Asuhan Nenek Sampai Berdiri Sendiri”, termuat di Prisma , No. 10, Oktober 1979. Iskandar mengatakan kepada Sugimin bahwa dia butuh pekerjaan. Dia ingin jadi krantenloper selayaknya Sugimin. Keinginannya terkabul ketika Sugimin mengajaknya ke kantor penerbitan Het Nieuws van den Dag . Di sini dia mendapat pekerjaan dari koran tersebut sebagai krantenloper . Iskandar bekerja mulai pukul 15.00, sepulang bersekolah. “Aku harus mengantarkan koran di daerah Menteng untuk 96 alamat, sebagian terbesar rumah orang Belanda,” tulis Iskandar. Dia kelar kerja pukul 20.00. Selama mengantar koran, Iskandar banyak raih pengalaman suka dan duka. “Sukanya, karena aku dapat menerima imbalan hampir 10 perak sebulan (jumlah cukup besar pada waktu itu; dan dukanya, karena sering aku mendapat gangguan anjing galak dan omelan langganan, kalau koran agak lambat diantarkan),” tambah Iskandar. Beberapa kali juga dia kena hina teman-teman sekolahnya. Iskandar tak ambil pusing soal hinaan teman-teman sekolahnya. Dia menjalani pekerjaan ini sampai duduk di bangku MULO. Fase ini jalan hidupnya mulai berubah. Seseorang menawarinya pekerjaan di percetakan. Iskandar menerimanya dan kelak membuatnya tahu seluk-beluk pers hingga bisa menjadi redaktur majalah Muhammadi , organ bulanan Muhammadiyah.     Cerita pekerjaan loper koran mengubah hidup seseorang juga dialami oleh Andi Hakim Nasution, mantan rektor Institut Pertanian Bogor 1978-1987. “Dulu saya pernah jadi loper koran,” kata Andi dalam Femina Vol. 20, 1992. Dia ingat saat itu tahun 1947. Masa-masa sulit bagi banyak keluarga di Bogor lantaran situasi revolusi. Tapi dengan menjadi loper koran, dia bisa ikut membantu perekonomian keluarga. Pengalaman lain menjadi loper koran datang dari Herlina Kasim ‘Si Pending Emas’. Dia sukarelawati pembebasan Irian Barat selama 1960-1965. Di Soasiu, Maluku Utara, Herlina mengupayakan penerbitan mingguan Karya. “Mingguanku dimaksudkan sebagai alat di daerah ini untuk menggembeleng semangat rakyat menghadapi masalah Irian Barat,” tulis Herlina dalam Herlina Pending Emas . Herlina merangkap jabatan sebagai pemimpin umum dan loper. “Repot juga bagiku. Di Soasiu tidak ada nama jalan dan nomor rumah, surat kabar ku antar pada orang yang kira-kira mau berlangganan,” lanjut Herlina. Tapi Karya kurang beroleh sambutan. Makin hari, makin merosot saja peminatnya. Biarpun Karya itu media cetak gratisan. Bahkan Herlina kesulitan mencari orang yang mau menjadi loper koran. Dia membandingkan pekerjaan loper koran di Jakarta dengan di Soasiu. “Setahuku loper di Jakarta atau penjual-penjual koran mempunyai penghasilan yang baik dan merupakan kerja sambilan, ada yang sambil bersekolah,” catat Herlina. Apa sebabnya orang Soasiu tak tertarik menjadi loper koran? Herlina bilang karena pekerjaan itu tidak dibayar, melainkan kewajiban kepada bangsa dan negara untuk turut membantu penyebaran gagasan pembebasan Irian Barat. Kini loper koran berhadapan dengan persoalan baru: revolusi industri 4.0. Revolusi ini mengubah arah bisnis media dari cetak ke bentuk digital. Dan itu bakal mempengaruhi masa depan pekerjaan loper koran. Apakah mereka akan bertahan atau remuk digilas revolusi industri 4.0?

  • Ketika DI Tak Terkendali

    MISBACH (75) masih ingat kejadian itu. Suatu hari di tahun 1976, ia tengah berjalan di tengah kota Medan ketika suatu ledakan mirip suara petasan besar menghentak khalayak. Tak lama kemudian situasi menjadi ricuh. Banyak orang bergerak ke arah sumber ledakan untuk mendapatkan kepastian apa yang sebenarnya sedang terjadi.   “Saya sendiri ikut bersama mereka dan jadi tahu bahwa yang dibom itu ternyata Apolo”, ungkap lelaki Jawa tersebut seraya menyebut nama bar yang lumayan besar di Medan saat itu. Tahun 1976 memang merupakan tahun penuh teror bagi kota Medan. Selain bar Apolo, Bioskop Ria menjadi target peledakan pula.Bahkan selanjutnya bukan hanya tempat hiburan, para pelaku teror pun membom sejumlah gereja dan masjid serta melakukan penggranatan terhadap acara MTQ (Musabaqoh Tilawatul Qur’an). “Morev alias Momok Revolusiener mengklaim berada di balik aksi-aksi itu,” ungkap Ken Conboy dalam Intel (Bagian II): Medan Tempur Kedua . Perjuangan Jilid Dua Menurut Ken Conboy, Morev merupakan sel baru yang dibentuk oleh para aktivis DI (Darul Islam) di Sumatera Utara. Anggota Morev mayoritas terdiri dari anak-anak muda yang tak memiliki hubungan apapun sebelumnya dengan DI. Peneliti DI Solahudin mengkonfirmasi pendapat Conboy. Namun secara rinci ia menambahkan bahwa Morev memang dibentuk sebagai organ teror oleh salah seorang tokoh DI di Sumatera yakni Timsar Zubil, asisten tokoh DI terkemuka Gaos Taufik. Istilah itu sendiri didapat setelah Timsar berdiskusi dengan Abdullah Umar (aktivis DI Medan) yang merupakan rekan seperguruan Timsar di Pesantren Gontor, Jawa Timur. “Momok itu sendiri diambil dari kata Momoc, singkatan dari Mobile Moment Comande, nama pasukan khusus DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) Sulawesi Selatan pimpinan Sanusi Daris,” ujar peneliti yang juga jurnalis itu. Sebenarnya pasca Ikrar 1962, para tokoh DI memilih untuk mengambil jalur kompromi dengan pemerintah RI. Bahkan pada 1965-1967, mereka dilibatkan secara aktif buat menghabisi PKI dan orang-orang Sukarno. Kerjasama erat itu berlanjut saat mereka dimanfaatkan oleh Opsus (Operasi Khusus) pimpinan Ali Moertopo guna menggembosi perolehan suara parta-partai Islam dalam Pemilihan Umum 1971. Lantas apa yang menyebabkan para aktivis DI kembali mengangkat senjata? Rupanya jalan kerjasama dengan Opsus hanyalah salah satu taktik politik para aktivis DI. Berkaca pada kasus Perjanjian Hudaibiyyah yang melibatkan kaum kafir Quraisy dengan umat Islam di era Nabi Muhammad Saw, kerjasama dengan pihak pemerintah RI diperlukan untuk mengkondisikan perlawanan lebih matang lagi terutama dalam soal pengumpulan logistik dan dana perang. Setelah merasa kuat, maka perjuangan jilid kedua pun wajib dilakukan kembali. Aksi-aksi teror pun kemudian dilaksanakan. Tidak hanya di Medan tapi juga di Bukittinggi, Aceh, Sulawesi Selatan, Riau dan Jawa. Dengan memanfaatkan jaringan lama seperti Tengku Daud Beureh di Aceh, DI coba kembali membangun berbagai sel perlawanan. Salah satu sel mereka diberi nama Komando Jihad. Opsus Berlepas Diri Menurut Solahudin dalam NI Sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia , sejak awal BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara) sudah mengetahui bahwa para aktivis eks DI akan melakukan tindakan subversif. Setidaknya itu bisa disimpulkan dengan membiarkan Adah Djaelani dan kawan-kawannya menghidupkan kembali DI. “Mereka secara sengaja menunggu gerakan para eks DI ini membesar dan memulai aksi-aksi teror baru setelah itumengadakan penangkapan-penangkapan terhadap mereka,” ungkap Solahudin. Analisa Solahudin dikuatkan oleh Busyro Muqodas dalam Hegemoni Rezim Intelijen . Dalam kasus Komando Jihad, kata Busyro, unsur rekayasa politik yang dilakukan Opsus terlihat jelas dengan adanya penyalahgunaan aparat Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) di tingkat pusat  dan Pelaksanaan Khusus Daerah (Laksusda). Namun, pendapat-pendapat itu dibantah keras oleh Aloysius Sugiyanto. Menurut mantan orang kepercayaan Ali Moertopo itu, BAKIN dan Opsus sama sekali berlepas diri dari situasi yang melanda DI pada pertengahan tahun 1970-an. Alih-alih merencanakan sebuah jebakan politik, Opsus justru menginginkan para eks anggota DI melupakan sama sekali cita-cita mereka untuk mendirikan suatu negara Islam di wilayah Republik Indonesia. “Mereka menjadi tak terkendali setelah Opsus dibubarkan. Jadi jika ada orang mengatakan itu ulah Opsus ya tidak benar. Saya tidak tahu kalau mereka disusupi kepentingan lain atau kekuatan lain setelah Opsus tidak ada,” ungkap Aloysius kepada Historia .*

  • Kelincahan Kaki Yaris Riyadi

    SEDARI zaman kuda gigit besi, Persib Bandung nyaris tak pernah absen melahirkan bintang yang turut menjadi tulang punggung tim nasional (timnas) Indonesia. Bila di barisan depan Persib pernah menyumbang Adjat Sudrajat dan di barisan belakang ada Robby Darwis, di sektor tengah Persib punya Yusuf Bachtiar. Gelandang inilah yang jadi idola Yaris Riyadi, bintang Persib era 2000-an. Sejak kecil, Yaris amat mengagumi Yusuf. “Sejak lama ada cita-cita pingin main sama Kang Yusuf,” kata Yaris kepada Historia . Mimpi bermain bareng idola itu terus menyemangati Yaris menempa diri di lapangan hijau. Yaris kecil menimba ilmu di sekolah sepakbola UNI (Uitspanning Na Inspanning). Turnamen demi turnamen diikutinya bersama UNI. Prestasi gelandang lincah itu terus meningkat. Pada 1995, dia direkrut Persib. Di musim pertamanya, Yaris langsung ikut membawa Persib menjuarai Liga Indonesia II.  Yang membuatnya tak kalah senang, Yaris bisa main bareng Yusuf Bachtiar. “Bangga bisa sempat main bareng. Dia yang memberi wejangan, bahkan sebelum Yaris masuk Persib. Sepanjang karier, dia sering kasih nasihat, jangan sampai patah semangat karena saingannya di gelandang (di Persib dan timnas) banyak sekali,” tandasnya. Seiring waktu berlalu, pemain yang dijuluki “Si Ucing” (kucing) karena kelincahannya itu kian matang. Aksi-aksi ciamik dan konsistensinya membuat pelatih timnas Nandar Iskandar kepincut lalu memasukkan nama Yaris ke skuad timnas untuk Piala Kemerdekaan 2000.   “Bangga luar biasa ya bisa dipanggil timnas. Saking bangganya saya sering menangis saat nyanyi lagu Indonesia Raya. Ya karena persaingannya (untuk masuk timnas) itu kan dari seluruh Indonesia dan waktu itu sudah cukup lama juga enggak ada pemain dari Persib di timnas,” imbuh Yaris. Masuknya Yaris mengakhiri kevakuman Persib menyumbang pemain untuk timnas sejak pensiunnya Robby Darwis usai SEA Games 1997. Yaris bersama Imam Riyadi menyambung tradisi itu tahun 2000. “ Alhamdulillah sedari tahun 2000 sampai 2005 di timnas. Tentu bangga sekali karena setiap pemain kan mimpinya ke sana ya (membela timnas),” tutur Yaris . Sebagaimana dengan Persib, Yaris menuai sukses di debutnya dengan timnas. Indonesia berhasil menjuarai Piala Kemerdekaan 2000. Pahit Gelar juara di Piala Kemerdekaan itu sayangnya jadi satu-satunya prestasi termanis Yaris bersama timnas. Di Piala Asia 2000, Piala Tiger (kini Piala AFF) 2000 dan 2002 timnas gagal juara. Kekalahan-kekalahan itu jadi pengalaman tersendiri bagi Yaris. Terlebih, kekalahan di final Piala Tiger 2002, menjadi pengalaman terpahit baginya. Di partai puncak dengan dukungan sekira 100 ribu suporter di Stadion Gelora Bung Karno, 29 Desember 2002 itu, Yaris sempat mendongkrak asa Indonesia yang tertinggal dua gol dari Thailand. Di menit 46, Yaris menyumbang satu gol. Gol Gendut Doni kemudian memperpanjang nafas Indonesia hingga adu penalti. Sayang, Indonesia akhirnya kalah 2-4.“Sedih bukan main. Apalagi Yaris juga sempat bikin gol,” ujar Yaris mengenang. Di klub, Yaris dan rekan-rekannya juga terpukul ketika Persib gagal lolos ke semifinal Liga Indonesia 2001. Mereka kalah 0-1 dari Persebaya Surabaya di laga terakhir Grup A babak 8 besar di Medan. “Padahal kalau seri saja, kita masuk semifinal. Saya juga baru berapa menit main, sudah harus ditandu keluar (karena cedera). Waktu itu dihajar (dilanggar) sama Mursyid Effendi. Saya membelakangi lawan, bola belum datang, saya sudah dihajar. Ya kecewa karena enggak bisa kasih yang terbaik. Tapi memang saya sudah enggak tahan. Biasanya kalau enggak sakit-sakit banget, saya maksain,” sambungnya. Itu jadi musim terakhir Yaris bisa tampil bareng idolanya. Yusuf Bachtiar pensiun setelah musim itu selesai. Yaris sendiri setelah berseragam Persib merantau ke Pelita Krakatau Steel, Persikab Bandung, PSIS Semarang, Bandung FC,dan terakhir di PSGC Ciamis.

  • Cantik Putih Masih Berkuasa

    PEREMPUAN berkebaya dan rambut bersanggul itu tersenyum lepas. Wajahnya menyiratkan kebahagiaan. Meski hanya karikatur, perempuan itu membawa pesan terselubung: kecantikan. Kecantikan bisa diwujudkan dengan menggunakan produk yang dipakainya. Konon, produk itu bisa menghaluskan kulit. Pesan itulah yang hendak disampaikan iklan bedak Purol yang dimuat Majalah Wanita terbitan 1957. Perempuan berkebaya dalam iklan produk kecantikan. Penggambaran sosok perempuan berkebaya yang berafiliasi dengan nilai budaya Jawa atau Indonesia, muncul dalam iklan sejak pra-kemerdekaan. Iklan-iklan semasa kolonial acap menampilkan sosok perempuan berkebaya. Namun, mereka jarang ditemukan dalam iklan produk kecantikan. Mereka lebih banyak muncul dalam iklan lampu, Post Telegram Telefon, atau mentega. Iklan produk sabun mandi di Pandji Poestaka tahun 1940 mewakili sedikit kemunculan perempuan berkebaya dalam promosi produk kecantikan. Dalam iklan itu, Mia menyarankan Roos, yang sama-sama berkebaya, untuk memakai produk tersebut. Namun, iklan itu memampang wajah aktris Hollywood Jean Arthur sebagai patron kecantikannya, bukan perempuan bumi putera. Pesannya, cantik itu seperti Jean yang ber-ras Kaukasia. Pasca-kemerdekaan, wacana kecantikan berubah. Bila sebelumnya wacana kecantikan diidentikkan dengan perempuan dari ras kaukasia, sosok perempuan berkebaya kemudian menggantikan. Perempuan berkebaya muncul dalam iklan berbagai produk kecantikan sebagai bagian dari pembentukan wacana kecantikan baru. Iklan bedak Purol di Wanita pada 1957, iklan perempuan berkebaya Sunsilk, dan keputusan Lux mengganti modelnya menjadi perempuan Indonesia pada akhir dekade 1950-an menandai perubahan itu. “Ketika kita mulai merdeka, gagasan tentang perempuan cantik berubah menajdi Indonesianwhitebeauty . Ketika pemerintahan berganti, penguasa berganti, gagasan kecantikannya juga berganti. Tapi tetap saja yang dianggap cantik yang kulitnya putih,” kata Luh Ayu Saraswati, dosen kajian perempuan Universitas Hawaii, kepada Historia . Lebih jauh Ayu menjelaskan, selain usaha untuk menumbuhkan wacana kecantikan baru, era Sukarno yang anti-Barat juga berpengaruh pada wacana kecantikan yang berkembang di masa tersebut. Cantik versi Indonesia adalah perempuan Indonesia berkulit terang, biasanya disebutkan berkulit kuning langsat. Namun Ayu mengkritik wacana kecantikan yang digaungkan merujuk pada perempuan Jawa, bukan perempuan Ambon atau Papua yang kebanyakan berkulit lebih gelap. Pembentukan gagasan kecantikan tersebut masuk melalui afek atau emosi. Iklan produk kecantikan memancing afek dan perasaan suka pemirsa melalaui narasi dan model yang ditampilkan. “Menilai sesuatu itu cantik bukan sekadar melihat perempuan berkulit putih. Kecantikan itu bukan sesuatu yang kita lihat tapi yang kita rasakan. Jadi iklan-iklan itu membangun emosi dan kesuakaan pemirsanya,” kata Ayu. Memasuki zaman Soeharto, patron kecantikan kembali berubah. Kedekatan hubungan dengan Barat kembali membaik, khususnya di bidang ekonomi. Film-film Hollywood, majalah gaya busana, dan produk-produk Barat masuk ke Indonesia. Iklan-iklan pun menampilkan produk kecantikan yang menawarkan perawatan kelas dunia. Model-model dalam produk kecantikan ikut berubah menjadi perempuan Indonesia dengan wajah agak bule dan tentu yang berkulit terang. Ira Wibowo, misalnya, aktris keturunan Jawa-Jerman ini menjadi model sebuah sabun mandi pada 1986. Ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi pada 1997, penjualan produk pemutih kulit tak pernah mati. Para produsen menyiasatinya dengan membuat produk pemutih kemasan kecil dan beberapa produk perawatan kecantikan kemasan saset. Terobosan itu membuat kepentingan mereka yang berkantong cekak tapi ingin membeli produk yang konon bisa mempercantik diri bisa terakomodir. Sementara, larisnya produk kecantikan tersebut menjadi penanda masih kokohnya wacana bahwa cantik adalah putih. Wacana kecantikan ideal yang dikampanyekan terus-menerus sejak era kolonial membuatnya sulit ditumbangkan. Meski dewasa ini beberapa produk memasang model berkulit gelap, wacana cantik putih masih mendominasi. “Kalau hitam tidak pernah dibilang cantik, tapi dibilang manis. Kalau putih dia digambarkan cantik,” kata Ayu.

bottom of page