top of page

Jenderal Spoor Tewas di Sumatera?

Sebagian besar veteran di Sumatera Utara meyakini Panglima Tertinggi KNIL itu meninggal bukan karena penyakit namun terbunuh dalam suatu penghadangan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Makam Jenderal S.H. Spoor di Menteng Pulo Jakarta. Foto: Hendi Jo/Historia

3 Jun 2018
3 menit membaca

Diperbarui: 25 Mei

RABU, 25 Mei 1949 adalah hari hitam bagi dunia militer Belanda. Secara mendadak, Panglima Tertinggi Tentara Belanda di Indonesia Jenderal S.H. Spoor diberitakan telah wafat  “Ia meninggal akibat tersumbatnya sirkulasi darah di jantungnya,” tulis sejarawan J.A. de Moor dalam buku Jenderal Spoor: Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia.


Penjelasan Moor yang merupakan versi resmi penyebab kematian Spoor, tidak pernah dipercaya oleh sebagian besar eks pejuang di Sumatera Utara. Sumbat Sembiring (88) merupakan salah satunya. Menurut eks anggota pasukan TNI dari Sektor IV Sub Teritorium VII Sumatera itu Spoor tewas dalam suatu penghadangan di antara Sipirok dan Sibolga.


Muhammad T.W.H., (85 tahun), jurnalis senior yang banyak menulis sejarah perang kemerdekaan di Sumatera membenarkan pernyataan Sumbat. “Saya bahkan sudah tulis buku khusus membahas itu, judulnya Tewasnya Jendral Spoor di Tapanuli Tengah,” ujarnya.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page