- 26 Mar 2020
- 4 menit membaca
Diperbarui: 25 Mei
DESA Rawagede, 9 Desember 1947. Hari masih pagi. Murid-murid Sekolah Rakyat (SR) Rawagede masih belum memasuki kelasnya ketika mereka melihat sekelompok serdadu Belanda, sebagian besar terdiri dari anak-anak muda pribumi, menggiring puluhan orang ke pinggir rel kereta api dekat sekolahnya.
Sebagai seorang bocah, Odih yang kala itu duduk di bangku kelas dua SR, tentu saja penasaran. Bersama kawan-kawannya, dia berlari mengikuti rombongan tersebut. Belum sampai mendekati rombongan, seorang serdadu bule berbaret hijau mengusir mereka.
Namun, ketika akan berbalik lagi menuju sekolah, tetiba terdengar tiga kali rentetan tembakan diikuti robohnya orang-orang yang digiring tersebut jatuh. “Saya lihat sendiri mereka bergelimpangan dengan bermandikan darah di pinggir rel kereta api," kenang Odih yang sekarang berusia 83 tahun.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















