top of page

Hasil pencarian

9796 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Diplomasi Budaya Film India

    TONGGAK awal industri film India berawal dari Dadasaheb Phalke. Dia membuat film cerita pertama di India pada 1913 berjudul Raja Harishchandra. Sejak itu film India berkembang pesat, bahkan mampu tampil ke pelbagai penjuru dunia dengan ciri khasnya. Film jadi media diplomasi budaya India. “Jika anda ingin membicarakan budaya India, pertama-tama orang pasti akan menyebut film India,” kata Shri Gurjit Singh, Duta Besar India untuk Indonesia. Selain sebagai diplomat, dia juga penggemar film. Dia berperan dalam penyelenggaraan Festival Film India dan seminar “100 Tahun Film India” di Jakarta pada September 2013. Kepada Hendaru Tri Hanggoro dari Historia.ID, Gurjit Singh membeberkan bagaimana pemerintah India memandang dan mendorong industri film. Bukan hanya sebagai alat ekonomi, tapi juga media pengantar kebudayaan.

  • Pendahulu Sriwijaya

    PADA 2008, tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) meneliti situs Air Sugihan, di pantai timur Palembang. Mereka menemukan sisa-sisa permukiman di lahan berawa dari awal abad Masehi. Permukiman itu diperkirakan cikal bakal atau pendahulu Kerajaan Sriwijaya. Agustijanto Indrajaya, ketua tim peneliti, melihat adanya proses bertahap sebelum muncul Kerajaan Sriwijaya. Permukiman di situs Air Sugihan itu dalam sumber Tiongkok disebut Ko-ying dan Kan-t’o-li. “Kita lihat Sriwijaya saja sudah sangat kompleks [tata masyarakatnya], harusnya ada satu proses menuju ke sana, nah ini di sini,” kata arkeolog Puslit Arkenas itu saat ditemui usai diskusi buku Kebangkitan dan Kejayaan Sriwijaya karya O.W. Wolters di Museum Nasional, Jakarta, Jumat (17/11).

  • Ekspansi Raja Cola sampai Sriwijaya

    DI BAWAH kendali Rajendracola I, Kerajaan Cola mungkin menjadi kerajaan Hindu paling mengagumkan di India. Dia melanjutkan pencapaian ayahnya, Rajaraja I, yang menundukkan beberapa wilayah di anak benua itu. Arkeolog senior Puslit Arkenas, Bambang Budi Utomo mengatakan, secara umum Kerajaan India biasanya hanya berkuasa di Asia Selatan. Pengaruhnya yang menyebar ke berbagai wilayah, misalnya seni arca. “Dia tidak berkuasa di luar Asia Selatan. Pengaruhnya ke mana-mana, misalnya di pantai barat Malaysia ada komunitas Tamil, di Sumatra juga ada, kemudian prasasti Tamil ditemukan juga di Lobu Tua,” jelas Bambang ketika ditemui di kantornya.

  • Serbuan Cola ke Sriwijaya

    ALKISAH, sejumlah kapal bangsa Tamil dikirim ke tengah laut yang bergelombang. Mereka menyerang sebuah negeri kepulauan di Asia Tenggara, Kerajaan Sriwijaya, yang makmur dan merajai perdagangan maritim di perairan Sumatra. Mereka menawan rajanya, Sangramavijayottunggavarman, yang disebut sebagai raja negeri Kadaram. “Maka direbutnya pula harta kekayaan yang dengan jujur dikumpulkan oleh raja Kadaram itu, serta Vidyadharatorana, Gapura Perang di kota musuh yang besar, Gapura Ratna yang dihias dengan sangat indahnya, Gapura Ratna-Ratna Besar, Sriwijayam yang makmur,” demikian tercatat dalam Prasasti Tanjore. Prasasti berbahasa Tamil dari tahun 1030 itu berisi berita kemenangan Kerajaan Cola atas Sriwijaya. Oleh Eugen Hultzsch, indolog dan epigraf asal Jerman, piagam tembaga ini diterbitkan dua abad lalu. Di dalamnya dengan rinci disebutkan negeri-negeri yang dikalahkan Cola.

  • Alasan Cola Serang Sriwijaya

    SERANGAN Kerajaan Cola, sebuah dinasti Tamil di India Selatan, konon turut mengantar Kerajaan Sriwijaya ke akhir masa keemasannya. Padahal, sebelumnya Sriwijaya dan India Selatan berhubungan baik sejak abad ke-9 M. Prasasti Nalanda (860 M) menyebut Raja Sriwijaya, Balaputradewa, pernah mendirikan vihara di Nalanda. Hal itu ditiru penerusnya. Pada 1005 M, Raja Cudamaniwarman mendirikan kuil di Nagipattana (Nagapattinam, Pantai Koromandel). Pembangunan candi ini tak selesai kemudian dilanjutkan putranya, Marawijayatunggawarman. Saat itu, Kerajaan Cola sudah berdiri dan dipimpin oleh Rajaraja (985-1014). Namun, ketika Rajendracola I naik takhta pada 1012 menggantikan ayahnya, Rajaraja, sikapnya terhadap Sriwijaya berubah. Dia menyerang Sriwijaya pada 1025 M dan 1068/1069 M. Penyebabnya tak begitu jelas.

  • Amat Kocolan, Jagoan Betawi yang Selicin Ikan Gabus

    IKAN gabus yang berukuran kecil dalam bahasa Betawi disebut Kocolan. Kendati tidak jelas sejak kapan kemunculannya, istilah kocolan sudah dipakai pada 1930-an. Bahkan, saking familiarnya, kocolan sering dijadikan julukan seseorang yang disegani di Batavia sebagaimana bandot digunakan untuk menjuluki lelaki yang doyan main perempuan atau istilah-istilah lain. Dulu, di Batavia pernah hidup seorang jagoan bernama Amat. Dia dijuluki Kocolan alias gabus lantaran kelicinannya. Dalam Mengenal Ikan Gabus: Budidaya, Manfaat, dan Resep Masakan, Tresno Saras menyebut ada ikan gabus yang gemuk namun sulit ditangkap karena licin dan ulet, yakni ikan gabus Kalimantan. Kedua sifat itu identik dengan Amat hingga dirinya dijuluki Amat Kocolan. Koran De Locomotief tanggal 4 Juni 1936 dan De Sumatra Post tanggal 6 Juni 1936 menjuluki Amat Kocolan sebagai raja gangster. Dia bergerak cepat, lincah, dan sulit ditangkap aparat kolonial. Semua kelebihan yang ada pada Amat Kocolan itu seakan menutupi kekurangannya sebagai pria yang sudah tak muda lagi pada tahun 1936. Meski tangannya tetap kekar, kulit tangannya sudah keriput.

  • Cola dan Tiongkok Bawahan Sriwijaya

    PEDAGANG dari Sriwijaya, Cola, dan Arab beramai-ramai mendatangi pelabuhan milik Dinasti Song di Tiongkok. Banyaknya pedagang asing yang datang dan tinggal tak pernah terjadi sebelumnya. Mereka berlomba-lomba memberikan hadiah pada kaisar agar diakui dan lebih mudah mendapat untung. Khususnya Sriwijaya, hubungan dengan Tiongkok sudah dibangun sejak tahun 702, ketika Dinasti Tang berkuasa. Pada era Dinasti Song, utusan Sriwijaya ke Tiongok makin banyak. Ada 16 utusan dari tahun 960 hingga 1017. “Jangan diartikan ini sebagai upeti, hadiah, sama saja seperti sekarang dalam hubungan diplomasi antarpemimpin negara,” kata Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Puslit Arkenas.

  • Raja-raja yang Bertakhta di Sriwijaya

    BARANGKALI Balaputradewa satu-satunya raja Sriwijaya yang diingat banyak orang. Dia terkenal sampai India karena membangun asrama bagi pelajar Sriwijaya di Nalanda. Padahal, Sriwijaya mulai maju sebagai kerajaan maritim paling tidak sejak abad 7. Namanya memudar pada abad 12. Sementara Balaputradewa menjadi raja Sriwijaya pada abad 9. Lantas siapa saja yang menjadi raja Sriwijaya? Pertanyaan ini cukup merepotkan para ahli. “Dalam kajian Sriwijaya yang menyulitkan kita adalah menyusun genealogi raja-rajanya, karena prasasti tak menyebut nama raja dengan terang,” kata Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Puslit Arkenas, kepada .

  • I-Tsing Mencatat Letak Ibu Kota Sriwijaya

    DI Shili Foshi, pada pertengahan bulan delapan dan pertengahan musim semi (bulan dua), lempeng jam (bayangan tiang) tidak berbayang. Seseorang yang berdiri di tengah hari tidak berbayang. Matahari tepat di atas kepala dua kali dalam setahun. Itulah sekelumit informasi yang diberikan I-Tsing atau Yi Jing, biksu Tiongkok tentang letak pusat Kerajaan Sriwijaya dalam bukunya Nanhai. Yi Jing merupakan salah satu dari tiga peziarah terkenal asal Tiongkok. Pendahulunya adalah Fa Xian dan Xuan Zang. Sejauh ini letak pusat Kadatuan Sriwijaya masih menjadi persoalan. Pasalnya ibu kotanya berpindah-pindah. Sejarawan India, Ramesh Chandra Majumdar, berpendapat kalau Sriwijaya harus dicari di Jawa. Sarjana Belanda, J.L. Moens menduga Sriwijaya berpusat di Kedah (Malaysia) dan pindah ke Muara Takus (Jambi). Sementara sejarawan lainnya, G. Coedes, Slamet Muljana, dan O.W. Wolters, lebih memilih Palembang.

  • Guru Buddha Terkemuka Belajar di Sriwijaya

    DI KOTA Foshi yang berbenteng, terdapat biksu Buddhis berjumlah ribuan. Hati mereka bertekad untuk belajar dan menjalankan tindakan bajik. Mereka menganalisis dan mempelajari semua mata pelajaran persis seperti yang ada di Kerajaan Tengah (Madhyadesa, India). Tata cara dan upacaranya sama sekali tak berbeda. Begitulah catatan I-Tsing atau Yi Jing, seorang biksu Tiongkok, dalam Mulasarvativadaejasatakarman. Kota berbenteng yang dimaksud kemungkinan besar merujuk pada kawasan Candi Muara Jambi. Di tempat itu, banyak dari guru Buddha terkenal mendapatkan pengajaran. Shinta Lee, penerjemah catatan perjalanan Yi Jing menjelaskan, menurut catatan Yi Jing, semua biksu di Fo-shi mempelajari mata pelajaran yang sama dengan yang dipelajari di Nalanda. Misalnya, Pancavidya yang mencakup pelajaran tata bahasa, pengobatan, logika, seni, keterampilan kerajinan, dan ilmu mengelola batin.

  • Tiga Faktor yang Membuat Sriwijaya Jadi Kerajaan Kuat

    KERAJAAN Sriwijaya berkuasa dari tahun 683 M sampai tahun 1183 M. Ia pernah menjadi kerajaan yang kuat karena letak geografis, sumber daya alam, dan jejaring perdagangan. Ninie Susanti, arkeolog Universitas Indonesia, menguraikan ketiga faktor tersebut. Pertama, letak pantai timur Sumatra sangat strategis ditambah angin musim yang bertiup secara teratur menjadikannya jalur perdagangan penting sejak awal abad Masehi. Jalur ini menghubungkan Samudra Hindia, Laut Cina Selatan, dan Samudra Pasifik. “Sriwijaya menguasai sisi Selat Malaka yang merupakan lalu lintas strategis jalur perdagangan masa lalu,” kata Ninie dalam acara International Forum on Spice Route (IFSR) di Museum Nasional, Jakarta.

  • Penaklukkan Sriwijaya di Pulau Bangka dan Jawa

    “…Jika pada saat mana pun di seluruh wilayah kerajaan ini ada orang yang berkhianat, bersekutu dengan pengkhianat, menegur pengkhianat atau ditegur oleh pengkhianat, sepaham dengan pengkhianat, tidak mau tunduk, dan tak mau berbakti, tak setia kepadaku dan kepada mereka yang kuserahi kekuasaan datu, orang yang berbuat demikian itu akan termakan sumpah. Kepada mereka, akan segera dikirim tentara atas perintah Sriwijaya. Mereka sesanak keluarganya akan ditumpas!” Begitu sejarawan Slamet Muljana dalam Sriwijaya menerjemahkan sebagian kalimat kutukan yang ada dalam Prasasti Kota Kapur. Prasasti Kota Kapur adalah satu dari enam prasasti kutukan Kedatuan Sriwijaya yang sejauh ini sudah ditemukan. Prasasti ini berasal dari 686 M.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page