top of page

Hasil pencarian

9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Miras dari Air Kali Ciliwung

    PERPRES 10/2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal memancing perdebatan sengit. Pokok masalahnya bukan pada keseluruhan Perpres, melainkan pada lampiran Perpres. Lampiran menyebut pembukaan investasi minuman keras di beberapa wilayah dengan memperhatikan budaya dan kearifan setempat. Tapi lampiran itu akhirnya dicabut. Minuman keras (miras) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah negeri ini. Tiap daerah mempunyai miras khasnya. Polemik tentang miras juga bukan hal baru. Pada masa kolonial, seorang pejabat kolonial bernama J. Kats mengeluarkan buku tentang manfaat dan mudarat miras alkohol. “Mengeluarkan kitab ini ialah dengan dua maksud, pertama: akan memberi pemandangan yang ringkas tentang masalah minuman keras, terutama sekali dapat dipakai untuk Hindia Belanda... dan kedua: akan memberi keterangan bagi guru-guru bumiputera yang hendak memperkatakan perkara ini apa waktu dia mengajar,” tulis J. Kats dalam Bahaja Minoeman Keras serta Daja Oepaja Mendjaoehinja  terbitan 1920. Meski banyak penentangan terhadap miras, produksi miras jalan terus. Di Batavia, pabrik miras berdiri di sekitar aliran Kali Ciliwung. Yusna Sasanti Dadtun dalam tesisnya di Universitas Gadjah Mada berjudul “Air Api di Mulut Ciliwung: Sistem Produksi dan Perdagangan Minuman Keras di Batavia 1873–1898”, menyebut alasan pendirian pabrik itu di tepian Ciliwung. “Karena kayu gelondongan yang digunakan sebagai bahan bakar pabrik dialirkan melalui Sungai Ciliwung dan para pemilik pabrik minuman keras mengambil kayu gelondongan tersebut dari sungai,” tulis Yusna. Memasuki masa kemerdekaan, pabrik minuman keras di Kali Ciliwung berkurang drastis. Sisanya direlokasi. Tapi beberapa pabrik minuman keras masih mengandalkan Kali Ciliwung sebagai sarana produksinya. Misalnya pabrik bir Budjana Yasa. Sebelum kemerdekaan, pabrik ini milik orang Jerman, lalu jatuh ke orang Belanda, kemudian dinasionalisasi jadi perusahaan negara pada 1950-an. Nama produknya Angker Bir. Budjana Djaja membuat bir menggunakan air Kali Ciliwung. “Yang serba bau dan warnanya kotor kekuning-kuningan itu. Terangnya air untuk bir itu disedot dari salah satu sudut kali Banjir Kanal Timur,” ungkap Djaja,  10 Oktober 1964. Tak banyak orang tahu tentang ini sehingga Djaja memastikannya langsung ke pabriknya. Pembuatannya memang menyedot air Kali Ciliwung. “Namun berkat alat-alat teknik yang serba modern, maka air kotor serba bau dari Kali Ciliwung itu dapat disterilkan dan dirobah menjadi air bersih,” terang Djaja menenangkan pembaca dan penikmat bir. Bahan baku bir tak hanya air. Ada juga mauch (sejenis kembang palawija Eropa), hop, gandum, beras, ragi, dan gula. Tiga pertama masih perlu impor, sedangkan tiga terakhir sudah terdapat di dalam negeri. Dua bahan terakhir, beras dan gula, tak digunakan dalam bir impor. Mauch dan hop memberikan rasa pahit kepada bir lokal. Baunya harum dan berkhasiat untuk memberi rangsangan pada urat syaraf tubuh. Pembuatan bir di pabrik Budjana dimulai dari penyortiran gandum. Lamanya 4–8 hari. Lalu gandum dimasukan ke oven. Pabrik itu bisa menghabiskan 1 ton gandum untuk 100 liter bir. Selanjutnya peragian gandum. Bersamaan dengan pemasakan bahan bir seperti air, mauch, dan hop. Bahan-bahan itu lalu dicampur dalam satu ketel sehingga berubah menjadi alkohol dan CO2. Setelah itu, pendinginan bahan-bahan bir dalam suhu minus 0 derajat celcius. Kemudian masuk tahap penyaringan. Tiga kali saringannya supaya bersih. Terakhir, bir dituang ke dalam botol yang sudah disterilkan. Bir ditutup dengan penutup impor. Semua proses tadi telah menggunakan mesin-mesin modern. “Tenaga manusia hanya mengawasi,” tulis Djaja. Dengan begitu, kualitas bir pun tetap terjaga dan kuantitasnya stabil. Bir buatan Budjana Yasa dijual di hotel-hotel, pusat belanja kelas atas, dan tempat wisata lainnya sesuai aturan daerah. Harganya di bawah bir impor. Tapi tetap mahal buat kebanyakan orang. “Biasanya orang yang tiap hari minum bir adalah orang-orang yang padat kantongnya,” terang Djaja . Selama masa ini, permintaan bir di Jakarta terus meningkat. Selain itu, muncul pula desakan untuk inovasi rasa bir. Riset pun dilakukan dengan menggunakan jagung sebagai pengganti beras. “Hasilnya sangat memuaskan karena jagung tidak mengurangi kualitas bir,” ungkap Djaja . Selain Angker, pabrik bir di Jakarta juga memproduksi bir hitam Tjap Srimpi yang mengandung karamel. Popularitas bir ini cukup luas dan sering muncul di iklan-iklan media massa. Pada masa Ali Sadikin menjabat gubernur DKI Jakarta, pabrik bir Budjana Yasa diambil alih oleh pemerintah daerah. Investasi pemerintah daerah di perusahaan bir ini masih bertahan hingga sekarang.*

  • Terowongan Kuno di Bawah Bendungan

    PROYEK Bendungan Tamblang di Buleleng, Bali yang masih berjalan kelak akan memenuhi kebutuhan irigasi. Pada masa lalu pernah ada pembuatan saluran irigasi di tempat yang sama. Terowongan air kuno itu ditemukan di bawah poros fondasi utama Bendungan Tamblang. Tim peneliti Balai Arkeologi Bali sudah meninjau terowongan kuno itu pada 8 Desember 2020. Peneliti mencatat terowongan itu memiliki lebar 70 sentimeter dan tinggi 170 sentimeter. Ada banyak ceruk kecil di dinding terowongan. Kemungkinan dulu digunakan sebagai tempat menaruh sumber penerangan selama proses pembangunan. Agaknya sedimen sudah masuk ke dalam lubang terowongan yang berada di tebing tepi Sungai Aya itu. Keberadaan terowongan air di proyek Bendungan Tamblang menambah penemuan sistem irigasi peninggalan masa Bali Kuno. Balai Arkeologi Bali memperkirakan terowongan kuno itu merupakan peninggalan abad 11. Mereka mengambil rujukan dari Goa Raksasa yang memiliki kemiripan dimensi. “Dari ukuran dan jejak teknik pengerjaannya mirip,” kata Kepala Balai Arkeologi Wilayah Kerja Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, I Gusti Ngurah Suarbhawa kepada Historia.id , Rabu, 3 Maret 2021. Goa Raksasa merupakan sebutan masyarakat setempat terhadap sebuah terowongan tua yang berada di Desa Giri Emas, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Di dinding terowonganitu terdapat pahatan tahun pembuatannya, yakni tahun Saka 993 (1071). Kurun itu pula perkiraan pembuatan terowongan di Bendungan Tamblang. Pada masa itu Kerajaan Bali Kuno dipimpin oleh Anak Wungsu. Ia anak Raja Udayana dan adik dari Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur. Anak Wungsu memerintah pada 1049 hingga 1077. Penemuan terowongan kuno itu bukti kehendak raja untuk memenuhi kebutuhan pengairan. Ahli Terowongan Bali dikenal memilikisistem pengairan tradisional subaksejak berabad-abad lampau. Keterangan mengenai sistem irigasi itutermuat di sejumlah prasasti Bali Kuno. Berbagai prasasti menjelaskan tentang bangunan penimbun air untuk irigasi. Prasasti Dawan (1053) menyebu t: “Bila sampai dua malam kekurangan air sampai rusak bendungan hal ini harus dilaporkan kepada pejabat keumatan atau pengawas.” Sementara Prasasti Klungkung A (1072) menyebut: “Untuk keperluan perbaikan bendungan diperkenankan menebang kelapa, pinang, enau, bambu ( petung , ampel) dan berbagai jenis kayu.” Adapun sumber terkait terowongan air termuat dalam Prasasti Bebetin AI (896). Termaktub penjelasan adanya kelompok masyarakat yang berprofesi sebagai ahli terowongan. Profesi itu dalam bahasa Bali disebut undagi pangarung . Keterangan tentang undagi pangarung juga ada dalam Prasasti Batuan (1022) bersama dengan tukang kayu ( undagi kayu) dan tukang batu ( undagi watu ). Prasasti Batuan menjelaskan, ahli terowongan kena pajak pendapatan dari hasil profesinya, yakni sebanyak satu kupang tiap tahun. Keterangan itu menyiratkan bahwa ahli terowongan sebagai pekerja profesional mendapat upah dan punya peran penting dalam kehidupan masyarakat Bali Kuno. Namun, tidak selalu pekerjaan ahli terowongan berjalan sukses. Bila mengamati bentuknya, terowongan di lokasi proyek Bendungan Tamblang tak tuntas pembuatannya pada masa lampau. Kenapa? Terowongan kuno yang ditemukan di area proyek Bendungan Tamblang, Buleleng, Bali. (Dok. Balai Arkeologi Bali). Menembus Batuan Ahli terowongan bukan cuma soal kepandaian menggunakan peralatan. Mereka harus mendalami pengetahuan tentang tanah, geodesi, dan hidrologi. Mereka terampil mengukur tanah, membuat garis lurus dan belokan, termasuk pula susunan tingkatan perbedaan tinggi untuk memastikan ketenangan air saat mengalir. Para ahli terowongan juga harus mengatasi tantangan adanya batu besar di tengah pengerjaan. Jika memungkinkan mereka akan memecah batu. Tapi bila tak mungkin, tukang menggali bagian lain untuk membelokkan arah terowongan. Namun kedua hal itu tampaknya tetap menjadi kendala utama pembuatan terowongan kuno di lokasi proyek Bendungan Tamblang. I Gusti Ngurah Suarbhawa mengatakan, terowongan kuno itu belum rampung karena keterbatasan teknologi.“Kemungkinan pembuatan terowongan itu gagal karena kondisi bebatuan,” katanya.Kondisi alam juga berpengaruh. Struktur bebatuan di Bali hampir keseluruhan bermula dari sebaran formasi purba Buyan-Beratan atau kejadian geologi yang membentuk daratan Pulau Bali. Formasi Buyan-Beratan bertaut dengan aktivitas lempeng tektonik yang kemudian membentuk gunung api di Bali. Susunan geologi itu menghasilkan batuan tuff lapili. Problem pembuatan terowongan air di masa lalu memang terkait batuan material yang tersusun menjadi daratan. Tim ahli geologi menemukan formasi tuff lapili, lava andesit, dan batuan intrusi di area proyek Bendungan Tamblang. Ada pula penemuan singkapan bekuan lava yang cukup keras. “Itu yang menjadi masalah teknis (pembuatan terowongan). Tidak hanya zaman dahulu, tapi juga sekarang,” kata Ida Bagus Oka Agastya, selaku anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Bali. Dia menambahkan, intrusi menyebabkan pembuatan terowongan mengalami kebuntuan. Setelah 10 abad berlalu, kini di tempat yang sama tengah dibangun proyek Bendungan Tamblang. Proyek ini sudah dikerjakan sejak September 2019. “Bendungan Tamblang akan memenuhi kebutuhan irigasi untuk 588 hektare lahan pertanian,” kata Pejabat Pembuat Komitmen Bendungan Balai Wilayah Sungai Bali-Penida, I Gede Pancarasa. Bendungan Tamblang juga akan menyuplai kebutuhan air baku dan pembangkit listrik mikrohidro. Keberadaan terowongan kuno di bawah poros fondasi utama bendungan menjadi tantangan tersendiri. “Perlu solusi penanganan agar tidak menjadi sumber kebocoran (bendungan) dan keruntuhan terowongan,” ucapnya.

  • Alkohol dan Kejeniusan Masyarakat Nusantara

    Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021, yang memasukan investasi industri minuman keras sebagai salah satu bidang usaha, menuai kotroversi. Banyak pihak menolak dengan berbagai alasan, dari agama hingga moral. Akibatnya, aturan mengenai industri minuman keras ini kemudian dicabut Presiden Jokowi pada Selasa, 2 Maret 2021. Seiring dengan kontroversi yang muncul sebelum aturan itu dicabut, diskusi mengenai minuman keras bergulir. Alkohol disebut sebagai bagian dari produk kebudayaan lokal Indonesia yang kini masih bias ditemui di beberapa daerah. Di Sumatera Utara terdapat tuak, di Jawa ada ciu, congyang. Sementara, di daerah Indonesia Timur ada sopi dan moke di Nusa Tenggara Timur serta Cap Tikus di Sulawesi Utara. Ikhwal alkohol bahkan telah ada sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Prasasti-prasati menyebut minuman beralkohol dengan beragam nama serta kegunaan sejak abad ke-10. Filsuf Tommy F. Awuy dalam Dialog Sejarah “Minum Kemarin, Mabuk Sekarang: Alkohol dan Kejeniusan Lokal” di saluran Youtube dan FacebookHistoria, Kamis, 4 Maret 2021 menyebut bahwa alkohol memang merupakan bagian dari produk kreativitas suatu masyarakat. Kreativitas yang dimaksud Tommy adalah tentang bagaimana manusia merespon kekayaan alam yang tersedia. Respon inilah yang membuat leluhur Nusantara membuat alkohol dengan berbagai kegunaan memanfaatkan pepohonan, buah-buahan, hingga dedaunan yang ada di sekitar mereka. “Dari arak, misalnya, muncul dari lontar, muncul dari aren, dan berbagai hal. Itu respon positif manusia terhadap alam ini,” sebut Tommy. Menurut Tommy, potensi mengolah kekayaan alam menjadi produk baru ini sekaligus menunjukkan rasa hormat manusia terhadap alam itu sendiri. Kaitan manusia, alam, dan alkohol kemudian juga memunculkan aspek spiritualitas. “Itulah respon leluhur kita, dengan kejeniusan mereka menghadirkan produk yang kita lihat sebagai alkohol. Tapi sekarang dilihat itu identik dengan mabuk-mabuk. Ya bukan masalah itu. Jadi kita harus luruskan ini supaya jangan terjadi pembunuhan karakter terhadap alkohol itu sendiri,” jelas Tommy. Sementara, dosen filsafat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia sekaligus aktivis perempuan Saras Dewi menyebut bahwa di Nusantara, alkohol memiliki setidaknya dua aspek penting: sosial dan spiritual. Saras mencontohkan di Bali, misalnya, arak tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan masyarakatnya. Arak biasa dipakai untuk menjaga persaudaraan melalui beragam kegiatan. “Misalnya tengah megibung , atau bersantap bersama, itu pasti disuguhi entah arak atau tuak ya, tergantung,” kata Saras. Dalam perspektif spiritual, Saras menyebut bahwa alkohol menunjukkan daya imanjinasi leluhur luar biasa. Menurutnya, akar tentang spiritualitas alkohol ini telah ada dalam kitab suci Regweda. Dalam Regweda, disebutkan tetang bagaimana dewa mengkonsumsi minuman yang disuling atau diekstrak sehingga menimbulkan rasa keabadian atau immortality . Dalam kepercayaan Hindu-Bali, alkohol juga tak melulu untuk alam manusia, melainkan juga untuk mereka yang berada di demensi lain. Saras yang juga berasal dari Bali mencontohkah bahwa keluarganya biasa menyuguhkan satu gelas kecil arak sebagai persembahan untuk almarhum kakeknya. Arak juga dipakai dalam sembahyang untuk mengajak berkomunikasi dengan “Yang Agung” . “Itu pintu masuknya. Salah satunya dengan arak ya, arak brem lebih tepatnya. Diberikan atau semacam dikucurkan ke tanah,” terang Saras. Di Karangasem, sambung Saras, arak beras juga menjadi bagian dari ritual-ritual sakral. Beras yang berkaitan erat dengan kehadiran Dewi Sri itu, setelah diolah menjadi arak, dipakai untuk mendekatkan diri kepada hal-hal transendental. “Salah satu bagian dari ritualnya adalah bagaimana fermentasi (beras) yang kemudian dinikmati bersama itu seperti mempersatukan tubuh kita manusia biasa dengan tubuh yang sakral, tubuh yang transendental,” jelasnya. Saras menyebut, keberadaan alkohol dalam kebudayaan Nusantara ini menunjukan betapa kaya daya imanjinasi leluhur. Dalam masyarakat yang masih kental dengan animisme dan dinamisme, alkohol merupakan penemuan jenius, bukan semata-mata satu minuman yang digunakan untuk mabuk lalu hilang kesadaran tanpa makna. “Alkohol itu teknologi yang sangat jenius para leluhur kita. Karena, bayangkan, dia mencoba melampaui kesementaraan tubuh dia kan sebenarnya. Dia ingin merasakan sesuatu yang di luar daripada keseharian. Tetapi suatu peristiwa yang dia merasakan kehadiran yang lain, yang agung bahkan,” ungkapnya. Di Bali, minum arak melewati beberapa tahap. Dimulai dari yang ringan, sedang, hingga kemudian mabuk sampai tak sadar yang dalam bahasa Bali disebut punyah. “Jadi kuncinya, seni untuk meminum alkohol adalah bagaimana ada di dua dunia itu, antara sadar dan ketaksadaran itu kan sebenarnya,” katanya. Tommy F. Awuy kembali mengingatkan bahwa alkohol lokal merupakan warisan yang patut dijaga karena merupakan produk yang lahir dari alam yang telah memberikan kehidupan. Dari alkohol lokal, energi alam yang dibutuhkan untuk membangkitkan kreativitas juga muncul. “Alam itu kita lihat sebagai energi karena daunpun bisa menghidupkan kita, akarpun bisa menghidupkan kita, biji-bijianpun bisa menghidupkan kita,” terangnya. Ia berharap, alkohol tidak melulu dinarasikan sebagai barang yang membuat destruksi atau selalu dikait-eratkan dengan perilaku-perilaku kriminal. Sebab, alkohol memiliki nilai-nilai kejeniusan luluhur di dalamnya. “Leluhur respect terhadap alam. Kita harusnya juga kan respect kepada leluhur yang sudah memproduksikan alkohol yang bagi mereka itu adalah buah kreativitas dari respek terhadap biji-bijian, buah-buahan, padi-padian, tadi sampai muncul Dewi Sri itu. Semua itu tidak lepas dari alam yang memiliki energi. Taksu bahasa Balinya,” kata Tommy. Senada dengan Tommy, Saras juga mengajak masyarakat untuk merawat pengetahun leluhur tentang alkohol lokal yang memiliki beragam perspektif. “Menurut saya sekarang adalah waktu untuk penting menulis dan juga menjaga, merawat, melestarikan seluruh pengetahuan nenek moyang, khususnya terkait dengan arak, tuak, brem, sopi, moke yang dari Indonesia timur, yang merupakan jejak leluhur kita, warisan leluhur kita yang begitu berharaga. Harus dijaga,” ujar Saras.

  • Tur Catur Max Euwe ke Indonesia

    MANTAN atlet catur Indonesia, Dadang Subur (Dewa_Kipas) mengalahkan master catur internasional Levy Rozman (Gotham Chess) dalam pertandingan catur online di chess.com . Namun, Dadang dituduh curang sehingga akunnya, Dewa_Kipas di- banned. Masalah ini pun menjadi perbincangan hangat di sosial media. Warganet Indonesia tak terima dan mendukung Pak Dadang. Dalam sejarah pada masa kolonial, juara catur asal Belanda, Dr. Max Euwe, pernah mengadakan tur di Hindia Belanda. Dalam Max Euwe: The Biography ,   Alexandr Munninghoff menyebut tur itu mencakup sekitar 30 pertandingan simultan dan ceramah dalam enam minggu di Jawa dan Sumatra. Salah satu pertandingan simultan di Jawa diadakan di Magelang. Dua pemain yang ikut dalam pertandingan simultan melawan Max Euwe adalah Sudiro dan Ratib, murid Sekolah Guru Tinggi (Hogere Kweekschool). Sudiro tertarik pada catur sejak duduk di sekolah dasar HIS Netral (Neutrale Hollands Inlandsche School). Dia belajar pada L.G. Eggink, kepala sekolah yang suka catur dan menjabat hopdaktur  (ketua dewan redaksi) majalah catur NISB (Nederlands Indische Schaak Bond). “Dari beliau itulah penulis belajar bermain catur,” kata Sudiro dalam Pelangi Kehidupan. Sebagai murid yang berbakat, Sudiro sering diajak Eggink pergi tur ke Magelang, Solo, Salatiga, Semarang, dan kota-kota lain. Di sana, Eggink bermain catur secara simultan lawan 20 sampai 30 pemain catur. Pada 1925, Sudiro melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru. Di kelas 2, dia terpilih sebagai ketua klub catur sekolahnya. Klub catur mengadakan pertadingan catur setidaknya sekali dalam tiga bulan. “Untuk menguji kemampuan para anggotanya, klub catur yang dipimpinnya sering mengadakan pertandingan persahabatan dengan klub catur lain, kadang-kadang bahkan klub catur di luar kota Yogyakarta,” tulis Soebagijo I.N. dalam Sudiro Pejuang Tanpa Henti . Sudiro kemudian terpilih melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru Tinggi (Hogere Kweekschool) di Magelang. Dia terus menekuni kegemarannya bermain catur. Sehingga, dia dan temannya, Ratib, terpilih dalam pertandingan simultan melawan Max Euwe. Penelusuran peneliti Dutch Docu Channel di database surat kabar Belanda ( Delpher ) menunjukkan bahwa pertandingan catur simultan itu berlangsung pada 22 September 1930. Surat kabar De Locomotief  menulis artikel ekstensif tentang pertandingan itu. "Artikel tersebut menyebutkan 42 pemain dalam pertandingan simultan dan juga menyebutkan bahwa Euwe sangat kelelahan karena perjalanan yang jauh," tulis Dutch Docu Channel di akun Facebook   (10/3/2021). Menurut Soebagijo, pada zaman itu, sekitar tahun 1930-an, ada dua orang pemuda Indonesia dibenarkan masuk kamar bola Belanda ( societeit ) sungguh suatu hal yang langka. Terlebih mereka berani bermain catur menghadapi juara dari negara yang dipertuan (Belanda). Lebih mengejutkan lagi, Sudiro dalam pertandingan simultan itu berhasil mengalahkan Max Euwe, sedangkan Ratib berhasil remis. “Penulis dan seorang teman sekelas bernama Ratib beruntung sekali malam itu, karena penulis dapat mengalahkan sang juara, dan Ratib mencapai remis,” kata Sudiro. Soebagijo menyebut bahwa kemenangan dua pemuda itu meskipun dalam pertandingan simultan menarik perhatian khalayak. Koran-koran termasuk koran milik Belanda memberitakan peristiwa yang cukup menggemparkan itu. Beritanya pun tersiar ke pelosok negeri. “Koran-koran waktu itu menyambutnya dengan huruf-huruf besar: ‘2 Orang Murid Sekolah Menengah Berhasil Membela Kehormatan Kota Magelang’. Hal tersebut disebabkan karena kami berdua tidak dikalahkan oleh juara catur itu,” kata Sudiro. “[Namun] Penelitian kami di database surat kabar Belanda ( Delpher ) tidak menyebutkan apa pun yang ditulis di atas,” tulis Dutch Docu Channel yang menekankan bahwa kekalahan Max Eeuwe dalam pertandingan catur simultan di Magelang karena kelelahan. Dalam perjalanan hidupnya, Sudiro tidak berkarier sebagai pemain catur. Dia memilih terjun ke pergerakan kemerdekaan, menjadi guru dan kepala sekolah. Dia kemudian bekerja di pemerintahan sebagai wakil kemudian residen Surakarta, residen gerilya dan residen koordinator Solo-Madiun-Semarang-Pati, residen Madiun, gubernur Sulawesi, dan wali kota Jakarta Raya. Lawan Si Tumbuk Sementara itu, Alexandr Munninghoff menyebut bahwa dalam enam minggu tur, Max Euwe mencetak skor dengan cepat dan bagus: biasanya di setiap wilayah mencapai 90 persen. “Dia sangat tertarik dengan pendekatan permainan orang Batak, yang memainkan bentuk catur mereka sendiri tetapi menunjukkan diri mereka mampu menangani variasi Barat dengan cukup baik juga,” tulis Munninghoff. Menurut Munninghoff, Max Euwe menemukan bahwa kelompok ini (Batak) memiliki bakat luar biasa dalam bermain catur. Salah satu Batak yang melawan Max Euwe adalah Si Tumbuk, yang berhasil membuat remis baik dalam pertandingan simultan (lawan enam orang) maupun pertandingan dengan jam di Medan, yang pastinya lebih dari sekadar kebetulan. Sudiro menceritakan, ketika melawan Max Euwe, Si Tumbuk didampingi penerjemah karena tidak bisa berbahasa Belanda bahkan bahasa Indonesia (waktu itu disebut bahasa Melayu) pun tidak bisa. Satu-satunya bahasa yang dia pahami adalah bahasa daerahnya, yaitu bahasa Karo. Penerjemahnya adalah L. Hariandja, pemain catur ulung yang kelak menjadi sekretaris Sudiro ketika menjabat residen Surakarta. Hariandja memberi tahu Si Tumbuk bahwa Max Euwe ingin bermain catur dengannya. Si Tumbuk menyampaikan dua syarat. Pertama, apabila dia harus duduk di kursi, supaya dibolehkan mengangkat kaki di atas kursi. Ini disebabkan kebiasaannya di rumah karena tidak punya kursi. Kedua, selama permainan berlangsung, supaya dibolehkan mengunyah sirih dan menghadap tempat berludah. Tanpa dipenuhi dua syarat itu, Si Tumbuk tidak akan bermain dengan baik. Tuan kontrolir menolak syarat tersebut karena menganggapnya tidak sopan. Ternyata, Max Euwe tak keberatan dengan syarat Si Tumbuk: “Kenapa mesti dilarang? Kalau itu termasuk dalam adatnya, biarkalah dia betindak begitu!” “Maka berlangsunglah pertandingan catur yang unik itu. Seorang doktor dalam ilmu matematika berhadap-hadapan dengan seorang buta huruf, yang mengunyah sirih dan menggunakan susur (tembakau) guna pembersih bibir. Dan hasil dari pertandingannya? Remis. Sama kuatnya,” kata Hariandja.  Menurut Hariandja, menarik sekali apa yang kemudian ditulis oleh Max Euwe dalam sebuah koran Belanda di Medan. Bunyinya kira-kira sebagai berikut: “Saya doktor dalam ilmu matematika telah bertanding melawan seorang pemain alam yang oleh bangsa-bangsa Barat dinyatakan sebagai orang yang masih primitif. Saya berpendapat, bahwa ‘primitif’ tidaklah sinonim dengan ‘rendah’. Tidak! Orang sebagai Tumbuk tidaklah lebih rendah dari kami! Dia hanyalah berbeda dari kami: Silakan rekan-rekan para sarjana di dunia Barat merenungkan kata-kata saya itu!” Dutch Docu Channel mencari pernyataan yang sangat mencolok itu di database Delpher tapi tidak ditemukan. Sementara itu, Munninghoff mencatat bahwa Max Euwe menyebut turnya ke Hindia Belanda sebagai “titik puncak karier catur saya.”* Tulisan ini diperbarui pada 11 Maret 2021. Penulis berterima kasih kepada Dutch Docu Channel yang telah meriviu dengan menunjukkan sumber koran untuk memperbaiki tulisan ini.

  • Jalan Hidup Idham Chalid

    Dari sambungan telepon, suara itu terdengar sangat antusias. Terasa semangatnya begitu meluap-lupa ketika membicarakan sosok Idham Chlaid yang tak lain adalah kakeknya tercinta. Kenangan semasa kecil dengan Abah, sapaan keluarga untuk Idham Chalid, rasanya tidak mungkin bisa ia lupakan. Di mata Grandy Ramadhan, Idham adalah orang yang sangat rendah hati dan sederhana pola hidupnya. Bahkan pada saat Idham Chalid memegang jabatan yang cukup tinggi di pemerintahan, gaya hidup sang kakek tetap sederhana. Ia ingat betul setiap kali keluarga berpergian ke suatu tempat, sang kakek selalu memilih tempat menginap yang sederhana, tapi tetap nyaman, alih-alih harus tinggal di tempat yang mewah dan mahal. “Beliau sangat anti hidup bermewah-mewahan, bahkan untuk barang-barang yang beliau pakai pribadi tetap lebih mengutamakan fungsi dibandingkan kemewahan   barangnya. Itu yang beliau tanamkan ke anak-anak dan cucu-cucunya. Saya banyak diajari oleh beliau,” ujar Grandy kepada Historia . Idham Chalid lahir di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan pada 27 Agustus 1921. Ia anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H. Muhammad Chalid merupakan penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah. Sejak kecil Idham mendapat pendidikan agama yang baik dari keluarganya. Ia juga terdaftar sebagai murid di Madrasah Al-Rasyidiyah di Amuntai. Setamat dari madrasah tersebut, Idham melanjutkan sekolah di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Setelah aktif di berbagai gerakan perjuangan, pada usia 30 tahun Idham dipercaya sebagai Sekertaris Jenderal Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU). Pada 1956, empat tahun setelah menjabat Sekjen, Idham diberi kepercayaan menjadi Ketua Umum PBNU. Ia menjadi Ketua Umum PBNU termuda (usia 34 tahun) dan terlama (selama 28 tahun). Membangun Politik di NU Pada 1950-an perpecahan di tubuh Masyumi kian meluas. Sejumlah tokoh NU di dalam partai yang dibentuk untuk menyalurkan aspirasi politik umat Islam Indonesia tersebut semakin jelas menunjukkan kekecewaannya terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil partai. Menurut Greg Fealy dalam Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967 , sejak ketegangan di kongres 1949, hubungan antara Masyumi dan NU tidak pernah membaik. Akibatnya pada 1952, NU memutusukan berpisah dari Masyumi. Kondisi itu berimbas juga kepada Idham. Ia yang sejak 1950 duduk sebagai wakil Masyumi di Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) harus memilih di mana dirinya akan berlabuh. Dikisahkan Ahmad Muhajir dalam Idham Chalid: Guru Politik Orang NU , setelah melalui berbagai pertimbangan, Idham memutuskan untuk lebih terlibat di NU ketimbang Masyumi. Salah satu alasan dari keputusan itu adalah kedekatan Idham dengan Wahab Chasbullah, Rais ‘Aam PBNU yang sangat besar pengaruhnya dalam proses perpisahan NU dari Masyumi. “Wahab inilah yang memiliki peranan penting dalam karir Idham di NU. Dengan kelihaian Wahab, namun penuh kehati-hatian, serta faktor insting politik yang tajam membuat Idham mengalami kemajuan pesat di bawah bimbingannya, dengan belajar banyak mengenai teknik berogranisasi, berdebat dan berpidato, sambil juga membangun jaringan dukungan sendiri dalam partai,” kata Muhajir. Setelah melepas kedudukan di parlemen, Idham aktif di gerakan Pemuda Ansor. Pada 1952, ia kemudian menjabat sebagai ketua PB Ma’arif, organisasi yang berafiliasi kepada NU di bidang pendidikan. Di tahun yang sama, ia diangkat menjadi Sekjen PBNU. Baru dua tahun menjabat, Idham terpilih sebagai wakil ketua PBNU. Kedudukannya kian penting manakala ia dipercaya memegang jabatan Ketua Lajnah Pamilihan Umum Nadhlatul Ulama (Lapunu), sebuah dewan yang khusus menangani Pemilu bagi partai NU. Tugas sebagai ketua Lapunu tidaklah mudah, mengingat Pemilu 1955 menjadi ujian pertama bagi NU. Hajat demokrasi pertama rakyat Indonesia itu harus bisa menjadi ajang pembuktian NU setelah mereka keluar dari Masyumi. Ketua Lapunu dituntut membuat strategi terbaik untuk memenangkan suara dalam Pemilu tersebut. Dan Idham berhasil membuktikannya. Dalam Pemlilu 1955, NU meraih keberhasilan yang mengejutkan. Mereka berhasil mengumpulkan 45 kursi, dengan total suara yang dikumpulkan sebesar 18,4 persen. Menurut Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren , keberhasilan itu tidak lepas dari penggunaan metode kampanye yang efektif dari kubu NU, juga kemampuan NU menggalang solidaritas di lingkungan kaum santri. Berkat hasil positif dalam Pemilu 1955, NU mendapat jatah lima kursi menteri di Kabinet Ali Sastroamijoyo II, termasuk jabatan Wakil Perdana Menteri yang diserahkan pada Idham. “Dengan usianya yang baru 35 tahun, dan tanpa pengalaman sebagai menteri, pengangkatannya mencerminkan bahwa NU tidak hanya menaruh harapan besar terhadap perkembangan karir Idham, tetapi juga tidak mempunyai calon lain yang layak,” terang Muhajir. Pada Muktamar NU ke-21 di Medan pada Desember 1956, Idham terpilih sebagai ketua umum PBNU. Di bawah kepemimpinannya, NU terus melanjutkan pergerakannya di gelanggang politik dalam negeri. Dalam posisinya tersebut, ia juga sempat kembali menduduki kursi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Djuanda. Sementara kedudukannya sebagai ketua umum PBNU berakhir pada 1984. Ia digantikan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang ditandai dengan fase Khittah 1926 atau NU kembali menegaskan diri sebagai organisasi masyarakat yang tidak terlibat politik praktis serta tidak berafiliasi dengan partai mana pun. Dalam perubahan politik yang terjadi begitu cepat di dalam negeri, utamanya sejak manuver politik Sukarno menjelang dekade 1960-an, Idham tetap mengambil jalan hidup di dunia politik. Ia menjadi wakil ketua MPRS (1963-1966), Menteri Kesejahteraan Rakyat (1966-1967; 1967-1968; dan 1968-1973), Ketua DPR/MPR (1971-1977), Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (1973). Di tubuh NU sendiri kedudukan sebagai ketua umum berakhir pada 1984. Setelah tidak lagi di dunia politik, Idham memimpin Perguruan Darul Ma’arif di Cipete Selatan, Jakarta Selatan; Lembaga Pendidikan Darul Qur’an; dan Rumah Yatim di Cisarua. Ia mengehembuskan nafas terakhirnya pada 11 Juli 2010, setelah berjuang menghadapi sakit sejak 1999. Sosok Kiai Idham kemudian diabadikan oleh Bank Indonesia dalam uang pecahan 5.000 rupiah.

  • Bung Hatta dan Minuman Keras

    MINUMAN keras (miras) barangkali tidak pernah singgah di lidah Bung Hatta, wakil presiden pertama Republik Indonesia. Sebagai penganut Islam yang taat, Si Bung tentu saja tidak mengkonsumsi minuman yang  memabukan dan diharamkan. Pendiriannya yang anti minuman keras ini kiranya sudah terlihat sedari muda. Semasa berkuliah di Belanda, Hatta enggan meneguk bir yang merupakan minuman beralkohol yang lazim dikonsumsi orang-orang Eropa kebanyakan.     Pada suatu malam tahun 1921, Hatta hendak nonton opera bersama rekannya di Hamburg, Jerman. Ketiga teman Hatta itu antara lain, Dahlan Abdullah, Dr. Eichele, dan Usman Idris. Sebelum nonton, mereka makan malam dulu di suatu restoran di Hamburg. Dalam Memoir , Hatta mengisahkan ketiga temannya memesan bir untuk minum sedangkan dirinya pesan air es saja. Setelah selesai makan dan membayar harganya, Dahlan Abdulah menertawakan Hatta. Setelah meneliti isi tagihan, air es yang dipesan Hatta ternyata lebih mahal harganya daripada bir. Dr. Eichele dan Usman Idris pun ikut merasa lucu dengan situasi itu.  "Aku ditertawakan oleh Dahlan Abdullah, bahwa minumanku air es lebih mahal harganya dari bir. Teman yang dua lainnya ikut tertawa," tutur Hatta.   Cerita Hatta dan minuman keras berlanjut lagi di masa revolusi. Pada pertengahan 1947, Bung Hatta bersama serombongan menteri bermuhibah ke Sumatra. Menjalankan tugas negara di Yogyakarta semakin tidak aman setelah Belanda melancarkan agresi militer yang pertama. Dalam perjalanan itu, Bung Hatta dan rombongan akan menetap di Bukittinggi, Sumatra Barat. “Kami sampai di Bukittinggi pada hari Sabtu, 29 Juli 1947. Untuk sementara waktu aku harus tinggal di Bukittinggi,” catat Hatta dalam  Memoir . Di Bukittinggi, Hatta menjalankan tugas sebagai wakil presiden selama tujuh bulan lamanya. Di sana, Hatta bertindak selaku wakil kepala negara dan berkuasa penuh di Sumatra. Selain beberapa menteri, Hatta turut didampingi oleh Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) R.M.T.A. Soerjo. Pada saat bertugas bersama di Bukittinggi itulah Soerjo pernah menyaksikan kemarahan Hatta. Syahdan datanglah seorang lelaki muda ke Istana Bukitinggi -tempat wakil presiden berkantor dan saat ini dikenal sebagai Istana Bung Hatta- membawa sebotol arak untuk diminum bersama. Orang itu tengah masygul karena sedang jauh dari anak dan istri. Menenggak minuman keras seolah jadi pelipur lara hatinya yang gundah. Wangsawidjaja, sekretaris Bung Hatta, tidak mengetahui di mana anak dan istri lelaki tersebut. Pada saat itulah Hatta muncul lantas menyaksikan apa yang terjadi.   “Sedang minuman akan diedarkan, beliau datang. Dilihatnya minuman keras, bukan main marahnya,” kata Soerjo seperti dikutip Tamar Djaja dalam 10 Orang Indonesia Terbesar Sekarang . Bung Hatta dikenal pendiam dan tidak banyak bicara. Tapi, kalau sudah disulut dengan perbuatan yang tidak patut, dia tidak segan meluapkan emosi. Begitu mendapati minuman haram itu ada dihadapannya, Hatta pun mencak-mencak. Semua yang hadir di tempat itu kena bentak sehingga tiada yang berani mengangkat muka. Mereka tunduk dan tertegun. Hatta kemudian menghardik mereka semua dengan peringatan keras: “Tidak ada satu tetes minuman keras boleh diminum di tempatku ini. Tuan-tuan boleh pergi semua dari dekatku, kalau tuan-tuan lebih menyukai minuman keras.”  Suasana sekitar menjadi hening. Sejak kejadian itu, tidak pernah lagi minuman keras mendekati Istana Bukitinggi. “Dia memang seorang yang teguh, laksana batu karang. Saya kagum melihatnya beribadat kepada Tuhan. Itulah yang menjadi sandaran jiwanya,” kenang Soerjo. Sampai akhir hayat, Bung Hatta tetap menjunjung sikap untuk tidak mengonsumsi minuman keras. Dia boleh toleran terhadap apapun yang berbau perbedaan prinsip, namun soal minuman keras itu Hatta memang tak mengenal kompromi.*

  • Bentrok Militer Amerika dan Australia Semasa Perang Dunia

    KOTA Brisbane hampir dipastikan terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade tahun 2032. Hal itu disampaikan Presiden IOC Thomas Bach dalam jumpa pers di markas IOC di Swiss, Rabu, 24 Februari 2021. “Setelah diskusi yang mendalam, kami secara aklamasi menyetujui rekomendasi tersebut. Berdasarkan keputusan ini, komisi mulai melakukan diskusi yang rinci dengan Komite Brisbane 2031 dan juga Komite Olimpiade Australia mengenai potensi mereka menjadi tuan rumah Olimpiade 2032,” ujar Bach sebagaimana dikutip detik . com , 25 Februari 2021. Apabila terpilih, Brisbane bakal menyingkirkan kandidat-kandidat lain seperti Budapest (Hungaria), Doha (Qater), Istanbul (Turki), dan Jakarta (Indonesia). Selain itu, Brisbane juga berhasil mengikuti jejak dua kota Australia yang pernah menjadi tuan rumah olimpiade (Melbourne, 1956; Sydney, 2000). Brisbane bakal kedatangan banyak orang luar. Keramaian orang luar pernah terjadi di Brisbane 80 tahun silam. Namun, keramaian saat itu bukan mengharumkan nama Brisbane tapi justru mencorengnya, dikenal sebagai Pertempuran Brisbane. Pertempuran Brisbane bermula dari pengungsian tentara Amerika Serikat. Setelah Filipina diduduki Jepang dalam Perang Dunia II, Jenderal Douglas MacArthur memboyong pasukannya ke Australia. Brisbane dijadikan markas olehnya pada Juli 1942 setelah sebelumnya bermarkas di Melbourne. “Dia adalah penggerak utama di balik invasi Amerika pada masa perang di Australia setelah terpilih sebagai tempat yang paling cocok untuk melancarkan serangan balik terhadap Jepang,” tulis Robert Macklin dalam The Battle of Brisbane . Kedatangan MacArthur disambut penduduk kota dengan meriah. Mereka menganggap pasukan MacArthur sebagai penyelamat. “Seorang perempuan menggambarkan reaksinya saat melihat orang Amerika: Mereka adalah dewa dan mereka datang untuk menyelamatkan kita dari Jepang,” tulis John Tilston dalam Meanjin to Brisvegas: Snapshots of Brisbane’s Journey from Colonial Backwater to New World City . Sambutan hangat penduduk membuat pasukan Amerika senang. Selain mendapat tempat untuk mengkoordinasi perlawanan terhadap Jepang, mereka mendapat kawan baru dan banyak kemudahan lain. “Sebagian besar orang Australia menyambut orang Amerika sebagai penyelamat dan, setidaknya pada hari-hari awal, orang Amerika menanggapinya dengan hangat,” tulis Robert Macklin. Dipilihnya Brisbane sebagai markas MacArthur membuat jumlah pasukan Amerika terus bertambah di kota yang saat itu berpenduduk 300-an ribu jiwa itu. Perakitan pesawat-pesawat militer Amerika kemudian dilakukan di kota itu. Sebagai multiplier effect  darinya, ekonomi Brisbane menjadi berputar lebih cepat. “Ada sekitar 70.000 tentara Amerika di kota itu pada awal 1942. Meskipun masa sulit secara ekonomi, beberapa orang mendapat banyak uang jika mereka memberikan layanan apapun kepada orang Amerika. Sopir taksi, misalnya, mendapat uang darinya. Orang Amerika tidak tahu nilai mata uang lokal dan memberi tips dengan murah hati,” sambung Tilston. Para serdadu Amerika memiliki kemampuan finansial lebih baik dibanding para serdadu Australia. Gaji mereka hampir dua kali lipat dari gaji serdadu Ausrtalia. Selain seragam mereka lebih baik bahan maupun desainnya dibanding seragam militer Australia, para serdadu Amerika difasilitasi lebih banyak oleh negerinya. Kantin Amerika menjual banyak pilihan barang yang bagi para serdadu Australia saat itu merupakan barang terjatah atau langka dan tak terjangkau. Kelebihan-kelebihan para serdadu Amerika itu membuat gadis-gadis Australia tertarik. Para gadis umumnya membandingkan mereka dengan pasukan Australia. “Jalanan yang padat dipenuhi dengan seragam, dari pakaian opera putih dan biru para doughboy (julukan serdadu infantri Amerika, red .) di R&R atau mereka yang menelepon ke Brisbane dalam perjalanan ke utara, atau kain khaki kasar dan berpotongan buruk, usang dari beberapa tentara Australia yang tidak bertempur di New Guinea. Pakaian terbaik dari semua itu adalah para perwira Amerika dengan pakaian hijau zaitun yang sesuai, sejauh ini mengungguli penduduk sipil Brisbane, tidak ada yang mampu membeli pakaian berpotongan rapi, pas atau bahan yang begitu tampan. Perempuan lain mengatakan bahwa ‘baunya sangat wangi.’ Lotion  Aftershave tidak dikenal di Brisbane saat itu. Mereka juga punya sopan santun dibanding pasukan Australia. Mereka tidak takut untuk mengungkapkan kelembutan, bahkan sebagian wanita menganggap mereka agak maju dalam melakukannya,” tulis Tilston. Keunggulan finansial membuat lebih banyak gadis Australia memilih menerima ajakan kencan serdadu Amerika ketimbang serdadu senegeri mereka. Akibatnya para serdadu Australia kerap hanya bisa menelan ludah melihat para serdadu Amerika bebas minum bir di bar atau kafe sepuas mereka bersama para gadis lokal. Sementara, serdadu Australia kerap ditolak pegawai bar atau kafe dengan alasan bar sudah tutup atau bir sudah habis. Untuk memasuki kantin-kantin Amerika tempat di mana bir berlimpah, mereka pun tak bisa karena adanya larangan. Jalan-jalan kota, klub dansa, bioskop, kafe, bar dan tempat-tempat umum lain akhirnya lebih banyak dipenuhi serdadu Amerika yang mengencani gadis setempat. Pada gilirannya, bukan hanya gadis setempat (dijuluki “cuddle bunnies”) yang mengencani para serdadu Amerika namun juga perempuan sudah menikah (“lizzies lounge”). Banyak dari mereka yang kemudian menikah. Kondisi timpang antara dua pasukan Sekutu itu sampai membuat bingung sejarawan Inggris Christopher Thorne. “Saya terus terang terpesona pada kemabukan yang pernah saya lihat di antara orang Australia. Di Brisbane, warga Australia berseragam berputar-putar di jalan sepanjang hari dan sepanjang malam. Mereka bukan pemabuk yang bahagia. Mereka hanya basah kuyup, dengan seragam longgar mereka tergantung seperti karung. Seragam mereka cukup untuk membuat mereka merasa rendah diri, dibandingkan dengan orang Amerika. Dan tentu saja pasukan Amerika mendapatkan semua gadis cantik dan mereka punya lebih banyak uang, dan kantin Amerika lebih bersih dan lebih lengkap, dan orang Amerika punya derap dan mengemudi dan sangat ingin mendapatkan perkelahian. Orang Australia yang pulang setelah dianiaya di Mesir dan Singapura hanya bisa merenung dan minum,” tulisnya, dikutip Macklin. Kesenjangan itu akhirnya membuat para serdadu Australia iri. Keirian mereka diperparah oleh arogansi yang kerap diperlihatkan serdadu Amerika. “Perlakuan lusuh ini membuat para Digger (julukan pasukan Australia) marah pada rakyat mereka sendiri seperti pada orang Amerika. Suasana hati itu berubah dan beberapa tentara Australia mulai meminta uang dari orang Amerika di jalan. Mengemis dengan ancaman kekerasan menjadi salah satu ciri paling menjijikkan dalam kehidupan Brisbane,” tulis Robert Macklin dalam The Battle of Brisbane . Gesekan-gesekan pun kerap terjadi antara kedua pasukan mulai pertengahan Oktober 1942. Korban tewas atau luka-luka jatuh dari kedua belah pihak. Baku tembak antara kedua pasukan di Inkerman, misalnya, menewaskan satu persnoel masing-masing. Dalam kondisi tak kondusif itu, pada pukul 18.50 tanggal 26 November 1942 Prajurit James R. Stein dari Kompi Sinyal 404 AD Australia keluar dari pub sebuah hotel tempatnya minum dalam kondisi mabuk. Dia menuju Kantin PX milik Amerika, sekira 50 meter dari tempatnya awal. Dia lalu bergabung dengan tiga personil militer Australia yang sedang minum-minum dan mengobrol. Saat sedang asyik mengobrol itulah tiba-tiba Stein didatangi Prajurit Anthony O’Sullivan dari Kompi 814 PM Amerika. Stein diminta menunjukkan pass masuknya. Namun karena Stein tidak menemukannya meski sudah mencari dalam waktu lama, Sullivan menjadi kesal dan meminta Stein agar beranjak. Sikap Sullivan membuat ketiga tentara Australia kawan ngobrol Stein meminta Sullivan agar kalem dan membiarkan Stein. Saling umpat pun terjadi. Namun karena Sullivan mengangkat pentugannya, para serdadu Australia pun menyerang Sullivan. Keributan terjadi. Hal itu menarik perhatian tentara Australia lain dan warga yang ada di sekitar. Mereka lalu mendukung untuk menghajar para prajurit Amerika. Para serdadu Amerika kewalahan. Meski kemudian datang bantuan dari anggota PM Amerika, kalah jumlah membuat mereka akhirnya mundur sambil membawa Sullivan yang terluka. Para prajurit Australia dan massa terus mengejar mereka. Kantin PX lalu hancur diamuk massa. Kantor Klub Palang Merah Amerika yang tak jauh dari sana juga ikut dikepung dan dirusak. Para petugas jaga Kantin PX dibantu aparat kepolisian Queensland terus berupaya menghalau massa. Namun, massa gabungan prajurit Australia dan warga kota terlanjur marah. Perkelahian pun tak terhindarkan. Dalam sekejap, perkelahian menyebar ke bagian lain kota. Pukul 20 waktu setempat perkelahian telah melibatkan 2000 hingga 5000 orang. Beberapa personil PM Australia langsung melepaskan pita di lengan mereka dan bergabung ke dalam perkelahian. Sementara, sebuah truk berisi tiga prajurit Australia yang dikemudikan Kopral Duncan Caporn tiba dengan mengangkut beberapa kotak amunisi, granat, dan empat senapan sub-machine Owen. Batalyon 738 PM Amerika langsung mempersenjatai personilnya dengan senapan. Dua di antaranya, Prajurit Norbert Grant dari Kompi C dan Prajurit Mercier, langsung maju ke halaman depan. Tindakan tersebut menarik perhatian beberapa anggota massa Australia yang langsung mendekatinya dan mencoba merebut senjatanya. Perkelahian terjadi. Ketika Gunner Edward S. Webster (personil Resimen Anti-Tank ke-2Australia) hendak merebut senapannya, Grant lebih dulu menusuknya. Sementara itu, leher Grant telah dicekik oleh tentara rekan Webster. Tiga kali pelatuk senapan Grant tertarik dalam pergumulan itu sehingga tiga peluru dimuntahkan dari senapan yang diperebutkan itu. Salah satu peluru langsung menembus dada Webster dan membunuhnya seketika. Dua peluru lain mengenai pipi Prajurit Kenneth Henkel dan dada Prajurit Ian Tieman. Grant yang bingung langsung lari kembali ke dalam PX. Dalam perjalanan, dia sempat memukul kepala orang Australia dengan senapannya hingga patah gagang. Di bagian lain, Prajurit Amerika Joseph Hoffman tengkoraknya retak dalam perkelahian itu. Kendati keributan telah selesai pada pukul 22, malam berikutnya antara 500 hingga 600 personil militer Australia kembali mengepung personil militer Amerika di gedung Palang Merah. Tak jauh dari sana, di persimpangan antara Jalan Ratu dan Jalan Edwards, massa Australia memukuli para serdadu Amerika. Penulis Australia yang bersuamikan orang Amerika, Margaret Scott, bahkan tak luput dari serangan ketika sedang melintas. “Penulis itu, Margaret Scott, percaya bahwa sejumlah orang Amerika telah ditendangi sampai mati dan satu orang ditembak, tetapi tidak ada catatan resmi mengenai kematian tersebut. Namun, lusinan –dan kemungkinan puluhan– orang Amerika terluka,” tulis Raymod Evans dan Jacqui Donegan dalam “The Battle of Brisbane” yang dimuat di politicsandculture.org . Kerusuhan itu akhirnya padam setelah masing-masing pihak menerjunkan PM dalam jumlah besar untuk menertibkan. Masing-masing kesatuan yang terlibat lalu dipindahkan. Grant dimejahijaukan Februari tahun berikutnya, namun dia dibebaskan karena alasan membela diri. Lima orang Australia dihukum, yang terberat dipenjara enam bulan. “Sejak 1942, Brisbane adalah salah satu pos pementasan terakhir di garis depan. Suatu malam, dengan cara yang tak terduga dan tak terkira, kota itu menjadi garis depan itu sendiri. Orang Australia memiliki keluhan dan mereka memiliki alasan kuat untuk dirugikan. Orang-orang Amerika memiliki segalanya –gadis, kantin, dan yang lainnya– dan orang-orang kita benar-benar dikucilkan di kota mereka sendiri,” kata Mayor Bill Thomas, yang bertugas menginvestigasi penyebab gangguan anti-Amerika pada 1943, dikutip Macklin.*

  • Kerajaan Bisnis Mangkunegara IV

    SETELAH berakhirnya Perang Jawa (1825-1830), para penguasa di seluruh wilayah Jawa Tengah mulai melakukan perbaikan tatanan ekonomi yang sebelumnya sempat terabaikan. Mereka membangun kembali lahan-lahan pertanian dan perkebunan untuk menutupi segala kebutuhan produksi pangan di wilayahnya, baik untuk keperluan konsumsi rakyat maupun bisnis istana. Sejumlah penguasa berhasil melakukan perbaikan ekonomi dalam waktu singkat, hanya beberapa tahun pasca perang. Namun tidak sedikit penguasa yang memerlukan waktu lebih lama untuk membuat ekonomi kerajannya kembali stabil. Seperti menimpa Praja Mangkunagaran, yang baru memperoleh keamanan ekonomi ketika Mangkunegara IV bertakhta. Ia menjadi penguasa Karang Anyar yang mempelopori sistem perekonomian modern. “Untuk menopang keuangan praja, ia tidak hanya mengandalkan pajak secara tradisional sebagaimana yang umumnya berlaku di kerajaan Jawa, tetapi mengembangkan perusahaan-perusahaan perkebunan dan industri pengelolaannya untuk menopang perekonomian praja,” ungkap sejarawan Wasino dalam Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunagaran 1896-1944.

  • Jawa Terbelah Tiga di Salatiga

    MESKI pilar-pilarnya masih kokoh, rumah di Jalan Brigjend Sudiarto Salatiga itu tampak tak terawat. Cat putihnya mulai kusam, plafonnya pecah-pecah. Sementara halamannya biasa dipakai untuk menaruh gerobak-gerobak pedagang kaki lima. Padahal, lokasi rumah itu merupakan tempat ditandatanganinya Perjanjian Salatiga, satu titik penting dalam sejarah kekuasaan tanah Jawa. Masyarakat Salatiga mengenal rumah yang berada di samping Alun-Alun Pancasila itu sebagai Gedung Pakuwon. Menurut Eddy Supangkat dalam Salatiga: Sketsa Kota Lama, nama Pakuwon diberikan karena rumah itu pernah ditinggali pejabat Salatiga yang bergelar “Akuwu”. Menurut Lulut Ayuning Rejeki dalam tesisnya "Perlindungan Hukum terhadap Cagar Budaya di Kota Salatiga" di UKSW , sebenarnya rumah itu belum ada ketika Perjanjian Salatiga ditandatangani. Bangunan yang dulu dipakai kemungkinan berupa rumah joglo yang dibangun dari kayu dan atap rumbia. Rumah dengan dinding-dinding tebal itu kemungkinan baru dibangun pada pertengahan abad ke-19. Sengketa Saudara Perebutan tahta Wangsa Mataram memang rumit. Kisahnya bermula ketika Pangeran Arya Mangkunegara, putra sulung Amangkurat IV, diasingkan ke Srilanka karena melawan VOC. Dengan dukungan VOC, tahta jatuh ke tangan Pangeran Prabusuyasa yang kemudian bergelar Susuhunan Pakubuwana II. Pakubuwana II kemudian membangun Keraton Surakarta. Naiknya Pakubuwana II bukan tanpa perlawanan. Adiknya, Pangeran Mangkubumi, menuntut hak atas tahta itu. Sementara putra Mangkunegara, yakni Raden Mas Said, juga menentangnya sekaligus dendam kepada VOC yang telah membuang ayahnya. Tiga tokoh inilah yang kemudian mengobarkan perang panjang di Jawa pada abad ke-18. Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris, ketika Pakubuwana II wafat pada 1749, ia metitipkan kerajaan pada VOC dan meminta dukungan agar anaknya naik tahta sebagai Pakubuwana III. “Namun paman-paman raja muda itu menolak fait accomli  dan melanjutkan perang,” sebut Lombard. Mangkubumi kemudian mengobrak-abrik Pekalongan (1752) serta merebut Ponorogo dan Madiun. Belakangan, Mangkubumi berhasil diajak berunding VOC dengan siasat devide et impera -nya. Melalui Perjanjian Giyanti pada 1755, wilayah kerajaan dibagi dua untuk Pakubuwana III dan Mangkubumi. Pakubuwana III mendapat kekuasaan atas Surakarta, Banyumas, Blora, Ponorogo, Wonosobo, Kediri dan Blitar. Sementara Mangkubumi mendapat wilayah Grobogan, Madiun, Pacitan, Jipang dan Japan (Mojokerto). Mangkubumi kemudian mendirikan kota baru beserta keratonnya di Yogyakarta. Ia bergelar Sultan Hamengkubuwana I. Meski Pakubuwana III dan Hamengkubuwana I telah berdamai, persoalan belum selesai. Keponakan mereka, Raden Mas Said, masih mengancam tahta keduanya. Raden Mas Said tak mengakui Perjanjian Giyanti karena tak dilibatkan dan tak mendapat bagian apa-apa. Ia juga merasa dikhianati Mangkubumi yang dulu bersama-sama melawan Surakarta dan VOC. Jawa Terbelah Lagi Raden Mas Said kini sendirian. Tapi pangeran yang punya julukan gahar Pangeran Sambernyawa itu ternyata bisa membuat lawannya kewalahan. Padahal lawannya terdiri dari tiga kekuatan: Pakubuwana III, Hamengkubuwana I, dan VOC. Menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, pada Oktober 1755 Raden Mas Said berhasil mengalahkan satu pasukan VOC. Setahun setelahnya, ia hampir berhasil membumihanguskan Keraton Yogyakarta. “Pasukan-pasukan dari Surakarta, Yogyakarta, dan VOC tidak sanggup menawan Mas Said, tetapi jelas pula bahwa dia tidak mampu menaklukkan Jawa karena menghadapi lawan gabungan semacam itu,” tulis Ricklefs. Setelah peperangan itu berlangsung selama dua tahun, perundinganpun kembali terjadi. Sebuah pertemuan dilakukan di Kalicacing, Salatiga pada 17 Maret 1757. Empat pihak yang terlibat, yakni VOC, Raden Mas Said, Pakubuwono III, dan Patih Suryanegara yang mewakili Hamengkubuwana I, menghadirinya. Salatiga sendiri dipilih karena merupakan wilayah VOC dan berada di luar Vorstenlanden (wilayah kekuasaan Surakarta dan Yogyakarta). Perjanjian Salatiga membuat Pakubuwana III menyerahkan 4000 cacah tanah, meliputi Karanganyar dan Wonogiri. Sementara Raden Mas Said, menurut Ricklefs, secara resmi mengucapkan sumpah setia kepada Surakarta, Yogyakarta, dan VOC. Meski demikian, belakangan Raden Mas Said membuat satu poros kekuasaan baru. Ia menandai munculnya satu lagi raja Jawa di antara Pakubuwana III dan Hamengkubuwana I. Raden Mas Said kemudian menggunakan gelar Mangkunegara I. “Pada awalnya Mas Said mengaku sebagai vassal Sunan dan mendirikan keratonnya di ibukota rajanya, akan tetapi dalam kenyataan ia membentuk suatu dinasti otonom yang telah bertahan dengan segala kemegahan sampai masa kini, yaitu Mangkunegaran,” jelas Lombard. Sejak itu, Hamengkubuwono I terus berhasrat menyingkirkan Mangkunegara I. Bahkan sejak awal, ia tak menyerahkan sepetak tanahpun serta mencemooh penyelesaian dalam Perjanjian Salatiga. Cita-cita menyatukan Jawa sebenarnya masih berlanjut dan tahta Surakarta mencadi incaran. Namun, diplomasi melalui perkawinan antarkeraton justru menambah rumit persoalan. “Perjanjian tahun 1755 dan 1757 jelas merupakan peristiwa penting dalam sejarah Mataram. Hilanglah impian akan pembentukan kesatuan Jawa yang telah diusahakan oleh raja-raja pertama,” tulis Lombard. Meski permusuhan masih berlanjut, tak ada lagi peperangan hingga 1825. Masa-masa pasca-Perjanjian Salatiga juga relatif damai. Pertanian di Jawa kembali hidup setelah bertahun-tahun porak-poranda karena perang. Kini tempat di mana Perjanjian Salatiga dilaksanakan hampir dilupakan. Kabarnya, pemilik bangunan adalah orang Semarang yang sejak lama dicari Pemerintah Kota Salatiga yang hendak melakukan pemugaran. Jika berhasil dibebaskan, bangunan itu menjadi penting sebagai cagar budaya untuk merawat narasi sejarah Jawa dan Salatiga sendiri.*

  • Bung Karno Jajan

    CIBINONG, Bogor awal tahun 1960-an. Jumari masih ingat “durian runtuh” menghampirinya malam itu. Sekira jam 9, ketika dirinya akan bersiap membereskan dagangan, tetiba sebuah mobil sedan berhenti tepat  di depannya. Dari kaca mobil bagian belakang, seraut wajah yang tak asing lagi baginya muncul. “Hei Mang, itu rambutan rapiah, bukan?” tanya lelaki setengah tua itu dalam bahasa Sunda. Sambil melayani, Jumari mengingat-ingat siapa gerangan orang yang tengah membeli rambutan-nya itu. Begitu ingat, meledaklah kegembiraan pedagang buah-buahan asal Ciawi, Bogor tersebut. “Bapak? Ini teh Bapak Presiden?! Woi aya Bapak Presiden euy! ” teriaknya memberitahu orang-orang yang ada di sekitarnya. Sang presiden hanya tertawa. Sontak orang-orang berkerumun di sekitar mobil tersebut. Dua pengawal kemudian turun untuk mengatur supaya orang-orang yang ingin bersalaman dengan Presiden Sukarno tidak berebutan. Dengan ramah dan tenang, Bung Karno melayani keinginan khalayak. Setelah menanyakan ini dan itu kepada Jumari dan orang-orang, dia kemudian pamit dan melanjutkan perjalanan ke arah Jakarta. “Beliau hanya mengambil 5 ikat rambutan dan langsung dibayar pengawalnya. Padahal kalau mau, saya ingin memberikan semua dagangan saya untuk beliau. Tidak apa juga kalau harus rugi hari itu,” ujar lelaki kelahiran tahun 1932 itu sambil terkekeh. Semenjak muda, Bung Karno memang memiliki kebiasaan ngelayap  untuk jajan makanan. Tradisi itu berlanjut saat dia menjadi presiden RI. Bahkan menurut Guntur Sukarnoputra, tak jarang ayahnya itu mengajak juga putera-puteri-nya untuk berburu makanan. “Bapak selalu mengajak kita keliling-keliling kota Jakarta untuk rileks di malam hari secara incognito,” ungkap Guntur dalam bukunya, Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku. Guntur berkisah suatu hari Bung Karno mengajak dirinya untuk makan di Layar Terkembang. Itu nama suatu restoran sate Madura terkenal saat itu yang letaknya berada di kawasan Cilincing, perbatasan antara Bekasi dengan Jakarta. Sambil menunggu sate dihidangkan, Bung Karno lantas berjalan-jalan di halaman restoran dan saat itulah dia kemudian bertemu dengan seorang anak muda yang tengah berjualan durian. Tanpa ragu-ragu sang presiden langsung menanyakan harga buah kesukannya itu. “Eta kadu sabaraha, Jang? (Itu duren berapa harganya, Jang?) “Eh…Eh…” “Sabaraha?” “Apaan yah?” “Hah…Kau bisa bahasa Sunda?” “ Nd… Ndakkk, Pak… ” “Ah… Dari mana kau punya asal?” “ Di sini-sini saja, Pak…” “Oh, Bapak kira kau berasal dari Priangan… Jadi durennya harganya satu berapa?” Sadar yang tengah menawar dagangannya itu adalah presiden-nya, sang penjual duren malah jadi gugup. “ Harganyaaa…Ah, berapa aja deh, Pak…” “Lho? Yang beneeerrr! Harganya berapa satu?” Sang penjual duren pun pada akhirnya menyebut harga. Setelah cocok, Bung Karno pun memilih sendiri duren-duren itu dan membawanya ke Istana Negara untuk dinikmatinya bersama para pengawal dan para pembantu. Soal berburu makanan ternyata tidak hanya dilakukan oleh Bung Karno di Bogor dan Jakarta saja. Saat dia tengah berkunjung ke luar kota pun, sang presiden kerap melakukan kebiasaannya itu. Priyatna Abdurrasyid (eks Jaksa Agung) masih ingat, bagaimana setiap ke Bandung, Bung Karno selalu singgah di tukang sate ayam favoritnya yang terletak di Jalan Asia Afrika. “Dengan menumpang jip dan memakai kaos putih oblong, celana pendek dan sandal, Bung Karno didampingi (Brigjen) Sabur (komandan Resimen Tjakarabirawa) keluar untuk makan sate,” kenang Priyatna dalam otobiografinya, Dari Cilampeni ke New York: Mengikuti Hati Nurani  (disusun oleh Ramadhan K.H.) Sebelum pergi, kata Priyatna, biasanya Bung Karno akan mencari terlebih dahulu Mayor Jenderal Ibrahim Adjie (Panglima Kodam Siliwangi saat itu) di Pakuan. Begitu bertemu perwira tinggi yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu, Bung Karno tanpa ragu-ragu akan berteriak: “Ji coba beri aku uang seribu rupiah! Aku mau makan sate nih.” Tanpa banyak bicara, Adjie pun akan merogoh saku celananya dan langsung memberikan uang ribuan kepada Bung Karno.*

  • Pekik Merdeka Gaya Soeharto

    Pesawat Hercules mendarat di Bandar Udara Mandai, Makassar. Dengan mengenakan stelan safari dan peci di kepala, Letnan Jenderal Soeharto turun dari kabin. Bagi sang jenderal, Makassar bukanlah tempat yang asing. Dia pernah bertugas di sana sewaktu memimpin Komando Operasi Mandala Pembebasan Irian Barat. Namun, kedatangannya kali ini dalam kapasitasnya yang baru sebagai pejabat presiden.

  • Setelah Serangan Umum 1 Maret

    MELALUI Serangan Umum, selama enam jam kota Yogyakarta direbut oleh TNI dan rakyat yang bergerak serentak sejak pukul enam pagi 1 Maret 1949. Itu membuktikan bahwa Republik Indonesia belum habis, dan tersiar hingga seantero dunia. Meski pada siang hari serdadu Belanda berhasil menguasai kembali Yogya, pukulan telak pada Belanda datang dari medan diplomasi. Di medan pertempuran, Belanda memang mampu mendatangkan bala bantuan dari Magelang pada tengah hari. Mengutip Sedjarah TNI-AD Kodam VII/Diponegoro , Komandan Batalyon Infantri V KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) “Andjing NICA” Kolonel Adrianus van Zanten yang mendengar Yogya diserang, segera minta bantuan ke Semarang. Maka datanglah Yonif X “Gadjah Merah” dengan satuan lapis bajanya . K onvoi me reka berangkat dari Magelang ke Yogya pukul 11 siang. “Jam 12 berkobar pertempuran sengit. Pasukan-pasukan kita diperintahkan mundur mengingat perhitungan-perhitungan taktis dan pertimbangan terhadap keselamatan rakyat. Pasukan Andjing Nica ini bila masuk kampung tidak pandang bulu. Siapa saja yang tampak tentu dibunuh walaupun anak kecil yang masih berumur 11-12 tahun,” tulis tim sejarah militer Kodam Diponegoro itu. Kolonel Adrianus van Zanten, Danyon "Andjing NICA" meminta bantuan pasukan "Gadjah Merah" (kiri) untuk merebut kembali Yogyakarta. ( nationaalarchief.nl ). Baca juga: Peringatan Serangan Umum 1 Maret Menuju Hari Besar Nasional Berbekal i nformasi dari peng intai an oleh sebuah pesawat Auster Belanda yang melayang di atas langit Yogya sejak pukul sembilan pagi , dua batalyon Belanda dengan satuan lapis bajanya itu segera mengamankan sejumlah area strategis setelah pertempuran. Sejumlah akses keluar-masuk kota Yogya j u ga diamankan hingga mengakibatkan sejumlah pasukan dari Sub-Wehrkreise (SWK) 105 terjebak di dalam kota. “Masih banyak prajurit yang berkeliaran dan terpaksa menempuh jalan keluar melalui saluran-saluran air bawah tanah atau sembunyi dan bermalam di tengah-tengah penduduk kota, untuk keluar esok harinya. Pasukan-pasukan SWK 105 baru mengundurkan diri dari Maguwo dan Tanjungtirto keesokan harinya, tanggal 2 Maret. Tetapi toh ternyata SO (Serangan Oemoem, red .) ini membawa hasil yang lebih daripada yang diharapkan. Hasilnya mempunyai keuntungan berganda baik dalam bidang psikologis, militer, maupun politik,” tulis tim sejarah itu. KMB Zonder PBB B eredarnya kabar Serangan Umum 1 Maret berdampak kian terpojoknya Belanda di meja diplomasi. Pemerintah Belanda yang sejak Agresi Militer II ( 19 Desember 1948 ) acap mengabaikan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB), mulai kepayahan mempertahankan propagandanya di d un ia internasional bahwa RI sudah musnah. Padahal,pada24 Desember 1948DK-PBB mengeluarkan Resolusi 63. DK-PBB memberi tekanan lagi lewat Resolusi 67 tertanggal 28 Januari 1949. Inti dua resolusi itu adalah Belanda mesti menarik pasukannya dari Yogya, mengembalikan para pemimpin RI, dan menarik garis demarkasi sebagaimana Perjanjian Renville (17 Januari 1948). Saking kesalnya dengan kebebalan Belanda yang enggan mem atuh i resolusi DK-PBB, Parlemen Amerika Serikat sampai menggugat bantuan “Marshall Plan” pemerintah Amerika kepada Belanda. Pada 7 Februari 1949 , Senator Negara Bagian Maine Ralph Owen Brewster be rsama sembilan senator lain mengajukan resolusi ke hadapan Senat Amerika, agar pemerintah Amerika menyetop bantuan apapun kepada Belanda untuk sementara waktu. “Aksi Belanda (Agresi II, red .) ibarat serangan diam-diam sebagaimana Jepang membokong Pearl Harbor, seperti serangan Jerman Nazi ke Belanda sendiri…apakah kita berniat mendukung imperialisme Belanda-Inggris-Prancis di Asia yang justru akan menciptakan iklim sempurna untuk komunisme? Atau kita berniat mendukung para nasionalis republik yang moderat di seantero Asia?” kata Brewster dalam pidatonya di hadapan Senat Amerika, dikutip Paul F. Gardner dalam Shared Hopes, Separate Fears: Fifty Years of US-Indonesian Relations. Baca juga: Agar Perlawanan Yogya Didengar Dunia Senator Ralph Owen Brewster dari Negara Bagian Maine. (Library of Congress). Tekanan juga datang dari negara-negara boneka bentukan Belanda (BFO/Bijeenkomst voor Federaal Overleg).Lewat sebuah komunike pada15 Februari 1949, lima fraksi BFO menuntut Perdana Menteri (PM) BelandaWillem Dreesagar pemerintah Belanda mau tunduk pada Resolusi 67 DK-PBB. Mereka juga menuntut pemindahan Presiden Sukarno dan para pimpinan republik laindari Prapat ke Pulau Bangka dan tak lagi distatuskan sebagai tawanan. Tekanan itu membat PM Drees memanggil Wakil Tinggi Mahkota Louis Beel pada pertengahan Februari. “Di Belanda, Dr. Beel mengadakan sejumlah pertemuan, tidak hanya dengan pemerintah, tetapi juga dengan Parlemen Belanda. Beel dikritik atas sikapnya terhadap seorang petinggi UNCI yang menyalahi etika diplomasi,” ungkap Batara R. Hutagalung dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 dalam Kaleidoskop Sejarah Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Baca juga: Panglima Tentara Belanda dari Surakarta (Bagian I) Namun, PM Drees dibantu Beel masih memutar otak mencari cara agar Indonesia tak lepas begitu saja namun di sisi lain Belandaterlihat tetap mematuhi resolusi DK-PBB. Drees lantas mengeluarkan beleid (kebijakan) dalam empat poin: Pertama , Sukarno dkk. akan diberi kebebasan sesuai yang diperlukan untuk bisa berunding. Kedua , Belanda tetap takkan mengembalikan wilayah RI sesuai Perjanjian Renville. Ketiga , Beel diperintahkan membentuk sebuah pemerintahan interim tanpa keterlibatan para pemimpin RI. Keempat , kedaulatan akan diserahkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya kepada Negara Indonesia Serikat (NIS). Pada 23 Februari, skenario Belanda untuk menggelar Konferensi Meja Bundar (KMB) pun disusun Beel. KMB “versi Belanda” itu rencananya akan dihelat pada 12 Maret 1949 dengan mengundang Sukarno namun zonder campur tangan Komisi PBB. Pemerintah Belanda sekadar memberi notifikasi terkait KMB itu. Setibanya kembali Beel ke Jakarta pada 26 Februari, datang komunike dari Den Haag. “Keputusan penting mengenai sikap mengenai masalah Indonesia. Pemerintah yakin penyelesaian memuaskan semua masalah bergantung pada jalan yang setepat-tepatnya, yaitu mempercepat penyerahan kedaulatan Belanda atas Indonesia kepada suatu pemerintahan federal yang representatif. Agar penyerahan kedaulatan tersebut, yang menurut resolusi dewan keamanan (PBB) tertanggal 28 Januari, harus terlaksana selambat-lambatnya 1 Juni 1950, akan dilakukan jauh lebih cepat dari tanggal ini,” demikian komunike itu, dikutip A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan, Jilid 3: Diplomasi Sambil Bertempur. PM Belanda Willem Drees (kiri) & Wakil Tinggi Mahkota Louis Joseph Maria Beel. ( nationaalarchief.nl ). Maksud dari penyerahan kedaulatan lebih cepat dari tuntutan DK-PBB dalam Resolusi 67adalah Belanda hendak mengoperkedaulatan kepada NIS yang direncanakan pada 15 Juni 1949. Namun,KMB versi Belandaitu kuncinya terletak pada kesediaan Sukarno. “Beel mengisyaratkan mengalah dan akan melaksanakan resolusi DK PBB tanggal 28 Januari 1949, namun dengan cara Belanda dan tanpa melibatkan UNCI. Upaya mengulur waktu terus dilakukan, yakni menunda pengembalian presiden, wakil presiden, dan pembesar Indonesia lainnya ke Yogyakarta,” s ambung Batara. Baca juga: Tentara Kolonial Belanda dalam Pusaran Masa Untuk membujuk Sukarno, Beel melakukannya lewat suratnya kepada Sukarno. Di surat itu alamat penerimanya dituliskan: “Presiden Republik Indonesia”. Surat itu lantas ia titipkan pada Dr. Peter John Koets untuk disampaikan langsung pada Sukarno. “Niat baik” Beel itu diharapkannya akan disambut hangat Sukarno. Dr. Koets tiba di Bangka pada 28 Februari dan menyerahkan surat dari Beel sekaligus undangan KMB di Den Haag. Surat Beel untuk Sukarno itu membicarakan soal penyerahan kedaulatan kepada NIS pada 15 Juni 1949, rencana penarikan pasukan Belanda, dan sisanya akan distatuskan sebagaipasukan asing yang hanya akan bergerak sesuai permintaan pemerintahan NIS. Juga dibicarakan rencana pembentukan Uni Belanda-Indonesia sebagai badan kerjasama terkait kepentingan NIS dan Belanda. Rencana licik Beel itu kandas. Sukarno menolak. Pasalnya, tuntutan agar ibukota RI di Yogyakarta dan pemulangan dirinya dan para pembesar RI kembali ke Yogyakartaenggan dituruti Beel. Sukarno lalumemberikan alasannya lewat surat balasankepada Beel. “Mengingat kedudukan saya dan anggota-anggota pemerintah Indonesia di Bangka sekarang, yaitu terputus dari negara dan rakyatnya dan terpisah dari dasar kekuasaannya selaku pemerintah, saya secara resmi tidak dapat memutuskan untuk menghadiri konferensi itu atau untuk mengirim delegasi atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia. Andaikata kami menerima, kami hanya akan dapat menghadiri konferensi itu selaku orang-orang partikulir. Tanggung jawab seperti itu hanya dapat dipikul oleh pemerintah RI yang dapat menjalankan kekuasaan sepenuhnya di daerahnya dan berkedudukan di Yogyakarta,” kataSukarno, dikutip Batara. Baca juga: Negara Indonesia Timur Dengan berlangsungnya Serangan Umum 1 Maret 1949, para delegasi BFO mulai insyaf bahwa perlawanan RI masih terus bergulir dan fakta itu kontradiktif dengan propaganda Belanda selama ini. Sebelum tersiarnya Serangan Umum, para anggota BFO di luar Jawaminim informasi tentang situasi dan perkembangan perjuangan yang terjadi di Jawa. Mereka baru mendengar penguasaan Yogya selama enam jam dari siaran-siaran luar negeri pada 1 Maret 1949. Sejumlah delegasi BFO yang menjenguk Presiden Sukarno di Pulau Bangka pada 15 Maret 1949. BFO menggelar sidang pada 3 Maret 1949 dan mengasilkan resolusi yang mendesak Beel memulangkan para pimpinan RI ke Yogyakarta. Mereka juga menentang Beel yang bersikeras akan menghelat KMB pada 12 Maret 1949 tanpa keikutsertaan delegasi RI. “Ini tidak berarti bahwa wakil-wakil negara federal tersebut tidak lagi mengharapkan dibentuknya negara federasi yang dengan dukungan Belanda mereka akan menjadi dominan. Tetapi mereka merasa bahwa hal ini tidak akan tercapai kecuali jika pihak (republik) Indonesia diikutsertakan sebagai peserta minoritas (KMB),” ungkap George McTurnan Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia . Baca juga: Panglima Tentara Belanda dari Surakarta (Bagian II–Habis) Rencana KMB skenario Beel itu kian runyam setelah dia tahu BFO kembali bersidang pada 10 Maret 1949. Otomatis, KMB pada 12 Maret batal digelar. Selain BFO menolak turut serta karena tuntutan mereka untuk memulangkan Sukarno dkk. ke Yogya masih ditolak, Belanda mustahil membawa seluruh delegasi BFO dari Jakarta ke Den Haag dalam waktu semepet itu. “Dengan jawaban Presiden Sukarno kepada Beel, sirna sudah harapan Beel mengajak Sukarno-Hatta menghadiri KMB tersebut. Rencana Belanda untuk tetap menggelar KMB ‘versi Belanda’ (12 Maret) juga gagal total setelah Suriname dan Curaçao, salah satu bagian dari Kerajaan Belanda, menolak mengirim delegasi. Ini adalah pukulan terbesar bagi Belanda,” tandas Batara.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page