top of page

Hasil pencarian

9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Enam Dasawarsa Bersama Saudara Tua

    PADA 20 Januari 2018, Indonesia akan memperingati 60 tahun hubungan persahabatan dengan Jepang. Momentum bersejarah itu juga akan diperingati di Tokyo, Osaka, Fukuoka, Nagoya, Hiroshima, dan Hokkaido dengan spirit “Work Together, Walk Together”. Kedua pemerintah akan menggelar beragam acara dengan melibatkan akademisi, pemuda, dan publik figur. Gadis cantik eks anggota Idol Group AKB48 dan JKT48 Haruka Nakagawa mendapat kepercayaan jadi duta Persahabatan Indonesia-Jepang. Sementara, logo peringatan akan menggunakan rancangan Kresna Setya Wiratama, siswa kelas XII SMAN 2 Ngawi, Jawa Timur, berupa elaborasi wayang dan bunga sakura. Hubungan kedua bangsa memang sudah terjalin sejak lama. Menurut catatan, pada abad ke-17 sudah ada niagawan Jepang yang rutin mendatangi Jawa atau pulau-pulau lain di Nusantara. Namun, Jepang secara resmi baru masuk pada Februari 1942. Mereka datang sebagai “saudara tua” yang akan membebaskan bangsa Asia dari kolonialisme Barat dengan slogan Tiga A: Nippon Pemimpin Asia, Pelindung Asia, dan Cahaya Asia. Mereka baru hengkang begitu kalah Perang Dunia II tiga setengah tahun kemudian. Lepas dari kekejaman masa pendudukannya yang singkat itu, Jepang punya andil bagi berdirinya Republik Indonesia. Pendudukan Jepanglah yang memungkin nasionalisme Indonesia masuk ke akar rumput dan bertumbuhkembang pesat. Dalam praktiknya, nasionalisme itu mewujud dalam beragam kegiatan yang dilakukan badan-badan bentukan Jepang sepeti PETA (Pembela Tanah Air), Fujinkai (Organisasi Perempuan), atau Heiho (Pembantu Militer Jepang). Banyaknya organisasi semi-militer bentukan Jepang, seperti PETA, pada gilirannya menjadi modal bangsa Indonesia ketika mendapatkan kemerdekaan dan mempertahankannya dari rongrongan Belanda yang ingin kembali berkuasa usai perang. Para aktor utama dalam berbagai pertempuran semasa revolusi macam Soedirman, A. Yani, Ibrahim Adjie merupakan didikan Jepang. Serdadu-serdadu Jepang sendiri tak sedikit yang memilih tetap tinggal di Indonesia dan ikut bertempur mempertahankan kemerdekaan Indonesia, 1945-1949. Namun, hubungan diplomatik Indonesia-Jepang baru mulai membenih setelah adanya Treaty of San Fransisco, perjanjian damai Jepang-Sekutu dan negara-negara yang pernah dijajahnya, 8 September 1951. Indonesia, diwakili Menlu Ahmad Subardjo, menjadi salah satu negara yang hadir. Traktat itu antara lain menghasilkan pampasan perang, termasuk untuk Indonesia sebesar 220.080.000 dolar Amerika. Subardjo awalnya merasa terpaksa ketika bersedia ikut meneken hasil traktat. Pasalnya, permintaan amandemen Ayat 9 tentang perikanan dan Ayat 12 tentang perdagangan tak dikabulkan pimpinan konferensi traktat tersebut –hal yang membuat traktat itu kemudian tak kunjung diratifikasi. Subardjo bersedia ikut menandatangani traktat itu setelah mendapat jaminan pribadi dari Perdana Menteri (PM) Jepang Shigeru Yoshida, yang menemui Subardjo di sela-sela jeda konferensi dan melakukan pembicaraan empat mata. “PM Yoshida dalam pembicaraan tertutup itu memberi jaminan lisan dan tertulis bahwa Jepang akan menunaikan kewajiban mereka dengan niat baik dan menginterpretasikan Ayat 9 dan 14 dengan lebih fleksibel. Ini yang kemudian mendorong Subardjo mau ikut menandatangani traktat itu,” ungkap KV Kesavan dalam artikel “The Attitude of Indonesia towards the Japanese Peace Treaty”, dalam jurnal Asian Studies: Journal of Critical Perspective on Asia. Jaminan Yoshida itu mulai direalisasikan pada Desember tahun yang sama. “Pada pembicaraan pertama di Tokyo itu, Indonesia menuntut pampasan perang (tambahan) 17,5 miliar dolar Amerika,” tulis Audrey Kahin dalam Historical Dictionary of Indonesia. Jepang menolak. Jepang sendiri menginginkan perizinan untuk para nelayan mereka berburu ikan di perairan Indonesia sebagai salah satu syarat negosiasi. Di sisi lain, PM Yoshida menjanjikan kemitraan dalam berbagai bidang ekonomi. “Jika Indonesia berkenan bekerjasama dengan Jepang dalam membangun Asia yang baru, Jepang bersedia menambah pampasan perang 200-300 juta dolar Amerika, namun Jika Indonesia menolak, Jepang takkan membayar sepeser pun pampasan perang,” cetus Yoshida mengingatkan, sebagaimana dikutip Masashi Nishihara dalam Japanese and Sukarno’s Indonesia: Tokyo-Jakarta Relations 1951-1966 . Meski hubungan diplomatik kedua negara belum ada pada 1951, kerjasama di bidang bisnis sudah berjalan. Menurut Nishihara, pada 1951 beberapa perusahaan asal Indonesia seperti DMC, Bakri Bros, CTC, dan Oei Tiong Ham Concern sudah membuka kantor di Tokyo dan Osaka. Niat Jepang untuk “rujuk” dengan Indonesia menguat pada 1952 hingga 1957, terutama setelah PM Jepang dijabat Nobusuke Kishi. “Tidak seperti para pendahulunya, Kishi ingin menjalin integrasi ekonomi dengan Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Kishi kemudian jadi PM Jepang pertama setelah perang yang mengunjungi Asia Tenggara pada Mei 1957,” tulis Indonesian Economic Decolonization in Regional and International Perspective . Berbarengan dengan itu, tensi hubungan Indonesia-Belanda memuncak. Presiden Sukarno dan beberapa ideolog negeri seperti Chairul Saleh mulai mendekati Jepang yang dianggap potensial sebagai sekutu dalam membangun perekonomian nasional. Pada 28 November 1957, Sukarno dan Kishi menandatangani perjanjian kerjasama. Menurut Nishihara, di buku yang sama, perjanjian yang baru diumumkan pada 8 Desember 1957 itu berisi bantuan pembangunan dari Jepang untuk Indonesia sebesar 400 juta dolar Amerika dan tambahan pampasan perang dengan nominal serupa. Perjanjian itu menjadi batu pijakan baru bagi rekonsiliasi kedua negara. Hubungan diplomatik lantas didirikan atas Perjanjian Perdamaian yang ditandatangani kedua pihak pada 20 Januari 1958. Sebulan setelah lahirnya hubungan resmi, Soekarno bertandang ke Jepang . “Pembayaran pampasan-pampasan perang itu sudah bergulir di awal tahun 1960. Setelah 1957, jalinan ekonomi antara Jakarta dan Tokyo berkembang. Jepang mulai membeli kebutuhan primer dari Indonesia. Indonesia juga mulai mengekspor minyak ke Jepang. Setidaknya 46 persen minyak mentah Indonesia diekspor ke Jepang, sebagaimana juga hasil alam lainnya seperti bauksit, nikel, karet dan kayu.” Kemitraan itu terus bertahan. Hingga kini, Jepang salah satu mitra ekonomi terpenting Indonesia. Situs Kementerian Luar Negeri RI, kemlu.go.id , 17 Desember 2017 mengungkapkan, Jepang merupakan investor terbesar kedua untuk Indonesia (nilai investasinya pada 2016 mencapai 5,4 milyar dolar Amerika). Hal itu berjalan terutama setelah disepakatinya Strategic Partnership for Peaceful and Prosperous Future pada 28 November 2006 dan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement, 20 Agustus 2007. Toh, kerjasama Indonesia-Jepang tak semata di bidang ekonomi. Kerjasama juga terjadi pada bidang-bidang lain seperti pendidikan, kebudayaan, hingga pertahanan. Sebagai penghormatan terhadap kerjasama itu, di kantor Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Jepang sampai ada patung perunggu Jenderal Soedirman setinggi empat meter. Patung itu merupakan hadiah persahabatan dari Kemenhan RI pada 2011. “Menteri Purnomo (Yusgiantoro, Menhan RI saat itu) mempersembahkan patung perunggu ini pada Januari 2011. Patung sosok Soedirman yang punya kedekatan dengan Jepang,” tulis pernyatan resmi situs Kemenhan Jepang, mod.go.jp.

  • H.R. Dharsono, Akhir Tragis Mantan Loyalis

    HARU bercampur jengkel dalam kalbu Ali Sadikin ketika menghadiri pemakaman H.R. Dharsono. Bagaimana tidak, sebagai tokoh militer yang berjasa bagi negara, pemerintah hanya bersedia memakamkan Dharsono di Tempat Pemakaman Umum Sirna Raga, Bandung. Dharsono kehilangan haknya untuk dikebumikan di Taman Makam Pahlawan karena pernah dipenjara lebih dari setahun. Meski berasal dari matra berbeda, kondisi tersebut membuat Ali Sadikin berang. “Berbicara sebagai wakil keluarga, waktu itu Ali Sadikin menyatakan bahwa Dharsono ikut mendirikan Orde Baru dan sekarang ia dibunuh oleh Orde Baru. Belum selesai Sadikin berbicara, seseorang telah maju dan merenggut pengeras suara dari tangannnya,” tulis Aris Santoso dkk dalam Hoegeng: Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa . Kemal Idris lebih geram lagi. Tatkala melepas kepergian terakhir sahabatnya itu, Kemal menggerutu. “Seperti menguburkan kucing saja,” kata Kemal seperti dikutip Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto . Kritik Berujung Bui Pertengahan Januari 1978, Dharsono yang saat itu menjabat Sekretaris Jenderal (Sekjen) ASEAN, berpidato di hadapan anggota eksponen 66 di Bandung. Dalam pidato itu Dharsono menyeru kepada ABRI untuk lebih memperhatikan kesulitan rakyat. Menurut Dharsono yang paling penting bagi pimpinan ABRI adalah mendengarkan aspirasi rakyat kecil. “Jika mereka tetap mengandalkan kekuasaan dan kekuatan militer, maka rakyat akan menurut karena takut, bukan karena mencintai ABRI,” himbau Dharsono sebagaimana dikutip David Jenkins dalam Soeharto dan Barisan Jenderal Orba: Rezim Militer Indonesia, 1975—1983 . Kritik Dharsono dilatari penyimpangan pemerintahan Orde Baru yang berubah menjadi rezim represif, keras, dan anti-demokrasi. Untuk mengoreksi dan mengarahkan kembali, maka Dharsono terdorong bersuara. Sekalipun Dharsono berbicara dalam kapasitas pribadi, ucapannya dianggap terlalu keras bagi kelompok penguasa. Panglima ABRI Jenderal Maraden Panggabean sampai gusar dan menuntut Dharsono meminta maaf. Ketika Dharsono menolak, pemerintah memutuskan mencopot kedudukannya dari ASEAN. Setelah tak menjadi Sekjen ASEAN, mantan loyalis Orde Baru itu bergabung dengan Forum Studi dan Komunikasi (Fosko) TNI AD. Fosko yang berdiri pada April 1978 ini merupakan wadah tukar pikiran bagi para perwira tinggi pensiunan dari Divisi Brawijaya, Divisi Siliwangi, dan Divisi Diponegoro atau lebih dikenal dengan sebutan Brasildi. Dharsono dipercaya menjadi Sekjen Fosko TNI AD. Sejak terbentuk, lembaga yang dipimpin Letjen (Purn.) Djatikusumo ini mengambil tempat di jalur kritis. Selain mengkritik Golkar, mereka mempertanyakan arah dwifungsi ABRI dan menyoal ketimpangan sosial-ekonomi. Aksi Dharsono bersama para jenderal pensiunan lain semacam Achmad Sukendro, M. Jasin, dan lainnya menyulut amarah Soeharto dan berujung pada pembubaran Fosko pada 1979. Cap sebagai musuh pemerintah makin melekat pada diri Dharsono setelah namanya dikaitkan dengan kelompok oposan Petisi 50. Menurut sejarawan Australia yang mengkaji tentang Indonesia Merle Calvin Ricklefs, petisi ini menuduh Presiden Soeharto telah salah menafsirkan Pancasila dengan berlaku seolah-olah dia merupakan perwujudan Pancasila itu sendiri. “Tuduhan lainnya adalah penyalahgunaan ABRI untuk berpihak dalam urusan politik sebagaimana terlihat dalam kebijakan tangan besi ABRI untuk menggenjot suara Golkar, tulis Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 . Meski tak terdaftar sebagai anggota petisi, Dharsono dikenal dekat dengan Ali Sadikin – salah satu tokoh penggagas Petisi 50. Mengenai Petisi 50, Dharsono pernah menyatakan, “Memang saya tak ikut tanda tangan Petisi 50 tetapi saya sejiwa dengan mereka.” Namun di mata Soeharto, Dharsono setali tiga uang dengan Petisi 50. Yaitu sama-sama pembangkang yang harus ditindak. Ketika mulai “akrab”dengan kalangan Islam – kelompok yang juga jadi batu sandungan bagi pemerintah, Dharsono betul-betul menjadi incaran. Tudingan subversif yang berbau tipu daya mengantarkan Dharsono ke pintu jeruji besi. “Dharsono pernah menghadiri pertemuan anti-pemerintah yang diadakan di rumah pemimpin Islam dan pendakwah A.M. Fatwa,” demikian menurut Soeharto seperti ditulis Robert Edward Elson dalam Suharto: A Political Biography . Akibat dipenjarakan dalam usia senja, kondisi fisik Dharsono merosot drastis. Penjara LP Cipinang yang lembab menyebabkan Dharsono terkena penyakit bronkitis. Kesehatannya pun memburuk meski bebas dari penjara pada 1990. Pada hari Rabu 5 Juni 1996, Dharsono menghembuskan nafas terakhir di Bandung karena komplikasi penyakit. Ketika hendak dimakamkan, timbul polemik. Jenazah Dharsono ternyata tak boleh dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Menurut Salim Said, Soeharto tak memperkenankannya. Berselang dua tahun kemudian, rezim Soeharto runtuh. Pada 1998, Presiden Habibie yang menggantikan Soeharto, merehabilitasi nama baik Dharsono. Dharsono yang meninggal setelah lama dipenjara karena mengkritik Soeharto, diberikan penghargaan Bintang Mahaputra Utama, penghargaan tertinggi dalam sistem penghormatan Indonesia, sebagai pengakuan atas sumbangan Dharsono terhadap kemerdekaan Indonesia.

  • Mengusung Ulah Adigung

    LOGAT Sunda begitu kental mengiringi cerita yang keluar dari mulut Tommy Manoch. Padahal, dia blasteran Kupang-Belanda. Meski sudah beberapa kali terserang stroke ringan, Tommy masih bergairah jika mengenang masa mudanya menjadi joki kuda besi di lintasan balap. Pria kelahiran Bandung, 3 Maret 1947 dari pasangan John dan Edith Manoch itu merupakan satu dari sedikit maestro balap motor yang masih ada. Dia merintis karier balap melalui balap sepeda. Sejak usia 8 tahun, Tommy sudah ikut berbagai lomba balap sepeda. Meski sudah tak ingat pastinya, dia sempat beberapa kali juara. Suatu hari, ayahnya yang hobi motor membelikan Tommy sebuah motor BMW 250. “Mulanya saya enggak suka sama motor. Awalnya juga saya diamkan saja di rumah. Tapi beberapa waktu kemudian, saya coba di lingkungan rumah, eh kok enak juga (jajal motor) ya. Dari situ saya mulai sering datang ke ajang balapan, hanya sekadar nonton saja,” ujarnya kepada Historia . Dari situ pula Tommy mulai kenal sejumlah pembalap senior macam Tjetjep Heriyana serta M Gumilar. Tommy pun terjun ke dunia balap motor. Debutnya terjadi di GP Indonesia 1963 di Sirkuit Curug. Sebagai pendatang baru, Tommy yang mengendarai Honda CB72 250cc tampil prima meski sebelumnya terserang demam. Dia menjuarai dua kelas sekaligus. “Pembalap muda ini keluar sebagai pemenang pertama dalam nomor 250 cc, junior (25 km) dengan Honda dan merebut pula gelar juara pertama dalam 250 cc Grand Prix (42 km) ,” tulis Majalah Djaja tahun 1963. Sekira tiga setengah tahun berkarier di balap motor, Tommy lalu menjajal balap mobil. “Belakangan saya coba balap mobil, diajak Hengky Iriawan (ipar Tommy). Saya coba mobil dan go-kart sampai ke Makau. Di Makau saya balapan dengan (mobil) Mini Cooper,” lanjut Tommy. Namun, karier Tommy di arena balap roda empat amat singkat dan berakhir tragis. Kecelakaan mencederai dirinya. Dia lalu memilih pensiun. Prinsip Karier balap sarat prestasi di tingkat nasional Tommy tak semata berasal dari kerja kerasnya. Menurutnya, ada prinsip yang selalu dia pegang. “Ulah Adigung” namanya, istilah bahasa Sunda yang berarti: “Jangan Sombong”. Tommy menuliskan prinsip itu sebagai slogan di tangki motornya. “Ungkapan itu ya muncul dari diri saya sendiri. Karena saya merasa yang lain pada bangga (pamer) dengan pakai motor merek-merek yang lebih keren. Saya merasa, kok enggak ada yang bangga sama Indonesia? Dari situ saya cat saja tangki motornya itu, saya tuliskan: ‘ Ulah Adigung ’,” kata Tommy. Prinsip itu mendorongnya untuk selalu tampil sportif saat balapan, bahkan ketika ada saingan yang mencoba berbuat curang. “Ada satu pembalap (sengaja namanya tidak disebutkan), mau curangin tangki bensin saya waktu balapan di (sirkuit) Pangkalan Jati. Tangki saya itu diisi air sama anak buahnya, biar motor saya macet, biar mogok. Tapi sebelum balapan, saya sudah tahu. Saya tidak marah. Malah saya coba datangi. Saya ajak bicara bahwa kita ini balapan buat Indonesia juga, makanya jadilah pembalap yang baik, yang sportif. Habis itu nangis dia, peluk saya,” ujarnya. Prinsip itu pula yang ikut menentukan karier Tommy setelah pensiun balap. Meski sempat bekerja di Honda Imora, dia kemudian pilih membaktikan diri pada kemanusiaan. Tommy bekerja sebagai pelayanan ibadah untuk para tahanan yang beragama Nasrani di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Untuk biaya hidup, Tommy dan istri bersama putra bungsunya mengelola sebuah perusahaan kosmetik E&T di rumahnya, kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. “Tapi setelah kena stroke , Papa sudah tidak lagi. Soalnya pernah kejadian pas mau pulang dari (memberikan) pelayanan itu, Papa sempat jatuh di tengah jalan,” timpal Berto, putra Tommy. Agustus 2015 silam, Tommy mendapat kejutan tak bernilai. Dia mendapat hadiah sebuah motor replika Honda CB72 persis yang digunakannya saat balapan dulu. Motor itu dibangun kembali atas bantuan Ulah Adigung Project yang diprakarsai fotografer cum bikers dari Elders Company Heret Frasthio, Berto putra sulung Tommy, Omar, dan Arya Hidayat. Dari kampanye yang mereka galang, terkumpul sumbangan sejumlah parts dan dana sekira Rp50 juta. “Kita menggagas ini karena merasa perlu adanya tokoh yang kita angkat dalam permotoran Indonesia. Kita rebuild berdasarkan riset foto-foto Om Tommy yang ada. Kita juga kampanye via online dan media sosial dengan memperkenalkan siapa sih Tommy Manoch ini,” kata Heret ketika ditemui terpisah. Selain mendapat banyak sumbangan dari berbagai komunitas, mereka menggunakan berbagai komunitas itu untuk menyebarkan pesan yang diangkat lewat slogan “Ulah Adigung” milik Tommy Manoch ke semua bikers di Indonesia. “Yang diangkat visi sosial, dan diharapkan bisa menginspirasi banyak orang. Makanya kemudian project ini kami katakan sangat berhasil.” Heret mengaku, timnya sempat bimbang untuk menghadiahi Tommy motor itu. Tapi setelah rembukan dengan keluarga, mereka mantap. Pada 17 Agustus (2015) di acara Mods vs Rockers, kita serahkan motornya ke Om Tommy,” lanjut Heret. “Om Tommy responsnya terkejut banget, bahagia banget . Dia yang mendadak jadi sehat langsung naik ke panggung. Motornya dinyalain, di- starter , dibawa keliling dengan kondisi habis stroke.” Motor legendaris Tommy itu kini berada di sebuah sudut dekat pintu depan kediaman Tommy. Bersamanya, berbagai memorabilia tentang Tommy memenuhi dinding ruangan. Kondisi motor itu masih terjaga, mesinnya masih bisa dihidupkan. “Tapi memang beberapa bagiannya saya cabut, saya lepas. Takut tiba-tiba atau diam-diam Papa nekat nyalain (mengendarai) motornya,” kata Berto.

  • Ketika Bung Besar Digugat Cerai

    PROKLAMATOR dan Presiden pertama RI Sukarno, dikenal sebagai seorang pencinta. Tidak hanya pencinta seni, Bung Besar juga pencinta makhluk Tuhan bernama wanita. Tidak heran sepanjang hidupnya acap diramaikan kisah-kisah percintaan dengan sembilan istri. Ada yang bertahan sampai akhir hayat Putra Sang Fajar, ada pula yang akhirnya menggugat cerai. Dari kesembilan istri Bung Karno, enam di antaranya berakhir dengan perceraian; Siti Oetari, Inggit Garnasih, Kartini Manoppo, Haryati, Yurike Sanger dan Heldy Djafar. Sukarno dan Oetari Lantaran menumpang di rumah “mentornya”, HOS Tjokroaminoto di Gang Paneleh, Surabaya, Sukarno muda bisa dekat dengan keluarganya. Termasuk dengan Siti Oetari, putri sulung HOS Tjokroaminoto. Sukarno memutuskan untuk menikahinya pada 1921. Ketika itu, Oetari belum lama ditinggal mati ibunya dan membuat kondisi keluarga Tjokroaminoto tertekan. “Bila aku perlu menikahi Oetari guna meringankan beban orang yang kupuja itu (Tjokroaminoto), itu akan kulakukan,” cetus Sukarno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams. Ketika itu, usia Bung Karno belum 21 tahun dan Oetari juga masih 16 tahun. Keduanya seolah “kawin gantung” karena Sukarno muda belum berniat hidup seperti lazimnya suami-istri. Keduanya pun secara usia sejatinya belum matang untuk melepas masa lajang. Di tahun itu pula Sukarno pindah ke Bandung untuk berkuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini Institut Teknologi Bandung/ITB). Namun baru dua tahun di Bandung, Sukarno memilih menceraikan Oetari. Gara-garanya, Sukarno muda menemukan kepincut istri orang yang merupakan cinta sejati pertamanya –Inggit Garnasih, hingga memutuskan menceraikan Oetari pada 1923 dan menikahi Inggit. “Ini cinta yang sebenarnya. Cinta dewasa yang sudah ada birahi di dalamnya. Akhirnya Inggit bilang ke Sanusi, Sukarno bilang ke Tjokro. Jadi Sukarno memulangkan Oetari ke Pak Tjokro baik-baik. Sanusi juga berpesan pada Sukarno, jangan sia-siakan Inggit,” tutur Roso Daras, Sukarnois dan penulis buku-buku Sukarno kepada Historia . Sukarno dan Inggit Garnasih Kisah percintaan Sukarno dan Inggit berawal dari asmara terlarang di Kota Kembang. Sukarno yang pada 1921 baru pindah ke Bandung, statusnya suami orang (Siti Oetari). Inggit yang usianya juga lebih tua 13 tahun, berstatus istri orang (H Sanusi, politisi Sarekat Islam). “Tapi ya sifatnya kawin gantung karena keduanya (Sukarno dan Oetari) masih sangat muda,” cetus Roso Daras. Di rumah kos di Bandung milik Inggit itulah benih-benih cinta tersemai. Sampai akhirnya mereka memutuskan menikah pada 24 Maret 1923. Tentunya setelah Sukarno menceraikan Oetari dan Inggit menceraikan H Sanusi. Susah senang dilalui bersama. Termasuk ketika Sukarno dibui di Penjara Banceuy, hingga mesti diasingkan ke banyak tempat, salah satunya Bengkulu, di mana Sukarno pertama kali bertemu Fatmawati. Nama terakhir ini memincut hati Sukarno yang ketika itu belum jua punya keturunan dari Inggit. Keinginan Sukarno menikahi Fatmawati “digugat” Inggit. Istri yang setia menemaninya sekitar dua dekade itu memilih minta cerai ketimbang dimadu. Bahtera rumah tangga mereka pun berakhir pada 1942, disertai sejumlah perjanjian perceraian. Seperti janji Sukarno membelikan rumah di Bandung, maupun pemberian nafkah seumur hidup. “(Tapi) Inggit tidak pernah sekalipun menanyakan, apalagi menuntut suatu hal yang dijanjikan Sukarno dalam surat perjanjian cerai, yang juga disaksikan dan ditandatangani oleh Moh Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan KH Mas Mansoer pada 1942,” tulis Ramadhan KH dalam Soekarno: Ku Antar ke Gerbang. Sukarno dan Kartini Manoppo Dari seni turun ke hati. Bung Karno jatuh hati pada seorang model dan mantan pramugari. Namanya Kartini Manoppo. Bidadari jelita asal Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara yang sempat jadi salah satu model lukisan karya Basoeki Abdullah yang dikagumi sang Pemimpin Besar Revolusi. Setelah ditanya siapa modelnya dan alamatnya, Sukarno mendekati Kartini. “Kartini yang menjadi pramugari pesawat Garuda, lantas dimintanya ikut terbang setiap kali Presiden Sukarno ke luar negeri,” ungkap Peter Kasenda dalam Bung Karno: Panglima Revolusi. Rayuan maut Sukarno juga melelehkan hati Kartini yang berkenan dipinang sebagai istri kelima. Walau pada akhirnya, mereka tak menikah secara resmi, melainkan hanya nikah siri pada 1959. “Keluarga tidak menyetujui. Pantang bagi keluarga terpandang putri kesayangannya jadi istri kelima meski dia seorang presiden. Itulah kenapa saya tidak menikah secara resmi dengan Bung Karno,” kenang Kartini di buku Bung Karno! Perginya Seorang Kekasih, Suamiku dan Kebanggaanku. Namun perubahan situasi politik pasca-Tragedi 1965, turut mengguncang hubungan Sukarno dan Kartini, hingga Kartini diminta Sukarno “menyelamatkan” diri ke Eropa. “Kartini diminta ke Eropa demi keselamatan mereka. Bung Karno tidak mau Kartini yang sedang hamil, terjadi sesuatu di Indonesia,” ujar Roso Daras. Di Nurnberg, Jerman pada 17 Agustus 1966, Kartini melahirkan seorang putra yang dinamai Bung Karno, Totok Surjawan. Dua tahun berselang, keduanya memutuskan berpisah. Sukarno dan Haryati Sejak mengagumi keindahan tarian dan kemolekan tubuh Haryati pada suatu momen, Sukarno langsung jatuh hati. Tak pelak segala jurus rayuan dilontarkan hingga menjerat pula hati sang penari yang juga merupakan staf Sekretariat Negara Bidang Kesenian itu. Sukarno lantas menikahinya gadis berusia 23 tahun itu pada 21 Mei 1963 dengan hajatan sederhana. “Bapak berpendapat, sangat bijaksana kalau pernikahan ini tidak diumumkan kepada masyarakat luas,” terang Haryati saat ditanya Cindy Adams yang dituangkan ke buku keduanya tentang Sukarno, My Friend the Dictator . Sayangnya di antara yang lain, Haryati termasuk yang paling tidak akur dengan istri atau keluarga istri Sukarno yang lain. “Ibu Dewi (Ratna Sari Dewi, istri keenam Sukarno) pernah berang dan naik pitam melihat kehadiran Ibu Haryati dan perkataannya. Memang demikian aku pun pernah tersinggung karena ucapan-ucapannya,” ungkap Rachmawati Sukarnoputri di buku Bapakku, Ibuku. Gonjang-ganjing Tragedi 1965 juga mempengaruhi hubungan Sukarno dan Haryati, hingga akhirnya Sukarno memilih menceraikannya pada 1966. “Perceraianku dengan engkau ialah karena kita rupanya tidak ‘cocok’ satu sama lain,” tulis Sukarno dalam surat perceraiaannya yang dikutip Reni Nuryanti dalam Perempuan dalam Hidup Sukarno. Sukarno dan Yurike Sanger Kisah cinta Putra sang Fajar dengan seorang pelajar. Bung Karno mengenal Yurike semasa sang gadis masih tergabung di Barisan Bhinneka Tunggal Ika, di sebuah acara kenegaraan pada 1963. Pemimpin kharismatik itu juga tak ayal bikin Yurike jatuh hati lewat beragam perhatiannya, hingga memutuskan menghalalkan hubungan mereka ke hadapan penghulu pada 6 Agustus 1964. Sebagaimana dengan istri-istrinya yang lain, Yurike kian kesulitan bertemu suaminya pasca-Tragedi 1965. Terlebih setelah Bung Karno mulai sakit-sakitan. Pada suatu ketika Yurike bisa membesuk suaminya di Wisma Yaso, Bung Karno melayangkan permintaan yang menusuk hatinya. Yurike diminta bercerai demi masa depan Yurike sendiri. Permintaan yang awalnya ditolak sang istri muda. “Dengan terpaksa kupenuhi permintaannya. Kami bercerai secara baik-baik (pada 1967). Sungguh mengharukan karena kami masih sama-sama mencintai. Kami berpisah saat kami sedang rapat bersatu,” kenang Yurike dalam Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA: Biografi Cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger  karya Kadjat Adra’i. Sukarno dan Heldy Djafar Sebagaimana pula Yurike Sanger, Heldy Djafar bisa bertemu dan dekat dengan Sukarno semasa tergabung di Barisan Bhinneka Tunggal Ika. Tarian lenso keduanya pada sebuah acara di Istana Negara, seolah jadi titik balik kisah mereka yang sama-sama jatuh hati. Keintiman keduanya kian rapat dari waktu ke waktu, sampai Sukarno meminangnya dan menikahinya pada 11 Juni 1966 di Istana, tepatnya di Wisma Negara. Namun bahtera rumah tangga mereka hanya bertahan dua tahun. Selain karena sudah dimakzulkannya Sukarno, sang pemimpin besar revolusi pun mulai sakit-sakitan. Untuk bisa bertemu saja harus di rumah Yurike, di Jalan Cipinang Cempedak, Polonia, Jakarta Timur. Di sisi lain, Heldy mulai gundah karena ada “orang ketiga”. Di antara para pengagum Heldy, ada seorang pemuda yang paling gigih, Gusti Soeriansjah Noor, putra Pangeran Mohammad Noor, mantan Menteri Pekerjaan Umum. Hingga suatu ketika kala keduanya bertemu di masa sulit, Heldy meminta izin untuk menjauh dari Sukarno. “Mas, maafkan saya, kalau saya boleh menjauh dari Mas untuk melepaskan diri. Kondisi dan suasana saat ini sangat menyakitkan hati saya. Tidak bisa begini terus. Harus ketemu di rumah orang lain,” lirihnya dalam Heldy: Cinta Terakhir Bung Karno karya Ully Hermono dan Peter Kasenda. Kata-kata itu menyiratkan Heldy minta cerai. Namun ditolak Sukarno yang belum ingin berpisah. Seiring waktu, status mereka kian tak jelas. Dibilang istri sulit, cerai pun tidak. Sampai akhirnya Heldy menerima pinangan Gusti Soeriansjah pada 19 Juni 1968.

  • Moestopo Sang Jenderal Nyentrik

    SATYA GRAHA Graha masing ingat pertemuan itu. Ketika mendaftar menjadi anggota Markas Besar Pertempuran Djawa Timoer di Madiun, dia diwawancarai langsung oleh pimpinan pasukan Mayjen TNI Moestopo. Saat wawancara berlangsung, pelayan datang menyuguhi secangkir kopi. Alih-alih dinikmatinya, Moestopo malah menggeser cangkir kopi itu ke hadapan Satya. “Nih kamu minum saja kopinya, soalnya hanya satu cangkir,” ujar sang jenderal. Moestopo dikenal sebagai sosok egaliter sekaligus nyeleneh. Ketika memimpin Divisi Mobil yang beroperasi menggunakan kereta api, dia kerap nekat menyerang militer Belanda dari atas kereta api yang dikendarai dengan kecepatan tinggi. Sambil bertempur, dia berdiri sambil berkacak pinggang di depan pintu kereta api yang terbuka dan berteriak: “Hei Nederlandse soldaat! Als je witt vechten, kom dan hier tevoorschijn: Generaal Moestopo! (Hei serdadu Belanda! kalau kalian ingin berkelahi, ayo hadapi aku: Jenderal Moestopo!). Kereta api tempur itu tak jarang berhenti sekonyong-konyong di tengah jalan. Itu dilakukan masinis sekadar memenuhi perintah komandannya yang kebelet buang air kecil. Namun, yang paling mengesankan anak buahnya adalah kebiasaan Moestopo mengkonsumsi daging kucing. Menurut sejarawan Robert B. Cribb, itu dilakukan sang jenderal guna “memelihara kemampuan tempurnya”. Alasannya “supaya dapat melihat dalam gelap layaknya mata seekor kucing,” tulis Cribb dalam Ganster and Revolutionaries, The Jakarta People’s Militia and Indonesian Revolution 1945-1949. Saat memimpin Pasukan Terate (Tentara Rahasia Tertinggi) di front Subang, Jawa Barat, Moestopo pernah mendorong anggota pasukannya untuk melaksanakan kebiasaannya itu. Tentu saja, anggota Pasukan Terate yang sebagian besar maling dan pencopet “dengan penuh dedikasi” melaksanakan perintah itu. Tradisi nyeleneh itu sempat diketahui oleh Kepala Staf TRI, Letjen TNI Oerip Soemohardjo. Ceritanya, suatu hari di tahun 1947, Moestopo mengajak Oerip meninjau pos terdepan pasukannya. Di suatu pos, tiba-tiba perhatian Oerip tertuju kepada deretan makam dengan nisan sederhana terpancang di atasnya. “Itu makam?” tanya Oerip “ Ya, Jenderal!” jawab salah satu anggota pasukan Moestopo. “Jadi, banyak korban di sini?” “ Ya... Ya... Jenderal,” ujar sang prajurit tergagap-gagap. Dengan mimik serius, Oerip memperhatikan kembali makam-makam tersebut. Wajahnya sedikit mendung. “Tetapi maaf Jenderal. Itu bukan makam manusia," kata si prajurit agak segan. “Lha, terus makam apa?” “ Ehmm... Anu Jenderal… Itu hanya makam ayam, kambing dan kucing, yang menjadi korban santapan kami sehari-hari.” Konon, kompleks pemakaman binatang itu idenya Moestopo. Untuk apa? Ya, apa lagi jika bukan untuk menghormati jasa-jasa kucing dalam perjuangan karena “sudah disantap”.*

  • Naturalisasi, Dulu dan Kini

    CHRISTIAN Gonzales, Raphael Maitimo, Sergio van Dijk, Tonnie Cussel, Stefano Lilipaly, Bio Paulin, Greg Nwokolo, Victor Igbonefo, Diego Michiels, Johnny van Beukering, Guy Junior, Kim Jeffrey Kurniawan, Ruben Wuarbanaran, dan Ezra Walian merupakan bintang sepakbola naturalisasi atau blasteran yang menyemarakkan persepakbolaan Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Jelang Asiang Games 2018 di negeri sendiri, PSSI tak ingin kehilangan muka dalam cabang olahraga paling bergengsi itu dengan ambil langkah bypass: naturalisasi. Adalah Ilija Spasojeciv, pesepakbola Montenegro, yang Oktober 2017 sah menjadi warga negara Indonesia (WNI) dan menambah deretan nama pemain hasil naturalisasi. Dia sudah menjalani debutnya ketika timnas U-23 melakukan pertandingan persahabatan melawan timnas U-23 Suriah, November 2017. Naturalisasi bukan barang baru dalam persepakbolaan tanah air. Ketika republik ini masih seumur jagung, ada beberapa pemain kulit putih yang dinaturalisasi. Mereka –kecuali kiper Tan Mo Heng dan beberapa pesepakbola berdarah Tionghoa lain tak perlu mendapatkan nasionalisasi lantaran merupakan peranakan yang memilih Indonesia sebagai tanah airnya setelah Hindia Belanda bubar– orang Belanda yang menggeluti sepakbola sejak masa Hindia Belanda. Mereka antara lain, Boelard van Tuyl, Pieterseen, Van der Berg, Pesch, dan Arnold van der Vin. Nama terakhir menjadi pemain naturalisasi tersukses lantaran satu-satunya eks-orang Belanda yang mampu masuk timnas PSSI di era 1950-an. Van der Vin sebelumnya menjadi kiper andalan UMS (Union Makes Strength), VIJ (kini Persija Jakarta) dan melakoni debutnya di timnas Indonesia melawan tim asal Hong Kong, South China AA pada 27 Juli 1952. Sayangnya, kiper yang akrab disapa ‘Nol’ itu mesti “terusir” dari Indonesia pada 1954 akibat kebijakan anti-Belanda. Di Belanda, Nol memilih membela klub Fortuna Sittard. Bisa jadi, fakta ini mencatatkannya sebagai pemain Indonesia pertama yang tampil di salah satu liga bergengsi Eropa. Namun setahun kemudian, Nol kembali ke Indonesia untuk mengawal mistar PSMS Medan dan comeback ke timnas. Kendati kembali ke skuad Garuda, Nol justru kecewa dengan mundurnya kondisi persepakbolaan nasional. “Kondisi sepakbola Indonesia berada di level yang buruk. PSSI payah mendidik wasit dan perangkat pertandingan lainnya,” ujar Nol di suratkabar De Nieuwsgier , 6 Mei 1955. Tapi apa mau dikata, dia sudah memilih kembali ke Indonesia dan terus menjadi pilihan pertama atau kedua di timnas. Nol kembali merantau pada 1956 sampai 1961 ke klub Malaysia Penang FA hingga pensiun. Sejak itu, persepakbolaan Indonesia nihil dari naturalisasi baik di kompetisi Perserikatan maupun Galatama. “Dulu (di Galatama) malah enggak kenal sama sekali dengan yang namanya naturalisasi,” ungkap Bambang Nurdiansyah, penyerang timnas era 1980-an yang bermain di Arseto Solo, Tunas Inti, dan Pelita Jaya, kepada Historia via sambungan telepon beberapa waktu lalu. Maka, ketika naturalisasi kembali muncul pada awal 2000-an, ia langsung menuai pro-kontra. Menurut Timo Scheunemann, mantan pelatih Liga Indonesia yang kini jadi pengamat, naturalisasi pertanda pembinaan sepakbola Indonesia telah gagal. “Ya memang pembinaan kita gagal. Naturalisasi masih menjadi solusi jangka pendek. Itu no problem sebenarnya karena banyak negara melakukannya. Tapi Indonesia kan negaranya besar sekali. Kita punya 200 juta pemain, kok. Kalau untuk jangka pendek, tidak masalah, asal jangan terus-terusan,” ujarnya kepada Historia. Senada dengan Timo, Bambang juga posisi kontra terhadap naturalisasi. Pria yang juga pernah melatih klub-klub Liga Indonesia serta timnas itu menganggap naturalisasi merupakan buah dari kegagalan pembinaan dan juga kompetisi. “Saya pikir enggak perlu sebenarnya naturalisasi. Karena itu artinya kita mengakui gagal dalam pembinaan. Kalau gitu caranya, stop saja pembinaan dan kompetisi. Lari saja ke Eropa, cari yang darah (keturunan) Indonesia, suruh jadi pemain nasional, umpamanya. Ya untuk sekarang, silakan lah (naturalisasi jelang Asian Games), tapi ke depannya jangan ada lagi, pembinaan saja yang benar. Kalau naturalisasi terus, buat apa ada pembinaan dan kompetisi,” tutupnya.

  • Begal di Jawa Kuno

    KEN Angrok barangkali perampok paling melegenda di Jawa. Sepak terjangnya tidak saja membuat resah masyarakat di wilayah timur Gunung Kawi, tapi juga membuat penguasa di Tumapel hingga Daha kerepotan mengejarnya. Ternyata, banyak aksi bandit yang tercatat dalam berbagai sumber jauh sebelum Ken Angrok lahir pada abad 12 M. Dalam banyak kasus, penguasa tak tinggal diam dengan mengamankan jalan yang menghubungkan antardesa untuk distribusi barang dagangan. Prasasti Mantyasih dari 907 M menceritakan penduduk Desa Kuning ketakutan yang diperkirakan di lokasi itu sering terjadi pembegalan atau perampokan. Lima orang patih pun ditugaskan menjaga keamanan jalan. Ahli efigrafi Boechari dalam “Perbanditan di Dalam Masyarakat Jawa Kuno” menulis perampokan pada saat itu biasanya merajalalela di daerah-daerah terpencil, perbukitan, perhutanan, atau muara sungai yang berdelta. Apalagi jika wilayah itu merupakan jalur perdagangan. Sesuai dengan kondisi Desa Kuning yang berada di lereng Gununug Sindoro-Sumbing. Sepertinya, sejak dulu daerah itu adalah celah kledung yang menghubungkan Kedu dengan Wonosobo. Jalan itu melalui Garung dan Pegunungan Dieng. Jalur ini bisa sampai ke pantai utara Pekalongan, atau ke barat melalui Banjarnegara, masuk daerah Banyumas terus ke Galuh. Kasus perampok lainnya tercatat dalam Prasasti Kaladi (909 M). Pembegalan terjadi terhadap para pedagang dan nelayan yang melewati hutan Aranan. Hutan ini memisahkan Desa Gayam dan Desa Pyapya, yang kini diperkirakan menjadi Desa Pepe di selatan Pulungan, Jawa Timur. Adapun Desa Kaladi kemungkinan daerah di utara pesisir Sidoarjo. Kini, Kaladi bernama Kladi. Usai melakukan aksinya, pembegal masuk hutan Aranan sebelum kembali ke desanya, Mariwung. Supaya penduduk tidak ketakutan, Hutan Aranan dijadikan sawah. Perampok juga digambarkan dalam relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur. Diceritakan dua penjahat berwajah garang dengan kumis seperti Pak Raden, berbadan kekar, menghunuskan pisau dan senjata panjang. Mereka menyerang beberapa pria yang nampak ketakutan. Salah satu di antaranya terjatuh dengan barang bawaan yang berjatuhan. Hukuman Mati Dalam Purwwadhigana , naskah hukum dari abad 10-11 M , disebutkan 18 jenis kejahatan. Misalnya menjual milik orang lain ( adwal tan drwya), pencurian ( pawrttining maling ), dan tindak kekerasan ( ulah sahasa ). Dari 18 jenis kejahatan dalam naskah itu di antaranya adalah tindak pidana atau sukha duhkha yang disebut dalam Prasasti Sanguran (928 M), yaitu meludah ( hidu kasirat ), menganiaya ( sahasa ), memukul ( hastacapala ), dan mengeluarkan senjata tajam ( mamijilaken wuri ning kikir ). “Sumber penghasilan kerajaan didapatkan pula dari denda atas tindak pidana ( sukha duhkha ),” kata Titi Surti Nastiti, arkeolog Puslit Arkenas. Menurut naskah hukum Agama atau Kutaramanawa pada masa Majapahit, pembunuhan, pencurian, dan semua kejahatan yang termasuk astadusta dan astacorah dihukum mati. Astadusta adalah delapan tindak pidana yang mengakibatkan kematian orang lain antara lain membunuh orang tak berdosa, menyuruh membunuh orang tak berdosa, melukai orang tak berdosa, makan bersama pembunuh, pergi bersama pembunuh, berteman dengan pembunuh, memberi tempat kepada pembunuh, dan memberi pertolongan kepada pembunuh. Astacorah adalah delapan kejahatan yang berhubungan dengan pencurian antara lain mencuri, menyuruh mencuri, memberi jalan perbuatan pencurian, memberi tempat bagi pencuri, berteman dengan pencuri, menunjukkan jalan kepada pencuri, membantu pencuri, dan menyembunyikan pencuri. W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa menyebutkan semua kejahatan dikenakan denda mata uang emas yang jumlahnya disesuaikan kejahatan yang dilakukan, kecuali perampokan dan pencurian, dihukum mati.*

  • Desember Hitam

    PRIHATIN terhadap kemandekan seni rupa Indonesia, sejumlah seniman muda melakukan protes pada 1974. Mereka membuat pernyataan bersama yang ditandatangani 14 seniman, kemudian dikenal sebagai “Black Desember”. Protes para seniman muda itu dipicu oleh hasil akhir Pameran Besar Seni Lukis Indonesia (PBSLI) pertama yang diselenggarakan Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta pada 18-31 Desember 1974 di Taman Ismail Marzuki –pameran tersebut kemudian diselenggarakan rutin tiap dua tahun; cikal-bakal Biennale yang bertahan hingga kini. Pameran yang diikuti 83 pelukis dan menampilkan 240 karya itu bertujuan mempresentasikan seni lukis terbaik dari Indonesia. Dewan juri yang terdiri dari Popo Iskandar, Afandi, Rusli, Fajar Sidik, Sujoko, Alex Papadimetru, dan Umar Khayam lalu memilih “Matahari dari Atas Taman” karya Irsam, “Keluarga” karya Widayat, “Lukisan Wajah” karya Abas Alibasyah, “Pohon” karya Aming Prayitno, dan “Tulisan Putih” karya Abdul Djalal Pirous sebagai lima karya terbaik. Dewan juri juga mengkritik beberapa karya seniman muda yang dianggap keluar dari pakem. “Usaha bermain-main dengan apa yang asal ‘baru’ dan ‘aneh’ saja, dapatlah dianggap sebagai usaha coba-coba, cari-cari, atau sekadar iseng, atau bukti langkanya ide dan kreativitas,” kata salah seorang juri sebagaimana diberitakan Angkatan Bersendjata , 27 Desember 1974. Kritik tersebut, kata FX Harsono dalam artikel berjudul “Desember Hitam, GSRB, dan Kontemporer”, yang bernada mendiskriditkan para pelukis muda segera mendapat tanggapan dengan protes dan keluarnya Pernyataan Desember Hitam 1974. Muryotohartoyo, Juzwar, FX Harsono, B Munni Ardhi, M Sulebar, Ris Purwana, Daryono, Siti Adiyati, DA Peransi, Baharudin Narasutan, Ikranegara, Adri Darmadji, Hardi, dan Abdul Hadi WM langsung menandatangani Pernyataan Bersama sebagai bentuk protes. “Yang menandatangi memang seniman muda. Mereka menandatangani Desember Hitam bukan karena tidak dimenangkan oleh dewan juri tatapi karena adanya kemandekan dalam seni lukis Indonesia karena depolitisasi,” kata kurator Jim Supangkat kepada Historia , Kamis (4/1/18). Bagi para seniman “Black Desember”, kondisi tersebut sangat tak sehat bagi perkembangan seni rupa Indonesia. Dalam pernyataan Desember Hitam nomor lima dikatakan, yang menghambat pekembangan seni lukis Indonesia selama ini adalah konsep usang yang masih dianut oleh establishment dan seniman-seniman mapan. Demi keselamatan seni lukis Indonesia, maka sudah saatnya establishment tersebut diberi gelar kehormatan, purnawirawan budaya. Para penandatangan Desember Hitam lalu membuat aksi simbolis berupa mengirim karangan bunga bundar, yang biasa digunakan dalam upacara pemakaman. Di atas bunga itu mereka meletakkan tulisan: “Kematian seni lukis Indonesia”. “Saya kira (Desember Hitam – red.) mencerminkan konflik macam-macam. Dalam artian, lukisan yang mendapat penghargaan itu lukisan yang hanya memperlihatkan kecantikan. Dalam analisis saya, lukisan-lukisan yang mendapat penghargaan memperlihatkan gejala depolitisasi perkembangan seni rupa. Jadi artinya, itu kan terjadi awal 1970-an, di lingkungan para seniman ada ketakutan untuk menyentuh persoalan-persoalan sosial-politik,” kata Jim. Lebih lanjut Jim menjelaskan, penandatanganan Desember Hitam tidak terkait dengan keberpihakan politik tetapi protes terhadap karya-karya yang dianggap tidak jujur. “Kalau orang sudah membuat karya ketakutan terus kemudian memuji-muji perkembangan Orde Baru dan sebagainya, itu kan karya tidak jujur. Nah itulah yang dikritik oleh Desember Hitam.” Konflik tersebut kemudian menyatukan seniman muda baik di Yogyakarta maupun Jakarta untuk membentuk “Gerakan Seni Rupa Baru”. Mereka kemudian mengadakan pameran pertamanya di Taman Ismail Marzuki pada Agustus 1975. Ada 11 seniman yang ikut serta dalam pameran itu, di antaranya Siti Adiyati, Muryotohartoyo, FX Harsono, Jim Supangkat, B. Munni Ardhi, Bachtiar Zainoel, dan Hardi.

  • Hiburan Masyarakat Jawa Kuno

    DI Jawa, seni pertunjukan jalanan sudah ada sejak abad 9. Kesenian itu dipertontonkan di kerumunan pasar dan di keramaian jalanan. Begitu pula dengan pertunjukan wayang yang semula digelar saat penetapan sima (tanah bebas pajak), kemudian hadir dalam pesta perkawinan rakyat. Arkeolog Puslit Arkenas Titi Surti Nastiti dalam Pasar di Jawa menjelaskan, dalam prasasti dikenal juga pertunjukkan keliling. Para pemainnya disebut menmen. Candi Borobudur, melalui reliefnya memperlihatkan suasana bagaimana tarian pinggir jalan dilakukan sebagaimana pengamen jalanan di masa kini. Mereka mendapatkan penghasilan dari para penonton. Berikut ini keterangan dari prasasti, naskah kesusastraan, dan relief di candi, mengenai hiburan masyarakat Jawa Kuno. Sinden Kata mangidung dijumpai dalam Prasasti Waharu I (873 M) . Widu mangidung dapat diartikan sebagai penyanyi perempuan atau pesindhen. Kata widu , dalam Bahasa Indonesia sekarang artinya biduan. Profesi ini termasuk pejabat kerajaan yang disebut watak i jro atau golongan dalam ( abdidalem ) . Mereka termasuk profesi yang memperoleh gaji dari kraton. Wayang Bukti tertua yang menyebut kata dalang ( haringgit ) adalah Prasasti Kuti (840 M) yang ditemukan di Joho, Sidoarjo. Haringgit merupakan bentuk halus dari kata ringgit. Kata ini sampai sekarang masih ada dalam Bahasa Jawa, yang berarti wayang. Dalam Prasasti Kuti, haringgit dimasukkan ke dalam kelompok wargga i dalem artinya berada di lingkungan istana. Prasasti Wukajana dari masa Balitung menyebut pertunjukkan lakon Bhimma Kumara, sebuah cerita sempalan dari Mahabharata. Kisahnya tentang Kicaka yang dimabuk asmara terhadap Drupadi. Menurut prasasti itu, sang dalang menampilkan lakon Bhimma Kumara untuk hyang . Sejauh ini Bhima Kumara adalah satu-satunya lakon wayang yang disebutkan dalam prasasti. Tak hanya wayang kulit. Ada pula wayang orang dan wayang beber. Istilah wayang wwang (wayang orang) muncul pertama kali dalam Prasasti Dhimanasrama dari masa Mpu Sindok. Sementara informasi tentang wayang beber muncul dalam berita Cina, Ying-yai Sheng-lan. Disebutkan adanya pertunjukkan seorang laki-laki yang mempertontonkan gulungan bergambar yang disangga dengan dua batang kayu. Ia berbicara dengan suara keras, menjelaskan kisah dalam gulungan itu kepada penonton. Di atas gulungan itu ada gambar manusia, burung, binatang buas, rajawali, atau serangga. Tarian Beberapa prasasti meyebutkan seni tari. Kemungkinan pada masa Jawa Kuno dikenal dua jenis tarian. Manigel adalah tarian yang tidak menggunakan topeng. Tarian yang menggunakan topeng, seperti disebut dalam Prasasti Kuti, istilahnya mangrakat, matapukan, dan manapal . Tarian ini bisa dilakukan oleh orang yang berprofesi sebagai penari maupun masyarakat yang menarikan tarian tertentu. Dalam naskah Nagarakrtagama disebutkan istilah Juru I angina yang merujuk pada penari perempuan. Ia bertugas menyanyi dan menari, menghibur para petinggi kerajaan. Dalam Prasasti Paradah (943 M) dan Prasasti Alasantan (939 M) disebutkan adanya tarian yang dilakukan oleh para pejabat. Tarian ini dilakukan dengan mengikuti aturan tertentu. Jenis tarian yang disebut ada tuwung, bungkuk, ganding, dan rawanahasta. Tarian ini merupakan tarian adat yang biasa ditarikan dalam upacara penetapan sima . Tarian lainnya yang dilakukan untuk hiburan disebutkan juga dalam Prasasti Poh (905 M). Digambarkan adanya tiga perempuan penari keliling. Mereka menari sambil diiringi oleh laki-laki. “Mungkin sejenis penari thledek ,” tulis Titi Surti Nastiti dalam Perempuan Jawa. Lawak Prasasti Poh menyebutkan adanya juru lawak. Selain penabuh gamelan dan penari, mereka pun diundang sebagai saksi dalam upacara penetapan sima . Setidaknya ada dua pelawak, Si Lugundung dari Desa Rasuk dan Si Kulika dari Desa Lunglang. Mereka diberi upah kain 1 yugala dan emas 6 masa . Paling tidak ada dua jenis lawakan. Marirus adalah lawakan yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata. Sedangkan mabanol adalah lawakan yang diekspresikan dengan gerakan. Musik Prasasti Waharu I juga mencatat adanya mapadahi. Profesi ini masuk dalam daftar pejabat kerajaan atau watak i jro atau golongan dalam. Mereka adalah abdi dalem yang digaji kraton. Adapun mapadahi berasal dari padahi, artinya kendang. Mapadahi merujuk pada pengendang. Dalam upacara penetapan sima , pengendang ini akan hadir dan menabuh kendang setelah acara pesta makan bersama. “Setelah mereka selesai makan demikian lama, kemudian jnu skar maju dan sang penabuh kendang menabuh kendang,” tulis arkeolog Universitas Gadjah Mada, Timbul Haryono, “Masyarakat Jawa Kuno dan Lingkungannya pada masa Borobudur”, dalam 100 Tahun Pascapemugaran Candi Borobudur. Para penabuh kendang ini ada yang bergabung membentuk kelompok. Terbukti dalam satu baris kalimat Prasasti Mulak (878 M), mengenai tokoh Si Kuwuk yang hadir dalam upacara sima . Ia merupakan pimpinan pengendang. Akrobat Pertunjukkan ini bisa dilihat melalui relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur. Relief ini memperlihatkan beberapa orang sedang mengadakan pertunjukkan. Salah seorang meletakkan benda panjang dan tipis seperti papan di atas dagunya. Papan itu diberdirikan secara vertikal. Si seniman terlihat seperti berjoget tanpa menjatuhkan papan itu. Penonton duduk di bawah pohon menyaksikan dengan gembira dan bertepuk tangan. Salah seorang membawa anak yang diangkat agar bisa menonton pertunjukkan dengan lebih jelas. Seniman Profesional Di lingkungan istana, ada jabatan Rakryan Demang. Tugasnya memastikan agar sang raja gembira. Dalam teks Nawanatya , yang berisi ajaran kepemimpinan, Rakryan Demang harus menjaga tujuh nada, nyanyian, tarian, selain menjaga aspek keindahan lainnya di istana. Ia pula yang bertugas menyediakan gamelan, terutama saron dan gendang, membuat kakawin, serta mengatur keindahan tarian. Para seniman pada masa Jawa Kuno, tak hanya profesi di lingkungan istana. Beberapa menjalaninya dengan profesional sebagai mata pencaharian. Prasasti Wanua Tengah III (908 M) menyebut seorang pemimpin kelompok penari topeng dari Desa Hinor yang diberi upah emas 2 kupang. Dua orang penari topeng juga diberi upah emas sedangkan enam orang pemusik masing-masing diberi emas 1 kupang. Seniman profesional dikenakan pajak. Prasasti Cane (921 M), Prasasti Turun Hyan A (1036 M), Prasasti Patakan yang mungkin dikeluarkan masa Airlangga menyebut profesi awayang atau aringgit sebagai warga kilalan yaitu penduduk yang mempunyai kewajiban membayar pajak. Pertunjukkan seni tak hanya ketika upacara penetapan sima . Tak jauh beda dengan sekarang, masyarakat yang sedang merayakan pesta pernikahan juga menggelar pertunjukkan seni. Teks Sumanasantaka melukiskan suasana sebuah pesta pernikahan yang diselingi pertunjukkan wwayang wang. Warga berbondong-bondong menontonnya. Ada yang membawa kekasih dan keluarganya. Mereka menonton sambil menikmati jajanan di tengah keramaian itu.

  • Menjaga Kelestarian Lewat Pameran

    GADIS cilik itu asik bermain lompat tali. Di dekatnya bocah lelaki sedang balap karung. Keduanya bukan anak manusia, tapi patung karya Bambang Win. Tak jauh dari keduanya, gadis lain berdiri dekat pintu masuk sambil membawa satu vas berisi bunga. Seakan hendak menyambut para tamu dan memberi hadiah bunga, gadis dalam lukisan Remy Sylado berjudul “Katakan dengan bunga” itu mengawali deretan lukisan yang mengisi pameran bertajuk “Solidarity, Peace, and Justice” yang digelar di Balai Budaya, Jakarta, 4-11 Januari 2018. Ada 30 seniman yang berpartisipasi dalam pameran tersebut. Mereka berasal dari generasi berbeda-beda, mulai dari yang senior seperti Aisul Yanto, Cak Kandar, Remy Sylado, Ika Ismurdiyahwati, hingga yang muda macam Chrysnanda Dwilaksana dan Idris Brandy. Selain lukisan dan patung, pameran juga memajang karya instalasi Edi Bonetsky. Berada di sudut kanan seberang pintu masuk, Edi meminta pengunjung menggambar apapun di atas buku sejarah berbahasa Jerman. Tema “Solidarity, Peace, and Justice” dipilih untuk merespon keadaan baik keseharian maupun konflik besar yang terjadi dewasa ini. Sementara, Balai Budaya dipilih sebagai tempat pameran karena memiliki banyak nilai sejarah untuk perkembangan seni Indonesia. “Jadi kita mengingat kembali hal-hal yang sudah lalu. Kami terharu dengan adanya Balai Budaya Jakarta yang sudah sangat tua tapi sangat bersejarah, jadi kami berusaha supaya ini diingat lagi. Harus ada aktivitas,” kata Ika Ismurdiyahwati, kurator pameran. Balai Budaya merupakan titik nol kebudayaan Indonesia pasca-proklamasi, kata Aisul, yang juga merupakan sekretaris jenderal Balai Budaya. “Tahun 1954, waktu itu Mohammad Yamin memfasilitasi seniman. Salah satunya dengan gedung ini. Di gedung ini, para seniman melahirkan berbagai pemikiran dan praktik kebudayaan yang ada di Indonesia,” katanya kepada Historia . Di antara seniman besar yang pernah memamerkan karya seni di Balai Budaya, ada Sudjojono, Basuki Resobowo, Affandi, dan Rendra. Arsip koran milik IVAA-online.org antara lain menulis, Gerakan Seni Rupa Baru –sebuah gerakan yang mendobrak konservatisme seni rupa di Indonesia– pernah melakukan pameran di Balai Budaya pada Agustus 1976. Pameran yang diikuti para seniman muda dari Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta ini dihelat dalam rangka merayakan setahun kelahiran Seni Rupa Baru. Di Balai Budaya pula pelukis Nashar menjadi besar. Pada Juni 1983, dia menggelar pameran tunggal di sana. Pemeran yang memajang 30 karya itu disponsori Cak Kandar, pelukis yang juga aktivis seni. “Ada Manifesto Kebudayaan, pameran tunggal, pementasan karya, dan petisi 50 di sini. Pusat kesenian Jakarta juga lahir di sini. Markas Malari juga di sini. Di sinilah sumber dari pusat peristiwa kesenian dan kebudayaan yang menjadi tonggak maupun kelahiran organisasi-organisasi kesenian dan kebudayan. Jadi gedungnya sendiri bersejarah walaupun secara fisik sederhana,” kata Aisul.

  • Senandung Cinta Susi

    YON kali pertama menulis lagu untuk album To The So Called The Guilties (1967). Judulnya “Rasa Hati”. Isinya curah hatinya pada Susi Nander (Sioe Tjuan), penggebuk drum Dara Puspita, kelompok musik asal Surabaya yang semua personelnya perempuan. Susi Nander bukan asing bagi personel Koes Bersaudara. Dara Puspita dan Koes Bersaudara sering tampil satu pangung, termasuk ketika keduanya tampil dalam sebuah acara di Petamburan, salah satu yang memicu penangkapan dan penahanan Koes Bersaudara. Yon juga pernah terlibat dalam pembuatan album pertama Dara Puspita, Jang Pertama . Dalam album itu Yon membantu menulis lirik lagu berjudul “Kenangan Yang Indah”. Mereka sempat berpacaran, meski akhirnya tak berujung ke pelaminan. Pada Juli 1968, Dara Puspita melakoni tour ke luar negeri, dari Iran hingga Belanda, dalam waktu yang lama. Kerinduan Yon memuncak dan tak tertahankan. Apalagi saudara-saudaranya sudah menikah, meski mereka tetap tinggal di kompleks keluarga Koeswoyo di Haji Nawi, Jakarta Selatan. Yon pun menciptakan lagu “Hidup Yang Sepi” yang masuk album Koes Plus Volume 2 (1970) Kisah cinta Yon dan Susi Nander juga mengilhami Tonny menulis lagu “Andaikan Kau Datang” yang juga mengisi album Koes Plus Volume 2 . Yon akhirnya menikah dengan Damiana Sustrini (Susi), salah satu fans dari Yogyakarta, pada 1970. Karena Koes Plus tengah berada di puncak popularitas, Yon hampir jarang di rumah. Sibuk latihan, rekaman, dan manggung. Dara Puspita kembali ke Indonesia pada September 1971. Mereka bikin tour keliling Jawa, yang ditutup dengan pertunjukan di Jakarta pada Maret 1972. Dalam moment inilah Dara Puspita tampil satu panggung dengan Koes Plus, yang punya arti khusus bagi Susi dan Yon. Kendati sudah menikah, Yon tak bisa melupakan Susi Nander, cinta pertamanya. Kegalauan hatinya ditumpahkan dalam lagu “Hatiku Beku” untuk album Koes Plus Volume 9 (1973). Damiana Sustrini memberikannya seorang putra, Ulung Gariyas dan Otmar Veda (David). Pernikahan mereka kandas di tengah jalan. Setelah lama menduda, Yon menikah lagi dengan Bonita Angela dan dikaruniai dua anak, Aron dan Kenas. Pasangan ini kemudian tinggal di Pamulang, Banten. Bonita selalu mengiringi ke manapun Yon manggung. Tentu tak hanya romansa. Yon juga melirik tema lainnya. Salah satunya lagu berbahasa Jawa dengan judul “Jo Podo Nelongso” yang masuk dalam album Koes Plus Album Pop Jawa I (1973). Yon menyoroti kondisi sosial-ekonomi negeri ini. Yon pernah mengatakan setidaknya menciptakan 300-an lagu. Dia merasa beruntung seorang penggemarnya berinisiatif mematenkan 79 lagu ciptaannya. Namanya Siong Chung Lukman, pengacara asal Bandung. Yon tak perlu keluar biaya. “Saya malah dapat duit Rp40 juta. Kalau begitu satu lagu saya harganya Rp 500 ribu,” ujar Yon. Yon Koeswoyo telah berpulang. Selamat jalan.*

  • Selamat Tinggal Penyanyi Tua

    KENDATI selera musik berganti, para penggemar lamanya dimakan usia, Yon Koeswoyo masih bernyanyi dari panggung ke panggung. Dia ingin mengabadikan lagu-lagu Koes Bersaudara/Koes Plus, kelompok musik legendaris Indonesia yang pernah berjaya di era 1960 hingga 1980-an. “Saya ingin lagu-lagu Koes Plus abadi sampai seribu tahun nanti,” ujarnya. Yon Koeswoyo lahir dengan nama Koesjono di Tuban, Jawa Timur, pada 27 September 1940, dari pasangan Koeswojo dan Atmini. Koeswojo seorang priyayi; terakhir bekerja sebagai pegawai Departemen Dalam Negeri. Atmini ibu rumah tangga. Yon anak keenam dari sembilan bersaudara. Yon belajar musik secara otodidak. Ia bisa memainkan gitar ( rhytm ). Tapi, berkat gemblengan Tonny Koewoyo, kakaknya, dia jadi penyanyi handal. Suaranya bening. Kadang nakal. Bersama saudara-saudara lelakinya, Yon membentuk sebuah kelompok musik menjelang tahun 1960-an. Mula-mula namanya Koes Bross, lalu ganti Koes Brothers, Koes Bersaudara, dan akhirnya Koes Plus. Yon jadi vokalis dan memainkan rhythm , Tonny (melodi), Nomo (drum), dan Yok (bass, vokal). Masuknya Murry, orang dari luar keluarga besar sebagai pengganti Nomo, menjadi dasar pemilihan nama Koes Plus. Koes Bersaudara merilis album (piringan hitam) pertama Angin Laut pada 1963. Sambutannya lumayan tapi belum cukup untuk membantu kebutuhan keluarga besar ini. Untuk menambah penghasilan, mereka mengamen dari rumah ke rumah dan pentas dari panggung ke panggung. Kala itu Indonesia dilanda demam musik ngak-ngik-ngok , istilah yang dipakai Presiden Sukarno untuk menyebut musik Barat. Demi mendorong kepribadian dan kebudayaan nasional, pemerintah melarang musik ngak-ngik-ngok . Meski ada larangan, Koes Bersaudara kerap menyanyikan lagu-lagu Barat demi memenuhi keinginan penggemar. Dampaknya, pada 29 Juni 1965, personel Koes Bersaudara ditangkap dan dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan Khusus Glodok. Mereka dibebaskan sekira tiga bulan kemudian. Yon sempat kuliah di jurusan arsitektur Universitas Res Publica (kini, Universitas Trisakti). Ketika Tonny, kakaknya, menantangnya untuk memilih kuliah atau musik, Yon memutuskan berhenti kuliah. Lagian situasi politik lagi tak menentu. Universitas Res Publica jadi sasaran demo. Mahasiswa-mahasiswanya kena screening , upaya penguasa untuk menyaring mahasiswa-mahasiswa yang diduga komunis. Pada 1967, Koes Bersaudara sempat merilis dua album (piringan hitam), Jadikan Aku Dombamu dan To Tell So Called the Gulties , yang berisikan sejumlah lagu yang mereka ciptakan selama di penjara. Namun kondisi ekonomi lesu. Udangan pentas sepi. Koes Bersaudara vakum. Para personelnya, yang sudah berkeluarga, harus mencari cara untuk bertahan hidup. Yon sendiri melakoni jual-beli celana. Sempat pula membeli Fiat 1100 dan menjadikannya taksi gelap. Tapi mereka tetap latihan, kecuali Nomo. Tonny akhirnya mendepak Nomo sebagai pemain drum dan menggantikannya dengan Murry. Pada 1969, Koes Bersaudara ganti nama jadi Koes Plus. Perlahan Koes Plus menapaki puncak popularitas. Setelah Tonny meninggal dunia pada 1987, Koes Plus nyaris tenggelam. Pada 1993 Koes Plus mencoba bangkit, sekalipun harus bongkar-pasang personel. Ketika Yok dan Murry akhirnya mundur, Yon menjadi satu-satunya personel Koes Plus yang masih bertahan. “Saya tidak meninggalkan mereka tapi saya yang ditinggalkan,” ujar Yon. Bersama sejumlah anak muda, Yon bermain dari panggung ke panggung; membawakan lagu-lagu Koes Plus. Sesekali dia membuat dan menyanyikan lagu-lagu anyar. Sempat pula tampil sebagai penyanyi solo lewat album Hanya Mimpi dan Lantaran . Zaman berganti. Namun Yon terus berdendang, melawan tubuh dan suaranya yang menua. Mirip lagu yang dibawakannya. Oh penyanyi tua lagumu sederhana Lagu dari hatinya terdengar dimana mana Oh penyanyi tua lagumu sederhana Mulutnya pun tak ada dan anehnya banyak penggemarnya O siapa itu o ku tak tahu Pagi, 5 Januari 2018, Yon Koeswoyo tutup usia. Selamat jalan.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page