Hasil pencarian
9774 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Hikayat Jongkindt Conninck dari Kertamanah
MAKAM tua itu terpencil sendirian di sebuah bukit. Luasnya sekitar 2,5 x 4 meter. Masyarakat Kertamanah, Desa Margamukti, Pangalengan menyebutnya sebagai kuburan Tuan Yongkin, merujuk kepada Willem Gerard Jongkindt Conninck, administratur Perkebunan Kertamanah sejak 1 April 1904 sampai Maret 1942. Bisa jadi nama Jongkindt Conninck kurang populer dibandingkan nama-nama besar seperti K.A.R. Bosscha (konglomerat Hindia Belanda yang mengelola Perkebunan Malabar), Johan Gerrit van Ham (perintis peternakan sapi di Pangalengan) atau Theokoning van de Preanger (raja teh di Priangan). Namun, bagi masyarakat Kampung Kertamanah, nama Jongkindt dikenang secara turun temurun. “Tanpa beliau nama Kertamanah belum tentu dikenal orang banyak,” ujar Wawan GS (55 tahun), tokoh masyarakat Desa Margamukti. Selain menjadi perintis penanaman kina di Kertamanah, Jongkindt juga memberdayakan warga Kertamanah menjadi pegawai di perkebunan. ”Salah satu yang diangkat jadi pegawai itu adalah bapak saya,” ujar mandor besar di perkebunan yang saat ini mengelola tanaman teh tersebut.
- Satu Nusa Soto Bangsa
H. JOMAN, pria berambut putih itu, segera beranjak dari bale ketika seorang pembeli datang ke warung soto minya. Sambil bertanya keinginan si pembeli, tangannya membuka kaca etalase. Dia meracik bahan-bahan soto ke mangkuk lalu menuangkan kuah mendidih. Tak sampai 10 menit, semangkuk soto mi tersaji di meja pembeli. Joman berdagang soto mi ala Betawi sejak awal 1970-an. “Lagi bujangan mah [saya] kerja di kota. Gua kerja di tukang sate di Kebon Sirih, Jalan Sabang,” ujar Joman kepada Historia.ID. Beberapa lama kemudian, Joman pulang ke rumahnya di Pamulang dan menikah. Untuk menafkahi keluarganya, dia berdagang soto keliling hingga akhirnya mangkal. Setelah berkali-kali pindah tempat mangkal, dia berjualan di halaman rumahnya. Soto mi ala Betawi hanyalah satu dari sekian jenis soto yang ada di tanah air. Meski tak diketahui pasti kapan awal kemunculannya, soto telah ada sejak berabad-abad silam. Keberadaan soto terkait erat dengan perniagaan antara kepulauan Nusantara dan berbagai bangsa yang menyinggahinya, ketersediaan bahan-bahan, dan pertemuan tradisi kuliner lokal dan pendatang.
- Bisnis Ikan Berkumis
JAM baru menunjukkan pukul 21.00 WIB. Warung Cak Sairin di Jalan H.M. Usman, Kukusan, Depok, sudah sepi. Dua pelanggan baru saja menuntaskan makan. Di etalase, hanya tersisa beberapa potong daging ayam. Agaknya peruntungan Cak Sairin (45) sedang bagus malam itu. Seorang laki-laki datang dan memesan lele terakhirnya. “Padahal biasanya bisa sampai jam dua,” ujar Cak Sairin kepada Historia.ID di sela-sela menyiapkan pesanan. Cak Sairin berasal dari Sukodadi, Lamongan. Bersama istrinya, Cak Sairin membuka warung pecel lele Lamongan di halaman depan rumah kontrakannya delapan tahun lalu. Dia tak sendirian. Ada sekira 15 warung pecel lele Lamongan di Jalan H.M. Usman. “Beberapa tetangga sini juga orang Lamongan. Tetangga samping saya ini orang Lamongan. Dia punya rumah asrama kos, yang ngekos anak-anak Lamongan juga,” ujar Cak Sairin.
- 13 Juni 1944: Aksi Gila Michael Wittmann Si Jago Tank Jerman
HARI ini, 13 Juni 1944, 76 tahun silam. Saat sedang mengamati pemeriksaan tank-tank Tiger dalam kompinya di markas komando Desa Villers-Bocage, Prancis, SS-Obersturmfuhrer (setara letnan satu) Michael Wittmann, komandan kompi ke-2 Batalyon SS Panzer ke-101, tiba-tiba didatangi seorang prajurit sekira pukul 08 pagi. Wittmann diberitahu adanya iringan tank dan bermacam kendaraan tempur (ranpur) asing sedang melintas tak jauh dari mereka. Dari bentuknya, kata sang pelapor, ranpur-ranpur itu bukan ranpur Jerman. “Saya segera keluar dan melihat tank-tank berjalan beriringan sekitar 150 hingga 200 meter jauhnya. Mereka merupakan (tank, redaksi) tipe Inggris dan Amerika. Pada saat yang sama saya melihat bahwa tank-tank itu disertai pengangkut pasukan lapis baja,” kata Wittmann dalam diary-nya, dikutip Patrick Agte dalam Michael Wittmann and the Waffen SS Tiger Commanders of the Leibstandarte in World War II , Vol. II. Pikiran Wittmann langsung kacau. Dia tak pernah membayangkan pasukan Sekutu (Inggris-Amerika) datang begitu cepat dan dalam jumlah yang amat besar. Pasukan yang dilihatnya itu ternyata pasukan Divisi Lapis Baja ke-7 Inggris di bawah pimpinan Mayjen George Erskine.
- Kapal Perang Jerman Karam di Sukabumi?
SEBUAH penampakan di perairan Pantai Cikembang, Teluk Palabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi yang terekam aplikasi Google Maps oleh tiga nelayan, Sabtu (20/6/2020) bikin geger jagat maya. Pasalnya, penampakan itu disebut-sebut mirip bangkai kapal yang hingga tulisan ini dimuatbelum bisa dipastikan kapal jenis apa. “Kita juga baru dapat kabar soal ini. Belum ada juga laporan adanya kapal karam. Baru ketahuan (ada kabar kapal karam) di gambar Google Maps itu,” tutur Direktur Jasa Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RIMiftahul Huda saat dihubungi Historia, Senin (22/6/2020). “Kita koordinasi dengan teman-teman Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat (DKP Jabar), karena itu kan lokasinya di Sukabumi. Ini baru dicek oleh teman-teman DKP Jabar. Kalau sudah di lokasi, baru bisa kita tanyakan seperti apa. Terkait jenis kapal apa, ya menunggu survei dari mereka yang mengecek,” sambungnya.
- Sekolah Rakyat Padang Panjang
SETELAH penangkapan orang-orang radikal di Sumatera Thawalib pada 1924, aktivis PKI mendirikan Sekolah Rakyat (SR) di Padang Panjang. “Sekolah ini mengikuti pola sekolah yang didirikan Tan Malaka di Semarang,” tulis Audrey Kahin dalam Dari Pemberontakan ke Integrasi. Di SR Padang Panjang inilah organisasi kepemudaan PKI, mulai dari Sarekat Rakyat dan Barisan Muda berkantor pusat. Menurut Gubernur Sumatera Barat G.F.E Gonggrijp, organisasi ini berbasis di sekolah-sekolah. Baik milik pemerintah maupun swasta. “Selain Padang Panjang, seksi-seksi yang paling penting adalah seksi Koto Laweh, Gunung Bunga Tanjung, Silungkang, Solok dan Tiakar-Dangung Dangung, Payakumbuh,” dilansir dari memori serah terima jabatan Gubernur Gonggrijp.
- The Career of an Armenian Government Official
Anyone researching and writing about the Indonesian national movement must have acknowledged three important works by Petrus Blumberger. As a colonial official, he had access to official sources, from government edicts to Dutch parliamentary minutes. Petrus Blumberger was born John Theodoor Petrus in Semarang on December 2, 1873. His father, Satoor Stephan Petrus (1839-1902), was a merchant born in Isfahan, Persia, now Iran. His mother, Mariam Eleazar Gasper (1851-1896), was born in Bushir. She was the daughter from the second marriage of Eleazar Gregory Gasper (1808-1859), a prominent Armenian merchant in Batavia who founded Gasper & Co. and remained in the city for three generations.
- Armenia dalam Belenggu Masa Lalu
ARMENIA adalah salah satu negara tertua di dunia. Sejarahnya membentang nyaris 3.500 tahun. Nenek moyang bangsa Armenia, suku Hayasa-Azzi, berasal dari dataran tinggi di sebelah timur Asia Kecil. Kini, di masa modern, orang-orang Armenia masih menyebut diri mereka “Hay”, dan negeri mereka “Hayastan”. Kekuatan politik pertama yang signifikan di Armenia adalah Kerajaan Urartu (860-590 SM). Sekitar 600 SM, Kerajaan Armenia yang independen berdiri di bawah Dinasti Orontid. Di bawah kekuasaan Tigranes Agung (95-66 SM), Armenia menjadi kerajaan terkuat di Asia Kecil. Sempat dipengaruhi Hellenistik-Paganisme, Zoroasterianisme, dan agama-agama kuno Yunani dan Romawi, pada tahun 301 Raja Tiridates III menetapkan Kristen sebagai agama resmi kerajaan. Praktis, Armenia adalah negara Kristen pertama dalam sejarah. Identitas kebangsaan Armenia pun diteguhkan dengan dibuatnya alfabet Armenia oleh Mesrop Masthots pada tahun 405.
- Komunitas Armenia Minoritas yang Punah
PADA 5 Mei 1852, sebuah rapat umum dihelat di Batavia. Tujuannya membentuk lembaga amal demi membantu para janda miskin, anak yatim-piatu, dan rekan mereka yang melarat di Jawa. Dalam pertemuan itu, “Haikian Miabanuthiun” atau Komunitas Armenia terbentuk. Enam bulan kemudian, dalam sebuah pertemuan, mereka memutuskan membangun sebuah gereja baru di lokasi yang sama dengan kapel kayu tua Gang Scott –kini Jalan Budi Kemuliaan No. 1, Jakarta. Pembangunan selesai dua tahun kemudian dan dinamai Gereja St. John. Menyusul kemudian dibangun sekolah dan lembaga-lembaga yang mendukung aktivitas mereka. Keberadaan gereja mengukuhkan eksistensi komunitas Armenia di Hindia Belanda (Indonesia). Namun, jejak komunitas ini nyaris terkubur karena minimnya catatan yang mereka tinggalkan.
- Ridwan Saidi dan Bahasa Armenia
PRASASTI yang dikeluarkan Kadatuan Sriwijaya dituliskan dalam bahasa Armenia, bukan Senskerta. Selama ini, banyak arkeolog salah mengira tulisan dalam prasasti-prasasti itu berbahasa Sanskerta, karenanya menimbulkan banyak salah arti. Hal itu diucapkan budayawan Betawi, Ridwan Saidi, dalam video yang diunggah di kanal YouTube "Macan Idealis". “Banyak sekali bahasa Melayu menyerap dari bahasa Armenia. Jadi ketika dibaca, oh, ini bahasa Melayu padahal bahasa Armenia,” katanya. Kenyataannya, semua prasasti peninggalan Kadatuan Sriwijaya ditulis dengan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. “Jelas kok itu Melayu Kuno. Masa nggak percaya bahasa sendiri,” kata Titi Surti Nastiti, ahli epigrafi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, ketika ditemui di kantornya di Pejaten, Jakarta.
- Simpati dari Hindia untuk “Genosida” Armenia
KARENA letaknya yang strategis di antara benua Asia dam Eropa, di masa lalu Armenia diperebutkan dan dijajah berbagai bangsa di dunia. Pada abad ke-16, terjadi perebutan antara Ottoman dan Persia, yang membuat wilayah Armenia terbagi dua. Ottoman menguasai wilayah-wilayah yang disebut Armenia Barat, sementara Rusia menggenggam Armenia Timur setelah kekuasaan Persia melemah. Di wilayah yang dikuasai Ottoman, orang-orang Armenia diizinkan memerintah komunitasnya sendiri. Kebebasan dan perlindungan selaku etnis dan pemeluk agama minoritas juga dijamin dengan pembayaran pajak tertentu. Aturan tersebut cukup toleran. Tapi sebagai warga negara kelas dua, minoritas Armenia kerap menjadi korban eksploitasi mayoritas Turki. Mereka mulai melakukan perlawanan. Penguasa Ottoman menjawabnya dengan penindasan. Tak ayal, warga Armenia mengalami tragedi yang tak terlupakan hingga kini. Mereka menyebutnya sebagai “genosida pertama pada abad ke-20”.
- Menyongsong Wajah Baru Museum Nasional Indonesia dan Pameran Repatriasi
MUSIBAH kebakaran yang melanda Museum Nasional Indonesia (MNI) pada 16 September 2023 jadi sebuah pil pahit yang patut diambil hikmahnya dan dijadikan pelajaran. Setelah setahun berbenah, kini museum yang familiar disebut Museum Gajah itu resmi dibuka kembali. Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid juga mengamini bahwa setiap bencana pasti ada maksudnya, agar bisa bangkit untuk lebih baik lagi. Bahkan, bangkit dengan wajah baru yang mengikuti zaman. “Tentu semua masih ingat insiden kebakaran yang terjadi di tahun lalu. Bisa dilihat di sebelah belakang, bisa disaksikan bekasnya dan waktu itu kita semua memang merasa terpukul sekali. Tapi seperti dibilang Mas Menteri (Mendikbudristek Nadiem Makarim), setiap bencana pasti punya maksud,” kata Hilmar dalam peresmian pembukaan kembali Museum Nasional Indonesia bertajuk “Reimajinasi Warisan Budaya” di Museum Nasional Indonesia Jakarta, Jumat (11/4/2024) malam.





















